Anda di halaman 1dari 15

DAFTAR ISI

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.1
1.2 Tujuan Percobaan.1

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA....2

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan.7
3.2 Prosedur Percobaan..7

BAB 4

HASIL & PEMBAHASAN


4.1 Hasil percobaan8
4.2 Perhitungan...8
4.3 Pembahasan.10

BAB 5

PENUTUP
5.1 Kesimpulan..13
5.2 Saran....13

DAFTAR PUSTAKA.14

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di alam ini air dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, antara lain air laut,
air danau, air sungai, air tanah, dan masih banyak lagi. Karakteristik dari
masing-masing bentuk air tersebut berbeda-beda. Air sungai yang berada pada
bagian hulu memiliki karakteristik kimia, fisika dan biologi yang berbeda dengan
air sungai yang berada pada bagian hilir. Demikian juga air danau yang dalam
memiliki karakteristik yang berbeda dengan air danau yang dangkal.
Dalam pelajaran kualitas air diperlukan pemahaman

mengenai

karakteristik dasar dari badan air. Pemahaman ini akan memberikan gambaran
mengenai akibat-akibat dari perlakuan manusia terhadap air. Selain itu diperlukan
juga pemahaman sejauh mana air dapat digunakan manusia. Pemahaman ini akan
merealisasikan perlindungan terhadap badan air yang pada dasarnya diperlukan
untuk kehidupan manusia.
Unit pengolahan air limbah pada umumnya terdiri dari kombinasi biologi,
kimia, dan fisika. Seluruh proses tersebut bertujuan untuk menghilangkan padatan
tersuspensi, koloid, dan bahan-bahan organik maupun anorganik yang terlarut.
Pengolahan artifisial sangat efektif untuk mengurangi zat-zat yang
berbahaya bagi ekologi dalam badan air penerima, antara lain zat-zat lain yang
dapat mengendap.
Dengan adanya praktikum ini diharapkan praktikan dapat mengetahui
kadar TS yang terkandung pada sampel yang digunakan.
1.2 Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui perhitungan TSS, TDS, dan TS.
Untuk menentukan padatan total dalam sampel.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Di dalam air terdapat zat padat yang secara yang secara umum dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi,
sedangkan gabungan dari zat padat tersuspensi dan terlarut adalah padatan total.
Padatan total adalah residu yang tersisa setelah penguapan contoh dan dilanjutkan
dengan penyaringan pada suhu tertentu secara merata. Penentuan residu total
dilakukan dengan menimbang berat contoh yang telah dikeringkan pada suhu 103105 C dan di ukur dalam satuan ppm.
Padatan tersuspensi total atau total suspended solid (TSS) adalah berat zat
padat dalam air yang tertahan pada penyaringan dengan menggunakan kertas
saring yang memilik diameter pori-pori sebesar 0,45m dan telah dikeringkan
pada suhu tertentu dan diukur dalam satuan ppm. Penetuan TSS dilakukan dengan
menimbang berat residu yang tertinggal pada kertas saring 0.45m dan telah
dikeringkan pada suhu 103-105 C.
Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan pada air
tidak larut, dan tidak bisa mengendap secara langsung. Padatan tersuspensi terdiri
dari partikel-partikel yang ukuran dan beratnya lebih kecil daripada sedimen,
misalnya tanah liat, bahan-bahan organik yang tertentu, sel-sel mikroorganisme,
dan sebagainya. Sebagai contoh, air permukaan mengandung tanah liat dalam
bentuk tersuspenai yang dapat bertahan sampai berbulan-bulan, kecuali jika
keseimbangannya terganggu oleh zat-zat lain sehingga mengakibatkan terjadi
pengumpulan, yang diikuti dengan pengendapan. Selain mengandung padatan
tersuspensi, air buangan juga sering mengandung bahan-bahan yang bersifat
koloid seperti protein.
Air buangan industri mengandung jumlah padatan tersuspensi dalam
jumlah yang sangat bervariasi tergantung dari jenis industrinya. Air buangan dari
industri-indusrti makanan, terutama industri fermentasi dan industri tekstil sering
mengandung padatan tersuspensi dalam jumlah yang relatif tinggi, jumlah padatan
tersuspensi di dalam air dapat diukur menggunakan alat turbidimeter.seperti
2

halnya padatan yang terendap, padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi


sinar atau cahaya ke dalam air, sehingga mempengaruhi regenerasi oksigen secara
fotosintesis.
Padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS) adalah berat zat padat
yang dapat lolos melalui kertas saring yang memiliki diameter pori-pori 0,45m
yang dikeringkan pada suhu tertentu dan diukur dalam satuan ppm. Penentuan
TDS dilakukan dengan menimbang berat residu yang lolos pada kertas sering
0,45m dan telah dikeringkan pada suhu 103-105C.
Padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih
kecil dari pada padatan tersuspensi. Padatan ini terdiri dari senyawa-senyawa
organik dan anorganik yang terlarut seperti air mineral dan garam-garamnya.
Sebagai contoh, air buangan pabrik gula biasanya mengandung berbagai jenis
gula yang terlarut, sedangkan air buangan industri kimia sering mengandung
mineral-mineral seperti merkuri (Hg), timbal(Pb), arsenik(As), cadmium(Cd),
kromium(Cr), nikel(Ni), Cl2 serta garam-garam kalsium dan magnesium yang
mempengaruhi kesadahan air. Selain itu air buangan juga sering mengandung
sabun, deterjen dan surfaktan yang terlarut dalam air, misalnya pada air buangan
rumah tangga dan industri pencucian. Merkuri dan timbal adalah contoh dari
beberapa polutan logam berat yang sering mencemari air buangan dan sangat
berbahaya bagi kehidupan di sekitarnya.
Sedimen adalah padatan yang dapat langsung mengendap jika air
didiamkan dan tidak tergannggu selama beberapa waktu. Padatan yang
mengendap dari partikel-partikel padatan tersebut yang mempunyai ukuran relatif
besar dan berat sehingga dapat mengendap dengan sendirinya. Sedimen yang
terdapat di dalam air biasanya terbentuk sebagai akibat dari erosi dan merupakan
padatan umum yang terdapat di dalam permukaan air. Adanya sedimen dalam
jumlah yang tinggi di dalam air akan sangat merugikan karena hal-hal sebagai
berikut:
1. Sedimen dapat menyebabkan penyumbatan saluran air dan selokan, dan dapat
mengendap di dalam bak penampungan sehingga mengurangi volume air yang
dapat ditampung dalam bak tersebut.

2. Sedimen yang mengendap di dasar sungai atau danau dapat mengurangi polusi
ikan dan hewan-hewan air lainnya karena telur-telur ikan dan sumber-sumber
makanan mungkin terendam di dalam sedimen.
3. Adanya sedimen mengurangi penetrasi sinar ke dalam air sehingga dapat
mengurangi kecepatan fotosintesis oleh tanaman air yang menurun.
4. Sedimen menyebabkan air menjadi keruh. Sehingga menambah biaya
penjernihan air jika air tersebut akan digunakan untuk keperluan industri.
Padatan terendap biasanya terdiri dari pasir dan lumpur, berbeda dengan
tanah liat yang tidak dapat mengendap dengan sendirinya, lumpur merupakan
padatan yang dapat mengendap dengan sendirinya terutama jika airnya tidak
terguncang.
Koloid juga disebut sebagai dispersi koloidal atau suspensi koloidal yang
artinya adalah campuran yang berbeda antara larutan sejati dan suspensi. Misalnya
adalah susu segar yang terdiri dari butiran-butiran halus lemah mentega yang
terdispersi dalam fase air yang juga mengandung kasein (suatu protein) dan
beberapa zat lainya, hal tersebut dikarenakan bentuk ukuran partikel koloid yang
lebih kecil dibandingkan dengan ukuran medium dimana partikel itu tersebar,
sehingga disini tidak digunakan istilah solut dan solven, tetapi terdispersi dan
medium pendispersi.
Biasanya ukuran partikelnya berbeda antara 1-1000m. yang terdiri dari
kumpulan banyak molekul dan ion dalam sel hidup seperti protein yang masih
termasuk dalam ukuran ini. Walaupun partikelnya lebih besar dari pada partikel
dan larutan asli, tetapi ukurannya masih cukup kecil, sehingga masih terdapat
tumbuhan yang tetap dengan medium sekitarnya yang menyebabkan parikel akan
tertahan beberapa waktu sehingga salah satu sifat umum koloid adalah cenderung
untuk stabil dibawah pengaruh gaya gravitasi bumi. Maka ada beberapa koloid
yang kelihatannya stabil selamanya. Seperti juga pada suspensi jumlah relatif dari
partikel koloid dalam campuran yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah
partikel medium dispersinya. Karena itu sifat-sifat fisik dari kebanyakan koloid
hanya berbeda sedikit dengan medium dispersinya.

