Anda di halaman 1dari 34

‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

j
DAFTAR ISI

Daftar Isi ....................................................................................................................................................................1

• Meraih Berkah Bersama Para Ulama Besar dalam Menghadapi Fitnah ...........................................2
• Nasehat-nasehat Ulama Besar dalam Menghadapi Fitnah Ini ...........................................................6
• Ijma’ (Kesepakatan) Ulama Umat atas Kesalafian Asy-Syaik ‘Abdurrahman Mar’i dan Asy-Syaikh
‘Abdullah Mar’i Hafizhahumallah ..........................................................................................................20
• Fitnah Ini Tidak Membawa Hakekat Dakwah yang Pantas untuk Diperjuangkan .....................25

Penutup......................................................................................................................................................................28


Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

‫نيل الربكة‬
‫مع أكابر العلماء‬
‫يف‬
‫مواجهة الفتنة‬

MERAIH BERKAH BERSAMA PARA ULAMA BESAR


DALAM
MENGHADAPI FITNAH

Ahlussunnah waljama’ah sebagai ahlul haq merupakan satu-satunya golongan yang bermanhaj dengan
manhaj yang haq. Oleh karena itu mereka merupakan saksi-saksi kebenaran di muka bumi yang senantiasa
memperjuangkan al-haq secara terang-terangan. Rasulullah n bersabda:

.‫ال تزال طائفة من هذه األمة قائمة على أمر اهلل ال يضرهم من خالفهم حتى يأتي أمر اهلل‬
“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas agama Allah (al-haq), tidak akan memudharatkan
mereka siapapun yang menyelisihi mereka hingga datang ketetapan Allah (hari kiamat).” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim dari hadits Mu’awiyah dan Al-Mughirah bin Syu’bah z)

Merekalah yang senantiasa menegakkan keadilan di muka bumi ini dalam berhukum pada setiap
permasalahan. Adil dalam menunaikan hak-hak Allah l dan adil dalam menunaikan hak-hak hamba Allah
l. Allah l berfirman:

‫ﭽ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵﭼ‬
“Demikianlah kami jadikan kalian sebagai umat terbaik yang adil, agar kalian menjadi saksi atas seluruh manusia
dan Rasul menjadi saksi atas kalian.” (Al-Baqarah:143)

Rasulullah n bersabda:
َ َّ‫ه‬ ْ ‫أَْنت‬
ِ ‫ُم ُش َه َداُء اللِ ِفى األ ْر‬
.‫ض‬
“Kalian adalah saksi-saksi Allah l di muka bumi”

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik z ketika para sahabat g bersama Rasulullah n:


Dalam riwayat lain dengan lafazh:
“ ‫“ ال تزال طائفة من أميت ظاهرين على احلق‬


‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

َ ‫ ُث َّم َم ُّروا ِبأُ ْخ َرى َفأَْثنَ ْوا َعَليْ َها َش ًّرا َف َق‬.)‫ت‬
:‫ال‬ ْ َ‫ ( َو َجب‬:n ‫ال النَّبِ ُّى‬ ً ْ‫َم ُّروا جَِبنَا َزةٍ َفأَْثنَ ْوا َعَليْ َها َخر‬
َ ‫ َف َق‬،‫يا‬
َ ْ‫ت َلُه ج‬
،‫النَُّة‬ ْ ‫ ( َه َذا أَْثنَيْت‬:‫ال‬
ً ْ‫ُم َعَليِْه َخر‬
ْ َ‫يا َف َو َجب‬ َ ‫ َق‬.)‫ت؟‬ ْ َ‫ ( َما َو َجب‬:z ‫اب‬ َّ َ ْ‫خ‬ َ
ِ ‫ َف َقال ُع َمُر ْب ُن الط‬.)‫ت‬ ْ َ‫( َو َجب‬
.)‫ض‬ َ
ِ ‫ُم ُش َه َداُء اهللِ ِفى األ ْر‬ْ ‫ أَْنت‬،‫ت َلُه النَّاُر‬ ْ ‫َو َه َذا أَْثنَيْت‬
ْ َ‫ُم َعَليِْه َش ًّرا َف َو َجب‬
“Para sahabat bersama Rasulullah n melewati suatu jenazah dan mereka memujinya, maka Nabi n berkata:
“Telah pasti”. Kemudian mereka melewati jenazah yang lain dan mereka mencelanya, maka Nabi n berkata:
“Telah pasti”. ‘Umarpun berkata: “Apa yang telah pasti?” Maka Rasulullah n menjawab: “Jenazah ini kalian
puji kebaikannya, maka surga telah pasti baginya, dan yang ini kalian cela kejelekannya, maka neraka telah pasti
baginya.” (HR. Al-Bukhari: 1367 dan Muslim: 949)

Suatu prinsip yang harus kita tanamkan pada diri kita sebagai seorang salafi pengikut manhaj
Ahlussunnah waljama’ah, yaitu senantiasa merujuk kepada ulama umat selaku para pewaris Nabi n. Terutama
dalam masalah-masalah besar yang bersifat umum yang menyangkut ketenteraman umat dalam menjalani
agamanya, hendaklah dikembalikan urusannya kepada ahlinya dari kalangan ulama kibar (besar). Pada saat
terjadi fitnah yang melanda umat, maka kita diperintahkan untuk mengembalikan solusinya kepada mereka.
Ketinggian ilmu mereka dan kekokohan mereka dalam bersaksi atas kebenaran dengan penuh keadilan
menjadikan mereka terpilih sebagai ulama-ulama besar pembimbing umat yang memiliki kedudukan yang
tinggi dan agung di tengah-tengah Ahlussunnah waljama’ah. Oleh karena itu Allah l dan Rasul-Nya telah
memerintahkan kita untuk memegang prinsip ini agar kita terbimbing dan meraih berkah dalam mewnjalani
agama ini.
Allah l berfirman:

‫ﭽ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠﭼ‬
“Maka bertanyalah kepada ahlu ‘ilmi jika kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)

‫ﭽﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ‬
‫ﮝ ﮞ ﮟﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩﭼ‬
“Jika datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan serta merta mereka menyiarkannya.
Kalaulah mereka menyerahkan urusan itu kepada Rasulullah n dan Ulil Amri (para ulama) di antara mereka,
tentulah yang beristinbath (menarik kesimpulan) dari mereka (Rasulullah n dan Ulil Amri) akan mengetahuinya.
Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah l kepada kalian tentulah kalian mengikuti syaithan, kecuali
sebagian kecil saja (di antara kalian).” (An-Nisa’: 83)

Rasulullah n bersabda:

.‫الب َكُة َم َع أَ َك ِاب ِر ُك ْم‬


ََ‫ر‬
“Berkah itu bersama orang-orang besar kalian (dalam hal ilmu dan kedudukannya).” (HR. Al-Hakim dari Ibnu
‘Abbas c, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1778)

Rasulullah n juga bersabda:

.‫ َويَ ْع ِر ْف ِل َعالمِِنَا‬،‫يَنا‬ َ ْ‫س ِم ْن ُأمَّتيِ ْ َم ْن مَلْ جُ ِي َّل َكبِر‬


َ ْ‫ َويَ ْر َح ْم َص ِغر‬،‫يَنا‬ َ ْ‫َلي‬
“Bukan termasuk umatku siapa yang tidak memuliakan orang-orang tua kami, tidak menyayangi orang-orang
yang lebih muda (kecil) di antara kami dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani,
Al-Hakim dari ‘Ubadah bin Shamit z, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib
no. 101)


Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

Berkata Ibnu Mas’ud z:

.‫ار ِه ْم َهَل ُك ْوا‬ َ َ َ ْ‫اس خَِبر‬ ُ َ


ِ ‫ َفإَِذا أ َخ ُذ ْوُه ِع ْن ِص َغ ِار ِه ْم َو ِش َر‬،‫ي َما أ َخ ُذ ْوا اْل ِعْل َم َع ْن أ َك ِاب ِر ِه ْم‬
ٍ ُ َّ‫ال يَزَال الن‬
“Umat akan senantiasa di atas kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari ulama-ulama besar mereka. Namun
jika mereka mengambil ilmu dari orang-orang kecil mereka dan orang-orang jelek mereka, maka mereka akan
binasa.” (Dikeluarkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Bab Halul ‘ilmi Idza
Kana ‘Indal Fussaq wal Ardzal)

Berkata Al-’Allamah ‘Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Taisir Al-Karim Ar-
Rahman menafsirkan surat An-Nisa’ ayat: 83 di atas:

‫ الذين يعرفون األمور ويعرفون‬،‫وأولو األمر هم أهل الرأي والعلم والنصح والعقل والرزانة‬
.‫املصاحل وضدها‬
“Ulul Amri adalah ulama yang ahli berpendapat, ahli memberi nasehat, ahli menganalisa, serta memiliki
kesungguhan dan keteguhan dalam menghadapi suatu perkara. Mereka menguasai urusan-urusan umat, serta
menguasai mashlahat dan mafsadat umat.”

Kemudian beliau melanjutkan:


َّ‫ويف هذا دليل لقاعدة أدبية وهي أنه إذا حصل حبث يف أمر من األمور ينبغي أن ى‬
‫يول َم ْن هو أهل‬
.‫ فإنه أقرب إىل الصواب وأحرى للسالمة من اخلطأ‬،‫ وال يتقدم بني أيديهم‬،‫لذلك وجيعل إىل أهله‬
‫ واألمر بالتأمل قبل الكالم والنظر‬،‫وفيه النهي عن ال َع َجلة والتسرع لنشر األمور من حني مساعها‬
‫ فُي ْق ِدم عليه اإلنسان؟ أم ال فُي ْح ِجم عنه؟‬،‫ هل هو مصلحة‬،‫فيه‬
“Pada ayat ini terdapat dalil untuk suatu kaidah dalam masalah adab, yaitu apabila ada analisis (pembahasan)
mengenai suatu permasalahan sepantasnya diamanahkan dan diserahkan sepenuhnya kepada ahlinya, tidak
boleh mendahului mereka, karena analisa mereka lebih tepat dan lebih selamat dari kekeliruan. Pada ayat ini
terdapat larangan dari ketergesa-gesaan dan keterburu-buruan dalam menyebarkan suatu perkara saat pertama
kali mendengarnya. Juga terdapat perintah untuk menimbang dan mempelajari permasalahan secara seksama
sebelum berbicara, apakah hal itu mengandung mashlahat sehingga dia maju melibatkan diri? Ataukah tidak
mengandung mashlahat, sehingga dia menahan diri?

Prinsip inilah yang senantiasa mengikat antara umat dengan ulamanya, sehingga umat senantiasa
terbimbing dalam menjalani agamanya dan meraih berkah Allah l. Oleh karena itu prinsip ini diupayakan
semaksimal mungkin untuk diruntuhkan oleh ahlul bid’ah para penghamba hawa nafsu dengan cara
melecehkan dan mencerca kehormatan mereka, meskipun hal itu dengan kedustaan. Sebab tatkala kehormatan
dan kemuliaan ulama telah jatuh di mata seorang muslim, maka kepercayaan dia kepada ulama sebagai rujukan
baginya untuk memahami urusan-urusan agamanya secara otomatis akan sirna. Saat itulah syubhat-syubhat
ahlul bid’ah akan mudah ditanamkan pada dirinya oleh mereka dan dirinya akan terjangkiti penyakit ta’ashshub
(fanatik) yang membutakannya untuk melihat al-haq.
Maka dari itu para imam ahli hadits menjadikan hal ini sebagai alamat ahlul bid’ah. Imam Abu Hatim
Ar-Razi t berkata:

.‫عالمة أهل البدع الوقيعة يف أهل األثر‬


“Alamat ahlul bid’ah adalah mencela (ulama) ahlul atsar.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Utsman Isma’il bin
‘Abdirrahman Ash-Shabuni dalam kitab Aqidatus Salaf wa Ashhabil Hadits pada bab Alamat Ahlil Bida’)


‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

Berkata Imam Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abdirrahman Ash-Shabuni dalam kitab Aqidatus Salaf wa
Ashhabil Hadits pada bab Alamat Ahlil Bida’:

‫ وأظهر آياتهم وعالماتهم شدة معاداتهم حلملة أخبار النيب‬،‫وعالمات البدع على أهلها بادية ظاهرة‬
.‫ واحتقارهم هلم واستخفافهم بهم‬n
“Alamat-alamat kebid’ahan pada ahlul bid’ah sangat nampak jelas. Tanda dan alamat yang paling jelas pada
mereka adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap para pengusung hadits-hadits Nabi n (ulama ahli hadits),
serta pelecehan dan peremehan kepada mereka.”

Oleh sebab itu hendaklah kita berhati-hati dan menjaga lisan-lisan kita terhadap para ulama ahli hadits
dan para ulama kibar umat. Jangan sampai kita membuat jurang pemisah antara umat dengan ulamanya.
Terutama dalam masalah-masalah agama yang besar dan prinsipil, yang terkait dengan akidah dan manhaj.
Lalu pada saat yang sama kita mengaku sebagai mujahidin pembela kebenaran.
Demikian pula kita tidak boleh ghuluw (ekstrim) dan ceroboh dalam mencap seorang salafi yang
telah masyhur kesalafiannya dari kalangan thalabatul ‘ilmi, du’at dan ulama sebagai hizbi. Apalagi yang
telah masyhur kiprah dan perjuangannya dalam medan dakwah. Terutama seorang ulama kibar (besar) yang
merupakan rujukan umat yang kehormatannya berbisa. Maka kita khawatir bahwa kelancangan kita menghina
dan mencap ulama, thalabatul ‘ilmi dan du’at Ahlussunnah sebagai hizbi atau “Komplotan Hizbi Baru” justru
hal itu berbalik menimpa diri kita sendiri, sebagai hukuman dari Allah l.
Pada hakikatnya fitnah ini semakin hari semakin menampakkan hakikatnya bahwa vonis Asy-
Syaikh Yahya bersama para pengikutnya terhadap Asy-Syaikh Al-Faqih ‘Abdurrahman bin Mar’i Al-’Adeni
hafizhahullah dan kakaknya Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Mar’i hafizhahullah sebagai “Komplotan Hizbi Baru”
adalah tuduhan yang batil. Berikut vonis kepada sebagian ulama kibar beserta thalabatul ‘ilmi yang membela
keduanya dan bersaksi atas kesalafian keduanya sebagai orang-orang yang ta’ashshub (fanatik) kepada keduanya,
juga semakin hari semakin tersingkap kebatilannya. Hingga hari ini tak satupun dari para ulama yang bersaksi
atas kesalafian mereka yang berubah ijtihadnya dalam menghadapi fitnah ini. Hingga hari ini pula Asy-Syaikh
Yahya Al-Hajuri tidak mendatangkan bukti dan hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah l
untuk didukung dan diperjuangkan. Wallahul muwaffiq.


Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

NASEHAT-NASEHAT ULAMA BESAR DALAM MENGHADAPI FITNAH


INI

Untuk semakin mengarahkan salafiyyun dalam menghadapi fitnah ini ‘Allamatul Yaman Al-Walid Al-
Muhaddits Abu Ibrahim Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-’Abdali hafizhahullah mengeluarkan
kitab yang berisi kumpulan nasehat-nasehat kibar ulama dan masyayikh Ahlussunnah dalam menghadapi
fitnah ini. Beliau beri judul Nashaih ‘Ulama’ Al-Ummah ‘Indal Fitan Al-Mudlahimmah (Nasehat-Nasehat
Ulama Ummat Dalam Menghadapi Fitnah Yang Gelap Gulita).
Mungkin ada yang bertanya kenapa beliau yang paling banyak berbicara dan memberi nasehat dalam
menghadapi fitnah ini? Jawabannya -wallahu a’lam- adalah karena fitnah bersumber dan berpusat di Yaman,
sementara beliau merupakan syaikh paling senior dan terbesar dalam hal usia, ilmu, wawasan dan pengalaman
dakwah di negeri di Yaman. Maka beliaulah yang memiliki hak dan kewajiban yang paling besar untuk
menangani fitnah ini.
Untuk lebih mengenal kedudukan beliau yang besar dalam dakwah, terutama pada masa fitnah seperti
ini, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah mengurai biografi beliau yang cukup jelas untuk membuka
mata sebagian salafiyyun yang tidak tahu malu dan lancang untuk meremehkan serta melecehkan beliau. Pada
hari Rabu 16 Shafar 1430 beliau menyampaikan muhadharah (ceramah) di markaz beliau di Ma’bar seputar
perjalanan dakwah salafiyyah di Yaman pada abad ini yang telah diperbaharui oleh sang mujaddid (pembaharu
dakwah) guru besar kami Al-Walid Al-’Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.
Beliau wafat dengan meninggalkan sebuah wasiat agung yang sangat berharga untuk perjalanan dakwah ini di
Yaman khususnya, wasiat untuk mengembalikan problematika dakwah yang terjadi di Yaman kepada sederetan
ulama kibar (besar) yang dijuluki oleh beliau sebagai Ahlul halli wal ‘aqdi, yaitu ulama yang memiliki keahlian
dan kemampuan dalam menyelesaikan berbagai problema dakwah yang ada. Yang terbesar dari mereka adalah
Al-Walid Al-’Allamah Al-Muhaddits Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-’Abdali hafizhahullah.
Berkata Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah pada muhadharah (ceramah) tersebut:

‫ عرفته شيخا‬،‫أما والدنا الشيخ حممد بن عبد الوهاب حفظه اهلل فقد عرفته شيخاً وما قد طلبت العلم‬
‫ فله يف الدعوة‬،‫ اهلل و يواجه الفنت وحيذر من الضالالت واخلرافات والشركيات وغري ذلك‬ ‫يدعو إىل‬
‫ فلي منذ أن دخلت يف طلب العلم إىل اآلن‬،‫عمر ودهر حفظه اهلل وهو سائر يف نشر الدعوة إىل اهلل‬
،‫ وكما مسعت أن الشيخ حممد حفظه اهلل كان قبلنا يف الدعوة إىل اهلل‬.‫ما يربو على ستة وعشرين سنة‬
.ً‫فلهذا هو أكرب منا سناً وعلما‬

‫والشيخ حممد بن عبد الوهاب حفظه اهلل عنده ثبات عظيم وصرب كبري واستمرارية يف اخلري يف‬
‫ وهذا الرجل من فضل اهلل عز‬.‫الدعوة إىل اهلل وعنده سري سديد ومتسك قويم حبمد اهلل رب العاملني‬


‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

‫ بل وحيرص على أن حيذر إن‬،‫ ويسلم‬،‫ بل ينجو‬،‫وجل عليه أنه كلما جاءت فتنة مل يكن من ضحاياها‬
.‫كان ذلك مما يستدعيه الوقت واحلال‬

‫ فقد جنا وابتعد عن دعوة جهيمان‬،‫فقد مرت وجاءت فنت كثرية وهو حبمد اهلل يواجهها بعلم وحلم‬
،‫ ومن السعي يف التكفري‬،‫وما دعا إليه إىل تلك الفتنة العظيمة يف الشر من أن القحطاني هو املهدي‬
.‫إىل آخر ما حصل منهم‬

‫ وحزبية االنتخابات والدميقراطية ومل‬،‫ حزبية اإلخوان املسلمني‬،‫ فحذر منها‬،‫كذلك جاءت احلزبية‬
.‫ أو يسري يف شيء من فلكها‬،‫يكن ممن تنطلي عليه ويقرب منها‬

‫وجاءت الدعوة السرورية املنسوبة إىل حممد بن سرور امللقب بزين العابدين واحلمد هلل كان من‬
.‫احملذرين منها‬

‫وجاءت فتنة أبي احلسن كذلك أيضاً كان موقفه كما يعلمه كثري منكم موقفاً عظيماً نافعاً هلذه الدعوة‬
.‫ وغري ذلك من األمور‬،‫واحلمد هلل‬

‫ ومخسون مأخذا على مجاعة‬،‫ ومخسون مأخذا على حزب اإلخوان‬،‫بل له مخسون مأخذا على السرورية‬
‫ وله رسالة «حتذير السلف من أهل البدع» وله عدة رسائل أجلها «القول املفيد» الذي يد ّرس‬،‫التبليغ‬
‫ فقد نفع اهلل به كما مسعتم‬.‫عندنا هنا يف دار احلديث مبعرب ويدرس يف أماكن شتى من بالد املسلمني‬
.‫نفعاً عظيماً وال يزال مستمراً على هذا اخلري تعليماً ودعوة وتأليفا وحتقيقاً وهلل احلمد واملنة‬

.‫نسأل اهلل أن مين علينا وعليه وعلى مجيع املسلمني بالثبات على احلق‬
“Adapun ayah kami Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab hafizhahullah, maka sungguh aku telah
mengenalnya sebagai seorang syaikh pada saat aku belum menuntut ilmu, aku telah mengenalnya sebagai seorang
syaikh yang berdakwah ke jalan Allah, menghadapi berbagai fitnah dan mentahdzir dari berbagai kesesatan,
khurafat, kesyirikan dan selainnya. Maka dia hafizhahullah memiliki usia dan masa yang panjang dalam
dakwah ini, selama itu beliau terus berdakwah ke jalan Allah. Sedangkan aku sendiri dari sejak menuntut ilmu
hingga sekarang sudah mencapai dua puluh enam tahun. Sebagaimana yang engkau dengar bahwa Asy-Syaikh
Muhammad hafizhahullah telah mendahului kami dalam dakwah ini, oleh karena itu beliau yang terbesar usia
dan ilmunya di antara kami.
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab hafizhahullah memiliki tsabat (keteguhan) yang agung, kesabaran
yang besar, dan kontinyuitas (kesinambungan) dalam kebaikan dakwah ke jalan Allah. Demikian pula beliau
memiliki perjalanan dakwah yang lurus dan kekokohan dalam berpegang teguh dengan kebenaran -segala puji
bagi Allah Rabb sekalian alam-. Setiap kali ada fitnah -atas karunia Allah- beliau tidak pernah jadi korbannya.
Beliau mesti selamat, bahkan beliau mentahdzir dari fitnah itu jika memang waktu dan hajat menuntut hal itu.
Sungguh telah datang dan berlalu fitnah yang banyak dan beliau -segala puji bagi Allah- menghadapinya dengan
ilmu dan ketenangan. Sungguh beliau telah selamat dan menjauhkan diri dari dakwah Juhaiman dan fitnah besar
dalam kejelekan yang diserukannya bahwa Al-Qahthani adalah Al-Mahdi dan upaya keras dalam pengkafiran
kaum muslimin, dan seterusnya yang ada pada mereka dalam fitnah itu.
Demikian pula datang fitnah hizbiyyah, maka beliau mentahdzir darinya. Datang hizbiyyah Ikhwanul Muslimin,


Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

hizbiyyah pemilu dan demokrasi, maka beliau tidak termasuk yang teperdaya dan mendekatinya atau ikut
berputar dalam orbitnya. Kemudian datang dakwah Sururiyyah yang bernisbah kepada Muhammad bin Surur
yang digelari sebagai Zainul ‘Abidin, maka -segala puji bagi Allah- beliau termasuk yang mentahdzir darinya.
Lalu datang fitnah Abul Hasan, maka juga sikapnya/posisinya seperti yang telah diketahui oleh kebanyakan
kalian merupakan sikap/posisi yang agung dan bermanfaat untuk dakwah -segala puji bagi Allah-. Demikian
pula dengan fitnah-fitnah lainnya.
Bahkan beliau memiliki lima puluh catatan kesalahan dakwah Sururiyyah, lima puluh catatan kesalahan Ikhwanul
Muslimin, lima puluh catatan kesalahan Jama’ah Tabligh dan beliau punya karya tulis berjudul “Tahdzirus Salaf
min Ahlil Bid’ah”. Beliau juga memiliki sekian karya tulis dan yang paling berharga adalah “Al-Qaulul Mufid”
yang diajarkan di sini di Darul Hadits Ma’bar dan diajarkan di berbagai tempat di negeri-negeri kaum muslimin.
Maka sungguh Allah telah memberi manfaat yang besar dengannya dan beliau tetap senantiasa berkesinambungan
di atas kebaikan ini dengan mengajar, berdakwah, mengarang dan mentahqiq (meneliti hadits) -segala puji bagi
Allah dan hanya dari-Nya seluruh anugerah ini-.
Kami memohon kepada Allah agar menganugerahinya, menganugerahi kita dan seluruh kaum muslimin
kekokohan di atas kebenaran.”

Berikutnya, akan kami kutip sebagian dari nasehat-nasehat beliau dan nasehat ulama lainnya sepanjang
fitnah ini yang ditampilkan dalam kitab Nashaih ‘Ulama’ Al-Ummah ‘Indal Fitan Al-Mudlahimmah (Nasehat-
Nasehat Ulama Ummat Dalam Menghadapi Fitnah Yang Gelap Gulita).
• Al-Walid Al-Muhaddits Al-Wushabi Al-'Abdali hafizhahullah berkata:

،‫ مع العلماء الربانيني‬،‫ أن يكونوا مع أهل العلم‬،‫أنصح إخواني مجيعاً بعد تقوى اهلل سبحانه وتعلى‬
‫ واحلمد هلل علماُء السنة دعوتهم‬،‫املتمسكني بكتاب اهلل وسنة رسول اهلل صلى اهلل عليه وأله وسلم‬
‫ ويدعون املؤمنني املتمسكني‬،‫ ويدعون إىل طلب العلم النافع‬،‫واحدة؛ يدعون إىل الكتاب وإىل السنة‬
‫ (ال‬:‫ كما قال الرسول عليه الصالة والسالم‬،‫ يدعونهم إىل التآلف وإىل التحابب‬،‫بالكتاب والسنة‬
‫تدخلون اجلنة حتى تؤمنوا وال تؤمنوا حتى حتابوا أَ َو َال أدلكم على شيء إذا فعلتموه حتاببتم؟ أفشوا‬
.‫السالم بينكم) رواه مسلم عن أبي هريرة رضي اهلل عنه‬
“Aku nasehatkan kepada saudaraku sekalian setelah nasehat untuk bertakwa kepada Allah, hendaklah bersama
ahlul ‘ilmi, bersama ulama rabbaniyyun (yang mendidik umat dengan penuh hikmah) yang berpegang dengan
kitab Allah dan sunnah Rasulullah n. Alhamdulillah, da’wah ulama sunnah satu, semuanya mengajak kepada
Al-Qur’an dan As-Sunnah, mengajak untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, mengajak kaum mukminin yang
berpegang dengan Kitab dan Sunnah untuk menjalin keakraban dan kasih sayang sesama mereka, sebagaimana
sabda Rasul n:

‫ال تدخلون اجلنة حتى تؤمنوا وال تؤمنوا حتى حتابوا أَ َو َال أدلكم على شيء إذا فعلتموه حتاببتم؟ أفشوا‬
.‫السالم بينكم‬
“Kalian tidak akan masuk jannah hingga kalian beriman dan tidaklah iman kalian sempurna hingga kalian
saling mencintai. Maukah aku tuntun kalian kepada sesuatu yang jika kalian melakukannya niscaya kalian akan
saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (Dikelurkan oleh Muslim dari Abu Hurairah z.)”

• Beliau berkata:


‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

‫ وأهل العلم هم الذين حيكمون يف ذلك كتاب‬،‫وما كان من خالف فهذا ُيرجع فيه إىل أهل العلم‬
،‫ فعلينا مجيعا أن حنرص على األلفة اليت ال يريدها الشيطان‬.‫اهلل وسنة رسوله عليه الصالة والسالم‬
.‫ وطاعة للرسول عليه الصالة والسالم‬،‫ طاعة هلل‬،‫حنرص عليها‬
“Khilaf yang ada kita kembalikan kepada Ahlul ‘ilmi. Merekalah yang akan memutuskan hukum dalam perkara
itu dengan timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Wajib atas kita semua untuk bersemangat dalam membina
keakraban yang tidak diinginkan oleh setan. Mari kita bersemangat untuk itu dalam rangka ketaatan kepada
Allah l dan ketaatan kepada Rasulullah n.”

