Anda di halaman 1dari 133

PROYEK AKHIR

PEKERJAAN :
TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT. CIPTA KRIDATAMA
SIAMBUL, INDRAGIRI HULU, RIAU

STUDI KASUS :
Perencanaan Produksi dan Perhitungan Cadangan Batubara serta
Overburden Menggunakan Software Minescape Metoda Reserve Solids Pit S4
dan Pit S5 PT. Cipta Kridatama Jobsite Siambul, Indragiri Hulu, Riau

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


dalam Menyelesaikan Program D-3 Teknik Pertambangan

Oleh:
Aldrin Febriansyah
2010/16776

Konsentrasi
: Tambang Umum
Program Studi : D-3 Teknik Pertambangan

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2013
i

ii

iii

iv

BIODATA

I. Data Diri
Nama Lengkap
BP / NIM
Tempat / Tanggal Lahir
Jenis Kelamin
Nama Ayah
Nama Ibu
Jumlah Bersaudara
Alamat Tetap

:
:
:
:
:
:
:
:

Aldrin Febriansyah
2010 / 16776
Rengat, 25 Februari 1992
Laki-laki
Drs. Adriansyah
Drs. Dardanelly
3 (tiga) orang
Jl. Kerajinan no. 18 Rengat, Indragiri
Hulu, Riau.

:
:
:
:

SDN 7 Rengat
SMPN 1 Rengat
SMAN 1 Rengat
Universitas Negeri Padang

II. Data Pendidikan


Sekolah Dasar
Sekolah Menengah Pertama
Sekolah Menengah Atas
Perguruan Tinggi
III. Data Proyek Akhir
Tempat Kerja Praktek
Tanggal Kerja Praktek
Topik Studi Kasus

Tanggal Sidang PA

: PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul


: 7 Januari 2013 4 Maret 2013
: Perencanaan Produksi dan Perhitungan
Cadangan Batubara serta Overburden
Menggunakan Software Minescape
Metoda Reserve Solids Pit S4 dan Pit S5
PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul, Riau.
: 30 Mei 2013

Padang, 30 Mei 2013

(Aldrin Febriansyah)
2010/ 16776

RINGKASAN

PT. Riau Bara Harum merupakan suatu perusahaan swasta nasional,


bergerak di bidang pertambangan batubara yang terletak di daerah Kelesa
Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Wilayah PKP2B PT. Riau Bara Harum
seluas 24.450 Ha, yang memiliki kuasa pertambangan di koordinat 045 00
033 45.00 LS dan 10211 15.00 102 41 5.00 BT. PT. Riau Bara Harum
bekerja sama dengan PT. Cipta Kridatama untuk pengupasan overburden seluruh
pit PT. Riau Bara Harum.
Metode penambangan yang dipakai di PT. Cipta Kridatama adalah
Tambang Terbuka ( Open Pit ) dengan sistim strip mining dan back filling.
Menggunakan kombinasi alat-alat mekanis berupa alat gali, alat muat, dan alat
angkut. Bila material keras diperlukan ripper. Dalam melaksanakan proses
pengupasan overburden, PT. Cipta Kridatama menggunakan alat-alat berat milik
perusahaan sendiri.
Endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap di
permukaan tanah dengan kemiringan berkisar antara 5-10, dan ketebalan ratarata lebih dari 0,5m. Rencana penambangan pada daerah ini dilakukan dengan
metode tambang terbuka. Rancangan penambangan dan perhitungan cadangan
yang berbasis komputisasi dengan menggunakan software Minescape, untuk
rancangan yang baik dan terarah.
Berdasarkan model rancangan batubara, diketahui cadangan batubara di
daerah penelitian pada Blok Siambul adalah sebesar 2.108.453 ton, dan untuk
overburden adalah 33.045.379 BCM. Dalam kegiatan pengupasan lapisan
overburden, PT. Cipta Kridatama memiliki target produksi sebesar 23.665.400
BCM per tahun dan merencanakan target produksi sekitar 68.200 BCM per hari.
Setelah dilakukan perhitungan ulang, target untuk per tahun adalah 2013 adalah
25.102.461,6 BCM, dan untuk target produksi per hari adalah 69.729 BCM.

vi

ABSTRACT
PT. Riau Bara Harum to be a nacional private concern, sign in field coal
mining and that location in Kelesa, Indragiri Hulu, Riau. PT. Riau Bara Harums
PKP2B location have wide 24.450 Ha, that have coordinat mining controller in
045 00 033 45.00 LS dan 10211 15.00 102 41 5.00 BT. PT. Riau
Bara Harum to coorperate with PT. Cipta Kridatama to excavate overburden in all
pit PT. Riau Bara Harums.
Mine Method that use by PT. Cipta Kridatama is Open Pit with the system
are strip mining and back filling. To use combination mechanic tools like dig
tools, loading tools, and transport tools. If there are hard material, used ripper. In
excavate overburden, PT. Cipta Kridatama to use private tools.
Coal deposit that will mined there in surface, the dip to turn 5-10, and
have average thick more than 0,5 m. Mining plan in this area used open pit
method. Mining plan and reserve calculation that computation basic to used by
minescape software, to good plan and directed plan.
Based on coal mining plan model, knowed coal reserve calculation in
Siambuls block mining is 2.108.4553 ton. And to overburden is 33.045.379
BCM. In excavate overburden activity, PT. Cipta Kridatama have production
target 23.665.400 ton/year. And plan production target 68.200 BCM/day. After
used repeat calculation, production target to 2013 is 25.102.461,6 BCM., and to
production target 1 day is 69.729 BCM.

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
berkat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang
merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program D-III Jurusan Teknik
Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang.
Tugas Akhir ini berjudul Perencanaan Produksi dan Perhitungan
Cadangan Batubara serta Overburden Menggunakan Software Minescape
Metoda Reserve Solids Pit S4 dan Pit S5 PT. Cipta Kridatama Jobsite Siambul,
Indragiri Hulu, Riau. Tugas Akhir ini Penulis susun berdasarkan hasil Praktek
Lapangan Industri yang telah Penulis lakukan di PT Cipta Kridatama, yang
dimulai pada tanggal 7 Januari 2013 dan berakhir pada tanggal 4 Maret 2013.
Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima
kasih kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga
selesainya Tugas Akhir ini.
2. Kedua Orang Tua Penulis yang selalu memberikan dukungan hingga penulis
dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.
3. Bapak Drs. Bambang Heriyadi, MT selaku Ketua Jurusan Teknik
Pertambangan Universitas Negeri Padang.
4. Bapak Drs. Raimon Kopa, MT selaku koordinator kegiatan Praktek Lapangan
Industri.
5. Bapak Dedi Yulhendra, ST,. MT selaku Dosen Pembimbing Penulis.

viii

6. Bapak Benny Kusumobroto, Project Manager PT. Cipta Kridatama jobsite


Siambul, Kelesa, Siberida, Indragiri Hulu, Riau.
7. Bapak Dedy Ismanto, selaku Pembimbing Lapangan Penulis di PT. Cipta
Kridatama jobsite Siambul, Kelesa, Siberida, Indragiri Hulu, Riau.
8. Dept. PPnC PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul, Kelesa, Siberida, Indragiri
Hulu, Riau.
9. Seluruh staff dan karyawan Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Negeri
Padang.
10. Seluruh staff dan karyawan PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul, Kelesa,
Siberida, Indragiri Hulu, Riau.
11. Serta rekan-rekan yang telah membantu dalam penyelesaian laporan tugas
akhir.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Tugas Akhir ini masih terdapat
banyak kekurangan, oleh karena itu sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak demi kesempurnaan Tugas Akhir ini.
Akhirnya Penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi
kita semua.

Padang, 30 Mei 2013

Aldrin Febriansyah

ix

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN PROYEK AKHIR .......................................

ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN PROYEK AKHIR ...........................

iii

SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT ...........................................

iv

BIODATA .....................................................................................................

RINGKASAN ...............................................................................................

vi

ABSTRAK ....................................................................................................

vii

KATA PENGANTAR .................................................................................

viii

DAFTAR ISI ................................................................................................

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................

xiv

DAFTAR TABEL ........................................................................................

xvi

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

xvii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang Masalah ..................................................................

1.1.1. Latar belakang Masalah .........................................................

1.1.2. Lokasi dan Kesampaian Lokasi .............................................

1.1.3. Iklim dan Curah Hujan ..........................................................

1.1.4. Keadaan Geologi ...................................................................

1.1.5. Kondisi Daerah Kelesa ...........................................................

1.1.6. Peralatan Pengupasan Overburden dan Target Produksi


Overburden ............................................................................

15

1.2. Identifikasi Masalah .......................................................................

16

1.3. Pembatasan Masalah ......................................................................

17

1.4. Rumusan Masalah ..........................................................................

17

1.5. Tujuan Penelitian ............................................................................

18

1.6. Manfaat Penelitian ..........................................................................

18

BAB II KAJIAN TEORITIS


2.1. Sifat Fisik Material .........................................................................

19

2.2. Proses Land Clearing, Pengupasan Top soil serta Pengupasan


Overburden .....................................................................................

23

2.3. Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan .........................................

27

2.4. Konsep Pemodelan Sumberdaya ...................................................

34

2.5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Cadangan ...................

35

2.6. Sistem Penambangan .......................................................................

36

2.6.1. Open Pit .................................................................................

36

2.6.2. Strip Mining ...........................................................................

37

2.7. Teori Strip, Panel, Block, dan Solids ...............................................

38

2.8. Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan Batubara .........................

39

2.9. Faktor Pembatas Penentuan Cadangan Tertambang .......................

41

2.10. Perancangan Tambang Menggunakan Software Minescape .........

43

2.11. Pemodelan Endapan Batubara dan Overburden menggunakan


Software Minescape ......................................................................

46

2.11.1. Topo Model ...........................................................................

47

2.11.2. Schema ..................................................................................

48

xi

2.11.4. Countur .................................................................................

48

2.11.5. Quality ...................................................................................

48

2.12. Konsep Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan Menggunakan


Software Minescape .......................................................................

50

2.13. Konsep Penentuan Kondisi Batas Untuk Perhitungan


Cadangan .......................................................................................

51

BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH


3.1. Jadwal Kegiatan ..............................................................................

53

3.2. Jenis Studi Kasus ............................................................................

53

3.3. Jenis Data ........................................................................................

54

3.4. Metodologi Pengambilan Data .......................................................

55

3.5. Metode Analisis Data .....................................................................

55

BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Pemodelan Endapan Batubara Mengunakan Software
Minescape .......................................................................................

57

4.2. Perhitungan Cadangan Batubara dan Overburden Menggunakan


Software

Minescape....................................................................

59

4.2.1. Pembuatan Blok Penambangan menggunakan software


Minescape .............................................................................

60

4.2.2. Pembuatan Solids menggunakan software minescape ..........

62

4.2.3. Perhitungan Cadangan .........................................................

63

4.3. Perhitungan Rencana Jam Kerja (Work Hours) ..............................

66

xii

4.4. Kebutuhan Alat ...............................................................................

67

4.5. Perhitungan Target Produksi ..........................................................

68

4.6. Analisa Target Produksi .................................................................

69

BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan .....................................................................................

78

5.2. Saran ...............................................................................................

79

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

80

LAMPIRAN

xiii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1

: Peta Kesampaian Daerah.........................................................

Gambar 1.2

: Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul PT. RBH ................

Gambar 1.3

: Peta Kontur Topografi 3D Blok Siambul PT. RBH ................

Gambar 1.4

: Peta Geologi Blok Siambul .....................................................

14

Gambar 2..1

: Land Clearing ........................................................................

23

Gambar 2.2

: Pengupasan Top Soil ...............................................................

25

Gambar 2.3

: Pengupasan Overburden .........................................................

26

Gambar 2.4

: Dispossal Area ........................................................................

27

Gambar 2.5

: Modifying Factor ....................................................................

29

Gambar 2.6

: Open Pit ..................................................................................

37

Gambar 2.7

: Strip Mining ............................................................................

38

Gambar 2.8

: Penentuan Final Pit Limit .......................................................

52

Gambar 4.1

: Peta Kontur Struktur Pit S4 dan Pit S5 ..................................

58

Gambar 4.2 : Situasi Lider Blok Siambul 31 Desember 2013 .....................

59

Gambar 4.3 : Plan PT. CK 2013 ...................................................................

60

Gambar 4.4 : Blok Pit S4 dan Blok Pit S5 .....................................................

62

Gambar 4.5 : Solids Pit S4 dan Solids Pit S5 .................................................

63

xiv

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1

: Jarak Titik Informasi Berdasarkan Kondisi Geologi ................

29

Tabel 2.2

: Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral SNI ...............

31

Tabel 3.1

: Jadwal Kegiatan Januari - Maret................................................

53

Tabel 4.1

: Total Tonase Batubara, Overburden dan SR Pit S4 ..................

64

Tabel 4.2

: Total Tonase Batubara, Overburden dan SR Pit S5 ..................

65

Tabel 4.3

: Work Hours ................................................................................

67

Tabel 4.4

: Kebutuhan Alat ..........................................................................

68

Tabel 4.5

: Target Produksi 2013 ..................................................................

69

xv

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran A

: Peta Provinsi Riau ................................................................. A-1

Lampiran B : Peta Geologi Kelesa dan Blok Konsesi RBH .........................


