Anda di halaman 1dari 15

TUGAS INDIVIDU

ENAM PILAR

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang


berkualitas, di antaranya meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar.
Di sini peran Puskesmas dan jaringannya sebagai institusi yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan di jenjang pertama yang terlibat langsung dengan masyarakat
menjadi

sangat

penting.

Puskesmas

bertanggungjawab

menyelenggarakan

pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya yaitu meningkatkan kesadaran,


kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di
wilayah kerjanya agar terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Dengan demikian, akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat
ditingkatkan melalui peningkatan kinerja Puskesmas.
Untuk meningkatkan kinerja Puskesmas dimaksud, diperlukan data dasar
Puskesmas di antaranya data yang berkaitan dengan bangunan, peralatan, sarana
penunjang, tenaga, serta pembiayaan di Puskesmas dan jaringannya yang
digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka perlu untuk merumuskan masalah yang
akan dibahas dalam makalah ini yaitu pengimplementasian 6 pillar yang dilakukan di
Puskesmas diantaranya:
1. Clinical Governance
2. Credentialing and Clinical Privileging of physicians and nurses
3. Use of standardized, evidenced based protocols

4. Patient and staff safety


5. Infection control
6. A culture of audit and continous professional development

BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi Clinical governance

Definisi Clinical governance oleh Bachchu Kailash Kaini secara luas


digunakan dalam National Health Service ( NHS ) di Inggris . Departemen
Kesehatan menerbitkan ' The New NHS :Modern dan diandalkan ' pada tahun 1997
dan secara resmi memperkenalkan clinical governance di NHS ( Departemen
Kesehatan , 1997) . Penulis yang berbeda telah menetapkan clinical governance
dengan cara yang berbeda dan menghubungkannya dengan peningkatan dan
jaminan kualitas , akuntabilitas dan keterbukaan . Sally dan Donaldson ( 1991)
mendefinisikan clinical governance sebagai ' sistem melalui mana organisasi NHS
bertanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas layanan mereka dan menjaga
standar tinggi perawatan dengan menciptakan suatu lingkungan di mana
keunggulan dalam perawatan klinis akan berkembang ' . McSherry dan Haddock (
1999) menegaskan bahwa clinical governance adalah ' suatu sistem yang mampu
menunjukkan , baik dalam perawatan primer dan sekunder , bahwa sistem berada di
tempat yang menjamin peningkatan kualitas klinis di semua tingkat penyediaan
layanan kesehatan ' .

B. Rumusan Masalah

Clinical governance adalah sistem perbaikan terus-menerus dalam perawatan dan


pelayanan kesehatan melalui akuntabilitas , keterbukaan dan belajar bersama .
Dalam istilah sederhana , clinical governance adalah tentang semua orang
mengetahui apa yang seharusnya terjadi , dan kemudian memastikan hal itu.

Tiga aspek dalam clinical governance :


1. Kualitas berstandar nasional
2. Mekanisme untuk menjaga standar pelayanan yang tinggi
3. Sistem yang efektif untuk memantau implementasi kerangka tersebut, seperti
tolak ukur dari indikator klinis dan penilaian kerja system

Salah satu pertama audit klinis pernah dilakukan oleh Florence Nightingale selama
Perang Crimean dari 1853-1855 . Setibanya di rumah sakit barak medis di Scutari
pada 1854 , Nightingale terkejut oleh kondisi yang tidak sehat dan tingkat kematian
yang tinggi di antara tentara yang terluka atau sakit . Dia dan timnya dari 38 perawat
yang diterapkan rutinitas sanitasi yang ketat dan standar kebersihan ke rumah sakit
dan peralatan , di samping itu , Nightingale memiliki bakat untuk matematika dan
statistik , dan dia dan stafnya terus catatan teliti dari tingkat kematian di kalangan
pasien rumah sakit . Setelah perubahan ini tingkat kematian turun dari 40 % menjadi
2 % , dan hasilnya berperan dalam mengatasi hambatan dari dokter dan perwira
Inggris dengan prosedur Nightingale . Pendekatan metodis Nya , serta penekanan
pada keseragaman dan komparabilitas hasil perawatan kesehatan , diakui sebagai
salah

