Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA PASIEN DENGAN


DIABETES MELLITUS (DM)
MAKALAH
Makalah Ini dibuat untuk Memenuhi Salah Tugas dalam Gerontik

DISUSUN OLEH:
MUHAMMAD ALI FAUZI
2013.03.018

AKADEMI KEPERAWATAN WILLIAM BOOTH


SURABAYA
SEPTEMBER, 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena melalui rahmat dan
hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Asuhan
Keperawatan Gerontik pada Pasien dengan Diabetes Mellitus yang dibuat
sebagai tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik

Dalam penulisan makalah ini, kami tidak terlepas dari bimbingan dan
bantuan dari segala pihak oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada
ibu Ethyca Sari Laua S.Kep, Ns, M.Kes selaku dosen.
Tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada staf dan karyawan
di Akademi Keperawatan William Booth Surabaya. Para staf perpustakaan yang
secara tidak langsung telah membantu kami dalam penyediaan sarana yang kami
butuhkan.
Akhirnya, kami mengharapkan kritik dan saran pada makalah ini. Hal itu
tentunya sangat berguna untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat.

Surabaya , 09 September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman judul....................................................................................
Kata pengantar...................................................................................
Daftar isi............................................................................................
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar belakang.............................................................................
1.2 Rumusan masalah........................................................................
1.3 Tujuan..........................................................................................
Bab 2 Landasan Teori
2.1 Pengertian Diabetes Mellitus .......................
2.2 Etiologi Diabetes Mellitus ...........................
2.3 Patofisiologi dan WOC Diabetes Mellitus .......
2.4 Manifestasi Klinik Diabetes Mellitus ..
2.5 Pemeriksaan Diagnostik Diabetes Mellitus ... .
2.6 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus.......
2.7 Komplikasi Diabetes Mellitus...............
2.8 Asuhan keperawatan secara teori..................................................
Bab 3 Tinjauan Kasus
2

i
ii
iii
1
2
2
1
2
4
6
7
7
14
16

3.1 Pengkajian Keperawatan .............


3.2 Analisa Data..........................
3.3 Diagnosa Keperawatan .......
3.4 Rencana Asuhan Keperawatan ...................................
3.5 Implementasi ................................................................
3.6.Evaluasi.....................................
Bab 4 Penutu
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran...
Daftar pustaka

22
23
24
24
27
31
36
36

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner
dan Suddarth, 2002).
Menurut rusari (2008), etiologi diabetes mellitus dibagi menjadi 2 bagian,
antara

lain diabetes tipe 1 disebabkan oleh faktor genetik, imunologi,

lingkungan), diabetes tipe 2 disebabkan oleh usia (resisten insulin cenderung


meningkat pada usia di atas 65 tahun), obesitas, riwayat keluarga.
Berdasarkan data IDF pada tahun 2013, Indonesia menduduki peringkat
ke-7 dunia dari 10 besar negara dengan diabetes mellitus tertinggi. Populasi
penderita diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 5,8% atau
sekitar 8,5 juta penduduk dengan rentang usia 20-79 tahun. Proporsi jumlah
penderita diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2013 masih didominasi oleh
kaum perempuan dengan total sebesar 4,9 juta penderita atau lebih besar daripada
kaum laki-laki yakni sebesar 3,6 juta penderita. Diperkirakan pada tahun 2035
dengan asumsi tanpa adanya perbaikan, angka diabetes mellitus di Indonesia akan
meningkat sebesar 165% pada masing-masing gender. Hal ini sangat
memprihatinkan karena diabetes mellitus dapat meningkatkan resiko penyakit
kardiovaskuler yang akan menyebabkan kematian (WHO 2013)
Pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin
karena sel-sel beta pangkreas telah dihancurkan oleh proses autoimun.
Hiperglikemi puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati.
Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun
tetap berada dalam darah dan menimbulkan heperglikemia postprandial ( sesudah
makan).
Pada diabetes tipe 2 terdapat dua masalah utama yang berhubungan
dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya
insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Akibat terikatnya
insulin dengan reseptor tesebut, terjadi suatu rangkaian reksi dalam metabolisme
glukosa dalam sel. Resistensi insulin pada DM tipe II disertai dengan penurunan

reaksi intrasel. Dengan demikian insulin tidak efektif untuk menstimulasi glukosa
oleh jaringan.
Mengelola penyakit diabetes mellitus sebenarnya mudah asal penderita
bisa mendisiplinkan diri dan melakukan olahraga secara teratur, menuruti saran
dokter, dan tidak mudah patah semangat. (naturindonesia.com). Adapula tindakan
keperawatan yang harus dilakukan, seperti melakukan penyuluhan, merencanakan
pola makan.
1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Bagaimana karakteristik pada pasien dengan Diabetes Mellitus?
1.2.2 Diagnosa keperawatan apa saja yang ditemukan pada pasien dengan
1.2.3

Diabetes Mellitus?
Intervensi apa saja yang dapat dilakukan pada pasien dengan Diabetes

Mellitus?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui karakteristik pada pasien dengan Diabetes Mellitus
1.3.2 Mengetahui diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien dengan
1.3.3

Diabetes Mellitus
Mengetahui intervensi yang dapat dilakukan pada pasien dengan Diabetes
Mellitus

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner
dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa)
darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).
2.2 Etiologi
Menurut rusari (2008), etiologi diabetes mellitus dibagi menjadi 2 bagian,
antara lain:
a. Diabetes tipe I
1) Faktor-faktor Genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri, tetapi mewarisisuatu
predisposisiatau kecenderungan genetic ke arahterjadinya diabetes tipe I.
2) Faktor-faktor Imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Respon ini
merupakan respon abnormal dimana antibodi tertarikterarah pada jaringan
normaltubuh dengan cara bereksi terhadap jaringan tersebutyang dianggapnya
seolah-olah sebagai jaringan asing.
3) Faktor-faktor lingkungan
Penyelidikan juga sedang dilaukan terhadap kemungkinan faktor-faktor eksternal
yang dapat memicu dekstruksi sel beta.
b. Diabetes tipe II
1) Usia (resisten insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
2) Obesitas
3) Riwayat keluarga

