Anda di halaman 1dari 2

Siaran Pers

Indeks Kepuasan Peserta dan Faskes terhadap BPJS Kesehatan


Sukses Lampaui Target
Jakarta Sebagai pelaksana program jaminan kesehatan yang baru berjalan selama satu tahun, BPJS Kesehatan
terbilang sukses memenuhi komitmennya untuk melayani kebutuhan dasar kesehatan masyarakat melalui pelayanan
yang handal, unggul dan terpercaya. Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil survei kepuasan peserta dan fasilitas
kesehatan terhadap BPJS Kesehatan yang dilakukan salah satu lembaga survey ternama, Myriad Research Comitted.
Dari total 17.280 responden masyarakat, sebanyak 81% menyatakan puas terhadap BPJS Kesehatan. Angka tersebut
melampaui target kepuasan masyarakat yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu sebesar 75%. Persentase total
sebesar 81% itu merupakan gabungan dari indeks kepuasan peserta terhadap layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama (FKTP), Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL), Kantor Cabang, dan BPJS Kesehatan Center.
Presentase indeks kepuasan peserta terhadap fasilitas kesehatan diperoleh dari gabungan antara kepuasan peserta
di FKTP (80%) dan di FKRTL (82%). Pada tingkat FKTP, indeks kepuasan peserta yang dilayani oleh Puskesmas
terbilang sama persis dengan indeks kepuasan peserta yang dilayani Dokter Praktek Perorangan (DPP) dan Klinik,
yaitu sebesar 80%, jelas Healthcare Specialist Myriad Research Comitted, dr. Dessy Chairani dalam acara diskusi
media di Media Center BPJS Kesehatan, Selasa (2/1).
Di tingkat FKRTL, kepuasan peserta yang datang ke RS Pemerintah berada pada angka 80%, sementara untuk RS
Swasta adalah 83%. Dari sisi jenis layanan, rawat jalan atau rawat inap di rumah sakit, tidak ada perbedaan tingkat
kepuasan di antara keduanya. Sedangkan indeks kepuasan peserta rawat jalan dan rawat inap hampir sama
tingginya, yaitu 81% dan 80%.
Sementara itu, indeks kepuasan untuk layanan yang bersifat administratif di Kantor Cabang dan BPJS Kesehatan
Center adalah sebesar 80%. Jika dianalisa berdasarkan jenis peserta, indeks kepuasan peserta Pekerja Penerima
Upah (PPU), Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), dan Bukan Pekerja (BP) dalam memperoleh pelayanan di FKTP
dan FKTRL, relatif sama tingginya, yaitu sebesar 80% hingga 81%. Hal serupa terlihat pula di Kantor Cabang, dimana
indeks kepuasan untuk ketiga jenis peserta non-PBI tersebut adalah 79%. Sementara di BPJS Kesehatan Center,
indeks kepuasannya adalah 79% untuk PPU serta 80% untuk PBPU dan BP.
Dari sisi kepuasan fasilitas kesehatan terhadap BPJS Kesehatan, hasil yang dicapai pun sukses melampaui harapan.
Sebelumnya, pemerintah menetapkan angka 65% sebagai target, namun berdasarkan hasil survey Myriad, nyatanya
indeks kepuasan fasilitas kesehatan terhadap BPJS Kesehatan mencuat di angka 78%.
Indeks kepuasan FKTP terhadap BPJS Kesehatan relatif sama dengan FKTRL, yaitu 74% dan 76%. Di tingkat FKTP,
indeks kepuasan antara Puskesmas (73%) tidak berbeda jauh dengan indeks kepuasan DPP dan Klinik (75%). Begitu
pula di FKRTL, indeks kepuasan RS Pemerintah (75%) dan RS Swasta (77%) tidak memiliki perbedaan yang
mencolok, kata dr. Dessy.
Dalam acara yang sama, Direktur Komersial I PT Sucofindo (Persero) M. Heru Riza Chakim turut membeberkan hasil
survey awareness masyarakat mengenai BPJS Kesehatan. Menurutnya, dari 10.202 responden yang diambil dari 12
Divisi Regional di seluruh Indonesia, sebanyak 95% di antaranya telah mengenal BPJS Kesehatan dengan baik.

Survey ini dilakukan untuk mengevaluasi awareness dan efektivitas iklan serta sosialisasi BPJS Kesehatan. Tahun
2013, awareness masyarakat terhadap pelaksanaan program jaminan kesehatan adalah sebesar 58%. Tahun 2014
ditargetkan ada kenaikan yang signifikan, dan hal ini berhasil dilakukan, tegas Heru.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil survey, hal pertama yang terlintas di benak masyarakat tentang BPJS Kesehatan
adalah berobat gratis, disusul dengan asuransi kesehatan rakyat, pengganti ASKES, dan bantuan kesehatan.
BPJS Kesehatan (secara merek) masih diasosiasikan sebagai asuransi oleh masyarakat, bukan sebagai penyelenggara
jaminan sosial kesehatan. BPJS Kesehatan juga masih kuat diasosiasikan dengan berobat gratis, khususnya di
kalangan masyarakat berpendidikan rendah (sampai dengan tamat SMP). Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk
mengedukasi dan menggeser mindset masyarakat bahwa BPJS Kesehatan adalah sebagai pelaksana program jaminan
kesehatan, bukan asuransi, jelas Heru.
Menurutnya, secara umum awareness masyarakat terhadap BPJS Kesehatan sudah tinggi. Awareness tertinggi
berasal dari responden pekerja sektor formal. Televisi menjadi sumber pengetahuan tertinggi bagi awareness
responden terhadap iklan. Sementara Facebook, YouTube, dan Twitter menduduki tiga teratas untuk kelompok
media sosial. Website BPJS Kesehatan sendiri menjadi sumber pengetahuan terbesar di kelompok website.
Efektivitas TV dan radio untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat menjadi peserta BPJS Kesehatan sangat
tinggi, sebab pesan yang disampaikan mudah dicerna oleh masyarakat. Selain itu, dari hasil survey kami juga
menemukan bahwa kebersediaan masyarakat untuk merekomendasikan BPJS Kesehatan kepada orang lain bernilai
positif, namun masih perlu didorong lagi, kata Heru.
Sepanjang tahun 2014, BPJS Kesehatan sendiri telah melaksanakan berbagai kegiatan demi meningkatkan
pemahaman masyarakat. Selain melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat, BPJS Kesehatan juga terus
berupaya menyebarluaskan informasi melalui iklan di televisi, radio, surat kabar, website, serta media sosial.
Tak hanya itu, BPJS Kesehatan juga rutin menyelenggarakan Kelas Sosialisasi dan Training of Trainers Jaminan
Kesehatan yang berisi informasi tentang kepesertaan, prosedur pendaftaran dan manfaat jaminan kesehatan.
Kegiatan rutin lainnya adalah sosialisasi dengan perusahaan asuransi swasta mengenai skema Coordination of
Benefit (CoB), yang mana skema tersebut kini telah diikuti oleh 49 asuransi swasta.
Sebagai upaya meningkatkan kepuasan masyarakat, awal tahun 2015 ini BPJS Kesehatan juga akan berkoordinasi
dengan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) mengembangkan aplikasi
Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR!) untuk menangani keluhan masyarakat yang disampaikan
melalui website BPJS Kesehatan. Dengan diluncurkannya aplikasi LAPOR! dalam waktu dekat, diharapkan BPJS
Kesehatan dapat memenuhi komitmen penanganan keluhan sebagaimana yang disampaikan dalam Undang-undang
No. 24 Tahun 2011 Pasal 48 ayat 1 dan Peraturan Presiden RI No. 12 Tahun 2013 Bab X Pasal 45.
***

-SelesaiInformasi lebih lanjut hubungi:


Departemen Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
BPJS Kesehatan Kantor Pusat
+62 21 424 6063
humas@bpjs-kesehatan.go.id