Anda di halaman 1dari 9

PEMBAHASAN

Pada 20 Oktober 2014, semua mata bisa menyaksikan besarnya euforia


menyambut kemenangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla dalam pemilihan umum.

Pawai budaya yang diikuti oleh ribuan orang di Jakarta mengiringi pasangan pemenang pilpres
itu menuju Istana Negara. Meriah. Namun setelah satu tahun mereka memimpin, apakah euforia
itu bertahan?
Hanya dalam 100 hari pemerintahan Jokowi-JK, sentimen publik sepertinya sudah berubah.
Di media sosial misalnya, pengguna cenderung merespons negatif. Sejumlah isu seperti naik dan
turunnya harga bahan bakar minyak, pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi, dan kontroversi
hukuman mati menjadi beberapa hal yang disorot.
Saat itu, peneliti dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan, Bivitri Susanti, mengatakan 100 hari
kinerja Jokowi-JK secara umum bisa dianggap sebagai "bulan madu yang buruk".
"Bulan madu yang sangat singkat, bukan karena waktunya semata, tapi juga karena ekspektasi
kita begitu besar," ungkap Bivitri.
Setahun berlalu, sentimen seperti itu tidak berubah banyak tampaknya. Survei yang dilakukan
Indo Barometer pada awal Oktober lalu memperlihatkan bahwa sebanyak 47,3% responden
mengaku kurang puas terhadap kinerja Jokowi-JK, sementara yang cukup puas sekitar 44,8%.

Image copyrightGetty
Apakah Anda setuju? Dari skala 1-10, bagaimana Anda menilai kinerja Jokowi dan Jusuf Kalla
selama setahun terakhir?
Apa yang harus diperbaiki dalam pemerintahan agar perekonomian kembali bergairah?
Kirim pendapat Anda melalui surat elektronik indonesia@bbc.co.uk atau lewatFacebook BBC
Indonesia maupun Twitter.
Komentar Anda
Berikut sejumlah komentar yang telah Anda kirim:
"(Nilainya) enam. Ada banyak hal yang sudah disentuh tapi belum diselesaikan misalnya di
bidang kelautan dan transportasi. Tapi ada beberapa yang sudah mulai baik, misalnya perbaikan
infrastruktur seperti perbaikan jalan raya. Ada juga yang tambah buruk seperti penyelesaian
masalah KPK," kata Masda Ginting dari Facebook BBC Indonesia.
"Kalau orang-orang kaya sihpasti bilangnya puas, tapi coba tanyakan ke masyarakat kurang
mampu. Mayoritas pasti merasa tidak puas, satu tahun JKW-JK lebih cenderung menambah
daftar penderitaan masyarakat miskin," kata Ranoe Koembolo.
"(Nilainya) lima. Banyak janji-janji Jokowi yang direalisasikan bahkan ada yang
bertolakbelakang dengan yang cita-citakan, seperti soal pemberantasan korupsi, penyediaan
lapangan kerja serta utang luar negeri," kata Achmad AnWar Al-bugizy.

"Nol besar. Sangat tidak sesuai dengan janji pemilunya. Berasa enggak punya presiden. Dan
tidak bisa memberikan kebanggaan sama sekali," kata R Bily Kusuma.
"(Nilainya) 7 dari 10. Pengalihan subsidi BBM ke pembangunan infrastruktur itu baru dirasakan
setelah jangka panjang. Banyak rakyat yang teriak harga kebutuhan mahal karena kita dulu
dimanjakan subsidi dan impor. Sementara kita tahu bahwa impor akan memberikan efek
pengurangan pada neraca perdagangan dan banyak mafia yang bermain. PR besar Jokowi adalah
harus bisa meyakinkan rakyat banyak bahwa semua proses pembangunan khususnya
infrastruktur yang sedang dilakukan baru bisa dinikmati beberapa tahun mendatang. Dan beliau
harus bisa lepas dari bayang-bayang kepentingan partai (PDIP & parpol pendukungnya) dan
pengaruh kuat Megawati," kata Andreas Limongan.
"Ngeriting rambut di salon saja enggak cukup waktu cuma satu jam. Bagaimana
bisa ngerapihin negara cuma satu tahun?!" kata @reysya_ramadhan melalui Twitter.
"Intinya kita lagi dalam posisi hancur-hancuran untuk menuai hasil yang memuaskan di lima
tahun mendatang.. #kerjakerjakerja," kata @ucok_jogja, melalui Twitter.
"Memimpin negara bukan seperti memimpin dalam ruang lingkup rumah pribadi, jadi kalau yang
merasa belum puas pasti banyak, tapi yang merasa bersyukur juga banyak. Jangankan baru satu
tahun, yang dua periode saja tidak puas. Kalau menurutku sudah ok, cuma satu permintaanku,
yang korupsi agar dihukum mati," kata Anniessyke Annien.