• Beliau berkata:

‫إن اجلرح والتعديل‬َّ .‫فيا طلبة العلم! اجلرح والتعديل من ديننا لكن ليس هو لكل من هب ودب‬
‫له رجاله وهم العلماء األتقياء املخلصون الصادقون الرمحاء الربرة الذين يضعونه يف موضعه دون‬
،‫ وال اعتداء‬،‫ ودون ظلم‬،‫ وإمنا يضعونه موضعه الالئق به‬،‫حماباة أو جماملة ألحد وال تأثر بالعواطف‬
.‫ وال رياء وال مسعة‬،‫وال انتقام للنفس‬

،‫ فالعامي املتبصر حيذر‬،‫أما الكالم يف أهل البدع واألهواء فهذا مسلم به بني أهل السنة واجلماعة‬
.‫ فهم ينقلون كالم أهل العلم يف أهل األهواء بدون زيادة وال جمازفة‬،‫وكذا طالب العلم حيذر‬

‫ فهم‬،‫وأما الفنت إذا كانت بني عاملني من علماء أهل السنة فال خيوض فيها إال علماء أهل السنة‬
‫ أما العامي‬،‫ ومبن يستحق أن ُيعدَّل أو جُي َّرح‬،‫أعلم وأعرف مبا يقولون وأدرى باملصاحل واملفاسد‬
‫ والعلماء هم‬.‫وطالب العلم فال جيوز هلم اخلوض يف مثل هذه الفنت فضال عن أن جي ّرحوا أو يعدّلوا‬
‫ ﭽ ﮙ ﮚ‬:‫الذين سيحكمون بني العاملني املتنازعني مبا يوافق الكتاب والسنة كما قال تعاىل‬
‫ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭﮮ‬
‫ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ‬
9-10 :‫ﯡﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﭼاحلجرات‬
“Wahai para penuntut ilmu! Al-jarh wat ta’dil (menjarh/mencela dan mentazkiyah/merekomendasi) bagian
dari agama kita, namun bukan diserahkan kepada siapa saja yang ingin terlibat di dalamnya. Sesungguhnya
bidang ini ada tokohnya/ahlinya, yaitu para ulama yang bertakwa, ikhlas, jujur, pengasih, bijak dan sholeh yang
meletakkannya pada tempat yang semestinya tanpa memihak (berat sebelah), basa-basi dan bermain perasaan.
Semata-mata mereka letakkan pada tempat yang semestinya tanpa menzhalimi dan melampaui batas, bukan
dalam rangka pembelaan diri, bukan pula untuk riya’ dan sum’ah (ingin disanjung dan dipuji).
Adapun mencela ahlul bid’ah wal ahwa’, maka hal ini diterima dikalangan Ahlussunnah waljama’ah (untuk
dilakukan oleh siapa saja). Maka seorang awam yang mengetahui mentahdzir dari mereka, seorang thalibul ilmi
mentahdzir dari mereka. Jadi mereka menukil ucapan (jarh dan tahdzir) ulama terhadap ahlul ahwa’ tanpa
penambahan dan tidak serampangan.
Adapun fitnah yang terjadi antara dua ‘alim dari kalangan para ulama, maka tidak ada yang berhak untuk


Maksudnya, yang sudah jelas statusnya sebagai ahlul bid’ah wal ahwa’ berdasarkan jarh (celaan) dan tahdzir (peringatan) para ulama
ahlussunnah waljama’ah –pen.


Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

terlibat di dalamnya selain kalangan ulama Ahlussunnah. Karena merekalah yang lebih tahu dan lebih paham
dengan apa yang mereka sampaikan, mereka lebih mengerti mashlahat dan mafsadat serta siapa yang pantas
untuk ditazkiyah dan dijarh. Seorang awam dan thalibul ‘ilmi tidak berhak untuk melibatkan diri dalam fitnah
ini, apalagi sampai menjarh dan mentazkiyah. Para ulama yang akan memutuskan hukum antara dua ‘alim yang
berselisih menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana firman Allah l:

‫ﭽ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ‬
‫ﮪ ﮫ ﮬ ﮭﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ‬
‫ﯞ ﯟ ﯠ ﯡﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﭼ‬
“Jika dua kelompok dari kaum mukminin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu
pihak menzhalimi pihak yang lainnya, maka perangilah pihak yang zhalim hingga dia kembali ke jalan Allah
(bertaubat). Jika dia kembali ke jalan Allah (bertaubat), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil
dan bijak. Berbuat adillah kalian, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil. Sesungguhnya kaum
mukminin itu bersaudara, maka damaikanlah antara keduanya dan bertakwalah kepada Allah semoga kalian
dirahmati.” (Al-Hujurat: 9-10)

• Beliau berkata:

:‫فيا أهل السنة علينا أن ننـزل الناس منازهلم‬


.‫ فالعامل له مكانته واختصاصه‬-
.‫ وطالب العلم له مكانته واختصاصه‬-
.‫ والعامي له مكانته واختصاصه‬-
‫ وبهذا تسودنا األلفة‬،‫واجلميع نتعاون على الرب والتقوى وعلى نشر الدعوة السلفية بني الناس‬
‫ ويعرف لعاملنا‬،‫ ويرحم صغرينا‬،‫ (ليس من أميت من مل جيل كبرينا‬:‫واحملبة والرمحة كما قال رسول اهلل‬
‫حقه) رواه أمحد واحلاكم عن العبادة بن صامت وحسنه الشيخ العالمة األلباني رمحه اهلل يف صحيح‬
.)3445( :‫اجلامع رقم‬
“Wahai Ahlussunnah! Wajib atas diri kita semua untuk menempatkan setiap orang pada posisinya masing-
masing:
• Seorang 'alim diposisikan pada kedudukannya dan kekhususannya.
• Seorang thalibul 'ilmi diposisikan pada kedudukannya dan kekhususannya.
• Seorang awam diposisikan pada kedudukannya dan kekhususannya.
Kemudian semuanya ta'awun atas kebaikan dan ketakwaan serta penyebaran dakwah salafiyyah di kalangan
manusia. Dengan itu akan terbina keakraban, kecintaan dan kasih sayang di antara kita, sebagaimana sabda
Rasulullah n:

.‫ َويَ ْع ِر ْف ِل َعالمِِنَا َح َّقُه‬،‫يَنا‬ َ ْ‫س ِم ْن ُأمَّتيِ ْ َم ْن مَلْ جُ ِي َّل َكبِر‬


َ ْ‫ َويَ ْر َح ْم َص ِغر‬،‫يَنا‬ َ ْ‫َلي‬
“Bukan termasuk umatku siapa yang tidak memuliakan orang-orang tua kami, tidak menyayangi orang-orang
yang lebih muda (kecil) di antara kami dan tidak mengetahui hak ulama kami.”
Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-Hakim dari ‘Ubadah bin Shamith, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-
Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’ no (5443).”

10
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

‫ ‬
‫‪• Beliau berkata:‬‬

‫يا أخي بعض الفنت تدع احلليم حريان‪ ،‬فكيف بالذي هو ليس حبليم؟ سيتخبط إىل ُأ ِم رأسه‪ ،‬أنتم عند‬
‫االبتالء واالفتتان ينبغي أن جتتنبوها‪ ،‬كما قال الرسول عليه الصالة والسالم‪( :‬إن السعيد ملن جنب‬
‫الفنت‪ ،‬إن السعيد ملن جنب الفنت‪ ،‬إن السعيد ملن جنب الفنت) ثالث مرات‪ ،‬والرسول عليه الصالة‬
‫والسالم يكررها (إن السعيد ملن جنب الفنت) ويؤكد هذا بهذه التوكيدات‪ ،‬يكرر هذا التكرار‪،‬‬
‫يقول‪( :‬ملن جنب الفنت) وبعض الناس حيشر نفسه يف الفنت‪ .‬فانظر أين كالم الرسول صلى اهلل‬
‫عليه وآله وسلم‪ ،‬وأين فعل هذا املغفل؟! (إن السعيد ملن جنب الفنت)‪ ،‬وبعض الناس حيشر نفسه‬
‫يف الفنت حشراً‪ ،‬ويتصدر هلا‪.‬‬

‫يا أخي‪ :‬العامل وهو عامل خياف على نفسه من الفنت؛ فما كل عامل يوفق الجتناب الفنت‪ ،‬فكم اجتاحت‬
‫الفنت من علماء! انظروا إىل األشاعرة فيهم علماء‪ ،‬وهلم مؤلفات‪ ،‬فتنوا بهذه الفتنة؛ فتنة األشعرية‪،‬‬
‫وانظروا إىل املعتزلة‪ ،‬وإىل الروافض‪ ،‬وإىل اخلوارج‪ ،‬وإىل املرجئة‪ ،‬فيهم علماء فطاحلة‪ ،‬اجنرفوا معها‪،‬‬
‫وصاروا يدافعون عن الباطل‪ ،‬إذا كان العامل قد يسلم‪ ،‬وقد ال يسلم‪ ،‬فكيف باجلاهل العامي؟ وكيف‬
‫بطالب العلم؟‬

‫إذا كان العامل له عدة مؤلفات‪ ،‬ومع ذلك اجنرف يف فتنة االعتزال‪ ،‬أو اجنرف يف فتنة اخلوارج‪ ،‬أو‬
‫اجنرف يف فتنة التمشعر‪ ،‬أو اجنرف يف فتنة التصوف‪ ،‬أو فتنة الرفض والتشيع‪ ،‬وبعضهم اجنرف يف‬
‫فتنة اليهود والنصارى‪ ،‬بعض العلماء صار يدافع عن اليهود والنصارى‪ ،‬وعن الشيوعيني‪ ،‬ومنهم من‬
‫تنصر كعبد اهلل القصيمي وأمثاله‪ ،‬منهم من تنصر بعد أن كان من العلماء‪ ،‬ومن املؤلفني واحملققني‬
‫صار نصرانيا والعياذ باهلل‪.‬‬

‫فاإلنسان يبتعد عن الفنت‪ ،‬ويقول‪ :‬يا رب سلمين‪ ،‬ويقول‪ :‬جزى اهلل العلماء خرياً‪ ،‬لوال اهلل ثم العلماء‬
‫لكنا قوماً ضالني‪ .‬ويدعو هلم‪ :‬اللهم انصر علماء الكتاب والسنة‪ ،‬وامجع كلمتهم على احلق‪ ،‬وأعنهم‪،‬‬
‫ووفقهم‪ ،‬وسدد أقالمهم‪ ،‬وألسنتهم يا رب العاملني‪.‬‬

‫أما أنه يتصدر وهو طالب أو عامي‪ ،‬يا سبحان اهلل ما أحوجك إىل درة عمر رضي اهلل عنه اليت كان‬
‫يضرب بها أمثالك‪ ،‬ما أحوجك إىل مثلها‪ ،‬ضرب صبيغاً على رأسه‪ ،‬فقال‪ :‬يا أمري املؤمنني إن الذي‬
‫كنت أجده يف رأسي قد ذهب‪ .‬ذهب بعد ماذا؟ بعد أن أعطاه على رأسه‪ ،‬بعد ذلك صحا وقال‪ :‬واهلل‬
‫إن الذي كنت أجده يف رأسي قد ذهب‪ ،‬كان يف رأسه الشبه واهلوى والفنت‪ ،‬فلما ضرب طارت‪ ،‬ومع‬
‫ذلك أمر بهجره؛ ما أحد يقرتب منه‪ ،‬وال يسلم عليه‪ ،‬وال يرد سالمه‪ ،‬وملا جاء الشهود العدول‪ ،‬وقالوا‪:‬‬
‫يا أمري املؤمنني قد حسن حاله‪ .‬وصار هادئاً‪ ،‬ومصلياً‪ ،‬وصائماً‪ ،‬وصار‪ ،....‬وصار‪ ،....‬وصار‪ ،....‬بعد ذلك‬
‫أذن للمسلمني مبجالسته‪ ،‬فكثري من الناس يا إخوان حمتاجون لعصا عمر رضي اهلل عنه‪.‬‬
‫‪11‬‬
‫‪Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah‬‬

‫يا أخي ما كل كالم يقال‪ ،‬إذا كان العامل يقول القول وهو يرجو اهلل الثبات‪ ،‬والسداد‪ ,‬وخائف على‬
‫نفسه‪ ،‬فكم من علماء ضلوا وأضلوا وزاغوا واحنرفوا‪.‬‬

‫ﭽﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ‬
‫ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ‬
‫ﯛ ﯜ ﯝ ﯞﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ‬
‫ﯫﭼ‬

‫هذه قصة عامل قصها اهلل عز وجل علينا احنرف وكم من أمثاله يف قديم الزمان وحديثه!‬

‫ومن دافع عن العقيدة القدرية‪ ،‬إال علماء القدرية؟ وعن املرجئة؟ وعن اخلوارج؟ وعن املعتزلة؟ وعن‬
‫اجلهمية؟ وعن الصوفية؟ وعن الشيعة؟ وعن الروافض؟ من ومن ألف الكتب يدافع عن تلكم‬
‫األباطيل؟ إال أناس من أهل العلم‪ ،‬أضلهم اهلل على علم‪ ،‬كما قال اهلل تعاىل ‪ :‬ﭽ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ‬
‫ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦﭧ ﭨ ﭩ ﭪ‬
‫ﭼ‬
‫فأنت عليك أن تهدأ‪ ،‬وإذا قيل لك‪ :‬يا بقرة‪ ،‬ففع ً‬
‫ال أنت بقرة‪ ،‬وقد تكون البقرة أحسن منك هدوءاً‪،‬‬
‫تناطح من؟ تناطح العلماء؟ أما ختجل؟ أما تستحي على نفسك‪ ،‬صدق رسول اهلل صلى اهلل عليه‬
‫وسلم إذ يقول‪( :‬إن مما أدرك الناس من كالم النبوة إذا مل تستحي فاصنع ما شئت) رواه البخاري عن‬
‫ِ‬
‫أبي مسعود رضي اهلل عنه‪.‬‬

‫البقرة ما تناطح العلماء‪ ،‬وأنت تناطح العلماء‪ ،‬البقرة ما جتادل‪ ،‬وال ختوض مثل ما ختوض فيه أنت‪،‬‬
‫فأنت إذا قيل لك‪ :‬بقرة ‪-‬وامسحوا لي‪ -‬فبعض الناس ما يصلح له إال عصا عمر رضي اهلل عنه‪،‬‬
‫عصا عمر بالضرب‪ ،‬وأنا بالكالم‪ ،‬إذا قيل هلذا املغفل‪ :‬يا بقرة‪ ،‬أو يا ثور‪ ،‬فالثور أحسن منه‪ ،‬الثور‬
‫ما خيوض يف هذه األمور‪ ،‬الثور يعرف قدر نفسه‪ ،‬وهذا ما عرف قدر نفسه‪ ،‬العامل خائف من الفنت‪،‬‬
‫وهذا آمن‪ ،‬العامل خائف من الزلل واخلطأ‪ ،‬وهذا آمن منها‪ ،‬ما أمن إال جلهله‪ ،‬وبعض الناس لسوء‬
‫ال يف الطعون يف إخوانه‪ ،‬هو يف األصل عنده مرض يف قلبه من‬ ‫طويته‪ ،‬وملا عنده من أحقاد‪ ،‬وجد مدخ ً‬
‫ال يف الطعون يف إخوانه‪.‬‬‫إخوانه‪ ،‬فوجد مدخ ً‬

