Anda di halaman 1dari 15

SERTIFIKASI GURU DALAM PENDIDIKAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO 14

TAHUN 2005
A. Latar Belakang Lahirnya Sertifikasi Guru
Detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari silih berganti selalu saja terjadi
peristiwa yang penting. Perkembangan dunia yang semakin maju dan pesat saat ini,
dinamakan sebagai zaman globalisasi dengan ditandai dan diwarnai dengan majunya
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta informasi di dalam dunia pendidikan. Di
indonesia pendidikan merupakan salah satu bidang pembangunan nasional sebagai upaya
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta meningkatkan kualitas manusia yang beriman,
bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, guna
mewujudkan masyarakat maju, sejahtera, adil, makmur, dan beradab berdasarkan pancasila
dan Undang-undang dasar. Dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul
generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang
No. 20 tahun 2003 pasal 3 yang menyatakan bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1
Untuk merealisasikan fungsi dan tujuan pendidikan sebagaimana yang tertuang
dalam Undang-undang sikdinas di atas maka, lembaga pendidikan adalah salah satu wadah
atau tempat untuk mewujudkan hal tersebut. Dan di dalam sebuah lembaga pendidikan
banyak aktor yang berperan penting, salah satu aktor di dalamnya adalah tenaga pendidik.
Sebagai tenaga pendidik haruslah seseorang yang berkompeten dibidangnya yang lebih
kerennya dikenal sebagai pendidik profesional, yang mentransferkan berbagai macam
pengetahuan kepada diri peserta didik dan mengembangkan segala potensi dan kepribadian
diri peserta didik sehingga mencapai kebahagian di dunia dan di akhirat, sehingga

1 Fathul Jannah, Manajemen Akademik: Lembaga Pendidikan Tinggi Islam, (Yogyakarta: Safira Insania Press,
2009), h. 31.

tercapailah tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh Undang-undang Sikdiknas Tahun


2003.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, maka pemerintah mengadakan
program bagi pendidik yaitu, dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang
kualifikasi, kompetensi sertifikasi guru dan dosen. Program sertifikasi guru dan dosen ini,
teraplikasi pada tahun 2007 dan sampai sekarang.
Awalnya sertifikasi guru dan dosen ini dikarenakan tuntutan dan desakan dari
persatuan para guru (PGRI) kepada pemerintah, sudah selayaknya pemerintah memikirkan
nasib guru, bahwa selama ini kesejahteraan guru dianggap kurang sejahtera dan
memprihatinkan disebabkan minimnya gajih yang diperoleh, serba kekurangan dilihat dari
segi ekonomi, sehingga guru di dalam proses pembelajaran tidak berfokus. Untuk
memenuhi kebutuhan kesejahteraan hidup itu maka, guru terkesan mengajar kesana kemari
dengan istilah lamanya, mengajar sambil ngojek, jam terbang tinggi, dalam upaya untuk
memenuhi kesejahteraan hidup sehingga mutu pendidikan dinilai jalan ditempat.
Sertifikasi guru dan dosen adalah sebuah pemberian tunjangan profesi dan
pengakuan oleh pemerintah yang dibuktikan dengan sertifikat kepada pendidik yang telah
memenuhi persyaratan. Tunjangan ini berlaku kepada pendidik yang berstatus pegawai
negeri maupun bagi pendidik yang berstatus non pegawai negeri. Dengan tujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan pendidik yang lebih baik sehingga peningkatan mutu
pendidikan akan berjalan kearah yang lebih baik lagi dimasa yang akan datang.
Namun pada kenyataannya tidak bisa dipungkiri di dalam pemberitaan surat kabar
sinar harapan di jakarta sebagaimana pernyataan Basuki Purnama bahwa: Tiap hari, guru
kerjaannya fotokopi sertifikat terus. Mereka mana fokus mengajar, kerjanya hanya
memikirkan sertifikasi saja," Basuki Purnama menilai, adanya tunjangan tersebut membuat
sejumlah pendidik tidak fokus pada tugas utama mereka sebagai pengajar.2 Belum lagi
ditambahnya kesenjangan sertifikasi antara pendidik formal dan non formal, dari jenjang
pendidikan tingkat bawah sampai ketingkat atas, hingga diwarnai pada pemalsuan dokumen
seperti ijasah. Dan berdasarkan surat kabar kedaulatan rakyat menyebutkan peristiwa
terungkapnya 804 berkas pengajuan sertifikasi guru yang diduga bermasalah oleh Panitia
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Rayon 141 Universitas Negeri Surabaya
2 Sinar Harapan, Tunjangan Sertifikasi Guru Dicabut, http://www.sinarharapan.co/news /read/140814065/-nbspahok-minta-tunjangan-sertifikasi-guru-dicabut. Dipimpt Hari Minggu tanggal 19 Oktober 2015.

