Anda di halaman 1dari 27

HERNIA NUKLEUS PULPOSUS

Created by
NURLIANA
C111 11 251

Definisi
Hernia Nukleus Pulposus
(HNP) merupakan
suatu gangguan yang
melibatkan ruptur
annulus fibrosus
sehingga nukleus
pulposus menonjol
(bulging)/ mengalami
herniasi dan menekan
akar saraf spinal,
menimbulkan nyeri
dan defisit neurologis

Epidemiologi
HNP dikenal juga dengan istilah
Herniated Intervertebral Disc, Herniated
Disc Disease, Lumbar Disc Syndrome
dan lain-lain. HNP merupakan salah satu
dari sekian banyak Low Back Pain.
Penelitian Community Oriented Program
for Controle of Rheumatic Disease
(COPORD ) Indonesia menunjukan
prevalensi nyeri punggung 18,2 % pada
laki-laki dan 13,6 % pada wanita.

Anatomi
Vertebra terbagi atas 5
regio: Cervikal (C1C7), Thorakal (T1T12), Lumbal (L1-L5),
Sakral (S1-S5), dan
Coccygeus. Vertebra
lumbalis
ukurannya
meningkat dari L1 ke
L5, dan lebih besar
dari vertebra cervikal
dan thorakal.

Diskus intervertebralis menghubungkan


korpus vertebra satu sama lain dari
servikal sampai sakral. Terdapat 23 diskus
di sepanjang medulla spinalis dan tidak
terdapat diskus intervertabralis pada 2
vertebra
servikalis,
sakrum,
dan
coccyxigeus.

Patomekanisme
Proses degeneratif:
Usia bertambah -> kadar air di diskus
intervertebralis menurun ->fungsi sebagai shock
absorber menurun -> annulus fibrosus ruptur ->
nucleus pulposus mengalami herniasi -> menekan
nervus.
Proses traumatik:
Discus intervertebralis melemah karena degenerasi
-> terjadi tekanan abnormal dan besar pada discus
(gerekan repetitive, mengangkat beban)/trauma
->ruptur annulus fibrosus -> herniasi nucleus
pulposus

Penekanan ujung
saraf spinal
menimbulkan:
1.Penurunan Sensasi
berupa rasa tebal,
rasa keram.
2.Nyeri, baik berupa
nyeri mekanik, nyeri
inflamasi, nyeri
neurogenik
3.Penurunan kerja
refleks

Grading HNP

1. Disc Degeneration: Robekan kecil pada


annulus, belum terjadi penonjolan.
2. Prolaps: Rusaknya bentuk dan posisi discus
dan terbentuk penonjolan kecil, precursor
herniasi.
3. Extrusksi : Nucleus pulposus menembus
annulus fibrosus namun masih berada di
dalam diskus.
4. Sequestrasi: Nukleus pulposus menembus
annulus fibrosus dan keluar
dari diskus

Faktor resiko

Usia (30-50 tahun)

Pekerjaan
Post-Trauma

Berat Badan

Merokok
Laki-laki>Perempuan

Gejala klinis :
Herniasi di regio lumbal ( biasanya di L4-L5 dan
L5-S1) menimbulkan nyeri dari pinggang, paha,
betis, hingga kaki.

Herniasi di regio cervical (biasanya di C4-C5


dan C6-C7) menimbulkan nyeri dari bahu,
lengan, hingga tangan.
Rasa nyeri yang seperti terbakar, rasa
tebal,atau keram pada dermatom nervus
yang terkena.
Terjadi defisit neurologis, otot-otot
dapatmengalami kelemahan.

Bersin, batuk, dan tertawa dapat


meningkatkan nyeri.

Dagnosis Klinis
1. Anamnesis:
- Nyeri:

P (Provoke)
Q (Quality)
R (Radiating)
S (Severe)
T (Time)

- Pekerjaan
- Trauma
- Riwayatmerokok

2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi :
Gerakan-gerakan yang perlu diperhatikan
pada penderita:
Keterbatasan gerak pada salah satu sisi
atau arah.
Fleksi ke depan (forward flexion) secara
khas akan menyebabkan nyeri pada
tungkai bila ada HNP
Lokasi dari HNP biasanya dapat
ditentukan bila pasien disuruh
membungkuk ke depan ke lateral kanan
dan kiri.

