Anda di halaman 1dari 44

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kehadirat Tuhan YME, kami menyelesaikan laporan


praktikum tanah ini. Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang
telah membantu kami dalam penyelesaian tugas ini :

1. Bapak Ir. Agus Purba, MM., selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil.

2. Bapak Ir. Jhon Rico, MT., selaku Deson Mata Kuliah Mekanika Tanah.

3. Ibu Hj. Winarni Dipl. Kim, selaku Kepala Laboratorium Mekanika


Tanah.

4. Bapak Nandang K. Gofur dan Bapak Sartino, selaku pembimbing


praktikum.

5. Seluruh staff Tata Usaha Fakultas Teknik Sipil Universitas Mpu


Tantular, yang telah membantu kelancaran proses administrasi
praktikum ini.

6. Teman-teman mahasiswa Universitas Mpu Tantular Jurusan Teknik


Sipil angkatan 2004 dan 2005. Atas kerjasamanya dalam penyusunan
data praktikum ini.

7. Serta semua pihak yang terkait yang tidak dapat kami sebutkan satu
persatu.

Dengan selesainya laporan ini besar harapan kami untuk dapat lebih menguasai
ilmu mekanika tanah yang nantinya dapat kami aplikasikan di dunia kerja. Dan
dapat berguna bagi rekan-rekan mahasiswa Teknik Sipil serta pihak lain yang
membutuhkan litelatur mengenai praktikum mekanika tanah.

Jakarta, 25 Februari 2008

PENULIS
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. (i)


KATA PENGANTAR ..................................................................................... (ii)
DAFTAR ISI .................................................................................................. (iv)

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... 12

BAB II PENGAMBILAN CONTOH TANAH UNTUK

PERENCANAAN KONSTRUKSI
II.1. URAIAN UMUM .................................................................. 13
II.2. PROSES PENGAMBILAN TANAH...................................... 25

BAB III PENGUJIAN TANAH UNTUK DATA PERENCANAAN STRUKTUR

III.1. DISTRUBE SAMPLE’S ...................................................... 47


III.1.1. PEMILIHAN BAHAN TANAH................................. 47
III.1.2. PENGUJIAN KUALITAS BAHAN.......................... 47
III.1.3. MEMENUHI STANDARD YANG DISYARATKAN. 47
III.1.4. MODIFIKASI (STABILISASI TANAH).................... 47
III.2. SIFAT-SIFAT TANAH ........................................................ 51
III.3. UNTUK PERHITUNGAN DAYA DUKUNG TANAH............ 59

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1. KESIMPULAN .................................................................... 76


IV.2. SARAN ............................................................................... 77

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DOKUMENTASI
BAB II

PENGAMBILAN CONTOH TANAH

II.1. URAIAN UMUM

Contoh Tanah adalah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian
tubuh tanah (horison/lapisan/solum) dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan sifat-
sifat yang akan diteliti secara lebih detail di laboratorium. Pengambilan contoh tanah
dapat dilakukan dengan 2 teknik dasar yaitu pengambilan contoh tanah secara utuh dan
pengambilan contoh tanah secara tidak utuh. Sebagaimana dikatakan dimuka bahwa
pengambilan contoh tanah disesuaikan dengan sifat-sifat yang akan diteliti. Untuk
penetapan sifat-sifat fisika tanah ada 3 macam pengambilan contoh tanah yaitu :

1. Contoh tanah tidak terusik (undisturbed soil sample) yang diperlukan untuk analisis
penetapan berat isi atau berat volume (bulk density), agihan ukuran pori (pore size
distribution) dan untuk permeabilitas (konduktivitas jenuh)
2. Contoh tanah dalam keadaan agregat tak terusik (undisturbed soil aggregate) yang
diperlukan untuk penetapan ukuran agregat dan derajad kemantapan agregat
(aggregate stability)
3. Contoh tanah terusik (disturbed soil sample), yang diperlukan untuk penetapan
kadar lengas, tekstur, tetapan Atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar
lengas kritik, Indeks patahan (Modulus of Rupture:MOR), konduktivitas hidroulik tak
jenuh, luas permukaan (specific surface), erodibilitas (sifat ketererosian) tanah
menggunakan hujan tiruan (rainfall simulator)
Untuk penetapan sifat kimia tanah misalnya kandungan hara (N, P, K, dll), kapasitas tukar
kation (KPK), kejenuhan basa, dll digunakan pengambilan contoh tanah terusik.

II.2. PROSES PENGAMBILAN TANAH

II.2.1 Pengambilan contoh tanah terusik


a. Pengambilan contoh tanah terusik dalam profil.
1. Memilih tempat yang tak tergenang air, tak terkena sinar matahari secara
langsung, datar dan mewakili tempat sekitarnya.
2. Menggali lubang baru untuk profil tanah dengan dinding tegak lurus di sebelah
utara atau selatan, ukuran 1m x 1m x 1m. Tempat untuk mengamati dibuatkan
lubang bertangga. Profil tanah juga dapat dibuat pada tebing yang dibuat tegak
lurus.
3. Menandai perlapisan yang ada berdasarkan warna, suara ketukan dan kekerasan
tiap perlapisan dengan garis yang tegas.
4. Mencatat ciri-ciri morfologi di permukaan tanah sesuai dengan formulir pelukisan
profil.
5. Mencatat ciri-ciri dakhil perlapisan sesuai dengan formulir pelukisan profil.
6. Mengambil sekitar 1-2 kg contoh tanah kering angin tiap perlapisan dengan plasitk
yang beretiket : Kode tempat, kode perlakuan, kode tanah, nomor perlapisan dan
ciri-ciri istimewa lain.

II.2.2 Pengambilan contoh tanah terusik di lapisan permukaan.


1. Memilih tempat yang tidak tergenang air, tak terkena sinar matahari langsung,
datar dan mewakili tempat sekitarnya.
2. Membersihkan seresah, batuan dan benda alam lain di lapisan permukaan
sehingga tubuh tanah terlihat.
3. Mengambil sekitar 1-2 kg contoh tanah kering angin dengan menggunakan pacul,
cethok dan memasukkannya kedalam plastik yang beritiket: Kode tempat, kode
perlakuan, kode tanah, nomor perlapisan dan ciri-ciri istimewa lainnya.

II.2.3 Pengambilan Contoh Tanah Terusik dengan Bor.


1. Meletakkan mata bor di permukaan tubuh tanah.
2. Memutar pegangan bor perlahan-lahan ke arah kanan dengan disertai tekanan
sampai seluruh kepala bor terbenam.
3. Kepala bor perlahan-lahan dikeluarkan dari tubuh tanah dengan memutar
pegangan bor tanah ke arah kiri dengan disertai tarikan.
4. Contoh tanah yang terbawa kepala bor dilepaskan perlahan sampai bersih dan
diusahakan tidak banyak merusak susunan tanah.
5. Pengeboran dilanjutkan lagi pada setiap ketebalan tanah 20 cm sampai
kedalaman yang dikehendaki.
6. Contoh tanah hasil pengeboran pada setiap ketebalan 20 cm itu diletakkan
tersusun menurut kedalaman aslinya, sehingga akan diperoleh gambaran profil
tanah.
7. Masukkan sekitar 1-2 kg contoh tanah kering angin dalam plastik yang beretiket
Kode tempat, kode perlakuan, kode tanah, nomor perlapisan dan ciri-ciri istimewa
lainnya.
BAB III

PENGUJIAN TANAH UNTUK DATA PERENCANAAN STRUKTUR

III.1.DISTRUBE SAMPLE’S
III.1.1. PEMILIHAN BAHAN TANAH
III.1.2. PENGUJIAN KUALITAS BAHAN

III.1.3. MEMENUHI STANDARD YANG DISYARATKAN

III.1.4. MODIFIKASI (STABILISASI TANAH)

III.2.SIFAT-SIFAT TANAH
Pemeriksaan
KEPADATAN BERAT (MODIFIELD)
PB-0112-76
(AASHTO-180-74)

