Anda di halaman 1dari 38

HUKUM ADAT

Manfaat Hukum Adat:

Untuk memahami budaya hukum


Indonesia dan untuk memahami
budaya hukum asing.
Dengan mempelajari hukum adat
dapat mengetahui hukum adat yang
mana yang tidak sesuai dengan
perkembangan jaman dan hukum
adat yang mana yang dapat diangkat
menjadi hukum nasional.
Untuk mengetahui lahirnya dasar
falsafah negara Indonesia yaitu

Istilah Pancasila berasal dari bagian ke


53 bait kedua kitab Negara Kertagama,
yaitu kitab yang digubah dimasa
pemerintahan Hayam Wuruk oleh Empu
Prapanca pada tahun 1365 yang antara
lain menyatakan, Yatnangeggwani
Pancasila-Kertasangskara
bhisekakakrama artinya Raja
melaksanakan dengan setia kelima
pantangan, begitu juga upacara-upacara
ibadah dan penobatan.

Istilah Bhineka Tunggal Ika berasal dari


lontar Sutasoma karya Empu Tantular
yang menyatakan: Bhineka Tunggal
Ika, tan hana Dharma mangrwa,
maksudnya, berbeda itu satu, tidak
ada kebenaran (agama) mendua.
Jadi bangsa Indonesia itu walaupun
masyarakatnya
berbeda-beda
adat
budaya, bahasa, agama namun hanya
satu cita-citanya ialah membangun dan
mempertahankan
Negara
Republik
Indonesia berdasarkan Pancasila, ialah
Negara berdasar atas Ketuhanan Yang
Maha Esa (Pasal 29 (1) UUD 1945).

Kaidah-kaidah
kepribadian
bangsa
adalah jiwa hukum Indonesia, yaitu jiwa
hukum adat, yang kemudian diangkat
dan dijelmakan menjadi jiwa hukum
nasional dan dicantumkan dalam UUD
1945.
Dengan demikian maka budaya hukum
yang harus berlaku bagi seluruh rakyat
Indonesia dijiwai oleh ajaran-ajaran
Ketuhanan Yang Maha Esa bukan dijiwai
oleh kepentingan kebendaan seperti
halnya budaya hukum barat.

Lingkungan hukum adat (Rechtsringen)


Menurut Ter Haar ada 19 lingkungan hukum adat
Indonesia.
1. Aceh (Aceh Besar, Pantai Barat Aceh, Singkel,
Simeuleu)
2. Daerah-daerah Gayo, Alas dan Batak
A. Daerah Gayo (Gayo Lueus)
B. Daerah Alas
C. Daerah-daerah Batak (Tapanuli)
i. Tapanuli Utara
a. Batak Pakpak (Barus)
b. Batak Karo
c. Batak Simelungun
d. Batak Toba (Samosir, Balige, Laguboti,
Sumban Julu)

ii. Tapanuli Selatan


a. Padang Lawas (Tano Sapanjang)
b. Angkola
c. Mandailing (Sayurmatinggi)
2a. Nias (Nias Selatan
3. Daerah Minangkabau (Padang,
Agam, Tanahdatar, Limapuluh koto,
wilayah kampar, Kurinci).
Mentawai (orang-orang Pagai).

4. Sumatera Selatan.
A. Bengkulu (Rejang)
B. Lampung (Abung, Peminggir,
Pubian, Rebang, Gedongtataan,
Tulungbawang)
C. Palembang (Anak Lakitan, Jelma
Daya, Kubu, Pasemah, Semendo)
D. Jambi (penduduk Batin dan
penduduk Penghulu)
4a. Enggano

5. Daerah Melayu (Lingga-Riauw,


Indragiri, Sumatera Timur, orangorang Banjar)
6. Bangka dan Belitung
7. Kalimantan (Dayak, Kalimantan
Barat, Kapuas Hulu, Kalimantan
Tenggara, Mahakam Hulu, Pasir (Daya
Kenya,
Daya
Klemanten,
Daya
Landak dan Daya Tayan, Daya
Lawangan, Lepo Alim, Lepo Timei,
Long Glatt, Daya Maanyan Siung,
daya Ngaju, Daya Ot Danum, Daya
Penyabung Punan)

