Anda di halaman 1dari 34

LABORATORIUM

TEKNIK PEMBAKARAN

Modul Praktikum : Pour Point(Praktikum ke-3)


Kelompok
:7
1. Shinta Hilmy Izzati NRP.2313030016
2. Danissa Hanum A
NRP.2313030033
3. Zandhika Alfi P
NRP.2313030035
4. Aprise Mujiartono
NRP.2313030051
Tanggal Percobaan
Dosen Pembimbing
Asisten

: 22 Oktober 2015
: Ir. Sri Murwanti, MT
: Hanindito Saktya P, A.Md

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
I. 1. Latar Belakang
Pour Point adalah suhu terendah dimana minyak masih dapat
mengalir apabila didinginkan pada kondisi tertentu. Metode yang dipakai
yaitu sesuai dengan ASTM D97-04. Didalam penelitian pour point dari bahan
bakar dinyatakan sebagai kelipatan 5oF (3oC) dimana bahan bakar diamati
mengalir apabila bahan bakar didinginkan dan diperiksa pada kondisi
tertentu. Dibawah temperatur pour point ini bahan bakar sudah tidak dapat
mengalir lagi atau membeku karena adanya kandungan lilin (wax).
Dalam percobaan ini bertujuan untuk mengetahui nilai pour point
pada sampel pelumas dibandingkan ASTM D97 dan untuk mengetahui
klasifikasi bahan bakar berdasarkan nilai pour point. Nilai pour point dapat
digunakan untuk menentukan karakteristik serta kualitas suatu produk
pelumas atau bahan bakar.
Berdasarkan jurnal aplikasi industri, penentuan pour point dapat
dilakukan dengan cara sebelumnya sampel berupa minyak ikan off grade
diesterifikasi dan dilanjutkan dengan proses trans-esterifikasi menggunakan
katalis asam sulfat. Baru kemudian di uji dengan menggunakan seperangkat
alat penguji pour point berupa gasket, hingga pembaca temperatur digital.
Sehingga nilai dapat terbaca otomatis dalam programnya dan dilakukan
pengulangan tiga kali agar didapatkan hasil yang akurat
I. 2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari percobaan pour point adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara mengetahui nilai maksimum dan minimum pour point
pada Pelumas produk Pertamina Mesrania SAE 30 dibandingkan ASTM
D97 Tahun 2005?
2. Bagaimana klasifikasi bahan bakar berdasarkan nilai pour point?
I.3. Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan dari praktikum pour point adalah :
1. Untuk mengetahui nilai pour point pada Pelumas produk Pertamina
Mesrania SAE 30 dibandingkan ASTM D97 Tahun 2005.
2. Untuk mengetahui klasifikasi bahan bakar berdasarkan nilai pour point
I-1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Pour Point
Percobaan Pour Point dilakukan dimana bahan bakar dipanaskan
pada temperatur 115oC untuk melarutakan semua lilin (wax) didalam bahan
bakar , dan didingikan pada temperatur 90oF sebelum percobaan dilakukan .
Campuran pendingin disebarkan pada 15oF sampai 30oF dibawah Pour Point
yang diperkirakan. Campuran pendingin yang umum digunakan adalah:
- Es dan air sampai 50oF (10oC)
- Pecahan es dan kristal NaCl sampai 10oF (-12oC)
- Pecahan es dan kristal CaCl2 sampai 16,6oF (-27oC)
- Karbondioksida padat dan aseton atau nafta sampai 70oF (-57oC)
Pada setiap penurunan 50F, tabung uji diangkat secara hati-hati dari
penangas pendingin yang dilapisi gasket di dalamnya, lalu tabung tersebut
diletakkan mendatar untuk mengetahui apakah bahan bakar mengalir. Jika
tidak mengalir, maka dinyatakan bahan bakar tersebut telah membeku.
Temperature saat itu disebut dengan titik beku (freezing point). Pour Point
dapat diketahui 50F (30F) di atas titik beku. (Ahadiat.Nur, 1987)
Pada percobaan pour point , bahan bakar yang mempunyai pour point
antara 90oF samapai 30oF ( 32oC samapai 34oC), bahan bakar dipanaskan
tanpa pengadukan sampai 115oF (46 oC) dalam penangas yang suhunya
dipertahankan 118oF (48oC). Setelah itu bahan bakar didinginkan diudara
samapi temperaturnya 95oF (35oC). Untuk bahan bakar yang mempunyai
pour pointn diatas 95oF (32oC), bahan bakar dipanaskan sampai
temperaturnya 115oF (46oC) atau samapai temperatur kira-kira 15oF (8oC)
diatas pour point yang diharapkan. Sedangkan untuk bahan bakar yang
mempunyai pour point dibawah 30oF (-34oC), bahan bakar dipanaskan
sampai mencapai 115oF (46oC) dan didinginkan samapai 60oF ( 16oC ) dalam
penganas air dimana temperaturnya dipertahankan 45 oF (7 oC).
Penentuan pour point dalam spesifikasi minyak pelumas bertujuan
untuk menghindari terjadinya pembekuan minyak pelumas pada keadaan
II-1

II-2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


dingin. Spesifikasi minyak solar memberikan batasan titik tuang (pour point)
maksimum 18oC. Dengan menaikkan nilai dari pour point, dapat
meningkatkan mutu indeks viscositas (kekentalan) dan hasil persentasi
bahan pelumas bebas lilin, dan disamping itu dapat lebih menghemat energi
yang diperlukan dalam proses pengawalilinan (dewaxing). Dewaxing
merupakan proses untuk mengeluarkan lilin paraffin dari bahan ataupun
dengan proses mekanis. Dengan menaikkan pour point maka suhu
pengawalilinan akan naik pula. (Anton L, 1983)
II.1.2 Bahan Bakar
Bahan bakar yang digunakan dalam percobaan pour point yaitu:
1. Olie SAE 30
2. SAE 40
3. SAE 90
4. Solar/Biosolar
5. Premix
6. Premium
7. Bensin Biru
8. Kerosen
9. Biodiesel
Adapun sifat-sifat fisika dan kimia dari masing-masing bahan bakar yaitu:
1. Solar
Kualitas solar sebagai bahan bakar motor diesel putaran tinggi
sanagat menetukan kelancaran operasi, cara kerja, usia motor, dan
kebersihan sisa pembuangan dari motor diesel. Secara umum observasi yang
bisa dilakukan terhadap bahan bakar diesel adalah :
Octane number yang relative tinggi.
Volatility harus baik agar terjadi pembakaran yang sempurna.
Volatilenya harus tinggi agar mempermudah penyalaan, octane number
tinggi sehingga temperature penyalaan rendah.
Mudah mengalir dan m\nilai flash point ( titik nyala ) tinggi supaya aman.
Kandungan belerang , abu, dan residu harus memenuhi standartagar tidak
terkorosi

