Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang
berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan Sumber Daya Manusia.
Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi sistem
kesehatansuatu negara. Walaupun belum ada survei nasional, sejalan dengan
perubahangaya

hidup

termasuk

pola

makan

masyarakat

Indonesia

diperkirakan penderita DM ini semakin meningkat, terutama pada kelompok


umur dewasa keataspada seluruh status sosial ekonomi. Saat ini upaya
penanggulangan penyakitDM belum menempati skala prioritas utama dalam
pelayanan

kesehatan,walaupun

diketahui

dampak

negatif

yang

ditimbulkannya cukup besar antaralain komplikasi kronik pada penyakit


jantung kronis, hipertensi, otak, systemsaraf, hati, mata dan ginjal.
DM atau kencing manis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemi) akibat kekurangan
hormoninsulin baik absolut maupun relatif. Absolut berarti tidak ada insulin
samasekali sedangkan relatif berarti jumlahnya cukup/memang sedikit tinggi
ataudaya kerjanya kurang. Hormon Insulin dibuat dalam pancreas. Ada 2
macamtype DM :
DM type I. atau disebut DM yang tergantung pada insulin. DM inidisebabkan
akibatkekuranganinsulin dalam darah yang terjadi karenakerusakan dari sel
beta pancreas. Gejala yang menonjol adalah terjadinyasering kencing
(terutama malam hari), sering lapar dan sering haus,sebagian besar penderita
DM type ini berat badannya normal atau kurus.Biasanya terjadi pada usia
muda dan memerlukan insulin seumur hidup.

DM type II atau disebut DM yang tak tergantung pada insulin. DM


inidisebabkan insulin yang ada tidak dapat bekerja dengan baik, kadar
insulin dapat normal, rendah atau bahkan bahkan meningkat tetapi
fungsiinsulin untuk metabolisme glukosa tidak ada/kurang. Akibatnya
glukosadalam darah tetap tinggi sehingga terjadi hiperglikemia, 75%
daripenderita DM type II dengan obersitas atau ada sangat kegemukan dan
biasanya diketahui DM setelah usia 30 tahun.
DM tipe 3 atau disebut Diabetes mellitus gestasional (bahasa Inggris:
gestational diabetes, insulin-resistant type 1 diabetes, double diabetes, type 2
diabetes which has progressed to require injected insulin, latent autoimmune
diabetes of adults, type 1.5" diabetes, type 3 diabetes, LADA) atau diabetes
melitus yang terjadi hanya selama kehamilan dan pulih setelah melahirkan,
dengan keterlibatan interleukin-6 dan protein reaktif C pada lintasan
patogenesisnya.[29] GDM mungkin dapat merusak kesehatan janin atau ibu,
dan sekitar 2050% dari wanita penderita GDM bertahan hidup
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atasdapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut.
1.2.1 Apa pengertian Diabetes Militus(DM)?
1.2.2 Apa saja Faktor Resiko Diabetes Militus?
1.2.3 Apa saja faktor penyebab dan patofisiologi Diabetes Militus?
1.2.4 Apa saja klasifikasi Diabetes Militus?
1.2.5 Bagaimana cara terapi pengobatan dan penangan Diabetes Militus ?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan di atas, tujuan yang dicapai dari penelitian ini adalah
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian Diabetes Militus
1.3.2 Untuk mengetahui Faktor ResikoDiabetes Militus
1.3.3 Untuk mengetahuifaktor penyebab dan patofisiologi Diabetes Militus

1.2.4 Untuk mengetahui apa saja klasifikasi Diabetes Militus


1.3.5 Untuk mengetahui cara terapi pengobatan dan penangan Diabetes
Militu

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. DEFINISI
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolism yang ditandai dengan
hiperglikemia

yang berhubungan denga

abnomalise metabolesme

karbohidrat ,lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi


insulin atau penurunan sensitivitas insulin ,atau keduanya dan menyebabkan
komplikais kronis mikrovaskuler ,makrovaskuler ,dan neuropati .
Kriteria diagnosis diabetes mellitus adalah kadar glukosa puasa 126 mg/dL
atau pada 2 jam setelah makan 200 mg/dL ATAU HbA1c80 jika kadar
glukosa 2 jam setelah makan 140 mg/dL . Terapi lebih kecil dari 200
mg/dl dinyatakan glukosa toleransi rendah .
2.2. FAKTOR RESIKO
1. Riwayat Keluarga
2. Obesitas Atau Kegemukan
3. Usia Yang Semakit Bertambah
4. Kurangnya Aktivitas Fisik
5. Suka Merokok
6. Suka Mengkonsumsi Makanan Berkolesterol Tinggi
7. Penderita Hipertensi Atau Tekenan Darah Tinggi
8. Masa Kehamilan
9. Ras Tertentu
10. Tekanan Stres Dalam Jangka Waktu Yang Lama
11. Sering Mengkonsumsi Obat-Obatan Kimia
2.3. PATOFISIOLOGIS
1. DM tipe 1 Insulin Dedefendent Diabetes Mellitus (IDDM) terjadi pada
10% dari semua kasus diabetes .secara umum ,DM tipe ini berkembng

ada anak-anak atau pada awal masa dewasa

yang disebakan oleh

kerusakan sel parankeas akibat autoimun ,sehingga terjadi defisiensi


insulin absolut. Reaksi autoimun umumnya terjadi setelah waktu yang
panjang(9-13 tahun)

yng ditandai oleh adanya parameter-parameter

system imun ketika terjadi kerusakan sel . Hiperglikemia terjadi bila


80%-90% dari sel rusak . enyakit DM dapat terjadi penyakit menahun
dengan

resiko

komplikasi

dan

kematian

.Faktor-faktor

yang

menyebabkan terjadinya autoimun tidak diketahui , tetapi proses itu


diperantarai oleh makrofag dan limfosit T

dengan autoantibodi yang

bersirkulasi ke berbagai antigen sel (misalnya antibody sel islet


,antibody insulin ) .
2. DM Tipe 2 Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) terjadi
pada 90% dari semua kasus diabetes dan biasanya ditandai dengan
resistensi insulin dengan defisiensi insulin relative .Resistensi insulin
ditandai dengan peningkatan liposis dan produksi asam lemak bebas,
peningkatan produksi glukosa

hepatic,dan penurunan pengambilan

glukosa apada otot skelet. Disfungsi sel mengakibatkan gangguan


padaa pengontrolan glukosa darah . DM tipe 2 lebih disebabkan Karen
gaya hidup penderita diabetes ( kelebihan kalori kurangnya olahraga ,dan
ozat besitas ) dibandingkan pengaruh genetic .
3. Diabetes yang disebkan oleh factor lain (1-2% dari semua kasus diabetes
)termasuk gangguan endokrin ( misalnya akromegali ,sindrom cushing ),
diabetes mellitus gestational (DMG) ,Penyakit

pancreas eksokrin

(pankreatitis) ,dank arena obat (glukokortikoid,pentamidin ,niasin ,dan interferon) .


4. Gangguan glukosa puasa dan ganguan toleransi glukosa terjadi pada
pasien dengan kadar glukosa plasma yang lebih tinggi dari normal tetapi
tidak termasuk normal dalam DM dan kardiovaskuler yang berhubungan
dengan sindrom resistensi insuin .
5. Komplikasi mikrovaskuler berupa retinopati ,neuropati , dan nefropati
sedangkan komplikasi

makrovaskuler

berupa penyakit jantung

coroner ,strok , dan penyakit b=vaskuler periferal .

2.4 MANIFESTASI KLINIK


DM tipe 1
1. Penderita DM tipe 1 biasanya memiliki tubuh yang kurus dan cenderung
berkembang menjadi diabetes mellitus ketoasidosis (DKA) karena insulin
sangat kurang disertai peningkatan hormone glukogon .
2. Sejumlah 20%-40% pasien mengalami DKA setelah beberapa hari
mengalami poliuria , polipdisia,polifagia ,dan kehilangan bobot badan .
DM tipe 2
1. Pasien dengan DM tipe 2 sering asimtomatik. Munculnya komlikasi data
mengindikasi bahwa pasien telah menderita DM elama bertahun-tahun
,umumnya mumcul neuropati.
Pada pasien diagnosis

umumnya mendeteksi

adanya letargi,poliuria ,

nokturia dan polidipsia,sedangkan penurunan bobot badan secara signifikan


jarang terjadi
2.5. Klasifikasi DM
1) DM tipe 1
Diabetes melitus tipe 1 biasa disebut dengan Insulin Dependent Diabetes
Mellitus(IDDM) diabetes tergantung insulin DM tipe 1 disebabkan oleh
kerusakan sel-sel pankreas yang mengakibatkan kekurangan sekresi
insulin secara mutlak ().DM tipe 1 terjadi pada usia dibawah 30 tahun dan
dimulai pada usia 10-13 tahun (juvenil onset diabetes melitus .

Penyebab kerusakan sel terjadi setelah terkena infeksi oleh virus


Coxsackie virus B, Herpes dan virus parotitis.Virus dianggap sebagai
sebagian kecil penyebab DM tipe 1 Infeksi oleh virus tersebut
menyebabkan reaksi otoimun yang berlebihan untuk menanggulangi virus.
akibatnya sel pertahanan tubuh tidak hanya membunuh virus, tetapi juga
ikut merusak sel-sel Langerhans.

2) DM tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 biasa disebut Non Insulin Dependent Diabetes
Mellitus(NIDDM)diabetes tidak tergantung insulin DM tipe 2 umumnya
muncul pada usia diatas 40 tahun, jumlahnya sekitar 90% dari total seluruh
DM.DM tipe 2 disebabkan oleh retensi insulin atau defisiensi insulin.
Tanda retensi insulin yaitu adanya peningkatan lipolisis dan peningkatan
asam lemak bebas,produksi gula yang berlebihan di hati. DM tipe 2 terjadi
karena asupan kalori yang berlebihan, faktor keturunan,kelebihan berat
badan dan jarang
Olah
3) DM Gestasional
DM gestasional adalah DM yang terjadi selama kehamilan. Diabetes
gestasional dapat terjadi karena peningkatan hormon-hormon seperti
kortisol, progesteron dan prolaktin yang antagonis dengan insulin sehingga
timbul resistensi insulin .
4) DM Tipe lain
Diabetes tipe lain kebanyakan ditemukan di daerah tropis dan negara
berkembang, biasanya disebabkan oleh adanya malnutrisi disertai
kekurangan protein .

2.6 DIAGNOSA DIABETES


Dengan adanya gejala klinis atau komplikasi diabetes yang khas (misalnya
retinopati), seperti tertera dibawah ini , diagnosa dapat dipastikan dengan
penentuan kadar glokusa darah. Nilai diatas 7,8 mmol/l (pada lambung
kosong ) pada dua hari berlainan dianggap positif (WHO). Begitu pula Post
load diatas 11,0 mmol/l yaitu 2 jam setelah pembebanan glukosa 75 gram.

Kriterium baru (1997) dari ADA ( american diabetes associasion)


menurunkan nilai batas (perut kosong ) > 6,9 mmol/l menunjukkan toleransi
glukosa yang terganggu.
2.7 GEJALANYA
Penyakit diabetes melitus ditandai gejala 3P, yaitu poliuria(banyak berkemih),
polidispia ( banyak minum ), dan polifagia (banyak makan) yang dapat
dijelaskan sebagai berikut :
Disamping

naiknya kadar gula darah diabetes bercirikan adanya gula

dalam kemih (glycosuria)dan banyak berkemih akibat glukosa yang


diekskresiakan mengikat banyak air. Akibatnya tibul rasa sangat haus,
kehilangan energi, turunnya berat badan serta rasa letih. Tubuh

mulai

membakar lemak untuk memen uhi kebutuhan inerginya, yang disertai


pembentukan zat-zat perombakan, antara lain aseton, asam hidroksibutirat
dan diasetat, yang membuat darah menjadi asam. Keadaan ini, yang disebut
ketoacidusis dan terutama timbul pada tipe 1, amat berbahaya karena
akhirnya dapat menyebabkan pingsan (coma diabetikum) nafas penderita
yang sudah menjadi sangat kurus sering kali juga berbau aseton.
2.8 TERAPI
A TERAPI FARMAKOLOGI
Lansia dengan DM tipe 2 tetap memiliki kemampuan memproduksi
insulin, sehingga penatalaksanaan DM dengan diet dapat mengendalikan
kontrol glukosa darah. Namun, apabila penderita tidak melakukan
pembatasan makan dengan ketat atau apabila penyakit tidak terdeteksi dari
awal maka terapi farmakologi dapat diberikan.
1) Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
(a) Pemicu sekresi insulin
Golongan Sulfoniluria

Golongan

sulfonilurea

sering

disebut

insulin

secretagogue.Mekanisme kerja golongan sulfonilurea merangsang


sekresi insulin dari granul sel-sel Langerhans pankreas.Untuk
pasien lansia tidak direkomendasikan pemberian klorpropamid dan
glibenklamid

karena

menimbulkan

efek

hipoglikemi

berat.Sulfonilurea yang direkomendasikan untuk lansia yaitu obat


yang diekskresikan melalui hati dan mempunyai masa kerja pendek
misalnyaglipizid dan glikazid. Glinid mempunyai mekanisme kerja
yang sama dengan sulfonilurea . Repaglinid dan nateglinid
diabsorbsi dengan cepat sehingga mencapai kadar puncak dalam
waktu 1 jam dan diekskresi dalam waktu 1 jam.
(b) Penambah sensitifitas insulin
Tiazolidindion merupakan agonis Peroxsisome Proliferator Activated
Receptor

Gamma(PPAR-)

yang

sangat

selektif

dan

poten.

Peningkatan sensitifitas insulin dapat merangsang transport glukosa


ke sel dan meningkatkan oksidasi asam lemak. Pemberian
tiazolidindion

untuk

lansia

dapat

meningkatkan

HDL

dan

menurunkan trigliserid. Hasil penelitian terhadap pasien dengan usia


60

tahun,

tiazolidindion

dikontraindikasikan

untuk

pasien

dengangagal jantung kelas 1-4.

(c) Golongan penghambat glukosidase (Acarbose)


Obat golongan ini dapat memperlambatabsorbsi polisakarida dan
disakarida di usus halus Penghambatan enzim -glikosidase dapat
mengurangi pencernaan karbohidrat dan absorbsinya, sehingga
mengurangi peningkatan kadar glukosa post prandial pada penderita
DM. Untuk mendapat efek maksimal, acarbose diberikan pada
suapan pertama.Efek samping yang paling sering yaitu flatulen .

