Anda di halaman 1dari 30

1.

LATAR BELAKANG
Permeabilitas adalah tanah yang dapat menunjukkan kemampuan tanah meloloskan air. Tanah
dengan permeabilitas tinggi dapat menaikkan laju infiltrasi sehingga menurunkan laju air
larian. Pada ilmu tanah, permeabilitas didefenisikan secara kualitatif sebagai pengurangan
gas-gas, cairan-cairan atau penetrasi akar tanaman atau lewat. Selain itu permeabilitas juga
merupakan pengukuran hantaran hidraulik tanah.hantaran hidraulik tanah timbul adanya pori
kapiler yang saling bersambungan dengan satu dengan yang lain. Secara kuantitatif hantaran
hidraulik jenuh dapat di artikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan pada media
berpori dalam keadaan jenuh. Dalam hal ini sebagai cairan adalah air dan sebagai media pori
adalah tanah. Penetapan hantaran hidraulik didasarkan pada hukum Darcy. Dalam hukum ini
tanah dianggap sebagai kelompok tabung kapiler halus dan lurus dengan jari-jari yang
seragam. Sehingga gerakan air dalam tabung tersebut di anggap mempunyai kecepatan yang
sama.

2. TUJUAN
-

Mempelajari tentang permeabilitas tanah

Agar kita mengerti untuk arti permeabilitas

Mengetahui hal yang mempengaruhi permeabilitas

Mengetahui hal yang dipengaruhi permeabilitas

Mengetahui penrtian dari permeabilitas.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Permeabilitas
a. Permeabilitas tanah adalah suatu kesatuan yang melipui infiltrasi tanah dan bermanfaat
sebagai permudahan dalam pengolahan tanah.
(Dede rohmat, 2009)
b. Permeabilitas tanah memiliki lapisan atas dan bawah. Lapisan atas berkisar antara lambat
sampai agak cepat (0,20 9,46 cm jam-1), sedangkan di lapisan bawah tergolong agak
lambat sampai sedang (1,10 -3,62 cm jam-1).
( N.Suharta dan B. H Prasetyo.2008)
2.2. Faktor yang mempengaruhi permeabilitas

a.
Tekstur, tekstur sangat mempengaruhi permeabilitas tanah. Hal ini dikarenakan
permeabilitas itu adalah melewati tekstur tanah. Misalnya tanah yang bertekstur pasir akan
mudah melewatkan air dalam tanah
b.

Struktur

Struktur juga mempengaruhi permebilitas. Semakin banyak ruang antar struktur, maka
semakin cepat juga permeabilitas dalam tanah tersebut. Misalnya tanah yang berstruktur
lempeng akan sulit di tembus oleh air daru pada berstruktur remah
c.

Porositas

Porositas atau ruang pori adalah rongga antar tanah yang biasanya diisi air atau udara. Pori
sangat menentukan sekali dalam permeabilitas tanah, semakin besar pori dalam tanah
tersebut, maka semakin cepat pula permeabilitas tanah tersebut
d.

Viskositas

Viskositas sama juga dengan kekentalan air, semakin kental air tersebut, maka semakin sulit
juga air untuk menembuas tanah tersebut
e.

Gravitasi

Gaya gravitasi atau gaya tarik bumi juga sangat menentukan permeabilitas tanah, karena
permeabilitas adalah gaya yang masuk ke tanah menrut gaya gravitasi
(praktikum, 2010)
2.3. Faktor yang dipengaruhi permeabilitas
a.

Drainase

Apabila permeabilitas tanah baik, maka waktu dalam pergerakan air akan semakin cepat,
begitu pula sebaliknya
b.

Infiltrasi

Penyerapan yang dilakukan tanah akan semakin cepat apabila drainase tanah itu baik
c.

Pengolahan

Apa bila drainase dalam tanah tersebut baik, maka pengolahan dalam tanah akan semakin
mudah
d.

Perkolasi

Pergerakan air dalam tanah akan baik bila drainase dalam tanah juga baik
e.

Erosi

Pengikisan juga dipengaruhi oleh permebilitas, semakin baik permeabilitas dalam tanah,
maka erosi akan minimum
f.

Evaporasi

Evaporasi akan semakin maksimal jika permeabilitas tanah tersebut baik


(praktikum, 2010)

impossible is not a word, it's just a reason for someone not to try

Permeabilitas Batuan
by lion177
PERMEABILITAS
Permeabilitas batuan (k) merupakan nilai yang menunjukan kemampuan suatu batuan porous
untuk mengalirkan fluida. Henry Darcy (1856), dalam percobaan dengan menggunakan
sampel batuan. Dalam percobaan Henry Darcy menggunakan batupasir tidak kompak yang
dialiri air. Batupasir silindris yang porous ini 100% dijenuhi cairan dengan viskositas (cp),
dengan luas penampang A (cm2), dan panjangnya L (cm). Kemudian dengan memberikan
tekanan masuk P1 (atm) pada salah satu ujungnya maka terjadi aliran dengan laju sebesar Q
(cm3/sec), sedangkan P2 (atm) adalah tekanan keluar. Dari percobaan dapat ditunjukan
bahwa
Q. . L/A (P1-P2) adalah konstan dan akan sama dengan harga permeabilitas batuan yang
tidak tergantung dari cairan, perbedaan tekanan dan dimensi batuan yang digunakan. Dengan
mengatur laju Q sedemikian rupa sehingga tidak terjadi aliran turbulen, maka diperoleh harga
permeabilitas
absolute
batuan.
Definisi batuan mempunyai permeabilitas 1 Darcy menurut hasil percobaan ini adalah apabila
batuan mampu mengalirkan fluida dengan laju 1cm3/s berviskositas 1cp, sepanjang 1cm dan
mempunyai penampang 1cm2, perbedaan tekananan sebesar 1atm. Sehingga persamaannya
dapat ditulis sebagai berikut :
K= (Q . )/(A .(P/l) )
4-19
Keterangan
k
=
permeabilitas
media
berpori,
q
=
debit
aliran,

=
viskositas
fluida
yang
menjenuhi,
A
=
luas
penampang
media,
P
=
Beda
tekanan
masuk
dengan
tekanan
keluar.
l = panjang media berpori

:
darcy
cm3/s
cp
cm2
Atm

Beberapa anggapan yang digunakan oleh Darcy dalam persamaan (4-19) diatas, adalah :

1. Alirannya mantap (steady state).


2. Fluida yang mengalir satu fasa
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan
4. Kondisi aliran isothermal
5. Formasinya homogeny dan arahnya alirannya horizontal
6. Fluidanya incompressible
Berdasarkan jumlah fasa yang mengalir dalam batuan reservoir, permeabilitas dibedakan
menjadi tiga, yaitu :
1. Permeabilitas absolute, yaitu kemampuan batuan untuk melewatkan fluida dimana fluida
yang mengalir melalui media berpori tersebut hanya satu fasa atau disaturasi 100%
2. Permeabilitas efektif, yaitu kemampuan batuan untuk melewatkan fluida dimana fluida
yang mengalir lebih dari satu fasa, misalnya (minyak dan air), (air dan gas), (gas dan minyak)
atau ketiga-tiganya. harga permeabilitas efektif dinyatakan sebagai ko, kg, kw, dimana
masing-masing untuk minyak,gas dan air.
3. Permeabilitas relative, merupakan perbandingan antara permeabilitas efektif dengan
permeabilitas absolute pada kondisi saturasi tertentu. Harga Permeabilitas relative antara 0
1 darcy. Dapat juga dituliskan sebagai berikut :
Krel = Kefective / Kabsolute
Permeabilitas relatif reservoir terbagi berdasarkan jenis fasanya, sehingga dalam reservoir
akan terdapat permeabilitas relatif air (Krw), permeabilitas relatif minyak (Kro),
permeabilitas relatif gas (Krg) dimana persamaannya adalah :
Krw = Kw / Kabs
Kro = Ko / Kabs
Krg = Kg / Kabs
Dimana :
Krw = Permeabilitas relatif air
Kro = Permeabilitas relatif minyak
Krg = Permeabilitas relatif gas
Dasar penentuan besaran permeabilitas adalah hasil percobaan yang dilakukan oleh Henry
Darcy. Seperti yang terlihat pada Gambar 4.17. Dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa Q.
. L/A (P1-P2) adalah konstan dan akan sama dengan harga permeabilitas batuan yang tidak
tergantung dari cairan, perbedaan tekanan dan dimensi batuan yang digunakan. Dengan

