Anda di halaman 1dari 53

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA

A. Defenisi
Hiperplasia nodular (Benign Prostat Hiperplasia) adalah kelainan yang
sangat sering dijumpai pada pria berusia diatas 50 tahun. Kelainan ini di tandai
dengan hiperplasia sel stroma dan epitel prostat sehingga terbentuk nodul-nodul
diskret besar di regio periuretra prostat. Jika cukup besar ,nodus-nodus ini menekan
dan mempersempit kanalis uretra sehingga menyebabkan obstruksi parsial atau
kadang kadang total uretra (Robins & Contran, 2010).
Kelenjar prostat yang mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam
kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutupi orifisium uretra.
Kondisi ini dikenal sebagai hiperplasia prostatik jinak (BPH), pembesaran, atau
hipertrofi prostat. BPH adalah kondisi patologis yang paling umum pada pria lansia
dan penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi medis pada pria di atas 60
tahun (Smeltzer & Bare, 2001).
BPH merupakan kelainan yang terjadi akibat penuaan, prevalensi dari 25%
pada usia 40-49 tahun menjadi 80% pada usia 70-79 tahun. Walaupun pada pria yang
secara histilogi di diagnosis BPH tidak menampakan gejala, namun pada 50% kasus
yang berusia diatas 60 tahun, memiliki gejala LUTS (lower Urinary tractus Syndrom)
( Bery et al dikutip dalam Sarma & Wei, 2012).

B. Etiologi
Penyebab BPH kemungkinan berkaitan dengan penuaan dan disertai dengan
perubahan hormon. Dengan penuaan, kadar testosteron serum menurun, dan kadar
estrogen serum meningkat. Terdapat teori bahwa rasio estrogen/androgen yang lebih
tinggi akan merangsang hiperplasia jaringan prostat (Price & Wilson, 2005)
Dihidrotestosteron (DHT) merupakan metabolit testosteron yang merupakan
mediator utama pertumbuhan prostat. Zat ini disintesis diprostat dari testosteron
darah oleh kerja enzim 5-reduktase, tipe 2. Enzim ini terutama terletak di sel stroma.
Oleh karena itu sel-sel ini merupakan tempat utama sintesis DHT. Setelah terbentuk,
DHT dapat bekerja secara autokrin pada sel stroma atau parakrin dengan cara
berdifusi ke sel epitel sekitar. Di kedua sel ini DHT berikatan dengan reseptor
androgen di nukleus dan menyebabkan transkripsi faktor pertumbuhan yang bersifat
mitogenik bagi sel epitel dan sel stroma. Meskipun testosteron dapat berikatan
dengan reseptor androgen dan menyebabkan pertumbuhan, namun DHT memiliki
kemampuan 10x lebih kuat karena lebih lambat terlepas dari reseptor androgen.
Walaupun DHT merupakan faktor trofik utama yang memperantarai hiperplasia
prostat, tampaknya esterogen juga ikut berperan, mungkin dengan membuat sel lebih
peka terhadap kerja DHT. Interaksi stroma epitel yang diperantarai oleh faktor
pertumbuhan peptida juga merupakan bagian integral dari proses ini. Selain akibat
efek mekanis prostat yang membesar, gejala klinis sumbatan saluran kemih bagian
bawah juga disebabkan oleh kontraksi otot polos prostat. Tegangan pada otot prostat
diperantarai oleh adrenoreseptor 1 yang terletak distroma prostat. Ini merupakan
dasar pemakaian antagonis reseptor adrenergik untuk mengatasi obstruksi aliran
kemih pada pasien dengan BPH (Robins & Contran, 2010).

Pentingnya DHT dalam proses pembentukan hiperplasia prostat didukung


oleh pengamatan klinis pemberian inhibitor 5-reduktase pada pria dengan gangguan
ini. Terapi dengan inhibitor 5-reduktase sangat mengurangi kandungan DHT prostat
dan pada sejumlah kasus terjadi penurunan volume prostat dan ostruksi urine.
Kenyataan bahwa tidak semua pasien yang memperoleh manfaat dari terapi yang
menghambat androgen, mengisyaratkan bahwa hiperplasia proatat secara etiologis
bersifat heterogen dan pada sebagian kasus, faktor lain diluar androgen mungkin
lebih penting(Robins & Contran, 2010).

C. Perjalanan Penyakit
Gejala hiperplasia nodular jika ada, berkaitan dengan efek sekunder:
1. Penekanan uretra disertai dengan kesulitan berkemih,
2. Retensi urine dikandung kemih yang kemudian menyebabkan peregangan dan
hipertrofi kandung kemih, ISK, sistitis dan infeksi ginjal.
3. Pasien mengalami nokturia, kesulitan memulai dan menghentikan aliran urine,
kemudian tumpah menetes dan pasien mengalami disuria (Robins & Contran,
2010).
4. Kompleks gejala obstruktif dan iritatif meliputi peningkatan frekuensi berkemih,
nokturia, dorongan berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine
menurun dan harus mengejan saat BAK, aliran urine tidak lancar, dribling ( urin
terus menetes setelah berkemih), rasa kandung kemih tidak kosong dengan baik,
retensi urin akut ( bila lebih dari 60 ml urin tetap ada dalam kandung kemih
setelah berkemih), dan ISK (Smelzer & Bare, 2002).
Pada banyak kasus timbul retensi urine akut tanpa sebab yang jelas dan
menetap sehingga perlu dilakukan kateterisasi darurat. Selain kesulitan berkemih,
hiperplasia prostat juga mneyebabkan kandung kemih tidak dapat dikosongkan secara

tuntas. Diperkirakan ketidakmampuan ini disebabkan oleh bertambah tingginya dasar


uretra sehingga pada akhir berkemih, tersisa urin dalam jumlah yang bayak. Urine sisa
ini menjadi cairan statis yang rentan infeksi. Oleh karena itu kateterisasi atau
manipulasi menyebabkan masuknya organisme dan pielonefritis.
Banyak perubahan sekunder terjadi dikandung kemih, misalnya hipertropi,
trabekulasi, dan pembentukan divertikulum. Dapat terjadi hidronefrosis atau retensi
akut, disertai retensi sekunder saluran kemih bahkan azotemia( penumpukan residu
nitogen dalam darah) atau uremia.
D. Patofisiologi
Menurut Masjoer (2000), proses pembesaran prostat terjadi secara perlahanlahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan.
Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli dan
daerah prostat meningkat, serta otot detrusor menebal dan meregang sehingga timbul
sikulasi atau divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila
keadaan berlanjut, maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin
yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.
Adapun patofisiologi dari masing-masing gelaja adalah :
1. Penurunan kekuatan dan kaliber aliran yang disebabkan resistensi uretra adalah
gambaran awal dan menetap dari BPH.
2. Hesitancy terjadi karena detrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat
melawan resistensi uretra.
3. Intermittency terjadi karena dtrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretra
sampai akhir miksi. Terminal dribbling dan rasa belum puas sehabis miksi
terjadi karena jumlah residu urin yang banyak dalam buli-buli.

4. Nokturia dan frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap pada
tiap miksi sehingga interval antar miksi lebih pendek.
5. Frekuensi terutama terjadi pada malam hari (nokturia) karena hambatan normal
dari korteks berkurang dan tonus sfingter dan uretra berkurang selama tidur.
6. Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan
destrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.
7. Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan berkembangnya
penyakit urin keluar sedikit-sedikit secara berkala karena setelah buli-buli
mencapai compliance maksimum, tekanan dalam buli-buli akan cepat naik
melebihi tekanan sfingter.
Ada 3 cara untuk mengukur besarnya hipertropi prostat, yaitu:
a) Rectal grading
Recthal grading atau rectal toucher dilakukan dalam keadaan buli-buli
kosong. Sebab bila buli-buli penuh dapat terjadi kesalahan dalam penilaian.
Dengan rectal toucher diperkirakan dengan beberapa cm prostat menonjol ke
dalam lumen dan rectum. Menonjolnya prostat dapat ditentukan dalam grade.
(Masjoer,2000).
Pembagian grade sebagai berikut :
0 1 cm.: Grade 0
1 2 cm.: Grade 1
2 3 cm.: Grade 2
3 4 cm.: Grade 3
Lebih 4 cm.: Grade 4
Biasanya pada grade 3 dan 4 batas dari prostat tidak dapat diraba karena
benjolan masuk ke dalam cavum rectum. Dengan menentukan rectal grading

maka didapatkan kesan besar dan beratnya prostat dan juga penting untuk
menentukan macam tindakan operasi yang akan dilakukan. Bila kecil (grade 1),
maka terapi yang baik adalah T.U.R (Trans Urethral Resection). Bila prostat
besar sekali (grade 3-4) dapat dilakukan prostatektomy terbuka secara trans
vesical.
b) Clinical grading
Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa
urine. Pengukuran ini dilakukan dengan cara, pagi hari pasien bangun tidur
disuruh kemih sampai selesai, kemudian dimasukkan catheter ke dalam
kandung kemih untuk mengukur sisa urine (Masjoer,2000).
Sisa urine 0 cc. Normal
Sisa urine 0 50 cc. Grade 1
Sisa urine 50 150 cc. Grade 2
Sisa urine >150 cc Grade 3
Sama sekali tidak bisa kemih Grade 4
c) Intra urethra grading
Untuk melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen
urethra. Pengukuran ini harus dapat dilihat dengan penendoskopy dan sudah
menjadi bidang dari urology yang spesifik.Efek yang dapat terjadi akibat
hypertropi prostat (Masjoer,2000).

E. Manifestasi Klinik
Kompleks gejala obstruktif

dan iritatif (disebut protatisme) mencakup

peningkatan frekuensi berkemih, nokturia, dorongan ingin berkemih, abdomen


tegang, volume urin menurun dan harus mengejan saat berkemih, aliran urin tidak
lancar, dribbling (dimana urin terus menetes setelah berkemih), rasa seperti kandung

kemih tidak kosong dengan baik, retensi urin akut (bila lebih dari 60 ml urin tetap
berada dalam kandung kemih setelah berkemih), dan kekambuhan infeksi saluran
kemih. Gejala generalisata juga mungkin tampak, termasuk keletihan, anoreksia,
mual dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik (Smeltzer & Bare, 2001).
F. Komplikasi
Apabila buli-buli menjadi dekompensasi, akan terjadi retensio urin. Karena
produksi urin terus berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi
menampung urin sehingga tekanan intravesika meningkat, dapat timbul hidroureter,
hidronefrosis, dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat jika terjadi infeksi
(Masjoer, 2000).
Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan dalam bulibuli. Batu ini dapat menambah keluhan irirtasi dan menimbulkan hematuria. Batu
tersebut dapat pula menimbulkan sistisis dan bila terjadi refluks dapat terjadi
pielonefritis. Pada waktu miksi pasien harus mengedan sehingga lama-kelamaan
dapat menyebabkan hernia atau hemoroid (Masjoer, 2000).
G. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan urin residu


2. Pemeriksaan ultra sonografi (USG)
Dapat dilakukan dari supra pubic atau transrectal (Trans Rectal Ultra
Sonografi :TRUS). Untuk keperluan klinik supra pubic cukup untuk
memperkirakan besar dan anatomi prostat, sedangkan TRUS biasanya diperlukan
untuk mendeteksi keganasan.