1. MAKSUD :
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan hubungan antara kadar air
dan kepadatan tanah dengan memadatkan didalam cetakan silinder berukuran
tertentu dengan menggunakan alat penumbuk 4,54 kg (10 lbs) dan tinggi jatuh
45,7 cm (18”).
Pemeriksaan kepadatan dibagi dalam 4 cara sebagai berikut :
Cara A : Cetakan diameter 102 mm ( 4 ” ) bahan lewat saringan 4,75 mm
(no.4)
Cara B : Cetakan diameter 152 mm ( 6” ) bahan lewat saringan 4,75 mm
(no.4)
Cara C : Cetakan diameter 102 mm ( 4 ” ) bahan lewat saringan 19 mm
(3/4” )
Cara D : Cetakan diameter 152 mm ( 6 ” ) bahan lewat saringan 19 mm
(3/4” )
Bila tidak ditentukan cara yang harus dilakukan maka :tetapkan cara A atau
D.
2. PERALATAN :
a) Cetakan diameter 102 mm (4 ” ) kapasitas 0,000943 ± 0,000008 m3
( 0.0333 ± 0.0003 ) dengan diameter dalam 101,6 ± 0,406 mm( 4000 “
± 0.016” ) tinggi 116,43 ± 0,1270 mm (4,584 ” ± 0.005 ” ).
b) Cetakan diameter 152 mm (6 ” ) kapasitas 0,002124 ± 0,000021 m3
(0.07500 ± 0.00075 cu.ft ) dengan diameter dalam 152,4 ± 0,6609 mm
( 6000 “ ± 0.024” ) tinggi 116,43 ± 0,1270 mm (4,584 ” ± 0.005 ” ).
Cetakan-cetakan harus dari logam yang mempunyai dinding teguh dan
dibuat sesuai dengan ukuran diatas. Cetakan harus dilengkapi dengan
leher sambungan dibuat dari bahan yang sama dengan tinggi lebih kurang
60 mm ( 2 3/8 “) yang dapat dipasang kuat-kuat dan dapat dilepaskan.
Cetakan-cetakan yang telah dipergunakan beberapa lama sehingga tidak
memenuhi syarat toleransi diatas, masih dapat dipergunakan bila toleransi
tersebut tidak dilampaui lebih dari 50%.
c) i. Alat penumbuk tangan dari logam yang mempunyai permukaan tumpul
rata, diameter 50,8 ± 0,127 mm ( 2000 ” ± 0.005 “ ), toleransi 0,013
mm ( 0,005 “ ) dan berat 4,5359 ± 0,0081 kg. Alat penumbuk
dilengkapi dengan selubung yang bias mengatur tinggi jatuh secara
bebas setinggi 457,2 ± 1,524 mm.
Selubung harus sedikitnya mempunyai 2 x 4 buah lubang udara yang
berdiameter tidak lebih kecil dari 9,5 mm (3/8 “) dengan poros tegak
lurus satu sama lain berjarak 19 mm dari kedua ujung. Selubung harus
cukup longgar sehingga batang penumbuk dapat jatuh bebas tidak
terganggu.
ii. Alat penumbuk tangan dari logam yang mempunyai permukaan tumbuk
rata, diameter 50,8 ± 0,127 mm ( 2000 ” ± 0.005 “ ), toleransi 0,013
mm ( 0,005 “ ) dan berat 4,5359 ± 0,0081 kg. Alat penumbuk
dilengkapi dengan selubung yang bias mengatur tinggi jatuh secara
bebas setinggi 457,2 ± 1,524 mm diatas permukaan dan dapat
membagi-bagi tumbukan secara merata diatas permukaan.
Alat penumbuk harus mempunyai permukaan tumbuk yang rata
berdiameter 50,8 ± 0,127 mm ( 2000 “ ± 0,05 “ ) dan berat 4,5359 ±
0,0081 kg.
d) Alat pengeluar contoh.
e) Timbangan kapasitas kira-kira 11,5 kg dengan ketelitian sampai 5 gram.
Neraca kapasitas minimal 1 kg dengan ketelitian 0,1 gram.
f) Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai
( 110 ± 5)o C.
g) Alat perata dari besi (straight edge) panjang 25 cm, salah satu sisi
memanjang harus tajam dan lain datar (0,01% dari panjang).
h) Saringan 50 cm ( 2 “ ), 19 mm ( ¾ “ ) dan 4,75 mm ( no.4 ).
i) Talam, alat pengaduk dan sendok.

3. BENDA UJI :

a) Bila contoh tanah yang diterima dari lapangan masih dalam keadaan
lembab, keringkan contoh tersebut sehingga menjadi gembur.
Pengeringan dapat dilakukan diudara atau dengan alat pengeringan lain
dengan suhu tidak melampaui 60o C. Kemudian gumpalan tanah tersebut
ditumbuk tetapi butir aslinya tidak pecah.

b) Tanah yang sudah dihancurkan disaring dalam saringan sebagai berikut :


Untuk cara A dengan mempergunakan saringan 4,75 mm ( no. 4 )
Untuk cara B dengan mempergunakan saringan 4,75 mm ( no. 4 )
Untuk cara C dengan mempergunakan saringan 19 mm ( ¾ “ )
Untuk cara D dengan mempergunakan saringan 19 mm ( ¾ “ )

c) Jumlah contoh yang sesuai untuk masing-masing cara pemeriksaan adalah


sebagai berikut :
Cara A sebanyak 20 kg
Cara B sebanyak 45 kg
Cara C sebanyak 35 kg
Cara D sebanyak 70 kg

d) Benda uji dibagi menjadi 6 bagian, tiap-tiap bagian dicampur dengan air
yang ditentukan dan diaduk sampai merata. Penambahan air diatur
sehingga didapat benda-benda uji sebagai berikut :
3 contoh dengan kadar air kira-kira diatas kadar air optimum
Penambahan kadar air dari benda uji masing-masing antara 1-3 %.
e) Masing-masing benda uji dimasukan kedalam kantong plastic dan disimpan
selama 12 jam atau sampai kadar airnya merata.

4. CARA MELAKUKAN :

a. Cara A :
i. Timbang cetakan diameter 102 mm ( 4 “ ) dan keeping alas dengan
ketelitian 5 gram ( β1 gram).
ii. Cetakan, leher dan keping alas dijadikan satu, dan tempatkan pada
landasan yang kokoh
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh, diaduk dan dipadatkan
didalacetakan dengan cara seperti berikut :
Jumlah seluruh tanah harus tepat sehingga tinggi kelebihan tanah
yang diratakan setelah leher dilepas tidak dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk Modified 4,54 kg (10
lba)
Dengan tinggi jatuh 45,7 mm ( 18 “ ). Tanah dipadatkan dalam 5
lapisan dan tiap-tiap lapisan dipadatkan dengan 25 tumbukan.
iv. Potongan kelebihan tanah dari bagian keliling leher, dengan pisau dan
lepaskan leher sambung.
v. Pergunakan alat perata untuk meratakan kelebihan tanah sehingga
betul-betul rata dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keeping alas dengan
ketelitian 5 gram ( B2 gram).
Timbang cetakan berisi benda uji beserta keeping alas dengan
ketelitian 5 gram ( B2 gram).
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan
alat pengeluar benda uji (extrude) dan potong sebagian kecil dari
benda uji pada keseluruhan tingginya untuk pemeriksaan kadar air.
Tentukan kadar air (W) dari benda uji seusai dengan PB – 0210 – 76

b. Cara B :
i. Timbang cetakan diameter 152 mm (6”) dan keeping alas dengan
ketelitian 5 gram (B1 gram)
ii. Cetakan , leher dan keeping alas dijadikan satu, dan tempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh, diaduk dan dipadatkan didalam
cetakan dengan cara sebagai berikut :
Jumlah tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga tinggi
kelebihan tanah yang diratakan setelah leher dilepas tidak lebih dari
0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk Modifield 4,54 kg (10
lbs) dengan tinggi jatuh 45,7 mm ( 18’’ ). Tanah dipadatkan dalam 5
lapisan dan tiap-tiap lapisan dipadatkan dengan 56 tumbukan.
iv. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher, dengan pisau dan
lepaskan leher sambung.
v. Pergunakan alat perata untuk meratakan kelebihan tanah sehingga
betul-betul rata dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan
ketelitian 5 gram ( B 2 gram ).
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan
alat pengeluar benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari
contoh pada keseluruhan tingginya untuk pemeriksaan kadar air.
Tentukan kadar air ( W ) dari benda uji sesuai dengan PB–02 0– 76.
c. Cara C :
i. Timbang cetakan diameter 102 mm (4”) dan keeping alas dengan
ketelitian 5 gram (B1 gram)
ii. Cetakan , leher dan keeping alas dijadikan satu, dan tempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh, diaduk dan dipadatkan didalam
cetakan dengan cara sebagai berikut :
Jumlah tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga tinggi
kelebihan tanah yang diratakan setelah leher dilepas tidak lebih dari
0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk Modifield 4,54 kg (10
lbs) dengan tinggi jatuh 45,7 mm ( 18’’ ). Tanah dipadatkan dalam 5
lapisan dan tiap-tiap lapisan dipadatkan dengan 25 tumbukan.
iv. Potong kelebihan tanah dari bagian
keliling leher, dengan pisau dan lepaskan leher sambung.
v. Pergunakan alat perata untuk meratakan kelebihan tanah sehingga
betul-betul rata dengan permukaan cetakan. Lubang-lubang yang
terjadi pada permukaan karena lepasnya butir-butir kasar, harus
ditambal dengan bahan yang berbutir lebih halus.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian
5 gram ( B 2 gram ).
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan
alat pengeluar benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari
contoh pada keseluruhan tingginya untuk pemeriksaan kadar air.
Tentukan kadar air ( W ) dari benda uji sesuai dengan PB–02 0– 76.