mengatur laju Q sedemikian rupa sehingga tidak terjadi aliran turbuluen, maka diperoleh
harga permeabilitas absolute batuan, sesuai persamaan berikut :
k= (Q . .L)/(A .(P1-P2))
.. 4-20
Satuan Permeabilitas dalam percobaan ini adalah :
k (darcy)= (Q (cm^3/sec). (centipoise).L(cm))/(A(sq.cm).(P1-P2)(Atm))
..4-21

Gambar 4-17
Faktor yang ikut mempengaruhi permeabilitas adalah :
1. Bentuk dan Ukuran batu : Jika batuan disusun oleh butiran yang besar, pipih dan
seragam dengan dimensi horizontal lebih panjang, maka permeabilitas horizontal (kh)
akan lebih besar. Sedangkan permeabilitas vertical (kv) sedang-tinggi. Jika batuan
disusun berbutir dominan kasar, membulat dan seragam, maka permeabilitas akan
lebih besar dari kedua dimensinya. Permeabilitas buat reservoir secara umum lebih
rendah, khususnya pada dimensi vertikalnya, jika butiranya berupa pasir dan
bentuknya tidak teratur. Sebagian besar reservoir minyak berbentuk seperti ini.
2. Sementasi : permeabilitas dan porositas batuan sedimen sangat dipengaruhi sementasi
dan keberadaan semen pada pori batuan
3. Retakan dan Pelarutan : pada batuan pasir, retakan tidak dapat menyebabkan
permeabilitas sekunder, kecuali pada batuan pasir yang interbedded dengan shale,
limstone dan dolomite. Pada batua karbonat, proses pelarut oleh larutan asam yang
berasal dari perokolasi air permukaan akan melalu pori pori primet batuan, bidang
celah dan rekahan akan menambah permeabilitas reservoir.

I.POROSITAS
1.1 Pengertian porositas
Porositas suatu medium adalah perbandingan volum rongga rongga pori terhadap volum
total seluruh batuan. Perbandingan ini biasanya dinyatakan dalam persen dan disebut
porositas.

Porositas juga dapat dinyatakan dalam acre feet, yang berarti volum yang dinyatakan
sebagai luas dalam acre dan ketebalan reservoir dalam kaki (feet).
Selain itu dikenal juga istilah porositas efektif, yaitu apabila bagian rongga rongga di dalam
batuan berhubungan, sehingga dengan demikian porositas efektif biasanya lebih kecil
daripada rongga pori pori total yang biasanya berkisar dari 10 sampai 15 persen.
1.2 Besaran Porositas
Porositas tertentu dapat berkisar dari nol sampai besar sekali, namun biasanya berkisar antara
5 sampai 40 persen, dan dalam prakteknya berkisar hanya dari 10 sampai 20 persen saja.
Porositas 5 persen biasanya disebut porositas tipis (marginal porosity) dan umumnya bersifat
non komersiil, kecuali jika dikompensasikan oleh adanya beberapa factor lain. Secara teoritis
porositas tidak bisa lebih besar dari 47,6 persen. Hal ini disebabkan karena keadaan sebagai
terlihat pada Gambar 4.4, yang berlaku untuk porositas jenis intergranuler. Dalam gambar
tersebut dapat dilihat suatu kubus yang terdiri dari 8 seperdelapan bola, sebagaimana dapat
dilihat pada butir butir oolit. Porositas maximum yang didapatkan adalah dalam susunan
kubus dan secara teoritis nilai yang didapatkan adalah sebagai berikut.
Jelaslah, bahwa dalam hal ini porositas tidak tergantung daripada besar butir. Jika kita
subtitusikan r untuk angka berapa saja maka kita akan tetap mendapatkan angka 47,6
tersebut.
Besarnya porositas itu ditentukan dengan berbagai cara, yaitu;

1)
Di laboratorium, dengan porosimeter yang didasarkan pada hokum Boyle : gas
digunakan sebagai pengganti cairan untuk menentukan volum pori tersebut.
2)

Dari log listrik, log sonic, dan log radioaktif

3)

Dari log kecepatan pemboran

4)

Dari pemeriksaan dan perkiraan secara mikroskopis

5)

Dari hilangnya inti pemboran

1.3 Skala Visul Pemerian Porositas


Di lapangan bila kita dapatkan perkiraan secara visual dengan menggunakan peraga visual.
Penentuan ini bersifat semi kuantitatif dan dipergunakan suatu skala sebagai berikut :
0 5% dapat di abaikan (negligible)
5 10 % buruk (poor)
10 15% cukup (fair)
15 20 % baik (good)
20 25% sangat baik (very good)
25% istimewa (excellent)
Pemeriksaan secara mikroskopi untuk jenis porositas dapat pula dilakukan secara kualitatif.
Antara lain ialah jenis :
1) Antar butir (intergranuler), yang berarti bahwa pori pori yang didapat di antara butir
butir.
2)

Antar Kristal (interkristalin), dimana pori pori berada di atara kristal kristal.

3)

Celah dan rekah, yaitu rongga terdapat di antara celah celah.

4)
Bintik bintik jarum (point point porosity), berarti bahwa pori pori merupakan
bintik bintik terpisah pisah, tanpa kelihatan bersambungan.
5)
Ketat (thigt), yang berarti butir butir berdekatan dan kompak sehingga pori pori
kecil sekali dan hamper tidak ada porositas.
6)

Padat (dense), berarti batuan sangat kecil sehingga hamper tidak ada porositas.

7)
Growing (vugular), yang berarti rongga rongga besar berdiameter beberapa mili dan
kelihatan sekali bentuk bentuknya tidak beraturan, sehingga porositas besar.

8)
Bergua gua (cavernous), yang berarti rongga rongga besar sekali malahan berupa
gua gua, sehingga porositas sangat besar.
II. PERMEABILITAS
Kelulusan atau permeabilitas adalah suatu sifat batuan reservoir untuk dapat meluluskan
cairan melalui pori pori yang berhubungan, tanpa merusak partikel pembentuk atau
kerangka batuan tersebut.
Defenisi permeabilitas dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut ;
Dimana q dinyatakan dalam sentimeter per sekon, k dalam darcy (permeabilitas), viskositas
m dinyatakan dalam sentipoise, dan dp/dx adalah gradient hidrolik yang dinyatakan dalam
atmosfer per sentimeter. Dengan demikian jelaslah bahwa permeabilitas adalah k yang
dinyatakan dalam Darcy.
Definisi API untuk 1 Darcy : suatu medium berpori mempunyai kelulusan (permeabilitas)
sebesar 1 Darcy, jika cairan berfasa satu dengan kekentalan 1 sentipoise mengalir dengan
kecepatan 1 cm/sekon melalui penampang seluas 1 cm2 pada gradient hidrolik satu atmosfer
(76,0 mm Hg) per sentimeter dan jika cairan tersebut seluruhnya mengisi medium tersebut.
Dari defenisi di atas tidak dijelaskan hubungan antara permeabilitas dan porositas. Memang
sebetulnya tidak ada hubungan antara permeabilitas dengan porositas. Batuan yang
permeable selalu sarang (porous), tetapi sebaliknya, batuan yang sarang belum tentu
permeable. Hal ini disebabkan karena batuan yang berporositas lebih tinggi belum tentu pori
porinya berhubungan satu dengan yang lain. Juga sebaliknya dapat dilihat, bahwa porositas
tidak tergantung dari besar butir, dan permeabilitas merupakan suatu fungsi yang langsung
terhadap besar butir.
2.1 Besaran Permeabilitas
Sebagaimana telah disebutkan di atas, biasanya permeabilitas dinyatakan dalam darcy, yaitu
untuk menghormati DARCY yang memproklamasikan pertama kalinya hokum aliran dalam
medium yang berpori. Jadi suatu permeabilitas dengan k = 2 darcy berarti suatu aliran sebesar
2 cc persekon yang di dapatkan melalui suatu penampang seluas satu sentimeter persegi
panjang 1 sentimeter, di bawah suatu tekanan perbedaan satu atmosfer untuk suatu cairan
yang mempunyai kekentalan (viskositas) 1 sentipoise. Pada hakekatnya permeabilitas suatu
batuan biasanya kurang dari satu darcy dan oleh karenanya dalam praktek permeabilitas
dinyatakan dalam milidarcy (1 md = 0,001 darcy).
Sebagai contoh untuk batuan yang sarang tetapi tidak permeable, dapat ditunjukkan
misalnya ; suatu serpih mempunyai permeabilitas yang sangt rendah, sedangkan porositasnya
sama dengan batupasir. McKelvey (1962) memberikan nilai permeabilitas 9 X 10-6 md untuk
serpih yang telah kompak, tetapi porositasnya yaitu 24%. Untuk batupasir dengan porositas
sama, misalnya 22,7 % (batupasir Bradford; dari daerah Pennsylvania) ternyata mempunyai
permeabilitas 36,6 % md (Fettke, 1934). Dalam prakteknya permeabilitas berkisar antara 5
sampai 1000 milidarcy.
Cara penentuan permeabilitas adalah :
1)

Dengan permeameter, suatu alat pengukur yang mempergunakan gas.

2)

Dengan penaksiran kehilangan sirkulasi dalam pemboran.

3)

Dari kecepatan pemboran

4)
Berdasarkan test produksi terhadap penurunan tekanan dasar lubang (bottom-hole
pressure-decline).
2.2 Skala Permeabilitas Semi Kuantitatif
Secara perkiraan di lapangan dapat juga dilakukan pemerian semikuantitatif sebagai berikut:
1. Ketat (tight), kurang dari 5 md
2. Cukup (fair) antara 5 sampai 10 md
3. Baik (good) antara 10 sampai 100 md
4. Baik sekali (very good) antara 100 sampai 1000 md
2.3 Permeabilitas Relatif dan Efektif
Permeabilitas tergantung sekali pada ada tidaknya cairan ataupun gas di dalam rongga yang
sama. Sebagai contoh, misalnya saja adanya air dan minyak. Gambar 4.1 memperlihatkan
permeabilitas relative.
Penjenuhan air diperlihatkan pada absis dan dinyatakan dalam persen air, koordinat
menunjukkan fraksi permeabilitas daripada fluida yang bersangkutan terhadap keadaan jika
seluruh batuan tersebut dijenuhi oleh cairan tersebut saja. Maka pada penjenuhan air kira
kira 20% permeabilitas relative minyak terhadap permeabilitas jika seluruhnya diisi oleh
minyak adalah sedikit di bawah 0,7 x, sedangkan jika penjenuhan air itu kira kira 50%
maka permeabilitas keseluruhannya adalah 0,3 x daripada jika seluruh batuannya diisi oleh
air saja atau oleh minyak saja. Pada penjenuhan 90% maka minyak sudah tidak mempunyai
permeabilitas lagi sehingga hanya air sendiri saja yang bergerak. Dari grafik ini jelaslah,
bahwa minyak bumi baru dapat bergerak jika mempunyai penjenuhan lebih dari pada 10%
dan air sama sekali tidak bisa bergerak jika penjenuhannya di bawah 20%. Hal ini juga jelas
sama untuk kehadiran gas dan minyak (Gambar 4.2). Hal yang sama dapat dilihat, jika
penjenuhan minyak kurang dari 40%, maka minyak sama sekali tidak bisa bergerak dan
hanya gas saja yang dapat bergerak. Secara berangsur angsur permeabilitas meningkat
walaupun secara relative sangat lambat yaitu sampai 100% dijenuhi minyak.
Daftar Pustaka : Koesoemadinata, 1980, Geologi Minyak dan Gas Bumi, Jilid 1 Edisi Kedua,
ITB Bandung.

Permeabilitas adalah kecepatan masuknya air pada tanah dalam keadaan jenuh. Penetapan
permeabilitas dalam tanah baik vertial makupun horizontal sangat penting peranannya dalam
pengelolaan tanah dan air. Tanah-tanah yang mempunyai kecepatan permeabilitas lambat,
diinginkan untuk persawahan yang membutuhkan banyak air. Perkiraan kebutuhan air bagi
tanaman memerlukan pertimbangan-pertimbangan kehilangana air dari tanah melalui
rembesan ke bawah dan ke samping. Selain itu bagi daerah berdrainase buruk atau tergenang
memerlukan data kecepatan permeabilitas tanah agar perencanaan fasilitas drainase dapat
dibuat untuk dapat menyediakan jumlah air dan udara yang baik bagi pertumbuhan tanaman.
( Santun dkk, 1980 )
Permeabilitas berhubungan erat dengan drainase. Mudah tidaknya air hilang dari
tanah menentukan kelas drainase tanah tersebut. Air dapat hilang dari permukaan tanah
maupun melalui presepan tanah. Berdasarkan atas kelas drainasenya, tanah dibedakan
menjadi kelas drainase terhambat sampai sangat cepat. Keadaan drainase tanah menentukan
jenis tanaman yang dapat tumbuh. Sebagai contoh, padi dapat hidup
1. Permeabilitas (KHJ) adalah suatu sifat khas media sarang dan sifat geometri tanah itu
sendiri yang menunjukkan kemampuan tanah didalam menghantarkan zat tertentu melalui
poriporinya
2. Permeabilitas tanah, merupakan pengaruh pada lapisan yang kedap, serta mempengaruhi
ketebalan dan nisbah bentotit, itu semua yang sangat menentukan permeabilitas tanah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas

1. Tekstur tanah
Tekstur tanah adalah perbandingan antara pasir, liat, dan debu yang menyusun suatu
tanah. Tekstur sangat berppengaruh pada permeabilitas. Apabila teksturnya pasir maka
permeabilitas tinggi, karena pasir mempunyai pori-pori makro. Sehingga pergerakan air dan
zat-zat tertentu bergerak dengan cepat.
2. Struktur tanah
Struktur tanah adalah agregasi butiran primer menjadi butiran sekunder yang
dipisahkan oleh bidang belah alami. Tanah yang mempunyai struktur mantap maka
permeabilitasnya rendah, karena mempunyai pori-pori yang kecil. Sedangkan tanah yang

berstruktur lemah, mempunyai pori besar sehingga permeabilitanya tinggi.(Semakin kekanan


semakin rendah)
3. Porositas
Permeabilitas tergantung pada ukuran pori-pori yang dipengaruhi oleh ukuran
partikel, bentuk partikel, dan struktur tanah. Semakin kecil ukuran partikel, maka semakin
rendah permeabilitas.
4. Viskositas cairan
Viskositas merupakan kekentalandari suatu cairan. Semakin tinggi viskositas, maka
koefisien permeabilitas tanahnya akan semakin kecil.
5. Gravitas
Gaya gravitasi berpengaruh pada kemampuan tanah untuk mengikat air. Semakin kuat gaya
gravitasinya, maka semakin tinggi permeabilitanya.
6. BI dan BJ
Jika BI tinggi, maka kepadatan tanah juga tinggi, sehingga permeabilitasnya lambat atau
rendah.

Faktor-faktor yang di pengaruhi permeabilitas

1. Infiltrasi
Infiltrasi kemampuan tanah menghantar partikel. Jika permeabilitas tinggi maka
infiltrasi tinggi.
2. Erosi
Erosi perpindahan massa tanah,jika permeabilitas tinggi maka erosi rendah
3. Drainase
Drainase adalah proses menghilangnya air yang berkelebihan secepat mungkin dari
profil tanah. Mudah atau tidaknya r hilang dari tanah menentukan kelas drainase tersebut. Air
dapat menghilang dari permukaan tanah melalui peresapan ke dalam tanah. Pada tanah yang
berpori makro proses kehilangann airnya cepat, karena air dapat bergerak dengan lancer.
Dengan demikian, apabila drainase tinggi, maka permeabilitas juga tinggi.
4. Konduktifitas
Konduktifitas ias didapat saat kita menghitung kejenuhan tanah dalam air (satuan
nilai), untuk membuktikan permeabilitas itu cepata atau tidak. Konduktifitas tinggi maka
permeabilitas tinggi.
5. Run off
Run off merupakan air yang mengalir di atas permukaan tanah. Sehingga, apabila run
off tinggi maka permeabilitas rendah.
6. Perkolasi
Perkolasi merupakan pergerakan air di dalam tanah. Pada tanah yang kandungan
litany tinggi, maka perkolasi rendah. Sehingga, apabila perkolasi rendah maka
permeabilitasnya pun rendah.
Permeabilitas tanah memiliki lapisan atas dan bawah. Lapisan atas berkisar antara
lambat sampai agak cepat (0,20 9,46 cm jam-1), sedangkan di lapisan bawah tergolong
agak lambat sampai sedang (1,10 -3,62 cm jam-1).
( N.Suharta dan B. H Prasetyo.2008)

Porositas didefinisikan sebagai perbandingan antara volome batuan yang tidak terisi
oleh padatan terhadaf volume batuan secara keseluruhan. Berdasarkan sifat batuan
resevoir maka porositas dibagi menjadi dua yaitu porositas efektif dan porisitas
absolut.
Porositas efektif yaitu perbandingan volume pori-pori yang saling berhubungan
terhadap volume batuan secara keseluruhan.
Porositas absolut adalah perbandingan volume pori-pori total tampa memandang
saling berhubungan atau tidak , terhadap volume batuan secara keseluruhan.
Pori merupakan ruang di dalam batuan; yang selalu terisi oleh fluida, seperti udara,
air tawar/asin, minyak atau gas bumi. Porositas suatu batuan sangat penting dalam
eksplorasi dan eksploitasi baik dalam bidang perminyakan maupun dalam bidang air
tanah. Hal ini karena porositas merupakan variabel utama untuk menentukan
besarnya cadangan fluida yang terdapat dalam suatu massa batuan.
Porositas batupasir dihasilkan dari sekumpulan proses-proses geologi yang
berpengaruh terhadap proses sedimentasi. Proses-proses ini dapat dibagi menjadi 2
kelompok, yaitu proses pada saat pengendapan dan proses setelah pengendapan.
Kontrol pada saat pengendapan menyangkut tekstur batupasir (ukuran butir dan
sortasi). Proses setelah pengendapan yang berpengaruh terhadap porositas
diakibatkan oleh pengaruh fisika dan kimia, yang merupakan fungsi dari temperatur,
tekanan efektif dan waktu (Bloch, 1991).
Beard dan Weyl (1973) menyatakan bahwa porositas sangat kecil dipengaruhi oleh
perubahan dalam ukuran butir dengan sortasi yang sama, tetapi porositas bervariasi
terhadap sortasi. Penurunan porositas dari 42,4 % pada pasir bersortasi baik sampai
27,9 % pada pasir yang bersortasi sangat jelek. Sedangkan Graton dan Fraser
(1935 dalam Beard & Weyl, 1973) menemukan bahwa pengepakan bola sangat kuat
hingga berbentuk rhombohedral diperoleh porositas sebesar 26 % dan pengepakan
berbentuk kubus diperoleh porositas 47,6 %. Tetapi di alam pengepakan butiran
tidak berbentuk kubus maupun rhombohedral.
Selanjutnya Scherer (1987) menyatakan bahwa parameter yang paling penting yang
berpengaruh terhadap porositas adalah umur, mineralogi (kandungan butiran
kuarsa), sortasi dan kedalaman terpendam maksimum.

Parameter geologi yang mengontrol porositas


Komposisi butiran mempengaruhi sifat-sifat kimia dan mekanika batupasir. Hal ini
akan berpengaruh terhadap porositas selama periode setelah pengendapan dari
evolusi batupasir (Bloch, 1991). Scherer (1987) menggunakan kelimpahan butiran
kuarsa (termasuk di dalamnya kuarsa mono- dan polikristalin dan fragmen batuan
yang tersusun dominan oleh kuarsa) sebagai parameter dalam modelnya.
Porositas tidak dipengaruhi oleh ukuran butir tetapi merupakan fungsi dari sortasi.
Porositas berkurang secara progresif dari pasir bersortasi sangat baik sampai pasir
yang bersortasi sangat jelek. Selanjutnya Scherer (1987) juga menyatakan bahwa
median ukuran butir tidak dapat dijadikan parameter untuk memprediksi porositas.
Hubungan antara porositas dan ukuran butir pada batupasir arkose dan lithic arkose
(Lapangan Yacheng) lemah dengan R = 0,42 (Bloch, 1991). Dari penelitian tersebut
diperoleh persamaan sebagai berikut :
Porositas = -6,1 + 9,8 (1/sortasi) + 0,17 (% butiran keras)
dengan sortasi diukur berdasarkan koefisien sortasi Trask.
Nilai koefisien regresi dari model ini secara statistik signifikan dengan prob > F =
0,0001 (Scherer, 1987). Model ini juga mempunyai nilai koefisien determinasi relatif
tinggi R2 = 0,75).
Penentuan dari penghitungan porositas didasarkan atas beberapa hal, yang antara
lain
:
a.
Pori-pori
intergranular
(antar
butiran)
b.
Pori-pori
intragranular
(pada
butiran)
c. Pori-pori yang melebihi ukuran relatifnya
Hubungan

Kecepatan

Gelombang

Seismik

dan

Jenis

Porositas

Hubungan antara kecepatan gelombang seismik dan porositas akan menjadi


kompleks karena pengaruh geometri lubang/rongga dan mineralogi, serta mengingat
kenyataan bahwa sebagian besar batuan karbonat memiliki lebih dari 1 macam jenis
(tipe) porositas. Namun, beberapa generalisasi dapat dibuat berkaitan dengan tipe
lubang
seperti
di
bawah
ini:
1.
Porositas
Interkristalin
dan
Interpartikel
Tipe porositas ini memiliki karakter yang rasio bidang permukaan internal terhadap
porositas yang tinggi. Baik kecepatan gelombang primer maupun sekunder akan
rendah dan kecepatan ini sangat bergantung pada tekanan pembebanan efektif atau
tekanan
pembebanan
bersih
(net
overburden
pressure).
2.
Porositas
Moldic
dan
Intrapartikel
Porositas moldic adalah porositas sekunder, sedangkan porositas intrapartikel dan
intrakristalin adalah porositas primer. Kecepatan gelombang seismik dalam batuan
karbonat berporositas jenis moldic dan intrapartikel cederung tidak sensitif terhadap
perubahan tekanan dan umumnya tinggi, karena tipe rongga ini sulit dideformasi.
3.
Vug
dan
Porositas
Channel
Porositas Vuggy memiliki kerangka batuan yang kuat dan rasio bidang permukaan
internal terhadap porositas yang rendah. Dengan demikian gelombang primer dan

sekunder akan relatif cepat dan tidak sensitif terhadap perubahan tekanan. Porositas
Channel biasanya mudah dideformasi, dengan demikian cepat rambat gelombang
seismik
di
batuan
seperti
ini
biasanya
lebih
rendah.
4.
Porositas
Fenestral
Porositas sekunder yang satu ini mempunyai lubang lebih besar daripada kisi-kisi
batuan karbonat grain-supported. Kecepatan gelombang seismik di karbonat tipe
porositas fenestral sama yang ada di tipe porositas interkristalin.

5.
Porositas
Breksia/Rekahan
Porositas rekahan berevolusi ke tipe breksia, dengan pertambahan jarak antara
dinding-dinding yang merekah. Satu hal yang menarik dari rekahan adalah baik
gelombang primer maupun sekunder bergantung pada arah rambatan gelombang
relatif terhadap orientasi rekahan tersebut. Jika rekahannya banyak dan berorientasi
acak, maka batuan akan bersifat isotropis. Meskipun rekahan tidak banyak
berkontribusi pada porositas total, mereka sangat berpengaruh dalam menurunkan
cepat rambat gelombang seismik pada batuan karbonat. Pada batuan yang terletak
sangat dalam, rekahan-rekahan kecil kemungkinan sudah rapat dan tidak
berpengaruh pada kecepatan gelombang primer.
Permeabilitas
Permeabilitas batuan didefinisikan sebagai kemampuan batuan dalam melewatkan
fluida dalam medium pori yang salimg berhubungan batuan
Ada tiga jenis permeabilitas yang dikenal yaitu permeabilitas absolut, permeabilitas
efektif, permeabilitas relatif.
Permeabilitas absolut dipakai untuk aliran fluida satu fasa. Permeabilitas efektif
digunakan unuk aliran yang tersiri dari dua fasa atau lebih.
Permeabililtas raltif adalah perbandingan antara absolut dengan permeabilitas
efektif, ini tergantung jenis fluidnya.
Semua jenis tanah bersifat lolos air (permeable) dimana air bebas mengalir melalui
ruang-ruang kosong (pori-pori) yang ada di antara butiran-butiran tanah. Tekanan
pori diukur relatif terhadap tekanan atmosfer dan permukaan lapisan tanah yang
tekanannya sama dengan tekanan atmosfer dinamakan muka air tanah atau
permukaan freasik, di bawah muka air tanah. Tanah diasumsikan jenuh walaupun
sebenarnya tidak demikian karena ada rongga-rongga udara.
Permeabilitas tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Struktur
dan tekstur serta unsur organik lainnya ikut ambil bagian dalam menaikkan laju
permeabilitas tanah. Tanah dengan permeabilitas tinggi menaikkan laju infiltrasi dan
dengan demikian, menurunkan laju air larian.
Tinggi muka air tanah berubah-ubah sesuai dengan keadaan iklim tetapi dapat juga
berubah karena pengaruh dari adanya kegiatan konstruksi. Di tempat itu dapat juga
terjadi muka air tanah dangkal, di atas muka air tanah biasa, sedangkan kondisi
dapat terjadi bila tanah dengan permeabilitas tinggi di permukaan atasnya dibatasi
oleh lapisan muka air tanah setempat, tetapi berdasarkan tinggi muka air tanah pada
suatu tempat lain yang lapisan atasnya tidak dibatasi oleh lapisan rapat air.
Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang
dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah. Secara
garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan makin
rendah koefisien permeabilitasnya. Berarti suatu lapisan tanah berbutir kasar yang
mengandung butiran-butiran halus memiliki harga k yang lebih rendah dan pada

tanah ini koefisien permeabilitas merupakan fungsi angka pori. Kalau tanahnya
berlapis-lapis permeabilitas untuk aliran sejajar lebih besar dari pada permeabilitas
untuk aliran tegak lurus. Lapisan permeabilitas lempung yang bercelah lebih besar
dari pada lempung yang tidak bercelah (unfissured).
Permeabilitas ini merupakan suatu ukuran kemudahan aliran melalui suatu media
poreus. Secara kuantitatif permeabilitas diberi batasan dengan koefisien
permeabilitas. Banyak peneliti telah mengkaji problema permeabilitas dan
mengembangkan beberapa rumus. (Rumus Fair dan Hatch 1933) dapat dipandang
sebagai sumbangan yang khas.
Permeabilitas intrinsik suatu akifer bergantung pada porositas efektif batuan dan
bahan tak terkonsolidasi, dan ruang bebas yang diciptakan oleh patahan dan
larutan. Porositas efektif ditentukan oleh distribusi ukuran butiran, bentuk dan
kekasaran masing-masing partikel dan susunan gabungannya, tetapi karena sifatsifat ini jarang seragam, konduktivitas hidrolik suatu akifer yang berkembang dibatasi
oleh permeabilitas lapisan-lapisan atau masing-maisng zone, dan mungkin
bervariasi cukup besar tergantung pada arah gerakan air.
Share this to your friends: 1 19 971
SIFAT FISIK BATUAN RESERVOIR
A. Porositas
Reservoir sebagai tempat terakumulasinya Hidrokarbon merupakan volume dari batuan yang
berpori.Pori-pori ini terbentuk dan terpengaruh seiring proses pembentukan dari batuan itu
sendiri misalnya, proses sedimentasi.
Besaran yang menyatakan nilai dari pori-pori batuan yang di tempati hidrokarbon terhadap
volume total batuan itu di definisikan sebagai porositas.Secara matematis di tuliskan sebagai :
= Vp/Vb or = Vp/(Vg+Vp)

