Anda di halaman 1dari 128

PRAKTIKUM PRODUK MIGAS

LABORATORIUM MINYAK BUMI

Oleh :
Kelompok

:A

Nama Anggota

: 1. Adi Sampurno
2. Luluk Sidomukti

/311391
/3113100

3. Tri Rahmat Bintoro/3113105


Jurusan

: Proses dan Aplikasi

Program Studi

: Refinery

Diploma

: I ( Satu )

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
SEKOLAH TINGGI ENERGI DAN MINERAL Akamigas
STEM Akamigas

Cepu, Juni 2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya, sehingga
penulis dapat menyusun dan menyelesaikan laporan praktikum produk migas ini.
Penulisan laporan ini merupakan salah satu syarat wajib dalam mengikuti
kegiatan belajar mengajar khususnya mata kuliah produk migas .
Sebagai bahan penyusunan laporan praktik produk migas ini, penulis telah
melaksanakan praktikum pengujian spesifikasi bahan bakar minyak di laboratorium
minyak bumi STEM Akamigas.
Laporan ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan, serta bimbingan dari
berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bapak Ir. Toegas S. Sugiarto selaku direktur STEM Akamigas


Ibu Ir. Hj. Risayekti Hermadi, MT selaku kepala jurusan Proses dan Aplikasi
STEM Akamigas
Bapak Haryono, S.Si selaku kepala program studi Refinery STEM Akamigas
Bapak Annasit, S.St., M.T
Keluarga tercinta yang senantiasa member motivasi dan semangat kepada penulis
Teman-teman di jurusan Refinery I Umum STEM Akamigas dan semua
pihak yang telah memberikan bantuan.

Dengan demikian yang dapat penulis sampaikan. Penulis menyadari bahwa


penulis hanya manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan.
Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna.
Begitu pula dengan Kertas Kerja Wajib ini. Tidak semua hal dapat penulis
deskripsikan dengan sempurna. Maka dari itu, penulis bersedia menerima kritik dan
saran dari pembaca yang budiman. Penulis akan menerima semua kritik dan saran
tersebut sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki karya penulis di masa yang
akan datang. Sehingga semoga karya berikutnya dapat diselesaikan dengan hasil yang
lebih baik.

Cepu, Juni 2014


Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...............................................................................................i
DAFTAR ISI ..............................................................................................................ii
DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................................iv
I.

II.

PAKET 1
1.1

Density 15C Minyak Solar ASTM D1298 ..........................................1

1.2

SG 60/60F Crude OilASTM D1298 .....................................................1

1.3

RVP Bensin 88 ON ASTM 32 ................................................................11

PAKET 2
2.1

Distilasi Minyak Solar ASTM D 86........................................................ 16

2.2

Distilasi Avtur ASTM D 86 ...................................................................16

2.3

Copper Strip Corosion Test Pertasol ASTM D 130 ................................34

III. PAKET 3
3.1

Freezing Point Avtur ASTM D 2386.......................................................40

3.2

Pour Point Minyak Solar ASTM D 97 ....................................................46

3.2

Pour Point Base Oil HVI 95 ASTM D 97 ...............................................46

IV. PAKET 4

V.

4.1

Kinematyc Viscosity Pelumas ASTM D 445 ..........................................51

4.2

Kinematyc Viscosity Minyak Solar ASTM D 445 .................................51

4.3

Smoke Point Minyak Tanah ASTM D 1322 ..........................................63

PAKET 5
5.1

Flash Point Abel Minyak Tanah IP 170 .................................................68

5.2

Flash Point PM CC ASTM D 93 ............................................................74

5.3

Flash Point COC Pelumas ASTM D 92 .................................................82

VI . PAKET 6
6.1

Panas Pembakaran Bahan Bakar Cair dengan Calorimeter Bomb


ASTM D 240 ..........................................................................................88

6.2

ASTM Colour Minyak Solar, ASTM D 1500 ........................................98

6.3

Colour Saybolt Pertasol ASTM D 156...................................................104

6.4

BS & W, ASTM D 4007 .......................................................................109

DAFTAR LAMPIRAN
1.

Lampiran 1 Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 88

2.

Lampiran 2 Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Tanah

3.

Lampiran 3 Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar 48

4.

Lampiran 4 Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin Penerbangan (Avtur)

5.

Lampiran 5 Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Bakar

6.

Lampiran 6 Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Pertasol

PAKET
1
Pengujian :
1. Density 15C Minyak Solar
2. SG 60/60F Crude Oil
3. RVP Bensin 88 ON

DENSITY dan SPECIFIC GRAVITY ASTM D 1298

I.

TUJUAN
1. Menetukan density, specific gravity atau API-gravity memakai alat
hydrometer gelas dari sampel crude oil atau produk-produknya.
2. Mengubah hasilnya ke standar temperature 15oC atau 60/60 oF menggunakan
table reduksi pada ASTM D 1250.

II.

KESELAMATAN KERJA
1. Hati-hati menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah

III.

DASAR TEORI
Density adalah berat cairan per unit volume, kg/L maupun kg/m3
Kerapatan relatif (relative density) atau berat jenis (specific gravity) minyak
adalah perbandingan antara rapat minyak pada suhu tertentu dengan rapat air
pada suhu tertentu yang diukur pada tekanan dan temperatur standar (60oF dan
14,7 psia). Suhu yang digunakan untuk minyak bumi adalah 15oC atau 60oF.
Gravitas American Petroleum Institute (API) yang sangat mirip dengan gravitas
baume adalah suatu besaran yang merupakan fungsi dari kerapatan relatif yang
dapat dinyatakan dengan persamaan:

S60/60oF adalah kerapatan relatif pada suhu 60oF (densitas minyak pada
60F (15,6 C) dibagi dengan densitas air pada 60F). Persamaan tersebut
menunjukkan bahwa API akan semakin besar jika berat jenis minyak makin
rendah. Semakin rendah API, maka mutu minyak semakin rendah karena banyak
mengandung lilin. Semakin tinggi berat jenis minyak berarti minyak tersebut
mempunyai kandungan panas (heating value) yang rendah. Berat jenis (specific
gravity) kadang-kadang digunakan sebagai ukuran kasar untuk membedakan
minyak mentah, karena minyak mentah dengan berat jenis rendah biasanya
adalah parafinik.
Kerapatan relatif dan gravitas API minyak bumi ditentukan dengan
menggunakan cara hydrometer ASTMD-1298. Uji ini dilakukan dengan
menempatkan hidrometer yang mempunyai skala kerapatan relatif atau gravitas
API pada contoh yang akan diuji yang mempunyai suhu tertentu, dan selanjutnya
baca skala hydrometer pada contoh sebagai kerapatan relatif atau gravitas API
contoh pada suhu 15oC (60 oF), dengan menggunakan Petroleum Measurement
Table yang disiapkan oleh ASTM (American Society for Testing Materials) dan
IP (Institute of Petroleum). Pada percobaan tidak harus dilakukan pada suhu 15oC
atau (60oF), tetapi disesuaikan dengan keadaan contoh. Temperatur yang lebih
dari 60F, perlu dilakukan koreksi dengan menggunakan chart yang ada.
Kualitas dari minyak (minyak berat maupun minyak ringan) ditentukan
salah satunya oleh specific gravity. Temperatur minyak mentah juga dapat

mempengaruhi viskositas atau kekentalan minyak tersebut. Hal ini yang dijadikan
dasar perlunya diadakan koreksi terhadap temperatur standar 60F.
Besarnya SG untuk tiap minyak bumi sangat erat hubungannya dengan struktur
molekul hidrokarbon dan kandungan sulfur serta nitrogen. Klasifikasi minyak
bumi menurut specific gravity ditunjukkan sebagai berikut:

Specific gravity dari minyak bumi adalah perbandingan antara berat yang
diberikan oleh minyak bumi tersebut pada volume tertentu dengan berat air suling
pada volume tertentu, dengan berat air suling pada volume yang sama dan diukur
pada temperatur 60oF. Sedangkan API (American Petroleoum Institute) gravity
minyak bumi menunjukkan kualitas minyak bumi tersebut berdasarkan standar
dari Amerika. Semakin kecil berat jenis (specific gravity) atau semakin besar API,
akan sedikit mengandung lilin atau residu aspal, atau paraffin. Jika specific
gravity dari zat kurang dari satu maka itu adalah kurang padat daripada referensi,
jika lebih besar dari satu maka itu lebih padat dari referensi. Jika kepadatan relatif
adalah persis 1 maka kepadatan adalah sama, yaitu volume yang sama dari dua
zat memiliki massa yang sama. Jika materi referensi adalah air maka substansi
dengan kepadatan relatif (spesifik gravitasi) kurang dari 1 maka akan mengapung

di air. Sebuah zat dengan densitas relatif lebih besar dari 1 akan tenggelam.
Sedangkan dalam industri perminyakan, specific gravity yang dianjurkan adalah
diatas 0,8 yang merupakan penentu dari jenis dan kualitas minyak mentah (crude
oil) yang diproduksi dari suatu lapangan atau area. Suhu dan tekanan juga harus
ditentukan untuk kedua sampel dan referensi. Hampir selalu tekanan 1 atm sama
dengan 101,325 kPa. Specific gravity umumnya digunakan dalam industri sebagai
cara sederhana untuk memperoleh informasi tentang konsentrasi larutan dari
berbagai bahan salah satunya adalah minyak mentah (crude oil). Specific gravity
digunakan sebagai ukuran untuk membedakan minyak mentah, karena minyak
mentah dengan densitas yang rendah cenderung bersifat parafinik. Semakin kecil
specific gravity minyak bumi akan menghasilkan produk-produk ringan yang
semakin banyak, dan sebaliknya semakin besar specific gravity minyak bumi
akan menghasilkan produk-produk ringan yang semakin sedikit dan produk
residunya semakin banyak.
IV.

BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan

Minyak solar dan Crude oil

b. Alat:

Hydrometer standar:

Skala density ( skala 0,80 0,85 )

Skala SG


V.

Gelas ukur, dan Thermometer ASTM 12 C dan 12 F

LANGKAH KERJA
a. Langkah Kerja Pengukuran Density 15oC
Mengatur suhu sampel

Memasukkan sampel dalam


gelas silinder 500 ml

Mengukur dan mencatat


suhu sampel dengan
temperature skala 12 oC

Memasukkan hydrometer
density yang sesuai

Tidak sesuai

Hydrometer tenggelam
dan mengapung
Sesuai
pilih hydrometer sampai
ada yang sesuai
Hydrometer melayang,
membaca skala dan mencatat
density
Mengeluarkan hydrometer,
mengukur dan mencatat
temperature sampel

Konversi density
Pengamatan
ke density 15 oC

selesai

b. Langkah Kerja Pengukuran SG 60/60oF


Mengatur suhu sampel

Memasukkan sampel dalam


gelas silinder 500 ml

Mengukur dan mencatat


suhu sampel dengan
temperature skala 12 oF

Memasukkan hydrometer
density yang sesuai

Tidak sesuai

Hydrometer tenggelam
dan mengapung
Sesuai
pilih hydrometer sampai
ada yang sesuai
Hydrometer melayang,
membaca skala dan mencatat
SG
Mengeluarkan hydrometer,
mengukur dan mencatat
temperature sampel

Konversi SG pengamatan
ke SG 60/60oF

Selesai

VI.

KETELITIAN

Product: Transpartent Low-viscosity Liquids


Parameter

Temperature,

Repeat-

Reprodu-

ability

cibility

kg/m3

0,5

1,2

(29 to 76)

kg/L or g/mL

0,0005

0,0012

-2 to 24,5

NONE

0,0005

0,0012

0,1

0,3

Units

-2 to 24,5

Range, C ( F)
Density

Relative density

(29 to 76)
API Gravity

(42 to 78)

API

Product: Opaque Liquids


Density

Relative density

-2 to 24,5

kg/m3

0,6

1,5

(29 to 76)

kg/L or g/mL

0,0006

0,0015

-2 to 24,5

NONE

0,0006

0,0015

0,2

0,5

(29 to 76)
API Gravity

VII.

(42 to 78)

API

HASIL PENGAMATAN

a. Percobaan Pengukuran Density 15oC


Berikut merupakan tabel hasil pengamatan pengukuran density 15oC
Produk /
Pengujia
n ke

Koreksi tabel

Konversi

Densit

awa

percobaa

rata-

density

Density ke SG

y awal

rata

53

53 B

51

51

lama

baru

Solar / 1

Solar / 2

0,8445

28,1

0,8450

27,5

28,0

0,853

0,853

0,853

0,853

27,6

0,853

0,853

0,853

0,854

28

27,8

b. Percobaan Pengukuran SG 60/60oF


Berikut merupakan tabel hasil pengamatan pengukuran SG 60/60oF
Produk /
Pengujian
ke

SG
awal

T
T
T
rataawal percobaan
rata
o
o
F
F
o
F

Koreksi tabel
SG
23

23 B

Konversi SG ke
Density
21
21
lama
baru

Crude Oil
0,8416

83,5

83

83,25 0,8501 0,8505

0,8490

0,8501

0,8441

83

82,5

82,75 0,8520 0,8524

0,8524

0,8528

/1
Crude Oil
/2

VIII.

ANALISIS
a. Percobaan Pengukuran Density 15oC (Minyak Solar)
Batasan
Pada pengujian ke-

Satua
(pada spesifikasi)

Karakteristik
n
Berat Jenis (pada suhu 15oC)

kg/m3

Min

Maks

0,815

0,870

1
0,8534

2
0,8537

Tabel di atas merupakan tabel perbandingan antara density minyak solar pada
pengujian dengan density minyak solar yang ada pada spesifikasi jenis minyak solar
48 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Migas tahun 2006. Pada saat pengujian
density solar ini peguji menggunakan thermometer ASTM 12 C yang digunakan
untuk mengetahui suhu awal dari solar dan menggunakan hydrometer density skala
0,80 0,85. Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa penguji melakukan percobaan
sampai dengan 2 kali dengan sampel yang sama dan dengan waktu yang sedikit
berdekatan dengan tujuan mendapatkan hasil yang repeatability atau teliti. Dari kedua
pengujian tersebut dapat diketahui bahwa minyak solar yang diuji masih dalam range
density pada spesifikasi, dan dapat dipastikan bahwa minyak solar yang diuji masih
dalam kategori onspec.
b.

