Anda di halaman 1dari 6

A.

DEFINISI
Karsinoma Hepatoseluler (hepatocelluler carcinoma=HCC) merupakan tumor ganas hati primer yang berasal dari hepatosit,
demikian pula dengan karsinoma fibrolamelar dan hepatoblastoma. Tumor ganas hati lainnya, kolangiokarsinoma
(Cholangiocarcinoma=CC) dan sistoadenokarsinoma berasal dari sel epitel billier, sedngkan angiokarsinoma dan
leiomiosarkoma berasal dari sel mesenkim. Dari seluruh tumor ganas hati yang pernah didiagnosis, 85% merupakan HCC;
10% CC; dan 5% adalah jenis lainnya. Dalam dasawarsa terakhir terjadi perkembangan yang cukup berarti menyangkut HCC,
antara lain perkembangan pada modalitas terapi yang memberikan harapan untuk sekurang-kurangnya perbaikan pada
kualitas hidup pasien.
Kanker hati sering disebut "penyakit diam." Pasien seringkali tidak mengalami gejala sampai kanker pada tahap kemudian,
sehingga jarang ditemukan awal. Sebagai kanker tumbuh, beberapa pasien mungkin mengalami gejala seperti sakit di perut
sebelah kanan atas melalui bagian belakang dan bahu, bloating, berat badan, kehilangan nafsu makan, kelelahan, mual,
muntah, demam, dan penyakit kuning. Lain-lain penyakit hati dan masalah-masalah kesehatan juga dapat menyebabkan
gejala-gejala tersebut, tapi setiap orang mengalami gejala seperti ini harus melihat dengan dokter.(Anonim,2006)
B.EPIDEMIOLOGI
HCC meliputi 5,6% dari seluruh kasus kanker pada manusia serta menempati peringkat kelima pada laki-laki dan kesembilan
pada perempuan sebagai kanker tersering di dunia, dan urutan ketiga dari kanker sistem saluran cerna setelah kanker
kolorektal dan kanker lambung. Tingkat kematian (rasio antara mortalitas dan insidensi) HCC juga sangat tingi, di urutan
kedua setelah kanker pankreas. Secara geografis, di dunia terdapat tiga kelompok wilayah tingkat kekerapan HCC, yaitu
tingkat kekerapan rendah (kurang dari tiga kasus); menengah (tiga hingga sepuluh kasus); dan tinggi (lebih dari sepuluh
kasus per 100,000 penduduk). Tingkat kekerapan tertingi tercatat di Asia Timur dan Tenggara serta di Afrka Tengah,
sedangkan yang terendah di Eropa Utara; Amerika Tengah; Australia dan Selandia Baru.
Sekitar 80% dari kasus HCC di dunia berada di negara berkembang seperti Asia Timur dan Asia Tenggara serta Afrika Tengah
(Sub-Sahara), yang diketahui sebagai wilayah dengan prevalensi tinggi hepatitis virus. Di negara maju dengan tingkat
kekerapan HCC rendah atau menengah, prevalensi infeksi HCV berkorelasi baik dengan angka kekerapan HCC. Menurut
hasil pengamatan, berdasarkan data dari registrasi kanker terpilih dari seluruh dunia yang menengarai adanya
kecenderungan meningkatnya kekerapan HCC di banyak negara maju, sedangkan di negara-negara berkembang bahkan
terjadi penurunan.
HCC jarang ditemukan pada usia muda, kecuali di wilayah yang endemik infeksi HBV serta banyak terjadi tranmisi HBV
perinatal. Umumnya di wilayah dengan kekerapan HCC tinggi, umur pasien HCC 10-20 tahun lebih muda daripada umur
