Anda di halaman 1dari 22

REFERAT OBSGYN

PEMERIKSAAN KEHAMILAN

Pembimbing :
dr.Adityo Januaji, SpOG

KEPANITERAAN KLINIK OBSGYN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RSUD SOREANG
2016

DEFINISI
Pengawasan wanita hamil atau asuhan antenatal adalah upaya preventif program
pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui
serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.
Esensi yang diuraikan oleh American Academy of Pediatrics dan American College of
Obstetricians and Gynecologists (2007) sebagai Suatu program perawatan antepartum
paripurna yang melibatkan pendekatan terpadu terhadap perawatan medis dan dukungan
psikososial yang secara optimal dimulai sebelum konsepsi dan berlanjut sepanjang periode
antepartum. (3)
Yang diharapkan pada Antenatal Care adalah perawatan yang ditujukan kepada ibu
hamil, yang bukan saja bila ibu sakit dan memerlukan perawatan, tetapi juga pengawasan dan
penjagaan wanita hamil agar tidak terjadi kelainan sehingga mendapatkan ibu dan anak yang
sehat. Antenatal care meliputi:
1. Antenatal Care (ANC) adalah Pengawasan sebelum persalinan terutamaditujukan
pada pertumbuhan dan perkembangan janindalam rahim.
2. Asuhan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan
penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan
persalinan yang aman dan memuaskan.

TUJUAN
Tujuan dilakukannya antenatal care adalah :
1.
2.
3.
4.

Membangun rasa saling percaya antar klien dan petugas kesehatan


Mengupayan terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi yang dikandungnya
Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan kehamilannya
Mengidentifikasi dan menatalaksana kehamilan resiko tinggi serta penyulit-penyulit

yang mungkin dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas


5. Memberikan pendidikan dan nasihat-nasihat kesehatan yang diperlukan dalam
menjaga kualitas kehamilan, persalinan, nifas, laktasi, merawat bayi dan keluarga
berencana
6. Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang akan membahayakan
keselamatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya (menurunkan angka mortalitas
dan morbiditas ibu dan anak)
7. Menyiapkan fisik dan mental ibu dengan sebaik-baiknya serta menyelamatkan ibu dan
anak selama masa kehamilan, persalinan dan nifas guna tetap sehat dan normal
postpartus

Target yang harus dicapai dalam antenatal care adalah :


1. Wanita hamil sampai akhir kehamilan sekurang-kurangnya harus sama sehatnya atau
lebih sehat.
2. Adanya kelainan fisik atau psikologik harus ditemukan dan diobati secara dini.
3. Wanita melahirkan tanpa kesulitan dan bayi dilahirkan dengan kondisi sehat fisik
maupun mental.
PELAYANAN ANTENATAL
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dijelaskan pada Antenatal Care, antara lain :
1. Makanan (diet) ibu hamil harus mendapat perhatian terutama mengenai jumlah kalori
dan protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Jumlah kalori
yang dibutuhkan oleh ibu hamil setiap harinya adalah 2.500 kalori. Pengetahuan berbagai
jenis makanan yang dapat memberikan kecukupan kalori tersebut sebaiknya dapat
dijelaskan secara rinci dan bahasa yang dimengerti oleh ibu hamil dan keluarganya.
Jumlah kalori yang berlebih dapat menyebabkan obesitas dan hal ini merupakan faktor
predisposisi untuk terjadinya preeklampsia. Jumlah pertambahan berat badan sebaiknya
tidak melebihi 10-12 kg selama hamil.
-

Protein (obstetri fisiologi)


Jumlah protein yang diperlukan ibu hamil adalah 85 gram per hari.Jumlah ini lebih
banyak dari kebutuhan protein wanita tidak hamil, karena pada wanita hamil
metabolisme bertambah untuk pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim, pertumbuhan
buah dada, dan untuk pertambahan volume darah.Sumber protein dapat diperoleh dari
tumbuh-tumbuhan (kacang-kacangan) atau hewani (ikan, ayam, keju, telur).Defisiensi

protein dapat menyebabkan kelahiran premature, anemia, dan edema.


Kalsium
Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah 1,5 gram per hari.Kalsium dibutuhkan untuk
pertumbuhan janin, terutama bagi pengembangan otot dan rangka. Sumber kalsium
yang mudah diperoleh adalah susu, keju, yogurt, dan kalsium karbonat. Defisiensi

kalsium dapat menyebabkan riketsia pada bayi atau osteomalasia pada ibu.
Zat besi
Metabolisme yang tinggi pada ibu hamil memerlukan kecukupan oksigenasi jaringan
yang diperoleh dari pengikatan dan penghantaran oksigen melalui hemoglobin di selsel darah merah.Untuk menjaga konsentrasi hemoglobin yang normal, diperlukan
asupan zat besi pada ibu hamil dengan jumlah 30 mg/hari terutama setelah trimester
kedua.Zat besi yang diberikan dapat berupa ferrosus gluconate, ferrosus fumarate,

atau ferrosus sulphate.Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat menyebabkan
anemia defisiensi zat besi.
- Vitamin (obstetri fisiologi)
Pada binatang percobaan kekurangan vitamin dapat menimbulkan kelainan bawaan
dan abortus.Pada manusia pengaruh tersebut belum terbuktitetapi bagaimanapun
vitamin perlu untuk mencapai kesehatan yang optimal.
i. Vitamin A diperlukan untuk menambah daya tahan tubuh terhadap infeksi.
ii. Vitamin B complex terdiri dari vitamin B1 (thiamin), B2 (riboflavin), asam
nicotin dan vitamin B6. Vitamin B1 adalah vitamin anti neuritis. Asam nikotin
bersifat anti pellagra. Sedangkan jika keurangan B2 menyebabkan cheilosis. Ada
kemungkinan bahwa kekurangan vitamin B complex dapat menyebabkan
perdarahan pada bayi, menambah kemungkinan perdarahan post partum, dan
atrofi dari ovaria.
iii. Vitamin C penting sekali untuk pertumbuhan janin.
iv. Vitamin D bersifat anti architis.
v. Vitamin E penting untuk reproduksi dan pertumbuhan embrio.
- Asam folat
Sel-sel darah merah juga memerlukan asam folat bagi pematangan sel. Jumlah asam
folat yang dibutuhkan oleh ibu hamil adalah 400 mikrogram per hari.Kekurangan
asam folat dapat menyebabkan anemia megaloblastik pada ibu hamil.
-

Air (obstetri fisiologi)


Wanita hamil harus minum cukup banyak air kira-kira 6-8 gelas sehari. Air
menambah keringat dan juga pengeluaran racun dari usus dan ginjal.

Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus dan


pendarahan pasca persalinan.Jika makan makanan berlebihan karena beranggapan untuk
porsi dua orang dapat menyebabkan komplikasi seperti gemuk, pre-ekslamsia, janin besar
dan sebagainya.
2. Merokok, bayi dari ibu-ibu yang merokok mempunyai berat badan lebih kecil, sehingga
ibu hamil sangat tidak diperbolehkan untuk merokok.
3. Obat - obatan, untuk ibu hamil, pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama pada
triwulan I perlu dipertanyakan mana yang lebih besar manfaatnya dibandingkan bahaya
terhadap janin.
4. Ibu hamil boleh melakukan pekerjaannya sehari-hari di rumah, kantor, atau pabrik.
Asalkan semua pekerjaannya bersifat ringan. Kelelahan harus dicegah dengan cara

diselingi istirahat. Di Indonesia wanita hamil diberi cuti hamol selama 3 bulan, 1,5 bulan
sebelum bersalin dan 1,5 bulan sesudahnya. Tidak ada gunanya wanita hamil berbaring
terus-menerus seperti orang sakit, karena istirahat yang lama akan melemahkan otot dan
memberikan waktu untuk berfikir yang bukan-bukan. Istirahat yang diperlukan adalah 8
jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari.
5. Perawatan tubuh dan pakaian
Wanita hamil harus menggunakan pakaian yang longgar, bersih dan tidak ada ikatan yang
ketat pada daerah perut. Kebersihan tubuh harus terjaga selama kehamilan. Perubahan
anatomik pada perut, area genitalia/ lipat paha, dan payudara menyebabkan lipatanlipatan kulit menjadi lebih lembab dan mudah terinvasi oleh mikroorganisme. Sebaiknya
gunakan pancuran atau gayung saat mandi, tidak dianjurkan berendam dalam bathtub dan
melakukan vaginal touch. Gunakan pakaian yang longgar, bersih, dan nyaman dan
hindarkan sepatu berhak tinggi dan alas kaki keras (tidak elastis) serta korset penahan
perut. Lakukan gerak tubuh ringan, misalnya berjalan kaki, terutama pada pagi
hari.Jangan melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat dan hindarkan kerja fisik yang
menimbulkan kelelahan fisik yang berlebihan. Beristirahat cukup, minimal 8 jam pada
malam hari dan 2 jam di siang hari. Ibu tidak dianjurkan melakukan kebiasaan merokok
selama hamil harena dapat menyebabkan vasopasme yang berakibat anoksia janin, berat
badan lahir rendah (BBLR), prematuritas, kelainan congenital, dan solusio plasenta.
6. Perawatan Payudara
Payudara perlu dipersiapkan sejak sebelum bayi lahir sehingga dapat segera berfungsi
dengan baik pada saat diperlukan. Pengurutan payudara untuk mengeluarkan sekresi dan
membuka duktus dan sinus laktiferus, sebaiknya dilakukan secara hati-hati san benar
karena pengurutan yang salah dapat menimbulkan kontraksi pada rahim. Membasahi
areola dan puting susu secara lembut dapat mencegah retak dan lecet. Untuk sekresi yang
mongering pada puting susu, lakukan pembersihan dengan menggunakan campuran
gliserin dan alkohol. Karena payudara menegang, sensitive, dan menjadi lebih berat,
maka gunakan penopang payudara yang sesuai (brassiere).
7. Perawatan Gigi
Paling tidak dibutuhkan dua kali pemeriksaan gigi selam kehamilan, yaitu pada trimester
pertama dan ketiga. Penjadwalan pada trimester pertama dikaitkan dengan hiperemesis
dan ptialisme (produksi air liur yang berlebihan) sehingga kebersihan rongga mulut harus

selalu terjaga.Pada trimester ketiga terkait dengan adanya kebutuhan kalsium untuk
pertumbuhan janin sehingga perlu diketahui apakah terdapat pengaruh yang merugikan
pada gigi ibu hamil.Dianjurkan untuk selalu menyikat gigi setelah makan karena ibu
hamil sangat rentan terhadap terjadinya caries dan gingivitis.
8. Buang air besar, pada wanita hamil kemungkinan mengalami obstipasi karena kurang
gerak badan, peristaltik usus kurang karena pengaruh hormon, dan tekanan rektum oleh
kepala. Akibat obstipasi panggul berisi penuh oleh usus yang berisi feces dan uterus yang
membesar,

maka

hal

tersebut

dapat

menimbulkan

bendungan

di

dalam

panggul.Bendungan ini memudahkan timbulnya haemorroid dan pyelitis.Pencegahannya


ialah dengan minum banyak air, gerak badan yang cukup, makan yang banyak
mengandung serat seperti sayur dan buah.
9. Coitus, pada wanita yang mudah keguguran sebaiknya tidak melakukan coitus pada
hamil muda. Jika ingin melakukan coitus pada hamil muda, harus dilakukan secara hatihati. Coitus pada akhir kehamilan juga lebih baik dihindarkan, karena kadang-kadang
menimbulkan infeksi pada persalinan dan nifas serta dapat memecahkan ketuban pada
multipara. Selain itu sperma mengandung prostaglandin yang dapat menimbulkan
kontraksi uterus.
10. Kesehatan jiwa, karena ketenangan jiwa sangatlah penting dalam menghadapi persalinan
sehingga bukan saja dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan fisik tetapi juga latihan
kejiwaan.
STANDARD PELAYANAN
Dalam melaksanakan pelayanan Antenatal Care, ada tujuh standar pelayanan yang
harus dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang dikenal dengan 7 T, yaitu :
1. Timbang berat badan
Bagaimana menghindari tingginya tingkat masa tumbuh pada trimester pertama, atau
menghindari berat badan melonjak tinggi pada saat hamil? Jawabannya adalah gaya hidup
sehat, yakni beraktivitas fisik secara proporsional dan makan makanan sehat. Dengan pola
ini, maka mereka yang sudah terlanjur mengalami penambahan berat badan tinggi masih
memiliki harapan untuk melahirkan secara normal sesuai dengan hitungan masa kehamilan
dan bebas dari kemungkinan komplikasi.Berat badan dalam trimester ke III tak boleh

bertambah lebih dari 1 kg seminggu atau 3 kg sebulan.Penambahan yang lebih dari batasbatas tersebut diatas disebabkan oleh penimbunan (retensi) air dan disebut pra edema.
Taksiran berat janin dapat ditentukan berdasarkan rumus Johnson Toshack.Perhitungan
penting sebagai pertimbangan memutuskan rencana persalinan secara spontan. Rumus
tersebut adalah :
Taksiran Berat Janin (TBJ) = (Tinggi fundus uteri (dalam cm) - N) x 155
Dengan interpretasi hasil :
N = 11 bila kepala masih berada di bawah spina ischiadika
N = 12 bila kepala masih berada di atas spina ischiadika
N = 13 bila kepala belum lewat PAP
2.

Mengukur Tekanan darah, untuk mengetahui apakah ada hipertensi atau tidak. Karena
hipertensi dapat menimbulkan preeklampsia, solusio plasenta, IUGR, IUFD dan lainnya.

3.

Ukur Tinggi fundus uteri (TFU)

Gambar1. Tinggi fundus uteri dan taksiran usia kehamilan


a. Mengukur tinggi fundus uteri adalah untuk memantau tumbuh kembang janin.
b. Untuk mengetahui usia kehamilan.
c. Pada kehamilan diatas 20 minggu fundus uteri diukur dengan pita ukur (cm).
d. Jika usia kehamilan kurang dari 20 minggu menggunakan petunjuk-petunjuk badan.
Umur
Kehamilan
12 minggu
16 minggu
20 minggu
24 minggu

Tinggi Fundus Uteri


3 jari di atas simpisis
simpisis-pusat
3 jari di bawah pusat
Setinggi pusat

28 minggu
34 minggu
36 minggu
40 minggu

3jari di atas pusat


pusat-prosessus xifoideus
3 jari di bawah prosessus xifoideus
2 jari di bawah prosessus xifoideus

4. Pemberian imunisasi TT lengkap


a. TT1 dapat diberikan pada kunjungan ANC pertama.
b. TT2 diberikan 4 minggu setelah TT1, lama perlindungan 3 tahun.
c. TT3 diberikan 6 bulan setelah TT2, lama perlindungan 5 tahun.
d. TT4 diberikan 1 tahun setelah TT3, lama perlindungan 10 tahun.
e. TT5 diberikan 1 tahun setelah TT4, lama perlindungan 25 tahun / seumur hidup.
5. Pemberian Tablet Fe
a. Tablet Fe dapat diberikan setelah rasa mual hilang.
b. Pemberian minimal 90 tablet selama kehamilan.
c. Tablet Fe tidak boleh diminum bersama kopi atau teh.
d. Tablet Fe bisa diberikan secara bersamaan dengan vitamin C.
6.

Tes terhadap penyakit menular seksual.

7.

Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.

FUNGSI ANC
Untuk dapat mendeteksi sedini mungkin segala kelainan yang terdapat pada ibu dan
janinnya, dilakukan pemeriksaan fisik diagnostik mulai dari anamnesa yang teliti sampai
dapat ditegakkan diagnosa diferensial dan diagnosa sementara beserta prognosisnya, sehingga
dapat memilah apakah ibu ini dan janinnya tergolong Kehamilan Resiko Tinggi / non
Kehamilan Resiko Tinggi dan apakah perlu segera dirawat untuk pertolongan selanjutnya,
sehingga didapatkan hasil ibu dan anak sehat fisik serta mental yang optimal.
a.

Anamnesa
Anamnesa dimulai dari anamnesa pribadi seperti nama, umur, pendidikan, suku/

bangsa, pendapatan perbulan, alamat, baik ibu maupun suaminya. Dari anamnesa pribadi
dapat diambil sesuatu mengenai nilai sosial, budaya, ekonomi, agama dan lingkungannya,
yang dapat mempengaruhi kondisi ibu dan keluarganya. Umur penting, karena ikut
menentukan prognosa kehamilan.Kalau umur terlalu lanjut atau terlalu muda maka persalinan
lebih banyak resikonya.

Kondisi lingkungan seta kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan, misalnya tempat
tinggal (daerah kumuh/miskin), kita dapat memprediksi apakah ibu ini tergolong Kehamilan
Resiko Tinggi non Kehamilan Resiko Tinggi.
Anamnesa keluhan utama yang dirasakan saat ini dan keluhan tambahan ditanyakan
jenis dan sifat gangguan yang dirasakan serta lamanya mengalami gangguan tersebut,
kemudian ditelaah anamnese utama tersebut lebih rinci. Juga dianamnese mengenai riwayat
hamil muda, apakah ada pening, mual, muntah, hipersalivasi (emesis gravidarum) dan
hiperemesis gravidarum.
Riwayat hamil yang sekarang, apakah ada mual, muntah, hipersalivasi, bagaimana
dengan nafsu makan, miksi ( kencing ), defekasi ( BAB ), tidur, apakah ada trauma abdomen
(perut), Bila mulai merasa pergerakan anak, kalau kehamilan masih muda adakah mual,
muntah, sakit kepala, perdarahan, kalau kehamilan sudah tua adakah bengkak di kaki atau
muka, sakit kepala, perdarahan, sakit pinggang, dll. Edema dalam kehamilan dapat
disebabkan oleh toxaemia gravidarum atau oleh tekanan rahim yang membesar pada venavena dalam panggul yang mengalirkan darah dari kaki, tetapi juga oleh defisiensi vitamin B1,
hipoproteinemia, dan penyakit jantung.
Anamnesa mengenai riwayat persalinan sebelumnya dan bagaimana proses
persalinannya, apakah spontan atau operatif obstetri, apakah pernah abortus, partus
immaturus, prematurus sebelumnya. Kemudian apakah anaknya masih hidup sampai
sekarang, atau meninggal disebabkan penyakit apa, apakah pernah melahirkan anak kembar,
kelainan kongenital (cacat bawaan), dan lain-lain, sehingga kita dapat menyimpulkan apakah
ibu tergolong dalam Bad Obstetrics History (BOH) / riwayat obstetri yang jelek.
Anamnesa mengenai haid, menarche, teratur atau tidak, siklus, banyaknya, lamanya,
apakah ada dismenorea, fluor albus, pruritus vulvae ( gatal pada kemaluan ),usia kehamilan,
kapan hari pertama haid terakhir, sehingga kita dapat menentukan taksiran tanggal
persalinannya (TTP). Bila hari pertama haid terakhir diketahui, maka dapat dijabarkan
taksiran tanggal persalinan memakai rumus Naegele :
TTP = hari+7 , bulan -3 , tahun + 1 HT
Anamnesa mengenai penyakit-penyakit yang pernah diderita sebelum dan selama
hamil ini Apakah pernah DM, Tifus, Hepatitis, HIV, Sifilis, Herpes Genitalia Rubella, sakit
Jantung, sakit Paru, sakit Ginjal, sakit Tiroid, Anemia, apakah ibu ini perokok, alkoholism
dan obat-obatan terutama narkoba, dan lain-lain.

b.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Status Present (kondisi saat ini): Keadaan umum Kesadaran, keadaan