2.3 Patofisiologi dan WOC


Menurut Brunner dan Suddarth (2002), patofisiologi diabetes mellitus
sebagai berikut:
a. Diabetes Mellitus Tipe I :
Pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin
karena sel-sel beta pangkreas telah dihancurkan oleh proses autoimun.
Hiperglikemi puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati.
Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun
3

tetap berada dalam darah dan menimbulkan heperglikemia postprandial ( sesudah


makan)
Jika konsentrasi glukosa darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap
kembali semua glukosa yang tersaring keluar , akibatnya glukosa tersebut m,uncul
dalam urin (glukosuria).Ketika glukosa dieskresikan kedalam urin, eskresi ini
akan disertai pengeluaran cairan yang berlebihan (diuresis osmotic).Sebagai
akibat dari kehilangan cairan dan elektrolit, pasien akan mengalami peningkatan
dalam berkemih, (poliuria dan rasa haus polidipsia)
Defisiensi insulin mengganggu metabolisme protein dan lemak dan
menyebabkan penurunan berat badan, peningkatan selera makan (polifagia) akibat
menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan.
Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan
glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari
asam-asam amino serta substansi lain). Namun pada penderita defisiensi insulin,
proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut akan menimbulkan
hiperglikemia. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan
peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan
lemak. Badan keton merupakan asam yang mengganggu keseimbangan asam basa
tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis diabetic yang diakibatkannya
dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah,
hiperventikasi, nafas berbau aseto, dan bila tidak ditangani akan menimbulkan
perubahan kesadaran, koma, bahkan kematian. Pemberian insulin bersama dengan
cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat dan
mengatasi gejala hiperglikemia serta ketoasidosis. Diet dan latihan disertai
pemantauan glukosa darah yang sering merupakan komponen terapi yang penting.
b. Diabetes Mellitus tipe II
Pada tipe ini terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan
insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin
akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Akibat terikatnya insulin
dengan reseptor tesebut, terjadi suatu rangkaian reksi dalam metabolisme glukosa
dalam sel. Resistensi insulin pada DM tipe II disertai dengan penurunan reaksi
intrasel. Dengan demikian insulin tidak efektif untuk menstimulasi glukosa oleh
jaringan.

Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa


dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabetic tipe
II, namun masih ada insulin dengan jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah
pemecahan lemak dan produksi badan keton. Karena itu, ketoasidosis diabetic
tidak terjadi pada diabetes tipe II.
Diabetes tipe II sering terjadi pada penderita pada usia lebih dari 30 tahun
dan obesitas. Akibat intoleransi glukosa yang lambat (bertahun-tahun) dan
progresif maka awitan DM tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Gejalanya
bersifat ringan dan mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada
kulit yang tidak sembuh-sembuh, infeksi vagina atau pandangan yang kabur (jika
kadar glukosa sangat tinggi).

2.4 Manifestassi Klinis

Gejala diabetes bermacam-macam. Di antaranya:

Sering merasa haus.


Sering kelelahan.
Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
Berkurangnya massa otot (pada penderita diabetes tipe 1).
Turunnya berat badan (pada penderita diabetes tipe 1).

bervariasi dan ada beberapa yang sama antara gejala diabetes tipe 1 dan diabetes
tipe 2. Di antaranya:

Sering buang air kecil, terutama di malam hari.


Sering merasa haus dan sering kelelahan.
Berkurangnya massa otot.
Turunnya berat badan.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik


Menurut Rusari (2008), pemeriksaan penunjang untuk diabetes mellitus,
antara lain:
a. Glukosa darah sewaktu
b. Kadar glukosa darah puasa
c. Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM DM
Bukan DM
Kadar glukosa darah sewaktu < 100
<80
Plasma vena
<110
Darah kapiler
<90

Belum pasti DM
100-200
80-200
110-120
90-110

DM
>200
>200
>126
>110

Kadar glukosa darah puasa


Plasma vena
Darah kapiler
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan :
a. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L
b. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L
c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl.

2.6 Penatalaksanaan
Mengelola penyakit diabetes mellitus sebenarnya mudah asal penderita bisa
mendisiplinkan diri dan melakukan olahraga secara teratur, menuruti saran dokter,
dan tidak mudah patah semangat. (naturindonesia.com)
1. Penyuluhan (Edukasi)
Edukasi merupakan bagian integral asuhan perawatan diabetes. Edukasi diabetes
adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan dalam
pengelolaan. (Syahbudin(2002), dalam Suyono, hal 5)
a. Tujuan Penyuluhan
1) Meningkatkan pengetahuan
2) Mengubah sikap
3) Mengubah perilaku serta meningkatkan kepatuhan
4) Meningkatkan kualitas hidup (Basuki, 2009, dalam Soegondo, hal 138)
b. Sasaran Penyuluhan
Sasaran pengelolaan diabetes diberikan kepada setiap pasien diabetes. Di
samping kepada pasien diabetes, edukasi juga diberikan kepada anggota
keluarganya, kelompok masyarakat beresiko tinggi dan pihak-pihak perencana
kebijakan kesehatan. (Syahbudin(2002), dalam Suyono, hal 5)
c. Metode Penyuluhan
Penyuluhan diabetes bagi penyandang diabetes dan keluarganya dapat
dilakukan dengan tatap muka dan didukung dengan penyediaan bahan-bahan
edukasi. Tatap muka dapat dilaksanakan secara perseorangan atau secara
berkelompok. Penyuluhan bagi masyarakat atau komunitas yang lebih luas dapat
dilakukan melalui media massa, sedangkan untuk komunitas yang lebih kecil
misalnya di lingkup rumah sakit, puskesmas, atau dokter praktek swasta, dapat
dibuat brosur atau liflet yang disediakan untuk keluarga penyandang diabetes,
masyarakat pengunjung fasilitas kesehatan dan masyarakat pada umumnya.
(Basuki(2009),dalam Soegondo, hal 140)
d. Konsep dasar melakukan penyuluhan
Selain harus menguasai materi diabetes, seorang edukator juga dituntut untuk
menguasai ilmu komunikasi khususnya komunikasi interpersonal yamg banyak
dipakai dalam melakukan penyuluhan. Dasar untuk melakukan penyuluhan
kesehatan:
1) Komunikasi
Komunikasi merupkan inti dari pikiran serta hubungan antara manusia. Didalam
komunikasi interpersonal dikenal berbagai alat komunikasi, yakni :
a) Bahasa
b) Pengamatan dan persepsi
c) Tingkah laku non-verbal
7

d) Mendengar aktif
2) Motivasi
Motivasi berfungsi untuk mengarahkan, mendorong dan menggerakkan seseorang
atau kelompok untuk melakukan sesuatu. Hal tersebut ditempuh melalui cara :
a)
Mengusahakan terciptanya suatu keadaan yang dapat menumbuhkan
dorongan batin seseorang agar tergerak hatinya untuk bertingkah laku.
b) Memberikan pengertian kepada individu atau kelompok agar mereka
terdorong

untuk

melakukan

sesuatu

setelah

ia

mengerti.