(d) Golongan penghambat glukoneogenesis


Metformin digunakan sebagai obat pilihan pertama pada penderita
DM

tipe

dan

DM

obesitas,

karena

keamananterhadap

kardiovaskuler. Metformin menurunkan kadar glukosa darah melalui


penurunan produksi glukosa hepar dan meningkatkan absorbsi
glukosa di otot rangka. Metformin dikontraindikasikan untuk pasien
dengangangguan fungsi ginjal dan hati, alkoholisme, gagal jantung,
infeksi.
2) Insulin
Insulin merupakan hormon polipeptida yang di sekresi oleh sel
pankreas.Insulin dapat dirusak oleh enzim pencernaan sehingga
diberikan melalui injeksi .Insulin yang dikeluarkan oleh sel-sel
pankreas langsung ditransfusi ke dalam hati melalui vena porta,
kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah.
Insulin di dalam tubuh membantu transpor glukosa dari darah ke dalam
sel.Terapi insulin pada pasian lansia diberikan apabila kontrol glukosa
darah tidak dapat
Mekanisme kerja
Insulin menurunkan kadar

gula darah dengan menstimulansi

pengambilan glukosa perifer dan menghambat produksi glukosa hepatik

Mekanisme kerja
Insulin menurunkan kadar

gula darah dengan menstimulansi

pengambilan glukosa perifer dan menghambat produksi glukosa hepatic


Indikasi
DM Tipe 1,DM tipe 2 yang gula darhnya tidak dapat dikendalikan
denga diet dan ntidiabetik oral,Dm dengan berat badan yang menurun

10

cepat , DM dengan komplikasi

akut, DM paskabedah pancreas

,ketoasidosos dan koma hiperosmolar ,DM dengan kehamilam .


Peringatan
Kadar gula darah dipantau
Interaksi obat
Sejumlah obat dapat meningkatkan atau menurunkan efek hipoglikemik
,penyesuaian dosis insulin harus dilakukan jika digunkan bersamaan
dengan obat (pada tabel 3.2 dan 3.3)
Efek samping
Hipoglikemia reaksi elergi
Data farmakokinetik
Waktu paruh insulin

pada orang normal

sekitar 5-6 menit

dan

memanjang pada pasien DM yang membentuk antibody terhadap


insulin .hormon ini dimetabolisme terutam dihati,ginjal dan otot
;mengalami filtrasi digijal ,kemudian diserap kembali ditubulus ginjal
yang jug merupakan tempat pemetabolismenya . Gangguan fungsi
ginjal yng berat lebih berpengaruh terhadap kadar insulin didarah
dibandingkan gangguan fungi hati .

2.9 FARMAKOKINETIK BERBAGAI INSULIN DAN NAMA SEDIAN


Jenis insulin

Mulai kerja Puncak efek Lama kerja Nama sedian

Kekutan

Kerja singkat

(jam)
0,5

Actrapis HM

40 Ul/ml

Actrapis HM

100 Ul/ml

Kerja sedang

0,5
1-2

(jam)
1-3
2-4
6-12

11

(jam )
8
6-8
18-24

Fenifil

(NPH= isopharie)
Kerja sedang
Mulai

0,5

4-12

24

kerja

singkat

Insulatard HM

40 Ul/ml

Insulatard HM

100 Ul/ml

Fenifil

40 Ul/ml

4-6

7-15
14-20

24
24-36

Monotard HM
Protamin
zinc

Sedian campurann 0,5

1,5-8

14-16

sulfat
Humulin 20/80

40 Ul/ml

0,5

1-8

14-15

Humulin 30/70

100 Ul/ml

0,5

1-8

14-15

Humulin 40/60

Kerja lama

Mixtard 30/70

40 Ul/ml

Penifil

100 Ul/ml

3.2 OBAT YANG MENURUNKAN EFEK HIPOGLISEMIK INSULIN

Kontrasepsi oral
Kortikosteoid
Siklofosfamid
Danazol
Dekstotirosin
Diazoksida
Dittiazem
Diuretika
Dobutamin
Efinefrin

12

Nikotin
Fenotiozin
Fenitoin
Progesterone (kontrasepsi oral )

Inhibitor protease
Somatropin
Terbutaline
Diuretic tiazid
Hormone tiroid

3.3 OBAT YANG MENINGKATKAN EFEK HIPOGLISEMIK INSULIN

Alcohol
Anabolis steroid
Antidiabetika oral
Beta bloker
Kalsium
Klorokuin
Klofibrat
Klonidin
Disopiramid
Flukosin
Fibrat
Guenitidi

Litium karbonat
MAO inhibitor
Mebendazol
Pentamidin
Pentoksifilin
Penilbuatozon
Propoksifen piridoksin
Salisilat
Amnalog somatostatin (oktreotid)
Sulfin pirazon
Sulfonamide tetrasikline

B. Terapi non farmakologi


1) Pengaturan diet
Diet merupakan langkah penting dalam penanganan DM pada pasien
lansia. Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan
DM. Penurunan berat badan terbukti dapat mengurangi resistensi
insulin dan memperbaiki respon sel-sel terhadap glukosa .Penurunan
berat badan dapat mengurangi morbiditas pada pasien obesitas dengan
penyakit DM tipe 2 .
2) Olah raga
Olahraga pada lansia secara langsungdapat meningkatkan fungsi
fisiologis

tubuh

denganmengurangi

kadar

glukosa

darah,

meningkatkan sirkulasi darah, menurunkan berat badan


3) Berhenti merokok
Kandungan nikotin dalam rokok dapat mengurangi penyerapan
glukosa oleh sel. Dari penelitian yang dilakukan terhadap subyek uji

13

pasien lansia bahwa merokok 2 batang dalam sehari dapat


menyebabkan resiko nefropati dan menghambat absorbsi insulin.
Karena nikotin dapat memengaruhi secara buruk penyerapan glukosa
oleh sel,. Lagi pula merokok menghasilkan banyak radikal bebas.
PENANGAN DIABETES
Tindakan umum
a. Diet
Pokok pangkal penanganan diabetes adalah makan dewngan bijaksana. Semua
pasien selalu harus mengawali diet dengan pembatasan kalori, terlebih-lebih
pada pasien dengan overwight (tipe-2). Makanan perlu dipilih secara seksama
dengan memperhatikan pembatasan lemak total,lemak trans dan lemak jenuh
untuk mencapai normalisasi kadar glukosa dan lipida darah. Angka-angka di
tabel 47-1. Hanya merupakan pedoman orang barat
Tabel 47-1: kebutuhan energi berdasarkan usia, jenis kelamin dan aktifitas
fisik.
Usia
20-35 tahun
35-55
55-75
Diatas 75

Aktivitas fisik
Ringan
sedang
Ringan
Sedang
Ringan
Sedang
Ringan
Sedang

Pria
2300 kcal
2900
2100
270
2000
2500
1800
2200

wanita
1800 kcal
2200
1700
2100
1650
2000
1550
1900

b. Gerak badan
Bila terdapat resisten insulin, gerak badan secara teratur (jalan kaki atau
berseoeda,

olahraga)

dapat

menguranginya.