= Porositas, %
Vp = Volume pori batuan, cm

Vb = Volume bulk (total) batuan, cm


Vg = Volume grain (butiran), cm
Proses pembentukan pori-pori batuan sangat erat kaitannya dengan proses pembentukan
batuan.Proses ini akan mempengaruhi nilai dari porositas batuan.
a. Ukuran butir (grain size)
Semakin kecil ukura butiran yang terbentuk mangga rongga yang terbentuk akan semakin
kecil pula.
b. Bentuk butir (sphericity)
Bentuk dengan butiran yang jelek akan memiliki porositas yang besar.Vice versa.
c. Susunan butir Apabila ukuran butirnya sama maka susunan butir sama dengan bentuk
kubus dan mempunyai porositas yang lebih besar dibandingkan dengan bentuk
rhombohedral. d. Pemilahan
Keseragaman butiran akan membuat nilai porositas semakin baik.
e. Komposisi mineral
Mineral yang mudah larut seperti karbonat akan meningkatkan nilai porositas karena rongga
yang ditinggalkan dari proses pelarutan.
f. Sementasi
Material semen pada dasarnya akan mengurangi nilai porositas.
g. Kompaksi dan Pemampatan
Kompaksi dan pemampatan akan mengurangi nilai porositas.
Klasifikasi Porositas
A. Berdasarkan waktu dan cara terjadinya
1. Porositas primer
Porositas yang terbentuk pada waktu batuan sedimen diendapkan.
2. Porositas Sekunder
Porositas yang terbentuk sesudah batuan sedimen diendapkan.
B. Berdasarkan morfologinya
1. Porositas Absolut

Perbandingan antara volume total pori dengan volume bulk batuan.


2. Porositas efektif
Perbandingan antara volume total pori batuan yang saling berhubungan dengan volume bulk
batuan.Dalam menghitung cadangan dari suatu reservoir, nilai inilah yang akan
diperhitungkan.
Pengukuran porositas dilakukan pada pada sample batuan formasi yang produktif baik pada
saat pemboran berlangsung atau logging.Sample batuan yang didapat kemudian dianalisa di
laboratorium dengan menggunakan porosimeter.
Beberapa contoh alat porosimeter.

Dari berbagai sumber analisa dapat diperkirakan untuk jenis-jenis batuan yang berbeda
mempunyai kisaran porositas tertentu.

B. Permeabilitas
Adalah kemampuan suatu media berpori untuk dapat melewatkan fluida.Variable ini sangat
berpengaruh terhadap besarnya laju alir yang dapat melewati media berpori misalnya batuan
reservoir.

Pertama kali secara mathematis percobaan mengenai permeabilitas dilakukan oleh Henry
Darcy.Awalnya, percobaan ini akan digunakan untuk membuat suatu penjernih air dengan
melewatkan air tersebut di dalam suatu media berpori ( batuan pasir) dengan arah mendatar.
Secara mathematis dapat dituliskan sebagai :

Dimana :
P/L : Beda tekanan sejauh L, atm/m

q : Laju aliran, cc/s


: Viskositas fluida, cp
A : Luas Daerah, m
k : Permeabilitas, mD
Klasifikasi Permeabilitas
1. Permeabilitas Absolut
Permeabilitas dimana fluida yang mengalir hanya satu fase saja.
2. Permeabilitas Efektif
Permeabilitas dimana fluida yang mengalir lebih dari satu fase.
3. Permeabilitas Relatif
Perbandingan antara masing-masing permeabilitas efektif dengan permeabilitas absolut.
Pada prakteknya di reservoir, jarang sekali terjadi aliran satu fasa, kemungkinan terdiri dari
dua fasa atau tiga fasa. Untuk itu dikembangkan pula konsep mengenai permeabilitas efektif
dan permeabilitas relatif. Harga permeabilitas efektif dinyatakan sebagai Kg, Ko, Kw, dimana
masing-masing untuk gas ,minyak, dan air. Sedangkan permeabilitas relatif dinyatakan
sebagai berikut :
dimana masing-masing untuk permeabilitas relatif gas, minyak, dan air. Percobaan yang
dilakukan pada dasarnya untuk sistem satu fasa, hanya disini digunakan dua fasa fluida
(minyak-air) yang dialirkan bersama-sama dan dalam keadaan kesetimbangan. Laju aliran
minyak adalah Qo dan air adalah Qw. Jadi volume total (Qo + Qw) akan mengalir melalui
pori-pori batuan per satuan waktu, dengan perbandingan minyak-air permulaan, pada aliran
ini tidak akan sama dengan Qo/Qw. Dari percobaan ini dapat ditentukan harga saturasi
minyak (So) dan saturasi air (Sw) pada kondisi stabil.
Permeabilitas dapat ditentukan dengan tiga metode, yaitu:
1. Analisa Core di laboratorium
2. Pressure Transient Analysis
3. Logging
Untuk pengukuran dengan pressure transient analysis dan log akan diterangkan pada bab-bab
selanjutnya. Pengukuran permeabilitas di laboratorium seperti hanya pengukuran porositas
dengan menggunakan sampel batuan yang kecil yang sering disebut dengan core. Pengukuran
dilakukan dengan menempatkan sampel core didalam alat pengukur (biasanya disebut dengan
core holder), kemudian berikan perbedaan pressure dengan mengalirkan suatu fluida melalui

core yung terpasang, gambar dibawah merupakan contoh alat ukur untuk mengukur
permeabilitas.
Permeability Apparatus

Ruska Universal Permeameter C. Saturasi


Diposkan oleh Wendry Haloho di 02.24
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Label: Reservoir minyak dan gas

ERMEABILITAS DAN POROSITAS PADA AQUIFER

I. Permeabilitas dan Porositas pada aquifer


Definisi Aquifer adalah suatu lapisan, formasi, atau kelompok
formasi satuan geologi yang permeable baik yang terkonsolidasi (misalnya
lempung) maupun yang tidak terkonsolidasi (pasir) dengan kondisi jenuh
air dan mempunyai suatu besaran konduktivitas hidraulik (K) sehingga
dapat membawa air (atau air dapat diambil) dalam jumlah (kuantitas)
yang ekonomis. Contoh : lapisan pasir, batu pasir, batugamping yang
berlubang dan retak-retak. Akuifer sering pula disebut waduk air atau formasi air.
Formasi batuan yang merupakan kebalikan dari akuifer adalah akuifug (Aquifug), seperti
misalnya granit. Akuifug merupakan formasi batuan yang tidak dapat menyimpan dan
melalukan air (Fetter, 1988).Sifat batuan lain yang berhubungan dengan air tanah adalah
akuiklud danakuitard. Menurut Walton (1970), akuiklud adalah formasi batuan yang dapat
menyimpan air tetapi tidak dapat melalukannya dalam jumlah yang berarti, misalnya liat,
serpih, tuf halus dan batuan lain yang butirannya berukuran liat, sedangkan akuitard adalah
formasi batuan dengan susunan sedemikian rupa, sehingga dapat menyimpan air, tetapi hanya
dapat melalukannya dalam jumlah terbatas seperti misalnya pada rembesan atau kebocoran.
Ada berbagai formasi geologi yang dapat berfungsi sebagai akuifer. Formasi geologi
tersebut adalah endapan aluvial, batu gamping, batuan vulkanik, batu pasir serta batuan beku
dan batuan metamorfose (Todd, 1980). Sekitar 90% air tanah terdapat pada endapan aluvial
yang merupakan bahan lepas seperti pasir dan kerikil.
Ditinjau dari muka air tanah, akuifer dikelompokkan menjadi akuifer bebas dan
akuifer tertekan (Bouwer, 1978). Air tanah yang berasal dari akuifer bebas umumnya
ditemukan pada kedalaman yang relatif dangkal, kurang dari 40 meter. Tinggi permukaan air
dan kemiringannya bervariasi, sedangkan fluktuasi muka air tanah berhubungan erat dengan
volume air dalam akuifer. Kasus khusus dari akuifer bebas adalah adanya akuifer
menggantung (perched aquifer), yang terjadi akibat terpisahnya air tanah dari tubuh air tanah
utama oleh suatu formasi batuan yang kedap air (Kodoatie, 1996). Lensa-lensa liat pada