Satu Tahun Jokowi Menjabat, Bagaimana Kinerjanya?


Lembaga Indo Barometer ini, melakukan sebuah survei yang dimulai pada 14-22 September
2015 yang dilakukan di 34 provinsi dengan jumlah responden sebanyak 1.200 orang. survei ini
menggunakann sebuah metode bernama sultistage random sampling. Margin eror survei ini
disebut-sebut berjumlah 3 persen.

Data dari survei tersebut mengungkapkan hasil yang mengungkapkan bahwa tingkat kepuasan
publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada sekarang ini mencapai 46 persen.
Kemudian untuk hasil yang tidak puas dengan kinerjanya adalah 51,1 persen. Angka tersebut
mengalami penurunan jika dibandingkan dengan 6 bulan pertama saat Jokowi mulai memimpin.
Pada saat itu, hasil survei yang dilakukan oleh Indo Barometer, memperlihatkan tingkat
kepuasaan terhadap kinerja Jokowi ini sebesar 57,5 persen. Sedangkan untuk hasil kinerja JK
sang wakil adalah sebesar 42,1 persen.

Dengan data tersebut, penurunan tingkat kepuasan mencapai 11,5 persen, kata Direktur
Eksekutif Indo Barometer M Qodari, Selasa (20/10/2015).

Data yang disampai kan oleh Indo Barometer tak terlepas dari sejumlah alasan yang kuat.karena
ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh Indo Barometer terkait penurunan kepuasan rakyat
terhadap Jokowi-JK, yang menurun dikarenakan sejumlah faktor terkait ekonomi, seperti yang
kita ketahui bersama harga BBM yang mengalami kenaikan, dan melemahnya nilai rupiah
terhadap dollar AS dan harga-harga kebutuhan pokok yang terus mengalami kenaikan juga.

Selain Indo Barometer, hasil survei yang kedua yang dilakukan oleh kelompok Diskusi dan
Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKopi). Hasil survei yang dilakukan pada 384 responden di
seluruh Indonesia yang dilakukan sejak 14-17 September dengan margin eror seitar 5 persen,
yang menunjukkan bahwa tingkat kepuasan rakyat terhadap kinerja Jokowi-JK mengalami
adanya peningkatan.

Data yang dihasilkan dari suveri ini, adalah bahwa tingkat kepuasan terhadap Jokowi adalah
sebesar 44,7 persen, lebih besar dibanding hasil pada bulan Mei di Jabodetabek, karena pada
Saat itu, 65 persen responden menyatakan tidak puas selama enam bulan pemerintahan JokowiJK.
Hendri pun menjelaskan beberapa faktor yang membuat angka tersebut menjadi meningkat.
Yaitu karena adanya jaminan dan pelauanan kesehatan gratis sebesar 40,3 persen, pendidikan
geratis bagi rakyat miskin sebesar 12,5 persen, serta bahan pokok yang harganya terjangkau
sebanyak 9,7 persen. Walaupun masih banyak persoalan yang mengganggu dan memberatkan
warga.
Masyarakat juga merasa puas dengan terhadap kinerja pemerintah karena dipicu tersedianya
lapangan pekerjaan, adanya rasa aman, pembangunan infrastruktur yang memadai, pemerintahan
tidak korupsi dan lain-lain, kata Hendri saat dimintai keterangan.
Semoga kedepannya Jokowi-JK terus menunjukkan kinerja terbaiknya bagi masyarakat
Indonesia.