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri - ITS
Surabaya

II-3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Berikut ini adalah tabel sifat bahan bakar solar Indonesia :
Tabel II.1 Sifat Bahan Bakar Solar
Sifat
Satuan
1983
1984
Berat Jenis 60oF
0,8521
0,8478
Viscositas
cSt
4,27
4,846
Belerang
% berat
0,5
0,2047
o
Titik anilin
F
165,5
171,5
Index cetane
52,5
59,0
o
Titik keruh
C
12,2
17,8
o
Titik tuang
C
10,0
12,8
Nilai panas kotor
Kkal/kg
10,917
-

1986
0,8616
4,43
0,22
160,5
52,0
#
10.0
-

Tabel II.2 Karakteristik Minyak Solar


Batasan

Sifat

Maksimal

Minimal

Metode
(ASTM)

Spesific Gravity 60/600F

0,82

0,87

D-1928

Colour ASTM

0,87

D-1566

Cetana Number

46

D-613

Pour Point 00F

65

D-87

Sulfur Content

0,5

D-1551

Water Content (%)

0,05

D-95

Flash Point (0F)

150

D-93

2. Premium
Premium digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor,
berwarna kuning bening, serta merupakan hasil dari minyak bumi yang
mengandung karbon, hidrogen, dan sulfur didalam 25 jenis hidrokarbon
yang mengandung 6-9 gram molekulnya. Pengamatan yang dapat dilakukan
pada premium adalah :
Mudah menguap (volatility).
LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

II-4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Cukup bersih dan tidak menimbulkan korosi pada logam yang
bersentuhan dengan bhan bakar.
Tidak boleh mengandung komponen volatilitasnya yang terlalu rendah .
Tidak meninggalkan getah dan sisa pada sistem penyimpanan penyaluran
dan pemasukkan bahan bakar.
(E.Jasjfi, 1998)

Tabel II.3 Spesifikasi Premium.


Sifat

Minimal

Maksimal

98
0,8
240
240
merah

3,0
74
125
180
205
2,0
9,0
4,0

Angka Octane
Kadar TEL (ml/us gal)
Destilasi (0C)
- 10%
- 50%
- 90%
- Titik Didih akhir
- Residu % volume
RUP pada 1000F RSI
Gum (getah) (mg/100ml)
Periode Industri (menit)
Kadar Sulfur (berat)
Endapan (%berat)
Warna
(A.F.J.Jas.Ir dan Mulyono, 1989)

0,2
0,0015
-

Metode
(ASTM)
D-2644
D-526
D-86

D-323
D-381
D-525
D-1266
D-1218
D-1500

3. Premix
Premix merupakan bensin berkualitas tinggi dalam ASTM. Untuk
kendaraan bermotor, premix memang lebih baik jika dibandiungkan
pemium, tetapi tingkat pencemaran lingkungan dari premix lebih tinggi bila
dibandingkan dengan premium. Premix mempunyai nilai oktan lebih tinggi
daripada premium , dan premix dapat dikatakan sebagai super 98 dengan
angka oktan 98. (E.Jasjfi, 1998)
Untuk membandingkan karakteristik dari premium dan premix dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri - ITS
Surabaya

II-5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Tabel II.4 Karakteristik bensin premium dan premix
Sifat
Angka Oktan
Kadar TEL(ml/AG)
Distilasi
- 10% v evaporasi
- 50% v evaporasi
- Titik Didih Akhir
- 20% - 10% v residu
Kadar Belerang (% massa)
Warna
(E.Jasjfi, 1998)

Premium

Premix

Min 87
Max 2,5
Max 74oC
Min 88OC
Max 205OC
Min 8oC
Max 2% vol
Max 0,20
Kuning bening

Min 98
Max 3.0
Max 74oC
Min 88oC
Max 205oC
Min 8oC
Max 2% vol
Max 0,20
Merah Bening

Metode
ASTM D-2699
ASTM D-526
ASTM D-86

ASTM D-1266

4. Bensin Biru
Bensin biru mempunyai nilai oktan dibawah premium dan premix.
Bersifat lebih ramah terhadap lingkungan karena asap yang dikeluarkan
tidak mencemari udara. Mengandung TEL yang sangat kecil, tetapi bensin
biru sangat merusak atau membuat mesin kendaraan tidak awet. Bensin biru
juga mempunyai sifat mengeluarkan panas lebih cepat dibandingkan dengan
premium sehingga mudah menguap (Flash Pointnya rendah) (E.Jasjfi, 1998).
5. Kerosine
Kerosine merupakan bahan bakar yang digunakan sebagai minyak
bakar (burning oil), minyak lampu, juga bahan bakar jet. Nilai atau harga
kerosine tergantung pada kerosine sebagai bahan bakar padat.
6. Olie SAE 30
Olie SAE 30 adalah salah satu minyak pelumas yang mempunyai
viscositas yang cukup besar yaitu 12,9 cSt. Jika minyak pelumas tersebut
bereaksi dengan SO3 akan terbentuk varnish (pernis) yang keras dan karbon,
apabila terjadi karena asam yang korosif dan gerusan oleh karbon material.
(P.Subardjo, 1987)

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

II-6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Tabel II.5 Sifat Fisika dan Kimia Olie SAE 30
Sifat

SAE 30

Metode

Berat jenis 60/60oF


Titik Nyala (oF)
Titik Api (oF)
Jumlah Angka Asam (TAN) (mg KOH/g)
Jumlah Angka Basa (TNB) (mg KOH/g)
Tidak Larut dalam Pentana (% Berat)
Titik Tuang (oF)
Viscositas 100oF (cSt)
Viscositas 210oF (cSt)

