Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN KASUS

ODS MIOPIA

Di susun oleh:
Niken Faradila Kartika Utami
Pembimbing:
dr. Hari Trilunggono, Sp.M
dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp. M
BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA RST DR. SOEDJONO MAGELANG
RUMAH SAKIT TK II RST DR.SOEDJONO MAGELANG.
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
VETERAN JAKARTA 2015

IDENTITAS
Nama : An.G
Umur
: 13 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Suku : Jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Mertoyudan
Tanggal Pemeriksaan: 30 Juni 2015
Nomor RM: 12-36-33

ANAMNESIS

Keluhan Utama : Penglihatan kabur pada kedua mata


Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poli mata RST dr. Soedjono Magelang pada
tanggal 30 Juni 2015 dengan keluhan penglihatan kabur
saat melihat jauh pada mata kanan dan kiri. Baik mata
kanan maupun mata kiri diraskan sama-sama kabur dan
tidak ada yang lebih dominan. Pasien merasakan keluhan
sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu. Pasien memiliki
kebiasaan sering membaca buku dengan jarak dekat dan
terkadang membaca di tempat yang pencahayaannya
kurang, pasien juga sering menggunakan komputer dalam
jarak dekat dan waktu yang lama, selain itu juga pasien
sering menggunakan handphone sebagai media untuk
bermian game, hal tersebut dilakukan pasien terus-menerus

Penglihatan kabur pada kedua mata timbul secara


perlahan, awalnya kedua mata kabur dirasakan tidak
terlalu mengganggu, namun lama-kelamaan
dirasakan mengganggu kegiatan sehari-harinya
terutama saat di sekolah ketika membaca di papan
tulis dengan jarak yang agak jauh. Pasien merasa
lebih jelas saat membaca atau melihat dengan jarak
yang dekat atau dengan memicingkan/menyipitkan
mata kanan dan kiri. Selain itu pasien mengeluh
pusing pada kepala bagian depan jika terlalu lama
membaca. Bahkan terkadang pasien mengeluh mata
terasa berair dan pegal. Pasien mengaku baru
menggunakan kacamata minus saat 2 tahun lalu dan
baru berganti kacamata sekitar 1 tahun lalu dan kini
kacamata yang digunakan pasien dengan kacamata
minus 2,25 sudah terasa tidak nyaman dan kabur
ketika melihat jauh.

Pasien menyangkal adanya kesulitan


apabila melihat garis lurus atau melihat
garisnya seperti bengkok dan terlihat
bayangan yang bisa menyebabkan pasien
pusing. Pasien tidak memiliki keluhan bila
membaca atau melihat benda dekat. Pasien
juga tidak mengeluh penglihatan ganda.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat infeksi mata hingga membuat pasien
pergi ke dokter disangkal. Riwayat operasi yang
berhubungan dengan mata disangkal. Riwayat
trauma terbentur benda tumpul disangkal.
Riwayat Pengobatan
Pasien baru memeriksakan mata dan
menggunakan kacamata minus sejak 2 tahun
lalu

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien anak ke-2 dari 2 bersaudara. Kaka pasien diakui
tidak menggunakan kacamata dan tidak memiliki
keluhan yang sama seperti pasien. Orang tua pasien
yaitu ayah pasien diketahui memakai kaca mata minus
dan kacamata baca. Saudara sepupu pasien diketahui
ada yang menggunakan kacamata minus
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang pelajar kelas 1 SMP. Biayan
pengobatan ditanggung BPJS. Ayah pasien seorang
PNS dan ibu pasien seorang ibu rumah tangga. Kesan
ekonomi cukup.

PEMERIKSAAN FISIK
Kesan Umum
Keadaan Umum: Baik
Kesadaran: Compos Mentis
Kooperatif
: Kooperatif
Status Gizi
: Cukup
Vital Sign
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 82 x/mnt
Respirasi : 20 x/mnt
Suhu : 36,70C

Status Ophtamicus

O
D
6/6

OS
6/6
0

NO
1
2
3
4
5
-

PEMERIKSAAN

OD

OS

Visus
Koreksi Visus
Gerakan Bola Mata

6/60
S - 3,00 C 6/6
Baik ke segala arah

6/60
S 3,00 6/6
Baik ke segala arah

Normal

Normal

Bulbi
Eksoftalmus
Endoftalmus
Suprasilia
Palpebra Superior
Edema
Hematom
Xantelasma
Sikatrik
Entropion
Ekstropion
Triksiasis
Lagoftalmus
Ptosis
Blefarospasme
Hordeolum
Kalazion
Laserasi

Palpebra Inferior
Edema
Hematom
Sikatrik
Entropion
Ekstropion
Trikiasis
Hordeolum
Kalazion
Laserasi

Konjungtiva
Hiperemi
Injeki Konjungtiva
Injeksi Siliar
Sekret
Bangunan Patologis

Kornea
Kejernihan
Edema
Infiltrat
Keratik Presipitat
Ulkus
Sikatrik
Pannus
Aberasi

Jernih
-

Jernih
-

7
-

9
-

COA
Kedalaman
Hifema
Hipopion

Dalam
-

Dalam
-

Iris
Kripte
Edema
Iridodialisa
Rubeosis
Sinekia

+
-

+
-

Bulat
3 mm
+ Normal
+ Normal
+

Bulat
3 mm
+ Normal
+ Normal
+

10

11
-

Pupil
Bentuk
Diameter
Reflek Pupil
Langsung
Tidak Langsung
Soklusio
Oklusio
Isokor

12

Lensa
Kejernihan
Dislokasi Lensa
Subluksasi
Luksasi
Vossious Ring
Roset
Kapsul Lensa Keriput
Iris Shadow

13
-

Jernih
-

Tidak ditemukan floaters


(+) cemerlang

Tidak ditemukan floaters


(+) cemerlang

Funduskopi
Papil

Fokus - 5
Papil bulat, batas tegas,
warna jingga, CDR 0,3, tidak
ditemukan gambaran miopic
cressent

Vasa

AVR 2/3
Tidak tampak terangkat dan
berkelok-kelok

Macula lutea

Fovea reflek (+)

Retina

Tidak ditemukan fundus


tigroid, tidak ditemukan
ablasio
retina,
tidak
ditemukan perdarahan dan
edem

Fokus - 5
Papil bulat, batas tegas, warna
jingga,
tidak
ditemukan
gambaran miopic cressent,
AVR 2/3
Tidak tampak terangkat dan
berkelok-kelok
Fovea reflek (+)
Tidak ditemukan fundus
tigroid, tidak ditemukan
ablasio
retina,
tidak
ditemukan perdarahan dan
edem

14
15

16

Corpus Vitreum
Kejernihan
Perdarahan
Fundus Refleks

Jernih
-

TIO

Normal

Normal

DIAGNOSIS BANDING
ODS Miopia
Dipertahankan karena pasien mengeluh pandangan
kabur saat melihat jarak jauh dan jelas ketika melihat
dekat. Keluhan pasien tersebut dapat dikoreksi dengan
kacamata seferis negatif OD -3.00, OS -3.00 dengan
hasil koreksi visus 6/6
Pseudomyopia
Disingkirkan karena pada pasien ini sudah memiliki
riwayat menggunakan kacamata sejak 2 tahun lalu, dan
semakin lama minus nya semakin bertambah.
Pseudomiopia diakibatkan oleh rangsangan berlebihan
terhadap mekanisme akomodasi sehingga terjadi
kekejangan pada otot-otot siliar, sehingga sifat miopia
ini hanya sementara sampai kekejangan ototnya
relaksasi.

ODS Astigmatisme Myopi Compositus


Disingkirkan karena pada pasien tidak ada kesulitan
apabila melihat garis lurus atau melihat garisnya
seperti bengkok serta dari hasil pemeriksaan visus,
pasien hanya bisa dikoreksi dengan lensa sferis
negatif. Koreksi lensa silinder tidak memberikan
pengaruh terhadap pasien.
ODS Astigmatisme Miopia Simplex
Disingkirkan karena pada pasien tidak ada kesulitan
apabila melihat garis lurus atau melihat garisnya
seperti bengkok serta dari hasil pemeriksaan visus,
pasien hanya bisa dikoreksi dengan lensa sferis
negatif

ODS Hipermetropia

Disingkirkan karena pada pasien terdapat


keluhan pandangan kabur saat melihat jarak
jauh namun pasien dapat melihat jelas pada
jarak dekat. Dari hasil pemeriksaan koreksi
visus ODS dengan lensa sferis negatif
memberikan kemajuan visus yang bermakna.
Pada hipermetropia pandangan kabur saat
melihat jarak jauh dan jarak dekat dan hasil
koreksi visus dengan lensa sferis positif.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
DIAGNOSIS
ODS Miopia

TERAPI
Medikamentosa

Oral : tidak ada


Topikal : tidak ada
Parenteral : tidak ada
Operatif : tidak dilakukan

Non Medikamentosa
Resep kacamata sesuai koreksi:
OD : S - 3,00
OS : S - 3,00

EDUKASI
Menjelaskan kepada pasien bahwa kelainan gangguan
penglihatan ini tidak bisa disembuhkan dengan obat-obatan,
tetapi bisa dibantu dengan menggunakan kacamataatau lensa
kontak
Memberikan penjelasan kepada pasien bahwa bila membaca
jangan terus menerus dan usahakan dalam posisi tegak, hindari
membaca buku sambil tiduran dan dengan pencahayaan yang
kurang.
Memberikan penjelasan untuk membatasi waktu menonton
televisi dan apabila menonton televisi jagan terlalu dekat,
menonton televisi bisa dilakukan dengan jarak menonton sekitar
3 meter dari televisi.
Jika menggunakan komputer pastikan pencahayaan cukup. Arah
cahaya terbaik jika menggunakan komputer adalah dari lampu
meja bercahaya lembut dari arah samping. Kurangi tingkat terang
(Brightness) monitor. Hindari penggunaan komputer dalamjarak
dekat dan waktu yang lama
Batasi penggunaan handphone sebagai media permainan (game)
dalam waktu yang lama dan terus-menerus, hal tersebut guna
memberikan waktu istirahat pada mata.

Pasien masih berumur 13 tahun sehingga


kemungkinan minusnya bertambah dapat
terus terjadi hingga mencapai usia kurang
lebih 20 sampai 25 tahun. Bertambahnya
minus pasien juga dipengaruhi oleh
kebiasaan sehari-hari seperti membaca
pada jarak dekat, terlalu lama, dan pada
pencahayaan kurang, serta terlalu lama di
depan komputer dan handphone. Merubah
kebiasaan buruk tersebut akan mengurangi
percepatan minus pada mata pasien.
Anjuran memakan makanan yang bergizi
perbanyak sayur-sayuran dan buah-buahan
Latihan untuk melihat jauh

Mata minus tidak bisa berkurang atau sembuh.


Penggunaan kacamatapun ataupun kontak lensa tidak
akan membuat mata minus menjadi sembuh atau
berkurang. Penggunaan kacamata hanya membantu
memperjelas penglihatan, dan mengurangi cepatnya
bertambahnya minus pada mata, tentunya hal tersebut
juga diimbangi dengan kebiasaan sehari-hari. Memberikan
penjelasan bahwa kacamata harus selalu dipakai
Operasi LASIK adalah operasi yang bisa mengurangi minus
pada mata, namun banyak persyaratannya dalam
menjalani operasi ini, termasuk usia pasien saat dilakukan
operasi harus lebih dari 20 tahun untuk kasus miopi yang
ringan, untuk miopi tinggi bisa dilakukan pada usia sekitar
25 tahun, maka dari itu pada pasien ini belum bisa
dilakukan operasi LASIK.
Apabila kacamata sudah dirasakan tidak nyaman dan
terasa kabur, harus kontrl kembali ke dokter mata

PROGNOSI
S

OD

OS

Ad Visam

Dubia Ad Bonam

Dubia Ad Bonam

Ad Sanam

DubiaAd Bonam

Dubia Ad Bonam

Ad Functionam

Ad Bonam

Ad Bonam

Ad Cosmeticam

Ad Bonam

Ad Bonam

Ad Vitam

Ad Bonam

Ad Bonam

KOMPLIKASI
Strabismus
Ablasio retina

RUJUKAN
Tidak dilakukan rujukan pada pasien ini.

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Miopia atau sering disebut juga rabun jauh


merupakan kelainan refraksi mata dimana
berkas sinar sejajar yang datang memasuki
mata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus
yang berada di depan retina. Dalam keadaan
ini objek yang jauh tidak dapat dilihat secara
teliti karena sinar yang datang saling
bersilangan pada badan kaca, ketika sinar
tersebut sampai di retina sinar-sinar ini
menjadi divergen, membentuk lingkaran yang
difus dengan akibat bayangan yang kabur.

Klasifiksi Miopia
Berdasarkan penyebabnya:
Miopia aksial
Bertambah panjangnya diameter anteroposterior bola mata dari normal.
Pada orang dewasa panjang axial bola mata 22,6 mm. Perubahan
diameter anteroposterior bola mata 1 mm akan menimbulkan perubahan
refraksi sebesar 3 dioptri

Miopia kurfatura
Kurfatura dari kornea bertambah kelengkungannya, misalnya pada
keratokonus dan kelainan kongenital. Perubahan kelengkungan kornea
sebesar 1 mm akan menimbulkan perubahan refraksi sebesar 6 dioptri.

Miopia indeks refraksi


Peningkatan indeks bias media refraksi sering terjadi pada penderita
diabetes melitus yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.

Perubahan posisi lensa


Perubahan posisi lensa kearah anterior setelah tindakan bedah terutama
glaukoma berhubungan dengan terjadinya miopia.

Berdasarkan tingginya dioptri:


Miopia sangat ringan, dimana miopia sampai
dengan 1 dioptri
Miopia ringan, dimana miopia antara1-3 dioptri
Miopia sedang, dimana miopia antara 3-6 dioptri
Miopia tinggi, dimana miopia 6-10 dioptri
Miopia sangat tinggi, dimana miopia >10 dioptri

Secara klinik
Miopia stasioner, miopia simpleks, miopia fisiologik
Timbul pada usia muda, kemudian berhenti. Dapat juga naik
sedikit pada waktu atau segera setelah pubertas atau didapat
kenaikan sedikit sampai usia 20 tahun. Besarnya dioptri
kurang dari -5D atau 6D

Miopia progresif
Ditemukan pada semua umur dan mulai sejak lahir. Kelainan
mencapai puncaknya waktu masih remaja, bertambah terus
sampai usia 25 tahun atau lebih. Besarnya dioptri melebihi 6
dioptri.

Miopia maligna
Miopia yang berjalan progresif, karena disertai kelainan
degenerasi koroid dan bagian lain dari mata.

Etiologi dan Patogenesis

Etiologi dan patogenesis pada miopia tidak diketahui


secara pasti dan banyak faktor memegang peranan
penting dari waktu kewaktu. Teori miopia menurut sudut
pandang biologi menyatakan bahwa miopia ditentukan
secara genetik. Bukti lain juga menunjukkan bahwa faktor
prenatal dan perinatal turut berperan serta dalam
pembentukan miopi. Penyakit ibu yang dikaitkan dengan
penderita miopia kongenital adalah hipertensi sistemik,
toksemia dan penyakit retina. Berbagai macam faktor
lingkungan dan kebiasaan juga dapat mempengaruhi
terjadinya miopia, dalam hal ini seseorang yang lebih
banyak menghabiskan waktu di depan komputer atau
seseorang yang menghabiskan banyak waktu dengan
membaca tanpa istirahat dengan pencahayaan yang
kurang akan lebih besar kemungkinan untuk menderita
miopi

Gejala Klinis

Gejala subjektif:
Kabur bila melihat jauh dan jelas bila melihat dekat
Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat
Mempunyai kebiasaan mengernyitkan dahi atau
memicingkan mata saat melihat objek yang jauh
Lekas lelah bila membaca
Sering sakit kepala

Gejala objektif:
Miopia simpleks :
Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan
pupil yang relatif lebar. Kadang-kadang ditemukan bola mata
yang agak menonjol
Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang
normal atau dapat disertai kresen miopia (myopic cresent)
yang ringan di sekitar papil saraf optik.

Miopia patologik :
Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia
simpleks
Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior
berupa kelainan-kelainan pada :
Korpus Vitreum : dapat ditemukan kekeruhan berupa
pendarahan atau degenerasi yang terlihat sebagai floaters
Papil saraf optik : terlihat pigmentasi peripapil, myopic
cresent, papil terlihat lebih pucat yang meluas terutama ke
bagian temporal. Myopic cresent dapat ke seluruh lingkaran
papil sehingga seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid
yang atrofi dan pigmentasi yang tidak teratur
Makula : berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang
ditemukan perdarahan subretina pada daerah makula.
Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan
koroid dan retina. Akibat penipisan ini maka bayangan koroid
tampak lebih jelas dan disebut sebagai fundus tigroid.

Penatalaksanaan
Penggunaan Kacamata
Penggunaan kacamata untuk pasien miopia masih sangat penting.
Kacamata yang diberikan adalah kaca mata sferis negatif terkecil yang
memberikan ketajaman penglihatan maksimal.
Penggunaan Lensa Kontak
Lensa kontak ada dua macam yaitu lensa kontak lunak (soft lens) serta
lensa kontak keras (hard lens). Pengelompokan ini didasarkan pada
bahan penyusunnya.
Keuntungan lensa kontak lunak adalah nyaman, mudah memakainya,
dislokasi lensa yang minimal, dapat dipakai untuk sementara waktu.
Kerugian lensa kontak lunak adalah memberikan ketajaman penglihatan
yang tidak maksimal, risiko terjadinya komplikasi seperti keratitis, tidak
mampu mengoreksi astigmatisme, serta perawatannya sulit.
Kontak lensa keras mempunyai keuntungan yaitu memberikan koreksi
visus yang baik, bisa dipakai dalam jangka waktu yang lama (awet), serta
mampu mengoreksi astigmatisme kurang dari 2 dioptri. Kerugiannya
adalah memerlukan fitting yang lama, serta memberikan rasa yang
kurang nyaman

LASIK
LASIK adalah suatu tindakan koreksi kelainan refraksi
mata yang menggunakan teknologi laser dingin (cold/non
thermal laser) dengan cara merubah atau mengkoreksi
kelengkungan kornea.
Untuk dapat menjalani prosedur LASIK perlu diperhatikan
beberapa hal, yaitu:
Ingin terbebas dari kacamata dan lensa kontak
Kelainan refraksi:
Miopia sampai -1.00 sampai dengan - 13.00 dioptri.
Hipermetropia + 1.00 sampai dengan + 4.00 dioptri
Astigmatisme 1.00 sampai dengan 5.00 dioptriUsia minimal 18 tahun

Tidak sedang hamil atau menyusui


Tidak mempunyai riwayat penyakit autoimun
Mempunyai ukuran kacamata/ lensa kontak yang stabil selama
paling tidak 6 (enam) bulan
Tidak ada kelainan mata, yaitu infeksi, kelainan retina saraf mata,
katarak, glaukoma dan ambliopia
Telah melepas lensa kontak (Soft contact lens) selama 14 hari
atau 2 (dua) minggu dan 30 (tiga puluh) hari untuk lensa kontak
(hard contact lens)

Komplikasi

Komplikasi lain dari miopia sering terdapat


pada miopia tinggi berupa ablasio retina,
perdarahan vitreum, katarak, perdarahan
koroid dan strabismus esotropia biasanya
mengakibatkan mata berkonvergensi terusmenerus.