Anda di halaman 1dari 24

1

STUDI IDENTIFIKASI PALEOVULKANISME


BERDASARKAN PENDEKATAN STRATIGRAFI DAN
GEOMORFOLOGI DAERAH TERBAH DAN SEKITARNYA
KECAMATAN GEDANGSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL
PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
PROPOSAL SEMINAR

Diajukan untuk memenuhi persyaratan akademik tingkat sarjana pada


Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral
Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Diusulkan Oleh:
RONAL JOSES
121.10.1018

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND YOGYAKARTA

2015

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :


Nama

: RONAL JOSES

NIM

: 121.10.1018

Tempat,
Tanggal Lahir

: Yogyakarta, 2 Agustus 1993

Jurusan

: Teknik Geologi

Fakultas

: Teknologi Mineral

Dengan ini menyatakan bahwa proposal yang saya susun dengan judul :
STUDI

IDENTIFIKASI

PALEOVULKANISME

BERDASARKAN

PENDEKATAN STRATIGRAFI DAN GEOMORFOLOGI DAERAH TERBAH


DAN

SEKITARNYA

GUNUNGKIDUL

KECAMATAN

PROVINSI

DAERAH

GEDANGSARI
ISTIMEWA

KABUPATEN
YOGYAKARTA

merupakan karya asli saya sendiri.


Apabila di kemudian hari ditemukan karya orang lain yang ternyata lebih
dulu masa pengerjaannya dan memiliki kesamaan yang sangat identik dengan
karya saya, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
Demikian surat ini saya buat dengan penuh kesdaran dan tanggung jawab.
Yogyakarta, 21 Oktober 2015
Yang Membuat Pernyataan

RONAL JOSES

PRAKATA
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan kekuatan dan kesehatan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan proposal ini dengan baik dan lancar, yang berjudul
STUDI IDENTIFIKASI PALEOVULKANISME BERDASARKAN PENDEKATAN
STRATIGRAFI DAN GEOMORFOLOGI DAERAH TERBAH DAN SEKITARNYA
KECAMATAN

GEDANGSARI

KABUPATEN

GUNUNGKIDUL PROVINSI

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.


Adapun metode penulisan proposal seminar ini didasarkan atas kajian
pustaka dan studi lapangan yang nantinya diharapkan dapat dilanjutkan dengan
kegiatan pengambilan data lapangan dan pembuatan makalah seminar. Isi dari
proposal seminar ini adalah gambaran perencanaan dan tahapan tahapan kerja
dalam pembuatan makalah seminar nantinya.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan kepada pihakpihak yang telah membantu terlaksananya penulisan proposal seminar ini,
terutama

kepada

rekan-rekan

seperjuangan

beserta

Ibu

Dr. Sri

Mulyaningsih, ST., M.T, selaku dosen pembimbing yang telah


memberikan banyak masukan dan saran selama penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih jauh dari
sempurna, maka dengan segala kekurangan yang ada, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang positif, terutama dari dosen pembimbing
agar dapat digunakan sebagai pengalaman berharga di masa yang akan datang
guna perbaikan dalam penyusunan proposal ini dan penyusunan makalah seminar
nantinya.
Semoga proposal ini dapat diterima dan bermanfaat untuk memberikan
kontribusi kepada mahasiswa Jurusan Teknik Geologi ,Fakultas Teknologi
Mineral, Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Akhir kata penulis
mengucapkan terima kasih.
Yogyakarta,21 Oktober 2015

DAFTAR ISI

PENULIS

HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ i
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN......................................................... ii
PRAKATA

.........................................................................................................iii

DAFTAR ISI ........................................................................................................iv


DAFTAR GAMBAR ............................................................................................v
BAB. I

PENDAHULUAN...........................................................................1

I.1
I.2

Latar Belakang................................................................................ 1
Maksud dan Tujuan......................................................................... 2

I.3

Manfaat Seminar............................................................................. 3

1.3

Batasan Masalah.............................................................................. 3

BAB. II

TINJAUAN PUSTAKA.................................................................4

II.1
II.2

Dasar Teori...................................................................................... 4
Peneliti Terdahulu............................................................................ 8

II.3

Sumber Pustaka............................................................................. 10

BAB. III

METODE PENELITIAN............................................................11

BAB. IV

RENCANA PUSTAKA TERPAKAI...........................................13

LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1

Lingkup pembelajaran ilmu gunung api dan ilmu-ilmu


turunannya
yang
lain
(Bronto,2006)
...........................................................................................
7

Gambar 2

Pembagian fasies gunung api menurut Bogie dan


Mackenzie,
1998
............................................................................................
7