Percobaan Pengukuran SG 60/60oF


Pada pengujian pengukuran SG 60/60oF sampel yang diuji yaitu crude oil, pada

pengujian tersebut dilakukan percobaan atau pengukuran sampai 2 kali dengan tujuan
yang sama yaitu memperoleh data yang repeatability atau teliti. Dari hasil pengujian
tersebut diperoleh data atau SG dari sampel pada percobaan ke.1 yaitu 0,8416 dan
percobaan ke.2 yaitu 0,8441, dari hasil data yang diperoleh ini praktikan
membandingkan hasilnya dengan tabel klasifikasi minyak bumi berdassarkan SG, dan
dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa sampel atau crude oil yang diuji termasuk
dalam klasifikasi Minyak Bumi kategori Medium ringan. Besarnya SG untuk tiap
minyak bumi sangat erat hubungannya dengan struktur molekul hidrokarbon.. Makin

kecil SG minyak bumi itu maka akan menghasilkan produk ringan yang semakin
makin besar, dan sebaliknya.
IX.

SIMPULAN

Solar yang diuji masih masuk dalam spesifikasi atau onspec karena masih masuk
dalam range density bahan bakar minyak jenis solar yang ditentukan, yang
dikeluarkan oleh Dirjen Migas

Sesuai dengan tabel Klasifikasi Minyak Bumi berdasarkan SG, Crude oil yang
diuji termasuk dalam kategori minyak bumi Medium ringan.

X.

SARAN

Ikuti semua aturan yang berlaku di laboratorium agar proses praktikum berjalan
dengan lancer.

Menentukan skala pembacaan pada hydrometer maupun thermometer dengan


tepat dan teliti.

XI.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2012.

Teori

tentang

SG

dan

Density.

(http://sputumutia.blogspot.com/2012/11/massa-jenis-atau-densitas.html). Diakses
pada tanggal 15 Juni 2014

REID VAPOUR PRESSURE (RVP), ASTM 323

I.

TUJUAN
1. Menetapkan vapour pressure dari gasoline, crude oil yang mudah menguap dan
produk-produk lain yang mudah menguap.

II.

KESELAMATAN KERJA
1. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringa listrik yang ada.
2. Hati hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.

III.

DASAR TEORI
1. Pengertian RVP (Reid Vapour Pressure)
RVP (Reid Vapoure Pressure) adalah tekanan uap vapor pressure liquid
pada 100oF dalam ukuran absolut (absolute vapor pressure). Makin besar RVP
suatu sample menunjukan bahwa sample tersebut semakin mudah menguap.
Vapor Pressure crude dan beberapa produk sangat penting baik oleh produsen
maupun konsumen sehingga perlu diukur. ASTM D-323 sendiri merupakan
standard yang mengatur prosedur untuk menentukan RVP dari produk-produk
perminyakan (minyak bumi) yang mudah menguap (volatile) seperti gasoline,
serta produk yang mudah menguap lainnya.
Ada 4 prosedur yang diatur dalam standard ini, yaitu:

Prosedur A: digunakan untuk gasoline dan produk lainnya yang


memiliki vapour pressure < 180 kPa (26 psi).

Prosedur B: digunakan khusus untuk gasoline dengan maksud agar


hasilnya lebih presisi.

Prosedur C: digunakan untuk produk dengan vapour pressure >180 kPa


(26 psi).

Prosedur D: digunakan untuk aviation gasoline dengan vapour pressure


sekitar 50 kPa (7 psi).

2. Konfigurasi peralatan
Peralatan untuk mengukur RVP sesuai ASTM D-323, terdiri dari:
a. RVP apparatus, yang terdiri dari vapor chamber & liquid chamber yang
digunakan sebagai wadah untuk menguapkan sample
b. Pressure gauge, untuk mengukur tekanan chamber
c. Water Bath untuk menjaga suhu chamber pada 100oF
d. Thermometer untuk mengukur suhu bath atau chamber
e. Pressure Measurement Device, berupa Manometer atau Dead-Weight
f. Komponen pendukung lainnya seperti flexible coupler, vapour chamber
tube dan sample transfer connection.
3. Prinsip kerja
Mula-mula liquid

chamber

diisi

dengan sample dingin, kemudian

dihubungkan dengan vapour chamber yang sudah dipanaskan hingga suhu 100oF
dalam bath. Kedua chamber yang sudah terhubung tersebut direndam kembali
dalam bath yang bersuhu 100oF hingga tekanan yang dihasilkan pada vapour
chamber konstan. Besar tekanan yang dihasilkan tersebut merupakan RVP.
IV.

BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan
1. Gasoline

b. Peralatan
1. Vapour chamber, Liquid chamber
2. Tempat pendingin atau kulkas
3. Penangas air atau water bath
4. Pressure Gauge

V.

LANGKAH KERJA

Memulai

Membersihkan peralatan dan


memanaskan water bath
pada 100oF

Mengisi gasoline chamber dan


memasang pada air chamber

Merendam air chamber dalam


water bath 10 menit

Merendam ke water bath


30 menit

Mengangkat per 5 menit dan


mengocoknya 2 menit

Selesai

Mengulang sampai menometer


konstan dan mencatat
sebagai RVP

VI.

KETELITIAN
Procedure
A Gasoline
B Gasoline
A
A
C
D Avgas

VII.

Range
kPa
psi
35 100
5 15
35 100
5 15
0 35
05
110 180
16 26
>180
>26
50
7

HASIL PENGAMATAN
Percobaan Pengocokan
ke-

ke-

Reproducibility
kPa
Psi
5.2
0.75
4.5
0.66
2.4
0.35
2.8
0.4
4.9
0.7
1.0
0.15

Tekanan

t kocok

t rendam

(menit)

(menit)

Psi

kPa

10

5,8

40

20

6,3

43,5

30

6,65

46

30

7,65

53

7,9

54,5

54,9

54,9

Percobaan

Pengcokan

t kocok

t rendam

ke-

ke-

(menit)

(menit)

1
2

VIII.

Repeatability
kPa
Psi
3.2
0.46
1.2
0.17
0.7
0.10
2.1
0.3
2.8
0.4
0.7
0.1

ANALISIS

30

Tekanan
Psi

kPa

10

48

20

7,2

50

30

7,5

52

8,3

58

8,2

57

8,2

57

Karakteristik

Tekanan

Satuan

kPa

Batasan

Pada Pengujian

(pada Spesifikasi)

ke-

Min.

Maks.

45

60

54,9

57

Tabel diatas merupakan tabel perbandingan antara RVP atau tekanan uap bensin
pada pengujian dengan RVP bensin yang ada pada spesifikasi bahan bakar minyak
jenis bensin 91 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Migas tahun 2006. Dari tabel
di atas dapat diketahui bahwa penguji melakukan percobaan sampai dengan 2 kali
dengan sampel yang sama dan dengan waktu yang sedikit berdekatan dengan tujuan
mendapatkan hasil yang repeatability atau teliti. Dari kedua pengujian tersebut dapat
diketahui bahwa bensin yang diuji masih dalam range RVP pada spesifikasi, dan
dapat dipastikan bahwa bensin yang diuji masih dalam kategori onspec. Pengujian
yang dilakukan termasuk repeatability atau teliti karena masih masuk dalam range
repeatability jenis A Gasoline yang ada pada tabel, selisih RVP dari kedua percobaan
yang dilakukan yaitu: 57 54.9 = 2.1 kPa.
IX.

SIMPULAN

Bensin yang diuji masih masuk dalam spesifikasi atau onspec karena
masih masuk dalam range RVP bahan bakar minyak jenis bensin yang
ditentukan, yang dikeluarkan oleh Dirjen Migas.

X.

SARAN

Membaca dan menentukan tekanan uap yang ditunjukan oleh manometer


saat percobaan dengan cermat, teliti dan tepat

Mengulangi percobaan sampai tekanan uap yang ditunjukkan oleh


manometer stabil.

XI.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. http://asro.wordpress.com/2008/08/

PAKET
2
Pengujian :
1. Distilasi Minyak Solar
2. Distilasi Avtur
3. Copper Strip Pertasol

DISTILASI ASTM D 86

I.

TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan :


1.

Mahasiswa dapat menentukan secara kuantitatif karakteristik trayek titik didih


menggunakan unit distilasi secara laboratories, meliputi distilasi atmosferik
produk minyak bumi (Mogas, Avgas, Avtur, Kerosine, Gas Oil dan produk lain
sejenis).

2.

Mahasiswa dapat menentukan Initial Boiling Point (IBP), adalah pembacaan


thermometer yang diperoleh pada waktu tetesan pertama kondensat jatuh dari
ujng tabung kondensor.

3.

Mahasiswa dapat menentukan End Point (EP) atau Final Boiling Point (FBP),
adalah pembacaan thermometer yang paling tinggi (maksimal) yang diperoleh
selama pemeriksaan.

II. KESELAMATAN KERJA


1.

Hati-hati berkerja menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah.

2.

Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan


jaringan listrik yang ada.

III. TEORI DASAR


Distilasi ASTM merupakan informasi untuk operasi di kilang bagaimana fraksifraksi seperti komponen gasoline, bahan bakar jet, minyak diesel dapat diambil dari
minyak mentah yang disajikan melalui kinerja dan volatilitas dalam bentuk persen
penguapannya.
Destilasi merupakan suatu cara yang digunakan untuk memisahkan dua atau
lebih komponen cairan berdasarkan perbedaan titik dididhnya. Uap yang dibentuk
selama destilasi makin lama makin dijenuhi dan makin banyak mengandung
komponen yang lebih mudah menguap (yaitu komponen yang titik didihnya lebih
rendah). Sehingga akan terjadi pemisahan uap yang terbentuk dan mengandung
komponen yang sama seperti campuran semula. Tetapi pada proses yang berbeda,
cara pemisahan dengan destilasi ini mudah dilakukan apabila perbedaan polaritas
antar komponen cukup besar. Namun untuk mendapatkan komponen murni sulit
dicapai.
Prinsip destilasi adalah penguapan dan pengembunan kembali uapnya, pada
tekanan dan suhu tertentu. Tujuan destilasi adalah pemurnian zat cair pada titik
didihnya, dan memisahkan cairan dari zat padat atau memisahkan zat cair dari
campurannya yang mempunyai titik didih yang berbeda. Komponen yang mempunyai
titik didih lebih rendah akan terpisah lebih dahulu.
Pada destilasi biasa, tekanan uap diatas cairan adalah tekanan atmosfir (titik didih
normal). Untuk senyawa murni, suhu yang tercatat pada atmosfer yang ditempatkan
pada tempat terjadinya proses destilasi adalah sama dengan titik didih destilat.

Adanya perbedaan komposisi antara fase cair dan fase uap, dan hal ini merupakan
syarat utama supaya pemisahan dengan distilasi dapat dilakukan. Kalau komposisi
fase uap sama dengan komposisi fase cair, maka pemisahan dengan jalan distilasi
tidak dapat dilakukan. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan
Hukum Dalton.
Metode yang banyak dipakai untuk melakukan pemeriksaan terhadap minyak dan
produknya adalah :
1.

ASTM (American Society for Testing Material)

2.

API (American Petroleum Institute)

3.

IP (Institude de Petrol)

4.

ISI (Indian Spesification Institute)

1. Distilasi ASTM
Pemeriksaan distilasi laboratorium yang dilakukan untuk gasoline, nafta dan
kerosin adalah dengan metode ASTM D-86, untuk bensin alam dengan ASTM D216, dan untuk gas oil dengan ASTM D-158. Distilasi laboratorium dilakukan pada
volume 100 ml dengan kecepatan tetesan yang keluar adalah 5 ml/menit. Suhu uap
mula mula menetes (setelah mengembun) disebut IBP (Initial Boiling Pint).
Distilasi ASTM merupakan informasi untuk operasi di kilang bagaimana fraksi
fraksi seperti komponen gasoline, bahan bakar jet, minyak diesel dapat diambil dari
minyak mentah yang disajikan melalui kinerja dan volatilitas dalam bentuk persen
penguapannya

Panas Laten Penguapan


Panas laten penguapan yang lazim disebut panas laten didefinisikan sebagai

panas yang dibutuhkan untuk menguapkan 1 lb cairan pada titik didihnya pada
tekanan atmosfer. Penguapan dapat terjadi pada tekanan lain atau suhu lain. Panas
laten berubah dengan berubahnya suhu atau tekanan dimana terjadi penguapan. Panas
laten pada tekanan atmosfir untuk fraksi minyak bumi dapat dilihat pada grafik 5-5
s/d 5-9 Nelson.

Titik Didih
Sifatsifat fisik minyak mentah maupun produknya mempunyai hubungan yang

erat dengan titik didih ratarata seperti terlihat pada Table 1. Titik didih ratarata
(MABP = Molal Average Boiling Point) lebih memuaskan dibandingkan dengan
penguapan. Hubungan titik didih ratarata dapat dilihat pada grafik 5-4 dan 5-5
Nelson.

