Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya pembangunan regional tidak bisa dilepaskan kaitannya
dengan pembangunan nasional, salah satu sasaran pembangunan nasional
Indonesia adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasil
pembangunan, termasuk di dalamnya pemerataan pendapatan antar daerah
(wilayah). Pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama yaitu
meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat lokal, dalam
upaya

untuk

mencapai tujuan

tersebut,

pemerintah

daerah

dan

masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil inisiatif membangun


daerahnya.
Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 tentang
perubahan atas UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi daerah, maka terjadi
pula pergeseran dalam pembangunan ekonomi yang tadinya bersifat sentralisasi
(terpusat), sekarang mengarah kepada desentralisasi yaitu dengan memberikan
keleluasaan kepada daerah untuk membangun wilayahnya sendiri, termasuk
pembangunan dalam bidang ekonominya.
Dalam PERMENDAGRI No. 13 Tahun 2006 bahwa Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana
keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama
oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.
Kerangka Pengeluaran

Jangka Menengah adalah pendekatan penganggaran

berdasarkan kebijakan, dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan

tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran, dengan
mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan pada
tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju.
Pengertian dan penerapan pembangunan daerah umumnya dikaitkan
dengan kebijakan ekonomi atau keputusan politik yang berhubungan dengan
alokasi secara spasial dari kebijakan pembangunan nasional secara keseluruhan.
Dengan demikian, kesepakatan-kesepakatan nasional menyangkut sistem politik
dan pemerintahan, atau aturan mendasar lainnya, sangat menentukan pengertian
dari pembangunan daerah. Atas dasar alasan itulah pandangan terhadap
pembangunan daerah dari setiap negara akan sangat beragam. Singapura, Brunei,
atau

negara yang berukuran

kecil sangat mungkin tidak mengenal istilah

pembangunan daerah. Sebaliknya bagi

negara besar, seperti Indonesia atau

Amerika Serikat perlu menetapkan definisi-definisi pembangunan daerah yang


rinci untuk mengimplementasikan pembangunannya.
Dasar hukum penyelenggaraan pembangunan daerah bersumber dari
Undang-Undang Dasar (UUD) Negara RI 1945 Bab VI pasal 18. Hingga saat ini,
implementasi formal pasal tersebut terdiri tiga kali momentum penting, yaitu UU
No 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah dan UU No 22
Tahun 1999 serta UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sebelum
tahun 1974, bukan saja pembangunan daerah, pembangunan nasional juga diakui
belum didefinisikan dan direncanakan secara baik. Implementasi pembangunan
daerah berdasar UU No 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di
Daerah, terbukti sangat mendukung keberhasilan pembangunan nasional hingga
Pelita VI tetapi juga mampu secara langsung melegitimasi kepemimpinan

Presiden Suharto. Sementara UU No 22 Tahun 1999 yang diperbaiki dengan UU


No 32 Tahun 2004 lebih merupakan koreksi-koreksi sistematis disebabkan oleh
permasalahan struktural (sistemik) maupun dalam hal implementasi.
Dalam pembangunan ekonomi daerah perlu memperhatikan kebijakankebijakan pembangunan yang akan diterapkan dalam membangun daerah, karena
daerah memiliki khasnya tersendiri yang bersangkutan (endogenous) dengan
potensi sumber daya manusia, kelembagaan, dan sumber daya fisik secara lokal
(daerah). Orientasi ini mengarah pada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal
dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan kesempatan
kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses yang mencakup
pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif,
perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa
yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih pengetahuan dan teknologi,
serta pengembangan usaha-usaha baru.
Tujuan utama dari setiap pembangunan ekonomi daerah adalah untuk
meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Untuk
mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara
bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu,
pemerintah dengan partisipasi masyarakatnya, dengan dukungan sumberdaya
yang ada harus mampu menghitung potensi sumber daya-sumber daya yang
diperlukan untuk merancang dan membangun ekonomi daerahnya.
Pembangunan dari daerah harus benar-benar dilaksanakan sebagaimana
mestinya sangat berperan penting dalam perkembangan dan pertumbuhan
3

