Anda di halaman 1dari 51

DAFTAR ISI

2015
PENGUKURAN WAKTU KERJA BERBASIS
STOPWATCH TIME STUDY & ANALISIS
K3 PADA PABRIK TAHU SUMBER JAYA

Disusun Oleh:
Brina Cindy Lestari

(2514 204 001)

Dosen Pengampu:
Dyah Santhi Dewi ST, M.Eng.Sc., Ph.D

i|Page

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................................ i-ii


BAB 1 ........................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
1.

Latar Belakang ................................................................................................................ 1

2.

Rumusan Masalah ........................................................................................................... 2

3.

Tujuan Penelitian ............................................................................................................ 2

4.

Manfaat Penelitian .......................................................................................................... 3

5.

Ruang Lingkup................................................................................................................ 3

6.

Asumsi ............................................................................................................................ 3

7.

Sistematika Penulisan ..................................................................................................... 4

BAB II ........................................................................................................................................ 5
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................................ 5
2.1

Profil Perusahaan......................................................................................................... 5

2.2

Perancangan Sistem Kerja ........................................................................................... 6

2.3

Pengukuran Kerja ........................................................................................................ 7

2.4

Pengukuran Stopwatch ................................................................................................ 7

2.5

Cara pengukuran dan pencatatan waktu kerja ............................................................. 8

2.6

Peta Kerja .................................................................................................................. 12

2.7

Dasar Teori 5S ........................................................................................................... 15

BAB III .................................................................................................................................... 17


Metodologi Penelitian .............................................................................................................. 17
3.1

Perumusan Masalah................................................................................................... 17

3.2

Obyek dan Subyek Penelitian ................................................................................... 17

3.3

Alat Penelitian yang Digunakan ................................................................................ 17

3.4

Rancangan Pengamatan............................................................................................. 17

3.5

Metode Pengumpulan Data ....................................................................................... 18

3.6

Pengolahan Data ........................................................................................................ 18

3.7

Kesimpulan dan Saran............................................................................................... 18

3.8

Flowchart Metodologi Penelitian .............................................................................. 19


i|

DAFTAR ISI

BAB IV .................................................................................................................................... 20
Analisa dan Pembahasan.......................................................................................................... 20
4.1

Peralatan dan Pembuatan Tahu ................................................................................. 20

4.2

Proses Pengolahan Tahu............................................................................................ 20

4.3

Analisa Hasil Pengamatan......................................................................................... 21

BAB V ..................................................................................................................................... 48
Kesimpulan dan Saran ............................................................................................................. 48
5.1

Kesimpulan................................................................................................................ 48

5.2

Saran .......................................................................................................................... 48

ii |

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) telah banyak berkontribusidalam


peningkatan perekonomian daerah, peningkatan pada pendapatan devisa nasionaldan
penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Hal tersebut menunjukan bahwa UMKMmengambil
peranan penting dalam terciptanya keberhasilan pembangunan diIndonesia.
Salah satu UMKM yang banyak ditemui dan tumbuh di lingkungan masyarakat
Indonesia adalah industri tahu. Pada tahun 2012 terdapat 81 ribu pengusaha tahu yang
memproduksi sekitar 2,4 juta ton tahu per tahun. Dari hasil produksi tersebut, industri
tahumampu menghasilkan nilai tambah sebesar tiga puluh tujuh triliun rupiah. Selain itu,
berdasarkan data yang dimiliki oleh Primer KoperasiTahu Tempe Indonesia (Primkopti) yaitu
dari 1,6 Juta ton kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat diolah menjadi tempe dan tahu
kurang lebih besaran prosentasenya sekitar 80%, sedangkan sisanya sebanyak 20 persen
untuk olahan makanan dan minuman lain seperti susu kedelai dan tofu.
Di Kota Surabaya, industri tahu merupakan salah satu dari beberapa jenis UMKM
pengolahan pangan yang berkembang di masyarakat. Walaupun telah lama ada, sebagian
besar industri tahu di Surabaya masih berupa industri rumah tangga yang memiliki banyak
keterbatasan dalam pengelolaan usaha.Permasalahan klasik

yang dihadapi dalam

pengembangan jenis industri ini yaitu rendahnya efisiensi dan produktivitas usaha.Kebutuhan
penggunaan sumber daya, seperti biaya yang tinggi untuk kegiatan produksi tidak diimbangi
dengan besarnya penerimaan yang didapatkan akibat efisiensi yang masih rendah.
Penggunaan berbagai sumber daya juga belum optimal untukmemaksimumkan
output.Walaupun beberapa peralatan dan ruang sebenarnya cukupmenunjang untuk
memaksimalkan produksi tahu, namun sebagian besarpengrajin sudah merasa puas dengan
ukuran minimal produksi yang dilakukan.Selama ini target produksi hanya bertujuan untuk
mengembalikan modal dengankeuntungan yang minimal. Sementara itu, pengembangan
industri dan peningkatanefisiensi yang berkelanjutan belum menjadi fokus utama bagi
mereka.Haltersebut menyebabkan terjadinya berbagai pemborosan karena sumber daya
tidakdigunakan secara optimal.

[Type text]

Page 1

Peningkatan efisiensi dalam suatu sistem kerja mutlak berhubungan dengan waktu
kerja yang digunakan dalam berproduksi. Pengukuran waktu (time study) pada dasarnya
merupakan suatu usaha untuk menentukan lamanya waktu kerja yang dibutuhkkan oleh
seorang operator yang sudah terlatih untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang spesifik,
pada tingkat kecepatan kerja yang normal,serta dalam lingkungan kerja yang terbaik pada
saat itu. Dengan demikian pengukuran waktu ini merupakan suatu proses kuatitatif, yang
diarahkan untuk mendapatkan suatu kriteria yang obyektif.
Selanjutnya, pengaturan tata letak pabrik pabrik atau tata letak fasilitias juga perlu
dilakukan agar menunjang kelancaran proses produksi. Pengaturan tersebut akan berguna
untuk luas area penempatan mesin atau fasilitas penunjang produksi lainnya, kelancaran
gerakan perpindahan material, penyimpanan material baik yang bersifat temporer maupun
permanen, personel pekerja, dan sebagainya (Sritomo W, 2009).
Berdasarkan dari permasalahan diatas, peneliti mencoba mengkaji beberapa hal yang
dapat meningkatkan produktivitas pengrajin tahu mulai dari pengaturan tata letak ruangan
pabrik, pengukuran terhadap waktu standar produksi, dan penentuan jumlah tenaga kerja
yang dibutuhkan pada lokasi pabrik tahu Sumber Jaya yang berlokasi di jalan Kenjeran no.
272 Surabaya.

2.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana mendesain ulang tata letak pabrik agar keseluruhan operasi kerja menjadi
lebih optimal.
2. Bagaimana menentukan waktu standar yang dibutuhkan dalam proses produksi tahu.
3. Bagaimana menentukan jumlah tenaga kerja yang sesuai agar lebih efektif dan efisien.

3. Tujuan Penelitian

1. Mampu mengatur area kerja beserta seluruh fasilitas produksi di dalamnya untuk
membentuk proses produksi yang paling ekonomis, aman, nyaman, efektif, dan
efisien.
2. Mampu mengidentifikasiwaktu standar pada pengamatan secara langsung dengan
metode stopwatch time study.
3. Mampu mengetahui operation process chart atau peta proses operasi pada pembuatan
tahu.

[Type text]

Page 2

4. Mampu menghitung jumlah kebutuhan tenaga kerja yang sesuai sehingga aktifitas
produksi bisa berjalan dengan lancar.

4. Manfaat Penelitian

Mampu memberikan kontribusi terhadap perusahaan dalam beberapa hal yang menunjang
perbaikan seperti tata letak pabrik, waktu standar dalam proses produksi, dan jumlah tenaga
kerja yang dibutuhkan.

5. Ruang Lingkup Penelitian


Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan metode stopwatch time study. Lalu
hanya mengamati produk olahan tahu, dan desain ulang pabrik hanya sebatas layout perbaikan
sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya.

6. Asumsi

1. Operator memiliki tingkat kemampuan rata-rata.


2. Kebutuhan terhadap bahan baku dan fasilitas selalu tersedia.
3. Jam kerja telah ditentukan oleh pemilik usaha ( 1 hari = 6 jam kerja, 1 bulan = 26
hari).

7.

Sistematika Penulisan

Dalam penelitian ini dibutuhkan sistematika penulisan yang meliputi bagian


bagian yang terdiri atas:

1. Bab I: Pendahuluan
Pada bab ini berisi tentang latar belakang permasalahan, perumusan masalah,
tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika
penulisan.
2. Bab II: Tinjauan Pustaka
Bab ini menjelaskan mengenai teori-teori pendukung obyek penelitian.
3. Bab III: Metodologi Penelitian
Bab ini berisikan tahap-tahap pelaksananaan penelitian yang disajikan dalam
bentuk flowchart penelitian sebagai landasan dalam proses pelaksanaan
penelitian secara keseluruhan.

[Type text]

Page 3

4. Bab IV : Analisa dan Pembahasan


Bab ini membahas hasil pengamatan dan menganalisa permasalahan pada
obyek penelitian yang diamati secara langsung
5. Bab V : Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisikan tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisa yang
telah dilakukan serta saran yang berguna untuk pelaksanaan penelitian
selanjutnya.

[Type text]

Page 4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini berisikan teori- teori yang akan menunjang pengerjaan dalam tugas ini.
2.1 Profil Perusahaan

Perusahaan tahu Sumber Jaya yang berlokasi di jalan Kenjeran Kenjeran no. 272
Surabaya ini sudah berdiri sejak tahun 1923 dengan status kepemilikan usaha telah mencapai
generasi ketiga dari pihak keluarga Go Lu Ciau.

