Anda di halaman 1dari 49

BAB V

LAPORAN KEGIATAN

Kegiatan ini merupakan salah satu syarat dalam mengikuti


Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Sering
Kecamatan Medan Tembung Kota Medan, mulai tanggal 23 November s/d 30
November 2015. Adapun kegiatan yang kami lakukan di wilayah kerja
Puskesmas Sering antara lain :
5.1 Laporan Kegiatan di Puskesmas Sering
Tabel 5.1
Kegiatan di Wilayah Puskesmas Sering Kecamatan Medan Tembung
No
1.

Kegiatan
Melapor

kepada

Kepala

Keterangan
Puskesmas

dan Senin, 23 November 2015

perkenalan kepada seluruh Staf Puskesmas


Sering.
2.

A. Kegiatan harian di Puskesmas Sering

Selasa, 24 November 2015

1. Poli umum
2. Apotek
3. KIA/KB
4. Gizi
5. Laboratorium
B. Melakukan penyuluhan tentang HIV/AIDS
di Panti Sosial Bina Daksa.
C. Melakukan penyuluhan tentang Bahaya
Merokok di Panti Sosial Bina Daksa.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

124

3.

A. Kegiatan harian di Puskesmas Sering

Rabu, 25 November 2015

1. Poli umum
2. Apotek
3. KIA/KB
4. Gizi
5. Laboratorium
B. Melakukan penyuluhan tentang TB Paru di
Puskesmas Sering.
C. Melakukan penyuluhan tentang ISPA di
Puskesmas Sering.
D. Melakukan penyuluhan tentang Hipertensi
4.

di Puskesmas Sering.
A. Kegiatan klinik DM

Kamis, 26 November 2015

1. Memeriksa kadar gula darah


2. Memeriksa tekanan darah
3. Konsultasi penyakit dan diet DM
4. Pemberian obat
5. Melakukan
pencegahan

penyuluhan
terhadap

tentang
komplikasi

Diabetes Mellitus
B. SD Yayasan HKBP Medan.
1. Memberikan

penyuluhan

tentang

langkah cuci tangan


2. Memberikan penyuluhan tentang diare
3. Memberikan

penyuluhan

tentang

Kecacingan.
4. Pemberian obat cacing kepada siswa
SD.
E. Melakukan penyuluhan tentang Diabetes
5

Mellitus di Puskesmas Sering.


A. Melakukan Gotong Royong di Puskesmas Jumat, 27 November 2015
Sering.
B. Kegiatan harian di Puskesmas Sering

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

125

1. Poli umum
2. Apotek
3. KIA/KB
4. Gizi
5. Laboratorium
C. Melakukan penyuluhan ke SD Islamik
Center tentang Kecacingan
D. Melakukan penyuluhan ke SD Islamik
Center tentang 7 Langkah Cuci Tangan.
E. Melakukan penyuluhan ke SD Islamik
6.

Center tentang Diare


A. Kegiatan harian di Puskesmas Sering

Sabtu, 28 November 2015

1. Poli umum
2. Apotek
3. KIA/KB
4. Gizi
5. Laboratorium
B. Melakukan penyuluhan tentang Rumah
Sehat dan Pencegahan DBD.

5.2 Kegiatan Harian di Puskesmas Sering


5.2.1

Poli Umum
Kegiatan:
Anamnesa, pemeriksaan fisik, mendiagnosa dan meresepkan obat untuk
pasien dibawah bimbingan dokter di puskesmas serta merujuk pasien
untuk pemeriksaan yang tidak dapat dilakukan di puskesmas.

5.2.2

Ruang Apotek
A. Kegiatan:
Meracik obat dibawah bimbingan apoteker, memberikan dan
memberitahu cara penggunaan obat yang benar kepada pasien.
B. Masalah:
Penyediaan jenis obat yang terbatas

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

126

C. Pemecahan masalah:
Menambah jenis obat
5.2.3

Penyuluhan di Panti Sosial Bina Daksa Medan

A. Kegiatan:
1. Memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS di Panti Sosial Bina
Daksa Medan.
2. Melakukan

pengambilan

sample

darah

untuk

pemeriksaan

HIV/AIDS di Panti Sosial Bina Daksa Medan.


3. Melakukan penyuluhan tentang Bahaya Merokok di Panti Sosial
Bina Daksa Medan.
B. Tujuan :
1.

Setelah mengikuti penyuluhan tentang HIV/AIDS diharapkan


audiens dapat mengerti dan waspada terhadap HIV/AIDS dan
dapat mengaplikasikan materi penyuluhan dalam kehidupan seharihari.

2.

Aplikasi dari penyuluhan tentang HIV/AIDS.

3.

Setelah

mengikuti

penyuluhan

tentang

Bahaya

Merokok

diharapkan audiens dapat mengerti akan bahaya merokok bagi


kesehatan si perokok,dan dampaknya terhadap orang lain di
sekitarnya, serta dapat mengaplikasikan materi penyuluhan dalam
kehidupan sehari-hari.
C. Sasaran:
1. Warga penghuni Panti Sosial Bina Daksa Medan.
D. Tempat:
Ruang pertemuan Panti Sosial Bina Daksa Medan.
E. Waktu/ Tanggal :
Pukul 09.00 WIB/ Selasa, 24 November 2015.
F. Hasil:
Warga penghuni panti sangat antusias mengikuti penyuluhan
G. Saran:
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

127

Melakukan promosi tambahan agar para peserta penyuluhan semakin


banyak.
5.2.4

Penyuluhan di Puskesmas Sering

5.2.4.1 Penyuluhan tentang TB Paru


A. Kegiatan:
1. Memberikan penyuluhan tentang TB paru.
B. Tujuan:
1. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada warga/audience
tentang TB Paru.
2. Melihat respon warga terhadap kegiatan penyuluhan yang
diberikan.
C. Sasaran:
Pasien di Klinik TB Paru
D. Tempat:
Klinik TB Puskesmas Sering.
E. Waktu/ Tanggal :
Pukul 09.00 WIB/ Rabu, 25 November 2015 .
F. Hasil :
1. Warga sangat antusias terhadap penyuluhan yang diberikan
2. Banyaknya pertanyaan yang diberikan warga seputar TB Paru.
G. Solusi:
Memberikan informasi dan edukasi terpadu secara berkala minimal 1
kali seminggu mengenai berbagai penyakit.
5.2.4.2 Penyuluhan tentang ISPA
A. Kegiatan:
1. Memberikan penyuluhan tentang ISPA.
2. Melakukan tanya jawab dengan warga/ audience.
B. Tujuan:

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

128

1. Memberikan

informasi

dan

pengetahuan

kepada

warga/audience tentang ISPA.


2. Melihat respon warga terhadap kegiatan penyuluhan yang
diberikan.
C. Sasaran:
Pasien di ruang tunggu Puskesmas Sering
D. Tempat:
Ruang tunggu Puskesmas Sering.
E. Waktu/ Tanggal :
Pukul 09.00 WIB/ Rabu, 25 Oktober 2015 .
F. Hasil :
1. Warga sangat antusias terhadap penyuluhan yang diberikan
2. Banyaknya pertanyaan yang diberikan warga seputar ISPA
G. Solusi:
Memberikan informasi dan edukasi terpadu secara berkala minimal 1
kali seminggu mengenai berbagai penyakit.
5.2.4.3 Penyuluhan tentang Hipertensi
A. Kegiatan:
1. Memberikan penyuluhan tentang Hipertensi.
2. Melakukan tanya jawab dengan warga/ audience.
B. Tujuan:
1. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada warga/audience
2.

tentang Hipertensi.
Melihat respon warga terhadap kegiatan penyuluhan yang

diberikan.
C. Sasaran:
Pasien di ruang tunggu Puskesmas Sering
D. Tempat:
Ruang tunggu Puskesmas Sering.
E. Waktu/ Tanggal :
Pukul 09.00 WIB/ Rabu, 25 Oktober 2015 .
F. Hasil :
1. Warga sangat antusias terhadap penyuluhan yang diberikan
2. Banyaknya pertanyaan yang diberikan warga seputar Hipertensi
G. Solusi:
Memberikan informasi dan edukasi terpadu secara berkala minimal 1
kali seminggu mengenai berbagai penyakit.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

129

5.2.4.4 Penyuluhan tentang Diabetes Mellitus


A. Kegiatan:
1. Memberikan penyuluhan tentang Diabetes Melitus.
2. Memberikan penyuluhan tentang diet Diabetes Melitus untuk
sehari-hari.
B. Tujuan:
1. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada warga/audience
tentang Diabetes Melitus.
2. Memberitahukan kepada warga tentang diet Diabetes Melitus
untuk sehari-hari.
3. Melihat respon warga terhadap kegiatan penyuluhan yang
diberikan.
C. Sasaran:
Pasien di Klinik DM
D. Tempat:
Klinik DM Puskesmas Sering.
E. Waktu/ Tanggal

Pukul 09.00 WIB/ Kamis, 26 November 2015 .


