Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

PASIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL


DI KECAMATAN BANTUR, MALANG
DEPARTEMEN JIWA

OLEH:
DINA MUKMILAH MAHARIKA 115070201131024

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2015

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNVERSITAS BRAWIJAYA
LAPORAN PENDAHULUAN
Isolasi Sosial
I.
II.

Kasus (Masalah Utama) :


Isolasi sosial
Proses terjadinya masalah :
A. Definisi
a.
Isolasi sosial suatu keadaan dimana individu atau kelompok
mengalami

atau

merasakan

keinginan

untuk

meningkatkan

keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat


kontrak (Carpenito, 1997).
b.
Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun
komunikasi dengan orang lain (Keliat, 1998 dalam Yosep, 2010)
c.Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang
terjadi

akibat

adanya

kepribadian

yang

tidak

fleksibel

yang

menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang


dalam hubungan sosial (Depkes RI, 2000)
d.
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan
orang lain disekitarnya. (Yosep, 2010)
e.
Isolasi sosial merupakan keadaan kesepian yang dialami oleh
seseorang karena orang lain dianggap menyatakan sifat negative dan
mengancam dirinya (Townsend, 1998)
b. Pada pasien dengan perilaku menarik diri sering melakukan kegiatan
yang ditujukan untuk mencapai pemuasan diri, dimana pasien
melakukan usaha untuk melindungi diri sehingga ia jadi pasif dan
berkepribadian kaku, pasien menarik diri juga melakukan pembatasan
(isolasi diri), termasuk juga kehidupan emosionalnya, semakin sering
pasien menarik diri, semakin banyak kesulitan yang dialami dalam
mengembangkan hubungan sosial dan emosional dengan orang lain
(Nasution, 2004).
B. Penyebab
Penyebab seseorang mengalami isolasi sosial adalah sebagai
berikut:
a) Pola asuh keluarga (pattern of parenting)

Missal : pada anak yang kelahirannya tidak dikehendaki (unwanted


child) akibat kegagalan KB, hamil di luar nikah, jenis kelamin yang tidak
diinginkan, bentuk fisik kurang menawan mnyebabkan keluarga
mengeluarkan

komentar-komentar

negative,

merendahkan,

menyalahkan anak.
b) Koping individu tidak efektif (ineffective coping)
Misal : saat indi
vidu
menghadapi
kegagalan

dan

cenderung

menyalahkan orang lain, ketidakberdayaan, menyangkal tidak mampu


menghadapi kenyataan dan menarik diri dari lingkungan, terlalu
tingginya self ideal dan tidak mampu menerima realitas dengan rasa
syukur.
c) Gangguan tugas perkembangan (lack of development task)
Misal : kegagalan menjalin hubungan intim dengan sesame jenis atau
lawan jenis, tidak mampu mandiri dan menyelesaikan tugas, bekerja,
bergaul, sekolah, menyebabkan ketergantungan pada orang tua,
rendahnya ketahanan terhadap berbagai kegagalan.
d) Stress internal dan eksternal (Stressor internal and external)
Misal : stress terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan danterjadi
bersamaan

dengan

keterbatasan

kemampuan

individu

untuk

mengatasinya. Ansietas terjadi akibat berpisah dengan orang terdekat,


hilangnya pekerjaan atau orang yang dicintai.
Dari beberapa penyebab di atas maka akan menyebabkan harga diri
rendah kronis pada klien yang akhirnya sampai menyebabkan isolasi
sosial.
C. Faktor Resiko
Faktor-faktor yang mungkin menyebabkan isolasi sosial dibedakan
menjadi 2, yaitu:
1. Faktor predisposisi
a. Faktor tumbuh kembang
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui
individu dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini
tidak

dapat

dipenuhi,

maka

akan

menghambat

masa

perkembangan selanjutnya. Keluarga adalah tempat pertama


yang memberikan pengalaman bagi individu dalam menjalin
hubungan dengan orang lain. Kurangnya stimulasi, kasih saying,
perhatian, dan kehangatan dari ibu/pengasuh pada bayi akan
memberikan

rasa

tidak

aman

yang

dapat

menghambat

terbentuknya rasa percaya diri. Rasa ketidakpercayaan tersebut

dapat mengembangkan tingkah laku curiga

pada orang lain

maupun lingkungan dikemudian hari. Oleh karena itu, komunikasi


yang hangat sangat penting dalam masa ini, agar anak tidak
b.

merasa diperlakukan sebagai objek.


Faktor komunikasi dalam keluarga
Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi

kontribusi

penting dalam mengembangkan gangguan tingkah laku seperti


sikap bermusuhan/hostilitas, sikap mengancam, merendahkan
dan menjelek-jelekkan anak, selalu mengkritik, menyalahkan, dan
anak

tidak

diberi

pendapatnya,

kurang

kesempatan

untuk

kehangatan,

kurang

mengungkapkan
memperhatikan

ketertarikan pada pembicaraan anak, hubungan yang kaku antara


anggota keluarga, kurang tegur sapa, komunikasi kurang terbuka,
terutama dalam pemecahan masalah tidak diselesaikan secara
terbuka dengan musyawarah, ekspresi emosi yang tinggi, double
bind, dua pesan yang bertentangan disampaikan saat bersamaan
c.

yang membuat bingung dan kecemasannya meningkat


Faktor sosial budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan
faktor pendukung terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga
disebabkan oleh karena norma-norma yang salah yang dianut
oleh satu keluarga seperti anggota tidak produktif diasingkan dari

d.

lingkungan sosial.
Faktor biologis
Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif.
Penurunan

aktivitas

neorotransmitter

akan

mengakibatkan

perubahan mood dan gangguan kecemasan. Menurut Townsend


(2003, hlm.59) neurotransmitter yang mempengaruhi pasien
dengan isolasi sosial adalah sebagai berikut:
Dopamin
Fungsi dopamin sebagai pengaturan mood dan motivasi,
sehingga

apabila

dopamin

menurun

pasien

akan

mengalami penurunan mood dan motivasi.


Norepineprin
Norepineprin

yang

kurang

dapat

mempengaruhi

kehilangan memori, menarik diri dari masyarakat dan


depresi

Serotonin
Pasien dengan menarik diri/ isolasi sosial, serotonin
cenderung menurun sehingga biasanya dijumpai tanda
tanda seperti lemah, lesu dan malas melakukan aktivitas
Asetokolin
Apabila terjadi penurunan asetokolin pada pasien dengan
isolasi sosial cenderung untuk menunjukkan tanda-tanda
seperti malas, lemah dan lesu.
2. Faktor presipitasi
a. Faktor eksternal
Stress sosiokultural
Stress dapat ditimbulkan oleh karena menurunya stabilitas unit
keluarga seperti perceraian, berpisah dari orang yang berarti,
kehilangan pasangan pada usia tua, kesepian karena ditinggal
jauh, dan dirawat di rumah sakit atau di penjara. Semua ini dapat
b.

menimbulkan isolasi sosial.


Faktor internal
Stress Psikologis
Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan
keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya.Tuntutan untuk
berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk
memenuhi

kebutuhan

ketergantungan

dapat

menimbulkan

ansietas tingkat tinggi.


c.

Penilaian Terhadap Stressor


Penilaian terhadap stressor individu sangat penting dalam hal ini.
Rasa sedih karena suatu kehilangan atau beberapa kehilangan
dapat sangat besar sehingga individu tidak tidak mau menghadapi
kehilangan dimasa depan, bukan mengambil resiko mengalami
lebih banyak kesedihan. Respon ini lebih mungkin terjadi jika
individu mengalami kesulitan dalam tugas perkembangan yang

d.

berkaitan dengan hubungan (Stuart, 2007, hlm. 280).


Sumber Koping
Menurut Stuart (2007, hlm. 280) sumber koping

yang

berhubungan dengan respon sosial maladaptif adalah sebagai


1)

berikut :
Keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luas dan teman.

2) Hubungan

dengan

hewan

peliharaan

yaitu

dengan

mencurahkan perhatian pada hewan peliharaan.


3) Penggunaan kreativitas untuk mengekspresikan

stres

interpersonal (misalnya: kesenian, musik, atau tulisan).


