Anda di halaman 1dari 16

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA


LAPORAN PENDAHULUAN
Risiko Bunuh Diri
I. Kasus ( Masalah Utama )
Resiko Bunuh Diri
II. Proses terjadinya masalah
A. Definisi
a. Definisi Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Perilaku bunuh diri yang tampak pada seseorang
disebabkan karena stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme koping yang
digunakan dalam mengatasi masalah (Keliat, 1993).
b. Menurut Stuard dan Sundeen (1995) bunuh diri adalah suatu keadaan dimana
individu mengalami risiko untuk menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan
yang dapat mengancam nyawa.
c. Bunuh diri ini adalah perilaku destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak
dicegah dapat mengarah pada kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup
setiap bentuk aktivitas bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari
hal ini sebagai suatu yang diinginkan. Ungkapan bunuh diri dapat dibedakan
menjadi 3, yaitu : 1) suicide attemp atau upaya bunuh diri adalah dengan sengaja
melakukan kegiatan tersebut, bila dilakukan sampai tuntas akan menimbulkan
kematian 2) suicide gesture atau isyarat bunuh diri adalah bunuh diri yang
direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain 3) suicide threat
atau ancaman bunuh diri adalah suatu peringatan baik secara langsung atau tidak
langsung, verbal atau tidak verbal bahwa seseorang sedang mengupayakan
bunuh diri (Yosep, 2011).
d. Pada kasus resiko bunuh diri, klien secara sadar bertujuan mengakhiri hidupnya
dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk meninggal. Klien menunjukkan
perilaku bunuh diri meliputi isyarat isyarat, percobaan, atau ancaman verbal,
yang akan mengakibatkan kematian, luka, atau menyakiti diri sendiri (Clinton,
1995 dalam Yosep, 2010).

B. Etiologi

Stressor pencetus bunuh diri sebagian besar adalah kejadian memalukan,


masalah interpersonal, dipermalukan di depan umum, kehilangan pekerjaan,
ancaman penjara dan yang paling penting adalah mengetahui cara-cara bunuh diri.
Faktor resiko secara psikososial : putus asa, ras, jenis kelamin laki-laki, lansia, hidup
sendiri, klien yang memiliki riwayat pernah mencoba bunuh diri, riwayat keluarga
bunuh diri, riwayat keluarga adiksi obat, diagnostic : penyakit kronis, psikosis,
penyalahgunaan zat.
Faktor yang mempengaruhi bunuh diri

Faktor Predisposisi
Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan faktor
predisposisi, artinya mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi perilaku
kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu :
1. Psikologis
Kegagalan yang di alami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat
timbul agresif atau amuk.Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu
perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau saksi penganiayaan.
2. Perilaku
Reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering
mengobservasi kekerasan dirumah atau di luar rumah. Semua aspek ini
menstimulasi individu untuk mengadopsi perilaku kekerasan.
3. Social budaya
Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dari control social
yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah
perilaku kekerasan diterima (permissive)
4. Bioneurologis
Banyak pendapat bahwa kerusakan lobus frontalis, lobus temporal dan
ketidakseimbangan

neurotransmitter

juga

berperan

dalam

perilaku

kekerasan.
5. Diagnostik psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tipe gangguan jiwa yang membuat
individu beresiko untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan
afektif, penyalahgunaan zat, skizofrenia.
6. Sifat kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh
diri adalah antipasti, impulsive dan depresi
7. Lingkungan psikososial
Factor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah
pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan social, kejadian-kejadian

negative

dalam

hidup,

penyakit

kronis,

perpisahan

atau

bahkan

perceraian,kekuatan dukungan social sangat penting dalam menciptakan


intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab
masalah, respon seseorang dalam menghadapi masalah tersebut , dan lainlain.
8. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan factor
penting yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri
9. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotonin,
adrenalin dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui
rekam gelombang Electro Enchepalo (EEG)

Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi
dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik),
keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi
penyebab perilaku kekerasan.
Demikian pula dengan situasi yang yang rebut, padat, kritikan yang
mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang di cintai / pekerjaan dan
kekerasan merupakan factor penyebab yang lain. Interaksi social yang provokatif
dan konflik dapat memicu perilaku kekerasan.
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami oleh
individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang memalukan. Factor
lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media
mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi
individu yang emosinya labil, hal tersebut bisa sangat rentan.

Faktor faktor lain yang mempengaruhi bunuh diri


1) Faktor mood dan biokimiawi otak
Ghanshyam Pandey beserta timnya dari university of Illinois, Chicago, menemukan
bahwa aktivitas enzim di dalam pikiran manusia bisa memperngaruhi mood yang
memicu keinginan mengakhiri nyawanya sendiri.Pandey mengetahui fakta tersebut
setelah melakukan eksperimen terhadap 34 remaja yang 17 diantaranya meninggal
akibat bunuh diri. Ditemukan bahwa tingkat aktivitas protein kinase C ( PKC ) pada

otak pelaku bunuh diri lebih rendah dibanding mereka yang meinggal bukan karena
bunuh diri. Temuan yang dipublikasikan di Jurnal Achives of General Psychiatry
menyatakan PKC merupakan komponen yang berperan dalam komunikasi sel,
terhubung erat dengan gangguan mood seperti depresi masa lalu.
2) Faktor riwayat gangguan mental
Pandey dan timnya sangat tertarik untuk mengetahui kaitan lain antara PKC dengan
kasus bunuh diri di kalangan remaja belasan tahun. Dari 17 remaja yang meninggal
akibat bunuh diri, Sembilan di antaranya memiliki sejarah gangguan mental. Delapan
yang lain tidak mempunyai riwayat gangguan psikis, namun dua diantaranya
mempunyai sejarah kecanduan alcohol dan obat terlarang.
3) Faktor meniru, imitasi dan pembelajaran
Gangguan kejiwaan memang dipengaruhi pula oleh factor genetic. Tidak secara
otomatis tetapi melalui proses yang berlangsung secara genetic yang mempengaruhi
proses biologis juga.
Dalam kasus bunuh diri, dikatakan ada proses pembelajaran. Para korban memiliki
pengalaman dari salah satu keluarganya yang pernah melakukan percobaan bunuh
diri atau meninggal karena bunuh diri. Tidak hanya itu bisa juga terjadi pembelajaran
dari pengetahuan lainnya .
4) Faktor Isolasi social dan Human Relations
Orang memilih bunuh diri secara umum oleh stress dikarenakan kegagalan
beradaptasi. Ini dapat terjadi di lingkungan, keluarga, sekolah, pergaulan dalam
masyarakat,dan sebagainya. Demikian pula bila seseorang merasa terisolasi,
kehilangan

hubungan

atau

terputusnya

hubungan

dengan

orang

yang

disayangi.Padahal hubungan interpersonal merupakan sifat alami manusia.Bahkan


bunuh diri bisa dikarenakan karena perasaan bersalah. Suami membunuh istri,
kemudian dilanjutkan dengan membunuh dirinya sendiri, bisa dijadikan contoh kasus
5) Faktor Hilangnya rasa aman dan ancaman kebutuhan dasar
Rasa tidak aman merupakan penyebab terjadinya banyak kasus bunuh diri di Jakarta
dan sekitarnya akhir-akhir ini.Tidak adanya rasa aman untuk menjalankan usaha
bagi warga serta ancaman terhadap tempat tinggal mereka berpotensi kuat
memunculkan gangguan kejiwaan seseorang hingga tahap bunuh diri.
6) Faktor Religiusitas
Bunuh diri merupakan sebagai gejala tipisnya iman atau kurang begitu memahami
ilmu agama.Memperkuat keimanan dan pendalaman masalah keagamaan salah satu
jalan keluarnya.Dengan alasan apapun dan di agama mana pun, bunuh diri di
pandang dosa besar dan mengingkari kekuasaan Tuhan.Di Eropa, Swiss, Negara
yang tergolong paling makmur itu, bunuh diri menempati urutan ketiga di banding
kematian yang disebabkan oleh kanker.Ironisnya pelaku lebih banyak dari kalangan
terdidik

ketimbang

awam.Secara

global,

jumlah

angka

bunuh

diri

terus

meningkat.Kenyataan tingginya angka bunuh diri di Negara maju itu menyiratkan,

dengan kehidupan spiritualis yang porak poranda, kasus bunuh diri sangat
signifikan.Di jerman barat, kematian lewat bunuh diri mencapai 6000 orang tiap
tahun.Begitulah nuansa kehidupan kalangan orang yang tidak mempercayai adanya
Tuhan sebagai pengatur seluruh alam semesta dan hidup ini.

C. Tanda dan Gejala


Menurut Direja (2011) Tanda Gejala Resiko Bunuh Diri adalah sebagai
berikut:
Observasi:

Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat.
Sering pula tampak klien memaksakan kehendak (memukul jika tidak
senang).

Wawancara:

Mempunyai ide untuk bunuh diri


Mengungkapkan keinginan untuk mati, mengungkapkan rasa bersalah dan

keputusasaan, impulsive, dan memiliki riwayat percobaan bunuh diri


Verbal terselubung (bebicara tentang kematian, menanyakan tentang obat

dosis mematikan)
Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah, dan

mengasingkan diri)
Kesehatan mental (secara klinis klien terlihat sebagai orang depresi, psikosis,

dan menyalahgunakan alkohol).


Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal)
Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami

kegagalan dalam karier)


Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan)

Konflik interpersonal

Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil

E. Intensitas Bunuh Diri


Intensitas bunuh diri yang dikemukakan oleh Bailey dan Dreyer (1997, dikutip
oleh shivers, 1998,hal 475). Mengkaji intensitas bunuh diri yang disebut SIRS
(Suicidal Intertion Rating Scale). , intensitas bunuh diri dengan skor 0-4 dijelaskan
pada tabel (Suicidal Intertion Rating Scale).

Skor

Intensitas

Tidak ada ide bunuh diri yang lalu atau sekarang

Ada ide bunuh diri, tidak ada percobaan bunuh diri, tidak
mengancam bunuh diri

Memikirkan bunuh diri dengan aktif, tidak ada percobaan bunuh

diri
Mengancam bunuh diri, misalnya : Tinggalkan saya sendiri atau

saya bunuh diri.


Aktif mencoba bunuh diri

III.

Rentang Respon

RENTANG RESPON PROTEKTIF DIRI

Respon Adaptif
Peningkatan
Beresiko
diri

destruktif

Perilaku
destruktif diri

Respon Maladaptif
Pencederaa
Bunuh diri
n diri

tidak
langsung

Rentang respon protektif diri menurut Keliat (1999) :

Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara
wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri.Sebagai
contoh seseorang mempertahankam diri dari pendapatnya yang
berbeda mengenal loyalitas terhadap pemimpin di tempat kerjanya.

Beresiko destruktif
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku
destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang
seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa
patah semangat kerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap

pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.


Perilaku destruktif diri tidak langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladptive)
terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan
diri. Misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang
tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau

bekerja seenaknya dan tidak optimal.


Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri

akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.


Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang (Direja, 2011).

IV.

A. Pohon masalah
Berdasarkan model stress dan adaptasi
Faktor Predisposisi
`

Respon Fisiologis:
Biologis
Psikologis
Sistem kardiovaskuler :
Faktor Presipitasi
palpitasi, TD meningkat,
nadi meningkat
Kehilangan
/menurun,kasih
pingsan.
Kejadian penting
Banyaknya peran
Respon
Kognitif:
secara
kehidupan
sayang
Saluran
perafasan : Nafas dalam
dn konflik peran
Gangguan
perhatian,dapat
nyata
atau
seseorang
sebagai
cepat,
dangkal, dada
hilang
konsentrasi, mempengaruhi
bayangan,
termasuk
keadaan
yang
terasa tertekan.
pelupa,
salah tafsir, berkembangnya
kehilangan
cinta
Respon
mendahului
episode
Neuromuskuler :
bloking,
seseorang,
fungsi
Perilaku:hingga
depresi
dan lahan
depresi
peningkatan
reflek,
persepsi
menurun, menimbulkan
tubuh,
statusketakutan,
atau
Gelisah,
mempunyai
dampak
insomnia,
produktifitas
harga
diri.
ketegangan
pada
masalah
saat
keinginan
untuk
gelisah, kelemahan,
bingung bunuh
fisik,
ini. menurun,
diri.tremor,
gerakan janggal.
Penilaian
Terhadap
Stressor
dan kekhawatiran
gugup, bicara

Gastrointestinal : nafsu
meningkat,
cepat, tidak
makan hilang, nausea,
obyektifitas
ada koordinasi,
muntah.
menghilang.
terhambat

Saluran Kemih :
melukukan
inkontinensia, sering
aktifitas.
kencing.

Sistem kulit : tangan


berkeringat, gatal-gatal,
rasa panas dingin pada
kulit, muka pucat,
keringat sekujur tubuh.

Sosial budaya

Kurangnya
sumber
pendukung
social,
menambah
stress
individu.

Ketidak
seimbangan
metabolisme
dapat
menimbulkan
gangguan alam
perasaan.

diagnosa
Respon Afektif:
Gelisah,
ketakutan
meningkat,
perasaan
dangkal.

Respon sosial:
Menarik diri
dan
menghindar.

Sumber Koping
Dukungan sosial
Dukungan emosional dan
bantuan yang didapatkan
untuk penyelesaian
masalah yang menjadi
penyebab timbulnya
keinginan klien untuk
bunuh diri.

I.
II.
Aset materi :

Kemampuan
personal :
ketrampilan yang
dimiliki klien.

modal ekonomi yang


dimiliki klien

Keyakinan positif :
Teknik pertahanan
dan motivasi.

Mekanisme Koping

acceptance

Denial, represi,
mania, disosiasi,
supresi.

Rentang Respon Koping


Respon Adaptif

Respon Maladaptif

B. Data yang Perlu Dikaji

Masalah Keperawatan
Resiko Bunuh Diri

Data Yang Perlu Dikaji


Subjektif:

Mengungkapkan keinginan bunuh diri.

Mengungkapkan keinginan untuk


mati.

Mengungkapkan rasa bersalah dan


keputusasaan.

Ada riwayat berulang percobaan


bunuh diri sebelumnya dari keluarga.

Berbicara tentang kematian,


menanyakan tentang dosis obat yang
mematikan.

Mengungkapkan adanya konflik

interpersonal.

Mengungkapkan telah menjadi korban

perilaku kekeasan saat kecil.


Objektif:

Impulsif.

Menunujukkan perilaku yang


mencurigakan (biasanya menjadi
sangat patuh).

Ada riwayat panyakit mental (depesi,


psikosis, dan penyalahgunaan
alcohol).

Ada riwayat penyakit fisik (penyakit


kronis atau penyakit terminal).

Pengangguran (tidak bekerja,


kehilangan pekerjaan, atau kegagalan
dalam karier).

Umur 15-19 tahun atau diatas 45


tahun.

Status perkawinan yang tidak


harmonis.

V.
`

Diagnosa Keperawatan
Resiko Bunuh Diri

DX
RESIKO
BUNUH
DIRI

PASIEN
PASIEN

1.

2.

1
Identifikasi beratnya masalah
resiko bunuh diri: isyarat,
ancaman, percobaan (jika
percobaan segera rujuk).
Identifikasi benda-benda
berbahaya dan mengamankannya

1.
2.

2
Evaluasi kegiatan berpikir positif 1.
tentang diri sendiri. Beri pujian.
Kaji ulang resiko bunuh diri.
Latih cara mengendalikan diri
dari dorongan bunuh diri: buat 2.
daftar aspek positif keluarga dan

PERTEMUAN
3
Evaluasi kegiatan berpikir positif 1.
tentang diri, keluarga dan
lingkungan. Beri pujian. Kaji
resiko bunuh diri.
Diskusikan harapan dan masa 2.
depan.

Evalu
tenta
lingk
dipili
Latih
menc

3.

4.

KELUARGA 1.
2.

3.
4.

5.

(lingkungan aman untuk pasien).


Latihan cara mengendalikan diri
dari dorongan bunuh diri: buat
daftar aspek positif dari diri sendiri,
latihan afirmasi/berpikir aspek
positif yang dimiliki.
Masukkan pada jadual latihan
berpikir positif 5 kali per hari.

Diskusikan masalah yang 1.


dirasakan dalam merawat klien.
Jelaskan pengertian,
tanda dan gejala, dan proses
terjadinya resiko bunuh diri
(gunakan booklet).
2.
Jelaskan cara merawat
resiko bunuh diri.
Latih cara memberikan
pujian hal positif pasien,
memberikan dukungan
pencapaian masa depan.
3.
Anjurkan membantu
pasien sesuai jadual dan
memberikan pujian.

VI. Strategi Pelaksanaan

3.

lingkungan, latih afirmasi/berpikir 3.


aspek positif keluarga dan
lingkungan.
4.
Masukkan pada jadual latihan
berpikir positif tentang diri,
keluarga dan lingkungan.
5.

Diskusikan cara mencapai


3.
harapan dan masa depan.
Latih cara-cara mencapai
harapan dan masa depan
secara bertahap (setahap demi
setahap).
Masukkan pada jadual latihan
berpikir positif tentang diri,
keluarga dan lingkungan dan
tahapan kegiatan yang diplih.