3. Pemeriksaan endoscopy
Bila pada pemeriksaan rectal toucher, tidak terlalu menonjol tetapi gejala
prostatismus sangat jelas atau untuk mengetahui besarnya prostat yang menonjol
ke dalam lumen.
4. Pemeriksaan radiologi
Dengan pemeriksaan radiologi seperti foto polos perut dan pyelografi intra
vena yang sering disebut IVP (Intra Venous Pyelografi) dan BNO (Buich Nier
Oversich). Pada pemeriksaan lain pembesaran prostat dapat dilihat sebagai lesi
defek irisan kontras pada dasar kandung kemih dan ujung distal ureter membelok
ke atas berbentuk seperti mata kail/pancing (fisa hook appearance).
5. Pemeriksaan CT- Scan dan MRI
Computed Tomography Scanning (CT-Scan) dapat memberikan gambaran
adanya pembesaran prostat, sedangkan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
dapat memberikan gambaran prostat pada bidang transversal maupun sagital pada
berbagai bidang irisan, namun pameriksaan ini jarang dilakukan karena mahal
biayanya.
6. Pemeriksaan sistografi
Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada
pemeriksaan urine ditemukan mikrohematuria. pemeriksaan ini dapat memberi
gambaran kemungkinan tumor di dalam kandung kemih atau sumber perdarahan
dari atas apabila darah datang dari muara ureter atau batu radiolusen di dalam
vesica. Selain itu sistoscopi dapat juga memberi keterangan mengenai besar
prostat dengan mengukur panjang urethra pars prostatica dan melihat penonjolan
prostat ke dalam urethra.

7. Pemeriksaan lain
Secara spesifik untuk pemeriksaan pembesaran prostat jinak belum ada,
yang ada ialah pemeriksaan penanda adanya tumor untuk karsinoma prostat yaitu
pemeriksaan Prostatic Spesifik Antigen (PSA), angka penggal PSA ialah 4
nanogram/ml
H. Penatalaksanaan
1. Konservatif.
Kasus BPH ringan dapat ditangani tanpa terapi medis ataupun bedah,
misalnya dengan mengurangi asupan cairan, terutama sebelum tidur,
mengurangi asupan alkohol, dan minuman yang mengandung kafein dan
BAK secara teratur. Terapi medis yang sering digunakan dan manjur untuk
gejala yang berkaitan dengan hiperplasia adalah penghambat yang
mengurangi tonus otot polos prostat melalui inhibisi reseptor adrenergik 1
(misalnya: terazosin). Terapi farmakologis lainnya yang umum digunakan
bertujuan untuk mengurangi gejala dengan menciutkan ukuran prostat dengan
obat yang menghambat DHT (antiandrogen seperti finasteride (Proscar)).
Pada penelitian klinis, hal ini efektif untukmencegah perubahan testosteron
menjadi hidrotestosteron. Namun terapi ini memiliki efek samping yaitu
ginekomastia (pembesaran payudara), disfungsi erektil dan wajah kemerahan
(Basuki, 2007).
Selain hal tersebut diatas, terdapat juga metode lain yaitu watch-ful
waiting dimana pasien dipantau secar periodik terhadap keparahan gejala,
temuan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan uji urologik (AHCPR, 1994
dalam Smelzer & Bare,2002).

Pengobatan konservatif bertujuan untuk memperlambat pertumbuhan


pembesaran prostat. Tindakan dilakukan bila terapi operasi tidak dapat
dilakukan, misalnya: menolak operasi atau adanya kontra indikasi untuk
operasi.Tindakan terapi konservatif yaitu :

a. Mengusahakan agar prostat tidak mendadak membesar karena adanya


infeksi sekunder dengan pemberian antibiotika.
b. Bila retensi urine dilakukan catheterisasi.
2. Operatif
Untuk kasus sedang dan berat yang tidak dapat diatasi dengan terapi
medis, tersedia berbagai pilihan prosedur invasif. Pada waktu pembedahan
kelenjar prostat diangkat utuh dan jaringan soft tissue yang mengalami
pembesaran diangkat melalui 4 cara yaitu:
a. TURP (trans urethral resection of prostat)
Dilaksanakan bila pembesaran terjadi pada lobus medial yang
langsung mengelilingi urethra. Jaringan yang direseksi hanya sedikit
sehingga tidak terjadi perdarahan dan waktu pembedahan tidak terlalu
lama. Rectoscope disambungkan dengan arus listrik lalu di masukkan
ke dalam urethra.Kandung kemih di bilas terus menerus selama
prosedur berjalan.Pasien mendapat alat untuk masa terhadap shock
listrik dengan lempeng logam yang di beri pelumas di tempatkan pada
bawah paha.Kepingan jaringan yang halus di buang dengan irisan dan
tempat-tempat perdarahan di tutup dengan cauter (Basuki, 2007).
Setelah TURP di pasang catheter Foley tiga saluran yang di
lengkapi balon 30 ml.Setelah balon catheter di kembangkan, catheter di
tarik ke bawah sehingga balon berada pada fosa prostat yang bekerja

sebagai hemostat.Ukuran catheter yang besar di pasang untuk


memperlancar

pengeluaran

gumpalan

darah

dari

kandung

kemih(Basuki, 2007).
Kandung kemih diirigasi terus dengan alat tetesan tiga jalur
dengan garam fisiologisatau larutan lain yang di pakai oleh ahli
bedah.Tujuan dari irigasi konstan ialah untuk membebaskan kandung
kemih dari ekuan darah yang menyumbat aliran kemih.Irigasi kandung
kemih yang konstan di hentikan setelah 24 jam bila tidak keluar bekuan
dari kandung kemih.Kemudian catheter bisa dibilas biasa tiap 4 jam
sekali sampai catheter di angkat biasanya 3 sampai 5 hari setelah
operasi.Setelah catheter di angkat pasien harus mengukur jumlah urine
dan waktu tiap kali berkemih(Basuki, 2007).
TURP efektif guna mengurangi gejala, memperbaiki laju aliran
kemih, dan mengurangi volume urin sisa. Tindakan ini diindikasikan
sebagai tindakan lini pertama pada kasus-kasus tertentu, misalnya
infeksi saluran kemih berulang. Namun karena morbiditas dan
biayanya, maka dikembangkan prosedur alternatif yakni : High
intensity focused ultrasound, terapi laser, hipertermia, elektrovaporasi
trans uretra, stent intrauretra dan ablasio jarum transuretra dengan
menggunakan radiofrequency(Basuki, 2007).
Keuntungan tindakan TURP adalah dapat mempersingkat hari
rawat dan jarang menyebabkan disfungsi erektil, namun kerugiannya
adalah dapat mengakibatkan terjadinya striktur uretra, sehingga
mungkin harus dilakukan tindakan ulang dan ejakulasi retrograde,
karena pengangkatan jaringan prostat pada kolum kandung kemih dapat

menyebabkan cairan seminal mengalir ke arah belakang kedalam


kandung kemih dan bukan kedalam uretra(Basuki, 2007).
b. Suprapubic Prostatectomy.
Metode operasi terbuka, dengan cara mengangkat kelenjar
melalui insisi abdomen kedalam kandung kemih dan kelenjar prostat
diangkat dari atas, dapat digunakan untuk berbagai ukuran namun,
kerugianya adalah berbagai komplikasi dapat terjadi, misalnya
kehilangan darah yang lebih banyak dari operasi lainnya, dapat disertai
dengan bahaya dari semua prosedur bedah mayor abdomen(Basuki,
2007).
c. Retropubic Prostatectomy
Pada prostatectomy retropubic dibuat insisi pada abdominal
bawah antara arkus pubis dan kandung kemih tanpa memasuki kandung
kemih. Prosedur ini cocok untuk kelenjar prostat yang terletak tinggi
dalam pubis. Keuntungannya perdarajhan dapat dikontrol namun
kerugianya infeksi dapat cepat terjadi dalam ruang retropubis(Basuki,
2007).
d. Perineal prostatectomy.
Adalah mengangkat kelenjar prostat melalui insisi perineum.
Pendekatan

ini

lebih

praktis

ketika

pendekatan

lainya

tidak

memungkinkan dan sangat berguna untuk biopsi terbuka. Namun


karena insisi dilakukan dekat dengan rektum, maka infeksi pasca
operasi lebih mudah terjadi. Selain itu dapat terjadi komplikasi seperti
inkontinensia, impotensi, atau cedera rectal(Basuki, 2007).

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan (Doenges, 2010)


1. Sirkulasi
Dapat terjadi peningkatan tekanan darah
2. Eliminasi
a. Perasaan ingin berkemih yang amat sangat, perasaan kehilangat urine tanpa
dapat mengontrolnya
b. Anyang-anyangan atau harus berdiri atau duduk beberapa waktu sebelum
mengeluarkan pancaran urine.
c. Penurunan kekuatan pancaran urin, aliran yang tersendat-sendat atau dribling
d. Biasanya terjadi pengeluaran urine yang sedikit disetiap episode BAK
disertai rasa tidak puas
e. BAK lebih sering di siang maupun malam hari (nocturia) disela-sela waktu
tidur
f.

Disuria atau hematuria

g. Kontipasi kronik akibat penonjolan prostat ke dalam rektum


3. Food/ fluid
a. Anoreksia,mual, muntah
b. Kehilangan berat badan
4. Nyeri dan Ketidaknyamanan
a. Nyeri pada daerah suprapubik, panggul atau nyeri punggung: bersifat tajam,
hebat dengan akut prostatitis
b. Low back pain

5. Keamanan : demam
6. Seksualitas
a. Kekhawatiran akibat kondisi atau terapi terhadap kemampuan seksual
b. Ketakutan terhadap inkontinensia atau dribling selama berhubungan
intim
c. Penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi
7. Penyuluhan atau pembelajaran
a. Riwayat kanker, hipertensi atau penyakit ginjal
b. Penggunaan anti hipertensi atau antidepresan OTC dan anti alergi yang berisi
simpatomimetik, antibiotik urinariatau agen antibakterial
c. Penggunaan nutrient atau suplement herbal untuk terapi diri sendiri seperti
palem, minyak biji labu atau produk-produk kedelai
B. Prioritas keperawatan :
1. Pre operasi
a. Mengurangi retensi urin akut
b. Meningkatkan kenyamanan
c. Mencegah komplikasi
d. Membantu klien berkompromi dengan masalah psikososialnya
e. Menyediakan informasi tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan
pengobatan
2. Post Operasi
a. Mempertahankan stabilitas homeostasis dan hemodinamik
b. Meningkatkan kenyamanan
c. Mencegah komplikasi
d. Menyediakan informasi tentang prosedur pembedahan,

prognosis,

pengobatan dan kebutuhan pemulihan.


