Anda di halaman 1dari 23

1

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM


KIMIA MAKANAN DAN MINUMAN

PENETAPAN KASAR SAKARIN

DIII ANAFARMA
TINGKAT II TAHUN 2013

PROGRAM STUDI D-III ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


(ANAFARMA)
FAKULTAS FARMASI
LABORATORIUM KIMIA ANALIS AIR, MAKANAN DAN MINUMAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN (IIK)
BHAKTI WIYATA KEDIRI
2014/2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring

dengan

meningkatnya

pertumbuhan

industri

makanan dan minuman diIndonesia, telah terjadi peningkatan


produksi minuman ringan yang beredar dimasyarakat. Pada
minuman ringan sering ditambahkan pengawet dan pemanis
buatan

yang

konsumsinya

kadarnya
berlebihan

perlu

diperhatikan,

dapat

karena

membahayakan

apabila

kesehatan

(Jacobson, 2000).
Pemakaian bahan pengawet dari satu sisi menguntungkan
karena

dengan

bahan

pengawet,

bahan

pangan

dapat

dibebaskan dari kehidupan mikroba. Baik yang bersifat pathogen


yang dapat menyebabkan keracunan atau gangguan kesehatan
lainnya maupun mikrobial yang nonpatogen yang menyebabkan
kerusakan bahan pangan, misalnya pembusukan. Namun di sisi
lain, bahan pengawet pada dasarnya adalah senyawa kimia yang
merupakan bahan asing yang masuk bersama bahan pangan
yang dikonsumsi. Apabila macam pemakaian bahan pangan dan
dosisnya

tidak

diatur

dan

diawasi,

kemungkinan

besar

menimbulkan kerugian bagi pemakainya, baik yang bersifat


langsung misalnya keracunan ataupun yang tidak bersifat
langsung atau komulatif misalnya apabila bahan pengawet yang
digunakan bersifat karsinogenik. Dalam kehidupan modern

seperti

sekarang

ini

banyak

dijumpai

pemakaian

bahan

pengawet secara luas. Sebagai contoh, bahan pangan keluaran


pabrik pada umumnya menggunakan bahan tambahan pangan
( food additives ) termasuk didalamnya bahan pengawet secara
sengaja ditambahkan agar bahan pangan yang dihasilkan dapat
mempertahankan kualitasnya dan memiliki umur simpan lebih
lama sehingga memperluas jangkauan distribusinya ( Wisnu,
2006 ).
Pemanis

merupakan

senyawa

kimia

yang

sering

ditambahkan dan digunakan untuk produk olahan pangan,


industri, serta minuman dan makanan kesehatan. Pemanis
berfungsi untuk meningkatkan cita rasa dan aroma, memperbaiki
sifat-sifat fisik, sebagai pengawet, memperbaiki sifat-sifat kimia
sekaligus merupakan sumber kalori yang penting bagi tubuh,
mengembangkan jenis minuman dan makanan dengan jumlah
yang

terkontrol,

mengontrol

program

pemeliharaan

dan

penurunan berat badan, mengurangi kerusakan gigi, dan sebagai


bahan substitusi pemanis utama. Perkembangan industri pangan
dan minuman akan kebutuhan pemanis dari tahun ketahun
semakin

meningkat.

Industri

pangan

dan

minuman

lebih

menyukai menggunaan pemanis sintetis karena harganya relatif


murah, tingkat kemanisan pemanis sintetis jauh lebih tinggi dari
pemanis alami. Hal tersebut mengakibatkan terus meningkatnya
penggunaan pemanis sintetis terutama sakarin dan siklamat.
Menurut Undang-undang RI No.7 Tahun 1996 tentang
pangan, pada bab II mengenai keamanan pangan. Pasal 10
tentang Bahan Tambahan Makanan dicantumkan, (1) Setiap
orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang
menggunakan bahan apapun sebagai bahan tambahan pangan