5. PERHITUNGAN :

a. Hitung berat isi basah dengan mempergunakan rumus-rumus berikut :


B 2 − B1
γ = (gr/cm3)
V
γ = berat isi basah (gr/cm3)
B1 = berat cetakan + keeping alas dan benda uji (gr)
B2 = berat cetakan + keeping alas dan benda uji (gr)
V = isi cetakan ( cm3 )

b. Hitung berat isi kering dengan mempergunakan rumus berikut :


Y +100
γd = (gr/cm3)
100 +W

γd = berat isi kering (gr/cm3)


W = kadar air (%)

6. PERLAPORAN :

Gambarkan grafik berat isi tanah kering terhadap kadar air dari hasil
percobaan. Kemudian gambarkan sebuah kurva yang halus, yang paling
mendekati dengan titik-titik yang digambarkan dan ditentukan berat isi kering
maksimum dari kurva tersebut dengan ketelitian 0,01 gram/cm3. Kadar air yang
sesuai dengan berat isi kering maksimum ini adalah kadar air optimum dan
harus dicatat dengan ketelitian 0,5%. Setelah diketahui wopt dan γyd maksimum
gambarkanlah zero air voids line dengan rumus :

G.Yw
γd =
1 +G.W

γd = berat isi kering (gr/cm3)


G = berat jenis tanah
γw = berat isi air (gr/cm3)
W = kadar air (%)

Grafik pemadatan tidak boleh memotong zero air voids line dan pada harga
kadar air yang tinggi menjadi sejajar dengan garis tersebut :
a. Cara yang dipergunakan ( cara A, B, C, dan D ).
b. Bila cara C dan D yang dipergunakan apakh bahan tertahan saringan 19 mm (
¾ ‘’ ) dibuang atau diganti.
c. Jenis dari permukaan alat tumbuk.
7. CATATAN :

a. Tanah yang telah dipadatkan dapat dipergunakan lagi untuk percobaan bila
butir tanah tidak pecah akibat penumbukan.
b. Untuk cara C dan D bila diinginkan supaya prosentase bahan kasar lewat
saringn 50 mm ( 2’’ ) dan tertahan 4,75 mm ( no. 4 ) dipertahan kan sama seperti
keadaan aslinya dilapangan, maka material yang tertahan saringan 19 mm ( ¾’’)
harus diganti sebagai berikut :
Bahan yang lewat saringn 50 mm ( 2’’ ) dan tertahan saringan 19 mm
( ¾’’) tertahan saringan 4,75 mm ( no.4 ) dengan jumlah yang sama. Bahan
pengganti diambil dari sisa.
c. Untuk tanah yang berbutir halus ( lanau dan lempung ) petunjuk yang baik
guna mendapatkan kadar air optimum adalah batas plastis. Kadar air optimum
untuk pemadatan Modified kira-kira 2 sampai 4% dibawah batas plastis.
d. Alat tumbuk mekanis harus dikalibrasi.
e. Kerataan alat perata harus diperhatikan.
f. i. Alas untuk meletakan cetakan waktu dilakukan pemadatan dapat
dibuat dari beton dengan berat tidak kurang dari 91 kg, dan diletakan
pada dasar yang relatip stabil.
ii. Bila dilapangan, dapat dipergunakan lantai beton atau permukaan gorong-
gorong persegi atau lantai jembatan.

g. Volume cetakan dikalibrasi menurut cara pemeriksaan berat isi agregat PB –


0204 – 76 ( AASHTO T – 19 – 74 ) .
h. Cara pemadatan seperti gambar No. 1
a) Jalan dibuka pada tahun 2007
a. i selama pelaksanaan : 5 % / tahun
b. i untuk umur rencana 5 tahun : 12 % / tahun
c. i untuk umur rencana 10 tahun : 10 % / tahun
( i = pertumbuhan lalu lintas)
b) Jalan dibuka pada tahun 2007
a. Aspal Beton (MS 744) : a1 = 0.40
b. Batu Pecah (CBR 100) : a2 = 0.14
c. Sirtu (CBR 50) : a3 = 0.12
Tanah Dasar CBR = 6 % ~ DDT = 5 kg/cm2

c) Kondisi Regional
Curah Hujan = 1000 mm/tahun
Kelandaian = 5%

d) Kondisi Perkerasan
Tingkat Pelayanan rendah bagi jalan yang masih mantap
Index Permukaan ( IP ) = 2.0
Index Permukaan pada awal umur rencana ( IPo ) = 3.9-3.5

TENTUKAN :
- Tebal Perkerasan Lentur untuk umur 5 tahun & 10 tahun
- Lukiskan Lapisan Perkerasan Jalan hasil perhitungan.

PENYELESAIAN :
LHR pada tahun 2007 (awal umur rencana)
* Dihitung Perjenis kendaraan (LHRj)
a) Kendaraan ringan (2 ton) : 10000 (1+0.05)4 = 12155.1 kendaraan
b) Bus (8 ton) : 4000 (1+0.05)4 = 4862 kendaraan
c) Truk 2 as (13 ton) : 600 (1+0.05)4 = 729.3 kendaraan
d) Truk 3 as (20 ton) : 80 (1+0.05)4 = 97.2 kendaraan

* Angka Ekivalen ( E ) per jenis kendaraan : Ej


a) Kendaraan ringan (2 ton) ( 1t – 1t ) : 0.0002 + 0.0002 = 0.0004
b) Bus (8 ton) ( 3t – 5t ) : 0.0183 + 0.1410 = 0.1593
c) Truk 2 as (13 ton) ( 5t – 8t ) : 0.1410 + 0.9238 = 1.0648
d) Truk 3 as (20 ton) ( 6t – 14t ) : 0.2923 + 0.7452 = 1.0375

* Menghitung LEP (Lintas Ekivalen Permulaan)


Awal umur rencana
Koefisien Distribusi Kendaraan ( C )
Jumlah Lajur 3 – 1 Arah : Kendaraan ringan < 5 ton : C = 0.4
Kendaraan ringan > 5 ton : C = 0.5

* Perumusan : LEP = LHRj x Cj x Ej


a) Kendaraan ringan (2 ton) : 12155.1 x 0.4 x 0.0004 = 1.945
b) Bus (8 ton) : 4862 x 0.5 x 0.1593 = 387.258
c) Truk 2 as (13 ton) : 729.3 x 0.5 x 1.0648 = 388.279
d) Truk 3 as (20 ton) : 97.2 x 0.5 x 1.0375 = 50.423
LEP = 827.905

* Perumusan : LEP = LHRj x Cj x Ej


a) Kendaraan ringan (2 ton) : 12155.1 x 0.4 x 0.0004 = 1.945
b) Bus (8 ton) : 4862 x 0.5 x 0.1593 = 387.258
c) Truk 2 as (13 ton) : 729.3 x 0.5 x 1.0648 = 388.279
d) Truk 3 as (20 ton) : 97.2 x 0.5 x 1.0375 = 50.423

* Menghitung LHR pada tahun ke-5 (akhir umur rencana 5 tahun)


a) Kendaraan ringan (2 ton) : 12155.1 x (1 + 0.12)5 = 21421.4 kend.
b) Bus (8 ton) : 4862 x (1 + 0.12)5 = 8568.5 kend.
c) Truk 2 as (13 ton) : 729.3 x (1 + 0.12)5 = 1285.3 kend.
d) Truk 3 as (20 ton) : 97.2 x (1 + 0.12)5 = 171.3 kend.