Pendahuluan
1.1Latar Belakang Masalah
Pemerintahan jokowi dodo sebagai PresidenRepublik Indonesia pada periode kedua mulai tahun
2014 sampai tahun 2019 ini akansegera berakhir. Presiden jokowi dodo. serta para
menterinyamengemban tugas membangun Indonesia dalam sebuah tim yang diberi namaIndones
ia Bersatu #ilid $ua. %dakah tim ini berhasil membangun Indonesia sepertiyang
diharapkan&'ayoritas (a"aban yang akan didapatkan atas pertanyaan ini adalah
tidak berhasil. Hasil sur)ei berbagai lembaga sur)ei di Indonesia dengan tegas
menyatakan besarnya rasa ketidakpuasan masyarakat atas kiner(a pemerintahan Presiden jokowi
dan kinerja di bidang ekonomi adalah yang paling banyak dikeluhkan publik.
Serangan bertambah besar saat berbagai lembaga s"adaya masyarakat dan la"an politik jokowi
ikut mengemukakan pendapat yang keseluruhan bunyinya bernada miring
menilaiketidakberhasilan kinerja jokowi dan timnya meski ada serangkaian prestasi yang
dapatdibanggakan disana. jokowi
serta ba"ahannya mengungkapkan keberhasilan dalam pertumbuhanekonomi* peningkatan kese(
ahteraan masyarakat dan kesetaraan sosial sebagai+apaian bagus yang mereka rasa pantas dan
perlu di berikan apresiasi.'elihat fakta bah"a banyak masyarakat yang merasa tidak puas atas
kiner(aPemerintahan jokowi di bidang ekonomi tentu akan menimbulkan pertanyaan*
dimanaletak pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus sa(a di banggakan oleh pemerintahan
jokowi.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya
makalah Manajemen Kinerja dengan judul Pentingnya Penilaian Kinerja ini dapat diselesaikan
tepat pada waktunya.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih kurang sempurna oleh karena
itu saran dan kritik yang sifatnya membangun dari semua pihak sangat diharapkan.
Akhirnya melalui kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan. Penyusun mengharapkan semoga
makalah ini berguna bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.

Surulangun, 13 januari 2016

Penyusun

PENUTUP
KESIMPULAN
1.
Penilaian kinerja merupakan proses yang dilakukan perusahaan dalam mengevaluasi
kinerja pekerjaan seseorang. Dalam dunia kompetitif yang mengglobal, perusahaan-perusahaan
membutuhkan kinerja tinggi. Pada waktu yang sama, para karyawan membutuhkan umpan balik
tentang kinerja mereka sebagai petunjuk untuk mempersiapkan perilaku masa depan.
2.
Penilaian seharusnya menciptakan gambaran akurat dari kinerja perorangan. Penilaian
tidak dilakukan hanya untuk mengetahui kinerja buruk. Hasil-hasil yang baik dan dapat diterima
harus diidentifikasi sehingga dapat dipakai sebagai dasar penilaian hasil lainnya.
3.

Syarat-syarat berkualitasnya penilaian kinerja terdiri dari :

1) Input (potensi);
2) Proses (pelaksanaan);
3) Output (hasil).
4. Unsur-unsur kunci dalam penilaian kinerja :
1)

Pendefinisian misi, penetapan tujuan dan sasaran-sasaran perusahaan

2)

Penetapan rencana strategis dan kebijakan operasional perusahaan

3)

Penetapan dan pengembangan indikator-indikator kinerja

4)

Pengukuran kinerja dan penilaian hasil pengukuran

5)

Pelaporan hasil-hasil secara formal

6)

Penggunaan informasi kinerja

DAFTAR PUSTAKA

Mangkuprawira, Sjafri., 2009. Horison Bisnis, Manajemen dan Sumber Daya Manusia. PT.
Gramedia. Jakarta.

Mangkuprawira, Sjafri., 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik.


Indonesia. Jakarta.

Ghalia

Rivai, Veithzal, dkk., 2008. PERFORMANCE APPRAISAL : Sistem yang Tepat untuk Menilai
Kinerja Karyawan dan Meningkatkan Daya Saing Perusahaan. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Wirawan, 2009. Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia. Salemba Empat. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai