Anda di halaman 1dari 76

PROYEK AKHIR

RANCANG BANGUN ALAT PEMBERSIH UDARA DENGAN


PENGURANGAN KADAR KARBON MONOKSIDA BERBASIS
FILTER HEPA DAN AKTIF KARBON

DESIGN OF AN AIR PURIFIER WITH A REDUCTION IN


CARBON MONOXIDE LEVELS BASED HEPA FILTER AND
ACTIVATED CARBON

Oleh:

Alrizka Dika Soetanto


NRP. 1103121039

Pembimbing :
Legowo Sulistijono, S.ST, M.Sc.
NIP. 19651122.199103.1.005
Ir. Ratna Adil, M.T
NIP. 19510323.198711.2.001

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK ELEKTRONIKA


DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA
2015
1

PROYEK AKHIR

RANCANG BANGUN ALAT PEMBERSIH UDARA DENGAN


PENGURANGAN KADAR KARBON MONOKSIDA
BERBASIS FILTER HEPA DAN AKTIF KARBON
DESIGN OF AN AIR PURIFIER WITH A REDUCTION IN
CARBON MONOXIDE LEVELS BASED HEPA FILTER AND
ACTIVATED CARBON

Oleh:
Alrizka Dika Soetanto
NRP. 1103121039

Pembimbing :
Legowo Sulistijono S.ST, M.Sc.
NIP. 19651122.199103.1.005
Ir. Ratna Adil, M.T
NIP. 19510323.198711.2.001

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK ELEKTRONIKA


DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA
2015
1

RANCANG BANGUN ALAT PEMBERSIH UDARA DENGAN


PENGURANGAN KADAR KARBON MONOKSIDA
BERBASIS FILTER HEPA DAN AKTIF KARBON
Oleh :
Alrizka Dika Soetanto
NRP. 1103121039
Proyek Akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md)
di
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya,
Disetujui dan disahkan pada tanggal __ Juli 2014
Disetujui Oleh:
Dosen Penguji Proyek Akhir :
Dosen Pembimbing :
1.
Ali Husein Alasiry, S.T., M.Eng.
NIP. 19731027.200003.1.001
2.
Taufiqurrahman, S. ST, MT
NIP. 19830920.200812.1.001
3.
Madyono, S.ST., MT
NIP. 19690425.199203.1.001

1.
Legowo Sulistijono, S.ST, M.Sc.
NIP. 19651122.199103.1.005
2.
Ir. Ratna Adil, M.T
NIP. 19510323.198711.2.001

Mengetahui:
Ketua Program Studi D3 Teknik Elektronika

Ir. Moch. Rochmad, M.T


NIP. 19620304.199103.1.002

ABSTRAK
2

Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang


sangat memprihatinkan. Dari pencemaran udara tersebut dapat
menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif
terhadap kesehatan manusia. Berdasarkan masalah ini, maka dibuat
Proyek Akhir ini dengan tujuan untuk membuat penetralisir kadar
debu dan karbon monoksida dengan mendeteksi kadar kandungan
karbon monoksida dalam ruangan yang kemudian udara dalam
ruangan tersebut disaring melalui filter Hepa dan karbon aktif.
Prinsip kerja rancang bangun pengurangan kadar karbon monoksida
dalam ruangan berbasis filter Hepa dan karbon aktif ini adalah
ketika sensor Gas MQ-7 mendeteksi adanya gas karbon monoksida
di dalam ruangan, maka sensor akan memberikan data ADC kepada
mikrokontroler. Kemudian data ADC dikonversi menjadi satuan
ppm dan ditampilkan melalui LCD 16 x 2. Lalu pada tampilan LCD
dapat diketahui jumlah kadar gas CO pada ruangan (ppm) dengan
adanya keterangan bahwa udara dalam ruangan masih baik pada
kadar <25 ppm. Ketika keadaan udara dalam ruangan menjadi tidak
baik, mikrokontroler akan mengaktifkan kipas yang akan menghisap
udara untuk masuk ke ruangan ionizer berupa filter hepa dan karbon
aktif. Filter hepa dan karbon aktif inilah yang bertindak sebagai
ioniser dan berfungsi mengurangi kadar CO dalam ruangan tersebut.
Dari hasil pengujian sensor gas MQ-7, diperoleh hubungan antara
ppm dengan tegangan pada sensor yaitu: ppm= (28,264 x Vout) +
103,25. Untuk hasil perbandingan kalibrasi sensor gas MQ-7 dengan
alat pendeteksi CO yang ada di UPTK3, diperoleh nilai keberhasilan
(akurasi) pada sensor sebesar 97,26%. Serta dari pengujian integrasi
keseluruhan sistem, didapatkan waktu pada ionizer untuk
mengembalikan kondisi udara pada keadaan normal (<25 ppm) dari
nilai maksimal ppm sebesar 326 ppm adalah sekitar 15 menit.
Kata kunci : MQ 7, filter Hepa, karbon aktif, kipas.

ABSTRACT
3

Air pollution today is increasingly revealing very poor condition. Of


air pollution can cause a decrease in air quality, which have a
negative impact on human health. Based on these issues, then made
this final project with the aim to make neutralizing levels of dust and
carbon monoxide by detecting the levels of carbon monoxide in the
room then the indoor air is filtered through a Hepa filter and
activated carbon. The working principle of design reduced levels of
carbon monoxide in the room based Hepa filter and activated
carbon is when the MQ-7 gas sensor detects the presence of carbon
monoxide gas in the room, then the sensors will provide data to the
microcontroller ADC. Then the ADC data is converted into units of
ppm and displayed via the LCD 16 x 2. Then on the LCD display
can be seen the amount of CO gas levels in the room (ppm) with the
statement that the air in the room is still good at a level <25 ppm.
When the state of the air in the room becomes not good, the
microcontroller will activate the fan will suck air to enter the room
ionizer form a HEPA filter and activated carbon. HEPA filter and
activated carbon is what acts as an ioniser and serves to reduce the
levels of CO in the room. From the test results MQ-7 gas sensors,
obtained the relationship between the voltage on the sensor ppm
namely: ppm = (28.264 x Vout) + 103.25. For the comparison of
calibration gas sensor MQ-7 with a CO detector in UPTK3, the
value of success (accuracy) on the sensor by 97.26%. As well as of
the overall system integration testing, found time on the air ionizer
to restore conditions to normal (<25 ppm) of a maximum value of
326 ppm ppm is approximately 15 minutes.
Keywords: MQ 7, hepa filter, active carbon, exhaust fan

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah SWT karena


berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan
proyek akhir yang berjudul :
RANCANG BANGUN ALAT PEMBERSIH UDARA
DENGAN PENGURANGAN KADAR KARBON MONOKSIDA
BERBASIS FILTER HEPA DAN AKTIF KARBON
Pembuatan dan penyusunan proyek akhir ini diajukan
sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Diploma-3 (D3)
dan memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) di program studi D3
Teknik Elektronika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
Penulis berusaha semaksimal mungkin dengan segala
pengetahuan dan informasi yang didapatkan untuk menyelesaikan
laporan proyek akhir ini. Namun, penulis sadar bahwa apa yang
disampaikan dalam laporan ini masih kurang. Jadi penulis
mengharapkan adanya kritik dan saran agar laporan ini semakin baik
nantinya.
Penulis berharap dengan adanya laporan ini maka pembaca
akan bertambah wawasannya mengenai bahaya gas karbon
monoksida dan cara membersihkannya dengan filter hepa dan
karbon aktif.
Surabaya, Juli 2015

UCAPAN TERIMA KASIH


Dengan penuh rasa syukur kepada Allah S.W.T atas karunia
yang diberikan oleh Nya, saya selaku penyusun dan penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihakpihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan proyek
akhir ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.
9.

Papa dan Mama yang telah mendidik, merawat dan


membimbing saya hingga dapat meyelesaikan kuliah D3 saya
ini.
Bapak Dr. Zainal Arif, S.T,
M.Eng selaku Direktur PENS.
Bapak
Ir.
Mochamad
Rochmad, MT selaku Ketua Program Studi D3 Teknik
Elektronika.
Bapak Legowo Sulistijono S.T., M.T dan Ibu Ir. Ratna Adil,
MT pembimbing yang telah membimbing saya hingga
selesainya proyek akhir.
Seluruh Bapak dan Ibu dosen yang telah membimbing dan
membekali ilmu kepada penulis selama penulis menempuh
pendidikan di kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
Teman - teman D3 Elka B 12 yang selalu membantu
menyelesaikan pendidikan dan proyek akhir ini.
Adik-adik saya Ocha dan Vierra, serta kakak-kakak saya, Revi
Mangkulla, Andy Mangkulla, Ellok Mangkulla, Vina Amalia,
Aldilla Pagliani dan semua kerabat yang tidak bisa disebutkan
satu persatu.
Sahabat-sahabat saya, Rizky, Mega, Nita, Septi dan Wulan.
Serta kakak kakak kelas, adik adik kelas, dan teman teman
dari prodi lain yang telah membantu penulis selama kuliah.
Toko Berkat, Isee, Digiware, Pasar Genteng dan seluruh toko
toko yang memberikan dukungan agar tugas akhir ini selesai.