yang dinyatakan terlarang atau melampaui ambang batas


maksimal yang telah ditetapkan. (2) Pemerintah menetapkan
lebih lanjut bahan yang dilarang dan atau dapat digunakan
sebagai bahan tambahan pangan dan kegiatan atau proses
produksi pangan serta ambang batas maksimal sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ( Depkes RI, 1998 ).
Apabila macam pemakaian bahan pangan dan dosisnya
tidak diatur dan diawasi, kemungkinan besar menimbulkan
kerugian bagi pemakainya, baik yang bersifat langsung misalnya
keracunan ataupun yang tidak bersifat langsung atau komulatif
misalnya apabila bahan pengawet yang digunakan bersifat
karsinogenik.

1.2

Tujuan
Tujuan dalam praktikum penetapan kadar sakarin adalah

Untuk mengetahui kadar sakarin dalam sampel.

1.3

Metode
Metode yang digunakan untuk praktikum penetapan kadar

sakarin adalah metode alkalimetri.

1.4

Prinsip
Sakarin diasamkan dengan HCl kemudian di ekstrasi

dengan eter di uapkan dengan menembahkan aseton netral.


Residu di titrasi dengan NaOH 0.05N.

BAB II
TINJAUAN BAHAN

2.1 Dasar Teori


Pemanis

merupakan

senyawa

mimia

yang

sering

ditambahkan dan digunakan untuk produk olahan pangan,


industri serta minuman dan makanan kesehatan. Pemanis
berfungsi untuk meningkatkan rasa dan aroma, dan memperbaiki
sifat-sifat kimia sekaligus merupakan sumber kalori yang penting
bagi tubuh, mengembangkan jenis minuman dan makanan
dengan

jumlah

pemeliharaan

yang

dan

terkontrol,

penurunan

mengontrol

berat

badan,

program

mengurangi

kerusakan gigi, dan sebagai bahan substitusi pemanis utama.


Perkembangan industri pangan dan minuman akan kebutuhan
pemanis dari tahun ketahun semakin meningkat. Industri pangan
dan minuman lebih menyukai menggunakan pemanis sintetis
karena harganya relatif murah, tingkat kemanisan pemanis
sintetis jauh lebih tinggi dari pemanis alami. Hal tersebut
mengakibatkan

terus

meningkatnya

penggunaan

pemanis

sintetis terutama sakarin dan siklamat (Wisnu, 2006).


Zat

pemanis

sintetis

merupakan

zat

yang

dapat

menimbulakan rasa manis atau dapat membantu mempertajam


penerimaan terhadap rasa manis tersebut, sedangkan kalori
yang dihasilkannya jauh lebih rendah daripada gula (Winarno,
1997).
Sakarin ditemukan dengan tidak sengaja oleh Fahbelrg dan
Remsen pada tahun 1897. Ketika pertama ditemukan sakarin

digunakan sebagai antiseptik dan pengawet, tetapi sejak tahun


1900

digunakan

sebagai

pemanis.

Sakarin

dengan

rumus

C7H5NO3S dan berat molekul 183,18 secara luas digunakan


sebagai pengganti gula karena mempunyai sifat yang stabil,
nonkarsinogenik, nilai kalori rendah, dan harganya relatif murah,
selain itu sakarin banyak digunakan untuk mengatasi sukrosa
bagi penderita diabetes mellitus atau untuk bahan pangan yang
berkalori rendah (Cahyadi, 2006).
Sebagai

pemanis

sakarin

biasanya

berbentuk

garam

kalsium, kalium, dan natrium sakarin dengan rumus kimia


(C14H8CaN2O6S2.3H2O),

(C7H4KNO3S.2H2O),

(C7H4NaNO3S.2H2O).

