Anda di halaman 1dari 16

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA


LAPORAN PENDAHULUAN
Risiko Bunuh Diri
I. Kasus (Masalah Utama)
Gangguan Proses Pikir: Waham
II. Proses terjadinya masalah
A. Definisi
a. Keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun bertentangan dan tidak
diyakini oleh orang lain (Gail W Stuart, 2006) Keyakinan seseorang berdasarkan
penilaian realistis yang salah, keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya (Kelliat,1998). Kaplan dan Sadock (1998)
mengatakan bahwa waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan tidak
dapat dibuktikan dalam kenyataan. Waham sedikitnya harus ada selama sebelum
dan sistematik dan tidak bizar (dalam bentuk fragmentasi, respon, emosi pasien
terhadap system waham biasanya kongruen dan sesuai dengan isi waham itu.
Pasien secara relative biasanya bebas dari psikopatologi diluar wawasan system
wahamnya. Awal mulanya sering terjadi pada umur dewasa.
b. David A Tomb (2004) beranggapan bahwa waham adalah suatu keyakinan kokoh
yang salah yang tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan tersebut, mungkin aneh
dan tetap dipertahankan meskipun telah diberikan bukti-bukti yang jelas untuk
mengoreksinya. Waham sering ditemukan dalam gangguan jiwa berat dan
beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada skizoprenia.
Semakin akut psikosis semakin sering di temui waham disorganisasi dan waham
tidak sistemat.
c. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikir yang tidak sesuai dengan
kenyataanya atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan,
biarpun dibuktikan kemustahilan hal itu ( Marasmis 2005 hal 117).
d. Waham tidak terbentuk secara tiba tiba. Meskipun demikian, selama dalam proses
pembentukan waham tersebut, penderita tidak sadar bahwa ada kepercayaan
atau keyakinan yang tidak sesuai kenyataan yang mulai terbentuk. Selama dalam
proses pembentukan tersebut, semua data atau informasi yang tidak sesuai
dibuang, sedangkan data atau informasi yang sesuai dipakai untuk memperkuat
kepercayaan atau keyakinanannya tersebut. Misalnya, seseorang yang mulai
percaya bahwa ada seseorang diluar sana yang akan membunuhnya, maka
ketika ada orang yang tidak dikenal lewat didepan rumahnya, kenyataan itu
dipakai sebagai dasar meneguhkan kepercayaan bahwa ada seseorang ingin
membunuhnya.
e. Waham yang dipunyai kadang hanya berupa satu waham yang sederhana,
namun sering waham tersebut lebih dari satu dan rumit. Dalam perjalanannya,

waham tersebut bisa mengendap atau terbungkus rapi dan tidak muncul dalam
kehidupan sehari-hari. Penderita berperilaku seperti orang normal biasa. Kadang
f.

waham bisa berjalan beriringan dengan kenyataan.


Waham bisa juga hanya muncul dalam kondisi atau setelah mengalami kejadian
tertentu (misalnya: ketemu orang tertentu, sehabis dimarahi orang tuanya).

B. Klasifikasi
1. Waham sistematis
Konsisten, berdasarkan pemikiran mungkin terjadi walaupun hanya secara
teoritis.
2. Waham nonsistematis
Tidak konsisten, yang secara logis dn teoritis tdak mungkin terjadi.
Adapun jenis-jenis waham menurut Marasmis, stuart and sundeen ( 1998) dan
Keliat (1998) waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu:
a. Waham Agama adalah keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan,
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
b. Waham Kebesaran adalah keyakinan klien secara berlebihan bahwa klien
memiliki kebesaran / kekuasaan khusus.
c. Waham Curiga adalah klien yakin bahwa seseorang / kelompok yang berusaha
merugikan / mencederai dirinya
d. Waham Somatik adalah klien yakin bahwa bagian tubuhnya terganggu/ terserang
penyakit.
e. Waham dosa adalah klien yakin bahwa dirinya merasa berdosa dan selalu
f.

dibayangi perasaan bersalah dengan perbuatannya.