Lampiran C

: Data Curah Hujan, Jam Hujan, dan Hari Hujan CK-RBH


Siambul ...................................................................................

Lampiran D

B-1

C-1

: Analisa Perkiraan Curah Hujan .............................................. D-1

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perkembangan dunia pertambangan di Indonesia semakin meningkat,
hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya kebutuhan akan hasil dari
pertambangan baik dari segi industri maupun untuk memenuhi kebutuhan
hidup manusia. Salah satu hasil bahan galian tambang yang cukup
meningkat penggunaanya adalah batubara. Selain digunakan untuk industri,
batubara juga digunakan sebagai bahan dasar untuk menghasilkan listrik
(PLTU). Apalagi sekarang cadangan minyak bumi mulai menipis sehingga
mulai digalakkan batubara sebagai pengganti bahan bakar. Dikarenakan
semakin meningkatnya kebutuhan akan batubara sehingga mulai digalakkan
pencarian-pencarian cadangan baru batubara. Provinsi Riau merupakan
salah satu penghasil batubara di Indonesia, dimana hasil produknya selain
digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga untuk memenuhi
permintaan kebutuhan luar negeri.
1.1.1. Deskripsi Perusahaan
PT Cipta Kridatama yang didirikan pada tahun 1997 adalah
pembesaran dan perluasan dari sebuah Divisi peralatan & Bisnis penyewaan
PT. Trakindo Utama yang berfokus pada pihak & Jasa Penambangan.

Didukung oleh lebih oleh lebih dari 27000 karyawan, PT. Cipta
Kridatama memiliki lebih dari 14 lokasi di seluruh Indonesia dan masih
akan terus berkembang.
PT Cipta Kridatama dan PT. Riau Bara Harum bekerjasama untuk
melakukan kegiatan penambangan pada jobsite Siambul, Kecamatan
Siberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Peta Provinsi Riau dapat
dilihat pada lampiran A.
Dengan kontrak selama 5 tahun, terhitung mulai tanggal 5 maret 2012
hingga 5 tahun yang akan datang. PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul
merupakan perusahaan kontraktor yang bergerak dibidang civil, mining, dan
process engineering yang dipercaya oleh PT. Riau Bara Harum selaku
pemegang kontrak karya untuk melakukan seluruh kegiatan penambangan
dengan menggunakan metode open pit dengan sistem back filling dan strip
mining.
PT. Cipta Kridatama jobsite RBH memiliki struktur organisasi yang
kompleks, yang bertujuan untuk kemudahan pengawasan kegiatan industri,
baik di lingkungan kantor maupun di lingkungan site penambangan sesuai
dengan kompentensi yang dimiliki tenaga kerja sehingga terciptanya
kegiatan yang teratur, efisien dan menguntungkan. Struktur organisasi PT.
Cipta Kridatama jobsite Siambul dapat dilihat pada Lampiran B.
1.1.2. Peta Kesampaian Lokasi
Secara administratif PKP2B PT. Riau Bara Harum berada di wilayah
Desa Kelesa, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.

Luas PKP2B PT. Riau Bara Harum adalah 24.450 Ha. Secara geografis
lokasi PKP2B PT. Riau Bara Harum terletak pada 042 93 043 45.00
LS dan 102 26 15.00 BT 102 28 5.00 BT. Jarak Pekanbaru hingga
Desa Kelesa sekitar 400 Km, dan jarak Desa Kelesa hingga lokasi
penyelidikan kurang lebih sekitar 5 Km. Daerah penyelidikan dapat dicapai
dari kota Pekanbaru melalui transportasi darat sekitar 5 jam. Peta
kesampaian daerah PT. Riau Bara Harum dapat dilihat pada gambar 1.1
dibawah ini.

Sumber : PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul

Gambar 1.1 Peta Kesampaian Daerah

1.1.3. Iklim dan Curah Hujan


Lokasi atau daerah penyelidikan PKP2B PT. Riau Bara Harum
memiliki curah hujan tropis ditandai adanya pergantian dua musim yaitu
musim hujan (September - Februari) dan musim kemarau (Maret - Agustus).
Intensitas curah hujan bervariasi dari rendah sampai tinggi dengan durasi
waktu pendek (singkat) - sampai panjang (lama).
Berdasarkan data meterologi, dapat secara umum diketahui temperatur
rata-rata tahunan berkisar antara 28-31C dan fluktuasi temperatur dan 34C dan kelembaban udara rata-rata tahunan 80%, sedangkan kelembaban
pagi sekitar 90% dan sore sekitar 70%. Berdasarkan data curah hujan
selama sebelas tahun (2002-2012), curah hujan tahunan di daerah
penyelidikan berkisar antara 2732,60 s/d 3081,85 mm/tahun. Sedangkan
jumlah hari hujan berkisar antara 168 hari s/d 209 hari dengan rata-rata 188
hari. Tabel Curah Hujan daerah Kelesa dapat dilihat pada Lampiran C.
1.1.4. Keadaan Geologi
Pulau Sumatera berlokasi antara 3 LU sampai 6 LS dan 96 BT
sampai 106 BT. Pada zona tengah dari rangkaian Bukit Barisan terdapat
cekungan antar pegunungan, misalnya endapan Mampun Pandan dan
Ombilin. Susunan pengendapan daerah Muara Bungo dimulai dari Formasi
Talang Akar dengan umur Oligosen yang terendapkan secara tidak selaras
di atas batuan dasar granit Mezosoik (Simanjuntak, 1984). Peta Geologi
Kelesa dan Blok Konsesi RBH Daerah perjanjian disusun oleh 5 satuan
sedimen tersier (menurun makin tua) :

Alluvium (Qa), terdiri dari pasir, lanau, dan lempung, yang diendapkan
oleh sungai-sungai besar.

Formasi Kasai (QTk), terdiri dari tufa, tufa pasiran dan batupasir tufaan
mengandung batu apung (pumice). Umur formasi ini diduga PlioPleistosen, diendapakan pada lingkungan daratan. Ketebalan beragam dari
200 dan sampai lebih 500 meter.

Formasi Muara Enim (Tmpm), merupakan perselingan dari batu lempung


dengan batu lanau dan serpih, dengan interkalasi dari batulempung
gampingan padat dan lanau kuarsa. Formasi ini diendapkan pada
lingkungan laut dangkal berumur Miosen Tengah sampai Akhir. Ketebalan
berkisar antara 500 meter sampai 1.000 meter.

Formasi Gumai (Tmg), terdiri dari batu lempung dan serpih dengan
interkalasi batu gamping, batu lanau, batu pasir, batu lanau tufaan, dan
nodul-nodul gampingan. Lingkungan pengendapan adalah laut terbuka
yang agak dalam (neritik) pada saat genang laut. Formasi Gumai berumur
miosen Awal sampai Tengah. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter
sampai mendekati 850 meter.

Formasi Talang Akar (Tomt), terdiri dari batupasir konglomeratan,


batupasir berbutir kasar sampai halus, batulanau, batulanau gampingan dan
serpih. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan daratan sampai laut
dangkal dan berumur Miosen Akhir sampai Oligosen. Ketebalan formasi
ini dari beberapa meter sampai mendekati 1.000 meter.

1.1.5. Kondisi Daerah Kelesa


A. Topografi
Pada daerah penelitian sumberdaya batubara siambul umunya
mempunyai ketinggian berkisar dari 20 meter sampai 320 meter dengan
beda tinggi sampai 50 meter, dan kearah utara dari daerah batubara
ketinggian permukaannya mencapai 130 meter dengan beda tinggi
mencapai 50 meter sehingga daerah ini bisa dikategorikan berbukit
sedang. Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul PT. Riau Bara Harum
dapat dilihat pada gambar 1.2.

Sumber : PT. Cipta Kridatama Jobsite Siambul

Gambar 1.2 Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul PT. Riau Bara Harum

Setelah diperoleh data koordinat topografi, dilakukan interpolasi


pada perangkat lunak Minescape membentuk garis-garis kontur
dilanjutkan dengan pemodelan bentuk tiga dimensi, dengan pembuatan
triangle atau bidang-bidang yang menghubungkan garis-garis kontur
topografi. Bagian barat lokasi penelitian memiliki bentuk topografi
lebih tinggi dibandingkan dengan sebelah timur lokasi penelitian. Peta
Topografi 3D Blok Siambul PT. Riau Bara Harum dapat dilihat pada
gambar 1.3.

Gambar 1.3 Peta Topografi 3D Blok Siambul PT. Riau Bara Harum

B. Morfologi
Secara fisiografi daerah penelitian PT. Riau Bara Harum
termasuk dalam wilayah Pegunungan Tigapuluh yang merupakan
perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah timur dan utara
dengan ketinggian bervariasi mulai dari 20 m sampai yang paling tinggi
320 m dari permukaan air laut. Kemiringan lereng di daerah penelitian
antara 5-50%. Perbukitan ini dikelilingi dataran yang sebagian besar
berupa dataran rawa, pasang surut yang pelamparannya terletak di
sebelah timur perbukitan bergelombang. Kelerengan daerah termasuk
landai dan aliran sungai yang deras. Fenomena tersebut mencirikan
stadia sungai yang tua dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan
dari vertikal. Pegunungan Tigapuluh mempunyai dua anak sungai yaitu
Sungai Canako dan Sungai Gangsal. Sungai Canako mempunyai dua
anak sungai utama yaitu Sungai Alin dan Antam. Sedangkan Sungai
Gansal mempunyai empat anak sungai yaitu Sungai Akar, Sungai
Kerintang, Sungai Renteh dan Sungai Selesen. Pola aliran sungai
umumnya dendritik dibagian hulu anak sungainya. Arah umum sungaisungainya adalah Timurlaut, kecuali Sungai Antam mempunyai arah
barat laut. Sungai Alin dan sungai bagian hulu Sungai Gangsal
mempunyai arah ke utara.
C. Kondisi Sungai
Pola aliran sungai didaerah penelitian deposit batubara daerah
Kelesa bisa dikelompokan menjadi tiga yakni pola aliran rectangular,

dendritik, dan trellis. Pola aliran rektangular berkembang dibagian barat


daerah rencana tambang dengan bentuk sungai patah-patah dan
dijumpai beberapa kelurusan dengan sungai Canako sebagai sungai
utamanya. Pola aliran dendritik berkembang disebelah timur daerah
rencana tambang dengan bentuk sungai menyerupai pohon. Sungai
Akar merupakan sungai utama. Pola aliran trellis berkembang di daerah
tengah daerah penelitian dengan sungai sekunyam sebagai sungai
utama.
D. Geologi Batubara Daerah Kelesa
Berdasarkan Geological Map Of Kelesa Subdistrict dan Rbhs
Block Concession (A Part Of Gelogical Map Of Rengat Quadrangel,
Sumatera ,1994). Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian
dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra Tersier, Tersier
hingga Kuarter.
Litologi penyusun di daerah penyelidikan dapat dikelompokan
menjadi tiga yakni :
1) Kelompok batuan Pra Tersier yang terdiri atas:
Batuan Pra Tersier di daerah penyelidikan disusun dari
beberapa formasi, yaitu:
a. Formasi Gangsal (Pcg)
Terdiri dari batusabak, filit, batusabak berbintik, batupasir
termetamorfkan dan kuarsir.

10

b. Formasi Pengabuhan (Pcp)


Terdiri dari batu pasir sela, greyweke kuarsit, dan batulanau,
setempat dengan butiran kerakalan, di beberapa tempat berubah
menjadi hornfels.
c. Formasi Mentulu (Pcm)
Berupa Tuff, batu lempung tufaan dan batu pasir tufaan, tuff
andesit sampa tuff basalt, kelabu sampai coklat, keras dan forfiri.
d. Granit Akar (Rjg)
Terdiri dari granit, granodiorit, pegmatit, dan apilit dijumpai di
sekitar Sungai Akar dengan warna lapukan jernih hingga merah.
Secara stratigarfi Formasi Gangsal, Formasi Pengabuan dan
Formasi Mentulu saling bersilang jari (membaji). Ketiga formasi
tersebut diterobos oleh intrusi granit.
2) Kelompok batuan berumur Tersier yang terdiri dari :
Batuan Tersier yang ada di daerah penyelidikan disusun sari
beberapa formasi:
a. Formasi Kelesa (Teok)
Secara tidak selaras Formasi Kelesa di atas batuan batuan Pra
Tersier, formasi ini terdiri dari konglomerat, atau breksi, batupasir
kerikilan, tufaan, yang disisipi batu lempung, serpi dan batubara.
Lapisan batubara dalam formasi ini memperlihatkan bentuk sifatsifat hitam mengkilat tidak mengotori tangan, keras dan ringan.