Gambar 3

Rekonstruksi gunung api dari geomorfologi dan batuan


penyusunnya
(Mulyaningsih,2013)
............................................................................................
8

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Gunung api diketahui dengan baik dan tersebar sangat luas di hampir 30%
permukaan bumi, yaitu pada lingkungan cincin api (ring of fire). Daerah
pengunungan selatan sendiri merupakan daerah yang begitu erat kaitannya dengan

aktivitas gunung api, khususnya gunung api purba. Hal ini dapat terlihat dari
batuan-batuan gunung api berumur Tersier yang tersebar cukup luas didaerah
pegunungan selatan. Sesuai dengan konsep geologi yang mengatakan bahwa The
Present is the key to the past yakni yang berarti kejadian dimasa sekarang adalah
kunci untuk membuka tabir dimasa lalu. Konsep itulah yang melatarbelakangi
penulis mengambil judul seminar tersebut.
Berdasarkan konsep di atas maka penulis memilih untuk membahas
mengenai identifikasi paleovulkanisme di salah satu daerah di pegunungan selatan
provinsi DI. Yogyakarta, yang lebih ditekankan pada pembuktian bahwa dahulu
adanya aktivitas gunung api purba di daerah tersebut. Hal tersebut dilakukan
melalui pendekatan stratigrafi dan geomorfologinya.
Sisa-sisa aktivitas atau manifestasi hasil aktivitas gunung api purba yang
ada menambah rasa ingin tahu penulis untuk mendalami pembelajaran gunung
api. Persebaran batuan gunung api yang cukup luas dan geomorfologi yang unik
pada daerah tersebut juga merupakan salah satu bukti yang kuat bahwa dahulu ada
aktivitas vulkanisme purba di daerah tersebut. Dengan pendekatan stratigrafi dan
geomorfologi yang dilakukan , penulis berharap dapat memahami tentang konsepkonsep pembentukan gunung api purba.
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, harapan penulis
nantinya yaitu dapat membagikan sedikit tentang gambaran mengenai geologi
gunung api purba khususnya didaerah pegunungan selatan Yogyakarta, terutama
di daerah penelitian, sehingga para rekan-rekan mahasiswa teknik geologi

nantinya dapat memilki tambahan ilmu dan konsep mengenai ilmu gunung api.
Sehingga aplikasi dari studi ini nantinya dapat diterapkan lebih lanjut dalam usaha
dan kegiatan eksplorasi yang ada didunia kerja nantinya. Dan hal yang paling
penting adalah sayang rasanya jika seorang mahasiswa geologi tidak mengenal
tentang gunung api ,apalagi di daerah sekitarnya banyak sarana untuk
mempelajarinya.

I.2. Maksud dan Tujuan


Maksud dari penulisan seminar ini adalah untuk memenuhi persyaratan
akademik tingkat Sarjana pada Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi
Mineral, Institus Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
Tujuan dari penulisan seminar ini adalah untuk mengetahui kondisi
geologi di daerah penelitian dan di samping itu juga untuk mengetahui dan
mengidentifikasi aktivitas paleovulkanisme yang pernah ada pada daerah
penelitian dengan melakukan pendekatan pada aspek geomorfologi dan stratigrafi.
Selain itu

penulisan seminar ini juga bertujuan untuk mengaplikasikan ilmu

geologi yang didapatkan dibangku kuliah serta dapat melatih mahasiswa untuk
berfikir ilmiah serta mengembangkan kemampuan mengeluarkan gagasan ilmiah.
Dengan demikian mahasiswa dapat mengembangkan kemampuannya.
I.3. Manfaat Seminar
Adapun manfaat dari penulisan seminar ini yakni seperti yang sudah
disebutkan pada poin tujuan seminar adalah untuk melatih mahasiswa untuk

berfikir ilmiah serta dapat mengembangkan potensi dan kemampuan mahasiswa


dalam hal akademik. Selain itu juga dengan adanya seminar ini mahasiswa dapat
memiliki gambaran untuk meneruskan lebih lanjut pada tahap skripsi, sehingga
diharapkan nantinya mahasiswa yang sudah menempuh skripsi sudah dibekali
dengan materi dan konsep-konsep ilmiah yang cukup. Dan yang paling penting
adalah melatih mahasiswa berbicara di depan umum.
I.4. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam penulisan seminar ini adalah penulis hanya
membatasi pembahasan hanya pada kajian geomorfologi dan stratigrafi yang
dilakukan melalui pengamatan dilapangan dan menginterpretasikan apakah daerah
penelitian dahulunya ada gunung api atau tidak yang nantinya dapat dipakai untuk
identifikasi paleovulkanisme pada daerah penelitian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Dasar Teori