‫فانتبهوا جزاكم اهلل خرياً‪ ،‬عند أي فتنة إذا مل يكم موقفك قيها الرجوع إىل العلماء‪ ،‬وإال فأنت ممن‬
‫خذل‪ ،‬وما وفق‪َ ،‬تأتي فنت‪ ،‬ما هي واحدة وانتهينا‪ ،‬بل فنت كثرية جداً‪ ،‬كلما جاءت فتنة قل‪ :‬اللهم‬
‫ثبتين‪ ،‬كلما جاءت فتنة قل‪ :‬أجلأ إىل اهلل‪ ،‬فبعض الناس ما يلجأ إىل اهلل بالدعاء‪ ،‬وال بالعبادة‪ ،‬وال‬

‫‪12‬‬
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

‫ (من حسن إسالم املرء تركه ما ال‬:‫ وقد قال الرسول عليه الصالة والسالم‬،‫ وخيوض وخيوض‬،‫بشيئ‬
.)‫يعنيه‬
“Wahai saudaraku! Sebagian fitnah yang menerjang menjadikan seorang yang halim (berakal dan sabar)
terperangah kebingungan, maka bagaimana dengan orang yang tidak halim, dia akan membabi buta tidak
karuan. Kalian sekarang sedang diuji dengan fitnah. Wajib bagi kalian untuk menjauhkan diri dari fitnah,
sebagaimana sabda Rasulullah n:

َ ‫الس ِعيْ َد لمََ ْن ُجن‬


. ََ‫ِّب ال ِفتن‬ َ ‫الس ِعيْ َد لمََ ْن ُجن‬
َّ ‫ إِ َّن‬، ََ‫ِّب ال ِفتن‬ َ ‫الس ِعيْ َد لمََ ْن ُجن‬
َّ ‫ إِ َّن‬، ََ‫ِّب ال ِفتن‬ َّ ‫إِ َّن‬
“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah yang benar-benar dijauhkan dari fitnah, sesungguhnya orang
yang berbahagia adalah yang benar-benar dijauhkan dari fitnah, sesungguhnya orang yang berbahagia adalah
yang benar-benar dijauhkan dari fitnah.”
Beliau mengulanginya tiga kali, beliau menekankan hal ini dengan penegasan-penegasan dan mengulang-
ulanginya dengan berkata:

َ ‫لمََ ْن ُجن‬
. ََ‫ِّب ال ِفتن‬
“Yang benar-benar dijauhkan dari fitnah.”
Sementara sebagian manusia kita dapati menderetkan dirinya dalam medan fitnah.
Perhatikanlah, di mana sabda Rasul n dan di mana sikap orang lalai ini?!

َ ‫الس ِعيْ َد لمََ ْن ُجن‬


. ََ‫ِّب ال ِفتن‬ َّ ‫إِ َّن‬
“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah yang benar-benar dijauhkan dari fitnah.”
Sementara sebagian manusia menderetkan dirinya dalam fitnah dan mengajukan dirinya untuk fitnah.
Wahai saudaraku! Seorang ‘alim mengkhawatirkan dirinya dari fitnah, sebab tidak setiap ‘alim mendapat taufiq
untuk menjauhkan diri dari fitnah, berapa banyak ulama yang jadi korban fitnah! Lihatlah Al-Asya’irah, di
kalangan mereka ada ulama dan mereka memiliki berbagai karya tulis, namun mereka termakan oleh fitnah
Asy’ariyyah. Lihatlah Al-Mu’tazilah, Rafidhah, Khawarij dan Murji’ah, di kalangan mereka ada ulama yang
hanyut bersama fitnah mereka dan selanjutnya menjadi pembela-pembela kebatilan. Jika seorang ‘alim mungkin
selamat dan mungkin tidak selamat dari fitnah, maka bagaimana dengan seorang awam yang jahil dan seorang
thalibul ‘ilmi?
Jika seorang ‘alim punya berbagai karya tulis ternyata hanyut dalam fitnah Mu’tazilah, fitnah Khawarij, fitnah
Asy’ariyyah, fitnah tashawwuf atau fitnah Rafidhah dan Syi’ah. Bahkan sebagian ulama hanyut dalam fitnah
Yahudi dan Nashara, sebagian ulama akhirnya menjadi pembela Yahudi dan Nashara, atau pembela Komunis.
Di antara mereka ada yang menjadi Nashrani, seperti ‘Abdullah Al-Qashimi dan semisalnya. Di antara manusia
ada yang menjadi Nashrani setelah menjadi seorang ‘alim yang punya karya tulis, kita berlindung kepada Allah
l dari yang demikian.
Maka hendaklah seseorang menjauhkan diri dari fitnah dan berdoa:

. ‫يَا َر ِّب َسِّل ْم‬


ِ‫ني‬
”Wahai Rabbku, selamatkanlah aku!”
Hendaklah dia berucap: “Semoga Allah l membalas para ulama dengan balasan yang lebih baik, kalau
seandainya bukan karena Allah l, kemudian para ulama tentulah kami termasuk kaum yang tersesat.”
Hendaklah dia mendoakan mereka dengan berkata:

13
Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

‫ َو َس ِّدْد‬،‫ َو َس ِّدْد ُه ْم‬،‫ َو َوِّف ْقهم‬،‫ َوأَ ِعنْ ُه ْم‬،‫احل ِّق‬


َ ‫َه ْم َعَلى‬
ُ ‫ واجمَْ ْع َكِل َمت‬،‫السنَِّة‬
ُّ ‫َاب َو‬ ِ ‫ْص ْر ُعَل َماَء‬
َ ‫الكت‬ َّ
ُ ‫الل ُه َّم ان‬
ُ ‫ال َم ُه ْم َوأَْل ِست‬
. َ ْ‫َه ْم يَا َر َّب ال َعاملَِين‬ َ ‫أَْق‬
“Ya Allah, tolonglah para ulama Al-Qur’an dan As-Sunnah, satukanlah kalimat mereka di atas al-haq, bantulah
mereka, beri mereka taufik, luruskan mereka, luruskan pena-pena dan lisan-lisan mereka, wahai Rabb sekalian
alam!”
Adapun seseorang menampilkan dirinya (pada masa fitnah), padahal dia hanya thalib (pelajar) atau orang biasa
(awam), maka Maha Suci Allah, betapa butuhnya kamu untuk dipukul dengan dirrah (tongkat) Umar z
yang dengannya Umar biasa memukul orang-orang seperti kamu. ‘Umar z pernah memukul kepala Shabigh
dengan tongkatnya, maka setelah itu Shabigh berkata: “Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, sungguh apa
yang ada di kepalaku telang hilang.” Namun hilang setelah diapakan? Setelah ‘Umar z memukul kepalanya
dengan tongkatnya, setelah itu baru sadar dan berkata: “Sungguh yang ada di kepalaku telah hilang.” Yang ada
di kepalanya adalah syubhat, hawa nafsu dan fitnah, setelah dipukul ‘Umar z akhirnya hilang. Bersama
dengan itu ‘Umar z tetap memerintahkan untuk diisolasi (hajr), tidak seorangpun yang boleh mendekatinya,
mengucapkan salam kepadanya dan menjawab salamnya. Tatkala para saksi yang adil datang bersaksi: “Wahai
Amirul mukminin, sungguh sekarang dia sudah menjadi baik kembali, sekarang dia sudah tenang, sudah shalat,
berpuasa, dst.”, barulah kemudian beliau mengizinkan kaum muslimin untuk duduk bersamanya. Jadi banyak
orang yang butuh diberi pelajaran dengan tongkat ‘Umar.
Wahai saudaraku, tidak setiap yang ingin diucapkan pantas untuk disampaikan. Seorang ‘alim saja menyampaikan
ucapannya dalam keadaan berharap kepada Allah l agar diberi tsabat (kekokohan) dan kelurusan, serta
khawatir atas dirinya. Tidak sedikit ulama yang sesat, menyesatkan, menyimpang dan berpaling.
Allah l berfirman:

‫ﭽﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ‬
‫ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ‬
‫ﯜ ﯝ ﯞﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ‬
‫ﭼ‬
“Bacakanlah kepada mereka berita seseorang yang telah kami ajari ayat-ayat kami (kami beri ilmu), kemudian dia
berpaling darinya, maka setanpun mengikutinya (untuk semakin menjerumuskannya dalam maksiat), sehingga
menjadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Kalau seandainya kami mau, maka kami akan mengangkat
derajatnya dengan itu, namun dia mengekalkan dirinya ke bumi (menghambakan dirinya kepada kehidupan
dunia) dan mengikuti hawa nafsunya. Permisalannya seperti anjing, jika engkau muati dia menjulurkan lidahnya
terengah-engah atau engkau biarkan diapun tetap begitu (dia tidak pernah puas dengan dunianya). Demikianlah
permisalan kaum yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah yang ada
semoga mereka mau berpikir. “ (Al-A’raf: 175-176)
Ini adalah kisah seorang yang berilmu yang hanyut dalam fitnah, diceritakan oleh Allah l kepada kita dan
betapa banyak yang semisal dengannya pada masa lalu dan sekarang.
Tidaklah membela akidah Qadariyyah selain ulama Qadariyyah, demikian pula Murji’ah, Khawarij, Mu’tazilah,
Jahmiyyah, Sufhiyyah, Syi’ah dan Rafidhah. Siapakah yang mengarang kitab-kitab untuk membela kebatilan-
kebatilan itu? Tidak lain adalah orang-orang yang berilmu yang disesatkan oleh Allah l di atas ilmu mereka,
sebagaimana firman Allah l:

‫ﭽﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ‬
‫ﭥ ﭦﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭼ‬
14
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

“Tidakkah engkau melihat siapa yang mempertuhankan hawa nafsunya dan Allah sesatkan dia di atas ilmu, Allah
tutup pendengarannya serta qalbunya, dan Allah beri selaput pada penglihatannya, maka siapakah yang dapat
memberinya hidayah setelah Allah (menyesatkannnya), tidakkah kalian mengambil pelajaran.” (Al-Jatsiyah:
23)
Wajib atasmu untuk menahan diri dan tenang. Jika dikatakan kepadamu bahwa engkau adalah sapi (dungu),
maka memang realitanya kamu sapi, bahkan boleh jadi sapi lebih bisa menahan diri daripada kamu. Siapa yang
hendak engkau tanduk? Engkau hendak menanduk ulama? Tidakkah engkau malu? Tidak malu pada dirimu
sendirimu? Telah benar Rasulullah n ketika bersabda:

ْ ‫ إَِذا مَلْ َت ْست‬:ِ‫ال ِم النُُّب َّوة‬


ْ ‫َح ِي َف‬
َ ‫اصنَ ْع َما ِشئ‬
.‫ْت‬ ُ َّ‫إِ َّن ممَِّا أَْد َر َك الن‬
َ ‫اس ِم ْن َك‬
“Sesungguhnya di antar yang didapati manusia dari ucapan kenabian: “Jika engkau tidak punya rasa malu
berbuatlah sekehendak hatimu.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari Abu Mas’ud z).
Sapi tidak menanduk ulama, sedangkan engkau menanduk ulama. Sapi tidak mendebat dan tidak melibatkan
diri seperti yang engkau perbuat sekarang. Jadi jika dikatakan kepadamu “engkau sapi”, maka harap dimaklumi.
Sebagian orang tidak ada yang akan meredakannya selain tongkat Umar z, dipukul dengan tongkat Umar
z. Jika dikatakan kepada yang tidak sadar: “Wahai sapi” atau “Wahai banteng”, maka banteng lebih baik
darinya, karena banteng tidak mereka-reka pada urusannya. Banteng menyadari kadar dirinya, sedangkan orang
ini tidak menyadari dirinya. Seorang ‘alim takut dari fitnah, sedangkan orang ini merasa aman dari fitnah.
Seorang ‘alim takut tergelincir dan salah, sedangkan orang ini merasa aman dari ketergelinciran dan kesalahan.
Tidaklah dia seperti itu kecuali dikarenakan kejahilannya. Sebagian orang, dikarenakan kejelekan niatnya dan
kedengkian yang tersembunyi dalam qalbunya diapun mendapat celah untuk mencela saudaranya. Padahal
pada asalnya memang ada penyakit dalam qalbunya terhadap saudaranya, maka diapun mendapat celah untuk
mencela saudaranya.
Waspadalah! Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan. Jika sikap yang engkau ambil pada setiap fitnah
yang terjadi bukan kembali kepada ulama, maka engkau akan termasuk orang yang terlantar dan tidak diberi
taufiq. Fitnah akan menerjang silih berganti, bukan hanya sekali dan berakhir selamanya. Bahkan fitnah itu
banyak sekali (silih berganti). Setiap kali ada fitnah, maka berdoalah:

. ْ‫الل ُه َّم َثبِّت‬


َّ
ِ‫ني‬
“Ya Allah! Kokohkanlah aku.”
Setiap kali ada fitnah, maka berdoalah:

َ
َ ‫احل ْور َب ْع َد‬ َ َ
،‫الك ْو ِر‬ ِ ‫ اللهم إِِّني أ ُعوُذ ِب َك ِم َن‬،ِ‫اآلخ َرة‬ ِ ِ‫الدْنيَا َوفي‬ ُّ ِ‫احليَاة‬ ِ‫ت في‬ ِ ‫الل ُه َّم َثبِّتْنيِ ِباْل َق ْو ِل الث‬
ِ ‫َّاب‬ َّ
، َ ْ‫الل ُه َّم ا ْرُزْق ُجَل َساَء َصالحِِين‬ َّ ،‫اص ِر ْف عَنيِّ ال ِفتنََ َما َظ َه َر ِمنْ َها َو َما َب َط َن‬
َّ ، ْ‫الل ُه َّم َب ِّص ْرِني ِدي‬ َّ
ْ ‫الل ُه َّم‬
ِ‫ني‬ ِ‫فيِ ني‬
.‫الل ُه َّم ُخ ْذ ِبيَ ِدي إِىَل َما تحُ ِبُُّه َوَت ْر َضاُه‬
َّ ، َ ْ‫َو ُعَل َماَء َرَّباِنيِّين‬
“Ya Allah, kokohkanlah aku dengan ucapan yang tsabit (kokoh) di dunia dan akhirat. Ya Allah, sungguh aku
berlindung kepadamu dari kerusakan setelah kebaikan. Ya Allah, palingkanlah dariku fitnah-fitnah yang nyata
dan yang tersembunyi. Ya Allah, berilah aku cahaya ilmu dalam agamaku. Ya Allah, anugerahilah aku teman
duduk dari kalangan orang-orang shalih dan ulama Rabbaniyyun. Ya Allah, ambillah tanganku kepada apa yang
engkau sukai dan ridhai.”
Bersandarlah kepada Allah, sebagian orang tidak kembali menyandarkan dirinya kepada Allah dengan doa,


Yaitu sebagai teguran keras seorang ayah kepada anak-anaknya yang bandel dan kurang ajar kepada para ulama yang merupakan ayah-ayah
mereka yang seharusnya dihormati dan dimuliakan, bukannya dicela, dicerca dan dicari-cari kesalahannya untuk dijatuhkan –pen.