ekonomi negara demi tercapainya cita-cita negara yang memang sudah sekian
lama ingin menjadi negara yang maju. Banyak kalangan yang sudah mencoba
untuk meneliti tentang pembangunan yang mungkin bisa terjadi di negara ini.
Adapun daerah (region) yang dimaksudkan disini adalah perdesaan dan
perkotaan yang merupakan bagian dari wilayah. Karena wilayah terjadi atas
perdesaan dan kota (Jayadinata, 1992: 169). Dengan demikian ada wilayah
perdesaan (rural region) dan perkotaan (urban region) yang maing-masing
memiliki ciri-ciri tersendiri. Batasan ini sejalan dengan pengertian wilayah
menurut Suhardjo (1995: 11), bahwa wilayah dapat diartikan sebagai bagian dari
permukaan bumi yang mempunyai keseragaman atas dasar ciri-ciri tertentu, baik
yang bersifat fisik maupun sosial; misalnya iklim, topografi, jenis tanah,
kebudayaan, bahasa ras dan sebagainya. Selanjutnya dijelaskan bahwa ukuran dari
suatu wilayah sangatlah luwes, dapat hanya merupakan satu dusun ataupun satu
rukun tetangga hingga meliputi wilayah yang merupakan suatu benua, bahkan
gabungan dari benua.
Di dalam melakukan pembangunan daerah, setiap pemerintah perlu
merumuskan strategi, konsep dan perencanaan yang matang bahkan benar-benar
akurat. Kemudian diharapkan dapat melakukan evaluasi terhadap pembangunan
yang dilakukannya. Seiring dengan semakin pesatnya pembangunan bidang
ekonomi, maka terjadi peningkatan permintaan data dan indikator-indikator yang
menghendaki ketersediaan data sampai tingkat Kabupaten / Kota. Data dan
indikator-indikator pembangunan yang diperlukan adalah yang sesuai dengan
perencanaan yang telah ditetapkan.
Dengan

adanya

teori-teori

yang

mampu

menjadi

acuan

dalam

melaksanakan pembangunan maka akan lebih membantu proses pembangunan


tersebut sehingga pelaksanaan dari teori yang telah ada mampu direalisasikan
kedalam bentuk pembangunan yang ada. Teori pembangunan sudah lazim
terdengar oleh setiap orang, baik tiu modernisasi, dependensi, maupun sistem
dunia namun kadang banyak yang tidak menyadari tejadinya teori-teori tersebut
sehingga pada saat ini patut untuk diketahui.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis mencoba membuat
pemaparan mengenai pembangunan regional yang akan memaparkan mengenai
konsep dan strategi perencanaan pembangunan regional.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka
rumusan masalah dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.

Apa yang di maksud dengan pembangunan daerah ?


Bagaimana konsep daerah (region) ?
Bagaimana strategi perencanaan pembangunan regional ?
Apa saja informasi yang dibutuhkan dalam perencanaan pembangunan
ekonomi daerah ?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan karya ilmiah ini ialah untuk mengetahui serta memahami
bagaiman pembangunan regional yang benar-benar mengembangkan daerah guna
untuk pertumbuhan ekonomi daerah. Penulisan karya ilmiah ini juga memiliki
tujuan yang lainnya, yaitu berupa sumber rujukan untuk pengetahuan yang dapat
memperluas wawasan kita bersama.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pembangunan Daerah dan Pemahamannya
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah
daerah dan seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang
ada dan membentuk suatu pola kemitraan untuk menciptakan suatu lapangan
pekerjaan baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam daerah
tersebut (Lincolin Arsyad, 1999 ; Blakely E. J, 1989). Tolok ukur keberhasilan
pembangunan dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi dan
semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antarpenduduk, antardaerah dan
antarsektor. Suatu ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan yang berkembang
apabila tingkat kegiatan ekonominya lebih tinggi daripada apa yang dicapai pada
masa sebelumnya.
Salah satu tujuan pembangunan adalah meningkatkan pertumbuhan
ekonomi, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu akan dapat dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat luas.Indikator penting untuk mengetahui kondisi
ekonomi suatu wilayah atau daerah dalam suatu periode tertentu ditunjukkan
oleh data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) wilayah atau daerah
tersebut.Pertumbuhan ekonomi

adalah salah satu indikator penting dalam

melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu


negara. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian
akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periose tertentu.
Di samping analisis pertumbuhan ekonomi dapat digunakan untuk menentukan

keberhasilan pembangunan yang telah dicapai dapat pula digunakan untuk


menentukan arah pembangunan yang akan datang.
Arsyad menjelaskan bahwa setiap upaya pembangunan ekonomi daerah
mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja
untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut,
pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil
inisiatif membangun daerah. Pemerintah daerah beserta partisipasi masyarakatnya
dan dengan menggunakan sumber daya yang ada berupaya menginventarisir
potensi sumber daya ada untuk merancang dan membangun perekonomian daerah.
Perbedaan kondisi daerah membawa implikasi bahwa corak pembangunan yang
diterapkan berbeda pula. Total pola kebijaksanaan yang pernah diterapkan dan
berhasil pada suatu daerah belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi
daerah lain. Jika akan membangun suatu daerah, kebijakan yang diambil harus
sesuai dengan

kondisi (masalah, kebutuhan, dan

potensi)

daerah yang

bersangkutan. Oleh karena itu, penelitian yang mendalam tentang keadaan tiap
daerah harus dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang berguna bagi
penentuan

