Anda di halaman 1dari 2

Jejas reversible adalah suatu keadaan ketika sel dapat kembali ke

fungsi dan morfologi semula jika rangsangan perusak ditiadakan. Contoh


umum yang sering terjadi pada kategori ini yaitu degenerasi hidropik.
Degenerasi ini menunjukkan adanya edema intraseluler, yaitu adanya
peningkatan kandungan air pada rongga-rongga sel selain peningkatan
kandungan air pada mitokondria dan reticulum endoplasma. Pada mola
hedatidosa telihat banyak sekali gross (gerombolan) mole yang berisi
cairan. Mekanisme yang mendasari terjadinya generasi ini
yaitu kekurangan oksigen, karena adanya toksik, dan karena pengaruh
osmotic.
Sedangkan jejas irreversible adalah suatu keadaan saat kerusakan
berlangsung secara terus-menerus, sehingga sel tidak dapat kembali ke
keadaan semula dan sel itu akan mati.Terdapat dua jenis jejas
irreversible (kematian sel) yaitu apotosis dan nekrosis. Apoptosis
merupakan pengendalian terhadap eliminasi-aliminasi sel yang mati.
sedangkan nekrosis merupakan kematian sel/jaringan pada tubuh yang
hidup di luar. Jadi, perbedaan nekrosis dan apoptosis terletak pada
terkendali atau tidaknya kematian sel tersebut.

Berdasarkan tingkat kerusakannya, jejas sel dibedakan menjadi dua kategori


utama, yaitu jejas reversible (degenerasi sel) dan jejas irreversible (kematian
sel).
1. Jejas Reversibel ( Degenerasi sel: mola hidatidosa)
Contoh umum yang sering terjadi pada kategori ini yaitu degenerasi hidropik.
Degenerasi ini menunjukkan adanya edema intraseluler, yaitu adanya
peningkatan kandungan air pada rongga-rongga sel selain peningkatan
kandungan air pada mitokondria dan reticulum endoplasma. Pada mola
hedatidosa telihat banyak sekaligross (gerombolan) mole yang berisi cairan.
Mekanisme yang mendasari terjadinya generasi ini yaitu kekurangan
oksigen, karena adanya toksik, dan karena pengaruh osmotic. Pada
kondisi mola hidatidosa, janin biasanya meninggal. Akan tetapi, villus-villus
(gerombolan mola) yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh
terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.
2. Jejas Irreversible
Terdapat dua jenis jejas irreversible (kematian sel)
yaitu apotosis dan nekrosis. Apoptosis merupakan pengendalian terhadap
eliminasi-aliminasi sel yang mati. sedangkan nekrosis merupakan kematian

sel/jaringan pada tubuh yang hidup di luar dari kendali. Sel yang mati pada
nekrosis akan membesar dan kemudian hancur dan lisis pada suatu daerah
yang merupakan respon terhadap inflamasi (Lumongga, 2008). Jadi
perbedaanya terletak pada terkendali atau tidaknya kematian sel tersebut.
Nekrosis
Nekrisis terbagi menjadi dua, yaitu nekrosis koagulatif dan
nekrosis liquefactive. Pada nekrosis koagulatif, protoplasmanya tampak
seperti membeku akibat koagulasi protein. Terjadi pada nekrosis ishemik
akibat putusnya perbekalan darah. Daerah yang terkena menjadi padat, pucat
dikelilingi oleg daerah yang hemoragik. Nekrosis koagulatif dapat terjadi juga
karena toksin bakteri, misalnya pada thypus abdominalis, pada dhypteria,
pneumonia, dan infeksi keras lainnya.
Nekrosis liquefactive terjadi dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan
dengan nekrosis koagulatif, akibat pengaruh enzim-enzim yang bersifat litik.
Sering terjadi pada jaringan otak. Nekrosis mencair ini juga dapat terjadi pada
jaringan yang mengalami infeksi bakteriologik yang membentuk nanah.