(Basuki(2009),dalam Soegondo, hal 140)


e. Tahap Edukasi
Penyuluhan merupakan suatu proses keperawatan yang memerlukan waktu tidak
sebentar, waktu yang dibutuhkan cukup lama. Sehingga harus dilakukan secara
bertahap dan memerlukan berberapa pertemuan, sebagai berikut:
1) Pertemuan 1
Memberikan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang:
a) Pengertian DM
b) Etiologi/ Penyebab DM
c) Komplikasi DM
d) Diet DM
e) Pencegahan DM
f) Penatalaksanaan DM
2) Pertemuan 2
Mengubah sikap, antara lain:
a) Sikap terhadap diet
b) Jenis pengobatan
c) Olahraga
3) Pertemuan 3
Mengubah perilaku serta meningkatkan kepatuhan. Untuk terwujudnya perilaku
agar menjadi suatu perbuatan nyata, diperlukan faktor pendukung atau kondisi
yang memungkinkan. Sebagai contoh: Seorang penyandang DM yang telah
mempunyai pengetahuan dan perilaku yang baik terhadap keteraturan olahraga,
mungkin tidak dapat menjalankan perilaku tersebut karena keterbatasan waktu.
4) Pertemuan 4
Meningkatkan kualitas hidup. Didalam pertemuan ini dapat di bahas berbagai
aspek kehidupan penyandang DM yang berhubungan dengan DM, baik yang
diungkapkan sendiri oleh penyandang DM atau dimulai dari edukator.
(Basuki(2009),dalam Soegondo)
2. Perencanaan Makan (diet)
Terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan penatalaksanaan diabetes.
Perencanaan makan hendaknya dengan kandungan zat gizi yang cukup dan
disertai pengurangan total lemak terutama lemak jenuh. Pengetahuan porsi
8

makanan sedemikian rupa sehingga asupan zat gizi tersebar sepanjang hari.
(usu.ac.id)
Kunci keberhasilan terapi gizi medis adalah keterlibatan tim dalam 4 hal :
a. assesment atau pengkajian parameter metabolik individu dan gaya hidup
b. Mendorong pasien berparisipasi pada penentuan tujuan tujuan yang dicapai
c. Memilih intervensi gizi yang memadai
d. Mengevaluasi efektifnya perencanaan makan orang dengan diabetes.
(Sukardji(2009), dalam Soegondo, hal 47)
a.
Tujuan diet
1) Membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan dan olahraga untuk
mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik.
2) Mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal dengan
menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin dengan obat penurun glukosa
oral dan aktivitas fisik.
3)
Mencapai dan mempertahankan kadar lipida serum normal.
4)
Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai berat badan
normal.
5) Menghindari atau menangani komplikasi akut pasien yang menggunakan
insulin seperti hipoglikemia, komplikasi jangka pendek, dan jangka lama serta
masalah yang berhubungan dengan latihan jasmani.
6)
Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan malalui gizi yang
optimal.
(Almatsier, 2006)
b.
Prinsip Perencanaan Makan bagi Penyandang DM
1) Kebutuhan Kalori
Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan Berat Badan ideal.
Komposisi energi:
a) Karbohidrat: 45-65%
b) Protein: 10-20%
c) Lemak: 20-25%
Makanan dibagi 3 porsi makanan utama: (pagi 20%), siang (30%), sore (25%) dan
2 kali makanan selingan (10-15%).
Tabel Kebutuhan Kalori Penyandang Diabetes
Kalori/kg BB ideal
Status gizi
Kerja santai
Sedang
Berat
Berat
25
30
35
Normal
30
35
40
Kurus
35
40
40-50
Perhitungan BB idaman dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai
berikut:
BB idaman = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg

Bagi pria dengan tinggi badan dibawah 160 cm dan wanita dibawah 150 cm,
rumus modifikasi menjadi :
BB ideal = (TB dalam cm - 100) x 1 kg
Sedangkan menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu
Ket : BB= berat badan (Kg)
TB= tinggi badan (m2)
adalah sebagai berikut :
Berat normal : IMT
= 18,5 22,9 kg/m2
Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori:
a) Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil dari pada pria, untuk ini dapat dipakai
angka 25 kal/kg BB untuk wanita dan angka 30 kal/kg BB untuk pria.
b) Umur
(1) Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi dari pada
orang dewasa, dalam tahunn pertama bisa mencapai 112 kg/kg BB.
(2) Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada
anak-anak lebih dari pada 1 tahun mendapat tambahan 100 kalori untuk tiap
tahunnya.
(3) Penurunan kebutuhan kalori diatas 40 tahun harus dikurangi 5% untuk tiap
dekade antara 40 dan 59 tahun, sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%,
diatas 70 tahun dikurangi 20%.
c) Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
Jenis aktivitas fisik yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda pula. Jenis
aktivitas dikelompokkan sebagai berikut :
(1) Keadaan istirahat: kebutuhan kalori basal ditambah 10%.
(2) Ringan: pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum, ibu rumah tangga,
dan lain0lain kebutuhan harus ditambah 20% dari kebutuhan basal.
(3) Sedang: pegawai industri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak
perang, kebutuhan dinaikkan menjadi 30% dari basal.
(4) Berat : petani, buruh, militer dalam keadaan latihan, penari, atlet, kebutuhan
ditambah 50% dari basal.
(5) Sangat berat: tukang becak, tukang gali, pandai besi, kebutuhan harus
ditambah 50% dari basal.
d) Kehamilan/Laktasi
Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/hari dan pada
trimester II dan III 350 kalori/hari. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan
sebanyak 550 kalori/hari.
e) Adanya Komplikasi
Infeksi, trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu memerlukan
tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap kenaikan 1 derajat celcius.
10

f) Berat badan
Bila kegemukan/terlalu kurus, dikurangi/ditambah sekitar 20-30% bergantung
kepada tingkat kegemukan/kekurusannya. (Sukardji(2009), dalam Soegondo, hal
54)
2) Kebutuhan zat gizi
a) Protein
Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia tahun 2006, kebutuhan
protein untuk penyandang diabetes 10-20% energi. Perlu penurunan asupan
protein menjadi 0,8 g/kgBB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dengan
timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologik
tinggi.
b) Total lemak
Asupan lemak dianjurkan <7% energi dari lemak jenuh dan tidak lebih dari 10%
energi dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya dari lemak tidak
jenuh tunggal. Anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20-25% energi.
c) Lemak dan kolesterol
Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol adalah untuk
menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu <7% asupan energi
sehari seharusnya dari lemak jenuh dan asupan kolesterol makanan hendaknya
dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari.
d) Karbohidrat dan pemanis
Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah
45-65%.
(1) Sukrosa
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari
perencanaan makan tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu
diabetes tipe 1 dan 2.
(2) Pemanis
Fruktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil daripada sukrosa dan kebanyakan
karbohidrat jenis tepung-tepungan.
e) Serat
Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang
yang tidak diabetes yaitu dianjurkan mengkonsumsi 20-35 g serat dari berbagai
sumber bahan makanan.
f) Natrium
Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu
tidak lebih dari 3000 mg, sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai
sedang, dianjurkan 2400 mg natrium perhari.
g) Alkohol
11

Dalam keadaan normal, kadar glukosa darah tidak terpengaruh oleh penggunaan
alkohol dalam jumlah sedang apabila diabetes terkendali dengan baik.
h) Mikronutrien : vitamin dan mineral
Apabila asupan gizi cukup, biasanya tidak perlu menambah suplementasi vitamin
dan mineral. (Sukardji(2009), dalam Soegondo, hal 50)
2.7 Komplikasi
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada pasien diabetes melitus akan
menyebabkan berbagai komplikasi, baik yang bersifat akut maupun yang kronik.
Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para pasien untuk memantau kadar
glukosa darahnya secara rutin.
Komplikasi akut
Keadaan yang termasuk dalam komplikasi akut DM adalah ketoasidosis diabetik
(KAD) dan Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH). Pada dua keadaan ini kadar
glukosa darah sangat tinggi (pada KAD 300-600 mg/dL, pada SHH 600-1200
mg/dL), dan pasien biasanya tidak sadarkan diri. Karena angka kematiannya
tinggi, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan yang
memadai.
Keadaan hipoglikemia juga termasuk dalam komplikasi akut DM, di mana terjadi
penurunan kadar glukosa darah sampai < 60 mg/dL. Pasien DM yang tidak
sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Hal-hal yang
dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia misalnya pasien meminum obat
terlalu banyak (paling sering golongan sulfonilurea) atau menyuntik insulin terlalu
banyak, atau pasien tidak makan setelah minum obat atau menyuntik insulin.
Gejala hipoglikemia antara lain banyak berkeringat, berdebar-debar, gemetar, rasa
lapar, pusing, gelisah, dan jika berat, dapat hilang kesadaran sampai koma. Jika
pasien sadar, dapat segera diberikan minuman manis yang mengandung glukosa.
Jika keadaan pasien tidak membaik atau pasien tidak sadarkan diri harus segera
dibawa ke rumah sakit untuk penanganan dan pemantauan selanjutnya.

12

Komplikasi kronik
Penyakit diabetes melitus yang tidak terkontrol dalam waktu lama akan
menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan saraf. Pembuluh darah yang
dapat mengalami kerusakan dibagi menjadi dua jenis, yakni pembuluh darah besar
dan kecil.
Yang termasuk dalam pembuluh darah besar antara lain:

Pembuluh darah jantung, yang jika rusak akan menyebabkan penyakit jantung

koroner dan serangan jantung mendadak


Pembuluh darah tepi, terutama pada tungkai, yang jika rusak akan menyebabkan

luka iskemik pada kaki


Pembuluh darah otak, yang jika rusak akan dapat menyebabkan stroke
Kerusakan pembuluh darah kecil (mikroangiopati) misalnya mengenai pembuluh
darah retina dan dapat menyebabkan kebutaan. Selain itu, dapat terjadi kerusakan
pada pembuluh darah ginjal yang akan menyebabkan nefropati diabetikum. Untuk
lebih jelasnya baca pada artikel gagal ginjal.
Saraf yang paling sering rusak adalah saraf perifer, yang menyebabkan perasaan
kebas atau baal pada ujung-ujung jari. Karena rasa kebas, terutama pada kakinya,
maka pasien DM sering kali tidak menyadari adanya luka pada kaki, sehingga
meningkatkan risiko menjadi luka yang lebih dalam (ulkus kaki) dan perlunya
melakukan tindakan amputasi. Selain kebas, pasien mungkin juga mengalami kaki
terasa terbakar dan bergetar sendiri, lebih terasa sakit di malam hari serta
kelemahan pada tangan dan kaki. Pada pasien yang mengalami kerusakan saraf
perifer, maka harus diajarkan mengenai perawatan kaki yang memadai sehingga
mengurangi risiko luka dan amputasi.

2.8 Asuhan keperawatan secara teori


A. Pengkajian Gordon
- Riwayat kesehatan sekarang :
Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan nyeri, kesemutan pada ekstremitas
bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah, dan bola mata cekung, Sakit

13

kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi,


letargi, koma dan bingung.
- Riwayat kesehatan lalu
Biasanya klien DM mempunyai Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti
Infart miokard
- Riwayat kesehatan keluarga :
Biasanya Ada riwayat anggota keluarga yang menderita DM
1. Pola persepsi
Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana
hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gangren kaki diabetuk
sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan
untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, lebih dari 6
juta dari penderita DM tidak menyadari akan terjadinya resiko Kaki diabetik
bahkan mereka takut akan terjadinya amputasi (Debra Clair, journal februari
2011)
2. Pola nutrisi metabolik
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar
gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering
kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah.
Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan
metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan penderita. Nausea,
vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual/muntah.
3. Pola eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis

osmotik

yang

menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa pada urine
( glukosuria ). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.
4. Pola aktivitas dan latihan
Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur,
tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan bahkan sampai terjadi
koma. Adanya luka gangren dan kelemahan otot otot pada tungkai bawah
menyebabkan penderita tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara
maksimal, penderita mudah mengalami kelelahan.
5. Pola tidur dan istirahat
Istirahat tidak efektif Adanya poliuri, nyeri pada kaki yang luka , sehingga klien
mengalami kesulitan tidur.
6. Kognitif persepsi

14

Pasien dengan gangren cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka
sehingga tidak peka terhadap adanya nyeri. Pengecapan mengalami penurunan,
gangguan penglihatan .
7. Persepsi dan konsep diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita
mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang sukar sembuh, lamanya
perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien
mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga ( self esteem ).
8. Peran hubungan
Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita malu dan
menarik diri dari pergaulan.
9. Seksualitas
Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga
menyebabkan gangguan potensi sek, gangguan kualitas maupun ereksi, serta
memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme. Adanya peradangan pada
daerah vagina, serta orgasme menurun dan terjadi impoten pada pria. risiko lebih
tinggi terkena kanker prostat berhubungan dengan nefropati.(Chin-Hsiao Tseng on
journal, Maret 2011)
10. Koping toleransi
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak
berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif
berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain lain, dapat menyebabkan
penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif /
adaptif.
11. Nilai keprercayaan
Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta luka pada
kaki

tidak

menghambat

penderita

dalam

melaksanakan

ibadah

tetapi

mempengaruhi pola ibadah penderita


B. Pemeriksaan Diagnostik
Gula darah meningkat biasanya > 200 mg/dl
Aseton plasma (aseton) : positif secara mencolok
Osmolaritas serum : meningkat tapi < 330 m osm/lt Gas darah arteri pH rendah
dan penurunan HCO3 (asidosis metabolik) Alkalosis respiratorik Trombosit
darah

mungkin

meningkat

(dehidrasi),

leukositosis,

hemokonsentrasi,

menunjukkan respon terhadap stress/infeksi. Ureum/kreatinin : mungkin

15

meningkat/normal lochidrasi/penurunan fungsi ginjal. Amilase darah : mungkin


meningkat > pankacatitis akut.
Insulin darah : mungkin menurun sampai tidak ada (pada tipe I), normal sampai
meningkat pada tipe II yang mengindikasikan insufisiensi insulin.
Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat
meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
Urine : gula dan aseton positif, BJ dan osmolaritas mungkin meningkat.
Kultur : kemungkinan infeksi pada luka.
C. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan
Diagnosa :
1. Gangguan integritas kulit
2. Intoleransi aktivitas
3. Resiko Injury
4. Resiko gangguan nutrisi
5. Kekurangan volume cairan
NOC :
Diagnosa 1(Gangguan Integritas Kulit )
Definisi : kerusakan jaringan epidermis dan dermis
Data pendukung :
- Kerusakan lapisan kulit
- Gangguan permukaan kulit
- Invasi struktur tubuh
Outcome
Kontrol resiko proses infeksi
Definisi : tindakan individu dalam mencegah, mengurangi dan menurunkan
ancaman infeksi.
Kriteria :
1. Mengidentifikasi tanda dan gejala yang mengindikasikan terjadinya infeksi.
(Dalam rentang nilai 1 5)
2. Memonitor kebiasaan individu yang terkait faktor resiko infeksi
3. Strategi pengawasan infeksi yang efektif dapat dilakukan
4. Mengetahui akibat jika terjadi infeksi
5. Resiko infeksi dalam situasi sehari hari teridentifikasi
NIC :
1. Identifikasi faktor ekternal dan internal yang membuat pasien termotivasi untuk
menjaga kesehatan nya
2. Ajarkan klien cara yang dapat digunakan untuk menghindari kebiasaan yang
tidak sehat
3. Monitor bagian kerusakan terhadap adanya edema
4. Instruksikan klien pentingnya inspeksi daerah luka
5. Batasi pengunjung
6. Diskusikan pad pasien untuk rutinitas perawatan kaki
7. Tempatkan klien diruang khusus jika perlu
8. Perhatikan peningkatan aktivitas dan latihan
16

9. Perhatikan istirahat klien


10. Ajarkan klien dan keluarga bagaimana menghindari infeksi
11. Informasikan kepada keluarga tanda dan gejala infeksi
12. Instruksikan klien untuk memakan antibiotik yg telah ditentukan
13. Lakukan tindakan asepsis
Diagnosa 2 ( Intoleransi aktivitas )
Definisi : ketidak mampuan beraktivitas
Data dat pendukung :
- Tekanan darah yang tidak normal ketika beraktivitas
- Immobility
- Melaporkan adanya kelemahan
- Melaporkan adanya kelelahan
NOC :
Outcome : perawatan diri : ADL
Kriteria:
1. Kebersihan mulut
2. Makan
3. Pakaian
4. Tempat tidur
5. Posisi tubuh
6. Berjalan
NIC :
1. Mempertimbangkan kebudayaan klien ketika melakukan perwatan
2. Mempertimbangkan usia klien
3. Monitor kemampuan klien untuk perawatn diri mandiri
4. Monitor kebutuhan klien terhadap kebersihan diri, pakaian,dan makan
5. Beri dukungan hingga klien mampu melakukan aktivitas sendiri
6. Dorong pasien untuk menunjukkan aktivitas keseharian yg normal
7. Kaji kebutuhan yang memerlukan bantuan
8. Bina aktivitas keseharian klien sehari hari
Diagnosa 3 (Resiko Injury )
Definisi : resiko injury sebagai kondisi linngkungan dengan individu
Data data pendukung
- Biologi seperti mikrooeganisme
- Kimiawi seperti obat obatan
- Penurunan fungsi biokimiawi
- Pshysikal seperti lingkungan
- Penurunan fungsi integrasi
Outcome : tingkat glukosa darah
Kriteria :
1. Keton urin
2. Glukosa urin
NIC :
1. Monitor glukosa darah
2. Monitor keton urin sebagai indikasi
3. Monitor status cairan