11

b. Formasi Lakat (Toml)


Bagian atas terdiri dari batu pasir kuarsa dan batu lempung
lanauan atau karbonatan dengan bintil pyrit dan kayu terkresikan,
bagian bawah terdiri dari konglomerat polemik dan batu kuarsa
dengan batu lempung, tuff, batu lanau dan sisipan serta lensa
lensa batubara.
c. Formasi Tualang (Tmt)
Formasi Tualang melampar luas selaras di atas Formasi Lakat dan
menjari (membaji) dengan satuan batuan yang relatif diatasnya.
Bagian atas terdiri dari batupasir kuarsit, batulempung, batu
lumpur puritan dan batupasir gloukonit. Bagian bawah terdiri dari
batu lempung dan batu pasir kuarsa, setempat gampingan dan
lanauan dengan bintil batupasir gampingan juga mengandung
glaukonit dan mika.
d. Formasi Gumai (Tmg)
Tersusun oleh serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir
dan batulumpur. Pada bagian atas dan tengah umumnya karbonan
atau gamping dengan bintil dan lensa mikrit yang mengandung
banyak foraminifera.
e. Fomasi Air Benakat (Tma)
Secara stratigrafi Formasi Air Benakat dan Formasi Muaraenim
saling bersilang jari. Formasi Air Benakat terdiri selang seling

12

batu lempung, batu pasir, serpih dan batu lanau dengan sisipan
batu pasir tufaan, lensa- lensa kuarsa dan lignit.
f. Formasi Muara Enim. (Tmpm)
Terdiri dari perselingan batu pasir tufaan berbutir sedang- halus
dengan batu lempung tufaan, serpi tufaan dan tufa, abu-abu
kehitaman, kecoklatan, dan kemerahan, serpi tufaan dengan
sisipan lensa batubara dan kayu karbonan.
g. Formasi Kerumutan ( Qtke)
Formasi Kerumutan diendapkan secara selaras di atas Formasi
Muara Enim, terdiri dari batupasir kuarsa, halus sampai sedang,
batu lempung tufaan, tufa setempat lempung pasiran, tufaan
kerikilan, kelabu muda kemerahan, setempat silang siur .
3) Endapan Kuarter
Batuan pada Endapan Kuarter di daerah penyelidikan disusun
dari beberapa formasi :
a. Formasi Kasai (Qtk)
Secara stratigrafi Formasi Kasai terendapakan secara tidak selaras
di atas batuan berumur Tersier, yang terdiri dari batupasir kuarsa
dan tufaan, tuff, batulempung tufaan, batupasir tufaan berukura
sedang sampai gravel, berwarna abu-abu terang sampai abu-abu
kecoklatan setempat silang siur, dengan sisipan kayu karbonan

13

b. Endapan Rawa (Qs)


Terdiri dari lempung, pasir, lanau, lumpur, dan gambut berwarna
hitam sampai coklat, lunak tidak mengeras.
c. Aluvium (Qac)
Berupa lempung, lumpur, lanau pasir, kerakal, dan berangkal
berwarna kelabu, hitam sampai coklat tidak mengeras dengan sisa
tumbuan dan lapisan tipis gambut tersebar merata.
E. Struktur Geologi Regional
Daerah penyelidikan terletak di Cekungan Sumatera Tengah yang
berkaitan erat dengan tektonik yang terjadi akibat penujaman busur
samudera. Penujaman di sebelah barat Sumatera terjadi pada Perm yang
kemudian diikuti dengan pembentukan busur gunung api Tersier sampai
Resen. Cekungan Sumatera Tengah merupakan bagian dari gunung api
ini yang terletak bagian busur belakang yang terdiri dari batuan metamorf
berumur Permokarbon dan sedimen Tersier sampai Kuarter. Struktur
geologi di daerah ini terbentuk oleh tektonik pada Jura Kapur berupa
kelanjutan orogenesa Thai Malaysia diikuti oleh pengangkatan
perbukitan Tigapuluh pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Hal
tersebut berkaitan dengan pengangkatan busur Gunung Api Bukit
Barisan. Tektonik berikutnya terjadi pada Oligosen Awal dan
mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran batuan Tersier yang
terbentuk sebelumnya. Pada Mio Pliosen terjadi pengangkatan dan
regresi sehingga batuan-batuan pada Formasi Tulang, Gumai dan Air

14

Benakat terangkat diikuti oleh pengendapan Formasi Muara Enim.


Berdasarkan pengamatan Citra SAR (Side Airborn Radar), struktur
geologi yang terbentuk akibat tektonik di cekungan Sumatera Tengah
berupa antiklin dan sesar sesar yang berarah baratlaut-tengara, timurlautbaratdaya. Peta Geologi Blok Siambul dapat dilihat pada gambar 1.4.

Sumber : PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul

Gambar 1.4 Peta Geologi Blok Siambul

15

1.1.6. Peralatan Pengupasan Overburden dan Target Produksi Overburden


PT. Cipta Kridatama Siambul Mine Project mengerjakan 2 buah pit
yaitu pit S4 dan pit S5. Pada pit S4 dan pit S5 mempunyai target produksi
perbulannya untuk mencapai target pertahunnya. Untuk mencapai target
produksi pengupasan overburden PT. Cipta Kridatama mengoperasikan 10
unit Excavator sebagai alat muat, yaitu 1 unit Hitachi 2500, 7 unit Hitachi
1200, 2 unit Cat 390D. Alat muat yang beroperasi akan melayani 41 unit alat
angkut, yaitu 4 unit OHT (Off Heighway Truck) Cat 777, 11 OHT unit Cat
773D, 21 OHT unit Cat 775F, dan 5 unit ADT (Articulated Dump Truck)
Cat 740.
Untuk mencapai target rencana produksi tersebut, maka diperlukan
perhitungan cadangan dan perencanaan produksi untuk mencapai target
produksi satu tahun. Target produksi pengupasan overburden PT. Cipta
Kridatama untuk tahun 2013 adalah 23.665.400 BCM/tahun dan untuk target
rata-rata perbulannya adalah 68.200 BCM/tahun.
Tetapi dalam dalam perhitungan cadangan dan perencanaan produksi
antara PT. Riau Bara Harum selaku owner dan PT. Cipta Kridatama selaku
kontraktor terjadi perbedaan selisih target deviasi volume produksi. Hal ini
dikarenakan pencapaian target produksi overburden ini tergantung kepada
beberapa faktor, antara lain:
1.

Jumlah alat berat yang digunakan

2.

Metode penambangan

3.

Kondisi jalan tambang

16

4.

Iklim dan curah hujan

5.

Jarak tempuh antara tempat pengupasan overburden dan disposal area

6.

Efisiensi kerja alat


Dari kegiatan praktek yang penulis lakukan dan dilihat dilapangan,

ternyata terjadi perbedaan perhitungan volume penambangan antara PT.


Riau Bara Harum selaku owner dan PT. Cipta Kridatama selaku kontraktor.
Melihat kondisi di atas, penulis berkeyakinan bahwa perbedaan
perhitungan target deviasi volume produksi dikarenakan adanya kesalahan
perhitungan, sehingga dibutuhkan perhitungan ulang untuk perhitungan target
deviasi volume produksi dan perencanaan produksi pengupasan overburden
untuk meningkatkan produksi PT. Cipta Kridatama.
Berdasarkan hal tersebut, maka dalam Tugas Akhir ini penulis
menjadikannya sebuah kasus dengan judul Perencanaan Produksi dan
Perhitungan Cadangan Batubara serta Overburden Menggunakan
Software Minescape Metoda Reserve Solids Pit S4 dan Pit S5 PT. Cipta
Kridatama Jobsite Siambul, Indragiri Hulu, Riau .
1.2. Identifikasi Masalah
Perhitungan cadangan dan perencanaan produksi penambangan
dibutuhkan agar didapatkan total jumlah cadangan dan target produksi
penambangan per bulan hingga per tahun sehingga terciptanya kegiatan
penambangan yang terencana. Masalah dalam penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut :

17

a) Bagaimana menghitung cadangan overburden dan batubara untuk PT.


Cipta Kridatama Jobsite Siambul pit S4 dan pit S5 dengan
menggunakan software Minescape.
b) Bagaimana menghitung target produksi dengan estimasi menggunakan
work hours planning untuk mendapatkan target produksi per tahun,
per bulan dan per hari.
1.3. Pembatasan Masalah
Adapun batasan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a) Perhitungan cadangan batubara dan overburden 2013 PT. Cipta
Kridatama Jobsite Siambul pit S4 dan pit S5 dengan menggunakan
software Minescape metoda reserve solid.
b) Perhitungan rencana jam kerja dan target produksi 2013 PT. Cipta
Kridatama Jobsite Siambul.
1.4. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah yang telah
diuraikan di atas maka untuk lebih terarahnya penelitian ini, maka penulis
merumuskan permasalahan ditinjau dari beberapa aspek diantaranya:
1. Bagaimana cara dan metoda perhitungan cadangan batubara dan
overburden menggunakan software minescape metoda reserve solids?
2. Bagaimana cara perhitungan rencana jam kerja untuk merencanakan
target produksi PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul untuk tahun 2013?

18

1.5. Tujuan Penelitian


1) Menghitung cadangan batubara dan overburden untuk PT. Cipta
Kridatama dan PT. Riau Bara Harum jobsite Siambul.
2) Menghitung rencana target produksi dari rencana jam kerja, sehingga
terjadinya kegiatan penambangan yang terencana yang akan diterapkan
oleh PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul untuk kegiatan penambangan
pada tahun 2013. Rancangan perhitungan cadangan ini menggunakan
software Minescape pada jobsite Siambul di pit S4 dan pit S5.
1.6. Manfaat Penelitian
a) Dapat menghitung cadangan batubara dan overburden yang terdapat
jobsite Siambul khususnya pit S4 dan pit S5.
b) Dapat menghitung rencana jam kerja tahun 2013.
c) Dapat menghitung target produksi optimal per tahun, per bulan, maupun
per hari untuk tahun 2013.
d) Dapat diketahui rancangan perencanaan produksi penambangan yang
baik dan benar, sehingga dapat memelihara aspek konservasi terhadap
cadangan batubara sekaligus dapat memberikan keuntungan optimal
terhadap perusahaan. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk
memajukan pengetahuan dalam bidang komputisasi tambang.

BAB II
KAJIAN TEORITIS

2.1. Sifat Fisik Material


Beberapa sifat fisik material yang penting untuk diperhatikan dalam
pekerjaan pemindahaan tanah adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan material
Pengembangan material adalah perubahan berupa penambahan atau
pengurangan volume material (tanah) yang berubah dari bentuk aslinya.
Dari faktor tersebut bentuk material dibagi dalam 3 keadaan yaitu:
a) Keadaan asli (Bank Condition)
Keadaan material yang masih alami dan belum mengalami
gangguan teknologi disebut keadaan asli (bank). Dalam keadaan seperti
ini butiran-butiran yang dikandungnya masih terkonsolidasi dengan
baik. Ukuran tanah demikian biasanya dinyatakan dalam ukuran bank
measure atau Bank Cubic Meter (BCM) yang digunakan sebagai dasar
perhitungan jumlah pemindahan tanah.
b) Keadaan Gembur (Loose Condition)
Yaitu keadaan tanah setelah diadakan pengerjaan. Material yang
tergali dari tempat asalnya akan mengalami perubahan volume
(mengembang). Hal ini disebabkan adanya penambahan rongga udara

19

20

diantara butiran-butiran tanah. Dengan demikian volumenya menjadi


lebih besar. Ukuran volume tanah dalam keadaan lepas biasanya
dinyatakan dalam loose measure atau Loose Cubic Meter (LCM).
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa LCM mempunyai nilai yang
lebih besar dari BCM.
c) Keadaan Padat (Compact)
Keadaan padat adalah keadaan tanah setelah ditimbun kembali
dengan disertai usaha pemadatan. Perubahan volume terjadi karena
adanya penyusutan rongga udara diantara partikel-partikel tanah
tersebut. Dengan demikian volumenya berkurang, sedangkan beratnya
tetap. Ukuran volume tanah dalam keadaan padat biasanya dinyatakan
dalam compact measure atau Compact Cubic Meter (CCM).
2. Berat Material
Berat adalah sifat yang dimiliki oleh setiap material. Kemampuan
suatu

alat

berat

untuk

melakukan

pekerjaan

seperti

mendorong,

mengangkut, dan lain-lain, akan dipengaruhi oleh berat material tersebut.


Berat material ini akan berpengaruh terhadap volume yang diangkut atau
didorong oleh alat berat. Pada saat sebuah dump truck mengangkut tanah
dengan berat 1,5 ton/m3, alat dapat bekerja dengan baik. Tetapi pada saat
mengangkut tanah seberat 1,8 ton/m3, ternyata alat berat mengalami beban
berat sehingga alat berat terlihat berat mengelindingkan rodanya.

21

3. Bentuk Material
Faktor ini berpengaruh terhadap banyak sedikitnya material tersebut
dapat menempati suatu ruangan tertentu. Apabila material dengan kondisi
butiran beragam, kemungkinan besar isinya dapat sama (senilai) dengan
volume ruangan yang ditempatinya. Sedangkan material yang berbongkahbongkah akan lebih kecil dari nilai volume ruangan yang ditempati. Oleh
karena itu, pada material jenis ini akan berbentuk rongga-rongga udara yang
memakan sebagian besar isi ruangan.
4. Kohesivitas (Daya Ikat) Material
Kohesivitas material adalah daya lekat atau kemampuan saling
mengikat diantara butir-butir material itu sendiri. Sifat ini jelas berpengaruh
terhadap alat, misalnya pengaruhnya terhadap spillage factor (faktor
pengisian). Material dengan kohesivitas tinggi akan mudah menggunung,
dengan demikian apabila material itu berada pada suatu tempat, akan
munjung. Volume material yang menempati ini ada kemungkinan bisa
melebihi volume ruangan, misalnya tanah liat. Sedangkan material dengan
kohesivitas rendah, misalnya pasir, apabila menempati suatu ruangan akan
sukar menggunung, melainkan permukaannya cenderung rata.
5. Kekerasan Material
Material keras akan lebih sukar dipecahkan, digali atau dikupas oleh
alat berat. Hal ini akan menurunkan produktivitas alat. Batuan dalam
pengertian earth moving terbagi dalam 3 batuan dasar, yaitu:

22

a.