DAFTAR ISI
Halaman Awal............................................................................I
Lembar Pengesahan...................................................................Ii
Abstrak........................................................................................Iii
Abstract........................................................................................Iv
Kata Pengantar..........................................................................V
Ucapan Terima Kasih................................................................Vi
Daftar Isi.....................................................................................Vii
Daftar Gambar...........................................................................Ix
Daftar Tabel ...............................................................................X
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar belakang ...................................................................1
1.2 Tujuan.................................................................................2
1.3 Manfaat...............................................................................2
1.4 Rumusan masalah ..............................................................2
1.5 Batasan masalah.................................................................3
1.6 Metodologi.........................................................................3
1.7 Sistematika penulisan ........................................................4
Bab II Tinjauan Pustaka
2.1 Udara..................................................................................7
2.2 Karbon monoksida.............................................................8
2.3 Sensor MQ-7 .....................................................................9
2.4 Mikrokontroler AVR...........................................................11
2.5 Relay ..................................................................................15
2.6 LCD ...................................................................................17
2.7 Filter hepa. .........................................................................18
2.8 Karbon Aktif ......................................................................19
2.9 Perangkat lunak .................................................................20
Bab III Perancangan dan Implementasi Sistem
3.1 Mekanisme kerja sistem .................................................21
3.2 Perencanaan perangkat keras ..........................................22
3.3 Perancangan Mekanik .....................................................26
7

3.4 Perencanaan Perangkat Lunak.........................................27


Bab IV Pengujian dan Analisa
4.1 Pengujian sensor MQ-7 ...................................................29
4.2 Pengujian kalibrasi sensor MQ-7 ....................................32
4.3 Pengujian kipas relay ......................................................35
4.4 Pengujian kipas DC 12 volt .............................................37
4.5 Pengujian integrasi keseluruhan sistem. ..........................39
Bab V Penutup
5.1 Kesimpulan ......................................................................43
5.2 Saran ................................................................................43
Daftar Pustaka............................................................................45

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Sensor MQ-7 .........................................................9
Gambar 2.2. Kurva sensitifitas sensor MQ-7 ............................10
Gambar 2.3. Konfigurasi pin ATmega16 ...................................11
Gambar 2.4. Posisi normally close dan normally open relay ....16
Gambar 2.5. Pin LCD 16x2. ......................................................17
Gambar 2.6. Serat filter hepa. ....................................................18
Gambar 2.7. Fisik keseluruhan filter hepa. ................................18
Gambar 2.8. Karbon aktif. .........................................................19
Gambar 2.9. Software code vision AVR. ...................................20
Gambar 2.10. Software khazama. ..............................................20
Gambar 3.1. Blok diagram kerja sistem. ...................................21
Gambar 3.2. Modul relay 5V. ....................................................22
Gambar 3.3 Rangkaian mikrokontroller yang digunakan. ........23
Gambar 3.4. Rangkaian sensor MQ-7. ......................................25
Gambar 3.5. Rangkaian power supply switching 12v. ...............26
Gambar 3.6. Flowchart program. ..............................................28
Gambar 4.1. Perbandingan ppm dan Vout. ................................31
Gambar 4.2. Relay dalam keadaan low. ....................................36
Gambar 4.3. Relay dalam keadaan high. ...................................36
Gambar 4.4. Kondisi kipas mati. ...............................................38
Gambar 4.5. Kondisi kipas menyala. .........................................39

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Penggunaan port pada ATmega16. ...........................24
Tabel 4.1. Hasil pengujian sensor. .............................................31
Tabel 4.2. Hasil pengujian kalibrasi sensor MQ-7 (sensor 1). ...33
Tabel 4.3. Hasil pengujian kalibrasi sensor MQ-7 (sensor 2). ...34
Tabel 4.4. Hasil pengujian kalibrasi sensor MQ-7 (sensor 3). ...34
Tabel 4.5. Hasil pengujian integrasi keseluruhan sistem. ..........41

10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang


semakin pesat membuat setiap orang melakukan inovasi yang
bertujuan memudahkan pekerjaan yang dilakukan serta menghemat
pengeluaran biaya. Oleh karena itu, pada perencanaan proyaek akhir
ini dibuat sistem pembersih udara dengan pengurangan kadar
karbon monoksida berbasis filter HEPA dan aktif karbon.
Udara merujuk kepada campuran gas yang terdapat pada
permukaan bumi. Udara bumi yang kering mengandungi 78%
nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbon
dioksida, dan gas-gas lain. Kandungan elemen senyawa gas dan
partikel dalam udara akan berubah-ubah dengan ketinggian dari
permukaan tanah. Demikian juga massanya, akan berkurang
seiring dengan ketinggian. Semakin dekat dengan lapisan
troposfer, maka udara semakin tipis, sehingga melewati batas
gravitasi bumi, maka udara akan hampa sama sekali.[1]
Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang
sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal
dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran,
dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi
terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas. Sumber
pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan
alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun,
dan lain lain. Dampak dari pencemaran udara tersebut adalah
menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif
terhadap kesehatan manusia.[2]
Kualitas udara dalam ruangan (indoor air quality) juga
merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian karena akan
berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Timbulnya kualitas udara
dalam ruangan umumnya disebabkan oleh beberapa hal, yaitu
1

kurangnya ventilasi udara (52%) adanya sumber kontaminasi di


dalam ruangan (16%) kontaminasi dari luar ruangan (10%), mikroba
(5%), bahan material bangunan (4%) , lain-lain (13%).[2]
Dan jika merujuk pada persoalan di atas, betapa pentingnya
peranan udara untuk kehidupan manusia. Udara yang kita hirup diisi
dengan jutaan partikel, molekul, ion, dan bahkan hidup organisme.
Tapi karena kelalaian manusia, udara sekarang juga mendapatkan
diisi dengan racun dan partikel-partikel yang membuat sehat
pernapasan jauh lebih sulit. Produk sekarang sedang dikembangkan
untuk mengembalikan udara ke keadaan bersih. Salah satu contoh
dari hal ini adalah udara ionizer.[4] Oleh karena itu, sangat
diperlukan adanya alat yang mampu mengkonversi dari udara
tercemar menjadi udara yang dapat dihirup, yakni dengan
mengurangi kadar karbon monoksida.
1.2

Tujuan

Tujuan dari proyek akhir ini adalah:


1.

Membuat rancang bangun alat yang berguna


menyegarkan udara untuk dihirup oleh manusia.

2.

Membuat alat sederhana yang berguna untuk menjelaskan


kepada masyarakat akan sentralnya fungsi udara yang segar
untuk pernafasan manusia .
1.3

untuk

Manfaat

Adapun manfaat dari proyek ini adalah:


1.

2.

Mengembangkan aplikasi yang berguna bagi pendidikan


khalayak dalam bidang medika atau kesehatan yang di
dalamnya terdapat instrumentasi elektronika.
Memudahkan masyarakat untuk kebutuhan udara yang segar
untuk bernafas

1.4

Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai


berikut :
1.
2.
3.

Mendesain sensor yang dapat mendeteksi kadar karbon


monoksida
Mendesain ionizer yang dapat membersihkan udara tercemar
menjadi udara yang dapat dihirup.
Mendesain mikrokontroler yang dapat bekerja mengaktifkan
exhaust fan dan ionizer.
1.5

Batasan Masalah

Adapun batasan-batasan masalah yang dibuat agar dalam


pengerjaan proyek akhir ini dapat berjalan dengan baik adalah
sebagai berikut :
1.
2.
3.

Ruang yang diukur adalah ruangan berbentuk kamar kos (0.9m


x 0.9m x 2m).
Ruangan tanpa kipas angin dan AC.
Parameter yang diukur adalah kadar karbon monoksida dalam
ruangan.
1.6

Metodologi

Metode dalam pengerjaan kegiatan penelitian ini terbagi dalam


beberapa tahap, yakni sebagai berikut :
1.

Pemahaman materi
Pada tahap ini, dilakukan upaya yaitu memahami prinsip dan
karakteristik sensor karbon monoksida, asap rokok, filter hepa
dan karbon aktif sebagai ionizer dan kipas.

2.

Perancangan system
Pada tahap ini dilakukan perancangan sistem yang sesuai
dengan studi literatur dan kondisi nyata di lapangan.
Perancangan sistem ini terbagi menjadi 2, yaitu:

Pembuatan Perangkat Keras


Pembuatan perangkat keras ini meliputi perancangan
dan integrasi keseluruhan hardware.

Pembuatan Perangkat Lunak


Pembuatan perangkat lunak dalam hal ini meliputi
pembuatan program dari pembacaan data dari sensor,
program tampilan LCD, dan pengaktifan kipas.

3.

Pengujian sistem
Pada tahap ini, dilakukan pengujian dari sistem yakni pengujian
sensor karbon monoksida, filter hepa dan aktif karbon sebagai
ionizer, dan kipas. Setelah itu, dilakukan pengujiann sistem
secara keseluruhan

4.

Pengumpulan dan analisis data


Setelah menguji sistem yang telah dibuat, maka dapat diambil
data data terkait yang dapat digunakan untuk menganalisis
berbagai hal seperti keakuratan pembacaan data oleh sensor dan
proses ionisasi.

5.

Evaluasi hasil pengujian sistem


Dari hasil pengujian, pengumpulan data dan analisis dari sistem
dapat dibuat suatu evaluasi keseluruhan dari sistem, sehingga
dapat dilakukan perbaikan maupun pengembangan pada sistem
yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja dari sistem.

6.

Pembuatan laporan
Pembuatan laporan dalam hal ini dimaksudkan untuk
mendokumentasikan keseluruhan pembuatan tugas akhir ini
mulai dari perancangan sampai pengujian sistem. Pada laporan
juga disertakan data data yang dapat menunjukkan
kemampuan dari sistem yang dibuat.
1.7

Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada buku proyek akhir ini adalah:

Bab I : Pendahuluan
Pada bab ini diuraikan tentang latar belakang, tujuan, batasan
masalah, metodologi serta sistematika penulisan yang
digunakan dalam buku proyek akhir ini.

Bab II : Teori Penunjang


Pada bab ini diuraikan tentang teori teori yang akan
digunakan dalam proyek akhir ini. Baik tentang sensor karbon
monoksida, ATmega 16, kipas, dan filter hepa dan karbon aktif
sebagai ionizer.

Bab III : Perencanaan dan Perancangan


Pada bab ini akan diuraikan tentang perencanaan dan
perancangan dari sistem yang akan dibuat, baik dari perangkat
lunak maupun perangkat keras.

Bab IV : Pengujian dan Analisis


Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil uji coba dari sistem
dan juga analisis dari hasil pengujian tersebut.

Bab V : Penutup
Pada bab ini akan diuraikan kesimpulan dari pengerjaan sistem,
pembahasan serta saran saran dari penulis agar terdapat
perkembangan pada sistem yang telah ada tersebut.