Gambar 2.1 Profil Pabrik Tahu Sumber Jaya

Saat ini memiliki jumlah pegawai sebanyak 2 orang (1 laki-laki dan 1 perempuan).
Setiap hari mampu memproduksi sebanyak 1 wajan yang menghasilkan 8 papan dengan
bahan baku kedelai sebanyak 20 kg dan menghabiskan biaya produksi sebesar Rp.170.000.
Jumlah ini jauh berkurang dibandingkan dengan produksi pada 4 tahun yang lalu yaitu
memiliki kapasitas produksi sebanyak 16 wajan atau setara 320 kg setiap harinya. Selain
untuk memenuhi kebutuhan pasar di wilayah Surabaya, proses produksi pada waktu itu
dilakukan secara non-stop dan ekspansi hingga ke beberapa kota seperti Gresik, Lamongan,
dan Mojokerto. Proses pengurangan produksi pada tahun ini disebabkan munculnya beberapa
pabrik tahu lokal di sekitar surabaya.Sistem pemasaran tahu ini dilakukan melalui para
penjual tahu yang berjualan di beberapa pasar dan juga membuka toko di pabrik tahu
tersebut, yang menjual berbagai makanan berbahan dasar tahu. Inovasi-inovasi produk olahan
tahu yang dihasilkan, seperti tofu (tahu jepang), botok tahu, kembang tahu, susu kedelai, dan
lain-lain.

[Type text]

Page 5

2.1.1 Proses Pengolahan Tahu


Tahapan pengolahan tahu adalah sebagai berikut:

Tahu berbahan dasar kedelai kuning, kemudian dibersihkan.

Kedelai yang telah dibersihkan kemudian dicuci lalu direndam dalam air selama 10
jam (komposisi 1 bagian kedelai : 2 bagian air).

Setelah direndam dan sudah dalam kondisi mekar, kedelai dicuci dengan air bersih
sebanyak 2-3 kali pencucian.

Kedelai yang sudah bersih ditiriskan.

Kedelai siap digiling menjadi adonan kedelai. Pada proses penggilingan ditambahkan
air agar proses penggilingan berjalan lancar dan memberi hasil yang baik.

Adonan kedelai selanjutnya diberi air kemudian direbus dalam panci steamer sampai
adonan terlihat mengembang selama 1 jam.

Pada saat perebusan hampir selesai akan muncul ampas dibagian permukaan panci
steamer, lalu diambil dan dimasukkan ke dalam wadah tersendiri yang kemudian
dijual untuk pakan ternak.

Jika ampas sudah bersih maka akan tersisa sari pati kedelai yang kemudian disaring
dengan kain saring.

Setelah itu diberi larutan cuka dan diaduk secara perlahan hingga mengembang
selama 20 menit.

Setelah sari pati mengendap di bagian bawah, air yang ada di atas endapan dibuang
sebanyak mungkin.

Endapan tahu lalu dicetak dengan pengepresan yang baik selama kurang lebih 10-15
menit.

Tahu kemudian dipotong dan siap untuk dipasarkan.

2.2 Perancangan Sistem Kerja

Sistem kerja adalah suatu sistem dimana komponen-komponen kerja seperti manusia
(operator), mesin atau fasilitas kerja lainnya, material serta lingkungan kerja fisikakan
berinteraksi. Sedangkan metode kerja adalah prinsip-prinsip pengaturan komponenkomponen sistem kerja untuk memperoleh beberapa alternatif sistem kerja yang baik.

[Type text]

Page 6

2.3 Pengukuran Kerja

Pengukuran kerja adalah pengukuran kerja dilihat dari waktu kerja pada saat operator
melakukan kerja. Pengukuran kerja merupakan metode penetapan keseimbangan antara
kegiatan dengan manusia yang dikontribusikan dengan output yang dihasilkan. Pengukuran
kerja dibagi menjadi dua yaitu:
1. Pengukuran kerja langsung adalah pengukuran waktu kerja yang dilakukan secara
langsung di tempat dimana pekerjaan diukur dan dijalankan. Cara pengukurannya
dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti jam henti (Stopwatch) dan
sampling kerja.
2. Pengukuran kerja tidak langsung adalah pengukuran kerja yang dengan cara
dihitung dengan metode standar data / formula, pengukuran kerja dengan analisa
regresi, penetapan waktu baku dengan data gerakan. Penetapan waktu baku
dengan data waktu gerakan Predetermined Motion Time System (Sritomo, 2006)
di bagi menjadi 2 kelompok yaitu :
a. Sistem Faktor kerja (Work factor System) merupakan salah satu system
dari predetermined Time System yang paling awal dan secara luas
diaplikasikan, untuk menetapkan waktu untuk pekerjaan manual dengan
menggunakan data waktu gerakanyang telah ditetapkan. Langkah-langkah
untuk menentukan system factor kerja antara lain:
Membuat analisa pada setiap langkah kerja yang ada berdasarkan
pada empat variable (anggota tubuh, Gerakan, manual control dan
beban Kerja)
Menetapkan waktu baku tepat diperoleh dari tabel data waktu baku
gerakan untuk setiap gerakan kerja (Allowance Time).
b. Method Time Measurement adalah suatu system penetapan awal waktu
baku (Predetermined Time Standard) yang dikembangkan berdasarkan
studi gambar gerakan-gerakan kerja dari suatu operasi kerja.

2.4 Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti (Stopwatch Time Study)

Pengukuran waktu kerja dengan jam henti diperkenalkan pertama kali oleh Frederick W.
Taylor. Metode ini baik diaplikasikan untuk pekerjaan yang berlangsung singkat dan
[Type text]

Page 7

berulang-ulang (repetitive). Dari hasil pengukuran maka diperoleh waktu baku untuk
menyelesaikan suatu siklus pekerjaan, yang mana waktu ini akan dipergunakan sebagai
standard penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan yang
sama seperti itu. Secara garis besar,langkah-langkah akan dijelaskan seperti dibawah ini.
a. Definisi pekerjaan yang akan diteliti untuk diukur waktunya dan beritahukan
maksud dan tujuan pengukuran ini kepada pekerja yang dipilih untuk diamati dan
supervisor yang ada.
b. Catat semua informasi yang berkaitan erat dengan penyelesaian pekerjaan seperti
layout, karakteristik, spesifikasi mesin atau peralatan kerja lain yang digunakan.
c. Amati, ukur, dan catat waktu yang dibutuhkan operator untuk menyelesaikan
elemen-elemen kerja tersebut.
d. Tetapkan jumlah siklus kerja yang harus diukur dan dicatat.
e. Tetapkan rate of performance dari operator saat akan melaksanakan aktivitas kerja
yang diukur dan dicatat waktunya tersebut.
f. Sesuiakan waktu pengamatan berdasarkan performance yang ditunjukkan oleh
operator tersebut sehingga akhirnya akan diperoleh waktu kerja normal.
g. Tetapkan waktu kelonggaran (allowance time) guna memberikan fleksibilitas.
h. Tetapkan waktu kerja baku ( standard time) yaitu jumlah total antara waktu
normal dan waktu longgar.

2.5 Cara pengukuran dan Pencatatan Waktu Kerja

2.5.1 Uji Kecukupan Data


Untuk menetapkan beberapa jumlah observasi yang seharusnya dibuat (N) maka
harus diputuskan terlebih dahulu berapa tingkat kepercayaan (convidence level) dan derajat
ketelitian (degree of accuracy).Untuk uji kecukupan data, dapat dihitung dengan formulasi
berikut:
=

=
= (90% , = 1 ; 95%
, = 2; 99% = 3)
=
=
[Type text]

Page 8

Apabila N < N, maka data dinyatakan cukup. Jika N > N, maka data dinyatakan
tidak cukup dan perlu dilakukan pengamatan harus ditambah lagi sedemikian rupa sehingga
data yang diperoleh bisa memberikan tingkat keyakinan dan tingkat ketelitian sesuai yang
diharapkan (Wignjosoebroto, 2008).
2.5.2 Uji Keseragaman Data
Selain kecukupan data, harus dipenuhi dalam pelaksanaan time study maka tidak
kalah pentingnya adalah bahwa data yang diperoleh haruslah juga seragam. Test
keseragaman data bisa dilaksanakan dengan cara visual atau mengaplikasikan peta kontrol
(control chart).
Peta kontrol adalah suatu alat yang tepat guna dalam mengetest keseragaman data
yang diperoleh dari hasil pengamatan(Wignjosoebroto, 2008).
Batas kontrol atas (BKA) atau upper control limit (UCL) serta batas kontrol bawah
(BKB) atau lower control limit (LCL) untuk grup data dapat dicari dengan formulasi berikut:
= + .
= .