* Menghitung LHR pada tahun ke-10 (akhir umur rencana 10 tahun)


a) Kendaraan ringan (2 ton) : 12155.1 x (1 + 0.1)10 = 31527.2 kend.
b) Bus (8 ton) : 4862 x (1 + 0.1)10 = 12610.8 kend.
c) Truk 2 as (13 ton) : 729.3 x (1 + 0.1)10 = 1891.6 kend.
d) Truk 3 as (20 ton) : 97.2 x (1 + 0.1)10 = 252.1 kend.

* Menghitung LEA (Lintas Ekivalen Akhir) umur rencana (UR) 5 tahun :


a) Kendaraan ringan (2 ton) : 21421.4 x 0.4 x 0.0004 = 3.427 kend.
b) Bus (8 ton) : 8568.5 x 0.5 x 0.1593 = 682.481 kend.
c) Truk 2 as (13 ton) : 1285.3 x 0.5 x 1.0648 = 684.293 kend.
d) Truk 3 as (20 ton) : 171.3 x 0.5 x 1.0375 = 88.862 kend.
LEA5 = 1459.063 kend.

* Menghitung LEA (Lintas Ekivalen Akhir) umur rencana (UR) 5 tahun :


a) Kendaraan ringan (2 ton) : 31527.2 x 0.4 x 0.0004 = 5.044 kend.
b) Bus (8 ton) : 12610.8 x 0.5 x 0.1593 = 1004.450 kend.
c) Truk 2 as (13 ton) : 1891.6 x 0.5 x 1.0648 = 1007.088 kend.
d) Truk 3 as (20 ton) : 252.1 x 0.5 x 1.0375 = 130.777 kend.
LEA10 = 2147.359 kend.

LET5 = ½ (LEP + LEA5) = ½ (827.905 + 1459.063)


= 1144

LET10 = ½ (LEP + LEA5) = ½ (827.905 + 1459.063)


= 1488

Menghitung LER (Lintas Ekivalen Rencana)


LER5 = LET5 x UR/10 = 1144 x 5/10 = 572
LER10 = LET10 x UR/10 = 1488 x 5/10 = 744

Menentukan ITP (Index Tebal Perkerasan) :


DDT = 5 kg/cm2 ; LER5 = 572 ; LER10 = 744
FR = 1.5 ; IP0 = 3.9 – 3.5 ; IP = 2.0

ITP5 = 9
ITP10 = 10

Menetapkan Tebal Perkerasan Lentur :


ITP = a1.D1 + a2.D2 + a3.D3
D2 = 20cm
D3 = 10cm

UR = 5 tahun
9 = 0.4.D1 + 0.14.20 + 0.12.10
D1 = 12.5 = 13cm (lapisan penutup/perkerasan beraspal)

UR = 10 tahun
10 = 0.4.D1 + 0.14.20 + 0.12.10
D1 = 15cm

Alternatif
D2 = 20cm
D3 = 20cm
UR = 5 tahun
9 = 0.4.D1 + 0.14.20 + 0.12.20
D1 = 9.5 = 10cm (lapisan penutup/perkerasan beraspal)
UR = 10 tahun
10 = 0.4.D1 + 0.14.20 + 0.12.20
D1 = 12cm

Pemeriksaan
BATAS CAIR ( LIQUID LIMIT )
PB – 0109 – 76
(AASHTO T – 89 – 74*)
(ASTM D -423 – 66*)

1. MAKSUD :

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan kadar air suatu tanah pada
keadaan batas cair. Batas cair ialah kadar air batas dimana suatu tanah
berobah dari keadaan cair menjadi keadaan plastis.

2. PERALATAN :

a. Alat batas cair standar.


b. Alat pembuat alur (grooving tool)
c. Sendok dempul.
d. Pelat kaca 45 x 45 x 0,9 cm.
e. Neraca dengan ketelitian 0.01 gram.
f. Cawan kadar air minimal 4 buah.
g. Spatula dengan panjang 12,5 cm.
h. Botol tempat air suling.
i. Air suling.
j. Oven yang dilengkapi dengan pengukur suhu untuk memanasi
sampai (110 ± 5)°C.

3. BENDA UJI :

Benda uji disiapkan sesuai dengan cara mempersiapkan contoh PB – 0105


– 76 dan PB – 0106 – 76 atau langsung seperti berikut :
a. Jenis-jenis tanah yang tidak mengandung batu dan hampir semua
butirannya lebih halus dari saringan 0,42 mm (no. 40). Dalam hal ini
benda uji tidak perlu dikeringkan dan tidak perlu disaring dangan
saringan 0,42 mm (no. 40).
b. Jenis-jenis tanah yang mengandung batu, atau mengandung
banyak butiran yang lebih kasar dari saringan 0,42 mm (no. 40).
Keringkan contoh diudara sampai bisa disaring. Ambil benda uji yang
lewat saringan 0,42 mm (no. 40).

4. CARA MELAKUKAN :

a. Letakkan 100 gram benda uji yang sudah dipersiapkan didalam


pelat kaca pengaduk.
b. Dengan menggunakan spatula aduklah benda uji tersebut dengan
menambah air suling sedikit demi sedikit, sampai homogen.
c. Setelah contoh menjadi campuran yang merata, ambil sebagian
benda uji ini dan diletakkan diatas mangkok alat batas cair, ratakan
permukaannya sedemikian sehingga sejajar dengan dasar alat, bagian
yang tebal harus ± 1 cm.
d. Buatlah alur dengan jalan membagi dua benda uji dalam mangkok
itu, dengan menggunakan alat pembuat alur (grooving tool) melalui
garis tengah pemegang mangkok dan simetris. Pada waktu membuat
alur posisi alat pembuat alur (grooving tool) harus tegak lurus
permukaan mangkok.
e. Putarlah alat sedemikian, sehingga mangkok naik/jatuh dengan
kecepatan 2 putaran per detik. Pemutaran ini dilakukan terus sampai
dasar alur benda uji bersinggungan sepanjang kira-kira 1,23 cm dan
catat jumlah pukulannya pada waktu bersinggungan.
f. Ulangi pekerjaan (c) sampai dengan (e) beberapa kali sampai
diperoleh jumlah pukulan yang sama, hal ini dimaksudkan untuk
meyakinkan apakah pengadukan contoh sudah betul-betul merata kadar
airnya. Jika ternyata pada 3 kali percobaan telah diperoleh jumlah
pukulan ± sama, maka ambillah benda uji langsung dari mangkok pada
alur, kemudian masukkan kedalam cawan yang telah dipersiapkan.
Maka periksalah kadar airnya.
g. Kembalikan benda uji keatas kaca pengaduk, dan mangkok alat
batas cair bersihkan. Benda uji diaduk kembali dengan merobah kadar
airnya. Kemudian ulangi langkah (b) sampai (f) minimal 3 kali beturut-
turut dengan variasi kadar air yang berbeda, sehingga akan diperoleh
perbedaan jumlah pukulan sebesar 8 – 10.

5. PERHITUNGAN :

Hasil-hasil yang diperoleh berupa jumlah pukulan dan kadar air yang
bersangkutan kemudian digambarkan dalam bentuk grafik. Jumlah pukulan
sebagai sumbu mendatar dengan skala logaritma, sedang besarnya kadar
air sebagai sumbu tegak dengan skala biasa.
Buatlah garis lurus melalui titik-titik itu. Jika ternyata titik-titik yang diperoleh
tidak terletak pada satu garis lurus, maka buatlah garis lurus melalui titik
berat titik-titik tersebut. Tentukan besarnya kadar air pada jumlah pukulan 25
dan kadar air inilah yang merupakan batas cair (liquid limit) dari benda uji
tersebut.

6. PELAPORAN :

Catatlah pada formulir laboratorium, benda uji yang diperiksa dalam


keadaan asli atau telah kering udara, disaring atau tidak. Hasil dilaporkan
sebagai bilangan bulat.