Waham Nihilistik adalah klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di
dunia/meninggal yang dinyatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan

kenyataan
g. Waham bizar
1

Sisip pikir : klien yakin ada ide pikiran orang lain yang dsisipkan di dalam
pikiran yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan

Siar pikir : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan
walaupun dia tidak menyatakan kepada orang tersebut, diucapkan beulang kali
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar.

C. Fase-Fase Waham
1 Lack of Selfesteen
Tidak ada pengakuan lingkungan dan meningkatnya kesenjangan antara
kenyataan dan harapan. Ex : perceraian->berumah tangga tidak diterima oleh
lingkungannya.

Control Internal Eksternal


Mencoba berfikir rasional, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan
kenyataan. Ex : seseorang yang mencoba menutupi kekurangan.
Environment support
Kerusakan control dan tidak berfungsi normal ditandai dengan tidak merasa
bersalah saat berbohong. Ex : seseorang yang mengaku dirinya adalah guru
tariAdanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungan, klien
merasa didukung, klien menganggap hal yang dikatakan sebagai kebenaran,

4
5

kerusakan control diri dan tidak berfungsi normal (super ego).


Fisik Comforting
Klien merasa nyaman dengan kebohongannya
Fase Improving
Jika tidak ada konfrontasi dan korelasi maka keyakinan yang salah akan
meningkat.

D. Etiologi
Townsend (1998, hal 158) menagatakan bahwa hal-hal yang menyebabkan
gangguan isi pikir : waham adalah ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain,
panic, menekan rasa takut stress yang berat yang mengancam ego yang lemah.,
kemungkinan factor herediter.
Secara khusus factor penyebab timbulnya waham dapat diuraikan dalam
beberapa teori yaitu :
a

Factor Predisposisi
Menurut Townsend (1998, hal 146-147) factor predisposisi dari perubahan isi
pikir : waham kebesaran dapat dibagi menjadi dua teori yang diuraikan sebagai
berikut :
1

Teori Biologis
a

Faktor-faktor genetic yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan


suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan
kelainan yang sama (orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).

Secara relative ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan


skizoprenia mungkin pada kenyataanya merupakan suaru kecacatan sejak
lahir terjadi pada bagian hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan
suatu kekacauan dari sel-sel pramidal di dalam otak dari orang-orang yang
menderoita skizoprenia.

Teori biokimia menyatakan adanya peningkata dupamin neorotransmiter


yang dipertukarkan mengahasilkan gejala-gejala peningkatan aktifitas yang

berlebihan dari pemecahan asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi


pada psikosis.
2

Teori Psikososial
a

Teori sistem keluarga Bawen dalam Townsend (1998) menggambarkan


perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga.
Komflik diantara suami istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam
anak akan menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansietas dan
suatu kondisi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu hubungan
yang saling mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan anakanak. Anak harus meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan
masuk kepada masa dewasa, dimana di masa ini anak tidak akan mampu
memenuhi tugas perkembangan dewasanya.

Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan


menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan.
Anak menerima pesan-pesan yang membingungkan dan penuh konflik dan
orang tua tidak mampu membentuk rasa percaya tehadap orang lain.

Teoti psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu


ego yang lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu hubungan saling
mempengaruhi orang tua dan anak . karena ego menjadi lebih lemah
penggunaan mekanisme pertahanan itu pada waktu kecemasan yang
ekstrem mennjadi suatu yang maladaptive dan perilakunya sering kali
merupakan penampilan dan sekmen diri dalam kepribadian.

Faktor Presipitasi
Menurut Stuart dan Sundeen (1998, hal 310) factor presipitasi dari perubahan
isi pikir : waham kebesaran yaitu :

Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan nerobiologis yang maladaptive
termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur
perubahan isi informasi dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam
otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi
rangsangan.