perencanaan

pembangunan

daerah

yang

bersangkutan

(Arsyad,1999:109).
Kesungguhan pemerintah dalam membangun daerah ini diukur dengan
adanya suatu sistem pemerintahan yang dikenal dengan istilah Otonomi daerah.
Untuk mendukung hal itu pemerintah mengeluarkan Undang-undang 22 Nomor
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian direvisi menjadi
Undang-undang No.32 Tahun 2004 dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999

tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang


kemudian direvisi menjadi Undang- undang Nomor 33 Tahun 2004.
Undang-undang tersebut merupakan landasan bagi daerah untuk
membangun daerahnya secara mandiri dengan lebih mengandalkan kemampuan
dan potensi yang dimiliki daerah. Undang-undang ini juga memberikan
kewenangan yang lebih besar (local discretion) kepada daerah untuk merancang
berbagai

program

pembangunan yang sesuai dengan keinginan masyarakat

setempat (local needs).


Sejak Otonomi Daerah tersebut diberlakukan, peran pemerintah daerah
dalam mengelola rumah tangganya sendiri semakin besar. Tuntutan untuk mampu
membiayai urusan rumah tangga tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa
pemerintah daerah beserta perangkatnya harus bekerja keras agar mampu
menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan daerah untuk pelayanan
terhadap masyarakat.

2.2 Konsep Daerah (Region)


Ruang ( region ) merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan
wilayah. Konsep ruang mempunyai beberapa unsur, yaitu jarak, lokasi, bentuk,
dan ukuran. Konsep ruang sangat berkaitan erat dengan waktu,karena
pemanfaatan bumi dan segala kekayaan membutuhkan organisasi/pengaturan
ruang dan waktu.Unsur-unsur tersebut di atas secara bersama-sama menyusun unit
tata ruang yang disebut wilayah.
Whittlessey (1945) memformulasikan pengertian tata ruang berdasarkan:
(1) unit areal kongret, (2) fungsionalitas di antara fenomena, dan (3) subyektifitas

dalam penentuan criteria.Kemudian Hartchorne (1960) mengintroduksikan unsure


hubungan fungsional diantara fenomena,yang melahirkan konsep struktur
fungsional tata ruang.Struktur fungsional tata runag bersifat subyektif,karena
dapat menentukan fungsionalitas berdasarkan criteria subyektif.
Menurut Hanafiah (1985) konsep jarak mempunyai dua pengertian , yaitu
jarak absolut dan jarak relatif yang mempengaruhi konsep ruang. Konsep jarak
dan ruang relatif ini berkaitan dengan hubungan fungsional diantara fenomena,
dalam struktur fungsional tata ruang. Jarak relatif merupakan fungsi dari
pandangan atau persepsi terhadap jarak. Dalam konsep ruang absolut , jarak di
ukur secara fisik, sedangkan dalam konsep ruang relatif jarak di ukur secara
fungsional berdasarkan unit waktu ,ongkos dan usaha. Ide mendasar dari konsep
ruang relatif adalah persepsi terhadap dunia nyata. Persepsi manusia dipengaruhi
oleh faktor-faktor ekonomi, sosial budaya, politik, psikologi dan sebagainya.
Melalui berbagai faktor tersebut manusia dapat mengambarkan ruang relatif.
Dengan mempertimbangkan beberapa pendapat mengenai konsep daerah
(region) yang telah dipaparkan di atas, selanjutnya terdapat beberapa konsep
dalam mendongkrak pertumbuhan pembangunan daerah ataupun wilayah, yaitu
konsep core-periphery dan Growth poles Growth centres.
1. Konsep pusat pinggiran (Core-periphery)
Konsep pusat pinggiran ini pertama-tama dikemukakan pada tahun 1949
oleh pebrisch, seorang ahli ekonomi Amerika Latin. Tipe teori pembangunan ini
mencoba

memberikan

gambaran

dan

menerangkan

tentang

perbedaan

pembangunan (development), tetapi penekanannya dari aspek keruangan. Jadi


konsep ini sesuai dengan kajian geografi yang juga melihat sesuatu dari segi

keruangan. Perbedaan antara daerah pusat (C) dan daerah pinggiran (P) dapat
dijumpai dalam beberapa skala, yaitu di dalam region, antar regions dan antar
negara (seperti : pelabuhan dan daerah pendukungnya, kota dan desa, negara maju
dan negara sedang berkembang).
Dari konsep ini kemudian berkembang menjadi beberapa pandangan
teorits mengenai perbedaan pembangunan yaitu kemajuan anatara pusat dan
pinggiran (Core-periphery), seperti teori polarisasi ekonomi dari Myrdal dan
Hirscman, teori pembangunan regional dan Friedmann dan pandangan Marxist.
Menurut Myrdal Core region adalah sebagai magnit yang dapat
memperkuat pertumbuhan ekonomi dengan sendirinya, karena adanya sebabsebab kumulatif ke arah perkembangan (Cumulative upward causation) : seperti
arus buruh dari pinggiran ke pusat ( P ke C ); tenaga trampil, modal dan barangbarang perdagangan yang secara spontan berkembang didalam ekonomi pasar
bebas untuk menunjang pertumbuhan di suatu lokasi (wilayah ) tertentu.
2. Konsep kutub-kutub pertumbuhan dan Pusat-pusat pertumbuhan
(Growth poles dan growth centres).
Konsep kutub pertumbuhan diformulasikan oleh Perroux, seorang ahli
ekonomi bangsa perancis pada tahun 1950. Kutub pertumbuhan adalah pusatpusat dalam arti keruangan yang abstral, sebagai tempat kekuatan kekuatan
sentrifugal (memencar) dan kekuatan sentripetal tertarik kearah situ. Growth poles
bukan kota atau wilayah, melainkan suatu kegiatan ekonomi yang dinamis (fima
industri) dan hubungan kegiatan ekonomi yang dinamis demikian, tercipta
didalam dan diantara sektor-sektor ekonomi.

