Anda di halaman 1dari 5

Proceedings Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2015

Jakarta Convention Center, Indonesia August 19th 21st, 2015

PEMODELAN GEOLOGI 3 DIMENSIONAL SISTEM PANAS BUMI


Raja Susatio
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
susatio.raja@gmail.com

Keywords: Geothermal Modelling, Geological Modelling,


3D, Leapfrog Geothermal

menghasilkan model yang dapat digunakan pada sarana


pemodelan lanjutan, dan memiliki efisiensi yang baik dalam
proses pembuatannya. Aspek-aspek tersebut dibutuhkan
untuk menghasilkan model yang baik dan mudah diubah
ketika didapatkan data baru. Selain itu aspek-aspek tersebut
juga mempengaruhi proses pemodelannya

ABSTRAK
Model geologi 3 dimensional dibutuhkan pada proses
eksplorasi dan pengembangan lapangan panas bumi untuk
memberikan visualisasi yang terintegrasi terhadap data yang
telah dimiliki. Proses pembuatannya membutuhkan
perangkat lunak yang mampu memodelkan struktur dan
hubungan antar formasi geologi, mampu melakukan
integrasi model dengan data sumur bor atau data tambahan
lainnya, memiliki kemampuan menginterpolasi yang tepat,
menghasilkan model yang dapat digunakan pada sarana
pemodelan lanjutan, dan memilki efisiensi yang baik dalam
proses pembuatannya. Aspek-aspek tersebut dibutuhkan
untuk menghasilkan model yang baik dan mudah diubah
ketika mendapatkan data baru. Proses pembuatan model
geologi 3 dimensional sistem panas bumi terdiri dari lima
proses yaitu input dan kalibrasi data, pembuatan model
struktural, pembuatan model satuan geologi, penyatuan
model struktural dan satuan geologi, dan analisa kualitas
model. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal adalah salah
satu perangkat lunak yang memenuhi aspek-aspek tersebut.
Model yang dihasilkan dapat membantu visualisasi dan
pemahaman kondisi geologi, penyebaran struktur, dan
interaksi antara keduanya dengan sistem panas bumi. Model
yang dihasilkan juga dapat digunakan sebagai dasar dalam
pembuatan model dan simulasi reservoarnya.

Kemampuan memodelkan struktur dan hubungan antar


formasi geologi
Struktur merupakan hal yang sangat penting dalam
pemodelan geologi. Tanpa adanya struktur, maka tidak akan
ada jalan bagi uap, panas, atau bahkan gas dan minyak untuk
mencapai permukaan (Zakrevsky, 2011). Struktur
merupakan hal yang penting terutama pada sistem panas
bumi hidrotermal yang berkembang di Indonesia. Hal ini
dikarenakan struktur menjadi jalur sirkulasi air dan
memberikan titik manifestasi panas bumi.
Selain struktur, hubungan antar formasi yang merupakan
bidang lemah antar batuan juga berperan sebagai jalur
sirkulasi air sistem panas bumi hidrotermal. Pada gambar 1
menunjukkan bagaimana sebuah data sumur (a) dapat
menghasilkan dua hubungan antar formasi geologi yang
berbeda (b dan c) (Corbel et al., 2010). Sebuah sarana
pemodelan harus mampu menghasilkan hubungan antar
formasi yang dirasa tepat oleh pembuatnya.

PENDAHULUAN
Definisi model menurut English Thesaurus adalah gambaran
sederhana yang digunakan untuk memberikan pemahaman
tentang kejadian-kejadian atau suatu kondisi yang ada di
alam. Definisi model menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah contoh dari sesuatu yang akan dibuat atau
telah ada. Model geologi 3 dimensional menyatukan kedua
definisi tersebut sehingga model geologi 3 dimensional
adalah model yang dibuat sebagai gambaran sederhana
keadaan geologi untuk memberikan pemahaman tentang
kondisi geologi bawah permukaan dengan cara memberikan
visualisasi data yang terintegrasi.