(Unesa). Dan sebagian dugaan terhadap pemalsuan ijazah yang dilakukan oleh
pengajunya.3 Kemudian sertifikat untuk pemenuhan fortopolio, ditambah lagi dengan
pendidik yang dianggap gagap teknologi, upaya plagiat untuk mengambil penelitian orang
lain guna memenuhi syarat sertifikasi.
Berdasarkan dari pengalaman penulis, persoalan di atas sebagian telah dijumpai,
seperti pemalsuan dokumen, ditambah lagi dengan manipulasi masa pengabdian kerja,
jumlah jam mengajar yang tidak sesuai yang seharusnya 24 jam mengajar tetapi pada
kenyataannya hanya 18

jam mengajar bahkan sampai 10 jam mengajar. Penyebab

terjadinya persoalan ini, mungkin saja dikarenakan jumlah tunjangan profesi yang cukup
menggiurkan atau bisa saja karena ada faktor lain.
Asumsi sementara saya bahwa sertifikasi pendidik adalah suatu langkah upaya
yang dilakukan oleh pemerintah untuk merubah nasib guru, dari tingkat bawah sampai
tingkat atas yakni perguruan tinggi serta berfungsi untuk meningkatkan harkat, martabat
dan peran pendidik sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran.
B. Konsep Sertifikasi Guru dalam Pendidikan
1. Pengertian Sertifikasi
Istilah sertifikasi dalam makna kamus Besar Bahasa Indonesia berarti surat
keterangan (sertifikat) dari lembaga berwenang yang di berikan kepada jenis profesi
dan sekaligus pernyataan (lisensi) terhadap kelayakan profesi untuk melaksanakan
tugas. Bagi guru agar dianggap baik dalam mengemban tugas yang sesuai dengan
tufoksinya.4
Menurut Martinis Yamin, sertifikasi adalah pemberian sertifikat pendidik untuk
guru dan dosen atau bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan
dosen sebagai tenaga profesional.5
Menurut Masnur Muslich sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik
kepada guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu kualifikasi akademik,
3 Kedaulatan Rakyat, pemalsuan Ijasah, http://krjogja.com/liputan khusus/ analisis /2138/ pemalsuan-ijazah.kr.
Dipimpt Hari Minggu Tanggal 25 Oktober 2015.
4 E .Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: Remaja Rosdakarya 2009), h.39.

5 Martinis Yamin, Sertifikasi Profesi keguruan di Indonesia, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2006), h. 2.

kompetensi, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional, yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang
layak.6
Pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru
dan dosen Bab I pada Ketentuan Umum Pasal 1 diterangan bahwa Sertifikasi adalah
proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen.7
Walaupun redaksinya berbeda dari berbagai pengertian sertifikasi tersebut di atas,
maka sertifikasi dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian pengakuan bahwa
seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada
satuan pendidikan tertentu, setelah lulus kualifikasi dan uji kompetensi yang telah
diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi. Dengan kata lain, sertifikasi guru adalah
proses uji kompetensi yang dirancang untuk mengungkapkan penguasaan kompetensi
seseorang sebagai landasan pemberian sertifikat pendidik.
2. Landasan Filosofis
Dilihat dari landasan sosial, sertifikasi adalah Proses sosial menjadi guru
professional yang tersertifikasi dimulai dari interaksi sosial, interaksi dan proses sosial
menurut Made Pidarta didasari faktor (1) imitasi, (2) sugesti, (3) identifikasi dan (4)
simpati.8 Proses sosial bisa terjadi karena salah satu atau gabungan dari keempat faktor.
Jika seorang guru ingin menjadi guru professional dengan cara melihat atau meniru
sikap ataupun cara mengajar guru yang telah tersertifikasi berarti interaksi dan proses
sosial didasari faktor imitasi, kemudian jika seorang guru memandang sertifikasi guru
membuat sejahtera dengan melihat rekannya yang telah tersertifikasi berarti interaksi
dan proses sosial didasari faktor sugesti, selanjutnya jika guru beranggapan bahwa
dengan bersertifikasi statusnya akan sama dengan rekannya yang telah tersertifikasi
berarti interaksi dan proses sosial didasari faktor identifikasi, jika seorang guru merasa
6 Mansur Muslich, Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik, (Jakarta: Bumi Akasara , 2007), h. 2.

7 UU Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen hal. 3.

8 Made Pidarta, Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2007), h. 153.
4

tertarik akan sertifikasi guru dimana faktor perasaan yang mendominan maka interaksi
dan proses sosial yang mendasari adalah faktor simpati.
Dari landasan sosial budaya, sertifikasi guru merupakan suatu wadah kelompok
sosial. Kelompok sosial menurut pidarta berarti himpunan sejumlah orang paling sedikit
dua orang yang hidup bersama karena cita-cita yang sama. 9 Sedangkan Kneller dalam
pidarta mengatakan kebudayaan adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh
anggota-anggota masyarakat. Sehingga disimpulkan sertifikasi guru yang merupakan
suatu wadah sosial harus bersosialisasi atau melakukan interaksi sosial guna
membudayakan guru professional sehingga tercapai mutu pendidikan yang lebih
berkualitas.
Sedangkan dilihat dari landasan psikologi atau ilmu jiwa menurut Pidarta adalah
ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa adalah roh dengan keadaan mengendalikan
jasmani yang dapat dipengaruhi alam sekitar.10 Karena itu jiwa atau psikis dapat
dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia, yang berada yang melekat dalam
manusia itu sendiri.
Sertifikasi merupakan sarana atau instrumen untuk mencapai suatu tujuan, bukan
tujuan itu sendiri. Perlu ada kesadaran dan pemahaman dari semua fihak bahwa
sertifikasi adalah sarana untuk menuju kualitas. Kesadaran dan pemahaman ini akan
melahirkan aktivitas yang benar, bahwa apapun yang dilakukan adalah untuk mencapai
kualitas.
Titik tolak atau dasar psikologi dalam sertifikasi guru adalah keinginan dan
harapan para guru meningkatkan kualitas professional dan kesejahteraan baik atas
kesadaran masing-masing individu ataupun atas pengaruh lingkungan, dimana kualitas
professional guru merupakan tujuan utama sedangkan kesejahteraan merupakan tujuan
berikutnya.
3. Tujuan dan Manfaat Sertifikasi
Adapun sertifikasi guru bertujuan untuk meningkatkan tingkat kelayakan
seorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran disekolah dan

9 Made Pidarta, Landasan Kependidikan, ... h. 158-168.

10 Made Pidarta, Landasan Kependidikan, ... h. 194.


5

sekaligus memberikan sertifikat pendidik bagi guru yang telah memenuhi persyaratan
dan lulus uji sertifikasi.11
Sertifikasi guru bertujuan untuk menentukan tingkat kelayakan seorang guru
dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran di sekolah dan sekaligus
memberikan sertifikat pendidik bagi guru yang telah memenuhi persyaratan dan lulus
uji sertifikasi.12
Menurut Wibowo, dalam bukunya E. Mulyasa, mengatakan bahwa sertifikasi
dalam kerangka makro adalah upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan
bertujuan untuk hal-hal sebagai berikut:13
a. Melindungi profesi pendidik dan tenaga kependidikan
b. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik yang tidak kompeten, sehingga
merusak citra pendidik dan tenaga kependidikan.
c. Membantu dan melindungi lembaga penyelenggara pendidikan, dengan
menyediakan rambu-rambu dan instrument untuk melakukan seleksi terhadap
pelamar yang kompeten.
d. Membangun citra masyarakat terhadap profesi pendidik dan tenaga kependidikan
e. Memberikan solusi dalam rangka meningkatkan mutu pendidik dan tenaga
kependidikan.
Sedang dalam buku panduan dari kemendiknas, kita bisa mengetahui bahwa tujuan
diadakannya sertifikasi guru ini sebagaimana berikut:
a. Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran
dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
b. Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan
c. Meningkatkan martabat guru.
d. Meningkatkan profesionalisme guru.14

11 Mansur Muslich, Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik, (Jakarta: Bumi Akasara, 2007), h. 2.

12 Muchlas Samani, (dkk), Mengenal Sertifikasi Guru di Indonesia, (SIC dan Assosiasi Peneliti Pendidikan
Indonesia, 2006), h. 27.

13 Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 34.

14 Nur Zulaekha, Panduan Sukses Lulus Sertifikasi Guru, (Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2011), h. 11.

Sendangkan manfaat dai sertifikasi guru tidak hanya terkait hanya terkait dengan
kualitas semata, lebih jauh lagi dari itu, sertifikasi guru juga berakses pada peningkatan
kesejahtraan guru yang selama ini banyak disindir sebagai pahlawan tanpa tanda jasa,
tapa imbalan uang untuk kesejahtraannya yang layak dan juga tanpa bintang dari
pemerintah, inilah beberapa manfaat sertifikasi guru:
a. Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang dapat
merusak citra profesi guru.
b. Melindugi masyarakat dari praktik praktik pendidikan yang tidak professional dan
tidak berkualitas
c. Meningkatkan kesejahtraan guru.
Manfaat dari diadakan program sertifikasi guru dalam jabatan adalah sebagai
berikut:
a. Pengawasan Mutu
1) Lembaga sertifikasi yang telah mengidentifikasi dan menentukan seperangkat
kompetensi yang bersifat unik.
2) Untuk setiap jenis profesi

dapat

mengarahkan

para

profesi

untuk

mengembangkan tingkat kompetensinya secara berkelanjutan.15


3) Peningkatan profesionalisme melalui mekanisme seleksi, baik pada awal masuk
organisasi profesi maupun pengembangan karir selanjutnya.
4) Proses yang lebih baik, program pelatihan yang lebih bermutu maupun usaha
belajar secara mandiri untuk mencapai profesionalisme.
b. Penjaminan Mutu
1) Adanya pengembangan profesionalisme dan evaluasi terhadap kinerja
praktisi akan menimbulkan persepsi masyarakat dan pemerintah menjadi
lebih baik terhadap organisasi profesi beserta anggotanya.
2) Sertifikasi menyediakan informasi yang berharga bagi para pelanggan atau
pengguna yang ingin memperkerjakan orang dalam bidang keahlian dan
keterampilan tertentu.
Undang-undang Guru dan Dosen menyatakan bahwa sertifikasi sebagai bagian
dari peningkatan mutu guru dan peningkatan kesejahteraan guru. Melalui sertifikasi
diharapkan guru menjadi pendidik yang profesional, yaitu yang berpendidikan minimal
S-I atau D-4 dan berkompetensi sebagai agen pembelajaran yang dibuktikan dengan

15 Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, ... h. 35.


7

memiliki sertifikat pendidik yang nantinya akan mendapatkan imbalan (reward) berupa
tunjangan profesi dari pemerintah sebesar satu kali gaji pokok.16
Undang-undang guru dan dosen menyebutkan bahwa sertifikat pendidik adalah
bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga
professional.17
Peningkatan mutu guru lewat program sertifikasi juga diharapkan sebagai upaya
peningkatan mutu pendidikan. Rasionalnya adalah apabila kompetensi guru bagus yang
diikuti dengan penghasilan bagus, diharapkan kinerjanya juga bagus. Apabila kinerjanya
bagus maka KBM-nya (Kegiatan Belajar Mengajar) juga bagus. KBM (Kegiatan Belajar
Mengajar) yang bagus diharapkan dapat membuahkan pendidikan yang bermutu.
Pemikiran itulah yang mendasari bahwa guru perlu untuk disertifikasi.
Sertifikasi guru yang dimaksud adalah bertujuan untuk menentukan uji
kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dalam tujuan
pendidikan nasional yang berkualitas, meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan,
meningkatkan martabat guru dan meningkatkan profesionalitas guru. Sehingga nantinya
diharapkan dengan adanya peningkatan kesejahteraan guru secara finansial dapat
menjadikan pendidikan nasional lebih berkualitas baik dari sisi pendidik maupun peserta
didik.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah sebagai peningkatan
mutu dan demi kesejahteraan para guru dan dosen khususnya.
C. Pelaksanaan Sertifikasi
Pelaksanaan sertifikasi telah diatur diatur oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun
2005, pasal 11 (ayat2) yaitu; perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga
kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. Dalam artian
penyelenggaraan sertifikasi dilakukan oleh perguruan tinggi yang memiliki fakultas
keguruan, seperti FKIP dan Fakultas Tarbiyah UIN, IAIN, STAIN, STAIS yang telah
terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional Republik Indonesia dan ditetapkan oleh pemerintah.18