Menurut Stuart & Laraia (2005, hlm. 432 ) terkadang ada
beberapa orang yang ketika ada masalah mereka mendapat
dukungan dari keluarga dan teman yang membantunya dalam
mencari jalan keluar, tetapi ada juga sebagian orang yang
memiliki masalah, tetapi menghadapinya dengan menyendiri
dan tidak mau menceritakan kepada siapapun, termasuk
e.

keluarga dan temannya


Mekanisme Koping
Menurut Stuart (2007, hlm. 281) Individu yang mengalami respon
sosial maladaptif menggunakan berbagai mekanisme dalam
upaya mengatasi ansietas. Mekanisme tersebut berkaitan dengan
dua jenis masalah hubungan yang spesifik yaitu sebagai berikut:
1) Proyeksi merupakan Keinginan yang tidak dapat
ditoleransi, mencurahkan emosi kepada orang lain karena
kesalahan sendiri( Rasmun, 2004, hlm. 35).
2) Isolasi merupakan perilaku yang menunjukan pengasingan
diri dari lingkungan dan orang lain (Rasmun, 2004, hlm.
3)

32).
Spiliting atau memisah merupakan kegagalan individu
dalam menginterpretasikan dirinya dalam menilai baik
buruk (Rasmun, 2001, hlm. 36).

D. Tanda dan Gejala


1. Gejala Subjektif :
Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak orang lain
Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
Respon verbal kurang dan sangat singkat
Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
Klien merasa tidak berguna
Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidupnya
Klien merasa ditolak
2. Gejala Objektif :
Klien banyak diam dan tidak mau bicara
Kurang spontan
Apatis, ekspresi wajah sedih, afektif datar
Ekspresi wajah kurang berseri

Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri


Komunikasi verbal menurun/tidak ada
Tidak memiliki teman dekat
Mengisolasi diri
Aktivitas menurun
Kepribadian yang kurang sehat
Tidak ada kontak mata, sering menunduk
Asyik dengan pikirannya sendiri
Lebih senang menyendiri
Menyendiri/berdiam di kamar
Tidak mampu berhubungan dengan orang lain secara intim
Tidak ada rasa percaya diri
Tidak dapat membina hubungan baik dengan orang lain
Mondar-mandir, melakukan gerakan berulang/sikap mematung

III. Rentang respon sosial

Respon maladaptif

Respon adaptif
- Menyendiri
- Otonomi
- Bekerjasama
-Saling ketergantungan

- Merasa sendiri
- Menarik diri
-Tergantung

- Manipulasi
- Impulsive
-Narcisisisme

Respon adaptif
Adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
kebudayaan secara umum serta masih dalam batas normal dalam
menyelesaikan masalah.

Menyendiri
Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa
yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara

mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya.


Otonomi
Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide,
pikiran, perasaan, dalam hubungaan sosial.
Bekerjasama

Suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut

mampu untuk saling memberi dan menerima.


Saling Ketergantungan
Merupakan kondisi saling ketergantungan antara individu dengan orang
lain dalam membina hubungan interpersonal.

Transisi dari respon adaptif ke maladaptive

Menarik diri
Keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina
hubungan secara terbuka dengan orang lain
Ketergantungan
Terjadi bila seseorang gaagl dalam mengembangkan rasa percaya diri
atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses.

Respon maladaptive
Adalah respons yang diberikan individu yang menyimpang dari norma
sosial.

Manipulasi
Gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang
menganggap orang lain sebagai objek.individu tersebut terdapat

membina hubungan sosial secara mendalam.


Impulsif
Tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari
pengalaman, penilaian yang buruk dan individu ini tidak dapat

diandalkan.
Narcisisme
Harga dirinya rapuh, secara terus menerus berusaha mendapatkan
penghargaan dan pujian yang egosentris dan pencemburu.

IV.

A. Pohon Masalah
Berdasarkan model stress dan adaptasi
Faktor Predisposisi

Biologis

Psikologis

Sosial budaya

Stressor Presipitasi

Akibat adanya
gangguan pada
otak, misalnya
pada klien
dengan
skizofrenia

muncul akibat
adanya
gangguan
pemenuhan
tugas
perkembangan
saat ini maupun
sebelumnya

keterkaitannya
dengan
hubungan klien
dengan teman,
keluarga, dan
masyarakat lain
yang kurang
baik

Kurangnya
sumber
pendukung
sosial,
menambah
stress
individu.

Klien
merasa
Tuhan
sedang
melupakany
a disaat
klien
mendapat
masalah
yang berat

Penilaian Terhadap Stressor

Fisiologis :
Terjadi penurunan

Perilaku :
Komunikasi

Kognitif :
Produktifits

reflek

verbal berkurang

menurun
Bingung
Obyektifitas

dan

tidak

spontan pada sistem


neuromuskuler.

atau
hilang

makan, kurangnya

sepenuhnya.
Kurang sadar
terhadap

nutrisi, serta retensi

lingkungan

feses pada sistem

sekitarnya.
Penurunan

Penurunan nafsu

gastrointestinal

dx

Afektif :
Rendah diri
Apatis

Sosial :
Menarik
diri
Menghindar

menghilang

Terjadi retensi urine


pada saluran kemih.

Sumber Koping

Kemampuan personal
merupakan suatu
keterampilan yang
dimiliki klien

Aset materi
dapat dilihat
dari ada
tidaknya modal
ekonomi yang
dimiliki klien
Mekanisme Koping

Keyakinan positif
merupakan teknik
pertahanan dan
motivasi klien

dukungan sosial,
dukungan
emosional
bantuan

dan
yang

didapatkan untuk
penyelesaian
tugas.

Reaksi yang berorientasi

Mekanisme pertahanan Ego

pada

(Ego Oriented Reaction)

tugas

Oriented Reaction).

(Task

Rentang Respon Koping


Respon Adaptif

Respon Maladaptif

B. Data Yang Perlu Dikaji :


Masalah Keperawatan
Isolasi sosial

Data Yang Perlu DIkaji


Subjektif:
Klien menceritakan perasaan

kesepian atau ditolak orang lain


Klien merasa tidak aman berada

dengan orang lain


Respon verbal kurang dan sangat

singkat
Klien mengatakan hubungan yang

tidak berarti dengan orang lain


Klien merasa bosan dan lambat

menghabiskan waktu
Klien tidak mampu berkonsentrasi

dan membuat keputusan


Klien merasa tidak berguna
Klien tidak yakin dapat

melangsungkan hidupnya
Klien merasa ditolak

Objektif:

Klien banyak diam dan tidak mau

bicara
Kurang spontan
Apatis, ekspresi wajah sedih, afektif

datar
Ekspresi wajah kurang berseri
Tidak merawat diri dan tidak

memperhatikan kebersihan diri


Komunikasi verbal menurun/tidak

ada
Tidak memiliki teman dekat

Mengisolasi diri
Aktivitas menurun
Kepribadian yang kurang sehat
Tidak ada kontak mata, sering

menunduk
Asyik dengan pikirannya sendiri
Lebih senang menyendiri
Menyendiri/berdiam di kamar
Tidak mampu berhubungan dengan

orang lain secara intim


Tidak ada rasa percaya diri
Tidak dapat membina hubungan baik

dengan orang lain


Mondar-mandir, melakukan gerakan
berulang/sikap mematung

V. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial

I.

VI. Strategi Pelaksanaan


II.

III.
DIAG

IV.
TINDA

V.

XIII.
ISOL

XIV.
1. Identifikasi penyebab isolasi sosial, siapa yang 1. Evaluasi kegiatan bercakap-cakap
1. Evaluasi kegiatan bercakap- 1.
serumah, siapa yang dekat, yang tidak dekat,
(berapa orang). Beri pujian.
cakap (berapa orang) saat
PASIEN
dan apa sebabnya.
2. Latih cara bercakap-cakap dengan 2
melakukan 2 kegiatan
2. Keuntungan punya teman dan bercakap-cakap.
orang lain dalam 2 kegiatan harian.
harian. Beri pujian.
2.
3. Kerugian tidak punya teman dan tidak bercakap- 3. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk 2. Latih cara bercakap-cakap (4-5
cakap.
latihan bercakap-cakap dengan 2-3
orang) dalam 2 kegiatan
4. Latih cara bercakap-cakap dengan anggota
orang: tetangga atau tamu, saat
harian baru.
keluarga dalam 1 kegiatan harian.
melakukan kegiatan harian.
3. Masukkan pada jadwal
3.
5. Masukkan dalam jadwal untuk kegiatan harian.
kegiatan untuk latihan
XV.
bercakap-cakap dengan 4-5
orang saat melakukan 4
kegiatan harian.
XVII. 1. Diskusikan masalah yang dirasakan dalam
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
1. Evaluasi kegiatan keluarga
1.
merawat pasien.
merawat/melatih pasien bercakapdalam merawat/melatih
KELUA
2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala, dan
cakap saat melakukan kegiatan
pasien bercakap-cakap saat
proses terjadinya isolasi sosial (gunakan
harian. Beri pujian.
melakukan kegiatan harian
booklet).
2. Jelaskan kegiatan rumah tangga yang
dan rumah tangga. Beri
2.
3. Jelaskan cara merawat isolasi sosial.
dapat melibatkan pasien bercakappujian.
4. Latih dua cara merawat: bercakap-cakap saat
cakap (makan, solat bersama).
2. Jelaskan cara melatih pasien 3.
melakukan kegiatan harian.
3. Latih cara membimbing pasien
dalam melakukan kegiatan
XVIII.
bercakap-cakap dan member pujian.
sosial, seperti berbelanja,
meminta sesuatu, dll.
3. Latih keluarga mengajak
pasien belanja.