Batuan beku

: sifat keras, padat, pejal dan kokoh.

b.

Batuan sedimen

: merupakan perlapisan dari yang lunak hingga

keras.
c.

Batuan metamorf

: umumnya perlapisan dari yang keras, padat dan

tidak teratur.
Pengukuran kekerasan tanah dapat dilakukan dengan cara ripper,
seismic (suara atau getaran), dan soil investigation drill (pengeboran).
6. Daya Dukung Tanah
Daya dukung tanah didefenisikan sebagai kemampuan tanah untuk
mendukung alat yang ada di atasnya. Jika suatu alat berada di atas tanah,
maka alat tersebut akan memberikan ground pressure, sedangkan
perlawanan yang diberikan oleh tanah adalah daya dukung. Jika pressure
alat lebih besar dari daya dukung tanah, maka alat tersebut akan terbenam.
Demikian pula sebaliknya, alat akan berada dalam keadaan aman untuk
dioperasikan apabila pressure alat lebih kecil dari daya dukung tanah
dimana alat tersebut berada. Hal ini perlu dicermati oleh setiap pelaksanaan
di lapangan untuk menghindari kerugian yang akan diderita oleh
perusahaan.

23

2.2. Proses

Land

Clearing,

Pengupasan

Topsoil

serta

Pengupasan

Overburden
1. Pembersihan Lahan (Land Clearing)
Land Clearing adalah pembersihan lahan area penambangan dari
pepohonan ataupun semak belukar yang dapat mengganggu aktivitas
penambangan. Pepohonan (tidak berbatang kayu keras) yang dipisahkan
ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai humus pada saat pelaksanaan
reklamasi. Gambar proses Land Clearing dapat dilihat pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Land Clearing

24

2. Pengupasan Tanah Pucuk (Topsoil)


Pengupasan topsoil adalah pengupasan tanah pucuk yang bersifat
humus. Biasanya top soil berada 0-0,5 m dari permukaan tanah. Tanah
humus ini dilestarikan agar tidak hilang unsur haranya, gunanya untuk
kegiatan reklamasi pada akhir kegiatan penambangan. Pengupasan Top
Soil ini dilakukan sampai batas lapisan subsoil, yaitu pada kedalaman
dimana telah sampai di lapisan batuan penutup (tidak mengandung unsur
hara). Tanah pucuk yang telah terkupas selanjutnya ditimbun dan
dikumpulkan pada lokasi tertentu yang dikenal dengan istilah Top Soil
Bank. Untuk selanjutnya tanah pucuk yang terkumpul di Top Soil Bank
pada saatnya nanti akan dipergunakan sebagai lapisan teratas pada lahan
disposal yang telah berakhir dan memasuki tahapan program reklamasi.
Sehingga daerah bekas lahan tambang dapat dipergunakan seperti
sebelum kegiatan penambangan berlangsung seperti untuk kegiatan
perkebunan, lapangan olahraga, hutan lindung, dan lain-lain. Gambar
pengupasan top soil dapat dilihat pada gambar 2.2 di halaman 25 .

25

Gambar 2.2 Pengupasan Top Soil


3. Pengertian Kegiatan Pengupasan Lapisan Penutup
Pengupasan Overburden adalah pengupasan tanah penutup yang
bersifat tidak humus yang menutupi perlapisan batubara. Overburden
adalah tanah penutup awal sebelum ditemukannya seam batubara awal.
Interburden adalah tanah penutup diantara dua buah seam. Gambar
kegiatan pengupasn lapisan tanah penutup (overburden) dapat dilihat
pada gambar 2.3 di halaman 26.

26

Gambar 2.3 Pengupasan Overburden


Pengertian kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup yaitu
pemindahan suatu lapisan tanah atau batuan yang berada di atas
cadangan bahan galian, agar bahan galian tersebut menjadi tersingkap.
Untuk mewujudkan kondisi kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup
yang baik diperlukan alat yang mendukung dan sitematika pengupasan
yang baik. Dalam pengupasan overburden di PT. Cipta Kridatama
menggunakan metoda konvensional. Yaitu menggunakan kombinasi alatalat pemindahan tanah mekanis (alat gali, alat muat, alat angkut) seperti
kombinasi antara Bulldozer, Wheel Loader, dan Dump Truck. Bila
material tanah penutup lunak bisa langsung menggunakan alat gali muat,
sedangkan apabila materialnya keras mungkin digemburkan terlebih
dahulu menggunakan Ripper, baru kemudian dimuat dengan alat muat ke
alat angkut, dan selanjutnya diangkut ke tempat pembuangan atau

27

disposal area menggunakan alat angkut. Lokasi salah satu disposal area
PT. Cipta Kridatama dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4 Disposal Area


2.3. Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan
Kriteria dan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dapat dijelaskan
dengan pengadopsian data klasifikasi dari United Nation Economic and
Social Council (1997). Adapun pembagian sumberdaya (Resource) dan
cadangan (reserve) berdasarkan klasifikasi sebagai berikut :
a). Sumberdaya Batubara Hipotetik (hypothetical coal resource)
Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah
penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syaratsyarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan survey tinjau.

28

b). Sumberdaya Tereka (inferred coal resource)


Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah
penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syaratsyarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan penyelidikan prospeksi.
c). Sumberdaya Tertunjuk (indicated coal resource)
Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah
penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syaratsyarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan.
d). Sumberdaya Terukur (measured coal resource)
Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah
penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syaratsyarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi rinci.
e). Sumberdaya Terkira (probable coal resource)
Sumberdaya batubara tertunjuk dan sebagian sumberdaya terukur, tetapi
berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi
sehingga hasil kajian dinyatakan layak.
f). Cadangan terbukti (proved coal reserve)
Sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua
faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan
layak.
Alur dari kriteria sumberdaya hingga dapat dikatakan dan berpotensi
menjadi cadangan dapat dilihat pada gambar Modifying Factor pada gambar
2.5 pada halaman 29.

29

Sumber : JORC Code, 2004

Gambar 2.5. Modifying Factor


Klasifikasi sumberdaya batubara merupakan upaya pengelompokan
sumberdaya batubara sesuai keyakinan geologi dan kelayakan ekonomi.
Persyaratan jarak titik informasi untuk setiap kondisi geologi dan kelas
sumberdaya diperlihatkan pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Jarak Titik Informasi Berdasarkan Kondisi Geologi

Sumber : BSN 199

30

Tahap eksplorasi batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya dan


cadangan dikutip dari Standar Nasional Indonesia (1999), dilaksanakan
melalui empat tahap yaitu:
1) Survei Tinjau
Merupakan tahap eksplorasi paling awal dengan tujuan mengidentifikasi
daerah daerah yang secara geologis terdapat endapan batubara yang
potensial untuk penyelidikan lebih lanjut serta mengumpulkan informasi
tentang kondisi geografi, tataguna lahan, serta kesampaian daerah.
Kegiatan penyelidikan antara lain studi geologi regional, penaksiran,
penginderaan jauh, dan metode tak langsung lainnya serta inspeksi
lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala
sekurang-kurangnya 1 : 100.000.
2) Prospeksi
Kegiatan pada tahap ini antara lain : Pemetaan geologi dengan skala
minimum 1 : 50.000, pengukuran penampang stratigrafi, pembuatan
paritan, pembuatan sumuran, pemboran uji, percontoan dan analisis.
3) Eksplorasi Pendahuluan
Tahap eksplorasi ini dimaksud untuk mengetahui gambaran awal bentuk
tiga dimensi endapan batubara meliputi ketebalan lapisan, bentuk,
korelasi, sebaran, struktur, kuantitas dan kualitas. Kegiatan penyelidikan
antara lain: pemetaan geologi dengan skala minimum 1:10.000,
pemetaan topografi, pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi
geologi, penampang geofisika, pembuatan sumuran.

31

4) Eksplorasi Rinci
Tahap eksplorasi ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas
serta model tiga dimensi endapan secara lebih rinci.
Tabel Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral SNI dapat
dilihat pada tabel 2.2.
Tabel 2.2. Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral SNI

Sumber : Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral Standar Nasional Indonesia 1997

32

Dalam penetapan cadangan selain parameter penetapan sumber daya


(Standar Nasional Indonesia, 1997) maka harus ditambahkan parameter :
1. Aspek teknik
a.

Sistim penambangan
Perlu

dipertimbangkan

mengenai

pemilihan/penerapan

sistim

penambangan, apakah tambang terbuka, bawah tanah, hydraulic, dan


sebagainya karena sangat tergantung pada jenis dan variasi bahan
galian,

hal

ini

akan

berpengaruh

pada

mineable

reserves

dan recovery penambangan nantinya.


Pada penambangan secara terbuka, perlu mempertimbangkan adanya
kemungkinan dilakukan penambangan bawah tanah, berdasarkan
keberadaan dan penyebaran bahan galian, agar recovery penambangan
lebih besar. Perlu dipertimbangkan kemungkinan ada sistem
penambangan lanjutan, untuk meningkatkan perhitungan jumlah
cadangan.
b. Sistim pengolahan dan pemurnian
Sistim pengolahan dan pemurnian harus menggunakan teknologi yang
tepat

karena

rangkaian

proses

produksi

yang

efisien

dapat

meningkatkan nilai cadangan.


c. Sistim pengangkutan
Sistim pengangkutan harus menggunakan metode yang tepat
dan dilakukan secara efektif dan efisien untuk mengurangi kehilangan

33

material selama pengangkutan sehingga dapat meningkatkan nilai


recovery.
d. Nisbah Pengupasan (SR)
Nisbah pengupasan harus diupayakan sebesar mungkin dengan
meningkatkan

penggunaan

metode

dan

teknologi

peralatan

penambangan yang lebih efisien serta dilakukannya pengawasan yang


efektif.
e. Kadar Batas Rata-rata Terendah (COG)
Penetapan nilai COG harus diupayakan serendah mungkin dengan
mengupayakan penggunaan teknologi penambangan/pengolahan yang
lebih efektif dan efisien.
2. Aspek ekonomi
a. Infrastruktur
Keberadaan dan kelengkapan infrastruktur harus diuraikan secara rinci
dan jelas seperti tersedianya sarana, jalan, listrik, jaringan pemasaran
karena bisa mempengaruhi kelas cadangan.
b. Tenaga kerja
Komposisi dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan harus
dipertimbangkan sesuai dengan keahlian.
c. Harga komoditas bahan galian
Penetapan harga awal komoditas dilakukan pada saat penetapan
cadangan pada waktu itu. Fluktuasi harga komoditas di pasar domestik

34

dan internasional dapat mempengaruhi kelas sumber daya dan


cadangan.
d. Jenis produk sampingan dan produk akhir
Perlu diperhitungkan jenis produk sampingan yang bernilai ekonomis
pada saat itu dan produk akhir, apakah berupa material langsung atau
produk pengolahan.
e. Nilai dan prospek bahan galian
Perlunya dilakukan kajian nilai dan prospek bahan galian agar
diperoleh hasil prediksi secara cermat.
3. Aspek Sosial
Perlunya

informasi

rencana

pengelolaan

dan

penanganan

lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku diantaranya : limbah,


tanah penutup, air keluaran tambang, penurunan kualitas air permukaan,
amblesan, longsor, penanganan tailing, reklamasi, dll.
4. Aspek hukum
Semua kegiatan usaha pertambangan harus mematuhi perundangan
yang berlaku dan hukum adat setempat.
2.4. Konsep Pemodelan Sumberdaya
Pemodelan sumberdaya yang dibuat merupakan pendekatan dari
kondisi geologi, pemodelan tersebut memberikan :
1) Taksiran jumlah sumberdaya batubara (tonnase).
2) Perkiraan bentuk tiga dimensi sumberdaya batubara, jumlah cadangan
dengan kaitannya dengan perhitungan umur tambang.

35

3) Batas-batas kegiatan penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran


sumberdaya.
4) Hasil perhitungan stripping ratio.
2.5. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Cadangan
1) Densitas
Densitas batubara merupakan perbandingan berat dan volume dalam satu
satuan. Densitas ini ikut mempengaruhi jumlah cadangan batubara itu
sendiri, karena jumlah cadangan berbanding lurus dengan volume dan
densitas tersebut.
2) Daerah Pelapukan
Daerah pelapukan adalah suatu daerah dimana lapisan batubara yang ada
mengalami pelapukan sehingga lapisan batubara ini ikut mempengaruhi
jumlah cadangan dan biasanya dianggap sebagai lapisan tanah penutup.
3) Faktor Koreksi
Nilai faktor koreksi ini didapat berdasarkan keadaan topografi daerah
penyelidikan, struktur geologi yang bekerja di daerah tersebut, erosi yang
terjadi, jarak antar lubang bor, dan faktor lain-lain yang ikut
mempengaruhi jumlah cadangan batubara. Untuk mendapatkan jumlah
cadangan pasti, total tonase dikalikan dengan nilai faktor koreksi yang
telah dikurangi dengan total persentase (100 %).

36

2.6. Sistem penambangan


2.6.1. Open Pit
Open pit mining adalah penambangan secara terbuka dan pengertian
umum. Metode ini dilakukan dengan cara mengupas terlebih dahulu lapisan
material penutup batubara kemudian dilanjutkan dengan menambang
batubaranya. Gambar visual dari tata cara kegiatan sistem penambangan
tambang terbuka (open pit) dapat dilihat pada gambar 2.6.

Sumber : Google.com

Gambar 2.6 Open Pit


Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara
yang mempunyai lapisan tebal dengan arah batubara miring kebawah dan
dilakukan dengan mengunakan beberapa bench (jenjang).

37

2.6.2. Strip Mining


Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara
yang lapisannya datar dan dekat dengan permukaan tanah. Kegiatan
penambangan dilakukan dengan cara menggali tanah penutup yang dibuang
pada daerah yang tidak di tambang. Setelah endapan batubara dari hasil
galian pertama diambil, kemudian disusul dengan pengupasan berikutnya
yang sejajar dengan pengupasan pertama dan tanah penutupnya dibuang
ketempat penggalian pertama. Untuk pemilihan metode ini perlu
diperhatikan bahwa :
a. Bahan galian relatif mendatar
b. Bahan galian cukup kompak
c. Bahan galian tabular, berlapis
d. Kemiringan relatif, lebih cocok untuk horizontal atau sedikit
miring
e. Kedalaman kecil (nilai ekonomi tergantung stripping ratio,
teknologi peralatan)
Gambar visual dari tata cara sistem penambangan Strip Mining dapat
dilihat pada gambar 2.7.

38

Sumber : Google.com

Gambar 2.7. Strip Mining


2.7. Teori Strip, Panel, Blok, dan Solid
Endapan batubara dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil,
yaitu pit (tambang), panel, strip dan blok, solid.
a. Pit
Penambangan batubara dibagi menjadi beberapa pit untuk memudahkan
pelaksanaan kegiatan penambangan, pembangian pit terutama didasarkan
pada pencapaian target produksi akan nilai kalori dari batubara yang akan
ditambang.
b. Strip
Pembagian bakal blok penambangan yang berpatok pada arah strike
batubara. Panjang dan lebar setiap strip bisa diatur sesuai dengan luasan
yang diinginkan.

39

c. Panel
Pembagian bakal blok penambangan yang berpatok pada arah dip
batubara. Panjang dan lebar setiap panel bisa diatur sesuai dengan luasan
yang diinginkan.
d. Blok
Blok merupakan perpotongan antara panel dan strip sehingga membentuk
persegi dengan luasan perpotongan antara strip dan panel.
e. Solid
Solid adalah suatu object 3D yang terdiri dari suatu rangkaian polygon
yang saling berpotongan yang membentuk dan menutup object tersebut
menjadi bentuk blok 3D. Solid dibuat dengan cara memproyeksikan batter
block terhadap suatu surface atau suatu bench tertentu.
2.8. Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan Batubara
Secara umum, pemodelan dan perhitungan cadangan batubara dan
overburden memerlukan data-data dasar sebagai berikut :
a. Peta Topografi
b. Data penyebaran singkapan batubara
c. Data dan sebaran titik bor
d. Peta geologi lokal
e. Peta situasi dan data-data yang memuat batasan-batasan alamiah
seperti aliran sungai, jalan, perkampungan, dan lain-lain.
Data penyebaran singkapan batubara berguna untuk mengetahui
cropline batubara, yang merupakan posisi dimana penambangan dimulai.

40

Dari pemboran diperoleh hasil berupa data elevasi atap (roof) dan lantai
(floor) batubara. Peta situasi dan data-data yang memuat batasan-batasan
alamiah berguna untuk menentukan batas (boundry) perhitungan cadangan.
Endapan batubara yang tidak dapat dihitung karena batasan-batasan alamiah
tersebut tidak diperhitungkan dalam perhitungan cadangan.
Dari data-data dasar tersebut akan dihasilkan data olahan, yaitu data
dasar yang diolah untuk mendapatkan model endapan batubara secara 3
(tiga) dimensi untuk selanjutnya akan dilakukan perhitungan cadangan
endapan batubara. Data olahan tersebut terdiri atas :
1) Peta Isopach; merupakan peta yang menunjukan kontur penyebaran
ketebalan batubara. Data ketebalan batubara pada peta ini merupakan
tebal sebenarnya yang dapat diperoleh dari data bor, uji paritan, uji
sumur, atau dari singkapan. Peta ini juga dapat disusun dari kombinasi
peta iso kontur struktur. Selain itu tujuan penyusunan peta ini adalah
untuk

menggambarkan

variasi

ketebalan

batubara

dibawah

permukaan.
2) Peta kontur struktur; menunjukan kontur elevasi yang sama dari top
atau bottom batubara. Untuk elevasi top atau bottom batubara
diperoleh dari data bor. Peta kontur struktur berguna untuk
mengetahui arah jurus masing-masing seam batubara, sekaligus
sebagai dasar untuk menyusun peta.

41

3) Peta Iso Kualitas; menunjukan kontur hasil analisis parameter kualitas


batubara. Peta ini berguna untuk menentukan daerah-daerah yang
memenuhi syarat kualitas untuk ditambang.
4) Peta Iso Overburden; menunjukan kontur ketebalan overburden yang
sama. Ketebalan tersebut dapat diperoleh dari data bor atau dari data
peta iso struktur dimana ketebalan overburden dapat dihitung dari
perpotongan kontur iso struktur dengan kontur topografi. Peta Iso
overburden cukup penting sebagi dasar evaluasi cadangan selanjutnya,
dimana ketebalan tanah penutup ini dapat digunakan sebagai batasan
awal dari penentuan pit potensial.
5) Penampang geologi; Disusun dari kombinasi antara peta cropline
batubara dengan data pemboran (log bor). Perlapisan batubara disusun
dengan melakukan interpolasi antar data seam pada setiap titik bor
yang berdekatan. Garis penampang sebaiknya selalu diusahakan tegak
lurus jurus cropline batubara. Selanjutnya penampang seam batubara
berguna untuk memudahkan perhitungan

sumberdaya sekaligus

cadangan batubara dengan metoda mean area. Selain itu juga


digunakan untuk menghitung cadangan tertambang (mineable reserve)
dengan memasukan asumsi sudut lereng dengan SR.

2.9. Faktor Pembatas Dalam Penentuan Cadangan Tertambang


Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa tidak mungkin akan
diperoleh cadangan tertambang 100% dari cadangan insitu, dimana akan
terjadi dilution sepanjang tahap penambangan. Sebelum mulai menghitung

42

suatu nilai cadangan tertambang, maka faktor utama yang harus


dikuantifikasi, yaitu Faktor Losses.
Faktor Losses yaitu faktor-faktor kehilangan cadangan akibat tingkat
keyakinan geologi maupun akibat teknis penambangan. Beberapa faktor
losses (Simanjuntak, 1994) adalah :
a. Geological Losses, yaitu faktor kehilangan akibat adanya variasi
ketebalan, parting, maupun pada saat pengkorelasian lapisan batubara.
b. Mining Losses, yaitu faktor kehilangan akibat teknis penambangan,
seperti faktor alat, faktor safety, dll.
c. Processing Losses, yaitu faktor kehilangan akibat diterapkannya
metoda pencucian batubara atau kehilangan pada proses lanjut di
Stockpile.
Faktor-faktor pembatas pada umumnya sudah cukup jelas. Dalam
penerapannya, faktor-faktor pembatas tersebut akan menjadi Pit Limit dalam
panambangan. Sedangkan faktor-faktor losses diterapkan pada saat proses
perhitungan cadangan, dan dapat dikuantifikasi besar nilai losses tersebut.
Berikut akan diuraikan contoh cara pengkuantifikasian faktor losses
tersebut.
a. Geological Losses
Biasanya untuk kemudahan, langsung diambil nilai umum yaitu 5
10%. Namun dapat juga dengan memperhatikan pola variasi ketebalan
batubara, yaitu dengan bantuan analisis statistik. Parameter statistik yang

43

dapat digunakan adalah : standard deviasi, koefisien variasi, atau standard


error.
b. Mining Losses
Secara umum, untuk metoda Strip Mining digunakan mining losses
sebesar 10%, sedangkan untuk tambang bawah tanah digunakan mining
losses sebesar 40-50% yaitu (metoda Long Wall mempunyai Recovery 6070%, metoda Room & Pillar mempunyai Recovery 50-60%), untuk auger
mining digunakan mining losses sebesar 60-70% (atau Recovery 30-40%
sesuai dengan spesifikasi perlatannya). Untuk metoda Strip Mining (open
pit), kadang-kadang juga digunakan pendekatan ketebalan lapisan yang
akan ditinggalkan, yaitu 10 cm pada roof & 10 cm pada floor. Jika
ketebalan lapisan hanya 1 m, maka Mining Losses = 20%., sedangkan jika
ketebalan lapisan adalah 2 m maka Mining Losses = 10%., dan jika
ketebalan lapisan adalah 5 m maka Mining Losses = 4%.
c. Processing Losses (yield)
Sangat tergantung pada hasil uji ketercucian (washability test),
dimana harga perolehan (yield) ditentukan dari hasil uji tersebut.

2.10. Perancangan tambang menggunakan software MineScape


Dalam perancangan tambang digunakan perangkat lunak minescape.
Sebelum melakukan perancangan tambang, perlu dilakukan pemodelan
geologi, baik topografi maupun struktur lapisan endapan batubara.
Pemodelan geologi ini bertujuan untuk mendapatkan data dalam melakukan
penaksiran cadangan batubara, yang memenuhi syarat untuk dilakukan

44

penambangan. Perangkat lunak minescape digunakan agar mempermudah


proses pemodelan geologi, maupun dalam penaksiran sumberdaya dan
cadangan batubara, dan memilih daerah yang lebih prospek sehingga
menghasilkan proses penambangan yang layak. Sesuai batasan stripping
ratio yang ditetapkan. Minescape merupakan software mining system
terpadu yang dirancang khusus untuk pertambangan. Minescape mampu
meningkatkan semua aspek informasi teknis suatu lokasi tambang mulai
dari data eksplorasi, perancangan tambang jangka pendek, penjadwalan
jangka panjang dan sampai ke penjadwalan produksi tambang. Beberapa
sub menu dari perangkat lunak Minescape yang digunakan untuk melakukan
perancangan tambang, yaitu :
1) Stratmodel
Setelah pembuatan peta topografi, dilanjutkan dengan pengolahan
data pemboran collar, yang meliputi: nama titik bor, koordinat titik bor,
elevasi titik bor, kedalaman lubang bor, ketebalan dan nama seam batubara
yang didapat dari hasil log bor, data litologi meliputi: nama titik bor,
lapisan atas (roof), kedalaman lapisan bawah (floor), nama seam, batubara
yang dapat dari hasil log bor dan data lotologi.
Dalam pengolahan data pemboran, juga disertakan data kualitas
batubara yang meliputi: nama titik bor, nama seam batubara, kedalaman
lapisan atas (roof) kedalaman lapisan bawah (floor), relative density, total
moisture, inherent moisture, total sulphur, kandungan abu (ash), dan
calorific value atau kalori batubara. Hasil pengolahan data lubang bor dan

45

data kualitas batubara tersebut menghasilkan gambar subcrop line batubara


yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop bagian floor
batubara pada lapisan dibawah topografi atau surface. subcrop line ini
digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui
daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara.
Penaksiran jumlah cadangan yang dapat ditambang pada daerah
penelitian dilakukan dengan lebih detail, sehingga diharapkan dapat
menghasilkan jumlah cadangan batubara yang mineable cukup besar untuk
memenuhi target produksi. Pemodelan geologi selanjutnya yakni
pembentukan kontur struktur batubara lapisan bawah (floor) sebagai acuan
perhitungan jumlah cadangan batubara yang layak ditambang dan
pembuatan desain geometri penambangan. Pembuatan kontur struktur
dilakukan pada setiap seam batubara. Pertama dilakukan interpolasi data
pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor)
kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentuk triangle
dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. Hasil dari
pembuatan kontur struktur bagian bawah lapisan batubara (floor)
merupakan tampilan perlapisan batubara yang berbentuk bidang yang
membatasi lapisan batubara bagian bawah dengan lapisan batuan atau
interburden. Untuk data pemboran dan peta titik log bor tidak dibahas
dalam penelitian ini dikarenakan tidak diberikannya data pemboran dan
peta titik bor tersebut. Dalam penelitian ini hanya diberikan data kontur

46

struktur dari pihak owner. Peta kontur struktur pada software MineScape
dapat dilihat pada lampiran
2) Open Cut
Merupakan salah satu aplikasi yang terdapat dakam minescape untuk
pembuatan desain geometri penambangan. Desain geometri penambangan
dilakukan setelah mendapatkan daerah yang memiliki stripping ratio
sesuai dengan yang telah ditetapkan. Daerah-daerah tersebut kemudian
dibentuk menjadi blok-blok penambangan dengan penamaan missal : Blok
01, Blok 02, dan seterusnya. Setiap blok-blok tersebut dibatasi oleh
poligon dengan luasan

yang berbeda-beda.