Secara umum garam sakarin berbentuk kristal putih, tidak


berbau atau berbau aromatik lemah, dan mudah larut dalam air,
serta berasa manis. Sakarin memiliki tingkat kemanisan relatif
sebesar 300 sampai dengan 500 kali tingkat kemanisan sukrosa
dengan tanpa nilai kalori. Kombinasi penggunaannya dengan
pemanis lainnya bersifat sinergis

Intensitas natrium sakarin

cukup tinggi yaitu 200-700 kali sukrosa 10%. disamping rasa


manis, sakarin juga mempunyai rasa pahit yang disebabkan oleh
pemurniaan

yang

rendah

dari

proses

sintetik.

Pemerintah

Indonesia mengeluarkan peraturan melalui Menteri Kesehatan RI


No.208/Menkes/Per/IV/1985

untuk

pemanis

buatan

dan

No.722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Pangan,


bahwa pada pangan dan minuman olahan khusus yaitu berkalori
rendah dan untuk penderita penyakit Diabetes mellitus kadar
maksimum sakarin yang diperbolehkan adalah 300 mg/kg.
Dampak penggunaan natrium sakarin, di dalam tubuh
natrium

sakarin

tidak

mengalami

metabolisme

sehingga

diekskresikan dalam urine tanpa perubahan kimia. Beberapa

penelitian mengenai dampak konsumsi sakarin terhadap tubuh


manusia masih menunjukkan hasil yang konvensional. Hasil
penelitian National Academy of Science tahun 1968 menyatakan
bahwa konsumsi sakarin oleh orang dewasa sebanyak 1 gram
atau lebih menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Pada
penelitian lain menyebutkan sakarin pada dosis yang tinggi
dapat menyebabkan kanker pada hewan percobaan. Pada tahun
1977 Canadas Health Protection Branch melaporkan bahwa
sakarin bertanggung jawab terjadinya kanker kandung kemih.
Sejak saat itu dilarang penggunaan sakarin di Canada (Wisnu,
2006).
Praktikum ini menggunakan metode alkalimetri. Titrasi
adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan
konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara
lengkap dan sejumlah contoh tertentu yang akan dianalisis.
Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan - larutan
yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. Dalam
analisis larutan asam dan basa, titrasi melibatkan pengukuran
yang seksama, volume volume suatu asam dan suatu basa
yang

paling

tepat

saling

menetralkan.

alkalimetri

yaitu

menggunakan titran larutan standar basa untuk menentukan


asam.
2.2 Tinjauan Bahan
1. AQUADEST (F III, hal 98)
Nama Resmi : AQUA DESTILATE
Nama Lain
: Air Suling
g
RM/BM
: H2O / 18,02 mol
Kelarutan
Pemerian

: Larutan dalam etanol gliser


: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa

Kegunaan
: Sebagai Pelarut
Penyimpanan : tempat tertutup rapat
2. NATRIUN HIDROKSIDA (F III, hal 912)
Nama Resmi : NATRII HYDROXYDUM
Nama Lain
: Natrium Hidroksida
g
RM/BM
: NaOH/ 40,00 mol
Kelarutan
Pemerian

: sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%)


: bentuk batang, butiran masahablur atau keping, kering
rapuh dan mudah meleleh basah saangat alkalis dan

korosif
Kegunaan
: sebagai zat tambahan
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat baik
3. ASAM KLORIDA (F III, hal 649)
Nama Resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM
Nama Lain
: asam klorida
g
RM/BM
: HCI / 36,46 mol
Kelarutan
Pemerian

: Larutan dalam etanol, asam asilat dan air


: Cairan tidak berwarna, berasap, berbau merangsang jika

diencerkan asap dan bau hilang


Kegunaan
: sebagai zat tambahan
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
4. ASAM OKSALAT
Nama Resmi : ACIDUM OXALICUM
Nama Lain
: Asam Oxalat
g
RM/BM
: H2C2O4 / 126,07 mol
Kelarutan
: Larutan dalam air dan etanol pekat 96%
Pemerian
: serbuk hablur, tidak berwarna
Kegunaan
: Sebagai zat tambahan
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.
5. ASETON (FI IV, hal 27)
Nama Resmi : ACETONUM
Nama Lain
: Aseton
g
RM/BM
: CH3COCH3 / 58,08 mol
Kelarutan
Pemerian

: dapat bercampur dengan air etanol dan kloroform


: Cairan trasparan, tidak berwarna, berbau khas, mudah
menguap

10

Penyimpanan
6. DIETIL ETEL
Nama Resmi
Nama Lain
RM/BM
Kelarutan
Pemerian

: dalam wadah tertutup rapat baik.


