Anda di halaman 1dari 16

Jenis Jenis Pelabuhan Laut

A. Dari Segi Penyelenggaraannya

Pelabuhan umum
Diselenggarakan untuk kepentingan pelayanan masyarakat umum.
Penyelenggaraannya dilakukan oleh pemerintah dan pelaksanaannya pada badan
usaha milik negara yang diberi wewenang mengelola pelabuhan umum diusahakan
dalam hal ini pada PT. PELINDO (Pelabuhan Indonesia) I, II , III, dan IV yang berada
pada empat wilayah yaitu Medan, Jakarta, Surabaya dan Makasar.

Pelabuhan khusus
Diselenggarakan untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu.
Pelabuhan ini tidak diperbolehkan untuk kepentingan umum, kecuali dalam keadaan
tertentu dengan ijin pemerintah. Sebagai contoh adalah pelabuhan LNG Arun di Aceh
yang digunakan untuk mengirimkan hasil produksi gas alam cair ke daerah atau
negara lain.

B. Dari Segi Pengusahaannya

Pelabuhan yang diusahakan


Pelabuhan ini sengaja diusahakan untuk memberikan fasilitas-fasilitas yang
diperlukan oleh kapal yang memasuki pelabuhan untuk melakukan kegiatan bongkar
muat barang, menaikturunkan penumpang serta kegiatan lainnya. Pemakaian
pelabuhan ini dikenakan biaya-biaya atas jasa dan peralatan yang digunakan.

Pelabuhan yang tidak diusahakan


Pelabuhan ini hanya untuk tempat singgahan kapal/ perahu, tanpa fasilitas bongkar
muat, bea cukai dan sebagainya. Pelabuhan ini umumnya pelabuhan kecil yang
disubsidi pemerintah dan dikelola Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jendral
Perhubungan Laut.

C. Dari Fungsinya

Pelabuhan Laut
Pelabuhan laut adalah pelabuhan yang bebas dimasuki oleh kapal-kapal berbendera
asing. Pelabuhan ini biasanya merupakan pelabuhan besar dan ramai dikunjungi oleh
kapal-kapal samudera.
Gambar: Port of Rotterdam, Belanda

Pelabuhan Pantai
Pelabuhan pantai ialah pelabuhan yang disediakan untuk perdagangan dalam negeri
dan oleh karena itu tidak bebas disinggahi oleh kapal berbendera asing. Kapal asing
dapat diizinkan masuk dengan meminta izin terlebih dahulu.

D. Dari Segi Penggunaannya

Pelabuhan Ikan

Pada umumnya pelabuhan ikan tidak memerlukan kedalaman air yang besar, karena
kapal-kapal motor yang digunakan untuk menangkap ikan tidak besar. Di Indonesia
pengusahaan ikan masih relative sederhana yang dilakukan oleh nelayan-nelayan
dengan mengunakan perahu kecil.

Pelabuhan Minyak

Pelabuhan minyak memerlukan pengamanan lebih dari sekedar pelabuhan-pelabuhan


yang lain. Pada pelabuhan ini tidak terlalu memerlukan dermaga atau pangkalan
melainkan adanya jembatan perancah yang menjorok ke laut untuk mendapat
kedalaman air yang cukup besar. Bongkar muat dilakukan dengan pipa-pipa dan
pompa. Pipa penyalur ini diletakkan di bawah jembatan agar lalu lintas di atas
jembatan tidak terganggu.

Pelabuhan Barang

Pelabuhan ini mempunyai dermaga yang dilengkapi dengan fasilitas untuk bongkar
muat barang. Pelabuhan dapat berada di pantai atau estuary dari sungai besar. Pada
dasarnya pelabuhan barang harus mempunyai perlengkapan-perlengkapan berikut ini:
a. Dermaga harus panjang dan harus dapat menampung seluruh panjang kapal atau
setidaknya 80%.
b. Mempunyai halaman dermaga yang cukup lebar untuk keperluan bongkar muat
barang.

c. Mempunyai gudang transito/penyimpanan di belakang halaman dermaga.


d. Tersedianya jalan dan halaman untuk pengambilan/pemasukan barang dari dan ke
gudang serta mempunyai fasilitas untuk reparasi.

Pelabuhan Penumpang

Pelabuhan penumpang tidak banyak berbeda dengan pelabuhan barang. Pada


pelabuhan barang di belakang dermaga terdapat gudang sedangkan pada pelabuhan
penumpang dibangun fasilitas stasiun penumpang yang melayani segala kegiatan yang
berhubungan dengan kebutuhan orang yang bepergian, seperti kantor
imigrasi,keamanan, direksi, maskapai pelayaran dan lainnya.