10

Sedangkan konsep pusat pertumbuhan dikemukakan oleh Boudeville,


seorang ahli ekonomi Perancis. Ia menggunakan konsep kutub pertumbuhan yang
sudah ada, dijadikan konsep keruangan yang kongkrit. Pusat pertumbuhan adalah
sekumpulan (geografis) semua kegiatan. Pusat pertumbuhan adalah kota-kota atau
wilayah perkotaan yang memiliki suatu industri propulsive yang komplek.
Propulsive industries adalah industri yang mempunyai pengaruh besar (baik
langsung maupun tidak langsung) terhadap semua kegiatan lainnya.

2.3 Strategi Perencanaan Pembangunan Regional


Secara umum strategi pembangunan ekonomi adalah mengembangkan
kesempatan kerja bagi penduduk yan ada sekarang dan upaya untuk mencapai
stabilitas ekonomi, serta mengembangkan basis ekonomi dan kesempatan kerja
yang beragam. Pembagunan ekonomi akan berhasil bila mampu memenuhi
kebutuhan dunia usaha. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
fluktuasi ekonomi sektoral, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kesempatan
kerja.
Lincolin Arsyad (2000) secara garis besar menggambarkan strategi
pembangunan ekonomi daerah dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu :
1) Strategi pengembangan fisik (locality or physical development strategy)
Melalui pengembangan program perbaikan kondisi fisik/lokalitas daerah
yang ditunjukkan untuk kepentingan pembangunan isdustri dan perdagangan,
pemerintah daerah akan berpengaruh positif bagi pembangunan dunia usaha
daerah. Secara khusus, tujuan strategi pembagunan fisik ini adalah untuk
menciptakan identitas masyarakat , dan memperbaiki daya tarik pusat kota (civic

11

center) dalam upaya memperbaiki dunia usaha daerah. Untuk mencapai tujuan
pembangunan fisik tersebut diperlukan alat-alat pendukung, yaitu :
a) Pembuatan bank tanah (land banking), dengan tujuan agar memiliki data
tentang tanah yang kurang optimal penggunaannya, tanah yang belum
dikembangkan,atau salah ddalam penggunaannya dan lain sebagainya.
b) Pengendalian perencanaan dan pembangunan, dengan tujuan

untuk

memperbaiki iklim investasi di daerah dan meperbaiki citra pemerintah


daerah.
c) Penataan kota (townscaping), dengan tujuan untuk memperbaiki sarana jalan,
penataan pusat-pusat pertokoan, dan penetapan standar fisik suatu bangunan.
d) Pengaturan tata ruang (zoning) dengan baik untuk merangsang pertumbuhan
dan pembangunan ekonomi daerah.
e) Penyediaan perumahan dan pemukiman yang baik akan berpengaruh positif
bagi dunia usaha, disamping menciptakan lapangan kerja.
f) Penyediaan infrastruktur seperti : sarana air bersih, taman, sarana parkir,
tempat olahraga dan lain sebagainya.

2) Strategi pengembangan dunia usaha (business development strategy).


Pengembangan dunia usaha merupakan komponen penting dalam
pembangunan ekonomi daerah, karena daya tarik, kerativitas atau daya tahan
kegiatan ekonomi dunia usaha, adalah merupakan cara terbaik untuk menciptakan
perekonomian daerah yang sehat. Untuk mencapai tujuan pembangunan fisik
tersebut diperlukan alat-alat pendukung, antara lain :
a) Penciptaan iklim usaha yang baik bagi dunia usaha, melalui pengaturan dan
kebijakan yang memberikan kemudahan bagi dunia usaha dan pada saat yang
sama mencegah penurunan kualitas lingkungan.