satu

program

awal

manajemen

hasil

Angka lain yang penting yang menganjurkan audit klinik adalah Ernest Codman (
1869-1940 ) . Codman dikenal sebagai auditor medis pertama benar setelah
karyanya pada tahun 1912 pada pemantauan hasil bedah . " Hasil akhirnya ide "
Codman adalah untuk mengikuti sejarah kasus setiap pasien setelah operasi untuk
mengidentifikasi kesalahan yang dilakukan oleh ahli bedah individu pada pasien
tertentu. Meskipun karyanya sering diabaikan dalam sejarah penilaian kesehatan ,
pekerjaan Codman diantisipasi pendekatan kontemporer untuk pemantauan kualitas
dan jaminan , akuntabilitas membangun , dan mengalokasikan dan mengelola
sumber

daya

secara

efisien

Sementara Codman Pendekatan ' klinis ' ini berbeda dengan Nightingale semakin
audit ' epidemiologi ' , kedua bertemu

C. Use of standardized, evidenced based protocols


Tujuh Standar Keselamatan Pasien (mengacu pada Hospital Patient Safety
Standards yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of Health
Organizations, Illinois, USA, tahun 2002), yaitu:
1.

Hak pasien

Standarnya adalah
Pasien & keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang
rencana & hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian
Tidak Diharapkan).
Kriterianya adalah
1)

Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan

2)

Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan

3)

Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang


jelas dan benar

kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil

pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan


terjadinya KTD
2.

Mendidik pasien dan keluarga

Standarnya adalah
RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab
pasien dalam asuhan pasien.
Kriterianya adalah:
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn keterlibatan
pasien adalah partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di RS harus ada
system dan mekanisme mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban &
tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.Dengan pendidikan tersebut
diharapkan pasien & keluarga dapat:

3.

1)

Memberikan info yg benar, jelas, lengkap dan jujur

2)

Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab

3)

Mengajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti

4)

Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan

5)

Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS

6)

Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa

7)

Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati

Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

Standarnya adalah
RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga
dan antar unit pelayanan.
Kriterianya adalah:
1)

koordinasi pelayanan secara menyeluruh

2)

koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber


daya

3)

koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi

4)

komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan

4.

Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan


program peningkatan keselamatan pasien

Standarnya adalah
RS harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yg ada, memonitor &
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif
KTD, & melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta KP.
Kriterianya adalah
1)

Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik,
sesuai dengan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit.

2)

Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja

3)

Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif

4)

Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil
analisis

5)

Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien

Standarnya adalah
1)

Pimpinan dorong & jamin implementasi progr KP melalui penerapan 7


Langkah Menuju KP RS .

2)

Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif identifikasi risiko KP &


program mengurangi KTD.

3)

Pimpinan dorong & tumbuhkan komunikasi & koordinasi antar unit & individu
berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang KP

4)

Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk mengukur,


mengkaji, & meningkatkan kinerja RS serta tingkatkan KP.

5)

Pimpinan

mengukur

&

mengkaji

efektifitas

kontribusinyadalam

meningkatkan kinerja RS & KP.

Kriterianya adalah
1)

Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.

2)

Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program


meminimalkan insiden,

3)

Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari


rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi

4)

Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden, termasuk asuhan kepada


pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan
penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.

5)

Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan


insiden,

6)

Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden

7)

Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan
antar pengelola pelayanan

8)

Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan

9)

Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria


objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan
keselamatan pasien

6.

Mendidik staf tentang keselamatan pasien

Standarnya adalah
1)

RS memiliki proses pendidikan, pelatihan & orientasi untuk setiap jabatan


mencakup keterkaitan jabatan dengan KP secara jelas.

2)

RS menyelenggarakan pendidikan & pelatihan yang berkelanjutan untuk


meningkatkan & memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan
interdisiplin dalam pelayanan pasien.

Kriterianya adalah
1)

memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik
keselamatan pasien

2)

mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice


training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.

3)

menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna


mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani
pasien.

7.

Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

Standarnya adalah

1)

RS merencanakan & mendesain proses manajemen informasi KP untuk


memenuhi kebutuhan informasi internal & eksternal.

2)

Transmisi data & informasi harus tepat waktu & akurat.

Kriterianya adalah
1)

disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen


untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan
keselamatan pasien.

2)

Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk


merevisi manajemen informasi yang ada

D. Patient and staff safety


1. PENGERTIAN PATIENT SAFETY
Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu system yang membuat asuhan
pasien di rumah sakit menjadi lebih aman.
Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
2. TUJUAN PATIENT SAFETY
Tujuan Patient safety adalah
1.

Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS

2.

Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit thdp pasien dan masyarakat;

3.

Menurunnya KTD di RS

4.

Terlaksananya program-program pencegahan shg tidak terjadi pengulangan


KTD.

3. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PATIENT SAFETY


Pelaksanaan Patient safety meliputi
1. Sembilan solusi keselamatan Pasien di RS (WHO Collaborating Centre for
Patient Safety, 2 May 2007), yaitu:
1)

Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike


medication names)

2)

Pastikan identifikasi pasien

3)

Komunikasi secara benar saat serah terima pasien

4)

Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar

5)

Kendalikan cairan elektrolit pekat

6)

Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan

7)

Hindari salah kateter dan salah sambung slang

8)

Gunakan alat injeksi sekali pakai

9)

Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.

PELAPORAN INSIDEN, ANALISIS DAN SOLUSI


Sistem pelaporan insiden menurut Pasal 11 ayat (1) Peraturan Menteri
Kesehatan tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit dilakukan di internal Rumah Sakit
dan kepada Komite Naional Keselamatan Pasien Rumah Sakit
Pada ayat (2) ditentukan, pelaporan insiden kepada Komite Nasional
Keselamatan Pasien Rumah Sakit mencakup KTD, KNC dan KTC, dilakukan setelah
analisis dan mendapatkan rekomendasi dan solusi dari TKPRS.
Pelaporan insiden kepada Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit
harus dijamin keamanannya, bersifat rahasia, anonim (tanpa identitas), tidak mudah
diakses oleh yang tidak berhak.
Pelaporan tersebut ditujukan untuk menurunkan insiden dan mengoreksi sistem
dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien dan tidak untuk menyalahkan orang
(non blaming).
Setiap insiden menurut Pasal 12 Peraturan Menteri Kesehatan tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit, harus dilaporkan secara internal kepada TKPRS
dalam waktu paling lambat 2x 24 jam sesuai format laporan yang ditentukan.
TKPRS melakukan analisis dan memberikan rekomendasi serta solusi atas
insiden yang dilaporkan.
TKPRS melaporkan hasil kegiatannya kepada Kepala Rumah Sakit.
Rumah Sakit menurut Pasal 13 Peraturan Menteri Kesehatan tentang Keselamatan
Pasien Rumah Sakit harus melaporkan insiden, analisis, rekomendasi dan solusi
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) secara tertulis kepada Komite Nasional Keselamatan
Pasien Rumah Sakit sesuai dengan format yang ditentukan.
Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan pengkajian dan
memberikan umpan balik (feedback) dan solusi atas laporan KTD secara nasional.

TINDAKAN ADMINISTRATIF
Dalam rangka pembinaan dan pengawasan, Menteri Kesehatan, Pemerintah Daerah
Provinsi

dan

Pemerintah

Daerah

Kabupaten/Kota

dapat

mengambil

tindakan

administratifkepada Rumah Sakit yang melanggar kewajiban untuk membentuk TKPRS,


menerapkan Standar Keselamatan Pasien, mengupayakan pemenuhan Sasaran
Keselamatan Pasien, dan pelaporan insiden.
Tindakan administratifterhadap pelanggaran pemenuhan kewajiban Rumah Sakit
sebagaimana tersebut diatas, berupa:
1. Teguran lisan;
2. Teguran tertulis;atau
3. Penundaan atau penangguhan perpanjangan izin operasional.
Menteri

Kesehatan,

Pemerintah

Daerah

Provinsi

dan

Pemerintah

Daerah

Kabupaten/Kota secara berjenjang melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap


kegiatan Keselamatan Pasien Rumah Sakit sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan tersebut Menteri Kesehatan,
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
mengikutsertakan asosiasi perumahsakitan dan organisasi profesi kesehatan.
Kepala Rumah Sakit secara berkala wajib melakukan pembinaan dan pengawasan
kegiatan keselamatan pasien yang dilaksanakan oleh TKPRS.
E. Infection Control
Infeksi adalah proses invasif oleh mikroorganisme dan berpoliferasi di dalam
tubuh yang menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005). Infeksi adalah invasi tubuh oleh
mikroorganisme dan berproliferasi dalam jaringan tubuh. (Kozier, et al, 1995). Dalam
Kamus Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi
mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang menimbulkan cedera seluler
setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intraseluler atau reaksi
antigen- antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling
berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi.