Halaman ini sengaja dikosongkan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1
2.1 Udara
Di Bumi, udara memiliki beberapa unsur yang sangat
dibutuhkan oleh kehidupan semua makhluk hidup. Manusia
adalah salah satu makhluk hidup yang membutuhkan udara
untuk bernafas. Udara tidak berbentuk, tidak mempunyai bau,
dan tidak dapat dirasakan. Udara yang berada di bumi terdiri
dari 78% nitrogen, 21% oksigen, 1% uap air, karbondioksia,
dan gas gas yang lain. [2]
Pencemaran udara adalah adanya benda asing di dalam
udara tersebut yang menyebabkan perubahan komposisi udara.,
Udara yang tercemar dapat diakibatkan dari aktifitas manusia
atau gejala alam. Zat pencemar atau polutan dapat terikat dalam
udara secara alami seperti kebakaran hutan akibat gunung
meletus, debu meteorit, dan lainnya. Namun aktifitas manusia
pun juga dapat menyumbang polutan seperti aktifitas
transportasi, industri, pembuangan sampah maupun
pembakaran sampah rumah tangga. [2]
Polutan dapat digolongkan dalam dua jenis besar
berdasarkan kontaminasinya, yaitu :
a.

Polutan primer
Merupakan zat kimia yang langsung mengkontaminasi udara
dalam konsentrasi yang membahayakan. Zat tersebut berasal
dari komponen alamiah seperti karbondioksida yang meningkat
di atas konsentrasi normal, atau sesuatu yang tidak biasanya
ditemukan di udara, misalnya timbal.

b.

Polutan sekunder
Merupakan zat kimia berbahaya yang terbentuk di atmosfer
melalui reaksi kimia antar komponen udara.

Sumber polutan primer dapat dikelompokan lagi


menjadi dua, yaitu :
a.

Sumber alamiah
Merupakan kegiatan alam yang dapat menyebabkan
pencemaran uadara, seperti aktifitas vulkanik, kebakaran hutan,
kegiatan mikroorganisme dan lainnya. Bahan pencemar yang
dihasilkan antara lain asap, gas, dan debu.

b.

Sumber buatan manusia


Merupakan polutan yang dihasilkan dari hasil samping kegiatan
manusia seperti pembakaran sampah, proses peleburan,
pembuangan limbah, dan sejenisnya. Polutan yang dihasilkan
antara lain radioaktif, gas (CO, CO2, dan H2S), debu, dan asap.
Beberapa polutan yang sering ditemukan di kota kota
besar dan dalam ruangan antara lain berupa partikel (debu,
aerosol, dan timah hitam), gas karbon monoksida (CO), suhu,
dan kebisingan. [2]

2.2 Karbon Monoksida

Karbon Monoksida adalah gas tidak berwarna,


tidak berbau, dan sedikit kurang padat daripada udara.
Karbon monoksida adalah racun bagi manusia dan hewan
ketika ditemui dalam konsentrasi yang lebih tinggi,
meskipun juga diproduksi dalam metabolisme hewan
normal dalam jumlah rendah, dan diperkirakan memiliki
beberapa fungsi biologis normal. Di bumi, sumber terbesar
dari karbon monoksida alam berasal dari reaksi fotokimia
di troposfer yang menghasilkan sekitar 5 x 10 12 kilogram
per tahun. Sumber-sumber alam lainnya yang menghasilkan
karbon monoksida adalah gunung berapi, kebakaran hutan, dan
bentuk lain dari pembakaran termasuk rokok. [3]
Karbonmonoksida atau CO adalah suatu gas yang tidak
berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa. Gas CO dapat
berbentuk cairan pada suhu dibawah -129OC. Gas CO sebagian
8

besar berasal dari pembakaran bahan fosil dengan udara,


berupa gas buangan. Di kota besar yang padat lalu lintasnya
akan banyak menghasilkan gas CO sehingga kadar CO dalam
udara relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. [3]
Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru
akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen
yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO
bersifat racun metabolisme dan ikut bereaksi secara metabolisme dengan
darah. [3]
2.3 Sensor MQ - 7
Sensor MQ-7 merupakan sensor gas yang dapat
digunakan untuk mendeteksi karbon monoksida dalam
udara.Sensor ini menggunakan daya yang relatif kecil dan
mempunyai sensifitas yang tinggi pada karbon monoksida.
Elemen sensor terdiri dari keramik Al203, lapisan tipis SnO2 ,
Elektrode serta heater yang digabungkan dalam suatu lapisan
kerak yang terbuat dari plastic dan stainless.[5]

Gambar 2.1. Sensor MQ 7[6]

Pada gambar 2.2, disajikan tipikal karakteristik


sensivitas, semua data yang diperoleh diuji pada kondisi
standar tes. Pada sumbu Y diindikasikan sebagai rasio sensor
( Rs/Ro) yang mana didefinisikan sebagai pada Gambar 2.2.
9

Rs/Ro

ppm
Gambar 2.2. Kurva Sensitivitas Sensor MQ-7[6]

Keterangan :
Rs : resistansi dari sensor pada berbagai konsentrasi
Ro : resistansi sensor pada 100 ppm karbon monoksida
Berikut merupakan persamaan untuk menghitung
resistansi sensor yang digunakan pada sensor MQ - 7 :
Rs =

VcVrl
Vrl

x Rl . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
(2.1)

Keterangan :
Vc = Tegangan Input (V)
Vrl = Tegangan Beban (V)
Rs = Resistansi Sensor ()
Rl = Resistansi Beban ()
Karakteristik output sensor bila mendeteksi keberadaan
CO, yaitu output tegangan semakin besar sesuai dengan
10

besarnya kadar ppm.Pengukuran kadar ppm asap rokok


diperoleh dari perbandingan antara resistansi sensor pada saat
terdapat gas (Rs) dengan resistansi sensor pada udara bersih
atau tidak mengandung asap rokok (Ro). Sensor ini mampu
mendeteksi kadar CO dengan range 20 2000 ppm.[7]
2.4 Mikrokontroler AVR
AVR merupakan seri semikonduktor CMOS 8-bit buatan atmel,
berbasis arsitektur RISC (Reduced Intruction Set Computer). Hampir
semua instruksi dieksekusi dalam satu siklus clock. AVR mempunyai 32
register general purpose, timer/counter fleksible dengan mode
compare, interrupt internal dan eksternal, serial UART, programmable
Watchdog Timer, dan mode power saving. Beberapa diantaranya
mempunyai ADC dan PWM internal. AVR juga mempunyai In system
programmable Flash on chip yang mengijinkan memori diprogram
ulang dalam sistem menggunakan hubungan serial SPI, dan AVR yang
digunakan adalah ATmega16.[8]
ATmega16 AVR didukung dengan program yang lengkap dan
tools pengembangan sistem, seperti compiler C, macro assembler,
program debugger / simulator, emulator dalam rangkaian, dan kit
evaluasi. ATmega 16 adalah mikrokontroller CMOS 8 bit daya rendah
berbasis arsitektur RISC yang ditingkatkan. Kebanyakan instruksi
dikerjakan pada satu siklus clock. ATmega 16 mempunyai throughput
mendekati 1 MIPS per Mhz yang membuat sistem untuk mengoptimasi
konsumsi daya melawan kecepatan proses.[8]
Pin-pin ATmega16 dikemas dengan kemasan 40-pin DIP (dual in
line package ) ditunjukkan oleh Gambar 2.3.

11

Gambar 2.3. Konfigurasi pin ATMega16[6]

Dari Gambar 2.3, dapat dijelaskan fungsi dari masingmasing pin ATMega16 sebagai berikut :
1.
2.
3.

Vcc merupakan pin yang berfungsi sebagai masukan catu daya.


GND merupakan pin Ground.
Port A (PA07) merupakan pin input/output dua arah dan pin
masukan ADC (Analog to Digital Converter).
4. Port B (PB07) merupakan pin input/output dua arah dan pin
dengan fungsi khusus seperti SPI, MISO, MOSI, SS,
AIN1/OC0, AIN0/INT2, T1, T0,T1/XCK.
5. Port C (PC07) merupakan pin masukan atau keluaran dua
arah dan pin dengan fungsi khusus, seperti TOSC2, TOSC1,
TDI, TD0, TMS, TCK, SDA, SCL.
6. Port D (PD07) merupakan pin masukan atau keluaran dua
arah dan pin dengan fungsi khusus, seperti RXD, TXD, INT0,
INT1, OC1B, OC1A, ICP1.
7. RESET merupakan pin yang digunakan untuk mengondisikan
mikrokontroler seperti awal.
8. XTAL1 dan XTAL2 merupakan pin masukan clock eksternal.
9. AVCC merupakan pin masukan tegangan untuk ADC.
10. AREF merupakan pin masukan tegangan referensi ADC.[8]
Untuk penggunaan mikrokontroller Atmega16 pada proyek akhir
ini sendiri adalah didasari pertimbangan utama sebagai berikut [8]
:

12

1.
2.

ADC (Analog Digital Converter) yang digunakan untuk


memproses data analog dari sensor.
Jumlah flash memory 16Kbit sebagai jaga-jaga apabila
membutuhkan space memori mikrokontroller yang cukup besar
terutama pada program.