12

b) Pembuatan informasi terpadu yang dapat memudahkan masyarakat dan dunia


usaha untuk berhubungan dengan aparat pemerintah daerah yang berkaitan
dengan perijinan dan informasi rencana pembangunan ekonomi daerah.
c) Pendirian pusat konsultasi dan pengembangan usaha kecil, karena usaha kecil
perannya sangat penting sebagai penyerap tenaga kerja dan sebagai sumber
dorongan memajukan kewirausahaan.
d) Pembuatan system pemasaran bersama untuk menghindari skala yang tidak
ekonomis dalam produksi, dan meningkatkan daya saing terhadap produk
impor, seta sikap kooperatif sesama pelaku bisnis.
e) Pembuatan lembaga penelitian dan pengembangan litbang). Lembaga ini
diperlukan untuk melakukan kajian tentang pengembangan produk baru,
teknologi baru,dan pencarian pasar baru.

3) Strategi pengembangan sumber daya manusia (human resource


development strategy).
Strategi pengembangan sumberdaya manusia merupakan aspek yang
paling penting dalam proses pembangunan ekonomi, oleh karena itu
pembangunan ekonomi tanpa dibarengi dengan peningkatan kualitas dan
ketrampilan sumberdaya manusia adalah suatu keniscayaan. Pengembangan
kualitas seumberdaya manusia dapat dilakukan denganca cara :
a) Pelatihan dengan system customized training, yaitu sistem pelatihan yang
dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan dan harapan sipemberi
kerja.
b) Pembuatan bank keahlian (skill banks), sebagai bank informasi yang berisi
data tentang keahlian dan latar belakang orang yang menganggur di

13

penciptaan iklim yang mendukung bagi perkembangan lembaga-lembaga


pendidikan dan keterampilan di daerah.
c) Pengembangan lembaga pelatihan bagi para penyandang cacat.
4) Strategi pengembangan masyarakat (community based development
strategy)
Strategi pengembangan masyarakat ini merupakan kegiatan yang
ditujukan untuk memberdayakan (empowerment) suatu kelompok masyarakat
tertentu pada suatu daerah. Kegiatan-kegiatn ini berkembang baik di Indonesia
belakangan ini, karena ternyata kebijakan umum ekonomi yang tidak mampu
memberikan manfaat bagi kelompok-kelompok masyarakat tertentu.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk menciptakan manfaat sosial, seperti
misalnya dengan menciptakan proyek-proyek padat karya untuk memenuhi
kebutuhan hidup atau untuk memperoleh keuntungan dari usahanya.
Sehubungan dengan perencanaan

pembangunan

wilayah, Dusseldorp

menawarkan dua cara, yang pertama dari atas kebawah (top down approach) yaitu
perencanaan nasional memberikan petunjuk berapa besar keuangan yang
disediakan untuk daerah, kemudian dilakukan dari bawah keatas (botton up
approuch) sebagai cara yang kedua yang dimulai dari perencanaan wilayah taraf
terendah dan berakhir dengan perencanaan nasioal.
Untuk perencanaan wilayah secara keseluruhan (regional planning) tersebut dapat
digunakan beberapa metode seperti berikut :
1. Pengembangan wialayah secara admisitratif atau secara geografis dengan
mengembangan seluruh wilayah perdesaan dan perkotaan, misalnya

14

pengembangan daerah Jawa Barat atau pengembangan wilayah geografis Jawa


Barat (terdiri atas Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta).
2. Pengembangan wilayah aliran sungai yang pengembangannya dilakukan di
wilayah aliran sungai tertentu, seperti yang telah dilakukan oleh Tennessee
Valey Authoryty di wilayah Sungai Tennesse di Amerika Serikat, dimana telah
dibangun beberapa bendungan. Diwilayah aliran sungain tersebut dilakukan
peningkatan pemanfaatan sungai, tanah dan sumberdaya alam lainnya. Dengan
demikian dapat dikembangkan pertanian dan peternakan, kehutanan, industri,
perikanan, pelayanan dan sebagainya. Dalam pengembangan tersebut
digunakan pendekatan teritorial.
3. Pengembangan wilayah perdesaan yang dilakukan dengan meningkatkan
kehidupan sosial ekonomi penduduk dengan mengembangkan pertanian yang
merupakan mata pencaharian pokok penduduk. Hal itupun menggunakan
pendekatan teritorial. Pembangunan desa yang baru (diluar Jawa) dilakukan
dengan transmigrasi, permukiman kembali dan perkebunan inti rakyat (PIR);
sedangkan pembangunan desa lama ( diseluruh Indosnesia ) dilakukan dengan
sistem unit daerah kerja pembangunan (UDKP), pendekatan ekologi, desa
terpadu dan sebaginya.
4. Pengembangan wilayah menurut sistem perkotaan yang termasuk perencanaan
wilayah fungsional serta mempunyai hubungan dalam ruang (spasial) atau
hubungan difusi yang meliputi konsep berikut:
Konsep kutub pertumbuhan (growth pole), yang terpusat dan
mengambil tempat (kota) tertentu sebagai pusat pengembangan yang
diharapkan menjalarkan perkembangan kepusat-pusat yang tingkatnnya
lebih rendah. Dalam konsep ini terdapat istilah spread dan trickling down
(penjalaran dan penetesan) serta backwash dan polarization (penarikan