Pelabuhan Campuran

Pada umumnya pencampuran pemakaian ini terbatas untuk penumpang dan barang,
sedang untuk keperluan minyak dan ikan biasanya tetap terpisah. Tetapi bagi
pelabuhan kecil atau masih dalam taraf perkembangan, keperluan bongkar muat
minyak juga dapat menggunakan dermaga atau jembatan yang sama guna keperluan
barang dan penumpang.

Pelabuhan Militer

Pelabuhan ini mempunyai daerah perairan yang cukup luas untuk memungkinkan
gerakan cepat kapal-kapal perang dan agar letak bangunan cukup terpisah. Konstruksi
tambatan maupun dermaga hampir sama dengan pelabuhan barang, hanya saja situasi
dan perlengkapannya agak lain.
Pada pelabuhan barang letak/kegunaan bangunan harus efisien mungkin, sedang pada
pelabuhan militer bangunan-bangunan pelabuhan harus dipisah-pisah yang letaknya
agak berjauhan.

E. Menurut Letak Geografis

Pelabuhan Alam
Pelabuhan alam merupakan daerah perairan yang terlindungi dari badai dan
gelombang secara alam, misalnya oleh suatu pulau, jazirah atau terletak di teluk. Di
daerah ini pengaruh gelombang sangat kecil. Salah satu contoh dari pelabuhan alam
antara lain pelabuhan Palembang, Pontianak, Bitung.

Pelabuhan Buatan
Pelabuhan buatan adalah suatu daerah perairan yang dilindungi dari pengaruh
gelombang dengan membuat bangunan pemecah gelombang (breakwater). Pemecah
gelombang ini membuat daerah perairan tertutup dari laut dan hanya dihubungkan
oleh suatu celah untuk masuk keluarnya kapal. Di dalam daerah tersebut dilengkapi
dengan alat penambat. Bangunan ini dibuat dari pantai dan menjorok ke laut sehingga
gelombang yang menjalar ke pantai terhalang oleh bangunan tersebut. Contoh
pelabuhan buatan antara lain pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan Tanjung Mas di
Semarang.

Pelabuhan Semi Alam

Pelabuhan ini merupakan campuran dari kedua tipe di atas. Misalnya suatu pelabuhan
yang terlindungi oleh lidah pantai dan perlindungan buatan hanya pada alur masuk.
Pelabuhan Bengkulu memanfaatkan teluk terlindung oleh lidah pasir untuk kolam
pelabuhan. Contoh lainnya adalah muara sungai yang kedua sisinya dilindungi oleh
jetty. Jetty tersebut berfungsi untuk menahan masuknya transpor pasir sepanjang
pantai ke muara sungai, yang dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan.

JENIS JENIS PEMECAH GELOMBANG


Dalam pemilihan pemecah gelombang ditentukan dengan melihat hal-hal sebagai
berikut :
a. Bahan yang tersedia disekitar lokasi
b. Besar gelombang
c. Pasang surut air laut
d. Kondisi tanah dasar laut
e. Peralatan yang digunakan untuk pembuatannya
Untuk perencanaan bentuk dan kestabilan pemecah gelombang perlu diketahui :
a. Tinggi muka air laut akibat adanya pasang surut
b. Tinggi puncak gelombang dari permukaan air tenang
c. Perkiraan tinggi dan panjang gelombang
d. Run up gelombang
Berdasarkan Bentuk Model Penampang Melintangnya (Triatmodjo, 1999):
1. Pemecah gelombang dengan sisi miring

Pemecah gelombang dengan sisi miring dibuat dari beberapa lapisan material yang
ditumpuk dan dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sebuah gundukan
besar batu alam dengan lapisan terluar dari material dengan butiran sangat besar yang
dilindungi oleh lapis pelindung berupa batu besar atau beton dengan ukuran tertentu.
Pemecah gelombang tipe ini bersifat fleksibel. Kerusakan yang terjadi karena
serangan gelombang tidak secara tiba-tiba. Jenis lapis pelindung pemecah gelombang
tipe ini adalah Quadripod, Tetrapod, Dolos. Pemecah gelombang dengan sisi miring
dibuat untuk kedalaman kolam labuh yang relative dangkal.