Palpasi :
- Menekan ruangan intervertebralis atau
dengan jalan menggerakkan ke kanan ke
kiri prosesus spinosus sambil melihat
respons pasien
- Penekanan dengan jari jempol pada
prosesus
spinosus
dilakukan
untuk
mencari adanya fraktur pada vertebra.
Pemeriksaan fisik yang lain memfokuskan
pada kelainan neurologis.

Adapun tes yang dapat dilakukan


untuk diagnosis HNP adalah:
1. FABER (Patrick) Test:
Tes ini positif apabila ada
nyeri pada punggung
atau pada tungkai yang
dites, atau tungkai yang
dites tetap datar di atas
tungkai
yang
berlawanan.
Hal
ini
dapat mengindikasikan
adanya masalah pada
coxae.

2. FABIR (Counter-Patrick) Test

Tes ini positif apabila ada nyeri pada


punggung atau pada tungkai yang dites,
atau tungkai yang dites tetap datar di atas
tungkai yang berlawanan. Hal ini dapat
mengindikasikan adanya masalah pada
articulatio sacroiliaca.

3. Laseque Test

Tes ini positif bila timbul rasa


nyeri pada saat mengangkat kaki
dengan lurus, menandakan ada
kompresi dari nervus ischiadicus.

4. Ankle Jerk Reflex

Tujuan : Untuk
mengetahui adanya
jebakan nervus di
tingkat kolumna
vertebra L5-S1-S2
Hasil: Positif jika tidak
terjadi plantarfleksi
pada kaki

5. Knee jerk reflex


Tujuan : Untuk
mengetahui jebakan
nervus di tingkat
kolumna vertebra L2-L3L4.
Cara pemeriksaan:
Dilakukan pengetukan
pada tendon lutut.
Hasil: Positif jika tidak
terjadi ekstensi pada
lutut.

Pemeriksaan Radiologi
X-Ray (foto polos vertebra AP/lateral):
hanya bisa melihat penyempitan celah
dan perubahan alignment.
MRI: GOLD STANDARD ->identifikasi
letak herniasi
CT-Scan: sarana diagnostik yang efektif
bila vertebra dan level neurologis telah
jelas dan kemungkinan karena kelainan
tulang.
Elektromyografi: melihat konduksi
nervus dan identifikasi kerusakan
nervus

MRI

Penatalaksanaan
Terapi Konservatif:
o Terapi Non-Farmakologis:
TerapiFisikPasif:
a) Kompreshangat/dingin
b) Iontophoresis
c) Unit TENS
d) Ultrasound
Latihan:
a) Peregangan
b) Penguatan
c) Low Aerobic Low Impact

Curl-up
exercise

Trunk flexion

Pelvic tilt exercise

stretch

Double knee-to-chest stretch

Contoh-contoh latihan peregangan

Terapi Konservatif:
1. Terapi Non-Farmakologis:
Back Braces:
a)
b)

Rigid Braces
Corset Braces

Injeksi:

2. Terapi Farmakologis:

Acetaminophen
NSAID
Muscle Relaxant
Opioid
Steroid

Terapi Operatif:
Terapi terapi operatif dilakukan jika:
Pesien mengalami HNP Grade .
Tidak ada perbaikan lebih baik, masih ada
gejala nyeri yang tersisa, atau ada
gangguan fungsional setelah terapi
konservatif diberikan selama 6 sampai 12
minggu.
Terjadinya rekurensi yang sering dari gejala
yang dialami pasien menyebabkan

Terapi Operatif:
Pilihan terapi operatif yang dapat diberikan
adalah:
1. Disectomy:
Mengangkat fragmen herniasi atau yang
keluar dari diskus intervertebral
2. Laminectomy
Mengangkat lamina untuk memajankan
elemen neural pada kanalis spinalis,
memungkinkan ahli bedah untuk
menginspeksi kanalis spinalis,
mengidentifikasi dan mengangkat patologi
dan menghilangkan kompresi medula dan
radiks

Pencegahan
Hernia nucleus pulposus dapat dicegah terutama
dalam aktivitas fisik dan pola hidup. Hal-hal berikut
ini dapat mengurangi risiko terjadinya HNP:
1. Olahraga secara teratur untuk mempertahankan
kemampuan otot, seperti berlari dan berenang.
2. Hindari mengangkat barang yang berat, edukasi
cara mengangkat yang benar.
3. Tidur di tempat yang datar dan keras.
4. Hindari olahraga/kegiatan yang
dapatmenimbulkan trauma
5. Kurangi berat badan.
6. Hindari Merokok

TERIMA KASIH