: DIETIC ETER
: Dietir Eter
: C2H5 O
: Larutan dalam 10 bag air, larutan dalam etanol 95% dan
kloroform P
: Larutan tidak berwarna, mudah menguap, sangat mudah

terbakar
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
7. INDIKATOR PP (FI IV, 662)
Nama Resmi : PHENOLP TALEINUM
Nama Lain
: Fenolp Talein
RM/BM
: C2 OH14 /0g / 318,33 g/mol
Kelarutan
: praktis, tidak larut dalam air larut dalam etanol, agak
Pemerian
Kegunaan
Penyimpanan
8. BTB
Nama Resmi
Nama Lain
Kelarutan
Pemerian
Kegunaan
Penyimpanan

sukar larut dalam kroloform


: serbuk hablur, putih atau putih kekuningan, tidak berbau
: Sebagai indicator
: dalam wadah tertutup baik
: AQUA DESTILATE
: Biru Biotimo
: pralitis tidak larut dalam air larut dalam etanol (95%) P
: serbuk kemerahan,
: Sebagai Indikator
: dalam wadah tertutup baik

2.3 Reaksi
1) Reaksi standarisasi NaOH dengan H2C2O4
H2C2O4 + 2 NaOH
Na2C2O4 + 2 H2O
2) Reaksi penetapan kadar sakarin

11

BAB III
METODOLOGI

3.1

Alat
Alat yang digunakan pada Penetapan Kadar Sakarin diantaranya Labu

erlenmeyer 250 ml, beaker glass 250 ml, gelas ukur 25 ml, pipet volume 10 ml,
buret 25 ml, pipet tetes, corong pisah, kaki tiga, lampu spiritus, korek api, asbes.
3.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada Penetapan Kadar Sakarin diantaranya Baku
primer H2C2O4 0,05 N. Baku sekunder NaOH 0,05 N. Larutan dietil eter, Larutan
Aseton 50 %. Larutan HCl pekat, indikator PP 1%, indikator BiB 1 %, sampel
sakarin.
3.3 Prosedur
Standarisasi NaOH dengan H2C2O4
a)
H2C2O4
- Dimasukkan 10,0 ml H2C2O4 0,05 N
- Dimasukkan labu erlenmeyer 250 ml
- Ditambahkan indikator PP 1% sebanyak 3 tetes
-Dititrasi dengan NaOH sampai terjadi perubahan warna menjadi merah
muda.
HASIL

12

b) Penetapan Kadar Sakarin


Sampel
-

Dipipet 25,0 ml sampel, kemudian dimasukkan kedalam corong pisah.


Ditambahkan 10 ml HCl pekat, kemudian
Ditambahkan 10 ml dietil eter
Dilakukan ekstraksi sebanyak 3 kali
Dikumpulkan fraksi eter dan dicuci dengan 10 ml aquadest sebanyak 3

kali
Diuapkan fraksi eter diatas penangas dengan hati-hati. Hingga kira-kira 5

HASIL

ml diangkat dan dibiarkan sisa eter menguap


Dilarutkan residu dalam 5 ml larutan aseton 50 % ditambahkan 5 ml H2O
Ditambahkan indikator BTB 1 % sebanyak 3 tetes
Dititrasi dengan NaOH sampai terjadi perubahan warna menjadi biru

13

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Data hasil Pengamatan


4.1.1 Standarisasi NaOH dengan H2C2O4

No.
1.