Hasilnya

insulin

dapat

dipergunakan secara lebih baik oleh sel tubuh dan dosisnya pada umumnya
dapat diturunkan.
TERAPI INSULIN
Insulin masih merupakan obat utama untuk tipe 1 dan beberapa jenis DM tipe 2
,tetapi memang banyak pasain DM yang enggan disuntik,kecuali dalam keadaan

14

terpaksa.Karenaya terapi pasain DM sangatlah penting,agar pasain sadar akan


perlunya terapi insulin meski diberikan cara suntikan.Suntikan insulin dapat
dilakukan dengan berbagai cara misalnya inervena,intramuscular umumnya pada
penggunaan jangka panjang masih disukai pemberian sublutan(SK).Cara
pemberian ini berbeda dengan keadaan sekresi insulin antara fisiologik misalnya
setelah asupan makanan kinetik tidak menunjukkan peningkatan dan penurunan
ekresi insulin yang cepat,pada pemberian subcutan insulin akan berdifusi
kesirkulasi perifer yang seharusnya langsung masuk ke sirkulasi portal,karenanya
efek langsung hormon ini pada hepar menjadi kurang.Meski demikian kalau cara
pemberian ini dilakukan dengan cermat,tujuan terapi akan tercapai.

Preparat insulin dapat dibedakan berdasarkan skema kerja (kerja cepat,sedang,dan


panjang),terlihat pada tabel atau dibedakan berdasarkan asal spesiesnya(human
dsn porcine).Human insulin yang merupakan hasil teknologi rekombinan
DNA,dalam larutan yang cair lebih larut dari porcine insulin,karena adanya
treonin(di tempat alanin)dan mempunyai ekstra gugus hodroksil.Sekarang ini
sebagian besar preparat insulin berada pada Ph netral sehingga lebih stabil dan
dapat disimpan untuk beberapa hari pada suhu ruangan.
2.1.

KLASIFIKASI INSULIN
Preparat dengan mula kerja cepat dan lama kerja singkat al.solusi reguler atau
crystalline zinc insulin dalam bufer dengan pH netral.Jenis ini mula krjanya
paling cepat dan lama kerjanya juga paling singkat.Umumnya disuntikan (IV
atau IM )30-40 menit sebelum makan.Setelah pemberian IV glukosa darah
skan cepat menurun mencapai nadir dalam waktu 20-30 menit.Bila tidak ada
infus insulin,hormon ini akan segera menghilang , dan counter-regulatory
hormones (glukagon, epinefrin,kortisol dan hormon pertumbuhan )akan
mengabaikan kadar glukosa keadaan basal dalam waktu 2-3 jam.Tetapi pada
pasain yang tidak mempunyai mekanisme respon counter-regulatory ini (DM
dengan neoropati otonomik),glukosa plasma akan tetap rendah untuk

15

beberapa jam setelah pemberian bolus 0,15 U/kg,karena kerja insulin pada
tingkat sel menjadi lama dari klirens plasmanya.Pemberian infus insulin IV
bermanfaat pada ketoasidosis atau pada keadaan dimana kebutuhan insulin
dapat berubah dengan cepat(misal: sebelum operasi ,selama proses
partus,atau pada situasi gawat darurat).Pada keadaan stabil,umumnya dapat
diberikan insulin reguler bersma preparat yang kerjanya

pamjang atau

sedang,secara subkutan.Pemberian subkutaneos infusion pumps hanya dapat


dilakukan untuk insulin danga masa kerja singkat.

2.2 INDIKASI DAN TUJUAN TERAPI


Insulin subkutan terutama diberikan pada DM tipe 1,DM tipe 2 yang tidak
dapat diatasi hanya dengan diet dan atau antidiabetik oral,pasain DM
pascapankreatektomi

atau

DM

dengan

kehamilan,DM

dengan

ketoasidosis,koma nonketosis,atau komplikasi lain,sebelum tindakan operasi


(DM tipe 1 dan 2).Tujuan pemberian insulin pada semua keadaan tersebut
bukan saja untuk menermolkan glukosa darah tetapi juga memperbaiki
semua aspek metabolisme,dan yang terakhir inilah umumnya yang sukar
dicapai,Hasil terapi yang optimalnya yang sukar dicapai.Hasil terapi yang
optimal membutuhkan pendekatan dokter pada pasain dan keluarganya,agar
ada koordinasi antara diet,latihan fisik,dan pemberian insulin.
Keadaan mendekaati normoglisemia dicapai pada DM dengan multipel dosis
harian insulin atau dengan infusion pump therapy,yang tujuanya mencapai
glukosa darah puasa antara 90-120 mg/dL(5-6,7 mM),glukosa 2 jam
posprandial kurang dari 150 mg/dL (8,3 mM), HbA1c kurang dari 7%(atau
6,5%).Pada pasain yang kurang disiplin atau kurang patuh terhadap
terapi,mungkin perlu dicapai nilai glukosa darah puasa yang lebih tinggi (140

16

mg/dL atau 7,8 mM) dan postprandial 200 sampai 250 mg/dL atau 11,1
sampai 13,9 mM.
KEBUTUHAN INSULIN HARIAN
Produksi insulin pada orang normal,sehat yang kurus,antara 18-40 U per hari atau
0,2-0,5 U/kg berat badan perhari dan hampir 50% disekresi pada keadaan
basal,50% yang lain karena adanya asupan makanan,Sekresi basal insulin sekitar
0,5-1 U/jam.setelah asupan glukosa oral dalam jumlah besar,sekresi meningkat
menjadi 6 U/jam.Pada orang non-diabetik dengan obesitas dan resistensi
insulin,sekresi meningkat 4x lipat atau lebih tinggi.

Pada berbagai populasi pasain DM tipe 1,rata-rata dosis insulin yang dibutuhkan
berkisar antara 0,6-0,7 U/kg berat badan per hari,sedangkan pasain obesitas
membutuhkan dosis lebih tinggi (2 U/kg berat badan per hari)karena adanya
resistensi jaringan perifer terhadap insulin.
PREPARAT DAN DOSIS
Sedian insulin umumnya diperoleh dari bovine atau porcine (sapi atau babi) atau
dengan cara rekombinan DNA akan diperoleh insulin yang analog dengan insulin
yang analog dengan insulin manusia.Sedangkan dikenal berbagai sedian insulin
dengan sifat yang berbeda.
KOMBINASI INSULIN
Insulin reguler dapat dikombinasi dengan beberapa jenis insulin lain.Bila
dikombinasi dengan insulin maka efeknya akan lebih lambat.Bila insulin reguler
dikombinasi dengan insulin ultralenta dengan perbandingan 1:3 Untuk mencegah
perubahan masa kerja kombinasi seperti ini harus segera disuntikan atau diberikan
secara berpisah.Insulin lente dapat dikombinasi tanpa mengubah aktivitas dari
komponen.