16 Mansur Muslich, Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme, ... h. 7.

17 UU.R.I. No 14 Tahun 2005, ... h. 3.


8

Dengan demikian jelaslah, bahwa kualifikasi calon guru atau guru dapat berasal dari
S-1 atau D-4 kependidikan yang dihasilkan olah lembaga pengadaan tenaga kependidikan
(LPTK) seperti IKIP,FIKIPdan STIKIP untuk jenjang pendidikan tinggi umumserta
Tarbiyah Institut Agama Islam (IAI) atau Sekolah Tinggi Agalam Islam (STAI) pada
jenjang pendidikan tinggi Agama.19
Pelaksanaan Sertifikasi diatur oleh penyelenggara, yaitu kerjasama antara Diknas
Pendidikan Nasional daerah atau Departemen Agama Provinsi dengan Perguruan Tinggi
yang ditunjuk. Kemudian pendanaan Sertifikasi ditanggung oleh pemerintah dan
pemerintah daerah sebagaimana Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005, pasal 13 (ayat 1)
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan
kualifikasi akademik dan Sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang diangkat oleh
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Daerah, dan masyarakat.20
Adapun alur pelaksanaan sertifikasi bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

18 Yamin Martinis, Sertifikasi, ... h. 3.

19 Trianto dan titik tri wulan tutik, Sertifikasi guru dan upaya peningkatan kwalifiksi, kompetensi dan
kesejahtaan, (Jakarta; Prestasi Pustaka, 2011) cet. 3, h. 46.

20 Yamin Martinis, Sertifikasi Profesi keguruan di Indonesia, ... h. 3.


9

D. Problem Penerapan Sertifikasi


Adapun bagaimana proses pelaksanaan sertifikasi guru, dalam pelaksanaannya
banyak dijumpai suatu kenyataan yang tidak seharusnya terjadi. Berikut adalah masalahmasalah yang seringkali muncul dan dialami oleh guru.
1. Kendala penyebarluasan informasi sertifikasi guru di daerah pelosok
Langkah awal proses sertifikasi ialah sosialisasi. Penyebarluasan informasi
tentang sertifikasi ini merupakan pintu gerbang pertama agar kemudahan akses
berikutnya dapat dilaksanakan dengan baik. Selama ini, informasi tentang sertifikasi
melalui dua jalur. Jalur pertama, dilaksanakan dalam Musyawarah Kepala Sekolah
(MKS), dan kedua ialah mengakses internet.
Kendala yang kemudian hadir, kepala sekolah tidak melaksanakan fungsinya
dengan baik dalam mensosialisasikan kembali, apa yang diperolehnya menyebabkan
seringkalinya informasi tersebut tertahan pada guru-guru tertentu saja. Selanjutnya,
melalui internet memiliki keterbatasan tersendiri. Selain guru yang malas belajar,
ataupun tergolong Gaptek (gagap teknologi) atau jahiliyah IT, guru-guru di
daerah terpelosok, bahkan tidak tahu-menahu bagaimana caranya mengoperasikan
komputer, apalagi internet. Keadaan ini tidaklah terlalu mengagetkan, apabila,
kemudian sosialisasi sertifikasi guru tidak sesuai harapan. Sehingga guru-guru
10

dipelosok akan sulit untuk memenuhi standar sertifikasi guru yang ditetapkan
pemerintah. Hal ini akan berdampak terhadap tidak meratanya mutu pendidikan
dibeberapa wilayah.
2. Pengingkaran nilai pendidikan
Keinginan guru untuk memperoleh sebuah sertifikat pendidik, sekaligus
tunjangannya, melahirkan perilaku yang tidak layak bagi seorang pendidik. Mental
terabas yang sudah dipaparkan pada bagian sebelumnya, pada dasarnya amat
mempengaruhi fenomena pemalsuan dokumen ini. Hampir seluruh wilayah di
Indonesia, ditemui kasus pemalsuan dokumen. Adapun diantara kasus tersebut adalah
sebagai berikut :
a) Ijasah perguruan tinggi tidak tercatat di Depdiknas maupun Kopertis.
b) Legalitas piagam penghargaan diragukan karena nomor dan

tanggal

pengesahannya ternyata tidak berbeda jauh.


c) Legalitas piagam pelatihan terlihat bekas penghapusan informasi pemilik
sebelumnya.
d) Upaya plagiat atau mengambil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) guru yang
e)

terdahulu dan mengganti dengan nama peserta yang bersangkutan.


Penelitian yang dilakukan tiga sampai empat kali setahun, padahal maksimal
guru hanya mampu melakukan PTK sekali dalam satu tahun.
Terlihat jelas, bahwa pemalsuan yang dilakukan tidak terbatas hanya pada

dokumen profil diri, seperti piagam, sertifikat, atau ijazah, akan tetapi menyangkut
penjiplakan karya tulis ilmiah orang lain. Yang lebih parahnya lagi, penjiplakan
demikian kerapkali tidak seizin dari pemilik aslinya, dan itu termasuk telah
melanggar UU Hak Karya Intelektual (HaKI).
Begitu banyaknya nilai-nilai pendidikan yang diingkari oleh pendidik. Hal ini
bertolak belakang dengan nilai-nilai pendidikan yang diajarkan pendidik itu sendiri
kepada siswa seperti jujur, patuh, menjunjung tinggi nilai kebenaran, tidak plagiat,
dan lain sebagainya.
3. Sertifikasi guru tidak menyentuh masalah pendidikan
Sertifikasi guru secara ideal sepertinya hanya lebih memfokuskan pada tugas
keprofesionalannya pada satuan pendidikan dimasing-masing tempat mereka bekerja.
Dengan tunjangan yang diperolehnya dan ketentuan 24 jam mengajar atau tatap muka
dalam seminggu, akan dicapailah predikat guru luar biasa artinya guru bersertifikat

11

hanya bekerja pada satu tempat, tidak seperti dulu yang bekerja di luar sekolah demi
mencukupi kebutuhan hidupnya.
Pemerintah berharap, bahwa dengan mengeluarkan kebijakan berupa keharusan
sertifikasi guru, semua persoalan dapat teratasi termasuk profesionalnya seorang
guru, peningkatan mutu, dan kompetensi yang tinggi dalam dunia pendidikan.
Akan tetapi, pemerintah seringkali lupa, kalau keprofesionalan harus dibangun
dalam proses yang panjang. Yang meliputi banyak hal, dan tidak hanya dengan
peyederhanaan melalui sertifikasi. Bagaimana mungkin guru yang ikut sertifikasi
menjadi guru yang berkompeten, apabila dalam memenuhi tagihan portofolio
kebanyakan bertindak curang. Selanjutnya bagaimana dunia pendidikan Indonesia
bisa mengalami kemajuan, dan belum lagi masalah sarana dan prasarana yang jauh
tertinggal dengan negara tetangga.
Dengan kenyataan sekarang ini, banyak para pakar pendidikan menyatakan,
bahwa pemberian sertifikasi bagi guru tak menjamin peningkatan mutu pendidikan
nasional, karena sertifikasi guru cenderung pendekatan formalistis dan tidak
menyentuh substansi masalah pendidikan di Indonesia.
4. Miskin keterampilan dan kreatifitas
Guru bukanlah bagian dari sistem kurikulum, tetapi keberhasilan pelaksanaan
kurikulum akan bergantung pada kemampuan, kemauan, dan sikap professional
tenaga guru. Kalau dikaitkan persyaratan professional seorang guru yang sesuai
dengan Standar Nasional Pendidikan yaitu, mampu merencanakan, mengembangkan,
melaksanakan, dan menilai proses belajar secara relevan dan efektif maka seorang
guru yang professional akan dengan mudah lolos sertifikasi berbasis portofolio tanpa
harus memanipulasi berkasnya. Karena sebelumnya ia telah giat mengembangkan
dirinya demi anak didiknya. Namun yang menjadi persoalan adalah mereka, para
guru yang melakukan kecurangan dalam sertifikasi.
Temuan kecurangan dalam sertifikasi tersebut jelas membuktikan bahwa guru
yang lolos sertifikasi dengan cara memanipulasi berkas portofolio, akan tetap
mengajar dengan seadanya.
Guru yang terampil dan kreatif akan mampu menguasai dan membawa situasi
pembelajaran dengan bekal keterampilan dan ide-ide kreatifnya. Sehingga peserta
didik pun lebih menarik mengikuti pelajaran, tidak jenuh dan berpikiran bahwa guru
tersebut adalah orang yang handal dan mempunyai banyak pengalaman. Berbeda
12

