Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM IPA-3

PEWARISAN SIFAT

Disusun Oleh :
Kelompok 1
1. Siti Nur Hasanah

(12312241011)

2. Ratnasari

(12312241016)

3. Robiyatul Abdawiyah

(12312241021)

4. Alvionita

(12312241024)

5. Astriedianova Putri Aliston

(12312241026)

6. Heru Khoirul Ummah

(12312241033)

7. Wulan Sari Ningsih

(12312241044)

PRODI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014

A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menyelidiki dan membuktikan
perbandingan fenotip dan genotip keturunan dengan dua sifat (diploid) berbeda
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam percobaan ini adalah bagaimana perbandingan fenotip
dan genotip keturunan dengan dua sifat (diploid) berbeda?
C. HIPOTESIS
Persilangan antara dua individu dengan dua sifat beda (diploid) menunjukkan
genotip dengan pola perbandingannya adalah 9 : 3 : 3 : 1. Sedangkan untuk fenotipnya
menghasilkan anak memiliki pupil berwarna cokelat dan bentuk kelopak mata belok
sebanyak 9 anak, anak memiliki pupil berwarna cokelat dan bentuk kelopak mata sipit
sebanyak 3 anak, anak memiliki pupil berwarna biru dan bentuk kelopak mata belok
sebanyak 3 anak, anak memiliki pupil berwarna biru dan bentuk kelopak mata sipit
sebanyak 1 anak.
D. DASAR TEORI
Pengertian Gen
Gen merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup yang mengandung substansi
hereditas, terdapat di dalam lokus gen. Gen terdiri dari protein dan asam nukleat (DNA
dan RNA), berukuran antara 4 8 m (mikron). Gen mempunyai sifat-sifat sebagai
berikut:
a. Mengandung informasi genetik.
b. Tiap gen mempunyai tugas dan fungsi berbeda.
c. Pada waktu pembelahan mitosis dan meiosis dapat mengadakan duplikasi.
d. Ditentukan oleh susunan kombinasi basa nitrogen.
e. Sebagai zarah yang terdapat dalam kromosom.
Fungsi Gen
Fungsi gen antara lain:
a. Menyampaikan informasi kepada generasi berikutnya.
b. Sebagai penentu sifat yang diturunkan.
c. Mengatur perkembangan dan metabolisme.

Simbol-Simbol Gen
a. Gen dominan, yaitu gen yang menutupi ekspresi gen lain, sehingga sifat yang
dibawanya terekspresikan pada turunannya (suatu individu) dan biasanya
dinyatakan dalam huruf besar, misalnya A.
b. Gen resesif, yaitu gen yang terkalahkan (tertutupi) oleh gen lain (gen dominan)
sehingga sifat yang dibawanya tidak terekspresikan pada keturunannya.
c. Gen heterozigot , yaitu dua gen yang merupakan perpaduan dari sel sperma (A)
dan sel telur (a).
d. Gen homozigot, dominan, yaitu dua gen dominan yang merupakan perpaduan dari
sel kelamin jantan dan sel kelamin betina, misalnya genotipe AA.
e. Gen homozigot resesif, yaitu dua gen resesif yang merupakan hasil perpaduan
dua sel kelamin. Misalnya aa.
f. Kromosom homolog, yaitu kromosom yang berasal dari induk betina berbentuk
serupa dengan kromosom yang berasal dari induk jantan.
g. Fenotipe, yaitu sifat-sifat keturunan pada F1, F2, dan F3 yang dapat dilihat,
seperti tinggi, rendah, warna, dan bentuk.
h. Genotipe, yaitu sifat-sifat keturunan yang tidak dapat dilihat, misalnya AA, Aa,
dan aa.
Penurunan sifat (hereditas)
Penelitian Mendel menghasilkan hukum Mendel I dan II. Mendel melakukan
persilangan monohibrid atau persilangan satu sifat beda dengan tujuan mengetahui pola
pewarisan sifat dari tetua kepada generasi berikutnya. Persilangan ini untuk membuktikan
hukum Mendel I yang menyatakan bahwa pasangan alel pada proses pembentukkan sel
gamet dapat memisah secara bebas. Hukum Mendel I disebut juga dengan hukum
segregasi. Mendel melanjutkan persilangan dengan menyilangkan tanaman dengan dua
sifat beda, misalnya warna bunga dan ukuran tanaman. Persilangan dihibrid juga
merupakan bukti berlakunya hukum Mendel II berupa pengelompokkan gen secara bebas
saat pembentukkan gamet. Persilangan dengan dua sifat beda yang lain juga memiliki
perbandingan fenotip F2 sama, yaitu 9 : 3 : 3 : 1. Berdasarkan penjelasan pada
persilangan monohibrid dan dihibrid tampak adanya hubungan antara jumlah sifat beda,
macam gamet, genotip, dan fenotip beserta perbandingannya.

a. Persilangan monohibrid
Persilangan monohibrid yang menghasilkan keturunan dengan perbandingan
F2, yaitu 1 : 2 : 1 merupakan bukti berlakunya hukum Mendel I yang dikenal
dengan nama Hukum Pemisahan Gen yang Sealel (The Law of Segregation of
Allelic Genes). Sedangkan persilangan dihibrid yang menghasilkan keturunan
dengan perbandingan F2, yaitu 9 : 3 : 3 : 1 merupakan bukti berlakunya Hukum
Mendel II yang disebut Hukum Pengelompokkan Gen secara Bebas (The Law
Independent Assortment of Genes). Dengan mengikuti secara saksama hasil
percobaan Mendel, Baik pada persilangan monohibrid maupun dihibrid maka
secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa gen itu diwariskan dari induk atau
orang tua kepada keturunannya melalui gamet. Persilangan monohibrida adalah
persilangan sederhana yang hanya memperhatikan satu sifat atau tanda beda.
Sedangkan persilangan dihibrida merupakan perkawinan dua individu dengan dua
tanda beda. Persilangan ini dapat membuktikan kebenaran Hukum Mendel II yaitu
bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan akan bersegregasi
secara bebas dan dihasilkan empat macam fenotip dengan perbandingan 9:3:3:1.
kenyataannya, seringkali terjadi penyimpangan atau hasil yang jauh dari harapan
yang mungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya interaksi gen, adanya
gen yang bersifat homozigot letal dan sebagainya.
Alel/gen dominan dan resesif pada orang tua (1, P), anak (2, F1) dan cucu
(3, F2) menurut Mendel. Hukum Pewarisan Mendel adalah hukum mengenai
pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel
dalam karyanya Percobaan mengenai Persilangan Tanaman. Hukum ini terdiri
dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai
Hukum Pertama Mendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel,
juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.