2.4.1

Port sebagai input/output


Atmega16 mempunyai 4 buah port yaitu Port A, Port B, Port C,
dan Port D. Keempat port tersebut merupakan jalur bi directional
dengan pilihan internal pull up.
Setiap port mempunyai 3 buah register bit, yaitu DDxn, PORTxn,
dan PINxn. Huruf x mewakili nama huruf dari port, sedangkan huruf
n mewakili nomor bit. Bit DDxn terdapat pada alamat I / O DDRx, bit
PORTxn terdapat pada I/O address PORTx, dan PINxn terdapat pada
alamat I / O PINx.[8]
Bit DDxn dalm register DDRx (Data Direction Register)
menentukan arah pin. Bila DDxn diset 1, maka Px berfungsi sebagai pin
keluaran. Bila DDxn diset 0 maka Px berfungsi sebagai pin input. Bila
PORTxn diset 1 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin input, maka
resistor pull up akan diaktifkan. Untuk mematikan resistor pull up,
PORTxn harus diset 0 atu pin terkonfigurasi sebagai pin keluaran. Pin
port adalah tri state setelah kondisi reset. Bila PORTxn diset 1 saat pin
terkonfigurasi sebagai pin output, maka pin port akan berlogika 1. Dan
bila PORTxn diset 0 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin output,
maka pin port belogika 0.[8]
Saat mengubah kondisi Port dari kondisi tri state (DDxn = 0,
PORTxn = 0) ke kondisi output high (DDxn = 1, PORTxn) maka harus
ada kondisi peralihan apakah itu kondisi pull up enable (DDxn = 0,
PORTxn = 1) atau kondisi output low (DDxn = 1, PORTxn = 0).
Biasanya, kondisi pull up enable dapat diterima sepenuhnya, selama
lingkungan impedansi tinggi tidak memperhatikan perbedaan antara
sebuah strong high driver dengan sebuah pull up. Jika ini bukan suatu
masalah, maka nit PUD pada register SFIOR dapat diset 1 untuk
mematikan semua pull - up dalam semua port. Peralihan dari kondisi
input dengan pull - up ke kondisi output low juga menimbulkan masalah
yang sama. Kita harus menggunakan kondisi tri - state atau kondisi
13

output high sebagai kondisi transisi. Lebih detail mengenai port ini bisa
dilihat di datasheet IC ATmega16. [8]
2.4.2

ADC (Analog Digital Converter)


Mikrokontroler AVR ATMega16 mempunyai ADC dengan
resolusi 10 bit. Di dalam mikrokontroler ATMega16, input ADC
dihubungkan ke sebuah 8 chanel Analog multiplekser yang digunakan
untuk single ended input channel artinya input ADC diukur dengan
referensi pada ground. Untuk lebih jelasnya berikut fitur fitur yang di
miliki oleh ADC internal pada AVR ATmega16 [8] :

Resolusi 8 / 10 bit
Waktu konversi 65 260 us
8 kanal input termultiplek (single ended)
7 kanal input (differential)
2 kanal input dengan penguatan 10x dan 200x (differential)
V input : 0 Vcc
V reff internal 2,56V (alternative)
Mode konversi free running, single conversion atau auto
trigger.
ADC akan mengkonversi sinyal analog input ke 10 bit
digital. Nilai minimal (0) mempresentasikan ground dan nilai
maksimal (1024) mempresentasikan tegangan referensi (Areff)
1 LSB untuk 10 bit. 8 channel analog input dapat dipilih
dengan mengatur register ADMUX. ADC diaktifkan dengan
memberi nilai 1 ke bit ADEN pada register ADSCRA. Hasil
konversi akan ditampung dalam register ADCH dan ADCL. [8]

ADC juga memiliki 3 mode operasi yang dapat digunakan sebagai


kebutuhan. Ketiganya adalah :
1.

Single Conversion
Pada mode single conversion dimulai dengan menulis logika
1 ke bit ADSC, dan bit ini akan tetap pada kondisi 1 selama

14

2.

3.

konversi dan akan menjadi logika 0 ketika konversi telah


selesai.
Auto Trigger
Start konversi dapat dipicu secara otomatis oleh beberapa
sumber picu, tentunya auto triggering di enable dulu
dengan mengatur nilai ADATE pada ASCSRA. Sumber picu
dapat dipilih dengan men-set ADTS (ADC Trigger Select)
dalam register SFIOR. Ketika sisi positif sinyal picu datang,
proses konversi ADC akan dimulai.
Mode Free Running
Pada mode ini, ADC bekerja secara konstan dan kontinyu akan
meng-update nilai ADC. Dalam mode ini konversi pertama
harus diawali dengan men-set 1 bit ADCSC. Pada mode ini,
ADC tidak tergantung interupsi ADIF apakah 1 atau 0.

2.5 Relay
Relay adalah saklar mekanik yang dikendalikan atau dikontrol
secara elektronik (elektro magnetik). Saklar pada relay akan terjadi
perubahan posisi OFF ke ON pada saat diberikan energi elektro
magnetik pada armatur relay tersebut. Relay pada dasarnya terdiri dari 2
bagian utama yaitu saklar mekanik dan sistem pembangkit
elektromagnetik (induktor inti besi). saklar atau kontaktor relay
dikendalikan menggunakan tegangan listrik yang diberikan ke induktor
pembangkit magnet untuk menrik armatur tuas saklar atau kontaktor
relay. [11]
Relay dibutuhkan dalam rangkaian elektronika sebagai eksekutor
sekaligus interface antara beban dan sistem kendali elektronik yang
berbeda sistem power supply. Secara fisik antara saklar atau kontaktor
dengan elektromagnet relay terpisah sehingga antara beban dan sistem
kontrol terpisah. Bagian utama relay elektro mekanik adalah sebagai
berikut [11] :
3. Kumparan elektromagnet
4. Saklar atau kontaktor
5. Swing Armatur
6. Spring (Pegas)
Relay elektro mekanik memiliki kondisi saklar atau kontaktor
dalam 3 posisi. Ketiga posisi saklar atau kontaktor relay ini akan
15

berubah pada saat relay mendapat tegangan sumber


elektromagnetnya. Ketiga posisi saklar relay tersbut adalah [11] :

pada

Posisi Normally Open (NO), yaitu posisi saklar relay yang


terhubung ke terminal NO (Normally Open). Kondisi ini akan
terjadi pada saat relay mendapat tegangan sumber pada
elektromagnetnya.
Posisi Normally Colse (NC), yaitu posisi saklaar relay yang
terhubung ke terminal NC (Normally Close). Kondisi ini terjadi
pada saat relay tidak mendapat tegangan sumber pada
elektromagnetnya.
Posisi Change Over (CO), yaitu kondisi perubahan armatur
sakalr relay yang berubah dari posisi NC ke NO atau
sebaliknya dari NO ke NC. Kondisi ini terjadi saat sumber
tegangan diberikan ke elektromagnet atau saat sumber tegangan
diputus dari elektromagnet relay.

Gambar 2.4. Posisi Normally Close dan Normally Open [6]

Berikut adalah beberapa desain relay yang banyak


diproduksi [11] :

Single Pole Single Throw (SPST), relay ini memiliki 4 terminal


yaitu 2 terminal untuk input kumaparan elektromagnet dan 2
terminal saklar. Relay ini hanya memiliki posisi NO (Normally
Open) saja.
Single Pole Double Throw (SPDT), relay ini memiliki 5
terminal yaitu terdiri dari 2 terminal untuk input kumparan
16

elektromagnetik dan 3 terminal saklar. relay jenis ini memiliki


2 kondisi NO dan NC.
Double Pole Single Throw (DPST), relay jenis ini memiliki 6
terminal yaitu terdiri dari 2 terminal untuk input kumparan
elektromagnetik dan 4 terminal saklar untuk 2 saklar yang
masing-masing saklar hanya memilki kondisi NO saja.
Double Pole Double Throw (DPDT), relay jenis ini memiliki 8
terminal yang terdiri dari 2 terminal untuk kumparan
elektromagnetik dan 6 terminal untuk 2 saklar dengan 2 kondisi
NC dan NO untuk masing-masing saklarnya.

2.6 LCD (Liquid Crystal Display)


LCD (Liquid Cristal Display) adalah salah satu
komponen elektronika yang berfungsi sebagai tampilan suatu
data, baik karakter, huruf ataupun grafik. Dipasaran tampilan
LCD sudah tersedia dalam bentuk modul. LCD mempunyai pin
data, kontrol catu daya, dan pengatur kontras tampilan. Adapun
fitur yang disajikan dalam LCD ini adalah [13] :
a. Terdiri dari 16 karakter dan 2 baris.
b. Mempunyai 192 karakter tersimpan.
c. Terdapat karakter generator terprogram.
d. Dapat dialamati dengan mode 4-bit dan 8-bit.
e. Dilengkapi dengan back light.
Sebuah LCD standard 16x2 memiliki diagram seperti
Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Pin LCD 16x2[6]

Berikut penjelasan tentang fungsi kaki LCD :


17

VSS, merupakan pin power supply GND.


VDD, adalah VCC +5V.
VEE, untuk merubah brightness LCD. Tegangan supply antara
+3.5-5V. Pin ini sering dihubungkan dengan potensiometer agar
kecerahan LCD dapat diatur sewaktu-waktu.
RS (Register Select) diatur untuk mengirimkan command (0)
atau data (1). Command merupakan perintah tertentu yang
akan dijalankan LCD, seperti menampilkan cursor, membuat
cursor berkedip, membersihkan tampilan LCD. Dll.
RW, pin control untuk membaca atau menuliskan data ke LCD.
0 untuk Write dan 1 untuk Read.
E, pin control untuk enable / disable LCD.
D0-D7, merupakan pin data untuk mengirimkan data ke LCD.

2.7.

Filter Hepa
Filter teknik penyaring udara berdasarkan ukuran partikel.
Udara akan dipaksa melewati alat filter (dengan bantuan kipas) dan
ditangkap secara fisik oleh filter. Filter HEPA dapat memfilter hampir
99.97% partikel berukuran 0.3-mikrometer, dan lebih efektif untuk
partikel yang lebih besar. Namun tidak efektif terhapap partikel yang
lebih kecil dari 0.3 mikrometer. Dalam lingkungan berdebu, filter HEPA
biasanya digunakan bersama dengan filter konvensional (prefilter) yang
menghilangkan kotoran kasar sehingga filter HEPA tidak perlu sering di
bersihkan atau diganti. HEPA filter tidak menghasilkan ozon atau
produk samping yang berbahaya.

18

Gambar 2.6. Serat Filter HEPA[7]

Gambar 2.7. Fisik keseluruhan Filter HEPA[7]


2.8.

Karbon Aktif.

Merupakan bahan berpori yang dapat menyerap bahan kimia


dengan ukuran molekul yang mudah menguap, tetapi tidak
menghilangkan partikel lebih besar. Proses adsorpsi menggunakan
karbon aktif dapat mencapai tingkat jenuh dimana aktif karbon tidak
dapat lagi menghilangkan kontaminan. Karbon aktif hanyalah proses
mengubah kontaminan dari fasa gas ke fasa padat.Karbon aktif dapat
digunakan pada suhu kamar. Aktif karbon biasanya digunakan bersama
dengan teknologi filter lain, terutama dengan HEPA. Aktif karbon
merupakan teknik filterisasi udara dari bahan kimia dengan harga
terjangkau, teknik lain membutuhkan biaya yang juah lebih tinggi.