halnya dengan guru yang tidak kreatif. Mereka miskin keterampilan dan kreatifitas
sehingga apa yang disampaikan serasa kaku tanpa pengembangan konsep
pembahasan.
E. Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa sertifikasi guru
adalah suatu pemberian tunjangan profesi dan pengakuan terhadap guru dalam
melaksanakan pelayanan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan tertentu. Yang
diberikan oleh instansi yang berkompeten dan dibuktikan dengan sertifikat kepada pendidik
yang telah dinyatakan lulus.
Dilihat daari landasan sosial budaya, sertifikasi guru merupakan suatu wadah
kelompok sosial, yang berarti himpunan sejumlah orang paling sedikit dua orang yang
hidup bersama karena cita-cita yang sama.
Sedangkan dilihat dari landasan psikologi atau ilmu jiwa menurut Pidarta adalah
ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa adalah roh dengan keadaan mengendalikan
jasmani yang dapat dipengaruhi alam sekitar. Dalam artian sebagai suatu keasadaran yang
harus dibangun manusia itu sendiri. Sehingga bila dikaitkan dengan sertifikasi sebagai
sarana atau instrumen untuk mencapai suatu tujuan yang diperlukan adanya kesadaran dan
pemahaman dari semua pihak bahwa sertifikasi adalah sarana untuk menuju kualitas.
Kesadaran dan pemahaman ini akan melahirkan aktivitas yang benar, bahwa apapun yang
dilakukan adalah untuk mencapai kualitas.
Sedangkan tolak ukur dasar psikologi dalam sertifikasi guru adalah keinginan dan
harapan para guru dalam meningkatkan kualitas profesional dan kesejahteraan baik atas
kesadaran masing-masing individu ataupun atas pengaruh lingkungan, dimana kualitas
professional guru merupakan tujuan utama sedangkan kesejahteraan merupakan tujuan
berikutnya.
Dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan bermanfaat untuk
meningkatkan kesejahteraan guru dan melindungi profesi guru dalam melaksanakan tugas
dalam pembelajaran guna mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan kepada
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, UU Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, dan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 18 tahun
2007 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan yang ditetapkan.
Dan adapun pelaksanaan sertifikasi diatur oleh penyelenggara, yaitu kerjasama
antara Diknas Pendidikan Nasional daerah atau Departemen Agama Provinsi dengan
13

Perguruan Tinggi yang ditunjuk. Kemudian pendanaan Sertifikasi ditanggung oleh


pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005,
pasal 13 (ayat 1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk
peningkatan kualifikasi akademik dan Sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang
diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Daerah, dan
masyarakat.
Namun pada kenyataannya terdapat saja persoalan atau kendala sertifikasi di dalam
penerapannya yaitu:
1. Kendala penyebarluasan informasi sertifikasi guru di daerah pelosok
2. Pengingkaran nilai pendidikan
3. Sertifikasi guru tidak menyentuh masalah pendidikan
4. Miskin keterampilan dan kreatifitas
Daftar Pustaka

Jannah, Fathul, Manajemen Akademik: Lembaga Pendidikan Tinggi Islam, Yogyakarta, Safira Insania
Press, 2009
Mulyasa, E, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung, Remaja Rosdakarya 2009
Mulyasa, E, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2009
Muslich, Mansur, Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik, Jakarta, Bumi Akasara , 2007
______________, Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik, Jakarta, Bumi Akasara, 2007
Pidarta, Made, Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia,
Rineka Cipta, 2007

Jakarta,

Samani, Muchlas, (dkk), Mengenal Sertifikasi Guru di Indonesia, SIC dan Assosiasi Peneliti
Pendidikan Indonesia, 2006
Trianto dan titik tri wulan tutik, Sertifikasi guru dan upaya peningkatan kwalifiksi, kompetensi dan
kesejahtaan, Jakarta, Prestasi Pustaka, 2011
UU Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen
Yamin, Martinis, Sertifikasi Profesi keguruan di Indonesia, Jakarta, Gaung Persada Press, 2006
Zulaekha, Nur, Panduan Sukses Lulus Sertifikasi Guru, Yogyakarta, Pinus Book Publisher, 2011

14

http://www. Sinar harapan.co/news /read/ 140814065/ -nbsp- ahok-minta-tunjangan-sertifikasi-gurudicabut.


http://krjogja.com/liputan khusus/ analisis /2138/ pemalsuan-ijazah.kr.

15