C. Discharge Goal
1. Pre operasi
a. Pola pengosongan urine dinormalkan
b. Nyeri dan ketidaknyamanan dihilangkan
c. Komplikasi dicegah atau diminimalkan
d. Menghadapi situasi secara realistis
e. Proses penyakit, prognosis dan terapi difahami
f. Merencanakan pertemuan sesudahklien keluar dari RS.
2. Post operasi
a. Aliran urine kembali atau meningkat
b. Nyeri berkurang atau dapat dikontrol
c. Komplikasi dapat dicegah atau diminimalisir
d. Prosedur, prognosis, regimen terapi, kebutuhan pemulihan dapat dipahami
e. Merencanakan pertemuan sesudah klien keluar dari rumah sakit

D. Studi Diagnostik
1. Pemeriksaan Darah
a. PSA (prostate specific antigen) yaitu substansiyang hanya dihasilkan oleh sel
glandula prostat. Kadarnya akan meningkat tajam pada pasien yang
mengalami kanker prostat namun dapat juga terjadi peningkatan pada pasien
BPH.
b. WBCs : respon pertahanan terhadap infeksi, jumlahnya mungkin lebih dari
11000 pada pasien yang tidak mengalami immunosupresif.

2. Pemeriksaan Urin
a. Urinalisis : pengujian urin di laboratorium untuk menemukan adanya sel
RBC atau WBC dalam urin, adanya infeksi atau pengeluaran protein. Warna
kuning, coklat tua atau merah terang (perdarahan), tampak keruh, PH lebih
dari 7 yang menandakan infeksi, dan bakteri, WBC atau RBC mungkin
tampak secara mikroskopik.
b. PVR (post void residual) : volume urin yang tersisa dalam kandung kemih
sesudah BAK yang menentukan beratnya ketidakmampuan kandung kemih
yang mungkin terjadi sebagai akibat dari kateterisasi atau trans abdominal
ultrasound.
c. Transrectal prostatic ultrasound (TRUS): pemeriksaan dengan meletakan
alat didalam rektum kemudian foto ultrasound prostat dibuat. Berguna untuk
menilai ukuran prostat dan jumlah urin residu, lokasi lesi tidak berkaitan
dengan BPH. Pada pasien dengan peningkatan PSA, biopsi dengan
menggunakan TRUS mungkin diindikasikan.

d. Digital rectal exam (DRE): tes yang dilakukan dengan cara memasukan jari
pada daerah rektum untuk mengetahui kondisi abnormal prostat. Dengan
menggunakan pemeriksaan ini ukuran dan kontur prostat dapat dinilai, nodul
dapat dievaluasi, dan area yang dicurigai terjadi keganasan dapat dideteksi.
Selain itu dapat juga digunakan untuk menilai tonus dasar panggul dan
fluktuasinya, misalnya pada abses dan nyeri prostat, serta sensitivitas
glandula.
e. Uroowmetry: Mengukur jumlah urin dan aliranya melalui alat dan skala
pengukuran. Alat ini menghasilkan grafik yang memperlihatkan perubahan
kecepatan aliran urin dari detik ke detik, mengukur aliran maksimal dan
berapa

lama

waktu

yang

dibutuhkan

untuk

mencapainya.

Hasil

daripengukuran ini akan mengalami abnormalitas jika otot kandung kemih


lemah atau urin mengalami obstruksi. Membantu membedakan kemampuan
f.

kontraksi kandung kemih yang buruk dari BOO yang disebabkan oleh BPH.
Intravenous pyelography (IVP): rangkaian x-ray ginjal, ureter,dan kandung
kemih sesudah diinjeksikan bahan kontras kedalam vena. Memperlihatkan
halangan pada traktus urinarius yang menyebabkan lambatnya pengosongan

kandung kemih, retensi urin dan adanya pembesaran prostat.


g. Cystourethrography: memperlihatkan gambaran kandung kemih dan uretra
menggunakan bahan kontras radiopaq yang diinjeksikan melalui uretra. Cara
ini mungkin lebih baik jika dibandingkan dengan IVP karena lebih bersifat
lokal dan tidak sistemik, melalui media kontras radiopaq.
h. Cystourethroscopy: visualisasi langsung kandung kemih dan uretra melalui
bidang fiber optik fleksibel. Memperlihatkan derajat pembesaran prostat dan
perubahan dinding kandung kemih sebagai akibat dari trabekulasi kandung
kemih

E. Diagnosa Keperawatan
1. Pre operasi
a. Retensi urin akut atau kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik,
pembesaran prostat, ketidakmampuan otot detrusor, ketidakmampuan
kandung kemih untuk kontraksi secara adekuat
Ditandai dengan :
1) Frekuensi BAK yang sering, anyang-anyangan, ketidakmampuan untuk
mengosongkan kandung kemih secara komplit, inkotinensia atau dribling
2) Distensi kandung kemih, adanya urin residu
Tujuan :
Urin eliminasi (NOC) :
1) Pengosongan dalam jumlah yang cukup dengan tanpa terabanya distensi
kadung kemih
2) Menunjukan residu post pengosongan kurang dari 50 mL tanpa dribling atau
overflow.
Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi

Rasional

Urinary Retention Care (NIC)


Mandiri
1. Anjurkan kepada klien untuk BAK setiap 24 jam dan ketika dorongan berkemih mulai
dirasakan

1.

Meminimalkan retensi urin dan overdistensi


kandung kemih

2.

Tanyakan kepada klien tentang stress


inkontinensia pada saat klien bergerak,
bersin, batuk, tertawa atau mengangkat
barang

2.

Tekanan tinggi pada uretra menghalangi pengosongan urin hingga tekanan dianggap
cukup untuk pengeluaran urin secara
involunter

3.

Observasi pancaran
ukuran

3.

Digunakan untuk mengevaluasi derajat obstruksi dan memilih intervensi yang sesuai.

urine, kekuatan dan

4.

Dokumentasikan waktu dan jumlah urine


yang keluar, catat berkurangnya output, ukur
berat jenis sesuai indikasi

4.

Retensi urin meningkatkan tekanan di dalam


ureter dan ginjal, yang dapat menyebabkan
insufisiensi ginjal. Berkurangnya aliran
darah ke ginjal akan mengganggu
kemampuan filtrasinya.

5.

Perkusi dan palpasi daerah suprapubik.


Anjurkan intake cairan oral hingga 3 L/hr,
sesuai toleransi jantung jika diindikasikan.

5.

Distensi kandung kemih dapat teraba di


daerah suprapubik.. Meningkatnya cairan
yang beredar mempertahankan perfusi
ginjal, kandung kemih, dan sedimen ureter
serta bakteri. Catatan: Cairan dapat dibatasi
untuk mencegah distensi kandung kemih jika
obstruksi berat hadir atau sampai aliran urin
yang memadai terbentuk kembali

6.

Pantau tanda-tanda vital secara cermat.


Amati adanya hipertensi atau edema
perifer, dan perubahan status mental.
Timbang BB sehari-hari. Pertahankan
asupan akurat intake dan output (I & O).

6.

Kehilangan fungsi ginjal mengakibatkan penurunan eliminasi cairan dan akumulasi


limbah beracun; dapat dapat mengakibatkan
kerusakan total fungsi ginjal

7.

Sediakan dan dorong perawatan kateter


dan perineum secara cermat

7.

Mengurangi resiko peningkatan infeksi

8.

Rekomendasikan mandi duduk, sesuai


indikasi.

8.

.Membantu relaksasi otot, mengurangi


edema,
dan
mungkin
meningkatkan
kamampuan ber kemih

9.

Obat-obatan telah lama digunakan sebagai


terapi lini pertama untuk klien dengan gejala
ringan sampai sedang, dipilih terutama
karena dianggap mengurangi risiko efek
sampingdan keinginan untuk menghindari
operasi.

Kolaborasi
9.

Berikan obat, sesuai indikasi, misalnya:

5 - inhibitor-reductase, seperti finasteride


(Proscar) dan dutasteride (Avodart)

Antagonis
Alpha-adrenergic
seperti
alfuzosin (Uroxatral), terazosin (Hytrin),
doxazosin (Cardura), dan
tamsulosin
(Flomax)

Antispasmodik, seperti oxybutynin


(Ditropan) Supositoria rektal (B & O)

Jika diberikan dalam jangka panjang dapat


mengurangi ukuran prostat serta gejalanya.
Namun, efek samping, seperti penurunan
libido dan disfungsi ejakulasi, dapat mempengaruhi pilihan klien untuk menggunakan
nya dalam jangka waktu yang lama.
Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi
terapi antara doxazosin dan finasteride lebih
unggul diban -dingkan dengan dosis tunggal
dalam pencegahan penyakit BPH terkait
perkembang an
(National Institute of
Diabetes digestive and kidney desease
[NIDDK], 2003).
Agen ini memblokir efek dari sinapsis
postganglionik yang mempengaruhi otot dan
kelenjar eksokrin halus. Tindakan ini dapat
mengurangi gejala saluran kemih yang
merugikan dan meningkatkan aliran urin.
Meredakan spasme kandung kemih terkait
dengan iritasi dengan kateter. Supositoria
yang diserap dengan mudah melalui mukosa
ke jaringan kandung kemih yang dapat
menghasilkan
relaksasi
otot
dan

meringankan spasme kandung kemih.


Antibiotik dan antibakterial

Membantu memerangi infeksi, mungkin juga


dibutuhkan sebagai terapi profilaksis

10. Lakukan
kateterisasi
untuk
mengeluarkan
sisa urin dan hindari
penggunaan kateter tetap, sesuai indikasi.

10. Mengurangi dan mencegah retensi urin dan


mengesampingkan adanyadari ureter striktur.
Kateter Coude mungkin diperlukan karena
ujungnya yang melengkung memudahkan
lewatnya pipadi sekitar kelenjar prostat yang
membesar.
Catatan:
kandung
kemih
dekompresi harus dilakukan dengan hati-hati
untuk mengamati tanda-tanda efek samping,
seperti hematuria yang terjadi sebagai akibat
pecahnya pembuluh darah mukosa kandung
kemih yang terlalu besar dan sinkop karena
rangsangan otonom yang berlebihan.