Berbagai kombinasi dari fase-fase yang dapat dicampur seperti terlihat dari
contoh yang diberikan berikut ini:
Jenis dispersi koloidal
Medium

Fase terdispersi

Jenis koloid

contoh

pendispersi
Padatan
Padatan
Padatan
Cairan
Cairan
Cairan
Gas
Gas

Padatan
Cairan
Gas
Padatan
Cairan
Gas
Padatan
Cairan

Sol padat
Emulsi padat
Busa padat
Sol, gel
Emulsi
Busa
Aerosol padat
Aerosol cair

Mutiara,opal
Keju, mentega
batu apung, kerupuk
Pati dalam air
Susu, mayones
Krim kue tar
Debu, asap
Awan, kabut

Gas dengan gas selalu menghasilkan larutan. Larutan koloid akan kita
ketahui dalam kehidupan sehari-hari dan juga akan diketahui bahwa segala
macam campuran adalah mungkin. Kecuali koloid yang berasal dari dispersi gas
dalam gas, sebab gas akan bercampur secara homogen dalam tingkat molekul,
sehingga campuran antara gas merupakan larutan dengan sesamanya.
Partikel-partikel dalam suatu koloid terlalu kecil untuk terlihat dengan
mata atau dengan mikroskop biasa. Walaupun dengan demikian, partikel ini dapat
mempengaruhi cahaya tampak, ukuran partikelnya cocok untuk menyebabkan
cahaya tersebar dengan sudut-sudut yang besar bila konsentrasi koloidnya besar,
penyebaran cahaya ini akan menyebabkan larutan koloid kelihatan keruh
(opaque), sehingga cahaya tidak dapat diteruskan (contoh: susu). Sinar yang
datang pada suhu disebarkan oleh partikel-partikel koloid susu kemudian
diabsorpsi sehingga tidak diteruskan. Bila konsentrasinya lebih encer, maka
dispersi koloidnya kelihatan seperti awan dan bila diencerkan lagi akan lebih
transparan (terang). Misalnya saja larutan kanji yang encer akan kelihatan terang.
Kita dapat melihat perbedaan antara koloid dan larutan biasa
memperlihatkan suatu sinar cahaya yang melalui larutan dan koloid tersebut dari
sisi wadah. Koloid akan terlihat karena cahayanya disebarkan kepinggir, suatu
fenomena yang dikenal dengan sebutan efek Tyndall karena partikel-partikel
5

solidnya terlalu kecil untuk menyebarkan cahaya. Agar suatu koloid tetap stabil,
harus diusahakan partikel-partikelnya tidak saling melekat waktu bersinggungan.
Bila terjadi perekatan partikel akan membesar dan akhirnya akan terpisah dari
larutannya, untuk suatu emulsi (dispersi cairan dalam cairan ) kestabilannya dapat
dicapai karena adanya zat pengemulsi. Contoh umum dari suatu emulsi adalah
susu dan mayones. Kedua emulsi ini terdiri dari minyak yang terdispersi dalam
fase air. Seperti diketahui, air dan minyak tidak akan terpisah lagi menjadi dua
fase kembali.

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
6

3.1.1Alat
Desikator
Oven
Neraca Analitik
Pengaduk Magnetik
Gelas Ukur
Pinset
Kaca Arloji
Pompa Vakum
Cawan Petri
3.1.2 Bahan
Kertas saring Whatmann No. 42
Sampel air bendungan
Sampel air depot
Akuades
3.2 Prosedur Kerja
Penentuan TS
Diaduk larutan cuplikan dengan pengaduk magnet hingga homogen.
Diambil larutan uji sebanyak 25 ml, dimasukkan ke dalam cawan penguap.
Dimasukkan kedalam oven pada suhu 120-130C selama 2 jam,
didinginkan kemudian ditimbang.
Diulangi langkah dari pemanasan hingga penimbangan samapi diperoleh
berat konstan.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


Padatan Total Air Depot
No
I.

ml sampel
25

Berat cawan (mg)


53141,8

Berat cawan + sampel (mg)


53143,4

II.

25

52450,5

52451,9

Padatan Total Air Bendungan


No
I.

ml sampel
25

Berat cawan (mg)


54460,5

Berat cawan + sampel (mg)


54462,8

II.

25

53367,6

53379,9

4.2 Perhitungan
Padatan Total Air Depot
I.

Dik : A = 53143,5 mg
B = 53141,8 mg
V = 25 ml
Dit : TS?
Jawab :

TS

(A-B) x 1000
V

(53143,5 53141,8) x 1000


25

1600
25

64 mg/l

II. Dik : A = 52451,9 mg


B = 52450,5 mg
V = 25 ml
Dit : TS?
Jawab :

TS

(A-B) x 1000
V

(52451,9 52450,5) x 1000


8

25
=

1400
25

56 mg/l

Padatan Total Air Bendungan


I. Dik : A = 54462,8 mg
B = 54460,5 mg
V = 25 ml
Dit : TS?
Jawab :

TS

(A-B) x 1000
V

(54462,8 54460,5) x 1000


25

2300
25

92 mg/l

II. Dik : A = 53379,9 mg


B = 53367,6 mg
V = 25 ml
Dit : TS?
Jawab :