7. CATATAN :

a. Alat-alat yang akan dipakai harus diperiksa dulu sebelum dipakai


dan harus dalam keadaan bersih dan kering.
i. Periksa tinggi jatuh mangkok alat batas cair apakah sudah tepat
1,0 cm mangkok ini harus bersih, kering dan tidak aus.
ii. Alat pembuat alur harus bersih, kering dan tidak aus.
iii. Cawan kadar air yang akan dipakai diberi tanda kemudian
ditimbang untuk menentukan beratnya.
b. Beberapa jenis lempung akan mengalami kesulitan untuk diaduk
dan kadang-kadang jika terlalu banyak atau lama pengadukannya akan
berobah sifat. Agar pengadukan dapat dilakukan dengan lebih mudah
dan lebih cepat, maka adukan disimpan dulu dan ditutup dengan kain
basah atau contoh yang telah disiapkan direndam dulu selama 24 jam.
c. Beberapa jenis tanah lempung menunjukkan bahwa pada waktu
pemukulan ternyata bersinggungan alur disebabkan karena kedua
bagian massa tanah diatas mangkok bergeser terhadap permukaan
mangkok, sehingga jumlah pukulan yang didapat lebih kecil. Jumlah
pukulan yang betul adalah jika proses berimpitnya dasar alur
disebabkan massa tanah seolah-olah mengalir dan bukan karena
bergeser. Kalau ternyata terjadi pergeseran, maka percobaan harus
diulangi beberapa kali dengan kadar air berbeda, dan kalau masih
terjadi pergeseran ini maka harga batas cair ini tidak dapat diperoleh.
d. Selama berlangsungnya percobaan pada kadar air tertentu, benda
uji tidak boleh dibiarkan mongering atau terjadi perubahan kadas air.
e. Untuk memperoleh hasil yang teliti, maka jumlah pukulan diambil
antara 40 – 30, 30 – 20, 20 – 10, sehingga akan dipeoleh 3 titik.
f. Alat pembuat alur Casagrande dipergunakan untuk tanah cohesive.
Alat pembuat alur ASTM untuk tanah yang kepasiran.
Pemeriksaan
BATAS PLASTIS ( PLASTIC LIMIT )
PB - 0110 - 76
(AASHTO T – 90 – 74)
(ASTM D 424 – 74)

1. MAKSUD

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan kadar air suatu tanah pada
keadaan batas plastis.
Batas plastis ialah kadar air minimum dimana suatu tanah masih dalam
keadaan plastis.

2. PERALATAN :

a. Plat kaca 45 x 45 x 0,9 cm.


b. Sendok dempul panjang 12,5 cm.
c. Batang pembanding dengan diameter 3 mm panjang 10 cm.
d. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
e. Cawan untuk menentukan kadar air 2 buah.
f. Botol tempat air suling.
g. Air suling.
h. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai
(110 ± 5)°c.

3. BENDA UJI :

Benda uji disiapkan sesuai dengan cara mempersiapkan contoh PB – 0105


– 76 dan PB – 0106 – 76 atau pada kadar air asli sebanyak ± 20 gram.
4. CARA MELAKUKAN

a. Letakkan benda uji diatas pelat kaca, kemudian diaduk sehingga kadar
airnya merata.
b. Setelah kadar air cukup merata, buatlah bola-bola tanah dari benda uji
itu seberat 8 gram, kemudian bola-bola tanah itu digeleng diatas pelat
kaca. Penggelengan dilakukan dengan telapak tangan, dengan
kecepatan 80 – 90 gelengan permenit.
c. Penggelengan dilakukan terus sampai benda uji membentuk batang
dengan diameter 3 mm. Kalau pada waktu penggelengan itu ternyata
sebelum benda uji mencapai diameter 3 mm sudah retak, maka benda
uji disatukan kembali, ditambah air sedikit dan diaduk sampai merata.
Jika ternyata penggelengan bola-bola itu bisa mencapai diameter lebih
kecil dari 3 mm tanpa menunjukkan retakan-retakan, maka contoh perlu
dibiarkan beberapa saat diudara, agar kadar airnya berkurang sedikit.
d. Pengadukan dan penggelengan diulangi terus sampai retakan-retakan
itu terjadi tepat pada saat gelengan mempunyai diameter 3 mm.
e. Periksa kadar air batang tanah pada (d) dilakukan ganda, benda uji
untuk pemeriksaan kadar air 5 gram.

5. PERHITUNGAN

Tentukan kadar air rata-rata pada (4e) sebagai harga batas plastis.

6. PELAPORAN

a. Hasil dilaporkan sebagai bilangan bulat dalam persen.


b. Catatlah pada formulir.
Benda uji yang diperiksa dalam keadaan asli atau sudah kering udara,
disaring atau tidak.
7. CATATAN

a. Alat-alat yang akan dipakai harus diperiksa dulu sebelum dipakai dan
harus dalam keadaan bersih dan kering.
b. Agar pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat, maka sebaiknya
pengadukan benda uji untuk batas cair dan batas plastis dilakukan
sekaligus, setelah pengadukan rata dipisahkan 20 gram benda uji unutk
pemeriksaan batas plastis.
c. Indeks plastisitas adalah selisih batas cair dan batas plastis (PI = LL –
PL).
(Plastisitas Indek = Liquid limit – Plastic Limit)
d. Contoh tanah dinyatakan tidak plastis (Non Plastis = NP) bila :
i. batas cair atau batas plastis tidak dapat ditentukan atau
ii. batas plastis > batas cair.
e. Contoh perhitungan lihat PB – 0109 – 76.
Pemeriksaan

KEKUATAN GESER LANGSUNG (DIRECT SHEAR)

PB – 0116 – 76
(AASHTO T – 236 – 72)
(ASTM D – 3080 – 72)

1. MAKSUD :

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan kohesi (c) dan sudut geser
tanah (ø).

2. PERALATAN :

a. Alat geser langsung terdiri dari :


i. Setang penekan dan pemberi beban.
ii. Alat penggeser lengkap dengan cincin penguji (proving ring) dan 2
buah arloi geser (extensiometer).
iii. Cincin pemeriksaan yang terbagi dua dengan penguncinya
terletak dalam kotak.
iv. Beban-beban.
v. Dua buah batu pori.
b. Alat pengeluar contoh dan pisau pemotong.
c. Cincin cetak benda uji.
d. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
e. Stopwatch.
f. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai
(110 ± 5)°C.

3. BENDA UJI :

a. Benda uji tanah asli dari tabung contoh.


Contoh tanah asli dari dalam tabung ujungnya diratakan dan cincin
cetak benda uji ditekan pada ujung tanah tersebut, tanah dikeluarkan
secukupnya untuk tiga benda uji. Pakailah bagian yang rata sebagai
alas dan ratakan bagian atasnya.
b. Benda uji asli lainnya.
Contoh yang digunakan harus cukup besar untuk membuat 3 buah
benda uji. Persiapkan benda uji sehingga tidak terjadi kehilangan kadar
air. Bentuk benda uji dengan cincin cetak.
Dalam mempersiapkan benda uji terutama untuk tanah yang peka harus
hati-hati guna menghindarkan terganggunya struktur asli dari tanah
tersebut.
c. Benda uji buatan (dipadatkan).
Contoh tanah harus dipadatkan pada kadar air dan berat isi yang
dikehendaki.
Pemadatan dapat langsung dilakukan pada cincin pemeriksaan atau
pada tabung pemadatan.
d. Tebal minimum benda uji kira-kira 1,3 cm tapi tidak kurang dari 6 kali
diameter butir maksimum.
e. Perbandingan diameter terhadap tebal benda uji harus minimal 2 : 1.
Untuk benda uji yang berbentuk empat persegi panjang atau bujur
sangkar perbandingan lebar dan tebal minimal 2 : 1.

Catatan :
Untuk tanah lembek pembebanan harus diusahakan agar tidak merusak
benda uji.