Dipipet

10,0

Perlakuan
ml H2C2O4

Pengamatan
0,05N. Larutan H2C2O4 0,05 N berwarna jernih

Dimasukkan kedalam labu erlenmeyer


2.

250 ml
Ditambahkan indikator PP 1% sebanyak Larutan indikator PP 1% berwarna
3 tetes

3.

jernih

Larutan campuran berwarna jernih


Dititrasi dengan NaOH 0,05 N sampai Larutan H2C2O4 0,05 N berwarna
berubah warna menjadi merah muda

jernih
Larutan hasil titrasi berwarna merah
muda konstan.

4.1.2 Penetapan Kadar Sakarin


No.
1.
2.

Perlakuan
Pengamatan
Dipipet 25, 0 ml sampel kemudian Sampel berbentuk larutan berwarna
dimasukkan corong pisah
jernih
Ditambahkan 10 ml HCl pekat, dan Larutan HCl pekat berwarna jernih
ditambahkan 10 ml dietil eter

Larutan dietil eter berwarna jernih


Larutan campuran berwarna jernih

3.
4.

Diekstraksi sebanyak 3 kali


Dikumpulkan fraksi eter dan dicuci Larutan aquadest berwarna jernih

5.

dengan 10 ml aquadest sebanyak 2 kali


Diuapkan fraksi eter hingga kira-kira 5 Diuapkan dan dibiarkan sampai sisa

6.

ml
eter menguap
Dilarutkan residu dalam 5 ml aseton 50 Larutan aseton 50 % berwarna jernih
% dan ditambahkan 5 ml H2O

Larutan H2O berwarna jernih

14

7.

Ditambahkan

indikator

BTB

sebanyak 3 tetes
8.

Larutan campuran berwarna kuning

muda
Dititrasi dengan NaOH sampai terjadi Larutan NaOH berwarna jernih
perubahan warna menjadi biru

4.2

No.
1.
2.

Larutan campuran berwarna jernih


% Larutan BTB 1 % berwarna kuning

Larutan hasil titrasi berwarna biru

Data Hasil Percobaan


4.2.1 Standarisasi NaOH dengan H2C2O4 0,05 N
Baku Primer
H2C2O4 0,05 N

Volume (ml)
10,0 ml

Baku Sekunder
NaOH 0,05 N

10,0 ml

Volume (ml)
1. 1,700
2. 1,700

Rerata : 1, 700 ml
4.2.2 Penetapan Kadar Sakarin
No.
1.
2.

4.3

Sampel
Sakarin

Volume (ml)
25,0 ml

Baku Sekunder
NaOH 0,05 N

Perhitungan
4.3.1 Standarisasi NaOH dengan H2C2O4 0,05 N
V x N (NaOH)
= V x N (H2C2O4 )
1,700 x N
= 10 x 0,05
N
= 0,2941 N
4.3.2 Penetapan kadar sakarin
( ml x N ) NaOH x BE sakarin x 1000
gram sampel
(
Kadar sakarin = 23, 450 x 0,2941 ) x 183,18 x 1000
41,4
30.515,2 ppm