TS

(A-B) x 1000
V

(53379,9 53367,6) x 1000


25

12300
25

492 mg/l

4.3 Pembahasan
Prinsip percobaan daripadatan tersuspensi adalah sampel ayng telah
homogen, disaring dengan kertas saring yang telah ditimbang kemudian residu
yang tertahan pada kertas saring dikeringkan sampai mencapai berat konstan pada

suhu 103-105 C. kenaikan berat kertas saring mewakili padatan tersuspensi total
(TSS). Prinsip percobaan dari padatan terlarut adalah sampel yang telah homogen
disaring dengan kertas saring yang telah dikeringkan kemudian zat padatan yang
lolos melalui saringan dikeringkan pada suhu 103-105 C, setelah itu residu yang
dikeringkan ditimbang. Prinsip percobaan dari padatan total adalah sampel yang
telah homogen dimasukan ke cawan penguap, setelah itu dikeringkan, residu yang
tersisa itu kemudian ditimbang beserta cawan penguapnya.
Kali ini dilakukan percobaan penentuan padatan total (TS). Pertama-tama
dimasukan 25 ml larutan sampel ke dalam 4 buah cawan penguap yang telah
ditimbang dengan neraca analitik. Laruran sampel yang dipakai adalah air depot
dan air bendungan. Setelah itu, larutan cuplikan dikeringkan dalam oven pada
suhu 130 C selama 2 jam, setelah itu dinginkan kemudian timbang dalam neraca
analitik, catat hasilnya untuk dimasukan dalam perhitungan.
Fungsi alat-alat yang digunakan adalah :
-

Desikator, berfungsi sebagai tempat penyimpan sampel, kertas saring, kaca


arloji serta cawan dari oven agar bebas air atau menurunkan suhunya.

Oven, berfungsi sebagai tempat mengeringkan sampel, alat dan bahan dari
kandungan air dengan suhu tertentu secara merata.

Neraca analitik, berfungsi menimbang sisa padatan kimia, neraca yang


digunakan adalah neraca Ohauss 210.

Pinset, adalah alat yang digunakan untuk mengambil kertas saring dan
cawan petri dari oven/desikator ke neraca agar tidak terkontaminasi
dengan tangan.

Pompa vakum, berfungsi untuk mempercepat proses penyaringan sampel


air.

Kertas saring, berfungsi menyaring endapan/air/sampel dari kotoran.

Kaca arloji, berfungsi sebagai tempat saat menimbang bahan kimia dan
sebagai temapt untuk menaruh kertas saring/padatan di dalam desikator.

Cawan petri, digunakan sebagai wadah menimbang dan menyimpan bahan


kimia dan mikrobiologi.

Gelas ukur, berfungsi untuk mengukur volume sampel yang digunakan.

10

Pengukuran Total Solids, termasuk TSS dan TDSnya sangat diperlukan


dalam kehidupan. Tinggi/besarnya angka Total Solids merupakan bahan
pertimbangan dalam menentukan sesuai atau tidaknya air untuk penggunaan
rumah tangga. Umumnya, air dengan kandungan Total Solids kurang dari 500
mg/l adalah diharapkan untuk keperluan tersebut. Pengaruh yang menyangkut
aspek kesehatan dari penyimpangan kualitas air dalam hal TS ini, yakni air akan
memiliki rasa yang tidak enak di lidah, warna yang keruh dan berbau.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat TS, TSS dan TDS adalah
sebagai berikut :
-

Garam anorganik

Gas-gas terlarut

Kekerasan air

Koloid tak terlarut

Bahan-bahan tersuspensi

Derajat pencemaran

Temperatur
Alat-alat yang digunakan dalam TSS, TDS, dan TS

Pompa vakum

Desikator

oven

kaca patry

neraca analitik
&
desivakum

gelas ukur
11

Pinset

hot plate

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan kali ini dapat disimpulkan bahwa :

Untuk mencari TS larutan digunakan perhitungan sebagai berikut :


12

TS

(A-B) x 1000
V contoh uji

Dengan, TS

= Padatan Total (mg/l)

= Berat cawan + residu sampel (mg)

= Berat cawan (mg)

1000
V

= Menyatakan jumlah ml larutan air


= Volume/banyaknya larutan yang diuji

Dari penetuan TS diperoleh hasil pada air depot sebesar 64 mg/l dan 56
mg/l, sedangkan pada sampel air bendungan sebesar 92 mg/l dan 492 mg/l.
5.2 Saran
Sebaiknya sebelum praktikum, peralatan-peralatan telah dipersiapkan agar
waktu yang diperlukan lebih efisien.

DAFTAR PUSTAKA
Brady E, James. 1999. Kimia Universitas. Jakarta : Binarupa Aksara
Keenan dkk. 1991. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.
Sally. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta : Bina Rupa Aksara
13

14