;
=
=
=

Mencari standar deviasi dapat dihitung dengan rumus:


=

2.5.3 Menentukan Faktor Penyesuaian Dengan Metode Westinghouse


Faktor Penyesuaian atau performance rating merupakan aktivitas untuk menilai
atau mengevaluasi kecepatan operator.Performance rating adalah langkah yang paling
penting dalam seluruh prosedur pengukuran kerja karena didasarkan pada pengalaman,
pelatihan dan analisa penilaian pengukuran kerja (Freivalds, 2009).
Besarnya harga faktor penyesuaian (p) (Wignjosoebroto, 2008) memiliki tiga
batasan, yaitu:

[Type text]

Page 9

1. p > 1 bila pengukur berpendapat bahwa operator bekerja di atas normal (terlalu
cepat).
2. p < 1 bila pengukur berpendapat bahwa operator bekerja di bawah normal (terlalu
lambat).
3. p = 1 bila pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan wajar.
Westing house Systems Rating adalah

suatu tabel performance raring yang

berisikan nilai-nilai angka yang berdasarkan tingkatan yand ada untuk masing-masing
faktor tersebut.
a. Skill (keterampilan) adalah kecakapan dalam mengerjakan metode yang diberikan dan
lebih lanjut berhubungan dengan pengalaman, ditunjukkan dengan koordinasi yang
baik antara pikiran dan tangan.
b. Effort (usaha) adalah kemauan untuk bekerja secara efektif.
c. Condition (usaha) adalah kondisi lingkungan kerja seperti suhu udara, adanya
ventilasi udara, pencahayaan yang baik, dan kebisingan
d. Consistency (konsistensi) adalah kenyataan bahwa setiap hasil pengukuran waktu
menunjukkan yang berbeda.
Faktor

Kelas
Super skill

Excelent

Good
Skill

Lambang

Penyesuaian

A1

0.15

A2

0.13

B1

0.11

B2

0.08

C1

0.06

C2

0.03

Avarage

Fair

E1

0.05

E2

0.10

F1

0.16

F2

0.22

A1

0.13

A2

0.12

B1

0.10

B2

0.08

Poor

Excessive

0.00

Effort
Excellent

[Type text]

Page 10

Good

C1

0.05

C2

0.02

Average

Fair

E1

0.04

E2

0.08

F1

0.12

F2

0.17

Ideal

0.06

Excellenty

0.04

Good

0.02

Average

Fair

0.03

Poor

0.07

Perffect

0.04

Excellenty

0.03

Good

0.01

Average

Fair

0.02

Poor

0.04

Poor

0.00

Condition
0.00

Consistency
0.00

Tabel 2.1 Faktor Penyesuaian Metode Westinghouse

2.5.4 Menentukan Waktu Normal


Waktu normal adalah semata-mata menunjukkan bahwa seorang operator yang
berkualifikasi baik akan bekerja menyelesaikan pekerjaan pada kecepatan/tempo kerja
yang normal.Waktu normal adalah rata-rata waktu pengamatan yang disesuaikan
dengan

kecepatan.Jadi, dapat disimpulkan bahwa waktu normal adalah rata-rata

waktu pengamatan dari seorang operator yang berkualifikasi baik dan disesuaikan
dengan kecepatan.
Waktu normal dapat dihitung dengan rumus berikut:
=
=

[Type text]

%
%

Page 11

2.5.5 Menentukan Allowance (kelonggaran) kerja


Waktu longgar yang dibutuhkan dan akan menginterupsi proses produksi ini
bisa diklasifikasikan menjadi personal allowance sekitar 2 sampai 5% (10 sampai 24
menit), fatique allowance berkisar 5 sampai 15 menit, dan delay allowance.
Pemberian waktu longgar dimaksudkan untuk memberi waktu kepada operator
untukmenghentikan kerja, membutuhkan waktu-waktu khusus untuk kebutuhan
pribadi,istirahat

melepas

lelah

dan

alasan-alasan

lain

di

luar

kontrolnya

(Wignjosoebroto, 2008).
2.5.6 Penentuan Waktu Baku
Penentuan waktu baku untuk menentukan target produksi ini dilakukan dengan
cara

pengukuran langsung dengan menggunakan jam henti. Pengukuran dilakukan

dikarenakan di dalam melakukan pekerjaan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang


tidak dapat dihindari baik faktor dari dalam maupun dari luar perusahaan. Waktu baku
didapatkan dengan mengalikan waktu normal dengan kelonggaran (allowance)
(Wignjosoebroto, 2008).
Kegunaan waktu baku:
a. Perencanaan kebutuhan tenaga kerja (man power planning),
b. Estimasi biaya-biaya untuk upah karyawan atau pekerja,
c. Penjadwalan produksi dan penganggaran, perencanaan sistem pemberian
bonus dan insentif bagi karyawan atau pekerja berprestasi,
d. Indikasi keluaran (output) yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja.
Standard Time = Normal Time + (Normal Time x % Allowance)
=

%
% %

2.6 Peta Kerja


2.6.1 Teori Peta kerja
Peta kerja merupakan alat yang dapat menggambarkan aktivitas kerja, yang
secara systematis dan jelas dalam mengumpulkan semua fakta yang berkenaan dengan
system kerja yang diamati. Sehingga dapat digunakan untuk mengkomunikasikan fakta
tersebut kepada orang lain. Melalui peta kerja ini dapat dilihat semua langkah aktifitas
yang diamati oleh benda kerja dari mulai masuk pabrik, kemudian menggambarkan
[Type text]

Page 12

semua langkah yang diamatinya seperti transfortasi, operasi mesin, pemeriksaan dan
perakitan sampai pada akhirnya menjadi suatu produk akhir atau barang jadi, baik
produk lengkap maupun bagian suatu produk lengkap.
Peta kerja juga digunakan untuk menganalisa suatu perkerjaan sehingga kita
mempermudah dalam perencanaan perbaikan kerja. Perbaikan-perbaikan yang dapat
dilaukan adalah:
a. Menghilangkan operasi yang tidak perlu
b. Menggabungkan suatu operasi dengan operasi yang lainnya
c. Menentukan suatu urutan kerja/proses produksi yang lebih baik
d. Menentukan mesin yang lebih ekonomis
e. Menghilangkan waktu menunggu antar operasi.
2.6.2 Lambang lambang yang digunakan dalam Peta Kerja
Ada 6 (enam) lambang yang sering digunakan dalam peta kerja yaitu:
1. Operasi =
Operasi merupakan aktifitas dimana benda kerja mengalami perubahan
sifat, baik fisik maupun kimia, mengambil dan memberikan informasi
pada suatu keadaan.
2. Pemeriksaan =
Aktifitas ini terjadi bila benda kerja/alat kerja mengalami pemriksaan baik
untuk segi kualitas maupun kuantitas dan dapat digunakan jika kita
melakukan pemeriksaan terhadap suatu objek/ membandingkan objek
tertenu.
3. Transportasi =
Suatu aktifitas ini dimana benda kerja, perkerjaan/alat kerja mengalami
perpindahan tempat yang bukan merupakan bagian dari suatu operasi.
4. Delay =
Aktivitas ini terjadi bila dimana benda disimpan untuk jangka waktu cukup
lama, lambang ini digunakan untuk menyatakan suatu objek yang
mengalami penyimpanan permanen.

[Type text]

Page 13

5. Storage =
Aktivitas ini terjadi bila benda kerja diisimpan untuk jangka waktu cukup
lama, lambang ini digunakan untuk menyatakkan suatu objek yang
mengalami penyimpanan permanen.
6.

Aktivitas Gabungan =
Kegiatan ini terjadi apabila antara aktivitas operasi dan pemeriksaan
dilakukan bersamaan pada suatu tempat kerja. Gambar 2.2 merupakan
penjelasan lambang-lambang yang diusulan ASME (American Society Of
Mechanical Engineering) beserta contohnya.

Gambar 2.2 Lambang-lambang ASME beserta Contohnya

2.6.3 Macam-macam Peta Kerja


Pada dasarnya peta kerja yang ada sekarang biasanya dibagi dalam dua kelompok
besar berdasarkan kegiatannya yaitu peta kerja yang digunakan untuk
menganalisa kegiatan kerja keseluruhan.Secara umum peta kerja dapat
digunakan untuk menganalisa proses kerja secara keseluruhan (Wignjosoebroto,
2006) yaitu antara lain:

[Type text]

Page 14

a. Peta Proses Operasi (Operation Process Chart)


Peta Proses Operasi adalah suatu diagram yang menggambarkan langkahlangkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urutan operasi
dan pemeriksaan.
b. Peta Aliran Proses (Flow Process Chart)
Peta aliran Proses adalah suatu peta yang akan menggambarkan semua
aktivitas yang berupa produktif maupun non produktif yang terlibat dalam
proses pelaksanaan kerja
c. Diagram Aliran (Flow Diagram / String Diagram)
Diagram Aliran adalah untuk mengevaluasi langkah proses dalamsituasi
yang lebih jelas dan bermanfaat untuk melakukan perbaikan di dalam
desain layout fasilitas produksi yang ada.
2.7 Dasar Teori 5S
5S adalah prinsip yang paling mudah dipahami. Prinsip ini memungkinkan untuk
memperoleh partisipasi secara total dari pekerja. Keuntungan yang diperoleh bila dengan
menerapkan 5S akan terlihat dengan jelas, diantaranya terciptanya keteraturan melalui
manajemen lingkungan kerja yang baik. Menurut Linstiani (2010) penjabaran dari metode
5S adalah sebagaimana berikut:

Seiri (Sisih/Ringkas)
Menyisihkan barang-barang yang tidak diperlukan di tempat kerja. Prinsip dalam
menerapkan konsep yang pertama ini adalah mengidentifikasi dan menjauhkan
barang yg tidak diperlukan di tempat kerja.

Seiton (Penataan)
Menata barang-barang yang diperlukan supaya mudah ditemukan oleh siapa saja
bila diperlukan. Setiap barang mempunyai tempat yang pasti, jelas dan diletakkan
pada tempatnya. Adapun metode yang dapat digunakan adalah pengelompokan
barang, penyiapan tempat, memberi tanda batas, memberi tanda pengenal barang,
membuat denah/peta pelaksanaan barang.

Seiso (Pembersihan)
Membersihkan tempat kerja dengan teratur sehingga tidak terdapat debu di lantai,
mesin dan peralatan. Prinsip: bersihkan segala sesuatu yang ada di tempat kerja.
Membersihkan berarti memeriksa dan menjaga.

[Type text]

Page 15

Seiketsu (Pemantapan)
Memelihara taraf kepengurusan tempat kerja yang baik dan setiap saat. Prinsip:
semua orang memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan tepat waktu.
Pertahankan lingkungan 3S (Sisih, Susun, Sasap) yang telah dicapai, cegah
kemungkinan terulang kotor/rusak.

Shitsuke (Pembiasaan)
Memberikan penyuluhan kepada semua orang agar mematuhi disiplin pengurusan
rumah tangga yang baik atas kesadaran sendiri. Prinsip: berikan pengarahan kepada
orang-orang untuk berdisiplin mengikuti cara dan aturan penanganan house
keeping atas dasar kesadaran. Lakukan apa yang harus dilakukan dan jangan
melakukan apa yang tidak boleh dilakukan.