Gambar 1. Contoh pembuatan hubungan antar formasi


(Corbel et al., 2010)

Sistem panas bumi mencakup dua komponen utama dalam


pembuatan model geologi 3 dimensional yaitu pemodelan
stratigrafi dan struktur. Kedua komponen tersebut
menghasilkan model geologi berupa stratigrafi yang
terpengaruh struktur. Model yang dihasilkan digunakan
untuk mempermudah pemahaman kondisi geologi bawah
permukaan pada lokasi tersebut.

Kemampuan melakukan integrasi model dengan data


sumur bor atau data tambahan lainnya
Model yang dibuat harus sesuai dengan data yang dimiliki.
Kriteria ini dibutuhkan karena model yang dibuat seringkali
hanya berdasarkan intuisi pembuatnya dan tidak
mempedulikan data yang dimiliki dikarenakan pembuatan
model berdasarkan data memakan waktu yang sangat lama
(Cowan et al., 2002).

ASPEK PEMODELAN GEOLOGI 3 DIMENSIONAL


Dibutuhkan beberapa aspek penting untuk menghasilkan
model yang baik. Beberapa aspek tersebut adalah
kemampuan memodelkan struktur dan hubungan antar
formasi geologi, kemampuan melakukan integrasi model
dengan data sumur bor atau data tambahan lainnya, memiliki
kemampuan menginterpolasi yang tepat, kemampuan

Kemampuan melakukan interpolasi yang tepat


Satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari pemodelan adalah
metode interpolasi (algoritma) yang digunakan (Mallet and
Mallet, 2002). Saat ini telah banyak metode interpolasi yang
dapat digunakan seperti krigging, IDW, RBF, natural
1

Proceedings Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2015


Jakarta Convention Center, Indonesia August 19th 21st, 2015
Perangkat lunak Leapfrog Geothermal memberikan
kebebasan kepada pengguna dalam menentukan hubungan
antar formasinya. Hal ini membuat pembuat model harus
mengeri apakah satuan yang dimodelkan sebagai deposit,
intrusi, atau yang lain. Perangkat lunak Leapfrog
Geothermal mempermudahnya menjadi empat hubungan
utama, yaitu deposit (pengendapan selaras), erosi
(pengendapan tidak selaras), intrusi, dan vein.

neighbor, dll. Sarana pemodelan dituntut dapat


menghasilkan model yang tepat. Model yang dihasilkan
akan berbeda antara satu metode interpolasi dan metode
yang lain. Gambar 2 menunjukkan contoh perbedaan
persebaran suhu dengan menggunakan metode interpolasi
yang berbeda.

Kemampuan melakukan integrasi model dengan data


sumur bor atau data tambahan lainnya
Perangkat lunak Leapfrog Geothermal menggunakan data
bor sebagai dasar pemodelan untuk mempersingkat proses
pembuatan menjadi lebih cepat dan memastikan integrasi
data bor dengan modelnya. Namun hal ini juga memiliki
kekurangan karena jika model yang dihasilkan tidak cocok
dengan keinginan pembuat model, pembuat model harus
mengubah data bor yang dimiliki atau mengubah
korelasinya dan pengelompokannya.

Gambar 2. Perbedaan model bawah permukaan oleh metode


interpolasi yang berbeda (Akar et al., 2011)
Kemampuan menghasilkan model yang dapat digunakan
pada sarana pemodelan lanjutan
Model yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan untuk
pemodelan lain. Pada kasus pemodelan geologi sistem panas
bumi, integrasi pada sarana pemodelan lanjutan yang paling
utama adalah membuat model aliran atau perpindahan panas.
Model yang dihasilkan harus dapat digunakan pada sarana
pemodelan aliran atau perpindahan panas.

Kemampuan melakukan interpolasi yang tepat


Perangkat lunak Leapfrog Geothermal menggunakan
Radial Bassis Function sebagai metode interpolasinya.
Metode interpolasi ini adalah metode interpolasi global yang
dirancang untuk melakukan interpolasi pada persebaran data
yang acak, tidak rata, dan jarak antar data cukup jauh
(Franke, 2014). Kondisi persebaran data yang acak, tidak
rata, dan jarak antar data yang cukup jauh sering ditemui di
lokasi pengembangan panas bumi sehingga metode
interpolasi ini adalah metode interpolasi yang tepat untuk
menghasilkan model yang baik.