pasien HCC di wilayah dengan angka kekerapan HCC rendah. Hal ini dapat dijelaskan antara lain karena di wilayah dengan
angka kekerapan tinggi, infeksi HBV sebagai salah satu penyebab terpenting HCC, banyak ditularkan pada masa perinatal
atau masa kanak-kanak, kemudian terjadi HCC sesudah dua-tiga dasawarsa. Pada semua populasi, kasus HCC laki-laki jauh
lebih banyak (dua-empat kali lipat) daripada kasus HCC perempuan.(Anonim,2009)
C.ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Etiologi
a.Infeksi Hepatitis B
Hubungan antara infeksi kronik HBV dengan timbulnya HCC terbukti kuat, baik secara epidemologis, klinis maupun
eksperimental. Menurut beberapa penelitian, frekuensi kanker hati berhubungan (berkorelasi) dengan frekuensi infeksi virus
hepatitis B kronis. Sebagai tambahan, pasien-pasien dengan virus hepatitis B yang memiliki risiko tinggi untuk terjadi kanker
hati adalah pria-pria dengan sirosis (pembentukan jaringan parut di hati), virus hepatitis B dan terdapat riwayat kanker hati
keluarga.
Pada pasien yang memiliki virus hepatitis B kronis dan kanker hati, material genetik dari virus hepatitis B seringkali ditemukan
menjadi bagian dari material genetik sel-sel kanker. Hal ini diperkirakan karena adanya genom virus hepatitis B (kode genetik)
pada daerah-daerah tertentu yang masuk ke material genetik dari sel-sel hati. Material genetik virus hepatitis B ini mungkin
kemudian mengacaukan/mengganggu material genetik yang normal dalam sel-sel hati, dan dengan demikian menyebabkan
sel-sel hati menjadi bersifat kanker. Pasien yang memiliki virus hepatitis B kronis dapat berpotensi terkena HCC jika pasien
tersebut memiliki faktor resiko lain, seperti konsumsi alkohol ataupun pasien memiliki infeksi yang bersamaan dengan infeksi
virus hepatitis C kronis.
b.Infeksi Hepatitis C
Infeksi virus hepatitis C (HCV) juga dihubungkan dengan perkembangan kanker hati. Pada beberapa studi retrospektif dari
riwayat pasien yang memiliki hepatitis C, waktu rata-rata pasien yang terkena paparan virus hepatitis C untuk berpotensi
menjadi kanker hati yaitu 28 tahun. Beda halnya pada pasien yang sebelumnya telah mengidap sirosis hati dan terinfeksi
virus hepatitis C pula, rata-rata waktu yang diperlukan pasien hingga mengidap kanker hati ialah 8-10 tahun. Beberapa studi
prospektif Eropa melaporkan bahwa kejadian tahunan kanker hati pada pasien virus hepatitis C yang mengidap sirosis
berkisar dari 1.4 sampai 2.5% per tahun.
Pada pasien yang terinfeksi virus hepatitis C, faktor-faktor risiko sehingga terjadinya kanker hati antara lain adanya sirosis,
umur yang lebih tua, jenis kelamin laki, meningkatnya kadar alpha-fetoprotein (suatu penanda tumor darah), konsumsi
alkohol, dan infeksi yang bersamaan dengan virus hepatitis B. Mekanisme virus hepatitis C menyebabkan kanker hati tidak
dimengerti dengan baik. Tidak seperti virus hepatitis B, material genetik virus hepatitis C tidak masuk secara langsung ke

dalam material genetik sel-sel hati.


Pada studi yang lain, diketahui terdapat beberapa individu-individu yang terinfeksi virus hepatitis C kronis yang menderita
kanker hati tanpa mengidap sirosis. Hal ini dicurigai karena bahwa protein inti (pusat) dari virus hepatitis C adalah penyebab
pengembangan kanker hati. Protein inti sendiri (suatu bagian dari virus hepatitis C) diperkirakan menghalangi proses alami
kematian sel atau mengganggu fungsi dari suatu gen (gen p53) sebagai penekan tumor yang normal. Akibatnya sel-sel hati
terus hidup dan berproliferase tanpa dapat dikendalikan.
c.Alkohol
Sirosis yang disebabkan oleh konsumsi alkohol dalam jangka waktu lama merupakan penyebab paling umum dari kanker hati
di negara-negara maju. Mekanisme ini terjadi ketika para alkoholik menghentikan konsumsi alkoholnya, sel-sel hati akan
mencoba untuk memperbaiki organ hati dengan cara regenerasi atau mereproduksi sel-sel baru. Selama proses regenerasi
aktif inilah, terjadi suatu perubahan genetik (mutasi) yang menghasilkan kanker. Sedangkan angka kematian pada pecandu
alkoholik aktif lebih disebabkan komplikasi dari pengunaan alkohol jangka panjang seperti gagal hati.
Meskipun alkohol tidak memiliki kemampuan mutagenik, peminum berat alkohol (50-70 g/hari dan berlangsung lama) beresiko
untuk menderita HCC melalui sirosis hati alkoholik. Hanya sedikit bukti adanya efek karsinogenik langsung dari alkohol.
Alkoholisme juga meningkatkan resiko terjadinya sirosis hati dan HCC pada pengidap infeksi HBV atau HCV. Sebaliknya,
pada sirosis alkoholik terjadinya HCC juga meningkat bermakna pada pasien dengan HbsAg-positif atau anti- HCV positif. Ini
menunjukkan adanya peran sinergistik alkohol terhadap infeksi HBV maupun infeksi HCV. Acapkali penyalahgunaan alkohol
merupakan prediktor bebas untuk terjadinya HCC pada pasien dengan hepatitis kronik atau sirosis akibat infeksi HBV atau
HCV. Efek hepatotoksik alkohol bersifat dose-dependent, sehingga asupan sedikit alkohol tidak meningkatkan resiko
terjadinya HCC.
d.Aflatoxin B1
Aflatoxin B1 adalah kimia yang diketahui paling berpotensi membentuk kanker hati. Ia adalah suatu produk dari suatu jamur
yang disebut Aspergillus flavus, yang ditemukan dalam makanan yang telah tersimpan dalam suatu lingkungan yang panas
dan lembab. Jamur ini ditemukan pada makanan seperti kacang-kacang tanah, beras, kacang-kacang kedelai, jagung, dan
gandum. Aflatoxin B1 telah dilibatkan pada perkembangan kanker hati di China Selatan dan Afrika Sub-Sahara. Ia
diperkirakan menyebabkan kanker dengan menghasilkan perubahan-perubahan (mutasi-mutasi) pada gen p53. Mutasi-mutasi
ini bekerja dengan mengganggu fungsi-fungsi penekan tumor yang penting dari gen.
e.Obat-Obat Terlarang, Obat-Obatan dan Senyawa Kimia
Tidak ada obat-obat yang menyebabkan kanker hati, namun hormon-hormon wanita (estrogens) dan steroid-steroid
pembentuk protein (anabolic) dihubungkan dengan pengembangan hepatic adenomas. Ini adalah tumor-tumor hati yang
ramah/jinak yang mungkin mempunyai potensi untuk menjadi ganas (bersifat kanker). Jadi, pada beberapa individu-individu,
hepatic adenoma dapat berkembang menjadi kanker.
Senyawa tertentu dikaitkan dengan tipe-tipe lain dari kanker yang ditemukan pada hati. Contohnya, thorotrast, suatu agen
kontras yang dahulu digunakan untuk pencitraan (imaging), menyebabkan suatu kanker dari pembuluh-pembuluh darah
dalam hati yang disebut hepatic angiosarcoma.

Faktor resiko lain terjadinya kanker hepatoselular atau kanker hati adalah :
Jenis kelamin. Laki laki lebih rentan terkena kanker hati bila dibandingkan dengan perempuan. Hal ini mungkin ada
hubungannya dengan faktor genetik.
Sirosis Hati. Orang dengan sirosis hati mempunyai kemungkinan menderita kanker hati yang lebih besar dibandingkan
dengan yang tidak.
Penyakit hati autoimun (hepatitis autoimun; PBC/sirosis bilier primer)
Penyakit hati metabolik (hemokromatosis genetik; defisiensi antitripsin-alfa 1; penyakit wilson)
Kontrasepsi oral
Gangguan metabolisme. Beberapa ganguan metabolisme dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker hati misalnya
kelainan yang menyebabkan penumpukan zat besi dalam hati (hemochromatosis).
Memiliki riwayat keluarga menderita penyakit hati atau diabetes.
Penggunaan aflatoksin- racun yang secara natural diproduksi oleh banyak species jamur- dalam jangka panjang.
penggunaan anabolic steroid dalam waktu lama.
Kebiasaan merokok dan mengkonsumsi air yang mengandung arsenik.
Tipe kanker hati :
1.Kanker hati primer
Cholangio carcinoma, kanker yang berawal dari saluran empedu
Hepatoblastoma, pada awalnya menyerang anak2 atau anak yang mengalami pubertas
Angiosarkoma, kanker yang jarang terjadi, bermula di pembuluh darah yang ada pada hati
Hepatoma (HCC), berawal di hepatosit dan dapat menyebar ke organ lain-laki dua kali lebih rawan dibandingkan dengan
wanita
2.Kanker hati sekunder
Kanker hati sekunder dapat muncul dari kanker hati primer pada organ-organ lain tetapi pada umumnya bersumber dari perut,
pancreas, kolon dan rectum.

D.PATOFISIOLOGI
Kanker disebabkan proliferasi sel yang tidak terkontrol. Kanker akan muncul bila DNA sel normal mengalami kerusakan
sehingga menyebabkan mutasi genetik. Kanker hati adalah tumor maligna, baik dalam jaringan itu sendiri (primary liver
cancer) maupun secondary liver cancer (dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain). Fungsi hati sebagai penyaring racun
dan sampah lainnya dalam darah menjadikannya sangat penting. Akan tetapi, bila kanker menyerang hati, hati tidak
mempunyai kemampuan tersebut.
Proses carsinogenis
Carsinogenesis merupakan tahapan pembentukan sel-sel kanker mulai dari tahapan inisiasi sampai pada progresivitas
pertumbuhan sel kanker. Tahap inisiasi dimulai dengan perubahan genetik sel-sel yang mengakibatkan rusaknya DNA sel
normal. Selanjutnya perubahan genetik dari sel-sel yang ada berlanjut menjadi tahap promotion dimana sel-sel terinisiasi
menjadi agen yang meningkat pertumbuhannya menjadi massa yang lebih besar. Karena itulah fungsi sel-sel atau jaringan
yang diserang menjadi terganggu. Tahapan yang berikutnya adalah tahap transformasi dimana sel-sel yang mengalami
multiplikasi ini bertransformasi menjadi sel malignant dan mengalami perubahan genetik di dalamnya. Tahapan yang terakhir
adalah tahap progression dimana sel malignant yang mulai terbentuk pada fase transformation berubah menjadi malignant
tumor. Malignant tumor adalah sel malignant yang mulai mengganas dan cenderung pada tumor ganas atau kanker.
Metastasis
Sel normal dapat berubah menjadi sel kanker disebabkan karena ekspresi onkogen. Onkogen berasal dari proto onkogen
yang berperan dalam aktivitas pertumbuhan sel eukariotik normal yang bermutasi. Jika onkogen aktif maka sel akan
mengalami perubahan pertumbuhan yang tidak terkendali.
Penyebab kanker hati sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun kanker hati dapat dikenali dari faktor-faktor
yang bisa diidentifikas, penyakit yang pernah atau sedang diderita. Meliputi:
1.Hepatitis B kronis
2.Terinfeksi hepatitis C
3.Cirrhosis pada liver
4.Diabetes mellitus
5.Terinfeksi racun, seperti jamur aflatoxin, vinyl chloride, anabolic steroids, dan arsenik
6.Akibat merokok

Patogenesis molekular HCC


Mekanisme karsinogenis HCC (hepatocellular carcinoma) belum sepenuhnya diketahui secara pasti. Apapun agen
penyebabnya, transformasi maligna hepatosit dapat terjadi melalui peningkatan perputaran (turn over) sel hati yang diinduksi
oleh cedera (injury) dan regenerasi kronik dalam bentuk inflamasi dan kerusakan oksidatif DNA. Hal ini dapat menimbulkan
perubahan genetik seperti perubahan kromosom, aktivasi onkogen seluler atau inaktivasi gen supresor tumor, yang mungkin
bersama dengan kurang baiknya penanganan DNA mismatch, aktivasi telomerase, serta induksi faktor-faktor pertumbuhan
dan angiogenik. Hepatitis virus kronik, alkohol dan penyakit hati metabolik seperti hemokromatosis dan defisiensi antitripsinalfa1, mungkin menjalankan peranannya terutama melalui jalur ini (cedera kronik, regenerasi, dan sirosis). Dilaporkan bahwa
HBV dan mungkin juga HCV dalam keadaan tertentu juga berperan langsung pada patogenesis molekular HCC. Aflatoksin
dapat menginduksi mutasi pada gen supresor tumor p53 dan ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan juga berperan pada
tingkat molekular untuk berlangsungnya proses hepato karsinogenesis.
Hilangnya heterozigositas (LOH= lost of heterozigygosity) juga dihubungkan dengan inaktivasi gen supresor tumor. LOH atau
delesi alelik adalah hilangnya satu salinan (kopi) dari bagian tertentu suatu genom. Pada manusia, LOH dapat terjadi di
banyak bagian kromosom. Infeksi HBV dihubungkan dengan kelainan di kromosom 17 atau pada lokasi di dekat gen p53.
Pada kasus HCC, lokasi insersional non-selektif. Integrasi acap kali menyebabkan terjadinya beberapa perubahan dan
selanjutnya mengakibatkan proses translokasi, duplikasi terbalik, penghapusan (delesi) dan rekombinasi. Semua perubahan
ini dapat berakibat hilangnya gen-gen supresi tumor maupun gen-gen selular penting lainnya. Dengan analisis southern blot,
potongan (sekuen) HBV yang telah terintegrasi ditemukan di dalam jaringan tumor/HCC, tidak ditemukan di luar jaringan
tumor. Produk gen X dari HBV, lazim disebut HBx dapat berfungsi sebagai transaktivator trannskripsional dari berbagai gen
seluler yang berhubungan dengan kontrol pertumbuhan. Ini menimbulkan hipotesis bahwa HBx mungkin terlibat pada
hepatokarsinogenesis oleh HBV.
Di wilayah endemik HBV ditemukan hubungan yang bersifat dose-dependent antara pejanan AFB1 dalam diet dengan mutasi
pada kodon 249 dari p53. Mutasi ini spesifik untuk HCC dan tidak memerlukan integrasi HBV ke dalam DNA tumor. Mutasi
gen p53 terjadi pada sekitar 30% kasus HCC di dunia, dengan frekuensi dan tipe mutasi yang berbeda menurut wilayah
geografik dan etiologi tumornya.
Infeksi kronik HCV dapat berujung pada HCC setelah berlangsung puluhan tahun dan umumnya didahului oleh terjadinya
sirosis. Ini menunjukkan peranan penting dari proses cedera hati kronik diikuti oleh regenerasi dan sirosis pada proses
hepatokarsinogenesis oleh HCV.
Selain yang disebutkan di atas, mekanisme karsinogenesis HCC juga dikaitkan dengan peran dari telomerase, insulin-like
growth endothelial (IGFs) dan insulin receptor substrate (IRS1). Untuk proliferasi HCC yang diduga berperan penting adalah
vascular endothelial growth factor (VEGF) dan basic fibroblast growth factor (bEFG), berkat peran keduanya pada proses
angiogenesis.(Oberfield,1989)

E.GEJALA
Tidak terdapat gejala-gejala awal dari pasien yang didiagnosa mengidap kanker hati, biasanya gejala dari kanker hati dapat
timbul setelah mencapai stadium lanjut dan telah memerlukan penanganan khusus.
Gejala-gejala umum dari kanker hati, yaitu:
a.Nyeri abdominal, merupakan gejala yang paling umum terjadi, biasanya digunakan sebagai penanda tumor telah membesar
dan luas hati yang terkena.
b.Penurunan berat badan dan biasanya disertai dengan demam, merupakan tanda-tanda umum kanker hati pada pasien
dengan sirosis.
c.Tidak enak badan.
d.Kehilangan nafsu makan.
e.Sensory loss
f.Limb weakness
g.Mata dan kulit berwarna kuning, suatu kondisi yang terjadi ketika ada cairan empedu dalam aliran darah yang disebabkan
oleh tidak berfungsinya hati, saluran empedu atau kantung empedu. Hal ini dapat juga menyebabkan air kencing berwarna
gelap dan tanah liat berwarna pergerakan usus.(Anonim,2006)
F.DIAGNOSA
a.Tes darah
Tes darah dilakukan untuk mengetahui informasi-informasi yang berhubungan dengan kanker hati. Diantaranya CEA
(Carcinoembryogenic antigen) atau AFP (alfa-fetoprotein). CEA adalah protein yang biasanya diproduksi dalam janin selama
dua trimester pertama kehamilan. CEA ini juga diproduksi oleh adenokarsinoma dari sistem pencernaan (seperti usus besar
dan rektum, pankreas, lambung), paru-paru, dan payudara. Kadar tertinggi CEA terlihat pada pasien dengan metastasis hati
dari kanker usus besar. Pengukuran CEA selama pengobatan memberikan informasi penting pada efisiensi pengobatan. CEA
paling umum digunakan pada pasien untuk deteksi dini berulang atau metastasis kanker. Kadar normal CEA bagi seorang
non-perokok <~ 3 ng / ml dan 3-5 ng / ml untuk seorang perokok. AFP juga diproduksi pada janin tetapi terus menurun dan
menjadi normal pada usia 6 - 12 bulan. Zat ini diproduksi oleh pasien dengan hepatocellular carcinoma (HCC) atau tumor sel
germinal. Sekitar 70 - 90% dari pasien dengan karsinoma hepatoseluler akan memiliki kadar yang berkisar di atas normal
(lebih besar dari 20 ng / ml) sampai 10.000.000 ng / ml. Seperti CEA, AFP dapat juga digunakan untuk memantau efektivitas
pengobatan kanker pada pasien dengan HCC dan tumor sel germinal.
b.Kolonoskopi dan Laparoskopi
Colonoscopy dapat digunakan jika ada alasan mencurigai adanya kanker kolorektal primer atau jika pasien memiliki kanker
usus besar di masa lalu. Kolonoscope adalah alat yang sangat fleksibel yang dapat digunakan untuk memeriksa seluruh usus
besar. Alat ini dilengkapi dengan kamera kecil yang memberikan cahaya dan memungkinkan dokter untuk melihat kondisi
usus besar pasien. Kadang-kadang, selama proses kolonoskopi, diperoleh jaringan kecil yang dapat digunakan sebagai
sampel untuk analisis laboratorium (disebut biopsi). Laparoskopi adalah pemeriksaan yang hampir sama dengan kolonoskopi
kecuali alat yang digunakan yang disebut laparoskop. Tidak seperti kolonoskopi, sebagian besar pasien yang menjalani
laparoskopi akan memerlukan anestesi umum. Seperti colonoscopy, alat ini juga menggunakan tampilan kamera yang juga
memancarkan cahaya. laparoskop adalah alat berbentuk seperti tabung kecil yang digunakan terutama untuk pemeriksaan
hati dan pankreas. Untuk melakukan pemeriksaan ini, perlu dilakukan pembedahan kecil di perut untuk memasukkan alat ini.
Ahli bedah dapat menggunakan kesempatan ini untuk melakukan biopsy.
c.CT-Scan
CT scan (Computerized Tomography) adalah suatu bentuk sinar-x yang dipancarkan pada pasien untuk menggambarkan
bagian dalam tubuh. CT-scan dihubungkan dengan Komputer pemindai penganalisis data untuk menentukan kondisi jaringan
dan organ tubuh. Seringkali, pewarna kontras disuntikkan ke dalam pembuluh darah untuk meningkatkan kejelasan gambar
daerah-daerah tertentu di hati. Hasil dari CT scan dapat menentukan adanya tumor dan lokasinya. Selain itu, CT-scan juga
dapat mendeteksi kelainan organ atau struktur yang abnormal, saluran yang tersumbat dan jaringan yang abnormal.
d.Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan dilakukan dengan posisi berbaring pada daerah kuadran kanan atas perut pasien, dengan cara menempatkan
satu jari di tulang rusuk dan mengetuk-ngetuk dengan jari lain dimulai pada daerah yang rendah bergerak ke atas perut
pasien.
e.USG
USG menggunakan gelombang suara, bukan x-ray, untuk menghasilkan gambar. USG bersifat sangat sederhana, murah dan
non-invasif, oleh karena itu sering kali digunakan sebagai salah satu dari tes pertama untuk mendeteksi addanya tumor pada
hati. Sayangnya, hasil tes sangat tergantung pada ahli sonogram, kualitas scanner, dan keadaan pasien. Akibatnya, USG
mungkin tidak mendeteksi semua tumor dalam semua kasus. Selain itu, USG adalah modalitas penting yang digunakan pada

saat operasi yang disebut intraoperative USG. Pemeriksaan ini harus dilakukan pada semua pasien yang menjalani prosedur
pembedahan pada hati. USG akan mengidentifikasi semua tumor di dalam hati dan memperjelas hubungan pembuluh darah
di hati. Penyidikan ditempatkan langsung pada hati pada saat operasi. Tes ini memberikan informasi penting yang berguna
dalam strategi pengobatan.
f.MRI
Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah teknologi pendeteksian yang paling canggih tersedia saat ini. MRI umumnya
dianggap lebih aman ketimbang teknik-teknik pendeteksian lain karena non-invasif dan tidak menggunakan X-ray. MRI
menggunakan gelombang radio dan magnet yang kuat untuk menciptakan gambar organ dan jaringan. Tes ini sering
digunakan ketika temuan pada CT scan tidak jelas. Selama proses pendeteksian, MRI membangkitkan magnet atom hidrogen
dalam sel-sel tubuh. Selanjutnya, atom hidrogen ini melepaskan muatan listrik kecil yang diambil oleh sebuah scanner dan
dikumpulkan ke dalam gambar. MRI sangat sensitif terhadap jaringan hati dan mampu menampilkan pembuluh darah hati
tanpa membutuhkan pewarna.(Mauss,2009)

G.STADIUM KANKER HATI


Setiap jenis kanker memiliki kriteria stadium tertentu. Secara umum tahapan yang berbeda dapat diringkas sebagai berikut:
Tahap I: Localized dan direseksi
Tumor ditemukan di salah satu lokasi dari hati dan bisa diobati melalui pembedahan.
Tahap II: Localized dan Mungkin direseksi
Tumor primer ditemukan di salah satu atau lebih lokasi di hati dan dapat diobati melalui pembedahan. Keputusan untuk
mengobati penyakit pembedahan akan bergantung pada pengalaman para dokter.
Tahap III: Advanced
Kanker telah menyebar ke lebih dari satu lokasi di hati dan / atau ke bagian lain dari tubuh. Seringkali, bedah reseksi tidak
memberikan manfaat kepada pasien.
Tahap IV : Penyebaran
Kanker melibatkan beberapa situs di seluruh tubuh. Seringkali, operasi tidak dianjurkan dan kemoterapi merupakan pilihan
terbaik.
H.TATALAKSANA TERAPI
Terapi
Terapi untuk kanker hati disesuaikan dengan stadium kanker hati dan keseluruhan kondisi dari pasien. Pilihan terapi
ditetapkan berdasarkan atas ada tidaknya sirosis, jumlah dan ukuran tumor, serta derajat pemburukan hepatic. Untuk menilai
status klinis, sistem skor Child-pugh menunjukkan estimasi yang akurat mengenai kondisi pasien.
Terapi pada kanker hati meliputi:
a.Kemoterapi sistemik
Kemoterapi sistemik dapat meningkatkan masa survive pasien. Banyak studi melaporkan penggunaan antimetabolit seperti 5fluorouracil (5 FU), 5-fluoro-2-deoxyuridine (FUDR), dan methotrexate mempunyai efikasi sebaik doxorubicin. Doxorubicin
memberikan efek lebih baik bila diberikan secara sistemik. Terapi diberikan melalui infus intra-arteri karena suplay darah pada
sel kanker hati didominasi dari arteri hepatic. 5-FU dan FUDR merupakan terapi utama, dan dapat ditambahkan dengan
methotrexate dan doxorubicin. Infuse ini dimasukkan dalam arteri hepatic secara langsung dengan kateter maupun secara
perkutan melalui arteri brachialis kiri. Kateter ini akan memasukkan agen kemoterapi secara kontinyu dalam periode yang
telah ditentukan. Agen kemoterapi dapat menyebabkan efek samping yang serius, oleh karena itu perlu pertimbangan serius
dalam pemilihan agen kemoterapi maupun cara pemberiannya. Penelitian yang baru menyarankan penggunaan tamoxifen
atau octreotid tapi beberapa studi belum menunjukkan efektivitas yang berarti.

b.Chemoembolization (trans-arterial chemoembolization atau TACE)


Sebagian besar pasien HCC didiagnosis pada stadium menengah-lanjut (intermediate-advance stage) yang tidak ada terapi
standarnya. Berdasarkan meta analisis, pada stadium ini hanya TAE/TACE (transarterial embolization/ chemo embolization)
saja yang menunjukkan penurunan pertumbuhan tumor serta dapat meningkatkan harapan hidup pasien. Prosedur TACE
sama dengan infus intra-arteri kemoterapi tetapi pada TACE ada blokade (embolisasi) pada pembuluh darah kecil dengan
semacam gelfoam atau senyawa logam kecil. TACE dengan frekuensi 3 hingga 4 kali setahun dianjurkan pada pasien yang
fungsi hatinya cukup baik (Child-pugh A) serta tumor multinodular asimptomatik tanpa invasi vascular atau penyebaran
ekstrahepatik, yang tidak dapat diterapi secara radikal. Sebaliknnya, bagi pasien yang dalam keadaan gagal hati (Child-pugh
B-C), serangan iskemik akibat terapi ini dapat mengakibatkan efek samping yang berat. TACE juga tidak disarankan pada
pasien dengan gangguan fungsi ginjal, gangguan koagulasi darah, atau mempunyai riwayat alergi dengan agen kontras.

c.Ablasi tumor perkutan


Radiofrequency ablation (RFA) Therapy

Terapi RFA merupakan pilihan beberapa ahli bedah di Amerika untuk mendestruksi jaringan tumor. RFA dilakukan dengan
prosedur laparoskopi (melalui lubangg kecil di abdomen) atau dengan eksplorasi pembukaan abdomen. Prosedur ini dapat
dilakukan tanpa pembukaan abdomen yaitu dengan menggunakan ultrasound. Dalam RFA, panas dihasilkan dengan
frekuensi yang tinggi melalui arus bolak-balik dari elektroda. Panas ini akan menghancurkan jaringan (coagilative necrosis) di
sekitarnya. Ukuran tumor ideal yang dapat diterapi dengan RFA yaitu kurang dari 3 cm. Tumor yang lebih besar memerlukan
terapi RFA lebih dari satu sesi. Terapi RFA dapat meringankan nyeri yang dialami pasien baik digunakan secara tunggal
maupun kombinasi dengan kemoterapi tetapi tidak menyembuhkan kanker. Durasi respon RFA dilaporkan 6-8 bulan.
Percutaneous Ethanol Injection (PEI)
Pada teknik ini, alkohol murni (100%) diinjeksikan ke dalam tumor melalui jarum yang sangat kecil dengan bantuan ultrasound
atau CT visual. Alkohol akan menginduksi destruksi dengan cara menarik air keluar dari sel tumor (dehirasi) sehingga akan
terjadi denaturasi struktur protein seluler (nekrosis). PEI dilakukan sebanyak 5-6 sesi untuk mendestruksi secara lengkap
kanker. Pasien yang ideal melakukan PEI yaitu pasien yang memiliki tumor kanker hati kurang dari 3, dimana masing-masing
tumor memenuhi persyaratan:
Batas-batas tumor sudah jelas
Diameter kurang dari 3 cm
Dikelilingi jaringan fibrosa
Tidak dekat pemukaan hati
Sebagai tambahan, pasien yang dapat melakukan PEI tidak boleh mempunyai tanda-tanda gagal hati kronik seperti ascites
atau jaundice. Efek samping PEI antara lain nyeri dan demam karena alkohol masuk ke cavum abdomen.

d.Protom Beam Therapy


Teknik ini dilakukan dengan cara memberikan radiasi dosis tinggi pada area tumor yang telah jelas. Terapi ini memberikan
hasil yang baik pada tumor lain tetapi belum ada data yang cukup mengenai efikasinya pada kanker hati. Pasien yang ideal
untuk terapi ini yaitu pasien yang mempunyai lesi tersendiri kurang dari 5 cm. Terapi ini dilakukan selama 15 hari,oleh karena
itu pasien harus mempunyai kondisi yang fit selama menjalani terapi.

e.Reseksi hepatic
Tujuan terapi reseksi hepatic yaitu menghilangkan keseluruhan tumor dari jaringan liver. Terapi ini dapat dilakukan pada
pasien yang mempunyai tumor kurang 3 dan fungsi liver yang masih baik, idealnya tanpa adanya sirosis karena dapat
memicu timbulnya gagal hati dan menurunkan angka harapan hidup. Oleh karena itu diperlukan kriteria seleksi pada pasien
dengan sirosis. Parameter yang dapat digunakan untuk seleksi adalah skor Child-pugh dan derajat hipertensi portal atau
kadar bilirubin serum dan derajat hipertensi portal saja. Subjek dengan bilirubin normal tanpa hipertensi portal yang
bermakna, harapan hidup 5 tahunnya dapat mencapai 70%. Kontraindikasi tindakan ini adalah adanya metastasis
ekstrahepatik, HCC difus atau multifocal, sirosis stadium lanjut dan penyakit penyerta yang dapat mempengaruhi ketahanan
pasien menjalani operasi.

f.Transplantasi hati
Transplantasi hati dilakukan pada pasien dengan stadium akhir penyakit hati seperti hepatitis B dan C kronik, alcoholic
cirrhosis, primary billiary cirrhosis, dan sclerosing cholangitis. Transplantasi hati merupakan pilihan terbaik untuk pasien
dengan ukuran tumor kurang dari 5 cm yang mempunyai tanda-tanda gagal hati.
Pencegahan
Pencegahan HCC yang paling penting yaitu pencegahan terjadinya sirosis dan mencegah progresivitas hepatitis B dan C.
Profilaksis pada pasien dengan Hepatitis B dan C kronik antara lain dengan pemberian antiviral. Deteksi dini dan phlebotomy
pada pasien hemochromatosis sebelum berkembang menjadi sirosis dapat menurunkan frekuensi terjadinya HCC. Konsumsi
kopi 2 gelas atau lebih perhari dapat menurunkan resiko terjadinya kanker hati 40-50% pada pasien hepatis kronik.

Prognosis
Sebagian besar kasus HCC berprognosis buruk karena tumor yang besar/ ganda dan penyakit hati stadium lanjut serta
ketiadaan atau ketidakmampuan penerapan terapi yang berpotensi kuratif (reseksi, transplantasi, dan PEI). Stadium tumor,
kondisi umum kesehatan, fungsi hati, dan intervensi spesifik mempengaruhi prognosis pasien HCC.