[Type text]

Page 16

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab metodologi penelitian dijelaskan mengenai tahapan-tahapan dalam
melakukan penelitian, dimana tahapan yang dilakukan dapat dijadikan sebagai pedoman
dalam melakukan penelitian untuk mencapai tujuan.
3.1 Perumusan Masalah

Pada tahap ini sebelum menetapkan elemen kegiatan pekerja di pabrik tahu ini , perlu
dilakukan penentuan deskripsi waktu dan pemetaan proses kerja terlebih dahulu. Pengukuran
langsung yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode stopwatch time study dalam
satuan menit. Pengamatan waktu kerja dilakukan pada pabrik tahu Sumber Jaya no.272 Surabaya
mulai tanggal 23 November 2015 -3 Desember 2015 dan mengukurnya secara obyektif pada

seluruh elemen kegiatan.


3.2 Obyek dan Subyek Penelitian

Obyek penelitian adalah menentukan waktu standar, tempat kerja, operasi kerja, peta
kerja dan tata letak layout serta menentukan potensi hazard dari keseluruhan pekerjaan.
3.3 Alat Penelitian yang Digunakan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Stopwatch Digital
Digunakan untuk mengukur waktu siklus atau waktu pengamatan yang
dihasilkan masing-masing pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya.
2. Alat tulis dan lembar pengamatan
3.4 Rancangan Pengamatan

Rancangan bersifat deskriptif supaya bisa mendapatkan informasi yang jelas pada
perusahaan saat melakukan pengamatan dan hasilnya digunakan untuk perencanaan
perbaikan

[Type text]

Page 17

3.5 Metode Pengumpulan data

1. Melakukan pengamatan pada keseluruhan elemen kegiatan


2. Membuat peta kerja dan merancang ulang tata letak layout pabrik
3. Menghitung waktu siklus atau waktu pengamatan dan waktu standar
4. Menentukan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan.
Untuk informasi data sekunder mengenai pengaturan jam kerja, jumlah keseluruhan
tenaga kerja berasal dari perusahaan.
3.6 Pengolahan data

Data yang diperoleh dari pengumpulan data selanjutnya diolah untuk mendapatkan
waktu standar kerja. Pengolahan data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Uji keseragaman data
2. Uji Kecukupan data
3. Perhitungan waktu standar
4. Analisa peta kerja pada proses kerja secara keseluruhan
5. Analisa K3
6. Analisa dan desain layout pabrik sebagai saran perbaikan
3.7 Kesimpulan dan Saran

Dari pengolahan data ini dilakukan analisa sehingga hasil akhirnya dapat disimpulkan
sehingga mampu memberikan saran-saran terbaik sebagai tindak lanjut dari penelitian.

[Type text]

Page 18

Gambar 3.1.Flowchart Metodologi Penelitian

[Type text]

Page 19

BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

Sebelum memulai pengolahan data dari hasil pengamatan, pada tahapan pertama
peneliti terlebih dahuluharus mengetahui bahan dasar utama dan peralatan yang digunakan
dalam pembuatan tahu. Lalu, mencermati proses pengolahan dari bahan baku mentah sampai
menjadi produk jadi yang siap dipasarkan. Dibawah ini akan dijelaskan secara detail
mengenai beberapa perihal dalam pembuatan tahu, yaitu:
4.1 Peralatan dan bahan pembuatan tahu

4.1.1 Bahan yang dibutuhkan:

Kedelai 20 kg

Air secukupnya

Air cuka secukupnya

4.1.2 Peralatan yang diperlukan:

Panci sebanyak 2 buah

Alat pres

Kain saringan

Alat pengaduk

Baskom untuk wadah kedelai saat dibersihkan

Baskom untuk menampung hasil dari kedelai yang sudah digiling

Pisau untuk memotong

Ember khusus

4.2 Proses Pengolahan Tahu

Tahapan pengolahan tahu adalah sebagai berikut:

Tahu berbahan dasar kedelai kuning, kemudian dibersihkan.


Kedelai yang telah dibersihkan kemudian dicuci lalu direndam dalam air
selama 10 jam (komposisi 1 bagian kedelai : 2 bagian air).

Setelah direndam dan sudah dalam kondisi mekar, kedelai dicuci dengan air
bersih sebanyak 2-3 kali pencucian.

[Type text]

Kedelai yang sudah bersih ditiriskan.


Page 20

Kedelai siap digiling menjadi adonan kedelai. Pada proses penggilingan


ditambahkan air agar proses penggilingan berjalan lancar dan memberi hasil
yang baik.

Adonan kedelai selanjutnya diberi air kemudian direbus dalam panci steamer
sampai adonan terlihat mengembang selama 1 jam.

Pada saat perebusan hampir selesai akan muncul ampas dibagian permukaan
panci steamer, lalu diambil dan dimasukkan ke dalam wadah tersendiri yang
kemudian dijual untuk pakan ternak.

Jika ampas sudah bersih maka akan tersisa sari pati kedelai yang kemudian
disaring dengan kain saring.

Setelah itu diberi larutan cuka dan diaduk secara perlahan hingga
mengembang selama 20 menit.

Setelah sari pati mengendap di bagian bawah, air yang ada di atas endapan
dibuang sebanyak mungkin.

Endapan tahu lalu dicetak dengan pengepresan yang baik selama kurang lebih
10-15 menit.

Tahu kemudian dipotong dan siap untuk dipasarkan.

4.3 Analisa Hasil Pengamatan

Selanjutnya dilakukan tahapan kedua yaitu pengumpulan dan pengolahan hasil data
dari pengamatan yang telah dilakukan selama 10 hari mulai dari tanggal 23 November 2015 3 Desember 2015. Adapun urutan proses analisa yang dilakukan adalah sebagai berikut:

4.3.1 Peta Proses Operasi


Peta kerja (Process Chart) adalah peta kerja yang menggambarkan urutan kerja
dengan jalan membagi pekerjaan tersebut kedalam elemen-elemen operasi secara detail dan
diuraikan secara sistematis serta menggunakan simbol ASME. Maka dari itu, keseluruhan
operasi kerja dapat dapat digambarkan dari bahan mentah sampai menjadi produk akhir
sehingga analisa perbaikan dari masing-masing operasi kerja individual maupun urutanurutannya secara keseluruhan akan dapat dilakukan. Di bawah ini akan dijelaskan peta proses
operasi pada pabrik tahu Sumber Jaya Surabaya.

[Type text]

Page 21

PETA PROSES OPERASI


Nama Obyek

: Pembuatan tahu

Elemen: Keseluruhan
Nomor Peta
Nama operator
Dipetakan Oleh

: 01
: Wanto
: Brina Cindy Lestari

Tanggal Pemetaan : 23 November 2015

Keterangan
Aktifitas

Jumlah

Waktu
(Menit)

Operasi

244.67

Inspeksi

20

Storage

30

[Type text]

Page 22

4.3.2

Peta Aliran Proses (Flow Process Chart)


PETA ALIRAN PROSES

Nama obyek

: Pembuatan Tahu

Tanggal dipetakan : 23 November 2015


No. Peta

: 02

Dipetakan oleh

: Brina Cindy Lestari

Uraian kegiatan

Lambang

Keterangan
Jarak
(meter)

Kacang kedelai di gudang


penyimpanan

Pemindahan kacang kedelai ke


wadah

Kacang kedelai direndam


Memanaskan
air
terlebih
dahulu di panci dan mengecek
tungku pembakaran yang
digunakan untuk memasak
kedelai
Pencucian

Pemindahan kacang kedelai ke


wadah

0.5

600

29.22

0.5

9.20

0.5

12.35

x
x

0.5

99.23

0.3

0.5

27.06

22.06

Pemindahan kacang kedelai ke


wadah
Perebusan
Pengambilan
ampas
permukaan panci

X
X

di

Penyaringan yang diletakkan


di panci kedua

X
X

Jumlah

20 kg

0.5

Penggilingan

Waktu
(menit)

Pemberian Larutan Cuka


Pengendapan

0.5

14.22

Pembuangan air sisa endapan

0.5

22.01

9.32

Pencetakan di Alat Pres

Pemotongan

[Type text]

X
X

Page 23

Pada peta aliran proses diatas ditunjukkan dalam bentuk diagram yang
menggambarkan semua aktivitas baik yang produktif maupun yang tidak produktif yang
terlibat dalam proses pelaksanaan kerja. Pada penggambarannya masih digunakan simbol
ASME seperti pada peta sebelumnya.

4.3.3

Diagam Aliran ( Flow Diagram)

1
9

Keterangan:
4
No

8
5, 6, 7

Gambar 4.1 Flow Diagram

Elemen

No

Pemanasan Air

Pemberian Larutan Cuka

Pencucian

Pengendapan

Penggilingan

Pencetakan di Alat Pres

Perebusan

Pemotongan

Penyaringan

Pada pembuatan diagram aliran (flow diagram) mengacu pada peta aliran proses yang
sudah dibuat sebelumnya. Simbol-simbol ASME dan nomor-nomor aktivitas masing-masing
juga dicantumkan.Adapun keterangan dari masing-masing nomor dapat dilihat pada tabel
keterangan yang sudah dicantumkan diatas.
Jika dilihat dari gambar diagram aliran proses masih perlu dilakukan perbaikanperbaikan pada desain layout produksi seperti arah lintasan / aliran proses, jarak lebih
diminimumkan antar workstation, dan gerakan bolak-balik (backtracking).
[Type text]

Page 24

Saat ini kondisi layoutpabrik dan kondisi fisik lingkungan kerjadi perusahaan
mengalami kendala. Kondisi layoutdi pabrik mengalami kendaladalam hal jarak pemindahan
bahan baku (materialhandling) yang kurang efisien. Selain itu hubungan kedekatan antar
stasiunkerja kurang diperhatikan sehingga membuat aliranmaterial handling menjadi kurang
optimal.Layout pabrik tahu ini dapat dilihat pada gambar . Melihat kondisi ini,perlu adanya
suatu pertimbangan untuk mengubah tata layout yang ada agar menjadi lebih efektif dan
efisien.
Dibawah ini dicantumkan perbaikan desain tata layout pada pabrik tahu ini agar
menjadi lebih efektif dan dengan menggunakan bantuan software Google Sketchup.

Gambar 4.2 Layout tampak atas bagian depan

Gambar 4.3 Layout tampak atas bagian belakang

[Type text]

Page 25

Gambar 4.4 Layout tampak atas keseluruhan

Pada gambar di bawah ini adalah kondisi layout yang baru pada masing-masing
workstation di pabrik tahu sumber jaya.
a. Departemen 1
Pada departemen ini terdiri dari elemen kerja bagian pencucian, penggilingan, dan
gudang raw material untuk pembuatan tahu yaitu kedelai.

Gambar 4.5 Layout Departemen 1

Gambar 4.6 Layout Gudang Kedelai

[Type text]

Page 26

Gambar 4.7 Layout Tempat Penggilingan

b. Departemen 2
Pada departemen ini merupakan workstation pengolahan kedelai yang memiliki
beberapa elemen kerja yaitu perebusan, penyaringan, pemberian larutan cuka, dan
pengendapan. Selain menghasilkan good product yaitu tahu dan susu kedelai, juga
menghasilkan sisa ampas tahu yang masih memiliki nilai jual sebagai pakan ternak
setelah proses perebusan.

Gambar 4.8 Workstation Pengolahan Kedelai

Gambar 4.8 Workstation Pengolahan Kedelai

Gambar 4.9 Layout elemen kerja bagian perebusan, penyaringan, dan pengendapan
[Type text]

Page 27

Gambar 4.10 Layout tampak depan

c. Departemen 3
Pada departemen ini adalah bagian workstation hasil olahan tahu yang memiliki
elemen kerja yaitu pengepresan, pemotongan, dan toko penjualan tahu. Jadi pada toko
ini customer dapat membeli secara langsung dari finished goods yang menyajikan
beberapa hasil produk olahan tahu seperti tahu jawa, tofu, tahu jepang, susu kedelai,
dan produk olahan dari kedelai lainnnya.

Gambar 4.11 Layout tampak atas pada workstation pengepresan dan pemotongan

Gambar 4.12 Layout tampak atas pada toko bagian penjualan tahu
[Type text]

Page 28

Saat ini kondisi layoutpabrik dan kondisi fisik lingkungan kerjadi perusahaan
mengalami kendala. Kondisi layoutdi pabrik mengalami kendaladalam hal jarak pemindahan
bahan baku (materialhandling) yang kurang efisien. Selain itu hubungan kedekatan antar
stasiunkerja kurang diperhatikan sehingga membuat aliranmaterial handling menjadi kurang
optimal.Layout pabrik tahu ini dapat dilihat pada gambar 1. Melihat kondisi ini,perlu adanya
suatu pertimbangan untuk mengubah tata layout yang ada agar menjadi lebih efektif dan
efisien.
Selanjutnya, dilakukan pemberian saran seperti perbaikan sarana penunjang yang
ditujukan kepada pemilik usaha berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan adalah sebagai
berikut:
a. Perbaikan pada bagian workstation pencucian

Gambar 4.13 Layout setelah perbaikan

Gambar 4.14 Layout sebelum

perbaikan

Gambar 4.15 Tampak depan pada sarana pencucian yang baru

[Type text]

Page 29

Gambar 4.16 Tampak atas pada sarana pencucian yang baru

b. Penambahan sarana K3 dan transportasi bahan baku

Gambar 4.17 Kondisi Existing 1

Gambar 4.18 Kondisi Existing 2

Gambar 4.19 Penambahan sarana transportasi dan alat pemadam api

[Type text]

Page 30

Gambar 4.20 Penambahan Kotak P3K

4.3.4

Beberapa hal dibawah ini dapat ditemukan permasalahan yang ada pada pekerja

akibat unsafe behaviour dan unsafe condition saat pekerjaan berlangsung.


No.
1.

Temuan
Kerja

dengan

Landasan Hukum

membungkuk - Permen Perburuhan No. 7 Tahun

dalam waktu terlalu lama

1964 Pasal 9 Ayat 4


- UU No. 1 Tahun 1970: Pasal 3 Ayat 1
Butir m

2.

Menuang adonan dengan posisi - Permen Perburuhan No. 7 Tahun


yang salah

1964 Pasal 9 Ayat 4


- UU No. 1 Tahun 1970: Pasal 3 Ayat 1
Butir m

3.

Tenaga kerja bekerja tanpa - UU No. 1 Tahun 1970: Pasal 3 Ayat 1


menggunakan salah satu APD

Butir f; Pasal 9 Ayat 1 Butir c; Pasal

sepatu

12 Butir b; dan Pasal 14 Butir c

boots,

sarung tangan)

masker,

dan

- Permen Perburuhan No. 7 Tahun


1964 Pasal 2 Butir f
- PERMENAKER No. PER.
02/MEN/1992 Pasal 10 Ayat 1 Butir c

4.

Tata letak barang-barang tidak Permen Perburuhan No. 7 Tahun 1964


teratur

[Type text]

Pasal 5 ayat 11 dan 12

Page 31

5.

Lantai licin

- Permen Perburuhan No. 7 Tahun


1964 Pasal 4 Ayat 3
- UU No. 1 Tahun 1970: Pasal 3 Ayat 1
Butir g

6.

Alat-alat banyak yang terkorosi PERMENAKER

No.

PER.

sehingga membahayakan tenaga 02/MEN/1992 Pasal 10 Ayat 1 Butir c


kerja
7.

Ruang gerak terbatas

Permen Perburuhan No. 7 Tahun 1964


Pasal 5 Ayat 1 dan 5

8.

Tempat kerja terlalu lembab

- PERMEN Perburuhan No. 7 Tahun


1964 Pasal 5 Ayat 9
- UU No. 1 Tahun 1970: Pasal 3 Ayat 1
Butir j

Tabel 4.1 Peraturan Menteri terhadap perlindungan buruh dan hazard di lokasi kerja

Analisis K3 Pekerja
Setelah melakukan pengamatan pada pabrik tahu, terdapat beberapa temuan
negatif yang tidak sesuai dengan ketentuan pada peraturan perundang-undangan
keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Potensi-potensi bahaya tersebut dapat
diminimalisasi dengan melakukan beberapa hal berikut.

No
1

[Type text]

Kondisi Pekerja

Keterangan

Kerja dengan membungkuk dalam waktu


terlalu lama.

Aktifitas seperti ini merupakan salah satu


contoh pekerjaan yang tidak dilakukan
secara ergonomis. Sebagaimana yang kita
ketahui bahwa membungkuk terlalu lama
akan menyebabkan low back pain atau
nyeri pada tulang belakang, tulang
belakang cenderung bengkok ke depan
atau lordosis. Dalam konsep ergonomis
posisi membungkuk lebih dari 30 o tidak
boleh melebihi nilai ambang batas (NAB)
yaitu 2 jam per hari. Sedangkan pada
pabrik tahuini para pekerja banyak yang
melakukan pekerjaan dengan posisi
membungkuk lebih dari 2 jam dalam
sehari.
Untuk mengendalikan potensi bahaya
kesehatan diatas maka perlu dilakukan
beberapa hal seperti berikut menyediakan
tempat duduk agar pekerja dapat

Page 32

beristirahat, rotasi kerja agar pekerja tidak


membungkuk melebihi batas NAB yakni 2
jam per hari, serta melakukan pekerjaan
istirahat
di
sela-sela
pekerjaan
membungkuk.
2.

Menuang adonan dengan posisi yang salah.

Pekerjaan seperti itu adalah suatu


pekerjaan yang tidak dilakukan secara
ergonomis, dan dapat mengakibatkan
terkilir dan kejang otot. Selain itu juga
membahayakan pekerja seperti terkena air
mendidih yang bisa membuat kulit wajah
terkelupas.
Dalam proses pembuatan tahu, pekerja
diharuskan menuang adonan secara
kontinyu agar diperoleh adonan tahu yang
baik.Untuk mengendalikan kondisi yang
tidak sesuai dengan prinsip-prinsip
ergonomis,
maka
harus
dilakukan
pengendalian potensi
bahaya
pada
kesehatan, seperti mengajari para pekerja
bagaimana cara menuang adonan secara
ergonomis.

3.

Tenaga kerja bekerja tanpa menggunakan


APD.

Para pekerja tidak menggunakan alas kaki,


padahal banyak bahaya yang ada di
lingkungan kerja. Misalnya kondisi lantai
yang sangat licin dan tidak rata.
Alat perlindungan diri merupakan salah
satu cara untuk melindungi pekerja dari
potensi bahaya di tempat kerja termasuk
panas dalam pabrik tahu ini.
Berdasarkan pengamatan saya, para
pekerja tidak menggunakan baju dan
sarung tangan sehingga dapat terpapar
potensi bahaya berupa panas dan
menimbulkan penyakit akibat kerja (PAK)
berupa kulit melepuh terkena tumpahan
adonan tahu. Selain itu dalam industri
makanan, konsep higienitas sangat penting.
Jika pekerja tidak memakai baju ataupun
penutup kepala, keringat ataupun rambut
dari pekerja dapat terjatuh ke makanan
yang diolah.

4.

Tata letak barang-barang tidak teratur.