17

4. Bantu pemasukan intake cairan


5. Identifikasi kemungkinan penyebab hyperglikemia
6. Instruksiakn pemeriksaaan keton urin, jika diperlukan
7. Antisipasi situasi peningkatan kebutuhan insulin
8. Kaji pasien terhadap tingkat kenaikan glukosa darah
9. Membatasi aktivitas klien ketika glukosa darah >250 mg/dl, terutama ketika
ditemukan keton urin

18

BAB 3
TINJAUAN KASUS
3.1 PENGKAJIAN KEPERAWATAN
KASUS DIABETES PADA IBU D
Ibu D ( 45 thn ) masuk rumah sakit dengan luka diabetikum pada kaki
yang lama tidak sembuh, bahkan lukanya sangat dalam sampai kelihatan bentuk
tulangnya. Klien mengatakan merasa lemas dan sering sekali minum, dan
inginnya makan terus terus. Dari hasil pengujian sementara didapatkan : kondisi
umum klien : lemah, TTV TD : 160/90 mmhg HR: 90x/ menit , suhu : 37 C, RR:
18x/ menit , sudah terjadi neuropati ekstremitas, kakki teraba dingin dan terlihat
pucat, gula dara sementara: 450/dl, ada riwayat DM pada anggota keluarga
( bapaknya meninggal karena komplikasi ) . sejak kecilibu D mengalami gizi lebih
( obesitas ) , BB sekarang : 42 kg , TB : 160 cm, sebelum sakit-sakitan BB nya
perna mencapai 84 kg.
A. DATA FOKUS
DS :
1.
2.
3.
4.

Klien mengatakanmerasa lemas


Klien mengatakan sering kencil, sering minum, dan inginya makan terus
Neuropati ekstremitas
Luka ulkus diabetikum pada kaki yang tidak perna sembuh bahkan lukanya

sangat dalam sampai kelihatan bentuk tulangnya.


5. Kaki teraba dingin dan terlihat pucat
6. Mengalami obesitas sejak kecil
DO :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

TD : 160/90 mmHg
Suhu : 37 C
RR : 18x/ menit
HR : 90x/ menit
Gula dara sementara / sewaktu : 450/dl
BB sekarang : 42 kg
BB dahulu : 84 kg
TB : 160 cm
Diagnosa Medis : Diabetes Mellitus

3.2 ANALISA DATA


NO
1

SYMTOMP
DS
1. Klien

DO
1. BB sekarang :

ETIOLOGI

PROBLEM

Ketidakseimbangan

Faktor Biologis

19

mengatakan
merasa lemas
2. Klien
mengatakan sering
kencil, sering

42 kg
2. BB dahulu : 84

nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

kg
3. TD : 160/90
mmHg
4. TB : 160 cm

minum, dan
inginya makan
terus
2

1. Neuropati

1. Gula darah

ekstremitas
2. Luka ulkus

sementara : 450/dl
jaringan
2. Diagnisis Medis :

diabetikum pada

Diabetes Mellitus
3. TD : 160/90

kaki yang tidak


perna sembuh

Kerusakan integritas

Faktor Mekanik

mmHg

bahkan lukanya
sangat dalam
sampai kelihatan
bentuk tulangnya.

3.3 DIAGNOSA
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor biologis
(ketidakmampuan tubuh mengabsorbsi zat-zat gizi) d/d
DS :
a. Klien mengatakan merasa lemas
b. Klien mengatakan sering kencil, sering minum, dan inginya makan terus
DO :
a. BB sekarang : 42 kg
b. BB dahulu : 84 kg
c. TD : 160/90 mmHg
d. TB : 160 cm
2. Kerusakan integritas jaringan b/d dengan faktor mekanik: ( terjadinya neuropati
ekstremitas ) d/d
DS :
a. Neuropati ekstremitas

20

b. Luka ulkus diabetikum pada kaki yang tidak perna sembuh bahkan lukanya
sangat dalam sampai kelihatan bentuk tulangnya.
DO :
a. Gula darah sementara : 450/dl
b. Diagnisis Medis : Diabetes Mellitus
c. TD : 160/90 mmHg
3.4 INTERVENSI / PERENCANAAN
Tgl
21- 122012

No
Dx
1

NOC

NIC

Setelah dilakukan

Manajemen Nutrisi
1. kaji pola makan

askep selama 3x24


jam klien
menunjukan

klien
2. Kaji adanya alergi

perbaikan status

makanan
3. Kolaborasi dg ahli

nutrisi dengan

gizi untuk

kriteria hasil
Nutrisonal Status
1. BB stabil tidak

penyediaan nutrisi

terjadi mal nutrisi,


2. tingkat energi
adekuat,
3. pemasukan nutrisi

terpilih sesuai
dengan kebutuhan
klien.
4. Anjurkan klien
untuk meningkatkan

adekuat
4. pemasukan

asupan nutrisinya
5. Ajarkan pasien

makanan yang baik

bagaimana memili

bagi keadaan klien

makanan yang sesui


dengan kebutuhan
tubuh
Monitor Nutrisi
1. Monitor BB setiap
hari jika
memungkinkan.
2. Monitor respon
klien terhadap
situasi yang
mengharuskan klien

21

makan.
3. Monitor adanya
gangguan dalam
proses
mastikasi/input
makanan misalnya
perdarahan, bengkak

21-122012

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatanpada
pasienselama 6x24
jam penyembuhan
luka meningkat
dengan kriteria hasil :
Wound healing
1. Penyembuhan
Luka mengecil
dalam ukuran
2. Dan adanya
peningkatan
granulasi jaringan

Wound care
1. Monitor
karakteristik
luka:tentukan
ukuran dan
kedalaman luka, dan
klasifikasi pengaruh
ulcers
2. Catat
karakteristik cairan
secret yang keluar
3. Bersihkan dengan
cairan anti bakteri
4. Dressing dengan
kasa steril sesuai
kebutuhan
5. Pertahankan
tehnik dressing
steril
6. Hubungi atau

1. agar perawat
dapat
mengetahui
karakteristik
luka dan teknik
penngobatan
2. dapat
mengetahui
cairan dan
sekret yang ada
pada luka
3. untuk
menghindari
infeksi pada
luka
4. untuk
membalut luka
aga
mempercepat

kolaborasi dengan

proses

dokter dalam

penyembuhan
5. untuk

perawatan luka
7. Ajarkan pasien

mempercepat

atau anggota

proses

keluarga prosedur

penyembuhan
6. agar pasien

perawatan luka

22

8. Bandingkan dan

atau anggota

catat setiap adanya

keluaraga dapat

perubahan pada luka melakukan


8. Berikan posisi
teknik rawat
terhindar dari
luka mandiri
tekanan
7. agar perawat
mengetahui
perubahan yang
terjadi pada
luka
8. agar luka
tidak semakin
parah
3.5 IMPLEMENTASI
Tgl
Jam
21-des2012
08.00

NO.
dx
1

Implementasi

Respon

Managment nutrisi
mengkajikaji pola makan klien

DS: Klien mengatakan sering


kencing, sering minum, dan
inginya makan terus
Klien mengatakanmerasa lemas
DO : BB sekarang : 42 kg
-BB dahulu : 84 kg
-TD : 160/90 mmHg
-TB : 160 cm
-Gula dara sementara / sewaktu
: 450/dl
Ku : lemah

mengkaji adanya alergi makanan


21-des2012
08.00

DS: pasien mengatakan tidak


ada alergi makanan
DO : BB sekarang : 42 kg
BB dahulu : 84 kg
TD : 160/90 mmHg
TB : 160 cm
Ku : lemah
Gula dara sementara / sewaktu :
450/dl

23

21

des

mengkolaborasi dg ahli gizi DS : pasien terlihat lebih

2012
10.00

untuk penyediaan nutrisi terpilih berenergi


Pasien mengatan asupan makan
sesuai dengan kebutuhan klien..
melakukan diet diabetikum
dan nutrisi lebih terjaga dan

21 des
2012
10.45
21 des
21

mengnjurkan

lemas
DO : BB sekarang : 42 kg
Ku : baik
mengajarkan pasien bagaimana DS: pasien sudah bisa memilih

des

memili

yang

sesui makananya sesui denga pola


nutrisi seimbang
Tidak adanya gejala mal nutrisi
DO: gula darah sementa

menurun 320/dl
Monitor Nutrisi
DS: BB stabil. Tidak adnya
memonitor BB setiap hari jika
gejala malnutrisi
memungkinkan.
Pasien terlihat tidak lemah lagi
DO : gula darah pasien

des

menurun 320/dl
memonitor respon klien terhadap DS: pasien terlihat berespon

des

2012
08.30
22

makanan

dengan kebutuhan tubuh

2012
08.00

22

klien

meningkatkan asupan nutrisinya

2012
11.15

22

terkendali
DO: Ku : baik
untuk DS: pasien mengatakan tidak

situasi yang mengharuskan klien baik dan lebih menjaga pola


makan.
des

memonitor

2012
09.00

212012
09.00

dalam

adanya

proses

makan
DS: gangguan DS: pasien mengatakan tidak

mastikasi/input adanya

gangguan

pada

makanan misalnya perdarahan, prosesmastikasi


DS: bengkak dsb.
des 2

Wound care DS
:
memonitoro
Neuropati
karakteristik
ekstremitas
luka:tentuka Luka ulkus
n

ukuran diabetikum

dan

pada

kaki

kedalaman

yang

tidak

luka,

dan perna
24

21 des 2012
09.15

klasifikasi

sembuh

pengaruh

bahkan

ulcers

lukanya
sangat
dalam
sampai

21 des 2012
09. 22
21 des 2012
09.35
21 des 2012
09.35
22 des 2012
09.00

kelihatan
bentuk
tulangnya
DO :
Gula darah
sementara :
450/dl
Diagnisis

22 des 2012
10.30

Medis

Diabetes
Mellitus
TD : 160/90
22 des 2012
11.00

mmHg

22 des 2012
11.30
mencatat karakteristik cairan DS : Neuropati ekstremitas
Luka ulkus diabetikum pada kaki
secret yang keluar
yang tidak perna sembuh bahkan
lukanya

sangat

dalam

sampai

kelihatan bentuk tulangnya


DO :
Gula darah sementara : 450/dl
Diagnisis Medis : Diabetes
Mellitus
TD : 160/90 mmHg
membersihkan dengan cairan DS : pasien kelihatan kesakitan
anti bakteri

pada saat luka di bersihkan


DO : diagnnosa medis DM

25

melakukan Dressing dengan DS : pasien kelihatan agak tidak


kasa steril sesuai kebutuhan

kesakitan lagi
DO : diagnnosa medis DM
tehnik DS : Pasien mengtsksn mulsi

mempertahankan
dressing steril

merasakan perubahan
Do : mengbungi atau melakuakan DS : pasien mengatakan ada
kolaborasi

dengan

dokter perbedaan dengan lukanya,


Pasien mengatakan luka mulai

dalam perawatan luka


mengajarkan
anggota

pasien

keluarga

perawatan luka

mengalami perubahan
DO : atau DS : pasien mengatakan sudah

prosedur bisa melakukan perawatan luka


mandiri
Keluarga pasien mengtakan sudah
bisa melakukan perawatan luka

mandiri kepada pasien


DO : membandingkan dan catat DS : Ada perbedaan dari luka
Luka mulai berglanulasi
setiap adanya perubahan pada
Pasien mengatakan lukanya agak
luka
tidak sakit
lagi dan ukuran luka
aga mengecil
DO : memberikan posisi terhindar DS : pasien mengtakan sudah ada
dari tekanan

perubahan pada luka


DO : Ku : baik

26

3.6 Evaluasi
Jam
Tanggal

No
dx
1

Evaluasi

t.t.d

S:
-

pasien tidak terlihat lemah lagi


berat badan pasien stabil dan tidak terjadi

mal nutrisi
pasien mengatakan asupan nutrisi dan pola
makan terjaga

O : - BB : 42 kg
-

gula darah turun dari450 menjadi 320/dl

A : BB stabil dan tidak terjadinya mal nutrisi


pada klien
- asupan makanan dan nutrisi pada pasien baik
- Masalah teratasi sebagian
P : pertahankan intervensi
S : pasien mengatakan adanya perubahan pada

luka setelah dilakukan perawatan


O : ku : baik
TD : 160/90 mmHg
A : luka pada kaki sudah dilakukan perwatan
dan masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi

Tindakan Keperawatan
Tanggal No.d

No

Tindakan keperawatan dan respon

x
01 Juli 1

Memberikan informasi tentang nyeri

Tanda tangan

27

2008

seperti cara mengatasi nyeri


R:/ pasien dapat menjelaskan kembali
2

cara mengtasi nyeri.


Mengajarkan teknik non farmakologi
(teknik relaksasi dan distraksi)
R:/Pasien dapat melakukan teknik

3
4
5

relaksasi dan distraksi.


Mengobservasi skala nyeri
R:/ Pasien mengatakan skala nyeri
masih 3
Mengobservasi TTV
R:/ TD= 120/90 mmHg,

nadi=

92x/menit, suhu= 37,2oC


Memberikan obat analgesik
R:/ pasien mau minum obat yang
diberikan
Menjelaskan

kepada

pasien

cara

mengatasi gangguan moblitas fisik.


R:/ Pasien dpat menjelaskan kembali
cara mengatasi gangguan mobilitas
fisik.
Mendorong pasien utnuk meminta
bantuan

kepada

perawat/keluarga

dalam melakukan aktifitas.


R:/ Pasien meminta bantuan kepada
perawat/keluarga dalam melakukan

4
5

aktifitas.
Mendekatkan

barang-barang

yang

dibutuhkan ke dekat pasien.


R:/ Pasien mudah untuk mengambil
barang-barang ynag dibutuhkan
Memberikan
mobilisasi
secara

bertahap.
R:/Pasien miring kanan kiri
Mengobservasi keterbatasan aktifitas,
perhatikan adanya keterbatasan dan
derajat kemampuan dalam melakukan
aktfitias.
28

R:/ Kemampuan aktifitas meningkat


2

pasien mampu miring kanan kiri.


Menjelaskan

kepada

pasien

agar

menjaga luka jahitannya agar tetap


kering,
3

diskusikan

tanda-tanda

infeksi.
R:/ Pasien dapat menjelaskan kembali
pentingnya menjaga luka jahitannya
dan tanda-tanda infeksi.
Menganjurkan kepada pasien agar
segera melapor jika terjadi tandatanda infeksi.
R:/ Pasien mengatakan akan segera
melapor

jika

terjadi

tanda-tanda

infeksi.
Mengobservasi luka jahitan terhadap
tanda-tanda infeksi.
R:/ Tidak ditemukan tanda-tanda
infeksi.
Melakukan

teknik

aseptik

dalam

perawatan luka.
R:/ tidak terjadi infeksi di luka
Tanggal
10 juli 2008

Jam
14.00

Evaluasi
Tanda tangan
S=
- klien mengatakan nyeri pada daerah
luka operasi
O=
- TTV: TD= 120/80 mmHg, nadi=
88x/menit, suhu= 37,1oC.
- skala nyeri 3 (nyeri sedang)
- terdapat luka jahitan post-op tertutup
kasa steril dan hypafix, tidak ada
perembesan darah.
A= masalah keperawatan nyeri belum

14.10

teratasi
P= Lanjutkan intervensi no 2,3,4,5

29

S= O=
- terpasang kateter urine
- terpasang drainase pada luka operasi
- terpasang infus NaCl 0,9 %, 20 tts/
menit, di tangan kanan
- klien tampak terbaring di atas tempat
tidur
- aktifitas sehari-hari dibantu oleh
14.20

perawat dan keluarga


A= Masalah keperawatan gangguan
mobilitas fisik belum teratasi
P= Lanjutkan intervensi no 2,3,4,5
S= O=
- tidak ditemukan tanda-tanda infeksi
- terdapat luka jahitan post-op tertutup
kasa steril dan hypafix, tidak ada
perembesan darah.
- terpasang kateter urine 9vol
- terpasang drainase pada luka operasi
- terpasang infus NaCl 0,9 %, 20 tts/
menit, di tangan kanan
- Tanda-tanda vital, TD: 120/80
mmHg, N: 88 x/menit, suhu: 37,1 oC .

30

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Gejala diabetes adalah sering merasa haus, sering kelelahan, sering buang
air kecil terutama di malam hari, berkurangnya massa otot (pada penderita
diabetes tipe 1), turunnya berat badan (pada penderita diabetes tipe 1),
berkurangnya massa otot.
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien diabetes mellitus adalah
gangguan integritas kulit, intoleransi aktivitas, resiko injury, resiko gangguan
nutrisi, dan kekurangan volume cairan.
Intervensi pada diagnosa gangguan integritas kulit adalah monitor bagian
kerusakan terhadap adanya edema, instruksikan klien pentingnya inspeksi daerah
luka, batasi pengunjung, diskusikan pad pasien untuk rutinitas perawatan kaki.
Intervensi pada diagnosa intoleransi aktivitas adalah mempertimbangkan
kebudayaan klien ketika melakukan perwatan, mempertimbangkan usia klien,
monitor kemampuan klien untuk perawatn diri mandiri, monitor kebutuhan klien
terhadap kebersihan diri, pakaian,dan makan.
4.2 Saran
4.2.1. Dapat dijadikan proses pembelajaran
4.2.2. Mengobservasi tindakan apabila tidak terjadi perubahan pada tindakan
sebelumnya.

31

DAFTAR PUSTAKA
Stocklager, Jamie L. 2007. Buku Saku Keperawatan Gerontik Edisi 2. Alih
bahasa: Nikhe Budhi Subekti, S.Kep. Jakarta: EGC.
http://syamsulputra.blogspot.co.id/2011/08/askep-dm-dengan-nic-n-noc.html
(Dinduh pada tanggal 12 September pukul 17.30 WIB)
Carpenito,Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10.
EGC : Jakarta
George L, Adams.1997. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. EGC : Jakarta

32