emosional, gizi, nadi, TD, Pernafasan, Cyanose, Dyspnoe, suhu, anemis, turgor, berat
badan,tinggi badan.Bila ada tanda-tanda kedaruratan, maka ibu segera dikirim ke ruang rawat
inap untuk penanganan selanjutnya.
Pemeriksaan status lokalis : kepala, muka, cloasma gravidarum, mulut, gigi (apakah
ada caries), tonsil/faring (apakah ada tonsilitis/faringitis), hal ini perlu diperhatikan karena
merupakan infeksi fokal yang dapat menyebabkan gangguan pada ibu hamil dan janinnya
yang lebih serius, pemeriksaan mata, kuping, hidung, rambut, kelenjar tiroid, dan lain-lain.
Pada pemeriksaan inspeksi abdomen diperiksa bentuk dan ukuran abdomen, varises,
jaringan parut, gerakan janin dan lain-lain. Selain itu juga perlu dilakukan pemeriksaan
palpasi dimana diminta berbaring terlentang, kepala dan bahu sedikit lebih tinggi dengan
memakai bantal. Pemeriksa berdiri di sebelahkanan ibu hamil. Dengan sikap hormat
lakukanlah palpasi bimanual terutama pada pemeriksaan perut dan payudara. Palpasi
abdomen dilakukan untuk menentukan besar dan konsistensi rahim (tinggi fundus), bagianbagian janin, letak dan presentasi, gerakan janin, sejauh mana bagian terbawah bayi masuk
pintu atas panggul, dan kontraksi Rahim Braxton-Hicks dan hiss.Palpasi dapat dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu :
1. Knebel
Palpasi dilakukan guna menentukan letak kepala dengan cara bagian bawah dipegang
dan fundus uteri digerakkan ke kiri dan kanan.Jika gerakan bagian bawah negatif,
maka artinya kepala.Bila positif, artinya bokong.
2. Budin
Palpasi dilakukan guna menentukan letak punggung anak dengan cara tangan kiri
menekan fundus uteri ke bawah, akan dirasakan bagian mana yang memberi tahanan
besar.
3. Leopold
Pemeriksaan presentasi dan posisi janin : Pasien diminta mengosongkan kandung
kemih dan kemudian diminta untuk berbaring telentang dengan lutut semifleksi.
LEOPOLD I
- Pemeriksa berdiri sebelah kanan penderita, dan melihat ke arah muka penderita
- Kedua telapak tangan pemeriksa diletakkan pada puncak fundus uteri.

- Tentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan dan tentukan
konsistensi uterus
- Rasakan bagian janin yang berada pada bagian fundus (bokong atau kepala atau
kosong).Sifat kepala ialah keras, bundar, dan melenting, sifat bokong ialah lunak,
kurang bundar, dan kurang melenting, pada letak lintang fundus uteri kosong.

Gambar 2. Palpasi Leopold I


LEOPOLD II
-

Kedua telapak tangan pemeriksa bergeser turun kebawah sampai disamping kiri
dan

kanan umbilikus.

Tentukan bagian punggung janin untuk menentukan lokasi auskultasi denyut


jantung

janin nantinya.

Tentukan bagian-bagian kecil janin, pada letak lintang tentukan ketak kepala
janin.

Gambar 3. Palpasi Leopold II


LEOPOLD III
-

Pemeriksaan ini dilakukan dengan hati-hati oleh karena dapat menyebabkan


perasaan tak nyaman bagi pasien

Bagian terendah janin dicekap diantara ibu jari dan telunjuk tangan kanan untuk
menentukan bagian terbawah janin

Ditentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan ditentukan apakah sudah
mengalami engagement atau belum.

Gambar 4. Palpasi Leopold III


LEOPOLD IV
-

Pemeriksa merubah posisinya sehingga menghadap ke arah kaki pasien.

Kedua telapak tangan ditempatkan disisi kiri dan kanan bagian terendah janin.

Ditentukan apakah bagian bawah sudah masuk ke dalam pintu atas panggul, dan
berapa masuknya bagian bawah ke dalam rongga panggul.

Jika kita rapatkan kedua tangan pada permukaan dari bagian terbawah dari kepala
yang masih teraba dari luar dan :
a. Kedua tangan itu convergent, hanya bagian kecil dari kepala turun ke dalam
rongga.
b. Jika kedua tangan itu sejajar, maka separuh dari kepala masuk ke dalam rongga
panggul.
c. Jika kedua tangan divergent, maka bagian terbesar dari kepala masuk ke dalam
rongga panggul dan ukuran terbesar dari kepala sudah melewati pintu atas
panggul.

Gambar 5. Palpasi Leopold IV


Kalau pada kepala yang telah masuk ke dalam p.a.p kita masukkan tangan ke dalam
rongga panggul maka satu tangan akan lebih jauh masuk, sedangkan tangan satunya
tertahan oleh tonjolan kepala. Tonjolan kepala pada fleksi disebabkan oleh daerah
dahi, sedangkan pada letak defleksi oleh belakang kepala.Kalau tonjolan kepala
bertentangan dengan bagian kecil, maka anak dalam letak defleksi.Leopold IV tidak
dilakukan, kalau kepala masih tinggi. Palpasi secara Leopold yang lengkap ini, baru
dapat dilakukan kalau janin sudah cukup besar kira-kira dari bulan VI ke atas.
Sebelum bulan ke VI biasanya bagian-bagian anak belum jelas, jadi kepala belum
dapat ditentukan begitu pula punggung anak.Sebelum bulan ke VI cukuplah untuk
menentukan apakah ada benda (janin) yang melenting ke seluruhannya di dalam
rahim (ballottement in toto).Ballottement di dalam rahim boleh dianggap tanda
kehamilan pasti.Sebelum bulan ke III uterus tak dapat diraba dari luar dan untuk
mencari perubahan dalam besarnya, bentuknya, dan konsistensinya dilakukan toucher
atau pemeriksaan dalam.
Selain palpasi juga diperlukan pemeriksaan auskultasi.Pemeriksaan melalui auskultasi
digunakan untuk mendengar denyut jantung janin. Alat yang digunakan adalah stetoskop
monokuler yang dapat mendengar denyut jantung janin pada pada usia kehamilan 18-20
minggu ke atas. Dengan adanya denyut jantung janin dapat memastikan adanya kehamilan,
janin hidup serta letak janin di dalam uterus.Suara auskultasi yang berasal dari janin dapat
berupa, denyut jantung janin, gerakan janin dan bising tali pusat. Sedangkan suara yang
berasal dari ibu dapat berupa, denyut aorta, bising uterus, bising usus.