F. Hasil :
1. Warga sangat antusias terhadap penyuluhan yang diberikan
2. Banyaknya pertanyaan yang diberikan warga seputar diet Diabetes
Melitus untuk sehari-hari
G. Solusi:
Memberikan informasi dan edukasi terpadu secara berkala minimal 1
kali seminggu mengenai berbagai penyakit.
5.2.5 Penyuluhan di Sekolah di SD HKBP
A. Kegiatan:
1. Melakukan penyuluhan tentang Kecacingan
2. Melakukan penyuluhan tentang 7 Langkah Cuci Tangan.
3. Memberikan penyuluhan tentang Diare.
B. Tujuan:

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

130

1. Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang kecacingan,


diharapkan para murid-murid mengerti dan memahami tentang
pengertian kecacingan, gejala kecacingan dan pencegahannya.
2. Setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan tentang 7 langkah cuci
tangan diharapkan siswa-siswi sekolah dasar dapat mengetahui
tentang langkah-langkah mencuci tangan.
3. Setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan tentang 7 langkah cuci
tangan, diharapkan para siswa mampu mengerti dan memahami
pengertian 7 langkah cuci tangan, manfaat cuci tangan, kapan harus
cuci tangan, penyakit yang dapat dicegah dengan cuci tangan.
4. Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang diare, diharapkan
para murid-murid mengerti dan memahami tentang pengertian
diare, bahaya diare dan pencegahan diare.
5. Melihat respon siswa/i terhadap kegiatan penyuluhan yang
C.
D.
E.
F.

diberikan.
Sasaran:
Siswa/i SD HKBP Medan.
Tempat:
SD HKBP Medan.
Waktu/ Tanggal:
Pukul 09.00 WIB/ Kamis / 26 November 2015.
Hasil :
1. Siswa/i sangat antusias terhadap penyuluhan yang diberikan.
2. Siswa/i mampu memperagakan cara cuci tangan yang benar.

5.2.6

Penyuluhan tentang Kesehatang Lingkungan ke Masayarakat


A. Kegiatan:
1. Mengamati rumah-rumah di sekitar lingkungan Puskesmas.
2. Penyuluhan tentang Rumah Sehat dan Pencegahan DBD dengan
cara 3M.
3. Melakukan tanya jawab dengan warga / audiens.
B. Tujuan :
1. Mengetahui rumah yang ada di lingkungan sekitar Puskemas sudah
termasuk rumah sehat atau tidak.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

131

2. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang indicator


rumah sehat dan penanggulangan DBD dengan cara 3M.
C. Sasaran:
Masyarakat di sekitar Puskesmas Sering Medan Tembung.
D. Tempat:
Rumah rumah warga.
E. Waktu:
Pukul 10.00 WIB, Jumat, 27 November 2015.
F. Hasil:
1. Masih banyak rumah rumah di sekitar Puskesmas Sering yang
belum memenuhi indicator rumah sehat, dari 30 rumah yang di
datangi hanya 10 yang memenuhi indicator rumah sehat.
2. Masih banyak masyarakat yang belum tau cara menanggulangi
DBD dengan melakukan 3M.
G. Solusi:
Memberikan informasi dan edukasi kepada warga masyarakat tentang
rumah sehat dan penangulangan DBD dengan cara 3M.

5.3 DIABETES MELITUS


A.

Pengertian Diabetes Melitus


Menurut American Diabetes Association (ADA) 2010, Diabetes mellitus

merupakan

suatu

kelompok

penyakit

metabolic

dengan

karakteristik

hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
keduanya.
Klasifikasi Diabetes Melitus :
TipeI : Diabetes Melitus tergantung insulin
TipeII : Diabetes Melitus tidak tergantung insulin
B.

Penyebab Diabetes Melitus

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

132

1. TipeI :
a. Genetik
b. Imunologi
Faktor-faktor lingkungan : misalnya virus atautoksin tertentu
2. TipeII :
a. Usia> 45 Tahun
b. Obesitas/kegemukan
c. Riwayat keluarga/keturunan
C. Gejala danTanda-Tanda Diabetes mellitus :
Gejala dan tanda-tanda DM dapat digolong kan menjadi gejala akut dan gejala
kronik.
a. Gejala Akut Penyakit Diabetes mellitus
Gejala penyakit DM dari satu penderita ke penderita lain bervariasi
bahkan, mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun sampai saat tertentu.
1) Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi serba banyak (Poli),
yaitu:
a) Banyak makan (poliphagia).
b) Banyak minum (polidipsia).
c) Banyak kencing (poliuria).
2) Bila keadaan tersebut tidak segera diobati, akan timbul gejala:
a) Banyak minum.
b) Banyak kencing.
c) Nafsu makan mulai berkurang/ berat badan turun dengan cepat
(turun 5 10 kg dalam waktu 2 4 minggu).
d) Mudah lelah.
e)Bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual, bahkan penderita
akan jatuh koma yang disebut dengan koma diabetik.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

133

b. Gejala Kronik Diabetes mellitus


Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita Diabetes mellitus
adalah sebagai berikut:
1) Kesemutan.
2) Kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum.
3) Rasa tebal di kulit.
4) Kram.
5) Capek.
6) Mudahmengantuk.
7) Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata.
8) Gatal di sekitar kemaluan terutama wanita.
9) Gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual
menurun, bahkan impotensi.
10) Para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin
dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg

C.
D. Menejemen Diabetes Melitus
1. Pemberian Insulin
Seluruh tipe DM memiliki tatalaksana yang relative sama, namun
penekanan pada DM tipe 1 ialah penggunaan insulin untuk bertahan hidup,
sementara insulin pada DM tipe 2 lebih ditujukan untuk control penyakit.
Tata laksanauntuk DM tipe 1 ialah mengatur seminimal mungkin kadar
glukosa dalam darah, maka tatalaksana pada DM tipe 2 lebih ditujukan
pada pengubahan gaya hidup dan komplikasinya. Insulin sudah menjadi
penggunaan sehari-hari yang mutlak bagi penderita DM.
2. Perencanaan Makan/Mengatur Menu makanan
3. Latihan Jasmani/Olahraga
4. Farmakologi
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

134

E. Mencegah Komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pemeriksaan mata satu tahun sekali


Pemeriksaan laboratorium teratur ( gula darah, kolesterol )
Pencegahan luka dan perawatan kaki
Stop merokok
Olahraga teratur
Menurunkan berat badan

Tabel 5.3.1

Distribusi Penderita Diabetes Mellitus di Puskesmas Sering

Bulan Januari Oktober 2015 (Sumber : SP2TP PuskesmasSering, Tahun


2015).
N
o

Bulan

Jenis Kelamin
Laki-laki

Perempuan

Total

Januari

Februari

Maret

16

April

Mei

Juni

11

Juli

Agustus

10

16

September

10

Oktober

Dari tabel 5.3.1 dapat diketahui bahwa penderita Diabetes Mellitus


terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Sering adalah di bulan Maret dan Agustus
total sebanyak 16 jiwa.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

135

5.4. Hipertensi
A. Definisi Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada sistem
peredaran darah di mana terjadi peningkatan dari tekanan sistolik di atas
standard dihubungkan dengan usia dan merupakan penyebab utama jantung
koroner, cidera cerebro vaskuler.
Menurut Departemen Kesehatan RI (1990) Hypertensi didefinisikan
sebagai suatu peninggian yang menetap daripada tekanan darah sistolik di
atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg.

B. Tanda dan Gejala Hipertensi


a. Kepala terasa pusing
b. Rasa berkunang-kunang
c. Rasa pegal di bahu dan perasaan panas / gelisah
d. Kurang tidur
e. Gangguan penglihatan
f. Anoreksia
C. Klasifikasi Hipertensi
a. Klasifikasi tekanan darah menurut JNC VII
Klasifikasi Tekanan

Tekanan Darah

Tekanan Darah

Darah
Normal
Prehipertensi
Hipertensi derajat I
Hipertensi derajat II

Sistolik (mmHg)
< 120
120 139
140 159
160

Diastolik (mmHg)
< 80
80 89
90 99
100

b. Klasifikasi Tekanan Darah menurut WHO / ISH

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

136

D. Faktor Resiko Hipertensi


1) Usia
Tekanan darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Pada
laki-laki meningkat pada usia lebih dari 45 tahun sedangkan pada wanita
meningkat pada usia lebih dari 55 tahun.
2) Ras/etnik
Hipertensi bisa mengenai siapa saja.
3) Jenis Kelamin
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi
daripada wanita.
4) Kebiasaan Gaya Hidup tidak Sehat
a. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan
hipertensi,

sebab

rokok

mengandung

nikotin.

