Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

PASIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI


DI KECAMATAN BANTUR, MALANG
DEPARTEMEN JIWA

OLEH:
DINA MUKMILAH MAHARIKA 115070201131024

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
LAPORAN PENDAHULUAN
Defisit Perawatan Diri

I.

Kasus (Masalah Utama)


Perawatan diri kurang: higiene diri

II.

Proses Terjadinya Masalah


A. Definisi
a. Menurut Poter. Perry (2005), personal hygiene adalah suatu tindakan untuk
memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan
psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu
melakukan perawatan diri.Defisit Perawatan Diri adalah suatu kondisi pada
seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan/melewati
aktivitas perawatan diri secara mandiri.
b. Defisit perawatan diri adalah keadaan individu mengalami kerusakan fungsi
motorik atau fungsi kognitif, yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk
melakukan masing-masing dari kelima aktivitas perawatan diri (makan, mandi atau
higiene, berpakaian atau berhias, toileting, instrumental) (Carpenito, 2007).
c. Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami
kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri
secara mandiri seperti mandi (hygiene), berpakaian/berhias, makan dan BAB/BAK
(toileting) (Fitria, 2009).
d. Defisit Perawatan Diri (Personal Hygiene) adalah suatu keadaan dimana
seseorang

mengalami

kerusakan

kemampuan

untuk

melakukan

atau

menyelesaikan (kegiatan hidup sendiri). Defisit Perawatan Diri merupakan akibat


dari ketidak mampuan seseorang dalam perawatan dirinya karena lupa akan
caranya maupun ketidak tahuan dalam perawatan diri. Kurang perawatan diri
tampak dari ketidak mampuan merawat kebersihan diri, makan secara mandiri,
berhias diri secara mandiri, dan toileting {Buang Air Besar (BAB)/Buang Air Kecil
(BAK)} secara mandiri.

B. Klasifikasi

Adapun jenis dan karakteristik kurang perawatan diri menurut Nanda (2006)
meliputi :
a. Kurang perawatan diri mandi atau hygiene
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas mandi atau kebersihan diri
secara mandiri,

dengan batasan karakteristik ketidakmampuan klien dalam

memperoleh atau mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi,
mendapatkan perlengkapan mandi, mengeringkan tubuh, serta masuk dan keluar
kamar mandi.
b. Kurang perawatan diri berpakaian atau berhias
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas berpakaian dan berhias untuk
diri sendiri, dengan batasan karakteristik ketidakmampuan klien dalam meletakkan
atau mengambil pakaian, menukar pakaian, mengenakan pakaian dalam, memilih
pakaian, menggunakan alat tambahan, menggunakan kancing tarik, melepaskan
pakaian, menggunakan kaos kaki, mempertahankan penampilan pada tingkat yang
memuaskan, dan mengenakan sepatu.
c. Kurang perawatan diri makan
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas makan, dengan batasan
karakteristik ketidakmampuan klien dalam mempersiapkan makanan, menangani
perkakas, mengunyah makanan, menggunakan alat tambahan, mendapatkan
makanan, membuka container, memanipulasi makanan dalam mulut, mengambil
makanan dari wadah lalu memasukkannya ke mulut, melengkapi makan, mencerna
makanan menurut cara yang diterima masyarakat, mengambil cangkir atau gelas,
serta mencerna cukup makanan dengan aman.
d. Kurang perawatan diri toileting
Kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas toileting, dengan batasan
karakteristik ketidakmampuan klien dalam pergi ke toilet atau menggunakan pispot,
duduk atau bangkit dari jamban, memanipulasi pakaian untuk toileting, membersihkan
diri setelah BAB atau BAK dengan tepat, dan menyiram toilet atau kamar kecil.

C. Etiologi
Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut (Tarwoto dan
Wartonah, 2000; Depkes, 2000 dan Wartonah, 2006):
a. Kelelahan fisik
b. Penurunan kesadaran
Faktor Predisposisi
a. Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif
terganggu.
b. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.
c. Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan
ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
d. Sosial :
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.Situasi
lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
Faktor presipitasi
a. Body image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya
karena

adanya

perubahan

fisik

sehingga

individu

tidak

peduli

terhadap

kebersihannya.
b. Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan
terjadi perubahan pola personal hygiene.
c. Status sosioekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi,
sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
d. Pengetahuan

Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat
meningkatkan kesehatan.Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus dia harus
menjaga kebersihan kakinya.Yang merupakan faktor presipitasi defisit perawatan diri
adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perseptual, hambatan
lingkungan, cemas, lelah atau lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan
individu kurang mampu melakukan perawatan diri (Nanda, 2006).
e. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
f.

Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu perawatan diri sepertii
penggunaan sabun, sampo dan lain lain.

g. Kondisi fisik atau psikis


Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu
bantuan untuk melakukannya.
D. Tanda dan Gejala
a

Mandi/Hygiene

Klien mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan badan

Memperoleh/mendapatkan sumber air

Mengatur suhu atau aliran air mandi

Mendapatkan peralatan mandi

Mengeringkan tubuh serta keluar masuk kamar mandi

Berpakaian / berhias

Klien mempunyai kelemahan dalam meletakkan atau mengambil potonggan


pakaian, menanggalkan pakaian, serta memperoleh atau menukar pakaian

Klien juga memiliki ketidakmampuan untuk mengenakan pakaian dalam, dan


memilih pakaian, menggunakan alat tambahan, mengenakan kancing tarik,
menggunakan kaos kaki, melepas pakaian, mempertahankan penampilan pada
tingkat yang memuaskan.

Makan

Klien mempunyai ketidak mampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan


makanan , menangani perkakas, mengunyah makanan, menguunakan alat
tambahan, medapatkan makanan, membuka contrainer, memanipulasi makanna
dalam mulut, mengambil makanan dari wadah lalu memasukkan ke mulut,

melengkapi

makanan,

mencernamakanan

menurut

cara

yang

diterima

masyarakat, mengambil cangkir atau gelas,serta mencerna makanan secara


cukup aman.

BAB/BAK

Klien memiliki keterbatasan / ketidakmampuan dalam mendapatkan jamban atau


kamar kecil, duduk atau bangkit dari jamban, memanipulasi pakaian untuk
toileting, membersihkan diri setelah BAB dan BAK secara tepat, menyiram toilet
atau kamar kecil.
Menurut Depkes (2000) tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri

adalah:
a

Fisik

Badan bau, pakaian kotor

Rambut dan kulit kotor

Kuku panjang dan kotor

Gigi kotor disertai mulut bau

penampilan tidak rapi

Psikologis

Malas, tidak ada inisiatif

Menarik diri, isolasi diri

Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina

Sosial

Interaksi kurang

Kegiatan kurang

Tidak mampu berperilaku sesuai norma

Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan
mandi tidak mampu mandiri

E. Dampak
Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene menurut Wartonah
(2006) yaitu :
a. Dampak fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya


kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah :
Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan
telinga dan gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan
kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.
III. Rentang Respon
Adaptif

Maladaptif

Pola perawatan
diri seimbang
Keterangan :

Kadang perawatan
diri kadang tidak

Tidak melakukan
perawatan saat stress

Pola perawatan diri seimbang, saat klien mendapatkan stressor dan mampu
berperilaku adaptif, maka pola perawatan yang dilakukan klien seimbang, klien masih
melakukan perawatan diri.

Kadang perawatan diri kadang tidak, saat klien mendapatkan stressor kadang klien
tidak memperhatikan perawatan dirinya.

Tidak melakukan perawatan diri, klien menyatakan dia tidak peduli dan tidak bias
melakukan perawatan saat stressor.

IV. A. Pohon Masalah


Perawatan diri kurang

Menurunnya motivasi perawatan diri

Isolasi sosial : menarik diri

B. Data Yang Perlu Dikaji


Masalah Keperawatan
Perawatan Diri Kurang/ Menurunnya Motivasi
Perawatan Diri

Data Yang Perlu Dikaji


Subjektif:

Mengatakan malas mandi


Mengungkapkan tak mau menyisir rambut
Mengungkapkan tak mau menggosok gigi
Mengungkapkan tak mau memotong kuku
Mengungkapkan tak mau berhias
Mengungkapkan tak bisa menggunakan

alat mandi/ kebersihan diri


Objektif:

Badan bau
Pakaian kotor
Rambut dan kulit kotor
Kuku panjang dan kotor
Gigi kotor
Mulut bau
Penampilan tidak rapih
Tak bisa menggunakan alat mandi

V. Diagnosa Keperawatan
1. Perawatan diri kurang: higiene berhubungan dengan menurunnya motivasi perawatan
diri
2. Menurunnya motivasi perawatan diri berhubungan dengan menarik diri

VI. Strategi Pelaksanaan


DX
DEFISIT
PERAWATAN
DIRI

PASIEN
PASIEN

1.
2.
3.
4.

5.

KELUARGA 1.
2.

3.
4.
5.

1
Identifikasi masalah perawatan diri:
kebersihan diri, berdandan,
makan/minum, BAB/BAK.
Jelaskan pentingnya kebersihan
diri.
Jelaskan cara dan alat kebersihan
diri.
Latih cara menjaga kebersihan
diri:mandi dan ganti pakaian,
sikat gigi, cuci rambut, potong
kuku.
Masukkan pada jadual kegiatan
untuk latihan mandi, sikat gigi (2
kali per hari), cuci rambut (2 kali
per minggu), potong kuku (1 kali
per minggu).
Diskusikan masalah yang
dirasakan dalam merawat
pasien.
Jelaskan pengertian, tanda
dan gejala, dan proses
terjadinya defisit perawatan diri
(gunakan booklet).
Jelaskan cara merawat
defisit perawatan diri.
Latih cara merawat
kebersihan diri
Anjurkan membantu pasien
sesuai jadual dan memberikan
pujian.

1.
2.
3.

4.

1.

2.
3.

2
Evaluasi kegiatan kebersihan
diri. Beri pujian.
Jelaskan cara dan alat untuk
berdandan.
Latih cara berdandan setelah
kebersihan diri: sisiran, rias
muka untuk perempuan,
sisiran, cukuran untuk pria.
Masukkan pada jadual kegiatan
untuk kebersihan diri dan
berdandan.

1.
2.
3.
4.

Evaluasi kegiatan keluarga


1.
dalam merawat/ melatih
pasien kebersihan diri. Beri
pujian.
Bimbing keluarga
2.
membantu pasien berdandan.
Anjurkan membantu
3.
pasien sesuai jadual dan
memberi pujian.

PERTEMUAN
3
Evaluasi kegiatan kebersihan diri
dan berdandan. Beri pujian.
Jelaskan cara dan alat makan dan
minum.
Latih cara makan dan minum yang
baik.
Masukkan pada jadual kegiatan
untuk latihan kebersihan diri,
berdandan dan makan dan
minum yang baik.

4
1. Evaluasi kegiatan
kebersihan diri,
berdandan dan makan
dan minum. Beri pujian.
2. Jelaskan cara BAB dan BAK
yang baik.
3. Latih BAB dan BAK yang
baik.
4. Masukkan pada jadual
kegiatan untuk latihan
kebersihan diri,
berdandan dan makan
dan minum yang baik,
BAB dan BAK.

Evaluasi kegiatan keluarga


1.
dalam merawat/ melatih pasien
kebersihan diri dan berdandan.
Beri pujian.
Bimbing keluarga membantu
makan dan minum pasien.
2.
Anjurkan membantu pasien
sesuai jadual dan memberi
pujian.
3.
1.

5 s.d 12
1. Evaluasi kegiatan latihan
perawatan diri: kebersihan
diri, berdandan, makan dan
minum, BAB dan BAK. Beri
pujian.
2. Latih kegiatan harian.
3. Nilai kemampuan yang telah
mandiri.
4. Nilai apakah perawatan diri
telah baik.

Evaluasi kegiatan
1.
keluarga dalam merawat/
melatih pasien kebersihan
diri, berdandan, makan
dan minum. Beri pujian.
Bimbing keluarga
merawat BAB dan BAK 2.
pasien.
Jelaskan follow up ke 3.
PKM, tanda kambuh,
rujukan.
Anjurkan membantu
pasien sesuai jadual dan
memberi pujian.

Evaluasi kegiatan
keluarga dalam merawat/
melatih pasien kebersihan
diri, berdandan, makan dan
minum, BAB dan BAK. Beri
pujian.
Nilai kemampuan
merawat pasien.
Nilai kemampuan
keluarga melakukan kontrol
ke PKM.

VII. Rencana Tindakan Keperawatan


RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN (Contoh)
KLIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI
Nama Klien

DX Medis

:........

RM No.

Ruangan

:..

Tgl

No Dx

Dx Keperawatan

Perencanaan

Defisit perawatn diri:

Tujuan
TUM: Klien mampu

hygiene.

melakukan perawatan

Kriteria Evaluasi

Intervens

diri
TUK:
1. Klien dapat membina
hubungan saling

1. Dalam kali interaksi klien

1. Bina hubungan saling percaya

menunjukkan tanda-tanda percaya

Beri salam setiap berintera

kepada perawat:

Perkenalkan nama, nama p

percaya dengan

Wajah cerah, tersenyum

perawat

Mau berkenalan

Tanyakan nama dan pangg

Ada kontak mata

Tunjukkan sikap jujur dan m

Menerima kehadiran perawat

Bersedia menceritakan

tujuan perawat berkenalan

berinteraksi

Tanyakan perasaan dan ma


klien

perasaannya

Buat kontrak interaksi yang

Dengarkan ungkapan pera

empati
2.Klien mengetahui
pentingnya perawatan
diri

2. Dalam kali interaksi klien


menyebutkan:

Penuhi kebutuhan dasar kl


2. Diskusikan dengan klien:

Penyebab klien tidak meraw

Manfaat menjaga perawata

Penyebab tidak merawat diri

Manfaat menjaga pwtan diri

Tanda-tanda bersih dan rapi

Tanda-tanda perawatan dir

Gangguan yang dialami jika

Penyakit atau gangguan ke

mental, dan sosial.

dialami oleh klien bila peraw

perawatan diri tidak diperhatikan


3.Klien mengetahui cara-

3.1. Dalam kali interaksi klien

3. Diskusikan frekuensi menjaga p

cara melakukan

menyebutkan frekuensi menjaga

Mandi

perawatan diri

perawatan diri:

Gosok gigi

Frekuensi mandi

Keramas

Frekuensi gosok gigi

Berpakaian

Frekuensi keramas

Berhias

Frekuensi ganti pakaian

Gunting kuku

Frekuensi berhias

Frekuensi gunting kuku


Dalam kali interaksi klien

3.2.Diskusikan cara praktek peraw


benar :

menjelaskan cara menjaga

mandi

perawatan diri:

gosok gigi

Keramas

Cara mandi

4. Klien dapat

Cara gosok gigi

Berpakaian

Cara Keramas

Berhias

Cara Berpakaian

Gunting kuku

Cara berhias

Cara gunting kuku


4. Dalam kali interaksi klien

3.2. Berikan pujian untuk setiap re

4.1.Bantu klien saat perawatan dir

melaksanakan

mempraktekkan perawatan diri dengan

Mandi

perawatan diri dengan

dibantu oleh perawat:

Gosok gigi

bantuan perawat

5. Klien dapat

Mandi

Keramas

Gosok gigi

Ganti pakaian

Keramas

Berhias

Ganti pakaian

Gunting kuku

Berhias

Gunting kuku
5. Dalam kali interaksi klien

4.2. Beri pujian setelah klien seles

perawatan diri
5.1. Pantau klien dalam melaksana

melaksanakan

melaksanakan praktek perawatan diri

Mandi

perawatan diri secara

secara mandiri

Gosok gigi

mandiri

Mandi 2 X sehari

Keramas

Gosok gigi sehabis makan

Ganti pakaian

Keramas 2 X seminggu

Berhias

Ganti pakaian 1 X sehari

Gunting kuku

Berhias sehabis mandi

Gunting kuku setelah mulai panjang

5.2. Beri pujian saat klien melaksa

6. Klien mendapatkan

6.1. Dalam kali interaksi keluarga

dukungan keluarga

menjelaskan cara-cara membantu klien

untuk meningkatkan

dalam memenuhi kebutuhan perawatan

perawatan diri

dirinya

secara mandiri.
6.1 Diskusikan dengan keluarga:

Penyebab klien tidak melak


Tindakan yang telah dilakuk

sakit dalam menjaga peraw

yang telah dialami oleh klien


Dukungan yang bisa diberik

meningkatkan kemampuan
diri

6.2. Diskusikan dengan keluarga te


6.2. Dalam kali interaksi keluarga
menyiapkan sarana perawatan diri klien:
sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi,

diri klien

6.3. Keluarga mempraktekan perawatan


diri pada klien

Anjurkan kepada keluarga


tersebut

shampoo, handuk, pakaian bersih,


sandal, dan alat berhias

Sarana yang diperlukan un

6.3. Diskusikan dengan keluarga h

dilakukan keluarga dalam pera

Anjurkan keluarga untuk m

diri (mandi, gosok gigi, kera


dan gunting kuku)

Ingatkan klien waktu mand

ganti baju, berhias, dan gun

Bantu jika klien mengalami


perawatan diri

Berikan pujian atas keberh

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Keperawatan Edisi 8. Penerjemah Monica
Ester.Jakarta : EGC.
Depkes RI. 2000. Keperawatan Jiwa: Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa. Jakarta:
Depkes RI.
Fitria, N. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan. Jakarta: Salemba Medika.
Nanda ( Budi Santosa : editor ). 2006. Panduan Diagnosa Nanda 2005 - 2006 ; Definisi dan
Klasifikasi. Jakarta : EGC.
Potter, P. A., & Perry, A. G. 2006.Buku Ajar Fundamental : konsep, proses, dan praktik.
Jakarta : EGC.
Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta.
Wartonah.2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Edisi 3.Jakarta :
Salemba Medika.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


KLIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Klien tampak diam, rambut kusut dan terdapat bau badan yang menyengat
2. Diagnosa Keperawatan:
Defisit Perawatan Diri
3. Tujuan Khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Mengidentifikasi kebersihan diri klien
c. Mengidentifikasi alasana kenapa klien tidak mau merawat diri
d. Klien dapat mengerti pentingnya kebersihan diri
e. Klien mengerti cara melakukan dan menjaga kebersihan diri yang benar
f.

Klien mengetahui alat-alat yang digunakan untuk menjaga kebersihan diri

g. Klien dapat mempratikkan cara menjaga kebersihan diri


4. Tindakan keperawatan

Memunculkan rasa percaya klien pada pertemuan pertama dengan


mengucapkan salam terapeutik

Mengkaji kemmpuan berinteraksi

Identifikasi kemampuan klien melakukan kebersihan diri dan berdandan

Jelaskan pentingnya kebersihan diri dengan cara memberikan penjelasan


terhadap pentingnya kebersihan diri.

Jelaskan cara menjaga kebersihan diri dan berdandan

Menjelaskan peralatan yang dibutuhkan untuk menjaga kebersihan diri dan


berdandan

B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


SP 1 pasien : Membina hubungan saling percaya
a. Identifikasi kemampuan klien dalam menjaga kebersihan diri
b. Menanyakan alasan klien tidak mau merawat diri
c. Menjelaskan penjelasan pentingnya menjaga kebersihan diri

Orientasi
Selamat pagi !
Bagaimana perasaannya hari ini
Bagaimana kalau sekarang kita mendiskusikan tentang kemampuan Tina dalam
melakukan kegiatan sehari-hari?
Kira-kira berapa lama kita akan berbincang? 15 menit mungkin??
Kita berbincang disini saja atau dimana tina?
Kerja
perkenalkan, nama saya Putri Dewi. Saya senang dipanggil suster Putri.
Mbak namanya siapa?
mulai hari ini, saya yang akan merawat mbak Tina selama disini
berapa kali Tina mandi dalam sehari? Apakah Tina sudah mandi hari ini? Menurut
Tina apa kegunaan mandi? Apa yang membuat tina tidak bisa merawat diri? Menurut
Tina apa manfaatnya kita menjaga kebersihan diri?Seperti apa tanda-tanda orang
yang merawat diri dengan baik? Menurut Tina jika tidak teratur menjaga kebersihan
diri, masalah apa yang bisa muncul?
Apa yang Tina lakukan untuk merawat rambut dan muka? Kapan saja Tina menyisir
rambut? Bagaimana dengan bedakan? Apa maksud atau tujuan sisiran dan
berdandan?
Di mana biasanya Tina berak/kencing? Bagaimana membersihkannya?. Iya... Kita
kencing dan berak harus di WC, Nach... Itu WC di ruangan ini, lalu jangan lupa
membersihkan pakai air dan sabun.
Terminasi
Apa yang Tina rasakan sekarang?
Baiklah Tina, dari 15 menit obrolan kita barusan, menurut Tina, ada ga manfaat
dari percakapan kita tadi?
sekarang coba Tina ulangi lagi tanda-tanda bersih dan rapi?
Nanti jam 9.30 atau 15 menit lagi, saya akan kembali lagi kesini untuk
mendiskusikan tentang cara-cara merawat diri sekaligus Tina mempratikkannya.
Bagaimana Tina? Setuju?

Anda mungkin juga menyukai