Anda di halaman 1dari 8

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

HEACTING

1. A. Diagnosa Keperawatan kerusakan intergritas kulit b/d faktor mekanik


B. Pengkajian / Data fokus
DS : Klien mengatakan habis kecelakaan tunggal
DO : Klien tamapk gelisah, tampak ada luka terbuka di pedis sinistra, femur dextra,
dan adanya robekan di dagu dan bibir.
2. Tindakan yang dilakukan
Membersihkan luka dengan NaCl
Lakukan penjahitan/heacting
3. Dasar Pemikiran
Kulit merupakan organ tubuh yang terluas dan memiliki dua lapisan jaringan.
Lapisan paling luar epidermis yang tersusun atas lapisan sel squamis dengan keratin
dan melanin. Lapisan ini melindungi dan melawan exposure dari luar, membatasi
hilangnya cairan, dan juga memberikan warna kulit.
Penyembuhan luka yang normal:
a. Fase Inflamasi
Fase inflamasi ini akan berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira kira
hari kelima. Pembuluh darah yang terputus pada luka yang diderita tersebut
akan menyebabkan perdarahan dan tubuh dalam hal ini akan berusaha
menghentikannya dengan cara vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh
yang putus (retraksi), dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena
trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket, dan bersama
dengan jala fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari
pembuluh darah. Sementara itu terjadi reaksi inflamasi. Sel mast dalam
jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamine yang meningkatkan
permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan, penyebukan sel radang,
disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan udem dan pembengkakan.
Tanda dan gejala klinik reaksi radang menjadi jelas berupa warna kemerahan
karena kapiler melebar (rubor), suhu hangat (kalor), rasa nyeri (dolor), dan
pembengkakan (tumor).
Aktifitas seluler yang terjadi adalah pergerakan leukosit menembus
dinding pembuluh darah (diapedesis) menuju luka karena daya kemotaksis.
Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan
kotoran luka. Limfosit dan monosit yang kemudian muncul ikut
menghancurkan dan memakan kotoran luka dan bakteri (fagositosis). Fase ini
disebut juga fase lamban karena reaksi pembentukan kolagen baru sedikit dan
luka hanya dipertautkan oleh fibrin yang amat lemah.
b. Fase Proliferasi.
Fase proliferasi disebut juga fase fibroplasia karena yang menonjol adalah
proses proliferasi fibroblast. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi
sampai kira kira akhir minggu ketiga. Fibroblast berasal dari sel mesenkim

yang belum berdiferensiasi, menghasilkan mukopolisakarida, asama


aminoglisin, dan prolin yang merupakan bahan dasar kolagen serat yang akan
mempertautkan tepi luka.
Pada fase ini serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk
penyesuaian diri dengan tegangan pada luka yang cenderung mengerut. Sifat
ini, bersama dengan sifat kontraktil miofibroblast, menyebabkan tarikan pada
tepi luka. Pada akhir fase ini kekuatan regangan luka mencapai 25% jaringan
normal. Nantinya, dalam proses penyudahan kekuatan serat kolagen
bertambah karena ikatan intramolekul dan antar molekul. Pada fase fibroplasia
ini, luka dipenuhi sel radang, fibroblast, dan kolagen, membentuk jaringan
berwarna kemerahan dengan permukaan yang berbenjol halus yang disebut
jaringan granulasi. Epitel tepi luka yang terdiri dari sel basal terlepas dari
dasarnya dan berpindah mengisi permukaan luka. Tempatnya kemudian diisi
oleh sel baru yang terbentuk dari proses mitosis.
Proses migrasi hanya bisa terjadi ke arah yang lebih rendah atau datar,
sebab epitel tak dapat bermigrasi ke arah yang lebih tinggi. Proses ini baru
berhenti setelah epitel saling menyentuh dan menutup seluruh permukaan
luka. Dengan tertutupnya permukaan luka, proses fibroplasia dengan
pembentukan jaringan granulasi juga akan berhenti dan mulailah proses
pematangan dalam fase penyudahan.
c. Fase Penyudahan (Remodelling).
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali
jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi, dan akhirnya
perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini dapat berlangsung
berbulan bulan dan dinyatakan berkahir kalau semua tanda radang sudah
lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal
karena proses penyembuhan. Odema dan sel radang diserap, sel muda menjadi
matang, kapiler baru menutup dan diserap kembali, kolagen yang berlebih
diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. Selama proses
ini dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, dan lemas serta mudah
digerakkan dari dasar. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. Pada akhir
fase ini, perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira kira 80%
kemampuan kulit normal. Hal ini tercapai kira kira 3-6 bulan setelah
penyembuhan.
Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan
dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from
within (dari dalam), atau from without (dari luar).
Jadi, heacting sangat di sarankan guna untuk mempercepat proses
penyembuhan luka, selain itu heacting juga bertujuan untuk mencegah
terjadinya pendahan pada kasus-kasus tertentu seperti luka terbuka, dan lainlain.
4. Prinsip-prinsip tindakan
Steril
Pesiapan Alat Hecting