2. Pemecah gelombang dengan sisi tegak

Untuk tipe sisi tegak pemecah gelombang dibuat dari material-material seperti
pasangan batu, sel turap baja yang didalamnya diisi tanah atau batu, tumpukan buis
beton, dinding turap baja atau beton, kaison beton dan lain sebagainya.
Pemecah gelombang tipe ini ditempatkan di laut dengan kedalaman kolam labuh yang
lebih besar dari tinggi gelombang. Dimaksudkan untuk mengurangi jumlah material
penyusunnya. Pemecah ini dibuat apabila tanah dasar mempunyai daya dukung besar
dan tahan terhadap erosi. Bisa dibuat dari blok-blok beton massa yang disusun secara
vertikal, kaison beton, turap beton atau baja.
Syarat yang harus diperhatikan pada tipe pemecah gelombang sisi miring adalah:
1. Tinggi gelombang maksimum rencana harus ditentukan dengan baik
2. Tinggi dinding harus cukup untuk memungkinkan
3. Pondasi dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terjadi erosi pada kaki bangunan
yang dapat membahayakan stabilitas bangunan

3. Pemecah
bertipe

gelombang
campuran.

Ketiga

model breakwater

seperti ini,

dicontohkan

dengan tipe

cellular cofferdam

yaitu suatu

konstruksi yang

menggunakan sheet pile secara langsung, dimana pile tersebut saling menutup atau
mengunci (interlocking ) satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu rangkaian
elemen (cell) dimana cell tersebut berisikan material yang tak kohesif seperti pasir
untuk pemberat struktur di bagian bawahnya sedangkan bagian atasnya terdiri dari
batu lindung yang dapat berfungsi menjaga stabilitas struktur akibat pengaruh
gelombang.

Konstruksi breakwater tipe cellular cofferdam seperti halnya beberapa jenis Offshore
Breakwater yang lain dibangun dengan puncak elevasi struktur yang mendekati Mean
Sea Level (MSL), sehingga hal tersebut memungkinkan energi yang menyertai
terjadinya gelombang dapat diteruskan melalui breakwater. Kondisi tersebut
dinamakan dengan istilah keadaan overtopping atau kondisi gelombang dapat
melimpas. Alasan struktur dibangun dengan kondisi overtopping adalah untuk
pertimbangan disain secara ekonomis, dan juga karena pertimbangan kondisi
gelombang rata-rata yang terjadi cukup kecil.
Pemecah gelombang tipe ini dibuat apabila kedalaman air sangat besar dan tanah
dasar tidak mampu menahan beban dari pemecah gelombang sisi tegak.
Ada tiga macam pertimbangan tinggi sisi tegak dengan tumpukan batunya :
1. Tumpukan batu dibuat sampai setinggi air yang tertinggi, sedangkan bangunan
sisi tegak hanya sebagai penutup bagian atas
2. Tumpukan batu setinggi air terendah sedang bangunan sisi tegak harus
menahan air tertinggi
3. Tumpukan batu hanya merupakan tambahan pondasi dari bangunan sisi tegak

Berdasarkan Letaknya
Pemecah gelombang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pemecah gelombang
sambung pantai dan lepas pantai. Tipe pertama banyak digunakan pada perlindungan
perairan pelabuhan, sedangkan tipe kedua untuk perlindungan pantai terhadap erosi.
Secara umum kondisi perencanaan kedua tipe adalah sama, hanya pada tipe pertama
perlu ditinjau karakteristik gelombang di beberapa lokasi di sepanjang pemecah
gelombang, seperti halnya pada perencanaan groin dan jetty. Selanjutnya dalam bagian
ini tinjauan lebih difokuskan pada pemecah gelombang lepas pantai.

1. Pemecah gelombang sambung pantai (Shore-connected Breakwater)


Tipe ini banyak digunakan pada perlindungan perairan pelabuhan. perlu
ditinjau karakteristik gelombang di beberapa lokasi di sepanjang pemecah
gelombang, seperti halnya pada perencanaan groin dan jetty.

2. Pemecah gelombang lepas pantai (Offshore Breakwater)


Pemecah gelombang lepas pantai adalah bangunan yang dibuat sejajar pantai
dan berada pada jarak tertentu dari garis pantai. Bangunan ini direncanakan
untuk melindungi pantai yang terletak dibelakangnya dan serangan gelombang.
Tergantung pada panjang pantai yang dilindungi, pemecah gelombang lepas
pantai dapat dibuat dari satu pemecah gelombang atau suatu seri bangunan yang
terdiri dari beberapa ruas pemecah gelombang yang dipisahkan oleh celah.
Perlindungan oleh pemecahan gelombang lepas pantai terjadi karena
berkurangnya energi gelombang yang sampai di perairan di belakang bangunan.
Berkurangnya energi gelombang di daerah terlindung akan mengurangi
pengiriman sedimen di daerah tersebut. Pengiriman sedimen sepanjang pantai
yang berasal dari daerah di sekitarnya akan diendapkan dibelakang bangunan.
Pengendapan tersebut menyebabkan terbentuknya cuspate. Apabila bangunan ini
cukup panjang terhadap jaraknya dari garis pantai, maka akan terbentuk
tombolo.
Pengaruh pemecah gelombang lepas pantai terhadap perubahan bentuk garis
pantai dapat dijelaskan sebagai berikut ini. Apabila garis puncak gelombang
pecah sejajar dengan garis pantai asli, terjadi difraksi di daerah terlindung di
belakang bangunan, di mana garis puncak gelombang membelok dan berbentuk