Tata letak barang-barang yang tidak teratur


akan menimbulkan potensi bahaya bagi
pekerja antara lain tertimpa, terjatuh, dan
tersandung. Para pekerja dalam pabrik tahu
tersebut meletakkan barang sembarangan
di ruangan produksi, hal ini sangat
membahayakan bagi orang yang ada di
ruangan tersebut. Selain itu, tempat
produksi juga dijadikan sebagai gudang
mebel.
Potensi
bahaya
tersebut
dapat
diminimalisasi jika manajemen memberi
rak khusus untuk menempatkan bahan
baku dan alat-alat produksi. Sehingga

[Type text]

Page 33

pekerja
memiliki
kesadaran
untuk
meletakkan barang-barang tersebut di
tempat yang seharusnya. Selain itu,
sebaiknya mebel-mebel dipindahkan dari
tempat produksi.

5.

Lantai licin.

Pada pabrik tersebut, banyak bagian lantai


yang terlihat basah dan licin. Hal ini
menyebabkan potensi bahaya terpeleset
terhadap tenaga kerja.
Untuk mengendalikan bahaya tersebut,
tenaga kerja harus membersihkan lantai
secara teratur setiap sebelum dan sesudah
pekerjaan dilakukan.

6.

Alat-alat banyak yang terkorosi sehingga


membahayakan tenaga kerja.

Bahan korosif adalah bahan yang


dapat mengakibatkan kerusakan pada
jaringan hidup atau bahan lainnya
(logam). Umumnya berupa jenis asam
atau basa. Bahan tersebut juga dapat
merusak wadah atau tempat dari bahan
tersebut. Contoh bahan korosif adalah
HCl, KOH, NaOH, dll. Pada pabrik
tersebut, terdapat banyak mesin yang
terkorosi sehingga sangat berpotensi
menghasilkan debu logam yang bisa
mengiritasi saluran pernapasan dan kulit.
Untuk
mengendalikan
bahaya
tersebut, hal yang sebaiknya dilakukan
oleh operator mesin adalah melumasi
mesin secara berkala. Selain itu, upaya
lain yang juga bisa dilakukan adalah
melapisi mesin dengan cat anti karat.

7.

Ruang gerak terbatas


Ruang gerak terbatas adalah kondisi dimana
ruangan yang digunakan terlalu sempit
sehingga menyebabkan ketidaknyamanan
bagi pekerja untuk dapat bekerja dengan
bebas. Pada pabrik tahu tersebut, ruang
gerak pekerja tidak lebih dari 1 m, hal ini
menimbulkan potensi bahaya seperti yang
telah disebutkan diatas.
Hal
yang
harus
dilakukan
ialah
mengondisikan agar ruang gerak tiap-tiap
pekerja dari sebelumnya 1 m menjadi 2 m.

[Type text]

Page 34

8.

Tempat kerja terlalu lembap

Untuk mengendalikan keadaan tersebut,


hal yang harus dilakukan adalah
mengondisikan tempat
kerja agar
mendapatkan sinar matahari yang cukup,
yakni dengan membuat ventilasi yang
cukup, serta melakukan pembersihan pada
lantai yang terkena tumpahan adonan.

9.

Panel listrik yang tidak tercover dengan baik

Pada pabrik tahu ini juga memiliki


kondisi yang membahayakan pekerja saat
melintasi ruangan antara gudang mebel
dan ruang pencucian yaitu terdapat panel
listrik yang tidak tercover dengan baik
sehingga apabila secara tidak sengaja
tersentuh maka bisa tersengat oleh aliran
listrik sebesar 220 volt.
Perbaikan yang harus dilakukan adalah
melakukan perbaikan dengan meletakkan
panel listrik pada daerah yang aman dan
jauh dari jangkauan pekerja serta
diletakkan pada area khusus.

10.

Pekerja

Pekerja merokok di dekat tungku


pembakaran selama menunggu proses
perebusan. Hal ini tentu termasuk kategori
unsafe
behaviour
karena
kurang
menghiraukan potensi bahaya yang terjadi
seperti timbulnya ledakan apabila rokok
tidak sengaja terjatuh di dekat tungku.
Apabila sampai terjadi kecelakaan maka
dapat mengakibatkan luka bakar.
Pihak pekerja sebaiknya perlu sadar diri
terhadap konsekuensi yang dihadapi
apabila merokok tetap dilakukan di lokasi
yang berpotensi terjadinya hazard.

merokok

pembakaran

di

dekat

tungku

Tabel 4.2 Hasil temuan potensi bahaya di tempat kerja


[Type text]

Page 35

4.3.5 Pengendalian Bahaya


Dari berbagai temuan negatif yang ditemukan di tempat kerja tersebut, maka
perusahaan harus melakukan pengendalian terhadap bahaya-bahaya yang telah disebutkan
diatas. Ada 3 jenis pengendalian bahaya, yaitu sebagai berikut.
a. Pengendalian teknik, dapat dilakukan dengan cara:
- Memperbaiki ventilasi
- Memperbaiki sistem penerangan
- Melakukan uji kelayakan mesin secara berkala
b. Pengendalian administratif, dapat dilakukan dengan cara:
- Briefing sebelum melakukan pekerjaan tentang penggunaan mesin dan bahaya
yang ditimbulkannya.
- Safety training untuk pekerja baru.
- Membuat poster-poster K3, seperti pemasangan gambar-gambar kecelakaan kerja
yang mungkin terjadi dan anjuran penggunaan APD yang sesuai.
- Membuat jalur emergency response plan (ERP) dan meeting point.
- Rotasi kerja.
c. APD, dapat dilakukan dengan cara:
- Memakai baju
- Memakai sepatu boots
- Memakai masker
- Memakai sarung tangan
- Memakai penutup kepala

4.3.6

Kondisi-kondisi kerja yang tidak memenuhi persyaratan ENASE (Efektif, Nyaman,


Aman, Sehat, dan Efisien)
Desain suatu sistem kerja harus menjadikan manusia menjadi pusat dalam

perancangannya. Dengan maksud segala sesuatu yang dirancang seperti metode kerja,
peralatan, lingkungan fisik dan bahkan organisasi kerjanya harus dapat mengakomodasi
kemampuan dan keterbatasan manusia agar manusia dapat melakukan pekerjaanya dengan
Efektif, Nyaman, Aman, Sehat dan Efisien (ENASE).
Karakterisitik fungsional dari manusia seperti kemampuan penginderaan, waktu
respon/tanggapan, daya ingat, posisi optimum tangan dan kaki untuk efisiensi kerja otot, dan
lain-lain adalah merupakan suatu hal yang belum spenuhnya dipahami oleh masyarakat
awam. Seperti halnya pada pabrik tahu yang menjadi objek pada makalah ini. Banyak dari
[Type text]

Page 36

cara kerja dari para pekerja yang tidak mempresentasikan ENASE. Hal-hal yang tidak
mempresentasikan ENASE diantaranya:
1. Pekerja dengan posisi berdiri melakukan aktivitas penyaringan, dimana aktivitas
tersebut dilakukan dengan menggoyang- goyangkan beban seberat 4 kg dengan
kondisi disekitar tempat penguapan tahu bersuhu cukup tinggi.
2. Menuang adonan dengan posisi yang salah
3. Ruang gerak terbatas
4. Pembagian pekerjaan yang kurang jelas dikarenakan pekerja yang sedikit
5. Tata letak barang-barang tidak teratur
6. Lantai pabrik licin
7. Alat-alat yang dipergunakan didalam pabrik banyak yang terkorosi sehingga
membahayakan tenaga kerja
8. Tempat kerja terlalu lembab
9. Panel listrik yang tidak tercover dengan baik
10. Tidak adanya ketegasan dan peraturan yang jelas dari atasan dalam hal ini pemilik
pabrik tahu mengenai peletakkan barang-barang pada pabrik tahu.

4.3.7

Implementasi 5S
Tahapan-tahapan dalam penerapan 5S menurut Osada (2004) adalah sebagai berikut
1. Perancangan Metode 5S
Tahap ini merupakan tahap paling awal dari penerapan metode 5S. Maksud
perancangan disini adalah lebih kepada perencanaan apa saja yang akan
dilakukan nantinya pada tahap penerapan dari 5S. Selain itu pada tahap ini juga
dilakukan penentuan lokasi yang akan diterapkan metode 5S.
Seiri, pertama kita harus melakukan identifikasi ruang lingkup dan target
yang akan diterapkan proses pemilahan pada tugas ini. Area yang akan
dilakukan proses pemilahan adalah pada area lantai produksi. Setelah itu
dilakukan identifikasi apa saja yang perlu dipilah atau dipisahkan pada ruang
lingkup yang telah dipilih yaitu pemisahan antara lantai produksi dengan gudang
mebel.
Seiton, untuk tahap awal dilakukan analisis, kemudian menentukan tempat
penataan yang tepat, menentukan cara penyimpanan peralatan yang baik,
kemudian dilakukan kegiatan untuk menaati aturan penyimpanan yang telah
dibuat.