b. Hukum Segregasi (Hukum Mendel I)


Hukum ini disebut juga hukum segregasi :pada waktu pembentukan
gamet,maka alel-alel pada sel dioloid bersegregasi (memisah) secara bebas ke
dalam sel-sel gamet(yang haploid). Prinsip yang terkandung dalam hukum
segregasi adalah setiap organisme mengandung dua faktor untuk setiap sifat, dan
faktor-faktor bersegregasi ( terjadi pemisahan pasangan).
Individu heterozygot Tt menghasilkan peluang gamet T (50%) dan gamet
t(50%). Dari perkawinan sesama heterozygot (Tt), proporsi atau peluang fenotip
dominan 75% sedangkan peluang fenotip ressesif 25%.
Dari perkawinan sesama heterozigot, dapat diprediksi besar peluang besar
genotip

homozigot

dominan

dan

homozigot

resesif

masing-masing

25%,sedangkan peluang heterozigot 50%. Pertama kali Mendel mempelajari


pewarisan sifat pada bentuk biji. Persilangan yang melibatkan hanya satu sifat saja
disebut sebagai persilangan monohibrid. Generasi tetua induk ditandai sebagai
generasi P1 (parental pertama). Hasil persilangan (hibridisasi) antar parental
disebut hibrid dan diberi label generasi F1 (filial pertama). Biji generasi F1
ditumbuhkan dan akhirnya menjadi tanaman F1.tanaman generasi F1 melakukan
penyerbukan sendiri dan menghasilkan biji generasi F2.(arif priadi dan tri
silawati,2002)
Berdasarkan hasil percobaan,Mendel membuat suatu hipotesis,yaitu :
1. Terdapat hubungan dominan-resesif antar faktor penentu sifat(prinsip
dominansi).
2. Faktor-faktor hereditas terpisah saat pembentukan gamet dan setiap gamet
hanya membawa satu salinan dari setiap faktor
Berdasarkan

hipotesis

muncul

hukum

Mendel

pertama

tentang

hereditas,yaitu hukum segregasi. Prinsip yang terkandung dalam hukum segregasi


adalah setiap organisme mengandung dua faktor untuk setiap sifat, dan faktorfaktor bersegregasi ( terjadi pemisahan pasangan).
Pada perbandingan yang lain, misalkan antara B (warna coklat), b (warna
putih), S (buntut pendek), dan s (buntut panjang) pada generasi F2. Hukum
segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin),

kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga
tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya. Secara garis besar, hukum ini
mencakup tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada
karakter turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel
resisif (tidak selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil,
misalnya w dalam gambar di sebelah), dan alel dominan (nampak dari
luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya
ww dalam gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR
dalam gambar di sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB pada
gambar 2), alel dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan (nampak
secara visual dari luar). Alel resesif (s atau b) yang tidak selalu
terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada
turunannya.
Hukum Asortasi Bebas (Hukum Mendel II)
Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua
pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung
pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak
saling mempengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang menentukan e.g. tinggi
tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling mempengaruhi.

Seperti nampak pada Gambar 1, induk jantan (tingkat 1) mempunyai genotipe ww


(secara fenotipe berwarna putih), dan induk betina mempunyai genotipe RR (secara
fenotipe berwarna merah). Keturunan pertama (tingkat 2 pada gambar) merupakan
persilangan dari genotipe induk jantan dan induk betinanya, sehingga membentuk 4
individu baru (semuanya bergenotipe wR). Selanjutnya, persilangan/perkawinan dari
keturuan pertama ini akan membentuk indidividu pada keturunan berikutnya (tingkat 3
pada gambar) dengan gamet R dan w pada sisi kiri (induk jantan tingkat 2) dan gamet R
dan w pada baris atas (induk betina tingkat 2). Kombinasi gamet-gamet ini akan
membentuk 4 kemungkinan individu seperti nampak pada papan catur pada tingkat 3
dengan genotipe: RR, Rw, Rw, dan ww. Jadi pada tingkat 3 ini perbandingan genotipe RR
, (berwarna merah) Rw (juga berwarna merah) dan ww (berwarna putih) adalah 1:2:1.
Secara fenotipe perbandingan individu merah dan individu putih adalah 3:1. Kalau
contoh pada Gambar 1 merupakan kombinasi dari induk dengan satu sifat dominan
(berupa warna), maka contoh ke-2 menggambarkan induk-induk dengan 2 macam sifat
dominan: bentuk buntut dan warna kulit. Persilangan dari induk dengan satu sifat
dominan disebut monohibrid, sedang persilangan dari indukinduk dengan dua sifat
dominan dikenal sebagai dihibrid, dan seterusnya.

Pada Gambar 2, sifat dominannya adalah bentuk buntut (pendek dengan genotype
SS dan panjang dengan genotipe ss) serta warna kulit (putih dengan genotipe bb dan
coklat dengan genotipe BB). Gamet induk jantan yang terbentuk adalah Sb dan Sb,
sementara gamet induk betinanya adalah sB dan sB (nampak pada huruf di bawah kotak).
Kombinasi gamet ini akan membentuk 4 individu pada tingkat F1 dengan genotipe SsBb
(semua sama). Jika keturunan F1 ini kemudian dikawinkan lagi, maka akan membentuk

individu keturunan F2. Gamet F1nya nampak pada sisi kiri dan baris atas pada papan
catur. Hasil individu yang terbentuk pada tingkat F2 mempunyai 16 macam kemungkinan
dengan 2 bentuk buntut: pendek (jika genotipenya SS atau Ss) dan panjang (jika
genotipenya ss); dan 2 macam warna kulit: coklat (jika genotipenya BB atau Bb) dan
putih (jika genotipenya bb). Perbandingan hasil warna coklat:putih adalah 12:4, sedang
perbandingan hasil bentuk buntut pendek:panjang adalah 12:4. Perbandingan detail
mengenai genotype SSBB:SSBb:SsBB:SsBb: SSbb:Ssbb:ssBB:ssBb: ssbb adalah
1:2:2:4: 1:2:1:2: 1.

