Anda di halaman 1dari 28

9

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Imunisasi
2.1.1 Definisi Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak di
imunisasi, berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit
tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit. Tetapi
belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain (Notoatmodjo, 2003).
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi
dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh
membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.
Sedangkan yang dimaksud dengan vaksin adalah bahan yang dipakai
untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam
tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin BCG, DPT, dan Campak)
dan melalui mulut (misalnya vaksin polio) (Hidayat, 2008).
Imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama. Imunisasi
adalah suatu pemindahan atau transfer antibodi secara pasif,
sedangkan istilah vaksinasi dimaksudkan sebagai pemberian vaksin
(antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibody)
dari system imun di dalam tubuh. Imunitas secara pasif dapat
diperoleh dari pemberian dua macam bentuk, yaitu immunoglobulin
yang non spesifik atau gamaglobulin dan immunoglobulin yang
spesifik yang berasal dari plasma donor yang sudah sembuh dari
9

10

penyakit tertentu atau baru saja mendapatkan vaksinasi penyakit


tertentu (Ranuh, 2008).
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia
terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit (Ranuh, 2008).
2.1.2

Tujuan Imunisasi
Tujuan dalam pemberian imunisasi, antara lain :
a. Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan
menghilangkan penyakit tertentu di dunia
b. Melindungi dan mencegah penyakit-penyakit menular yang sangat
berbahaya bagi bayi dan anak
c. Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat
mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu
d. Menurunkan morbiditas, mortalitas dan cacat serta bila mungkin
didapat eradikasi sesuatu penyakit dari suatu daerah atau negeri
e. Mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat
membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian
pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari
dengan imunisasi yaitu seperti campak, polio, difteri, tetanus,
batuk rejan, hepatitis B, gondongan, cacar air, TBC, dan lain
sebagainya
f. Mencegah terjadinya penyakit tetentu pada seseorang, dan
menghilangkan penyakit pada sekelompok masyarakat (populasi)
atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti
pada imunisasi cacar (Maryunani, 2010).

2.1.3

Manfaat Imunisasi
Manfaat imunisasi bagi anak dapat mencegah penyakit
cacat dan kematian, sedangkan manfaat bagi keluarga adalah dapat

11

menghilangkan kecemasan dan mencegah biaya pengobatan yang


tinggi bila anak sakit. Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar
lengkap akan terlindungi dari beberapa penyakit berbahaya dan akan
mencegah penularan ke adik dan kakak dan teman-teman disekitarnya.
Dan manfaat untuk negara adalah untuk memperbaiki tingkat
kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk
melanjutkan pembangunan negara (Proverawati & Andhini, 2010).
2.1.4

Macam Macam Imunisasi


Imunitas atau kekebalan, dibagi dalam dua hal, yaitu aktif dan
pasif. Aktif adalah bila tubuh anak ikut menyelenggarakan
terbentuknya imunitas, sedangkan pasif adalah apabila tubuh anak
tidak bekerja membentuk kekebalan, tetapi hanya menerimanya saja
(Hidayat, 2008).
a. Imunisasi aktif
Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman
yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk
merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya :
imunisasi polio atau campak. Imunisasi aktif ini dilakukan dengan
vaksin yang mengandung :
1) Kuman-kuman mati (misalnya : vaksin cholera typhoid / typhus
abdomi nalis paratyphus ABC, vaksin vertusis batuk rejan)
2) Kuman-kuman hidup diperlemah (misalnya : vaksin BCG
terhadap tuberkulosis)
3) Virus-virus hidup diperlemah (misalnya : bibit cacar, vaksin
poliomyelitis)

12

4) Toxoid (= toksin = racun dari pada kuman yang dinetralisasi:


toxoid difteri, toxoid tetanus) (Hidayat, 2008).
Vaksin diberikan dengan cara disuntikkan atau per-oral
melalui mulut. maka pada pemberin vaksin tersebut tubuh akan
membuat zat-zat anti terhadap penyakit yang bersangkutan, oleh
karena itu dinamakan imunisasi aktif, kadar zat-zat dapat diukur
dengan pemeriksaan darah, dan oleh sebab itu menjadi imun
(kebal) terhadap penyakit tersebut. Pemberian vaksin akan
merangsang tubuh membentuk antibodi. Untuk itu dalam
imunisasi aktif terdapat empat macam kandungan yang terdapat
dalam setiap vaksinnya, antara lain :
1) Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai
zat atau mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan,
yang dapat berupa poli sakarida, toxoid, atau virus yang
dilemahkan atau bakteriyang dimatikan
2) Pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur
jaringan
3) Preservatif, stabiliser, dan antibiotik yang berguna untuk
mencegah tumbuhnya mikroba sekaligus untuk stabilisasi
antigen
4) Adjuvans yang terdiri atas garam aluminium yang berfungsi
untuk imunogenitas antigen (Hidayat, 2008).
Keuntungan imunisasi aktif yaitu :
1) Pertahanan tubuh yang terbentuk akan dibawa seumur hidup
2) Murah dan efektif
3) Tidak berbahaya, reaksi yang serius jarang terjadi (Hidayat, 2008).
b. Imunisasi Pasif
Imunisasi pasif merupakan pemberian zat (imunoglobulin),
yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang

13

dapat berasal dari plasma manusia atau binatang yang digunakan


untuk mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh
yang terinfeksi (Hidayat, 2008).
Imunisasi pasif perlu diberikan pada kondisi-kondisi
tertentu. Pada difteria atau tetanus, toksin dalam sirkulasi perlu
dinetralisasi dengan antibodi terhadap toksin tersebut. Antibodi
dari luar perlu diberikan bila penderita belum pernah diimunisasi
sehingga tidak dapat diharapkan timbul respons sekunder terhadap
toksin ini. Antibodi diberikan pada kasus-kasus gas gangren,
botulism, gigitan ular atau kalajengking berbisa, dan rabies
(Wahab 2002).
2.1.5

Cara Pemberian Imunisasi Dan Waktu Pemberian Imunisasi


Tabel 2.1
Vaksin

Dosis

Cara pemberian

BCG

0,05 ml

Disuntikkan secara intrakutan didaerah kanan


atas
(insertio musculus deltoideus)

DPT

0,5 ml

Secara intramuscular

Polio

2 tetes

Diteteskan ke mulut

Campak

0,5 ml

Subkutan, biasanya dilengan kiri atas

Hepatitis B

0,5 ml

Intramuscular pada anterolateral paha

Cara pemberian imunisasi dasar (DepKes 2006)

Tabel 2.2

14

Umur

Jenis imunisasi

0-7 hari

Hepatitis B 1

1 bulan

BCG

2 bulan

Hepatitis B 2, DPT 1, Polio 1

3 bulan

Hepatitis B 3, DPT 2, Polio 2

4 bulan

DPT 3, Polio 3

9 bulan

Campak, Polio 4

Waktu yang tepat untuk pemberian imunisasi dasar (DepKes RI, 2006)
2.1.6

Tempat Mendapatkan Pelayanan Imunisasi


a. Puskesmas
1) KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
2) UKS (Usaha Kesehatan Masyarakat)
3) Posyandu
4) Balai pengobatan
b. Non Puskesmas, meliputi :
1) Rumah sakit
2) Rumah sakit bersalin
3) Rumah bersalin
4) Dokter praktek anak
5) Dokter umum praktek
6) Dokter spesialis kebidanan
7) Bidan praktek
8) Balai kesehatan masyarakat

2.1.7

Jenis Jenis Imunisasi Dasar


Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang perlu diberikan
pada

semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir untuk

melindungi

tubuhnya

dari

penyakit-penyakit

(Maryunani, 2010).
a. Imunisasi BCG (Bacillus Celmette Guerin)
1) Pengertian

yang

berbahaya

15

Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk


menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis
(TBC), yaitu penyakit paru-paru yang sangat menular
(Maryunani, 2010).
2) Pemberian Imunisasi
Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah satu kali dan tidak
perlu diulang (boster). Sebab, vaksin BCG berisi kuman hidup
sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. Berbeda
dengan vaksin berisi kuman mati, hingga memerlukan
pengulangan (Maryunani, 2010).
3) Usia Pemberian Imunisasi
Sedini mungkin atau secepatnya, tetapi pada umumnya di bawah

2 bulan. Jika diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan dilakukan


tes Mantoux (tuberkulin) terlebih dahulu untuk mengetahui
apakah

bayi

sudah

kemasukan

kuman

Mycobacterium

Tuberculosis atau belum. Vaksinasi dilakukan bila hasil tes-nya


negative. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering
bertandang kerumah, segera setelah lahir bayi di imunisasi BCG
(Maryunani, 2010).
4) Cara Pemberian Imunisasi
Pemberian imunisasi BCG dilakukan secara Intra Cutan (IC)

dengan dosis 0.05 cc menggunakan jarum pendek yang sangat


halus (10 mm,ukuran 26).Sebaiknya dilakukan ketika bayi
baru lahir sampai berumur 12 bulan, tetapi sebaiknya pada
umur 0-2 bulan. Hasil yang memuaskan trlihat apabila

16

diberikan menjelang umur 2 bulan. BCG dilakukan dilengan


kanan atas atau paha kanan atas.(Depkes RI,2005)
5) Tanda Keberhasilan Imunisasi
Timbul indurasi (benjolan) kecil dan eritema (merah) di daerah

bekas suntikan setelah satu atau dua minggu kemudian,yang


berubah menjadi pustule, kemudian pecah menjadi ulkus
(luka). Tidak menimbulkan nyeri dan tidak diiringi panas
(demam). Luka ini akan sembuh sendiri dan meninggalkan
tanda parut. Jikapun indurasi (benjolan) tidak timbul, hal ini
tidak

perlu

dikhawatirkan.