Masu
latiha
diri, k
serta
menc

Evaluasi kegiatan
1.
keluarga dalam memberikan pujian
dan penghargaan atas
keberhasilan dan aspek positif
pasien. Beri pujian.
Latih cara memberikan 2.
penghargaan pada pasien dan
menciptakan suasana positif
dalam keluarga, tidak
membicarakan keburukan anggota 3.
keluarga.
Anjurkan membantu
pasien sesuai jadual dan memberi
pujian.

Evaluasi kegiatan keluarga


1.
dalam memberikan pujian dan
penghargaan pada pasien serta
menciptakan suasana positif
dalam keluarga. Beri pujian.
Bersama keluarga berdiskusi
dengan pasien tentang harapan
masa depan serta langkah2.
langkah mencapainya .
Anjurkan membantu pasien
sesuai jadual dan memberi
pujian.
3.

Evalu
dalam
peng
suas
dan
menc
Beri
Bers
tenta
untuk
depa
Jelas
tanda
Anju
sesu
pujia

4.

DAFTAR PUSTAKA

Direja AHS. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.


Keliat, B. A. 1999. Penatalaksanaan Stress. Jakarta: EGC Medika.
NANDA International Nursing Diagnosis 2009 2011
Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.). St.Louis Mosby
Year Book, 1995.
Yosep, Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung : PT Refika Aditama.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


KLIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Klien tampak murung dan sedih serta tidak mau bicara. Klien dinyatakan
menderita carcinoma pulmo. Klien menyatakan bahwa ingin tetap hidup tetapi di
lain waktu, klien menyatakan lebih baik mati karena sudah tidak tahan merasakan
sakit akibat penyakitnya. Klien memiliki riwayat percobaan bunuh diri dengan
memotong urat nadinya menggunakan silet. Tiga bulan yang lalu, klien juga
pernah meminta kepada dokter untuk menyuntikkan zat berbahaya ke dalam
tubuhnya agar klien bisa segera mengakhiri hidupnya.
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko bunuh diri b.d adanya penyakit fisik dan nyeri kronis
3. Tujuan Khusus
Meningkatkan motivasi klien untuk hidup dengan menyadarkan klien tentang
aspek positif dirinya dan menghargai dirinya
4. Tindakan keperawatan
Mengidentifikasi aspek positif pasien
Mendorong pasien untuk berpikir positif terhadap diri
Mendorong pasien untuk menghargai diri sebagai individu yang berharga
B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
ORIENTASI
1) Salam terapeutik
Selamat pagi / siang/ sore/ malam pak, dengan Bapak X ya? Perkenalkan pak,
nama saya perawat N, saya perawat yang akan dinas untuk shift kali ini.
Bagaimana kabar bapak hari ini ?
Saya ingin bercakap cakap dengan bapak, bapak bersedia ya?. Saya tidak
akan menceritakan hal yang kita bicarakan kepada sembarang orang, hanya
bapak, saya, dan perawat yang bertugas yang bisa mengetahui pembicaraan
kita.
2) Evaluasi / Validasi
Pak, Apa yang bapak rasa menyenangkan hari ini ? bersediakah bapak
menceritakannya pada saya ?
Pak, selama ini, apa kegemaran / hobi yang senang bapak lakukan ?
Pak, bisakah bapak menceritakan pada saya, hak hal apa saja yang bisa
membuat bapak merasa senang atau berbahagia ?.
Mana hal yang ingin bapak ceritakan terlebih dahulu?
Dari pertanyaan di atas, kita menjelaskan rasionalnya . Saya harap bapak
bersedia menceritakan semua yang bapak rasakan, supaya bersama- sama , kita
bisa mengetahui potensi dan hal positif apa yang sebenarnya dimiliki oleh bapak.
3) Kontrak : Topik, waktu, dan tempat

Pak , kita akan membicarakan hal yang sudah kita sepakati ya, yaitu tentang
hobi bapak, hal yang membuat bapak bahagia, dan hal yang menyenangkan
bapak hari ini .
Bapak , supaya kita bicaranya lebih nyaman, bapak ingin kita bercakap cakap
dimana?.
Bapak, untuk sesi kali ini, kita akan bercakap cakap selama 15 menit.
KERJA: Langkah- langkah tindakan keperawatan
Langkah- langkah tindakan
No
1.

Tindakan Keperawatan Untuk Pasien


Mengidentifikasi aspek positif pasien

keperawatan
Perawat

mendengarkan

dengan

antusias saat klien berbicara


Setelah Klien selesai berbicara,
perawat merangkum hal hal yang
sudah

diceritakan

klien

yang

berhubungan dengan hal hal


positif yang dimiliki klien. Misal
wah, ternyata, dari cerita bapak
tadi, bapak punya banyak hobi dan
keahlian

ya,

bapak

juga

bisa

melakukan ini dan itu, wah , luar


biasa lho pak. Bapak ternyata
punya keahlian dan banyak hal
positif atau misalnya wah, bapak
ternyata

senang

ya

kalau

dikunjungi oleh anak anaknya,


apalagi

anak

bapak

sering

mengunjungi bapak, wah, anak


bapak perhatian ya pak
Setelah itu kita meminta klien untuk
menuliskan hal hal positif yang
sudah ditemukan bersama. Misal
Wah, ternyata, banyak hal positif
yang bisa bapak lakukan

dan

banyak hal yang bisa membuat


bapak bahagia, bagaimana kalau
bapak menuliskan semuanya di
papan/

kertas

menuliskannya,

ini

bapak

dengan
bisa

menyadari bahwa ternyata banyak


2.

Mendorong pasien untuk berpikir positif


terhadap diri

kelebihan yang bapak miliki


Menyadarkan klien bahwa dengan
apa yang dialami atau dideritanya,
klien masih bisa melakukan banyak
hal

yang

keahlian

bermanfaat

atau

hal

sesuai

positif

yang

dimilikinya. Misal Bapak, dari hal


yang

sudah

bapak

tuliskan,

ternyata banyak ya pak keahlian


yang bapak punya, ini tentunya
akan sangat bermanfaat bagi orang
lain

jika

bapak

mau

mengembangkan hal ini, walau


dengan kondisi bapak sekarang,
jika

bapak

mengembangkan

minatnya, bapak bisa berguna dan


3.

Mendorong pasien untuk menghargai


diri sebagai individu yang berharga

bermanfaat untuk orang lain.


Menyadarkan bahwa pasien itu
berharga, misal keluarga bapak
sangat menyayangi bapak,mereka
pasti senang kalau melihat bapak
tetap semangat untuk hidup dan
tidak menyerah, semangat bapak
pasti

akan

keluarga

menjadi
bapak,

semangat
sebaliknya,

meraka pasti akan sangat sedih


kalau

melihat

semangat

hidup

bapak
atau

tidak
bahkan

mencoba mencelakai diri.


TERMINASI
1) Evaluasi Respon klien terhadap tindakan keperawatan
Subjektif :
Bapak bisa menyebutkan lagi kelebihan kelebihan yang bapak miliki ?seperti
yang sudah kita identifikasi bersama tadi
Bagaimana perasaan bapak, setelah kita bercakap cakap tadi ?
Objektif : Mengkaji tingkat kecemasan klien
2) Tindak lanjut klien

Meminta klien untuk mengingat ingat kelebihan lain yang dimiliki klien, yang
mungkin belum teridentifikasi di pertemuan sp2 ini, serta meminta klien untuk
menuliskan semua hal positif tadi serta mengembangkan hal positif tadi menjadi
sesuatu yang bermanfaaat sesuai kemampuan klien.
Pak, setelah pertemuan kita ini, untuk lebih mengenali tentang hal positif dalam
diri bapak, akan sangat baik jika bapak menuliskan kegiatan / hal bermanfaat apa
yang bisa bapak kembangkan dari daftar yang sudah bapak tulis. Bapak juga bisa
menambahkan hal positif lain yang bapak punya, yang mungkin belum tertulis di
daftar ini, nanti kita akan membahasnya bersama di pertemuan berikutnya.
3) Kontrak yang akan datang
Bapak, untuk pertemuan kali ini, bisa kita akhiri dulu, saya senang sekali bisa
berbincang dengan bapak, besok hari...... tanggal..... kita akan melanjutkan ke
pertemuan ke tiga ya pak, sekaligus kita akan membahas PR yang sudah bapak
tulis. Karena saya dinas dari jam .... sampai jam ....., jam berapa bapak ingin
pertemuan selanjutnya dilaksanakan ? dimana tempat yang bapak inginkan ?.
Terimakasih atas waktunya ya pak, jangan lupa PR nya dikerjakan ya pak.