Contoh ke-3, dengan 1 faktor dominan warna: putih dan merah

E. METODE PERCOBAAN
1. Tempat dan Waktu
Tempat: Balkon Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY
Waktu

: Rabu, Oktober 2014

2. Alat dan Bahan


a.

Baling- baling genetika


b. Alat tulis
c. Penggaris
d. Perekat kertas

3. Prosedur Kerja
a.

Cara Membuat Baling-Baling Genetika


Membuat dua buah baling- baling dari bahan kardus/ kertas karton yang
masing- masing memiliki 4 buah lengan dengan ukuran 5 cm x 5 cm pada masingmasing lengan. Setiap lengan menggambarkan gamet. Satu baling- baling ditandai
dengan symbol kelamin jantan dan satu baling- baling lainnya adalah symbol kelamin
betina. Kemudian bagian tengah baling- baling diberi poros. Berikut adalah desain
baling-balingnya:

Keterangan :
B : Simbol gen dominan pembawa sifat B
b : Simbol gen resesif pembawa sifat b
A : Simbol gen dominan pembawa sifat A
a : Simbol gen resesif pembawa sifat a
( cara penggunaannya adalah menempelkan simbol simbol gen dominan maupun
resesif pada masing masing ujung baling-baling. Penempelannya menggunakan kain
perekat. Dengan adanya perekat ini bertujuan memudahkan siswa dalam mengganti
simbol gen dominan maupun resesifnya)
b. Cara kerja

1. Memilih simbol gen dengan dua sifat beda pada tabel berikut
Simbol gen dominan pembawa sifat

Simbol gen resesif pembawa sifat

Warna pupil cokelat : P


Bentuk rambut keriting : K
Bentuk kelopak mata belok : B
Bisa melipat lidah : L

Warna pupil biru : p


Bentuk rambut lurus : k
Bentuk kelopak mata sipit : b
Tidak bisa melipat lidah : l

2. Merekatkan simbol gen yang telah dipilih pada baling-baling


3. Memutar kedua baling-baling bersama-sama.
4. Menghentikan secara acak dan mengamati lengan baling-baling yang
bertemu/berdekatan.

5. Mencatat

dalam

tabel

(lengan

baling-baling

yang

berdekatan

menunjukkan 2 gamet yang bertemu).


6. Melakukan terus sampai diperoleh 80 kombinasi
7. Mengulangi langkah 1-6 dengan simbol gen yang berbeda
F. HASIL PERCOBAAN
1. Percobaan 1
Persila
ngan
ke1
2
3
4
5
6
7
8

Hasil
PPBb
ppbb
PPBb
PPBB
PPBb
PpBB
PPbb
PPBB

Persila
ngan
ke9
10
11
12
13
14
15
16

Hasil
PPBB
PPBb
PPBB
PPBB
PPBb
Ppbb
Ppbb
ppBB

Persila
ngan
ke17
18
19
20
21
22
23
24

Hasil
PpBb
PPBB
Ppbb
ppbb
PpBb
PPBb
PPBb
Ppbb

Persila
ngan
ke25
26
27
28
29
30
31
32

Hasil
ppBB
PPbb
PPbb
ppBb
Ppbb
Ppbb
PPbb
PPbb

Keterangan:
P : warna pupil cokelat
p : warna pupil biru
2. Percobaan 2
Persilang
an ke1
2
3
4
5
6
7
8

Hasil
ppKK
PPKk
PpKk
PpKK
Ppkk
ppKK
PpKk
ppKK

B : bentuk kelopak mata belok


b : betuk kelopak mata sipit
Persil
angan
ke9
10
11
12
13
14
15
16

Hasil

Persilan
gan ke-

Hasil

Persilan
gan ke-

Hasil

PPKk
Ppkk
Ppkk
PpKk
PpKk
Ppkk
PPKk
ppKk

17
18
19
20
21
22
23
24

ppKk
ppKK
ppkk
Ppkk
PPKK
PpKK
PpKK
PPkk

25
26
27
28
29
30
31
32

Ppkk
ppKK
PPKk
PpKk
PPKk
ppKk
PPKk
PpKk

Keterangan:
P : warna pupil cokelat
p : warna pupil biri

G. PEMBAHASAN

K : bentuk rambur keriting


k : bentuk rambut lurus

Percobaan Pewarisan Sifat ini dilakukan di laboratorium IPA 1 FMIPA UNY


berdasarkan Lembar Kerja Siswa yang telah dirangcang oleh kelompok lain. Percobaan
yang telah dilakukan oleh praktikan pada persilangan mendel ini adalah bertujuan untuk
menyelidiki dan membuktikan perbandingan fenotip dan genotip keturunan dengan dua
sifat (diploid) berbeda dengan memutar alat yang telah didesain sedemikian rupa untuk
mencari peluang-peluang persilangan.
Persilangan yang dilakukan adalah persilangan dihibrid, yaitu dengan dua sifat
beda. Persilangan dihibrid juga merupakan bukti berlakunya hukum Mendel II yang
disebut Hukum Pengelompokkan Gen secara Bebas (The Law Independent Assortment of
Genes) berupa pengelompokkan gen secara bebas saat pembentukkan gamet.
Dalam percobaan ini, praktikan langsung pada langkah menggunakan balingbaling genetika. Langkah awal praktikum pewarisan sifat menggunakan baling-baling
genetika ini adalah praktikan memilih sifat gen yang akan disilangkan. Untuk praktikum
pertama, praktikan memilih gen dominan warna pupil cokelat (P) dan bentuk kelopak
mata belok (B). Untuk gen resesif, praktikan memilih warna pupil biru (p) dan bentuk
kelopak mata sipit (b). Sehingga, hasil persilangan pertama menghasilkan genotype
PpBb. Kemudian, anakan pertama (F1) tersebut disilangkan dengan genotype yang sama,
yaitu PpBb. Percobaan persilangan untuk menghsilkan anakan kedua (F2) ini dilakukan
menggunakan baling-baling genetika. Cara menggunakannya adalah dengan merekatkan
symbol yang telah dipilih pada baling-baling. Sehingga modelnya adalah sebagai berikut.