Tabel 1. Hubungan antara titik didih dan sifat minyak


No. 1

Macam Titik Didih

Sifat-sifat fisik

Titik didih rata-rata volume (VABP)

Viskositas dan panas jenis (mdan


Cp)

Titik didih rata-rata berat (WABP)

Suhu kritis nyata (Tc)

Titik didih rata-rata molal (MABP)

Suhu kritis pseudo (T/Tc+) dan


ekspansi termis (kt+)

Titik didih rata-rata (MnABP)

Berat

molekul

(M),

faktor

karakteristik (K), berat jenis (),


tekanan kritis pseudo (P/Pc) dan
panas pembakaran (Hc)

Destilasi pada umumnya dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:


1. Destilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua,yaitu:

Distilasi kontinyub

Distilasi batch

2. Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu:

Distilasi atmosferis

Distilasi vakum

Distilasi tekanan

3. Berdasarkan komponen penyusunnya terbagi menjadi dua, yaitu:

Destilasi system biner

Destilasi system multi komponen

4. Berdasarkan system operasinya terbagi menjadi dua, yaitu:

Single-stage Distillation

Multi stage Distillation

IV. BAHAN DAN PERALATAN


A. Bahan
1.Avtur
2. Solar
B. Peralatan
1. Labu Distilasi 125 mL
2. Gelas Ukur 100 mL & 10 mL
3. Thermometer 7oC atau 8oC
4. Kondensor (Bak Pendingin)
5. Pemanas (Burner atau Elektrik)

TABLE 2 Group Characteristics

Group 1

Group 2

Group 3

Group 4

37 C, kPa

65.5

<65.5

<65.25

<65.5

100 F, psi

9.5

<9.5

<9.5

<9.5

Sampel
Characteristics
Distilate type
Vapor pressure at

(Test Methods D323, D 4953, D 5190, D 5191, D 5492, IP 69 or IP 304)


Distillation, IBP C

100

>100

212

>212

EP C

250

250

>250

>250

482

482

>482

>482

V. LANGKAH KERJA
a. Cara Penyiapaan Peralatan
Mempersiapkan Labu
Distilasi Volume 125 mL
dan Termometer ( ASTM
7OC atau ASTM 8oC )

Menyiapkan gelas ukur skala 0


s/d 100 mL

Mempersiapkan
penyangga labu

-Bila Group 1 dan 2,


diameter lubang 38 mm
-Bila Group 3 dan 4,
diameter lubang 50 mm

Mengisi bak Kondensor :


-Untuk group 1, 2 dan 3
dengan air (0o-5oC).
-Untuk group 4 dengan
air panas (0o-60oC).

Membersihkan cairan pada


tabung kondensor agar
penelitian lebih lancar dan
akurat

TABLE 1 Preparation of Apparatus and Specimen


Group 1

Group 2

Group 3

Group 4

Flash, mL

125

125

125

125

ASTM distillation thermometer

7C

7C

7C

7C

IP distillation thermometer range

low

low

low

high

Flask support board

diameter of hole, mm

38

38

50

50

Flask oC

13-18

13-18

13-18

not above

oF

55-65

55-65

55-65

ambient

oC

13-18

13-18

13-18

13-ambient

oF

55-65

55-65

55-65

55-ambient

Temperature at start of test

Receiving cylinder and sample

TABEL5 Conditions During Test Procedure


Group 1

Group 2

Group 3

Group 4

Time from first application of heat to IBP, min

0-1

0-5

0-5

0-60

Time from IBP to 5% recovered, s

60-100

60-100

Time recorded from 5 mL residue to end point, min

5 max

5 max

5 max

5 max

Temperature of cooling bath oC


oF

b. Cara Pemasangan Peralatan

Memasang
Thermometer
serapat mungkin ke
dalam labu distilasi

Memasukan ujung labu


ke dalam tabung
kondensor serapat
mungkin

Menaikkan dan
mengatur labu
hingga sesuai

c. Langkah Kerja Pengujian

Mengukur 100 mL contoh,


lalu tuangkan ke dalam
labu distilasi dan pasang
thermometer yang sesuai

Menyalakan pemanas dan atur


kecepatan hingga mencapai IBP
*grup 1-3 waktu 5-10 menit

Memasang gelas ukur


100 mL pada ujung
kondensor

Mengatur pemanasan
dari IBP sampai 5%
volume.

*grup 4 waktu 5-15 menit

Mengatur pemanas
hingga dari 95% vol
sampai FBP.
Matikan pemanas dan
mengukur volume residu

Menghitung
% volume
Losses

Baca dan mencatat


suhu tiap kenaikan
10% volume

VI. KETELITIAN

NOT4: Refer to Annex A1 for tables of calculated repeatability.


IBP: r = 0.0295 (E + 51.19)

valid range: 20-70oC

E10: r = 1.33

valid range: 35-95oC

E50: r = 0.74

valid range: 64-220oC

E90: r = 0.00755 (E + 59.77)

valid range: 110-245oC

FBP: r = 3.33

valid range: 135-260oC

GRP4: Refer to Annex A1 for table of calculated repeatability.


IBP: r = 0.018T

valid range: 145-220oC

E10: r = 0.0094T

valid range: 160-265oC

E50: r = 0.94

valid range: 170-295oC

E90: r = 0.0041T

valid range: 180-340oC

FBP: r = 2.2

valid range: 135-260oC

NOT4: Refer to Annex A1 for tables of calculated reproducibility.


IBP: R = 0.0595 (E + 51.19)

valid range: 20-70oC

E10: R = 3.20

valid range: 35-95oC

E50: R = 1.88

valid range: 64-220oC

E90: R = 0.019 (E + 59.77)

valid range: 110-245oC

FBP: R = 6.78

valid range: 135-260oC

GRP4: Refer to Annex A1 for tables of calculated reproducibility.

IBP: R = 0.055T

valid range: 145-220oC

E10: R = 0.022T

valid range: 160-265oC

E50: R = 2.97

valid range: 170-295oC

E90: R = 0.0015T

valid range: 180-340oC

E95: R = 0.0423(T-140)

valid

range:

260-340oC

(Diesel)
valid range: 135-260oC

FBP: R = 2.2

VII. HASIL PENGAMATAN


A. Pengamatan Distilasi 1
- Contoh uji

: Avtur

- Temperature Awal

: 30,5oC

- Temperature Kondensor

: 36oC

Distillation

Satuan

Suhu

Initial Boiling Point


Temperature
at
evaporated
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%

153

172
178
185
192
198
205
213

fuel
C
C
o
C
o
C
o
C
o
C
o
C
o

Volume

80%
90%
Final Boiling Point
98.30%
Residu
Losses

C
C

C
mL
mL

222
234
270
1,6
0.1

B. Pengamatan Distilasi 2
- Contoh Uji

: Minyak Solar

- Temperature Awal

: 30oC

- Temperature Kondensor

: 44oC

Distillation

Satuan

Suhu

Volume

Initial Boiling Point

oC

195

10%

oC

236

20%

oC

252

30%

oC

264

40%

oC

276

50%

oC

283

60%

oC

300

70%

oC

314

80%

oC

330

90%

oC

354

97.00%

oC

385.5

Residu

mL

2.6

Losses

mL

0.4

Temperature at % fuel evaporated

Final Boiling Point

VIII. PEMBAHASAN
Volume Losses Avtur (mL) = Volume Awal Sampel (Total Recovery + Residu )mL

= 100 mL ( 98,3 mL + 1,6 mL)


= 0,1 mL
Volume Losses Minyak solar = Volume Awal Sampel (Total Recovery + Residu) mL

= 100 mL (97 mL + 2,6 mL)


= 0,4 %

IX. ANALISIS
a.

Percobaan 1
Perbandingan sampel produk avtur yang diuji dengan standar dan mutu

(spesifikasi) bahan bakar minyak jenis avtur yang dikeluarkan oleh Direktur Jendral
Minyak dan Gas Bumi Nomor 33633.K/10/DM.T/2011, bahwa distilasi sampel
(avtur) memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan.

Terbukti :
Satuan

Sampel

Spesifikasi Dirjen Migas

IBP

153

Report (dilaporkan)

10% Recovery

172

Max 205.0

50% Recovery

198

Report (dilaporkan)

90% Recovery

234

Report (dilaporkan)

End Point

270

Max 300.0

Residue

% v/v

0.016

Max 1.5

Loss

% v/v

0.001

Max 1.5

FBP atau EP (end point) membatasi adanya material berat yang akan memberi
penguapan buruk dan mempengaruhi kinerja pembakaran mesin.

b.

Percobaan 2
Perbandingan sampel produk minyak solar yang di uji dengan Spesifikasi Bahan

Bakar Minyak Jenis Minyak Solar 51 yang dikeluarkan oleh Direktur Jendral Minyak
dan Gas Bumi Nomor 3675 K/24/DJM/2006, bahwa sampel (Minyak Solar) tidak
memenuhi spesifikasi yang ditentukan.
Distilasi Sampel (Minyak Solar) pada 90% vol terlampau tinggi spesifikasi, dan
juga FBP (Final Boiling Point) dari sampel melebihi batas spesifikasi.

Terbukti:
Satuan

Sampel

Spesifikasi Dirjen Migas

90% Recovery

oC

354

Maks 340

End Point

oC

385.5

Maks 370

Distilasi

Ini Menunjukan bahwa sampel telah terkontaminasi oleh fraksi yang lebih berat,
misalnya residue. Terkontaminasinya minyak solar dapat menyebabkan deteriosasi
atau perubahan sifat.
Naiknya FBP, berpengaruh pada :
- Meningkatnya : Densitas, Aromat konten, Napthalenes, Freezing point,
viskositas, Megajoule per volome.
- Menurunnya

: Smoke Point,

Kandungan Hidrogen, Megajoules per

kilogram.
Sehingga membuat :
- Menurunnya kwalitas pembakaran
- Menurunkan gravimetric heat content
- Menaikkan Volumetric heat content
- Jeleknya sifat pembakaran pada temperatur rendah

X. SIMPULAN
Pada percobaan pertama, menunjukan tidak terjadinya masalah pada sampel
(avtur) atau sudah sesuai dengan spesifiasi Dirjen Migas Bahan Bakar Minyak Jenis
Avtur Nomer 33633.K/10/DJM.T/2011 ASTM D 86. Ini menunjukan proses
pemisahan, penyimpanan, dan pendistribusian produk berlangsung dengan baik.
Untuk percobaan kedua, menunjukan sampel tidak sesuai dengan spesifikasi Dirjen
Migas Minyak Solar 51 ASTM D 86 (off spec), akibat terjadinya kontaminasi
(terikutnya fraksi yang lebih berat) menandakan bahwa pemisahan tidak berjalan
dengan baik atau mungkin adanya kejailan pada pendistributor.
XI. SARAN
Sebelum dilakukan pengujian sebaiknya bersihkan dulu kondensor agar effsiensi
kerja pengembunan berjalan baik sehingga proses distilasi tidak terganggu.
Hati-hati saat pengujian telah selesai dilakukan karena labu distilasi terkadang masih
panas.
XII. DAFTAR PUSTAKA
.., Aviation Fuels Technical Review (FTR-3), Chevron Products Company,
2000.
, Prosedur Operasi dan Quality Control Bahan Bakar Penerbangan, Into
Plane Fuelling Service, Pertamina Aviation, 2007.
., Turbine Fuel, Aviation Kerosine Type, Jet A-1, Ministry of Defence,
Defence Standard 91-91, Issue 6,

PAKET
3
Pengujian :
1. Freezing Point Avtur
2. Pour Point Minyak Solar
3. Pour Point Base Oil HVI 95

FREEZING POINT, ASTM D 2386


I.

TUJUAN
Pengamatan ini bertujuan untuk menetapkan suhu terendah pada saat kristal
hidrokarbon padat dapat terbentuk dalam bahan bakar aviation turbin (Avtur )
dan aviation gasoline (Avgas).

II.

KESELAMATAN KERJA
1. Memeriksa tegangan listrik yang ada bila menggunakan peralatan yang
bertenaga listrik.
2. Hati-hati dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.

III. DASAR TEORI


Titik beku (Freezing Point) suatu avtur adalah suhu terendah dimana
bahan bakar tetap bebas dari kristal hidrokarbon padat yang dapat membatasi
aliran bahan bakar. Suhu bahan bakar di tangki pesawat biasanya jatuh selama
penerbangan tergantung pada kecepatan pesawat, ketinggian, dan durasi
penerbangan. Titik beku bahan bakar harus lebih rendah dari suhu tangki
operasional minimum. Tes ini menentukan suhu dimana kristal hidrokarbon
padat terbentuk dalam bahan bakar penerbangan. Sampel didinginkan dengan
pengadukan terus menerus dalam cryogenic sistem sampel sampai kristal
muncul.

PRINSIP
Contoh didinginkan perlahan-lahan sambil diaduk keatas kebawah (posisi
vertical ) dengan hati-hati dan terus menerus sambil diamati sampai mulai
terlihat (tampak) pembentukan Kristal-kristal, baca dan catat suhunya.
Kemudian panaskan diudara terbuka sambil diaduk, baca dan catat suhunya
pada saat Kristal mulai menghilang sebagai titik beku.

IV. ALAT DAN BAHAN

Avtur

Jacketed sample tube, vacuum flask, collars dan pengaduk (stirrer).

Thermometer IP 14 C atau ASTM 114 C mempunyai range (-80C s/d


+20 C)

Cryogenic system

V.

LANGKAH KERJA
Start

Memasukan contoh
dalam jaket

Tutup dengan gabus &


Atur thermometer
berada ditengah

Menjepit jaket contoh uji

Biarkan lingkar pengaduk


Dibawah permukaan

catat suhu saat ada


kristal HC

keluarkan jaket
contoh & panaskan
diudara. Catat suhu

Hitung
T > 3C

Apakah > 3C atau


< 3C

Dicatat sebagai Freezing point

T > 3C

VI.

KETELITIAN

Perbedaan hasil uji yang diperoleh operator yang sama dengan alat yang
sama pada kondisi dan contoh yang sama 1,5 %.

Perbedaan hasil uji yang diperoleh operator yang berbeda, untuk contoh
yang sama adalah 2,5 C

VII. HASIL PENGAMATAN


Sampel

T saat terbentuk kristal HC C

Avtur

-45C

VIII. PERTANYAAN
Apakah nilai warna saybolt sampel Avtur tersebut masih masuk spesifikasi
berdasarkan Keputusan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi ASTM D 2386 ?

IX. ANALISA
Standart mutu dan spesifikasi Avtur berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal
Minyak dan Gas Bumi ASTM D 2386
Batasan

Unit

Hasil

Karakteristik

Freezing Point

X.

(satuan)

Min.

Max.

Pengujian

-47

-45

SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil analisa ASTM D 2386 dapat
disimpulkan bahwa sampel Avtur yang diamati masih dalam kategori Onspec.
Hal ini dikarenakan freezing point yang dimiliki avtur tersebut masih berada
dalam range spesifikasi yaitu -45C sedangkan didalam spesifikasi Avtur
berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi ASTM D
2386 menstandartkan nilai freezing point Avtur yaitu minimal -47C dan nilai
maksimal tidak terbatas .

XI. SARAN
1. Harus rutin untuk memeriksa pembentukan kristal hidrokarbon pada sampel
Avtur.
2. Teliti dalam memeriksa keberadaan kristal-kristal hidrokarbon.

3. Peralatan yang dipakai harus benar-benar bersih dan terhindar dari


kontaminasi material-material lain yang menyebabkan hasil pengujiannya
salah.

XII. DAFTAR PUSTAKA


1.

Anonim. Tanpa Tahun. Freezing Point Avtur (Online).


(http://www.pprune.org/archive, diakses pada tanggal 18 Juni 2014, pukul
08:00 WIB).

POUR POINT, ASTM D 97

I.

TUJUAN
Mengetahui pour point (titik tuang) pada produk minyak bumi (minyak solar,
pelumas, minyak diesel dan minyak minyak bakar). Metode ini sesuai untuk
black specimen, cylinder stock dan fuel oil yang tidak didistilasi.

II.

KESELAMATAN KERJA
1.

Berhati-hati dalam menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah.

2.

Memeriksa tegangan listrik yang ada bila menggunakan peralatan yang


bertenaga listrik.

III. DASAR TEORI


Pour point (titik tuang) adalah temperatur terendah dimana sampel
produk minyak bumi masih bisa mengalir dengan sendirinya apabila
didinginkan pada kondisi pemeriksaan. titik tuang produk minyak bumi
merupakan petunjuk tentang kemampuan produk minyak bumi untuk mengalir
pada suhu rendah

IV. ALAT DAN BAHAN

V.

HVI 95

Minyak Solar

Test jar

Thermometer, spesifikasi E1

Bak pendingin

LANGKAH KERJA
Tuangkan sampel
Ke jar test
Sampai tanda batas

Celupkan thermometer
Dalam sampel

Pendinginan dimulai
Dari suhu hangat
Lakukan pengamatan/ 3oC
Dengan memiringkannya
Sampai diketahui suhu
Dimana minyak tidak Lagi mengalir

Pour point = T.obs + 3oC

VI. HASIL PENGAMATAN

No

Suhu pengamatan

Pour Point.C

(T. obs .C)

(T. obs + 3oC)

Contoh Uji (Sampel)

Minyak Solar

HVI 95

- 10,75

-7,75

VII. PERTANYAAN
Apakah pour point dari sampel minyak solar dan HVI 95 tersebut masih
masuk spesifikasi menurut Keputusan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi
ASTM D 97 ?

VIII. ANALISA
Standart mutu dan spesifikasi Minyak Solar dan HVI 95 berdasarkan
Keputusan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi ASTM D 97
Batasan

Unit
NO

Hasil

Karakteristik
(satuan)

Min.

Max.

Pengujian

Minyak solar 48

18

HVI 95

-7,75

IX. PERTANYAAN
1.

Apakah pour point dari produk minyak solar 48 tersebut masih masuk
dalam spesifikasi ASTM D 97 ?

2.

Apakah pour point dari produk HVI 95 tersebut masih masuk dalam
spesifikasi ASTM D 97 ?

X.

SIMPULAN
1.

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil analisa Pour Point menurut


spesifikasi Minyak Solar berdasarkan Keputusan Direktur Jendral
Minyak dan Gas Bumi ASTM D 97 dapat disimpulkan bahwa sampel
minyak solar 48 yang diamati masih dalam kategori Onspec. Hal ini
dikarenakan Pour Point yang dimiliki minyak solar 48 tersebut masih
berada dalam range spesifikasi yaitu 9C sedangkan pour point minyak
solar 48 menurut Keputusan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi
ASTM D 97 yaitu maksimal 18C.

2.

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil analisa Pour Point HVI


95menurut Keputusan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi ASTM D
97dapat disimpulkan bahwa sampel HVI 95 yang diamati dalam kategori
Onspec. Hal ini dikarenakan Pour Point yang dimiliki HVI 95 masih
berada dalam range standart pour point HVI 95 menurut Keputusan
Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi ASTM D 97 yaitu -7,75,

sedangkan menurut Keputusan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi


ASTM D 97menstandartkan pour point HVI 95 maksimal 6C.

XI. SARAN
1.

Berhati-hati dan sering memeriksa kenaikan temperature.

2.

Teliti dalam mengamati pergerakan minyak solar 48 dan HVI 95

XII. DAFTAR PUSTAKA


1.

Anonim. Tanpa Tahun. Pengujian Pour Point Minyak Solar (Online).


(http://www. POUR POINT_files/translate_p.htm, diakses pada tanggal
17 Juni 2014, pukul 16:00 WIB).

PAKET
4
Pengujian :
1.

Kinematic Viscosity Pelumas

2.

Kinematic Viscosity Minyak Solar

3.

Smoke Point Minyak Tanah

VISKOSITAS KINEMATIK, ASTM D 445


I.

TUJUAN
1. Menentukan nilai viskositas kinematika

II.

KESELAMATAN KERJA
1. Hati-hati bekerja menggunakan peralatan peralatan yang mudah pecah
2. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringan listrik yang ada.

III.

DASAR TEORI
1. Pengertian Viscositas
Setiap zat cair mempunyai karakteristik yang khas, berbeda satu zat cair
dengan zat cair yang lain. Oli mobil sebagai salah satu contoh zat cair dapat kita
lihat lebih kental daripada minyak solar. Kekentalan atau viskositas dapat
dibayangkan sebagai peristiwa gesekan antara satu bagian dan bagian yang lain
dalam fluida. Dalam fluida yang kental kita perlu gaya untuk menggeser satu
bagian fluida terhadap yang lain.
Kekentalan adalah suatu sifat cairan yang berhubungan erat dengan hambatan
untuk mengalir, dimana makin tinggi kekentalan maka makin besar hambatannya.
Kekentalan didefenisikan sebagai gaya yang diperlukan untuk menggerakkan
secara berkesinambungan suatu permukaan datar melewati permukaan datar lain

dalam kondisi mapan tertentu bila ruang diantara permukaan tersebut diisi dengan
cairan yang akan ditentukan kekentalannya. Viscositas dibagi menjadi 2, yaitu:
Viscositas Kinematis dan Viscositas Absolute.
a. Viskositas Kinematic
Viskositas Kinematik adalah ukuran dari arus resistif atau sifat hambatan bagi
cairn atau dari fluida. Hal ini sering diukur dengan menggunakan perangkat yang
disebut viskometer kapiler pada dasarnya adalah bisa lolos dengan tabung
sempit di bagian bawah. Bila dua cairan volume sama ditempatkan di viscometers
kapiler identik dan dibiarkan mengalir di bawah pengaruh gravitasi, cairan kental
memerlukan waktu lebih lama daripada kurang cairan kental mengalir melalui
selang. Viskositas kinematis ini dipengaruhi oleh gravitasi.

Gambar 1, cairan dengan lemabaran plastik diatasnya, ditarik dengan gaya


sebesar F.
Jika anda bayangkan lembaran plastik di atas cairan, kemudian anda tarik.
Anda akan merasakan hambatan atau perlawanan. Hambatan ini disebabkan
adanya viskositas pada cairan. Kembali, bayangkan dua jenis cairan ditempatkan
dalam gelas yang berlubang kecil dibawahnya. Bentuk gelas adalah identik.
Cairan terlama memerlukan 200 detik untuk mengalir sampai habis, cairan kedua
memerlukan 400 detik untuk mengalir sampai habis. Ini berarti cairan kedua, dua
kali lipat lebih viscos.

b. Viscositas Absolute
Viscositas absolute juga sering disebut sebagai viscositas dinamik, yaitu
perkalian antara viscositas kinematik dengan densitas.
Viscositas absolute = viscositas kinematik x densitas
kembali pada gambar 1 : Gaya yang diaplikasikan kepada lapisan plastic diatas
adalah sebesar F.

Persamaan 1:

F = gaya yang diaplikasikan pada plastic


A = luas penampang lembaran plastic

u = kecepatan plastik bergerak ( sama dengan kecepatan cairan yang menempel


pada plastik)
y = tebal cairan
= viskositas dinamik
Ilustrasi diatas berlaku untuk cairan yang sedemikian tipisnya, sehingga
profil kecepatannya adalah seperti ilustrasi. Persamaan di atas dapat dinyatakan
dalam bentuk lain, dengan cara memperkenalkan tegangan geser yaitu:

Untuk menganalisa lapisan yang lebih tebal, dibayankan cairan terdiri dari lapisanlapisan yang sangan tipis seperti tumpukan kertas. Gaya F yang diaplikasikan
kepada lapisan paling atas akan diteruskan ke lapisan dibawahnya. Dan setiap
lapisan akan meneruskan gaya sebesar F. Akibatnya, gradien (du/dy) kecepatan
disetiap lapisan (laminar) adalah sama. Profil kecepatan pada setiap lapisan adalah
sebagai berikut:

2. Satuan viscositas
Berdasakan analisa pada persamaan 1 satuan viscositas adalah L2/T. Satuan
internasinal bagi viskositas kinematik adalah mm2/s atau centiStoke atau cSt.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas:


a. Suhu
Viscositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viscositas
akan turun, dan jika suhu turun maaka viscositas akan naik. Hal ini disebabkan
karena adanya gerakan partikel-partikel cairan yang semakin cepat apabila suhu
ditingkatkan dan menurun kekentalannya.
b. Konsentrasi larutan
Viscositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan
konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi
larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume.
Semakin banyak partikel yang terlarut, gesekan antar partikel semakin tinggi dan
viscositasnya semakin tinggi pula.
c. Berat molekul solute
Viscositas berbanding lurus dengan berat molekul solute. Karena dengan
adanya solute yang berat akan menghambat atau memberi beban yang berat pada
cairan sehingga menaikkan viscositas.

d. Tekanan
Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu cairan.

IV.

BAHAN DAN PERALATAN

1. Bahan
a. Pelumas
b. Minyak solar
2. Peralatan
a. Viscometer
b. Viscometer Holders
c. Temperature-Controlled Bath
d. Temperature Measuring Device,
e. Stopwatch

V.

LANGKAH KERJA

Memulai

Mempersiapkan alat dan


mengaturnya sesuai ketentuan

Memasukkan viscometer

Memilih tabung viskometer

dalam penangas 30 menit

dan mengisi dengan sampel

Melakukan pengujian

Catat waktu yang diperlukan

3 kali

sampel saat menempuh jarak


tempuh pada viscometer

V= c x t

D= konstanta x V rata

Selesai

Hitung viscosity kinematic

Hitung repeatability atau

VI.

KETELITIAN
Determinability
Base Oil at 40 and 100oC
Gas Oil at 40oC

VII.

0,0020

(0,20 %)

0,0013 (y+1)

HASIL PENGAMATAN
a. Pengamatan Viskositas Kinematik 1
Contoh uji

Pelumas Toyota motor oil

Suhu thermostat

40oC

Waktu perendaman

30 menit

Tipe Viscometer

H 177

Faktor kalibrasi (c)

0,2615

Hasil Pengamatan
Percobaan ke-

t (s)

V (cSt)

184,72

48,30428

185

48,3775
48,34089

V rata-rata

b. Pengamatan Viskositas Kinematik 2


Contoh uji

Pelumas Toyota motor oil

Suhu thermostat

100oC

Waktu perendaman

36 menit

Tipe Viscometer

76570

Faktor kalibrasi (c)

0,07422

Hasil Pengamatan
Percobaan ke-

t (s)

V (cSt)

156,63

11,6250786

156,62

11,6243364
11,6247075

V rata-rata
c. Pengamatan Viskositas Kinematik 3
Contoh uji

Minyak solar

Suhu thermostat

40oC

Waktu perendaman

35 menit

Tipe Viscometer

76509

Faktor kalibrasi (c)

0,009794

Hasil Pengamatan
Percobaan ke1

t (s)
186,9

V (cSt)
1,830986

187,45

1,8358853

V rata-rata
VIII.

PERTANYAAN
a. Hitung viskositas kinematik
b. Hitung Determinability

IX.

ANALISA
a. Perhitungan Viscositas Kinematic
1. Pengamatan Viskositas Kinematik 1
V1 = c x t
= 0,2615 x 184,72
= 48,30428 cSt

1,8334356

V2 = c x t
= 0,2615 x 185
= 48,3775 cSt
Vrata = V1 + V2
2
= 48,30428 + 48,3775
2
= 48,34089 cSt
2. Pengamatan Viskositas Kinematik 2
V1 = c x t
= 0,07422 x 156,63
= 11,6250786 cSt
V2 = c x t
= 0,07422 x 156,62
= 11,6243364 cSt
Vrata = V1 + V2
2
= 11,6250786 + 11,6243364
2
= 11,6247075 cSt
3. Pengamatan Viskositas Kinematik 3
V1 = c x t
= 0,009794 x 186,9
= 1,830986 cSt
V2 = c x t
= 0,009794 x 187,45
= 1,8358853 cSt
Vrata = V1 + V2
2

= 1,830986 + 1,8358853
2
= 1,8334356 cSt
b. Perhitungan Determinability
Keterangan:

V < D = teliti
V > D = tidak teliti

1. Pengamatan Viskositas Kinematik 1


V = V2 V1
= 48,3775 48,30428
= 0,07322 cSt
D

= 0,0020 x Vrata-rata
= 0,0020 x 48,34089
= 0,0966818

Jadi V < D maka percobaan teliti


2. Pengamatan Viskositas Kinematik 2
V = V1 V2
= 11,6250786 11,6243364
= 0,000742 cSt
D

= 0,0020 x Vrata-rata
= 0,0020 x 11,6247075
= 0,0232494

Jadi V < D maka percobaan teliti


3. Pengamatan Viskositas Kinematik 3
V = V2 V1
= 1,8358853 1,830986
= 0,0048993 cSt

= 0,0013 x (Vrata-rata + 1)
= 0,0013 x (1,8334356 + 1)
= 0,0013 x 2,8334356
= 0,0036853

Jadi V > D maka percobaan tidak teliti

X.

SIMPULAN

Setelah hasil percobaan dibandingkan dengan spesisifikasi minyak solar


yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Migas, minyak solar yang diuji
masih masuk dalam range spesifikasi artinya masih on spec.

Untuk menentukan sampel (pelumas) on spec / off spec, penguji belum


bisa memastikan dikarenakan spesifikasi Pelumas Toyota Mobile Oil tidak
ada.

XI.

SARAN

Sebelum melakukan percobaan, alangkah lebih baiknya membersihkan


peralatan terlebih dahulu terutama viscometer untuk menghindari
kebuntuan karena dapat mengganggu percobaan akibat sampel tidak bisa
dihisap.

XII.

DAFTAR PUSTAKA
http://dcycheesadonna.wordpress.com/2012/12/15/viskositas/

SMOKE POINT ASTM D 1322


I.

TUJUAN
1. Menetapkan titik asap dari kerosin

II.

KESELAMATAN KERJA
1. Hati hati bekerja menggunakan peralatan peralatan yang mudah pecah.
2. Hati hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.

III.

DASAR TEORI
1. Pengertian Smoke Point
Titik asap (smoke pint) didefinisikan sebagai tinggi nyala maksimum dalam
milimeter dimana kerosin terbakar tanpa timbul asap apabila ditentukan dalam
alat uji baku pada kondisi tertentu. Disamping dikenakan pada kerosin, uji titik
asap juga dikenakan kepada bahan bakar jet (ASTM D 1332-90)

Titik asap ditentukan dengan cara membakar sampel atau bahan bakar jet dalam
lampu titik asap.

Nyala dibesarakan dengan cara menaikkan sumbu sampai timbul asap, kemdian
nyala dikecilkan sampai asap tepat hilang. Tinggi nyala dalam keadaan terakhir
ini dalam milimeter adalah titik asap sampel.

Asap terutama disebabkan oleh senyawa aromat dalam bahan minyak

Kepentingan smoke point dalam praktek adalah untuk menentukan kualitas


kerosin yang penggunaan utamanya adalah sebagai bahan bakar lampu
penerangan.

Kerosin yang baik harus mempunyai titik asap yang tinggi, sehingga nyala api
bahan bakar kerosin ini dapat dibesarkan dengan kecenderungan ntuk
memberikan asap yang kecil.
2. Makna uji smoke point

Smoke point berhubungan dengan komposisi tipe hidrokarbon dalam fuel.

Umumnya fuel yang lebih aromatik nyalanya lebih berasap.

Smoke point yang tinggi mengindikasikan suatu fuel dari kecenderungan


menghasilkan asap yang rendah.

IV.

BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
1. Kerosin
b. Peralatan
1. Lampu smoke point
2. Sumbu lampu
3. Pipet atau buret

V.

LANGKAH KERJA
Memulai

Menyiapkan alat dan bahan

Memasang sumbu dan


memasang pada alat

Memasukkan sampel
kedalam candle

Mengatur tinggi api 10 mm


dan menyalakan 5 menit

Menurunkan tinngi api


sampai jelaga hilang

Mengulangi pekerjaan
sampai 3 kali

Membaca dan mencatat


tinggi nyala api

Selesai

VI.

HASIL PENGAMATAN
Sampel / Contoh uji = Kerosin
Hasil uji:

VII.

Percobaan ke-

Smoke point (mm)

13

11

12

ANALISIS
Batasan (pada
Sifat

Titik Asap

Satuan

Mm

Spesifikasi

Pada percobaan ke-

Min.

Maks.

15

13

11

12

Tabel di atas merupakan tabel perbandingan antara smoke point minyak tanah
atau kerosin pada pengujian dengan smoke point minyak tanah yang ada pada
spesifikasi jenis minyak tanah yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Migas tahun
1999. Pada saat pengujian smoke point ini peguji menggunakan ASTM D 1322. Dari
tabel di atas dapat diketahui bahwa penguji melakukan percobaan sampai dengan 3
kali dengan sampel yang sama dan dengan waktu yang sedikit berdekatan dengan
tujuan mendapatkan hasil yang repeatability atau teliti. Dari ketiga pengujian tersebut
dapat diketahui bahwa minyak tanah yang diuji tidak masuk dalam range spesifikasi,
dan dapat dipastikan bahwa minyak tanah atau sampel yang diuji dinyatakan offspec.
Hal ini mungkin dikarenakan oleh beberapa hal, misalnya: kerosene terkontaminasi
oleh fraksi minyak yang lebih berat.
VIII.

SIMPULAN

Minyak tanah atau kerosin yang diuji tidak masuk dalam spesifikasi atau
offspec karena tidak masuk dalam range smoke point bahan bakar minyak jenis
minyak tanah yang ditentukan, yang dikeluarkan oleh Dirjen Migas.

IX.

SARAN

Saat menentukan smoke point atau menentukan masih atau tidak adanya asap,
hendaknya lakukan hal ini dengan pengujian menggunakan kertas berwarna
putih yang diletakkan di atas keluaran asap pada alat smoke point.

X.

Pada saat pembacaan skala pengukuran tinggi api, lihat sejajar dengan mata.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.academia.edu/3659861/Laporan_acara_2_revisi/

PAKET
5
Pengujian :
1.

Flash Point Abel Minyak Tanah

2.

Flash Point PM cc Minyak Solar

3.

Flash Point COC Pelumas

FLASH POINT ABEL, IP 170

I.

TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan.


1. Mahasiswa dapat menentukan flash point close cup dari produk-produk
minyak bumi yang mempunyai flash point antara 0oF (-12oC) dan 160oF
(71oC)

II. KESELAMATAN KERJA


1. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringan listrik yang ada.
2. Hati-hati berkerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.

III. TEORI DASAR


Contoh uji dtempatkan dalam mangkok penguian dan ditutup, kemudia
dipanaskan perlahan dengan kecepatan kenaikan suhu yang tetap. Suatu sumber nyala
dimasukkan kedalam mangkuk uji pada interval waktu tetap.
Flash point atau titik nyala dari suatu minyak adalah suhu terendah dimana
minyak dipanasi dengan peralatan standar hingga menghasilkan uap yang dapat
dinyalakan dalam pencampuran dengan udara.Titik Nyala secara prinsip ditentukan
untuk mengetahui bahaya terbakar produk-produk Minyak bumi.

Setiap zat cair yang mudah terbakar memiliki tekanan uap yang merupakan
fungsi dari temperature cair, dengan naiknya suhu, tekanan uap juga meningkat.
Dengan meningkatnya tekanan uap, konsentrasi cairan yang mudah terbakar menguap
diudara meningkat pula. Oleh karena itu, temperatur menetukan konsentrasi menguap
cairan yang mudah terbakar di udara. Jika titik nyala lebih rendah dari temperature
cairannya maka uap diatas permukaannya siap untuk terbakar atau meledak. Lebih
rendah dari titik nyala adalah lebih berbahaya, terutama bila temperatur ambientnya
labih dari titik nyala.
Dengan diketahui titik yala suatu produk minyak pelumas, kita dapatmengetahui
kondisi maksimum yang dapat dihadapai minyak pelumas tersebut. Salah satu contoh
dari pentingnya informasi ini adalah untuk menentukan jenis minyak pelumas
yangtepat untuk digunakan didalam system hidrolik tekanan tinggi seperti pada
pesawat terbangatau pada alat penempa bertekanan tinggi, dimana kebocoran minyak
dari saluran pipa dapatmenyebabnkan terjadinya musibah dengan adanya kontak dari
minyak yang tumpah denganlogam yang sangat panas.Titik nyala merupakan sifat
fisika minyak yang sangat penting yang harus diketahuidari produk-produk hasil
pengolahan minyak bumi, baik itu minyak pelumas, bahan baker maupun produk
lainnya. Dengan diketahi titik nyala suatu produk minyak kita dapatmenerapkan
produk tersebut dengan tepat. Hal ini berartimemberikan perlindungan padamesin
yang menggunakan dan memberikan keamanan pada orang yang menangani.

IV. BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
1. Kerosin
b. Peralatan
1. Flash Point Abel apparatus
2. Termometer
3. Bath Pemanas

V. LANGKAH KERJA
Metode A (untuk minyak yang mempunyai flash point 0-65oF (-30 - +18,5oC)

Mengisi water bath


dengan air dan
ethylene glycol
(50:50)

Mencatat temperatur
pada
saat
api
menyambar
uap
minyak sebagai FB

Mendinginkan bath 16oF


dibawah FP-nya dan contoh
sampai 40oF

Melakukan pengadukan
produk dan apabila suhu
sampel 16oC dibawah
perkiraan FP (flash point)
lakukan pengujian

Metode B (untuk minyak yang mempunyai flash point 66-160oF)

Mengisi water bath dengan air, lalu


memanaskan dengan kecepatan tetap

Mengatur
temperature
water bath
(54oC) dan
Sampel (32oF)

Jika contoh mencapai suhu 66oF,


mulai lakukan pengujian

Mencatat suhu
saat api
menyambar uap
minyak

VI. KETELITIAN
1. Repeatability

: 2oF (1.0oC)

2. Reproducibility

: 3oF (1.5oC)

VII. HASIL PENGAMATAN


Dari pengujian yang kami lakukan, menggunakan contoh uji minyak tanah
(kerosine) yang sebelumnya telah dilakukan pendinginan sehingga suhu awal
kerosene menjadi 20oC dan suhu awal water bath 27oC. Memperoleh hasil flash point
dari contoh uji (kerosene) sebesar 27oC dengan suhu akhir water bath 30cC.

Pencapaian data flash point kerosene membutuhkan waktu pengamatan 9 menit 37


detik.

VIII. ANALISIS
Menurut Spesifikasi bahan bakar minyak jenis minyak tanah keputusan
Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi bahwa standar titik nyala minimal kerosene
adalah 38oC, sedangkan flash point hasil uji kerosene adalah 27oC ini berarti
menandakan sampel (kerosene) off spec. Flash point yang rendah dapat disebabkan
oleh masih adanya / terikutnya fraksi yang lebih ringan dari range kerosene, seperti
gasoline. Nilai Flash point yang terlampu rendah dapat membahayakan penggunaan,
sehingga dengan temperature yang relative rendah sumber api sudah cukup untuk
menyambar uap dari kerosene.

IX. KESIMPULAN
Dari data yang di uji dengan menggunakan metode pengamatan flash point abel (IP
170) sampel (kerosene) off spec bila dibandingkan dengan standar spesifikasi Dirjen
Minyak dan Gas Bumi bahan bakar minyak jenis minyak tanah IP-170. Karena suhu
minimum spesifikasi Dirjen Migas bahan bakar minyak jenis Minyak tanah adalah
38oC.

X. SARAN
Perhatikan suhu bath pemanas, jika terlalu tinggi dapat mengakibatkan perolehan
data yang tidak akurat.
Jika membaca skala temperatur pastikan mata sejajar lurus dengan thermometer, agar
didapat data yang tepat.

XI. DAFTAR PUSTAKA


1. Mahmudah Muthoharoh, Ayu. Flash Point, [online],
http://www.scribd.com/doc/135304089/BAB-II-Flash-and-Fire-Point-awalinpdf, diakses tanggal 14 Juni 2014)
2. Toni, A.,2013, Laporan Praktikum Flash Point, [online],
(http://tonimpa.wordpress.com/2013/05/16/laporan-parktikum-flash-point-

titik-nyala/, diakses tanggal 14 Juni 2014)

FLASH POINT PENSKY -MARTENS CLOSED CUP, ASTM D 93

I.

TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan.


a. Mahasiswa dapat memperkirakan suhu flash point setiap produk minyak bumi
memakai peralatan automatic Pensky-Martens Closed Cup (PMCC)
b. Mahasiswa dapat menggunakan dan mengoperasikan alat uji flash point
peralatan automatic Pensky-Martens Closesd Cup (PMCC)

II. KESELAMATAN KERJA


a. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan
jaringan listrik yang ada.
b. Hati-hati berkerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.
c. Lihat procedure pemakaian alat

III. TEORI DASAR


Metode uji PMCC ASTM D 93 menggunakan beberapa metode operasi yaitu method
A, B, Ambient, Bitumen (preheating + B), Quick A dan Search of Unknown Flash
Point. Masing-masing mempunyai spesifikasi tertentu.

METHOD

SLOPE C/MN

1st FLAME

SPEED

STIRRING

18oC before

1oC<110oC

90 to 120 t/mn

expected To

2oC>110oC

PRESENT
A

5 to 6oC/mn
1 to 1,5oC/mn

240 to 260
t/mn

Ambient

Natural rise

1oC

At First Degree

90 to 120 t/mn
or without
stirring

Bitument

**

(Preheating +B)

18 C before

1 C<110 C

Without

expected To

2oC>110oC

stirring 240 to
260 t/mn

Quick A

Avarage

90 to 120 t/mn

At First Degree

1oC<110oC

In according

2oC>110oC

with the

12oC/mn then
5 to 6oC/mn at
expected To50oC
Search of an

A or B or

unknown Flash

Bitumen or

Point

Quick A

method

Untuk method A digunakan pada jenis produk bahan bakar (fuel), pelumas
(lubricating oils) dan (homogenous liquids). Dan kecepatan pengadukan (stirring)
kira-kira 90 RPM - 120RPM. Sedangkan methode B dipakai untuk liquid yang
mengandung suspended solids dan membentuk surface film selama pengujian jika
dipanaskan. Kecepatan pengadukan (stirring) kira-kira 240RPM 260RPM.

75 mL sampel bahan bakar disiapkan dan dipanaskan dengan laju pengadukan yang
terus-menerus secara perlahan di dalam cawan uji (brass test cup). Kemampuan uji
(test range) alat PMCC sekitar 0-400oC.
Flash point atau titik nyala dari suatu minyak adalah suhu terendah dimana
minyak dipanasi dengan peralatan standar hingga menghasilkan uap yang dapat
dinyalakan dalam pencampuran dengan udara.Titik Nyala secara prinsip ditentukan
untuk mengetahui bahaya terbakar produk-produk Minyak bumi.
Setiap zat cair yang mudah terbakar memiliki tekanan uap yang merupakan
fungsi dari temperature cair, dengan naiknya suhu, tekanan uap juga meningkat.
Dengan meningkatnya tekanan uap, konsentrasi cairan yang mudah terbakar menguap
diudara meningkat pula. Oleh karena itu, temperatur menetukan konsentrasi menguap
cairan yang mudah terbakar di udara. Jika titik nyala lebih rendah dari temperature
cairannya maka uap diatas permukaannya siap untuk terbakar atau meledak. Lebih
rendah dari titik nyala adalah lebih berbahaya, terutama bila temperatur ambientnya
labih dari titik nyala.
Dengan

di

ketahui titik nyala suatu produk

minyak pelumas, kita dapat

mengetahui kondisi maksimum yang dapat dihadapai minyak pelumas tersebut. Salah
satu contoh dari pentingnya informasi ini adalah untuk menentukan jenis minyak
pelumas yang tepat untuk digunakan didalam system hidrolik tekanan tinggi seperti
pada pesawat terbang atau pada alat penempa bertekanan tinggi, dimana kebocoran
minyak dari saluran pipa dapat menyebabnkan terjadinya musibah dengan adanya
kontak dari minyak yang tumpah denganlogam yang sangat panas.Titik nyala

merupakan sifat fisika minyak yang sangat penting yang harus diketahui dari produkproduk hasil pengolahan minyak bumi, baik itu minyak pelumas, bahan
baker maupun produk lainnya. Dengan diketahi titik nyala suatu produk minyak kita
dapatmenerapkan produk tersebut dengan tepat. Hal ini berarti memberikan
perlindungan pada mesin yang menggunakan dan memberikan keamanan pada orang
yang menangani.

IV. BAHAN DAN PERALATAN


d. Bahan
2. Solar
e. Peralatan
1. Peralatan Mangkuk (Container)
2. Cawan (Cup)
3. Penutup (Cover)
4. Kabel Sensor ( Detection Cable)
5. Pemanas (Heater)
6. Peralatan Pengukur Temperatur
(Detection Thermocouple)
7. Peralatan Pengukur Sampel (Detection Sample)
8. Percikan api listrik (Electrical Spark)
9. Api Penguji
10. Pengaduk (Stirrer)

11. Selang Air (Water Tube)


12. Selang Gas (Gas Tubing)
13. Printer

V. LANGKAH KERJA

Membersihkan mangkok
dengan larutan yang cocok

uji

Menghubungkan kabel alat uji


PMCC dan printer ke terminal
listrik

Tekan On/Off untuk mematikan


dan menjalankan. Dan
memastikan system pendingin
telah terpasang dengan tepat.

Klik menu go maka nyala api dari


listrik akan muncul. Lalu atur
besarnya api, apabila flash point
telah tercapai tekan STOP, lihat
hasil print-out.

Mengisi mangkok uji sampai


tanda batas garis melingkar

Menempatkan mangkok uji pada


alat

Memasang Regulator LPG ke


tabung LPG lalu buka keran
LPG dan atur heater pada skala
2,5-3 atau 4,0

Lakukan input nama sampel,


perkiraan suhu flash point,
method a, b atau lainnya pada
menu pilihan dilayar monitor.

VI. KETELITIAN
Repeatability

Reproducibility

Flash Point

42oC

43,5oC

Fire Point

46oC

48,5oC

VIII. HASIL PENGAMATAN


Dari pengamatan yang kami lakukan, menggunakan contoh uji Minyak Solar dengan
suhu awal 28,3oC skala pemanas 4,0. Dengan Methode A diperoleh hasil flash point
sebesar 77oC.

Methode

First Expected temperature

60oC

Expected temperature

80oC

Corrected Flash Point

85oC

Sample no

ATL

Jika data diatas dibandingkan dengan spesifikasi Dirjen Migas bahan bakar minyak
jenis minyak solar 48, maka produk minyak solar tersebut (sampel) memenuhi
spesifikasi / on spec. Yang mana di spesifikasi Dirjen Migas titik nyala (Flash point)
solar 48 adalah min 60oC dan nilai maksimalnya tidak dibatasi.

IX. KESIMPULAN
Dari data yang diperoleh dengan menggunakan metode pengamatan flash point
Pensky-Martens Closes Cup (PMCC) sempel on spec atau memenuhi spesifikasi
berdasarkan keputusan Dirketur jendral Minyak dan Gas Nomor 3675
K/24/DJM/2006 ASTM D 93-99c . Ini menunjukan proses operasi penggolahan
berjalan lanjar dan sesuai kondisi normalnya.
X. SARAN
Penelitian harus dilakukan dengan cermat, sabar dan teliti. Jangan sampai merusak
alat uji. Dan jika terjadi kendala pengujian atau kejanggalan pada alat laporkan
kepada dosen pembimbing.
XI. DAFTAR PUSTAKA
1. Annual Book ASTM, Petroleum Product and Lubricant, Volume 05.01;
05.02; 05.03, West Conshohocken.
2. Hobson G. D., Modern Petroleum Technology, Part 2, 5th Edition, John Wiley
& Son, London, 1984
3. Mahmudah Muthoharoh, Ayu. Flash Point, [online],
http://www.scribd.com/doc/135304089/BAB-II-Flash-and-Fire-Point-awalinpdf, diakses tanggal 14 Juni 2014)
4. Toni, A.,2013, Laporan Praktikum Flash Point, [online],
(http://tonimpa.wordpress.com/2013/05/16/laporan-parktikum-flash-pointtitik-nyala/, diakses tanggal 14 Juni 2014)

PAKET
6
Pengujian :
1.

Nilai Kalori IFO

2.

ASTM Colour Minyak Solar

3.

Color Saybolt Pertasol

4.

BS & W

PANAS PEMBAKARAN BAHAN BAKAR CAIR DENGAN


CALORIMETER BOMB, ASTM D 240

I.

TUJUAN
Pengamatan ini bertujuan untuk menentukan panas pembakaran bahan bakar
hidrokarbon dengan produk IFO (Industria Fuel Oil)

II.

DASAR TEORI
Kalor merupakan jumlah energi yang dipindahkan dari satu benda atau
tubuh kepada benda lain akibat suatu perbedaan suhu diantara mereka. Jika zat
menerima kalor, maka zat itu akan mengalami suhu hingga tingkat tertentu
sehingga zat tersebut akan mengalami perubahan wujud, seperti perubahan
wujud dari padat menjadi cair. Sebaliknya jika suatu zat mengalami perubahan
wujud dari cair menjadi padat maka zat tersebut akan melepaskan sejumlah
kalor. Dalam Sistem Internasional (SI) satuan untuk kalor dinyatakan dalam
satuan kalori (kal), kilokalori (kkal), atau joule (J) dan kilojoule (kj).
1 kilokalori= 1000 kalori
1 kilojoule= 1000 joule
1 kalori = 4,18 joule

Sebuah calorimeter bomb adalah jenis


calorimeter volume-konstan yangdigunakan
dalam mengukur panas pembakaran reaksi tertentu.
Bom kalorimeter harus menahan tekanan besar dalam
kalorimeter sebagai reaksi sedang diukur. Energi
listrik yang digunakan untuk menyalakan

bahan

bakar, sebagai bahan bakar yang

terbakar, itu akan memanaskan udara disekitarnya, yang mengembang dan keluar
melalui pipa udara yang mengarah keluar dari kalorimeter. Ketika udara keluar melalui
tabung tembaga itu juga akan memanaskan air di luar tabung. Suhu
air memungkinkan

untuk

menghitung

kadar

kalori

bahan

bakar. Energi yang dilepaskan oleh pembakaran meningkatkan suhu


bom baja, isinya, dan jaket air di sekitarnya. Perubahan suhu di dalam air ini
kemudian diukur secara akurat.Kenaikan suhu ini, bersama dengan faktor bom
(yang tergantung pada kapasitas panas dari bagian logam bom) digunakan
untuk menghitung energi yang diberikan oleh sampel terbakar.Pada
dasarnya, sebuah kalorimeter bom terdiri dari sebuah cangkir kecil
untuk mengandung sampel, oksigen, sebuah bom stainless steel,
air,sebuah pengaduk, termometer, dan rangkaian pengapian tersambung ke
bom. Karena tidak ada pertukaran panas antara kalorimeter dan sekitarnya Q =0
(adiabatic); tidak ada pekerjaan yang dilakukan W
= 0 . D e n g a n demikian, energi internal total perubahan U (total) =

QW = 0 . Juga, total internal energi perubahan U (total) = U (sistem) ;


U(sekitarnya) = 0 U (sistem) = - U (sekitarnya)

III. PRINSIP
Sejumlah berat contoh uji dibakar dalam calorimeter bomb oksigen pada
kondisi yang dikontrol. Panas pembakaran dihitung dari hasil pengamatan
temperature sebelum, selama dan sesudah pembakaran denagn koreksi untuk
termokimia dan perpindahan panas. Dapat digunakan jaket kalorimeter jenis
adiabatic atau isothermal untuk pekerjaan ini.

IV.

V.

ALAT DAN BAHAN

Unit Kalorimeter Bom Oksigen terkalibrasi

Buret kapasitas 50 ml

Gelas beaker

Pipa berskala kapasitas 5 ml

Stop watch

Regulator dan selang oksigen

IFO (Industrial Fuel Oil)

LANGKAH KERJA

a.

Penetapan Energi Ekuivalen Kalorimeter

Menggunakan asam benzoat standart dengan berat tidak boleh kurang dari 0,9
gr dan tidak boleh lebih dari 1,1 gr

Setiap pengujian dilakukan seperti yang diuraikan dalam pengujian contoh uji

Nilai energy ukuivalen dihitung dengan persamaan dibawah ini :

Keterangan :
W = energy ekuivalen calorimeter , MJ / C
Q = panas pembakaran asam benzoate standart (dilihat pada labelnya), MJ / gr
g = berat asam benzoate standart , gr
t

= kenaikan temperature terkoreksi, C


= koreksi panas pembakaran asam nitrat, MJ
= koreksi panas pembakaran kawat- fuse, MJ

b.

Prosedur pengujian

Timbang sampel
1,0 gr

c.

atur cawan

potong benang 10 cm,


atur dalam elektroda

Tutup calorimeter.
Hubungkan &
Hidupkan
Motor pemutar

Masukan : bomb dalam


kolorimeter ; vessel
dalam calorimeter
Dengan pengait.
Pasang 2 elektroda
Tutup & hubungkan.

Catat waktu &


temperature/1 menit

pengamatan selesai,
matikan motor

isi air suling


dalam
kalorimeter

isi bomb 10 ml
dengan air suling,
Pasang & tutup bomb

isi bomb dengan O2

periksa keberadaan jelaga

Perhitungan
Kenaikan temperature calorimeter internal

t = tc ta r1( b a ) + r2 ( c b )
Keterangan :
t = kenaikan temperature terkoreksi
a = waktu pengapian
b = waktu (ketelitian 0,1 menit) saat temperature mencapai 60 % dari total
kenaikan
c = waktu

pada permulaan periode, setelah temperature naik, dimana

kecepatan perubahan temperature menjadi tetap

ta=

temperature (unit temperature / menit)pada waktu pengapian, dikoreksi


terhadap kesalahan skala thermometer

r1 = kecepatan (unit temperature / menit) pada saat temperature turun selama


periode 5 menit sesudah waktu c. bila temperature naik sesudah waktu c,
perhitungan menjadi :
t = tc ta r1( b a ) - r2 ( c b )

d.

Koreksi Termokimia
e1

= koreksi untuk panas pembentukan asam nitrat (HNO3), MJ


= 58,6 x % S dalam contoh x berat contoh / 106

e2

= koreksi untuk panas pembakaran kawat-fuse, MJ


= 1,13 x mm kawat terbakar untuk jenis kawat nikel-krom 5 / 106
= 0,96 x mm kawat terbakar untuk jenis kawat besi / 106

e.

Panas Pembakaran Kotor

Keterangan :
= panas pembakaran kotor pada volume tetap, MJ / kg
= kenaikan temperature terkoreksi, C
= energy ekuivalen calorimeter, MJ / C

= berat contoh, gram


= koreksi seperti yang diuraikan dalam 5.8.2

VI. KETELITIAN

Repeatability = 0,13 MJ / kg

Reproducibility = 0,40 MJ / kg

VII. HASIL PENGAMATAN


t (menit)

T (C)

29, 058

30, 272

32, 227

32, 857

33, 111

10

33, 210

T sebelum percobaan

= 29,110 C

T awal percobaan

= 29,058 C

T tertinggi

= 33,263 C

= 33,263 - 29,058
= 4,205 C

g
W

= 1,088 gr
= 6143,177 cal / C
= 2,5720 x 10-2 MJ / C

11

33, 249

12

33, 263

13

33, 260

Perhitungan
D1 = T sebelum percobaan

= 29,110 C

T awal percobaan
T tertinggi

= 29,058 C
= 33,263 C

= 33,263 - 29,058
= 4,205 C

= 1,088 gr

= 6143,177 cal / C
= 25720253,4636 J / C

D2 = Q?
D3 =

/ gr
/ Kg
Jadi panas pembakarannya yaitu

VIII. PERTANYAAN

/ Kg

Apakah nilai kalori sampel IFO tersebut masih masuk spesifikasi berdasarkan
Rancangan Spesifikasi MINYAK BAKAR CEPU (MBC) Produk Pertamina
Hasil Pengolahan Kilang Pusdiklat Migas Cepu ASTM D 240?

IX. ANALISA
Standart mutu dan spesifikasi IFO (diasumsikan seperti Minyak Bakar)
berdasarkan Rancangan Spesifikasi MINYAK BAKAR CEPU (MBC)
Produk Pertamina Hasil Pengolahan Kilang Pusdiklat Migas Cepu ASTM D 240
Batasan
Karakteristik

Nilai kalor

X.

Unit

MJ / Kg

Min.

Max.

41,87

Hasil Pengujian

/ Kg

Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil analisa ASTM D 240 Standart
mutu dan spesifikasi IFO (diasumsikan seperti Minyak Bakar) yang terdapat
pada Rancangan Spesifikasi MINYAK BAKAR CEPU (MBC) Produk
Pertamina Hasil Pengolahan Kilang Pusdiklat Migas, dapat disimpulkan bahwa
sampel IFO (Industrial Fuel Oil) yang diamati dikategorikan offspec.

Hal ini dikarenakan nilai kalori sampel IFO lebih kecil yaitu
/ Kg dibandingkan dengan nilai kalori IFO berdasarkan
Rancangan Spesifikasi MINYAK BAKAR CEPU (MBC) Produk Pertamina
Hasil Pengolahan Kilang Pusdiklat Migas Cepu yang memiliki nilai kalori
berkisar 41,78 MJ / Kg.

XI. SARAN

Didalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan listrik harus


dilihat terlebih dahulu tegangan listrik yang digunakan.

Didalam melakukan pengamatan haruslah berhati-hati.

Cermat dalam mengamati kenaikan temperature.

XII. DAFTAR PUSTAKA


1. Anonim. Tanpa Tahun. Sifat khusus produk minyak bumi-scribd
(Online). (http://www.scribd.com/mobile/doc/100921616, diakses pada
tanggal 18 Juni 2014, pukul 10:40 WIB).
2. Anonym. Tanpa Tahun. Pengujian nilai kalori ASTM D 240 (Online).
(http://www.scribd.com/doc/44875675/Bom-kalorimeter, diakses pada
tanggal 19 Juni 2014, pukul 20.17 WIB)

ASTM COLOUR, ASTM D 1500


I.

TUJUAN PENGAMATAN
Pengamatan ini bertujuan untuk menetapkan secara visual warna produk
minyak seperti minyak pelumas, heating oil, diesel fuel oil dan petroleum wax.

II.

KESELAMATAN KERJA

Berhati-hati dalam menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah


seperti gelas ukur, labu ukur dan lain-lain.

Berhati-hati dalam menggunakan peralatan listrik, melihat dahulu


tegangan jaringan listrik yang dipakai.

III. DASAR TEORI

ASTM D 1500 disebut sebagai "nilai


warna minyak mineral", Skala Warna ASTM
banyak digunakan untuk melakukan pengujian
dan penilaian mengenai produk minyak bumi
seperti minyak pelumas, minyak pemanas dan
minyak solar.

Selama proses pengolahan minyak bumi akan selalu diperiksa nilai warna dari
minyak tersebut yang bertujuan untuk menaikan kualitas minyak bumi ketika telah

disempurnakan sampai elevasi yang diperlukan. Warna minyak bumi juga digunakan
sebagai sarana untuk mengkonfirmasikan bahwa minyak tersebutlah atau bahan bakar
itu lah yang digunakan untuk penggunaan yang dimaksudkan dan untuk menyakinkan
bahwa tidak ada kontaminasi atau penurunan kualitas.
ASTM D1500 memiliki skala satu warna mulai dari kuning pucat hingga
merah tua di enam belas langkah (0,5-8,0 unit dengan penambahan sebesar 0,5 unit).
Skalanya sudah ditentukan oleh 16 standar kaca ditentukan transmisi bercahaya dan
Kromatisitas, lulus dalam langkah 0,5 dari 0,5 untuk warna ringan dan, 8,0 untuk
paling gelap. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan warna dari berbagai produk
minyak bumi seperti minyak pelumas, minyak pemanas, minyak solar, mineral.

IV. ALAT DAN BAHAN

Minyak Solar

Colorimeter, terdiri dari sumber cahaya, gelas warna standar, housing


wadah contoh bertutup

Wadah contoh, silinder bening, ID 32,5 33,4, tinggi dalam 120 130
mm, tebal dinding 1,2 2,0 mm.

V.

LANGKAH KERJA

Tabung diisi akuades

Tabung diisi contoh uji

Switch On

Bandingkan warna contoh


Dengan warna standart

Memperoleh warna yang sama


Catat hasil

Switch Off

Tabung dikeluarkan
Dan dibersihkan

VI. HASIL PENGAMATAN

Skala
Kesamaan dengan warna ASTM
Kelipatan 0.5

Kelipatan 1

0.5

Belum ada kesaaman warna

Belum ada kesamaan warna

Belum ada kesamaan warna

Sudah ada kesamaan warna

VII. PERTANYAAN
Apakah warna minyak solar tersebut masih masuk dalam spesifikasi ASTM
color berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi ASTM
D 1500?

VIII. ANALISA
Standart mutu dan spesifikasi Minyak Solar berdasarkan Keputusan Direktur
Jenderal Minyak dan Gas Bumi ASTM D 1500

Karakteristik

Batasan

Unit
Min.

Hasil
Max.

Pengujian

Warna

No. ASTM

3,0

IX. SIMPULAN
Menurut hasil pengamatan dan hasil analisa ASTM D 1500 berdasarkan
Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, dapat disimpulkan bahwa
sampel minyak solar yang diamati dikategorikan Onspec.
Hal ini dikarenakan nilai warna minyak solar masih dalam range spesifikasi
standart warna ASTM D 1500 yaitu bernilai 2. Sedangkan menurut ASTM D
1500 berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, minyak
solar memiliki nilai warna maksimal 3 dan nilai minimal yang tidak terbatas

X.

SARAN
Didalam mengamatai warna pada colorimeter hendaknya dilakukan secara
hati-hati dan cermat.
Berhati-hati ketika mengisikan sample didalam wadah terutama wadah
yang tebuat dari kaca.

XI. DAFTAR PUSTAKA


1. Anonim. Tanpa Tahun. Signifikasi Pengujian Minyak Solar-Post Modern
(Online). (http://fikasi-pengujianminyak-solar.html?m=1, diakses pada
tanggal 18 Juni 2014, pukul 09:00 WIB).

2. Anonim. Tanpa Tahun. (HSD)- Minyak Solar - PT. KHATULISTIWA RAYA


ENERGY(Online).(https://spesifikasi+minyak+solar+berdasarkan+ASTM+D+15
00, diakses pada tanggal 18 Juni 2014, pukul 09:09 WIB).

COLOUR SAYBOLT, ASTM D 156

I.

TUJUAN
Menentukan warna dari refined oil seperti undyed motor dan aviation gasoline,
jet fuel,Pertasol CC, naphta, kerosene dan petroleum wax.

II.

KESELAMATAN KERJA
1.

Berhati-hati dalam menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah.

2.

Memeriksa tegangan listrik yang ada bila menggunakan peralatan yang


bertenaga listrik.

III. TEORI DASAR


Skala Saybolt Warna digunakan untuk grading

berwarna terang produk

minyak bumi termasuk bahan bakar penerbangan, kerosine, nafta, minyak


mineral putih, pelarut hidrokarbon dan lilin minyak bumi.
Metode pengujian ini mencakup penentuan warna minyak olahan seperti
undyed bermotor

dan bensin penerbangan, bahan bakar jet, naphtas dan

kerozine, dan, di samping itu, lilin petroleum dan minyak putih farmasi.
Saybolt chromometer digunakan untuk pengendalian kualitas dan
identifikasi produk pada cairan yang sangat halus seperti undyed bermotor dan
penerbangan bensin, bahan bakar jet, naphtas, minyak tanah dan lilin minyak

bumi jika dilengkapi dengan lampiran yang sesuai. Didalam pengukuran warna
dilakukan dengan membandingkan kolom sampel terhadap cakram warna.
Instrumennya dilengkapi dengan satu set untuk sampel dan rakitan tabung
gelas standar dengan penampil optik, dipasang pada bingkai logam, dalam
wadah kayu, dengan 1/2, 1 dan 2 cakram warna standar pada tiga posisi turret,
tabel konversi melekat dan memiliki range pengukuran dari -16 (paling gelap)
sampai +30 (ringan)

IV. ALAT DAN BAHAN


Pertasol CC
Saybolt Chromometer terdiri dari tabung contoh dan standar
Light Source (lampu standart)
Standar Warna
Optical System

V.

LANGKAH KERJA

Tutup kerangan
Tabung

Isi tabung dengan


Pertasol CC sampai
Batas 20
Cari warna sesuai
Dengan membuka
Kerangan tabung
Secara perlahan

Sesuai

Konversi warna
Pada tabel

Tentukan warna
Yang sesuai
(baca & catat)

tidak ada yang sesuai

VI. HASIL PENGAMATAN


Data penguji

Hasil uji

Sample atau produk uji

Pertasol CC

Number of color standart / klem

Ketinggian sampel

6,625

Skala saybolt

+16

VII. PERTANYAAN
Apakah nilai warna saybolt sampel Pertasol CC tersebut masih masuk
spesifikasi berdasarkan Rancangan Spesifikasi PERTASOL CC Produk
Pertamina Hasil Pengolahan Kilang Pusdiklat Migas Cepu ASTM D 156?

VIII. ANALISA
Standart mutu dan spesifikasi nilai warna saybolt spesifikasi berdasarkan
Rancangan Spesifikasi MINYAK BAKAR CEPU (MBC) Produk Pertamina
Hasil Pengolahan Kilang Pusdiklat Migas Cepu ASTM D 156?

Karakteristik

Batasan

Unit
Min.

Warna Saybolt

+16

Hasil
Max.

Pengujian
+16

IX. SIMPULAN
Menurut hasil pengamatan dan hasil analisa ASTM D 156 berdasarkan
Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, dapat disimpulkan bahwa
sampel Pertasol CC yang diamati dikategorikan Onspec.
Hal ini dikarenakan nilai warna saybolt Pertasol CC masih berada dalam range
spesifikasi standart warna ASTM D 1506 yaitu bernilai +16. Sedangkan
menurut ASTM D 156 berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan
Gas Bumi, Pertasol CC memiliki nilai warna saybolt minimal +16 dan nilai
warna saybolt maksimal tidak terbatas.

X.

SARAN
1. Harus teliti dalam membandingkan warna yang sesuai antara sampel dan
standart warna
2. Berhati-hati ketika menuangkan sampel ke dalam gelas ukur ataupun wadah
sampel yang mudah pecah.

XI. DAFTAR PUSTAKA


1.

Anonim. Tanpa Tahun. Metode Uji Standart Untuk Saybolt Color of


Petroleum Produk (Saybolt Chromometer Metode) (Online).
(http://pengujian-warna-saybolt/klj=23, diakses pada tanggal 15 Juni
2014, pukul 10:45 WIB).

BS & W, ASTM D 4007

I.

TUJUAN
1. Menentukan nilai BS & W

II. DASAR TEORI


Water and Sediment in Crude Oil by the Centrifuge Method (Laboratory
Procedure) mencakup penetapan air dan sedimen dalam crude oil dengan
prosedur centrifuge (kurang memuaskan). Jumlah air terdeteksi selalu lebih
rendah dari kandungan air sebenarnya. Bila diperlukan hasil dengan akurasi
tinggi, prosedur untuk kadar air dengan distilai (ASTM D 4006) dan prosedur
untuk kandungan sedimen drengan ekstraksi (ASTM D 473).
Prinsip dari pengujian ini yaitu sejumlah volume yang sama dari crude oil dan
toluene jenuh air, ditempatkan dalam centrifuge tube. Setelah dilakukan
centrifugation atau pemutaran, volume lapisan air dan sedimen di dasar tube
dibaca dengan teliti.

III. BAHAN DAN PERALATAN


1. Bahan
a. Crude Oil
b. Toluene
2. Peralatan
a. Centrifuge

Mampu berputar dengan minimum 600 rcf (relative centrifugal force)

Rpm minimum dihitung dengan formula

d = dalam mm atau

, d = dalam inchi

b. Tabung Centrifuge
c. Pipet

IV. LANGKAH KERJA


Memulai

Menyiapkan alat dan Bahan

Menempatkan tabung centrifuge

Mengisi tabung dengan crudeoil


dan menambahkan toluene
kemudian mengocoknya

secara berseberangan

V.

Memutar selama 10 menit


dengan suhu 60oC

Membaca dan mencatat hasil

Selesai

lakukan pengulangan sekali


lagi tanpa pengadukan

HASIL PENGAMATAN
Tabung Centrifuge

Tinggi Sedimen pada putaran ke- (ml)


1

0,5

0,45

0,7

0,63

VI. ANALISA
a. Putaran ke 1
BS & W

=
=

b. Putaran ke 2
BS & W

=
=

Diatas merupakan perhitungan BS & W dari pengujian Crude Oil, pada


pengujian ini dilakukan dengan menggunakan 2 tabung centrifuge sekaligus
dengan tujuan mengetahui jumlah BS & W sampel yang sebenarnya. Dari
perhitungan diatas diketahui bahwa Crude Oil yang diuji mempunyai BS & W
yang rendah.

VII. KESIMPULAN

Crude Oil yang diuji memiliki BS & W yang sangat kecil atau rendah,
artinya Crude Oil berkualitas baik atau bagus karena tidak terdapat
banyak air dan juga kotoran yang mengendap.

VIII. SARAN

Saat melakukan pengocokan sampel yang ditambahkkan toluene sebelum


masuk dalam centrifuge hendaknya kocoklah sampai homogen atau benar
benar tercampur secara merata antara Crude Oil dengan toluene

IX. DAFTAR PUSTAKA


1.

Anonym. Tanpa Tahun. Standard Test Method for Water and Sediment
in Crude Oil by the Centrifuge Method (Laboratory Procedure) (Online).
(http://www.astm.org/Standards/D4007.htm, diakses pada tanggal 20 Juni
2014, pukul 08:30 WIB)

FLASH POINT CLEVELAND OPEN CUP, ASTM D 92

I.

TUJUAN
Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan :
Mahasiswa dapat menguraikan penetapan titik nyala dan titik bakar produk
minyak bumi dengan peralatan cawan Cleveland. Metode uji ini dapat digunakan
untuk semua produk minyak bumi dengan titik nyala di atas 79oC (175oF) dan di
bawah 400oC (752oF) kecuali minyak bakar.

II. KESELAMATAN KERJA


1.

Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan


jaringan listrik yang ada.

2.

Hati-hati berkerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar.

III. TEORI DASAR


Sekitar 70 mL contoh diisikan ke dalam cawan. Pertama, temperatur contoh
dinaikkan dengan cepat dan kemudian lebih lambat dengan kecepatan tetap saat
mendekati titik nyala. Pada selang waktu tertentu dilewatkan api melintas di atas
cawan.
Flash point atau titik nyala dari suatu minyak adalah suhu terendah dimana
minyak dipanasi dengan peralatan standar hingga menghasilkan uap yang dapat
dinyalakan dalam pencampuran dengan udara.Titik Nyala secara prinsip ditentukan
untuk mengetahui bahaya terbakar produk-produk Minyak bumi.
Setiap zat cair yang mudah terbakar memiliki tekanan uap yang merupakan
fungsi dari temperature cair, dengan naiknya suhu, tekanan uap juga meningkat.
Dengan meningkatnya tekanan uap, konsentrasi cairan yang mudah terbakar menguap
diudara meningkat pula. Oleh karena itu, temperatur menetukan konsentrasi menguap
cairan yang mudah terbakar di udara. Jika titik nyala lebih rendah dari temperature
cairannya maka uap diatas permukaannya siap untuk terbakar atau meledak. Lebih

rendah dari titik nyala adalah lebih berbahaya, terutama bila temperatur ambientnya
labih dari titik nyala.
Dengan

diketahui titik nyala suatu produk

minyak pelumas, kita dapat

mengetahui kondisi maksimum yang dapat dihadapai minyak pelumas tersebut. Salah
satu contoh dari pentingnya informasi ini adalah untuk menentukan jenis minyak
pelumas yangtepat untuk digunakan didalam system hidrolik tekanan tinggi seperti
pada pesawat terbangatau pada alat penempa bertekanan tinggi, dimana kebocoran
minyak dari saluran pipa dapatmenyebabnkan terjadinya musibah dengan adanya
kontak dari minyak yang tumpah denganlogam yang sangat panas.Titik nyala
merupakan sifat fisika minyak yang sangat penting yang harus diketahuidari produkproduk hasil pengolahan minyak bumi, baik itu minyak pelumas, bahan
baker maupun produk lainnya. Dengan diketahi titik nyala suatu produk minyak kita
dapatmenerapkan produk tersebut dengan tepat. Hal ini berartimemberikan
perlindungan padamesin yang menggunakan dan memberikan keamanan pada orang
yang menangani.

IV. BAHAN DAN PERALATAN


a.

Bahan dan alat


1.

Pelumas (Toyota Motor Oil)

2.

Peralatan

3.

Peralatan Cawan Cleveland terbuka


(manual) Peralatan ini terdiri dari
cawan, pelat pemanas, aplikator
api penguji, pemanas dan penyangga.

4.

Peralatan Pengukur Temperatur

5.

Api Penguji

V. LANGKAH KERJA

Membersihkan mangkok uji dari


sisa-sisa karbon

Mengisi mangkok uji sampai


tanda batas dan bila perlu lakukan
pemanasan pada contoh.

Menyalakan api dan mengatur


diameter nyala api 0,4-0,8 cm

Jalankan api jarak 0,2 cm diatas


permukaan mangkok apabila
hampir mencapai Flash Point yang
diperkirakan.

Menempatkan mangkok uji pada


alat dan pasang termometer

Memanaskan dengan
kecepatan 25-30oF / menit

Baca dan catat suhu dimana


terjadi sambaran api,
sebagai Flash Point.

Lakukan pemanasan terus


menerus, dan apabila contoh
terbakar paling sedikit 5
detik, cacat sebagai Fire
Point.

VI. PERHITUNGAN
Titik Nyala dikoreksi = C + 0,25 (101,3-K)
Titik Nyala dikoreksi = F + 0,06 (760-P)
Titik Nyala dikoreksi = C + 0.033 (760-P)
Dimana :
C = Titik nyala pengamatan, oC
F = Titik nyala pengamatan, oF
P = Tekanan barometer kamar, mm Hg
K = Tekanan barometer kamar, kPa

VII. KETELITIAN
Repeatability

Reproducibility

Flash Point

8oC (15oF)

18oC (32oF)

Fire Point

8oC (15oF)

11oC (25oF)

VIII. HASIL PENGAMATAN


Dari pengamatan yang kami lakukan, menggunakan contoh uji pelumas Toyota
Motor Oil dengan pemanasan alat 80oC secara konstan. Memperoleh hasil flash point
yang pertama dari contoh uji (Pelumas) sebesar 250oC dengan membutuhkan
pengamatan 14 menit 27 detik. Untuk hasil Flash point percobaan kedua diperoleh
252oC dengan waktu 14 menit 56 detik.

IX. PERTANYAAN
-

Untuk percobaan 1

Titik nyala dikoreksi = F + 0,06 (760-P)


= 482oF + 0,06 (760-760)
= 482oF

Titik nyala dikoreksi = C +0,033 (760-P)


= 250 + 0,033 (760-760)
= 250oC

VIII. ANALISIS
Sehubung dengan spesifikasi Pelumas Toyota Motor Oil belum kami temukan,
maka penulis belum bisa menentukan produk ini off spec atau on spec,

IX.

KESIMPULAN
Belum dapat diambil kesimpulan.

X.

SARAN
Perlu diperhatikan langkah kerja pengujian dengan benar agar tidak terjadi

kecelakaan kerja, karena pengujian Cleveland Open Cup (COC) dilakukan dalam
bejana terbuka.
Pembacaan thermometer harus tepat agar diperoleh data yang refresentative
.
XI. DAFTAR PUSTAKA
1. Mahmudah Muthoharoh, Ayu. Flash Point, [online],
(http://www.scribd.com/doc/135304089/BAB-II-Flash-and-Fire-Point-awalinpdf, diakses tanggal 14 Juni 2014)

2. Toni, A.,2013, Laporan Praktikum Flash Point, [online],


(http://tonimpa.wordpress.com/2013/05/16/laporan-parktikum-flash-pointtitik-nyala/, diakses tanggal 14 Juni 2014)
3. Test Methods Flash Point, [online],
(http://www.koehlerinstrument.com/literature/catalog/2006/03-FlashPoint.pdf, diakses tanggal 16 Juni 2104)

COPPER STRIP CORROSION TEST, ASTM D 130

I.

TUJUAN
Metode ini meliputi penentuan korosivitas untuk tembaga pada avgas, avtur,

gasoline, solvent, kerosine, diesel fuel, fuel oil, minyak lumas, dan natural gasoline
atau hidrokarbon lain yang mempunyai tekanan uap tidak lebih besar daripada 124
kPa (18 psi) pada temperatur 37,8 C.

II. KESELAMATAN KERJA


1. Hati-hati bekerja menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah.
2. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahu tegangan
jaringan listrik yang ada.

III. TEORI DASAR


Minyak bumi (crude petroleum) umumnya mengandung senyawa sulfur,
sebagian senyawa ini akan terikut sampai ke produk akhir walapun dalam
pengilangan sudah ada proses pembersihannya. Senyawa sulfur dalam produk minyak
bumi ada yang bersifat korosif, tetapi tingkat korosifnya harus dibatasi agar
konsumen tidak dirugikan. Korosi minyak bumi terhadap berbagai macam logam
disebabkan oleh senyawa belerang korosif yang terdapat dalam produk minyak bumi.
Tidak semua senyawa bekerang yang terdapat dalam minyak bumi bersifat korosif.

ASTM D-130 megatur cara untuk mendeteksi tingkat korosi pada tembaga
(corrosivenes to copper) dari produk-produk minyak bumi. Produk minyak bumi
yang diatur oleh standard ini meliputi aviation gasoline, aviation turbine fuel,
automotive gasoline, natural gasoline atau produk lainnya yang meliliki RVP tidak
lebih besar dari 18 psi (124 kPa), cleaners solvent, kerosene, diesel fuel, distillate
fuel oil, dan lubricating oil atau produk jenis lainnya.
Korosi merupakan proses degradasi atau penurunan mutu material karena adanya
rekasi secara kimia dan elektrokimia dengan lingkungan. Korosi tidak bisa dihindari
sama sekali, tetapi hanya bisa dikurangi atau dikendalikan (dikontrol). Pencegahan
(prevention) adalah usaha-usaha yang dilaksanakan sebelum konstruksi terpasang,
termasuk pemilihan bahan-bahan yang tahan korosi, perancangan dalam mencegah
adanya pemakaian beberapa jenis logam yang berbeda, dimensi atau perhitungan
tebal komponen. Perlindungan (protection) adalah usaha-usaha melindungi untuk
komponen-komponen yang terpasang termasuk metoda-metoda pemisahan dengan
lingkungan (inhibitor) atau sistem katodis (berdasar mekanisme tingkat oksidasi
Karena hampir semua korosi adalah merupakan suatu reaksi elektrokimia, semua
yang mempengaruhi kecepatan suatu reaksi kimia atau jumlah arus yang mengalir
akan mempengaruhi laju korosi. Laju korosi berbanding lurus dengan sejumlah arus
yang mengalir pada sel korosi elektrokimia.

IV. BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
1. Pertasol CC
2. Iso-oktane
b. Peralatan
1. Tabung reaksi (Test tube)
2. Bath, dengan suhu konstan 50 1C
(122 2C) dan atau 100 1C (212 2F)
3. Copper strip corrosion test bomb, dari
stainless steel, mampu menahan tekanan
uji 100 psi (689 kPa).
4. Termometer, jenis ASTM 12C (12F) atau
IP 64C (64F)
5. Polishing vise, sebagai penjepit copper strip

V. LANGKAH KERJA
a. Persiapan Copper Strip

Membersihkan Lempeng
Tembaga dengan cara
menggosok ke 6 sisi-nya
dengan silica carbide grit
paper

Lakukan lagi
penggosokan dengan alas
kain katton basah yang
telah dibasahi iso oktana.
jangan sampai tersentuh
tangan, jika tersentuh
ulangi penggosokan.

b. Langkah Kerja
Memasukkan Lempeng
Tembaga(Copper Strip) yang telah
dibersihkan dan dikeringkan
kedalam test tube yang telah berisi
contoh

Memasukkan 30
mL pertasol CC
kedalam test tube.

Setelah 3 jam, mengangkat


test tube dari water bath

Merendam test tube berisi contoh


dan Lempeng Tembaga pada water
bath yang telah diatur suhunya
sekitar 50 0C. Lama perendaman
yaitu 3 jam

Mengangkat lempeng tembaga


menggunakan penjepit dan
mencucinya dengan iso-oktane,
llu dikeringkan.

Membandingkan nomor
warna copper strip
dengan Copper Strip
Color Standard
kemudian mencatatnya.

VI. HASIL PENGAMATAN


Dari pengujian yang dilakukan menggunakan contoh pertasol CC, diperoleh hasil
hasil sebagai berikut:
Astm Copper Strip Corrosion Standard
Copper Strip A

3a

Copper Strip B

3b

VII.ANALISIS
Jika hasil pengujian dibandingkan dengan spesifikasi pertasol EK5 Kilang
Pusdiklat Migas Cepu hasil rapat di Jakarta tanggal 06 Februari 2012 tentang Spec
Pertasol CC EK5 Kilang cepu ASTM D-130 yang menyantumkan Standar No,1
sebagai nilai minimal dan maksimal copper strip corrosion. Sehingga sampel
(Pertasol CC) termasuk produk off spec. Ini menandakan sampel (Pertasol CC)
memiliki kandungan sulfur yang tinggi yang dapat membuat alat-alat lebih cepat
rusak. Sulfur yang tinggi dapat disebabkan dari sumber crude oilnya atau pemisahan
sulfur yang kurang baik. Pengurangan sulfur dapat dilakukan dengan injeksi amoniak.

VIII. SIMPULAN
Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa sampel (Pertasol CC) yang di uji
menggunakan metode Copper Strip Corrosion Test ASTM D130 off spec, bila
dibandingkan dengan standar spesifikasi dengan spesifikasi pertasol EK5 Kilang
Pusdiklat Migas Cepu hasil rapat di Jakarta tanggal 06 Februari 2012 tentang Spec
Pertasol CC EK5 Kilang cepu ASTM D-130.

IX. SARAN
Penggosokan lempeng tembaga harus dilakukan dengan benar-benar agar
didapatkan hasil uji yang valid, usahakan jangan sampai bersentuhan dengan tangan.
Perlu diperhatikan perendaman lempeng tembaga pada iso oktan yang merata.

X. DAFTAR PUSTAKA
1.

Asro,

2008,

Pengukuran

Copper

Corrosion

ASTM

D-130,

[online],

(http://asro.wordpress.com/2008/08/20/pengukuran-copper-corrosion-astm-d-130/,
diakses tanggal 20 Juni 2014)
2.

Capung,

2011,

Teori

Dasar

Korosi,

[online],

(http://cchapung.blogspot.com/2011/07/teori-dasar-korosi.html, diakses tanggal 20


Juni 2014)

TUGAS

1.

Untuk mengetahui viskositas index haruslah diukur viskositas kinematik pada


40oC dan 100oC sehingga dapat dihitung viskositas indexnya dengan ASTM D
2270. Dengan menggunakan prosedur B (untuk viskositas index di atas 100)
pada ASTM D 2270, dimana:
VI= [((antilog N)-1)/0.00715]+100
N = (log H log U)/ log Y
Atau
YN=H/U
Y= viskositas kinematik pada 100oC
U= viskositas kinematik pada 40oC
H= viskositas kinematik saat 40oC dari minyak dengan viskositas index 100
memiliki viskositas kinematik yang sama pada 100oC dari minnyak yang akan
dicari viskositas indexnya.
Sehingga perhitungannya sebagai berikut :
L=190.4
H=102.8
U=48,34089
Y= 11,6247075
N= (log H log U)/ log Y
= (log 102.8 log 48.34089)/ log 11.6247075
= 0.307569
VI = [((antilog N)-1)/0.00715] + 100
= [((antilog 0.307569)-1)/0.00715]+100

= [1.030341/0.00715]+100
= 244.1036

2.

Perhitunga CCI dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut :


CCI=45.2+(0.0892)(T10n)+[0.131+(0.901)(B)][T50n]+[0.0523(0.420)(B)][T90n]+[0.00049][(T10n)2 - (T90n)2]+(107)(B)+(60)(B2)
Diketahui :

Density 150C = 0.8534


DN = 0.0034
B = -0,00628
T10 = 236 0C
T10N = 21
T50 = 283 0C
T50N = 23
T90 = 3540C
T90N = 44

Ditanya :

CCI ?

CCI = 45.2+(0.0892)(T10n)+[0.131+(0.901)(B)][T50n]+[0.0523(0.420)(B)][T90n]+[0.00049][(T10n)2 - (T90n)2]+(107)(B)+(60)(B2)


CCI = 45.2+(0.0892)(21)+[0.131+(0.901)(-0.00628)][283]+[0.0523-(0.420)(0.00628)][44]+[0.00049][(212)-(442)]+(107)(-0.00628)+(60)(0.006282)
CCI = 50.79277

Lampiran 1

Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 88

Lampiran 2

Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Tanah

Lampiran 3

Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar 48

Lampiran 4

Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin Penerbangan (Avtur)

Lampiran 5

Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Bakar

Lampiran 6

Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Pertasol