Menghisap

rokok

menyebabkan nikotin terserap oleh pembuluh darah kecil dalam paru-paru


dan kemudian akan diedarkan hingga ke otak. Di otak, nikotin akan
memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau
adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

137

untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih tinggi.
Tembakau memiliki efek cukup besar dalam peningkatan tekanan darah
karena dapatmenyebabkan penyempitan pembuluh darah. Kandungan
bahan kimia dalam tembakau juga dapat merusak dinding pembuluh darah,
Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen
dalam darah. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena
jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke
dalam organ dan jaringan tubuh lainnya.
b. Kurangnya aktifitas fisik
Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung
mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut
mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi.
Makin keras usaha otot jantung dalam memompa darah, makin besar pula
tekanan yang dibebankan pada dinding arteri sehingga meningkatkan
tahanan perifer yang menyebabkan kenaikkan tekanan darah. Kurangnya
aktifitas fisik juga dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang
akan menyebabkan risiko hipertensi meningkat.
E. Cara Mencegah Hipertensi
Pencegahan penyakit hipertensi ada 2, yaitu:
a. Pencegahan Primer
-

Mengatur diet agar berat badan tetap ideal, juga untuk menjaga agar
tidak terjadi hypertensi kolesterolemia, DM, dsb.

Dilarang merokok.

Mengubah kebiasaan makan sehari-hari dan mengkonsumsi rendah


garam.

Melakukan exercise untuk mengendalikan dari perasaan well being.

b. Pencegahan Lain
-

Menurunkan berat badan pada penderita gemuk.

Diet rendah garam dan diet lunak.

Mengubah kebiasaan hidup.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

138

Olahraga secara teratur.

Kontrol tekanan darah secara teratur.

Obat-obatan anti hypertensi.

F. Komplikasi Hipertensi
Umumnya, hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ yang umum
ditemui pada pasien hipertensi adalah:
1) Jantung
- hipertrofi ventrikel kiri
- angina atau infark miokardium
- gagal jantung
2) Otak
- stroke atau transient ishemic attack
3) Penyakit ginjal kronis
4) Penyakit arteri perifer
5) Retinopati
G. Pengobatan Hipertensi
Kelas obat utama yang digunakan untuk mengendalikan tekanan darah
adalah :
1. Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan
diuresis.Pengurangan volume plasma dan Stroke Volume (SV)
berhubungan dengan dieresis dalam penurunan curah jantung (Cardiac
Output, CO) dan tekanan darah pada akhirnya.Penurunan curah
jantung yang utama menyebabkan resitensi perifer. Pada terapi diuretik
pada hipertensi kronik volume cairan ekstraseluler dan volume plasma
hampir kembali kondisi pretreatment.
a. Thiazide
Thiazide adalah golongan yang dipilih untuk menangani hipertensi,
golongan lainnya efektif juga untuk menurunkan tekanan darah.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

139

Penderita dengan fungsi ginjal yang kurang baik Laju Filtrasi


Glomerolus (LFG) diatas 30 mL/menit, thiazide merupakan agen
diuretik yang paling efektif untuk menurunkan tekanan darah.
Dengan menurunnya fungsi ginjal, natrium dan cairan akan
terakumulasi maka diuretik jerat Henle perlu digunakan untuk
mengatasi efek dari peningkatan volume dan natrium tersebut. Hal
ini akan mempengaruhi tekanan darah arteri. Thiazide menurunkan
tekanan darah dengan cara memobilisasi natrium dan air dari
dinding arteriolar yang berperan dalam penurunan resistensi
vascular perifer.
b. Diuretik Hemat Kalium
Diuretik Hemat Kalium adalah anti hipertensi yang lemah jika
digunakan tunggal. Efek hipotensi akan terjadi apabila diuretik
dikombinasikan dengan diuretik hemat kalium thiazide atau jerat
Henle. Diuretik hemat kalium dapat mengatasi kekurangan kalium
dan natrium yang disebabkan oleh diuretik lainnya.
c. Antagonis Aldosteron
Antagonis Aldosteron merupakan diuretik hemat kalium juga tetapi
lebih berpotensi sebagai antihipertensi dengan onset aksi yang
lama (hingga 6 minggu dengan spironolakton).
2. Beta Blocker
Mekanisme hipotensi beta bloker tidak diketahui tetapi dapat
melibatkan menurunnya curah jantung melalui kronotropik negatif dan
efek inotropik jantung dan inhibisi pelepasan renin dan ginjal.
a. Atenolol, betaxolol, bisoprolol, dan metoprolol merupakan
kardioselektif pada dosis rendah dan mengikat baik reseptor 1
daripada reseptor 2. Hasilnya agen tersebut kurang merangsang
bronkhospasmus dan vasokontruksi serta lebih aman dari non
selektif bloker pada penderita asma, penyakit obstruksi
pulmonari kronis (COPD), diabetes dan penyakit arterial perifer.
Kardioselektivitas merupakan fenomena dosis ketergantungan dan
efek akan hilang jika dosis tinggi.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

140

b. Acebutolol, carteolol, penbutolol, dan pindolol memiliki aktivitas


intrinsik simpatomimetik (ISA) atau sebagian aktivitas agonis
reseptor .
3. Inhibitor Enzim Pengubah Angiotensin (ACE-inhibitor)
ACE membantu produksi angiotensin II (berperan penting dalam
regulasi tekanan darah arteri). ACE didistribusikan pada beberapa
jaringan dan ada pada beberapa tipe sel yang berbeda tetapi pada
prinsipnya merupakan sel endothelial. Kemudian, tempat utama
produksi angiotensin II adalah pembuluh darah bukan ginjal. Pada
kenyataannya, inhibitor ACE menurunkan tekanan darah pada
penderita dengan aktivitas renin plasma normal, bradikinin, dan
produksi jaringan ACE yang penting dalam hipertensi.
4. Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
Angiotensin

II

digenerasikan

oleh

jalur

renin-angiotensin

(termasuk ACE) dan jalur alternatif yang digunakan untuk enzim lain
seperti chymases. Inhibitor ACE hanya menutup jalur reninangiotensin, ARB menahan langsung reseptor angiotensin tipe I,
reseptor yang memperentarai efek angiotensin II. Tidak seperti
inhibitor ACE, ARB tidak mencegah pemecahan bradikinin.
5. Antagonis Kalsium
CCB menyebabkan relaksasi jantung dan otot polos dengan
menghambat saluran kalsium yang sensitif terhadap tegangan sehingga
mengurangi masuknya kalsium ekstra selluler ke dalam sel. Relaksasai
otot polos vasjular menyebabkan vasodilatasi dan berhubungan dengan
reduksi tekanan darah.Antagonis kanal kalsium dihidropiridini dapat
menyebbakan aktibasi refleks simpatetik dan semua golongan ini
(kecuali amilodipin) memberikan efek inotropik negative.
Verapamil menurunkan denyut jantung, memperlambat konduksi
nodus AV, dan menghasilkan efek inotropik negative yang dapat
memicu gagal jantung pada penderita lemah jantung yang parah.
Diltiazem menurunkan konduksi AV dan denyut jantung dalam level
yang lebih rendah daripada verapamil.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

141

6. Alpha blocker
Prasozin, Terasozin dan Doxazosin merupakan penghambat
reseptor 1 yang menginhibisi katekolamin pada sel otot polos vascular
perifer yang memberikan efek vasodilatasi.Kelompok ini tidak
mengubah aktivitas reseptor 2 sehingga tidak menimbulkan efek
takikardia.
7. VASO-dilator langsung
Hedralazine dan Minokxidil menyebabkan relaksasi langsung otot
polos arteriol.Aktivitasi refleks baroreseptor dapat meningkatkan aliran
simpatetik dari pusat fasomotor, meningkatnya denyut jantung, curah
jantung, dan pelepasan renin.Oleh karena itu efek hipotensi dari
vasodilator langsung berkurang pada penderita yang juga mendapatkan
pengobatan inhibitor simpatetik dan diuretik.
8. Inhibitor Simpatetik Postganglion
Guanethidin dan guanadrel mengosongkan norepinefrin dari
terminal simpatetik postganglionik dan inhibisi pelepasan norepinefrin
terhadap respon stimulasi saraf simpatetik. Hal ini mengurangi curah
jantung dan resistensi vaskular perifer .
9. Agen-agen obat yang beraksi secara sentral
10. VASO-dilator langsung
5.5.

DIARE

A. Definisi Diare
Berak cair tiga kali atau lebih dalam sehari semalam (24 jam). Para ibu
mungkin mempunyai istilah tersendiri seperti lembek, cair, berdarah,
berlendir, atau dengan muntah (muntaber).
B. Penyebab Diare
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor,yaitu : 4
1. Faktor Infeksi
a. Infeksi enteral :

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

142

Yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama


diare pada anak.
b. Infeksi parenteral
Yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti
otitis media akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia,
Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada
bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.
2. Faktor Malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltose
dan

sukrosa),

monosakarida

(intoleransi

glukosa,

fruktosa

dangalaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering


ialah toleransi laktosa.
b. Mal absorbs lemak.
c. Malabsorbsi protein.
3. Faktor Makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor Psikologis : rasa takut dan cemas. Walaupun jarang, dapat
menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.

C. Gejala Klinis Diare


Mula-mula bayi atau anak akan menjadi cengeng dan gelisah, suhu
tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian
timbul diare. Tinja cair dan mungkin disertai lendirdanatau darah. Warna
tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauankarena tercampur dengan
empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan
tinja semakin lama semakin asam sebagai akibat makin banyaknya asam
laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama
diare.Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat
disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan
keseimbangan asam basa dan electrolit. Bila penderita telah kehilangan
banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Berat
badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi
cekung, selaput lendir bibir dan mulur serta kulit tampak kering.
D. Pengobatan Diare
Departemen Kesehatan mulai melakukan sosialisasi Panduan Tata
Laksana Pengobatan Diare pada balita yang baru didukung oleh Ikatan
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

143

Dokter Anak Indonesia, dengan merujuk pada panduan WHO. Tatalaksana


ini sudah mulai diterapkan di rumah sakit-rumahsakit.
Rehidrasi bukan satu-satunya strategi dalam penatalaksanaan diare.
Memperbaiki kondisi usus dan menghentikan diare juga menjadi cara untuk
mengobati pasien. Untuk itu, Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar
penatalaksanaan diare bagi semua kasus diare yang diderita anak balita baik
yang dirawat di rumah maupun sedang dirawat di rumah sakit, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru


Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
ASI dan makanan tetap diteruskan
Antibiotic selektif
Nasihat kepada orang tua

E. Pencegahan Pada Kehamilan


Karena

penularan

diare

menyebar

melalui

jalur

fekal-oral,

penularannya dapat dicegah dengan menjaga hygiene pribadi yang baik.


Ini termasuk sering mencuci tangans etelah keluar dari toilet dan
khususnya selama mengolah makanan.
Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah pemukiman, dan hewan
ternak harus terjaga dari kotoran manusia. Karena makanan dan air
merupakan penularan yang utama, ini harus diberikan perhatian khusus.
Minum air, air yang digunakan untuk membersihkan makanan, atau air
yang digunakan untuk memasak harus disaring dan diklorinasi.
Tabel 5.5.1 Distribusi Penderita Diare di Puskesmas Sering Bulan Januari
Oktober 2015 (Sumber : SP2TP PuskesmasSering, Tahun 2015).

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

144

L
18

Jenis kelamin
P
17

Total
35

Feb
Mar

16
17

24
13

40
30

Apr

18

21

39

Mei

17

25

Juni

10

16

26

Juli

19

15

34

Agustus

18

20

38

Septembe

22

29

51

10

r
Oktober

19

17

36

No

Bulan

Jan

2
3

Dari tabel 5.4.1 dapat diketahui bahwa penderita Diare terbanyak di


wilayah kerja Puskesmas Sering adalah di bulan Februari total sebanyak 40 jiwa.

5.6.

HIV/AIDS

A. Definisi
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan
kemudian menimbulkan AIDS.AIDS merupakan singkatan dari Aquired
Immune Deficiency Syndrome. Syndrome berarti kumpulan gejala-gejala dan
tanda-tanda penyakit. Deficiency berarti kekurangan, Immune berarti
kekebalan, dan Aquired berarti diperoleh atau didapat, dalam hal ini
diperoleh mempunyai pengertian bahwa AIDS bukan penyakit keturunan.
Seseorang menderita AIDS bukan karena ia keturunan dari penderita AIDS,
tetapi karena ia terjangkit atau terinfeksi virus penyebab AIDS. Oleh karena
itu, AIDS dapat diartikan sebagai kumpulan tanda dan gejala penyakit akibat
hilangnya atau menurunnya sistem kekebalan tubuh seseorang

B. Penyebab HIV
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

145

Virus

HIV

termasuk

kedalam

famili

Retrovirus

sub

famili

Lentivirinae.Virus famili ini mempunyai enzim yang disebut reverse


transcriptase.Enzim ini menyebabkan retrovirus mampu mengubah informasi
genetiknya kedalam bentuk yang terintegrasi di dalam informasi genetik dari
sel yang diserangnya. Jadi setiap kali sel yang dimasuki retrovirus membelah
diri, informasi genetik virus juga ikut diturunkan

C. Gejala Klinis HIV


WHO mengklasifikasikan HIV/AIDS pada orang dewasa menjadi 4
stadium klinis, yaitu : b.1. Stadium I Bersifat asimptomatik, aktivitas normal
dan dijumpai adanya Limfadenopati generalisata. b.2. Stadium II Simptomatik,
aktivitas normal, berat badan menurun <10%, terdapat kelainan kulit dan
mukosa yang ringan seperti Dermatitis seroboik, Prorigo, Onikomikosis, Ulkus
yang berulang dan Kheilitis angularis, Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir,
adanya infeksi saluran nafas bagian atas seperti Sinusitis bakterialis. b.3.
Stadium III Pada umumnya kondisi tubuh lemah, aktivitas di tempat tidur <
50%, berat badan menurun >10%, terjadi diare kronis yang berlangsung lebih
dari 1 bulan, demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan, terdapat Kandidiasis
orofaringeal, TB paru dalam 1 tahun terakhir, infeksi bakterial yang berat
seperti Pneumonia dan Piomiositis. b.4. Stadium IV

Pada

umumnya

kondisi tubuh sangat lemah, aktivitas ditempat tidur >50%, terjadi HIV
wasting syndrome, semakin bertambahnya infeksi opurtunistik seperti
Pneumonia

Pneumocystis

carinii,

Toksoplasmosis

otak,

Diare

Kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan, Kriptosporidiosis ekstrapulmonal,


Retinitis

virus

sitomegalo,

Leukoensefalopati

multifocal

Herpes

simpleks

progresif,

mukomutan

Mikosis

>1

diseminata

bulan,
seperti

histopasmosis, Kandidiasis di esophagus, trakea, bronkus, dan paru,


Tuberkulosis di luar paru, Limfoma, Sarkoma Kaposi, serta Ensefalopati HIV.
D. Pengobatan HIV

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

146

Pengobatan suportif yaitu pengobatan untuk meningkatkan keadaan


umum penderita.Pengobatan ini terdiri dari pemberian gizi yang baik, obat
simptomatik dan pemberian vitamin. b. Pengobatan infeksi opurtunistik
merupakan pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi dan kanker
yang menyertai infeksi HIV/AIDS. 28 Jenis-jenis mikroba yang menimbulkan
infeksi sekunder adalah protozoa (Pneumocystis carinii, Toxoplasma, dan
Cryptotosporidium),

jamur

cytomegalovirus/CMV, Papovirus)

(Kandidiasis),
dan

bakteri

virus

(Herpes,

(Mycobacterium

TBC,

Mycobacterium ovium intra cellular, Streptococcus, dll). Penanganan terhadap


infeksi opurtunistik ini disesuaikan dengan jenis mikroorganisme penyebabnya
dan diberikan terus-menerus.27 c. Pengobatan antiretroviral (ARV), ARV
bekerja langsung menghambat enzim reverse transcriptase atau menghambat
kinerja enzim protease. Pengobatan ARV terbukti bermanfaat memperbaiki
kualitas hidup, menjadikan infeksi opurtunistik.

E. Pencegahan HIV
Pencegahan Primer Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya
agar orang sehat tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit.32
Pencegahan primer merupakan hal yang paling penting, terutama dalam
merubah perilaku. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
a)

Pencegahan dilakukan dengan tindakan seks yang aman dengan


pendekatan ABC yaitu, Abstinence, artinya absen seks ataupun tidak
melakukan hubungan seks bagi orang yang belum menikah merupakan
metode paling aman untuk mencegah penularan HIV/AIDS melalui

b)

hubungan seksual, jika tidak


memungkinkan pilihan kedua adalah Be Faithful, artinya tidak bergantiganti pasangan. Jika kedua hal tersebut tidak memungkinkan juga, maka
pilihan berikutnya adalah penggunaan kondom secara konsisten (Use
Condom). b. Berhenti menjadi pengguna NAPZA terutama narkotika
suntikan, atau mengusahakan agar selalu menggunakan jarum suntik
yang steril serta tidak mengunakannya secara bersama-sama.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

147

c)

Di sarana pelayanan kesehatan harus dipahami dan diterapkan


kewaspadaan universal (universal precaution) untuk mengurangi risiko
penularan HIV melalui darah. Kewaspadaan universal ini meliputi cuci
tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah melakukan
tindakan perawatan, penggunaan alat pelindung yang sesuai untuk setiap
tindakan, pengelolaan dan pembuangan alat tajam secara hati-hati,
pengelolaan

d)

alat

kesehatan

bekas

pakai

dengan

melakukan

dekontaminasi, desinfeksi dan sterilisasi dengan benar.


Pencegahan penyebaran melalui darah dan donor darah dilakukan dengan
skrining adanya antibodi HIV, demikian pula semua organ yang
akandidonorkan, serta menghindari transfusi, suntikan, jahitan dan

e)

tindakan invasif lainnya yang kurang perlu.


WHO mencanangkan empat strategi untuk mencegah penularan vertikal
dari ibu kepada anak yaitu dengan cara mencegah jangan sampai wanita
terinfeksi HIV/AIDS, apabila sudah terinfeksi HIV/AIDS mengusahakan
supaya tidak terjadi kehamilan, bila sudah hamil dilakukan pencegahan
supaya tidak menular

5.7.