VIII.

XIX.
XX.

IX.

PERTEMUAN
X.

XI.

XII.

Evaluasi kegiatan bercakap-cakap 1.


saat melakukan 4 kegiatan harian.
Beri pujian.
Latih cara bercakap-cakap dalam
kegiatan sosial: belanja ke
warung, meminta sesuatu,
2.
menjawab pertanyaan.
3.
Masukkan pada jadwal kegiatan
untuk latihan bercakap-cakap
4.
dengan >5 orang, orang baru, saat
melakukan kegiatan harian, dan
sosialisasi.
Evaluasi kegiatan keluarga dalam
1.
merawat/melatih pasien bercakapcakap saat melakukan kegiatan
harian, RT, berbelanja. Beri pujian.
Jelaskan follow up ke PKM, tanda
kambuh dan rujukan.
Anjurkan membantu pasien sesuai
jadual dan memberi pujian.
2.

5 S.D 12

Evaluasi kegiatan
bercakap-cakap saat
melakukan kegiatan
harian dan sosialisasi.
Beri pujian.
Latih kegiatan harian.
Nilai kemampuan yang
telah mandiri.
Nilai apakah isolasi sosial
teratasi.

Evaluasi kegiatan keluarga


dalam merawat/melatih
pasien bercakap-cakap
saat melakukan
kegiatan harian, RT,
berbelanja, kegiatan
lain dan follow up. Beri
pujian.
Nilai kemampuan keluarga
merawat pasien.
3. Nilai kemampuan keluarga
melakukan control ke
PKM.

XXI.DAFTAR PUSTAKA
XXII. Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat Bagi Program S1 Keperawatan.
XXIII.

Jakarta. Salemba Medika.


Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar Dan Aplikasi Penulisan Laporan
Pendahuluan

Dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

(LP dan SP) Untuk 7


XXIV.

Nasution, Mahnum Lailan. 2004. Gangguan Alam Perasaan: Menarik


Diri. http://repository.usu.ac.id/xmlui/handle/123456789/3580.

XXV.

Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta :


EGC

XXVI.

Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung : PT Refika Aditama

XXVII.
XXVIII.
XXIX.
XXX.
XXXI.
XXXII.
XXXIII.
XXXIV.
XXXV.
XXXVI.
XXXVII.
XXXVIII.
XXXIX.
XL.
XLI.
XLII.
XLIII.
XLIV.
XLV.
XLVI.
XLVII.
XLVIII.
XLIX.
L.
LI.

LII.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


LIII.

KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL

LIV.
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien :
LV. Klien terlihat menyendiri di taman
2. Diagnosa keperawatan :
LVI. Isolasi Sosial
3. Tujuan Khusus :
LVII.Melatih klien berinteraksi dengan beberapa orang
4. Tindakan keperawatan :
LVIII.
SP-3 klien
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

Memberi kesempatan kepada pasien untuk berkenalan dengan


dua orang atau lebih

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B. STRATEGI

LIX.
KOMUNIKASI

DALAM

PELAKSANAAN

TINDAKAN

KEPERAWATAN
LX.
LXI.
Orientasi
LXII.
Selamat pagi Pak Hendri, perkenalkan saya lia, yang
kemarin sudah ngobrol. bagaimana keadaanya hari ini?
LXIII.
Oh y Pak, selama 3 hari ini bapak sudah punya jadwal
kan untuk kegiatan sehari-hari ?
LXIV.
Kemarin juga sudah belajar berkenalan dengan orang lain
kan?
LXV.