Memiliki
efisiensi
yang
baik
dalam
proses
pembuatannya
Proses pemodelan geologi membutuhkan beberapa ahli
untuk bekerja sama dalam satu tim dan selalu dibutuhkan
ahli komputer untuk pengoperasiannya. Penggunaan
beberapa ahli membuat proses pembuatan model dan
interpretasi menjadi lama karena proses yang terpisah.
Sebuah sarana pemodelan harus memiliki efisiensi sumber
daya manusia yang menghasilkan efisiensi waktu (Newson
et al., 2012).

Kemampuan menghasilkan model yang dapat digunakan


pada sarana pemodelan lanjutan
Perangkat lunak Leapfrog Geothermal terintegrasi dengan
sarana pemodelan fluida Tough2, Feflow, dan Modflow.
Ketiga sarana pemodelan tersebut adalah sarana pemodelan
yang umum digunakan pada pemodelan fluida, air tanah,
ataupun transfer panas. Selain model yang dihasilkan
perangkat lunak Leapfrog Geothermal dapat digunakan
pada ketiga sarana pemodelan tersebut, model yang
dihasilkan oleh ketiga sarana pemodelan tersebut juga dapat
digunakan pada perangkat lunak Leapfrog Geothermal
untuk dilakukan simulasi fluida

SARANA PEMODELAN GEOLOGI 3 DIMENSIONAL


Dengan menggunakan beberapa aspek yang disebutkan
sebelumnya, didapatkan beberapa perangkat lunak yang
memenuhi aspek-aspek tersebut seperti Schlumberger Petrel,
Intrepid Geomodeller, Leapfrog Geothermal, dll. Dalam
penelitian ini penyusun memilih untuk menggunakan
perangkat lunak Leapfrog Geothermal karena perangkat
lunak ini merupakan perangkat lunak yang dibuat khusus
untuk pemodelan sistem panas bumi. Fitur yang dimiliki
perangkat lunak Leapfrog Geothermal yang memenuhi
aspek-aspek dalam pemodelan sistem paanas bumi adalah:

Memiliki
efisiensi
yang
baik
dalam
proses
pembuatannya
Perangkat lunak Leapfrog Geothermal tidak memisahkan
proses pemodelan dan interpretasi untuk meningkatkan
efisiensi dalam pembuatanmodel . Ahli komputer dan ahli
kebumian harus bekerja bersama dalam pembuatan model.
Ahli kebumian berperan sebagai pengarah pembuatan model
dan ahli komputer berperan sebagai pembuat model.
Perangkat lunak Leapfrog Geothermal membuat proses
penggunaan menjadi cukup mudah sehingga ahli kebumian
dengan pengetahuan dasar komputer yang cukup dapat
mengambil kedua peran sebagai ahli kebumian dan ahli
komputer sekaligus untuk meminimalkan penggunaan
tenaga kerja.

Kemampuan memodelkan struktur dan hubungan antar


formasi geologi
Perangkat
lunak
Leapfrog
Geothermal
mampu
memodelkan struktur dengan menggunakan data bor atau
pembuat model menarik garis strukturnya. Jika pembuat
model menggunakan kedua metode tersebut dalam 1 model
maka perangkat lunak Leapfrog Geothermal memberikan
prioritas penggunaan data yang sama. Pemberian proporsi
yang seimbang ini memberikan keuntungan pada pembuatan
struktur geologi yang lebih akurat. Perangkat lunak Leapfrog
Geothermal memiliki kekurangan karena struktur hanya
bisa menghilang atau berhenti jika keluar batas pemodelan
atau dipotong oleh struktur yang lebih muda. Padahal sering
dijumpai struktur yang menghilang tanpa ada penerusannya
pada peta geologi.