4.4

Pembahasan

Volume (ml)
23,450

15

Praktikum Penetapan Kadar Sakarin dengan metode Alkalimetri. Metode


Alkalimetri berprinsip pada penetralan asam basa. Metode ini menggunakan
Larutan Baku primer H2C2O4 0,05 N dan Larutan Baku Sekunder NaOH. Pada
praktikum kali ini menggunakan indikator PP 1% dan BTB 1%. Praktikum ini
menggunakan alat bahan antara lain : erlenmeyer 250 ml, gelas ukur, buret, beaker
glass, corong pisah, labu ukur. Alat-alat sebelum digunakan untuk praktikum
harus dibersihkan dari kotoran-kotoran dan dikalibrasi dengan aquadest. Corong
pisah dan buret harus dibersihkan lebih dahulu dan dikalibrasi dengan larutan
yang akan digunakan. Corong pisah digunakan untuk ekstraksi yang memisahkan
antara dua larutan yang berdasarkan perbedaan kepolaran. Buret harus benarbenar bersih karena digunakan untuk standarisasi dan penetapan kadar. Dimana
sebelum digunakan harus dibersihkan dengan larutan baku sekunder, yaitu NaOH.
Penetapan kadar dan standarisasi dilakukan dengan teliti dan benar.
Penetapan kadar sakarin dilakukan dengan dua tahapan yaitu standarisasi
dan penetapan kadar. Standarisasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
normalitas larutan sekunder. Standarisasi pertama dilakukan di pipet 10,0 ml
H2C2O4 0,05 N dimasukkan didalam erlenmeyer 250 ml, ditambahkan dengan
indikator PP 1% 3 tetes. Kemudian dititrasi dengan NaOH sampai perubahan
warna menjadi merah muda.
Tahap kedua yakni penetapan kadar sakarin. Pertama-tama sampel
dimasukkan sebanyak 25,0 ml kedalam corong pisah. Corong pisah ini digunakan
untuk mengekstraksi

dua larutan yang berbeda berdasarkan kepolarannya.

Kemudian ditambahkan 10 ml HCl pekat, penambahan HCl ini bertujuan untuk


mengasamkan sampel. Ditambahkan lagi dengan 10 ml dietil eter digunakan
untuk mengekstraksi sakarin. Larutan tersebut diekstraksi kedalam corong pisah
sebanyak tiga kali. Ekstraksi ini digunakan untuk memisahkan pelarut sehingga
penyusun-penyusun tersebut terpisah dari pelarut lain yang tidak larut. Larutan
yang digunakan untuk ekstraksi yaitu eter. Pada saat ekstraksi diletakkan diatas
karena berat jenis lebih rendah dan sakarin terletak dibawah karena berat jenis

16

lebih besar. Kemudian dikumpulkan fraksi eter yang didapat dari ekstraksi,
kemudian dibilas dengan 10 ml aquadest sebanyak dua kali yang bertujuan untuk
membilas supaya tidak ada ekstrak yang tertinggal. Diuapkan kira-kira hingga
tersisa 5 ml. Larutan residun dalam 5ml larutan aseton 50% di tambahkan 5ml
H2O. Ditambahkan BTB 1 % sebanyak 3 tetes dan di ekstraksi dengan NaOH
sampai terjadi perubahan menjadi warna menjadi biru. Pada saat ekstraksi harus
hati-hati karena yang di gunakan adalah pelarut eter yang menimbulkan bau yang
menyengat dan dapat menimbulakn rasa ngantuk, dapat mengakibatkan gatal jika
terkena tangan. Ekstraksi dengan corong pisah dengan membuka dan menutup
keran pada saat ekstraksi. Kran di buka bertunjuan untuk menghilangkan gas,
yang di timbuklan pelarut. Jika tidak terdapat gas dapat dikatakan ekstraksi telah
berakhir. Kemudian ekstrak dicampur sampai homongen.
Hasil praktikum standarisasi yang dilakukan dua kali replikasi dengan hasil
1,700 ml dari hasil tersebut dapat di peroleh rata-rata 1,700 ml dan di peroleh
normalitas NaOh 0,2941 N. Hasil dari penetapan kadar di peroleh 23,450 ml.
Penetapan kadar sakarin di dapatkan gram sampel 41,4 gram diperoleh dari berat
jenis m/v kadar sakarin diperoleh hasil 30.515,2 ppm. Hasil yang didapatkan
dibandingkan dengan PERMENKES RI NO.10/79/A/SK/79 tahun 1979 untuk
sakarin yang memeperbolehkan penggunaan sakarin dalam kadar maksimun untuk
penderita diabetes militus kadar maksimum sakarin di perbolehkan adalah 5,15
ppm. Sedangkan pada makanan adalah 0,005 ppm. Kadar tersebut sangat melebihi
persyaratan hal-hal yang mempengaruhi pembuatan larutan standart yang salah.
Kesalahan pada praktikum ynag kurang teliti dalam pembacaan titik akhir titrasi.
Alat yang di gunakan kurang bersih dari kesalahan dari praktikum dalam
penambahan larutan yang kurang sesuai.
Kesehatan bagi manusia sangat penting bagi manusia oleh karena itu banyak
mengkonsumsi bahan pemanis tambahan sakarin dengan berlebihan akan
mengakibatkan penyakit diabetes, kanker kantong kemih, insomia, diare, sakit
perut, hipertensi yang sangat merugikan tubuh. Menjaga kesehatan sangat penting