batuan endapan seringkali membentuk akuifer menggantung.Pada akuifer tertekan, air tanah
terletak di bawah lapisan kedap air dan mempunyai tekanan lebih besar daripada tekanan
udara. Akuifer jenis ini sering pula disebut akuifer artesis. Air tanah pada akuifer ini, dibagian
atas ditekan oleh lapisan batuan kedap air, sehingga tekanannya melebihi tekanan atmosfir.
Bila sumur menembus lapisan akuifer ini, air tanah akan naik melebihi lapisan penekannya
atau bahkan muncul di permukaan tanah (Chorley, 1969).
Disamping kedua jenis akuifer tersebut, ada pula yang disebut akuifer semi tertekan
dan akuifer semi tidak tertekan yang merupakan kombinasi dari kedua jenis akuifer tersebut
(Krussman dan de Ridder, 1970). Akuifer semi tertekan sering dijumpai di daerah lembah
aluvial dan dataran, yang air tanahnya terletak di bawah lapisan yang setengah kedap.
Selanjutnya, air tanah sebagai salah satu komponen dalam siklus hidrologi,akan mengalami
perubahan komposisi kimia, baik berupa penambahan maupun pengurangan konsentrasi
unsur kimia (Stauffer dan Canfield, 1992). Adapun prosesproses yang dapat mempengaruhi
perubahan komposisi kimia tersebut diantaranya adalah hujan, evaporasi dan transpirasi,
pelarutan air fosil, pertukaran kation, pelarutan mineral, proses oksidasi-reduksi serta
aktivitas manusia. Menurut Wagner,et al (1992) adanya air tanah asin di daratan merupakan
salah satu bentuk pencemaran air, yang umumnya disebabkan oleh intrusi air laut. Aktivitas
manusia merupakan penyebab utama fenomena ini, terutama akibat eksploitasi air tanah yang
berlebihan, pembangunan permukiman yang sangat pesat di perkotaan, serta usaha tambak
udang dan ikan di pantai. Meskipun demikian, faktor lingkungan alami juga dapat
mempermudah terjadinya intrusi air laut, seperti karakteristik pantai dan batuan penyusun,
kekuatan aliran air tanah ke laut dan fluktuasi air tanah di daerah pantai. Tolman (1937)
dalam Wiwoho (1999) mengemukakan bahwa air tanah dangkal pada
akifer dengan material yang belum termampatkan di daerah beriklim
kering menunjukan konsentrasi unsur-unsur kimia yang tinggi terutama
musim kemarau. Hal ini disebabkan oleh adanya gerakan kapiler air tanah
dan tingkat evaporasi yang cukup besar. Besar kecilnya material terlarut
tergantung pada lamanya air kontak dengan batuan. Semakin lama air
kontak dengan batuan semakin tinggi unsur-unsur yang terlarut di
dalamnya. Disamping itu umur batuan juga mempengaruhi tingkat
kegaraman air, sebab semakin tua umur batuan, maka semakin tinggi
pula kadar garamgaram yang terlarut di dalamnya.

Todd (1980) dalam Hartono (1999) menyatakan tidak semua formasi


litologi

dan

kondisi

geomorfologi

merupakan

akifer

yang

baik.

Berdasarkan pengamatan lapangan, akifer dijumpai pada bentuk lahan


sebagai berikut:
a. Lintasan air (water course), materialnya terdiri dari aluvium yang
mengendap di sepanjang alur sungai sebagai bentuk lahan dataran banjir
serta tanggul alam. Bahan aluvium itu biasanya berupa pasir dan karikil.
b. Lembah yang terkubur (burried valley) atau lembah yang ditinggalkan
(abandoned valley), tersusun oleh materi lepas-lepas yang berupa pasir
halus sampai kasar.
c. Dataran (plain), ialah bentuk lahan berstruktur datar dan tersusun atas
bahan aluvium yang berasal dari berbagai bahan induk sehingga
merupakan akifer yang baik.
d. Lembah antar pegunungan (intermontane valley), yaitu lembah yang
berada diantara dua pegunungan, materialnya berasal dari hasil erosi dan
gerak massa batuan dari pegunungan di sekitarnya.
e. Batu gamping (limestone), air tanah terperangkap dalam retakanretakan atau diaklas-diaklas. Porositas batu gamping ini bersifat sekunder.
Batuan vulkanik, terutama yang bersifat basal. Sewaktu aliran basal
ini mengalir , ia mengeluarkan gas-gas. Bekas-bekas gas keluar itulah
yang merupakan lubang atau pori-pori dapat terisi air. Disamping air
tanah bergerak dari atas ke bawah, air tanah juga bergerak dari bawah ke
atas (gaya kapiler). Air bergerak horisontal pada dasarnya mengikuti
hukum hidrolika, air bergerak horisontal karena adanya perbedaan
gradien hidrolik. Gerakan air tanah mengikuti hukum Darcy yang berbunyi
volume air tanah yang melalui batuan berbanding lurus dengan tekanan
dan berbanding terbalik dengan tebal lapisan (Utaya, 1990).
Keadaan material bawah tanah sangat mempengaruhi aliran dan jumlah air tanah.
Jumlah air tanah yang dapat di simpan dalam batuan dasar, sedimen dan tanah sangat
bergantung pada permeabilitas. Permeabilitas merupakan kemampuan batuan atau tanah
untuk melewatkan atau meloloskan air. Air tanah mengalir melewati rongga-rongga yang
kecil, semakin kecil rongganya semakin lambat alirannya. Jika rongganya sangat kecil, akan
mengakibatkan molekul air akan tetap tinggal. Kejadian semacam ini terjadi pada lempung.

Secara kuantitatif permeabilitas diberi batasan dengan koefisien permeabilitas. Banyak


peneliti telah mengkaji problema permeabilitas dan mengembangkan beberapa rumus.
Permeabilitas sangat penting untuk menentukan besarnya cadangan fluida
yang dapat diproduksikan.

Porositas juga sangat berpengaruh pada aliran dan jumlah air tanah. Porositas adalah
jumlah atau persentase pori atau rongga dalam total volume batuan atau sedimen. Porositas
dapat di bagi menjadi dua yaitu porositas primer dan porositas sekunder. Porositas primer
adalah porositas yang ada sewaktu bahan tersebut terbentuk sedangkan porositas sekunder di
hasilkan oleh retakan-retakan dan alur yang terurai. Pori-pori merupakan ciri batuan sedimen
klastik dan bahan butiran lainnya. Pori berukuran kapiler dan membawa air yang disebut air
pori. Aliran melalui pori adalah laminer. Kapasitas penyimpanan atau cadangan air suatu
bahan ditunjukkan dengan porositas yang merupakan nisbah volume rongga.
(Vv) dengan volume total batuan (V ), yang dirumuskan sebagai berikut:
n = Vv X 100 %
V
Di mana: n = persen porositas (%)
Vv = volume rongga (cm3)
V = volume total batuan (gas, cair, dan padat (cm3)
Porositas merupakan angka tak berdimensi biasanya diwujudkan dalam bentuk %.
Umumnya untuk tanah normal mempunyai porositas berkisar antara 25 % sampai 75 %
sedangkan untuk batuan yang terkonsolidasi (consolidated rock) berkisar antara 0 sampai 10
%. Material dengan diameter kecil mempunyai porositas besar, hal ini dapat dilihat dari
diameter butiran material. Hal ini dapat dilihat dengan besarnya porositas untuk jenis tanah di
bawah ini:
1. Kerikil porositas berkisar antara 25 40 %
2. Pasir porositas berkisar antara 25 50 %
3. Lanau porositas berkisar antara 35 50 %
4. Lempung porositas berkisar antara 40 75 %
Tanah berbutir halus mempunyai porositas yang lebih besar dibandingkan dengan tanah
berbutir kasar. Porositas pada material seragam lebih besar dibandingkan material beragam
(well graded material)

Tabel Porositas batuan


No

Batuan

Porositas (%)

1.