15

dan pemusatan). Konsep ini dimulai oleh Perroux (1950), berasal dari
pengembangan industri untuk meningkatkan Grose National Product
(GNP) setelah kemunduran ekonomi setelah perang Dunia

II. Sesuai

dengan konsep ini, investasi diberikan kepada kota besar, dengan


pendirian bahwa jika kegiatan terkonsentrasi dalam suatu ruang, maka
konsentrasi itu menimbulkan external economic yang mengakibatkan
bertambahnya kegiatan baru pada kawasan kota tersebut. Proses ini
mempertinggi aglomerasi ekonomi. Semakain besar konsentarasi itu,
makin banyak penduduk, makin banyak kegiatan yang dilakukan dan
maikin banyak barang dan jasa yang dibutuhkan bagi kota tersebut. Gejala
inilah yang memberikan semua penjalaran atau penetesan dan penarikan
atau pemusatan. (Jayadinata, 1992: 177-178).
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, menurut Forbes (1986: 36) bahwa
konsep kutub pertumbuhan merupakan

konsep berpengaruh

satu-satunya

mengenai pembangunan regional selama tahun 1960-an dan 1970-an. Konsep


ini semula dikaitkan dengan karya Perroux (1950, 1971), yang perhatian
utamanya adalah interaksi diantara sektor-sektor industri. Dikemukakan bahwa
pertumbuhan ekonomi tercipta melalui serangkaian sektor atau kutub-kutub yang
dominan dalam
perekonomian.
Boudeville (1966) membantu menerapkan konsep kutub pertumbuhan ini
pada ruang geografi dengan jalan
sebagai pusat-pusat

mana kutub-kutub itu menjadi dikenal

pertumbuhan (growth centres). Kutub-kutub pertumbuhan

ini menjadi rangkaian kegiatan yang berlokasi di sekitar kegiatan penggerak yang

16

orisinil. Pembangunan spasial dan pembangunan ekonomi menjadi terpusat pada


suatu strategi pertumbuhan kota.
Menurut Dickenson, dkk (1992:19) gagasan-gagasan Perroux tentang
konsep kutub pertumbuhan, secara antusiastik diterima bukan karena ia tampak
mempunyai implikasi-implikasi keruangan: pengembangan akan menyebar dari
kutub-kutub pengembangan ke tempat-tempat lainnya. Namun Perruox sendiri
tertarik perhatiannya pertama-tama pada suatu ekonomi dalam hal yang abstrak,
yang hanya menyarankan bahwa pertumbuhan dapat dirangsang tanpa
memandang dimana kemungkinan itu akan terjadi. Sejak dulu juga telah diketahui
bahwa kemajuan ekonomi tidak dapat dicapai dengan tingkat yang sama disetiap
tempat.
Myrdal dan Hirschman dengan teori polarisasi ekonominya telah
mengetahui adanya daya kompensasi yang berlawanan, yakni efek-efek arus balik
atau polarisasi, yang akan menghambat perkembangan diseluruh negeri.
Hirschman melihat bahwa secara geografis pertumbuhan mungkin tidak perlu
berimbang. Ia percaya bahwa dengan berlangsungnya waktu, efek-efek menetes
kebawah (tricling down-effects) akan dapat mengatasi efek polarisasi; dan hal
yang demikian akan terjadi jika ada campur tangan negara (pemerintah) dalam
perekonomian. Gagasan-gagasan tersebut diatas memberikan dasar bagi
tumbuhnya model pusat-pinggiran (core-periphery) dari pebrisch seperti yang
telah diuraikan sebelumnya.
Myrdal dan Hirschman dengan teori polarisasi ekonomi menjelaskan
perbedaan pembangunan/kemajuan antara core dan periphery (pusat-pinggiran).
Menurut Myrdal, bila dalam suatu wilayah didirikan industri, maka akan terjadi