PROSES PEMODELAN
Proses pemodelan yang digunakan penyusun dalam
membuat model tersusun dari input dan kalibrasi data,
pembuatan model stratigrafi, pembuatan model struktur
geologi, pembuatan model geologi, dan analisa kualitas
model. Gambar 3 menunjukkan bagan proses pemodelannya.
2

Gambar 3. Bagan alir proses pemodelan

Gambar 4. Input data struktur pada perangkat lunak


Leapfrog Geothermal

Input dan kalibrasi data


Pada tahap input dan kalibrasi data dilakukan digitasi data
dan korelasi data yang didapatkan. Data yang dimiliki
terkadang berupa gambar atau tulisan sehingga perlu diubah
menjadi data digital. Data juga dikorelasikan untuk melihat
penyebaran data dan hubungannya satu sama lain karena
seringkali data yang didapatkan memiliki data yang berbeda.
Misal pada dua bor yang berdekatan ditemukan nama
litologi yang berbeda seperti lava dan andesit, data tersebut
perlu dianalisa dan dilakukan koreksi data pada data agar
data tidak bertentangan.

Pembuatan model stratigrafi


Pada tahap pembuatan model stratigrafi dilakukan
pembuatan model stratigrafi dengan menggunakan data yang
telah dikoreksi dan dibuat satuan stratigrafi baru yang
mencakup semua satuannya. Penyusun membuat garis batasbatas satuan geologi dan menentukan hubungan masingmasing satuan stratigrafi terhadap satuan stratigrafi yang
lain. Model dihasilkan dengan garis batas satuan geologi
yang diinterpolasikan dengan data bor dan data geologi
permukaannya. Gambar 5 menunjukkan model stratigrafi
yang dihasilkan. Model tersebut hanya berisi lapisan-lapisan
batuan dan hubungannya satu sama lain tanpa adanya
kehadiran struktur sehingga pada beberapa bagian terlihat
batas satuan saling berpotongan..

Data struktur juga dilakukan koreksi dan penyederhanaan


agar struktur dapat dimodelkan dengan baik. Jika data yang
dimiliki tidak memeuhi kaidah cross-cutting relationship
maka perangkat lunak Leapfrog Geothermal tidak mampu
memodelkannya. Gambar 4 menunjukkan struktur pada
lapangan (atas) dan struktur yang disederhanakan untuk
dimodelkan (bawah).

Proceedings Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2015


Jakarta Convention Center, Indonesia August 19th 21st, 2015

Gambar 5. Model batas satuan stratigrafi


Gambar 7. Penyesuaian model dengan penampang geologi

Pembuatan model struktur geologi


Tahap pembuatan model struktur geologi dilakukan tanpa
adanya unsur stratigrafi. Tahap ini dilakukan dengan cara
penyusun membuat garis struktur pada permukaan beserta
sudut kemiringan strukturnya. Yang paling penting dalam
pembuatan model struktur adalah menentukan usia relatif
dan hubungan antar strukturnya. Gambar 6 menunjukkan
bagaimana struktur yang lebih tua (ungu dan hijau)
menghilang pada struktur yang lebih muda (biru muda) dan
saling memotong dengan struktur yang lainnya.

Analisa kualitas model


Pada tahap analisa kualitas model dilakukan pemeriksaan
model terhadap data yang dimiliki. Jika pada model terdapat
kenampakan yang menyalahi data seperti penyebaran
stratigrafi yang terubah karena struktur atau ketidaksamaan
dengan data bor maka proses pembuatan model geologi
perlu diulangi. Jika model yang dihasilkan tidak menyalahi
data maka model geologi 3 dimensional sistem panas bumi
telah dapat diterima.
VISUALISASI MODEL
Model yang dihasilkan dapat memberikan visualisasi untuk
mempermudah dalam pemahaman kondisi geologi. Dengan
menggunakan model yang dihasilkan dapat dibuat beberapa
penampang geologi baru atau melihat penyebaran satuan
geologi secara 3 dimensional sehingga mempermudah
proses eksplorasi ataupun pengembangan lapangan panas
bumi. Selain visualisasi, model yang dihasilkan juga bisa
digunakan untuk memperkirakan jalur pemboran baru
(sumur prognosis) seperti yang ditunjukkan pada gambar 8.
Dengan perkiraan jalur pemboran tersebut, maka dapat
dibuat rencana pemboran yang lebih matang dan dapat
memberikan hasil yang lebih baik.