Pb
pB

PB
pb

PB

Pb

pB
pB

Kemudian, praktikan memutar secara bersama-sama masing masing baling. Untuk


mendapatkan kecepatan yang sama, maka pemutaran dilakukan oleh satu orang saja.
Setelah berhenti, kemudian praktikan lain membaca hasil persilangan dengan mengamati

gen yang saling berdekatan. Misalnya gambar seperti di atas, maka terbaca gen anakan
kedua yang dimaksud adalah Ppbb (Pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit).
Pemutaran dilakukan hingga 32 putaran, sehingga diperoleh 32 gen anakan yang berbeda,
yaitu sebahai berikut:
1. PPBb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
2. PPBB (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
3. PpBb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
4. ppBB (warna pupil biru dan bentuk kelopak mata belok)
5. ppbb (warna pupil biru dan bentuk kelopak mata sipit)
6. PPBb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
7. PPBB (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
8. PPbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
9. PPBb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
10. PPBB (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
11. Ppbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
12. PPbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
13. PPBB (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
14. PPBB (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
15. ppbb (warna pupil biru dan bentuk kelopak mata sipit)
16. ppBb (warna pupil biru dan bentuk kelopak mata belok)
17. PPBb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
18. PPBb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
19. PpBb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
20. Ppbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
21. PpBB (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
22. Ppbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
23. PPBb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
24. Ppbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
25. PPbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
26. Ppbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
27. PPBb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
28. PPbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
29. PPBB (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok)
30. ppBB (warna pupil biru dan bentuk kelopak mata belok)
31. Ppbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
32. PPbb (warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit)
Dari percobaan tersebut, terjadi banyak pasangan terjadi yang berbeda, baik
perbandingan genotype maupun fenotipenya. Konstitusi genetik dari individu (genotype)
yang terjadi pada persilangan dihibrid ini adalah PPBB, PPBb, PpBB, PpBb, Ppbb,
ppBB, ppBb, dan ppbb. Dari hasil percobaan ini, perbandingan genotipenya adalah PPBB
: PPBb : PPbb : PpBB : PpBb : Ppbb : ppBB : ppBb : ppbb = 6 : 7 : 5 : 1 : 2 : 6 : 2 : 1 : 2.

Bila dibandingkan dengan hasil di literature, dalam hokum mendel II, perbandingan
genotip yang terjadi dalam 16 buah hasil persilangan adalah 1 PPBB : 2 PPBb : 1 PPbb :
2 PpBB : 4 PpBb : 2 Ppbb : 1 ppBB : 2 ppBb : 1 ppbb. Dari 32 anakan tersebut, maka
sebenarnya perbandingan bila menggunakan papan catur adalah 3 PPBB : 3,5 PPBb : 2,5
PPbb : 0,5 PpBB : 1 PpBb : 3 Ppbb : 1 ppBB : 0,5 ppBb : 1 ppbb.
Sedangkan ekspresi gen yang dapat diamati (fenotip) yang terjadi meliputi warna
pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok, warna pupil cokelat dan bentuk kelopak
mata sipit, warna pupil biru dan bentuk kelopak mata belok, dan warna pupil biru dan
bentuk kelopak mata sipit. Perbandingan yang terjadi diantara fenotip ini adalah warna
pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok : warna pupil cokelat dan bentuk kelopak
mata sipit : warna pupil biru dan bentuk kelopak mata belok : warna pupil biru dan
bentuk kelopak mata sipit = 16 : 11 : 3 : 2.
Menurut Hukum Mendel II, gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan
akan bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam fenotip dengan
perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Dalam percobaan tersebut, yang digunakan adalah
menggunakan perhitungan papan catur, sehingga jumlah perbandingan adalah 16. Dalam
percobaan yang dilakukan praktikan adalah 32 kali. Sehingga, yang terjadi adalah 32 kali
percobaan hasil penyilangan. Untuk membandingkan apakah perbandingan fenotip yang
terjadi sesuai dengan hokum mendel II atau tidak, maka dilakukan analisis menggunakan
rumus matematis:
a
x 16= y
b
Dimana,
a merupakan jumlah fenotipe yang terjadi,
b merupakan jumlah hasil penyilangan, dalam percobaan ini adalah 32,
16 merupakan jumlah papan catur dalam persilangan dihibrid F2 Hukum Mendel, dan
y merupakan hasil perbandingan.

Rumus tersebut juga yang digunakan intuk mencari perbadingan genotype


menurut Hukum Mendel II. Sehingga, perhitungannya untuk perbadingan fenotipe adalah
sebagai berikut.
a. Fenotipe warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata belok
16
x 16=8
32
b. Fenotipe warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata sipit
11
x 16=5,5
32
c. Fenotipe warna pupil biru dan bentuk kelopak mata belok
3
x 16=1,5
32
d. Fenotipe warna pupil biru dan bentuk kelopak mata sipit
2
x 16=1
32
Untuk percobaan pertama ini, dapat dilihat bahwa perbandingan fenotipe yang
terjadi adalah 8 : 5,5 : 1,5 : 1, sedangkan menurut hokum Mendel yang benar adalah 9 :
3 : 3 : 1. Namun, dalam percobaan ini, praktikan tetap mengidentifikasi bahwa keturunan
hamper sama dengan peraturan 9 : 3 : 3 : 1 atau dapat dikatakan tidak terdapat
ketidaksesuaian.
Pada percobaan ini, sifat dominannya adalah warna pupil cokelat (PP) dan bentuk
kelopak mata belok (BB) dan sifat resesifnya adalah warna pupil biru (pp) dan bentuk
kelopak mata sipit (bb). Gamet induk jantan yang terbentuk adalah PB dan PB, sementara
gamet induk betinanya adalah pb dan pb. Kombinasi gamet ini akan membentuk 4
individu pada tingkat F1 dengan genotipe PpBb (semua sama). Jika keturunan F1 ini
kemudian dikawinkan lagi, maka akan membentuk individu keturunan F2. Gamet F1nya
adalah PB, Pb, pB, dan pb. Hasil individu yang terbentuk pada tingkat F2 mempunyai 16
macam kemungkinan yang disajikan dalam papan catur. Penghitungan ini diskemakan
sebagai berikut.

P1 (Parental1)
Sipit (ppbb)

: Cokelat Belok (PPBB)

Gamet 1

PB

pb

F1 (keturunan 1):

Cokelat Belok (PpBb)

P2 (Parental 2)

F1

: Cokelat Belok (PpBb)

Biru

x
x

F1
Cokelat

Belok (PpBb)
Gamet
Pb, pB, pb
F2

: PB, Pb, pB, pb

PB,

Gamet

PB

Pb

pB

pb

PB

PPBB

PPBb

PpBB

PpBb

Pb

PPBb

PPbb

PpBb

Ppbb

pB

PpBB

PpBb

ppBB

ppBb

pb

PpBb

Ppbb

ppBb

ppbb

Untuk percobaan persilangan agen anakan kedua dari percobaan kedua, praktikan
menggunakan sifat gen domminan P (warna pupil cokelat) dan K (bentuk rambut
keriting). Begitu pula dengan gen resesif, praktikan memilih p (warna pupil biru) dan k
(bentuk rambut lurus). Seperti pada percobaann pertama, pratikan melakukan 32 kali
pemutaran baling-baling, dan hasilnya adalah sebagai berikut.
1. ppKK (warna pupil biru dan bentuk rambut keriting)
2. PPKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
3. ppKk (warna pupil biru dan bentuk rambut keriting)
4. Ppkk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut lurus)
5. PPKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
6. Ppkk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut lurus)
7. ppKK (warna pupil biru dan bentuk rambut keriting)
8. ppKK (warna pupil biru dan bentuk rambut keriting)
9. PpKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
10. Ppkk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut lurus)
11. Ppkk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut lurus)

12. PPKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)


13. PpKK (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
14. PpKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
15. Ppkk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut lurus)
16. PpKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
17. Ppkk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut lurus)
18. PpKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
19. PPKK (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
20. PPKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
21. ppKK (warna pupil biru dan bentuk rambut keriting)
22. Ppkk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut lurus)
23. PpKK (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
24. ppKk (warna pupil biru dan bentuk rambut keriting)
25. PpKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
26. PPKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
27. PpKK (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
28. PPKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
29. ppKK (warna pupil biru dan bentuk rambut keriting)
30. ppKk (warna pupil biru dan bentuk rambut keriting)
31. PPkk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut lurus)
32. PpKk (warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting)
Dari hasil percobaan tersebut, Konstitusi genetik dari individu (genotype) yang
terjadi pada persilangan dihibrid ini adalah PPKK, PPKk, PpKK, PpKk, Ppkk, ppKK,
ppKk, dan ppkk. Dari hasil percobaan ini, perbandingan genotipenya adalah PPKK :
PPKk : PPkk : PpKK : PpKk : Ppkk : ppKK : ppKk : ppkk = 1 : 6 : 1 : 3 : 6 : 7 : 5 : 3 : 0.
Sehingga bila dikonversikan menurut jumlah papan catur, perbandingannya adalah 0,5
PPKK : 3 PPKk : 0,5 PPkk : 1,5 PpKK : 3 PpKk : 3,5 Ppkk : 2,5 ppKK : 1,5 ppKk : 0
ppkk.
Untuk perbandingan fenotipenya, warna pupil cokelat dan bentuk rambut
keriting : warna pupil cokelat dan bentuk rambut lurus : warna pupil biru dan bentuk
rambut keriting : warna pupil biru dan bentuk rambut lurus = 16 : 8 : 8 : 0. Atau menurut
aturan papan catur, perbandingannya adalah 8 : 4 : 4. Sama seperti percobaan
sebelumnya, penyimpangan perbandingan ini praktikan golongkan sebagai hasil
persilangan yang normal terjadi, karena perbandingan tidak terpaut banyak.
Untuk cara menghitung dan skema percobaan kedua ini,sama dengan percobaan
sebelumnya. Dimana pada percobaan ini, sifat dominannya adalah warna pupil cokelat

(PP) dan bentuk rambut keriting (KK) dan sifat resesifnya adalah warna pupil biru (pp)
dan bentuk rambut lurus (kk). Gamet induk jantan yang terbentuk adalah PK dan PK,
sementara gamet induk betinanya adalah pk dan pk. Kombinasi gamet ini akan
membentuk 4 individu pada tingkat F1 dengan genotipe PpKk (semua sama). Jika
keturunan F1 ini kemudian dikawinkan lagi, maka akan membentuk individu keturunan
F2. Gamet F1nya adalah PK, Pk, pK, dan pk. Hasil individu yang terbentuk pada tingkat
F2 mempunyai 16 macam kemungkinan yang disajikan dalam papan catur. Penghitungan
ini diskemakan sebagai berikut.
P1 (Parental1)
(ppkk)

: Cokelat Keriting (PPKK) x

Biru Lurus

Gamet 1

PK

pk

F1 (keturunan 1):

Cokelat Keriting (PpKk)

P2 (Parental 2)

F1

: Cokelat Keriting (PpKk)


Keriting (PpKk)
Gamet
pK, pk
F2

F1

Cokelat

: PK, Pk, pK, pk

PK, Pk,

Gamet

PK

Pk

pK

pk

PK

PPKK

PPKk

PpKK

PpKk

Pk

PPKk

PPkk

PpKk

Ppkk

pK

PpKK

PpKk

ppKK

ppKk

pk

PpKk

Ppkk

ppKk

ppkk

Menurut literature, persilangan dihibrid ini dapat membuktikan kebenaran Hukum


Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan akan
bersegregasi secara bebas, namun pada percobaan ini terjadi penyimpangan atau hasil
yang jauh dari harapan yang mungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya
interaksi gen, adanya gen yang bersifat homozigot letal dan sebagainya.

Hukum kedua Mendel II ini menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua
pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung
pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak
saling mempengaruhi.
Pola penurunan gen yang terjadi bergantung posisi gen dan sifat gen tersebut.
Sifat individu merupakan perpaduan sifat kedua induknya (sel diploid individu adalah
gabungan 2 sel haploid induknya). Pada Hukum Mendel II, dijelaskan bahwa perpaduan
bebas (sifat yang terpisah hasil meiosis, dapat digabungkan secara bebas dalam
fertilisasi). Sehingga, banyak kemungkinan dapat terjadi diluar pola yang menjadi
landasan Hukum Mendel.
Kaitan penurunan sifat dengan Hk. Mendel adalah pada Prinsip 2 yang
terkandung pada Hukum Mendel yang meliputi:
1. Sifat organisme dikendalikan oleh faktor menurun (gen) dari induk jantan dan
betina.
2. Pada pembentukan gamet, pasangan gen memisah secara bebas sehingg tiap
gamet mendapat salah satu gen dari pasangan gen (alel) tersebut.
3. Pada pembuahan (fertilisasi), gen-gen dari gamet jantan maupun gamet betina
akan berpasangan secara bebas.
4. Pada dominansi penuh, fenotip gen dominan akan menutupi pengaruh gen
resesif. Pada intermediet, fenotip pada individu heterozigot berada diantara
pengaruh kedua alel gen yang menyusunnya.

H. KESIMPULAN
1. Pada percobaan pertama perbandingan fenotipe yang terjadi adalah 8 : 5,5 : 1,5 : 1.
Pada percobaan kedua perbandingannya adalah 8 : 4 : 4. Sehingga dapat dikatakan
tidak terdapat ketidaksesuaian antara hasil percobaan dengan literature : 9 : 3 : 3 : 1 .
2. Perbandingan genotip keturunan dengan dua sifat berbeda (diploid) pada percobaan
pertama PPBB : PPBb : PPbb : PpBB : PpBb : Ppbb : ppBB : ppBb : ppbb = 6 : 7 :
5 : 1 : 2 : 6 : 2 : 1 : 2. Pada percobaan kedua PPKK : PPKk : PPkk : PpKK : PpKk :
Ppkk : ppKK : ppKk : ppkk = 1 : 6 : 1 : 3 : 6 : 7 : 5 : 3 : 0.

I. DAFTAR PUSTAKA
Nugroho.

2012.

Genetika

dan

Hukum

Mendel.

Online.

Diakses

dari

http://staff.unila.ac.id/gnugroho/files/2012/09/Genetika-dan-HukumMendel.pdf pada tanggal 13 November 2014 pukul 15.40 WIB.


Priadi,arif dan tri silawati. 2002. Biologi 3. Jakarta: yudhistira
V,CrowderL. 2010.Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press
J. PERTANYAAN
1. Ada berapa macam fenotip yang muncul dari persilangan tersebut ?
Jawab: percobaan pertama 4, percobaan kedua 3
2. Fenotip mana yang paling banyak muncul? Berapa persen?
Jawab: percobaan 1 : Fenotipe warna pupil cokelat dan bentuk kelopak mata
belok yaitu 50 %
percobaan 2 : Fenotipe warna pupil cokelat dan bentuk rambut keriting yaitu 50 %
3. Fenotip mana yang paling sedikit muncul? Berapa persen?
Jawab: percobaan 1 : Fenotipe warna pupil biru dan bentuk kelopak mata sipit
yaitu 6,25%
percobaan 2: Fenotipe warna pupil biru dan bentuk rambut keriting yaitu
25%
4. Berdasarkan hasil percobaan, samakah perbandingan genotip maupun fenotip
pada setiap persilangan ?
Jawab: Berbeda.

LAMPIRAN
Lampiran 1: Refleksi Guru
Pada bagian ini akan dijelaskan refleksi guru saat percobaan tentang Teknologi
Ramah Lingkungan. Tujuan dari percobaan ini yaitu menyelidiki pengaruh penambahan
pemutih dalam pembuatan lampu botol tenaga surya (Solar Bottle Bulbs). Hal pertama
yang dilakukan oleh guru adalah meminta peserta didik untuk berkelompok, agar
memudahkan peserta didik dalam melakukan kerja. Selain itu pembagian kelompok ini
juga bertujuan untuk meningkatkan sikap sosial peserta didik yaitu kerjasama dan
menghargai pendapat orang lain. Setelah pembentukan kelompok, guru membagikan
LKS Teknologi Ramah Lingkungan. Peserta didik diminta untuk mempelajari sendiri
LKS yang telah dibagikan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui daya pemahaman peserta
didik. Setelah peserta didik telah mempelajari LKS, selanjutnya guru memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya apabila ada yang belum dimengerti dari
isi LKS. Meskipun tidak ada yang ditanyakan oleh peserta didik, guru tetap memberikan
penjelasan. Pertama yaitu menyampaikan judul percobaan dan tujuan yang ingin dicapai,
selanjutnya yaitu memberikan penjelasan (gambaran) mengenai percobaan yang akan
dilakukan. Dengan penjelasan ini, diharapkan peserta didik dapat lebih mudah dalam
melaksanakan percobaan yang akan dilakukan.
Dalam percobaan ini, peserta didik memulai percobaannya dengan membuat
rangkaian alat dari alat-bahan yang telah disediakan. Guru hanya memberikan
pengarahan lanjutan selama percobaan berlangsung tanpa campur tangan dalam
melaksanakan kerja. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap
mandiri mereka. Selain itu guru juga melakukan pengawasan agar keselamatan kerja

tetap terjaga (terutama pada penggunaan benda tajam dan pengaplikasian lem). Setelah
bagian-bagian pada rangkaian alat, seperti kotak dengan lubang (dengan diameter yang
telah disesuaikan dengan botol) pada bagian tengah sebanyak dua buah, botol berisi air,
dan botol berisi air+pemutih, sudah tersedia, selanjutnya adalah penyusunan. Peserta
didik menyusun bagian-bagian tersebut menjadi model ruangan tertutup yang telah
dipasangi lampu dibagian atap. Meskipun diupayakan agar ruangan benar-benar tertutup,
namun untuk memudahkan pada saat pengamatan dibuatlah lubang kecil dibagian
samping ruangan tersebut. Selama kegiatan percobaan, peserta didik melakukan kerja
sangat terorganisir. Pembagian kerja dalam satu kelompok sudah sangat bagus. Peserta
didik juga sangat antusias dalam melakukan pengamatan terhadap perbedaan kecerahan
nyala lampu pada botol yang berisi air biasa dengan botol yang berisi air+pemutih
melalui lubang intip yang dibuat pada pinggir kotak (kardus) tertutup. percobaan
tambahan juga dilakukan, yaitu dengan memvariasikan kadar pemutih yang dimasukan
dalam botol untuk lampu botol tenaga surya yang diamati kecerahannya.
Kelemahan yang ditemukan selama percobaan adalah penggunaan alat tajam
sehingga butuh pengawasan lebih dari guru. Prosedur kerja yang cukup membutuhkan
waktu ekstra, membuat peserta didik mudah bosan dan kurang sabaran dalam
melakukannya. Untuk itu guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang menarik
agar tidak monoton, atau guru juga dapat memberikan motivasi tambahan agar peserta
didik tetap semangat dalam melaksanakan percobaan. Dalam melakukan pembuatan
bagian-bagian dari rangkaian alat, peserta didik terkadang mengalami kendala. Kendala
tersebut timbul karena penjelasan guru yang kurang jelas pada awal kegiatan percobaan,
serta sikap peserta didik yang malu untuk bertanya atau malah telah merasa dirinya
paham namun belum sepenuhnya mengerti. Dengan demikian guru harus memantau kerja
peserta didik dengan menyelipkan penjelasan dan pengarahan saat peserta didik
mengalami kesulitan.
Kelebihan yang ditemukan selama percobaan adalah guru telah mampu
menjelaskan semua detail teori dan prosedur praktikum. Respon peserta didik terhadap
metode pembelajaran yang dilakukan guru sudah baik. Perhatian peserta didik sudah
terpusat pada guru selama guru memberikan pegarahan dan penjelasan. Selain itu peserta

didik dapat menangkap penjelasan yang guru berikan, misalnya peserta didik dapat
menjawab pertanyaan yang guru berikan, melaksanakan tugas dengan cukup tepat. Hal
ini terjadi karena guru telah membuat racangan LKS yang tepat. Dengan memperhatikan
kegiatan percobaan yang telah dilakukan, untuk kedepannya guru bersama peserta didik
harus lebih berperan aktif. Guru sebaiknya menyesuaikan semua faktor kekuatan yang
ada pada diri guru untuk memberikan pembelajaran yang lebih maksimal lagi.

Lampiran 2: Refleksi Siswa


Pada bagian ini akan duraikan refleksi siswa saat melakukan percobaan sederhana
tentang Pewarisan Sifat. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui
perbandingan fenotip dan genotip keturunan dengan dua sifat beda (dihibrid). Mula-mula
guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Adapun maksud dan tujuan pembagian
kelompok ini adalah untuk melatih dan mengembangkan sikap sosial siswa, misalnya
kerjasama dan menghargai pendapat. Selanjutnya guru membagikan LKS Pewarisan
Sifat dan menunjukkan rangkaian alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan
untuk menyelidiki perbandingan fenotip dan genotip hasil persilangan dihibrid. Guru
meminta siswa untuk membaca LKS yang dibagikan secara singkat. Sebelum siswa
melakukan percobaan sesuai dengan petunjuk pada LKS, terlebih dahulu guru
menyampaikan tujuan dan materi dasar tentang persilangan dihibrid sebagai pegantar.
Penjelasan tentang materi pengantar diharapkan dapat mempermudah siswa dalam
melakukan percobaan selanjutnya. Selain itu, melalui penjelasan tersebut kompetensi
aspek pengetahuan yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
Persilangan dihibrid merupakan persilangan antara dua individu dengan dua sifat
beda. Pada saat pembentukan gamet (pembelahan meiosis) anggota dari sepasang gen
memisah secara bebas (tidak saling memngaruhi). Oleh karena itu pada persilangan
dihibrid terjadi empat macam pengelompokan dari dua pasang gen. Prinsip tersebut di
atas dirumuskan sebagai Hukum Mendel II (Hukum Pengelompokkan Gen secara Bebas)
yang menyatakan bahwa:
a. Setiap gen dapat berpasangan secara bebas dengan gen lain membentuk alela,