DEMAM BERDARAH DENGUE

A. Definisi DBD
Demam Berdarah Dengue adalah salah satu penyakit di daerah tropis
yang di sebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti
(betina).
B. Cara Penularan DBD ( Demam Berdarah Dengue )
1. Hanya oleh nyamuk A. Aegypti Betina
2. Sumber Virus dengue
3. Penderita DBD
4. Tidak Sakit DBD (tapi dalam darahnya terdapat virus dengue)
5. Orang yang tidak sakit ini kemungkinan tinggi menular melalui
nyamuk A. aegypti.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

148

C. Tanda-tanda DBD
1. Gejala Penyakit DBD
a. Panas 2-7 hari
b. Bintik Perdarahan : Untuk membedakan dengan bintik yang
lainnya, kulit diregangkan, apabila merah itu hilang bukan tanda
demam berdarah
2. Gejala Tambahan
a. Nyeri ulu hati
b. Ujung-ujung jari pucat
3. Gejala Lanjutan
a. Perdarahan spontan

D. Pertolongan Pertama Pada Demam Berdarah


1. Penanganan Pertama
a. Beri Minum sebanyak-banyaknya bisa teh, susu dan lainnya,
sebaiknya oralit.
b. Kompres untuk menurunkan panasnya
2. Pertolongan Selanjutnya
a. Beri Obat penurun panas
b. Bawa ke sarana kesehatan terdekat
Jika penderita masih panas dengan sebab yang tidak jelas
setelah/belum pernah diobati ( hari ke-3 panas saat ini )
WASPADA akan Demam Berdarah. Meliputi :
1. Mintalah pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikannya
(laboratorium,dll)
2. Carilah keterangan apakah ada penderita demam berdarah di
sekitar atau penderita demam yang tidak jelas lainnya.
3. Waspadai terjadinya tiba-tiba pucat, lemas dan dingin atau
perdarahan spontan selama panas belum jelas sebabnya.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

149

Pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan atau diminta


untukmendukung dugaab ke arah DBD
1. Torniquet selama 5 menit untuk melihat adanya bintik
perdarahan kulit
2. Cek trombosit ( normal 150.000-400.000 )
Bila hasil mendukung segera rujuk ke sarana kesehatan yang memiliki
sarana lebih lengkap dengan adanya transfusi darah.

E. Pencegahan DBD
1. Cara Fisik
Melalui PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dilakukan dengan
tiga cara yang disebut dengan 3M yaitu :
a. Menguras tempat-tempat penampungan air sekurangkurangnya seminggu sekali.
b. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air.
c. Menguburkan,
menyingkirkan

mengumpulkan,

memanfaatkan

barang-barang

bekas

yang

atau
dapat

menampung air hujan seperti kaleng bekas, plastik bekas


dan lainnya.
Selain itu ditambah dengan cara lainnya yang dikenal
dengan 3M Plus seperti :
a. Ganti vas bunga, minuman burung dan tempat-tempat
lainnya seminggu sekali.
b. Perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar.
c. Tutup lubang pada potongan bambu, pohon dan lainnya.
d. Bersihkan/keringkan

tempat-tempat

yang

dapat

menampung air seperti pelepah pisang atau tanaman


lainnya yang dapat menampung air hujan.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

150

e. Lakukan

Larvasidasi

yaitu

membubuhkan

bubuk

pembunuh jentik (Abate 1 G, Altosid 1,3 G dan Sumilarv


0,5 G) ditempat yang sulit dikuras.
f. Pelihara ikan pemakan jentik.
g. Pasang kawat kasa di rumah.
h. Pencahayaan dan ventilasi memadai.
i. Jangan biasakan menggantung pakaian dalam rumah.
j. Tidur menggunakan kelambu.
k. Gunakan obat nyamuk untuk menegah gigitan nyamuk
2. Cara Kimia dan Larvasidasi
Adalah menaburkan bubuk pembunuh jentik kedalam
tempat penampungan air. Bila menggunakan abate disebut
Abatisasi. Adapun beberapa larvasida yakni :
a. Menggunakan bubuk Abate 1 G (bahan aktif : Temephos 1% )
Bubuk abate 1G berwarna kecoklatan, terbuat dari pasir
yang dilapisi dengan zat kimia yang dapat membunuh jentik
nyamuk. Dalam takaran yang dianjurkan aan bagi manusia dan
tidak menimbulkan keracunan. Jika dimasukan ke air maka sedikit
demi sedikit zat kimia itu akan terlarut merata dan membunuh
semua jentik nyamuk yang ada dalam tempat penampungan air.
Diantaranya

ada

yang

menempel

pada

dinding

tempat

penampungan air dan bertahan sampai 3 bulan. Oleh sebab itu


penaburan abate perlu diulang setiap 3 bulan. Takaran yang
digunakan yakni untuk 100 liter air cukup dengan 10 gr bubuk
abate 1 G.
b.

Fogging ( pengasapan )
Nyamuk A. aegypti dapat diberantas dengan fogging

(pengasapan) racun serangga, termasuk racun serangga yang


digunakan sehari-hari di rumah tangga. Melakukan pengasapan
saja tidak cukup, karena dengan pengasapan itu yang mati hanya
nyamuk dewasanya saja.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

151

Selama jentik tidak dibasmi, setiap hari akan mucul


nyamuk yang baru menetas dari tempat perkembangbiakannya.
Disamping itu biaya yang dikeluarkan untuk melakukan fogging
juga cukup besar. Karena itu cara yang tepat memberantas
jentiknya yang dikenal dengan istilah PSN DBD (Pemberansan
Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue).
3. Cara Biologis
Dengan memelihara ikan pemakan jentik yang diletakan pada
kolam atau genangan air yang sulit dikuras, seperti ikan kepala timah,
cupang dan lainya. Menanam tanaman pengusir nyamuk seperti Lili
gundi.

Tabel 5.7.1 Distribusi Penderita DEMAM BERDARAH DENGUE di


Puskesmas Sering Bulan Januari Oktober 2015 (Sumber : SP2TP
PuskesmasSering, Tahun 2015).

Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Juli
Agustus
Septembe

L
-

Jenis kelamin
P
-

Total
-

r
Oktober

No

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

152

Dari tabel 5.7.1 dapat diketahui bahwa penderita Demam Berdarah Dengue di
wilayah kerja Puskesmas Sering dari bulan Januari Oktober 2015 adalah 0.

5.8.

BAHAYA MEROKOK

A. Definisi Rokok
Rokok adalah salah satu zat adiktif yang bila digunakan
mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat. Kemudian
ada juga yang menyebutkan bahwa rokok adalah hasil olahan tembakau
terbungkus termasuk cerutu atau bahan lainya yang dihasilkan dari tanamam.
Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya
yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan.
B. Bahan Baku Rokok
Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian diisap asapnya,
baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Temperatur pada
sebatang rokok yang tengahdibakar adalah 900OC untu kujung rokok yang
dibakar dan 30OC untuk ujung rokok yang terselip di antara bibir perokok.
Asap rokok yang diisap atau asap rokok yang dihirup melalui dua komponen
yang lekas menguap berbentuk gas dan komponen yang yang bersama gas
terkondensasi menjadi partikel. Dengan demikian, asap rokok yang diisap
dapat berupa gas sejumlah 85% dan sisanya berupa partikel (Sitepoe, 2000).
Asap rokok yang diisap melalui mulut disebut mainstream smoke,
sedangkan asap rokok yang terbentuk pada ujung rokok yang terbakar serta
asap rokok yang dihembuskan keudara oleh perokok disebut sidestream
smoke. Sidestream smoke menyebabkan seseorang menjadi perokok pasif.
Asap rokok mainstream mengandung 4000 jenis bahan kimia berbahaya
dalam rokok dengan berbagai mekanisme kerja terhadap tubuh. Dibedakan
atas fase partikel dan fase gas. Fase partikel terdiri dari pada nikotin,
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

153

nitrosamine, nitrosonorktokin, polisiklik hidrokarbon, logam berat dan


karsinogenik amin. Sedangkan fase yang dapat menguap atau seperti gas
adalah karbonmonoksida, karbondioksid, benzene, amonia, formaldehid,
hidrosianida dan lain-lain (Sitepoe, 2000).
Beberapa bahan kimia yang terdapat di dalam rokok dan mampu
memberika nefek yang mengganggu kesehatan antara lain nikotin, tar, gas
karbon monoksida dan berbagai logam berat seseorang akan terganggu
kesehatan bila merokok secara terus menerus. Hal ini disebabkan adanya
nikotin di dalam asap rokok yang diisap. Nikotin bersifat adiktif.
C. Penyakit yang diakibatkan oleh Rokok
Merokok bukanlah penyebab suatu penyakit, tetapi dapat memicu
suatu jenis penyakit sehingga boleh dikatakan merokok tidak menyebabkan
kematian secara langsung, tetapi dapat mendorong munculnya jenis penyakit
yang dapat mengakibatkan kematian. Berbagai jenis penyakit dapat dipicu
karena merokok mulai dari penyakit di kepala sampai dengan penyakit di
kaki. Penyakit yang bias disebabkan
Oleh merokok adalah seperti sakit kardiovaskuler, penyakit jantung
koroner dan kanker seperti kanker paru-paru, kanker mulut, kanker
esophagus dan lain-lain lagi (Sitepoe, 2000).
Faktor yang mempengaruhi tinggi risiko terkena kanker paru adalah
usia perokok, usia perokok itu mulai merokok dan jumlah rokok yang diisap
dalam satuhari. Risiko terkena kanker paru meningkat 3.62 kali lipat dengan
peningkatan usia perokok sebanyak 10 tahun. Risiko terkena kanker paru
meningkat 2.82 kali lipat dengan peningkatan jumlah rokok yang diisap
dalam sehari.Risiko terkena kanker paru menurun 0.332 kali lipat dengan
peningkatan usia sebanyak 10 tahun perokok mulai merokok (Situmeang,
2001).
Sekitar 85% penderita penyakit paru-paru yang bersifat kronis dan
obstruktif misalnya bronchitis dan emfisema ini adalah perokok. Gejala yang
ditimbulkan pada penyakit paru dan obstruktif berupa batuk kronis, berdahak
dan gangguan pernafasan. Apabila diadakan uji fungsi paru maka pada
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

154

perokok, fungsi parunya jauh lebih jelek dibandingkan dengan bukan perokok
(Sitepoe, 2000).
Rokok merupakan factor risiko penyakit paru obstruktif menahun
yang utama. Asap rokok dapat menganggu aktifitas saluran pernapasan dan
mengakibatkan hipertrofi kelenjar mukosa. Mekanisme kerusakan paru akibat
merokok melalui dua tahap yaitu peradangan yang disertai kerusakan pada
matriks ekstra sel dan menghambat proses perbaikan matriks ekstrasel.
Mekanisme kerusakan paru akibat rokok adalah melalui radikal bebas yang
dikeluarkan oleh asap rokok (Muhammad Amin, 1996).
Pada wanita hamil yang perokok, akan terjadi efek pada janin dalam
kandungannya. Merokok pada wanita hamil member risiko yang tinggi untuk
terjadinya keguguran, kematian janin, kematian bayi sesudah lahir dan
kematian mendadak pada bayi (Sitepoe, 2000). Chanoine J.P (dalam Sitepoe,
2000)

mengatakan

wanita

hamil

perokok

juga

akan

mengganggu

perkembangan kesehatan fisik maupun intelektual anak-anak yang akan


bertumbuh. Chainoine J.P (dalam Sitepoe, 2000) juga mengatakan merokok
bias mengurangi peluang seseorang untuk memiliki anak. Fertilitas pria atau
pun wanita perokok akan mengalami penurunan dibandingkan dengan bukan
perokok.
5.9.

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

A. Defenisi
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang
menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung
sampai paru-paruyang berlangsug sampai ngan 14 hari dan timbul dalam
gejala batuk, pilek dan demam
B.
-

Faktor Resiko Dan Penyebab


Immunisasi yang tidak lengkap
Kurang gizi
Polusi udara
Lingkungan rumah yang tidak sehat dan terlalu sempit ruangan ruangan
akan kekurangan oksigen sehingga menyebabkan menurunnya daya tahan
tubuh

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

155

Kebiasaan anggota keluarga yang merokok.


Pada keluarga yang merokok, secara statistik anaknya mempunyai
kemungkinan terkena ISPA 2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari
keluarga yang tidak merokok

Pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan, gas buang


sarana transportasi
pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan
pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti
sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh
bahan pencemar.

Infeksi sekunder oleh Virus, bakteri

C. Tanda Dan Gejala


Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal dalam
hidung, yang kemudian diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat
dengan ingus encer disertai demam dan nyeri kepala jika terjadi infeksi
sekunder
1. ISPA Ringan
a. Batuk
b. Pilek dengan atau tanpa demam
2. ISPA sedang
a. Batuk
b. Pilek dengan atau tanpa demam
c. Pernapasan cepat
1. Umur <1 tahun : 50 kali per menit atau lebih
2. Umur 1-5 tahun : 40 kali per menit
3. Wheezing (mengi)
4. keluar cairan dari telinga
3. ISPA berat
Tanda-tanda ISPA ringan dan sedang disertai
a. Penarikan dinding dada
b. Kesadaran menurun
c. Bibir/kulit pucat kebiruan
d. Stridor yaitu suara napas seperti mengorok
D. Pencegahan
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

156

Pencegahan tingkat pertama (Primary prevention)


a. mengurangi penyebab dan faktor resiko
b. menjaga lingkungan tetap sehat
c. meningkatkan daya tahan tubuh
d. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
e.Memakai alat pelindung diri seperti masker

Pencegahan tingkat kedua (Secondary prevention)


Pemberian antibiotik dapat mengatasi penumonia yang disebabkan
oleh bakteri, mikoplasma

Pencegahan tingkat ketiga (Rehabilitasi)


pasien yang sudah sembuh tetap di anjurkan untuk tetap menjaga kekebalan
tubuh dan istirahat cukup

E. Tatalaksana Perawatan Di Rumah


1
2
3

Jika panas, di kompres dengan air hangat dan minum obat penurun panas
Tetap diberikan ASI dan makanan bergizi pada bayi dan balita
Awasi bila tanda-tanda penyakit semakin bertambah berat, misalnya
bertambah sesak nafas (segera bawa anak ke Puskesmas atau RS terdekat)

Tabel 5.9.1 Distribusi Penderita ISPA di Puskesmas Sering Bulan Januari


Oktober 2015(Sumber : SP2TP PuskesmasSering, Tahun 2015).

Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Juli
Agustus
Septembe

L
195
208
201
299
203
106
89
81
136

Jenis kelamin
P
347
254
206
302
190
173
126
91
231

Total
542
462
407
601
393
279
215
172
367

r
Oktober

299

363

662

No

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

157

Dari tabel 5.9.1 dapat diketahui bahwa penderita ISPA terbanyak di wilayah
kerja Puskesmas Sering adalah di bulan Oktober total sebanyak 662 jiwa.
5.10

TUBERKULOSIS PARU

A. Definisi
Tuberkulosis Paru adalah TB atau Tuberkulosis adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh kuman TB (mycobacterium tuberculosis).

Kuman ini bisa

menyerang tubuh manusia, terutama paru-paru. Tb bukan penyakit turunan,


bukan disebabkan oleh kutukan atau guna guna
B. Tanda dan Gejala Tuberkulosis Paru

Batuk berdahak selama atau lebih dari 3 minggu


Mengeluarkan dahak campur darah
Keluar keringat pada malam hari
Nafsu makan dan berat menurun
Sesak nafas
Demam pada malam hari sebulan atau lebih

C. Pengobatan Tuberkulosis Paru


Setelah dinyatakan sakit TB, pasien diberi obat yang harus diminum secara
teratur sampai tuntas selama 6-8 bulan.
Pasien Tb dapat menyebabkan kematian jika diberi obat.
Selama masa pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak pada :
- Akhir tahap awal pengobatan (sesudah 2-3 bulan)
- 1 bulan sebelum masa pengobatan terakhir
- Akhir pengobatan
D. Pencegahan TB
-

Minumlah obat teratur, setelah 2 minggu minum obat, maka kuman

tidak akan menular ke orang lain.


KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

158

Pasien tb menutup mulutnya sewaktu batuk & bersin


Tidak membuang dahak di sembarang tempat, tapi di buang pada

tempat khusus dan tertutup.


rumah tinggal harus mempunyai ventilasi udara yang baik agar
aliran udara berjalan lancar.

Tabel 5.10.1 Distribusi Penderita Tb Paru di Puskesmas


Sering Bulan Januari Oktober 2015
(Sumber : SP2TP PuskesmasSering, Tahun 2015).
No

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Juli
Agustus
Septembe

10

r
Oktober

L
6
10
3
2
4
4
6
15
6

Jenis kelamin
P
4
2
3
3
1
3
4
6
3

Total
10
12
6
5
5
7
10
21
9

13

Dari tabel 5.10.1 dapat diketahui bahwa penderita Tb Paru terbanyak di


wilayah kerja Puskesmas Sering adalah di bulan Agustus total sebanyak 21 jiwa.

5.11 CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun)


A. Definisi

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

159

Mencuci tangan adalah kegiatan membersihkan bagian telapak, punggung


tangan dan jari agar bersih dari kotoran dan membunuh kuman penyebab
penyakit yang merugikan kesehatan manusia serta membuat tangan menjadi
harum baunya. Mencuci tangan merupakan kebiasaan yang sederhana, yang
membutuhkan pelatihan yang minim dan tidak membutuhkan peralatan.
Selain itu, mencuci tangan merupakan cara terbaik untuk menghindari sakit.
Kebiasaan sederhana ini hanya membutuhkan sabun dan air

B. Pentingnya Mencuci Tangan Memakai Sabun


Mantan Menteri Kesehatan, Dr. dr. Siti Fadilah Supari mengatakan bahwa
kebiasaan mencuci tangan dengan air saja, tidak cukup untuk melindungi
seseorang dari kuman penyakit yang menempel di tangan. Terlebih bila
mencuci tangan tidak dibawah air mengalir. Berbagi kobokan sama saja
saling berbagi kuman. Kebiasaan itu harus ditinggalkan.
Mencuci tangan pakai sabun terbukti efektif dalam membunuh kuman yang
menempel di tangan. Gerakan nasional cuci tangan pakai sabun dilakukan
sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk pengendalian risiko penyakit
yang berhubungan dengan lingkungan seperti diare dan penyakit kecacingan.
(Hr. Suara Karya 18/6/06).
Sama halnya dengan Erman (2007) yang mengatakan bahwa, untuk
mengatasi kuman dibutuhkan pengertian akan pentingnya kebiasaan mencuci
tangan oleh siapapun. Bukan hanya sekedar mencuci tangan saja melainkan
juga menggunakan sabun dan dilakukan di bawah air yang mengalir karena
sabun bisa mengurangi atau melemahkan kuman yang ada di tangan.

C. Waktu yang tepat untuk mencuci tangan memakai sabun menurut


Handayani, dkk (2000) :
1. Sebelum dan setelah makan.
2. Setelah ganti pembalut.
3. Sebelum dan setelah menyiapkan makanan, khususnya sebelum dan
setelah memegang bahan mentah, seperti produk ternak dan ikan.
4. Setelah memegang hewan atau kotoran hewan.
5. Setelah mengusap hidung, atau bersin di tangan.
6. Sebelum dan setelah mengiris sesuatu.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

160

7. Sebelum dan setelah memegang orang sakit atau orang yang terluka.
8. Setelah menangani sampah.
9. Sebelum memasukkan atau mencopot lensa kontak.
10.Setelah menggunakan fasilitas umum (mis. toilet, warnet, wartel, dan lain
- lain).
11.Pulang bepergian dan setelah bermain.
12.Sesudah buang air besar dan buang air kecil.
D. Bahaya Jika Tidak Mencuci Tangan dengan Sabun.
Disamping manfaat secara kesehatan yang telah terbukti, banyak orang tidak
melakukannya sesering yang seharusnya bahkan setelah ke kamar mandi.
Jika tidak mencuci tangan memakai sabun, kita dapat menginfeksi diri
sendiri terhadap kuman dengan menyentuh mata, hidung atau mulut. Dan
kita juga dapat menyebarkan kuman ke orang lain dengan menyentuh mereka
atau dengan menyentuh permukaan yang mereka sentuh juga seperti handel
pintu. Penyakit infeksi umumnya menyebar melalui kontak tangan ke tangan
termasuk demam biasa (common cold), flu dan beberapa kelainan sistem 13
pencernaan seperti diare. Kebersihan tangan yang kurang juga menyebabkan
penyakit terkait makanan seperti infeksi Salmonella dan E.coli. Beberapa
mengalami gejala yang mengganggu seperti mual, muntah, diare. (Lestari,
2008).
E. Jenis - Jenis Penyakit
Menurut Dr. Handrawan Nadesul ada sekitar 20 jenis penyakit yang bisa
hinggap di tubuh akibat tidak mencuci tangan dengan baik dan benar.
Beberapa penyakit yang dapat disebabkan karena kurang pedulinya terhadap
kegiatan cuci tangan pakai sabun, diantaranya :
1. Diare.
Penyakit diare menjadi penyebab kematian kedua yang paling umum untuk
anak-anak balita. Sebuah ulasan yang membahas sekitar 30 penelitian terkait
menemukan bahwa cuci tangan dengan sabun dapat mengurangi angka
penderita diare hingga separuhnya. Penyakit diare seringkali diasosiasikan
dengan keadaan air, namun secara akurat sebenarnya harus diperhatikan juga
penanganan kotoran manusia seperti tinja dan air kencing, karena kumankuman penyakit penyebab diare berasal dari kotoran-kotoran ini.
Kuman-kuman penyakit ini membuat manusia sakit ketika mereka masuk
mulut melalui tangan yang telah menyentuh tinja, air minum yang
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

161

terkontaminasi, makanan mentah, dan peralatan makan yang tidak dicuci


terlebih dahulu atau terkontaminasi akan tempat makannya yang kotor.
Tingkat kefektifan mencuci tangan dengan sabun dalam penurunan angka
penderita diare dalam persen menurut tipe inovasi pencegahan adalah :
Mencuci tangan dengan sabun (44%), penggunaan air olahan (39%), sanitasi
(32%), pendidikan kesehatan (28%), penyediaan air (25%), sumber air yang
diolah (11%).
2. Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA).
ISPA adalah penyebab kematian utama untuk anak-anak balita. Mencuci
tangan dengan sabun mengurangi angka infeksi saluran pernafasan ini
dengan dua langkah:
1. Dengan melepaskan patogen-patogen pernafasan yang terdapat pada
tangan dan permukaan telapak tangan.
2. Dengan menghilangkan pathogen (kuman penyakit) lainnya (terutama
virus entrentic) yang menjadi penyebab tidak hanya diare namun juga gejala
penyakit pernafasan lainnya. Bukti-bukti telah ditemukan bahwa praktekpraktek menjaga kesehatan dan kebersihan seperti: mencuci tangan sebelum
dan sesudah makan, buang air besar/kecil - dapat mengurangi tingkat infeksi
hingga 25 persen. Penelitian lain menemukan bahwa mencuci tangan dengan
sabun mengurangi infeksi 15 saluran pernafasan yang berkaitan dengan
pnemonia pada anak-anak balita hingga lebih dari 50 persen.
3. Infeksi cacing, infeksi mata dan penyakit kulit.
Penelitian juga telah membuktikan bahwa selain diare dan infeksi saluran
pernafasan penggunaan sabun dalam mencuci tangan mengurangi kejadian
penyakit kulit; infeksi mata seperti trakoma, dan cacingan khususnya untuk
ascariasis dan trichuriasis.
5.12

ASI
eksklusif

A. Definisi ASI eksklusif


ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman
tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan (Depkes RI,
2004).
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

162

Pemberian ASI eksklusif adalah bayi hanya diberikan ASI saja tanpa
tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih
dan tanpa bubur nasi dan tim ( Roesli U, 2001 ).
Pada tahun 2001 World Health Organization / Organisasi Kesehatan
Dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup
bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan sebelumnya (bahwa
ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. (WHO,
2001)
B. Manfaat
1. Bagi Bayi
1) ASI adalah makanan alamiah yang disediakan untuk bayi anda.
Dengan komposisi nutrisi yang sesuai untuk perkembangan bayi
sehat.
2) ASI mudah dicerna oleh bayi.
3) Jarang menyebabkan konstipasi.
4) Nutrisi yang terkandung pada ASI sangat mudah diserap oleh bayi.
5) ASI kaya akan antibodi (zat kekebalan tubuh) yang membantu tubuh
bayi untuk melawan infeksi dan penyakit lainnya..
6) ASI dapat mencegah karies karena mengandung mineral selenium.
7) Dari suatu penelitian di Denmark menemukan bahwa bayi yang
diberikan ASI sampai lebih dari 9 bulan akan menjadi dewasa yang
lebih cerdas. Hal ini diduga karena ASI mengandung DHA/AA. Hal
ini ditunjukkan anak-anak yang tidak diberi ASI mempunyai IQ
(Intellectual Quotient) lebih rendah tujuh sampai delapan poin
dibandingkan dengan anak-anak yang diberi ASI eksklusif.
8) Bayi yang diberikan ASI eksklusif sampai 6 bln akan menurunkan
resiko sakit jantung bila mereka dewasa.
9) ASI juga menurunkan resiko diare, infeksi saluran nafas bagian
bawah, infeksi saluran kencing, dan juga menurunkan resiko
kematian bayi mendadak.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

163

10) Memberikan ASI juga membina ikatan kasih sayang antara ibu dan
bayi.

2. Bagi Ibu
1) Memberikan ASI segera setelah melahirkan akan meningkatkan
kontraksi rahim, yang berarti mengurangi resiko perdarahan.
2) Memberikan ASI juga membantu memperkecil ukuran rahim ke
ukuran sebelum hamil.
3) Menyusui (ASI) membakar kalori sehingga membantu penurunan
berat badan lebih cepat.
4) Beberapa ahli menyatakan bahwa terjadinya kanker payudara pada
wanita menyusui sangat rendah.
5) Menambah panjang kembalinya kesuburan pasca melahirkan,
sehingga memberi jarak antar anak yang lebih panjang alias
menunda kehamilan berikutnya
6) Karena kembalinya menstruasi tertunda, ibu menyusui tidak
membutuhkan zat besi sebanyak ketika mengalami menstruasi (dr.
Suririnah,2009)

C. Kandungan ASI Eksklusif


ASI mengadung:
1) Laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan. Didalam
usus laktosa akan dipermentasi menjadi asam laktat. yang bermanfaat
untuk:
2) Menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen.
3) Merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan
asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin.
4) Memudahkan terjadinya pengendapan calsium-cassienat.
5) Memudahkan penyerapan berbagai jenis mineral, seperti calsium,
magnesium.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

164

6) ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi


selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme,
Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus,
Lactoferrin.
7) ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan
alergi pada bayi.
8) Komposisi ASI tiap 100ml dan perbandingannya dengan susu sapi.