17

pemusatan penduduk disekitar daerah industri tersebut. Penduduk disini


memerlukan pelayanan sosial dan ekonomi, sehingga menarik para penanam
modal. Akhirnya modalpun mengalir kearah itu. Industri pertama mungkin juga
menarik pendirian industri lainnya baik yang menyediakan bahan mentahnya
maupun industri yang mengolah bahan setengah jadi bahan yang dihasilkan oleh
industri pertama. Demikianlah akan terjadi pertumbuhan yang makin lama makin
pesat (Polarization of Growth).
Polarization of growth ini akan menimbulkan backwash-effects atau
akibat-akibat yang menghambat pertumbuhan wilayah-wilayah lain dari mana
tenaga-tenaga trampil, modal barang-barang perdagangan ditarik kearah itu.
Daerah yang terkena backwash-effects ini makin lama menjadi makin mundur
dan disebut periphery (Henderink & Murtomo, 1988: 26).
Sehubungan dengan pandangan tentang polarisasi pertumbuhan ekonomi
tersebut, Friedman (Dickenson, dkk. 1992: 20), menyatakan bahwa pertumbuhan
ekonomi cenderung terjadi dalam matriks kawasan-kawasan perkotaan, melalui
matriks inilah perkembangan ekonomi keruangan diorganisasikan. Penentuanpnentuan lokasi perusahaan, dilakukan dengan mengacu pada kota-kota atau
kawasan-kawasan urban. Maka kota-kota merupakan inti kemajuan ekonomi,
disekitarnya terdapat wilayah pertanian yang lebih efisien dan di luar lagi terdapat
aktivitas-aktivitas mata pencaharian hidup yang kurang maju.
Dengan demikian kota dan kawasan kota diidentifikasikan sebagai
katalisator suatu proses yang didesain untuk melibatkan keseluruhan ruang secara
nasional. Kutub-kutub pengembangan primer yang terdiri dari industri-industri
terkait yang diidentifikasikan dan didorong perkembangannya dengan suatu

18

jaringan komunikasi. Bantuan akan disalurkan kepada tingkatan pusat-pusat yang


lebih kecil. Daya pengaruh pertumbuhan memusat, perkembangab indusri akan
menghasilkan suatu aliran investasi yang menetes ke bawah melalui hirarki
cabang-cabang ekonomi dan keruangan hingga sampai pada pusat-pusat urban
yang lebih kecil pun akan menerima keuntungan-keuntungannya.
Friedmann sebagai ahli perencanaan yang mengembangkan teori
pembangunan regional, menggunakan konsep core-periphery untuk membuat
tipologi suatu wilayah yakni:
a) core-regions, sebagai ekonomi metropolitan yang terpusat. Ini identitik
dengan kapitalis modern. Sebagai contoh core-regions ini adalah wilayah
perkotaan Jakarta, Indonesia; tetapi dapat pula dengan skala internasional.
b) Wilayah transisi yang berkembang (upward-transision region), yaitu wilayah
dekat dengan pusat dan sesuai untuk pengembangan sumber-sumber (misalnya
antara daerah perkotaan Jakarta dengan daerah perkotaan Bandung).
c) Wilayah yang berdekatan dengan sumber-sumber (resource-frontier regions),
daerah pinggiran pemukiman baru (misalnya daerah-daerah taransmigrasi di
Sumatra, Kalimantan dan lain-lainnya).
d) Wilayah transisi yang mundur (downward-transision regions), wilayah ini
terdapat di dalam Negara (misalnya daerah-daerah yang mengalami back
wash effect) dan di luar negeri pada skala dunia (misalnya sub-Saharan
countries) (Hiderink & Murtomo, 1988:27).
Berdasarkan

pandangan

Friedmann,

penduduk

perdesaan

dapat

meningkatkan pendapatannya serta mendapatkan sarana sosial ekonomi dalam


jangkauannya, dan dengan demikian perpindahan ke kota dapat dikendalikan.

19

2.4 Informasi yang Dibutuhkan dalam Perencanaan Pembangunan Ekonomi


Daerah.
Dalam membuat perencanaan pembangunan daerah, perlu berbagai
informasi untuk menyukseskan pembangunan. Pembangunan tanpa adanya
perencanaan yang matang akan menjadikan pembangunan tersebut sebagai suatu
kehampaan, ataupun kegagalan. Untuk mensukseskan pembangunan ekonomi
daerah dalam menyusun perencanaan pembangunan, maka diperlukan berbagai
informasi yang diperlukan.
Adapun informasi yang dibutuhkan dalam menyusun perencanaan
pembangunan ekonomi daerah adalah sebagai berikut :
1) Data Kependudukan
Data kependudukan yang diperlukan dalam perencanaan pernbangunan
daerah adalah struktur penduduk (hierarchy of age grouping) yang dikaitkan
dengan tingkat pengerjaan (employment, umur,. pendapatan, dan distribusi
penduduk menurut pekerjaan selama kurang lebih 10 tahun yang terakhir; dan
burden of dependency ratio. Tujuan analisis kependudukan ini adalah untuk
menentukan karakteristik penduduk pada suatu daerah karena karakteristik
penduduk tersebut berkaitan dengan vitalitas masyarakat dan untuk menaksir
target penduduk untuk kegiatan ekonomi yag diinginkan.
2) Kondisi Pasar Tenaga Kerja
Data yang berkenaan denga kondisi pasar tenaga kerja antara lain:
informasi tentang distribusi pengerjaan menurut jenis kelamin pada setiap
industri, informasi tentang pengangguran clan setengah pengangguran setiap
sektor industri paling selama 5 tahun terakhir. Pola pengerjaan dalam suatu