11. Pantau hasil laboratorium, seperti:

11. Pembesaran prostat yang disertai obstruksi


sering menyebabkan dilatasi saluran kemih
bagian atas, ginjal, ureter dan berpotensial
mengakibatkan kerusakan fungsi ginjal
bahkan uremia.

Nitrogen urea darah (BUN), kreatinin (Cr),


dan elektrolit
Urinalisis dan kultur

12. Siapkan untuk dan membantu dengan


drainase kemih, seperti cystostomy darurat.

13. Siapkan untuk prosedur, seperti berikut:


Terapi panas, seperti laser, transurethral
microwave
thermotherapy
(TUMT),
Cortherm,
Prostatron,
dan
jarum
transurethral ablasi (TUNA) Prosedur
lainnya, seperti penguapan photoselective,
juga
disebut ablasi laser
14. Prosedur lain :
Laser ablasi

Ureteral stent

Statis urine berpeluang untuk pertumbuhan


bakteri sehingga memperbesar kemungkinan
terjadinya UTI
12. Kadang diperlukan untuk drainase urin
selama episode akut yang disertai dengan
azotemia atau ketika tindakan pembedahan
di kontra -indikasikan akibat status
kesehatan klien
13. Kebanyakan
terapi
invasif
minimal
mengandal kan panas yang menyebabkan
kerusakan
jaringan
prostat.
Panas
disampaikan
secara
terbatas
dan
dikendalikan fashion sampai bagian tengah
dari prostat . dalam mengobati gejalanya,
hasil jangka panjang bervariasi.
14. Prosedur ini dilakukan dengan cepat
membuat fossa prostatica terbuka lebar
sehingga aliran urin segera kembali normal.
Prosedur ini dapat dilakukan pada pasien
rawat jalan atau perawatan jangka
pendek.dasar atau pendek-tinggal pengaturan
Catatan: prosedur reseksi prostat terbuka
seperti TURP, biasanya dilakukan pada klien
dengan kelenjar prostat yang sangat besar
( Shiller , 2007) . ( Lihat CP :
prostatectomy ,
Penempatan stent kedalam uretra, ini me
rupakan cara yang mudah dan effektif untuk
mempertahankan kepatenan lumen uretra.
Namun karena tingkat kegagalan yang
tinggi, prosedur ini harus dilakaukan secara
temporer sampai tindakan definitif dilakukan
(AUA, 2003)

b. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa, distensi kandung kemih,


kolik renal, infeksi urinari dan terapi radiasi, ditandai dengan :
1) Melaporkan nyeri (bladder sasme atau rektal spasme)
2) Fokus menyempit, perubahan tonus otot, meringis, prilaku distraksi, dan
kurang istirahat
3) Respon autonomik
Tujuan : Tingkat nyeri (NOC):
1) Nyeri dihilang atau dapat dikontrol
2) Klien terlihat relax
3) Klien dapat tidur dan beristirahat dengan sewajarnya
Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi

Rasional

Pain Management (NIC)


Mandiri
1.

Kaji
nyeri,
catat
lokasi,
intensitas 1.
(menggunakan skala 1-10), karakteristik dan
durasinya

Memberikan informasi yang membantu dalam


menentukan pilihan intervensi yang efektif

2.

Plester selang drainase pada daerah paha dan 2.


keteter pada abdomen jika traksi sudah tidak
diperlukan

Mencegah terjadinya kecelakaan


mnyertai akibat dari trauma uretra

3.

Berikan tindakan kenyamanan,


seperti 3.
menggosok punggung, membantu klien
mengasumsikan
posisi
yang
nyaman.
Menyarankan penggunaan relaksasi dan latihan
pernafasan serta aktivitas pengalihan.

Meningkatkan relaksasi, mengembalikan pusat


perhatian, dan dapat meningkatkan kemampuan
koping.

4.

Mendorong penggunaan mandi duduk dan 4.


peredam panas pada perineum.

Mendorong relaksasi otot.

Kolaborasi
5. Berikan terapi sesuai denagn
contohnya :
Opioid seperti Meperidin (Demerol)

indikasi, 5.

Antibakterial seperti methenamine hippurate


(Hiprex)

lain

yang

Menghilangkan nyeri yang sangat hebat,


memberikan efek relaksasi fisik dan mental
Mengurangi
urinarius

populasi

bakteri

dalam

traktus

c. Risiko

kekurangan

volume

cairan

dengan

faktor

risiko

diuresis

postobstruksi dari aliran deras drainase akibat overdintensi kronis


kandung kemih.
Tujuan
Hidrasi (NOC)
1) Mempertahankan status hidrasi yang adekuat, dibuktikan oleh tanda-tanda
vital yang stabil, membran mukosa lembab, terabanya nadi perifer dan
pengisian kapiler yang baik.
Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi

Rasional

Managemen Cairan (NIC)


Mandiri
1.

Monitor out put, catat pengeluaran 100-200


mL/jam

1.

Diuresis yang cepat atau berkelanjutan dapat


menyebabkan volume total cairan klien dan
limit reabsorpsi natrium dalam tubulus ginjal
berkurang.

2.

Anjurkan untuk meningkatkan intake oral


disesuaikan dengan kebutuhan individu

2.

Klien mungkin telah membatasi asupan oral


dalam upaya untuk mengontrol gejala kencing,
mengurangi cadangan homeostatik dan
meningkatkan
risiko
dehidrasi
serta
hipovolemia.

Monitor TD dan nadi, pengisian kapiler


sertakelembaban membran mukosa

3.

Tingkatkan
ditinggikan

Memungkinkan deteksi dini dan intervensi


untuk
sistemik
hipovolemia.

4.

Mengurangi beban kerja jantung, memfasilitasi


homeostasis sirkulasi.

5.

Sebagaimana cairan ditarik dari ruang ekstra


seluler, natrium juga dapat mengikuti
perpindahan dan menyebabkan hiponatremia.

6.

Menggantikan kehilangan cairan dan natrium


untuk mencegah atau mengoreksi hipovolemia

\
3.

4.

bedrest

dengan

kepala

Kolaborasi
5. Monitor kadar elektrolit terutama sodium

6. Berikan cairan intravena : salin hipertonik


sesuai dengan indikasi

d. Ketakutan/ anxietas berhubungan dengan


1) Perubahan

status

kesehatan;

kemungkinan

dilakukanya

prosedur

pembedahan atau keganasan


2) Keadaan memalukan; kehilangan martabat akibat tereksposnya daerah
genitalia sebelum, selama dan sesudah prosedur pengobatan ; keprihatinan
tentang kemampuan seksual
Yang ditandai dengan:
1) Peningkatan tekanan darah, ketakutan/ kegelisahan dan kekhawatiran
2) Mengekspresikan perhatian terhadap perubahan perasaan
3) Takut pada konsekuensi yang tidak spesifik
Tujuan
Kontrol diri terhadap ansietas atau ketakutan (NOC):
1) Terlihat relax
2) Mengungkapkan secara akurat pengetahuan tentang situasi
3) Mendemonstrasikan secara tepat perasaan dan ketakuatan berkurang
Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi

Rasional

Reduksi Ansietas (NIC)


Mandiri
1.

2.

3.
4.

Selalu hadir untuk klien. Membangun hubungan


saling percaya dengan klien dan orsng penting
lainnya (SO).
Berikan informasi tentang prosedur dan tes
khusus dan apa yang akan terjadi setelah itu,
misalnya pemasangan kateter, kencing darah,
dan iritasi kandung kemih. Pahami berapa
banyak
informasi
yang klien inginkan.
Pertahankan sikap peduli dalam melakukan
prosedur dan menghadapi klien. Lindungi
privasi klien.
Dorong klien dan SO untuk verbalisasi
keprihatin-an dan perasaan.

1. Menunjukkan perhatian dan keinginan untuk


membantu. Ajak diskusi tentang masalah
sensitif.

2. Membantu klien memahami tujuan dari apa


yang sedang dilakukan dan mengurangi
masalah yang terkait dengan yang tidak
diketahui, termasuk ketakutan akan kanker.
Namun, kelebihan informasi tidak membantu
dan dapat meningkatkan kecemasan.

3. Berkomunikasi dengan sikap menerima melindungi rasa malu klien.

4. Menetapkan

masalah,

memberikan

kesempatan untuk menjawab pertanyaan,


mengklarifikasi
kesalahpahaman,
dan
mencari solusi untuk memecahkan masalah.
5.

Tegaskan informasi yang telah diberikan klien


sebelumnya.

5. Mengizinkan klien untuk menghadapi kenyataan dan memperkuat kepercayaan perawat


terhadap informasi yang disampaikan.

e. Defisit pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis,


pengobatan, perawatan diri dan kebutuhan saat pulang berhubungan
dengan
1) Tidak terpajan atau kurang mengingat, kesalahan dalam menafsirkan
2) Tidak familiar dengan sumber informasi
3) Keprihatian tentang area sensitif
Ditandai dengan :
1) Pertanyaan, permintaan informasi, verbalisasi masalah
2) Perilaku yang tidak pantas; apatis, menarik diri
3) Tindak lanjut instruksi yang tidak tepat, berkembangnuya komplikasi yang
sebenarnya dapat dicegah
Tujuan:
Pengetahuan: Proses Penyakit (NOC):
1)

Verbalisasi pemahaman tentang proses penyakit, prognosis, dan potensial

2)

komplikasi.
Mengidentifikasi hubungan antara tanda dan gejala dengan proses penyakit.

Pegetahuan: Pengobatan Regimen (NOC):


1) Verbalisasi pemahaman akan kebutuhan terapeutik.
2) Memulai gaya hidup atau perilaku perubahan yang diperlukan.
3) Berpartisipasi dalam rejimen pengobatan.

Rencana Asuhan Keperawatan


Intervensi
Pengajaran: Proses Penyakit (NIC)
Mandiri
1.

Tinjau proses penyakit dan harapan

Rasional

2.

klien.

1.

Menyediakan pengetahuan dasar dari


dimana klien dapat membuat informasi
pilihan terapi.

Dorong verbalisasi ketakutan, perasaan,


dan kekhawatiran.

2.

Membantu klien bekerja melalui perasaan


mungkin sangat penting untuk proses
pemulihan.

3.

Mungkin ada
terucapkan

4.

Beberapa klien mungkin lebih suka meng


-obati dengan terapi pelengkap karena
penurunan terjadinya dan keparahan ber
kurang dari efek samping, seperti
impotensi.
Catatan: Nutrisi diketahui menghambat
pembesaran prostat termasuk seng, protein
kedelai, asam lemak esensial, biji rami, dan
likopen.

5.

Dapat menyebabkan
iritasi
prostat
sehingga
mengakibatkan
retensi.
Peningkatan men- dadak dalam aliran urin
dapat
menyebabkan
distensi
dan
kehilangan tonus kandung kemih,serta
terjadinya peristiwa retensi urin akut

6.

Aktivitas seksual dapat meningkatkan


nyeri selama episode akut tetapi dapat
berfungsi sebagai agen relaksasi pada
penyakit kronis.
Catatan: Obat-obatan, seperti finasteride
(Proscar), diketahui mengganggu libido
dan ereksi. Alternatif termasuk terazosin
(Hytrin), doxazosin mesylate (Cardura),
dan tamsulosin (Flomax), yang tidak
mempengaruhi kadar testosteron.

7.

Memiliki informasi tentang anatomi tubuh


yang terlibat membantu klien memahami
implikasi dari perawatan yang diusulkan
karena mungkin akan mempengaruhi
kinerja seksual.

8.

Intervensi yang cepat dapat mencegah


lebih komplikasi serius

9.

Mengurangi risiko penggunaan terapi yang


tidak seharusnya, seperti penggunaan
dekongestan,
antikolinergik
dan
antidepresan, yang dapat meningkatkan
retensi urin dan dapat memicu episode
akut.

3.

Berikan informasi bahwa kondisi ini


bukan menular seksual.

4.

Tinjau terapi obat, penggunaan produk


herbal, dan diet, seperti meningkatkan
asupan buah-buahan dan kacang
kedelai

5.

6.

7.

8.

9.

Sarankan menghindari makanan pedas,


kopi, alkohol, berkendaran lama, dan
asupan cairan yang cepat.

Bantu untuk mengatasi masalah seksual


selama
episode
akut
prostatitis,
hubungan intim sebaiknya dihindari,
tetapi mungkin membantu dalam
pengobatan dari kondisi kronis.

Berikan informasi tentang anatomi dan


fungsi seksual karena berhubungan dengan
pembesaran prostat. Dorong pertanyaan
dan
meningkatkan dialog tentang keprihatinan.
Tanda dan gejala yang memerlukan
evaluasi medis Ulasan berawan, urin
berbau;
berkurang
output
urin;
ketidakmampuan
untuk kekosongan; dan adanya demam
atau kedinginan.
Diskusikan
perlunya
memberitahu
diagnosis kepada penyedia layanan
kesehatan lain

10. Mempertegas pentingnya tindak lanjut


medis selama minimal 6 bulan - 1 tahun,
termasuk pemeriksaan dubur dan urinalisis

ketakutan

yang

tak

10. Kekambuhan hiperplasia dan infeksi dapat


disebabkan oleh organisme yang sama atau

berbeda sehingga mungkin membutuhkan


perubahan dalam rejimen terapi untuk
mencegah komplikasi yang lebih serius.
11. Diskusikan isu-isu keamanan pribadi dan
potensi perubahan lingkungan.

11. Riset baru-baru ini menunjukan risiko


jatuh meningkat pada klien dengan BPH
sedang sampai parah terkait dengan urgensi
dan nokturia, dimana risiko jatuh
meningkat seiring dengan bertambahnya
usia dan keparahan gejala (Parsons et al,
2008)

2. Post operasi
a. Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan
1) Obstruksi

mekanik oleh bekuan darah, edema, trauma dan prosedur

pembedahan
2) Penekanan dan iritasi oleh kateter dan balon fiksasi
3) Kehilangan tonus kandung kemih yang terjadi akibat overdistensi atau
pengosongan secara terus menerus pada saat preoperasi
Ditandai dengan :
Frekuensi, urgensi, keragu-raguan, disuria, inkontinensia, retensi.
Tujuan :
1) Berkemih dengan jumlah normal tanpa retensi
2) Menunjukkan perilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemih/ urinaria.

Rencana Asuhan Keperawatan


Intervensi

Rasional

Mandiri
1.

Kaji haluaran urine dan system kateter/ drainase,


khususnya selama irigasi kandung kemih.

1.

retensi dapat terjadi karena edema area bedah,


bekuan darah dan spasme kandung kemih

2.

Bantu pasien memilih posisi normal untuk 2.


berkemih, contoh berdiri, berjalan kekamar
mandi, dengan frekuensi sering setelah kateter
dilepas

mendorong pasase urine dan meningkatkan


rasa normalitas

3.

Perhatikan waktu, jumlah berkemih, dan ukuran


aliran setelah kateter dilepas. Perhatikan keluhan

kateter biasanya dilepas 2-5 hari setelah


dibedah, tetapi berkemih dapat berlanjut dan

3.

rasa penuh kandung kemih, ketidakmampuan


berkemih, urgensi

menjadi masalah dalam beberapa waktu karena


edema ureteral dan kehilangan tonus.

4.

Dorong pasien untuk berkemih bila terasa


dorongan tetapi tidak lebih dari 2-4 jam per
protocol

4.

berkemih dengan dorongan dapat mencegah


retensi urine. Keterbatasan berkemih untuk tiap
4 jam (bila ditoleransi ) meningkatkan tonus
kandung kemih dan membantu latihan ulang
kandung kemih

5.

Ukur volume residu bila ada kateter suprapubik

5.

mengawasi keefektifan pengosongan kandung


kemih. residu lebih dari 50 ml menunjukkan
perlunya kontinuitas kateter sampai tonus
kandung kemih membaik.

6.

Dorong pemasukan cairan 3000 ml sesuai


toleransi. Batasi cairan pada malam hari setelah
kateter dilepas

6.

mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi


ginjal untuk aliran urine. Penjadwalan masukan
cairan menurunkan kebutuhan berkemih/
gangguan tidur selama malam hari.

7.

Instruksikan pasien untuk latihan perineal, contoh


mengencangkan bokong, menghentikan dan
memulai aliran urine.

7. Membantu meningkatkan control kandung

Anjurkan pasien bahwa penetesan diharapkan


setelah kateter dilepas dan harus teratasi sesuai
kemajuan

8. Informasi membantu pasien untuk menerima

8.

kemih/
sfingter/
inkontinensia

pertahankan irigasi kandung kemih kontinu


(continous bladder irrigation CBI ) sesuai indikasi
pada periode pasca operasi dini

Meminimalkan

masalah. Fungsi normal dapat kembali dalam


2-3 minggu tetapi memerlukan sampai 8 bulan
setelah pendekatan perineal.

Kolaborasi
9.

urine.

9. Mencuci kandung kemih dari bekuan darah dan


debris untuk mempertahankan patensi kateter/
aliran urine.

b. Resiko kekurangan volume cairan tubuh/ perdarahan dengan faktor


risiko :
1) Kesulitan mengontrol perdarahan
2) Pembatasan intake selama preoperatif
3) Diuresis post obstruksi
Tujuan :
1) Mempertahankan

hidrasi adekuat, dibuktikan oleh tanda-tanda vital

stabil, nadi perifer teraba, pengisian kapiler baik, membran mukosa


lembab, dan keluaran urine tepat.

2) Menunjukkan tidak ada perdarahan aktif.


Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi

Rasional

Mandiri
1.

Gerakan
/
penarikan
kateter
dapat
menyebabkan perdarahan atau pembentukan
bekuan dan pembenaman kateter pada distensi
kandung kemih

2.

Indicator keseimbangan cairan dan kebutuhan


penggantian, pada irigasi kandung kemih awasi
perkiraan kehilangan darah dan secara akurat
mengkaji haluaran urine.

3.

Perdarahan tidak umum terjadi selama 24 jam


pertama tetapi perlu pendekatan perineal.
Perdarahan continue/ berat atau berulangnya
perdarahan aktif memerlukan intervensi/
evaluasi medik

4.

Merah terang dengan bekuan darah biasanya


mengindikasikan perdarahan arterial dan
memerlukan terapi cepat, Peningkatan
viskositas, warna keruh gelap, dengan bekuan
gelap, perdarahan dari vena (perdarahan paling
umum) biasanya berkurang sendiri. Perdarahan
dengan
tidak
ada
bekuan
dapat
mengindikasikan diskrasia darah atau masalah
pembekuan sistemik

5.

Perdarahan dapat dibuktikan atau disingkirkan


dalam jaringan perineum

6.

Dehidrasi
/
hipovolemia
memerlukan
intervensi cepat untuk mencegah berlanjut ke
syok.

Selidiki kegelisahan, kacau mental, perubahan


perilaku

7.

Dapat menunjukkan penurunan perfusi serebral


(hipovolemia) atau indikasi edema serebral
karena kelebihan cairan selama prosedur TUR

8.

Dorong pemasukan cairan 3000ml/ hari kecuali


ada kontraindikasi

8.

Membilas ginjal/ kandung kemih dari bakteri


dan debris tetapi dapat mengakibatkan
intoksikasi cairan/ kelebihan cairan bila tidak
diawasi dengan ketat

9.

Hindari pengukuran suhu rectal


menggunakan selang rectal/ enema

9.

Dapat mengakibatkan penyebaran iritasi


terhadap dasar prostat dan peningkatan tekanan
kapsul prostat dengan risiko perdarahan

1.

Benamkan
berlebihan

2.

Awasi pemasukan dan pengeluaran

3.

Observasi
drainase
kateter,
perdarahan berlebihan berlanjut

4.

Evaluasi warna, konsistensi urine.

5.

Inspeksi balutan/ drain luka. Timbang balutan


bila diindikasikan. perhatikan pembentukan
hematoma.

6.

Awasi tanda vital, perhatikan peningkatan nadi


dan pernafasan, penurunan TD, diaphoresis,
pucat, perlambatan pengisian kapiler, dan
membrane mukosa kering.

7.

Kolaborasi

kateter,

hindari

manipulasi

perhatikan

dan

10. Awasi pemeriksaan


indikasi

laboratorium

sesuai

11. Pertahankan traksi kateter menetap, plester


kateter dibagian dalam paha

10. Hb/ Ht, jumlah sel darah merah (berguna


dalam evaluasi kehilangan darah/ kebutuhan
penggantian), Pemeriksaan koagulasi, jumlah
trombosit (dapat mengindikasikan terjadinya
komplikasi
contoh,
penurunan
factor
pembekuan)
11. traksi terisi balon 30ml diposisikan pada fosa
uretral prostat akan membuat tekanan pada
aliran darah pada kapsul prostat untuk
membant mencegah/ merngontrol perdarahan

12. Kendorkan traksi dalam 4-5 jam. Catat periode


pemasangan dan pengendoran traksi, bila
digunakan

12. Traksi lama dapat menyebabkan trauma/


masalah permanen dalam mengontrol urine

13. Berikan pelunak fese/ laksatif sesuai indikasi

13. pencegahan konstipasi/ mengejan untuk


defekasi mencegah perdarahan rectal-perineal

c. Risiko infeksi dengan faktor risiko:


1) Prosedur invasif : peralatan selama operasi, pemasangan kateter urine, irigasi
yang berkali-kali
2) Trauma jaringan, insisi bedah ( seperti pada perineal)
Tujuan :
1) Mencapai waktu penyembuhan
2) Tidak mengalami tanda-tanda infeksi
Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi
Mandiri
1.

Rasional

Pertahankan system kateter steril,


berikan perawatan kateter regular
dengan sabun dan air, berikan salep
antibiotic disekitar sisi kateter.

1.

Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi/


sepsis lanjut

2.

Menghindari reflex balik urine, yang dapat


memasukkan bakteri kedalam kandung kemih

2.

Ambulasi dengan kantung drainase


dependen

3.

Awasi tanda vital, perhatikan demam


ringan, menggigil, nadi dan pernafasan
cepat, gelisah, peka, disorientasi.

3.

Pasien yang mengalami sistoskopi dan/ TUR


prostat berisiko untuk mengalami syok bedah/
septic
sehubungan dengan manipilasi/
instrumenatsi

4.

Observasi drainase
kateter suprapubik

4.

Adanya drain, insisi suprapubik meningkatkan


risiko untuk infeksi, yang diindikasikan
dengan eritema, drainase purulent

luka,

sekitar

5.

Ganti balutan dengan sering (insisi


suprapubik retropubik dan perineal),
pembersihan dan pengeringan kulit
sepanjang waktu

6.

Gunakan pelindung kulit tipe ostomi

5.

Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan


memberikan media untuk pertumbuhan
bakteri, peningkatan risiko infeksi luka

6.

Memberikan perlindungan untuk kulit sekitar,


mencegah ekskoriasi dan menurunkan risiko
infeksi

7.

Mungkin
diberikan
secara
profilaktik
sehubungan dengan peningkatan risiko infeksi
pada prostatektomi

Kolaborasi :
7.

Pemberian anti biotik

d. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, refleks spasme
otot akibat prosedur pembedahan atau penekanan oleh balon traksi pada
kandung kemih
Ditandai dengan :
1) Keluhan nyeri spasme kandung kemih
2) Wajah meringis, melindungi daerah yang sakit, gelisah
3) Respon otonomik
Tujuan :
1) Melaporkan nyeri hilang/ terkontrol
2) Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas
terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu
3) Tampak rileks, tidur/ istirahat dengan tepat
Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi

Rasional

Mandiri
1.

Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala


0-10)

1.

Nyeri tajam, intermitten dengan dorongan


berkemih/ pasase urine sekitar kateter
menunjukkan spasme kandung kemih yang
cenderung lebih berat pada pendekatan
suprapubik atau TUR (biasanya menurun
setelah 48 jam)

2.

Pertahankan patensi kateter dan system


drainase. Pertahankan selang bebas dari lekukan
dan bekuan

2.

Mempertahankan fungsi kateter, dan drainase


system. menurunkan risiko distensi/ spasme
kandung kemih

3.

Berikan pasien informasi akurat tenatng kateter,


drainase, dan spasme kandung kemih

3.

Menghilangkan ansietas dan meningkatkan


kerjasama dengan prosedur tertentu

4.

Tingkatkan pemasukan sampai 3000ml/ hari


sesuai toleransi

4.

Menurunkan iritasi dengan mempertahankan


aliran cairan konstan ke mukosa kandung
kemih.

5.

Berikan tindakan kenyamanan (sentuhan


terapeutik,
pengubahan
posisi,
pijatan
punggung) dan aktifitas terapeutik. Dorong
penggunaan tekhnik relaksasi, termasuk latihan
nafas dalam, visualisasi, pedoman imajinasi.
.
Berikan rendam duduk atau lampu penghangat
bila diindikasikan

5.

Menurunkan tegangan otot, memfokuskan


kembali perhatian, dan dapat meningkatkan
kemampuan koping

6.

Meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan


edema, dan meningkatkan penyembuhan

6.

Kolaborasi :
7.

Berikan antispasmodic, contoh :


4) Oksibutinin
klorida
(ditorpan), B & O supositoria
5)

Propantelin bromide (ProBantanin)

7.
6)

Merilekskan
otot
polos,
untuk
memberikan penurunan spasme, dan nyeri

7)

Menghilangkan spasme kandung kemih


oleh kerja antikolinergik. Biasanya
dihentikan 24-48 jam sebelum perkiraan
pengangkatan kateter untuk meningkatkan
control kontraksi kandung kemih.

c. Risiko disfungsi sexual dengan faktor risiko :


1) Krisis situasional ; inkontinensia, kebocoran urin sesudah kateter di lepaskan
2) Ancaman konsep diri, perubahan status kesehatan
Tujuan
1) Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat
diatasi.
2) Menyatakan pemahaman situasi individual
3) Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah
Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi

Rasional

Mandiri
1.

Berikan keterbukaan pada pasien/ orang


terdekat untuk membicarakan tentang masalah
inkontinensiadan fungsi seksual

1.

Dapat mengalami ansietas tentang efek


bedah dan dapat menyembunyikan
pertanyaan yang diperlukan. Ansietas
dapat mempengaruhi kemapuan untuk
menerima informasi yang diberikan
sebelumnya.

2.

Berikan informasi akurat tentang harapan


kembalinya fungsi seksual

3.

Diskusikan dasar anatomi.


menjawab pertanyaan pasien

4.

5.
6.

2.

Impotensi fisiologis terjadi bila saraf


perineal dipotong selama prosedur radikal,
pada pendekatan lain, aktifitas seksual
dapat dilakukan seperti biasa dalam 6-8
minggu. Catatan : prostese prostat dapat
dianjurkan setelah prosedur perineal
radikal

3.

Saraf pleksus mengontrol aliran secara


posterior ke prostat melalui kapsul. Pada
prosedur yang tidak melibatkan kapsul
prostat, impoten dan sterilitas biasanya
tidak menjadi konsekuensi. Prosedur
bedah mungkin tidak memberikan
pengobatan permanen, dan hipertrofi dapat
berulang

4.

Cairan seminimal mengalir kedalam


kandung kemih dan disekresikan melalui
urine. Ini tidak mempengaruhi fungsi
seksual tetapi akan menurunkan kesuburan
dan menyebabkan urine keruh.

Instruksikan latihan perineal dan interupsi/


kontinu aliran urine.

5.

Meningkatkan peningkatan control otot


kontinensia urinaria dan fungsi seksual.

Kolaborasi : rujuk ke penasehat seksual sesuai


indikasi

6.

Masalah
menetap/
tidak
teratasi
memerlukan intervensi professional.

Diskusikan
pendekatan
digunakan.

Jujur

dalam

ejakulasi
retrograde
bila
transurethral/
suprapubik

d. Kurang pengetahuan (kebutuhan untuk belajar) tentang kondisi, prognosis,


pengobatan, perawatan diri dan kebutuhan pemulangan berhubungan dengan
1) Tidak terpajan atau kurang mengingat, kesalahan dalam menafsirkan
2) Tidak familiar dengan sumber informasi
Ditandai dengan :
1) Pertanyaan, meminta informasi, pernyataan konsepsi
2) Menyatakan masalah
3) Tidak akurat mengikuti instruksi/ terjadinya komplikasi yang dapat dicegah
Tujuan
1)
2)
3)
4)

Memahami pemahaman dan prosedur bedah dan pengobatan


Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan
Melakukan perubahan perilaku yang perlu
Berpartisipasi dalam program pengobatan

Rencana Asuhan Keperawatan


Intervensi

Rasional

Mandiri
1.

Kaji implikasi prosedur dan harapan masa


depan

1.

Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien


dapat membuat pilihan informasi

2.

Tekankan perlunya nutrisi yang baik, dorong


konsumsi buah, meningkatkan diet tinggi serat

2.

Meningkatkan penyembuhan dan mencegah


komplikasi, menurunkan risiko perdarahan
pascaoperasi

3.

Diskusikan pembatasan aktivitas awal, contoh


menghindari mengangkat berat, latihan keras,
duduk/ mengendarai mobil terlalu lama,
memanjat lebih dari 2 tingkat tangga sekaligus

3.

Peningkatan tekanan abdominal/ meregangkan


yang menempatakan stress pada kandung
kemih dan prostat, menimbulkan risiko
perdarahan

4.

Dorong kesinambungan latihan perineal

4.

Membantu
control
uirinaria
menghilangkan inkontinensia

5.

Instruksikan perawatan kateter urine bila ada.


Identifikasi sumber alat/ dukungan

5.

Meningkatkan kemandirian dan kompetensi


dalam perawatan diri.

6.

Kaji ulang tanda/ gejala yang memerlukan


evaluasi medic. Contoh : eritema, drainase,
purulen dari luka, perubahan karakter/ jumlah
urine, adanya dorongan/ frekuensi. Perdarahan
berat, demam/ menggigil.
Rasional
:

6.