Berasal dari bahasa Italia yaitu kata vulcano yang berarti Dewa Api
(penjaga pada tubuh gunung api). Dalam bahasa Belanda vulkaan yang berarti
gunung api. Dalam bahasa Inggris: volkanologi berasal dari kata volcanology,
yaitu volcano (= gunung api) dan logos (ilmu). Jadi, di Indonesia dapat
menyebutnya ilmu gunung api, vulkanologi atau volkanologi, namun
penyebutan harus secara konsisten.
Kata Volcano (gunung api) pertama kali berasal dari pulau kecil yang
bernama Volcano, terletak di Laut Mediterania, Sicily. Berabad-abad tahun yang
lalu, masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut mempercayai bahwa di atas
puncak Gunung Volcano tinggal seorang dewa yang bernama Volcan. Mereka
berpikir bahwa fragmen-fragmen lava panas dan awan abu letusan yang
dierupsikan Volcano adalah hasil / bagian dari tempaan besi Dewa Volcan hingga
menimbulkan petir, saat sang dewa menempa /memukul besi baja untuk diolah
menjadi senjata. Senjata tersebut diperuntukkan bagi Jupiter (raja dewa) dan Mars
(dewa perang). Di Polinesia, masyarakat percaya bahwa material yang dierupsikan
dari Gunung Pele adalah luapan kemarahan Pele (sebutan untuk Dewi Gunung
api), saat dia marah atau kecewa. Kini, kita telah memahami bahwa erupsi gunung
api adalah sesuatu proses alamiah yang dapat kita pelajari, diinterpretasi dan
diprediksi kapan kejadiannya.

Kata gunung api (volcano) juga mengacu pada bukaan atau kaldera,
tempat magma dan gas muncul ke permukaan. Magma adalah batuan lelehan yang
terletak di bawah permukaan bumi, muncul ke permukaan melalui pipa kepundan,
jika telah dierupsikan ke permukaan disebut lava. Saat magma naik ke permukaan,
biasanya mengandung kristal, fragmen dari batuan dinding (tak-terlelehkan) dan
gas terlarut. Namun, pada dasarnya komposisi magma terdiri dari oksigen, silikon,
aluminium, besi, magnesium, kalsium, kalium, natrium, titanium dan mangan,
yang disebut sebagai common elements atau unsur-unsur umum. Di samping
unsur-unsur yang umum dijumpai, dalam magma juga terdapat unsur-unsur jarang
atau rare elements. Saat mengalami pendinginan, cairan magma mengalami
pengendapan kristal dari berbagai jenis mineral hingga pembatuan berlangsung
sempurna, membentuk batuan beku atau batuan magmatik.
Menurut Tilling (1999), gunung api merupakan pegunungan, namun
sangat berbeda dengan jenis pegunungan yang lain. Gunung api tidak terbentuk
dari proses lipatan dan penghancuran, tapi oleh pengangkatan dan erosi. Tubuh
gunung api terbentuk dari akumulasi material hasil aktivitasnya, yaitu lava, bom
(aliran abu terkerakkan) dan tefra (abu jatuhan dan debu). Suatu gunung api
umumnya berbentuk bukit atau gunung kerucut yang dibangun di seputar kaldera
yang berhubungan dengan reservoir batuan cair. Reservoir tersebut terletak di
bawah permukaan bumi pada kedalaman 1,5-10 km. Jadi, menurutnya lingkup
pembelajaran vulkanologi berawal dari sumber (reservoir), tempat magma

pembentuk gunung api berasal, hingga geomorfologi dan material yang


menyusunnya.
Menurut Alzwar dkk (1988), gunung api adalah suatu timbulan di
permukaan bumi, yang tersusun atas timbunan rempah gunung api, tempat dengan
jenis dan kegiatan magma yang sedang berlangsung, dan tempat keluarnya batuan
leleran dan rempah lepas gunung api dari dalam bumi. Jika gunung api harus
berbentuk timbulan, maka tipe gunung api perisai tidak termasuk di dalamnya.
Jika gunung api tersebut adalah aktivitas magma yang sedang berlangsung, maka
gunung api yang telah mati (tidak aktif) tidak termasuk di dalamnya. Hal itu
menimbulkan suatu kontroversi mengenai morfologi kerucut gunung api seperti
Gunung Ungaran, Merbabu, Muria, Lawu dan lain-lain, yang tidak dapat
dimasukkan sebagai gunung api. Apalagi gunung api-gunung api purba yang kini
hanya menyisakan batuan-batuan gunung api saja, seperti Pegunungan Kulon
Progo, Pegunungan Menoreh, Gunung Lasem dan Gunung Gajah Mungkur di
Wonogiri. Maka, bagian-bagian tersebut tidak termasuk pula sebagai gunung api.
Menurut MacDonald (1972), gunung api adalah tempat / bukaan
berasalnya atau keluarnya batuan pijar atau gas dan / umumnya keduanya ke
permukaan bumi, hingga lama-kelamaan terakumulasi dan membentuk bukit atau
gunung. Menurut Bronto (2006), gunung api merupakan tiap-tiap proses alam
yang berhubungan dengan kegiatan kemunculan magma ke permukaan bumi,
meliputi asal-usul pembentukan magma di dalam bumi hingga kemunculannya di

permukaan bumi dalam berbagai bentuk dan kegiatannya (Gambar 1). Jadi setiap
magma yang muncul ke permukaan bumi adalah gunung api.

Gambar 1. Lingkup pembelajaran vulkanologi dan ilmu-ilmu turunannya yang lain (Bronto, 2006).

Pada kondisi yang masih utuh: geomorfologi gunungapi dapat dibagi


menjadi 3 fasies, yaitu Fasies Sentral, Fasies Proximal, Fasies Medial dan Fasies
Distal, didasarkan pada komposisi batuan penyusunnya (Bogie & Mackenzie,
1998).

Gambar 2. Pembagian fasies gunung api menurut Bogie & Mackenzie, 1998.

Secara geomorfologi gunung api purba memang sudah tidak menunjukkan


bentukan kerucut yang simetris karena tubuh gunung api tersebut telah hancur dan
telah tererosi kuat. Namun dengan melakukan pendekatan analisis stratigrafi
(batuan penyusun) dan pendekatan geomorfologi yang lebih intensif maka kita
dapat menginterpretasikan proses paleovulkanisme yang ada.

Gambar 3. Rekonstruksi fosil gunung api dari geomorfologi dan batuan penyusunnya
(Mulyaningsih,2013)

II.2. Peneliti Terdahulu

10

Geologi daerah penelitian dan daerah sekitarnya telah banyak diteliti oleh
peneliti-peneliti pendahulu, antara lain:
1. Van Bemmelen (1949), mengelompokkan wilayah Jawa Tengah dan Jawa
Timur kedalam lima zona dari selatan ke utara, yaitu: Zona Pegunungan
Selatan, Zona Solo, Zona Kendeng, Zona Randublatung, dan Zona
Rembang.
2. Untung (1982), melakukan peneltian gaya berat yang menghasilkan gejala
bawah permukaan dan rekonstruksi paleografi Pulau Jawa. Bahwa di
daerah Jawa Barat dijumpai sistem patahan (sesar) anjak yang berjejer
sangat rapat, serta seringkali berimbrikasi. Arah umum sesar anjak dan
lipatan adalah baratlaut-tenggara. Memanjang dari Banyumas, Kadipaten,
Subang, Purwakarta terus kearah barat, sedangkan di daerah Jawa Tengah
sampai ke Jawa Timur, arah umum struktur patahan dan lipatan adalah
utara-timurlaut, memanjang dari Kebumen, Magelang, Ungaran, Kudus.
Bukti dilapangan sekarang adalah ditemukannya batuan mlange, yaitu
batuan endapan palung hasil tumbukan lempeng benua dan samudera, di
daerah Karangsambung, Kebumen utara dan di daerah Bayat, Klaten
selatan. Di daerah Bantul diperkirakan terdapat graben bahkan di daerah
sebelah timur Malang diperkirakan adanya graben yang relatif besar.
3. Soeria-Atmadja, dkk., (1990; 1994), penelitian tentang kegiatan
magmatisme di Jawa.
4. Surono ,dkk., (1992), menyusun Peta Geologi Lembar Surakarta dan
Giritontro, Jawa, skala 1: 100.000.

