Anda di halaman 1dari 26

PEMILIHAN UMUM MENGGUNAKAN MEDIA ELEKTRONIK (E-VOTING)

(Studi Kasus di Desa Mendoyo Dangin Tukat, Kabupaten Jembarana, Bali)


Diajukan dalam rangka pemenuhan tugas politik pemilihan tingkat nasional & daerah

Disusun Oleh :
Trinandha Yudha I

115030107111088

Rizky Chester A

115030100111131

Kiki Violita A

115030101111094

ILMU ADMINISTRASI PUBLIK


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang menjalankan sistem politik demokrasi dalam
proses penyelenggaraan pemerintahannya. Selain ada kebebasan dalam beragama, berpendapat,
berkumpul dan berserikat dan sebagainya, Indonesia juga menjamin terselenggaranya pemilihan
umum yang bebas, jujur dan adil. Penyelenggaraan pemilu yang bebas dan berkala menjadi
prasyarat sistem politik demokrasi, karena pemilu merupakan salah satu sarana kedaulatan rakyat
dimana rakyat dapat memilih wakil dan pemimpin mereka secara langsung untuk menjalankan
pemerintahan.
Menurut UU No. 8 Tahun 2012 pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang
dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Pemilihan umum adalah syarat minimal bagi adanya demokrasi dan
diselenggarakan dengan tujuan memilih wakil rakyat, wakil daerah, presiden untuk membentuk
pemerintahan demokratis
Pemilihan Umum (Pemilu) yang dilaksanakan oleh negara-negara demokrasi merupakan
salah satu sarana demokrasi terpenting. Di negara-negara demokrasi, Pemilu dianggap sebagai
tolok ukur dari demokrasi negara tersebut. Pemilu tidak hanya sebagai suatu proses implementasi
negara demokrasi terhadap kedaulatan rakyat, tetapi Pemilu juga sebagai sarana atau alat
perubahan sosial dan politik dari suatu negara yang berlangsung secara berkala. Sistem Pemilu
sendiri juga merupakan sebuah metode yang mengatur dan memungkinkan rakyat dari suatu
negara tersebut untuk memilih masing-masing wakil rakyat mereka. Metode ini berhubungan
dengan prosedur dan aturan merubah (mentransformasi) suara ke kursi di lembaga perwakilan
dan suara rakyat dalam memilih pemimpin dari suatu negara tersebut. Sistem pemilu ini
tujuannya adalah bagaimana Pemilu tersebut dapat memberikan hak kepada rakyat dalam
mengeluarkan hak suaranya untuk memilih tiap calon wakil rakyatnya masing-masing.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dan juga sebagai demokrasi yang sedang
berusaha mencapai stabilitas nasional dan memantapkan kehidupan politik juga mengalami
gejolak-gejolak sosial dan politik dalam proses pemilihan umum. Dalam perkembangan
kehidupan politiknya, indonesia selalu berusaha memperbaharui sistem pemilihan umum baik itu

dengan mengadopsi sistem yang ada di dunia barat ( walaupun tidak semuanya bekerja efektif di
dalam negeri kita) untuk mencapai stabilitas nasional dan politik.
Pemilihan umum sering dikatakan sebagai pesta demokrasi suatu negara dan menjadi
sarana untuk memilih calon-calon wakil rakyat yang nantinya apabila terpilih diharapkan dapat
menyejahterakan

rakyat

seutuhnya

dan

menepati

janji-janji

politiknya.

Tata

cara

penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut ditiap-tiap negara didunia berbeda-beda. Hal tersebut
disesuaikan dengan keadaan dan kondisi negara yang bersangkutan. Di Indonesia pemilu
diselenggarakan setiap lima tahun sekali dan menggunakan sistem pemilihan yang manual atau
lebih dikenal dengan mencoblos. Dengan sistem pemilihan ini pemerintah harus mengeluarkan
biaya yang sangat banyak untuk keperluan logistik pemilu.
Tetapi dizaman yang telah modern ini, teknologi telah mengalami perkembangan yang
pesat, seperti adanya komputer, internet, dan berbagai teknologi lainnya. Dengan perkembangan
teknologi informasi saat ini telah membawa perubahan yang besar bagi manusia, termasuk untuk
melaksanakan Pemilihan umum. Penggunaan teknologi komputer pada pelaksanaan pemilihan
umum ini dikenal dengan istilah electronic voting atau lazim disebut e-Voting. Ini adalah salah
satu cara yang efisien dalam menekan biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam
menyambut pemilihan umum tersebut. Penerapan electronic voting di Indonesia telah diterapkan
di Desa Mendoyo Dangin Tukat, Kabupaten Jembarana, Bali. Penerapan electronic voting di
desa tersebut diterapkan pada saat pemilihan kepala desa. Berdasarkan pemaparan diatas menarik
minat dan perhatian penulis untuk membahas tentang penerapan electronic voting dalam
makalah ini dengan mengambil judul PEMILIHAN UMUM MENGGUNAKAN MEDIA
ELEKTRONIK E-VOTING (Studi Kasus di Desa Mendoyo Dangin Tukat, Kabupaten
Jembarana, Bali)
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan adanya latar belakang yang telah dipaparkan penulis diatas, maka penulis
dapat merumuskan masalah yang diambil untuk dibahas di makalah ini :
1.2.1 Bagaimana sistem pemilihan umum secara elektronik (e-voting) ?
1.2.2

Bagaimana kebijakan e-voting dalam pemilihan kepala desa di desa Mendoyo


Dangin Tukat, Kabupaten Jembarana, Bali ?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui sistem pemilihan umum secara elektronik (e-voting)
1.3.2 Untuk mengetahui kebijakan e-voting dalam pemilihan kepala desa di desa
Mendoyo Dangin Tukat, Kabupaten Jembarana, Bali
2. Manfaat Penulisan
a. Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat mengaplikasikan dan
mensosialisasikan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan.
a. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat dijadikan acuan mahasiswa maupun akademisi lain sebagai media
pembelajaran maupun sebagai acuan untuk penulisan berikutnya. Dengan penelitian
ini diharapkan dapat menjadi wahana pengetahuan mengenai pelaksanaan pemilu
bagi peneliti selanjutnya.
b. Bagi Masyarakat
Diharapkan menghasilkan informasi yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam
melakukan kegiatan pemilu