Intervensi cepat dapat mencegah komplikasi


serius. catatan : urine tampak keruh beberapa
minggu sampai penyembuhan pascaoperasi
tyerjadi dan tampak keruh setelah koitus
karena ejakulasi retrogard.

dan

PENGKAJIAN

INFORMASI UMUM
Nama

: Tn Lukas Mengu Herin

Tanggal lahir

: 28 oktober 1953

Usia

: 60 tahun

Pendidikan

: SMP

J Kelamin

: Laki-laki

Suku

: Flores

Alamat

: Lamalowo, kelurahan Ilewoling Flores Timur

Status Perkawinan

: Belum kawin

Tanggal masuk

: 25Maret 2014 jam 14.41, Rujukan dari RS Larantuka

Tanggal Pengkajian

: 26 Maret 2014

Sumber informasi

: Klien, keluarga dan Rekam Medis

Diagnosa Medis

: Hypertropi Prostat Grade III

RIWAYAT KELUHAN
a. Keluhan Utama
b. Riwayat keluhan utama

: Tidak bisa buang air kecil


: keluhan dirasakan klien sejak 2 bulan yang

lalu, tepatnya tanggal 23 januari 2014. Awalnya keluhan belum terlalu parah,
setiap kali klien BAK harus mengedan, pancaran air kencing melemah, diakhir
BAK kencing menetes, dan klien merasa tidak puas. Kemudian sejak 1 bulan
yang lalu klien mulai kesulitan total untuk BAK sehingga tanggal 24 Maret
2014 klien langsung dibawa ke Puskesmas Waewerang., petugas berusaha untuk
melaukan pemasangan kateter 2x namun tidak berhasil, kemudian klien dirujuk
ke RSUD Larantuka. Di RS tersebut kembali dilakukan tindakan pemasangan
kateter menggunakan kateteh no 18F dan 16F namun tidak behasil, bahkan
keluar darah dari kemaluansaat dilakukan USG, dokter mengatakan bahwa klien
menderita pembesaran prostat dan penyempitan saluran kencing, kemudian
dokter memutuskan untuk melakukan pemasangan selang melalui daerah perut

tengah bawah (sistotomi). Klien dirawat selama1minggu, klien pulang dengan


kateter sistostomi, dianjurkan untuk datang kontrol dan ganti kateter 2 minggu
kemudian. Karena keterbatasan sarana, maka

klien dirujuk ke poli urologi

RSWS untuk penanganan lebih lanjut. Pada tanggal 5 maret, sistostomi diaff,
dirawat 3 hari, kemudian klien dipasang kateter biasa dan dipulangkan. Klien
dianjurkan kontrol 2 minggu kemudian untuk ganti kateter. Senin tanggal 25
Maret klien kontrol, namun dokter langsung menelpon Kamar Operasi untuk
menanyakan jadwal, sesudah itu klien diberitahu bahwa kateter batal diganti,
namun klien harus masuk rawat inap besok untuk rencana operasi hari rabu
tanggal 27 maret 2014.
c. Keluhan saat pengkajian
: nyeri tempat pemasangan keteter
d. Riwayat kesehatan massa lalu : Pada 5 Maret klien pernah dioperasi internal
Urethrotomi (Sache) di RSWS.
sebelumnya
e. Riwayat kesehatan keluarga

Penyakit ini belum pernah dialami klien

: dalam keluarga klien tidak ada yang menderita

penyakit yang sama, DM, jantung ataupun hipertensi.

AKTIFITAS/ISTIRAHAT
Gejala (subjektif)
Sebelum sakit kegiatan sehari-hari klien adalah bertani. Klien tidak memiliki kebiasaan
tidur siang, tidur malam dari jam 01.00 sampai jam 04.30., namun tidak nyenyak, klien
sering terbangun saat sakit mulai dirasakan dan kembali tertidur saat nyeri hilang, nyeri
berlangsung selama 30 menit sampai 1 jam, dan dalam semalam, klien bisa
mengalaminya 3-4x. Sejak dilakukan pemasangan selang hingga saat ini klien sudah
dapat tidur nyenyak dan tidak memiliki gangguan tidur lagi.

Tanda (Objektif)
Klien segar, tidak pucat, seluruh ekstremitas bergerak bebas. Aktifitas sehari-hari seperti
makan, minum dan BAB di lakukan secara mandiri. Tidak terdapat tanda-tanda sianosis,
pernafasan 24x/mnt. Suara nafas vesikuler. Klien nampak tenang.
Pengkajian Neuromuskular
Kekuatan otot

5, klien tidak mengalami tremor.

SIRKULASI
Gejala (subjektif)
Klien tidak memiliki riwayat hipertensi, tidak pernah didiagnosa demam rematik, tidak
ada batuk dan tidak terdapat riwayat hemoptisis.

Tanda (objektif)
Tekanan darah diukur pada saat klien dalam posisi berbaring, pada tangan kiri dengan
hasil 150/100 mmHg, Nadi 80x/mnt, reguler, diukur pada arteri radialis. Bunyi jantung
S1/S2 murni reguler, tidak ada mur-mur, frekwensi 80x/mnt. tidak terdapat edema pada
mata kaki kanan
Bunyi nafas veskuler, suhu 36oC, warna kulit kuning langsat, CRT kurang dari 2 detik,
tidak terdapat tanda hoffmans, keadaan kuku normal, warna merah muda, membran
mukosa dan bibir agak lembab, sklera tidak ikterus. Penyebaran rambut kurang merata.

INTEGRITAS EGO
Gejala (subjektif)
Klien beragama Kristen, klien mengatakan takut karena ini adalah operasi yang pertama
kalinya bagi klien. Ini juga pertama kalinya klien datang ke makassar. Klien ditemani
oleh adik dan iparnya
Tanda (objektif)
Klien pendiam, lebih sering bercerita hanya saat ditanya.
ELIMINASI
Gejala (subjektif)
Klien mengatakan tidak memiliki kesulitan dengan BAB, klien tidak memiliki riwayat
penyakit batu ginjal. Saat ini klien tidak mengalami kesulitan BAK karena terpasang
kateter.

Tanda (Objektif)
Terpasang kateter urine 300 cc, warna kuning jernih, terdapat bekas luka sistostomi di
daerah suprapubik, nyeri ketok daerah pinggang (-), peristaltik 10 kali/mnt, permukaan
abdomen datar. Tidak ada edema atau asites. Nyeri tekan daerah perut (-).
MAKANAN DAN CAIRAN
Gejala (subjektif)

Klien makan nasi 3 x sehari, porsi makan dihabiskan, nafsu makan (+), klien tidak
memiliki riwayat alergi makanan maupun obat-obatan. Minum 1500cc/hari
Tanda (Objektif)
Tinggi badan 160 cm. BB: 58 kg, klien tidak tahu berat badan sebelum sakit karena tidak
pernah menimbang. Warna kulit sawo matang, turgor kulit baik, tidak terdapat asites,
edema periorbital (-), kondisi gigi lengkap, gigi agak kemerahan karena klien suka
mengunyah pinang, mukosa merah muda.
HIGIENE
Gejala (subjektif)
Aktifitas sehari-hari klien ( makan, minum, mandi dan berpakaian) mandiri.
Tanda (Objektif)
Klien terlihat kusut, pakaian tidak rapi, rambut keriting, agak panjang dan tidak disisir,
bau badan (-).
NEUROSENSORI
Gejala (subjektif)
Tidak ada rasa pusing atau sakit kepala, penglihatan baik dan tidak mengalami gangguan,
tidak ada epistaksis, tidak ada gangguan pendengaran.
Tanda (Objektif)
Orientasi orang, tempat dan waktu baik, kesadaran kompos mentis, reaksi pupil baik,
isokor ki/ka.
NYERI/KETIDAKNYAMANAN

Gejala (subjektif
Klien mengeluh nyeri daerah pemasangan keteter dan bekas pemasangan slang, sifatnya
hilang timbul, nyeri seperti diiris-iris.
Tanda (Objektif)
Dengan menggunakan VAS ( Visual Analize Scale) dari skala 0-10 klien mengatakan
berada pada skala 3 (nyeri sedang).
PERNAFASAN
Gejala (Subjektif)
Klien tidak sedang menderita batuk, dispnu (-), asma(-), klien juga tidak menggunakan
alat bantu pernafasan. Klien mengatakan dulu sering merokok tapi sejak sakit tidak
pernah lagi mengkonsumsinya .
Pernafasan dada, frekuensi 24 x/mnt, simetris kiri dan kanan, kedalaman normal, tidak
menggunakan otot-otot tambahan, tidak ada nafas cuping hidung, bunyi nafas vesikuler,
sianosis (-).
KEAMANAN
Gejala (subjektif)
Klien tidak memiliki riwayat alergi. Klien belum pernah di transfusi
Tanda (Objektif)
Suhu tubuh 36 o C, klien tidak mengalami diaforesis, terdapat luka berbentuk bulat
sebesar biji jagung, berwarna putih pada daerah simpisis.
INTERAKSI SOSIAL
Gejala (subjektif)

Klien tinggal serumah dengan adik dan iparnya, klien tidak pernah ikut organisasi
kemasyarakatan. Menurut adiknya, klien adalah orang yang pendiam namun ramah
dengan orang disekelilingnya dan memiliki hubungan yang baik dengan tetangganya.
Tanda (Objektif)
Klien tidak mengalami gangguan bicara, tidak menggunakan alat bantu dan mampu
berkomunikasi secara verbal.
PENYULUHAN/PEMBELAJARAN
Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa daerah Ileape, tidak ada riwayat
penyakit jantung, stroke dan diabetes dalam keluarga.
Obat yang diresepkan :
-

Alprazolam 0.5 mg 0-0-1


Ranitidin 150 mg 2x1
Amlodipin 10 mg 0-0-1

Pemeriksaan Penunjang
1. Thorax Foto
2. Uretrhrocystography

: Bronchitis Kronis
: Striktur uretra +pars prostatika, Divertikel buli-buli,

cystitis
3. USG
4. Laboratorium :

: Hypertropi prostat

Tanggal
pemeriksaan
19 Maret 2014

Jenis pemeriksaan
Darah rutin
WBC : 6000

HbSAg : negatif
(normal 8000-

10000)

PSA

:28.74 (normal 0-

4)

RBC

: 4.22 (normal 4.50-6.50)

GDS

: 97

Hb

: 10.7 (normal 14-16)

<200)

Hct

: 24.6 (normal 40-50)

Ureum : 13

CT

: 2 detik (normal

1-7)

50)

BT

:7.3 detik(normal

1-7)

Creatinin

(normal
(normal 10:1.01(normal

GOT : 2U/L (normal <38)

<1.3)

GPT

Asam urat: 5

: 29U/L(normal <41)

(normal3.4-

7)
Elektrolit:
Na :146 (normal136-145)
K : 3.2 (normal3.5-5.2)
Cl : 104 (normal 97-111)
Tanggal pemeriksaan
27 Maret 2014

Jenis pemeriksaan
Darah Rutin
RBC

: 3.15

WBC

: 8300

Hct

: 29.9

Hb

: 8.5

Persiapan Operasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Inform concent
Persetujuan tindakan
Lapor kamar operasi
Konsul anastesi
Puasakan 8 jam
Persiapkan darah 2 kantong
Klisma jam 20.00 dan jam 05.00

Premedikasi Operasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Infus RL 28 tts/mnt
Anti biotik profilaksis ceftriaxone 1 gram/IV
EKG
Alprazolam 0.5 mg 0-0-1
Ranitidin 150 mg 2x1
Amlodipin 10 mg 0-0-1

PENGKAJIAN POST OP
HARI 1 POST OP ( 2 jam POST OP)
MAKANAN DAN CAIRAN
Klien masih puasa, terpasang infus ditangan kiri dengan cairan RL 28 tpm
ELIMINASI
Objektif
Terpasang kateter three ways dengan spuling NaCl 0.9% diguyur, urine 1400 cc,
berwarna merah.
NEUROSENSORI
Klien mengatakan masih pusing dan lemas

HARI KE 2 POST OP
AKTIFITAS DAN ISTIRAHAT
Gejala
Klien mengatakan semalam susah tidur karena sakit pada bekas operasinya, masih
takut untuk banyak bergerak.