Batas luas wilayah

penambangan (pit limit) dan batas elevasi penambangan dapat ditentukan.


2.11. Pemodelan Endapan Batubara dan Overburden menggunakan Software
Minescape
Tahapan kegiatan dan pemodelan endapan batubara dapat dilakukan
dengan menggunakan software minescape. Pemodelan dengan software
minescape ini dilakukan dengan modul Stratmodel.
Stratmodel didasarkan pada prinsip umum stratigrafi terutama tentang
urutan lapisan yang diendapkan pada suatu periode tertentu yang menerus
atau selaras. Urutan lapisan selaras dalam stratmodel dikenal dengan istilah
conformable sequence. Secara stratigrafi conformable sequence adalah
merupakan suatu paket endapan yang mempunyai karakteristik stratigrafi
dan struktural yang sama. Startmodel dapat membuat suatu model geologi

47

yang terdiri dari beberapa conformable sequence yang selaras maupun tidak
satu dengan lainnya.
Dalam software minescape untuk tahapan pekerjaan model geologi
terdiri atas bebrapa tahapan sebagai berikut :
a. Validasi Data
b. Topo Model
c. Schema
d. Patahan (jika ada)
e. Model
f. Pemerikasaan Model
Dalam Software minescape data yang diperlukan antara lain :
a. Data Topografi
b. Data pemboran / Collar
c. Data Quality (jika ada)
d. Data Fault / patahan (jika ada)
e. Data Outcrop / singkapan / Boundary (jika ada)
2.11.1. Topo Model
Topo model merupakan surface topografi yang akan
digunakan sebagai batas paling atas dalam permodelan. Surface topo
yang digunakan dapat berupa surface dari grid, triangle, expression,
dan lain-lain.

48

Tahapan pembuatan topo model adalah sebagai berikut :

Memasukan data topo kedalam design

Membuat sheet spesification

Membuat grid spesification

Membuat grid file

Interpolasi data ke dalam grid

2.11.2. Schema
Schema

berfungsi

untuk

mendefinisikan

stratigafi

dan

parameter-parameter model yang akan digunakan sebagai dasar


pembuatan model stratigafi. Definisi stratigafi dan model parameter
dalam schema dapat diubah-ubah atau dapat dibuat dalam berbagai
rancangan schema.
2.11.3. Contour
Contour merupakan tampilan garis kontur dari setiap interval
yang didefinisikan dalam schema. Dapat dibuat dari modul
stratmodel dam dibuat untuk setiap interval maupun surface.
2.11.4. Quality
Quality adalah definisi untuk menentukan semua parameter
yang berhubungan dengan suatu nilai kualitas batubara tertentu dan
akan diakses oleh semua modul minescape yang berhubungan
dengan quality.

49

Beberapa unsur Quality menurut (Modifying Factor), antara lain :


a. Kalori
Kalori merupakan indikasi kandungan nilai energi yang terdapat pada
batubara, dan merepresentasikan kombinasi pembakaran dari karbon,
hidrogen, nitrogen, dan sulfur.
b. Kadar Kelembaban
Kadar kelembaban mempengaruhi jumlah pemakaian udara primernya,
pada batubara dengan kandungan uap tinggi akan membutuhkan udara
primer lebih banyak guna mengeringkan batubara tersebut.
c. Zat Terbang
Kandungan zat terbang mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan
intensitas nyala api.
d. Kadar abu dan Komposisi
Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui ruang
bakar dan daerah konveksi dalam bentuk abu terbang atau abu dasar.
Sekitar 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu
terbang. Semakin tinggi kandungan abu dan tergantung komposisinya
mempengaruhi tingkat pengotoran (fouling), keausan dan korosi
peralatan yang dilalui.
e. Kadar Karbon
Nilai kadar karbon diperoleh melalui pengurangan angka 100 dengan
jumlah kadar air (kelembaban), kadar abu, dan jumlah zat terbang. Nilai
ini semakin bertambah seiring dengan tingkat pembatubaraan. Kadar

50

karbon dan jumlah zat terbang digunakan sebagai perhitungan untuk


menilai kualitas bahan bakar, yaitu berupa nilai fuel ratio sebagaimana
dijelaskan di atas.
f. Kadar Sulfur
Kandungan sulfur berpengaruh terhadap tingkat korosi sisi dingin yang
terjadi pada elemen pemanas udara, terutama apabila suhu kerja lebih
rendah dari letak embun sulfur, disamping berpengaruh terhadap
efektifitas penangkapan abu pada peralatan electrostatic precipator.
g. Ukuran Batubara
Ukuran butir batubara dibatasi pada rentang butir halus dan butir kasar.
h. Tingkat Ketegerusan
Kinerja pulveriser atau mill dirancang pada nilai HGI tertentu. Untuk
HGI lebih rendah, kapasitasnya harus beroperasi lebih rendah dari nilai
standarnya pula untuk menghasilkan tingkat kehalusan (fineness) yang
sama
2.12. Konsep Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan Menggunakan
Software Minescape
Penghitungan cadangan dilakukan dengan aplikasi modul Open Cut,
dengan beberapa tahapan, yaitu :
a. Penentuan Pit Potensial
b. Pembuatan blok tambang dengan spesifikasi tertentu
c. Penghitungan cadangan per blok tambang
d. Akumulasi cadangan seluruh blok

51

Dalam menentukan jumlah cadangan per blok tambang, aplikasi


modul Open cut menggunakan tahapan sebagai berikut :
1) Perhitungan luas area batubara per blok
Luas areal yang dihitung merupakan luas areal yang memiliki seam
batubara, sedangkan daerah yang tidak memiliki batubara tidak
dihitung.
2) Penghitungan volume batubara per blok
Luas areal tersebut akan dikalikan dengan ketebalan sebenarnya (true
thickness) dari seam batubara sehingga didapat volume seam batubara
per blok.
3) Penghitungan insitu mass per blok
Volume batubara per blok akan dikalikan dengan relatif density blok
yang didapat dari quality model.
2.13. Konsep Penentuan Kondisi Batas Untuk Perhitungan Cadangan
Geometri lereng merupakan salah satu faktor penting dalam
perhitungan cadangan. Hal ini berkaitan dengan perhitungan ekonomi
cadangan bahan galian tersebut. Penentuan pit limit, desain pit, serta besar
sudut lereng yang dibuat merupakan faktor-faktor yang perlu diperhatikan.
Untuk menentukan pit limit, dapat digunakan perhitungan stripping ratio.
Dengan melihat volume overburden yang harus dikupas untuk mendapatkan
tonase batubara, maka diketahui pada pit limit mana yang menghasilkan
keuntungan.

52

Pit limit sebagai salah satu kondisi batas untuk perhitungan cadangan
perlu didefinisikan dengan menggunkan model. Gambar 2.8 menunjukan
cara menggunakan pit limit untuk mendapatkan final pit dengan
memperhitungkan faktor ekonomi. Perhitungan dilakukan secara berulangulang

hingga

mendapatkan

stripping

ratio

yang

sesuai.

Dengan

mengekspresikannya dalam suatu model, maka geometri pit limit dapat


diubah-ubah untuk menghasilkan stripping ratio yang diinginkan. Gambar
Penentuan Final Pit Limit dapat dilihat pada gambar 2.8.

Sumber : Hustrulid, 1995

Gambar 2.8 Penentuan Final Pit Limit

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jadwal Kegiatan


Studi Kasus ini dilakukan di PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul.
Waktu pelaksanaan selama 54 hari yaitu dimulai dari tanggal 7 Januari 2013
sampai 4 Maret 2013 sesuai dengan jadwal yang tercantum dalam Tabel 5.
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Januari - Maret

3.2. Jenis Studi Kasus


Penelitian

ini

merupakan

penelitian

terapan

yang dilakukan

berdasarkan analisis teori, pengumpulan data dan dianalisis dengan


menggunakan rumus berdasarkan kajian teori sehingga menjadi sebuah bahan
penelitian yang relevan.

53

54

3.3. Jenis Data


a. Data Primer : Rancangan Teknis Penambangan
Rancangan Teknis Penambangan berupa kegiatan pengambilan
data

yang

diperlukan

yang

dilakukan

selama

kegiatan

teknis

penambangan berlangsung, seperti :


1) Tata letak Pit Penambangan nyata dilapangan.
2) Batas Boundry penambangan nyata dilapangan.
3) Pembagian blok penambangan dilapangan.
4) dll
b. Data Sekunder. Data sekunder yang penulis dapatkan di PT. Cipta
Kridatama, seperti :
1) Data kontur struktur
2) Data peta topografi
3) Deta geologi regional
4) Curah hujan dan work hours plan.
Untuk data log bor, pihak owner tidak memberikan ke pihak
kontraktor ataupun penulis. Penulis hanya mendapatkan data kontur
struktur, sehingga untuk perhitungan cadangan batubara menggunakan
minescape langsung kepada perhitungan, tidak dilakukan permodelan
cadangan.
Data peta topografi diberikan berupa situasi pit penambangan
terupdate, dalam penelitian ini diberikan data situasi 31 desember 2012
untuk perhitungan volume overburden.

55

Rencana jam kerja tahun 2012 diberikan oleh pihak perusahaan


untuk kemudian dianalisis ulang untuk mendapatkan rencana jam kerja
tahun 2013.

3.4. Metode Pengambilan Data


a. Studi Literatur
Dilakukan dengan mengumpulkan berbagai referensi kepustakaan
mengenai perhitungan cadangan menggunakan minescape metoda reserve
solids dan mempelajari laporan-laporan penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya dengan tujuan untuk mengetahui daerah penelitian secara lebih
detail.
b. Observasi Lapangan
Merupakan kegiatan pengamatan tentang lokasi studi kasus secara
langsung, sehinggga dalam melakukan studi kasus akan mempermudah
dalam pengambilan data dan menganalisis data.
3.5. Metoda Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan pencarian solusi dari permasalahan
yang ada berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan. Dilakukan dengan
tujuan untuk memperoleh kesimpulan pada perhitungan cadangan batubara
dan overburden, serta rencana jam kerja.
a.

Perhitungan

cadangan

batubara

dan

overburden

menggunakan

minescape metoda reserve solids.


Dilakukan dengan menginputkan data yang ada seperti : data
kontur struktur, situasi lider update, boundry penambangan kedalam

56

software minescape untuk medapatkan volume cadangan batubara dan


overburden.
b. Perhitungan Rencana Jam Kerja
Perhitungan

rencana

jam

kerja

dilakukan

guna

untuk

mendapatkan rencana jam kerja PT. Cipta Kridatama untuk tahun 2013.
Perhitungan rencana jam kerja didapatkan dari lost time standby dan
lost time maintenence. Lost time standby seperti jam libur, makan,
puasa, change shift, refuelling, sholat, safety talk, hujan, dan sliperry.
Khusus untuk hujan dan slippery, penulis melakukan perhitungan ulang
curah hujan, hari hujan, dan jam hujan dari data curah hujan tahun 2002
hingga 2012 daerah Siambul. Dari perhitungan rencana jam kerja ini,
maka akan didapatakan jam kerja per bulan maupun jam kerja total
untuk tahun 2013.
c. Perhitungan target produksi pengupasan overburden
Perhitungan target produksi pengupasan overburden didasari dari
rencana jam kerja, kebutuhan alat, dan produktivity alat muat. Untuk
kebutuhan alat diestimasikan 10 unit alat muat dalam kondisi bekerja
tiap bulannya. Sehingga didapatkan target produksi per hari, per bulan,
maupun per tahun.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Pemodelan Endapan Batubara Mengunakan Software Minescape


Pemodelan endapan batubara bertujuan untuk mengetahui pola
penyebaran lapisan batubara, baik geometri secara umum, letak atau posisi
lapisan, kedalaman, kemiringan, serta penyebaran overburden.
Konstruksi model endapan batubara digambarkan dalam bentuk petapeta, yang dilakukan dengan menggunkan software minescape. Data-data
yang diperlukan adalah data peta togografi dan data lubang bor. Dalam
penelitian ini, data lubang bor tidak diberikan oleh pihak owner, tetapi
langsung diberikan peta kontur struktur. Dari peta kontur struktur itu
didapatkan atap (roof) dan lantai (floor) batubara. Kontur struktur yang
diberikan oleh pihak owner, didapatkan 4 buah seam. Seam C, seam D,
seam E, dan seam F. Gambaran peta kontur struktur yang telah diinputkan
ke software minescape dapat dilihat pada gambar 4.1 dihalaman 58.

57

58

Gambar 4.1 Peta Kontur Struktur pit S4 dan S5


Untuk menghitung overburden pemodelan yang dilakukan didasari data
kegiatan progres survey. Survey yang dilakukan berguna untuk melihat dan
membandingkan perbedaan elevasi dan permukaan (surface) pit penambangan per
satuan waktu. Sehingga dari data survey tersebut dapat diinputkan kedalam
bentuk komputisasi dengan menggunakan software minescape. Dari pemodelan
situasi tersebut maka dapat dihitung jumlah volume overburden yang akan
dikupas hingga mencapai pit limit penambangan. Untuk data situasi yang dipakai
dalam penelitian ini adalah situasi kegiatan survey 31 desember 2012. Peta situasi
31 desember 2012 yang telah diinputkan ke software minescape seperti tergambar
pada gambar 4.2.

59

Gambar 4.2 Gambaran situasi lider blok Siambul 31 desember 2012


4.2. Perhitungan Cadangan Batubara dan Overburden Menggunakan
Software Minescape
Untuk perhitungan cadangan dilakukan dengan cara membagi areal pit
potensial. Dalam penelitian ini dilakukan pada pit S4 dan pit S5. Dari pit
penambangan tersebut dilakukan pembagian dan pembatasan blok-blok
penambangan. Dalam penelitian ini dilakukan dengan ukuran blok 100 m x
100 m pada area yang telah bebas maupun belum bebas, ukuran ini
disesuaikan ukuran Long Term Design yang dipakai oleh perusahaan.
Blok-blok penambangan ini akan menghasilkan jumlah cadangan
batubara, overburden, dan kualitas. Untuk rencana pit perusahaan tahun
2013 yang akan dibagi menjadi blok-blok untuk pit S4 dan pit S5 pada areal
yang telah bebas maupun belum bebas dapat dilihat pada gambar 4.3

60

Sumber : Dokumentasi Mine Plan PT. CK

Gambar 4.3 Plan PT. CK 2013


4.2.1. Pembuatan Blok Penambangan menggunakan software Minescape
Pembuatan blok penambangan bertujuan agar memudahkan saat
melakukan kegiatan penambangan. Dari blok yang ada dapat diketahui
Striping Ratio masing-masing blok sehingga dapat dibuat penjadwalan
(scheduling) penambangan per blok ataupun per pit dari total blok
penambangan per pitnya.
PT. Cipta Kridatama mengerjakan 2 buah pit penambangan, pit S4 dan
pit S5. Masing-masing pit memiliki beberapa blok penambangan yang luas
masing-masing bloknya seluas 100 x 100 m. Kedalaman batas akhir
penambangan pit S4 adalah 43 m dpl, sedangkan pit S5 adalah 60 m dpl.
Dalam pembagian blok ini sudut lereng yang digunakan adalah 43, yang
disesuaikan dengan Long Term Design perusahaan. Masing masing pit

61

memiliki luasan, total luasan yang telah bebas maupun yang belum bebas
dari rencana pembukaan masing-masing pit adalah pit S4 seluas 24,57 Ha,
dan pit S5 adalah 100.46 Ha.
Pembatasan dan pembagian blok penambangan didasari dari
perpotongan antara panel dan strip dengan ukuran masing-masing 100 m.
Panel adalah batas yang dibuat sejajar dengan arah seam batubara,
sedangkan strip adalah batas batas yang sejajar dengan arah strike batubara.
Dari perpotongan panel dan strip tersebut maka didapatkan bentuk blok
dengan ukuran 100m x 100m. Gambar Blok pit S4 dan Blok pit S5 seperti
terlihat pada gambar 4.4.

62

Gambar 4.4 Blok pit S4 dan Blok pit S5


4.2.2. Pembuatan Solids menggunakan software minescape
Pembuatan solids menggunakan minescape dilakukan dengan cara
menginputkan data surface penambangan per satuan waktu dari data survey,
tinggi jenjang, lebar jenjang, batas akhir penambangan, data kontur struktur,
dan elevasi pit penambangan. Pembuatan solids dilakukan dari bentuk blok
yang telah dibuat sebelumnya. Maka dari bentuk solids ini akan diketahui
volume cadangan. Gambar Solids pit S4 dan Pit S5 terlihat pada gambar 4.5.

63

Gambar 4.5 Solids pit S4 dan Pit S5


4.2.3. Perhitungan Cadangan
Dari bentuk solids yang dibuat maka dapat dihitung jumlah tonase
cadangan batubara dan overburden untuk pit S4 dan S5 hingga mencapai
batas akhir penambangan. Untuk perhitungan batubara yang menggunakan
data kontur struktur perusahaan owner, data kontur struktur blok 30 dan
blok 31 belum update pada saat pengambilan data. Oleh karena itu untuk
perhitungan batubara dan SR untuk blok 30 dan 31 tidak dihitung. Sehingga
menyebabkan SR untuk penambangan blok Siambul belum mencapai SR
sebenarnya. Hasil perhitungan jumlah tonase cadangan batubara dan
overburden pada pit S4 dan pit S5 menggunakan software minescape
metoda reserve solids digambarkan pada tabel 4.1 dan tabel 4.2.

64

Tabel 4.1 Total Tonase batubara, volume OB, dan SR pit S4

Data Kontur Struktur


Patahan
Mineout

65

Tabel 4.2 Total Tonase batubara, volume OB, dan SR pit S5

Data Kontur Struktur


Patahan
Mineout

66

Dari perhitungan cadangan menggunakan software minescape metoda


reserve solids, maka didapatkan hasil sebagai berikut :

Total tonase cadangan batubara : 2.108.143,08 Ton ( tanpa blok 30 dan 31 )

Total volume overburden

: 33.045.378,45 BCM

SR Blok Siambul

: 1/15,68 (tanpa blok 30 dan 31)

4.3. Perhitungan Rencana Jam Kerja (Work Hours)


Untuk merencanakan target produksi per satuan waktu, dibutuhkan
perencanaan jam kerja (work hours). Agar didapatkan jam kerja efektif
selama kegiatan penambangan berlangsung. Hal ini dilakukan agar
terencananya jam kerja yang dilakukan, dalam perhitungan rencana jam
kerja ini akan dihitung jam kerja bulanan untuk tahun 2013.
Jam kerja diambil dari total hari kalender dalam satu bulan dikali
jam dalam satu hari (24 jam), lalu dikurangi dengan budget-budget kegiatan
stand by, seperti : libur, sholat, puasa (sahur dan buka), makan, pergantian
shift, safety talk, pengisian bahan bakar (refuelling), hujan, slippery, dan
maintenence alat. Sehingga didapatkan total lost time hours dan total jam
kerja efektif per bulannya.
Untuk budget kegiatan standby seperti libur, sholat, puasa, makan,
pergantian shift, safety talk, refuelling, slippery, dan maintenence alat,
disesuaikan dengan engineering perusahaan. Sementara untuk jam hujan,
dilakukan perhitungan ulang dari rata-rata curah hujan 2002-2012 daerah
siambul. Perhitungan curah hujan dilampirkan pada lampiran D. Tabel
perencanaan jam kerja (work hours) seperti yang tercantum pada tabel 4.3.

67

Tabel 4.3 Work Hours 2013

Dari perhitungan rencana jam kerja tersebut dapat disimpulkan


sebagai berikut :

Total Jam per Tahun 2013

8760 jam

Work Lost Time Hours 2013

3276 jam

Work Hours 2013

5484 jam

4.4. Kebutuhan Alat


PT. Cipta Kridatama dalam melakukan pengupasan overburden
dilakukan dengan menggunakan 10 unit Excavator. Unit Excavator yang
digunakan adalah 1 unit Hitachi 2500, 7 unit Hitachi 1200, dan 2 unit
Caterpillar 390D. Kebutahan alat yang dihitung diestimasikan selalu ada
untuk setiap bulan untuk memenuhi target produksi 2013. Tabel kebutuhan
alat dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Kebutuhan Alat

68

4.5. Perhitungan Target Produksi


Target produksi dihitung guna mendapatkan rencana produksi yang
efisien dan menguntungkan bagi perusahaan. Dalam penelitian ini hanya
dihitung target produksi overburden, dikarenakan perusahaan tempat
penulis melakukan praktek hanya mengerjakan pengupasan overburden. Hal
ini disesuaikan dengan perhitungan mineplan perusahaan.
Target produksi didasari dari perhitungan rencana jam kerja dan
rencana kebutuhan alat. Sehingga dari jam kerja dan alat yang ada dapat
ditentukan dan dihitung total target produksi tahunan, bulanan, maupun
harian. Target Produksi PT. Cipta Kridatama jobsite Siambul tercantum
pada tabel 4.5.

69

Tabel 4.5 Target Produksi 2013

Untuk perhitungan produksi perbulan menggunakan rumus :


Produksi per bulan = Jam kerja perbulan x Kebutuhan alat x Produktivity.
4.6. Analisis Target Produksi
A. Produksi Hitachi 2500
Januari
Produksi

= 447 jam x 1 unit x 868 BCM


= 387.996 BCM

Februari
Produksi

= 446,5 jam x 1 unit x 868 BCM


= 387.562 BCM

70

Maret
Produksi

= 470 jam x 1 unit x 868 BCM


= 407.960 BCM

April
Produksi

= 457,5 jam x 1 unit x 868 BCM


= 397.110 BCM

Mei
Produksi

= 501,5 jam x 1 unit x 868 BCM


= 435.302 BCM

Juni
Produksi

= 502 jam x 1 unit x 868 BCM


= 435.736 BCM

Juli
Produksi

= 465,5 jam x 1 unit x 868 BCM


= 404.054 BCM

Agustus
Produksi

= 383,5 jam x 1 unit x 868 BCM


= 332.878 BCM

September
Produksi

= 496 jam x 1 unit x 868 BCM


= 430.528BCM

71

Oktober
Produksi

= 436,5 jam x 1 unit x 868 BCM


= 378.882BCM

November
Produksi

= 413,5 jam x 1 unit x 868 BCM


= 358.918 BCM

Desember
Produksi

= 464,5 jam x 1 unit x 868 BCM


= 403.186 BCM

Total Produksi Hitachi 2500


= Produksi ( Januari + Februari + Maret + April + Mei + Juni + Juli +
Agustus + September + Oktober + November + Desember ) BCM
= ( 387.996 + 387.562 + 397.110 + 435.302 + 435.736 + 404.054 +
332.878 + 430.528 + 378.882 + 358.918 + 403.186 ) BCM
= 4.760.112 BCM

72

B. Produksi Hitachi 1200


Januari
Produksi

= 447 jam x 1 unit x 470 BCM


= 210.090 BCM

Februari
Produksi

= 446,5 jam x 1 unit x 470 BCM


= 209.855 BCM

Maret
Produksi

= 470 jam x 1 unit x 470 BCM


= 220.900 BCM

April
Produksi

= 457,5 jam x 1 unit x 470 BCM


= 215.025 BCM

Mei
Produksi

= 501,5 jam x 1 unit x 470 BCM


= 235.705 BCM

Juni
Produksi

= 502 jam x 1 unit x 470 BCM


= 235.940 BCM

Juli
Produksi

= 465,5 jam x 1 unit x 470 BCM


= 218.785 BCM

73

Agustus
Produksi

= 383,5 jam x 1 unit x 470 BCM


= 180.245 BCM

September
Produksi

= 496 jam x 1 unit x 470 BCM


= 233.120 BCM

Oktober
Produksi

= 436,5 jam x 1 unit x 470 BCM


= 205.155 BCM

November
Produksi

= 413,5 jam x 1 unit x 470 BCM


= 194.345 BCM

Desember
Produksi

= 464,5 jam x 1 unit x 470 BCM


= 218.385 BCM

Total Produksi Hitachi 1200


= Produksi ( Januari + Februari + Maret + April + Mei + Juni + Juli +
Agustus + September + Oktober + November + Desember ) BCM
= ( 210.090 + 209.855 + 220.900 + 215.025 + 235.705 + 235.940 +
218785 + 180.245 + 233.120 + 205.155 + 194.345 + 218.315 ) BCM
= 2.577.480 BCM
= 2.577.480 BCM x 7 Unit = 18.042.360 BCM

74

C. Produksi Cat 390D


Januari
Produksi

= 447 jam x 1 unit x 464 BCM


= 207.408 BCM

Februari
Produksi

= 446,5 jam x 1 unit x 464 BCM


= 207.176 BCM

Maret
Produksi

= 470 jam x 1 unit x 464 BCM


= 218.080 BCM

April
Produksi

= 457,5 jam x 1 unit x 464 BCM


= 212.280 BCM

Mei
Produksi

= 501,5 jam x 1 unit x 464 BCM


= 232.696 BCM

Juni
Produksi

= 502 jam x 1 unit x 464 BCM


= 232.928 BCM

Juli
Produksi

= 465,5 jam x 1 unit x 464 BCM


= 215.992 BCM

75

Agustus
Produksi

= 383,5 jam x 1 unit x 464 BCM


= 177.944 BCM

September
Produksi

= 496 jam x 1 unit x 464 BCM


= 230.144 BCM

Oktober
Produksi

= 436,5 jam x 1 unit x 464 BCM


= 202.536 BCM

November
Produksi

= 413,5 jam x 1 unit x 464 BCM


= 191.864 BCM

Desember
Produksi

= 464,5 jam x 1 unit x 464 BCM


= 215.528 BCM

Total Produksi Hitachi 1200


= Produksi ( Januari + Februari + Maret + April + Mei + Juni + Juli +
Agustus + September + Oktober + November + Desember ) BCM
= ( 207.408 + 207.176 + 218.080 + 212.280 + 232.696 + 232.928 +
215.992 + 177.944 + 230.144 + 202.536 + 191.864 + 215.528 ) BCM
= 2.544.576 BCM
= 2.544.576 BCM x 2 Unit = 5.089.152 BCM

76

Total Produksi Keseluruhan


= ( Produksi Hitachi 2500 + Produksi Hitachi 1200 + Produksi Cat 390D)
= 4.760.112 BCM + 18.042.360 BCM + 5.089.152 BCM
= 27.891.624 BCM
Dari perhitungan produksi tahun 2013, maka didapatkan produksi per
tahun, per bulan, dan per harinya sebagai berikut :

Produksi per tahun 2013

: 27.891.624 BCM

Produksi rata-rata per bulan

: 2.324.302 BCM

Produksi per hari

: 77.477 BCM

Untuk perencanaan target produksi, diperlukan perhitungan mining


losses, dikarenakan beberapa faktor :
a. Pengisian bucket alat muat tidak penuh
b. Tumpahnya material ketika pengisian
c. Tumpahnya material ketika tahap pengangkutan
Losses Mining yang dipakai adalah 10% dari produksi yang didapat,
maka :

Target Produksi per tahun 2013


= Produksi per tahun 2013 - (produksi per tahun 2013 x 10%)
= 27.891.624 BCM (27.891.624 BCM x 10%)
= 27.891.624 BCM 2.789.162,4BCM
= 25.102.467 BCM

Target Produksi Rata-rata per bulan


= Produksi per bulan 2013 (produksi per bulan 2013 x 10%)

77

= 2.324.302 BCM (2.324.302 BCM x 10%)


= 2.324.302 BCM 232.430,2 BCM 2
= 2.091.8712 BCM

Target Produksi Rata-rata per hari


= Produksi per bulan 2013 (produksi per bulan 2013 x 10%)
= 77.477 BCM (77.477 BCM x 10%)
= 77.477 BCM 7.747 BCM
= 69.729 BCM

78

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan dan evaluasi yang penulis lakukan selama
melaksanakan Praktek Lapangan Industri pada kegiatan pengupasan lapisan
overburden pada penambangan

di PT. Cipta Kridatama, maka dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut:


a. Total cadangan overburden jobsite siambul menggunakan perhitungan
software minescape metoda reserve solids memakai situasi lider 31
desember 2012 adalah : 33.045.379 BCM
b. Total cadangan batubara jobsite siambul menggunakan perhitungan
software minescape metoda reserve solids memakai data kontur
struktur 31 desember 2012 adalah : 2.108.143 Ton
c. Stripping Ratio : 1/15,68 (tanpa blok 30 dan blok 31)
d. Rencana jam kerja efektif penelitian : 5484 jam
e. Target Produksi hasil penelitian per tahun : 25.102.467 BCM
f. Target Produksi hasil penelitian Rata-rata per bulan : 2.091.872 BCM
g. Target Produksi hasil penelitian Rata-rata Per hari : 69.729 BCM

79

5.2. Saran
a. Percepetan Mineout Pit S5 Utara Block 10-17. Sehingga dapat
memperpendek

jarak

dumpingan

dari

S5

Selatan,

untuk

dapat

dioperasikannya 10 fleet untuk mencapai target produksi 69.729


BCM/hari.
b. Mengurangi jumlah persimpangan pada jalan tambang untuk mengurangi
waktu edar.
c. Meminta data kontur struktur kepada pihak owner agar dapat diketahuinya
Stripping Ratio yang tepat untuk jobsite Siambul.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Data-data Laporan dan Arsip PT. Cipta Kridatama.
Anonim, Modul dan Tutor Pembelajaran Minescape
Andi Tenrisukki Tenriajeng. 2003. Pemindahan Tanah Mekanis. Jakarta:
Gunadarma.
Ir Partanto Prodjosumarto. 1993. Pemindahan Tanah Mekanis. Bandung:
Universitas Islam Bandung.
Raimon Kopa. 2005. Panduan Proyek Akhir/Pli D3 Teknik Pertambangan.
Universitas Negeri Padang.
Soemarto CD. 1995. Hidrologi Teknik Edisi 2. Jakarta : Penerbit Erlangga .
http://www.artikelbiboer.blogspot.com, diakses 17 April 2013.
http://www.surface.mining.html, diakses 19 Maret 2013.

80

LAMPIRAN A
PETA PROVINSI RIAU

A-1

LAMPIRAN B
STRUKTUR ORGANISASI PT. CIPTA KRIDATAMA

B-1

LAMPIRAN C
DATA CURAH HUJAN, JAM HUJAN, DAN HARI HUJAN SITE CK-RBH SIAMBUL

TABEL C.1
CURAH HUJAN BULANAN SITE CK-RBH SIAMBUL TAHUN 2002 2012

C-1

TABEL C.2
RATA-RATA JAM HUJAN SITE CK-RBH SIAMBUL TAHUN 2009-2012

C-2

TABEL C.3
JUMLAH HARI HUJAN BULANAN SITE CK-RBH SIAMBUL TAHUN 2002-2011

C-3

LAMPIRAN D
ANALISA PERKIRAAN CURAH HUJAN

A. Perhitungan Rata-Rata Curah Hujan Maximum

CH
n

Keterangan :
CH = jumlah curah hujan
n

= tahun

Perhitungan Curah Hujan Rata-rata (X):

TABEL D.1
CURAH HUJAN RATA-RATA BULANAN

D-1

D-2

B. Perhitungan Standar Deviasi


Nilai Standar Deviasi dapat ditentukan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :

( x xi )

n 1

Keterangan : x
xi

= curah hujan rata-rata


= curah hujan maksimum

TABEL D.2
STANDAR DEVIASI BULAN JANUARI

D-3

TABEL D.3
STANDAR DEVIASI BULAN FEBRUARI

TABEL D.4
STANDAR DEVIASI BULAN MARET

D-4

TABEL D.5
STANDAR DEVIASI BULAN APRIL

TABEL D.6
STANDAR DEVIASI BULAN MEI

D-5

TABEL D.7
STANDAR DEVIASI BULAN JUNI

TABEL D.8
STANDAR DEVIASI BULAN JULI

D-6

TABEL D.9
STANDAR DEVIASI BULAN AGUSTUS

TABEL D.10
STANDAR DEVIASI BULAN SEPTEMBER

D-7

TABEL D.11
STANDAR DEVIASI BULAN OKTOBER

TABEL D.12
STANDAR DEVIASI BULAN NOVEMBER

D-8

TABEL D.13
STANDAR DEVIASI BULAN DESEMBER

C. Perhitungan Koreksi Variansi


Nilai Koreksi Variansi dapat ditentukan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :

T 1

Yt ln ln

Keterangan :
Yt = Koreksi Variansi
T = Periode ulang (tahun)

D-9

Perhitungan Koreksi Variansi (Yt):


1 1

Periode ulang 1, Yt ln ln
=0
1

2 1

Periode ulang 2, Yt ln ln
= 0,3665
2

3 1

Periode ulang 3, Yt ln ln
= 0,9027
3

4 1

Periode ulang 4, Yt ln ln
= 1,2459
4

5 1

Periode ulang 5, Yt ln ln
= 1,4999
5

6 1

Periode ulang 6, Yt ln ln
= 1,7019
6

7 1

Periode ulang 7, Yt ln ln
= 1,8698
7

8 1

Periode ulang 8, Yt ln ln
= 2,0134
8

9 1

Periode ulang 9, Yt ln ln
= 2,1380
8

10 1

Periode ulang 10, Yt ln ln


= 2,2504
8

Periode ulang rata-rata =

= 1,39885 ~ 1,5

D-10

D. Perhitungan Koreksi Rata-Rata


Nilai Koreksi rata-rata dapat ditentukan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :

(n 1 m)
Yn ln ln

n 1

Yn
Rata-rata Yn, Yn
n

Keterangan :
Yn = Koreksi rata-rata
n
m

= jumlah sample
= urutan sample (m = 1,2,3,)

Perhitungan Koreksi Rata-rata (Yn):

11 1 1
Urutan sample 1, Yn ln ln
= 2,442
11 1

11 1 2
Urutan sample 2, Yn ln ln
= 1,702
11 1

11 1 3
Urutan sample 3, Yn ln ln
= 1,246
11 1

11 1 4
Urutan sample 4, Yn ln ln
= 0,903
11 1

D-11

11 1 5
Urutan sample 5, Yn ln ln
= 0,618
11 1

11 1 6
Urutan sample 6, Yn ln ln
= 0,367
11 1

11 1 7
Urutan sample 7, Yn ln ln
= 0,133
11 1

11 1 8
Urutan sample 8, Yn ln ln
= -0,094
11 1

11 1 9
Urutan sample 9, Yn ln ln
= -0,327
11 1

11 1 10
Urutan sample 10, Yn ln ln
= -0,583
11 1

11 1 11
Urutan sample 11, Yn ln ln
= -0,910
11 1

Yn rata-rata, Yn

5,496
= 0,5
11

E. Perhitungan Koreksi Simpangan


Nilai dari Koreksi Simpangan ditentukan dengan rumus sebagai berikut

Sn

Sn

Yn

n 1

10,299
11 1

= 1,030

D-12

TABEL D.14
PERHITUNGAN KOREKSI SIMPANGAN

F. Perhitungan Perkiraan Curah Hujan


Perhitungan

perkiraan

curah

hujan

menggunakan rumus sebagai berikut :


S
CHR X
Yt Yn
Sn

Keterangan :
X

= rata-rata curah hujan (mm/bulan)

= Standar Deviasi

Sn = Koreksi Simpangan
Yt = Koreksi Variansi
Yn = Koreksi rata-rata

dapat

ditentukan

dengan

D-13

Perhitungan Perkiraan Curah Hujan:


Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus-rumus diatas diperoleh:

TABEL D.15
PERHITUNGAN PERKIRAAN CURAH HUJAN

D-14

Sehingga curah hujan bulan Januari sampai Desember tahun 2013 dihitung
dengan perhitungan perkiraan curah hujan sebagai berikut :

1. Curah Hujan Bulan Januari


61,95
CHR 190,77
1,5 0,5
1,030

CHR

= 250,92 mm/bulan

2. Curah Hujan Bulan Februari


137,9
CHR 192,90
1,5 0,5
1,030

CHR

3.

= 326,78 mm/bulan

Perkiraan curah hujan bulan Maret


66,03
CHR 261,61
1,5 0,5
1,030

CHR

= 325,72 mm/bulan

4. Perkiraan curah hujan bulan April


64,71
CHR 271,79
1,5 0,5
1,030

CHR

= 334,62 mm/bulan

D-15

5. Perkiraan curah hujan bulan Mei


108,24
CHR 195,65
1,5 0,5
1,030

CHR

= 300,74 mm/bulan

6. Perkiraan curah hujan bulan Juni


76,79
CHR 144,9
1,5 0,5
1,030

CHR

= 219,45 mm/bulan

7. Perkiraan curah hujan bulan Juli


113,83
CHR 148,83
1,5 0,5
1,030

CHR

= 259,44 mm/bulan

8. Perkiraan curah hujan bulan Agustus


116,12
CHR 173,4
1,5 0,5
1,030

CHR

= 286,14 mm/bulan

D-16

9. Perkiraan curah hujan bulan September


104,27
CHR 200,32
1,5 0,5
1,030

CHR

= 301,55 mm/bulan

10. Perkiraan curah hujan bulan Oktober


65,86
CHR 216,97
1,5 0,5
1,030

CHR

= 280,91 mm/bulan

11. Perkiraan curah hujan bulan November


142,94
CHR 318,94
1,5 0,5
1,030

CHR

= 457,72 mm/bulan

12. Perkiraan curah hujan bulan Desember


117,09
CHR 269,26
1,5 0,5
1,030

CHR

= 382,94 mm/bulan

D-17

Perkiraan curah hujan bulan bulanan tahun 2013 dengan periode ulang
5 tahun di Site CK-RBH Siambul dapat dilihat pada (Tabel E.16)

TABEL D.16
PERKIRAAN CURAH HUJAN SITE CK-RBH SIAMBUL TAHUN 2013

D-18

G. Perhitungan Intensitas Hujan ( I )


Intensitas curah hujan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

.Rt
t

dimana :
I

= intensitas Curah Hujan (mm/jam)

RTr = curah hujan (mm)


t

= waktu lama hujan (jam)


Perhitungan besarnya Intensitas Hujan (I) untuk tahun 2013 di Site
CK-RBH Siambul adalah :

1.

Untuk bulan Januari :

I = 4,04 mm/jam
2. Untuk bulan Februari :

I = 7,33 mm/jam

D-19

3. Untuk bulan Maret:

I = 5,54 mm/jam
4. Untuk bulan April :

I = 6,02 mm/jam
5. Untuk bulan Mei:

I = 8,28 mm/jam
6. Untuk bulan Juni :

I = 8,73 mm/jam

D-20

7. Untuk bulan Juli :

I = 7,26 mm/jam
8. Untuk bulan Agustus:

I = 7,98 mm/jam
9. Untuk bulan September :

I = 10,22 mm/jam
10. Untuk bulan Oktober :

I = 5,67 mm/jam

D-21

11. Untuk bulan November :

I = 5,37 mm/jam
12. Untuk bulan Desember :

I = 7,89 mm/jam