1) Spuit 5 cc
2) Betadin
3) Lidokain 2%
4) Pengalas
5) Kasa steril
6) Gunting benang
7) Nalpoeder
8) Pinset anatomis
9) Jarum kulit
10) Jarum otot (bila perlu)
11) Benang kulit (side)
12) Benang otot/ catgut(bila perlu)
13) Nierbekken (bengkok)
14) Larutan antiseptik/ garam faal
15) Sarung tangan steril
Persiapan pasien dan perawat
a. Memberitahu klien tindakan yang akan dilakukan
b. Memasang sampiran/penutup/tirai
c. Mengatur posisi klien senyaman mungkin
d. Mencuci tangan dengan sabun dan di air mengalir, kemudian keringkan dengan
handuk bersih atau hand dryer.
e. Memasang perlak dan pengalasnya
Penatalaksanaan :
1. Memakai sarung tangan
2. Mengkaji luka, kedalaman, luasnya dan keadaan luka
3. Membersihkan luka dengan larutan antiseptik atau larutan garam faal.
Gunakan kassa terpisah untuk setiap usapan, membersihkan luka dari area
yang kurang terkontaminasi ke area lebih bersih.
4. Menyiapkan injeksi lidokain 2 %.
5. Betadin
6. Secara sirkuler dengan diameter kerang lebih 5 cm
7. Menyuntikan lidokain secara sub cutan di sekitar tepi luka.
8. Melakukan aspirasi, apabila tidak ada darah
9. masukan lidokain secara perlahan-lahan sambil menarik jarum dan
memasukan obat sepanjang tepi luka. Lakukan pada tepi luka yang lainnya.
10. Tunggu 2 menit agar lidokain berreaksi
11. Sambil menungu reaksi obat, siapkan nalpoeder, jarum dan benang.
12. Uji reaksi obat dengan menggunakan pinset
13. Jahit luka kurang lebih 1 cm diatas ujung luka dan ikat, gunting benang
sisakan kira-kira 1 cm. jahit satu persatu dengan jarak jahitan satu dengan
yang lainnya kurang lebih 1 cm,
14. Teruskan sampai semua luka terjahit.
15. Berikan antiseptik pada luka
16. Tutup luka dengan kassa steril dan rekatkan dengan plester
17. Rapikan pasien
18. Bereskan alat
19. Cuci tangan

5. Analisa Tindakan Keperawatan


Penjahitan luka bertujuan untuk menyatukan jaringan yang terputus serta
meningkatkan proses penyambungan dan penyembuhan jaringan dan juga mencegah
luka terbuka yang akan Mengakibatkan masuknya mikroorganisme / infeksi.
6. Bahaya yang mungkin muncul
Heacting atau penjahitan luka dapat menyebabkan luka sulit sembuh atau bisa terjadi
infeksi jika tindakannya tidak sesuai dengan prosedur yang ada.
7. Hasil yang didapat dan maknanya
Luka sudah tertutup dengan 7 jahitan di pedis sinistra, 3 jahitan di femur dextra, 3
jahitan di dagu dan 1 jahitan di bibir kanan klien.
8. Tindakan keperawatan lain
- Melakukan pemasangan infus untuk menjaga ststus hemodinamik klien
- Kolaborasi dengan dokter terhadap pengelolaan terapi antibiotik dan ATS (anti tetanus
serum).

9. Kepustakaan
Maspris handout. 2011. Note for nurse during study
Nanda International. 2009. NURSING DIAGNOSES

Defenitions

&

Classifications.
United States of America: NANDA International Philadelphia.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono,
Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2007.
Hustasoit, M. Buku panduan praktikum laboraturium keperawatan gawat darurat
dan kritis Yogyakarta : PSIK Stikes A.Yani Yogyakarta.

LAPORAN

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN


HEACTING DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)
RS PANTIWILASA CITARUM SEMARANG

Disusun oleh:
DAMIANUS DAENG (2212155)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2015
LEMBAR PENGESAHAN
Disetujui :
Hari
:
Tanggal :

Mahasiswa

Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

(..................................................)

(.....................................................)