4. CARA MELAKUKAN :

a. Timbang benda uji.


b. Masukkan benda uji kedalam cincin
pemeriksaan yang telah terkunci menjadi satu dan pasanglah batu pori
pada bagian atas dan bawah benda uji.
c. Setang penekan dipasang vertikal untuk
memberi beban normal pada benda uji dan diatur sehingga beban yang
diterima oleh benda uji sama dengan beban yang diberikan pada setang
terssebut.
d. Penggeser benda uji dipasang pada arah
mendatar untuk memberi beban mendatar pada bagian atas cincin
pemeriksaan. Atur pembacaan arloji geser sehingga menunjukkan
angka nol. Kemudian buka kunci cincin pemeriksaan.
e. Berikan beban normal pertama sesuai
dengan beban yang diperlukan. Segera setelah pembebanan pertama
diberikan islah kotak cincin pemeriksan dengan air sampai penuh diatas
permukaan benda uji, jagalah permukaan ini supaya tetap selama
pemeriksaan.
f. Diamkan benda uji sehingga konsolidasi
selesai. Catat proses konsolidasi tersebut pada waktu-waktu tertentu
sesuai cara pemeriksaan konsolidasi PB – 0115 – 76.
g. Sesudah konsolidasi selesai hitung t50
untuk menentukan kecepatan penggeseran. Konsolidasi dibuat dalam
tiga beban yang diperlukan. Kecepatan penggeseran dapat ditentukan
dengan membagai deformasi geser maksimum dengan 50. t50.
Deformasi geser maksimum kira –kira 10% diameter asli benda uji.
h. Lakukan pemeriksaan sehingga tekanan
geser konstan dan bacalah arloji geser setiap 15 detik.
i. Berikan beban normal pada benda ujii
kedua sebesar dua kali beban normal yang pertama dan lakukan
langkah-langkah (f), (g) dan (h).
j. Berikan beban normal pada benda uji
ketiga sebesar 3 kali beban normal pertama danlakukan langkah-
langkah (f), (g) dan (h).

5. PERHITUNGAN :

a. HItunglah gaya geser (P) dengan jalan mengalikan pembacaan arloji


geser dengan angka kalibrasi cincin penguji, dan hitunglah tegangan
geser maksimum t yaitu gaya geser maksimum dibagi luas bidang
geser.

P max
t=
A

t = tegangan geser maksimum (kg/cm2)


Pmax = gaya geser maksimum (kg)
A = luas bidang geser benda uji (cm2)

b. Buatlah grafik hubungan antara tekanan normal τ , dengan tegangan


geser maksimum ( t ). Hubungkan ketiga titik yang diperoleh sehingga
membentuk garis lurus yang memotong sumbu vertikal t pada harga
kohesi (c) dan memotong sumbu horizontal ( τ ) dengan sudut-sudut
geser tanah (ø) sesuai dengan persamaan :

t = τ tan ø

6. PELAPORAN :

a. Uraian dari jenis alat yang dipakai.


b. Ciri dan uraian daripada contoh, apakah
contoh tersebut termasuk, asli, buatan, dipadatkan atau apakah tanah
tersebut berstrata.
c. Kadar air, berat isi basah, berat isi kering
dan tebal.
d. Semua data-data hasil pemeriksaan
termasuk tekanan normal, jarak geser dan harga tahanan geser dan
perubahan tebal dari benda uji.
e. Grafik tegangan geser maksimum
terhadap tegangan normal.

7. CATATAN :
Pemeriksaan

KEKUATAN TEKAN BEBAS


(UNCONFINED COMPRESSIVE STRENGTH)

PB – 0114 – 76
(AASHTO T-208-70)
(ASTM D-2166-66)

1. MAKSUD :

Pemeriksaan ini dimaksudakan untuk menentukan besarnya kekuatan tekan


bebas contoh tanah dan batuan yang bersifat kohesip dalam keadaan asli
maupun buatan (remoulded).
Yang dimaksud dengan kekuatan tekan bebas ialah besarnya beban aksial
persatuan luas pada saat benda uji mengalami keruntuhan atau pada saat
regangan aksialnya mencapai 20%.

2. PERALATAN :

a. Mesin tekan bebas (unconfined compressive machine).


b. Alat untuk mengeluarkan contoh (extruder).
c. Cetakan benda uji berbentuk silinder dengan tinggi 2 kali diameter.
d. Pisau tipis dan tajam.
e. Neraca dengan ketelitian 0,1 gram.
f. Pisau kawat.
g. Stopwatch.

3. BENDA UJI :

a. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder.


b. Benda uji mempunyai diameter minimal 3,3 cm dan tingginya diambil 2 x
diameter. Biasanya dipergunakan benda uji dengan diameter 6,8 cm dan
tingginya 13,6 cm.
c.
i. Untuk benda uji berdiameter 3,3 cm
besar butir maksimum yang terkandung dalam benda uji harus < 0,1
diameter benda uji.
ii. Unutk benda uji berdiameter 6,8 cm
besar butir maksimum yang terkandung dalam benda uji harus < 1/6
diameter benda uji.
iii. Jika setelah pemeriksaan ternyata
dijumpai butir yang > dari pada ketentuan tersebut diatas, hal ini
dicantumkan dalam laporan.
iv. Menyiapkan benda uji :
- Menyiapkan benda uji asli dari tabung contoh.
• Contoh dikeluarkan dari tabung 1 - 2 cm dengan alat
pengeluar contoh, kemudian dipotong dengan pisau kawat
dan diratakan dengan pisau.
• Pasang alat cetak benda uji didepan tabung contoh,
keluarkan contoh dengan alat pengeluar contoh (extruder)
sepanjang alat cetak kemudian dipotong dengan pisau
kawat.
• Alat cetak yang yang berisi benda uji didirikan dengan
ujung yang sudah dibentuk diatas alas yang rata.
Kemudian ujung sebelah atas diratakan dengan pisau.
• Keluarkan benda uji dari alat cetak.
- Menyiapkan benda uji buatan
• Benda uji buatan bisa dipersiapkan dari benda uji bekas
atau dari contoh lain yang tidak asli.
• Dalam hal menggunakan benda uji bekas menyiapkan
benda uji asli dari tabung contoh, benda uji tersebut
dimasukkan dalam kantong plastik kemudian diremas
dengan jari sampai merata.
Pekerjaan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati untuk
mencegah udara masuk, memperoleh kepadatan yang
merata dan penguapan air. Padatkan benda uji tersebut
pada cetakan c.ii.
• Apabila menggunakan benda uji contoh tidak asli lain,
benda uji dapat disiapkan dengan kadar air dan kepadatan
yang ditentukan lebih dahulu. Jika dikehendaki benda uji
tersebut dapat dijenuhkan lebih dulu sebelum diperiksa
(harus dicatat dalam laporan).

4. CARA MELAKUKAN :

a. Pemeriksaan kuat tekan bebas dengan cara mengontrol regangan.


b. Timbang benda uji dengan ketelitian 0,1 gram. Letakkan benda uji pada
mesin tekan bebas secara centris. Atau mesin diatur sehingga plat atas
menyentuh permukaan benda uji.
c. Atur jarum arloji tegangan pada angka nol. Atur kedudukan arloji
regangan dan atur arloji pada angka nol.
d. Pembacaan beban dilakukan pada regangaan regangan 0,5%, 1%, 2%,
dan seterusnya dengan kecepatan regangan sebesar ½ - 2% per menit,
biasanya diambil 1% per menit.
e. Percobaan ini dilakukan terus sampai benda uji mengalami keruntuhan,
keruntukan ini dapat dilihat dari makin kecilnya beban walaupun
regangan semakin besar.
f. Jika regangan telah mencapai 20% tetapi benda uji belum runtuh, maka
pekerjaan dihentikan.
5. PERHITUNGAN :

a. Besar regangan aksial dihitung dengan rumus :

∆L
e=
Lo

e = regangan aksial (%)


∆L = perobahan panjang benda uji (cm)
Lo = panjang benda uji semula (cm)

b. Luas penampang benda uji rata-rata :

Ao
A=
1−e

Ao = luas penampang benda uji semula (cm2)

c. Hitung besar tegangan normal dari :

τ = P / A (kg/cm2)
ρ = n/β ( kg)

n = pembacaan arloji tegangan


β = angka kalibrasi dari cincin penguji (proving ring).

6. PELAPORAN :

a. Hasil dilaporkan dalam bilangan decimal 1 angka dibelakang koma.


b. Keterangan mengenai benda uji harus dicantumkan sebagai berikut :
i. Contoh asli atau contoh buatan.
ii. Perbandingan tinggi dan diameter.
iii. Diskripsi visual tanah.
iv. Kepadatan, kadar air dan derajat
kejenuhan.
c. Catat setiap kondisi-kondisi atau data lain yang dianggap perlu untuk
menilai hasil pemeriksaan.
d. Gambarkan grafik hubungan antara regangan dan tegangan ; tegangan
sebagai ordinat dan regangan sebagai absis. Tentukan harga maksimum
tegangan atau harga tegangan pada regangan 20%.

7. CATATAN :
a. Untuk tanah yang getas kecepatan regangan diambil < 1% per menit.
b. Besar sensivitas suatu jenis tanah dapat dihitung dari :

qu
st =
qu '

St = sensitivitas
qu = kuat tekan bebas benda uji asli.
qu’ = kuat tekan bebas benda uji buatan
dengan berat isi yang sama dengan benda uji
asli.