Karena

kemungkinan

cara

penyuntikan yang salah, mengingat cara menyuntikkannya


perlu keahlian khusus karena vaksin harus masuk kedalam
kulit. Jadi, meskipun benjolan tidak timbul, antibodi tetap
terbentuk, hanya saja dalam kadar rendah. Imunsasi tidak perlu
diulang, karena di daerah endemi TB, infeksi alamiah akan
selalu ada. Dengan kata lain akan mendapat vaksinasi alamiah
(Maryunani, 2010).
6) Efek Samping
Imunisasi Biasanya setelah suntikan BCG setelah 2 minggu
akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan
dengan garis tengah 10 mm akan sembuh sendiri denagan
meninggalkan jaringan parut dengan garis tengah 3-7 mm
(Atikah,2009).
7) Kontra Indikasi Imunisasi

(a) Seorang anak menderita penyakit kulit yang berat atau

17

menahun ,seperti eksim, furunkolis, dan sebagainya.


(b) Imunisasi tidak boleh di berikan pada orang atau anak
yang sedang menderita TBC (Atikah,2009).
b. Imunisasi DPT (diphtheria, pertusis, tetanus)
1) Pengertian
Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang diberikan untuk
menimbulkan kekebalan aktif terhadap beberapa penyakit
berikut ini:
(a) Penyakit difteri, yaitu radang tenggorokan yang sangat
berbahaya karena menimbulkan tenggorokan tersumbat
dan kerusakan jantung yang menyebabkan kematian dalam
beberapa hari saja
(b) Penyakit pertusis, yaitu radang paru (pernapasan), yang
disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari. Karena
sakitnya bisa mencapai 100 hari atau 3 bulan lebih.
Gejalanya sangat khas, yaitu batuk yang bertahap, panjang
dan lama disertai bunyi whoop/ berbunyi dan diakhiri
dengan muntah, mata dapat bengkak atau penderita dapat
meninggal karena kesulitan bernapas.
(c) Penyakit tetanus, yaitu penyakit kejang otot seluruh tubuh
dengan mulut terkunci / terkancing sehingga mulut tidak
bisa membuka atau dibuka (Maryunani, 2010).
2) Pemberian Imunisasi dan usia pemberian ImunisasiPemberian
imunisasi 3 kali (paling sering dilakukan), yaitu pada usia 2
bulan, 4 bulan dan 6 bulan. Namun, bisa juga ditambahkan 2
kali lagi, yaitu 1 kali di usia 18 bulan dan 1 kali di usia 5

18

tahun. Selanjutnya di usia 12 tahun, diberikan imunisasi TT


(Maryunani, 2010).
3) Cara Pemberian Imunisasi
Cara pemberian imunisasi

DPT adalah melalui injeksi

Intramuskular. Suntikan diberikan di paha tengah luar atau


subkutan dalam dengan dosis 0,5 cc. Pemberian vaksin DPT
diberikan tiga kali mulai bayi berumur 2 bulan sampai 11 bulan
dengan interval 4 minggu.(Depkes RI,2005)
4) Efek Samping Imunisasi
Biasanya, hanya gejala-gejala ringan, seperti sedikit demam
(sumeng) saja dan rewel selama 1-2 hari, kemerahan,
pembengkakan, agak nyeri atau pegal-pegal pada tempat
suntikan, yang akan hilang sendiri dalam beberapa hari, atau
bila masih demam dapat diberikan obat penurun panas bayi.
Atau bisa juga dengan memberikan minum cairan lebih
banyak dan tidak memakaikan pakaian terlalu banyak
(Maryunani, 2010).
5) Kontraindikasi Imunisasi
Imunisasi ini tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah

dan menderita penyakit kejang demam kompleks. Juga tidak


boleh diberikan pada anak dengan batuk yang diduga mungkin
sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal pada penyakit
gangguan kekebalan. Bila suntikan DPT pertama terjadi reaksi
yang berta maka sebaiknya suntukan berikut jangan diberikan
DPT lagi melainkan DT saja. Sakit batuk, filek dan demam

19

atau diare yang sifatnya ringan, bukan merupakan kontra


indikasi yang mutlak (Atikah,2009)
c. Imunisasi Polio
1) Pengertian
Imunisasi Polio adalah imunisasi yang diberikan untuk
menimbulkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis, yaitu
penyakit

radang

yang

menyerang

saraf

dan

dapat

mengakibatkan lumpuh kaki. - Imunisasi Polio adalah


imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit
poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.
(Kandungan vaksin polio adalah virus yang dilemahkan)
(Maryunani, 2010).
2) Pemberian Imunisasi
Bisa lebih dari jadwal yang telah ditentukan, mengingat
adanya imunisasi polio massal atau Pekan Imunisasi Nasional.
Tetapi jumlah dosis yang berlebihan tidak akan berdampak
buruk, karena tidak ada istilah overdosis dalam imunisasi
(Maryunani, 2010).
3) Usia Pemberian Imunisasi
Waktu pemberian polio adalah pada umur bayi 0-11 bulan atau

saat lahir (0 bulan), dan berikutnya pada usia bayi 2 bulan, 4


bulan, dan 6 bulan. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio
selalu dibarengi dengan vaksin DPT (Maryunani, 2010).

4) Cara Pemberian Imunisasi

20

Di Indonesia dipakai vaksin sabin yang diberikan melalui


mulut. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau
berumur beberapa hari, dan selanjutnya setiap 4-6 minggu.
Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes ( 0,1 ml) langsung ke
mulut anak atau dengan sendok yang menggunakan larutan
gula.Setiap

membuka

vial

baru

harus

menggunakan

penetes( dopper) yang baru (Depkes RI,2005).


5) Efek Samping Imunisasi
Pada imunisasi polio hampir tidak ada efek samping. Bila ada,

mungkin berupa kelumpuhan anggota gerak seperti pada


penyakit polio sebenarnya (Atikah,2009).
6) Kontraindikasi Imunisasi
Penyakit gangguan kekebalan tidak diberikan imunisasi polio.

Demikian juga anak dengan dengan penyakit HIV/AIDS,


penyakit kanker atau keganasan, sedang menjalani pengobatan
steroid dan pengobatan radiasi umum, untuk tidak diberikan
imunisasi polio (Maryunani, 2010).
7) Tingkat Kekebalan
Bisa mencekal penyakit polio hingga 90 % (Maryunani, 2010).

d. Imunisasi Campak
1) Pengertian
Imunisasi campak adalah imunisasi yang diberikan untuk
menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit campak
(morbili/measles). Kandungan vaksin campak ini adalah virus
yang dilemahkan.

21

Sebenarnya, bayi sudah mendapat kekebalan campak dari


ibunya. Namun seiring bertambahnya usia, antibodi dari
ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan
lewat pemberian vaksin campak. Penyakit campak mudah
menular, dan anak yang daya tahan tubuhnya lemah gampang
sekali terserang penyakit yang disebabkan virus morbili ini.
Namun, untungnya campak hanya diderita sekali seumur
hidup. Jadi sekali terkena campak, setelah itu biasanya tidak
akan terkena lagi (Maryunani, 2010).
2) Pemberian Imunisasi
Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah satu kali

(Maryunani, 2010).
3) Usia Pemberian Imunisasi
Imunisasi campak diberikan 1 kali pada usia 9 bulan, dan
dianjurkan pemberiannya sesuai jadwal. Selain karena antibodi
dari ibu sudah menurun di usia bayi 9 bulan, penyakit campak
umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai usia 12
bulan anak belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada
usia 12 bulan ini anak harus diimunisasi MMR (Measles
Mumps Rubella) (Maryunani, 2010).
4) Cara Pemberian Imunisasi
Sebelum di suntikan vaksin campak terlebih dahulu dilarutkan

dengan pelarut.Kemudian disuntikan lengan kiri atas secara


subkutan (Depkes RI, 2005).
5) Efek Samping Imunisasi

22

Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin


terjadi demam ringan dan terdapat efek kemerahan / bercak
merah pada pipi di bawah telinga pada hari ke 7 8 setelah
penyuntikan. Kemungkinan juga terdapat pembengkakan pada
tempat penyuntikan (Maryunani, 2010).
6) Kontra Indikasi Imunisasi
Kontra indikasi pemberian imunisasi campak adalah anak :
(a) Dengan penyakit infeksi akut yang disertai demam
(b) Dengan penyakit gangguan kekebalan
(c) Dengan penyakit TBC tanpa pengobatan
(d) Dengan kekurangan gizi berat
(e) Dengan penyakit keganasan
(f) Dengan kerentanantinggi terhadap protein telur, kanamisin

dan eritromisin (antibiotik) (Maryunani, 2010).


e. Imunisasi Hepatitis B
1) Pengertian
Imunisasi Hepatitis B adalah imunisasi yang diberikan untuk
menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B,
yaitu penyakit infeksi yang dapat merusak hati. Imunisasi
Hepatitis B adalah imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit hepatitis, yang kandungannya adalah
HbsAg dalam bentuk cair ) (Maryunani, 2010).
2) Pemberian Imunisasi
Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B adalah 3 kali

(Maryunani, 2010).
3) Usia Pemberian Imunisasi
Sebaiknya diberikan 12 jam setelah lahir. Dengan syarat kondisi
bayi dalam keadaan stabil, tidak ada gangguan pada paru-paru
dan jantung. Kemudian dilanjutkan pada saat bayi berusia 1

23

bulan, dan usia antara 3 6 bulan. Khusus bayi yang lahir dari
ibu pengidap hepatitis B, selain imunisasi yang diberikan kurang
dari 12 jam setelah lahir, juga diberikan imunisasi tambahan
dengan immunoglobulin anti hepatitis B dalam waktu sebelum
usia 24 jam ) (Maryunani, 2010).
4) Cara Pemberian Imunisasi
Cara pemberian imunisasi hepatitis B adalah dengan cara
intramuskuler (I.M atau i.m) di lengan deltoid atau paha
anterolateral bayi (antero : otot-otot dibagian depan, lateral : otot
bagian luar). Penyuntikan dibokong tidak dianjurkan karena bisa
mengurangi efektivitas vaksin ) (Maryunani, 2010).
5) Efek Samping Imunisasi
Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri pada
tempat suntikan, yang mungkin disertai dengan timbulnya rasa
panas atau pembengkakan. Reaksi ini kan menghilang dalam
waktu 2 hari. Reaksi lain yang mungkin terjadi ialah demam
ringan (Atikah,2009).
6) Tanda Keberhasilan
Tidak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. Tetapi

dapat dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan


darah atau mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak
berusia setahun. Bila kadarnya diatas 1000, berarti daya
tahannya 8 tahun. Diatas 500 tahan selama 5 tahun. Diatas 200
tahan selama 3 tahun. Tetapi bila angkanya 100 maka dalam
setahun akan hilang. Sementara bila angka nol bayi harus
disuntik ulang 3 kali lagi (Maryunani, 2010).

24

7) Kontraindikasi Imunisasi
Imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita

penyakit berat. Dapat diberikan kepada ibu hamil dengan aman


dan

tidak

memberikan

akan

membahayakan

perlindungan

kepada

janin.

Bahkan

janin

selama

akan
dalam

kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan


setelah lahir (Atikah,2009).
8) Tingkat Kekebalan
Cukup tinggi, antara 94 96. Umumnya, setelah 3 kali

suntikan,lebih dari 95 % bayi mengalami respon imun yang


cukup (Maryunani, 2010).
2.1.8

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)


Untuk kepentingan oprasional kejadian ikutan pasca imunisasi
didefinisikan sebagai semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi
dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Kriteria WHO western pasifik
untuk memilih KIPI dalam lima kelompok penyebab yaitu :
a. Kesalahan program/ teknik pelaksanaan imunisasi
Sebagian besar kasus KIPI berhubungan dengan masalah program
dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program
penyimpanan, pengelolaan dan tata laksana pemberian vaksin,
misalnya terjadi pada :
1) Dosis antigen (terlalu banyak)
2) Lokasi dan cara menyuntik
3) Sterilisasi semprit dan jarum suntik
4) Jarum bekas pakai
5) Tindakan aseptik dan antiseptik
6) Kontaminasi vaksin dan peralatan suntik
7) Penyimpanan vaksin
8) Pemakaian sisa vaksin
9) Jenis dan jumlah peralut vaksin

25

10) Tidak memperhatikan petunjuk produsen (petunjuk pemakaian,


indikasi kontra) (Purnamaningrum,2011).
Kecurigaan terhadap kesalahan tata laksana perlu diperhatikan apabila
terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama.
Kecenderungan lain adalah apabila suatu kelompok populasi
mendapat vaksin dengan batch yang sama tetapi tidak terdapat
masalah atau apabila sebagian populasi setempat dengan karakteristik
serupa yang tidak diimunisasi tapi justru menunjukkan masalah
tersebut (Purnamaningrum,2011).
b. Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum
suntik baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat
sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misal rasa sakit,
bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi
suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing dan mual
(Purnamaningrum,2011).
c. Induksi vaksin (reaksi vaksin)
Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah
dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi
simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun
demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi
anafilaksis sistemik dengan resiko kematian. Reaksi simpang
ini sudah teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam
petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai indikasi
kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atau berbagai

26

tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan


interaksi dengan obat atau vaksin lain. Petunjuk ini harus
diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh pelaksana
imunisasi (Purnamaningrum,2011).
d. Faktor kebetulan (koinsiden)
Indikator faktor kebetulan ditandai dengan ditemukannya
kejadian yang sama disaat bersamaan pada kelompok populasi
setempat dengan karakteristik serupa tetapi tidak mendapat
imunisasi (Purnamaningrum,2011).
e. Penyebab tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat
dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab maka untuk
sementara dimasukkan ke dalam kelompok ini sambil menunggu
informasi lebih lanjut. Biasanya dengan kelengkapan informasi
tersebut akan dapat ditentukan

kelompok

penyebab

KIPI

(Purnamaningrum,2011).
2.1.9

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Imunisasi Dasar


Lengkap
Menurut Suparyanto (2011), faktor yang mempengaruhi imunisasi
dasar lengkap adalah :
a. Pendidikan
Ada pengaruh tingkat pendidikan terhadap penggunaan
fasilitas pelayanan kesehatan. Bahwa penggunaan posyandu
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dapat membuat orang menjadi
berpandangan lebih luas berfikir dan bertindak secara rasional

27

sehingga latar belakang pendidikan seseorang dapat mempengaruhi


penggunaan pelayanan kesehatan (Notoadmodjo, 2007).
Pendidikan terjadi melalui kegiatan atau proses belajar yang
dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Kegiatan
belajar

mempunyai

ciri-ciri:

belajar

adalah

kegiatan

yang

menghasilkan perubahan pada diri individu, kelompok, atau


masyarakat yang sedang belajar, baik aktual maupun potensial. Ciri
kedua dari hasil belajar bahwa perubahan tersebut di dapatkan
karena kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif
lama. Ciri yang ketiga adalah bahwa perubahan itu terjadi karena
usaha, dan didasari bukan karena kebetulan (Notoadmodjo, 2007).
Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka
akan semakin baik pula tingkat pengetahuannya. Ibu dengan
pendidikan yang relatif tinggi cenderung memiliki kemampuan
untuk menggunakan sumber daya keluarga yang lebih baik
dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah, karena
pengetahuan makanan yang bergizi sering kurang dipahami oleh ibu
yang tingkat pendidikannya rendah, sehingga memberi dampak
dalam mengakses pengetahuan khususnya dibidang kesehatan untuk
penerapan dalam kehidupan keluarga terutama pada pengasuh anak
balita (Notoadmodjo, 2007).
Ruang lingkup pendidikan terdiri dari pendidikan informal,
non formal dan formal. Pendidikan informal adalah pendidikan yang
diperoleh seseorang di rumah dalam lingkungan keluarga. Pendidikan
informal berlangsung tanpa organisasi, yakni tanpa orang tertentu

28

yang diangkat atau ditunjuk sebagai pendidik, tanpa suatu program


yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, dan tanpa
evaluasi yang formal berbentuk ujian. Sementara itu pendidikan non
formal meliputi berbagai usaha khusus yang diselenggarakan secara
terorganisasi terutama generasi muda dan orang dewasa, yang tidak
dapat sepenuhnya atau sama sekali tidak berkesempatan mengikuti
pendidikan sekolah dapat memiliki pengetahuan praktis dan
ketrampilan dasar yang mereka perlukan sebagai warga masyarakat
yang produktif. Sedangkan pendidikan formal adalah pendidikan yang
mempunyai bentuk atau organisasi tertentu seperti terdapat di sekolah
atau universitas (Notoatmodjo, 2007).
Menurut Undang-undang Republik

Indonesia

tentang

pendidikan No 20 Tahun 2003, jenjang pendidikan formal terdiri atas


pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi.
Pendidikan dasar yaitu jenjang pendidikan yang melandasi jenjang
pendidikan menengah seeperti SD, MI, SMP, dan MTS atau bentuk
lain yang sederajat. Sementara itu pendidikan menengah yaitu
lanjutan pendidikan dasar yang terdiri dari pendidikan menengah
kejuruan seperti SMA, MA, SMK, dan MAK atau bentuk lain yang
sederajat.

Sedangkan

pendidikan

tinggi

merupakan

jenjang

pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program


pendidikan

Diploma,

Sarjana,

Magister

diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.

dan

Doktor

yang

29

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan terbagi


menjadi 3 meliputi faktor umur, faktor tingkat sosial ekonomi dan
faktor lingkungan. Faktor umur merupakan indikator kedewasaan
seseorang, semakin bertambah umur pendidikan yang didapat akan
lebih banyak. Baik itu pendidikan formal maupun pendidikan non
formal yang diinginkan adalah terjadinya perubahan kemampuan,
penampilan atau perilakunya. Selanjutnya perubahan perilaku
didasari adanya perubahan atau penambahan pengetahuan, sikap
atau ketrampilannya (Notoatmodjo, 2007).
b. Pekerjaan
Pekerjaan ialah sekumpulan kedudukan (posisi) yang
memiliki persamaan kewajiban atau tugas-tugas pokoknya. Dalam
kegiatan analisis jabatan, satu pekerjaan dapat diduduki oleh satu
orang, atau beberapa orang yang tersebar di berbagai tempat.
Dalam arti luas Pekerjaan adalah aktivitas utama yang dilakukan
oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk
suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang.
Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim
dengan profesi. (Santoso, 2012)
Teori kebutuhan (teori Maslow) mengemukakan nilanya
5 tingkat kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkat ilmiah yang
kemudian dijadikan pengertian guna dalam mempelajari motivasi
manusia. Kelima tingkatan tersebut adalah kebutuhan fisiologis,
kebutuhan rasa aman dan perlindungan, kebutuhan sosial, kebutuhan

30

penghargaan, kebutuhan aktivitas diri. Ibu yang mempunyai


pekerjaan itu demi mencukupi kebutuhan keluarga (kebutuhan
pertama) akan mempengaruhi kegiatan imunisasi yang termasuk
kebutuhan rasa aman dan perlindungan sehingga ibu lebih
mengutamakan pekerjaan dari pada mengantarkan bayinya untuk di
imunisas (Suparyanto, 2011).
Menurut saharjo (1998), status pekerjaan ibu dapat
mempengaruhi status kesehatan anak. Ada perbedaan dalam status
imunisasi anak, apabila ibu rumah tangga juga sebagai pencari
nafkah. Karena seorang ibu bekerja sebagian waktu akan tersita
sehingga perannya sebagai ibu akan tersita dalam hal membawa
anaknya imunisasi, akan dilakukan oleh orang lain. Berbeda
dengan ibu yang tidak bekerja, cenderung selalu membawa
anaknya imunisasi (Rozana, 2012).
c. Pengetahuan
Terbatasnya pengetahuan ibu tentang imunisasi bayi ini
mengenai manfaat dan tujuan imunisasi maupun dampak yang akan
terjadi jika tidak dilaksakannya. Imunisasi bayi akan mempengaruhi
kesehatan bayi. Hal ini sesuai dengan teori dan pendorong. Daya
pendorong adalah semacam naluri tetap hanya satu dorongan
kekuatan yang luas terhadap satu arah yang umum. Dalam pendorong
dengan mengimunisasikan bayinya, salah satunya adalah pengetahuan
dimana pengetahuan tersebut ditemukan dalam media elektronik (TV,
Radio), media massa (Koran majalah).

31

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkaitan


dengan proses pembelajaran dan dipengaruhi faktor dari dalam seperti
motivasi dan faktor dari luar berupa sarana informasi yang tersedia
serta keadaan sosial budaya (Poerwadarminta, 2002). Sementara itu
menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan merupakan hasil dari tahu
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu penglihatan,
pendengaran penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia

dipengaruhi

dari

mata

(penglihatan)

dan

telinga

(pendengaran).
Cara memperoleh pengetahuan ada 2 yaitu dengan cara
tradisional dan dengan cara modern. Cara tradisional terbagi dalam
beberapa macam diantaranya cara coba dan salah, dimana cara ini
telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan. Cara kekerasan atau
otoriter pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoriter atau
kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama
maupun ahli pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh tanpa
terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik
berdasarkan fakta empiris atau penalarannya sendiri. Berdasarkan
pengalaman pribadi, hal ini dilakukan dengan cara mengulang
kembali

pengalaman

yang

diperoleh

dalam

memecahkan

permasalahan yang dihadapi pada masa lalu. Melalui jalan pikiran


dalam

memperoleh

kebenaran

pengetahuan,

manusia

telah

menggunakan jalan pikirannya melalui induksi maupun deduksi. Cara

32

modern yaitu dengan cara mengadakan pengamatan langsung


terhadap gejala-gejala alam atau kemasyarakatan, kemudian hasil
pengamatan tersebut dikumpulkan dan diklasifikasi kemudian
akhirnya diambil kesimpulan umum (Notoatmodjo, 2010).
Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup
dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan meliputi tahu,
memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tahu (know)
diartikan sebagai mengingat suatu materi tentang apa yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam tingkatan tahu adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh badan
yang dipelajari atau rangsangan yang diterima, oleh sebab itu tahu
ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja
yang digunakan untuk mengukur yaitu menyebutkan, menguraikan,
mendefinisikan dan mengatakan. Memahami (comprehention)
diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang paham suatu objek atau materi
harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan terhadap objek yang di pelajari.
Tingkat pengetahuan ketiga adalah aplikasi (application)
yang diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi real. Aplikasi diartikan
sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,
prinsip dalam konteks atau situasi yang lain. Analisis (analysis)

33

sebagai tingkat pengetahuan yang keempat adalah suatu kemampuan


untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponenkomponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi, dan masih
ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat
dari penggunaan kata kerja, seperti menggambarkan, membedakan,
memisahkan (Notoatmodjo, 2007).
Sintesis (syntesis) sebagai tingkat pengetahuan yang kelima
menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan
untuk menyusun farmasi baru dari formulasi-formulasi yang ada
misalnya

dapat

menyusun,

merencanakan,

meringkas,

menyesuaikan terhadap suatu teori atau ruusan yang telah ada.


Kemudian tingkatan yang terakhir yaitu evaluasi (evaluation) yang
berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek, kriteria-kriteria ini
didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang ada (Notoatmodjo, 2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut
Notoatmodjo (2007), meliputi tingkat pendidikan dimana semakin
tinggi tingkat pendidikan maka seseorang akan mudah menerima
hal-hal baru dan mudah menyesuaikan hal-hal baru tersebut.
Informasi seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih
banyak juga akan akan memberikan dampak terhadap pengetahuan

34

yang lebih jelas. Budaya juga sangat berpengaruh terhadap tingkat


pengetahuan seseorang karena informasi-informasi yang diperoleh
belum sesuai dengan budaya yang ada dan budaya yang dianut.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan
seseorang adalah pengalaman dimana pengalaman umumnya
dikaitkan dengan umur dan pendidikan individu yaitu semakin
bertambahnya umur dan pendidikan yang tinggi, pengalaman akan
lebih luas.
Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket
yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari
responden (Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan Waridjan (dalam
Arikunto, 2009) kategori pengetahuan dapat digolongkan menjadi
pengetahuan baik jika kategori jawaban benar antara 80%-100%,
pengetahuan sedang jika jawaban benar antara 65%-79% dan
katgeori pengetahuan kurang jika jawaban benar kurang dari 65%.
Penelitian yang dilakukan oleh Panjaitan (2003) tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi dasar
pada balita umur 12-18 bulan di Kelurahan Harjosari - I Kecamatan
Medan - Amplas Tahun 2003 menunjukkan bahwa pengetahuan ibu
berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar balita. Penelitian
lain yang dilakukan oleh Albertina (2009) tentang kelengkapan
Imunisasi dasar anak balita dan faktor-faktor yang berhubungan di
Poliklinik Anak beberapa rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya

35

pada tahun 2008 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara


pengetahuan orang tua dengan kelengkapan imunisasi.
d. Dukungan Keluarga
Teori lingkungan kebudayaan dimana orang belajar banyak
dari lingkungan kebudayaan sekitarnya. Pengaruh keluarga terhadap
pembentukan sikap sangat besar karena keluarga merupakan orang
yang paling dekat dengan anggota keluarga yang lain. Jika sikap
keluarga terhadap imunisasi kurang begitu respon dan bersikap tidak
menghiraukan atau bahkan pelaksanaan kegiatan imunisasi. Maka
pelaksanaan imunisasi tidak akan dilakukan oleh ibu bayi karena tidak
ada dukungan oleh keluarga (Suparyanto, 2011).
e. Peran Petugas Kesehatan
Petugas kesehatan berupaya dan bertanggung jawab,
memberikan pelayanan kesehatan pada individu dan masyarakat
yang

professional

akan

mempengaruhi

status

kesehatan

masyarakat. Sehingga diharapkan ibu mau mengimunisasikan


bayinya

dengan

memberikan

imunisasi (Suparyanto, 2011).

atau

menjelaskan

pentingnya

36

2.1.10 Kerangka Teori


Faktor Predisposisi :
Pengetahuan
Sikap
Kepercayaan
Keyakinan
Nilai-nilai

Faktor Pendukung :
Lingkungan

Imunisasi Dasar Lengkap

Sarana dan Pra Sarana

Faktor Pendorong :
Sikap
Prilaku Petugas
Kesehatan
Sumber : (Lawrence Green dalam Notoadmodjo 2009)