Gambar 2.8. Karbon Aktif[8]


19

2.9 Perangkat Lunak


Untuk memproses seluruh kontrol dan mekanisme kerja pada
hardware proyek akhir ini diperlukan program untuk mengkontrol
mikrokontroller mulai dari akuisisi data dari sensor dan pemrosesan
serta output dengan modem dengan menggunakan bahasa C pada
CodeVisionAVR. Berikut Gambar 2.6 merupakan tampilan software
CodeVision AVR.

Gambar 2.9. Software CodeVision AVR[6]

Gambar 2.10. Software Khazama[6]

CodeVision AVR merupakan C Compiler untuk mikrokontroler


AVR. Pada CodeVision telah disediakan editor yang berfungsi untuk
membuat program dalam bahasa C. Setelah melakukan proses
kompilasi, program yang telah dibuat dapat diisikan ke dalam memori
pada mikrokontroler menggunakan programmer yang telah disediakan
oleh CodeVision AVR. Akan tetapi pada proyek akhir ini digunakan
downloader serial ISP dengan menggunakan software Khazama.

20

21

BAB III
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM
3.
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai perencanaan dan
pembuatan rancang bangun pengurangan kadar karbon
monoksida dalam ruangan berbasis filter hepa dan karbon aktif
yang meliputi perencanaan perangkat keras dan perangkat
lunak.
3.1

Mekanisme Kerja Sistem

Gambar 3.1.. Blok diagram kerja rancang bangun pengurangan kadar

karbon monoksida dalam ruangan berbasis filter hepa dan aktif


karbon.

22

Prinsip kerja rancang bangun pengurangan kadar karbon


monoksida dalam ruangan berbasis filter hepa dan aktif karbon
ini adalah ketika sensor Gas MQ-7 mendeteksi adanya gas
karbon monoksida di dalam ruangan, maka sensor akan
memberikan data berupa tegangan kepada mikrokontroler.
Oleh mikrokontroler, data berupa tegangan dikonversi ke data
ADC, kemudian data ADC dikonversi menjadi satuan ppm dan
ditampilkan melalui LCD 16 x 2. Lalu pada tampilan LCD
dapat diketahui jumlah kadar gas CO pada ruangan ( ppm)
dengan adanya keterangan level kadar gas CO (0 < ppm < 25)
keadaan udara dalam ruangan masih baik. Apabila kandungan
gas CO yang terdeteksi melebihi ambang ( > 25 ppm) maka
keadaan udara dalam ruangan tidak baik berdasarkan status
yang ditampilkan pada LCD. Ketika keadaan udara dalam
ruangan menjadi tidak baik, mikrokontroler akan mengaktifkan
kipas yang akan menghisap udara untuk masuk ke ruangan
ionizer berupa filter hepa dan karbon aktif.. Filter hepa dan
karbon aktif inilah yang bertindak sebagai ioniser dan berfungsi
mengurangi kadar CO dalam ruangan tersebut.
3.2

Perencanaan Perangkat Keras

3.2.1

Relay
Relay berfungsi sebagai driver untuk memudahkan
kipas agar dapat hidup dan mati sendiri dengan setting timer
tertentu. Relay yang digunakan adalah jenis modul SPDT
dengan koil 5 V.

Gambar 3.2. Modul Relay 5 volt


23

3.2.2

Mikrokontroler
Sistem mikrokontroler adalah sistem elektronika yang
terdiri dari komponen-komponen dasar yang dibutuhkan oleh
suatu mikrokontroler untuk dapat berfungsi dengan baik. Pada
umumnya, suatu mikrokontoler membutuhkan dua elemen
(selain power supply) untuk berfungsi: Kristal Oscillator
(XTAL), dan Rangkaian RESET. Analogi fungsi Kristal
Oscillator adalah jantung pada tubuh manusia. Perbedaannya,
jantung memompa darah dan seluruh kandungannya,
sedangkan XTAL memompa data. Dan fungsi rangkaian
RESET adalah untuk membuat mikrokontroler memulai
kembali pembacaan program, hal tersebut dibutuhkan pada saat
mikrokontroler mengalami gangguan dalam meng-eksekusi
program. Pada Gambar 3.3 ditunjukkan rangkaian
mikrokontroler yang digunakan :

Gambar 3.3.. Rangkaian Mikrokontroler yang akan digunakan.

24

Pada proyek akhir ini, digunakan ATmega 16 pada


mikrokontroler pada Rancang Bangun Alat Pembersih Udara
Dengan Pengurangan Kadar Karbon Monoksida Berbasis Filter
Hepa dan Aktif Karbon.
Pada Tabel 3.1 ditunjukkan port port dari ATmega16
yang digunakan:
Tabel 3.1. Penggunaan port pada ATmega 16

3.2.3

Letak PORT

Fungsi

Keterangan

A0-A2

Pembacaan sensor

ADC 8 Bit

D7

Kontrol relay

Memberikan logika
high atau low untuk
mengaktifkan atau
mematikan kipas.

B0-B7

Menampilkan LCD

Menampilkan data
dari sensor.

Konversi ADC ke Satuan Konsentrasi Gas Karbon Monoksida


(ppm)
Sensor MQ-7 mengirim data dalam bentuk ADC ke
mikrokontroler. Hal ini dapat diketahui ketika ditampilkan ke
LCD 16 x 2. Untuk mengonversi ADC menjadi satuan gas
(ppm), yang pertama dilakukan adalah mencari tegangan beban
(Vrl) melalui ADC. Maka digunakan rumus :
Vrl =

ADC
1024

x Vref . . . . . . . . . .(3.1)[10]

Vref didapatkan dari tegangan mikrokontroler. Setelah


mendapatkan Vrl, maka dicari resistor sensor (Rs). Resistor

25

sensor (Rs) adalah tegangan yang terjadi ketika sensor


mendeteksi adanya kandungan CO di udara.
Rs =

VcVrl
Vrl

x Rl . . . . . . . . . .(3.2)

Rumus di atas didapatkan dari datasheet sensor MQ 7.


Nilai Rl sendiri adalah 3K3. Setelah didapatkan nilai Rs,
maka dicari nilai Ro. Nilai Ro adalah nilai resistansi sensor saat
udara bersih. Maka saat udara bersih atau sekitar 20 ppm, nilai
perbandingan Rs dan Ro sebesar 3,1. Konstanta 3,1 didapatkan
dari datasheet. Persamaan untuk 20 ppm atau saat udara bersih :

Rs
Ro

= 3,1 . . . . . . . . . . . . . . . .(3.3)

Karena nilai Rs dan koefisien sudah dapat diketahui,


maka nilai Ro dapat dicari. Nilai Ro adalah nilai yang konstan.
Selanjutnya, dicari perbandingan Rs dan Ro untuk menemukan
nilai ppm karbon monoksida melalui Gambar 2.2.
Berdasarkan Gambar 2.2, semakin kecil nilai Rs yang
didapatkan melalui pengasapan, maka nilai Rs/Ro akan
semakin kecil pula. Sehingga nilai ppm gas karbon monoksida
yang terdekteksi akan semakin besar.
3.2.4

Sensor MQ-7
Sensor MQ-7 merupakan sensor gas yang dapat
digunakan untuk mendeteksi karbon monoksida dalam
udara.Sensor ini menggunakan daya yang relatif kecil dan
mempunyai sensifitas yang tinggi pada karbon monoksida.
Elemen sensor terdiri dari keramik Al203, lapisan tipis SnO2 ,
Elektrode serta heater yang digabungkan dalam suatu lapisan
kerak yang terbuat dari plastic dan stainless.
Pada Gambar 3.4 ditunjukkan rangkaian driver sensor
MQ-7 yang digunakan,
26

Gambar 3.4. Rangkaian Sensor MQ-7[6]

3.2.5

Power Supply Switching 12 Volt.

27

Gambar 3.5. Rangkaian Power Supply Switching 12V.


Sistem membutuhkan sumber tegangan 5v dan 12 v dengan arus
maksimal yang sebesar 4A. Untuk dapat menjalankan sistem perlu
menggunakan power suply switching dengan hasil keluaran 12V dan
arus maksimal 4A.
Power suply switching merubah tegangan AC 220V dengan
frekuensi 50/60 hz melalui proses penyearah (rectification) langsung
dari sumber tegangan AC,kemudian hasil dari penyearah mengalami
proses pencacahan (chopped) sehingga menghasilkan deretan pulsa
persegi (squere) dengan frequency tinggi berkisar 20kHz sampai
500Khz, setelah itu amplitudo dari pulsa di turunkan dengan
transformator yang dapat bekerja dengan frekuensi tinggi, hingga pada
akirnya di filter sebgai hasil keluaran akhir. Dengan menggunakan
proses switching ini ukuran power suply lebih kecil , daya yang di
buang (power disipation) dapat di kurangan eficiensi lebih tinggi di
banding power suply linier.
3.3

Perencanaan Mekanik

3.3.1

Perencanaan Ruang Ioniser


Ruang Ionizer adalah tempat filter hepa dan aktif karbon
yang telah didesain dan exhaust fan. Gas karbon monoksida
yang terdeteksi pada lcd akan di hisap untuk masuk ke dalam
ruangan ionizer dengan kipas dan dilewatkan melalui filter
28

hepa dan aktif karbon yang disusun berhadap hadapan. Di


dalam Ruang Ioniser, proses pengurangan kadar gas karbon
monoksida terjadi. Setelah itu didapat udara yang telah
berkurang kadar karbon monoksidanya dan dikeluarkan
kembali ke ruang uji.
Ukuran Ruang Ioniser adalah 34 cm x 24 cm x 24 cm.
Bahan yang dibuat adalah dari kayu sebagai kerangkanya dan
triplek. Sedangkan ukuran dua kipas adalah 12 cm x 12 cm
dengan tegangan yang dibutuhkan agar kipas dapat aktif adalah
sebesar DC 12 V. Fungsi penggunanan dua kipas adalah kipas
pertama berfungsi sebagai penyedot gas karbon monoksida.
Lalu kipas yang kedua berfungsi mengalirkan gas karbon
monoksida yang terionisasi. Sedangkan filter hepa dan aktif
karbon yang bertindak sebagai ionizer terletak ditengah-tengah
antara kedua kipas tersebut.
3.3.2

Perencanaan Ruang Uji


Ruang uji dibuat dengan mendekati kondisi real agar
perokok dapat masuk ke dalam ruangan tersebut. Selain itu,
ruang uji dibuat tertutup agar kadar karbon monoksida dalam
ruangan dapat diukur oleh sensor. Di dalam Ruang Uji juga
terdapat Ruang Ioniser, sensor MQ 7, dan mikokontroler.
Penempatan Ruan Ioniser adalah di bagian atas ruangan.
Fungsinya agar asap dari pembakaran langsung mengarah ke
Ruang Ioniser.
Ukuran Ruang Uji adalah 0.9m x 0.9m x 2 m. Bahan
yang akan digunakan untuk mengelilingi ruangan adalah triplek
dengan ketebalan 3mm. Sedangkan bahan yang akan digunakan
untuk menutupi atap ruangan adalah juga dari triplek dengan
ukuran 0.9m x 0.9m. Ruangan tersebut dapat dimasuki karena
bagian depan ruangan terdapat pintu yang dibuka dan ditutup
sesuai keinginan

3.4

Perencanaan Perangkat Lunak

Perancangan software digunakan untuk menguji rancang


bangun pengurangan kadar karbon monoksida dalam ruangan berbasis

29

tegangan tinggi. Dalam perancangan software, diperlukan flowchart agar


sistem tersebut dapat melakukan pekerjaanya secara berurutan.