8. Minahasa (Menado)
9. Gorontalo (Bolaang Mongondouw,
Boalemo)
10. Daerah Toraja (Sulawesi Tengah,
Toraja, Toraja Baree, Toraja Barat, Sigi,
Kaili, Tawaili, Toraja Sadan, To Mori, To
Lainang, Kepulauan Banggai).
11. Sulawesi Selatan (orang-orang Bugis,
Bone, Gowa, Laikang, Poure, Mandar,
Makasar, Salaiar, Muna)
12. Kepulauan Ternate (Ternate, Tidore,
Halmahera, Tobelo, pulau-pulau Suda)

13. Maluku Ambon (Ambon, Hitu, banda,


pulau-pulau
Uliaser,
Saparua,
Buru,
Seram, pulau-pulau Kei, pulau-pulau Aru,
Kaisar)
14. Irian Barat
15. Kepulauan Timor (kepulauan Timor,
Timor, Timor Tengah, Mollo, Sumba,
Sumba Tengah, Sumba Timur, Kodi, Flores,
Ngada, Rote, Savu, Bima)
16. Bali dan Lombok (Bali, Tenganan
Pagringsingan, Kastala, Karang Asem,
Buleleng, Jembrana, Lombok, Sumbawa)

17. Jawa Tengah dan Jawa Timur serta


Madura
(Jawa
Tengah,
Kedu,
Purworejo, Tulungagung, Jawa Timur,
Surabaya, Madura).
18. Daerah-daerah Swapraja di Jawa
(Solo, Yogyakarta).
19. Jawa Barat (Priangan, daerahdaerah Sunda, Jakarta, Banten).

Pengertian Hukum Adat

Istilah Hukum Adat berasal dari katakata


Arab, Hukm dan Adah.
Hukm (jamaknya: Ahkam) artinya
suruhan atau ketentuan. Misalnya di
dalam Hukum Islam (Hukum Syariah)
ada lima macam suruhan (perintah) yang
disebut al-ahkam al-khamsah (Hukum
yang lima), yaitu fardh (wajib), haram
(larangan),
mandub
atau
sunnah
(anjuran), makruh (celaan) dan jaiz,
mubah atau halal (kebolehan).

Adah atau adat artinya kebiasaan, yaitu


perilaku masyarakat yang selalu terjadi. Jadi
Hukum Adat adalah Hukum Kebiasaan.
Di Eropa (Belanda) Hukum Adat dan Hukum
Kebiasaan itu sama artinya, yang disebut
gewoonte recht, yaitu adat atau kebiasaan
yang bersifat hukum yang berhadapan
dengan hukum perundangan (wettenrecht).
Tetapi di dalam sejarah perundangan di
Indonesia
antara
istilah
adat
dan
kebiasaan
itu
dibedakan,
sehingga
hukum adat tidak sama dengan hukum
kebiasaan.

Kebiasaan yang dibenarkan (diakui) di


dalam perundangan merupakan Hukum
Kebiasaan, sedangkan Hukum Adat adalah
hukum kebiasaan diluar perundangan.
Adat
kebiasaan
yang
diakui
dalam
perundangan
misalnya
pasal
1571
KUHPerdata (BW) menyatakan:
Jika sewa tidak dibuat dengan tulisan, maka
sewa itu tidak berakhir pada waktu yang
ditentukan, melainkan setelah satu pihak
memberitahukan kepada pihak yang lain
bahwa ia hendak menghentikan sewanya,
dengan mengindahkan tenggang waktu yang
diharuskan menurut kebiasaan setempat

Istilah h. adat yg mengandung arti kebiasaan


sudah lama dikenal di Indonesia, yi: pd masa
Kesultanan Iskandar Muda (1607-1892) dalam
Kitab Makuta Alam dan dalam Kitab Safinatul
Hukkam Fi Takhlisil Khassam (bahtera bagi
semua hakim dalam menyelesaikan semua
orang yg berkesumat) yg ditulis oleh Jalaludin
Bin Syeh Muhammad Kamaludin; dikatakan
bahwa dalam memeriksa perkara hakim harus
memperhatikan hukum syara, hukum adat, serta
adat dan resam. Kemudian istilah tsb dicatat oleh
Snouck Hurgronye (1893) dengan istilah Belanda
adat recht) kemudian digunakan oleh Van Vollen
hoven sehingga menjadi ilmu pengetahuan h.
adat.

Dengan demikian yang dimaksud


Hukum Adat adalah adat yang
mempunyai sanksi, sedangkan istilah
adat yang tidak mengandung
sanksi adalah kebiasaan yang
normatif, yaitu kebiasaan yang
berwujud aturan tingkah laku yang
berlaku di dalam masyarakat.