0,8912
440
470
1,74
5,14
0,349
5
106,15
11,70

ASTM D-1268
ASTM D-92
ASTM D-92
ASTM D-664
ASTM D-664
ASTM D-473
ASTM D-97
ASTM D-445
ASTM D-445

(P.Subardjo, 1987)

7. Olie SAE 40
Olie SAE 40 mempunyai viscisitas yang lebih besar daripada olie SAE
30 di atas. Jangkauan Viscositas pada olie SAE 40 ini pada temperatur 210oF
minimum 12,9 cSt dan maksimum 16,8 cSt. Minyak pelumas yang diambil
dari bengkel I dan kios pengencer I tidak memenuhi klasifikasi olie ini karena
mempunyai jumlah angka basa kurang dari 4 mg KOH/g, sehingga kurang
tahan terhadap oksidasi udara pada temperatur 200oC. (Literatur:
P.Subardjo, Ketahanan Oksidasi minykl Lumas, Lembaran Publikasi
Lemigas, No. I, 1987, halaman 6).
Tabel II.6 Sifat Fisika dan Kimia Olie SAE 40
Sifat
Berat jenis 60/60oF
Titik Nyala (oF)
Titik Api (oF)
Jumlah Angka Asam (TAN) (mg KOH/g)
Jumlah Angka Basa (TNB) (mg KOH/g)
Tidak Larut dalam Pentana (% Berat)
Titik Tuang (oF)
Viscositas 100oF (cSt)
Viscositas 210oF (cSt)
(P.Subardjo, 1987)

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri - ITS
Surabaya

SAE 40

Metode

0,8962
470
495
2,81
9,70
0,284
0
148,62
16,71

ASTM D-1268
ASTM D-92
ASTM D-92
ASTM D-664
ASTM D-664
ASTM D-473
ASTM D-97
ASTM D-445
ASTM D-445

II-7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


f. Olie SAE 90
Olie SAE 90 secara fisik mempunyai titik didih tinggi dan titik beku
yang rendah, dan mempunyai rantai atom carbon lebih dari 25 atom.
(Ahadiat.Nur, 1987)
II.1.3 Pelumas
Adapun maksud dari pelumasan adalah untuk mengurangi terjadinya
gesekan pada permukaan logam yang bersinggungan. Secara umum fungsi
pelumas pada kendaraan bermesin adalah sebagai pelumas, sebagai
perambat panas, sebagai penyekat dan menjaga agar mesin tetap bersih.
Pengaruh minyak pelumas terutama sangat tergantung pada viscisitasnya,
disampping kemampuannya membentuk lapisan selaput untuk dapat
bertahan terhadap kondisi temperatur dan tekanan yang biasa diderita.
Viscositas dari semua jenis pelumas akan menurun dengan naiknya
temperatur atau menurunnya tekanan. Sebagai contoh minyak pelumas
karter. Bila kita menggunakan minyak pelumas karter yang viscisitasnya
rendah akan kurang aktivitas minyak pelumas tersebut dalam melindungi
bagian-bagina logam mesin kendaraan pada saat mesin dinyalakan, karena
akan menurun lagi viscisitasnya akibat temperatur yang menanjak. Tetapi
apabila kita menggunakan minyak pelumas yang viscositasnya tinggi , kita
akan memdapatkan kesulitan untuk mula-mula menyalakan mesin,
setidaknya accu akan bekerja keras untuk dapat menghidupkan, terlebih lagi
apabila temperatur lingkungan sangat rendah. Yang ideal dari suatu minyak
pelumas adalah perubahan yang sekecil mungkin yang terjadi pada
viscositasnya didalam menghadapi pengaruh perbedaan temperatur yang
besar. Pada umumnya untuk produk minyak bumi, hubungan antara
viscositas kinematika dengan perubahan temperatur dapat dinyatakan
secara empiris sebagai berikut :
Log n log m ( v + 0,07 ) = A + B log T
Dimana :
v
= Viscositas kinematika , cSt (centi Stoke)
T = temperatur termodinamika , K ( Kelvin )
A,B = konstanta-konstanta spesifik untuk minyak

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

II-8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Tabel II.7 Pengaruh Minyak Pelumas terhadap Kontak dengan beberapa
Pendingin (Refrigerant).
Bahan
Pendingin

Rumus
Kimia

Kecenderungan yang Terjadi


dengan Minyak Pelumas

Amoniak

NH3

Sedikit bercampur

Carbon
dioksida

CO2

Praktis tidak ada reaksi

Sulfur
dioksida

SO2

Reaktif hanya pada suhu


tinggi

Metil klorida

CH3Cl

Bercampur sempurna

Metilena

CH2Cl2

Bercampur sempurna

Freon 12,
Genetron 12

CCl2F2

Bercampur sempuran

Freon 21

CHCl2F

Freon 11,
Genetron 11

CFCl3

Freon 113,
Genetron 113
Freon 114,
Genetron114

C2Cl3F3

C2Cl2F4

Bercampur sempurna

Bercampur sempurna

Bercampurr sempurna

Bercampur sempurna

(Anton L, 1983)
LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri - ITS
Surabaya

Pengaruh pada Minyak


Pelumas
Tak ada pengaruh pada
viscositas tetapi akan
membentuk emulsi dengan
adanya air.

Tidak ada pangaruh


viscositas pada suhu biasa,
bekerja sebagai pelarut
tertentu pada suhu tinggi
untuk membentuk Lumpur
atau endapan.
Tidak ada reaksi kimia,
tetapi menurunnya
viscositas.
Tidak ada reaksi kimia,
tetapi menurunnya
viscositas
Tidak ada reaksi kimia,
tetapi menurunnya
viscositas
Tidak ada reaksi kimia,
tetapi menurunnya
viscositas
Tidak ada reaksi kimia,
tetapi menurunnya
viscositas
Tidak ada reaksi kimia,
tetapi menurunnya
viscositas
Tidak ada reaksi kimia,
tetapi menurunnya
viscositas

II-9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Minyak dengan pour point yang rendah banyak digunakan dalam
mesin-mesin pendingin yang dimaksudkan dengan mesin pendingin adalah
meliputi semua mesin pendingin seperti penyejuk udara yang dipasang pada
kendaraan maupun ruangan, kamar pendingin, kulkas dan lain sebagainya.
Pengunaan Freon pada mesin pendingin juga cukup luas pada pendinginpendingin yang mempergunakan system sentrifugal. Freon merupakan
bahan yang mampu bercamppur dengan minyak pelumas, terutama pada
kondisi bertekanan. Pengaruh pertama dari beracampurnya freon dengan
minyak pelumas adalah adanya penurunan viscositas minyak pelumas. Oleh
karena itu penggunaan feon diarahkan kepada mesin-mesin pendingin kecil
yang menggunakan system sentrifugal, dimana pada system ini minyak
pelumas diperlukan hanya untuk melumasi bantalan-bantalan.
Sifat dari Freon adalah:
tidak beracun
sangat mudah menguap
dan tidak berbau
(Anton L, 1983)
II. 1.4 Karakteristik Sampel
1. Olie SAE 40
Olie SAE 40 mempunyai viscisitas yang lebih besar daripada olie SAE
30 di atas. Jangkauan Viscositas pada olie SAE 40 ini pada temperatur 210oF
minimum 12,9 cSt dan maksimum 16,8 cSt. Minyak pelumas yang diambil
dari bengkel I dan kios pengencer I tidak memenuhi klasifikasi olie ini karena
mempunyai jumlah angka basa kurang dari 4 mg KOH/g, sehingga kurang
tahan terhadap oksidasi udara pada temperatur 200oC. (Literatur:
P.Subardjo, Ketahanan Oksidasi minykl Lumas, Lembaran Publikasi
Lemigas, No. I, 1987, halaman 6).

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

II-10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Tabel II.8 Sifat Fisika dan Kimia Olie SAE 40
Sifat
Berat jenis 60/60oF
Titik Nyala (oF)
Titik Api (oF)
Jumlah Angka Asam (TAN) (mg KOH/g)
Jumlah Angka Basa (TNB) (mg KOH/g)
Tidak Larut dalam Pentana (% Berat)
Titik Tuang (oF)
Viscositas 100oF (cSt)
Viscositas 210oF (cSt)

SAE 40

Metode

0,8962
470
495
2,81
9,70
0,284
0
148,62
16,71

ASTM D-1268
ASTM D-92
ASTM D-92
ASTM D-664
ASTM D-664
ASTM D-473
ASTM D-97
ASTM D-445
ASTM D-445

(P.Subardjo, 1987)

2. Olie SAE 90
Olie SAE 90 secara fisik mempunyai titik didih tinggi dan titik beku
yang rendah, dan mempunyai rantai atom carbon lebih dari 25 atom.
(Ahadiat.Nur, 1987)

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri - ITS
Surabaya

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Variabel Percobaan
- Repeatability 2 kali
- Reproducibility 3 kali
III.2 Bahan Percobaan
1. Es Batu.
2. Garam Dapur
3. Pelumas Mesrania SAE 30
III.3 Alat Percobaan
1. Aluminium foil
2. Bunsen
3. Cooling Bath
4. Termometer skala (-12 OC) - 100 OC
5. Tabung reaksi
6. Tabung uji pour point.
7. Pipet Tetes
8. Stopwatch
III.4 Prosedur Percobaan
Tahap Persiapan
1. Menyiapkan sampel yang akan digunakan serta bahan-bahan lain
yang akan digunakan dalam percobaan yaitu es batu dan garam.
2. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan yaitu termometer skala 12 OC - 100OC, cooling bath, tabung uji pour point, tabung reaksi,
bunsen, gabus, serta pipet tetes
3. Mencuci alat-alat yang akan digunakan menggunakan sabun dan
membilas hingga bersih lalu mengeringkan dengan menggunakan tisu.
Tahap Pengamatan
1. Mengisi cooling bath dengan es batu yang dicampurkan dengan garam
dapur untuk digunakan sebagai media pendingin.
2. Perlakuan awal sampel
III-1

III-2

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.
4.
5.
6.

a. Menuangkan sampel sebanyak 10 ml pada gelas ukur 25 ml.


b. Memindahkan sampel dari gelas ukur pada tabung reaksi.
c. Memanaskan sampel dengan menggoyangkan tabung reaksi diatas
api bunsen hingga suhu sampel naik menjadi 45 OC.
Memindahkan sampel dari tabung reaksi kedalam tabung uji pour
point.
Tabung uji pour point diletakkan kedalam gasket.
Gasket ditutup menggunakan Aluminium foil yang telah diberi
termometer skala (-12 OC 100 OC).
Gasket lalu dimasukkan ke dalam cooling bath untuk kemudian
dilakukan pengamatan waktu yang dibutuhkan untuk tiap penurunan
suhu dan melakukan pencatatan.

III.5 Diagram Alir Percobaan


Tahap Persiapan
Mulai
Menyiapkan sampel yang akan digunakan
Menyiapkan bahan-bahan lain yang akan digunakan dalam percobaan
yaitu es batu dan garam.
Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan yaitu termometer skala -12
OC - 100OC, cooling bath, tabung uji pour point, tabung reaksi, bunsen,
aluminium foil, serta pipet tetes
Mencuci alat-alat yang akan digunakan menggunakan sabun dan
membilas hingga bersih lalu mengeringkan dengan menggunakan tisu.

Selesai

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

III-3

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


Tahap Pengamatan
Mulai
Mengisi cooling bath dengan es batu yang dicampurkan dengan garam
dapur untuk digunakan sebagai media pendingin
Menuangkan sampel sebanyak 10 ml pada gelas ukur 25 ml
Memindahkan sampel dari gelas ukur pada tabung reaksi
Memanaskan sampel dengan menggoyangkan tabung reaksi diatas api
bunsen hingga suhu sampel menjadi 45 OC
Memindahkan sampel dari tabung reaksi kedalam tabung uji pour point
Tabung uji pour point diletakkan kedalam gasket
Tabung uji ditutup menggunakan gabus yang telah diberi termometer
skala (-12 OC 100 OC)
Gasket lalu dimasukkan kedalam cooling bath
Melakukan pengamatan dan pencatatan waktu tiap penurunan suhu
Mengulangi langkah 1 6 untuk repeatability ke-2
Selesai

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

III-4

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


III.6 Gambar Alat Percobaan

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil Pengamatan
Pengujian dilakukan oleh tiga operator berbeda pada sampel Pelumas
Mesrania SAE 30 dengan pengamatan (Reproduceability) dan dilakukan 2
kali pengujian (Repeatability). Pengambilan data percobaan pada sampel
Pelumas Mesrania SAE 30 dilakukan setiap penurunan suhu 2oC. Hasil
pengamatan sampel Pelumas Mesran SAE 30 dapat dilihat Tabel IV.1
Tabel IV.1 Hasil Pengamatan Pelumas Mesrania SAE 30 dengan Reproducibility 1 dan
Repeatability 1
Repeatability 1
No.
o
Suhu ( C)
Waktu (menit)
Keterangan
1
31
Tidak ada perubahan
2
29
0:07
Tidak ada perubahan
3
27
0:11
Mulai ada embun
4
25
0:19
Mulai ada embun
5
23
0:28
Mulai ada embun
6
21
0:04
Mulai ada Embun
7
19
0:04
Mulai ada embun
8
17
0:15
Mulai mengental
9
15
0:15
Mulai mengental
10
13
0:22
Mulai mengental
11
11
0:12
Mulai mengental
12
9
0:11
Mulai mengental
13
7
0:21
Mulai Mengental
14
5
0:08
Lebih kental lagi
15
3
0:10
Lebih kental lagi
16
1
0:13
Lebih kental lagi
17
-3
1:12
Cold point
Warna berubah memutih yang
18
-5
0:23
menandakan pelumas sedikit membeku
Mulai sedikit membeku, tapi masih
19
-7
0:17
mengalir
20
-9
1:30
Pour Point
21
-11
1:17
Mulai membeku
22
-12
0:55
Membeku
IV-1

IV-2

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Dari tabel hasil pengamatan pelumas campuran pada
Reproduceability 1 dan Repeatability 1, didapatkan bahwa suhu terendah
yang didapat adalah -12C.
Tabel IV.2 Hasil Pengamatan Pelumas Mesrania SAE 30 dengan Reproducibility 1 dan
Repeatability 2
Repeatability 2
No.
Suhu (oC)

Waktu (menit)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

31
29
27
25
23
21
19
17
15
13
11
9
7
5
3
1
-3

0:08
0:13
0:10
0:05
0:05
0:07
0:26
0:26
0:10
0:13
0:16
0:14
0:26
0:28
0:33
0:15

18

-5

0:12

19

-7

0:53

20
21
22

-9
-11
-12

1:19
1:17
2:37

Keterangan
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan
Mulai ada embun
Mulai ada embun
Mulai ada embun
Mulai ada Embun
Mulai ada embun
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai Mengental
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Cold Poit
Warna berubah memutih yang
menandakan pelumas sedikit membeku
Mulai sedikit membeku, tapi masih
mengalir
Mulai membeku
Pour Point
Membeku

Dari tabel hasil pengamatan pelumas campuran pada


Reproduceability 1 dan Repeatability 2, didapatkan bahwa suhu terendah
yang didapat adalah -12C.
LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-3

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Tabel IV.3 Hasil Pengamatan Pelumas Mesrania SAE 30 dengan Reproducibility 2 dan
Repeatability 1
Repeatability 1
No.

Suhu (oC)

Waktu (menit)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

31
29
27
25
23
21
19
17
15
13
11
9
7
5
3
1
-3

0:20
0:17
0:18
0:12
0:27
0:11
0:39
0:14
0:25
0:26
1:13
1:07
1:47
3:36
0:52
0:37

18

-5

0:33

19
20
21
22

-7
-9
-11
-12

1:02
1:26
1:17
1:18

Keterangan
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan
Mulai ada embun
Mulai ada embun
Mulai ada embun
Mulai ada Embun
Mulai ada embun
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai Mengental
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Warna berubah memutih yang menandakan
pelumas sedikit membeku
Mulai sedikit membeku, tapi masih mengalir
Pour Point
Mulai membeku
Membeku

Dari tabel hasil pengamatan pelumas campuran pada Reproducibility


2 dan Repeatability 1, didapatkan bahwa suhu terendah yang didapat
adalah -12C.

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-4

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Tabel IV.4 Hasil Pengamatan Pelumas Mesrania SAE 30 dengan Reproducibility 2 dan
Repeatability 2
Repeatability 2
No.
Suhu
Waktu (menit)
Keterangan
(oC)
1
31
Tidak ada perubahan
2
29
0:17
Tidak ada perubahan
3
27
0:18
Mulai ada embun
4
25
0:23
Mulai ada embun
5
23
0:49
Mulai ada embun
6
21
0:23
Mulai ada Embun
7
19
0:11
Mulai ada embun
8
17
0:36
Mulai mengental
9
15
0:17
Mulai mengental
10
13
0:23
Mulai mengental
11
11
0:26
Mulai mengental
12
9
0:47
Mulai mengental
13
7
0:42
Mulai Mengental
14
5
1:54
Lebih kental lagi
15
3
1:28
Lebih kental lagi
16
1
1:07
Lebih kental lagi
17
-3
1:16
Lebih kental lagi
Warna berubah memutih yang
18
-5
2:11
menandakan pelumas sedikit membeku
Mulai sedikit membeku, tapi masih
19
-7
1:16
mengalir
20
-9
1:20
Pour Point
21
-11
2:15
Mulai membeku
22
-12
1:29
Membeku

Dari tabel hasil pengamatan pelumas campuran pada Reproducibility


2 dan Repeatability 2, didapatkan bahwa suhu terendah yang didapat
adalah -12C.

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-5

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Tabel IV.5 Hasil Pengamatan Pelumas Mesrania SAE 30 dengan Reproducibility 3 dan
Repeatability 1
Repeatability 1
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Suhu
(oC)
31
29
27
25
23
21
19
17
15
13
11
9
7
5
3
1
-3

18

-5

1:07

19

-7

1:52

20
21
22

-9
-11
-12

1:35
2:03
1:58

Waktu (menit)
0:14
0:09
0:31
0:09
0:10
0:07
0:11
0:08
0:46
0:31
0:39
0:43
1:23
0:59
1:31
0:54

Keterangan
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan
Mulai ada embun
Mulai ada embun
Mulai ada Embun
Mulai ada embun
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai Mengental
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Warna berubah memutih yang
menandakan pelumas sedikit
membeku
Mulai sedikit membeku, tapi
masih mengalir
Pour Point
Mulai membeku
Membeku

Dari tabel hasil pengamatan pelumas campuran pada Reproducibility


3 dan Repeatability 1, didapatkan bahwa suhu terendah yang didapat
adalah -12C.

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-6

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Tabel IV.6 Hasil Pengamatan Pelumas Mesrania SAE 30 dengan Reproducibility 3 dan
Repeatability 2
Repeatability 2
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Suhu
(oC)
31
29
27
25
23
21
19
17
15
13
11
9
7
5
3
1
-3

18

-5

1:04

19

-7

1:53

20
21
22

-9
-11
-12

1:25
1:17
2:25

Waktu (menit)
0:11
0:09
0:37
0:10
0:08
0:07
0:08
0:08
0:44
0:30
0:34
0:45
1:03
0:59
1:41
0:44

Keterangan
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan
Mulai ada embun
Mulai ada embun
Mulai ada Embun
Mulai ada embun
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai mengental
Mulai Mengental
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Lebih kental lagi
Warna berubah memutih yang
menandakan pelumas sedikit membeku
Mulai sedikit membeku, tapi masih
mengalir
Pour point
Mulai membeku
Membeku

Dari tabel hasil pengamatan pelumas campuran pada Reproducibility


3 dan Repeatability 2, didapatkan bahwa suhu terendah yang didapat
adalah -12C.

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-7

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Tabel IV.7 Tabel Karakteristik Pelumas Mesrania SAE 30
Data Fisik dan Kimiawi
No. SAE

30

Kinematic Viscosity at 40 oC (cSt)

148,7 (ASTM D-445)

Kinematic Viscosity at 100 oC (cSt)

14,91 (ASTM D-445)

Viscosity Index

100 (ASTM D-2270)

Specific Gravity. 15/4 oC

0,8946 (ASTM D-1298)

Colour ASTM

L 3 5 (ASTM D-1500)

Flash Point (oC)

264 (ASTM D-92)

Pour Point (oC)

-9 (ASTM D-97)

Total Base Number (mgKOH/g)

6,43 (ASTM D-2896)

(MSDS Mesrania SAE 30, 2006)

IV.2 Perhitungan Repeatability


Untuk mendapatkan nilai pour point dari sampel pelumas Mesrania
SAE 30 diperoleh dengan cara menghitung rata-rata pour point percobaan I
dan II pada masing-masing sampel pelumas Mesrania SAE 30 sehingga
didapatkan nilai repeatability sebagai berikut:
Tabel IV.8 Nilai Pour Point pada Mesrania SAE 30
Pour Point

Reproduce
Mesrania
SAE 30

Repeatability
I

Repeatability
II

Repeatability

ASTM D
97-05

Keterangan

-12 C

-12 C

0 C

Max 3 C

Sesuai

II

-12 C

-12 C

0 C

Max 3 C

Sesuai

III

-12 C

-12 C

0 C

Max 3 C

Sesuai

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-8

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


IV.3 Pembahasan
Dari percobaan pour point dengan sampel pelumas Mesrania SAE 30
yang telah dilakukan, diperoleh hasil grafik sebagai berikut:

Grafik IV.1 Hubungan antara Penurunan Suhu (oC) dan Waktu Pendinginan pada sampel
pelumas Mesrania SAE 30 Reproducibility 1, Repeatability 1

Dari Grafik IV.1 dapat ditentukan kecepatan pendinginan pelumas


Mesrania SAE 30 pada Reproducibility 1, Repeatability 1 antara slope I, slope
II, slope III, dan slope IV. Untuk menentukan rata-rata kecepatan
pendinginan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IV.9 Kecepatan Pendinginan pada Sampel Pelumas Mesrania SAE 30
Reproducibility 1, Repeatability 1
Slope
T (oC)
t (s)
Kecepatan Pendinginan (oC/s)
I
7
72
0,0972
II
20
108
0,1851
III
10
236
0,0424
IV
4
130
0,0308
0.0889
Kecepatan rata-rata

Dari hasil perhitungan pada Tabel IV.9 dapat ditentukan kecepatan


pendinginan sampel pelumas Mesrania SAE 30, pada slope I sebesar 0,0972
o
C/detik, slope II sebesar 0,1851 oC/detik, slope III 0,0424 oC/detik, dan pada
LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-9

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


slope IV sebesar 0,0308 oC/detik. Sehingga rata-rata kecepatan pendinginan
slope I, II, III, dan IV sebesar 0,0889 oC/detik. Hal ini membuktikan bahwa
semakin lama waktu pendinginan maka penurunan suhu makin kecil.

Grafik IV.2 Hubungan antara Penurunan Suhu (oC) dan Waktu Pendinginan
pada sampel pelumas Mesrania SAE 30 Reproducibility 1, Repeatability 2

Dari Grafik IV.2 dapat ditentukan kecepatan pendinginan pelumas Mesrania


SAE 30 pada Reproducibility 1, Repeatability 1 antara slope I, slope II, slope
III, dan slope IV. Untuk menentukan rata-rata kecepatan pendinginan
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IV.10 Kecepatan Pendinginan pada Sampel Pelumas Mesrania SAE 30
Reproducibility 1, Repeatability 2
o
Slope
T ( C)
t (s)
Kecepatan Pendinginan (oC/s)
I
12
72
0,1666
II
14
144
0,0972
III
10
107
0,0935
IV
6
303
0,0198
0,0943
Kecepatan rata-rata

Dari hasil perhitungan pada Tabel IV.10 dapat ditentukan kecepatan


pendinginan sampel pelumas Mesrania SAE 30, pada slope I sebesar 0,1666
LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-10

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


o

C/detik, slope II sebesar 0,0972 oC/detik, slope III 0,0935 oC/detik, dan pada
slope IV sebesar 0,0198 oC/detik. Sehingga rata-rata kecepatan pendinginan
slope I, II, III, dan IV sebesar 0,0943 oC/detik. Hal ini membuktikan bahwa
semakin lama waktu pendinginan maka penurunan suhu makin kecil.

Grafik IV.3 Hubungan antara Penurunan Suhu (oC) dan Waktu Pendinginan pada sampel
pelumas Mesrania SAE 30 Reproducibility 2, Repeatability 1

Dari Grafik IV.3 dapat ditentukan kecepatan pendinginan pelumas Mesrania


SAE 30 pada Reproducibility 1, Repeatability 1 antara slope I, slope II, slope
III, dan slope IV. Untuk menentukan rata-rata kecepatan pendinginan
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IV.11 Kecepatan Pendinginan pada Sampel Pelumas Mesrania SAE 30
Reproducibility 2, Repeatability 1
o
Slope
T ( C)
t (s)
Kecepatan Pendinginan (oC/s)
I
10
45
0,2222
II
10
75
0,1333
III
8
180
0,0444
IV
13
160
0,0812
0,1203
Kecepatan rata-rata

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-11

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Dari hasil perhitungan pada Tabel IV.11 dapat ditentukan kecepatan
pendinginan sampel pelumas Mesrania SAE 30, pada slope I sebesar 0,2222
o
C/detik, slope II sebesar 0,1333 oC/detik, slope III 0,0444 oC/detik, dan pada
slope IV sebesar 0,0812 oC/detik. Sehingga rata-rata kecepatan pendinginan
slope I, II, III, dan IV sebesar 0,1203 oC/detik. Hal ini membuktikan bahwa
semakin lama waktu pendinginan maka penurunan suhu makin kecil.

Grafik IV.4 Hubungan antara Penurunan Suhu (oC) dan Waktu Pendinginan pada sampel
pelumas Mesrania SAE 30 Reproducibility 2, Repeatability 2

Dari Grafik IV.4 dapat ditentukan kecepatan pendinginan pelumas Mesrania


SAE 30 pada Reproducibility 1, Repeatability 1 antara slope I, slope II, slope
III, dan slope IV. Untuk menentukan rata-rata kecepatan pendinginan
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IV.12 Kecepatan Pendinginan pada Sampel Pelumas Mesrania SAE 30
Reproducibility 2, Repeatability 2
Slope
T (oC)
t (s)
Kecepatan Pendinginan (oC/s)
I
20
120
0,1666
II
8
132
0,0606
III
10
148
0,0676
IV
3
95
0,0316
0,0816
Kecepatan rata-rata
LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-12

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Dari hasil perhitungan pada Tabel IV.12 dapat ditentukan kecepatan
pendinginan sampel pelumas Mesrania SAE 30, pada slope I sebesar 0,1666
o
C/detik, slope II sebesar 0,0606 oC/detik, slope III 0,0676 oC/detik, dan pada
slope IV sebesar 0,0316 oC/detik. Sehingga rata-rata kecepatan pendinginan
slope I, II, III, dan IV sebesar 0,0816 oC/detik. Hal ini membuktikan bahwa
semakin lama waktu pendinginan maka penurunan suhu makin kecil.

Grafik IV.5 Hubungan antara Penurunan Suhu (oC) dan Waktu Pendinginan pada sampel
pelumas Mesrania SAE 30 Reproducibility 3, Repeatability 1

Dari Grafik IV.5 dapat ditentukan kecepatan pendinginan pelumas


Mesrania SAE 30 pada Reproducibility 1, Repeatability 1 antara slope I, slope
II, slope III, dan slope IV. Untuk menentukan rata-rata kecepatan
pendinginan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IV.13 Kecepatan Pendinginan pada Sampel Pelumas Mesrania SAE 30
Reproducibility 3, Repeatability 1
Slope
T (oC)
t (s)
Kecepatan Pendinginan (oC/s)
I
14
20
0,0468
II
12
148
0,0188
III
10
132
0,0287
IV
5
140
0,0028
0,0243
Kecepatan rata-rata
LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-13

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Dari hasil perhitungan pada Tabel IV.13 dapat ditentukan kecepatan
pendinginan sampel pelumas Mesrania SAE 30, pada slope I sebesar 0,0468
o
C/detik, slope II sebesar 0,0188 oC/detik, slope III 0,0287 oC/detik, dan pada
slope IV sebesar 0,0028 oC/detik. Sehingga rata-rata kecepatan pendinginan
slope I, II, III, dan IV sebesar 0,0243 oC/detik. Hal ini membuktikan bahwa
semakin lama waktu pendinginan maka penurunan suhu makin kecil.

Grafik IV.6 Hubungan antara Penurunan Suhu (oC) dan Waktu Pendinginan pada sampel
pelumas Mesrania SAE 30 Reproducibility 3, Repeatability 2

Dari Grafik IV.6 dapat ditentukan kecepatan pendinginan pelumas Mesrania


SAE 30 pada Reproducibility 1, Repeatability 1 antara slope I, slope II, slope
III, dan slope IV. Untuk menentukan rata-rata kecepatan pendinginan
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IV.14 Kecepatan Pendinginan pada Sampel Pelumas Mesrania SAE 30
Reproducibility 3, Repeatability 2
Slope
T (oC)
t (s)
Kecepatan Pendinginan (oC/s)
I
14
40
0,3500
II
12
115
0,1043
III
10
130
0,0769
IV
5
135
0,0370
0,1421
Kecepatan rata-rata
LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-14

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Dari hasil perhitungan pada Tabel IV.14 dapat ditentukan kecepatan
pendinginan sampel pelumas Mesrania SAE 30, pada slope I sebesar 0,3500
o
C/detik, slope II sebesar 0,1043 oC/detik, slope III 0,0769 oC/detik, dan pada
slope IV sebesar 0,0370 oC/detik. Sehingga rata-rata kecepatan pendinginan
slope I, II, III, dan IV sebesar 0,1421 oC/detik. Hal ini membuktikan bahwa
semakin lama waktu pendinginan maka penurunan suhu makin kecil.
Dari hasil percobaan pour point pada Tabel IV.1 sampai Tabel IV.6
dengan menggunakan sampel Pelumas Mesrania SAE 30, dapat dilihat pada
percobaan reproducebility bahwa sampel mulai berhenti mengalir (pour point)
yaitu pada temperatur -120C. Pengamatan reproduciblity sesuai dengan
ASTM D97 untuk pour point pada pengamatan reproducibility tidak melebihi
batas range suhu antara -33oC sampai 55oC dan sesuai dengan karakteristik
pada Pelumas Mesrania SAE 30 untuk pour point maksimal -9oC.

Grafik IV.7 Reproduceability Hubungan Waktu dengan Suhu


LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-15

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Dari Grafik IV.7 dapat ditentukan kecepatan pendinginan Pelumas
Mesrania SAE 30. Pada Grafik IV.7 untuk percobaan reproduceability
pengamatan 1 dari slope 1 hingga slope 8. Untuk menentukan rata-rata
kecepatan pendinginan dapat dilihat pada Tabel IV.15 berikut.
Tabel IV.15 Kecepatan Pendinginan pada Sampel Pelumas Mesrania SAE 30 untuk
(reproduceability) Pengamatan Rata-Rata
Kecepatan Pendinginan ( T/ t)
Slope
0C/second
1
0.15385
2
0.10256
3
0.25806
4
0.19048
5
0.11765
6
0.07407
7
0.06667
8
0.04317
Rata-rata Kecepatan Pendinginan

0.103940C/detik

Dari hasil perhitungan pada Tabel IV.15 dapat ditentukan kecepatan


pendinginan sampel Pelumas Mesrania SAE 30 pada pengamatan 1 untuk
slope 1 sebesar 0.153850C/detik, hingga slope 8 sebesar 0.043170C/detik.
Sehingga rata-rata kecepatan pendinginan slope 1 hingga slope 8 sebesar
0.103940C/detik. Pada pengamatan ini, sampel Pelumas Mesrania SAE 30
sudah tidak mengalir pada suhu -120C. Dari pengamatan sampel Pelumas
Mesrania SAE 30 diperoleh kesimpulan bahwa rata rata kecepatan
pendinginan pada pengamatan reproduce ability sebesar 0.103940C/detik.
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui faktor-faktor
yang mempengaruhi cepat lambatnya ditemukannya Pour Point dari suatu
bahan bakar adalah :
1. Pengaruh campuran es dan garam dapur (NaCl)
Pengaruh campuran es dan NaCl pada percobaan berfungsi sebagai
pemercepat pendinginan bahan bakar sehingga Pour Point dapat dengan
cepat dicapai. Pada percobaan ini digunakan NaCl sebagai campuran pada
pendingin karena NaCl merupakan larutan elektrolit yang dapat
LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

IV-16

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


memperbesar nilai penurunan titik beku Tf,, selain itu NaCl juga mudah
didapatkan dan harganya terjangkau sehingga cocok utnuk dipakai dalam
percoban.
2. Pengaruh gasket dan penutupnya
Bahan bakar dalam tabung uji diputar-putar dimaksudkan agar transfer
panas dengan campuran pendingin akan lebih merata sehingga semakin
cepat proses pembekuan bahan bakar. Penangas pendingin dengan
menggunakan gasket juga dimaksudkan agar melindungin tabung reaksi
agar tabung reaksi tidak pecah saat proses penentun Pour Point bahan
bakar. Fungsi penutup pada gasket adalah untuk menghindari terjadinya
kontak dengan suhu udara luar yang dapat mempengaruhi pendinginan
dalam penangas pendingin.
3. Pengaruh lingkungan
Semakin rendah suhu lingkungan maka pencapaian Pour Point pada
bahan bakar akan semakin cepat, dan demikian juga sebaliknya. Pengaruh
dari suhu lingkungan ini dapat dihindari dengan penutup gasket.
4. Kandungan lilin (wax)
Kandungan lilin yang dimiliki bahan bakar dapat mempengaruhi cepat
lambatnya Pour Point tercapai. Semakin besar kandungan lilin dari suatu
bahan bakar maka semakin cepat pula Pour Point bahan bakar tersebut
tercapai.ss

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
Fakultas Teknologi Industri-ITS
Surabaya

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari percobaan Pour Point adalah sebagai berikut :
1. Pengukuran dan perhitungan hasil percobaan dilakukan berdasarkan
ASTM D97-05 untuk sampel Pelumas Mesrania SAE 30.
2. Setelah dilakukan percobaan pada sampel Pelumas Mesrania SAE 30,
Repeatability 1, Reproducibility 1 didapatkan data bahwa cloud point
sebesar -3o C, pour point sebesar -11o C dan freezing point sebesar -12o C.
3. Setelah dilakukan percobaan pada sampel Pelumas Mesrania SAE 30,
Repeatability 1, Reproducibility 2 didapatkan data bahwa cloud point
sebesar -3o C, pour point sebesar -11o C dan freezing point sebesar -12o C.
4. Setelah dilakukan percobaan pada sampel Pelumas Mesran SAE 30,
Repeatability 1, Reproducibility 3 didapatkan data bahwa cloud point
sebesar -4o C, pour point sebesar -11o C dan freezing point sebesar -12o C.
5. Setelah dilakukan percobaan pada sampel Pelumas Mesran SAE 30,
Repeatability 2, Reproducibility 1 didapatkan data bahwa cloud point
sebesar -3o C, pour point sebesar -11o C dan freezing point sebesar -12o C.
6. Setelah dilakukan percobaan pada sampel Pelumas Mesran SAE 30,
Repeatability 2, Reproducibility 2 didapatkan data bahwa cloud point
sebesar -4o C, pour point sebesar -11o C dan freezing point sebesar -12o C.
7. Setelah dilakukan percobaan pada sampel Pelumas Mesran SAE 30,
Repeatability 2, Reproducibility 3 didapatkan data bahwa cloud point
sebesar -4o C, pour point sebesar -11o C dan freezing point sebesar -12o C.
V.2 Saran
Saran dari percobaan Pour Point adalah:
1.

V-1

Halaman ini sengaja dikosongkan