Gambar 3.6. Flowchart Program Rancang Bangun Pengurangan Kadar karbon


Monoksida Berbasis Filter Hepa dan Karbon Aktif.

Keterangan :
Saat sistem aktif, maka sensor MQ-7 akan menunggu
sampai tampilan LCD menunjukkan status kondisi ruangan
baik (<25 ppm). Jika sensor MQ 7 mendeteksi adanya gas
Karbon Monoksida yang berlebihan ( >25 ppm), maka kipas
akan aktif.. Gas karbon monoksida yang berlebihan akan
terhisap oleh kipas dan masuk kedalam ruang ionizer untuk di
bersihkan, kemudian dikeluarkan kembali ke ruang uji.
30

BAB IV
PENGUJIAN DAN ANALISA

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat


keberhasilan dari tiap kerja perangkat keras yang dibuat sesuai
dalam bab perancangan sistem. Selain itu, dengan adanya
pengujian dapat diketahui kelemahan dan kekurangan dari
perangkat keras tersebut.
Urutan pengujian pada Tugas Akhir ini adalah pertama
pengujian sistem antara lain:

Pengujian sensor MQ-7


Pengujian relay
Pengujian kipas
Pengujian integrasi keseluruhan sistem.
Pengujian sistem secara keseluruhan adalah pengujian
untuk mengetahui apakah sistem keseluruhan yang dirancang
dan dibuat sudah sesuai dengan yang diinginkan agar dapat
digunakan pada Tugas Akhir ini.

4.1

Pengujian sensor MQ-7

4.1.1

Tujuan
Untuk mengetahui kepekaan sensor setelah diberi
pengasapan.

4.1.2

Peralatan
AVO-meter
Rangkaian sensor
31

Minimum sistem
Obat nyamuk
Kertas
Korek api
Tabung

4.1.3
Prosedur
4.1.3.1 Pengujian Sensor Menggunakan Pembakaran Obat Nyamuk.
1.
2.
3.
4.

5.
6.

Persiapkan semua alat dan bahan yang di butuhkan.


Setelah semua alat dan bahan sudah siap, nyalakan dan bakar
obat nyamuk bakar sebagai sumber asap yang mengandung
kadar karbon monoksida.
Setelah obat nyamuk sudah terbakar, nyalakan minimum
sistem beserta sensor MQ-7.
Setelah satu menit minimum sistem dan sensor aktif, masukan
sensor dan ke dalam tabung beserta obat nyamuk yang telah
terbakar. (sensor dapat bekerja setelah satu menit untuk
memanaskan diri.)
Setelah sensor dan obat nyamuk yang telah terbakar masuk ke
dalam tabung, amati perubahan data ppm setiap menit pada lcd.
Sampai didapat sepuluh data dari setiap satu menit.
Maka didapat data seperti pada Tabel 4.1.
4.1.3.2 Pengujian Sensor Menggunakan Pembakaran Kertas.

1.
2.
3.
4.

Persiapkan semua alat dan bahan yang di butuhkan.


Setelah semua alat dan bahan sudah siap, nyalakan dan bakar
kertas bakar sebagai sumber asap yang mengandung kadar
karbon monoksida.
Setelah kertas sudah terbakar, nyalakan minimum sistem
beserta sensor MQ-7.
Setelah satu menit minimum sistem dan sensor aktif, masukan
sensor dan ke dalam tabung beserta kertas yang telah terbakar.
(sensor dapat bekerja setelah satu menit untuk memanaskan
diri.)

32

5.
6.

Setelah sensor dan kertas yang telah terbakar masuk ke dalam


tabung, amati perubahan data ppm setiap menit pada lcd.
Sampai didapat sepuluh data dari setiap satu menit.
Maka didapat data seperti pada Tabel 4.1.

W
a
k
t
u
p
e
n
g
a
s
a
p
a
n
(
m
e
n
it
)
1

Tabel 4.1. Hasil Pengujian Sensor.


Obat
Kertas
Nyamuk
T
pp
T
e
m
e
g
g
a
a
n
n
g
g
a
a
n
n
(
v
(
o
v
l
o
t
l
)
t
)

0
.
1
4
0
.
3
8
1

90

12
8
14

2
.
8
0
2
.
8
7
2

pp
m

90

12
2
15
33

1
0

4.1.4

.
1
0
1
.
3
5
2
.
2
7
2
.
7
8
2
.
7
8
3
.
5
4
3
.
8
1
3
.
8
4

8
15
1
16
6
16
2
16
2

.
8
3
2
.
8
6
2
.
9
0
2
.
9
1
2
.
9
3

8
18
7
24
2
24
8
26
7

19
6
22
0
23
1

Analisis
Dari pengujian sensor yang telah dilakukan maka
didapat beberapa data percobaan. Dari beberapa data tersebut
menunjukan bahwa semakin lama pengasapan semakin banyak
asap dan kadar karbon monoksida yang terdeteksi oleh sensor.
Dari data juga dapat diamati adanya hubungan antara tegangan
34

dengan ppm yang dihasilkan. Pada Tabel 4.1 ditunjukkan data


hasil perbandingan ppm dengan Vout.

Gambar 4.1. Perbandingan ppm dan Vout


Dari grafik pada Gambar 4.1 diperoleh hubungan
antara ppm dengan Vout:
y= 28,264x +103,25
ppm = (28,264 x Vout) + 103,25
4.2 Pengujian kalibrasi sensor MQ-7.
4.2.1

Tujuan.
Pengujian ini dilakukan untuk mengkalibrasi sensor
MQ-7 yang digunakan pada proyek akhir ini, dengan cara
membandingkan data dari sensor yang digunakan pada proyek
akhir ini, dengan data dari alat pendeteksi karbon monoksida
yang telah ada dipasaran yang memiliki nilai akurat dalam
pembacaan kadar karbon monoksida.

4.2.2

4.2.3

Peralatan.
-

Sensor MQ-7
Minimum sistem
Alat pendeteksi karbon monoksida yang ada di pasaran.
Sepeda motor.

Prosedur.
-

Siapkan peralatan yang dibutuhkan


35

Setelah peralatan sudah siap semua, segera lakukan


pengujian
Nyalakan sepeda motor
Nyalakan alat pendeteksi kadar karbon monoksida dengan
jarak 20cm tepat didepan knalpot.
Amati dan catat nilai kadar karbon monoksida yang
terdeteksi oleh alat tersebut per satu menit sampai menit ke
sepuluh sampai didapat sepuluh data dari setiap satu menit
pertama sampai menit ke sepuluh.
Setelah didapat sepuluh data, maka lakukan hal yang sama
dengan langkah diatas (poin pertama sampai poin ke lima)
dengan menggunakan ke tiga sensor MQ-7 yang
digunakan pada proyek akhir ini.
Setelah di dapat sepuluh data dari alat pendeteksi kadar
karbon monoksida yang ada di pasaran, dan sepuluh data
dari ke tiga sensor MQ-7 yang di gunakan pada proyek
akhir ini, bandingkan setiap sepuluh data dari alat
pendeteksi kadar karbon monoksida yang ada di pasaran,
dengan setiap sepuluh data dari ke tiga sensor MQ-7 yang
di gunakan pada proyek akhir ini.
Setelah dibandingkan data dari alat pendeteksi kadar
karbon monoksida yang ada di pasaran dengan data dari ke
tiga sensor MQ-7 yang di gunakan pada proyek akhir ini,
hitung persen errornya sehingga didapat persen
keberhasilan kalibrasi dari ke tiga sensor MQ-7 yang di
gunakan pada proyek akhir ini.
Pada Tabel 4.2, Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 ditunjukkan data
hasil pengujian kalibrasi,

Tabel 4.2 Hasil pengujian kalibrasi sensor MQ-7.


Sensor 1.
Waktu
PPM
PPM
(menit (UPTK3
(MQ%Keberhasila
)
)
7)
n
1
89,40
97,15
92,25
36

2
3
4
5
6
7
8
9

113,13
117,70
107,93
91,12
104,62
99,92
108,30
104,27

110,22
111,03
105,56
96,65
106,55
101,53
107,87
102,35

97.09
93,33
97,63
94,52
98,07
98,39
99,57
98,07

10

92,63

100,47

92,16

Tabel 4.3 Hasil pengujian kalibrasi sensor MQ-7.


Sensor 2.
Waktu
(menit
PPM
PPM
)
(UPTK3) (MQ-7) %Keberhasilan
1
89,40
93,88
95,52
2
113,13
109,86
96,73
3
117,70
115,83
98,13
4
107,93
104,65
96,72
5
91,12
94,74
96,38
6
104,62
102,34
97,72
7
99,92
100,63
99,39
8
108,30
106,25
97,95
9
104,27
103,87
99.60
10
92,63
95,31
97,32

Tabel 4.4 Hasil pengujian kalibrasi sensor MQ-7.