Stress lingkungan

Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang


berinteraksi

dengan

stressor

lingkungan

untuk

menentukan

terjadinya

gangguan prilaku.
3

Pemicu gejala
Pemicu yang biasanta terdapat pada respon neurobiologist yang maladaptive
berhubungan denagn kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu, seperti:
gizi buruk, kurang tidur,infeksi, keletihan, rasa bermusuhan atau lingkunag
yang penuh kritik, masalah perumahan, kelainan terhadap penampilan, stress
agngguan dalam berhubungan interpersonal, kesepian, tekanan, pekerjaa,
kemiskinan, keputusasaan dan sebaigainya.

E. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Kaplan dan Sadock (1997), kondisi klien yang mengalami waham
adalah:
a

Status mental
1) Pada pemeriksaan status mental, menunjukan hasil yang sangat normal,
kecuali bila ada sistem waham abnormal yang jelas.
2) Mood klien konsisten dengan isi wahamnya.
3) Pada waham curiga, didapatkan perilaku pencuriga.
4) Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang peningkatan
identitas diri, mempunyai hubungan khusus dengan orang yang terkenal.
5) Adapun sistem wahamnya, pemeriksa kemungkinan merasakan adanya
kualitas depresi ringan.
6) Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/ menetap,
kecuali pada klien dengan waham raba atau cium. Pada beberapa klien
kemungkinan ditemukan halusinasi dengar.
b. Sensori dan kognisi
1) Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali yang memiliki
waham spesifik tentang waktu, tempat dan situasi.
2) Daya ingat dan proses kognitif klien adalah intak (utuh).
3) Klien waham hampir selalu memiliki insight (daya titik diri) yang jelek.
4) Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan dirinya.
Keputusan terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan kondisi klien adalah
dengan menilai perilaku masa lalu, masa sekarang dan yang direncanakan.

III. Rentang Respon

A. PROSES TERJADINYA WAHAM


1. Proses berfikir merupakan suatu proses yang meliputi proses pertimbangan
(Judment), pemahaman (Comprehension), ingatan serta penalaran (Reasoning).
Proses berfikir yang normal mengandung arus idea, asosiasi dan simbul yang
terarah kepada tujuan dan yang dibandingkan oleh suatu masalah atau tugas dan
yang menghantarkan kepada suatu penyelesaian yang berorientasi pada
kenyataan.
2. Proses berfikir meliputi 3 aspek yaitu : bentuk pikiran, isi pikiran dan arus pikiran.
Berfikir merupakan aliran gagasan, simbul dan asosiasi yang diarahkan oleh
tujuan dimulai oleh suatu masalah atau tugas dan mengarah pada kesimpulan
yang berorientasi pada kenyataan. Dan waham merupakan kenyakinan tentang
sesuatu isi pikir yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan
intelegensi dan latar belakang kebudayaan, biarpun dibuktikan kemustahilannya.
1) Gangguan Bentuk Pikir
Dalam kategori ini termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional,
logik dan terarah kepada tujuan
a. Dereisme / pikiran Dereistik
Titik berat pada tidak adanya sangkut paut terjadi antara proses mental individu
dan pengalamannya yang sedang berjalan. Proses

mentalnya tidak sesuai

dengan atau tidak mengikuti kenyataan, logika atau pengalaman.


b. Pikiran Otistik
Menandakan bahwa penyebab distorsi arus asosiasi ialah dari dalam pasien itu
sendiri dalam bentuk lamunan, fantasi, waham atau halusinasi. Cara berfikir
seperti ini hanya akan memuaskan keinginannya yang tidak terpenuhi tanpa
memperdulikan keadaan sekitarnya. Hidup dalam alam pikirannya sendiri

c. Bentuk pikiran non realistic


Bentuk pikiran yang sama sekali tudak berdasarkan pada kenyataan, mengambil
sesuatu kesimpulan yang aneh dan tidak masuk akal.
2) Gangguan Arus Pikiran
Yaitu tentang cara dan lajunya proses asosiasi dalam pemikiran, yang timbul
dalam berbagai jenis :
a. Perseverasi : berulang-ulang menceritakan suatu idea, pikiran atau tema
secara berlebihan
b. Asosiasi longgar : mengatakan hal-hal yang tidak ada hubungannya satu
sama lain, umpamanya Saya mau makan semua orang dapat berjalanjalan. Bila ekstrem, maka akan terjadi inkoherensi.
c. Inkoherensi : gangguan dalam bentuk bicara, sehingga satu kalimat pun
sudah sukar di tangkap atau diikuti maksudnya.
d. Kecepatan bicara : untuk mengutarakan pikiran mungkin lambat sekali atau
sangat cepat
e. Benturan : pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti ditengah sebuah kalimat.
Pasien tidak dapat menerangkan mengapa ia berhenti
f.

Logorea : banyak bicara, kata-kata dikeluarkan bertubi-tubi tanpa kontrol,


mungkin koherent atau incoherent

g. Pikiran melayang (Flight of ideas) : perubahan yang mendadak lagi cepat


dalam pembicaraan, sehingga suatu idea yang belum selesai diceritakan
sudah disusul oleh idea yang lain
h. Asosiasi bunyi : mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi,
umpamanya pernah di dengar :Saya mau makan diutarakan seakan
berontak
i.

Neologisme : membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami oleh umum,


misalnya : saya radiltu, semua partinum.

j.

Irelevansi : isi pikiran atau ucapan yang tidak ada hubungannya dengan
pertanyaan atau dengan hal yang sedang dibicarakan

k. Pikiran berputar-putar (Circumstantiality) : menuju secara tidak langsung


kepada ide pokok dengan menambahkan banyak hal yang remeh-remeh
yang manjemuk dan yang tidak relexan.
l.

Main-main dengan kata-kata : menyajak (membuat sajak) secara tidak wajar .

m. Afasi : mungkin sensori ( tidak atai sukar mengerti bicaraorang lain) atau
motorik (tidak dapaat atau sukar bicara), sering kedua-duanya sekaligus daan
terjadi kerusakan otak
3) Gangguan Isi Pikir
Dapat terjadi baik pada isi pikiran non verbal maupun pada isi pikiran yang
diceritakan misalnya :
a. Kegembiraan yang luar biasa (Ecstasy) dapat timbul secara mengambang
pada orang yang normal selama fase permulaan narkosa (anastesi umum)
b. Fantasi : ialah isi pikiran tentang suatu keadaan atau kejadian yang
diharapkan

/ diinginkan, tetapi dikenal sebagai tidak nyata.

c. Fobia : rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang
tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahui bahwa hal
itu irasional adanya.
d. Obsesi : isi pikiran yang kukuh (Persistent) timbul, biarpun tidak
dikendalikannya dan diketahui behwa hal itu tidak wajar atau tidak mungkin.
e. Preokupasi : pikiran terpaku hanya pada sebuah ide saja, yang biasanya
berhubungan dengan keadaan yang bernada emosional yang kuat
f.

Pikiran yang tak memadai (Inadequate) : pikiran yang ekssentrik, tidak


cocok dengan banyak hal, terutama dalam pergaulan dan pekerjaan
seseorang.

g. Pikiran bunuh diri (Suicide thoughts / ideation) : mulai dari kadang-kadang


memikirkan hal bunuh diri sampai terus menerus memikirkan cara bagaimana
ia dapat membunuh dirinya.
h. Pikiran hubungan : pembicaraan orang lain, benda-benda atau sesuatu
kejadian dihubungankan dengan dirinya.
i.

Rasa terasing (Alienasi)

:perasaan bahwa dirinya sudah menjadi lain,

berbeda, asing, umpamanya heran siapakah dia itu sebenarnya, rasanya ia


berbeda sekali dari orang lain.
j.

Pikiran isolasi social (Social isolation) : rasa terisolasi, tersekat, terkunci,


terpencil dari masyarakat, rasa ditolak, tidak disukai oleh orang lain, rasa
tidak enakbila berkumpul dengan orang lain, lebih suka menyendiri.

k. Pikiran

rendah

diri

merendahkan,

menghinakan

dirinya

menyalahkan dirinya tentang suatu hal yang pernah atau


dilakukannya.

sendiri,

tidak pernah

l.