KADAR ZAT GIZI


PROTEIN

ASI
12 gr

SUSU SAPI
3,3 gr

LEMAK

3,8 gr

3,8 gr

LAKTOSA

7,0 gr

4,8 gr

KALORI

75,0 Kal

66,0 Kal

VITAMIN A

53,0 KI

34,0 KI

VITAMIN B1

0,11 mgr

0,42 mgr

VITAMIN C

43,0 mgr

1,8 mgr

KALSIUM

30,0 mgr

125,0 mgr

BESI

0,15 mgr

0,1 mgr

B. PERBEDAAN ANTARA ASI DENGAN SUSU FORMULA


PERBEDAAN

ASI

FORMULA

Komposisi

ASI mengandung zat-zat gizi,

Tidak seluruh zat gizi yang

antara lain:faktor pembentuk

terkandung di dalamnya dapa

sel-sel otak, terutama DHA,

diserap oleh tubuh bayi.

dalam kadar tinggi. ASI juga

Misalnya, protein susu sapi

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

165

mengandung whey (protein

tidak mudah diserap karena

utama dari susu yang

mengandung lebih banyak

berbentuk cair) lebih banyak

casein. Perbandingan whey:

daripada kasein (protein utama

casein susu sapi adalah 20:80

dari susu yang berbentuk


gumpalan) dengan
perbandingan 65:35.
Nutrisi

Mengandung imunoglobulin

Protein yang dikandung oleh

dan kaya akan DHA (asam

susu formula berguna bagi

lemak tidak polar yang berikat

bayi lembu tapi kegunaan bag

banyak) yang dapat membantu

manusia sangat terbatas

bayi menahan infeksi serta

lagipula immunoglobulin dan

membantu perkembangan otak

gizi yang ditambah di susu

dan selaput mata.

formula yang telah disterilkan

bisa berkurang ataupun hilang


Pencernaan

Protein ASI adalah sejenis

Tidak mudah dicerna:

protein yang lebih mudah

serangkaian proses produksi d

dicerna selain itu ada sejenis

pabrik mengakibatkan enzim-

unsur lemak ASI yang mudah

enzim pencernaan tidak

diserap dan digunakan oleh

berfungsi. Akibatnya lebih

bayi. Unsur elektronik dan zat

banyak sisa pencernaan yang

besi yang dikandung ASI lebih

dihasilkan dari proses

rendah dari susu formula tetapi

metabolisme yang membuat

daya serap dan guna lebih

ginjal bayi harus bekerja

tinggi yang dapat memperkecil

keras. Susu formula tidak

beban ginjal bayi. Selain itu

mengandung posporlipid

ASI mudah dicerna bayi karena ditambah mengandung protein


mengandung enzim-enzim

yang tidak mudah dicerna

yang dapat membantu proses

yang bisa membentuk

pencernaan antara lain lipase

sepotong susu yang membeku

(untuk menguraikan lemak),

sehingga berhenti di perut

amilase (untuk menguraikan

lebih lama oleh karena itu taji

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

166

karbohidrat) dan protease

bayi lebih kental dan keras

(untuk menguraikan protein).

yang dapat menyebabkan

susah BAB dan membuat bay


tidak nyaman.
Kebutuhan

Ekonomi

Dapat memajukan pendirian

Kekurangan menghisap

hubungan ibu dan anak. ASI

payudara: mudah menolak

adalah makanan bayi, dapat

ASI yang menyebabkan

memenuhi kebutuhan bayi,

kesusahan bayi menyesuaikan

memberikan rasa aman kepada

diri atau makan terlalu

bayi yang dapat mendorong

banyak, tidak sesuai dengan

kemampuan adaptasi bayi.

prinsip kebutuhan.

Lebih murah: menghemat

Biaya lebih mahal: karena

biaya alat-alat, makanan, dll

menggunakan alat,makanan,

yang berhubungan dengan

pelayanan kesehatan, dll.

pemeliharaan, mengurangi

Untuk memelihara sapi. Biaya

beban perekonomian keluarga.

ini sangat subjektif yang


menjadi beban keluarga.

Kebersihan

Ekonomis

ASI boleh langsung diminum

Polusi dan infeksi:

jadi bias menghindari

pertumbuhan bakteri di dalam

penyucian botol susu yang

makanan buatan sangat cepat

tidak benar ataupun hal

apalagi di dalam botol susu

kebersihan lain yang

yang hangat biarpun makanan

disebabkan oleh penyucian

yang dimakan bayi adalah

tangan yang tidak bersih oleh

makanan bersih akan tetapi

ibu. Dapat menghindari bahaya

karena tidak mengandung ant

karena pembuatan dan

infeksi, bayi akan mudah

penyimpanan susu yang tidak

mencret atau kena penularan

benar.

lainnya.

Tidak perlu disterilkan atau

Penyusuan susu formula dan

lebih mudah dibawa keluar,

alat yang cukup untuk

lebih mudah diminum,

menyeduh susu.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

167

minuman yang paling segar


dan suhu minuman yang paling
tepat untuk bayi.
Penampilan

Bayi mesti menggerakkan

Penyusuan susu formula

mulut untuk menghisap ASI,

dengan botol susu akan

hal ini dapat membuat gigi bayi mengakibatkan penyedotan


menjadi kuat dan wajah

yang tidak puas lalu menyedo

menjadi cantik.

terus yang dapat menambah

beban ginjal dan kemungkina


menjadi gemuk.
Pencegahan

Bagi bayi yang beralergi, ASI

Bagi bayi yang alergiterhadap

dapat menghindari alergi

susu formula tidak dapat

karena susu formula seperti

menghindari mencret,

mencret, muntah, infeksi

muntah,infeksi saluran napas,

saluran pernapasan, asma,

asma, kemerahan,

bintik-bintik, pertumbuhan

pertumbuhan terganggu dan

terganggu dan gejala lainnya.

gejala lainnya yang

disebabkan oleh susu formula


Kebaikan bagi ibu

Dapat membantu kontraksi

Tidak dapat membantu

rahim ibu, lebih lambat datang

kontraksi rahim yang dapat

bulan sehabis melahirkan

membantu pengembalian

sehingga dapat ber-KB alami.

tubuh ibu jadi rahim perlu

Selain itu dapat menghabiskan

dielus sendiri oleh ibu. Tidak

kalori yang berguna untuk

dapat memperlambat waktu

pengembalian postur tubuh ibu. datang bulan yang dapat


Berdasarkan biodata statistik,

menghasilkan cara KB alami.

ibu yang menyusui ASI lebih

Berdasarkan biodata statistik,

rendah kemungkinan menderita ibu yang menyusui susu


kanker payudara, kanker rahim

formula lebih tinggi

dan keropos tulang.

kemungkinan menderita
kanker payudara.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

168

D. Teknik Menyusui Yang Benar


1) Cuci tangan sebelum menyusui dan mengajari ibu
2) Ibu duduk atau berbaring dengan santai (bila duduk lebih baik
menggunakan kursi yang rendah agar kaki ibu menggantung dan
punggung ibu bersandar pada sandaran kursi).
3) Mempersilahkan dan membantu ibu membuka pakaian bagian atas
4) Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan
pada puting dan sekitar areola payudara (cara ini mempunyai
manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting
susu).
5) Mengajari ibu untuk meletakkan bayi pada satu lengan, kepala bayi
berada pada lengkung siku ibu dan bokong bayi berada pada
lengan bawah ibu
6) Mengajari ibu untuk menempelkan perut bayi pada perut ibu
dengan meletakkan satu tangan bayi di belakang badan ibu dan
yang satu di depan, kepala bayi menghadap payudara
7) Mengajari ibu untuk memposisikan bayi dengan telinga dan
lengan pada garis lurus
8) Mengajari ibu untuk memegang payudara dengan ibu jari diatas
dan jari yang lain menopang dibawah serta jangan menekan puting
susu dan areolanya

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

169

9) Mengajari ibu untuk merangsang membuka mulut bayi :


Menyentuh pipi dengan puting susu atau menyentuh sudut mulut
bayi

Cara yang benar

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

170

Cara yang salah


10) Setelah bayi membuka mulut (anjurkan ibu untuk mendekatkan
dengan cepat kepala bayi ke payudara ibu, kemudian memasukkan
puting susu serta sebagian besar areola ke mulut bayi)
11) Setelah bayi mulai menghisap, menganjurkan ibu untuk tidak
memegang atau menyangga payudara lagi
12) Menganjurkan ibu untuk memperhatikan bayi selama menyusui
13) Mengajari

ibu

cara

melepas

isapan

bayi (jari

kelingking

dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau dagu bayi


ditekan ke bawah.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

171

14) Setelah selesai menyusui, mengajarkan ibu untuk mengoleskan


sedikit ASI pada puting susu dan areola. Biarkan kering dengan
sendirinya

cara menyusui yang benar

15) Mengajari ibu untuk menyendawakan bayi :


Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu
kemudian
bersendawa

punggung
(bila

ditepuk

tidak

perlahan-lahan

bersendawa

tunggu

sampai
10

bayi

15

menit) ATAU Bayi ditengkurapkan dipangkuan.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 16 November s/d 26 Desember 2015

172