17

mengkonsumsi gula atau bahan tambahan pemanis tidak boleh berlebihan dan
harus sesuai dengan kadar yang ditentukan.

BAB V
PENUTUP

5.2

Kesimpulan

18

Berdasarkan hasil praktikum penetapan kadar sakarin dalam sakarin 1 % di


dapatkan kadar sakarin sebesar 30.515,2 ppm.
5.3 Saran
1. sebelum
2.
3.
4.
5.

praktikum harus mengerti dan memahami akan prosedur

yang akan di lakukan.


wajib menggunakan APD (Alat Pengaman Diri)
alat-alat yang digunakan harus bersih
kurang telitinya saat pembacaan akhir titrasi
kurang tetili saat penimbangan sampel dan pemipetan larutan.

19

DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen


Kesehatan RI
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rahman. 2007. Kimia Farmasi Analisis.
Yogyakarta : pustaka pelajar.
Harjadi, 1993. Ilmu Analitik Dasar . Jakarta : Gramedia.

20

LAMPIRAN

Pembuatan reagen:
1. H2C2O4 0,05 N 100 ml
BM Vol
Nx
x
Gram =
Val 1000
=

0,05 x

126,07 100
x
2
1000

= 0,3151 gram
Cara pembuatan :
-

Ditimbang H2C2O4 sebanyak 0,3151 gram


Dimasukkan kedalam beaker glass 100 ml
Ditambahkan aquades 70 ml, kemudian diaduk sampai larut
Dipindahkan kedalam labu ukur 100ml, di tambahkan aquades sampai tanda
batas, kocok hingga homongen.

2. NaOH 0,05 N 500 ml


BM Vol
Nx
x
Gram =
Val 1000
=

0,05 x

40 500
x
1 1000

= 1 gram
Cara pembuatan :
Ditimbang NaOH sebanyak 1 gram
Dimasukkan kedalam beaker glass 500 ml
Ditambahkan aquades bebas CO2 300 ml, kemudian diaduk samapi larut
Dipindahkan kedalam labu ukur 500 ml, ditambahkan aquades bebas CO 2 sampai
tanda batas, Dikocok hingga homongen.

3. Sakarin 1 % 5 ml
1
x 100 ml
Gram = 100
= 1 gram
-

Cara pembuatan :
Ditimbang 1 gram sakarin, dituang kedalam beaker glass 100 ml
Ditambahkan aquades sampai tanda batas, diaduk sampai tanda batas.

21

4. PP 1 % 100 ml
1
x 100 ml
Gram = 100

= 1 gram
Cara pembuatan :
Ditimbang 1g Phenol Platein, dimasukkann kedalam beaker glass
Ditambahkan sedikit etanol, diaduk sampai homogen.
Ditambahkan etanol sampai tanda batas, aduk sampai larut.

5. BTB 1 % 100 ml
1
x 100 ml
Gram = 100

= 1 gram
Cara pembuatan :
Ditimbang 1g BTB, dimasukkann kedalam beaker glass
Ditambahkan sedikit etanol, diaduk sampai homogen.
Ditambahkan etanol sampai tanda batas, aduk sampai larut.

22

23