Objektif

Klien masih lemas, makan, minum dibantu adik klien, klien terlihat berhati-hati
sekali saat bergerak
MAKANAN DAN CAIRAN
Terpasang infus ditangan kiri dengan cairan NaCl 28 tpm. Klien sudah boleh
makan bubur, minum bebas.
ELIMINASI
Subjektif
Klien mengatakan belum BAB sejak operasi kemarin, kencingnya yang keluar
lewat kateter sejak kemarin masih lancar mengalir
Objektif
Peristaltik 12 x/mnt, urine yang melewati kateter masih terlihat agak kemerahan
namun
tidak segelap kemarin.
PERNAFASAN DAN SIRKULASI
Subjektif :Objektif
TD : 130/80 mmHg. Nadi : 80 x/mnt, S : 36 oC, ekstremitas teraba hangat.
NYERI DAN KENYAMANAN
Gejala
Klien mengeluh luka bekas operasinya terasa sakit, seperti di iris-iris.

Objektif
Ekspresi meringis, dengan menggunakan VAS, klien berada pada skala nyeri
5(nyeri sedang)
PERSONAL HIGIENE
Subjektif
Adik klien bertanya suster bagaimana caranya kasi mandi kakak saya? soalnya
dari tadi malam mengeluh kepanasan dan berkeringat, belum ada mandi sejak
operasi kemarin, pagi-pagi belum sempat mandi sudah dipasang infus
Objektif
Klien kusut, rambut keriting, agak panjang dan tidak disisir, bau badan (+).
Therapi Post Operasi
- Ceftriaxone 1gr/12 jam/ IV
- Ranitidin 1amp/12 jam/IV
- Ketorolac 1 amp/8 jam/ IV
- Asam Tranexamat 1 amp/8 jam
- Bed rest selam 24 jam

KLASIFIKASI DATA

Pre OP
DS :
- Klien mengeluh sakit daerah pemasangan keteter
- Nyeri hilang timbul
DO :

Dengan menggunakan VAS ( Visual Analize Scale) dari skala 0-10 klien
mengatakan pada skala 3 (nyeri sedang)

Post OP
DS :
-

Nyeri daerah operasi


Klien mengatakan masih takut untuk bergerak
Klien mengatakan nyeri seperti diris-iris
Klien mengeluh pusing dan lemas
Adik klien bertanya suster bagaimana caranya kasi mandi kakak saya?
soalnya dari tadi malam mengeluh kepanasan, banyak keringat, belum
mandi sejak operasi kemarin, pagi-pagi belum sempat mandi sudah
dipasang infus

DO :
-

Ekspresi meringis
Terpasang kateter three way dengan spuling Nacl 0.9%, urine berwarna

merah
Dengan menggunakan VAS ( Visual Analize Scale) dari skala 0-10 klien

mengatakan pada skala 5 (nyeri sedang).


Hb : 8.5 (normal 14-16)
Klien kusut, rambut keriting agak panjang dan tidak disisir, Bau badan

(+)
Klien bed rest selama 24 jam
Klien berhati-hati sekali saat bergerak

ANALISA DATA
Pre Operasi
No
1.

Data
DS :
-

Klien
mengeluh
pemasangan keteter

Nyeri hilang timbul

sakit

daerah

DO :
-

Dengan menggunakan VAS ( Visual


Analize Scale) dari skala 0-10 klien
mengatakan pada skala 3 (nyeri
sedang)
-

Etiologi
Masalah
Iritasi
mukosa Nyeri akut
kandung kemih
dan penekanan
oleh balon fiksasi
terhadap
kandung kemih

Post Operasi
No

Data

Etiologi

Masalah

DS :
1.
-

Nyeri daerah operasi


Klien mengatakan sakit seperti
diiris-iris

DO :
-

Iritasi mukosa kandung Nyeri akut


kemih, refleks spasme otot
akibat
prosedur
pembedahan
atau
penekanan oleh balon traksi
pada kandung kemih

Ekspresi meringis
Dengan menggunakan VAS,
dari 0-10 klien berada pada
skala 5 ( nyeri sedang)
-

DS :
2
-

Kurang
pengalaman
Adik klien bertanya tentang perawatan diri,
suster bagaimana caranya kurang informasi
kasi mandi kakak saya?
soalnya dari tadi malam
mengeluh kepanasan dan
berkeringat, belum ada
mandi
sejak
operasi
kemarin, pagi-pagi belum
sempat
mandi
sudah
dipasang infus

DO :

Klien kusut, rambut agak


panjang, keriting dan tidak
disisir, bau badan (+)

CATATAN PERKEMBANGAN

Kurang
pengetahuan
tentang
perawatan diri
( mandi)

Tanggal
28 Maret
2014

Catatan

S:
Dx 1
-

Klien mengeluh nyeri daerah bekas operasi

VAS : skala nyeri 4


Ekspresi meringis

O:

A : Nyeri belum teratasi


P:
-

Observasi nyeri,lokasi, skala, intensitas dan durasi


Ukur TTV

Sarankan untuk menggunakan tehnik relaksasi dan


distraksi

Lanjutkan pemberian terapi

Mengobservasi nyeri klien, lokasi masih daerah


bekas operasi
Mengukur TTV : TD: 120/80 mmHg, N: 84x/mnt,
S: 36 C

I:

Menyarankan kepada klien untuk melanjutkan


penggunaan tehnik relaksasi saat nyeri mulai
dirasakan

Memberikan injeksi ketorolac 1 amp/ IV, ceftriaxon


1 gr/IV

Klien mengatakan nyeri sudah agak berkurang


Ekspresi lebih relax

Nyeri skala 3

E:

Dx 2

R : Nyeri belum teratasi

ttd

S:O:
-

Klien tidak puasa lagi


Urine masih merah

Turgor kulit cepat kembali

A : resiko kekurangan volume cairan tubuh dan perdarahan


belum terjadi
P:
-

Anjurkan mempertahankan hidrasi oral 1500 ml/24


jam + cairan IV 1500 ml
Lanjutkan pemberian anti perdarahan sesuai indikasi

Observasi warna dan konsistensi urine, laporkan


jika perdarahan bertambah banyak

Observasi ketepatan tetesan spuling

Pindahkan fiksasi ke daerah SIAS

Menganjurkan kepada klien untuk tetap minum air 1


botol aqua besar selama 24 jam
Memberikan asam traneksamat 1 amp/ IV

Melihat warna urine masih agak merah

Mengobservasi tetesan spuling 40 tpm

Melepaskan traksi, memindahkan fixsasi kateter ke


daerah SIAS

I:

E : urin masih merah, turgor baik

29 Maret
2014

R : resiko kekurangan vol cairan tubuh belum terjadi


S : Klien mengatakan nyeri nyeri berkurang, walaupun
kadang masih dirasakan namun tidak sesering hari pertama
operasi

Dx 1

O : ekspresi relaks
A : Nyeri belum teratasi
P:
-

Observasi nyeri
Pertahankan relaksasi

Pertahankan penatalaksanaan analgetik& AB

Mengobservasi nyeri : skala 2


Menganjurkan untuk tetap
relaksasi

Memberikan ketorolac 1 amp/IV, ceftriaxon 1 gr/IV

I:
melakukan

tehnik

E : klien mengatakan nyeri berkurang


R : Nyeri teratasi
Dx 2
S :O: Urine jernih, spuling di hentikan, turgor baik
A: Resiko kekurangan volume cairan akibat perdarahan
tidak terjadi
Dx 3
S :Adik klien mengatakan kakaknya sudah di mandikan di
tempat tidur tadi pagi
O : klien terlihat bersih dan rapi, bau badan (-)
A : masalah teratasi

KESENJANGAN

1. Pada kasus, keluhan utama LUTS yang seharusnya dialami klien dengan BPH
tidak didapatkan lagi pada saat pengkajian, karena klien MRS dengan kateter
urine yang sudah terpasang. Hal ini mempengaruhi sedikit banyaknya diagnosa
keperawatan pre operasi.
Pada diagnosa post operasi juga demikian, dari 8 diagnosa yang ada pada teori,
hanya 3 yang muncul, hal tersebut terjadi karena disesuaikan dengan respon
pasien.

2. Pada Teori terdapat 8 macam tindakan untuk menegakkan diagnosa Medis,


namun pada kasus hanya 4 tindakan yang dilakukan

3. Untuk evaluasi intake dan out put kami memiliki kesulitan untuk menilainya
karena klien terpasang spuling Nacl, namun perawat ruangan tidak selalu
mencatat setiap kali penggantian cairan, keluarga pasien juga kadang tidak
dibangunkan saat penggantian dilakukan.

4. Dalam teori terdapat intervensi keperawatan anjuran untuk mengendorkan traksi


setelah 4-5 jam post op, namun dalam kasus traksi dilepaskan setelah 24 jam.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges E Mailyn, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. EGC: Jakarta.
Masjoer, A., dkk., (2000). Kapita selekta kedokteran. Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius.
Price & Wilson, (2005). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Volume 2.
Edisi 6. Jakarta : EGC.
Smeltzer & Bare, (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah. Vol.2. Ed.8. Jakarta:
EGC
.
Sarma & Wei, (2012) Benign prostatic hyperplasia and lower urinary tract symptoms,
clinical practice.NEJM Org. 367:3.
Kumar, Abbas & Fausto (2010), Robins and Contran : Patologi Klinik

PENYIMPANGAN KDM
Peningkatan sel sterm
pada jaringan prostat

Proses penuaan
Ketidakseimbangan
hormon (testosteron
sedangkan estrogen
HIPERPLASIA
JARINGAN PROSTAT

Perubahan status
kesehatan

Pembedahan
(Prostatectomy)

Penyempitan lumen uretra


prostatika

Stressor bagi pasien dan


keluarga

Kerusakan kontinuitas
jaringan

Menghambat aliran urin

Kecemasan/ansietas

Tekanan intra vesikal


Port the entry of
microorganisme
Risiko infeksi

Kontraksi otot detrusor


vesika urinaria

Merangsang mediator
kimia

Hipertropi otot detrusor


tuberkulasi

Merangsang nocireseptor

Terbetuknya sekula-sekula
dan divertikel VU
Pemasangan kateter urin

Frekuensi, intermiten,
disuria, urgensi,
hesistensi, terminal
dribling
Perubahan pola
eliminasi urin

Saraf afferent
Substansia gelatinosa
pada kornu dorsalis
medula spinalis
Traktus spinotalamikus
Thalamus
Corteks cerebri
Saraf efferent
Nyeri