Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gizi merupakan salah satu aspek yang menentukan derajat kesehatan. Gizi
berperan sebagai unsur pembangunan bagi perkembangan otak, fisik, dan mental
anak di kemudian hari. Mutu hidup yang rendah, produktivitas tenaga kerja yang
berkurang, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak,
serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak
langsung dari masalah gizi kurang.
Beberapa penyakit yang menjadi tolak ukur kesehatan dan status gizi di
masyarakat adalah kekurangan energi protein (KEP), anemia gizi zat besi,
gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), kekurangan vitamin A (KVA).
Keempat penyakit ini merupakan masalah kesehatan gizi di masyarakat yang di
tetapkan pemerintah dengan berbagai program.
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) merupakan salah satu
masalah yang muncul sejak lama. Pada awalnya, hubungan unsur yodium dengan
gondok endemik dilihat sebagai hubungan secara langsung yang ditunjukkan
dengan praktek kedokteran Cina yang menggunakan biji ganggang Sargassum dan
Laminaria japonica yang kaya yodium sebagai obat gondok. Akan tetapi, mulai
tahun 1960-an pandangan para ahli terhadap defisiensi yodium berubah dari
memandang defisiensi yodium berakibat pada gondok endemik dan kretin
endemik saja ke perubahan yang lebih luas, yaitu seperti gangguan perkembangan
susunan saraf pusat termasuk intelegensia.
Dengan demikian istilah defisiensi yodium dahulu yang diidentikkan
dengan gondok endemik degantikan dengan gangguan akibat kekurangan
yodium (GAKY) yang efeknya amat luas, dapat mengenai semua segmen usia
sejak dikandungan ibu hingga orang dewasa.
WHO menyebutkan bahwa secara global defisiensi yodium adalah
penyebab tunggal yang paling terpenting yang bisa menyebabkan kerusakan otak.
1

Telah banyak diterbitkan buku dan publikasi yang melaporkan prevalensi serta
penyebaran gondok endemik di dunia. Terakhir dilaporkan dalam MDIS Working
Paper, 1993.
Kekurangan yodium di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1927,
ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia mulai dari ujung utara (Aceh)
pulau Sumatera sampai ke Papua. Penanggulangannya telah diupayakan sejak
1927 dengan memperkenalkan garam beryodium dengan konsentrasi 5ppm di
pulau Jawa dan pada tahun 1928 di pulau Sumatera.
Kemudian pada survey konsumsi garam beryodium rumah tangga pada
tahun 2000 (SGY 2000), menunjukkan bahwa 83,7% dari rumah tangga
menkonsumsi garam, tetapi hanya 63,4% rumah tangga yang mengkonsumsi
garam dengan kadar yodium cukup (>30 ppm). Sedangkan mengenai pengetahuan
SGY 2000 menunjukkan 69,91% rumah tangga mengetahui manfaat garam
beryodium.
Di provinsi Sumatera Barat, pada SGY 2000 menunjukkan bahwa 90 %
masyarakat mengunakan garam dengan yodium cukup, 9.2% kurang dan 0.7%
tidak terkandung yodium. Sedangkan data random yang di dapat di puskesmas,
sekitar 20% warga memakai garam dengan konsentrasi kurang.
Di lain hal, pada tahun 1998, Total Goiter Rate (TGR) rata-rata Indonesia
adalah 9.8% yang mana provinsi Sumatera Barat mempunyai TGR 20.6%.
Kemudian pemetaan pada tahun 2003 TGR pada murid sekolah dasar adalah
10.8%. Sedangkan di kota Padang terjadi kenaikan TGR , yaitu 8.5% tahun1988
naik menjadi 16.8% pada tahun 1998, meningkat terus menjadi 21.5% pada tahun
2002 dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 26.4 %.
Pada Puskesmas Lubuk Kilangan, terjadi peningkatan TGR yang sangat
bermakna dalam data yang hanya berjarak 3 tahun, yaitu 14.8 % pada tahun 2006
meningkat menjadi 29.9% pada tahun 2009, perubahan dari daerah dengan
endemic ringan ke endemic sedang menuju berat.

1.2 Perumusan Masalah


a. Apa faktor yang menyebabkan tingginya Total Goter Rate (TGR) di
wilayah kerja puskesmas Lubuk Kilangan
b. Langkahlangkah apa saja yang dilakukan untuk menurunkan TGR di
wilayah kerja puskesmas Lubuk Kilangan.
1.3 Tujuan Penulisan
a. Mengidentifikasi masalah yang terdapat pada Puskesmas Lubuk Kilangan.
b. Menemukan

prioritas masalah yang terdapat pada Puskesmas Lubuk

Kilangan.
c. Mengidentifikasi masalah tingginya TGR di wilayah kerja Puskesmas
Lubuk Kilangan.
d. Mencari alternatif solusi untuk pemecahan masalah tingginya TGR di
wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan
e. Menentukan Plan Of Action dari masalah tingginya TGR di wilayah kerja
Puskesmas Lubuk Kilangan

1.4 Manfaat Penulisan


a. Sebagai bahan masukan bagi petugas Puskesmas Lubuk Kilangan
sehingga dapat dijadikan sebagai solusi alternatif dalam menurunkan TGR
di wilayah Lubuk Kilangan.
b. Sebagai bahan pembelajaran bagi dokter muda dalam menerangkan
problem solving cycle.

BAB II
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS
2.1 Sejarah Puskesmas
Puskesmas Lubuk Kilangan didirikan diatas tanah wakaf yang diberikan
KAN pada tahun 1981 dengan Luas tanah 270 M2. Gedung Puskesmas sendiri
didirikan pada tahun 1983 dengan luas bangunan 140 M 2 dengan Pimpinan
Puskesmas yang pertama adalah dr. Meiti Frida dan pada tahun itu juga
Puskesmas mempunyai 1 buah Pustu yaitu Pustu Baringin.
Pembangunan Puskesmas ini dibiayai dari APBN. Pelayanan yang diberikan saat
itu meliputi BP, KIA dan Apotik. Dengan Jumlah pegawai yang ada pada saat itu
sekitar 10 orang dan sampai saat ini telah mengalami pergantian Pimpinan
Puskesmas sebanyak 11 kali.
Pada Tahun 1997 telah dilakukan rehabilitasi Puskesmas secara maksimal, karena
adanya keterbatasan lahan, rumah dinas paramedis yang ada pada saat itu
dijadikan kantor dan juga ada penambahan beberapa ruangan pelayanan lainnya.
Saat sekarang kondisi bangunan Puskesmas Lubuk Kilangan sudah
permanen terdiri dari beberapa ruangan kantor seperti: BP, KIA, Gigi, Labor, KB,
Apotik, Imunisasi dengan jumlah pegawai yang ada sebanyak 52 orang termasuk
3 Pustu. Walaupun demikian bangunan Puskesmas Lubuk Kilangan saat sekarang
masih belum mempunyai gudang obat sehingga masih digabung dengan apotek
dan gudang gizi (PMT), serta ruangan khusus Pelayanan Lansia. Pelayanan
Puskesmas Lubuk Kilangan yang diberikan saat ini adalah 6 Pelayanan Dasar
yaitu: Yankes, P2P, Kesga, Promkes, Kesling dan Program inovatif

(untuk

Puskesmas Lubuk Kilangan saat sekarang Program inovatif Belum berjalan).


2.2 Kondisi Geografis
Letak Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Kilangan secara geografis berbatasan
dengan Kecamatan Pauh di sebelah Utara, dengan Kabupaten Solok di sebelah
Timur, dengan Kecamatan Lubuk Begalung di sebelah Barat dan dengan
Kecamatan Bungus Teluk Kabung Sebelah Selatan.
4

Luas keseluruhan Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan meliputi seluruh


Wilayah Kecamatan Lubuk Kilangan dengan luas Daerah 85,99 Km2.
Secara administrasi Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan terdiri dari 7
Kelurahan, dengan luas masing-masing :
1. Kelurahan Batu Gadang

: 19.29 Km2

2. Kelurahan Indarung

: 52.1 Km2

3. Kelurahan Padang Besi

: 4.91 Km2

4. Kelurahan Bandar Buat

: 2.87 Km2

5. Kelurahan Koto Lalang

: 3.32 Km2

6. Kelurahan Baringin

: 1.65 Km2

7. Kelurahan Tarantang

: 1.85 Km2

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk


Kilangan

2.3 Kondisi Demografis


Berdasarkan data dari Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2010,
tercatat jumlah penduduk Kecamatan Lubuk Kilangan adalah 43.532 Jiwa yang
terdiri dari 10.707 KK. Kelurahan yang paling banyak jumlah penduduknya adalah
Kelurahan Bandar Buat (11.172 jiwa). Besarnya jumlah penduduk tersebut masih
merupakan masalah serius yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Kelurahan Tahun 2010
Kelurahan

Jumlah Penduduk

Jumlah Kepala Keluarga

Kelurahan Bandar Buat

11.172 jiwa

2.743 KK

Kelurahan Padang Besi

6.211 jiwa

1.610 KK

Kelurahan Indarung

10.669 jiwa

2.632 KK

Kelurahan Koto Lalang

6.378 jiwa

1.550 KK

Kelurahan Batu Gadang

5.828 jiwa

1.489 KK

Kelurahan Baringin

1.226 jiwa

244 KK

Kelurahan Tarantang

2.048 jiwa

439 KK

Tabel 2. Jumlah RT/RW Menurut Kelurahan Tahun 2010


Kelurahan
Kelurahan Bandar Buat
Kelurahan Padang Besi
Kelurahan Indarung
Kelurahan Koto Lalang
Kelurahan Batu Gadang
Kelurahan Baringin
Kelurahan Tarantang

Jumlah RW
11
4
12
7
4
2
2

2.4 Sasaran Puskesmas


Jumlah penduduk

: 43.532 Jiwa
6

Jumlah RT
40
20
44
27
18
5
7

Bayi (0-11 Bulan)

: 904 Jiwa

Bayi (6-11 Bulan)

: 542 Jiwa

Anak Balita (24-60 Bulan)

: 3506 Jiwa

Balita (0-60 Bulan)

: 4410 Jiwa

Ibu Hamil (Bumil)

Ibu Nifas (Bufas)

: 970 Jiwa

Ibu Bersalin

: 970 Jiwa

Ibu meneteki (Buteki)

: 1808 Jiwa

Lansia

: 3138 Jiwa

WUS

: 9287 Jiwa

: 1017 Jiwa

2.5 Sarana dan Prasarana


a. Sarana Pendidikan

SMU/SMK

: 3 Unit

SLTP

: 4 Unit

SD

: 23 Unit

TK

: 15 Unit

b. Sarana Kesehatan
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk makin meningkatkan kualitas dan
pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut
penyediaan sarana dan prasarana kesehatan yang bermutu merupakan hal yang
penting. Adapun sarana-sarana yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Lubuk
Kilangan adalah :
1. Puskesmas Induk
Saat ini terdapat 1 unit puskesmas yang terletak pada Kelurahan Bandar Buat.
2. Puskesmas Pembantu
Dalam rangka perluasan jangkauan pelayanan kesehatan yang diberikan pada
unit pelayanan dan tuntutan dari masyarakat atas pelayanan yang cepat dan
terjangkau sudah menjadi kebutuhan mendesak sehingga berdirinya Puskesmas
7

Pembantu yang tersebar disesuaikan dengan peluang yang ada sejumlah 3 unit.
Puskesmas pembantu yang ada antara lain : Pustu Indarung, Pustu Batu Gadang,
Pustu Baringin.
3. Puskesmas Keliling
Sarana transportasi pendukung pelayanan Puskesmas (Puskesmas Keliling)
berjumlah 1 unit. Puskesmas Keliling di Kota Padang diharapkan dapat memberikan
pelayanan kesehatan ke masyarakat secara merata dan terjangkau. Sarana lain yang
dimiliki Puskesmas Lubuk Kilangan antara lain:

Motor Dinas : 4 Unit


Komputer : 2 Unit
Mesin Tik : 2 Unit
Laptop
: 1 Unit
LCD/Infocus: 1 Unit

c. Prasarana Kesehatan

Posyandu Balita
Posyandu Lansia
Kader Kesehatan
Praktek Dokter Swasta
Praktek Bidan Swasta
Pos UKK
Pengobatan Tradisional
Toga

: 43 Buah
: 13 Buah
: 164 Orang
: 5 orang
: 21 orang
: 3 Pos
: 54 Buah
: 152 Buah

2.6 Ketenagaan
Dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari tenaga kesehatan merupakan tenaga
kesehatan yang dibutuhkan berdasarkan rasio standar. Kebutuhan tenaga ini dikaitkan
dengan rencana pengembangan fasilitas kesehatan. Setiap tingkat administrasi
pelayanan mempunyai formasi pegawai bervariasi sejalan dengan mobilisasi . Berikut
Jumlah Tenaga yang berada di lingkungan Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2010 :
8

Dokter Umum

: 3 Orang

Dokter Gigi

: 2 Orang

Sarjana Kesehatan Masyarakat

: 1 Orang

Akper

: 4 Orang

SPK

: 6 Orang

Akbid

: 13 Orang

Bidan (D I)

: 10 Orang

Asisten Apoteker

: 3 Orang

AKL

: 1 Orang

AAK

: 1 Orang

Perawat Gigi

: 2 Orang

Pekarya Kesehatan

: 3 Orang

SMA

: 3 Orang

2.7 Kondisi Sosial, Budaya dan Ekonomi Penduduk


a. Kondisi Sosial dan Budaya
Suku terbesar yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan adalah Suku Minang,
juga ada suku lainnya, yaitu Jawa dan Batak. Mayoritas agama yang dianut
masyarakatnya adalah Islam( 43.451 Jiwa) dan Kristen dan Katolik (80 Jiwa).
c. Kondisi Ekonomi
Mata pencaharian penduduk umumnya adalah pegawai negeri, swasta, buruh, dan
tani.

2.8 Struktur Puskesmas


STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS LUBUK KILANGAN

Keterangan

:
: Garis Komando
: Garis Koordinasi
Bagan 1. Struktur Organisasi
Puskesmas
10