b. Keturunan pertama menunjukkan sifat fenotipe dominan,


c. Keturunan kedua menunjukkan fenotipe dominan

dan

resesif

dengan

perbandingan tertentu, yakni pada persilangan dihibrid perbandingan fenotipnya


adalah 9 : 3 : 3 : 1.
Setelah guru menjelaskan materi dasar tentang persiangan dihibrid sebagai
pengantar, selanjutya siswa mulai melakukan percobaan sederhana sesuai langkahlangkah dan petunjuk yang terdapat pada LKS yang dibagikan. Selama siswa melakukan
percobaan sederhana, guru terus memantau dan mendampingi siswa. Sehingga ketika
siswa mengalami kesulitan atau hambatan dalam melakukan percobaan siswa langsung
bisa bertanya pada guru dan guru bisa langsung memberikan pengarahan pada siswa.
Kegiatan percobaan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetesi keterampilan yang
dimiliki siswa dengan cara siswa mengalami/mencoba secara langsung, sehingga dapat
lebih meningkatkan pemahaman siswa tentang materi genetika/pewarisan sifat khususnya
persilangan denga dua sifat beda (dihibrid).
Kegiatan pertama yang harus dilakukan siswa setelah mendapat penjelasan dari
guru tentang materi pengantar persilangan dihibrid adalah menentukan permasalahan
yang dapat diselidiki terkait dengan persilangan dihibrid. Dalam kegiatan ini guru
memberikan waktu kepada siswa untuk terlebih dahulu mendiskusikan permasalahan
yang akan diselidiki oleh masing-masing kelompok. Setelah beberapa waktu, guru
meminta salah satu perwakilan kelompok untuk mengkomunikasikan permasalahan yang
akan diselidiki melalui percobaan sederhana ini. Permasalahan pokok yang dapat
diselidiki melalui percobaan ini adalah:
1. Bagaimana perbandingan genotip F2 dari persilangan dua individu dengan dua
sifat beda (persilangan dihibrid)?
2. Bagaimana perbandingan fenotip F2 dari persilangan dua individu dengan dua
sifat beda (persilangan dihibrid)?
Setelah siswa merumuskan permasalahan yang akan diselidiki, selanjutnya guru
meminta siswa untuk menemukan hipotesis dari permasalahan yang telah dirumuskan
berdasarkan informasi/materi yang sebelumnya telah dijelaskan oleh guru. Hipotesis dari
penyelidikan ini adalah bahwa perbandingan genotip dan fenotip F2 dari persilangan

dihibrid adalah sesuai dengan rumusan perbandingan genotip dan fenotip F2 berdasarkan
hasil percobaan Mendel.
Setelah itu, siswa melakukan kegiatan inti dari percobaan ini, yakni
menyilangkan dua individu (F1 x F1) dengan dua sifat beda. Dalam kegiatan ini, siswa
membutuhkan alat dan bahan percobaan yang telah disediakan oleh guru, yakni balingbaling genetika dan potongan kemungkinan gamet (pasangan gen) yang terbentuk, serta
alat tulis. Adapun cara membuat balig-baling genetika adalah dengan membuat dua buah
baling-baling dari bahan kardus/kertas karton, baling-baling pertama berperan sebagai
individu jantan yang akan disilangkan dengan baling-baling kedua yang berperan sebagai
individu betina. Masing-masing balingbaling memilki empat buah lengan dengan ukuran
5x5 cm untuk masing-masing lengan. Setiap lengan merupakan tempat untuk
menempatkan kemungkinan gamet (pasangan gen) yang dihasilkan oleh masing-masing
individu (jantan dan betina) yang akan disilangkan. Kemudian bagian tengah balingbaling diberi poros agar dapat diputar.

Baling-baling
jantan

Baling-baling
betina

Potongan gen

Gambar 1. Baling-baling genetika dan potongan gen


Sebelum siswa melakukan percobaan menggunakan baling-baling genetika
tersebut, terlebih dahulu guru menjelaskan cara menggunakan baling-baling tersebut,
yakni (1) memilih simbol-simbol gen untuk dua sifat beda (misal simbol P untuk warna
pupil cokelat dominan; simbol p untuk wara pupil biru resesif; simbol B untuk kelopak
mata belok dominan ; dan b untuk kelopak mata sipit resesif); (2) menempelkan simbol
simbol gen dominan maupun resesif pada masing masing ujung baling-baling; (3)

memutar kedua balingbaling secara bersamaan; serta (4) menghentikan secara acak dan
mengamati lengan baling-baling yang bertemu/berdekatan (sesuai kesepakatan awal).
Setelah siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang cara menggunakan
baling-baling genetika, selanjutnya siswa memulai percobaan dengan menentukan dua
sifat beda yang akan disilangkan. Pada saat ini guru memberkan kebebasan kepada siswa
untuk memilih sifat-sifat yang akan disilangkan (sesuai dengan pilihan sifat-sifat yang
disediakan dalam LKS dan potongan gen genetika). Kemudian siswa melakukan
percobaan sesuai petunjuk yang terdapat pada LKS dan mencatat hasil persilangannya
dalam tabel.

Gambar 2. Hasil persilangan


Setelah siswa selesai melakukan percobaan sesuai dengan langkah-langkah dan
petunjuk yang terdapat pada LKS, selanjutnya guru meminta siswa untuk melakukan
analisis dari data hasil persilangan yang didapatkan melalui percobaan. Untuk
memudahkan siswa melakukan analisis data hasil percobaan, guru meminta siswa untuk
menjawab beberapa pertanyaan yang terdapat di LKS. Dengan menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut, guru berharap siswa dapat menyimpulkan hasil dari percobaan ini
berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumya.
Sebelum mengakhiri kelas, terlebih dahulu guru memberikan informasi lanjut
terkait dengan kegiatan percobaan yang telah dilakukan oleh siswa. Penjelasan tersebut
terkait dengan hikmah dan manfaat yang dapat diambil dari kegiatan ini, yakni fakta
bahwa makhluk hidup yang ada di muka bumi ini sangat beragam. Setiap jenis makhluk
hidup mempunyai sifat dan ciri tersendiri sehingga dapat membedakannya antara yang
satu dengan yang lainnya. Sifat atau ciri yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup ada

yang dapat diturunkan dan ada pula yang tidak dapat diturunkan. Dalam pewarisan sifat
dari generasi ke generasi berikutnya mengikuti pola tertentu yang khas bagi setiap
makhluk hidup. Melalui penjelasan ini diharapkan siswa dapat meningkatkan iman dan
taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara mengagumi kompleksitas dan
keteraturan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sesuai dengan kompetensi sikap
spiritula yang harus dimiliki siswa setelah mempelajari materi tentag genetika/pewarisan
sifat.

Lampiran 3: Dokumentasi Kegiatan

Gambar 1. Baling-baling genetika dan gen-gen

Gambar 2. Hasil persilangan