17

Kebutuhan insulin pada pasain DM umumnya berkisar antara 5-150U sehari


tergantung dari keadaan pasain.Selain faktor-faktor tersebut diatas untuk
penetapan dosis perlu diketahui kadar glukosa darah puasa dan dua jam sesudah
makan serta kadar glukosa dalam urin empat porsi,yaitu antara jam 7-11,jam 1216,jam 16-21 dan jam 21-7.
EFEK SAMPING
HIPOGIKEMIA
Hipogikemia merupakan efek samping yang paling sering terjadi dan terjadi
akibat dosis insulin yang terlalu besar,tidak tepatnya waktu makan dengan waktu
tercapainya kadar puncak insulin,atau karena adanya faktor yang dapat
meningkatkan sensitivitas terhadap insulin,misal insufisiensi adrenal atau
pituitari,ataupun akibat kerja fisik yang berlebihan.
REAKSI ALERGI DAN RESISTENSI
Penggunaan insulin rekombinaan dan insulin yang lebih murni,telah dapat
menurunkan insiden reaksi alergi dan resistensi.Meski demikian kadang-kadang
reaksi tersebut masih dapat terjadi akibat adanya bekuan atau terjadinya
denaturasi preparat insulin,atau kontaminan,atau akibat pasain sensitif terhadap
senyawa yang ditambahkan pada proses formulasi preparat insulin (misal Zn2+
,protamin,fenol,dll).
LIPOATROPI DAN LIPOHIPERTROFI
Lipoatrofi jaringan lemak subkutan ditempat suntikan dapat timbul akibat variant
respon imun trhadap insulin,sedangkan lipohipertrofi dimana terjadi penumpukan
lemak kadarnya tinggi pada daerah tempat suntikan.Hal ini diduga akibat adanya
kontaminant dalam preparat insulin,dan reaksi lebih jarang terjadi pada
penggunaan insulin dan reaksi lebih jarang terjadi pada penggunaan insulin yang
lebih murni.pada kenyataanya lipohpertrofi lebih sering terjadi dengan sendiri
pada tempat yang sama.Hal ini dapat disebabkan karena terjadinya absorpsi
insulin yang kurang baik atau tidak teratur.Untuk mengatasi hal ini,dianjurkan

18

untuk menyuntikannya pada tempat berbeda terutama disekitarnya dimana


terdapat atrofi atau tempat terjadinya lekukan.
INTERAKSI
Beberapa hormon bersifat antagonis terhadap efek hipoglikemik insulin.al hormon
pertumbuhan,kortikotropin,glukokortikoid,teroid,estrogen,progestin
glukosa.Adrenalin

menghambat

sekresi

insulin

dan

dan
merangsang

glikogenolisis.Peningkatan kadar hormon ini perlu diperhitungkan dalam terapi


insulin.Salisilat

meningkatkan

sekresi

insulin,

mungkin

menyebabkan

hipoglikemia.Hipoglikemia cendrung terjadi pada pasain dengan penghambat efek


katekolamin pada glukoneogenesis dan glikogenolisis,obat ini juga mangaburkan
takikardia akibat hipoglikemia.Potensiasi efek hipoglikemik insulin trjadi dengan
penghambat MAO,steroid anabolik dan fenfluramin.
PENGGOLONGAN
OBAT ANTI DIABETIK ORAL
Ada 5 golongan antidiabetikoral (ADO)yang dapat digunakan untuk DM dan telah
dipasarkan di indonesia yakni golongan solfonilurea, meglitinid, biguanid,
penghambat -glikosidase, dan tiazolidinedion. Kelima golongan ini dapat
diberikan pada DM tipe 2 yang tidak dapat dikontrol hanya dengan diet dan
latihan fisik saja.
GOLONGAN SULFONILUREA
Dikenal 2 generasi sulfonilurea, generasi 1 terdiri dari tolbutamid, tolazamid,
asetoheksimid dan lebih besar al. Gliburid (=glibenklamid),glipzid,gliklazid dan
glimepirid.
MEKANISME KERJA
Golongan

obat ini

seringdisebut

sebagai insulin secretagogues,kerjanya

merangsang sekresi insulin K channel pada membran sel-sel yang menimbulkan


depolarisasi membran dan keadaan ini akan membuka kanal Ca.Dengan

19

terbukaanya kanal ca maka ion Ca++ akan masuk sel-,merangsang granula yang
berisi insulin dan akan terjadi sekresi insulin dengan jumlah yang ekuivalen
dengan peptida-C,kecuali itu sulfonilurea dapat mengurangi klirens insulin di
hepar. Pada penggunaanya jangka panjang atau dosis yang besar dapat
menyebabkan hipoglikemia.
FARMAKOKINETIK
Berbagai sulfonilurea mempunyai sifat kinetik berbeda,tetapi absorpsi melalui
saluran cerna cukup efektif.Makanan dan keadaan hiperglikemia dapat
mengurangi absorpsi.Untuk mancapai kadar optimal di plasma,sulfonilurea
dengan masa paruh pendek akan lebih efektif bila diminum 30 menit sebelum
makan.Dengan plasma sekitar 90%-99% terikat protein plasma terutama albumin
ikatan ini paling kecil untuk klorpropamid dan paling besar untuk gliburid.
Masa paruh dan metabolisme sulfonilurea generasi I sangatbervariasi.Masa peruh
asetoheksamid pendek tetapi metabolit aktifnya,1-hidrokasi heksamid masa
paruhnya

lebih

panjang,sekitar

4-5

jam,sama

dengan

tolbutamid

dan

tolazamid.Sebaiknya sedian ini doberikan dengan dosis terbagi.Sekitar 10% dari


metabolitnya diekskresi melalui empedu dan keluar bersama tinja.
Klorpropamid dalam darah terikat albumin,masa paruhnya panjang,24-48
jam,efeknya masih terlihat beberapa hari setelah obat dihentikan.Mertabolismenya
di hepar tidak lengkap,20% di ekskresi utuh diurin.
Mula kerja tolbutamid cepat,masa paruhnya sekitar 4-7 jam.Dalam darah 91-96%
tolbutamid

terikat

protein

plasma,dan

dihepar

diubah

menjadi

karboksitolbutamid.Ekskresinya melalui ginjal.


Tolazamid,absorpsinya lebih lambat dari yang lain,efeknya pada glukosa darah
belum nyata untuk beberapa jam setelah obat diberikan.Masa paruh sekitar 7

20

jam,di hepar diubah menjadi p-karboksitolazamid,4-hidroksimetiltolazamid dan


senyawa lain,yang diantaranya memiliki sifat hipoglikemik cukup kuat.
Sulfonilurea generasi II,umumnya potensi hipoglikemiknya hampir 100x lebih
besar dari generasi I.Meski masa-paruhnya pendek,hanyta sekitar 3-5 jam,efek
hipoglikemiknya berlangsung 12-24 jam,sering cukup diberikan 1x sehari.Alasan
mengapa

masa-paruh

yang

pendek

ini,memberikan

efek

hipoglikemik

panjang,belum diketahui.
Glipizid,absorpsinya lengkap,masa-paruhnya 3-4 jam.dalam darah 98% terikat
protein

plasma,potensinya

100x lebih

kuat

dari

tolbutamid,tetapi

efek

hipoglikemik maksimalnya mirip dengan sulfonilurea lain.Metabolismenya di


hepar,menjadi metabolit yang tidak aktif,sekitar 10% diekskresi melalui ginjal
dalam keadaan utuh.
Gliburid(glibenklamid),potensinya 200x lebih kuat dari tolbutamid,masa paruhnya
sekitar 4 jam.Metabolismenya di hepar,pada pemberian dosis tunggal hanya 25%
metabolitnya diekskresi melalui urin,sisanya malalui empedu.Pada penggunaan
dapat terjadi kegagalan primer dan sekunder,dengan seluruh kegagalan kira-kira
21% selama 1 tahun.
Karena semua sulfonilurea dimetabolisme dihepar dan diekskresi melalui
ginjal,sedian ini tidak boleh diberikan pada pasain gangguan fungsi hepar atau
ginzal yang berat.
EFEK SAMPING
Insidens efek samping generasi sekitar 4%,insidensnya lebih rendah lagi untuk
generasi II,Hipoglikemia,bahkan sampai koma tentu dapat timbul.Reaksi ini lebih
sering terjadi pada pasain usia lanjut dengan gangguan fungsi hepar atau
ginjal,terutama yang menggunakan sedian dengan masa kerja panjang.
Efek samping lain,raksi alergi jarang sekali terjadi,mual,muntah,diare,gejala
hematologik,susunan saraf pusat,mata dan sebagainya .

