Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

ABSES PERIANAL DENGAN DIABETES MELITUS

Disusun Oleh :
dr. Nur Agami

Pembimbing :
Dr. Esther MeylinaSipahutar
NIP. 198505142011012009

PEMERINTAH KABUPATEN LEBONG


DINAS KESEHATAN
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
Laporan Kasus

1.1

Latar Belakang
Abses Perianal merupakan akumulasi nanah di sekitar anus dan rektum.

Tingkat keparahan dan kedalaman suatu abses beragam, dan rongga abses sering
dikaitkan dengan pembentukan fistula. Kebanyakan abses dan fistula anorektal
merupakan manifestasi akut dan kronik dari kondisi patologis yang sama, suatu
infeksi yang berasal dari kelenjar kanalis anus. Diagnosis maupun penatalaksanaan
dari abses anorektal tidak hanya memerlukan pengertian dari etiologi dan
patofisiologi tetapi dari anatomi regional dan rute penyebaran infeksi. Tindakan
bedah yang dilakukan atas diagnosis yang tidak tepat dan kesalapahaman tentang
hubungan dari proses infeksi dan mekanisme sfingter ani dapat mengakibatkan
pemberantasan infeksi yang tidak sempurna dan/atau gangguan permanen fungsi
anorektal.
Puncak insidensi dari abses anorektal adalah pada dekade tiga dan keempat.
Pria lebih sering terkena daripada wanita, dengan rasio 2:1 sampai dengan 3:1.
Sekitar 30% dari pasien dengan abses anorektal mempunyai riwayat abses serupa
yang sembuh dengan spontan atau memerlukan intervensi bedah. Insidensi yang
lebih tunggu dari pembentukan abses tampaknya berkait dengan musim semi dan
musim panas.
Walaupun demografi menunjukan perbedaan yang jelas dalam terjadinya
abses anorektal yang berhubungan dengan usia dan jenis kelamin, tidak ada pola
yang jelas diberbagai wilayah atau negara di dunia. Walaupun diperkirakan ada
hubungan langsung dari pembentukan abses anorektal dengan kebiasaan buang air
besar, diare, dan higiene pribadi yang buruk namun hingga sekarang belum ada bukti
kongkrit. Terjadinya abses anorektal pada bayi juga cukup umum. Mekanismenya
kurang dipahami tetapi tidak berkaitan dengan konstipasi. Untungnya, kondisi ini
cukup jinak pada bayi, jarang memerlukan intervensi operasi pada pasien ini selain
drainase sederhana.

BAB II
ILUSTRASI KASUS

Laporan Kasus

2.1 Identitas Pasien


Nama
Jenis Kelamin
Usia
Alamat
Agama
Tanggal datang
Jenis Pembiayaan

: Tn. F
: Laki-Laki
: 65 Tahun
: Kampung Gandum
: Islam
: 1 Desember 2015
: Jamkesmas

2.2 Anamnesis
Keluhan Utama
Benjolan pecah di sekitar lubang pantat.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Os datang ke IGD Puskesmas Muara Aman mengeluh terdapat benjolan
pecah di sekitar lubang pantat sudah 7 hari yang lalu. Os mengatakan bejolan
awalnya berukuran seperti kelereng sekarang membesar sebesar telur ayam
kampung. Sekarang benjolan sudah pecah, benjolan terasa gatal, nyeri, panas dan
kemerahan. Os mengaku benjolan sering mengeluarkan nanah. Os merasa tidak
nyaman saat duduk dan ketika BAB terasa sakit, BAB tidak ada darah. BAK lancar.
3 hari sebelumnya Os demam, tetapi sekarang tidak ada demam. Os juga mengatakan
badannya lemas dan tidak napsu makan sejak 7 hari ini.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan keluhan yang dialaminya sekarang pernah terjadi sekitar
2 bulan yang lalu, tetapi tidak parah seperti sekarang. Os mempunyai riwayat
penyakit DM dan selama ini kadar gula pasien sekitar 200 dan os juga mempunyai
riwayat hipertensi dengan tensi biasanya 140/90.
Riwayat Penyakit Keluarga
Dikeluarga tidak ada yang mengalami seperti ini.
Riwayat Alergi:
Tidak ada keluhan / riwayat alergi.
Riwayat Pengobatan
Pasien biasanya mengkonsumsi obat:
Metformin 2x1
Captopril 25mg 1x1
Laporan Kasus

2.3 Pemeriksaan Fisik (di periksa 1 Desember 2015)


Status Generalisasi
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang, kesadaraan compos mentis.