Sensor 3.
Waktu
PPM
PPM
%Keberhasilan
37

(menit
)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

(UPTK3) (MQ-7)
89,40
96,24
93,16
113,13
113,01
99,88
117,70
116,09
98,39
107,93
105,22
97,29
91,12
93,05
98,07
104,62
105,23
99,39
99,92
100,12
99,80
108,30
107,87
99,57
104,27
102,05
97,78
92,63
94,66
97,97
Berdasarkan perbandingan hasil kalibrasi sensor MQ-7
dengan alat pendeteksi CO yang ada di UPTK3, diperoleh nilai
keberhasilan (akurasi) pada sensor sebesar 97,26%.

4.3 Pengujian relay.


4.3.1

Tujuan.
Untuk mengetahui kinerja relay sebagai driver kipas.

4.3.2

Peralatan.
4.3.3

Modul relay 5 volt


Minimum sistem
Power bank
Sensor MQ-7
Downloader
Kabel penghubung

Prosedur.
- Persiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan.
- hubungkan dengan kabel penghubung semua komponen yang
digunakan.
- Nyalakan powerbank
- perhatikan pada tampilan lcd berapa nilai kandungan kadar
karbon minoksida yang terdeteksi oleh sensor, jika masih dalam
38

kondisi aman (<25ppm) relay akan masih dalam kondisi logika


low, tidak aktif, namun jika kadar karbon monoksida yag
terdeteksi oleh sensor tidak aman (<25ppm) LCD akan
menampilkan kata DANGER dan akan mengaktifkan relay
dalam kondisi logika high.
Relay ini digunakan untuk driver kipas untuk
mengaktifkan atau mematikan kipas pada kondisi tertentu kadar
ppm karbon monoksida dalam ruangan. Relay akan aktif
apabila dalam kondisi logika high, dan kjipas akan menyala.
Pengujian relay ini bertujuan untuk menguji apakah relay akan
dapat aktif ketika dalam kondisi high.

Pada Gambar 4.2 dan Gambar 4.3 ditunjukkan dokumentasi


pengujian relay,

Gambar 4.2. Relay Dalam Kondisi Low.


Keterangan:
Sensor mendeteksi kandungan kadar karbon monoksida
bernilai 30.55 ppm, maka dalam kondisi aman, dan relay akan menyala
dan akan berada dalam kondisi logika high apabila kadar karbon
monoksida yang terdeteksi oleh sensor melebihi 25ppm atau kondisi
tidak aman.
39

Gambar 4.3. Relay Dalam Kondisi High.

Keterangan:
Sensor mendeteksi kadar kandungan karbon
monoksida bernilai diatas ppm, dengan dinyatakan pada LCD
dengan kata DANGER, dari kondidi itu, maka relay akan
berada dalam keadaan high dan akan menyala.

4.4 Pengujian Kipas DC 12 Volt


4.4.1

Tujuan.
Mengetahui kinerja kipas dc 12 volt sebagai penghisap udara.

4.4.2

4.4.3

Peralatan.
-

Kipas DC 12 volt
Modul relay 5 volt
Minsis
Kabel penghubung
Sensor MQ-7
Downloader

Prosedur.
40

Persiapkan semua alat dan bahan yang


dibutuhkan.
hubungkan dengan kabel penghubung semua komponen
yang digunakan.
- Nyalakan powerbank
- Perhatikan pada tampilan lcd berapa nilai kandungan kadar
karbon minoksida yang terdeteksi oleh sensor, jika masih dalam
kondisi aman (<25ppm) relay akan masih dalam kondisi logika
low, dan kipas tidak akan aktif, namun jika kadar karbon
monoksida yag terdeteksi oleh sensor tidak aman (>25ppm)
LCD akan menampilkan kata DANGER dan akan
mengaktifkan relay dalam kondisi logika high serta kipas akan
menyala untuk menghisap udara kotor dan dikeluarkan lagi
dalam kondisi kadar karbon monoksida berkurang dari keadaan
sebelumnya.
Pengujian kipas ini bertujuan untuk mengetahui
apakah kipas dapat aktif berputar ketika kadar karbon
monoksida yang terdeteksi oleh sensor berada dalam kondisi
tidak aman yang mengandung kadar karbon monoksida bernilai
>25ppm, dan apakah kipas dapat berhenti ketika kadar karbon
monoksida yang terdeteksi oleh sensor berada dalam kondisi
aman yang mengandung kadar karbon monoksida bernilai
<25ppm.
Pada Gambar 4.4 dan Gambar 4.5 ditunjukkan
dokumentasi pengujian kipas,

41

Gambar 4.4. Kondisi kipas mati.


Keterangan:
LCD menunjukkan bahwa kaar karbon monoksida
yang terdeteksi oleh sensor menunjukkan nilan 30.01ppm,
maka relay masih dalam kondisi logika low dan kipas tidak
akan menyala.

Gambar 4.5. Kondisi kipas menyala.


Keterangan:
LCD menunjukkan bahwa kaar karbon monoksida
yang terdeteksi oleh sensor menunjukkan nilan keadaan dalam
kondisi DANGER, maka relay akan aktif dalam kondisi
logika high dan kipas akan menyala.ower supply, relay, kip

42

4.5 Pengujian Integrasi Keseluruhan Sistem.


4.5.1

Tujuan.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja
keseluruhan sistem, apakah setiap bagian mulai dari power
supply, relay, kipas, filter hepa dan karbon aktif sebagai ionizer
dapat bekerja sesuai harapan yang diinginkan, untuk dapat
membersihkan udara dalam ruangan tertutup dengan
mengurangi kadar karbon monoksida yang terkandung didalam
ruangan tertutup tersebut.

4.5.2

Peralatan.
- Minimum sistem
- Sensor MQ-7
- Relay
- Kipas
- Power bank
- Power supply 12V
- Filter hepa dan karbon aktif sebagai ionizer.
- Tong sampah
- Kertas
- Korek api
- Ruangan aplikasi sebagai ruang uji alat.

4.5.3

Prosedur.
- Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
- Pastikan semua kabel penghubung tidak salah terhubung
agar tidak terjadi hal yang diinginkan.
- Aktifkan sensor dengan mengaktifkan tombol on/off pada
power bank.
- Setelah sensor aktif, tunggu selama satu menit untuk
sensor dapat membaca dan mendeteksi kadar karbon
monoksida dalam ruang uji, karena saat sensor pertama
kali di aktifkan, sensor membutuhkan waktu untuk
memanaskan diri terlebih dahulu untuk dapat membaca
dan mendeteksi kadar karbon monosida.
43

Sembari menunggu sensor MQ-7 memanaskan diri selama


satu menit, siapkan pembakaran kertas dalam tong sampah
yang terbuat dari drum, setelah api habis membakar kertas,
maka akan menghasilkan asap yang lumayan banyak, lalu
masukkan drum sampah tersebut ke dalam ruang uji.
Amati perubahan data yang terdeteksi oleh sensor yang
ditampilkan pada lcd 16x2.
Amati perubahan data setiap 30 detik yang terdeteksi oleh
ketiga sensor dalam ruang uji.
Setelah terdeteksi sampai batas maksimal kandungan ppm
karbon monoksida dan melewati 25ppm, secara perlahan
ionizer akan membersihkan udara dengan menyaringnya
melewati filter hepa dan karbon aktif.
Setelah terjadi filterisasi, maka karbon monoksida yang
terkandung dalam ruang uji tersebut akan berkurang
sampai batas maksimal kondisi aman kandungan karbon
monoksida dalam ruangan, yaitu 25ppm.

Pada Tabel 4.5 ditunjukkan sampel data hasil pengujian


integrasi keseluruhan sistem,
Tabel 4.5. Sampel data hasil pengujian integrasi keseluruhan
sitem.
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Sensor 1
(output)
ppm
11
146
164
160
149
136
123
82

Sensor 2
17
442
431
370
303
269
233
96

Sensor 3
(input)
ppm
11
370
334
296
239
207
168
88

Rata-rata.
13
326
306
274
227
204
172
89
44

9.
10.
11.

37
30
25

46
33
27

34
32
19

38
39
24

Keterangan,
Data diatas merupakan sepuluh data sampel dari pengujian
integrasi keseluruhan sistem, dapat dilihat bahwa data pertama
sangat kecil, data tersebut menunjukkan keadaan awal sebelum
ruang uji dimasukkan asap pembakaran, kemudian data kedua
sampai ke sepuluh mengalami perubahan kenaikan dan penurunan
data. Terjadi kenaikan data kandungan karbon monoksida dalam
ruang uji pada data satu sampai data ke tiga, karena masih awal
dan terdapat banyak asap serta kandungan karbon monoksida
dalam ruang uji. Namun setelah data ke tiga sampai data ke
sepuluh, secara perlahan data relatif menurun, yang menandakan
ionizer bekerja dengan baik.
4.5.4. Analisis.
Dari pengujian integrasi keseluruhan sistem, dapat di analisa
bahwa sensor MQ-7 tidak dapat mendeteksi kadar kandungan karbon
monoksida di bawah 11ppm, setelah dimasukkan asap yang berasal dari
pembakaran kertas yang mengandung karbon monoksida. Maka data
akan naik yang menandakan kandungan kadar karbon monoksida dalam
ruang uji semakin banyak. Namun pada data ke tiga sampai data ke
sepuluh data mulai menurun secara perlahan, meandakan ionizer telah
bekerja dengan baik untuk mengurangi kadar karbon monoksida dalam
ruang uji tersebut. Berdasarkan hasil pengujian pada lampiran A,
didapatkan waktu pada ionizer untuk mengembalikan kondisi udara
pada keadaan normal (<25 ppm) dari nilai ppm sebesar 326 adalah
sekitar 15 menit. Waktu yang dibutuhkan ionizer untuk dapat
mengembalikan kondisi udara pada keadaan normal bergantung pada
jumlah ppm yang difilter oleh ionizer. Semakin besar nilai ppmnya,
maka waktu yang dibutuhkan juga semakin lama.