Mikroorganisme yang bisa menimbulkan penyakit disebut pathogen (agen


infeksi), sedangkan mikroorganisme yang tidak menimbulkan penyakit/kerusakan
disebut asimtomatik. Penyakit timbul jika pathogen berkembang biak dan menyebabkan
perubahan pada jaringan normal. Jika penyakit bisa ditularkan dari satu orang ke orang
lain, penyakit ini merupakan penyakit menular (contagius). Mikroorganisme mempunyai
keragaman dalam virulensi/keganasan dan juga beragam dalam menyebabkan
beratnya suatu penyakit yang disebabkan.

F. A culture of audit and continous professional development


Dunia usaha saat ini mulai disibukkan dengan adanya sejumlah persyaratan
dalam perdagangan
Persyaratan

global, yang tentu akan menambah beban bagi industri.

tersebut

adalah

kewajiban

melaksanakan

Sistem

Manajemen

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja, sesuai dengan Undang-Undang No. 13 tahun


2003 pasal 87. Persyaratan ini sebenarnya sebuah kewajiban biasa, bukan beban
yang harus ditanggung setiap perusahaan. Kewajiban karena seharusnya sudah
diperhitungkan sebagai investasi perusahaan. Dianggap sebagai beban karena belum
seluruh perusahaan melakukannya.
Kemajuan teknologi kian berkembang pesat, namun di sisi lain turut menjadi
penyebab masalah

pada keselamatan dan kesehatan kerja. Masalah ini harus

sesegera mungkin diatasi, karena cepat atau lambat dapat menurunkan kinerja dan
produktivitas suatu perusahaan baik pada sumber daya maupun elemen lainnya. Oleh
karena itu sangat penting bagi suatu perusahaan untuk menerapkan Sistem
Manajemen

Kesehatan

dan

Keselamatan

Kerja

(SMK3)

seperti

yang

diatur

dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 50 Tahun 2012 mengenai penerapan Sistem
Manajemen K3.
Sistem Manajemen Kesehatan Keselamatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari
sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi stuktur organisasi, perencanaan,
tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan
bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan
keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan
dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

SMK3 adalah standar yang diadopsi dari standar Australia AS4801 ini serupa dengan
Occupational Health and Safety Assessment Series (OHSAS) 18001, standar ini dibuat
oleh beberapa lembaga sertifikasi dan lembaga standarisasi kelas dunia. SMK3
merupakan alat bantu yang dapat digunakan untuk memenuhi tuntutan dan persyaratan
yang ada

dan berlaku yang berhubungan dengan jaminan keselamatan kerja dan

kesehatan kerja. SMK3 merupakan sebuah sistem yang dapat diukur dan dinilai
sehingga kesesuaian terhadapnya menjadi obyektif. SMK3 digunakan sebagai patokan
dalam menyusun suatu sistem manajemen yang berfokus untuk mengurangi dan
menekan kerugian dalam kesehatan, keselamatan dan bahkan properti.
Diharapkan melalui penerapan sistem ini perusahaan dapat memiliki lingkungan
kerja yang sehat, aman efisien dan produktif. SMK3 bertujuan untuk mengidentifikasi
penyebab dan potensi kecelakaan kerja sebagai acuan dalam melakukan tindakan
mengurangi risiko. Selain itu, penerapan SMK3 membantu pimpinan perusahaan agar
mampu melaksanakan standar K3 yang merupakan tuntutan masyarakat nasional dan
internasional.

REFERENSI

http://en.wikipedia.org/wiki/Clinical_audit
Utarini, Adi. 2010. Slide kuliah Quality, Clinical Governance and Clinical Outcomes.
Yogyakarta. FK UGM
Utarini, Adi. 2011. Slide kuliah Quality Framework, Clinical Governance and Patients
Safety. Yogyakarta. FK UGM
Utarini, Adi. 2009. Slide kuliah Managing Quaity of Care. Yogyakarta. FK UGM
Utarini, Adi. 2008. Slide kuliah Understanding Quality of Care. Yogyakarta. FK UGM
Department of Health Government of Western Australia. 2005. Western Australian
Clinical Governance Guideline, Information Series No. 1.2., 2nd Ed. East Perth.
Australia
Department of Health and Human Services AHRQ. 2006. AHRQ Quality Indicator :
Guide to Patient Safety Indicators, Ver 3.0. San Fransisco, California, USA