Pak , bagaimana kalau kita ngobrol tentang

kegiatan

bapak selama 3 hari ini?dan belajar berkenalan dengan orang lain


lagi ?tidak lama kok Pak, hanya 10 menit, bagaimana? ngobrolnya
mau dimana atau di sini saja bagaimana?
LXVI.
LXVII.
LXVIII.
LXIX.
LXX.
LXXI.

Kerja
LXXII.

pak hendri , sudah punya jadwal kan untuk kegiatan

sehari-hari?selama 3 hari ini Bapak melaksanakan jadwalnya


bagaimana?
LXXIII.

(jika jadwal dilaksanakan dengan baik)

LXXIV.

Oh bagus, bapak sudah melaksanakan kegiatan dengan

baik, dipertahankan ya Pak.


LXXV.
LXXVI.

(jika jadwal belum dilaksanakan dengan baik)


Kenapa Bapak? Bagaimana kalau saya berikan saran?

Saran saya bagaimana kalau jadwalnya di tempel di tembok dekat


tempat tidur bapak biar tidak lupa?(contoh masalahnya : klien
pelupa)
LXXVII.

bapak kemarin sudah diajarkan untuk berkenalan dengan

orang lain kan?


LXXVIII. Bagaimana Pak perasaannya? Iy Pak, bapak sudah
melakukannya dengan baik.
LXXIX.

Bagaimana kalau sekarang kita coba berkenalan dengan

dua teman baru?


LXXX.

(perawat lain datang 2 pasien lain yang akan dikenalkan

dengan klien)
LXXXI.

Bapak, ini ada 2 orang teman baru, bapak sekarang bisa

berkenalan dengannya seperti yang telah mbak lakukan sebelumnya


LXXXII.

(pasien mendemontrasikan cara berkenalan: memberi

salam, menyebutkan nama, nama panggilan, asal dan hobi)


LXXXIII. Bagus Pak, bapak sudah melaksanakan kegiatan dengan
baik.
LXXXIV. Ada lagi yang bapak ingin tanyakan kepada 2 teman baru
mbak?
LXXXV.

Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, bapak bisa

sudahi perkenalan ini. Lalu bapak bisa buat janji bertemu lagi,
misalnya bertemu lagi jam 4 sore nanti
LXXXVI. (klien membuat janji untuk bertemu kembali dengan 2
orang pasien tsb)
LXXXVII. (perawat mengucapakan terima kasih pada perawat lain
dan 2 pasien yang dibawanya)
LXXXVIII.
LXXXIX.
XC.
XCI.
XCII.

Terminasi

XCIII.

Bapak,

tadi

kita

sudah

menilai

jadwal

kegiatan

bapak,bagaimana tentang sedikit saran yang telah saya berikan tadi?


XCIV.
Bagaimana perasaan bapak setelah berkenalan dengan 2
teman baru tadi?
XCV.
Baik Pak, tolong disebutkan apa saran saya tadi?
XCVI.

Tadi proses kenalannya sudah baik, coba disebutkan tadi

ngapain saja?
XCVII.

(pasien menyebutkan cara berkenalan: memberi salam,

menyebutkan nama, nama panggilan, asal dan hobi, termasuk namanama 2 pasien yang telah dikenalkan)
XCVIII.

Pak, nanti jangan lupa untuk bertemu 2 teman baru yang

tadi ya jam 4 sore.


XCIX.
Selanjutnya, bagaimana jika kegiatan

berkenalan dan

bercakap-cakap dengan orang lain kita tambahkan lagi di jadwal


harian. Jadi satu hari bapak dapat berbincang-bincang dengan orang
lain sebanyak tiga kali, contohnya jam 10 pagi, jam 1 siang dan jam 4
sore, bapak bisa bertemu dengan 2 teman baru tadi. Selanjutnya
bapak bisa berkenalan dengan orang lain lagi secara bertahap.
Bagaimana bapak, setuju kan?
C. Baiklah, senin kita ketemu lagi untuk membicarakan pengalaman
dan kondisi bapak. Pada jam 10 dan tempat yang sama y Pak, di
taman ini. Sampai jumpa Pak. Terima kasih. Assalamualaikum