21

Gangguan saluran cerna ini dapat berkurang dengan mengurangi dosis,menelan


obat bersama makanan atau membagi obat dalam beberapa dosis.Gejala susunan
saraf pusat berupa vertigo,bingung,ataksia dan sebagainya.Gejala hematologik
al.leukopenia dan agranulositosis.Efek samping lain gejala hipotiroidisme,ikterus
obstruktuf,yang bersifat sementara dan lebih sering timbul akibat klorpropamid
(0,4%).Berkurangnya toleransi terhadap alkohol juga telah dalaporkan pada
pemakain tolbutamid dan klorpropamid.
Hipolikemia dapat terjadi pada pasain yang tidak mendapat dosis tepat,tidak
makan cukup atau dengan gangguan fungsi hepar dan atau ginjal.Kecendrungan
hipoglikemia pada orang tua di sebabkan oleh mekanisme kompensasi berkurang
dan asupan makanan yang cendrung kurang.Selain itu,hipoglikemia tidak mudah
dikenali pada orang tua karena timbul perlahan tanpa tanda akut akibat tidak ada
refleks simpatis dan dapat menimbulkan disfungsi otak sampai koma.Penurunan
kecepatan eksresi klorpropamid dapat meningkatkan hipoglikemia.
INDIKASI
Memilih sulfonilurea yang tepat untuk suksesnya terapi.Yang menentukan
bukanlah umur pasain waktu terapi dumulai,tetapi usia pasain waktu penyakit DM
mulai timbul.Pada umumnya hasil yang baik diperoleh pada pasain yang
diabetesnya mulai timbul pada usia diatas 40 tahun.Sebelum menentukan
keharusan penggunaan sulfonilurea,selalu harus dipertimbangkan kemungkinan
mengatasi hiperglikemia berat badan pasain.
Kegagalan terapi dengan salah satu derivat sulfonilurea,mungkin juga disebabkan
oleh pertahan farmakokinetik obat,misal penghancuranya terlalu cepat.Apabila
hasil terapi yang baik dapat dipertahankan dengan dosis 0,5 g klorofamid,2 g
tolbutamid,1,25 g asetoheksamid atau 0,75g tolazamid,sebaiknya dosis jangan
ditambah lagi.

22

Selama terapi,pemerisaan fisik dan laboratarium harus tetap dilakukan secara


teratur.Pada

keadaan

yang

gawat

seperti

stres,komplikasi,infeksi

dan

pembedahan,insulin tetap merupakan trapi standar.


PERINGATAN
Sulfonilurea tidak boleh diberikan sebagai obat tunggal pada pasain DM
juvenil,pasain yang kebutuhan insulinnya tidak stabil.DM berat dengan kehamilan
dan keadaan gawat.
Obat-obat tersebut harus digunakan dengan sangat berhati-hati pada DM dengan
gangguan fungsi hepar dan ginjal,insufisiensi endokrin(adrenal,hipofisis dan
dll),keadaan gizi buruk dan pada pasain yang mendapat obat golongan lain.Juga
pengguanaanya harus berhati-hati pada alkoholisme akut serta pasain yang
mendapat diuretik tiazid.
INTRAKSI
Obat yang dapat meningkatkan dengan risiko hipoglikemia sewaktu pengguanaan
sulfonilurea

ialah

insulin,alkohol,fenformin,sulfonamid,salisilat

dosis

besar,fenilbutazon,oksifenbutazon,probenezid,dkumarol,kloramfenikol,penghamb
at MAO,guanetidin,amnabolic steroid,fenfluramin dan klofibrat.
Propranolol dan penghambat adrenoseptor lainya menghambat reaksi
takikardia,berkeringat dan tremor pada hipoglikemia oleh berbagainhipoglikemi
menjadi lebih hebat tanpa dikrtahui.Sulfonilurea terutama klorpropamid dapat
menurunkan toleransi terhadap alkohol,hal ini ditunjukkan dengan kemerahan
terutama dimuka dan leher (flush),reaksi mirip disulfiram.
MEGLITINID
Repaglinid dan nateglinid merupakan golongan meglitinid,merupakan kerjanya
sama dengan sulfonilurea tetapi struktur kimianya sangat berbeda.Golongan ADO

23

ini mereangsang insulin dengan menutup kanal ATP-independent di sel


pankreas.
Pada pemberian oral absorpsinya cepat dan kadar puncaknya dicapai dalam waktu
1 jam.Masa paruhnya 1 jam karenanya harus diberikan beberapa kali
sehari,sebelum makan.Metabolisme utamanya di hepar dan metabolitnya tidak
akyif.Sekitar 10% dimetabolismenya diginjal.Pada pasain dengan gangguan
fungsi hepar atau ginjal harus diberikan secara berhati-hati.Efek samping
utamanya hipoglikemia dan gangguan saluran cerna.Reaksi alergi juga pernah
dilaporkan.

BIGUANID
Sebenarnya dikenal 3 jenis ADO dari golongan biguanid:fenformin,buformin,dan
metformin,tetapi yang pertama telah ditarik dan peredaraan karena sering
menyebabkan asidosis laktat.Sekarang yang banyak digunakan adalah metformin
MEKANISME KERJA
Biguanid

sebenarnya

bukan

obat

hipoglikemik

tetapi

suatu

antihiperglikemik,tidak menyebabkan rangsangan sekresi insulin dan umumnya


tidak menyebabkan hipoglikemia.Metformin menurunkan produksi glukosa
dihepar dan meningkatkan sensitivitas jaringan otot dan adipose terhadap
ninsulin.Efek ini trjadi karena adanya aktivitas kinesa di sel (AMP-activated
protein kinase).Meski masih kontroversial,adanya penurunan produksi glukosa
hepar,banyak data yang menunjukkan bahwa efeknya terjadi akibat penurunan
glukoneogenesisi.Praparat ini tidak mempunyai efek yang berarti pada sekresi
glukagon,kortisol,hormone pertumbuhan, dan somatostatin.
Biguanid tidak merangsan ataupun menghambat perubahan glukosa menjadi
lemak.Pada pasain diabetes yang gemuk,biguanid dapat menurunkan berat badan

24

dengan mekanisme yang belum jelas pula pada orang nondiabetik yang gemuk
tidak timbul penurunan berat badan dan kadar glukosa darah.
Metformin oral akan mengalami absorpsi di intestin,dalam darah tidak terikat
protein plasma,ekskresinya melalui urin dalam keadaan utuh,Masa paruhnya
sekitar 2 jam.
Dosis awal 2x500 mg,dosis maksimal 2,5 gram.Obat diminum pada waktu
makan.Pasain DM yang tidak memberikan respon dengan sulfonylurea dapat
diatasi dengan metformin,atau dapat pula diberikan sebagai terapi kombinasi
dengan insulin atau sulfonylurea.