GCS E4M6V5

TD

:170/100 mmhg

Frekuensi Nadi

: 80 x/menit, reguler, isi cukup

Frekuensi Nafas

: 20x/menit

Suhu

: 36,7 oC

Berat Badan

: 87, kesan gizi lebih

Kepala

: Deformitas (-), massa (-), normosefali

Wajah

: Kesan paresis saraf kranialis (-)

Rambut

: Lurus, hitam, penyebaran merata, tidak mudah dicabut

Kulit

: Ikterik (-), kering (-), infeksi kulit (-)

Mata

:Sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), pupil bulat


isokor 3mm/3mm, nistagmus (-/-)

Telinga

:Liang telinga lapang, serumen +/+minimal, sekret -/-,


membran tymphani hiperemis -/-, retraksi -/-

Hidung

: Deformitas (-), mukosa hiperemis -/-, deviasi septum (-),


sekret -/-

Tenggorokan

: uvula di tengah, faring hiperemis (-), tonsil T1-T1

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Paru

:
Inspeksi

: Simetris pada inspirasi dan ekspirasi, retraksi (-)

Palpasi

: Ekspansi Simetris, fremitus kanan=kiri

Perkusi

: Sonor/sonor

Auskultasi : Vesikular +/+ , Rhonki -/- , Wheezing -/Jantung

:
Inspeksi

: Pulsasi ictus cordis terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS IV, linea midclavicularis sinistra

Perkusi

: Batas jantung Atas : ICR II sinistra


Kanan : Linea parasternalis dekstra
Kiri : 1 cm lateral linea midclavicularis sinistra

Auskultasi : S1 dan S2 regular, murmur (-), gallop (-)


Abdomen
Laporan Kasus

:
4

Inspeksi

: Datar

Auskultasi : Bising usus (+) Normal


Palpasi

: Supel, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: Timpani di seluruh lapangan abdomen

Ekstremitas

: Akral hangat, edema -/-

Status Lokalis anus

Inspeksi
Tampak eritem (+), udem (+), pus (+)
Palpasi
Nyeri tekan (+), teraba hangat (+)
Ukuran sekitar 7 cm
2.4 Pemeriksaan Penunjang
GDS : 266
2.5 Diagnosa Banding
1. Abses perianal
2. Furunkel
2.5 Diagnosa Kerja
Abses perianal dengan Diabetes Melitus
2.6 Penatalaksanaan
Non medikamentosa:
-

Insisi dan drainase abses

Ganti perban 2x1

Menjaga kebersihan bagian perianal-anus saat selesai BAB

Menjaga pola makan

Medikamentosa
-

IVFD RL 20 tpm

Laporan Kasus

Inj. Ranitidin 2x1 amp

Inj. Keterolac 2x1 amp

Omeprazole 2x1

Sukralfat 3x1 cth

Metformin 2x1

Captopril 25 mg 2x1

Metronidazole 500 mg 3x1

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Abses Perianal
3.1.2

Definisi
Abses perianal adalah infeksi pada ruang pararektal. Abses ini kebanyakan

akan mengakibatkan fistula. Abses perianal merupakan infeksi pada jaringan lunak
sekitar saluran anal, dengan pembentukan abses rongga diskrit. Tingkat keparahan
dan kedalaman dari abses cukup variabel, dan rongga abses sering dikaitkan dengan
pembentukan saluran fistulous.
Abses perianal mudah diraba pada batas anus dengan kulit

perianal,

sebaliknya abses anorektal yang terletak lebih dalam dapat diraba melewati dinding
Laporan Kasus

rectum atau lebih lateral yaitu di bokong. Abses perianal biasanya tidak disertai
demam, lekositosis atau sepsis pada pasien dengan imunitas yang baik. Dengan
penyebaran dan pembesaran abses yang mengakibatkan abses mendekati permukaan
kulit, nyeri yang dirasakan memburuk. Nyeri memburuk dengan mengedan, batuk
atau bersin, terutama pada abses intersfingter. Dengan perjalanan abses, nyeri dapat
mengganggu aktivitas seperti berjalan atau duduk.
2.2

Etiologi
Abses perianal merupakan gangguan sekitar anus dan rectum,

dimana

sebagian besar timbul dari obstruksi kripta anal. Infeksi dan stasis dari kelenjar dan
sekresi kelenjar menghasilkan supurasi dan pembentukan abses dalam kelenjar anal.
Biasanya, abses terbentuk awal awal dalam ruang intersfingterik dan kemudian ke
ruang potensial yang berdekatan. Umumnya bakteri seperti stafilokokus dan
Escherichia coli adalah penyebab paling umum. Infeksi jamur kadang-kadang
menyebabkan abses. Masuknya bakteri ke daerah sekitar anus dan rektum.

2.3

Patofisiologis
Abses perianal terbentuk akibat berkumpulnya nanah di jaringan bawah kulit

daerah sekitar anus. Nanah terbentuk akibat infeksi kuman/bakteri karena kelenjar di
daerah tersebut tersumbat. Bakteri yang biasanya menjadi penyebab adalah
Escherichia coli dan spesies Enterococcus. Kuman/bakteri yang berkembang biak di
kelenjar yang tersumbat lama kelamaan akan memakan jaringan sehat di sekitarnya
sehingga membentuk nanah. Nanah yang terbentuk makin lama makin banyak
sehingga akan terasa bengkak dan nyeri, inilah yang disebut abses perianal. Pada
Laporan Kasus

beberapa orang dengan penurunan daya tubuh misalnya penderita diabetes militus,
HIV/AIDS, dan penggunaan steroid (obat anti radang) dalam jangka waktu lama,
ataupun dalam kemoterapi akibat kanker biasanya abses akan lebih mudah terjadi.
Kebanyakan abses perianal bersifat sekunder terhadap proses supuratif yang
dimulai pada kelenjar anal. Teori ini menunjukan bahwa obstruksi dari saluran
kelenjar tersebut oleh tinja, corpus alienum atau trauma akan menghasilkan stasis
dan infeksi sekunder yang terletak di ruang intersfingterik. Dari sini proses infeksi
dapat menyebar secara distal sepanjang otot longitudinal dan kemudian muncul di
subkutis sebagai abses perianal, atau dapat menyebar secara lateral melewati otot
longitudinal dan sfingter eksternal sehingga menjadi abses ischiorektal. Meskipun
kebanyakan abses yang berasal dari kelenjar anal adalah perianal dan ischiorektal
,tetapi ruang lain dapat terinfeksi.
Pergerakan infeksi ke atas dapat menyebabkan abses intersfingterik tinggi
dan kemudian dapat menerobos ke otot longitudinal lalu ruang supralevator sehingga
menyebabkan sebuah abses supralevator. Setelah abses terdrainase, secara spontan
maupun secara bedah, komplikasi abnormal antara lubang anus dan kulit perianal
disebut fistula ani.
Ruang
Ruang Ischiorektal
Ruang

2.4

Gambaran Klinik
Awalnya, pasien bisa merasakan nyeri yang tumpul, berdenyut yang

memburuk sesaat sebelum defekasi yang membaik setelah defekasi tetapi pasien
tetap tidak merasa nyaman. Rasa nyeri diperburuk oleh pergerakan dan pada saat
menduduk. Abses dapat terjadi pada berbagai ruang di dalam dan sekitar rektum.
Seringkali mengandung sejumlah pus berbau menyengat dan nyeri. Apabila abses
terletak superficial, maka akan tampak bengkak, kemerahan, dan nyeri tekan. Nyeri
memburuk dengan mengedan, batuk atau bersin, terutama pada abses intersfingter.

Laporan Kasus

Dengan perjalanan abses, nyeri dapat mengganggu aktivitas seperti berjalan atau
duduk.
Abses yang terletak lebih dalam memgakibatkan gejala toksik dan bahkan
nyeri abdomen bawah, serta deman. Sebagian besar abses rectal akan mengakibatkan
fistula. Abses di bawah kulit bisa membengkak, merah, lembut dan sangat nyeri.
Abses yang terletak lebih tinggi di rektum, bisa saja tidak menyebabkan gejala,
namun bisa menyebabkan demam dan nyeri di perut bagian bawah.
2.5

Diagnosa dan Pemerikasaan Penunjang

2.5.1

Diagnosa
Pemeriksaan colok dubur dibawah anestesi dapat membantu dalam kasus-

kasus tertentu, karena ketidaknyamanan pasien yang signifikan dapat menghalangi


penilaian terhadap pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Contohnya, evaluasi
terhadap asbeb ischiorektal yang optimal dapat dilakukan dengan hanya
menggunakan pemeriksaan colok dubur. Dengan adanya obat anestesi, fistula dapat
disuntikkan larutan peroksida untuk memfasilitasi visualisasi pembukaan fistula
internal. Bukti menunjukkan bahwa penggunaan visualisasi endoskopik (transrektal
dan transanal) adalah cara terbaik untuk mengevaluasi kasus yang kompleks abses
perianal dan fistula.
Dengan teknik endoskopik, tingkat dan konfigurasi dari abses dan fistula
dapat jelas divisualisasikan. Visualisasi endoskopi telah dilaporkan sama efektifnya
seperti fistulografi. Jika ditangani dengan dokter yang berpengalaman, evaluasi
secara endoskopik adalah prosedur diagnostik pilihan pada pasien dengan kelainan
perirektal karena rendahnya risiko infeksi serta kenyamanan pasien tidak terganggu.
Evaluasi secara endoskopik setelah pembedahan efektif untuk memeriksa respo
pasien terhadap terapi.
2.5.2

Pemeriksaan Laboratorium
Belum ada pemeriksaan laboratorium khusus yang dapat dilakukan untuk

mengevaluasi pasien dengan abses perianal atau anorektal, kecuali pada pasien
tertentu, seperti individu dengan diabetes dan pasien dengan imunitas tubuh yang
rendah karena memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya sepsis bakteremia yang
Laporan Kasus

dapat disebabkan dari abses anorektal. Dalam kasus tersebut, evaluasi laboratorium
lengkap adalah penting.
2.5

Tatalaksanaan
Pada kebanyakan pasien dengan abses anorektal atau perianal, terapi

medikamentosa dengan antibiotik biasanya tidak diperlukan. Namun, pada pasien


dengan peradangan sistemik, diabetes, atau imunitas rendah, antibiotik wajib
diberikan.
Abses perirektal harus diobati dengan drainase sesegera mungkin setelah
diagnosis ditegakkan. Jika diagnosis masih diragukan, pemeriksaan di bawah
anestesi sering merupakan cara yang paling tepat baik untuk mengkonfirmasi
diagnosis serta mengobati. Pengobatan yang tertunda atau tidak memadai terkadang
dapat menyebabkan perluasan abses dan dapat mengancam nyawa apabila terjadi
nekrosis jaringan yang besar, atau bahkan septikemia. Antibiotik hanya diindikasikan
jika terjadi selulitis luas atau apabila pasien immunocompromised, menderita
diabetes mellitus, atau memiliki penyakit katub jantung. Namun pemberian
antibiotik secara tunggal bukan merupakan pengobatan yang efektif untuk mengobati
abses perianal atau perirektal.
Kebanyakan abses perianal dapat didrainase di bawah anestesi lokal di
kantor, klinik, atau unit gawat darurat. Pada kasus abses yang besar maupun pada
lokasinya yang sulit mungkin memerlukan drainase di dalam ruang operasi. Insisi
dilakukan sampai ke bagian subkutan pada bagian yang paling menonjol dari abses.
Dog ear" yang timbul setelah insisi dipotong untuk mencegah penutupan dini. Luka
dibiarkan terbuka dan sitz bath dapat dimulai pada hari berikutnya.

Laporan Kasus

10

Teknik Insisi & Drainase

.
2.6

Komplikasi
Jika

tidak

diobati,

fistula

anus

hampir

pasti

akan

membentuk,

menghubungkan rektum untuk kulit. Hal ini memerlukan operasi lebih intensif.
Selanjutnya, setiap abses diobati dapat (dan kemungkinan besar akan) terus
berkembang, akhirnya menjadi infeksi sistemik yang serius. Hal yang paling
ditakutkan pada abses perianal adalah terjadinya fistel perianal. Fistel perianal adalah
saluran abnormal antara lubang anus/rektum dengan lubang bekas abses yang
bermuara pada kulit sekitar anus. Muara pada kulit sekitar anus tampak sebagai luka
bekas bisul yang tidak pernah menutup/sembuh dan tidak sakit.

Diabetes Mellitus
Definisi
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang
ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada :
1. kerja insulin (resistensi insulin) di hati (peningkatan produksi glukosa
hepatik) dan di jaringan perifer (otot dan lemak)
2. sekresi insulin oleh sel beta pankreas
3. atau keduanya
Etiologi

Laporan Kasus

11

Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau Diabetes MelitusTergantung


Insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel pulau Langerhans akibat proses
autoimun. Sedangkan Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau
Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin (DMTTI) disebabkan kegagalan relatif
sel dan resistensi insulin (Arif Mansjoer, 2001).
Diagnosis
Cara yang umum dipakai untuk mendiagnosis penyakit diabetes didasarkan pada
berbagai tes kimiawi terhadap urin dan darah :
1) Glukosa urin.
Pada umumnya jumlah glukosa yang dikeluarkan dalam urin orang normal
sukar dihitung, sedangkan pada kasus diabetes, glukosa yang dilepaskan
jumlahnya dapat sedikit sampai banyak sekali, sesuai dengan berat
penyakitnya dan asupan karbohidratnya.
2) Kadar glukosa darah puasa.
Kadar glukosa darah puasa sewaktu pagi hari, normalnya adalah 80 sampai
90 mg/dl, dan 110 mg/dl dipertimbangkan sebagai batas atas kadar normal.
Kadar gula darah puasa di atas nilai ini, seringkali menunjukkan adanya
penyakit diabetes mellitus, atau yang kurang umum, mungkin diabetes
hipofisis atau diabetes adrenal.
3) Uji toleransi glukosa.
Bila orang normal yang puasa memakan 1 gram glukosa per kilogram berat
badan, maka kadar glukosa darahnya akan meningkat dari kadar kira kira
90 mg/dl menjadi 120 sampai 140 mg/dl dan dalam waktu kira kira dua jam
kadar ini akan menurun lagi kembali ke nilai normalnya.
Pada penderita diabetes, konsentrasi glukosa darah puasa hampir selalu diatas
110 mg/dl dan sering diatas 140 mg/dl.
4) Pernapasan aseton.
Sejumlah kecil asam aseto asetat, yang sangat meningkat pada penderita
diabetes yang berat, dapat diubah menjadi aseton.Aseton bersifat mudah
menguap dan dikeluarkan dalam udara ekspirasi. Juga, asam keto dapat
ditemukan dalam urin melalui cara kimia, dan jumlah asam keto ini dipakai
untuk menentukan tingkat penyakit diabetes.

Laporan Kasus

12

Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis
DM (mg/dl) :
Bukan

Belum pasti

DM

DM

DM

< 110
< 90

110 199
90 - 199

200
200

< 110
< 90

110 125
90 - 109

126
110

Kadar glukosa darah


sewaktu
plasma vena
darah kapiler
Kadar glukosa darah puasa
plasma vena
darah kapiler

(
Dari anamnesis didapatkan :
1. Keluhan khas DM : poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan
yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
2. Keluhan tidak khas DM : lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi
ereksi pada pria, pruritus vulva pada wanita.
Klasifikasi
Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI ( Perkumpulan Endokrinologi
Indonesia ) adalah yang sesuai dengan anjuran klasifikasi DM menurut American
Diabetes Association (ADA), sbg berikut :
DM TIPE 2 :
Defisiensi

insulin

DM TIPE LAIN :

1. Defek genetik fungsi sel beta :


Maturity onset diabetes of the young

Defisiensi

DIABETES
MELITUS
PERKENI
relatif : KLASIFIKASIMutasi
mitokondria
DNA 3243 dan
lain-lain
1998
1, defek sekresi
2. Penyakit eksokrin pankreas :Pankreatitis

insulin absolut

insulin lebih

Pankreatektomy

akibat destuksi

dominan daripada

3.Endokrinopati : akromegali, cushing,

DM TIPE 1:

sel beta,

resistensi insulin.
karena:Laporan Kasus
2. resistensi insulin
1.autoimun
lebih dominan

hipertiroidisme

2. idiopatik

daripada defek

6.Imunologi: antibodi anti insulin

sekresi insulin.

7. Sindrom genetik lain: sdr. Down, Klinefelter

4.akibat obat : glukokortikoid, hipertiroidisme


5.Akibat virus: CMV, Rubella

DM
GESTASIONAL

13

Komplikasi
Komplikasi diabetes terjadi akibat gangguan metabolik akut (hipoglikemia atau
hiperglikemia) atau pada tahap lanjut, akibat kerusakan mikrovaskular dan
makrovaskular, dimana risikonya tergantung pada kontrol terhadap kadar glukosa
dan faktor risiko vaskular konvensional.
Komplikasi Mikrovaskular pada Diabetes
Penyakit pembuluh darah kecil merupakan tanda utama diabetes mellitus dan
membutuhkan waktu 10 tahun atau lebih untuk dapat terjadi.

a. Penyakit mata (retinopati)


Satu dari antara tiga orang dengan diabetes mengalami penyakit mata dan 5%
mengalami kebutaan pada umur 30 tahun.Retinopati terjadi akibat penebalan
membran basal kapiler, yang menyebabkan pembuluh darah mudah bocor
(perdarahan dan eksudat padat), pembuluh darah tertutup (iskemia retina dan
pembuluh darah baru), dan edema makula.Katarak pada pasien diabetes
mellitus terjadinya lebih dini dibanding pada populasi normal.Katarak terjadi
10 15 tahun lebih cepat pada penderita diabetes.
b. Nefropati diabetic
Keadaan ini terjadi 15 25 tahun setelah diagnosis pada 35 45% pasien
dengan diabetes tipe 1 dan kurang dari 20% pasien dengan diabetes tipe 2.
Pasien dengan nefropati diabetik dapat menunjukkan gambaran gagal ginjal
Laporan Kasus

14

menahun seperti lemas, mual, pucat, sampai keluhan sesak napas akibat
penimbunan cairan.Nefropati diabetik melibatkan dua pola patologik yang
berbeda yang dapat berada bersama sama atau tidak : difus dan noduler.
Difus yang lebih sering, terdiri atas pelebaran membrana basalis glomerulus
bersama penebalan mesangial menyeluruh.Pada bentuk noduler, penumpukan
banyak bahan PAS-positif diendapkan pada perifer berkas glomerulus,
disebut lesi Kimmelstiel-Wilson.
c. Neuropati diabetic.
Neuropati diabetik dapat mempengaruhi setiap bagian sistem saraf, kecuali
otak.Gambaran yang paling lazim adalah polineuropati perifer.Biasanya
bilateral, gejala meliputi mati rasa, kesemutan, hiperestesi berat, dan
nyeri.Mononeuropati, meskipun lebih jarang disbanding polineuropati juga
dapat terjadi. Khas, terdapat wrist drop, foot drop, atau paralisis nervus
kranialis ke-3, ke-4, atau ke-6. Mononeuropati khas ditandai oleh
reversibilitas

spontan

yang

tinggi,

biasanya

selama

beberapa

minggu.Radikulopati adalah sindroma sensori dengan nyeri timbul sepanjang


distribusi satu atau lebih nervus spinalis, biasanya pada dinding dada dan
perut. Neuropati autonomik dapat muncul dengan berbagai cara. Saluran
cerna

merupakan

target

utama,

dan

mungkin

terdapat

disfungsi

esofagusdengan kesulitan menelan, penundaan pengosongan lambung,


konstipasi, atau diare.
Komplikasi Makrovaskular pada Diabetes
Masalah khusus pada pasien diabetik adalah berkembangnya ulkus pada kaki dan
tungkai bawah.Ulkus terutama terjadi karena distribusi tekanan abnormal sekunder
karena neuropati diabetik.Penyakit vaskular dengan penurunan suplai darah berperan
dalam pembentukan lesi ini, dan infeksi umum terjadi, sering oleh banyak
organisme.
Di Amerika Serikat sebagai suatu negara yang maju, ternyata kaki diabetik masih
cukup banyak ditemukan yaitu sekitar 25,0% dari seluruh penderita yang dirawat di
rumah sakit. Penelitian klinik dari beberapa sentra di Indonesia melaporkan
prevalensi kaki diabetik berkisar antara 17,3% sampai 32,9% dari seluruh penderita
diabetes melitus yang dirawat di rumah sakit.
Laporan Kasus