45

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan tahap perancangan dan pembuatan
sistem yang kemudian dilanjutkan dengan tahap pengujian dan
analisa maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

Dari hasil pengujian sensor gas MQ-7, diperoleh hubungan


antara ppm dengan tegangan pada sensor yaitu:
ppm= (28,264 x Vout) + 103,25
Berdasarkan hasil perbandingan kalibrasi sensor gas MQ-7
dengan alat pendeteksi CO yang ada di UPTK3, diperoleh nilai
keberhasilan (akurasi) pada sensor sebesar 97,26%.
Dari pengujian integrasi keseluruhan sistem, didapatkan waktu
pada ionizer untuk mengembalikan kondisi udara pada keadaan
normal (<25 ppm) dari nilai ppm sebesar 326 adalah sekitar
15 menit. Waktu yang dibutuhkan ionizer untuk dapat
mengembalikan kondisi udara pada keadaan normal bergantung
pada jumlah ppm yang difilter oleh ionizer. Semakin besar nilai
ppmnya, maka waktu yang dibutuhkan juga semakin lama.

5.2 Saran
Dari hasil penelitian tersebut maka dapat disarankan untuk
pengembangan lebih lanjut tentang proyek akhir ini agar kekurangan
untuk kedepannya dapat diminimalisir kemudian. Saran :

46

Perlu dikembangkan ioniser ataupun rangkaian yang dapat


membuat ioniser menjadi lebih optimal agar waktu yang
dibutuhkan untuk mengurangi karbon monoksida lebih cepat.

Halaman ini sengaja dikosongkan

47

DAFTAR PUSTAKA
[1] Ardika Natanael, Ferry. 2010. Kontrol Pemurnian Udara
Menggunakan Ionizer Berbasis Mikrokontroler. ITS
[2] Pengertian Energi Ionisasi Atom_ardra.biz.htm diakses 22
November 2013
[3] Putra, Agfianto Eko. 2006. Belajar Mikrokontroler Teori dan
Aplikasi.Yogyakarta. Gava Media
[4] Bakti Ramadhan, Anugerah. 2014. Pengendalian Kecepatan
Putaran Kipas Ventilator dan Pemurnian Udara Menggunakan Pure
Ionizer pad Smart Smoking Area Berbasis Mikrokontroler. PENS

[5]

http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_udara
di akses pada tanggal 16 Nopember 2014

[6] Rizka Adzimatullah, Rizka.2014. Rancang Bangun Pengurangan


Kadar Karbon Monoksida dalam Ruangan Berbasis Tegangan
Tinggi. Tugas Akhir politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
Surabaya.
[7]

http://filterudara.com/purifier/teknologipembersih-udara/ di akses tanggal 18 Nopember 2014.

[8]

http://www.articlesphere.com/id/Article/Usingan-Air-Ionizer/136412 diakses pada tanggal 27 Nopember


2014.

LAMPIRAN
A. Data Hasil Pengujian Integrasi Keseluruhan Sistem
No.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.

Sensor 1
(output)
ppm
11
90
129
146
156
168
164
164
160
160
156
153
149
142
139
136
132
129
123
118
90
82
59
53
37
35
33
30
27
25

Sensor 2
ppm
17
282
339
442
442
431
431
409
389
370
370
327
303
296
289
269
262
244
233
197
104
96
69
62
46
40
37
33
28
27

Sensor 3
(input)
ppm
11
275
461
370
352
352
334
319
309
296
282
250
239
233
222
207
202
184
168
136
90
88
62
54
34
32
30
32
21
19

B. Program yang Digunakan


/*****************************************************
This program was produced by the
CodeWizardAVR V2.05.0 Evaluation
Automatic Program Generator
Copyright 1998-2010 Pavel Haiduc, HP InfoTech s.r.l.
http://www.hpinfotech.com

Project :
Version :
Date : 22/07/2014
Author : Freeware, for evaluation and non-commercial use only
Company :
Comments:

Chip type
Program type

: ATmega16
: Application

AVR Core Clock frequency: 12,000000 MHz


Memory model

: Small

External RAM size


Data Stack size

:0
: 256

*****************************************************/

#include <mega16.h>
#include <stdio.h>
#include <delay.h>
#include <math.h>
#include <stdlib.h>

// Declare your global variables here


float ppmCO,Rs_Ro,vCO, ppmCO1,Rs_Ro1,vCO1, ppmCO2,Rs_Ro2,
vCO2,rata;
unsigned char bufCO[10],bufCO1[10],bufCO2[10],bufrata[10];
float nilaiCO,nilaiCO2,nilaiCO1; //jgnlupa ganti float

// Alphanumeric LCD Module functions


#include <alcd.h>

// External Interrupt 0 service routine

interrupt [EXT_INT0] void ext_int0_isr(void)


{
// Place your code here

// External Interrupt 1 service routine


interrupt [EXT_INT1] void ext_int1_isr(void)
{
// Place your code here

// Standard Input/Output functions


#include <stdio.h>

#define ADC_VREF_TYPE 0x20

// Read the 8 most significant bits


// of the AD conversion result

unsigned char read_adc(unsigned char adc_input)


{
ADMUX=adc_input | (ADC_VREF_TYPE & 0xff);
// Delay needed for the stabilization of the ADC input voltage
delay_us(10);
// Start the AD conversion
ADCSRA|=0x40;
// Wait for the AD conversion to complete
while ((ADCSRA & 0x10)==0);
ADCSRA|=0x10;
return ADCH;
}

unsigned int baca_adc(char loop, char adc_ke)


{
unsigned int hasil=0, tmp;
float rata=0;
unsigned char x;
for (x=0; x<loop; x++)
{

tmp=read_adc(adc_ke);
hasil = tmp + hasil;
delay_ms(10);

// optional tapi recomended..

}
rata = (float)hasil / (float)loop;
return floor(rata); // pembulatan ke bawah
}
void baca_CO(void)
{
nilaiCO=baca_adc(30,0);
vCO = ((nilaiCO/255)*5);
Rs_Ro=((((5-vCO)/vCO)*17000)/24260.86);
ppmCO = (97.79*pow(Rs_Ro,-1.49));

nilaiCO1=baca_adc(30,1);
vCO1 = ((nilaiCO1/255)*5);
Rs_Ro1=((((5-vCO1)/vCO1)*17000)/24260.86);
ppmCO1 = (97.79*pow(Rs_Ro1,-1.49));

nilaiCO2=baca_adc(30,2);
vCO2 = ((nilaiCO2/255)*5);
Rs_Ro2=((((5-vCO2)/vCO2)*17000)/24260.86);
ppmCO2 = (97.79*pow(Rs_Ro2,-1.49));

rata= ((ppmCO+ppmCO1+ppmCO2)/3);
}

void main(void)
{
PORTA=0x00;
DDRA=0x00;
PORTB=0x00;
DDRB=0x00;
PORTC=0x00;
DDRC=0xFF;
PORTD=0x00;
DDRD=0xFF;

TCCR0=0x00;
TCNT0=0x00;
OCR0=0x00;
TCCR1A=0x00;
TCCR1B=0x00;
TCNT1H=0x00;
TCNT1L=0x00;
ICR1H=0x00;
ICR1L=0x00;
OCR1AH=0x00;
OCR1AL=0x00;
OCR1BH=0x00;
OCR1BL=0x00;
ASSR=0x00;
TCCR2=0x00;
TCNT2=0x00;
OCR2=0x00;

GICR|=0xC0;
MCUCR=0x00;

MCUCSR=0x00;
GIFR=0xC0;

// Timer(s)/Counter(s) Interrupt(s) initialization


TIMSK=0x00;

UCSRA=0x02;
UCSRB=0x18;
UCSRC=0x86;
UBRRH=0x00;
UBRRL=0x26;
ACSR=0x80;
SFIOR=0x00;
ADMUX=ADC_VREF_TYPE & 0xff;
ADCSRA=0xA5;
SFIOR&=0x1F;

SPCR=0x00;

TWCR=0x00;

lcd_init(16);

/*lcd judul*/
lcd_gotoxy(0,0);
lcd_clear();
lcd_putsf("Bismillah");
delay_ms(500);
lcd_clear();

while (1)
{

baca_CO();
rata= ((ppmCO+ppmCO1+ppmCO2)/3);
sprintf(bufCO,"CO=%.2f",ppmCO);
sprintf(bufCO1,"CO1=%.2f",ppmCO1);
sprintf(bufCO2,"CO2=%.2f",ppmCO2);
sprintf(bufrata,"Ra=%.2f",rata);

//sprintf(bufCO2,"ADC=%.2f",vCO2);
//sprintf(bufCO2,"CO2=%.2f",ppmCO2);

lcd_gotoxy(0,0);
lcd_puts(bufCO);
lcd_gotoxy(8,0);
lcd_puts(bufCO1);
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_puts(bufCO2);
lcd_gotoxy(8,1);
lcd_puts(bufrata);
delay_ms(100);
if (rata>=25)
{

PORTD.7=0xFF;
//

a=a+1;
delay_ms(100);

}
//

if (a==1)

//

//

lcd_clear();

//

lcd_puts("DANGER");

//

delay_ms(1000);

//

else
PORTD.7=0x00;

}
}

C. Dokumentasi Alat.

Gambar 1. Ruang ionizer tampak atas tanpa tutup.

Gambar 2. Ruang ionizer tampak keseluruhan tanpa tutup.

Gambr 3. Ruang ionizer tampak keseluruhan.

Gambar 4. Tampak ruang uji saat tertutup.

Gambar 5. Tampak ruang uji saat pintu terbuka.

BIODATA PENULIS

Nama
Tempat/Tanggal Lahir
Alamat
Nomer telepon
Email

:
:
:
:
:

Alrizka Dika Soetanto


Sidoarjo, 24 Juni 1994
Bluru Permai GB.23 RT.09 RW.10 Sidoarjo
081334225039

alrizkadika@gmail.com

Riwayat Pendidikan :

SD Negeri Sidoklumpuk I Sidoarjo


MTs Negeri Sidoarjo
MA Negeri Sidoarjo
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

2000 2006
2006 2009
2009 2012
2012 2015

Penulis telah mengikuti seminar Proyek Akhir pada tanggal 29 Juli


2014, sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli
Madya (A.Md).