11

5. Haryono, dkk., (1995), menyusun Peta Anomali Bouguer Lembar


Surakarta da Giritontro, Jawa, skala 1 :100.000
6. Bronto, dkk., (1998), membahas sebagian wilayah pegunungan selatan di
Kali Ngalang, Kali Putat, dan Jentir sebagai batuan longsoran tubuh
gunung api Tersier.
7. Lokier, S.W., (1999), membahas perkembangan sedimentasi volkaniklastik
primer dan sekunder di wilayah pegunungan selatan.
8. Bronto, dkk., (2009), meneliti waduk Parangjoho dan Songoputri sebagai
alternatif sumber erupsi Formasi Semilir di daerah Eromoko, Kabupaten
Wonogiri, Jawa Tengah.
9. Hartono, (2009) melakukan penelitian tentang analisis stratigrafi awal
kegiatan

gunung

api

Gajahdangak

di

implikasinya terhadap stratigrafi batuan

daerah

Bulu,

Sukoharjo;

gunung api di pegunungan

selatan, Jawa Tengah. Stratigrafi gunung api Gajahdangak dapat dijadikan


mode dalam memahami stratgrafi daerah Pegunungan Selatan, Jawa
Tengah dan daerah lain yang banyak mempunyai gunung api.

II.3. Sumber Pustaka


Pustaka yang digunakan dan dirujuk penulis dalam penyusunan seminar
ini adalah buku Vulkanologi oleh Sri Mulyaningsih tahun 2013, buku Geologi
Gunung Api Purba oleh Sutikno Bronto tahun 2010, buku The Geology of
Indonesia oleh Van Bemmelen tahun 1949, buku Geologi Dasar oleh Ir.
Soetoto, S.U.,tahun 2013, catatan kuliah ITB Geologi Dasar oleh Benyamin

12

Saphie,dkk tahun 2009, serta buku Metodologi Penelitian oleh Sukandarrumidi


tahun 2002.
Semua sumber pustaka di atas sangat membantu penulis dalam
memberikan referensi, baik dalam segi materi pembahasan sesuai judul seminar
maupun dari segi tata cara penelitian dan penulisannya.

BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah berupa studi
lapangan dengan pengamatan langsung di lapangan serta studi pustaka dan
referensi terkait yang berhubungan dengan judul seminar.
Tempat penelitian dilakukan di daerah Terbah , Kecamatan Gedangsari,
Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di lokasi
tersebut penulis melakukan pengamatan lapangan dan melakukan pengambilan
data lapangan. Setelah pengambilan data penulis melakukan analisis data di
laboratorium terkait.
Alat penelitian yang digunakan yakni berupa peta topografi skala 1 :
25000, sepasang palu geologi,1 unit

kompas geologi, loupe, larutan Hcl,

peralatan tulis lengkap serta alat-alat pendukung lainnya.


Jenis sumber data yaitu berupa kompilasi atau penggabungan antara data
primer atau data hasil pengamatan langsung di lapangan dan ditambah dengan

13

data sekunder dari literatur atau referensi terkait, serta dari peta geologi regional
terkait daerah penelitian.
Analisis data dan pembahasan meliputi analisi geomorfologi dan stratigrafi
(batuan penyusun) yang ada di daerah penelitian yang mengindikasikan adanya
aktivitas vulkanik purba atau yang lebih dikenal dengan gunung api purba.
Diharapkan dengan adanya pembahasan seminar ini maka pembelajaran
dan aplikasi tentang studi geologi gunung api purba dapat semakin berkembang
serta bisa ditingkaykan lagi agar menambah kompetensi mahasiswa geologi dalam
hal kegiatan eksplorasi nantinya. Dan yang lebih penting adalah agar mahasiswa
HHJHJ11
dapat lebih memahami tentang konsep-konsep
geologi gunung api. Hal tersebut

sangat membantu sekali karena mengingat semakin sedikitnya mahasiswa yang


melakukan penelitian tentang gunung api, padahal batuan gunung api tersebar
begitu melimpah khususnya di pegunungan selatan, terutama batuan gunung api
berumur Tersier.

14

BAB IV
RENCANA PUSTAKA TERPAKAI
Bronto, S., 2010, Geologi Gunung Api Purba, Publikasi Khusus Badan Geologi
Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Mulyaningsih, S., 2013, Vulkanologi, AKPRIND Press, Yogyakarta.
Sapiie, B., 2009, Catatan Kuliah Geologi Dasar , Institut Teknologi Bandung,
Bandung.
Soetoto., 2013, Geologi Dasar, Penerbit Ombak, Yogyakarta.
Sukandarrumidi, 2002, Metodologi Penelitian, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

E131313

LAMPIRAN

JADWAL PENELITIAN

No.

1.
2.

Tahun 2014

WAKTU
Oktober
IV
Penyusuan Proposal dan
Pengajuan Proposal
Pengambilan Data
Lapangan dan
Penyusunan
Makalah Seminar

KEGIATAN

3.

Konsultasi

4.

Presentasi

II

November
III

IV

II

Desember
IIIII

IV

Anda mungkin juga menyukai