Cara menghitung denyut jantung janin :

Dihitung dalam 5 detik dan dilakukan sampai 3 kali. Hasilnya dijumlah dan dikalikan
4.

Denyut jantung normal : 120-152 kali/menit

Daerah yang terjelas guna mendengarkan denyut jantung janin disebut punctum
maksimum. Ketika mendengarkan denyut jantung janin, perhatikan frekuensi dan
irama.
Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh pada genitalia eksterna dan bila perlu dapat

pula dilakukan pemeriksaan dalam untuk kasus-kasus tertentuyang tidak memiliki kontra
indikasi seperti dugaan plasenta previa untuk mengetahui keadaan panggul dan turunnya
bagian bawah anak, apakah dalam keadaan inpartu, dan lain sebagainya.
Pemeriksaan dalam biasanya dilakukan pada pemeriksaan pertama pada hamil muda
dan sekali lagi pada kehamilan 8 bulan untuk menentukan keadaan panggul. Fungsi
pemeriksaan dalam adalah :
1. Menentukan bagian terbawah janin.
2. Kalau bagian yang terbawah adalah kepala dapat ditentukan posisi uuk, uub, dagu,
hidung, orbita dan mulut.
3. Kalau letak sungsang dapat teraba anus, sacrum dan tuber ischii.
4. Menentukan pembukaan serviks.
5. Mengevaluasi keadaan vagina, serviksa dan panggul.
Indikasi pemeriksaan dalam :
1. Jika pemeriksaan luar, kedudukan janin tidak dapat ditentukan.
2. Jika ada sangkaan kesempitan panggul atau CPD.
3. Jika persalinan tidak maju.
4. Untuk menentukan nilai pelvis :

Pendataran serviks.

Pembukaan serviks.

Konsistensi serviks.

Turunnya bagian terbawah janin menurut hodge.

Kondisi panggul sangatlah penting, terutama pada primigravida. Hal tersebut


dikarenakan panggul belum pernah teruji dalam proses persalinan. Sebaliknya, pada

multigravida, anamnesa mengenai persalinan sebelumnya dapat memberikan gambaran


mengenai kondisi panggul.
Seorang multipara yang sudah beberapa kali melahirkan anak aterm serta spontan,
dapat disimpulkan memilki panggul yang cukup luas.Walaupun begitu dalam keadaan
tertentu pada beberapa multipara, dapat terjadi penyempitan jalan lahir yang disebabkan oleh
tumor tulang (osteoma, osteofibroma) yang berasal dari daerah panggul ataupun yang berasal
dari daerah jaringan lunak disekitar jalan lahir.
Ciri-ciri panggul sempit :
1. Pada primigravida kepala belum turun pada bulan terakhir.
2. Pada multipara jika dalam anamnesis, proses persalinan yang terdahulu sukar (riwayat
obstetrik jelek).
3. Jika terdapat kelainan letak pada hamil tua.
4. Jika tubuh ibu menunjukkan kelainan seperti kifosis, skoliosis ataupun kelainan pada
tulang-tulang ekstremitas.
5. Jika ukuran luar sempit
Pemeriksaan dan pengukuran panggul biasanya dilakukan dengan toucher guna
menentukan luasnya jalan lahir. Pemeriksaan ini hanya dilakukan sekali selama masa
kehamilan. Biasanya terjadi pada bulan kedelapan. Hal-hal yang perlu dinilai dalam
pemeriksaan ini adalah :

Gambar 6. Pemeriksaan Panggul


1. Conjugata diagonalis.

2. Apakah linea innominata teraba seluruhnya atau hanya sebagian.


3. Keadaan sacrum apakah konkaf dalam arah atas bawah dan dari kiri ke kanan.
4. Keadaan dinding samping panggul apakah lurus atau konvergen.
5. Apakah spina ischiadicae menonjol.
6. Keadaan os pubis : adakah exostose.
7. Keadaan arcus pubis.

Gambar 7. Bidang Hodge


Bidang-bidang Hodge ini dipelajari untuk menentukan sampai manakah bagian
terendah janin turun dalam panggul pada persalinan.

Hodge 1 : Bidang yang dibentuk sejajar dengan pintu atas panggul antara bagian atas
symphysis dan promotorium.

Hodge 2

: sejajar dengan H 1 terletak setinggi bagian bawah symphysis.

Hodge 3

: sejajar dengan H 1 dan H 2 terletak setinggi spina ischiadica.

Hodge 4

: sejajar dengan H 1, H 2, dan H 3 terletak setinggi os coccygis.

c. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium (darah, urin, feses) rutin, bila ada indikasi, kita dapat melakukan
pemeriksaan skrining untuk Sifilis, Triponema Pallidum, VDRL, HIV.Fetal anomalies
dengan amniosintesis, Urine terutama diperiksa atas glukosa, zat putih telur, dan sedimen.
Adanya glukosa dalam urine orang hamil harus dianggap sebagai gejala penyakit diabetes
kecuali kalau kita dapat membuktikan bahwa hal-hal lain yang menyebabkannya. Pada

akhir kehamilan dan dalam nifas reaksi reduksi dapat menjadi positif oleh adanya laktosa
dalam urine.Zat putih telur positif dalam urine pada nefritis, toxaemia gravidarum, dan
radang dari saluran kencing.
Darah perlu ditentukan Hb 3 bulan sekali karena pada orang hamil sering timbul
anemia karena defisiensi Fe. Selanjutnya perlu diperiksa reaksi serologis (WR), golongan
darah, dan kadar gula darah.

Golongan darah ditentukan supaya kita cepat dapat

mencarikan darah yang cocok jika penderita memerlukannya.Feses diperiksa atas telurtelur cacing.
USG (dapat mengetahui kelainan kongenital, jumlah air ketuban, posisi anak, keadaan
plasenta, dan lain-lain).Skrining untuk infeksi saluran kencing dan penyakit hubungan
seksual. Pemeriksaan radiologi, kardiotokografi, amnioskopi, dan pemeriksaan penunjang
lain.
Dari seluruh pemeriksaan diatas, dapat dibuat kesimpulan untuk menegakkan
diagnosa.Kehamilannya normal atau tidak.Kemudian dapat melakukan penyaringan
pasien apakah termasuk golongan Kehamilan Resiko Tinggi atau normal, atau perlu
segera rawat inap atas indikasi ibu dan anak.Hal tersebut penting agar kita dapat
mendeteksi kelainan sedini mungkin.
Pada ibu hamil pemeriksaan antenatal memegang peranan penting dalam perjalanan
kehamilan dan persalinannya. Ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya pada
tenaga medis akan mengalami resiko kematian 3-7 kali dibandingkan dengan ibu yang
memeriksakan kehamilannya.

JADWAL KUNJUNGAN
Pemeriksaan kehamilan hendaknya dilakukan sedini mungkin ialah segera setelah seorang
wanita merasakan diri hamil, supaya dokter atau bidan mempunyai waktu yang cukup banyak
untuk mengobati atau memperbaiki keadaan-keadaan yang kurang memuaskan.
a. Jadwal melakukan pemeriksaan Antenatal Care sebanyak 12 - 13 kali selama
kehamilan. Di negara berkembang pemeriksaan Antenatal Care dilakukan sebanyak 4
kali sudah cukup sebagai kasus tercatat.
1) Pemeriksaan pertama dilaksanakan segera setelah diketahui terlambat haidnya satu
bulan.
2) Pemeriksaan ulang setiap dua minggu sampai umur kehamilan delapan bulan.
3) Pemeriksaan ulang setiap minggu sesudah umur kehamilan delapan bulan sampai
terjadinya persalinan.
b. Kunjungan Antenatal Care sebaiknya dilakukan 4 kali selama kehamilan yaitu
trimester pertama 1 kali, trimester kedua 1 kali dan trimester ketiga 2 kali.
c. Perlu segera memeriksakan kehamilan bila dilaksanakan ada gangguan atau bila janin
tidak bergerak lebih dari 12 jam.
d. Pada kehamilan tanpa penyulit jadwal kunjungan cukup 4 kali selama kehamilan.
Kunjungan pertama dilakukan 1 kali hingga usia kehamilan 28 minggu, lalu 1 kali
kunjungan selama kehamilan 28-36 minggu, dan 2 kali kunjungan pada usia
kehamilan diatas 36 minggu. Tetapi bila kehamilan dengan resiko tinggi atau dengan
penyulit perhatian dan jadwal kunjungan harus lebih sering.
Dari kunjungan satu ke kunjungan berikutnya sebaiknya dilakukan pencatatan:

Keluhan yang dirasakan ibu hamil


Hasil pemeriksaan setiap kunjungan
Umum
- Tekanan darah
- Respirasi
- Nadi
- Temperatur tubuh
Abdomen
- Tinggi fundus uteri
- Letak janin (setelah 34 minggu)
- Presentasi janin
- Denyut jantung janin
Pemeriksaan tambahan
- Proteinuria
- Glukosuria

- Keton
Menilai kesejahteraan janin
Untuk menilai kesejahteraan janin pada kehamilan resiko tinggi dapat dilakukan
berbagai jenis pemeriksaan atau pengumpulan informasi, baik yang diperoleh dari ibu
hamil maupun pemeriksaan oleh petugas kesehatan.Pemeriksaan yang memerlukan
peralatan canggih umumnya dilakukan alat pencatat denyut jantung janin
(kardiotokografi) dan ultrasonografi yang disebut dengan pemeriksaan profil biofisik
janin (biophysic profile).
Berbagai jenis pemeriksaan tersebut adalah:
- Pengukuran tinggi fundus uteri terutama usia kehamialn >29 minggu yang akan
disesuaikan dengan usia kehamilan saat pemeriksaan dilakukan. Tinggi fundus
-

yang normal sama dengan usia kehamilan.


Gerakan menendang atau tendangan janin (10 gerakan/12 jam)
Gerakan janin
Gerakan janin yang menghilang dalam waktu 48 jam dikaitkan dengan hipoksia

berat atau janin meningggal


- Denyut jantung janin
- Ultrasonografi
Bila usia kehamilan memasuki 34 minggu, selainpemeriksaan diatas, juga dilakukan
pemeriksaan tentang:
- Penilaian besar janin, letak dan presentasi
- Penilaian luas panggul

BEBERAPA GEJALA DAN TANDA BAHAYA SELAMA KEHAMILAN


Pada umumnya 80-90 % kehamilan akan berlangsung normal dan hanya 10-12 % kehamilan
yang disertai dengan penyulit atau berkembang menjadi kehamilan patologis. Kehamilan
patologis sendiri tidak terjadi secara mendadak karena kehamilan dan efeknya terhadap organ
tubuh berlangsung secara bertahap dan berangsur-angsur. Deteksi dini gejala dan tanda
bahaya selama kehamilan merupakan upaya terbaik untuk mencegah terjadinya gangguan
yang serius terhadap kehamilan ataupun keselamatan ibu hamil. Faktor predisposisi dan
adanya penyakit penyerta sebaiknya juga dikenali sejak awal sehingga dapat dilakukan
berbagai upaya maksimal untuk mencegah gangguan yang berat baik terhadap kehamilan dan
keselamatan ibu maupun bayi yang dikandungnya.

Perdarahan
Perdarahan pada kehamilan muda atau usia kehamilan di bawah 20

minggu,

umumnya disebabkan oleh keguguran. Sekitar 10-12 % kehamilan akan berakhir dengan
keguguran yang umumnya 60-80 % disebabkan oelh kelainan kromosom yang ditemui pada
spermatozoa ataupun ovum. Penyebab yang sama dan menimbulkan gejala perdarahan pada
kehamilan muda dan ukuran pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan atau lebih
besar, pada umumnya disebabkan oleh mola hidantidosa. Perdarahan pada kehamilan muda
dengan uji kehamilan tidak jelas, pembesaran uterus lebih kecil dari seharusnya, dan adanya
massa di adneksa biasanya disebabkan oleh kehamilan ektopik.
Perdarahan pada kehamilan usia lanjut atau di atas 20 minggu pada umumnya
disebabkan oleh plasenta previa. Perdarahan yang terjadi sangat terkait dengan luas plasenta
dan kondisi segmen bawah rahim yang menjadi implantasi plasenta tersebut. Pada plasenta
yang tipis dan menutupi sebagian jalan lahir, maka umumnya terjadi perdarahan bercak
berulang dan apabila segmen bawah rahim mulai terbentuk disertai dengan sedikit penurunan
bagian terbawah janin, maka perdarahan mulai meningkat hingga tingkatan yang dapat
membahayakan keselamatan ibu. Plasenta yang tebal yang menutupi seluruh jalan lahir dapat
menimbulkan perdarahan hebat tanpa didahului oleh perdarahan bercak atau berulang
sebelumnya.Plasenta previa menjadi penyebab dari 25 % kasus perdarahan antepartum.
Bila mendekati saat persalinan, perdarahan dapat disebabkan oleh solusio plasenta (40
%) atau vasa previa (5 %) dari keseluruhan perdarah anterpartum.

Preeklampsia
Pada umumnya ibu hamil dengan usia kehamilan diatas 20 minggu disertai dengan
peningkatan tekanan darah di atas normal sering diasosiasikan dengan preeklampsia. Data
informasi awal terkait dengan tekanan darah sebelum hamil akan sangat membantu petugas
kesehatan untuk membedakan hipertensi kronis dengan preeklampsia.
Nyeri Hebat di Daerah Abdominopelvikum
Bila hal ini terjadi pada kehamilan trimester kedua atau ketiga dan disertai dengan riwayat
dan tanda-tanda di bawah ini, maka diagnosisnya mengarah pada solusio plasenta, baik dari
jenis yang disertai perdarahan yang keluar (revealed) maupun tersembunyi (concealed):
-

Trauma abdomen
Preeklampsia
Tinggi fundus uteri lebih besar dari usia kehamilan
Bagian-bagian janin sulit diraba
Uterus tegang dan nyeri
Janin mati dalam rahim

Gejala dan Tanda Lain yang Harus Diwaspadai


Beberapa gejala dan tanda lain yang terkait dengan gangguan serius selama kehamilan adalah
sebagai berikut:

Muntah berlebihan yang berlangsung selama kehamilan (hiperemesis gravidarum)


Disuria
Menggigil atau demam
Ketuban pecah dini atau sebelum waktunya
Uterus lebih besar atau lebih kecil dari usia kehamilan yang sesungguhnya

DAFTAR PUSTAKA
1.

Prawirohardjo S. Buku Ilmu Kebidanan. Jakarta : Penerbit Prawirohardjo ; 2009.

2.

Sastrawinata S. Obstetri Fisiologi. Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran.

3.

Bandung : Universitas Padjadjaran Bandung ; 2003.


Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY. Obstetri

4.

Williams volume 1. Edisi 23. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 2013.
Mochtar R. Sinopsis obstetri. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 2004.