Pemeriksaan

BAHAN LEWAT SARINGAN NO. 200

PB – 0208 – 76
(AASHTO T – 11 - 74*)
(ASTM C – 177 - 69*)

1. MAKSUD :

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan jumlah bahan yang


terdapat dalam agregat lewat saringan N 200 dengan cara pencucian.

2. PERALATAN :

a. Saringan no. 16 dan no. 200


b. Wadah pencuci benda uji berkapasitas cukup besar sehingga pada
waktu diguncang – guncangkan benda uji dan /atau air pencuci
tidak tumpah
c. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi
sampai (110 ± 5)ºC.
d. Timbangan dengan ketelitian 0,1% barat contoh.
e. Talam berkapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh
agregat.

3. Benda uji :
a. Berat contoh agregat kering minimum tergantung pada ukuran
agregat maksimum sesuai Daftar No. 1.

Daftar No.1 :
Ukuran agregat maksimum Berat contoh agragat kering minimum
mm inci gram
2,36 No. 8 100
1,18 No. 4 500
9,5 3/8 2000
19,1 3/4 2500
38,1 1½ 5000

b. Persiapan benda uji.

i. Masukkan contoh agregat lebih kurang 1,25 kali berat benda uji
kedalam talam, keringkan dalam oven dengan suhu (110 ± 5º)C
sampai berat tetap.
ii. Siapkan benda uji dengan berat (W1) sesuai Daftar No. 1.

4. CARA MELAKUKAN :

a. Massukkan benda uji kedalam wadah, dan diberi air pencuci


secukupnya sehingga benda uji terendam.
b. Guncang-guncang wadah dan tuangkan air cucian kedalam
susunan saringan no. 16 dan no. 200. Pada waktu menuang air
cucian, usahakan agar bahan – bahan yang kasar tidak ikut
tertuang.
c. Masukkan air pencuci baru, dan ulanglah pekerjaan (b) sampai air
cucian menjadi jernih.
d. Semua bahan yang tertahan saringan no. 16 dan no. 200
kembalikan kedalam wadah ; kemudian masukkan seluruh bahan
tersebut kedalam talam tang telah diketahui beratnya (W 2) dan
keringkan dalam oven, dengan suhu (110 ± 5) ºC sampai berat
tetap.
e. Setelah kering timbang dan catatlah beratnya (W3).
f. Hitunglah berat bahan kering tersebut ( W4 = W3 – W2 ).

5. PERHITUNGAN :

W1 – W4
Jumlah bahan lewat saringan no. 200 = ———— x 100 %
W1
W1 = berat benda uji semula (gram)
W4 = berat bahan tertahan saringan no. 200 (gram)

6. PELAPORAN :

Laporkan jumlah bahan yang lewat saringan no. 200 dalam prosen.

7. CATATAN :
PEMERIKSAAN

KADAR AIR TANAH

PB – 0117 – 76
(ASTM D – 2216 – 71)

1. MAKSUD :

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan kadar air tanah.


Yang dimaksud dengan kadar air tanah ialah perbandingan antara air yang
terkandung dalam tanah dengan berat kering tanah tersebut dinyatakan
dalam persen.

2. PERALATAN :

a. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi


sampai (110 ± 5)ºC.
b. Cawan kedap udara dan tidak berkarat, dengan ukuran yang cukup.
Cawan dapat terbuat dari gelas atau logam misalnya alumunium.
c. i. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram
ii. Neraca dengan ketelitian 0,1 gram
iii. Neraca dengan ketelitian 1 gram
iv. Desikator

3. Benda uji :

Jumlah benda uji yang dibutuhkan untuk pemeriksaan kadar air tergantung
pada ukuran butir maksimum dari contoh yang diperiksa ; dengan ketelitian
seperti Daftar no. 1.

Daftar no. 1.
Ukuran butir maksimum Jumlah benda uji minimum Ketelitian
¾’’ 1000 gram 1 gram
Lewat saringan No. 10 100 gram 0,1 gram
Lewat saringan No. 40 10 gram 0,01 gram
ii. Jika benda uji yang akan diperiksa mengandung bahan yang
mudah terbakar, maka tidak boleh dilakukan pengeringan dengan
cara dibakar dengan spirtus, tapi harus dikeringkan dengan
kompor dengan temperature tidak lebih dari 60ºC.
b. Untuk masing-masing contoh tanah harus dipakai cawan-cawan
yang diberi tanda dan tidak boleh sampai tertukar.
c. Untuk tiap benda uji harus dipakai minimal 2 cawan, sehingga kadar
air dapat diambil rata-rata.
d. Agar pengeringan dapat berjalan sempurna, maka susunan benda
uji didalam oven harus diatur sehingga pengeringan tidak terganggu,
serta saluran udara harus dibuka.

4. CARA MELAKUKAN :

a. Benda uji yang mewakili tanah diperiksa ditempatkan


dalam cawan yangbersih, kering dan diketahui beratnya.
b. Cawan dan isinya kemudian ditimbang dan berat dicatat.
c. Tutup cawan kemudian dibuka dan cawan ditempatkan di
oven atau pengering lainnya paling sedikit 4 jam (untuk oven) atau
sampai berat constant.
d. Cawan ditutup kemudian didinginkan dalam desikator.
e. Setelah dingin ditimbang dan beratnya dicatat.

5. PERHITUNGAN :

Kadar air dapat dihitung seperti berikut :


Berat cawan + tanah basah ………………….. = W1 gram
Berat cawan + tanah kering ………………….. = W2 gram
Berat cawan kosong .………………… = W3 gram
Berat air …………………. = (W1-W2) gram
Berat bahan kering …………………… = (W2-W3) gram
W1-W2
———— x 100%
W2-W3

6. PELAPORAN :

Kadar air dilaporkan dalam persen dengan ketelitian satu angka dibelakang
koma.

7. CATATAN :

a. Jika tidak terdapat oven pengering, maka pelaksanaan pengeringan


dapat di lakukan dengan cara :
I Jika benda uji yang akan diperiksa kadar airnya tidak mengandung
bahan organic atau bahan yang mudah terbakar, maka pengeringan
dapat dilakukan diatas kompor atau dibakar langsung setelah
disiram dengan spirtus.
Penimbangan dan pengeringan dilakukan berulang-ulang, sehingga
setelah 3 kali penimbangan terakhir telah tercapai berat yang
konstan.

PEMERIKSAAN

BERAT JENIS TANAH

PB – 0108 - 76
(AASHTO T – 100 – 74)
(ASTM D – 854 – 58)

1. MAKSUD :

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis tanah yang


mempunyai butiran lewat saringan no. 4 dengan piknometer.
Berat jenis tanah adalah perbandingan antara butir tanah dan berat air suling
dengan isi yang sama pada suhu tertentu.

2. PERALATAN :

a. Piknometer dengan kapasitas minimum 100 ml atau botol ukur dengan


kapasitas minimum 50 ml.
b. Desikator
c. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai
(110 ± 5)ºC
d. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram
e. Termometer ukuran 0º - 50ºC dengan ketelitian pembacaan 1ºC.
f. Saringan no. 4, no.10 dan no.40 dan pendahnya.
g. Botol berisi air suling.
h. Bak perendam.
i. Pompa hampa udar (vacuum, 1-1½ PK) atau tunku listrik (Kookplaat).

3. BENDA UJI :

Benda uji harus dipersiapkan sebagai berikut :


a. Saringlah bahan yang akan diperiksa dengan saringan no 4 jika ternyata
bahan tersebut terdiri dari butir yang tertahan pada saringan no. 4, maka
pemeriksaan berat jenis harus dilakukan menurut pemeriksaan PB – 0202
– 70, jika bahan yang akan diperiksa mengandung campuran butir yang
tertahan dan yang lewat dari saringan no. 4 tersebut maka berat jenis
butir yang tertahan pada saringan no. 4 diperiksa menurut cara
pemeriksaan PB – 0202 – 76 sedang yang melalui saringan no. 4
diperiksa dengan PB – 0108 – 76. Berat jenis bahan adalah harga rata-
rata (sebanding dengan prosentase berat kering masing-masing ukuran)
yaitu yang dicantumkan pada pemeriksaan PB – 0201 – 76. Untuk
pemeriksaan analisa hidrometer, maka contoh harus dipilih yang melalui
saringan no. 10 atau no. 40. Kemudian pemeriksaan dilakukan dengan
prosedur PB – 0108 – 76.
b. Peroleh contoh dengan pemisah contoh atau cara perempat dari bahan
yang lewat saringan no. 4 atau no. 10. Benda uji dalam keadaan kering
oven tidak boleh kurang dari 10 gram untuk botol ukur, dan 50 gram untuk
piknometer.
c. Keringkan benda uji pada 105 - 110ºC dan dinginkan sesudah itu dalam
desikator.
Atau benda uji dalam keadaan tidak dikeringkan (lihat catatan b.ii).