20

masyarakat akan menunjukkan apakah sumberdaya manusia tersedia atau


dibutuhkan untuk pembangunan ekonomi clan berapa jumlah angkatan kerja yang
membutuhkan bantuan.
3) Karakteristik Ekonomi
Data ekonomi yang diperlukan antara lain: basis ekonomi suatu daerah,
perubahannya, dan responsnya terhadap perubahan keadaan ekonomi baru, selain
kondisi ekonomi masa lalu dan sekarang, faktor-faktor yang mempengaruhi
vitalitas ekonomi juga perlu untuk dikaji. Pemahaman yang baik terhadap struktur
ekonomi merupakan tahap yang esensial dalam merancang program pembangunan
ekonomi jangka panjang.
4) Kondisi Fisik/Lokasional
Data yang diperlukan untuk kondisi fisik ini meliputi kajian tentang
kondisi clan bentuk fisik dari suatu daerah yang berhubungan dengan basis
ekonominya, termasuk penilaian tentang sumberdaya fisikal (pertanian,
pertambangan, clan sebagainya), ketersediaan lahan untuk kawasan industri,
jaringan transportasi clan komunikasi, persediaan perumahan, dan juga aset yang
dapat digunakan untuk daerah tujuan wisata. Pendokumentasian terhadap aset-aset
lokasi akan membantu kita dalam mengidentifikasi keunggulan ekonomi daerah
(dan kelemahannya).
5) Layanan Jasa bagi Masyarakat
Data tentang jasa-jasa pelayanan sosial, pendidikan, rekreasi, clan budaya
yang tersedia bagi masyarakat juga diperlukan. Jasa-jasa pelayanan tersebut akan
menambah daya tarik daerah sebagai tempat untuk hidup dan bekerja.

21

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada dasarnya pembangunan regional tidak bisa dilepaskan kaitannya
dengan pembangunan nasional, salah satu sasaran pembangunan nasional
Indonesia adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasil

22

pembangunan, termasuk di dalamnya pemerataan pendapatan antar daerah


(wilayah).
Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 tentang
perubahan atas UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi daerah, maka terjadi
pula pergeseran dalam pembangunan ekonomi yang tadinya bersifat sentralisasi
(terpusat), sekarang mengarah kepada desentralisasi yaitu dengan memberikan
keleluasaan kepada daerah untuk membangun wilayahnya sendiri, termasuk
pembangunan dalam bidang ekonominya.
Teori modernisasi memberikan beberapa model/konsep seperti model
pusat-pinggiran (core-periphery) dari Prebish/Friedmann; konsep kutub-kutub
pertumbuahn dan pusat-pusat pertumbuhan dari Perroux/Boudeville, hanyalah
salah satu dari beberapa arus pemikiran difusionis yang ditempuh oleh para ahli
geografi pembanguan. Namun jika ditinjau kembali, barangkali itu yang penting.
Secara ringkas argumen yang didkemukakan menyatakan bahwa, pertumbuhan
dan pembangunan ekonomi di wilayah-wilayah yang kurang berkembang pada
akhirnya akan tercapai melalui transmisi dorongan-dorongan pertumbuhan dari
kawasan-kawasan yang lebih maju. Dengan demikian meningkatnya interaksi dan
integrasi antara daerah-daerah yang kurang maju dan lebih maju pada tingkat
tertentu, akan menjurus kepada awal perkembangan di daerah-daerah yang disebut
pertama.
Oleh karena itu di kebanyakan negara-negara sedang berkembang
(termasuk Indonesia) strategi pembanunan mengandalkan pada pendekatan
Growth-Centres (pusat-pusat pertumbuhan) dan meletakkan industri sebagai
leading sector (sektor unggul). Dengan memusatkan industri di pusat

23

pertumbuhan, maka diharapkan strategi itu mampu memecahkan maslah


keterbelakanngan dan kemiskinan dan pedesaan. Secara teoritis diyakini bahwa
daerah pinggiran (periphery) akan berkembang melalui efek menyebar (spread
effect) atau efek tetesan ke bawah (trickle down-effect) dari pusat-pusat
pertumbuhan.

3.2 Saran-saran
Saran

dari

penulis,

sebaiknya

kita

sama-sama

memperhatikan

pembangunan yang dilakukan untuk pembangunan daerah, dan sebaiknya


pembangunan yang dilakukan untuk mengembangkan pertumbuhan daerah harus
sesuai dengan konsep pembangunan daerah dan yang paling penting dalam
melakukan pembangunan daerah ialah memperhatikan faktor-faktor yang tidak
nampak dalam masyarakat, seperti halnya nilai-nilai dan norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat, juga melakukan evaluasi di setiap kegiatan
pembangunan yang dilakukan, biar mampu dan benar-benar terjadinya
pembangunan

untuk

daerah

seperti

yang

diharapkan,

karena

tanpa

mempertimbangkan hal tersebut pembangunan akan sia-sia dan tidak bermanfaat


bahkan akan menimbulkan konflik dengan masyarakat.

24