Tanah

50 60

Lempung
kerapatan

2.

Lempung

45 55

3.

Lumpur

40 50

4.

Pasir kasar

35 40

5.

Pasir sedang

30 40

6.

Pasir halus dan sedang

30 35

porositas

Kerikil

30 40

8.

Kerikil dan batu pasir

20 35

Batu pasir

10 20

10

Shale

1 10

11

Batu gamping

1 10

tinggi

batuan yang mempunyai porositas


antara 5 20 % adalah batuan yang
dapat meloloskan air dan air yang
melewatinya

dapat

ditampung

(Wuryantoro,
2007).Sedangkan,batuan
porositas

<

kecil.Selain

lempung, Batupasir merupakan


reservoir yang paling penting
dan

9.

yang

sehingga tidak dapat meloloskan air,

memiliki
7.

mempunyai

yang

dunia

ini,

batuan

paling
60%

banyak
dari

reservoir

batupasir.

Batupasir

batubatu

yang

di

semua
adalah
adalah

renggang

(loose) tapi padat (compact),


yang terdiri dari fragmen-fragmen yang menyatu dan mengeras (cemented)
dengan diameter berkisar antara 0,05 mm sampai 0,2 mm. Di antara
fragmen-fragmen batupasir dan pasir, selalu terdapat fragmen-fragmen yang
komposisinya adalah quartz. Butiranbutiran mineral feldspar, mika, glaukonit,
karbonat dan mineral-mineral lainnya kadang-kadang terdapat di antara
butiran mineral quartz. Porositas batupasir dihasilkan dari proses-proses
geologi yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi. Proses-proses ini
dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu proses pada saat pengendapan dan
proses setelah pengendapan. Kontrol pada saat pengendapan menyangkut
tekstur batupasir (ukuran butir dan sortasi). Proses setelah pengendapan
yang berpengaruh terhadap porositas diakibatkan oleh pengaruh fisika dan
kimia, yang merupakan fungsi dari temperatur, tekanan efektif dan waktu.
Ada dua jenis porositas yaitu porositas primer dan porositas sekunder.

Porositas primer merupakan porositas yang terjadi bersamaan batuan


menjadi sedimen, sedangkan porositas sekunder merupakan porositas yang
terjadi sesudah batuan menjadi sedimen bisa berupa larutan (dissolution)
.Permeabilitas

(k)

adalah

meluluskan/mengalirkan

kemampuan

fluida.

Permeabilitas

medium
sangat

berpori

untuk

penting

untuk

menentukan besarnya cadangan fluida yang dapat diproduksikan.


Porositas dan permeabilitas pada batupasir ditentukan oleh ukuran
butir dan distribusinya, sortasi (pemilahan), bentuk dan kebundaran butir,
penyusunan butir, serta kompaksi dan sementasi. Batupasir antara formasi
yang satu dengan yang lainnya berbeda, sehingga perlu dilakukan penelitian
tentang porositas dan permeabilitas serta hubungannya dengan ukuran butir
dan sortasi pada formasi-formasi tersebut. Batupasir merupakan salah satu
dari batuan sedimen klastik yang mempunyai porositas cukup baik dan
biasanya berfungsi sebagai reservoir atau akuifer, sedangkan butirannya
yang dominan berukuran pasir. Batupasir memiliki beberapa kenampakan
fisik yang dapat dibedakan dari batuan jenis lainnya, yaitu struktur, tekstur
dan komposisi. Dari tekstur batupasir dapat diturunkan menjadi tiga
parameter empiris yaitu ukuran butir, bentuk butir (pembundaran dan
pembulatan) dan sortasi. Pemilahan (sorting) adalah cara penyebaran
berbagai macam besar butir.Dengan demikian rongga yang terdapat di
antara butiran besar akan diisi butiran yang lebih kecil lagi sehingga
porositasnya berkurang

GAMBAR 1.1
PERKIRAAN VISUAL DARI TINGKAT
PEMILAHAN BUTIR/SORTASI
Faktor yang mempengaruhi permeabilitas :
1.Distribusi ukuran butir.
Ukuran butiran yang semakin beragam dalam suatu batuan, maka pori-pori akan semakin
kecil dan permeabilitas juga akan semakin kecil.

2. Susunan (packing) butiran.


Susunan butiran yang semakin rapi, maka makin besar harga permeabilitasnya.
3. Geometri butiran.
Semakin menyudut geometri butiran, maka permeabilitasnya semakin kecil.
4. Jaringan antar pori (pore network).
Semakin bagus jaringan antar pori, maka permeabilitasnya semakin besar.
5. Sementasi.
Semakin banyak semen dalam suatu batuan, maka harga permeabilitas akan semakin kecil.
6. Clays content.
Semakin banyak mengandung clay, maka semakin kecil permeabilitas batuan tersebut.

KESIMPULAN

1. Aquifer adalah suatu lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan


geologi

yang

permeable

baik

yang

terkonsolidasi

(misalnya

lempung) maupun yang tidak terkonsolidasi (pasir) dengan kondisi


jenuh air dan mempunyai suatu besaran konduktivitas hidraulik (K)
sehingga dapat membawa air (atau air dapat diambil) dalam jumlah
(kuantitas) yang ekonomis.
2. Permeabilitas merupakan kemampuan batuan atau tanah untuk melewatkan atau
meloloskan air sedangkan Porositas adalah jumlah atau persentase pori atau rongga
dalam total volume batuan atau sedimen.
3. Keadaan material bawah tanah sangat mempengaruhi aliran dan jumlah air tanah.
Jumlah air tanah yang dapat di simpan dalam batuan dasar, sedimen dan tanah sangat
bergantung pada permeabilitas. Hal ini berhubungan juga dengan Porositas dimana,
porositas sangat berpengaruh pada aliran dan jumlah air tanah. Porositas merupakan
jumlah atau persentase pori atau rongga dalam total volume batuan atau sedimen.
Saran :
Untuk mendapatkan relasi yang lebih baik perlu dilakukan pengujian
pada lebih banyak sampel batuan dari satu formasi batuan guna mendapat
informasi mengenai porositas dan permeabilitas yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

1. M. Irham Nurwidyanto. 2006, Pegaruh Ukuran Butir Terhadap Porositas Dan


Permeabiltas Pada Batu Pasir. Jurnal Diakses pada 8 Oktober 2012
2. Warmada, I.W., 1993, Porositas Batupasir dan Parameter Empiris Yang
Berpengaruh, http://www.geopanged.or.id/kliping/1.html Diakses pada
6 Oktober
3. M. KHAIRUL RIZAL, 2009, Analisis Pemetaan Zonasi Resapan Air Untuk Kawasan
Perlindungan Sumber Daya Air Tanah (Ground Water) PDAM TIRTANADI

Sibolangkit Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatra Utara. Tesis Diakses pada 6
Oktober 2012