4. CARA MELAKUKAN :

a. Cuci piknometer dengan air suling dan keringkan. Timbang piknometer


dan tutupnya dengan ketelitian 0,01 gram (W1).
b. Masukkan benda uji kedalam piknometer dan timbang bersama tutupnya
dengan ketelitian 0,01 gram (W2).
c. Tambahkan air suling sehingga piknometer terisi dua pertiga. Untuk
bahan yang mengandung lempung diamkan benda uji terendam selama
paling sedikit 24 jam.
d. Didihkan isi piknometer dengan hati-hati selama minimal 10 menit, dan
miringkan botol sekali-sekali untuk membantu mempercepat pengeluaran
udara yang tersekap.
e. Didalam hal mempergunakan pompa vacuum tekanan udara didalam
pinometer atau botol ukur tidak boleh dibawah 100 mm Hg. Kemudian
isilah piknometer dengan air suling dan biarkan piknometer beserta isinya
untuk mencapai suhu constant didalam bejana air atau dalam kamar.
Sesudah suhu constant tambahkan air suling seperlunya sampai tanda
batas atau sampai penuh. Tutuplah piknometer, keringkan bagian luarnya
dan timbang dengan ketelitian 0,01 gram (W3). Ukur suhu dari isi
piknometer dengan ketelitian 1ºC.
f. Bila isi piknometer belum diketahui maka tentukan isinya sebagai berikut.
Kosongkan piknometer dan bersihkan. Isi piknometer dengan air suling
yang suhunya sama dengan suhu pada c dengan ketelitian 1ºC dan
pasang tutupnya.
W4 = Berat piknometer dan air yang telah dikoreksi
W5 = Berat piknometer dan air pada suhu 25ºC
K = Faktor koreksi (Daftar no. 1)
iii. Faktor koreksi = K
Suhu =T

Daftar No. 1 :

T 18 19 20 21 22 23 24
K 1.0016 1.0014 1.0012 1.0010 1.0007 1.0005 1.0003

T 25 26 27 28 29 30 31
K 1.0000 0.9997 0.9995 0.9992 0.9989 0.9986 0.9983

b. i Untuk benda uji kering


benda uji kering oven sesudah ditumbuk dan banyak harus
dimasukkan kedalam oven kembali sampai beratnya constant.
ii Untuk benda uji tanpa pengeringan oven harus diketahui berat
keringnya dengan perhitungan kadar air dan berat ini adalah sebagai
(W2 – W1).
DIREKTORAT PENYELIDIKAN MASALAH TANAH & JALAN
( Nama Instansi / Jawaban )
Lampiran Surat / Laporan No. ………………………………………. Dikerjakan : ELLY Y
:
Nomor Contoh ……………………………………………… Dihitung : ELLY Y
Pekerjaan : Digambar : -
Diperiksa : SUBANDHI BE
PEMERIKSAAN BERAT JENIS
PB - 0108 - 76

Nomor Contoh Kedalaman Bor I / P1 Bor I / P2 Bor I / P3


4.40 - 4.70 7.20 7.60 10.20 10.60
Nomor Piknometer 4B II K IR 2K 4B 9
Berat Piknometer + Contoh W2 49.46 36.20 53.52 54.28 48.64 47.70
Berat Piknometer W1 40.64 27.55 42.30 43.60 40.64 38.96
Berat Tanah Wt = W2 - W1 8.82 8.65 11.22 10.68 8.00 8.74

Suhu ºC 25ºC
Berat Piknometer + Air + Tanah W2 144.74 137.40 149.30 150.65 144.06 143.78
Berat Piknometer + Air padat ºC W4 139.28 132.06 142.32 143.98 139.28 138.50
W5 W2 - W1 + W4 148.10 140.71 153.54 154.66 147.28 147.24
Isi Tanah W5 - W3 3.36 3.31 4.24 4.01 3.22 3.46
Berat Jenis WT / (W5-W3) 2.63 2.61 2.65 2.66 2.66 2.53.
Rata-rata 2 62 2 66 2 51
III. 3. UNTUK PERHITUNGAN DAYA DUKUNG TANAH

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


IV. 1. KESIMPULAN
IV. 2. SARAN
II. Contoh tanah utuh (tidak terusik)
Untuk pengambilan contoh tanah takterusik ini diperlukan :
a. Tabung berbentuk silinder (cincin) terbuat dari kuningan berukuran tinggi 4 cm
dengan diameter luar 7,93 cm dan diameter dalam 7,63 cm, atau terbuat dari baja
anti karat (stainless steel) berukuran tinggi 5,1 cm dengan diameter luar 5,3 cm
dan diameter dalam 5,0 cm. Tebal tabung (cincin) ini harus memenuhi ketentuan
yaitu nisbah luas (area ratio)-nya lebih kecil 0,1 untuk menghindari adanya
tekanan dari samping oleh tabung tersebut saat dibenamkan ke dalam tanah.
Nisbah luas (Area Ratio) : A = [(D luar)2 – (D dalam)2] / (D dalam)2
D adalah diameter. Setiap tabung bernomor dan sudah dilengkapi dengan tutup
terbuat dari plastik. Untuk menyimpan tabung-tabung tersebut, serta untuk
memudahkan membawa dari lapangan ke laboratorium maka disediakan peti
khusus yang terbuat dari bahan kayu atau aluminium..
b. Pisau yang tipis dan tajam.
c. Sekop.
d. Tangkai penjepit tabung (cincin) pengambil contoh tanah (lihat gambar)

Cara kerja :
1. Membersihkan permukaan bagian tubuh tanah yang akan diambil dari penutupan
tumbuhan, seresah dan batu.
2. Meletakkan tabung silinder pada permukaan tanah yang akan disidik dengan
bagian tajam berada di sisi yang bersinggungan.
3. Menekan perlahan-lahan dengan tekanan merata sampai terbenam ¾ nya.
4. Meletakkan tabung silinder kedua diatasnya, kemudian tekan sampai tabung
pertama mencapai kedalaman yang diinginkan.
5. Menggali tanah disekeliling tabung hingga tabung-tabung tersebut dapat diambil
secara bersamaan dalam keadaan bertautan.
6. Merapikan tanah lebihan di sisi depan dan belakang dengan menggunakan pisau
tipis tajam.
7. Menutup kedua mulut tabung silinder dengan tutup tersedia, kemudian isolasi dan
beri label: kode tempat, kode perlakuan, kode tanah, nomor perlapisan dan ciri-ciri
istimewa lainnya.

III. Pengambilan contoh tanah dengan agregat tak terusik dan contoh tanah terusik
Alat dan perlengkapan.
a. Kotak terbuat dari aluminium atau seng atau kayu yang kuat dan mempunyai
ukuran yang cukup untuk diisi dengan sekitar 2 kg agregat tanah tak terusik.
b. Sekop dan cangkul.
c. Kantong plastik untuk wadah contoh tanah takterusik.

Cara Kerja :
(a). Menggali tanah sampai jeluk atau lapisan yang diinginkan. Untuk kemantapan
agregat umumnya diambil sedalam mintakat (zone) perakaran.
(b). 1. Mengambil gumpalan-gumpalan tanah yang masih menunjukkan agregat-
agregat aslinya dan masukkan ke dalam kotak yang telah tersedia. Apabila
kotak semacam ini tidak tersedia, dapat digantikan dengan tempat yang lain
(kaleng bekas tempat roti, kotak plastik dan lain-lain) asalkan dapat dijamin
kemampuannya dalam melindungi agregat tanah agar tetap utuh selama
pengangkutan.
2. Untuk contoh tanah terusik, maka contoh tanah dimasukkan ke dalam kantong
plastik.
(c). Mencatat lokasi dan jeluk pengambilannya, memberi label pada kotak atau kantong
plastik tersebut.