Pengertian adat menurut


masyarakat Minangkabau

Adat yang sebenarnya adat


ialah adat yang tidak lekang di panas
dan tak lapuk di hujan, yaitu adat
ciptaan Tuhan Maha Pencita. Jadi adat
yang dimaksud adalah perilaku
alamiah, karena sudah merupakan
ketetapan Tuhan yang tidak berubah,
sudah merupakan sifat perilaku yang
seharusnya demikian.

Adat istiadat
ialah adat sebagai aturan (kaidah) yang
ditentukan oleh nenek moyang (leluhur).
Adat mengandung arti kaidah-kaidah
aturan kebiasaan yang berlaku tradisional
sejak jaman poyang asal sampai ke anak
cucu di masa sekarang

Adat nan diadatkan


ialah adat sebagai aturan (kaidah) yang
ditetapkan atas dasar bulat mufakat
para penghulu, tua-tua adat, cerdik
pandai, dalam majelis kerapatan adat.

Adat nan teradat


ialah kebiasaan bertingkah laku yang
dipakai karena tiru-meniru di antara
anggota masyarakat. Karena perilaku
kebiasaan itu sudah terbiasa dipakai,
maka dirasakan tidak baik
ditinggalkan.

Pengertian adat menurut


masyarakat Bugis

Ade Pura Ouro


Ialah adat yang sudah tetap yang
tidak boleh diubah, karena sudah
disepakati bersama oleh raja dan
rakyat untuk dilaksanakan dan ditaati
yang telah dipersaksikan kehadapan
Dewata Yang Esa.

Ade Assituruseng
ialah adat yang ditetapkan atas
persetujuan antara raja dan rakyat, yang
dapat berubah apabila pelaksanaannya
masih bercacat atau karena tidak dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ade Maraja ri Arungngo


ialah adat yang berlaku bagi raja dan
para bangsawan, yang berasal dari ade
assiturusong, karena dianggap tidak ada
lagi cacatnya maka harus dilaksanakan
raja dan bangsawan.

Ade abiasang ri wanue


ialah adat yang berlaku bagi seluruh
rakyat atas dasar persetujuan bersama
yang tidak bercacat lagi dan harus
dilakssanakan seterusnya oleh rakyat.
Ade taro Anang
ialah adat yang lahir dari tua-tua desa
yang intinya: batal ketatapan raja tak
batal ketetapan Dewan Pemangku Adat,
batal ketetapan Dewan Pemangku Adat
tak batal ketetapan tua-tua adat, batal
ketetapan tua adat tak batal ketetapan
orang banyak. Keputusan rakyat lebih
lebih tinggi dari yg lain.

Menurut Prof. Dr. C Van


Vollen Hoven

H.A adalah aturan-aturan perilaku yg


berlaku bagi orang-orang pribumi dan
orang-orang timur asing, yg disatu
pihak mempunyai sanksi maka
dikatakan hukum dan dilain pihak tdk
dikodifikasi maka disebut adat.

Menurut Prof.Dr.B.Ter Haar Bzn

H.A , adalah keseluruhan aturan yg


menjelma dri keputusan-keputusan
para fungsionaris hukum dlm arti luas
yg mempunyai kewibawaan serta
mempunyai pengaruh dan yg dalam
pelaksanaan berlakunya serta merta
dan ditaati dengan sepenuh hati. Jadi
h.a adalah adat yg diputuskan oleh
para pertugas-petugas h.a.

Pendapat Ter Haar tsbt di atas dipengaruhi


oleh pendapat Jonh Chipman Gray dari
Inggris yg terkenal dgn teorinya all the
law is judge made law (semua hukum itu
adalah
hukum
keputusan
hakim),
sebagaimana berlaku di negara-negara
Anglo Saxon (Amerika Serikat, Afrika
Selatan) yg menganut sistem peradilan
preseden (para hakim wajib mengikuti
yurisprodensi keputusan hakim terdahulu.
Sistem ini bertentangan dgn sistem
peradilan Belanda di Indonesia yg
berpegang pd hukum kodifikasi.

Menurut
Prof. Mr. F.D Holleman

H.A, adalah tidak tergantung


pd
keputusan.
Bahwa
norma-norma
hidup yg disertai dgn sanksi dan jika
perlu
dpt
dipaksakan
oleh
masyarakat atau badan-badan ybs
agar ditaati dan dihormati oleh para
warga masy.