Atau penurunan setelah peningkatan, wallahu a’lam –pen.

15
Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

tidak pula dengan ibadah, tidak melakukan satu upayapun, melainkan melibatkan diri dan melibatkan diri,
padahal Rasulullah n bersabda:

.‫ال ِم املَْرِء َت ْر ُكُه َما َال يَ ْعنِيِْه‬


َ ‫ِم ْن ُح ْسن إ ْس‬
ِِ
“Merupakan kebagusan Islam seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak penting baginya.”

• Beliau juga menasehatkan:

:‫ كما قال اهلل تعاىل‬،‫ والباطل له نهاية‬،‫ اهللَ االستقامة على الكتاب والسنة‬،َ‫فاهلل‬

81 :‫ﭽﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢﭼ اإلسراء‬

‫ ناصرأهل‬،‫ اهلل ناصر احلق‬،‫ وألن اهلل مؤيده وناصره‬،‫ واحلق يدوم وينتصر؛ ألن اهلل معه‬،‫الباطل ال يدوم‬
‫ ﭽﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚﮛ‬:‫ وأما الباطل فكما قال اهلل سبحانه وتعاىل‬،‫احلق‬
18 :‫ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﭼ األنبياء‬

‫ أو كان يف أي‬،‫ سواء كان يف هذه الفتنة‬،‫ املتمسكني بالكتاب والسنة‬,‫فكونوا مع أهل العلم الربانيني‬
.‫ وهذا هو الذي جيب أن نقرره يف أمساعكم‬,‫فتنة من الفنت‬

“Maka bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah, beristiqamalah (konsistenlah) di atas Al-Kitab dan
As-Sunnah. Kebatilan ada akhirnya, sebagaimana firman Allah l:

‫ﭽﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﭼ‬
“Katakan (wahai Muhammad) telah datang kebenaran dan musnahlah kebatilan, sesungguhnya kebatilan itu
akan musnah.” (Al-Isra: 81)
Kebatilan tidak akan kekal, sedangkan kebenaran kekal dan tertolong; karena Allah bersamanya, menguatkannya
dan menolongnya. Allah menolong kebenaran dan ahlul haq. Adapun kebatilan, maka seperti firman Allah:

‫ﭽﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﭼ‬
“Bahkan kami melemparkan kebenaran kepada kebatilan sehingga mengalahkannya, maka serta merta kebatilan
itupun musnah. Bagi kalian adzab dengan sebab apa yang kalian sifatkan (menyifatinya punya anak dan istri
serta mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah).” (Al-Anbiya’:18)
Maka hendaklah kalian bersama Ahlul ‘ilmi Rabbaniyyun yang berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah,
baik dalam fitnah ini atau dalam fitnah apa saja. Inilah yang wajib untuk kami tetapkan pada pendengaran-
pendengaran kalian.”

• Berkata Asy-Syaikh 'Utsman As-Salimi hafizhahullah:

‫ فكيف لو‬،)‫ (الربكة مع أكابركم‬:‫ فنبينا يقول‬،‫فالواجب على طلبة العلم أال يتقدموا على علمائهم‬
‫ جرب مشاكل‬،‫ فقد ج ّرب احلياة‬،‫ فصار كبريا يف علمه‬،‫ ِكرب العلم‬،‫مجع اهلل هلذا الشخص ِكرب السن‬
‫ نعم خيطئ؛ ألنه مل يقدّر املصاحل‬،‫ وهذا احلدث يظن األمر على هذه الطريقة فيخطئ‬،‫الناس وأحواهلم‬
.‫واملفاسد‬
16
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

‫فلذلك حنن حباجة أن نكون خلف العلماء‪ ،‬فإن الفنت تزداد اشتعاال إذا وكلت إىل صغار القوم‪ .‬إذا‬
‫كان النيب صلى اهلل عليه وسلم عند أن قتل أحد الصحابة يف خيرب‪ ،‬وهي منطقة من مناطق اليهود‪،‬‬
‫ولكن كانوا أهل ذمة‪ ،‬عاهدهم النيب صلى اهلل عليه وسلم‪ ،‬ثم إنه ذهب بعض املسلمني مع بعض‬
‫إخوانه إىل خيرب‪ ،‬فقتل يف ذلك املكان‪ ،‬فجاء أخوه وبنو عمه إىل الرسول صلى اهلل عليه وسلم فقالوا‪:‬‬
‫يا رسول اهلل‪ ،‬فالن قتل‪ ،‬فأراد أخو املقتول الصغري أن يتكلم‪ ،‬وجبواره ابن عمه أكرب منه سنا‪ ،‬فأراد‬
‫الصغري أن يتكلم‪ ،‬فقال له النيب صلى اهلل عليه وسلم‪( :‬كرب‪ ،‬كرب)‪ .‬قال‪ :‬يريد ِكرب السن‪ ،‬فلم يأذن‬
‫النيب صلى اهلل عليه وسلم للصغري بالكالم حتى تكلم الكبري‪ ،‬وهذا من تقدير وتعظيم كبار السن‪،‬‬
‫وهكذا كبار العلم؛ ألن الصغري قد يتكلم بكالم غلط فيقع يف األذهان‪ .‬ولكن إذا تكلم الكبري‬
‫فللصغري أن ينقل ما تكلم به الكبريعلى الوجه الصحيح إن كان النقل له حاجة‪ ،‬فنحن ال مننع طلب‬
‫العلم أن ينقل احلق‪ ،‬بل هم يعتربون سفراء لعلمائهم إىل الناس‪ ،‬ولكن إذا كان هناك مصلحة وأذن‬
‫املشايخ بنشر ما قالوه من الفتوى أو احلكم أو البيان‪ ،‬فهذا الذي يضبط لنا األمور‪.‬‬

‫أما إذا كان هذا الصغري يتقدم من هنا‪ ،‬وذاك من هناك‪ ،‬فصارت السهام تصدر من الصغار على‬
‫بعضهم البعض‪ ،‬أو يتكلم الصغار على كبار القوم‪ ،‬فعلم أن هذه الطريقة طريقة خطرية‪ ،‬ما ضلت‬
‫اخلوارج إال بسبب أنهم مل يأخذوا بتوجيهات الصحابة‪ ،‬فحكموا آرائهم قبل أن حيكموا كبارهم‪،‬‬
‫بل انظر يف العهد النبوي‪ ،‬حني كان النيب صلى اهلل عليه وسلم يقسم الغنائم أو املال الذي جاء‬
‫من اليمن‪ ،‬فأحد اخلوارج وهو ذو اخلويصرة يقول‪ :‬واهلل هذه قسمة ما أريد بها وجه اهلل‪ .‬سبحان اهلل!‬
‫اعرتاض‪ ،‬يريد أن يسري الناس كما يشتهي هو‪ ،‬ما يدري املسكني أن رسول اهلل عليه الصالة و السالم‬
‫ما يعمل شيئا إال يوحي‪ ،‬فقال‪ :‬هذه القسمة ما أريد بها وجه اهلل‪ .‬ملاذا يعطي املؤلفة‪ ،‬و يعطي فالنا ما‬
‫ال كثريا‪ ،‬ويعطي‪ ،‬ويعطي ‪ ،...‬فقال‪ :‬هذه ما أريد بها إال اجملاملة‪ ،‬نسأل اهلل السالمة‪ ،‬فقال النيب صلى‬
‫اهلل عليه وسلم‪( :‬أال تأ َمنوني وأنا أمني من يف السماء)‪ .‬ثم أراد عمر أن يضرب عنق ذلك الرجل‪،‬‬
‫ويف رواية‪ :‬خالد‪ ،‬ولعلهما االثنان رضي اهلل عنهما أرادا قتله‪ ،‬فقال النيب صلى اهلل عليه وسلم‪( :‬دعوه‪،‬‬
‫سيخرج من ضئضئ هذا قوم ميرقون من الدين كما ميرق السهم من الرمية‪ ،‬حتقرون صالتكم مع‬
‫صالتهم‪ ،‬وصيامكم مع صيامهم‪ ،‬وقراءتكم مع قراءتهم)‪.‬‬

‫فليس املطلوب أنك حتفظ فقط‪ ،‬أو تكثر العبادة فقط‪ ،‬كثري العبادة على موافقة السنة خري وبركة‪،‬‬
‫وهذا مطلوب منا مجيعا‪ ،‬ولكن ال يدل على أن من صار قارئا‪ ،‬أو عنده شيء من اخلري والعلم أنه‬
‫يتصدر لألحكام‪ ،‬ال بد أن ننـزل الناس منازهلم‪ ،‬وننـزل األمور منازهلا‪ ،‬وهلذا كما قلت إذا رجع الناس‬
‫إىل صغارهم فهذا يسبب الفنت‪.‬‬
‫‪“Maka kewajiban thalabatul ‘ilmi adalah tidak mendahului ulama mereka, Nabi n kita telah bersabda:‬‬

‫الب َكُة َم َع أَ َك ِاب ِر ُك ْم‪.‬‬


‫رََ‬
‫‪17‬‬
Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

“Berkah Allah bersama orang-orang besar kalian (dalam hal ilmu dan kedudukan).”
Maka bagaimana lagi jika seseorang terkumpul pada dirinya kebesaran dalam hal ilmu dan usia, diapun
menjadi seorang yang besar ilmunya dan tua usianya. Sungguh dia telah berpengalaman dalam hidupnya dan
berpengalaman dalam menghadapi berbagai permasalahan dan kondisi masyarakat. Orang muda ini menyangka
bahwa urusan ini ditangani dengan cara seperti ini sehingga dia keliru. Ya, dia keliru; karena dia tidak tahu
mengukur mashlahat dan mafsadat.
Oleh karena itu kita berhajat untuk berjalan di belakang ulama; karena fitnah akan semakin menyala jika
diserahkan kepada kalangan orang-orang kecil dari kaum itu. Kalau saja Nabi n tatkala salah seorang sahabat
terbunuh di Khaibar (beliau tidak mengizinkan yang muda untuk berbicara hingga yang tua telah berbicara,
maka demikian halnya dengan kita). Khaibar adalah salah satu wilayah dari wilayah Yahudi, namun mereka
adalah Ahludz Dzimmah; Nabi n mengambil perjanjian atas mereka. Kemudian sebagian kaum muslimin
bersama saudaranya pergi ke sana, lalu dia terbunuh di sana. Maka datanglah saudaranya dan sepupunya
menghadap Rasulullah n dan melapor: “Wahai Rasulullah! Fulan terbunuh.” Saudara korban ingin mendahului
berbicara, sementara di sampingnya ada sepupunya yang usianya lebih tua darinya, maka Rasulullah n berkata
kepadanya:

ْ ِّ‫ب! َكر‬
!‫ي‬ ْ ِّ‫َكر‬
“Dahulukan yang tua! Dahulukan yang tua!”
Maksud Rasulullah n yang lebih tua usianya. Maka beliau tidak mengizinkan yang muda untuk berbicara
hingga yang tua telah berbicara. Hal ini merupakan penghormatan kepada dan pemuliaan kepada orang-orang
yang berusia lebih tua dan demikian pula halnya dengan yang beilmu lebih tinggi. Hal ini dikarenakan seorang
yang masih kecil/muda boleh jadi dia berbicara sesuatu yang keliru dan tersangkut dalam ingatan. Namun
jika yang besar telah berbicara, maka bagi yang kecil untuk menukil ucapan yang besar dengan cara penukilan
yang benar jika ada hajat yang menuntut hal itu. Jadi kita tidak menghalangi seorang thalib untuk menukilkan
kebenaran, justru thalabatul ‘ilmi merupakan duta perantara yang menyambungkan ulama dengan keumuman
kaum muslimin. Namun hal itu dilakukan jika ada mashlahatnya dan para masyayikh telah mengizinkan
penyebaran fatwa, hukum, keterangan yang disampaikannya. (Adab) inilah yang akan menjaga urusan-urusan
kita terbimbing dengan baik.
Adapun jika yang kecil maju mendahului dari sana dan yang lainnya dari sana sehingga mereka saling
menghantamkan senjata-senjatanya kepada pihak yang lain, atau bahkan kalangan kecil menjelek-jelekkan
pembesar-pembesar kaum, maka jelas ini adalah cara yang berbahaya. Tidaklah kaum Khawarij tersesat kecuali
karena mereka enggan untuk mengikuti arahan-arahan para sahabat Rasul n. Mereka bertahkim (berhukum)
kepada pandangan-pandangan mereka sendiri sebelum bertahkim (berhukum) kepada sahabat Rasul n. Bahkan
lihatlah masa Rasulullah n, ketika Rasul n membagikan harta ghanimah (rampasan perang) yang datang
dari negeri Yaman berkatalah seorang khawarij, yaitu Dzul Khuwaishirah: “Demi Allah, ini adalah pembagian
yang tidak diinginkan dengannya wajah Allah”. Maha suci Allah! Ini adalah kritikan, dia ingin agar orang-
orang berjalan sesuai hawa nafsunya. Orang miskin ini tidak sadar bahwa Rasulullah n tidaklah melakukan
suatu amalan dalam agama ini kecuali dengan berdasarkan wahyu, lalu dia (dengan lancangnya) mengatakan:
“Ini adalah pembagian yang tidak diinginkan dengannya wajah Allah”. Kenapa beliau memberi orang-orang
muallaf (yang ingin dipikat qalbunya), memberi fulan harta yang banyak, memberi fulan, memberi …, sehingga
berkatalah orang miskin ini bahwa pembagian ini semata-mata untuk basa-basi -kita memohon kepada Allah
keselamatan-. Maka berkatalah Nabi n:

َ َ َ
َّ ِ‫أ َال َتأَْمُن ْوِني َوأَنا أ ِمينُْ َم ْن في‬
.‫الس َماِء‬
“Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku adalah kepercayaan Dzat yang ada di atas langit.”
Lalu ‘Umar bermaksud untuk menebas leher orang itu, dalam riwayat lain: Khalid (yang bermaksud menebas
lehernya), dan barangkali kedua-duanya bermaksud membunuhnya. Maka Nabi n berkata:

18
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

َ ‫ تحَْ ِقُرو َن َص‬،‫الر ِميَِّة‬


‫الَت ُك ْم‬ َّ ‫ين َك َما يمَُْر ُق‬
َّ ‫الس ْه ُم ِم َن‬ ِّ ‫ْض ِئ َه َذا َق ْو ٌم يمَُْرُقو َن ِم َن‬ ِ ‫َعوُه! َسيَ ْخُر ُج ِم ْن ِضئ‬
ِ ‫الد‬ ُ‫د‬
.‫ َوِق َراَءَت ُك ْم َم َع ِق َراَءِت ِه ْم‬،‫ َو ِصيَا َم ُك ْم َم َع ِصيَا ِم ِه ْم‬،‫الِت ِه ْم‬
َ ‫َم َع َص‬
“Biarkan dia! Akan muncul suatu kaum dari keturunannya yang melesat keluar dari agama ini dengan cepat
seperti anak panah yang melesat keluar menembus sasarannya. Kalian menganggap kecil shalat kalian dibanding
shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka dan bacaan Qur’an kalian dibanding bacaan Qur’an
mereka.”
Jadi yang dituntut darimu bukan semata-mata menghafal Al-Qur’an atau memperbanyak ibadah. Memperbanyak
ibadah yang sesuai dengan As-Sunnah merupakan kebaikan dan berkah, dan hal ini dituntut dari kita semua,
namun tidaklah hal itu berarti bahwa siapa saja yang telah menghafal Al-Qur’an atau punya sedikit kebaikan
dan ilmu lantas menampilkan diri untuk menfatwakan hukum. Kita harus menempatkan manusia sesuai
kedudukannya dan menempatkan urusan sesuai posisinya. Oleh karena itu seperti yang telah aku katakan jika
kaum muslimin kembali kepada orang-orang kecil mereka, maka hal itu akan menimbulkan fitnah.”


Tersimpulkan dari nasehat-nasehat di atas bahwa jika terjadi fitnah, maka wajib secara darurat bagi siapa
saja yang berharap diselamatkan oleh Allah l dari fitnah itu untuk merujuk kepada kibar ulama. Apa yang
dinasehatkan oleh mereka itulah yang dipegang dan dijalani. Jika seorang thalib (penuntut ilmu) menyampaikan
sesuatu dalam fitnah itu, maka kita semata-mata menyampaikan apa yang dinyatakan oleh mereka dengan
penuh amanah dan kehati-hatian. Jadi mereka yang berijtihad dan thalabatul ‘ilmu menyampaikan hasil ijtihad
mereka sebagai penyambung antara mereka dan umat, wallahul muwaffiq.

19
Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

IJMA’ (KESEPAKATAN) ULAMA UMAT ATAS KESALAFIAN ASY-


SYAIKH ‘ABDURRAHMAN MAR’I DAN ASY-SYAIKH ‘ABDULLAH
MAR’I HAFIZHAHUMALLAH

Dalam buku Nashaih ‘Ulama’ Al-Ummah ‘Indal Fitan Al-Mudlahimmah (Nasehat-Nasehat Ulama
Ummat Dalam Menghadapi Fitnah Yang Gelap Gulita) Al-Walid Al-Wushabi hafizhahullah mengawali dengan
menukilkan dua ijtima’ (pertemuan) besar ulama kibar Ahlussunnah di Yaman sebagai aplikasi wasiat Al-Walid
Al-Mujaddid Muhaddits daril Yamaniyyah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah yang ditujukan kepada
kibar ulama Yaman yang digelari oleh beliau sebagai Ahlul halli wal ‘aqdi, yaitu ulama yang memiliki keahlian
dan kemampuan dalam menyelesaikan berbagai problema dakwah yang ada. Seiring dengan himbauan Al-
Walid Al-’Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah yang diakui sebagai Imam Ahlil jarh wat ta’dil
masa ini agar wasiat itu diaplikasikan dalam menyelesaikan fitnah ini.
Ijtima’ pertama berlangsung di Ma’bar di markaz Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam pada 12 Rabi’ul
Akhir 1428 H. Hadir pada ijtima’ itu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi, Asy-Syaikh
Muhammad bin ‘Abdilllah Al-Imam, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Yahya Al-Bura’i, Asy-Syaikh ‘Abdullah
bin ‘Utsman Adz-Dzamari, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Ash-Shumali, Asy-Syaikh ‘Abdul Mushawwir
Al-’Arumi, Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Utsman As-Salimi, Asy-Syaikh ‘Abdur Rahman bin Mar’i Al-Adeni
hafizhahumullah.
Ijtima’ yang kedua berlangsung di Hudaidah di markaz Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-
Wushabi pada 5 Muharram 1429 H. Hadir pada ijtima’ itu para masyayikh tersebut di atas.
Kesimpulan dari kedua ijtima’ tersebut menyatakan bahwa ijtihad Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri
hadanallah waiyyah menvonis Asy-Syaikh ‘Abdur Rahman –juga Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Mar’i - sebagai
hizbi adalah salah dan atas Asy-Syaikh Yahya untuk menahan lisannya.
Kemudian setelahnya beliau menukilkan nasehat-nasehat para ulama kibar yang berbicara pada
kesempatan yang berbeda-beda dalam upaya meredakan fitnah ini. Nasehat Al-Walid Al-’Allamah Asy-Syaikh
Rabi’ Al-Madkhali, Al-Walid Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil
Wahhab Al-Wushabi, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdilllah Al-Imam, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Yahya
Al-Bura’i, Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Utsman Adz-Dzamari, Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Utsman As-Salimi Asy-
Syaikh Muhammad bin Shalih Ash-Shumali, Asy-Syaikh ‘Abdul Mushawwir Al-’Arumi hafizhahumullah.
Semuanya sepakat menyalahkan ijtihad Asy-Syaikh Yahya menvonis Asy-Syaikh ‘Abdur Rahman
Al-’Adeni dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Mar’i hafizhahumallah sebagai hizbi. Mereka mengajak pihak Asy-
Syaikh Yahya dan pengikutnya untuk berhenti dari fitnah ini dan saling menghormati, karena semuanya adalah


Ijtima’ kedua ini sekaligus untuk menuangkan hasil ijtima’ para masyayikh Yaman bersama Asy-Syaikh Rabi’ di kediamannya di Makkah pada
musim haji 1428 H. Masyayikh Yaman yang hadir pada ijtima’ itu adalah Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-
Bura’i, Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Utsman Adz-Dzamari, Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shumali, Asy-Syaikh ‘ Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri.

20
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

‫‪Ahlussunnah yang harus dijaga kehormatan dan kemuliaannya. Mereka juga mengajak seluruh pihak untuk‬‬
‫‪jam’ul kalimah (penyatuan kalimat) dan persatuan Ahlussunnah di atas manhaj yang sama.‬‬
‫‪Hingga hari ini tidak satupun dari para ulama tersebut hafizhahumullah yang berubah ijtihad dan‬‬
‫‪pendirian dalam menyikapi fitnah ini, bahwa kedua syaikh tersebut adalah masyayikh Ahlussunnah waljama’ah.‬‬
‫‪Maka vonis Asy-Syaikh Yahya terhadap keduanya tidaklah menggoyangkan kedudukan keduanya di mata‬‬
‫‪umat, walhamdulillah.‬‬
‫‪Terkhusus Asy-Syaikh Al-Faqih ‘Abdurrahman Al-Adeni masih tetap sebagai salah satu ulama kibar‬‬
‫‪rujukan umat dalam menghadapi fitnah yang gelap gulita dan penyelesaian problematika dakwah di Yaman‬‬
‫‪bersama kibar ulama lainnya yang telah diberi wasiat oleh Al-Walid Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah.‬‬
‫‪Berkata Al-Walid Al-Muhaddits Al-Wushabi hafizhahullah pada nasehatnya kepada salafiyyun ‘Aden‬‬
‫‪saat mereka datang berkunjung ke markaz Hudaidah pada tanggal 7 Rabi’ul Akhir 1430 H:‬‬

‫ثم على‬ ‫وهذا هو الواقع بالنسبة هلذه الفتنة فالعلماء جزاهم اهلل خرياً الذين َّ‬
‫وقعوا على بيان معرب َّ‬
‫بيان احلديدة الصواب معهم وقد وفقهم اهلل ومجع كلمتهم وسدد رأيهم‪ .‬وكما تعلمون أيضاً من‬
‫نصيحة الشيخ ربيع وفقه اهلل‪ ،‬هذه النصيحة الذهبية ُتضم إىل البيانني‪ ،‬يعين معناه أن الشيخ ربيعاً‬
‫أيضاً معهم والشيخ عبيد اجلابري أيضاً معهم‪ ،‬فاجتمعت كلمة املشايخ يف هذه الفتنة من فضل اهلل‬
‫أن عبد الرمحن العدني وفقه اهلل من أهل السنة واجلماعة وأن احلجوري أخطأ يف حتزيبِه‬ ‫عز َّ‬
‫وجل َّ‬ ‫َّ‬
‫للشيخ عبد الرمحن العدني هذا هو احلق وهذا هو الصواب‪.‬‬

‫وكما تعلمون أيضاً باجتماع العلماء يف فتنة أبي احلسن وفق اهلل العلماء يف اليمن ويف غري اليمن‬
‫فاجتمعت كلمتهم وإىل اآلن ‪-‬من فضل اهلل‪ -‬على ختطئة أبي احلسن وأنه خمطئ يف اتهامه للمشايخ‬
‫بأنهم حدادية ويف تنفريه عنهم أنه أخطأ يف ذلك‪ .‬واهلل يأمر بالعدل واإلحسان فاجتمعت كلمة علماء‬
‫السنة يف فتنة أبي احلسن على هذا فكان الصواب مع العلماء ومع املشايخ و(يد اهلل مع اجلماعة)‬
‫و( الربكة مع أكابركم)‪ .‬وخرجوا من فضل اهلل بتلك البيانات املسددة املوفقة وإىل يومنا هذا وهي‬
‫يف حملها وظه َر تردي أبي احلسن وظهر عدوانه إلخوانه‪ ،‬نفس الكالم يف هذه الفتنة اجتمعت كلمة‬
‫العلماء يف احلاضر كما اجتمعت يف املاضي يف ختطئة احلجوري ويف أن العدني من أهل السنة‬
‫واجلماعة وما ادعاه احلجوري يف عبد الرمحن العدني بأنه حزبي غري صحيح لكونه مل يقم على ذلك‬
‫حجة‪.‬‬

‫وكما تعلمون أيضاً من التاريخ فيما يتعلق بعلي بن أبي طالب رضي اهلل عنه ومعاوية بن أبي‬
‫أن علياً رضي اهلل عنه هو احملق وأن معاوية‬
‫وأن كلمة أهل السنة اجتمعت َّ‬
‫سفيان رضي اهلل عنهما َّ‬
‫رضي اهلل عنه كا َن خمطئاً اجتهد فأخطأ والصواب مع علي وهم صحابة رضي اهلل عنهم مجيعاً‪ .‬فينبغي‬
‫ألهل السنة واجلماعة أن يفهموا هذا َّ‬
‫أن اإلنسان كونه صحابيا أو كونه سنيا ال مينع أن يقع يف‬
‫اخلطأ‪ .‬فالعلماء جزاهم اهلل خرياً يف املاضي ويف احلاضر سواء كان فيما جرى بني الصحابة أو ما‬
‫جرى بني اإلمامني اإلمام البخاري واإلمام حممد بن حييى الذهلي إىل غري ذلك مما حيصل بني أهل‬

‫‪21‬‬
Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

‫العقيدة الواحدة واملنهج الواحد من بعض األخطاء من بعض الناس فهم جزاهم اهلل خرياً ينظرون‬
َّ ،‫ بنظر الدين بنظر الدليل‬،‫يف املسائل بنظر العلم وليس بنظر العاطفة‬
‫ (وإذا قلتم‬:‫فإن اهلل يقول‬
.‫ حنن مأمورون بالعدل بالقول واحلكم و باإلنصاف‬،)‫فاعدلوا ولو كان ذا قربى‬

‫أن أهل السنة جزاهم اهلل خرياً أعين طالب العلم وعوام أهل السنة كانوا مع العلماء يف فتنة‬ َّ ‫وكما‬
،‫وجل وفق املشايخ ووفق أيضاً طلبة العلم حني مسكوا بغرز العلماء‬
َّ ‫عز‬َّ ‫ اهلل‬،‫أبي احلسن واحلمد هلل‬
‫ املسألة فيها مصيب وفيها‬،‫والعلماء قالوا احلق الذي يقربهم إىل اهلل فكذلك هذه املسألة نفسها‬
‫ فالعلماء جزاهم اهلل خرياً ال‬.‫ والذي اجتهد فأخطأ فله أجر ومن أجتهد فأصاب فله أجران‬،‫خمطئ‬
.‫يزالون على ما قالوه يف املاضي يف هذه الفتنة أن الشيخ عبد الرمحن من أهل السنة واجلماعة‬
“Inilah realita yang ada terkait dengan fitnah ini, maka al-haq bersama ulama yang menandatangani keterangan
hasil ijtima’ Ma’bar, kemudian menandatangani keterangan hasil ijtima’ Hudaidah -semoga Allah membalas
mereka dengan kebaikan yang lebih besar-. Sungguh Allah telah memberi taufiq kepada mereka, menyatukan
kalimat mereka dan meluruskan pandangan mereka. Juga sebagaimana kalian telah ketahui nasehat Asy-Syaikh
Rabi’, Allah telah memberi taufiq kepadanya. Nasehat emas ini disertakan bersama dua keterangan tersebut,
artinya Asy-Syaikh Rabi’ juga bersama mereka. Demikian pula Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri bersama mereka. Maka
kalimat masyayikh telah sepakat dalam fitnah ini -dengan karunia Allah Azza wa Jalla- bahwa ‘Abdurrahman
Al-’Adeni –semoga Allah memberi taufiq kepadanya- termasuk Ahlussunnah waljama’ah.
Sebagaimana kalian ketahui bersama kesepakatan ulama pada fitnah Abul Hasan, Allah memberi taufiq kepada
ulama Yaman dan ulama di luar Yaman, maka kalimat mereka sepakat dan hingga hari ini (mereka tetap sepakat)
-dengan karunia Allah- menyalahkan Abul Hasan bahwa Abul Hasan telah keliru menuduh masyayikh Yaman
sebagai Haddadiyyah dan bahwa dia telah keliru dalam hal itu. Allah memerintahkan hamba-hambanya untuk
berbuat adil dan kebaikan, sehingga sepakatlah kalimat ulama As-Sunnah atas hal ini pada fitnah Abul Hasan,
maka para ulama dan masyayiklah yang benar. Seperti kata Rasulullah n:

َ ‫يَ ُد اهللِ َم َع‬


.‫اجل َما َعِة‬
“Tangan Allah bersama jama’ah”

.‫الب َكُة َم َع أَ َك ِاب ِر ُك ْم‬


ََ‫ر‬
“Berkah Allah bersama orang-orang besar kalian (dalam hal ilmu dan kedudukan).”
Mereka mengeluarkan -atas karunia Allah- keterangan-keterangan yang lurus itu (tentang Abul Hasan) dan
hingga hari ini keterangan-keterangan persis pada tempat yang semestinya, dan nampaklah keburukan Abul
Hasan dan permusuhannya kepada saudaranya. Pembicaraannya sama dengan fitnah ini. Kalimat ulama
telah sepakat sekarang ini seperti halnya dulu dalam menyalahkan Al-Hajuri dan bahwa Al-’Adeni termasuk
Ahlussunnah waljama’ah, dan tuduhan Al-Hajuri kepada Al-’Adeni bahwa dia hizbi tidaklah benar, dikarenakan
dia tidak menegakkan hujjah atasnya.
Sebagaimana kalian ketahui juga dalam sejarah Islam terkait dengan fitnah antara ‘Ali bin Abi Thalib radiallahu
‘anhu dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radiallahu anhuma bahwa kalimat Ahlussunnah telah sepakat
menyatakan ‘Ali radiallahu ‘anhu yang benar dan Mu’awiyah radiallahu ‘anhu yang salah. Beliau berijtihad,
namun ijtihadnya keliru dan yang benar adalah ‘Ali radiallahu ‘anhu, padahal mereka adalah sahabat radiallahu


Abul Hasan Al-Mishri adalah seorang Ikhwani berkedok Salafi di negeri Yaman yang telah dinasehati sekian lamanya oleh para ulama, namun
dia enggan kecuali semakin menampakkan kehizbian yang tersembunyi sehingga dia ditahdzir oleh para ulama dan salafiyyunpun dilegakan
darinya –pen.

