Anda di halaman 1dari 9

FILSAFAT ILMU

A. Pengertian Filsafat Ilmu


Filsafat ilmu

merupakan bagian dari filsafat epistemologi (filsafat

pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan


ilmiah).Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri ciri
tertentu.Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu ilmu
sosial,namun karena permasalahan permasalahan teknik yang bersifat khas,maka
filsafat ilmu ini sering di bagi menjadi filsafat ilmu-ilmusosial.Pembagian ini
lebih merupakan pembatasan masing-masing bidang yang di telaah,yakni ilmuilmu alam dan ilmu-ilmu sosial.Pembagian ini dan tidak mencirikan cabang
filsafat yang otonom. Ilmu memang berbeda dari pengetahuan secara
filsafat,namun tidak terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu alam dan
ilmu-ilmu sosial, dimana keduanya mempunyai ciri ciri keilmuwan yang
sama.Menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini
mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk
di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Filsafat ilmu berusaha untuk
dapat menjelaskan masalah-masalah seperti apa dan bagaimana suatu konsep dan
pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan,
bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam
melalui teknologi. Selain itu, filsafat ilmu juga berusaha menjelaskan cara
menentukan validitas dari sebuah informasi, formulasi dan penggunaan metode
ilmiah, macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan
kesimpulan, serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan
terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
B. Cabang -cabang filsafat
Pokok permasalahan yang di kaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang
di sebut benar dan apa yang di sebut salah(logika),mana yang di anggap baik dan
mana yang di anggap buruk(etika),serta apa yang termasukindah dan apa yang
termasuk jelek (estetika).ketiga cabang utama filsafat ini kemudian bertambah
lagi yakni,pertama teori tentang ada,tentang hakekat keberadaan zat,tentang
hakekat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semua terangkum dalam
1

metafisika,dan kedua politik,yakni kajian mengenai organisasi sosial/pemerintah


yang ideal.Kelima cabang utama ini kemudian berkembang menjadi cabangcabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik.Filsafat secara
umum terbagi dua yaitu : filsafat teoritis dan filsafat praktis. Yang termasuk
filsafat teoritis adalah: ontologi (metafisika), dan epistemologi. Sedangkan
aksiologi adalah filsafat praktis.
a. Ontologi
Ontologi kerap disebut juga metafisika atau filsafat pertama.Kata ontologi
berasal dari bahasa Yunani, yaitu on atau ontos yang berarti ada atau keberadaan
dan logos yang bermakna studi atau ilmu tentang ada.Karena itu, ontologi berarti
ilmu tentang ada. Dengan kata lain, ontologi adalah cabang filsafat yang
mengupas masalah ada. Pertanyaan dasar dalam ontologi adalah apa hakekat
Ada?
b. Epistemologi
Kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme( pengetahuan , ilmu
pengetahuan) dan logos (pengetahuan, informasi). Jadi, epistemologi dapat
berarti pengetahuan tentang pengetahuan atau teori pengetahuan.Singkatnya,
epistemologi

adalh

cabang

filsafat

yang

membahas

tentang

pengetahuan.Pertanyaan dasar dalam wacana filsafat adalah apakah pengetahuan


itu? Bagaimana metode mendapatkannya? Bagaimana membuktikan kebenaran
suatu pengetahuan?
c. Aksiologi
Aksiologi berakar kata axios (layak,pantas), dan logos (ilmu, studi
mengenai). Jadi, aksiologi adalah studi filosofis tentang hakikat nilai-nilai.
Karena itu, aksiologi mempermasalahkan apakah nilai subjektif? Apakah nilai itu
kenyataan? objektifkah nilai-nilai itu? Namun, Pertanyaan dasariah aksiologi
sendiri adalah apakah yang seharusnya saya lakukan?.1[2]
1[2] Rahullah, http://ruhullah.wordpress.com/2008/07/25/cabangutama-filsafat/, diakses pada hari Rabu, 16 September 2015, jam 14:00
Wita.
2

Banyak para filsuf yang membagi filsafat ilmu menjadi berbagai cabang,
seperti H. De Vos, Prof. Albuerey Castell, Dr. M. J. Langeveld, Aristoteles, dan lainlain. Setiap filsuf memiliki perbedaan dalam membagi cabang-cabang filsafat ilmu.
Walaupun ada perbedaan dalam pembagiannya, namun tentu saja lebih banyak
persamaanya. Dari beberapa pandangan filsuf tersebut, sekarang filsafat memiliki
beberapa cabang, yaitu metafisika, logika, epistemologi, etika, dan estetika.
1. Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada atau
membicarakan sesuatu dibalik yang tampak. Metafisika tidak muncul dengan karakter
sebagai disiplin ilmu yang normatif tetapi tetap filsafat yang ditujukan terhadap
pertanyaan-pertanyaan

seputar

perangkat

dasar

kategori-kategori

untuk

mengklasifikasikan dan menghubungkan aneka fenomena percobaan oleh manusia.


Persoalan metafisis dibedakan menjadi tiga, yaitu ontologi, kosmologi dan
antropologi.

Ontologi (Teori Alam dan Tipe-Tipe Realitas)


Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan

berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat
konkret atau realistis. Hakekat kenyataan atau realitas bisa didekati ontologi dengan
dua macam sudut pandang, yaitu kuantitatif (menanyakan apakah kenyataan itu
tunggal atau jamak?) dan kualitatif (menanyakan apakah kenyataan/realitas tersebut
memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan,
bunga mawar yang berbau harum). Adapun teori Ontologi utama meliputi:
1. Materialisme Objek-objek fisik yang ada mengisi ruang angkasa dan tidak ada
yang lainnya. Semua sifat fisik alami tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri.
2. Idealisme Hanya pikiran/berpikir, spirit, dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan berpikir yang benar-benar nyata (konkret).
3. Dualisme Keberadaan berpikir/pikiran dan material adalah nyata dan keduanya
tidak saling mengurangi satu dengan yang lain.
3

Kosmologi (Teori Umum Proses Realitas)


Kosmologi berkepentingan terhadap cara berbagai benda dan peristiwa yang

satu mengikuti cara berbagai benda dan peristiwa lain menurut perubahan waktu (satu
benda ditentukan oleh benda lainnya). Satu benda atau peristiwa ditentukan oleh
sebab sebelumnya dan tidak dapat dibalik. Determinan-determinan dari peristiwa
alam yang dianggap beroperasi dengan cara terakhir tersebut dinamakan Aristoteles
sebagai sebab-sebab final final causes dikenal sebagai antecedent causes.
Determinisme merupakan pandangan tentang apapun yang terjadi bersifat
universal, tanpa kecuali, dan secara lengkap ditentukan oleh sebab-sebab sebelumnya.
Bila pandangan ini digabung dengan konsepsi materialisme, yaitu semua proses
adalah fisik secara ekslusif, maka pandangan deterministik ini dinamakan
mekanisme. Deterministik diakui dunia pendidikan internasional sebagai pendekatan
yang powerful.
Selain pandangan determinisme, kita perlu mengenal pandangan lain, yaitu
teleologi. Teleologi adalah proses yang dianggap ditentukan oleh aneka pengaruh atau
sebab akhir (influenced by ends).

Antropologi
Adalah ilmu yang menyelidiki tentang manusia yang berkaitan dengan

pertanyaan pertanyaan tentang hakikat manusia dan pentingnya dalam alam semesta.
2.

Logika
Logika adalah cabang filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.
Logika membahas tentang prinsip-prinsip inferensia (kesimpulan) yang absah (valid)
dan topik-topik yang saling berhubungan. Logika dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Logika deduktif (deductive form of inference), yaitu cara berpikir di mana pernyataan
yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan
secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir silogismus. Pernyataan yang
mendukung silogismus disebut premis. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang
didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut (Suriasumantri.
4

1988: 48-49). Perkembangan logika deduktif dimulai sejak masa Aristoteles, setelah
kontribusi oleh Stoics dan para logikawan lain pada zaman pertengahan, mereka
mengasumsikannya sebagai garis besar tradisi Aristotelesian
2. Logika induktif (inductive form of inference), yaitu cara berpikir yang dilakukan
dengan cara menarik suatu kesimpulan bersifat umum dari berbagai kasus yang
bersifat khusus. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan
pernyataan-pernyataan yang khas dan terbatas kemudian diakhiri dengan pernyataan
yang bersifat umum. Prinsip induktif mampu digunakan dalam ilmu terapan pada
masa John Stuart Mill dalam metodenya tentang analisissebab (causal analysis)
bersama dengan prinsip teori peluang dan praktek statistik yang masih menjadi
sumber-sumber utama penampilan buku tentang logika induktif.
Banyak para ahli berpendapat bahwa sekalipun sejak 1940-an logika deduktif
berkembang tetapi masih belum menyamai taraf yang dicapai oleh logika deduktif.
Dalam hal ini, logika deduktif lebih powerful.
3. Epistemologi
Epistemologi (dari bahasa Yunani episteme = pengetahuan dan logos =
kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan
jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan
dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana
karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistomologi atau teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu
pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban
atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan
berbagai metode, diantaranya metode induktif, metode deduktif, metode positivisme,
metode kontemplatis dan metode dialektis.

4. Etika
5

Etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku (moral) atau
perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik ataupun buruk. Etika dalam
kajian filsafatnya dapat diberi arti sebagai tata krama dan sopan santun yang lahir dari
pemahaman perbuatan yang baik dan buruk serta sebuah tata aturan yang berlaku
dalam masyarakat yang menjadi sebuah kebudayaan yang wajib untuk taat dipatuhi.
5.

Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan.

Estetika disebut juga sebagai filsafat keindahan (philosophy of beauty). Dalam


Encyclopedia Americana (1973), estetika merupakan cabang filsafat yang berkenaan
dengan keindahan dan hal yang indah dalam alam dan seni.2[4]
D. Sejarah Filsafat Ilmu
Berbicara asal muasal filsafat ilmu tentu tidak akan lepas dari filsafat Yunani
Kuno dan aliran yang dianutnya, dimana perkembangan Filsafat dimulai dari Yunani
dan filsafat yang tertua juga dari Yunani. Tidak lain dan tidak bukan termasuk filsafat
Ilmu juga demikian. Pemikiran manusianya yang tertata, dibanding bangsa lain pada
masa itu, oleh karenanya kiblat ilmupun berasal dari kota itu.
Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan
keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan
diri kepada agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak
yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang
beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya
sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta
sehingga secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi
gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuffilsuf Yunani yang terbesar adalah Sokrates, Plato, dan Aristoteles.3
Perkembangan ilmu pengetahuan hingga seperti sekarang ini tidaklah
berlangsung secara mendadak, melainkan melalui proses bertahap, dan evolutif. Di
2[4] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar),
2011, h. 40-42
3 Wikipedia.org/wiki/Filsafat diakses tanggal 16 september 2015

dalam banyak literatur menyebutkan bahwa periode Yunani merupakan tonggak awal
berkembangnnya ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat manusia.
Perkembangan ilmu ini dilatarbelakangi dengan perubahan paradigma dan pola pikir
yang berkembang saat itu. Dengan paradigma ini, ilmu pengetahuan berkembang
sangat pesat karena menjawab persoalan disekitarnya dengan rasio dan meninggalkan
kepercayaan terhadap mitologi atau tahayul yang irrasional.
Setalah kemajuan filsafat pada zaman Yunani yang begitu luar biasa, sejarah
filsafat mencatat bahwa pada abad pertengahan (400-1500 M) filsafat berfungsi
sebagai alat untuk pembenaran atau justifikasi ajaran agama (The philosophy as a
hand maiden of theology). Sejauh filsafat bisa melayani teologi, ia bisa diterima.
Namun, filsafat dianggap yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama atau
gereja, ditolak dan kebebasan berfikir pun dipangkas.
Oleh sebab itu, zaman tersebut sering dinamakan Abad Gelapan Filsafat.
Namun, masa kegelapan Barat itu sebenarnya merupakan masa kegemilangan umat
Muslim. Pada saat itulah di Timur terutama di wilayah kekuasaan Islam terjadi
perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. Di saat Eropa pada zaman Pertengahan
lebih berkutat pada isu-isu keagamaan, maka peradaban dunia Islam melakukan
penterjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filosof Yunani, dan berbagai
temuan di lapangan ilmiah lainnya. 4 Maka sesungguhnya pada zaman Islam itulah
filsafat begitu berkembang pesat sehingga banyak melahirkan para ilmuan-ilmuan
muslim yang luar biasa pada abad itu.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak
abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaisance) pusaka
Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali
ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian
diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.5
Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat
kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan
itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaisance) pada abad ke44 Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Cet Ke-II, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar,
2002), hlm.128
5 K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm. 32.

14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke18 M.6 Mulai itulah ilmu pengetahuan semakin berkembangan dengan pesat hingga
sekarang (zaman kontemporer).

DAFTAR PUSTAKA
http://ruhullah.wordpress.com/2008/07/25/cabang-utama-filsafat/,
Mohammad Adib, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2011, h. 40-42
Wikipedia.org/wiki/Filsafat diakses tanggal 16 september 2015
Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Cet Ke-II, (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar, 2002), hlm.128
6 K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat
Jujun S Suriasumantri, Filsafat ilmu semua pengantar populer Pustakan Sinar Harapan Cetakan
Keempatbelas, November 2001

K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm. 32.