EFEK SAMPING
Hampir 20% pasain dengan metformin mengalami mual,muntah,diare serta kecap
logam(metalic taste)tetapi dengan menurunkan dosis keluhan-keluhan tersebut
segera hilang.Pada beberapa pasain yang mutlak bergantung pada insulin
eksogen,kadang-kadang biguanid menimbulkan ketosis yang tidak disertai dengan
hiperglikemia(starvation ketosis).hal ini harus dibedakan dengan ketosis karena
dsfisiensi insulin.
Pada pasain dengan gangguan fungsi ginjal atau sistem kardiovaskular,pemberian
biguanid dapat menimbulkan peningkatan kadar asam laktat dalam darah,sehingga
hal ini dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam cairan tubuh.
INDIKASI
Sedian biguanid tidak dapat menggantikan fungsi insulin endogen,dan digunakan
pada terapi diabetes dewasa.Dari berbagai derivat biguanid,data fenoformin yang
paling banyak terkumpul tetapi sedian ini kini dilarang dipasarkan diindonesia
karena bahaya asidosis laktat yang mungkin

25

Ditimbulkannya.Di eropa fenformin digantikan dengan metformin yang kerjanya


serupa fenformin tetapi diduga lebih sedikit menyebabkan asidosis laktat.Dosis
metformin ialah 1-3 g sehari dibagi dalam dua atau 3 kali pemberiaan.
KONTRAINDIKASI
Biguanid tidak boleh diberikan pada kehamilan,pasain penyakit hepar
berat,penyakit ginjal dengan uremia dan penyakit jantung kongestif dan penyakit
paru dengan hipoksiakronik.Pada pasain yang akan diberi zat kontras intravena
atau yang akan dioperasi,pemberian obat ini sebaiknya dihentikan
Dahulu.Setelah lebih dari 48 jam,biguanid baru boleh diberikan dengan catatan
fungsi ginjal harus tetap normal.Hal ini untuk mencegah terbentuknya laktat yang
berlebihan dan dapat berakhir fatal akibat asidosis laktat.Insidens asidosis akibat
metformin kurang dari 0.1 kasus per 1000 patient-years, dan mortalitasnya lebih
rendah lagi.
GOLONGAN TIAZOLIDINEDION
MEKANISME KERJA TIAZOLIDINEDION DAN EFEK
METABOLIKNYA
Telah diterangkan di atas,insulin merangsang
GLUT

pembentukan dan translokasi

kemembran sel diorgan perifer.ini terjadi karena insulin merangsang

Peroxisome proliferators-activeted receptor- (PRAY

)di inti sel dan

mengaktivasi

pada

insulin-responsive

karbohidrat dan lemak.PPAR

genes,yang

berperan

metabolisme

terdapat ditarget insulin,yakni di jaringan

adiposa,hepar,pankreas,keberadaanya diotot skelet masih diragukan.Bagian lain


dari kelompok reseptor ini,retinoic x receptor (RXR)merupakan heterodimer
partner PPAR,PPAR-

aktif bila membentuk kompleks PPAR -PXR yang

akan terikat pada responsive DNA

elements dan merangsang transkripsi


26

ge,membentuk GLUT baru.Bila terjadi resistensi insulin,maka rangsangan insulin


tidak akan menyebabkan aktifitas PPAR- ,tidak akan terjadi kompleks PPAR -RXR dan tidak terjadi pembentukan GLUT baru.

Tiazolidinedion merupakan agonist potent dan selektif PPAR- ,mengaktifkan


PPAR-

membentuk kompleks PPAR- -RXR dan terbentuklah GLUT

baru.Di jaringan adiposa PPAR-

mengurangi keluarnya asam lemak melaului

otot,dan karenanya dapat mengurangu resisiten insulin.Pendapat lain,aktivasi


hormon adiposit dan adipokin,yang nampaknya adalah adiponektin.Senyawa ini
dapat meningkatkan sensitivitas insulin melalui peningkatan AMP kinase yang
merangsang transport glukosa ke sel dan meningkatkan oksidasi asam lemak jadi
agar obat dapat bekerja harus tersedia insulin.

Selain itu glitazon juga menurunkan asam lemak bebas di plasma dan remodeling
jaringan adipose.Piolitazon dan rosiglitazon dapat menurunkan HbA1c(1,01,5%)dan berkecendrungan meningkatkan HDL,sedang efeknya pada trigliserid
dan LDL bervariasi.
Pada pemberian oral absorpsi tidak dipengaruhi makanan,berlangsung

jam.Metabolismenya di hepar,oleh sitokrom P-450 rosiglitazo dimetabolisme oleh


isozim 2C8,sedangkan pioglitazon oleh 2C8 & 3A4.Meski demikian,penggunaan
rosiglitazon 4mg 2x sehari bersama nifedipin atau kontrasepsi oral(etenil
estradiol+noretindron)yang juga dimetabolisme isozim 3A4 tidak menunjukkan
efek klinik negatif yanhg berarti.
Ekskresinya melalui ginjal,keduanya dapat memberikan pada

insufisiensi

renal,tetapi dikontrndikasikan pada gangguan fungsi hepar(ALT >2,5 x nilai

27

normal).Meski

laporan

hepatotoksik

baru

ada

pada

troglitazon,FDA

manganjurkan agar pada awal dan setiap 2 bulan sekali selama 12 bulan pertama
penggunaan kedua preparat di atad di anjurkan pemeriksaan tes fungsi
hepar.Penelitian poppulation pharmacokinetic,menunjukkan bahwa usia tidak
mempengaruhui kinetiknya.
Glitazon digunakan untuk Dm tipe 2 yanfg tidak memberikan respon dengan diet
& latihan fisik,sebagai monoterapi atau ditambahkan pada mereka yang tidak
memberi respons pada obat hipoglikemik lain(sulfonilurea,metformin)atau
insulinya.
Dosis awal rosiglitazon 4 mg,bila dalam 3-4 minggu kontrol glisemia belum
adekuat,dosis ditinkatkan 8mg/hari,sedangkan pioglitazon dosis awal 15-30mg
bila kontrol glisemia belum adekuat,dosis dapat ditingkatkan sampai 45mg.Efek
klinis maksimalnya trcapai setelah penggunaan 6-12 minggu.

Efek samping antara lain,peningkatan berat badan,menambah volume plasma dan


memprburuk gagal jantung kongesitif.Ederma sering terjadi pada penggunaanya
bersama insulin.Kecuali penyakit hepar,tidak dianjurkan pada gagal jantung kelas
3 dan 4 menurut klasifikasi New York Heart Association .Hipoglikemia pada
penggunaan monoterapi jarang terjadi.
PENGHAMBAT ENZIM -GLIKOSIDASE
Obat golongan penghambat enzim -GLIKOSIDASE ini dapat memperlambat
absorpsi

polisakarida(starch),deskitrin,dan

disakarida

di

intestin.Dengan

menghmbat kerja enzim -glikosidase di brush border intestin,dapat mencegah


peningkatan glikosa plasma pada orang normal dan pasain DM.
Karena kerjanya tidak mempengaruhui sekresi insulin,maka tidak akan
menyebabkan efek samping hopoglikemia.Akarbose dapat digunakan sebagai

28

monotrapi pada DM usia lanjut atau DM yang glikosa postprandialnya sangat


tinggi.Di klinik sering digunakan bersama antidiabetik oral lain dan/atau insulin.
Obat

golongan

ini

diberikan

pada

waktu

mulai

makan;dan

absorpsi

buruk.Akarbose,merupakan oligosakarida yang berasal dari mikroba,dan miglitol


suatu derivat desoksinojirimisin,secara kompetitif juga menghambat glukoamilase
pankreas lemah.Kedua preparat dapat menurunkan glukosa plasma postprandial
pada DM tipe 1 dan 2,dan pada DM tipe 2 dengan hiperglisemia ringan sampai
sedang,hanya dapat mengatasi hiperglisemia sekitar 30%-50% dibandingkan
antidiabetik oral lainya(dinilai dengan pemeriksaan Hba1c)
Efel samping yang bersifat dose-dependent,al.malabsorpsi,flatulen,diare,dan
abdominal bloating.Untuk mengurangi efek samping ini sebaiknya dosis
dititrasi,mulai dosis awal 25 mg pada saat muali makan untuk selama 4-8
minggu,kemudian secara bertahap ditinkatkan setiap tepat sebelum makan.Dosis
yang lebih kecil dapat debirikan dengan makanan kecil (snack).
Akarbose

paling

efektif

bila

diberikan

bersama

makanan

yang

berserat,mengandung polisakarida,dengan sedikit kandungan glukosa dan


sukrosa.Bila

akarbose

diberikan

bersam

insulin,atau

dengan

golongan

sulfonilurea,dan menimbulkan hipoglikemia,pemberian glukosa akan lebih baik


daripada pemberian sukrose,polisakarida atau maltosa.
OBAT HIPERGLIKEMIK
GLUKAGON
Sedian insulin komersial yang pertama digunakan menyebabkan hiperglikemia
sebelum terjadinya hipoglikemia,oleh glukagon yang terjadinya hipoglikemia,oleh
glukogon yang tercampur didalamnya.Glukagon ialah suatu polipeptida yang
terdiri dari 29 asam amino.Hormon ini dihasilkan oleh sel pulau
Langerhans.suatu zat yang mempunyai sifat biologid mirip glukagon telah
berhasil diidolasi dari jaringan saluran cerna.

29

Glukagon menyebabkan glikogenolisis di hepar dengn jalan merangsang enzim


adenilsiklase dalam pembentukan siklik AMP,kemudian siklik AMP ini
mengaktifkan fosforilase,suatu enzim penting untuk glikogenolisis.Efek glukogon
ini hanya terbatas pada hepar saja dan tidak dapat dihambat dengan pemberian
penghambat adrenoseptor.Jadi berbeda dengan epinefrin yang efeknya lebih luas
serta dapat diblok dengan obat-obat penghambat adrenoseptor .
Glukagon

juga meningkatkan

glukoneogenesis.Efek ini

mungkin

sekali

disebabkan oleh menyusutnya nsimpanan glikogen dalam hepar,karena dengan


berkurangnya glikogen dalam hepar proses deaminasi dan transminasi menjadi
lebih aktif.Dengan meningkatkan proses-tersebut maka pembentukan kalori juga
makin besar.Ternyata efek kalorigenik glukagen hanya dapat timbul bila ada
tiroksin dan adrenokortikosteroid.
Sekresi glukagon pankreas meninggi dalam keadaan hipoglikemia dan menurun
dalam keadaan hiperglikemia.Sebagian besar glukagon endogen mengalami
metabolisme di hati.
INDIKASI
Glukoagon terutama digunakan pengonatan hopoglikemia yang ditimbulkan aleh
insulin.Hormon tersebut dapat diberikan secara IV.IM atau SK dengan dosis 1
mg.Bila dalam 20 menit etelah pemberian glukagon SK pasain koma
hipoglikemik tetapi tidak sadar.,maka glukosa i harus segera diberikan karena
mungkin sekali glikogen dalam hepar telah habis atau telah terjadi kerusakan otak
yang menetap.Glukagon HCL tersedia dalam ampul bersisi bubuk 1 dan 10 mg.
DIAZOKSID
Obat ini memperlihatkan efek hiperglikemia bila diberikan oral dan efek
antihipertensi bila diberikan IV.Sedian ini meningkatkan kadar glukosa sesuai
besarnya dosis dengan menghambat langsung sekresi insulin;mungkin juga
dengan menghambat penggunaan glukosa di perifer dan merangsang

30

pembentukan glukosa dalam hepar Diazoksid digunakan pada hiperinsulinisme


misalnya pada insulinoma atau hipoglikemia yang sensitif terhadap
leusin.Diazoksid 90% terikat plasma protein dalam darah.Masa paruh untuk
oral 24-36 jam,tetapi mungkin memanjang pada takar atau pada pasain dengan
kerusakan fungsi

ginjal amatan jangka panjang.Takar lajak dapat

menyebabkan hiperglikemia berat,kadang-kadang disertai ketoasidosis atau


koma hiperosmolar tanpa ketosis.
Meskipun diazoksid termasuk golongan tiazid obat ini merentensi air dan
natrium.Diuretik tiazid meninggikan efek hiperglikemi dan hiperurisiasi obat
ini.Diazoksid

oral

menimbulkan

potensiasi

efek

obat

antihipertensi

lain,meskipun bila obat ini digunakan sendiri efeknya tidak kuat.Efek


hiperglikemia diazoksid dilawan oleh obat penghambat adresnoseptor
.Diazoksid dapat menimbulkan iritasi saluran cerna,trombositopeni dan
netropeni.Diazoksid bersifat teratogenik pada hewan (kelainan kardiovaskular
dan tulang),juga menyebabkan degenerasi sel pankreas fetus sehingga obatini
tidak boleh diberikan pada wanita hamil.
Dosis pada orang dewasa ialah 3-8 mg/kgBB hari,sedangkan pada anak kecil 815 mg/kgBB hari.Obat ini diberikan dalam dosis terbagi 2-3 x sehari

31

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari makalah yang saya buat, dapat ditarik kesimpulan bahwa penyakit
Diabetes Militus (DM) ini sangat brrbahaya dan menakutkan. Banyak sekali
faktor yang menyebabkan seseorang menderita penyakit Diabetes Militus.
Seperti conohnya, Obesitas(berat badan berlebih),faktor genetis, pola hidup
yang tidak sehat (jarang berolah raga), kurang tidur, dan masih banyak yang
lainnya.
3.2 Saran
Adapun saran bagi pembaca dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Selalu berhati hatilah dalam menjaga pola hidup. Sering berolah raga dan
istirahat yang cukup

32

2. Jaga pola makan anda. Jangan terlalu sering mengkonsumsi makanan atau
minuman yang terlalu manis. Karena itu dapat menyebabkan kadar gula
melonjak tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Kusnandar, sigit I Joseph,dkk, .Iso Farmakologi buku 1. Isfi Penerbitan
Farmakoterpi dan tera iEdisi 5,2007, Dapertemen Farmakologi Dan Fakultas
Kedokteran : Universitas Indonesia.
Tjay Tan Hoan , Rahardja Kirana, Obat Obat Penting Edisi 6,2007, penerbit Pt
Elex Media Komputindo Kelompok Kompas-Gramedia , Jakarta.

33