22
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

‘anhum. Maka wajib bagi Ahlussunnah waljama’ah untuk memahami hal ini, bahwa kedududkan seseorang
sebagai sahabat Nabi atau sebagai sunni tidaklah menjaganya untuk terjatuh dalam kesalahan. Maka para ulama
-semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan yang lebih besar- dalam menyikapi kesalahan sebagian orang
pada masa lalu dan masa sekarang, baik pada fitnah yang terjadi antara sahabat, antara Imam Al-Bukhari dan
Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, atau selainnya yang terjadi antara dua pihak yang berakidah dan
bermanhaj sama, mereka senantiasa melihat permasalahan dengan sudut pandang ilmu, dalil dan agama, tidak
dengan sudut pandang perasaan. Karena Allah l berfirman:

‫ﭽﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮﭼ‬
“Jika kalian berbicara hendaklah kalian adil, meskipun dia adalah kerabat kalian sendiri.” (Al-An’am: 152)
Kita diperintahkan untuk jujur dan adil dalam berbicara dan memutuskan hukum.
Sebagaimana halnya Ahlussunah -semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan yang lebih besar-, yaitu
thalabatul ‘ilmi dan awam Ahlussunnah bersama ulama dalam menghadapi fitnah Abul Hasan-segala puji
bagi Allah-. Allah ‘Azza wa Jalla memberi taufiq kepada masyayikh dan thalabatul ‘ilmi tatkala thalabatu ‘ilmi
berpegang erat dengan apa yang ditancapkan (dikatakan) oleh ulama dan ulama mengatakan al-haq yang
mendekatkan mereka kepada Allah. Maka demikian pula dalam permasalahan sekarang ini, dalam permasalahan
ini ada yang salah dan ada yang benar, yang berijtihad dan ijtihadnya salah mendapatkan satu pahala, sementara
yang berijtihad dan ijtihadnya benar mendapatkan dua pahala. Jadi para ulama masih tetap dengan pendapat
mereka yang dulu dalam fitnah ini bahwa Asy-Syaikh ‘Abdurrahman termasuk Ahlussunnah.”

Salah seorang thalabatul ‘ilmi di Yaman bernama ‘Abdullah bin Ahmad Al-Khaulani hafizhahullah
menulis sebuah artikel tentang masalah ini yang bertajuk Ijma’ Al-Aimmah ‘ala Anna Asy-Syaikh Al-’Adeni
min ‘Ulama Al-Ummah (Ijma’ Imam-Imam Umat Bahwa Asy-Syaikh Al-’Adeni Merupakan Salah Satu Ulama
Umat). Dalam artikel tersebut Al-Khaulani berkata:

َ ‫وال يقال قد خالف يف ذلك فالن بن فالن من العلماء فكيف‬


‫ أن من منهج‬:‫نقلت اإلمجاع؟ فاجلواب‬
‫ فتجدهم ينقلون اإلمجاع على‬،‫أهل احلديث أن القول الشاذ يف عامل من العلماء ال يعد خارماً لالتفاق‬
‫ وجتدهم ينقلون اإلمجاع على ثقة‬،‫ثقة اإلمام بندار دون التفات إىل قول اإلمام الفالس فيه أنه كذاب‬
.‫ وهكذا دواليك‬،‫اإلمام البخاري وعدالته دون التفات إىل قول اإلمام الذهلي فيه‬

‫) متفق‬164‫ يف ترمجة حبيب املعلم من (هدي الساري ص‬-‫رمحه اهلل‬- ‫وهكذا قال احلافظ ابن حجر‬
.‫ لكن تعنت فيه النسائي‬،‫على توثيقه‬

‫ ثقة عند اجلميع إال أن أبا زرعة ضعفه بغري قادح (الفتح‬:‫وقال احلافظ يف كليب بن وائل احلضرمي‬
.)825/6(

‫ وتكذيب الربيع بن‬،‫ ال خالف يف ثقته وأمانته‬:‫وقال يف حممد بن عبداهلل بن عبداحلكم املصري‬
.)373/3(‫(التلخيص احلبري‬.‫سليمان له ال معنى له‬

‫ وتكذيب الربيع بن‬،‫فلما كان طعن النسائي يف حبيب املعلم وطعن أبي زرعة يف كليب بن وائل‬
ً ‫سليمان البن عبداحلكم‬
.‫قوال شاذاً مل يكن مانعاً للحافظ من نقل االتفاق على ثقة هؤالء األئمة‬

23
Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

‫ أن كلمة‬-‫حفظه اهلل‬- ‫ وقد نقل فضيلة الشيخ عبداملصور العرومي‬،‫هكذا نقول يف هذه املسألة‬
.‫مشايخ أهل السنة يف اليمن واحدة على تربئة العدني من احلزبية‬
“Jangan katakan bahwa Fulan bin Fulan dari kalangan ulama telah menyelisihi hal ini, maka bagaimana mungkin
engkau menukilkan ijma’ ulama dalam hal ini? Jawabannya, merupakan manhaj Ahlul hadits bahwa perkataan
yang ganjil (menyelisihi apa yang masyhur dari seluruh ulama) tentang diri seorang ‘alim tidak dianggap
membatalkan kesepakatan ulama yang ada. Maka dari itu engkau mendapati Ahlul hadits menukilkan ijma’
bahwa Al-Imam Bundar adalah tsiqah (terpercaya) tanpa menoleh sedikitpun kepada jarh (celaan) Al-Imam Al-
Fallas padanya bahwa dia kadzdzab dan engkau mendapati mereka menukilkan ijma’ bahwa Al-Imam Al-Bukhari
tsiqah (terpercaya) tanpa menoleh sedikitpun kepada jarh Al-Imam Adz-Dzuhli, demikianlah seterusnya.
Demikianlah kata Al-Hafizh Ibnu Hajar pada biografi Habib Al-Mu’allim dalam Hadyu As-Sari hal (461):
“Disepakati bahwa dia tsiqah, namun An-Nasa’i mencari-cari kesalahannya.”
Berkata Al-Hafizh dalam Fathul Bari (6/528) tentang Kulaib bin Wa’il Al-Hadhrami: “Tsiqah di sisi seluruh ulama
Ahlul hadits, namun Abu Zur’ah memvonisnya dha’if (lemah) dengan alasan yang tidak bisa dibenarkan.”
Berkata Al-Hafizh dalam At-Talkhish Al-Habir (3/373) tentang Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Hakam Al-
Mishri: “Tidak ada khilaf bahwa dia tsiqah dan terpercaya, adapun tuduhan Ar-Rabi’ bin Sulaiman kepadanya
sebagai pendusta tidaklah bermakna.”
Tatkala celaan An-Nasa’i pada Habib Al-Mu’allim, celaan Abu Zur’ah pada Kulaib bin Wa’il dan vonis Ar-Rabi’
bin Sulaiman kepada Ibnu ‘Abdil Hakam pendusta merupakan pendapat yang syadz (ganjil), maka hal itu tidak
menghalangi Al-Hafizh untuk menukilkan kesepakatan ulama bahwa mereka tsiqah (terpercaya).
Demikian pula yang kami katakan dalam permasalahan ini, Fadhilah Asy-Syaikh ‘Abdul Mushawwir Al-’Arumi
hafizhahullah telah menukil bahwa kalimat masyayikh Yaman sepakat menyatakan bersihnya Al-’Adeni dari
kehizbian.”

Tidakkah seseorang malu menampilkan dirinya untuk menentang ijma’ para ulama umat dan berjalan
sendiri di luar bimbingan mereka? Tidakkah dia khawatir atas dirinya yang sangat butuh bimbingan ulama
Rabbaniyyun setelah hidayah dan taufiq dari Allah l, bahwa dengan sikap seperti itu dia akan semakin jauh
dari jalan dakwah yang penuh berkah? Nas’alullaha as-salamah wal ‘afiyah.

Lihat: Nashaih ‘Ulama’ Al-Ummah ‘Indal Fitan Al-Mudlahimmah (Nasehat-Nasehat Ulama Ummat Dalam Menghadapi Fitnah Yang Gelap


Gulita).

24
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

FITNAH INI TIDAK MEMBAWA HAKEKAT DAKWAH YANG PANTAS


UNTUK DIPERJUANGKAN

Berdasarkan penjelasan di atas tersimpulkan bahwa fitnah ini tidak membawa hakekat dakwah
sama sekali yang pantas untuk diperjuangkan. Yang ada dalam fitnah ini semata-mata hanya kepentingan-
kepentingan pribadi, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ahlil jarh wat ta’dil masa ini Al-Walid Al-Muhaddits
Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah pada nasehat emasnya yang masyhur, beliau berkata:

.‫فيهم أغراض شخصية‬


“Pada mereka ada kepentingan-kepentingan pribadi.”

Demikian pula An-Naqid Al-Bashir Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i hafizhahullah menafikan hal itu,
beliau berkata:

:‫ال ميكن أن تكون هناك حقائق على شخص تدل على احنرافه عن السنة ثم يبقى أهل السنة يقولون‬
‫ الذي يظن بأهل السنة هذا الظن‬.‫هذا أخونا؟! آسف ثم آسف من هذه النظرة إىل أهل السنة‬
‫احلقيقة بارك اهلل فيكم أنه حيتاج إىل أن يتقي اهلل عز وجل ويراقب اهلل عز وجل يف نظرته إىل مشايخ‬
‫ إما سوء‬:‫ ما هي املصلحة اليت معنا حتى جنامل مع فالن بعد ثبوت احلقائق فيه؟ حنن نقول‬.‫أهل السنة‬
َّ ‫تصرف من اإلخوة املعنيني أو فهم خاطئ من الشيخ حييى وحنن نسعى يف َرأْب‬
‫ أما أن يقرر‬.‫الصدْع‬
.‫أحد أن الشيخ حييى تكلم حبقائق وأننا جنامل على حساب السنة! هذه مشاركة يف االحنراف‬

“Tidak mungkin bahwa pada diri seseorang ada hakekat-hakekat yang menunjukkan penyimpangannya dari
As-Sunnah, lalu Ahlussunnah tetap saja mengatakan: ”Dia adalah saudara kita Ahlussunnah”?! Aku sangat
menyesalkan dan aku sangat menyesalkan pandangan serupa ini kepada Ahlussunnah. Yang memiliki persangkaan
seperti ini kepada Ahlussunnah, hakekatnya –semoga Allah melimpahkan berkahnya kepada kalian- dia butuh
untuk bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dan mengawasi Allah dalam pandangannya kepada para masyayikh
Ahlussunnah. Mashlahat apa yang kami inginkan sehingga kami berbasa-basi kepada Fulan setelah tetapnya
hakekat-hakekat penyimpangan pada dirinya? Maka kami nyatakan bahwa boleh jadi (fitnah ini) akibat ulah
tidak bertanggung jawab dari ikhwah yang bersangkutan atau akibat pemahaman salah dari Asy-Syaikh Yahya,
dan kami berupaya untuk memperbaiki kembali apa yang telah retak. Adapun seseorang menetapkan bahwa Asy-
Syaikh Yahya telah berbicara tentang hakekat-hakekat penyimpangan pada diri seseorang, lalu kami berbasa-basi
atas nama As-Sunnah! Hal ini artinya persekutuan dalam penyimpangan.”

Lihat: Nashaih ‘Ulama’ Al-Ummah ‘Indal Fitan Al-Mudlahimmah (Nasehat-Nasehat Ulama Ummat Dalam Menghadapi Fitnah Yang Gelap


Gulita).
Lihat: Nashaih ‘Ulama’ Al-Ummah ‘Indal Fitan Al-Mudlahimmah (Nasehat-Nasehat Ulama Ummat Dalam Menghadapi Fitnah Yang Gelap


Gulita).