busur lingkaran. Perambatan gelombang yang terdifraksi tersebut disertai


dengan angkutan sedimen menuju ke daerah terlindung dan diendapkan di
perairan di belakang bangunan.
Penambahan Suplai Pasir di Pantai (Sand Nourishment). Pantai berpasir
mempunyai kemampuan perlindungan alami terhadap serangan gelombang dan
arus. Perlindungan tersebut berupa kemiringan dasar pantai di daerah
nearshore yang menyebabkan gelombang pecah di lepas pantai, dan kemudian
energinya dihancurkan selama dalam penjalaran menuju garis pantai di surf
zone. Dalam proses pecahnya gelombang tersebut sering terbentuk offshore bar
di ujung luar surf zone yang dapat berfungsi sebagai penghalang gelombang
yang datang (menyebabkan gelombang pecah).
Erosi pantai terjadi apabila di suatu pantai yang ditinjau terdapat kekurangan
suplai pasir. Stabilisasi pantai dapat dilakukan dengan penambahan suplay pasir
ke daerah tersebut. Apabila pantai mengalami erosi secara terus menerus, maka
penambahan pasir tersebut perlu dilakukan secara berkala, dengan laju sama
dengan kehilangan pasir yang disebabkan oleh erosi

Untuk mencegah hilangnya pasir yang ditimbun di ruas pantai karena terangkut
oleh arus sepanjang pantai, sering dibuat sistem groin. Dengan adanya groin
tersebut, pasir yang ditimbun akan tertahan dalam ruas-ruas pantai di dalam
sistem groin. Tetapi perlu dipikirkan pula bahwa pembuatan groin tersebut dapat
menghalangi suplay sedimen ke daerah hilir, yang dapat menimbulkan
permasalahan baru di daerah tersebut.
1. Memasang karang Buatan

Karang buatan yang dikembangkan pertama kali di Selandia Baru mulai


tahun 1996, energi gelombang akan berkurang sampai 70 persen ketika
sampai di pantai. Pembangunan konstruksi di bawah laut itu juga
memungkinkan tumbuhnya terumbu karang baru.
2. Kubus Beton Tumpuk
Terlepas garis pantai terlindungi atau tidak, upaya menghentikan terjadinya
abrasi secara terus menerus perlu dilakukan langkah-langkah
penanggulangannya. Terdapat banyak metode dalam penanggulangan abrasi
namun prinsip pokok penanggulangannya adalah memecah gelombang atau
meredam energi gelombang yang terjadi.

Gambar 3.5 Pemecah gelombang kubus beton tumbuk untuk melindungi kapal
dari gelombang
Untuk mendapatkan type pemecah/peredam energi gelombang yang efektif perlu
dilakukan pengkajian yang mendalam terhadap :
1. Sifat dari pada karakteristik dan tinggi gelombang
2. Kondisi tanah
3. Pasang surut Bathimetry dan gradient pantai

Memperlihatkan kondisi tanah dan fungsi dari pada Breakwater itu sendiri,
maka type pemecah/peredam energi gelombang ada bermacam-macam dan salah
satunya adalah type box-beton (kubus beton), tipe ini memiliki beberapa
keuntungan seperti :
1. Dari segi teknis sangat efektif sebagai peredam energi gelombang Kubus
Beton memiliki perbedaan berat jenis sekitar 2,4 kali dari berat jenis air
atau sekitar 2,4 ton untuk 1 m3 beton
2. Dari segi pelaksanaan data dibuat di tempat dan mudah dalam penataan.
Bentuk kubus memudahkan kita untuk menata bentuk breakwater sesuai
keinginan kita. Kadang breakwater murni kita gunakan sebagai pemecah
gelombang namun kita dapat juga menyusunnya hanya untuk mengurangi
energi gelombangnya saja dengan bentuk susunan berpori.
Untuk kondisi tertentu dari segi biaya jauh lebih murah. Untuk daerah-daerah
yang tidak memiliki tambang kelas C yang menyangkut batu gunung mulai berat
5 kg 700 kg keputusan untuk menggunakan kubus beton dapat membantu dan
mengurangi biaya pengadaan dan mobilisasinya.