[Type text]

Page 37

Seiso, tahap awal yang dilakukan adalah melakukan identifikasi dan


menentukan sasaran. Pada pabrik tahu ini dapat diidentifikasi bahwa lantai
produksi terlihat becek, berlumut dan banyak sisa-sisa kotoran dari hasil
pencucian kedelai serta kurangnya tingkat kebersihan peralatan setelah selesai
bekerja. Setelah masalah dan sasaran dapat diketahui maka barulah dilakukan
proses pembersihan baik itu pembersihan lantai produksi maupun peralatan yang
digunakan. Apabila sudah dibersihkan maka akan dilakukan identifikasi sumber
penyebab lantai produksi kotor dan mencari solusi pencegahan agar bisa
mengurangi lantai dan peralatan tidak kotor lagi.
Seiketsu, perancangan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah pemberian
label dan batas area kerja yang bertujuan agar para pekerja mengetahui tempat
dan batas penempatan peralatan maupun area kerja, sehingga nantinya pekerja
bisa terbiasa dengan penerapan metode 5S yang telah dirancang.
Shitsuke, perancangan yang dilakukan pada tahap ini adalah tertuju pada
pimpinan perusahaan, untuk selalu mengontrol pekerjanya agar terbiasa dengan
penerapan metode 5S ini dengan memberikan penyuluhan tiap minggu maupun
melakukan pengontrolan secara langsung ke lapangan.
2. Sosialisasi Metode 5S
Tahap sosialisasi ini adalah tahapan yang dilakukan selanjutnya setelah
perancangan. Pada tahap ini melalui bantuan dari pimpinan perusahaan
dilakukan sosialisasi kepada semua karyawan mengenai penerapan metode 5S
yang akan dilakukan. Semua karyawan diberikan penjelasan tentang pengertian,
tujuan serta manfaat dari metode 5S. Selain itu juga diberikan sosialisasi tentang
rancangan metode 5S yang telah dibuat. Hal ini bertujuan agar para pekerja bisa
mengerti dan memahami tentang 5S, sehingga penerapan 5S bisa lebih mudah
untuk diterapkan
3. Penerapan/Implementasi Metode 5S
Tahapan ini merupakan proses penerapan yang akan dilakukan setelah
dilakukan proses perancangan dan sosialisasi 5S. Tahapan ini dilakukan untuk
merealisasikan perancangan metode 5S yang telah dibuat ada 5 aspek yang akan
diterapkan yaitu seiri, seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke.
a. Seiri
Metode seiri fokus diterapkan pada area lantai produksi yang mana area ini
dijadikan juga sebagai area gudang mebel. Pada keseluruhan area sebenarnya
[Type text]

Page 38

terlihat sangat berantakan dan tidak memiliki keteraturan sehingga diperlukan


ada pemindahan mebel-mebel yang ada di lantai produksi guna mempermudah
jalannya produksi pda pabrik tahu ini. Dari hasil pemilahan ini maka diperoleh
keadaan lantai terlihat lebih memiliki ruangan sehingga pekerja lebih leluasa
untuk melakukan pekerjaannya.
b. Seiton
Seiton merupakan S yang kedua dari metode 5S. Pada tahap ini merupakan
kelanjutan dari seiri, dimana dari hasil pemilahan yang telah dilakukan akan
dilanjutkan dengan proses penataan peralatan yang ada pada latai produksi.
Misalnya penataan terhadap tempat pemotongan tahu, penataan tempat
menyimpan cetakan tahu dan juga tempat penyimpanan cuka sebagai bahan lain
dalam proses pembuatan tahu. Cuka diletakkan didekat bak air untuk proses
pembuatan tahu mengambilnya apabila dibutuhkan. Sedangkan untuk alat
tempat untuk menyimpan cetakan tahu disusun didekat tempat untuk mencetak
tahu sehingga pekerja lebih mudah mengambil dan menggunakannya. (lebih
jelasnya bisa dilihat pada layout perbaikan tata letak stasiun proses produksi
tahu)
c. Seiso
Pada tahap ini hal yang dilakukan adalah proses pembersihan. Adapun
pembersihan yang dilakukan adalah pembersihan terhadap lantai produksi dan
peralatan yang digunakan untuk proses produksi pembuatan tahu. Lantai pabrik
dibersihkan dari lumut-lumut dan sisa-sisa pencucian dari kedelai. Pembersihan
lantai produksi ini bertujuan demi keamanan dan kenyaman pekerja pada saat
melakukan pekerjaannya, karena jika lantai licin dan kotor bisa membuat
pekerja tergelincir dan jatuh. Sedangkan untuk pembersihan peralatan kerja
dilakukan dengan tujuan perawatan terhadap peralatan tersebut dan kehigienisan
hasil produksi.
d. Seiketsu
Pada tahap ini lebih mengarah pada proses pemantapan terhadap metode 5S
yang telah diterapkan. Pada tahap ini dilakukan suatu upaya bagaimana
penerapan yang telah dilakukan tetap berlangsung terus menerus bukan untuk
sementara saja dengan cara pembuatan label pada area kerja. Selain itu juga
dilakukan pembuatan garis batas area kerja yang bertujuan agar penyusunan
peralatan kerja lebih tertata dengan baik. Dengan adanya pembuatan labeling
[Type text]

Page 39

dan garis batas area kerja bisa membuat karyawan mengetahui dimana
penempatan peralatan yang digunakan dan mengetahui batas areanya, sehingga
penerapan ini bisa berlangsung terus menerus.
e. Shitsuke
Tahap ini merupakan bagian terakhir dari metode 5S. Pada bagian ini lebih
memfokuskan bagaimana cara untuk membiasakan diri terhadap penerapan
metode 5S. untuk itu diperlukan kesadaran dari para pekerja untuk memiliki
pola kerja yang sesuai metode 5S demi kenyamanan dan keamaan dalam
bekerja. Mengingat sifat manusia yang berbeda-beda maka perlu seseorang yang
bisa mengontrolnya. Dalam hal ini peran pimpinan dibutuhkan untuk peduli dan
mampu mengontrol pekerja agar selalu menjaga lingkungan kerja berdasarkan
metode 5S yang telah diterapkan.
4. Evaluasi Penerapan Metode 5S
Pada tahap ini dilakukan proses evaluasi terhadap penerapan yang telah
dilakukan. Tahapan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
penerapan 5S yang telah dilakukan. Dari evaluasi ini nantinya bisa diketahui apa
saja yang telah diterapkan dan apa saja yang menjadi kendala pada penerapan
metode ini dan pada tahap evaluasi ini juga dilakukan proses pengecekan
kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan tabel evaluasi kegiatan. Tetapi
untuk tahapan ini belum dilakukan karena belum diterapkan secara langsung
terhadap pabrik tahu Sumber Jaya.

4.3.8 Metode Pengolahan Data Waktu Kerja


Pada pengukuran waktu kerja dari proses produksi tahu ini menggunakan teknik
pengukuran kerja secara langsung yaitu dengan menggunakan stopwatch time study (jam
henti). Sebelum melakukan pengukuran secara obyektif, terlebih dahulu harus menetapkan
langkah-langkah yang sistematis pada setiap kegiatan pengukuran kerja.
a. Melakukan definisi pekerjaan yang akan diukur dan akan ditetapkan waktu
standarnya. Lalu membagi siklus kegiatan yang berlangsung ke dalam elemenelemen kegiatan sesuai dengan aturan yang ada. Pada tabel berikut ini akan
diuraikan mengenai elemen-elemen kegiatan pembuatan tahu yang berlangusng
pada pabrik tahu Sumber Jaya.

[Type text]

Page 40

Urutan ke-

Elemen Kegiatan

Urutan ke-

Elemen Kegiatan

1.

Pemanasan Air

6.

Pemberian Larutan Cuka

2.

Pencucian

7.

Pengendapan

3.

Penggilingan

8.

Pengepresan

4.

Perebusan

9.

Pemotongan

5.

Penyaringan
Tabel 4.3 Elemen kegiatan pada pabrik tahu Sumber Jaya

b. Melakukan pengamatan dan pengukuran waktu


Dalam tugas ini digunakan N = 10 untuk setiap siklus atau elemen kegiatan.
N-Pengamatan (menit)
Elemen
Kegiatan

Total
Waktu

Ratarata

10

Pemanasan Air

29.40

28.47

27.56

30.15

28.52

29.34

27.42

30.05

28.10

29.15

288.16

29.22

Pencucian

10.15

9.10

9.48

8.20

9.14

8.36

10.27

9.10

8.31

9.53

92

9.20

Penggilingan

12.51

11.53

13.40

11.28

12.35

13.21

12.58

11.16

13.37

12.06

123.45

12.35

Perebusan

98.45

99.10

100.25

99.20

98.36

98.17

100.13

99.38

99.24

100.05

992.33

99.23

Penyaringan

27.25

27.05

26.58

28.40

26.39

29.56

28.44

29.17

26.20

27.51

276.55

27.06

Pemberian
Larutan Cuka

21.50

22.34

20.45

23.37

21.50

23.22

22.45

20.33

23.29

22.12

220.57

22.06

Pengendapan

15.16

13.20

14.31

12.59

13.28

13.41

12.38

14.22

15.17

14.52

138.24

14.22

Pencetakan di
Alat Pres

21.48

21.26

20.34

22.14

20.55

23.13

21.59

23.25

22.15

20.24

216.13

22.01

Pemotongan

9.35

9.37

8.49

10.36

9.14

9.22

10.20

8.48

8.50

10.09

93

9.32

Tabel 4.4 Data hasil pengukuran dan pengamatan

Keterangan: Rata-rata (menit): Total Waktu per- elemen kegiatan (menit)


N-Pengamatan (menit)

Pada hasil data pengamatan diatas dapat diketahui nilai rata-rata per elemen kegiatan
yang digunakan sebagai acuan dalam perhitungan waktu standar.