Gambar 6. Model struktur geologi


Pembuatan model geologi
Pada tahap pembuatan model geologi dilakukan penyatuan
model stratigrafi dan model struktur. Tahap ini dilakukan
dengan menentukan lapisan batuan apa yang dipotong oleh
suatu struktur. Model yang dihasilkan juga disesuaikan
dengan data penampang geologi yang dimiliki dengan
menggunakan data garis. Gambar 7 menunjukkan proses
penyesuaian model yang dihasilkan dengan penampang
geologi untuk menghasilkan model yang sesuai dengan
penampang geologi.

Gambar 8. Pembuatan perencanaan sumur bor dan sumur


prognosisnya
KESIMPULAN
Ada lima aspek utama yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan sarana pemodelan untuk pemodelan geologi 3
dimensional sistem panas bumi. Kelima aspek tersebut
adalah kemampuan memodelkan struktur dan hubungan
antar formasi geologi, kemampuan melakukan integrasi
model dengan data sumur bor atau data tambahan lainnya,
kemampuan melakukan interpolasi yang tepat, kemampuan
menghasilkan model yang dapat digunakan pada sarana
pemodelan lanjutan, dan efisiensi dalam pembuatannya.

Pada penelitian ini penyusun memilih perangkat lunak


Leapfrog Geothermal sebagai sarana pemodelan yang
digunakan. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal memiliki
kelebihan pada integrasi data yang akurat, metode
interpolasi yang disesuaikan dengan keadaan umum di
lapangan panas bumi, dan efisiensinya karena mudah
digunakan. Kekurangan terbesar perangkat lunak Leapfrog
Geothermal adalah dalam penyusunan strukturnya karena
perangkat lunak Leapfrog Geothermal tidak mampu
membuat struktur yang menghilang di tengah formasi seperti
yang umum ditemukan.
Proses pemodelan yang ditempuh sangat dipengaruhi oleh
aspek yang dimiliki oleh sarana pemodelan yang digunakan.
Perangkat
lunak
Leapfrog
Geothermal
sangat
mengutamakan data bor sehingga pada proses input data
harus dipastikan data yang dimiliki memiliki kualitas yang
baik dan tidak bertentangan satu sama lain. Kekurangan
perangkat lunak Leapfrog Geothermal dalam pembuatan
model struktur membuat pembuat model harus
menyederhanakan struktur yang dimodelkan. Dari kelima
langkah proses pemodelan yang dilakukan, pembuat model
harus melakukan usaha ekstra pada input dan koreksi data
dan pembuatan model struktur geologinya jika
menggunakan menggunakan perangkat lunak Leapfrog
Geothermal.
Dalam visualisasi, perangkat lunak Leapfrog Geothermal
memiliki kelebihan yang tidak termasuk dalam aspek
pemodelan yaitu pembuatan sumur prognosis untuk
perencanaan pembuatan sumur bor selanjutnya.
Daftar Pustaka
Akar, S., Atalay, O., Kutumcu, O.C., and Solaruglu, U.Z.D.,
2011, Subsurface Modeling of Gms: GRC Transactons,
Vol. 35, 2011, v. 35, p. 669676.
Corbel, S., Colgan, E.A., Reid, L.B., and Wellman, J.F.,
2010, Building 3D Geological Models for Groundwater and
Geoterhmal Exploration: Australian Geothermal Conference
2010, p. 14.
Cowan, E.J., Beatson, R.K., Fright, W.R., Mclennan, T.J.,
and Mitchell, T.J., 2002, Rapid geological modelling:
Extended abstract for Applied Structural Geology for
Mineral Exploration and Mining, International Symposium,
p. 19.
Franke, R., 2014, Scattered Data Interpolation: Tests of
Some Methods: Mathematic of Computation Volume 38
Number 157, v. 38, p. 181200.
Mallet, J., and Mallet, L., 2002, Geomodelling: Applied
Geostatistics Series: New York, New York, USA, Oxford
University Press.
Newson, J., Mannington, W., Sepulveda, F., Lane, R.,
Pascoe, R., Clearwater, E., and Sullivan, M.J.O., 2012,
Application of 3D Modelling and Visualization Software to
Reservoir Simulation: Leapfrog Geotherma and Tough2:
Proceedings, Thirty-Seventh Workshop on Geothermal
Reservoir Engineering, v. 37.
Zakrevsky, K.E., 2011,
Netherlands, EAGE.

Geological

3D

Modelling: