Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK


1. Pengertian
Lansia (lanjut usia) atau manusia usia lanjut (manula) adalah kelompok penduduk
berumur tua. Golongan penduduk yang mendapat perhatian dan pengelompokkan
tersendiri ini adalah populasi berumur 60 tahun atau lebih (Bustan, 2007).
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap perkembangan pada daur kehidupan lanusia.
Usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam,
2008).
Berdasarkan definisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) yaitu
apabila usianya 60 tahun ke atas. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan
seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.
Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta
peningkatan kepekaan secara individual (Efendi, 2009).
2. Klasifikasi Lansia
Menurut Maryam (2008) Lansia diklasifikasikan menjadi lima kelompok lansia
yaitu sebagai berikut :
1. Pralansia (prasenilis)
Yaitu seseorang yang berusia diantara 45-59 tahun.
2. Lansia
Yaitu seseorang yang berusia diantara 60 tahun atau lebih.
3. Lansia resiko tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun tahun atau lebih atau seseorang yang berusia 60
tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
4. Lansia potensial

Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat
menghasilkan barang / jasa.
5. Lansia tidak potensial
Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada
bantuan orang lain.
Menurut Nugroho (2009) mengklasifikasikan usia lansia sebagai berikut :
1) Young old (60-69 tahun)
2) Middle age old (70-79 tahun)
3) Pld-old (80-89 tahun)
4) Very old-old (> 90 tahun)
3. Karakteristik Lansia
Menurut Bustan (2007) beberapa karakteristik lansia yang perlu diketahui untuk
mengetahui keberadaan masalah lansia adalah sebagai berikut :
1. Jenis kelamin: Lansia lebih banyak pada wanita. Terdapat perbedaan kebutuhan dan
masalah kesehatan yang berbeda antara lansia laki-laki dan perempuan. Misalnya
lansia laki-laki sibuk dengan hipertropi prostat, maka perempuan mungkin
menghadapi osteoporosis.
2. Status perkawinan: Status masih pasangan lengkap atau sudah hidup janda atau duda
akan mempengaruhi keadaan kesehatan lansia baik fisik maupun psikologis.
3. Living arrangement: misalnya keadaan pasangan, tinggal sendiri atau bersama instri,
anak atau kekuarga lainnya.
4. Tanggungan keluarga: masih menangung anak atau anggota keluarga.
5. Tempat tinggal: rumah sendiri, tinggal bersama anak. Dengan ini kebanyakan lansia
masih hidup sebagai bagian keluarganya, baik lansia sebagai kepala keluarga atau
bagian dari keluarga anaknya. Namun akan cenderung bahwa lansia akan di
tinggalkan oleh keturunannya dalam rumah yang berbeda. Menurut Darmawan
mengungkapkan ada 5 tipe kepribadian lansia yang perlu kita ketahui, yaitu: tipe
konstruktif (constructive person-ality), tipe mandiri (independent personality), tipe
tergantung (hostilty personality) dan tipe kritik diri (self hate personality).

6. Kondisi kesehatan
1) Kondisi umum: Kemampuan umum untuk tidak tergantung kepada orang lain
dalam kegiatan sehari-hari seperti mandi, buang air besar dan kecil.
2) Frekuensi sakit: Frekuensi sakit yang tinggi menyebabkan menjadi tidak produktif
lagi bahkan mulai tergantung kepada orang lain.
7. Keadaan ekonomi
1) Sumber pendapatan resmi: Pensiunan ditambah sumber pendapatan lain kalau
masih bisa aktif.
2) Sumber pendapatan keluarga: Ada bahkan tidaknya bantuan keuangan dari anak
atau keluarga lainnya atau bahkan masih ada anggota keluarga yang tergantung
padanya.
3) Kemampuan pendapatan: Lansia memerlukan biaya yang lebih tinggi, sementara
pendapatan semakin menurun. Status ekonomi sangat terancam, sehinga cukup
beralasan untuk melakukann berbagai perubahan besar dalam kehidupan,
menentukan kondisi hidup yang dengan perubahan status ekonomi dan kondisi
fisik
4. Tipe Lansia
Beberapa tipe lansia pada bergantung pada karakter, pengalaman hidup,
lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan ekonominya. Tipe tersebut dapat dijabarkan
sebagai berikut (Maryam, 2008) :
1. Tipe arif bijaksana
Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan
zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan,
memenuhi undangan, dan menjadi panutan.
2. Tipe mandiri
Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam mencari
pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.
3. Tipe tidak puas
Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi pemarah,
tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut.
4. Tipe pasrah

Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan


melakukan pekerjaan apa saja.
5. Tipe bingung
Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif
dan acuh tak acuh.
5. Proses Penuaan dan Teori-teori tentang Proses Penuaan
Proses menua terdiri dari teori-teori tentang penuaan, aspek biologis pada proses
menua proses penuaan pada tingkat sel, proses penuaan menurut sistem tubuh, dan aspek
psikologis pada proses penuaan. Teori-teori tentang proses penuaan sudah banyak
dikemukakan, namun tidak semuanya bisa diterima. Teori-teori ini dapat digolongkan
dalam dua kelompok yaitu yang termasuk kelompok teori biologis dan teori psikososial
(Tamher, 2009).
1. Teori genetik
Teori sebab-akibat menjelaskan bahwa penuaan terutama dipengaruhi oleh
pembentukan gen dan dampak lingkungan oleh pembentukkan gen dan dampak
lingkungan pada pembentukan kode genetik. Menurut teori genetik, penuaan adalah
suatu prosesyang secara tidak sadar diwariskan yang berjalan dari waktu kewaktu
untuk mengubah sel atau struktur jaringan. Dengan kata lain, perubahan rentang
hidup dan panjang usia telah ditentukan sebelumnya. Teori genetik terdiri dari teori
asam deoksiribonukleat (DNA), teori ketepatan dan kesalahan, mutasi somatik, dan
teoriglikogen (Tamher, 2009)..
2. Teori wear and tear
Teori wear and tear (dipakai dan rusak) mengusulkan bahwa akumulasi
sampah metabolic atau zat nutrisi dapat merusaksintesis DNA, sehingga mendorong
malfungsi molekular dan akhirnya malfungsi organ tubuh. Pendukung teori ini
percayabahwa tubuh akan mengalami kerusakan berdasarkan suatu jadwal. Radikal
bebas adalah contoh dari produk sampah metabolism yang menyebabkan kerusakan

ketika akumulasi terjadi. Radikal bebas adalah molekul atau atom dengan suatu
elektron yang tidak berpasangan. Ini merupakan jenis yang sangat relative yang
dihasilkan dari reaksi selama metabolism (Tamher, 2009).
3. Teori imunitas
Teori imunitas menggambarkan suatu kemunduran dalam sistem imun
berhubungan dengan penuaan. Ketika orang bertambah tua, pertahanan mereka
terhadap organism asing mengalami penurunan, sehingga mereka lebih rentan
untuk menderita berbagai penyakit seperti kanker adan infeksi. Seiring dengan
berkurangnya fungsi system imun, terjadilah peningkatan dalam respon autoimun
tubuh. Seiring dengan bertambahnya usia berat dan ukuran kelenjar timus menurun,
seperti halnya kemampuan tubuh untuk mendeferensiasi sel T. Karena hilangnya
proses diferensiasi sel T, tubuh salah mengenali sel yan tua dan tidak beraturan
sebagai benda asing dan menyerangnya. Selain itu, tubuh kehilangan kemampuan
untuk meningkatkan responnya terhadap se lasing, terutama bila menghadapi
infeksi (Tamher, 2009)..
4. Teori neuroendokrin
Teori-teori biologi penuaan, berhubungan dengan hal- hal seperti yang
terjadi pada struktur dan perubahan pada tingkat molekul dan sel. Salah satu area
neurologi yang mengalami gangguan secara universal akibat penuaan adalah waktu
reaksi yang diperlukan untuk menerima, memproses, dan bereaksi terhadap
perintah. Dikenal sebagai perlambatan tingkah laku, respons ini kadang-kadang
diinterprestasikan sebagai tindakan melawan, ketulian, atau kurangnya pengetahuan
(Tamher, 2009).
5. Teori psikososial

Teori psikososial memusatkan perhatian pada perubahan sikap dan perilaku


yang menyertai peningkatan usia, sehingga lawan dari implikasi biologi pada
kerusakan anatomis.
6. Teori kepribadian
Kepribadian manusia adalah suatu wilayah pertumbuhan yang subur dalam
tahun-tahun akhir kehidupan. Teori kepribadian menyebutkan aspek-aspek
pertumbuhan psikologis tanpa menggambarkanharapan atau tugas spesifik lansia.
7. Teori tugas perkembangan
Beberapa ahli teori terkenal sudah menguraikan proses maturasi dalam
kaitannya dengan tugas yang harus dikuasai pada berbagai tahap sepanjang rentang
hidup manusia. Tugas perkembangan adalah aktivitas dan tantangan yang harus
dipenuhi oleh seseorang pada tahap-tahap spesifik dalam hidupnya untuk mencapai
penuaan yangsukses. Erickson menguraikan tugas utama lansia adalah mampu
melihat kehidupan seseorang sebagai kehidupan yang dijalani dengan integritas.
8. Teori aktivitas
Pentingnya tetap aktif secara social sebagai alat untuk penyesuaian diri yang
sehat. Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya fungsi peran pada lansia secara
negatif mempengaruhi kepuasan hidup. Dan penelitian baru menunjukkan
pentingnya aktivitas mental dan fisik yang berkesinambungan untuk mencegah
kehilangan dan pemeliharaan kesehatan sepanjang masa kehhidupan manusia
(Tamher, 2009)

6. Perubahan Sistem Tubuh Lansia


Lansia akan mengalami perubahan-perubahan pada sistem tubuhnya. Berikut
merupakan perubahan sistem tubuh yang terjadi pada lansia (Maryam, 2008) :
1. Perubahan fisik
1) Sel

Pada lansia, jumlah selnya akan lebih sedikit dan ukurannya akan lebih
besar. Cairan tubuh dan cairan intraseluler akan berkurang, proporsi protein di
otak, otot, ginjal, darah, dan hati juga ikut berkurang. Jumlah sel otak akan
menurun, mekanisme perbaikan sel akan terganggu, dan otak menjadi atrofi.
2) Sistem persarafan
Rata-rata berkurangnya saraf neocortical sebesar 1 per detik, hubungan
perasarafan cepat menurun, lambat dalam merespons baik dari gerakan maupun
jarak waktu, khususnya dengan stress, mengecilnya saraf pancaindra, serta
menjadi kurang sensitif terhadap sentuhan.
3) Sistem pendengaran
Gangguan pada pendengaran (presbiakusis), membran timpani mengalami
atrofi, terjadi pengumpulan dan pengerasan serumen karena peningkatan keratin,
pendengaran menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa atau
stres.
4) Sistem penglihatan
Timbul sklerosis pada sfingter pupil dan hilangnya respons terhadap sinar,
kornea lebih berbentuk seperti bola (sferis), lensa lebih suram (keruh) dan
menyebabkan katarak, meningkatnya ambang, pengamatan sinar dan daya
adaptasi terhadap kegelapan menjadi lebih lambat dan sulit untuk melihat dalam
keadaan gelap, hilangnya daya akomodasi, menurunnya lapang padang, dan
menurunnya daya untuk membedakan antara warna biru dengan hijau pada skala
pemeriksaan.
5) Sistem kardiovaskuler
Elastisitas dinding aorta menurun, katup jantung menebal dan menjadi kaku,
kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur
20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektifitas pembuluh darah

perifer untuk oksigenasi, sering terjadi postural hipotensi, tekanan darah


meningkat diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer.
6) Sistem pengaturan suhu tubuh
Suhu tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologis + 35oC, hal ini
diakibatkan oleh metabolisme yang menurun, keterbatasan refleks menggigil, dan
tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas
otot.
7) Sistem pernapasan
Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku, menurunnya
aktivitas dari silia, paru-paru kehilangan elastisitas sehingga kapasitas residu
meningkat, menarik napas lebih berat, kapasitas pernapasan maksimum menurun,
dan kedalaman bernapasan menurun. Ukuran alveoli melebar dari normal dan
jumlahnya berkurang, oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg,
kemampuan untuk batuk berkurang, dan penurunan kekuatan otot pernapasan.
8) Sistem gastrointestinal
Kehilangan gigi, indra pengecapan mengalami penurunan, esofagus
melebar, sensitivitas akan rasa lapar menurun, produksi asam lambung dan waktu
pengosongan lambung menurun, peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi,
fungsi absorbsi menurun, hati (liver) semakin mengecil dan menurunnya tempat
penyimpangan, serta berkurangnya suplai aliran darah.
9) Sistem genitourineria
Ginjal mengecil dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun
hingga 50%, fungsi tubulus berkurang (berakibat pada penurunan kemampuan
ginjal untuk mengonsentrasikan urine, berat jenis urine menurun, proteinuria
biasanya +1), blood urea nitrogen (BUN) meningkat hingga 21 mg%, nilai
ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. Otot-otot kandung kemih (vesica
urinaria) melemah, kapasitasnya menurun hingga 200 ml dan menyebabkan

frekuensi buang air kecil meningkat, kandung kemih sulit dikosongkan sehingga
meningkat retensi urine. Pria dengan usia 65 tahun ke atas sebagian besar
mengalami pembesaran prostat hingga + 75% dari besar normalnya.
10) Sistem endokrin
Menurunnya produksi ACTH, TSH, FSH, dan LH, aktivitas tiroid, basal
metabolik rate (BMR), daya pertukaran gas, produksi aldosteron, serta sekresi
hormon kelamin seperti progesteron, esterogen dan terstosteron.
11) Sistem integumen
Kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak, permukaan kulit
kasar dan bersisik, menurunnya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit
menurun, kulit kepala dan rambut menipis serta berwarna kelabu, rambut dalam
hidung dan telinga menebal, berkurangnya elastisitas akibat menurunnya cairan
dan vaskularisasi, pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku jari menjadi keras dan
rapuh, kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk, kelenjar keringat
berkurang jumlahnya dan fungsinya, kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya.
12) Sistem muskuloskeletal
Tulang kehilangan kepadatannya (density) dan semakin rapuh, kifosis,
persendian membesar dan menjadi kaku, tendon mengerut dan mengalami
sklerosis, atrofi serabut otot sehingga gerak seseorang menjadi lambat, otot-otot
kram dan menjadi tremor.
(Tamher, 2009)
2. Perubahan mental
Fakto-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah perubahan fisik,
kesehatan umum, tingkat pendidikan, keturunan (hereditas), lingkungan, tingkat
kecerdasan (intellegence quotient - IQ), dan kenangan (memory). Kenangan dibagi
menjadi dua yaitu kenangan jangka panjang (berjam-jam sampai berhari-hari yang

lalu) mencakup beberapa perubahan dan kenangan jangka pendek atau seketika (0-10
menit) biasanya dapat berupa kenangan buruk.
3. Perubahan psikososial
Perubahan psikososial terjadi terutama setelah seseorang mengalami pensiun.
Berikut ini adalah hal-hal yang akan terjadi pada masa pensiun :
1) Kehilangan sumber finansial atau pemasukan (income) berkurang
2) Kehilangan status karena dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi,
lengkap dengan segala fasilitasnya
3) Kehilangan teman atau relasi
4) Kehilangan pekerjaan atau kegiatan
5) Merasakan atau kesadaran akan kematian (sense of awareness of mortality)
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penuaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan menurut Miller (1995) dalam Tamher,
S dan noorkasiani (2009) faktor yang mempengaruhi penuaan antara lain:
1. Psikologis
Komponen yang beperan adalah kapasitas penyesuaian diri yang terdiri atas
pembelajaran, memory (daya ingat), perasaan kecerdasan, dan motivasi. Selain halhal tersebut, dari aspek psikologis dikenal isu yang erat hubungannya dengan lansia
yaitu teori mengenai timbulnya depresi, gangguan kognitif, stress serta koping.
2. Biologis
Sebagaimana layaknya manusia yang tumbuh nsemakin lama semakin tua dan
proses penuaannya bukan karena evolusi akan tetapi karena proses biologis dan
keausan pada tubuh.
3. Sosial
Lingkungan sosial sangat mempengaruhi proses penuaan karena lingkungan
sosial yang nyaman dan bebas dari penyakit menular akan meningkatkan derajat
kesehatan.