Menurut
Prof. Dr. J.H.A Logeman

H.Adat,
tidak
mutlak
sebagai
hukum
keputusan. Norma-norma yg hidup itu adalah
norma-norma
kehidupan
bersama,
yg
merupakan aturan-aturan perilaku yg harus
diikuti oleh semua warga dlm pergaulan hidup
bersama. Setiap norma yg berlaku mempunyai
sanksi, apapun dari yg sangat ringan sampai
yg berat, inilah disebut hukum. Ia tdk
sependapat dg van Vollen Hoven, adat dpt
dikatakan hukum adat bila ada putusan hakim.

Menurut
E. Adamson Hoebel

Tdk semua kebiasaan itu bersifat hukum, cirinya


adalah adanya sanksi sosial baik bersifat positf
(pengukuhan) maupun yg negatif (ancaman).
Bersifat pengukuhan: pujian kehormatan, tanda
jasa, medali, piagam, dll. Bersifat ancaman: ejek
cela, ditertawakan, jewir telinga, tdk diundang
slamatan,
upacara
adat,
gotong
royong,
disisihkan
pergaulan,
siksaan
tubuh,
diasingkan/dibuang
dari
kampung
tempat
tinggal. Dgn adanya sanksi-sanksi itu maka
norma sosial menjadi norma hukum.

Menurut L. POSPISIL, ahli


antropologi Universitas Yale AS

Berdasarkan hasil penelitiannya di Suku


Kapauku Irian Jaya thn 1953-1955, ada 4 ciri
hukum adat:
1. attribute of authority (otorita/kekuasaan);
menentukan bahwa aktivitas budaya dan hukum
adalah keputusan-keputusan melalui mekanisme
yg diberi wewenang dan kekeuasaan oleh masy.
Keptsn itu memecahkan ketegangan sosial yg
timbul adanya pelanggaran terhadap pribadi,
pelanggaran hak org lain, pelanggaran terhadap
penguasa dan keamanan umum.

Attribute 0f intention of universal


application. Ciri kelanggengan
berlaku bhaw keputusan-keputusan
itu berlaku dalam waktu yang
panjang dan berlaku terhadap
kasus-kasus yg sama di masa akan
datang.
3. Attribute of obligation. Ciri hak dan
kewajiban, bahwa keputusan itu
mendukung hak dan kewajiban yg
harus dipenuhi oleh pihak yg lain yg
masih hidup.
2.

CORAK HUKUM ADAT


1. Tradisional. Artinya bersifat turun
temurun dari nenek moyang sampai ke
anak cucu, sampai skrg masih berlaku
dipertahankan oleh masy ybs. Misalnya
sistem kekerabatan: adat org Batak, Bali
(Patrilinial),
Matrilinial (Minangkabau),
Bilateral (Jawa,Kalimantan, Sulawesi).
2. Keagamaan (Magis Religius)
3. Kebersamaan(komunal)
4. Konkret dan Visual

Konkret artinya jelas, nyata, berwujud. Visual artinya


dapat terlihat, tampak, terbuka, tidak tersembunyi.
Jadi sifat hubungan hukum yg berlaku dalam hukum
adat itu terang dan tunai, tidak samar-samar.
Misalnya dalam jual beli jatuh bersamaan waktunya
(samenval van momentum) antara pembayaran
harga dan penyerahan barangnya. Jika barangnya
sudah diterima pembeli tetapi harganya belum
dibayar maka itu bukan jual beli tetapi utang
piutang. Bila penjual dan pembeli sudah sepakat
harga & barang tetapi belum dibayar baru
diserahkan panjar
merupakan tanda jadi, maka
barangnya tidak boleh dijual kepada orang lain.

5.
6.
7.
8.

Terbuka dan sederhana.


Dapat berubah dan menyesuaikan
Tidak dikodifikasi
Musyawarah dan mufakat

4. Attributte of Sanction. Ciri penguat,


baahwa keputusan itu hrs
mempunyai sanksi dalam arti seluasluasnya, baik berupa sanksi
jasmaniah: hukuman badan,
penyitaan harta, maupun sanksi
rohani: rasa takut, malu, dibenci, dll.

SISTEM HUKUM ADAT

Sistimatika hukum adat mendekati


sistem hukum Inggris (Anglo Saxon)yg
disebut dgn sistem common Law.
Sistimatikanya berbeda dengan dgn
sistem civil law dari Eropa Kontinental.
H. Adat tidak mengenal perbedaan
antara h.publik dgn h.privat, hak
kebendaan dgn hak perorangan,
perkara perdata dgn perkara pidana .