[Type text]

Page 41

c. Menetapkan performance rating dari kegiatan yang ditunjukkan oleh operator


Elemen Kerja

Pemanasan Air

Faktor

Kelas

Lambang

Keterampilan

Excellent

B1

0.11

Usaha

Good

C1

0.05

Kondisi Kerja

Fair

-0.03

Konsistensi

Good

0.01

Performance

Penggilingan

1.14

Keterampilan

Excellent

B1

0.11

Usaha

Good

C1

0.05

Kondisi Kerja

Poor

-0.07

Konsistensi

Fair

-0.02

Jumlah

0.07

Performance

1.07

Keterampilan

Good

C1

0.06

Usaha

Good

C1

0.05

Kondisi Kerja

Poor

-0.07

Konsistensi
Jumlah

Fair

-0.02

Keterampilan

Good

C1

Usaha

Excellent

B1

0.10

Kondisi Kerja

Poor

-0.07

Konsistensi

Good

0.01

Pengendapan

[Type text]

0.06

(+)
(+)
(-)
(+)

0.10

Performance

Pemberian Larutan Cuka

(+)
(+)
(-)
(-)

1.02

Jumlah

Penyaringan

(+)
(+)
(-)
(-)

0.02

Performance

Perebusan

Ket
(+)
(+)
(-)
(+)

0.14

Jumlah

Pencucian

Penyesuaian

1.10

Keterampilan

Excellent

B1

0.11

Usaha

Good

C1

0.05

Kondisi Kerja

Fair

-0.03

Konsistensi

Good

0.01

Jumlah

0.14

Performance

1.14

Keterampilan

Good

C1

0.06

Usaha

Fair

E1

0.04

Kondisi Kerja

Fair

-0.03

Konsistensi

Good

0.01

Jumlah

0.08

Performance

1.08

Keterampilan

Excellent

B1

0.11

Usaha

Excellent

B1

0.10

Kondisi Kerja

Poor

-0.07

Konsistensi
Jumlah

Fair

-0.02

(+)
(+)
(-)
(+)

(+)
(+)
(-)
(+)

(+)
(+)
(-)
(-)

0.12

Page 42

Performance

Pencetakan di Alat Pres

Pemotongan

1.12

Keterampilan

Excellent

B1

0.11

Usaha

Good

C1

0.05

Kondisi Kerja

Fair

-0.03

Konsistensi

Fair

-0.02

Jumlah

0.11

Performance

1.11

Keterampilan

Good

C1

0.06

Usaha

Good

C1

0.05

Kondisi Kerja

Fair

-0.03

Konsistensi

Good

0.01

Jumlah

0.09

Performance

1.09

(+)
(+)
(-)
(-)

(+)
(+)
(-)
(+)

Tabel 4.5 Data performance rating pekerja

Keterangan:

Perhitungan Performance rate pada salah satu elemen kegiatan, yaitu pemanasan air
Keterampilan

Excellent (C1)

0.11

Good (C1)

0.05

Fair(E)

-0.03

Good (C)

0.01

Jumlah

0.14

Performance

1+0.14 = 1.14

Usaha
Kondisi
Konsistensi

d. Melakukan uji keseragaman data


Sebelum melakukan uji kecukupan data, terlebih dahulu dilakukan uji keseragaman
data guna menetapkan waktu standard. Salah satu hasil perhitungan yang akan
dijelaskan di bawah ini adalah elemen kegiatan pada pemanasan air (urutan ke-1).
Proses Pemanasan air
1. Keseragaman Data
a. Rata-rata waktu

288.16
=

10
= 28.816 28.82 , 29.22

b. Standar deviasi ():


=
[Type text]

29.40 28.47

+ + 28.10 29.15
10 1

= 0.96
Page 43

c. Standar deviasi dari distribusi harga rata-rata:


=

0.96
10

= 0.30

d. Keseragaman data
Batas Kontrol Atas (BKA)
= + 3 = 29.22 + 3 0.96 = 32

Batas Kontrol Bawah (BKB)


= 3 = 29.22 3 0.96 = 26

Elemen

BKA

BKB

Kegiatan

Standar

SD Distribution Group

Rata-rata Pengamatan

Deviation

Per- Elemen Kegiatan

(SD)

(menit)

Pemanasan Air

32

26

0.96

Pencucian

11

Penggilingan

15

Perebusan

0.73

0.30
0.23

29.22
9.20

10

0.84

0.26

12.35

101

97

0.75

0.24

99.23

Penyaringan

31

24

1.18

0.37

27.06

Pemberian

25

19

1.11

0.35

22.06

Pengendapan

17

11

1.00

0.32

14.22

Pencetakan di

25

19

1.07

0.34

22.01

11

0.71

0.23

9.32

larutan Cuka

Alat Pres
Pemotongan

Tabel 4.6 Perhitungan Keseragaman Data

e. Melakukan uji kecukupan data


Untuk menetapkan beberapa jumlah observasi yang seharusnya dibuat N maka
harus ditentukan terlebih dahulu tingkat kepercayaan (convidence level) dan derajat
ketelitian (degree of accuracy) untuk pengukuran kerja ini.
Salah satu hasil perhitungan yang akan dijelaskan adalah elemen kegiatan pada
pemanasan air (urutan ke-1) seperti tabel yang dicantumkan dibawah ini.

[Type text]

Page 44

Urutan ke1

Elemen

Pemanasan Air

29.40

864.36

28.47

810.5409

27.56

759.5536

30.15

909.0225

28.52

813.3904

29.34

860.8356

27.42

751.8564

30.05

903.0025

28.10
29.15

789.61
849.7225

288.16

8311.89

TOTAL

N'

Keterangan

1.58

Data cukup

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Kecukupan Data Pada Salah Satu Elemen Kegiatan

Pengujian kecukupan data menggunakan tingkat ketelitian sebesar 10% dan tingkat
keyakinan 95%.

/. . (. )
=
.

= .

Dimana :
k = Tingkat keyakinan = 95% 2
s = Derajat ketelitian = 5 % 0.05
N = Jumlah data pengamatan
N= Jumlah data teoritis

Jadi, karena N < N (1.58< 10) maka data dianggap cukup


Urutan
ke-

Elemen Kegiatan

Hasil Perhitungan ( N)

Keterangan

Data Cukup

2.

Pencucian

3.

Penggilingan

6.55

Data Cukup

4.

Perebusan

0.07

Data Cukup

5.

Penyaringan

2.59

Data Cukup

6.

Pemberian Larutan Cuka

7.29

Data Cukup

7.

Pengendapan

7.45

Data Cukup

8.

Pengepresan

3.53

Data Cukup

9.

Pemotongan

7.84

Data Cukup

Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Kecukupan Data Seluruh Elemen Kegiatan


[Type text]

Page 45

f. Melakukan Perhitungan Waktu Normal


Urutan
ke1
2
3
4
5
6
7
8
9

Elemen Kerja
Pemanasan Air
Pencucian
Penggilingan
Perebusan
Penyaringan
Pemberian Larutan Cuka
Pengendapan
Pengepresan di alat pres
Pemotongan

Waktu
Observasi Performance
Waktu
rata-rata
Rate (P)
normal (WN)
29.22
1.14
33.31
9.2
1.07
9.84
12.35
1.02
12.60
99.23
1.10
109.15
27.06
1.14
30.85
22.06
1.08
23.82
14.22
1.12
15.93
22.01
1.11
24.43
9.32
1.09
10.16

Tabel 4.9 Hasil perhitungan waktu normal per elemen kegiatan

Keterangan: - Waktu normal (WN) = Waktu Observasi rata-rata x performance rating


- Hasil Perhitungan Performance Rate (P) telah dicantumkan pada
tabel 4.5

g. Melakukan Perhitungan Waktu Standard


Urutan
ke1
2
3
4
5
6
7
8
9

Elemen
Pemanasan Air
Pencucian
Penggilingan
Perebusan
Penyaringan
Pemberian
Larutan Cuka
Pengendapan
Pengepresan di
alat pres
Pemotongan

Waktu Normal (WN)


33.31
9.84
13
109.15
31.25

Performance Rate
(P)
1.14
1.07
1.02
1.1
1.14

Waktu Standar
(WS)
35.38
10.34
13.23
115.01
32.39

24.22
16.33

1.08
1.12

25.02
17.12

24.43
10.16

1.11
1.09

26.05
11.07

Tabel 4.10 Hasil perhitungan waktu standar per elemen kegiatan

Waktu Standard = Normal Time + (Normal time x (%) Allowance)


Keterangan:
total waktu normal = 271.69 menit atau 271.69/60 menit = 4.52 jam
total waktu standar = 285.61 menit (dibulatkan menjadi 286.01 menit)
Allowance = 5% atau 0.05

[Type text]

Page 46

Jadi waktu standar yang dibutuhkan oleh pekerja dalam menyelesaikan


keseluruhan pekerjaan adalah 4.76 jam

h. Melakukan perhitungan waktu output standard


=

Maka output standard tiap batch pembuatan tahu dengan menggunakan bahan baku
kedelai sebesar 20kg adalah
=

= 0.21
Output per batch

= 0.21 x 20 = 4.2 kg/jam

Jadi pekerja tersebut mampu menghasilkan tahu sebanyak 4.2 kg per jam.

Perhitungan kebutuhan tenaga kerja adalah


Waktu beban Kerja

= Jumlah Produksi x Waktu Standar


= 4.2kg x 285.61menit
= 1199.562 menit/kg

= ( 1199.562 / 360 menit) x 1 orang


= 3 orang

[Type text]

Page 47

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Setelah melakukan pengamatan dan perhitungan, diketahui hasilnya adalah


1. Dari penggambaran peta operasi kerja dapat diketahui jalur proses produksi yang ada
dan setelah itu dilakukan perbaikan pada desain layout tata letak pabrik sehingga bisa
meningkatkan produktivitas pekerja.
2. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan adalah sebanyak 3 orang dan waktu standar
diketahui sebesar 285.61 menit atau dibulatkan menjadi 286.01 menit. Sedangkan
pada waktu normalnya adalah 271.69 menit atau dibulatkan menjadi 272.09 menit.
3. Hasil output standar adalah pekerja mampu menghasilkan tahu sebanyak 4.2 kg per
jam.
4. Beberapa temuan dan analisa k3 telah dilakukan sehingga kedepannya bisa
meminimalisir cidera atau kejadian yang tidak diinginkan akibat dari pekerjaan
tersebut.

5.2 Saran

Apabila pemilik usaha enggan menambah jumlah tenaga kerja yang seharusnya ideal
untuk dilalukan sebanyak tiga orang, maka dapat dilakukan alternatif lainnya yaitu
perancangan tata letak pabrik sehingga pekerjaan tersebut bisa lebih ENASE apabila
dilakukan oleh satu orang saja.

[Type text]

Page 48

Anda mungkin juga menyukai