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pemilu
Menurut Undang-Undang No.8 Tahun 2012 Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan
rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945
Pengisian lembaga perwakilan dalam praktek ketatanegaraan lazimnya dilaksanakan
melalui Pemilihan Umum. Pasca perubahan amandemen UUD 1945, semua anggota lembaga
perwakilan dan bahkan presiden serta Kepala Daerah dipilih dengan mekanisme Pemilihan
Umum. Pemilihan umum menjadi agenda yang diselenggarakan secara berkala di Indonesia.
Ibnu Tricahyo dalam bukunya yang berjudul Reformasi Pemilu, mendefinisikan Pemilihan
Umum sebagai berikut:
Secara universal Pemilihan Umum adalah instrumen mewujudkan kedaulatan rakyat
yang bermaksud membentuk pemerintahan yang absah serta sarana mengartikulasikan
aspirasi dan kepentingan rakyat (Tricahyo, 2009:6).
Definisi di atas menjelaskan bahwa pemilihan umum merupakan instrumen untuk
mewujudkan kedaulatan rakyat, membentuk pemerintahan yang absah serta sebagai sarana
mengartikulasi aspirasi dan kepentingan rakyat. Negara Indonesia mengikutsertakan rakyatnya
dalam rangka penyelenggaraan negara. Kedaulatan rakyat dijalankan oleh wakil rakyat yang
duduk dalam parlemen dengan sistem perwakilan (representative democracy) atau demokrasi
tidak langsung (indirect democracy). Wakil-wakil rakyat ditentukan sendiri oleh rakyat melalui
Pemilu (general election).
Soedarsono mengemukakan lebih lanjut dalam bukunya yang berjudul Mahkamah
Konstitusi Pengawal Demokrasi, bahwa yang dimaksud dengan pemilihan umum adalah sebagai
berikut: secara berkala agar dapat memperjuangkan aspirasi rakyat.
Pemilihan umum adalah syarat minimal bagi adanya demokrasi dan diselenggarakan
dengan tujuan memilih wakil rakyat, wakil daerah, presiden untuk membentuk
pemerintahan demokratis (Soedarsono, 2005:1).
Penjelasan di atas menyebutkan bahwa pemilihan umum merupakan syarat minimal
adanya demokrasi yang bertujuan memilih wakil-wakil rakyat, wakil daerah, presiden untuk
membentuk pemerintahan demokratis. Kedaulatan rakyat dijalankan oleh wakil-wakil rakyat
yang duduk di dalam lembaga perwakilan. Kedaulatan rakyat atas penyelenggaraan

pemerintahan dijalankan oleh presiden dan Kepala Daerah yang juga dipilih secara langsung.
Anggota legislatif maupun Presiden dan Kepala Daerah karena telah dipilih secara langsung,
maka semuanya merupakan wakil-wakil rakyat yang menjalankan fungsi kekuasaan masingmasing. Kedudukan dan fungsi wakil rakyat dalam siklus ketatanegaraan yang begitu penting
dan agar wakil-wakil rakyat benar-benar bertindak atas nama rakyat, maka wakil rakyat tersebut
harus ditentukan sendiri oleh rakyat, yaitu melalui pemilihan umum.
Sebuah pemilu dikatakan demokratis jika memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
a. Dilaksanakan oleh Lembaga Penyelenggara Pemilu yang independen, mandiri dan bebas
intervensi dari pihak manapun (pemerintah, parpol, kandidat dsb).
b. Dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
c. Adanya Lembaga Pengawas yang independen dan mandiri.
d. Semua elemen masyarakat yang berhak, memiliki akses untuk terlibat sebagai peserta
(calon), pemilih maupun pemantau.
e. Melindungi dan menjaga kesamaan hak pemilih untuk menggunakan pilihannya dengan
prinsip one man, one vote dan one value.
Dalam perspektif demokrasi, pemilu memiliki beberapa manfaat, yaitu :
a) Pemilu merupakan implementasi perwujudan kedaulatan rakyat. Asumsi demokrasi
adalah kedaulatan terletak di tangan rakyat. Karena rakyat yang berdaulat itu tidak bisa
memerintah secara langsung maka melalui pemilu rakyat dapat menentukan wakilwakilnya dan para wakil rakyat tersebut akan menentukan siapa yang akan memegang
tampuk pemerintahan.
b) Pemilu merupakan sarana untuk membentuk perwakilan politik. Melalui pemilu, rakyat
dapat memilih wakil-wakilnya yang dipercaya dapat mengartikulasikan aspirasi dan
kepentingannya. Semakin tinggi kualitas pemilu, semakin baik pula kualitas para wakil
rakyat yang bisa terpilih dalam lembaga perwakilan rakyat.
c) Pemilu merupakan sarana untuk melakukan penggantian pemimpin secara konstitusional.
Pemilu bisa mengukuhkan pemerintahan yang sedang berjalan atau untuk mewujudkan
reformasi pemerintahan. Melalui pemilu, pemerintahan yang aspiratif akan dipercaya
rakyat untuk memimpin kembali dan sebaliknya jika rakyat tidak percaya maka
pemerintahan itu akan berakhir dan diganti dengan pemerintahan baru yang didukung
oleh rakyat.
d) Pemilu merupakan sarana bagi pemimpin politik untuk memperoleh legitimasi.
Pemberian suara para pemilih dalam pemilu pada dasarnya merupakan pemberian mandat

rakyat kepada pemimpin yang dipilih untuk menjalankan roda pemerintahan. Pemimpin
politik yang terpilih berarti mendapatkan legitimasi (keabsahan) politik dari rakyat.
e) Pemilu merupakan sarana partisipasi politik masyarakat untuk turut serta menetapkan
kebijakan publik. Melalui pemilu rakyat secara langsung dapat menetapkan kebijakan
publik melalui dukungannya kepada kontestan yang memiliki program-program yang
dinilai aspiratif dengan kepentingan rakyat. Kontestan yang menang karena didukung
rakyat harus merealisasikan janji-janjinya itu ketika telah memegang tampuk
pemerintahan.
2.2 Sistem Pemilihan Umum
Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum dengan berbagai
variasinya, akan tetapi umumnya berkisar pada dua kunci pokok,yaitu :
a. Single-member Constituency (satu daerah pemilihan memilih satu wakil, biasanya
disebut Sistem Distrik)
Sistem distrik merupakan sistem pemilihan yang paling tua dan didasarkan atas kesatuan
geografis. Setiap kesatuan geografis memperoleh satu kursi dalam parlemen. Untuk
keperluan itu Negara dibagi dalam sejumlah besar distrik pemilihan (kecil) yang kira-kira
sama jumlahnya penduduknya. Satu distrik hanya berhak atas satu kursi, dan kontestan
yang memperoleh suara terbanyak menjadi pemenang tunggal. Hal ini dinamakan the
first past the post.
b. Multi-member Constituency (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil, biasanya
dinamakan Sistem Perwakilan Berimbang atau Sistem Proporsional)
Satu wilayah dianggap sebagai satu kesatuan, dan dalam wilayah itu jumlah kursi dibagi
sesuai jumlah suara yang diperoleh oleh para kontestan, secara nasional, tanpa
menghiraukan distribusi suara itu. Sistem ini mempunyai keuntungan, yaitu bahwa
Sistem Proporsional bersifatrepresentatif dalam arti bahwa setiap suara turut
diperhitungkan dan praktis tidak ada suarayang hilang. Golongan-golongan bagaimana
kecil pun, dapat menempatkan wakilnya dalam badan perwakilan rakyat. Masyarakat
yang heterogeen sifatnya, umumnya lebih tertarik padasistem ini, karena dianggap lebih
menguntungkan bagi masing-masing golongan.
Jenis sistem pemilu cukup banyak, dan pilihan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan
yang telah dipaparkan pada bagian Pertimbangan Memilih Sistem Pemilu. Secara umum,
Andrew Reynolds, et.al. mengklasifikasikan adanya 4 sistem pemilu yang umum dipakai oleh
negara-negara di dunia, yaitu:

1.