Merasa dirugikan oleh orang lain : mengira atau menyangka ada orang lain
yang telah merugikannya, sedang mengambil keuntungan dari dirinya atau
sedang mencelakakannya.

m. Merasa dirinya dalam bidang seksual : acuh tak acuh tentang hal seksual,
kegairahan seksual berkurang secara umum (hiposeksualitas)
n. Rasa salah : sering mengatakan bahwa ia telah bersalah ; ini bukanlah
waham dosa.
o. Pesimisme : mempunyai pandangan yang suram mengenai banyak hal dalam
bidangnya.
p. Sering curiga : mengutarakan ketidak percayaannya kepada orang lain ini
bukan waham curiga.
q. Waham

: keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan

kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang


kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilan hal itu.
IV. A. Pohon Masalah
Resiko tinggi mencederai diri

Perubahan isi pikir : waham

Tidak efektifnya koping individu

Akibat

Core Problem

Penyebab

B. Data yang Perlu Dikaji


Selama pengkajian, perawat harus mendengarkan, memerhatikan, dan
mendokumentasikan semua informasi, baik melalui wawancara maupun observasi
yang diberikan oleh pasien tentang wahamnya. Berikut merupakan beberapa contoh
pertanyaan yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengkaji pasien waham :
1. Apakah pasien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang-ulang diungkapkan dan
menetap?
2. Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah pasien
cemas secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?
3. Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda disekitarnya aneh dan tidak
nyata?
4. Apakah pasien pernah merasakan bahwaia berada di luar tubuhnya?

5. Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain? Apakah
pasien merasa bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh orang lain atau
kekuatan dari luar?
6. Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau kekuatan lainnya
atau yakn bahwa orang lain bisa membaca pikirannya?
V. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Proses Pikir: Waham

VI. Strategi Pelaksanaan

DIAGNOSA

TINDAKAN

WAHAM

PASIEN

1.
2.
3.
4.
5.

KELUARG 1.
A
2.
3.
4.
5.

PERTEMUAN
1
Identifikasi tanda dan gejala waham
Bantu orientasi realitas: panggil nama,
orientasi waktu, orang dan
tempat/lingkungan.
Diskusikan kebutuhan pasien yang tidak
terpenuhi.
Bantu pasien memenuhi kebutuhannya yang
realistis.
Masukkan pada jadual kegiatan untuk
pemenuhan kebutuhan.

2
3
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan
kebutuhan pasien dan berikan
kebutuhan pasien, kegiatan
pujian.
yang dilakukan pasien dan
2. Diskusikan kemampuan yang dimiliki.
berikan pujian.
3. Latih kemampuan yang dipilih dan
2. Jelaskan tentang obat yang
berikan pujian.
diminum (6 benar: jenis,
4. Masukkan pada jadual pemenuhan
guna, dosis, frekuensi, cara,
kebutuhan dan kegiatan yang telah
kontinuitas minum obat)
dilatih.
3. Masukkan pada jadual
pemenuhan kebutuhan,
kegiatan yang telah dilatih
dan obat.
Diskusikan masalah yang dirasakan dalam
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
1. Evaluasi kegiatan keluarga
merawat pasien.
membimbing pasien memenuhi
dalam membimbing
Jelaskan pengertian, tanda dan gejala, dan
kebutuhannya. Beri pujian.
memenuhi kebutuhan
proses terjadinya waham (gunakan
2. Latih cara memenuhi kebutuhan
pasien dan membimbing
booklet).
pasien.
pasien melaksanakan
Jelaskan cara merawat: tidak disangkal, tidak 3. Latih cara melatih kemampuan yang
kegiatan yang telah dilatih.
diikuti/diterima (netral).
dimiliki pasien.
Beri pujian.
Latih cara mengetahui kebutuhan pasien dan 4. Anjurkan membantu pasien sesuai
2. Jelaskan obat yang diminum
mengetahui kemampuan pasien.
jadual dan memberi pujian.
oleh pasien dan
Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan
caramembimbingnya.
memberi pujian.
3. Anjurkan membantu pasien
sesuai jadual dan memberi
pujian.

VII. Rencana Tindakan Keperawatan

4
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan
kebutuhan pasien, kegiatan yang
telah dilatih dan minum obat,
Berikan pujian.
2. Diskusikan kebutuhan lain dan cara
memenuhinya.
3. Diskusikan kemampuan yang dimiliki
dan memilih yang akan
dilatih.Kemudian latih.
3. Masukkan pada jadual pemenuhan
kebutuhan, kegiatan yang telah
dilatih dan obat.
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
membimbing memenuhi
kebutuhan pasien, membimbing
pasien melaksanakan kegiatan
yang telah dilatih dan minum obat.
Beri pujian.
2. Jelaskan follow up ke PKM, tanda
kambuh dan rujukan.
3. Anjurkan membantu pasien sesuai
jadual dan memberi pujian.

5 S.D 12
1. Evaluasi kegiatan
pemenuhan kebutuhan
pasien, kegiatan yang
dilatih dan minum obat,
Berikan pujian.
3. Nilai kemampuan yang
telah mandiri.
4. Nilai apakah waham
terkontrol.

1. Evaluasi kegiatan keluarga


dalam membimbing
memenuhi kebutuhan
pasien, membimbing
pasien melaksanakan
kegiatan yang telah
dilatih dan minum obat.
Beri pujian.
2. Nilai kemampuan keluarga
merawat pasien.
3. Nilai kemampuan keluarga
melakukan kontrol ke
PKM.

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


KLIEN DENGAN PERUBAHAN PROSES PIKIR : WAHAM

Nama Klien

No CM :

Tgl

No Dx

DX Medis

: ..

Ruangan

: ..

Perencanaan

Dx
Keperawatan

Tujuan

TUM: .

.
B.d.
Waham
.

Kriteria Evaluasi

Intervensi

1. Setelah x interaksi klien:


Mau menerima kehadiran perawat
di sampingnya.
Menyatakan
mau
menerima
bantuan perawat
Tidak menunjukkan tanda-tanda
curiga

1. Bina hubungan saling percaya


dengan klien:
Beri salam
Perkenalkan
diri,
tanyakan
nama serta nama panggilan
yang disukai.
Jelaskan tujuan interaksi
Yakinkan dia dalam keadaan
aman
dan
perawat
siap
menolong dan mendampinginya
Yakinkan bahwa kerahasiaan
klien akan tetap terjaga
Tunjukkan sikap terbuka dan
jujur
Perhatikan keb dasar dan beri
bantuan u/ memenuhinya
1. Bantu klien untuk mengungkapkan
perasaan dan fikirannya.
Diskusikan
dengan
klien

TUK:
1.
Klien
dapat
membina hubungan
saling
percaya
dengan perawat

2.
Klien
dapat
mengidentifikasi

2. Klien menceritrakan ide-ide dan


perasaan yang muncul secara
berulang dalam fikirannya.

perasaan
muncul
berulang
pikiran klien.

yang
secara
dalam

(Setelah 2 X interaksi)

3.
Klien
dapat
mengidentifikasi
stressor/pencetus
wahamnya. (Triggers
Factor)

3. Klien dpt menyebutkan kejadiankejadian sesuai dengan urutan waktu


serta harapan/kebutuhan-nya yg tdk
terpenuhi seperti : Harga diri, rasa
aman dsb.
(2 X interaksi)

4.
Klien
dapat
mengidentifikasi
wahamnya

4. Klien
dapat
membedakan
pengalaman
nyata
dengan
pengalaman wahamnya.
(3x interaksi)

pengalaman
yang
dialami
selama ini termasuk hubungan
dengan orang yang berarti,
lingkungan kerja, sekolah, dsb.
Dengarkan pernyataan klien
dengan
empati
tanpa
mendukung
/
menentang
pernyataan wahamnya.
3. Bantu klien untuk mengidentifikasi
kebutuhan yang tidak terpenuhi
serta kejadian yang menjadi factor
pencetus
Diskusikan dengan klien tentang
kejadian-kejadian
transmatik
yang menimbulkan rasa takut,
anxietas maupun perasaan tidak
dihargai.
Diskusikan dengan klien caracara mengatasi situasi tersebut.
Diskusikan dengan klien apakah
ada
halusinasi
yang
meningkatkan fikiran / perasaan
yang terkait wahamnya.
Hubungkan
kejadian-kejadian
tersebut dengan wahamnya.
4. Bantu
klien
mengidentifikasi
keyakinannya yang salah tentang
situasi yang nyata (bila klien sudah
siap)
Diskusikan
dengan
klien
pengalaman wahamnya tanpa
berargumentasi
Katakan kepada klien akan
keraguan perawat terhadap