15

Pasien diabetes mellitus dengan kelainan makrovaskular dapat memberikan


gambaran kelainan pada tungkai bawah, baik berupa ulkus maupun gangren diabetik.
Pada pasien tersebut bila dilakukan perabaan arteri mungkin akan teraba denyut yang
berkurang sampai menghilang. Perabaan arteri perlu dilakukan pada setiap pasien
diabetes mellitus, paling sedikit pada arteri dorsalis pedis, tibialis posterior, dan
popliteal.
Kelainan kaki pada diabetes dapat disebabkan oleh infeksi/ septik, neuropati,
iskemik atau kombinasi antara ketiganya. Membedakan ke-empat penyebab tersebut
perlu dilakukan untuk menyesuaikan dengan langkah pengobatan yang akan diambil.
Iskemi dan neuropati merupakan faktor utama yang memegang peranan terjadinya
ulkus pada kaki penderita diabetes. Setiap terjadinya ulkus pada kaki akan mudah
diikuti oleh infeksi, sehingga dapatlah dikatakan bahwa sangat jarang kaki diabetik
tanpa disertai infeksi. Biakan kuman dari nanah kaki diabetik sering memperlihatkan
pertumbuhan kuman yang lebih dari satu, hal mana lebih mempersulit pemilihan
jenis antibiotik yang sesuai dengan kuman yang tumbuh.
Faktor risiko ulkus diabetika adalah lama DM 10 tahun, kadar kolesterol 200
mg/dl, kadar HDL 45 mg/dl, ketidakpatuhan diet DM, kurangnya latihan fisik,
perawatan kaki tidak teratur dan penggunaan alas kaki tidak tepat dengan
memberikan sumbangan terhadap ulkus diabetika sebesar 99,9 %.
PENATALAKSANAAN
Pengobatan kelainan kaki diabetik terdiri dari pengendalian diabetes dan penanganan
terhadap kelainan kaki.
A. Pengendalian Diabetes
Pengendalian (pengontrolan) penyakit secara umum mencakup pengendalian kadar
gula darah dengan diet atau pemberian obat yang teratur dari dokter, status gizi,
tekanan darah, kadar kolesterol, dan pola hidup sehat.
Mengelola diabetes melitus langkah yang harus dilakukan adalah pengelolaan non
farmakologis, berupa perencanaan makanan dan kegiatan jasmani.Baru kemudian
kalau dengan langkah-langkah tersebut sasaran pengendalian diabetes yang
Laporan Kasus

16

ditentukan belum tercapai, dilanjutkan dengan langkah berikutnya, yaitu dengan


penggunaan obat atau pengelolaan farmakologis.
Perencanaan makanan pada penderita diabetes melitus masih tetap merupakan
pengobatan utama pada penatalaksanaan DM.
Sarana pengendalian secara farmakologis pada diabetes melitus dapat berupa 3:
a. Pemberian Insulin.
b. Pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO).
- Golongan Sulfonylurea.
- Golongan Biguanid.
- Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase.
- Golongan Insulin Sensitizing.

BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan ilustasi kasus, dari anamnesis didapatkan pasien mengeluh


terdapat benjolan di sekitar lubang pantat sudah 7 hari yang lalu. Benjolan terasa
gatal, nyeri, panas dan kemerahan. Os mengaku benjolan sering mengeluarkan
nanah. Os merasa tidak nyaman saat duduk dan ketika BAB terasa sakit, BAB tidak
ada darah. BAK lancar. 3 hari sebelumnya Os demam, tetapi sekarang tidak ada
demam. Os juga mengatakan badannya lemas dan tidak napsu makan sejak 7 hari ini.
Pasien mengatakan keluhan yang dialaminya sekarang pernah terjadi sekitar 2 bulan
yang lalu, tetapi tidak parah seperti sekarang. Riwayat penyakit DM dan hipertensi
diakui pasien sejak 3 tahun yang lalu. Pasien biasanya mengkonsumsi metformin
2x1, captopril 25mg 1x1. Os mengatakan 2 minggu ini tidak mengkonsumsi obat
DM nya.
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, pasien
dalam kondisi kompos mentis, terdapat riwayat demam selama infeksi berlangsung
Laporan Kasus

17

(+). Status gizi pada pasien termasuk gizi berlebih. Pada pemeriksaan status lokalis
pada daerah perianal, didapatkan pus,tanda-tanda peradangan, dan bengkak. Pada
pemeriksaan penunjang terhadap Gula darah pasien didapatkan hasil 266 mg/dl.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan status lokalis
bengkak yang dialami pasien disebabkan infeksi bakteri. Bakteri yang biasanya
menjadi penyebab adalah Escherichia coli dan spesies Enterococcus. Kuman atau
bakteri yang berkembang biak di kelenjar yang tersumbat lama kelamaan akan
memakan jaringan sehat di sekitarnya sehingga membentuk nanah, sehingga
mengakibatkan berkumpulnya nanah di jaringan bawah kulit daerah sekitar anus.
Nanah terbentuk akibat infeksi kuman atau bakteri karena kelenjar di daerah tersebut
tersumbat. Nanah yang terbentuk makin lama makin banyak sehingga akan terasa
bengkak dan nyeri, inilah yang mengakibatkan abses perianal pada pasien. Pada
beberapa orang dengan penurunan daya tubuh misalnya seperti pasien ini yang
menderita diabetes militus, biasanya abses akan lebih mudah terjadi.
Penatalaksanaan pertama pada pasien ini meliputi penatalaksanaan non
medikamentosa dan medikamentosa. Pada penatalaksanaan non medikamentosa
dilakukannya inisi dan drainase pada daerah abses dan dilakukan pengantian balut
dengan betadin 2x1 sehari. Serta dilakukan edukasi untuk menjaga kebersihan
bagian perianal-anus saat selesai BAB.
Penatalaksanaan medikamentosa dengan pemasangan infus beserta cairan
RL,injeksi Ranitidin 2x1 amp, inj.keterolac 2x1 amp. Omeparazole 2x1 tab, sukralfat
3x1 cth.Metformin 2x1, Captopril 2 1x1. Serta dengan pemberian antibiotik yaitu
metronidazol 3x1, hal ini diindikasikan kerena infeksi yang dialami telah membuat
respon sistemik pada pasien, serta mengingat pasien memiliki imunitas yang rendah
dan menderita diabetes melitus.

Laporan Kasus

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Malik AI, Nelson RL, Tou S. Incision and drainage of perianal abscess with
or without treatment of anal fistula (review). The Cochrane Library 2010:7.
Diunduh dari: http://www.thecochranelibrary.com
2. Sjamsuhidajat R, de Jong W, editors. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta:
EGC, 2004.
3. Brunicardi, F. Charles, dkk. Fiatula in ano at Schwartzs Principles of Surgery
Eight Edition. Mc Graw Hill: United State of America. 2005.
4. Gustaviani R. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam : buku ajar
ilmu penyakit dalam. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Jilid III.
Edisi IV. Jakarta : balai penerbit FKUI, 2006.
5.

Waspadji S. Komplikasi kronik diabetes : mekanisme terjadinya, diagnosis


dan strategi pengelolaannya. Dalam : buku ajar ilmu penyakit dalam. Sudoyo
AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Jilid III. Edisi IV. Jakarta : balai
penerbit FKUI, 2006; 1906.

6.

PERKENI. Konsensus Pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2


di Indonesia. 2006. Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.
Jakarta. 2006

7. Perianal Abscess, oleh Andre Hebra, MD; Chief editor: John Geibel, MD,
Medscape

Reference.

Dapat

ditinjau

di:

http://emedicine.medscape.com/article/191975-overview

Laporan Kasus

19

Laporan Kasus

20