Mayoritas/Pluralitas
Mayoritas/Pluralitas berarti penekanan pada suara terbanyak (Mayoritas) dan mayoritas
tersebut berasal dari aneka kekuatan (Pluralitas). Ragam dari Mayoritas/Pluralitas adalah
First Past The Post, Two Round System, Alternative Vote, Block Vote, dan Party Block Vote.

First Past The Post


Sistem ini ditujukan demi mendekatkan hubungan antara calon legislatif dengan pemilih.
Kedekatan ini akibat daerah pemilihan yang relatif kecil (distrik). Sebab itu, First Past

The Post kerap disebut sistem pemilu distrik.


Block Vote
Sistem ini adalah penerapan pluralitas suara dalam distrik dengan lebih dari 1 wakil.
Pemilih punya banyak suara sebanding dengan kursi yang harus dipenuhi di distriknya,
juga mereka bebas memilih calon terlepas dari afiliasi partai politiknya. Mereka boleh

menggunakan banyak pilihan atau sedikit pilihan, sesuai kemauan pemilih sendiri.
Party Block Vote
Esensi Party Block Vote sama dengan FPTP, bedanya setiap distrik partai punya lebih
dari 1 calon. Partai mencantumkan beberapa calon legislatif dalam surat suara. Pemilih
Cuma punya 1 suara. Partai yang punya suara terbanyak di distrik tersebut,

memenangkan pemilihan. Caleg yang tercantum di surat suara otomatis terpilih pula.
Alternate Vote
Alternate Vote (AV) sama dengan First Past The Post (FPTP) sebab dari setiap distrik
dipilih satu orang wakil saja. Bedanya, dalam AV pemilih melakukan ranking terhadap
calon-calon yang ada di surat suara (ballot). Misalnya rangkin 1 bagi favoritnya, rangking
2 bagi pilihan keduanya, ranking 3 bagi pilihan ketida, dan seterusnya. AV sebab itu
memungkinkan pemilih mengekspresikan pilihan mereka di antara kandidat yang ada,
ketimbang Cuma memilih 1 saja seperti di FPTP. AV juga berbeda dengan FPTP dalam
hal perhitungan suara. Jika FPTP ada 1 calon yang memperoleh 50% suara plus 1, maka
otomatis dia memenangkan pemilu distrik. Dalam AV, calon dengan jumlah pilihan
rangking 1 yang terendah, tersingkir dari perhitungan suara. Lalu, ia kembali diuji untuk
pilihan rangking 2-nya, yang jika kemudian terendah menjadi tersingkir. Setiap surat
suara kemudian diperiksa hingga tinggal calon tersisa yang punya rankin tinggi dalam
surat (ballot) suara. Proses ini terus diulangi hingga tinggal 1 calon yang punya suara

mayoritas absolut, dan ia pun menjadi wakil distrik.


Two Round System

Two Round System (TRS) adalah sistem mayoritas/pluralitas di mana proses pemilu
tahap 2 akan diadakan jika pemilu tahap 1 tidak ada yang memperoleh suara mayoritas
yang ditentukan sebelumnya (50% + 1). TRS menggunakan sistem yang sama dengan
FPTP (satu distrik satu wakil) atau seperti BV/PBV (satu distrik banyak wakil). Dalam
TRS, calon atau partai yang menerima proporsi suara tertentu memenangkan pemilu,
tanpa harus diadakan putaran ke-2. Putaran ke-2 hanya diadakan jika suara yang
diperoleh pemenang tidak mayoritas.
2.

Proporsianal

Proporsional Daftar. Setiap partai memuat daftar calon-calon bagi setiap daerah/distrik
pemilihan. Calon diurut berdasarkan nomor (1, 2, 3, dan seterusnya). Pemilih memilih
partai, dan partai menerima kursi secara proporsional dari total suara yang dihasilkan.
Calon yang nantinya duduk diambil dari yang ada di daftar tersebut. Jika kursi hanya

mencukupi untuk 1 calon, maka calon nomor urut 1 saja yang masuk ke parlemen.
Single Transferable Vote. Single Transferable Vote (STV) banyak dinyatakan sebagai
sistem pemilu yang menarik. STV menggunakan satu distrik lebih dari satu wakil, dan
pemilih merangking calon menurut pilihannya di kertas suara seperti pada Alternate Vote.
Dalam memilih, pemilih dibebaskan untuk merangking ataupun cukup memilih satu saja.

3.

Mixed/Campuran

Mixed Member Proportional


Di bawah sistem MMP, kursi sistem Proporsional dianugrahkan bagi setiap hasil yang
dianggap tidak proporsional. Contohnya, jika satu partai memenangkan 10% suara secara
nasional, tetapi tidak memperoleh kursi di distrik/daerah, lalu partai itu akan
dianugrahkan kursi yang cukup dari daftar Proporsional guna membuat partai tersebut
punya 10% kursi di legislatif. Pemilih mungkin punya 2 pilihan terpisah, sebagaimana di
Jerman dan Selandia Baru. Alternatifnya, pemilih mungkin membuat hanya 1 pilihan,

dengan total partai diturunkan dari total calon tiap distrik.


Paralel
Sistem Paralel secara berbarengan memakai sistem

Proporsional

dan

Mayoritas/Puluralitas, tetapi tidak seperti MMP, komponen Proporsional tidak


mengkompensasikan sisa suara bagi distrik yang menggunakan Mayoritas/Pluralitas.
Pada sistem Paralel, seperti juga pada MMP, setiap pemilih mungkin menerima hanya
satu surat suara yang digunakan untuk memilih calon ataupun partai (Korea Selatan) atau

surat suara terpisah, satu untuk kursi Mayoritas/Pluralitas dan satunya untuk kursi
Proporsional (Jepang, Lithuania, dan Thailand).
4.

Other/Lainnya

Single Non Transferable Vote


Di dalam SNTV, setiap pemilih memiliki satu suara bagi tiap calon, tetapi (tidak seperti
FPTP) adalah lebih dari satu kursi yang harus diisi di tiap distrik pemilihan. Calon-calon

dengan total suara tertinggi mengisi posisi.


Limited Vote
Limited Vote (LV) seperti SNTV, adalah sistem Mayoritas/Pluralitas yang digunakan
untuk distrik-distrik dengan lebih dari satu wakil. Tidak seperti SNTV, pemilih punya
lebih dari satu suara. Perhitungan identik dengan SNTV, dimana kandidat dengan total

suara tertinggi memenangkan kursi


Borda Count
Borda Count adalah sistem yang digunakan di Nauru (sebuah negara di Pasifik). Sistem
ini adalah sistem pemilihan preferensi dimana pemilih merangking kandidat seperti pada
Altenative Vote. Ia dapat digunakan pada distrik dengan satu atau lebih wakil. Hanya satu
yang dipilih, tidak ada eliminasi. Rangking pertama diberi nilai 1, ranking kedua diberi
nilai , rangkin ketiga diberi nilai 1/3 dan seterusnya. Kandidat dengan total nilai
tertinggi dideklarasikan sebagai pemenang.

Adapun Keunggulan dan Kelemahan Sistem Distrik yaitu :


a. Keunggulan
Partai-partai terdorong untuk berintegrasi dan bekerjasama
Fragmentasi dan kecenderungan mendirikan partai baru dapat dibendung, sistem

ini mendukung penyederhanaan partai tanpa paksaan


Oleh karena dalam suatu daerah pemilihan kecil (distrik) hanya ada satu
pemenang, wakil yang terpilih erat dengan konstituennya dan merasa accountable
kepada konstituen. Lagipula kedudukannya terhadap partai lebih bebas karena

factor kepribadian seseorang berperan besar dalam kemenangannya.


Lebih mudah bagi suatu partai untuk mencapai kedudukan mayoritas di parlemen.

Sekalipun demikian harus dijaga agar tidak terjadi elective dictatorship.


Terbatasnya jumlah partai dan meningkatnya kerjasama mempermudah

tercapainya stabilitas politik


b. Kelemahan

Terjadi kesenjangan antara persentase suara yang diperoleh dengan jumlah kursi
di parlemen. Kesenjangan ini disebabkan oleh distorsi (distortion effect). Partai
besar memperoleh keuntungan dari distorsi dan seolah-olah mendapat bonus.

Hal ini menyebabkan over-representation dari partai besar dalam parlemen.


Distorsi merugikan partai kecil dan golongan minoritas, apalagi jika terpencar di
beberapa distrik. Persentase kursi lebih kecil dari persentase suara sehingga
terjadi under-representation dari partai kecil. Sistem ini kurang representatif

karena banyak suara yg hilang (wasted)


Sistem ini kurang mengakomodasikan kepentingan berbagai kelompok dalam

masyarakat yang heterogen dan pluralis sifatnya.


Wakil rakyat yang dipilih cenderung lebih memerhatikan kepentingan daerah
pemilihannya daripada kepentingan nasional.

Sedangkan Keunggulan dan Kelemahan Sistem Proporsional yaitu :


a. Keunggulan
Dianggap lebih representatif karena persentase perolehan suara setiap partai
sesuai dengan persentase perolehan kursinya di parlemen. Tidak ada distorsi

antara perolehan suara dan perolehan kursi


Setiap suara dihitung dan tidak ada yang hilang. Partai kecil dan golongan
minoritas diberi kesempatan untuk menempatkan wakilnya di parlemen. karena

itu masyarakat yang heterogen dan pluralis lebih tertarik pada sistem ini.
b. Kelemahan
Kurang mendorng partai-partai untuk berintegrasi satu sama lain, malah
sebaliknya cenderung mempertajam perbedaan-perbedaan diantara mereka.
Bertambahnya jumlah partai dapat menghambat proses integrasi diantara berbagai
golongan di masyarakat yang sifatnya pluralis. Hal ini mempermudah fragmentasi

dan berdirinya partai baru yang pluralis.


Wakil rakyat kurang erat hubungannya dengan konstituennya, tetapi lebih erat
dengan partainya (termasuk dalam hal akuntabilitas). Peranan partai lebih
menonjol daripada kepribadian seorang wakil rakyat. Akibatnya sistem ini
memberi kedudukan kuat kepada pimpinan partai untuk menentukan wakilnya di

parlemen melalui Stelsel Daftar (List System)


Banyaknya partai yang bersaing mempersukar satu partai untuk mencapai
mayoritas di parlemen. Dalam sistem pemerintahan parlementer, hal ini

mempersulit terbentuknya pemerintahan yang stabil karena harus mendasarkan


diri pada koalisi.
2.3 E-Voting Pemilu
E-Voting adalah suatu sistem pemilihan dimana data dicatat, disimpan, dan diproses
dalam bentuk informasi digital . Centinkaya dan Centinkaya menambahkan bahwa e-voting
refers to the use of computers or computerised voting equipment to cast ballots in an election .
Jadi e-voting pada hakekatnya adalah pelaksanaan pemungutan suara yang dilakukan secara
elektronik (digital) mulai dari proses pendaftaran pemilih, pelaksanaan pemilihan, penghitungan
suara, dan pengiriman hasil suara.

Penerapan e-voting diharapkan dapat mengatasi

permasalahan yang timbul dari pemilu yang diadakan secara konvensional. Riera dan Brown
serta de Vuyst dan Fairchild menawarkan manfaat yang akan diperoleh dalam penerapan evoting sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Mempercepat penghitungan suara


Hasil penghitungan suara lebih akurat
Menghemat bahan cetakan untuk kertas suara
Menghemat biaya pengiriman kertas suara
Menyediakan akses yang lebih baik bagi kaum yang mempunyai keterbatasan fisik (cacat)
Menyediakan akses bagi masyarakat yang mempunyai keterbatasan waktu untuk mendatangi

tempat pemilihan suara (TPS)


g. Kertas suara dapat dibuat ke dalam berbagai versi bahasa
h. Menyediakan akses informasi yang lebih banyak berkenaan dengan pilihan suara
i. Dapat mengendalikan pihak yang tidak berhak untuk memilih misalnya karena di bawah
umur atau melebihi umur pemilih yang telah diatur.
Pelaksanaan pemilihan umum pada hakekatnya dapat dibagi menjadi dua cara yakni cara
konvensional yang berbasis kertas dan e-voting yang berbasis pada teknologi online. E-voting
berbasis online dapat dilaksanakan dalam beberapa metode, yaitu :
a. Sistem pemindaian optik. Sistem ini dilakukan dengan cara kertas diberikan kepada para
pemilih kemudian hasilnya direkam dan dihitung secara elektronik. Metode ini harus
menyediakan surat suara yang dapat dipindai dengan optik dan membutuhkan rancangan
yang rumit dan biaya mahal. Di samping itu, tanda yang melewati batas kotak marka suara
dapat menyebabkan kesalahan penghitungan oleh mesin pemindai. Sistem ini biasa disebut
sebagai e-counting.
b. Sistem Direct Recording Electronic (DRE). Metode ini para pemilih memberikan hak
suaranya melalui komputer atau layar sentuh atau panel/papan suara elektronik. Kemudian

hasil pemungutan suara disimpan di dalam memori di TPS dan dapat dikirimkan baik
melalui jaringan maupun offline ke pusat penghitungan suara nasional. Para pemilih masih
diwajibkan untuk datang ke TPS namun data penghitungan suara sudah dapat disimpan dan
diproses secara realtime dan online.
c. Internet voting. Pemilih dapat memberikan hak suaranya dari mana saja secara online
melalui komputer yang terhubung dengan jaringan di mana pemungutan suara di TPS
langsung direkam secara terpusat. Metode ini membutuhkan jaringan komunikasi data yang
berpita lebar dan keamanan yang handal.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 SISTEM ELECTRONIC VOTING
e-voting berasal dari kata electronic voting yang mengacu pada penggunaan teknologi
informasi pada pelaksanaan pemungutan suara. Pilihan teknologi yang digunakan dalam
implementasi dari e-Voting sangat bervariasi, seperti penggunaan kartu pintar untuk otentikasi
pemilih yang bisa digabung dalam e-KTP, penggunaan internet sebagai sistem pemungutan suara
atau pengiriman data, penggunaan layar sentuh sebagai pengganti kartu suara, dan masih banyak
variasi teknologi yang bisa digunakan.
E-Voting adalah suatu sistem pemilihan dimana data dicatat, disimpan, dan diproses
dalam bentuk informasi digital [VoteHere Inc, April 2002]. Centinkaya dan Centinkaya
menambahkan bahwa e-voting refers to the use of computers or computerised voting equipment
to cast ballots in an election (Centinkaya & Cetinkaya, 2007). Jadi e-voting pada hakekatnya
adalah pelaksanaan pemungutan suara yang dilakukan secara elektronik (digital) mulai dari
proses pendaftaran pemilih, pelaksanaan pemilihan, penghitungan suara, dan pengiriman hasil
suara.
Penerapan e-voting diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang timbul dari pemilu
yang diadakan secara konvensional. Riera dan Brown [2003] serta de Vuyst dan Fairchild [2005]
menawarkan manfaat yang akan diperoleh dalam penerapan e-voting sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.

Mempercepat penghitungan suara


Hasil penghitungan suara lebih akurat
Menghemat bahan cetakan untuk kertas suara
Menghemat biaya pengiriman kertas suara
Menyediakan akses yang lebih baik bagi kaum yang mempunyai keterbatasan fisik

(cacat)
6. Menyediakan akses bagi masyarakat yang mempunyai keterbatasan waktu untuk
mendatangi tempat pemilihan suara (TPS)
7. Kertas suara dapat dibuat ke dalam berbagai versi bahasa
8. Menyediakan akses informasi yang lebih banyak berkenaan dengan pilihan suara
9. Dapat mengendalikan pihak yang tidak berhak untuk memilih misalnya karena di bawah
umur atau melebihi umur pemilih yang telah diatur.
3.1.1 METODE DAN PROSES PEMILU E-VOTING

Pelaksanaan pemilihan umum pada hakekatnya dapat dibagi menjadi dua cara yakni cara
konvensional yang berbasis kertas dan e-voting yang berbasis pada teknologi online. E-voting
berbasis online dapat dilaksanakan dalam beberapa metode [Gritzalis, 2002]; BPPT dalam
[Husein, 30 Mei 2011].
1. Sistem pemindaian optik. Sistem ini dilakukan dengan cara kertas diberikan kepada
para pemilih kemudian hasilnya direkam dan dihitung secara elektronik. Metode ini harus
menyediakan surat suara yang dapat dipindai dengan optik dan membutuhkan rancangan
yang rumit dan biaya mahal. Di samping itu, tanda yang melewati batas kotak marka
suara dapat menyebabkan kesalahan penghitungan oleh mesin pemindai. Sistem ini biasa
disebut sebagai e-counting.
2. Sistem Direct Recording Electronic (DRE). Metode ini para pemilih memberikan hak
suaranya melalui komputer atau layar sentuh atau panel/papan suara elektronik.
Kemudian hasil pemungutan suara disimpan di dalam memori di TPS dan dapat
dikirimkan baik melalui jaringan maupun offline ke pusat penghitungan suara nasional.
Para pemilih masih diwajibkan untuk datang ke TPS namun data penghitungan suara
sudah dapat disimpan dan diproses secara realtime dan online.
3. Internet voting. Pemilih dapat memberikan hak suaranya dari mana saja secara online
melalui komputer yang terhubung dengan jaringan di mana pemungutan suara di TPS
langsung direkam secara terpusat. Metode ini membutuhkan jaringan komunikasi data
yang berpita lebar dan keamanan yang handal.
3.1.2 PROSES PEMILU E-VOTING
1. SETTING UP.
Sebelum pemilihan berlangsung, salah satu hal pertama petugas pemilihan harus dilakukan
adalah menentukan jabatan politik dan isu-isu yang akan diputuskan oleh para pemilih bersama
dengan kandidat dan afiliasi partai mereka. Variasi pada pemungutan suara dapat disajikan
kepada para pemilih berdasarkan afiliasi partai mereka. Kami menyebutnya data ini definisi
suara.
Sebelum pemilihan, pemungutan suara terminal harus dikonfigurasi dalam lokasi yang aman
saksi oleh organisasi pemilihan independen dan dipasang pada setiap lokasi pemilihan saksi oleh
lembaga masing-masing. Entitas pemerintah menggunakan solusi e-voting dan terminal memiliki
berbagai pilihan dalam bagaimana mendistribusikan definisi suara. Mereka juga dapat
didistribusikan menggunakan media removable, seperti floppy disk atau kartu penyimpanan, atau

melalui jaringan lokal, internet, atau koneksi dial-up. Pendekatan jaringan, jika diizinkan dalam
proses daerah pusat pemungutan suara, menyediakan fleksibilitas tambahan untuk administrator
pemilu dalam hal menit-menit terakhir perubahan pemungutan suara.
2. THE ELECTION.
Setelah terminal suara diinisialisasi dengan definisi pemungutan suara dan pemilihan
dimulai, pemilih diperbolehkan untuk memberikan suara mereka. Untuk memulai, pemilih harus
memiliki kartu pemilih / Kartu Pemilu atau e-KTP. Kartu pemilih adalah kartu memori atau
smartcard, yakni, itu adalah kartu plastik berukuran kartu kredit dengan chip komputer di atasnya
yang dapat menyimpan data dan, dalam kasus smartcard, melakukan perhitungan. Berdasarkan
skenario yang paling umum, pemilih ID pendaftaran akan dilakukan pertama dan pemilih akan
membawa kartu pemilih mereka ke TPS pada hari pemilihan.
Pemilih akan memberikan kartu pemilih mereka untuk inspektur dan dia baik akan sentuh
atau memasukkan ke dalam smartcard reader. Inspektur memeriksa bahwa smartcard di
pembacanya adalah kartu pemilih dan, jika, menunjukkan pemilih ke bilik suara di mana
terminal DRE berada. Setelah pemilih masuk ke bilik suara, inspektur kemudian akan tekan
tombol aktivasi di mana terminal DRE siap untuk digunakan.
Pada titik ini, pemilih berinteraksi dengan terminal suara, menyentuh kotak yang sesuai pada
layar untuk nya atau calon nya yang diinginkan. Headphone dan keypad yang tersedia untuk
pemilih-gangguan visual untuk pribadi berinteraksi dengan terminal. Sebelum surat suara
berkomitmen untuk penyimpanan di terminal, pemilih diberi kesempatan terakhir untuk
meninjau pilihan nya. Jika pemilih menegaskan hal ini, suara dicatat pada terminal suara. Jika
tidak, pemilih dapat membatalkan pemungutan suara sebelumnya dan mulai dari awal lagi.
Setelah selesai pemungutan suara pemilih, akan ada print-out dari terminal yang merupakan
panggilan jejak audit. Pemilih akan mengambil print out dan memasukkannya ke kotak suara.
3. PELAPORAN HASIL.
Seorang poll worker mengakhiri proses pemilihan dengan menggunakan otorisasi password
ke terminal suara. Setelah mendeteksi keberadaan memeriksa PIN dimasukkan oleh poll worker,
ia diminta untuk mengkonfirmasi bahwa pemilihan selesai. Jika poll worker setuju, maka
terminal suara memasuki tahap pasca-pemilu.
Hasil pemilihan ditulis ke kartu memori removable flash dan juga dapat dikirimkan secara
elektronik ke server back-end. Ia mengumpulkan semua suara dari berbagai terminal suara

Proses system pemungutan suara electronic eperti Ditampilkan pada gambar berikut ini :

Gambar 3.1 Proses pemungutan suara elektronik


3.1.3 HAMBATAN DALAM PENERAPAN E-VOTING
Walaupun banyak negara sudah menerapkan e-voting, namun masih banyak hambatan yang
harus diatasi supaya e-voting dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan produk yang sesuai
pilihan rakyat, dan hasilnya dapat dipercaya oleh seluruh masyarakat. Hambatan-hambatan
tersebut antara lain [Gritzalis, 2002].

1. Difficulty of changing national election laws.


Penerapan e-voting harus diiringi oleh adanya payung hukum yang mengatur
dengan lengkap dan jelas mengenai penerapan e-voting dari tahap persiapan sampai
pengesahan hasil pemungutan suara. Jika e-voting mau diterapkan berarti UU Pemilu
yang selama ini berlaku harus ditinjau ulang. Sebagaimana diatur dalam UU nomor 32
tahun 2004 dalam pasal 88 berbunyi: Pemberian suara untuk pemilihan kepala daerah
dan wakil kepala daerah dilakukan dengan mencoblos salah satu pasangan calon dalam
surat suara.
2. Security and reliability of electronic voting.
Keamanan dan kehandalan e-voting adalah isu yang paling strategis dalam
penerapan e-voting. Walaupun e-voting menawarkan kecepatan dalam penghitungan dan
pendistribusian hasil penghitungan suara namun aspek kevalidan data harus dijunjung
tinggi karena sangat berkaitan dengan keabsahan hasil Pemilu.
3. Equal access to Internet voting for all socioeconomic groups.
Tidak semua pemilih mempunyai akses terhadap Internet jika dilakukan e-voting
berbasis online karena heteroginitas dari masyarakat dan adanya kesenjangan digital. Jika
e-voting dilakukan melalu DRE dimana pemilih harus datang ke TPS, kendala rendahnya
literasi terhadap penggunaan teknologi informasi sangat mungkin akan menghambat
pelaksanaan e-voting.
4. Difficulty of training election judges on a new system.
Bukan hanya para pemilih dan penyelenggara yang harus siap terhadap e-voting,
para saksi dan pengawas pun harus mempunyai IT literacy. Oleh karena itu harus
diadakan pelatihan kepada para saksi dan pengawas pemilu sehingga jika timbul
permasalahan

dalam

pelaksanaan

pemilu

mempunyai

kompetensi

untuk

menyelesaikannya.
5. Political risk associated with trying a new voting system.
Adanya resiko politik terhadap penerapan e-voting dan ini sangat berkait dengan
keabsahan hasil pemilu. Jika pemilu gagal dilakukan maka resikonya sangat besar yang
berdampak pada ketidakstabilan politik suatu negara.
6. Need for security and election experts.
Penerapan e-voting membutuhan ahli keamanan teknologi informasi dan
sekaligus memahami sistem pemilihan. Pada kenyataannya sangat sulit untuk merekrut
banyak tenaga yang ahli dalam sekuriti teknologi informasi dan sekaligus menguasai
sistem pemilu.

3.2 Kebijakane-Voting dalam pemilihan kepala desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad
Pemerintah melaksanakan pemilihan kepala desa dengan menggunakan sistemeVoting. Berawal dari pengalaman yang telah lalu, seringnya terjadi kekisruhan dalam
pemilihan kepala dusun, kepala desa hingga pemilihan kepala daerah yang dilaksanakan
di Kabupaten Jembrana. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap hasil pemilihan
mengakibatkan dilakukannya pemilihan ulang. Dengan dilakukaknnya pemilihan ulang
maka biaya yang dikeluakan menjadi lebih banyak. Sebelum menggunakan sistem eVoting pemilihan kepala dinas maupun kepala desa masih menggunakan cara manual
(konvensional).
Dalam meningkatkan pelayan pemerintah terhadap masyarakat, pemerintah
Kabupaten Jembrana pada masa pemerintahan Bupati I Gede Winasa memiliki
programprogram pemerintahan yang sesuai dengan karakteristik pemerintahan yang baik
(Good Governance). Salah satu programnya adalah penerapan e-Government. Pemerintah
Kabupaten Jembrana melakukan inovasi baru dalam pelayanan dengan peningkatan
sumber daya dan penggunaan teknologi informasi.
Pengimplementasian KTP SIAK (sistem administrasi kependudukan) merupakan
langkah awal pemerintah Jembrana menjadi pemerintahan berbasis IT. Penerapan KTP
(Kartu Tanda Penduduk) SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan) di Kab.
Jembrana telah melahirkan database kependudukan yang lebih akurat dari sistem
sebelumnya (SIMDUK). Selain itu penggunaan kartu RFID (Radio Frequency
Identification) sebagai kartu fisik KTP merupakan kelebihan yang tidak dimiliki KTP
biasa sehingga memungkinkan KTP sebagai satu identitas tunggal yang unik bagi setiap
penduduk yang dikenal dengan SIN (Single Identification Number). Salah satu manfaat
penggunaan KTP SIAK ber-chip (RFID) adalah pelaksanaan e-Voting yang telah di
implementasikan. E-Voting disini menggunakan layar sentuh (touch screen) sebagai
media penyalur aspirasi dan KTP sebagai kartu pemilih. Sejak 2009 Kabupaten Jembrana
melakukan pemilihan kepala dusun sebanyak 54 kali melalui e-Voting. Setelah
melakukan pemilihan kepala dusun sebanyak 54 kali pada tahun 2009, Kabupaten
Jembrana melakukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK). Pengujian merujuk pada
undang-undang nomor 32 tahun 2004 terkait coblos dan contreng. Kabupaten Jembrana

mengusulkan untuk boleh menggunakan teknolgi informasi yaitu eVoting. Pengajuan uji
materi itu akhirnya mendapat persetujuan dari Mahkamah Konstitusi (MK) asalkan
penerapan e-Voting berlandaskan asas langsung, bersih, jujur dan adil. Persetujuan itu
juga dilihat dari kesiapan Kabupaten jembrana akan lima komponen yaitu kesiapan
teknologinya, pembiayaan, penyelenggaraan, sumber daya manusia (SDM) dan legalitas.
Pengajuan uji materi yang dilakukan Kabupaten Jembrana sesungguhnya dilakukan untuk
menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada). Dalam hal ini,
Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai landasan hukum untuk
melakukan pemilihan kepala daerah dengan e-Voting belum ada. Untuk melaksanakan
pemilihan kepala daerah dengan e-Voting harus di dasari oleh undang-undang. Sehingga
pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jembrana dengan sistem e-Voting belum dapat
terwujud. Pemerintah Kabupaten Jembrana akhirnya mencoba penerapan e-Voting dalam
pemilihan kepala desa. Dalam pemilihan kepala desa asas legalitas sangat diperlukan.
Sehingga pemilihan kepala desa yang dilaksanakan di Kabupaten Jembrana didasari oleh
peraturan pemerintah nomor 72 tahun 2005. Untuk melaksanakan pemilihan kepala desa
dengan sistem e-Voting dibutuhkan proses yang cukup panjang. Pemerintah Kabupaten
Jembrana melaksanakan pemilihan kepala desa berdasarkan peraturan daerah nomor 27
tahun 2006 tentang pencalonan, pemilihan, pelantikan dan pemberhentian perbekel.
Dalam peraturan daerah nomor 27 tahun 2006 tidak terdapat pelaksanaan pemiliha kepala
desa dengan sistem e-Voting. Untuk itu peraturan daerah nomor 27 tahun 2006 di ubah
menjadi peraturan daerah nomor 1 tahun 2010 yang menjelaskan tentang pencalonan,
pemilihan, pelantika dengan menggunakan sistem e-Voting. Keberhasilan implementasi
menurut Marilee S. Grindle dipengaruhi oleh isi kebijakan (content of policy) dan
lingkungan kebijakan (content of implementation). Ide dasarnya adalah setelah kebijakan
ditransformasikan, dilakukan implementasi kebijakan. Dalam isi kebijakan (content of
policy) yang pertama mencakup tentang kepentingan yang terpengaruh oleh kebijakan.
Dalam kebijakan penerapan e-Voting dalam pemilihan kepala desa di Desa Mendoyo
Dangin Tukad mencakup kepenting masyarakat, dimana sebelum menggunakan sistem eVoting, pemilihan kepala desa sering mengalami kekisruhan dan kecurangan. Prinsip
yang ke dua adalan jenis manfaat yang dihasilkan. Implementasi kebijakan e-Voting
dalam pemilhan kepala desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad memberikan dampak yang

positif bagi pemerintah maupun masyarakat. Penyelenggaraan pemilihan kepala desa


dengan sistem e-Voting mengembalikan kepercayaan masyaraka terhadap pemerintah
dalam melaksanakan pemilihan. Sedangkan yang ketiga adalah perubahan yang di
inginkan. Tujuan kebijakan penerapan e-Voting dalam pemilihan kepala desa adalah
untuk mengembangkan teknologi informasi dalam pemerintahan Kabupaten Jembrana.
Kabupaten Jembrana sendiri mengembangkan e-Government dalam meningkatkan
pelayanan bagi masyarakat. Bagian yang ke empat adalah kedudukan pembuat kebijakan.
Dalam kebijakan penerapan e-Voting ini pembuat kebijakan yang berwenang adalah
pemerintah Kabupaten Jembrana yang di pimpin oleh seorang Bupati. Dalam kebijakan
penerapan e-Voting, Bupati Jembrana mengeluarkan peraturan daerah Kabupaten
Jembrana nomor 1 tahun 2010 tentang perubahan atas peraturan daerah Kabupaten
Jembrana nomor 27 tahun 2006

tentang pencalonan, pemilihan, pelantikan dan

pemebrhentian perbekel. Isi kebijakan yang kelima harus jelas siapa pelaksana program.
Sesuia dengan peraturan daerah Kabupaten Jembrana nomor 1 tahun 2010, pelaksana
pemilihan kepala desa di bentuk oleh Badan permusyawartan desa (BPD). Badan
permusyawaratan desa membentuk panitia pelaksana yang bersal dari perangkat desa,
pengurus lembaga permusyawaratan di desa dan tokoh masyarakat. Setelah terbentuknya
panitia pelaksana, barulah di bentuk kelompok pelaksana pemungutan suara (KPPS) yang
nantinya bertugas di masing-masing TPS (tempat pemungutan suara). Dalam
pemilihan kepala desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad dengan menggunakan
sistem eVoting, panitia pelaksana dibantu oleh tim yang dibentuk oleh Bupati. Pemerintah
Kabupaten Jembrana memberikan kewenangan kepada Dinas Perhubungan Komunikasi
dan informatika untuk membantu pelaksanaan pemilihan kepala desa dengan sistem eVoting. Isi sebuah kebijakan yang ke enam adalah sumber daya yang dikerahkan.
Pelaksanaan pemilihan kepala desa dengan sistem e-Voting dilaksanakan oleh panitia
pelaksana dan proses pemilihannya di bantu dengan teknologi informasi. Berdasarkan isi
kebijakan (content of policy) implementasi kebijakan penerapan eVoting dalam pemilihan
kepala desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad telah sesuai dengan enam karakteritik yang
ada dalam isi sebuah kebijakan. Implementasi kebijakan e-Voting dalam pemilihan kepala
desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad memang layak untuk dilaksanakan, dimana
Kabupaten Jembrana telah memenuhi komponen kesiapan pelaksanaan yaitu, kesiapan

teknologi, biaya, penyelenggaraan, sumber daya manusia dan legalitas. Analisi prinsip
Good Governance yang di implementasikan dalam sistem e-Voting di Desa Mendoyo
Dangin Tukad Pelaksanaan pemilihan kepala desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad
merupakan implementasi penerapan prinsip Good Governance. Dalam pelaksanaan
pemilihan kepala desa dengan e-Voting, tercermin beberapa prinsip atau unsur Good
Governance yang dapat dicapai. Dalam kebijakan penggunaan e-Voting terdapat prinsip
akuntabilitas. Akuntabilitas dalam hal ini adalaah pertanggng jawaban para pengambil
keputusan dalam segala bidang yang menyngkut kepentingan masyarakat. Pemilihan
kepala desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad dengan sistem e-Voting dilaksanakan
berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Jembrana nomer 1 tahun 2010 tentang
perubahan peraturan daerah nomer 27 tahun 2006 tentang pencalonan, pemilihan,
pelantikan dan pemberhentian perbekel. E-Voting di Jembrana telah memiliki landasan
hukum yang jelas sehingga pelaksanaan e-Voting dapat dipercaya. Akuntabilitas yang
tercermin dari pelaksanaan pemilihan kepala desa dengn eVoting adalah setiap tahapan
yang dilaksanakan dalam pemilihan kepala desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad dapat di
audit. Prinsip berikutnya yang tercermin dalam pemilihan kepala desa di Desa Mendoyo
Dangin Tukad dengan sistem e-Voting adalah transparasi. Transparasi dalam penerapan
eVoting berperan untuk mencitakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan
masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan didalam
memperoleh informasi. Dalam pemilihan Kepala Desa di Desa Mandoyo Dangin Tukad,
transparasi sudah terlihat mulai dari awal proses pemilihan Kepala Desa Mendoyo
Dangin Tukad. Sebelum dilaksanakannya pengambilan suara, panitia pelaksana
melakukan verifikasi pemilih dengan mencatat kehadiran dan mencocokannya dengan
DPT online, bagi warga yang memiliki KTP elektroniki (e-KTP) dapat langsung
mencocokan data sidik jari pemilik dengan data sidik jari yang telah ada dalam chip eKTP. Sehingga proses pendataan dapat terawasi dan menghindari terjadinya pemilih
ganda atau pemilih yang usianya tidak memenuhi kriteria untuk memilih. Keterbukaan
informasi dalam sistem e-Voting ini juga terjadi dalam hasil penghitungan suara, dimana
hasil

penghitungan

suara

dapat

diketahui

warga

dan

disaksikan

penghitungannya sesaat setelah proses pemungutan suara berakhir. Setelah hasil

langsung

perolehan suara di masing-masing TPS diketahui barulah hasil suara tersebut


dikirim ke Pusat Data untuk di akumulasikan hasil dari 4 TPS yang ada. Dari akumulasi
penayangan hasil suara keseluruhan yang dilakukan di Pusa Data yang berada e-Voting di
Kantor Kepala Desa Mendoyo Dangin Tukad

akan diketahui calon mana yang

memenangkan proses pemilihan Kepala Desa. Proses pemilihan kepala desa dengan eVoting juga memenuhi prinsip efektif dan efisien. Dapat dilihat dari proses pelaksanaan
pemungutan suara dengan menggunakan eVoting sangat efektif dengan durasi rata-rata
hanya 20 detik. Waktu yang dibutuhkan menggunakan sistem e-Voting dapat dikatakan
sangat singkat karena dalam pelaksanaan pemungutan suara, peserta masuk kebilik suara
dan menentukan pilihannya dengan menyentuh layar monitor. Sangat berbeda dengan
pemilihan konvensional yang membutuhkan waktu lama, mulai dari membuka surat
suara, melipat dan memasukannya ke kotak suara. Penghitungan suara akhir juga dapat
dilakukan dengan sangat cepat. Setelah proses pemungutan suara berakhir, hasil akhirnya
dapat langsung diperlihatkan kepada warga. Dari segi pembiayaan, pelaksanaan
pemilihan kepala desa dengan sistem e-Voting tidak membutuhkan biaya banyak. Dalam
pemilihan kepala desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad hanya menghabiskan biaya Rp.
8.700.000,00. Dilihat dari biaya pelaksanaan pemilihan kepala desa di Desa Mendoyo
Dangin Tukad, dapat dikatakan sangan efisien. Jika menggunakan cara manual atau
konvensional, biaya yang dihabiskan bias mencapai 4 kali lipat biaya yang dihabiskan
dengan sistem e-Voting. Prinsip terakhir yang tercermin dalam pelaksanaan pemilihan
kepala desa dengan e-Voting adalah partisipasi. Partisipasi yang dimagsud disini adalah
mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam menyampaikan pendapat
dalam proses pengambilan keputusan. Dalam pelaksanaan pemilihan kepala desa di Desa
Mendoyo Dangin Tukad partisipasi masyarakat cukup tinggi. Partisipasi masyarakat
terlihat pada proses sosialisasi pengenalan pemilihan kepala desa dengan sistem e-Voting.
Sosialisasi pengenalan e-Voting dilakukan di masing-masing banjar, rata-rata warga yang
hadir mencapai 50 orang di setiap banjar/dusun. Saat pelaksanaan pemungutan suara,
warga Desa Mendoyo Dangin Tukad antusias untuk memberikan hak suaranya.
Berdasarkan pemaparan di atas, implementasi kebijakan e-Voting dalam pemilihan kepala
desa di Desa Mendoyo Dangin Tukad telah memenuhi prinsip akuntabilitas, transparasi,

partisipasi, efektif dan efisien. Dapat dikatakan penyelnggaraan pemilihan kepala desa di
Desa Mendoyo DanginTukad telah sukses dilaksanakan menggunakan sistem e-Voting.

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Centinkaya, O., & Cetinkaya, D. (2007). Verification and Validation Issues in Electronic
Voting. The Electronic Journal of e-Government , 5 (2), 117 - 126.
Gritzalis, D. (2002). Secure Electronic Voting; New Trends New Threats. Athens: Dept. of
Informatics Athens University of Economics & Business and Data Protection Commission of
Greece.
Husein, H. (30 Mei 2011). e-Voting Mungkinkah. Jakarta: Republika.
Riera, A., & Brown, P. (2003). Bringing Confidence to Electronic Voting.