5.
Klien
dapat
mengidentifikasi
konsekuensi
dari
wahamnya
(2x
interaksi)

5. Klien dapat menjelaskan gangguan


fungsi
hidup
sehari-hari
yang
diakibatkan ide-ide / fikirannya yang
tidak sesuai dengan kenyataan
seperti :
o Hubungan dengan orang lain
o Pekerjaan
o Sekolah
o Prestasi, dsb

6. Klien melakukan
teknik distraksi sbg
cara menghentikan
pikiran yg terpusat
pada wahamnya

6. Klien dapat melakukan aktivitas yang


konstruktif yang dapat mengalihkan
fokus klien dari wahamnya, sesuai
dengan minatnya (3X interaksi)

pernyataan klien
Diskusikan dengan klien respon
perasaan terhadap wahamnya
Diskusikan frekuensi, intensitas
dan durasi terjadinya waham
Bantu klien membedakan situasi
nyata dengan situasi yang
dipersepsikan salah oleh klien
5. Diskusikan
dengan
klien
pengalaman-pengalaman
yang
tidak
menguntungkan
sebagai
akibat dari wahamnya seperti :
Hambatan dalam berinteraksi dg
orang lain
Perubahan
dalam
prestasi
kerja / sekolah
Ajak klien melihat bahwa waham
tersebut adalah masalah yang
membutuhkan bantuan dari
orang lain
Diskusikan
dengan
klien
orang/tempat ia minta bantuan
apabila wahamnya timbul / sulit
dikendalikan.
6.1.
Motivasi klien memilih dan
melakukan
aktivitas
yang
membutuhkan
perhatian
dan
ketrampilan fisik
6.2.
Bicara dengan klien topik-topik
yang nyata
6.3.
Diskusikan hobi/aktivitas yang
disukainya
6.4.
Ikut sertakan klien dalam
aktivitas fisik yang membutuhkan

7.
Klien
dapat
dukungan keluarga

7.1.
Keluarga
dapat
menjelaskan
tentang pentingnya cara-cara merawat
klien di rumah
7.2.
Keluarga dapat menjelaskan caracara merawat klien di rumah.
(4X pertemuan)

8. Klien dan keluarga


dapat menggunakan
obat dengan benar

8. Klien dapat menggunakan obat dengan


benar termasuk :

Nama dan orangnya


Jenis obat
Dosis
Cara penggunaan obat
Waktu
Side efek dan tindakan yang harus
dilakukan bila terjadi efek samping
obat
(3X interaksi)

perhatian sebagai pengisi waktu


luang
6.5.
Bertanggung
jawab
secara
personal dalam mempertahankan /
meningkatkan
kesehatan
dan
pemulihannya
6.6.
Beri penghargaan bagi setiap
upaya klien yang positif
7. Diskusikan
dengan
keluarga
tentang :
Pengertian waham
Penyebab
Gejala
Cara merawat
Follow up dan obat
6.7.
Klien dengan kesadaran sendiri
mau mentaati program terapi medik
8. Jelaskan dengan klien / keluarga
pentingnya obat bagi kesehatan
klien
9. Diskusikan dengan klien jenis obat,
cara penggunaannya, side efek
obat serta kapan dia harus minta
pertolongan apabila terjadi sesuatu
yang tidak diinginkan sebagai
dampak pemakaian obat
10. Jelaskan kepada klien / keluarga
bahwa pemberhentian / perubahan
dosis harus sepengetahuan dan
saran dari dokter yang merawat.