25
‫‪Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah‬‬

‫‪Beliau juga berkata10:‬‬

‫نسمع التهمة باحلزبية على الشيخ عبدالرمحن ومن معه‪ ،‬ولكن أين البينة؟!‬
‫حنن َ‬

‫‪“Kami mendengar adanya tuduhan hizbiyyah terhadap Asy-Syaikh ‘Abdurrahman dan yang bersamanya, namun‬‬
‫”!?‪mana buktinya‬‬

‫ ‬
‫‪Jadi hakekat yang ada pada diri Asy-Syaikh ‘Abdurrahman hafizhahullah seperti kata Asy-Syaikh‬‬
‫‪Muhammad Al-Imam hafizhahullah pada muhadharah-nya di Ma’bar mengulas singkat seputar perjalanan‬‬
‫‪dakwah salafiyyah di Yaman:‬‬

‫والشيخ عبد الرمحن ما يزال مستمراً يف أموره ما يتعلق بالدعوة وما يتعلق بالتعليم وبالشروح‬
‫واحلمد هلل رب العاملني‪ ،‬وهو من علماء أهل السنة بال شك وال ارتياب‪.‬‬

‫ومما أحب أن أذكره أنه قبل مدة قصرية تكلم يف بعض احملاضرات ودعا إىل التمسك بالكتاب‬
‫والسنة مع البعد عن الدعوات املشبوهة والدعوات احلزبية املغلفة باجلمعيات وبغريها مما تغلف به‬
‫احلزبيات‪ ،‬فكان كالمه طيباً وكان مما قاله وحذر منه أن حذر من حزب اإلخوان املسلمني الذين كان‬
‫يسميهم شيخنا – وهو مصيب يف ذلك – حزب اإلخوان املفلسني‪ ،‬هم مفلسون خصوصاً يف باب‬
‫السياسة‪ ،‬وكذلك أيضاً حذر من السرورية‪ ،‬ومن املتعصبني ألبي احلسن املأربي‪ ،‬وحذر من أصحاب‬
‫اجلمعيات‪ ،‬ألنه قد عرف أن بعض أصحاب اجلمعيات إمنا جعلوا اجلمعيات ستاراً للتحزيب‬
‫كأصحاب مجعية احلكمة وأصحاب مجعية اإلحسان‪ ,‬هؤالء ممن عرفوا أنهم جعلوا اجلمعيات ستاراً‬
‫للتحزيب‪ ،‬كان شيخنا الوادعي يقول يف هؤالء‪ :‬حزبيتهم مغلفة‪ ،‬ثم ظهرت املغلفة وأظهروا ما‬
‫عندهم وصاروا ذي ً‬
‫ال حلزب اإلخوان املسلمني‪.‬‬

‫فهذا البيان يف مثل هذا الوقت طيب وينبغي أن يكرره ما بني احلني واآلخر من أجل أن حتصل‬
‫الفائدة أكثر؛ ألنه ملا حصل شيء من اخلالف ظن بعضهم أن الشيخ عبد الرمحن ما بقي عنده على‬
‫ما كان عليه قبل اخلالف من حرص على الصفاء والنقاء يف الدعوة وإبعاد الدعوة عن الشبه وعن‬
‫األمور احلزبية‪ .‬وحنن حبمد اهلل ما نعلم عنه إال خرياً من سابق ‪ ‬ومن الحق‪ ،‬ولكن مثل هذا الكالم‬
‫يف مثل هذا الوقت يعد نافعاً ومنفراً ملن يريد أن يصطاد يف املاء ِ‬
‫العكر كما يقال‪ ،‬وأن الشيخ عبدا‬
‫لرمحن ما صار على ما كان عليه من سابق وأنه وأنه بل بعضهم ظن أن الشيخ عبد الرمحن ملا حصل‬
‫شيء من اخلالف أنه سريمتي بني حزب اإلخوان أو بني السروريني أو كذا‪ ،‬ولكن كل هذا مل يكن‬
‫بل حبمد اهلل االستمرارية يف احملافظة على الدعوة‪ ،‬فهذا من فضل اهلل‪ ،‬وينبغي أن هذا الكالم يكرر‬
‫ما بني احلني واآلخر حسب احلاجة والداعي إىل ذلك‪ .‬وال شك وال ريب أن الذين حياولون أن ينالوا‬

‫‪ Lihat: Nashaih ‘Ulama’ Al-Ummah ‘Indal Fitan Al-Mudlahimmah (Nasehat-Nasehat Ulama Ummat Dalam Menghadapi Fitnah Yang Gelap‬‬
‫‪10‬‬

‫‪Gulita).‬‬

‫‪26‬‬
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

‫ فالتحذير من‬.‫من دعوتنا وأننا نسكت عنهم من أجل أن يقرتبوا وأن ينالوا ويقتنصوا من دعوتنا‬
‫األحزاب ودعاة البدع ودعاة التحزب وأصحاب اجلمعيات املتحزبني ما بني احلني واآلخر هذا أمر‬
.‫مهم ونافع حسب احلاجة والداعي إىل ذلك‬
“Asy-Syaikh ‘Abdurrahman tetap senantiasa lanjut pada urusan-urasannya, terkait dengan urusan dakwah,
mengajar dan mensyarah, dan segala puji hanya untuk Allah Rabb sekalian alam. Tidak diragukan lagi beliau
termasuk ulama Ahlussunnah.
Di antara yang ingin aku sampaikan bahwa belum lama ini beliau menyampaikan sebuah muhadharah
(ceramah) dan mengajak untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menjauhkan diri dari
dakwah yang berlumuran dengan syubhat/kebid’ahan dan dakwah hizbiyyah yang terselubung dengan jum’iyyah-
jum’iyyah (yayasan-yayasan) atau selainnya yang dijadikan sebagai selubung untuk bersembunyi di baliknya.
Maka statemen-statemen baik, di antara yang ditahdzirnya (diingatkan untuk dijauhi) adalah kelompok
Ikhwanul Muslimin yang dijuluki oleh syaikh kami (Asy-Syaikh Muqbil) -dan sungguh dia benar dalam hal
ini- sebagai kelompok Ikhwanul Muflisin11, mereka memang telah bangkrut (dalam perjuangannya) khususnya
dalam kancah politik. Beliau juga mentahdzir dari dakwah Sururiyyah, dari orang-orang yang ta’ashshub kepada
Abul Hasan Al-Mishri12. Demikian pula mentahdzir dari aktivis-aktivis jum’iyyah hizbiyyah (yayasan hizbi),
karena telah tersingkap tirai bahwa sebagian aktivis jum’iyyah (yayasan) menjadikan jum’iyyah (yayasan)
sebagai selubung untuk menyembunyikan kehizbiannya, seperti aktivis Jum’iyyah Al-Hikmah dan Jum’iyyah Al-
Ihsan, mereka telah dikenal sebagai hizbiyyun yang berselubung di balik jum’iyyah. Adalah syaikh kami Al-
Wadi’i mengatakan: “Hizbiyyah mereka terselubung”, kemudian tersingkaplah tirai yang menyelubungi mereka
dan merekapun menampakkan hizbiyyah yang mereka sembunyikan selama ini, lalu merekapun menjadi ekor
kelompok Ikhwanul Muslimin.
Penjelasan seperti ini pada masa sekarang merupakan hal yang baik dan sudah semestinya untuk diulang-
ulang agar menghasilkan manfaat yang lebih besar lagi, karena tatkala terjadi sedikit khilaf (perselisihan) ada
sebagian orang menyangka bahwa tidak tersisa lagi pada diri Asy-Syaikh ‘Abdurrahman semangat/perhatian
terhadap kebersihan dan kemurnian dakwah, tidak ada lagi semangat/perhatian untuk menjauhkan dakwah
dari perkara syubhat dan hizbiyyah. Adapun kami -segala puji bagi Allah-, kami tidaklah mengetahui darinya
kecuali kebaikan sejak dulu hingga sekarang, namun tentu saja statemen-statemen semacam ini pada masa
sekarang sangatlah bermanfaat dan menepis siapa saja yang bermaksud untuk memancing di air keruh –seperti
kata istilah yang ada- bahwa Asy-Syaikh ‘Abdurrahman sudah tidak seperti yang dulu dan bahwa dia, bahwa dia,
bahkan sebagian mereka menyangka bahwa tatkala terjadi khilaf (perselisihan) Asy-Syaikh ‘Abdurrahman akan
tercampakkan di tengah-tengah kelompok Ikhwanul Muslimin, kelompok Sururiyyun atau semacamnya. Namun
semua persangkaan itu tidak ada yang terbukti, justru sebaliknya -segala puji bagi Allah- beliau tetap senantiasa
menjaga dakwah ini. Hal ini adalah keutamaan dari Allah. Sepantasnya hal ini diulang-ulang dari waktu ke
waktu sesuai hajat dan tuntutan untuk itu. Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang ingin merusak dakwah
kita menginginkan agar kita diam atas mereka, mereka bertujuan dengan itu untuk mendekat kepada kita dan
berburu untuk membuat kerusakan dalam dakwah kita. Maka tahdzir dari kelompok-kelompok hizbiyyah,
penyeru-penyeru bid’ah, penyeru-penyeru hizbiyyah dan aktivis-aktivis jum’iyyah yang bersifat hizbiyyah dari
waktu ke waktu merupakan hal yang penting dan bermanfaat sesuai hajat dan tuntutan untuk itu.”

11
Kelompok yang bangkrut –pen.
12
Lihat catatan kaki no: 5 –pen.

27
Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

PENUTUP

Sesungguhnya bagi siapa saja yang diberi taufiq oleh Allah l untuk berjalan bersama ulama kibar dan
masyayikh Ahlussunnah yang adil dan bijak dalam menghadapi setiap fitnah, sungguh fitnah ini baginya sudah
jelas kesimpulannya.
Jadi sebenarnya tidak pantas lagi ada dua orang salafi pada hari ini yang memperdebatkan kesalafian
kedua syaikh tersebut, karena ulama Ahlussunnah telah sepakat bersaksi bahwa keduanya adalah ulama
Ahlussunnah, walhamdulillah ‘ala taufiqihi.
Jika ada yang bersikeras menyelisihi ijma’ ulama dalam fitnah ini dan tetap menuduh Asy-Syaikh
‘Abdurrahman Al-’Adeni dan Asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i serta pembela-pembelanya sebagai “Komplotan
Hizbi Baru”, padahal hakekat hizbiyyah tidak ada sama sekali pada mereka, artinya dia mengajak kepada
perpecahan dan mengajak untuk melakukan kezhaliman kepada ulama, thalabatul ‘ilmi dan du’at tersebut.
Dikhawatirkan bahwa hal tersebut justru berbalik menimpanya sebagai hukuman dari Allah l. Hal ini seperti
kata Al-Walid Al-Wushabi hafizhahullah dalam nasehatnya kepada salafiyyun ‘Aden yang telah kami nukilkan
sebagiannya di atas, nasehat yang beliau tujukan kepada seorang imam mesjid di ‘Aden yang menghalangi
salafiyyun untuk mengikuti ulama dalam fitnah ini, beliau berkata:

‫فما ينبغي هلذا اإلمام أن ينفر عن أهل العلم بل عليه أن يكون مع العلماء كما قال نبينا عليه الصالة‬
َّ :‫ (يد اهلل مع اجلماعة) وكما قال سبحانه وتعاىل‬:‫ (الربكة مع أكابركم) وكما قال‬:‫والسالم‬
‫(إن الذين‬
.)‫فرقوا دينهم وكانوا شيعاً لست منهم يف شيىء إمنا أمرهم إىل اهلل‬
ً ‫والعلماء جزاهم اهلل خرياً يدعون إىل مجع الكلمة‬
:‫عمال بهذه اآلية وما يف معناها من األدلة األخرى‬
‫ العلماء ال يدعون إىل الفرقة وإمنا يدعون إىل مجع الكلمة‬.)‫(واعتصموا حببل اهلل مجيعاً والتفرقوا‬
.‫فهي دعوة مصيبة على الكتاب وعلى السنة‬

)ً‫ (والظاملني أعد هلم عذاباً أليما‬:‫ قال اهلل‬،‫ثم أيضاً الظلم ظلمات يوم القيامة واهلل ال حيب الظاملني‬
‫كاملهل‬ َ ً‫ (إنا أعتدنا للظاملني نارا‬:‫وقال سبحانه وتعاىل‬
‫أحاط بهم سرادقها وإن يستغيثوا يغاثوا مباٍء‬
ِ
.)ً‫يشوي الوجوه بئس الشراب وساءت مرتفقا‬

‫ (أنا مع العلماء وأنا يدي يف أيديهم وكالمي‬:‫إذا كان الشيخ عبد الرمحن العدني وفقه اهلل يقول‬
،‫ (ال أنت حزبي) هذا من الظلم هذا حرام‬:‫من كالمهم واحلق على عيين ورأسي) فكوننا نقول له‬
‫جلس مع املشايخ كالمه طيب‬
َ ‫ وإمنا كلما‬.‫اإلنسان يراقب اهلل ويتقي اهلل وباقي يوم يقف بني يدي اهلل‬

28
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

‫وذهب إىل عدن ما نسمع عنه َّ‬


‫إال اخلري ُيعّلم وُيد ّرس وحياضر‪،‬‬ ‫َ‬ ‫وجزاه اهلل خرياً وأيضاً حتى لو انفرَد‬
‫فالذي ال يعينه على اخلري يخُ شى عليه أن يعاقبه اهلل من جنس عمله فال جيد من يعينه على اخلري‪.‬‬
‫تعلمت الكتاب والسنة وال ميكن‬ ‫َ‬ ‫فكونه يقول هذا نقول‪ :‬جزاك اهلل خرياً هذا هو الظن فيك أنك‬
‫ً‬
‫وفعال ظه َر من فضل اهلل‪ .‬فعلى‬ ‫س فيك هذا اخلري‬ ‫تفر َ‬ ‫أن ُتغري وأن الشيخ ً‬
‫مقبال رمحة اهلل عليه قد َّ‬
‫الشيخ حييى احلجوري وفقنا اهلل وإياه أن يتقي اهلل يف أخيه الشيخ عبد الرمحن العدني ويف غريه من‬
‫املشايخ وطلبة العلم والدعاة إىل اهلل‪ .‬و(الرامحون يرمحهم الرمحن) و(من ال يَرحم ال ُيرحم) هكذا‬
‫يقول نبينا حمم ٌد صلوات اهلل وسالمه عليه وعلى آله‪.‬‬

‫دعوة املشايخ جزاهم اهلل خرياً سواء كان من الشيخ ربيع أو الشيخ عبيد أو الشيخ النجمي رمحة اهلل‬
‫عليه أو باقي املشايخ يف أرض احلجاز وجند أو مشايخ السنة يف اليمن دعوتهم دعوة رمحة للكبري‬
‫والصغري دعوة رمحة‪ ،‬ماعندهم العنف ما عندهم الظلم إن شاء اهلل‪ ،‬ما عندهم إ ّال الرتاحم والتعاطف‬
‫و(الرامحون يرمحهم الرمحن) و(من ال يرحم ال ُيرحم) و(ارمحوا من يف األرض يرمحكم من يف‬
‫السماء) ونسأل اهلل التوفيق‪.‬‬

‫وإن شاء اهلل أن الفتنة ظهرت كثرياً واجنلت كثرياً وهذا بفضل اهلل َّ‬
‫ثم بفضل جهود العلماء وصرب‬
‫العلماء وهدوئهم ورمحتهم ورفقهم واهلل املوفق ملا حيبه ويرضاه ‪.‬‬
‫‪“Tidak sepantasnya imam mesjid ini untuk menjauhkan salafiyyun dari ulama, justru wajib atasnya untuk‬‬
‫‪bersama ulama sebagaimana sabda Nabi kita n:‬‬

‫الب َكُة َم َع أَ َك ِاب ِر ُك ْم‪.‬‬


‫رََ‬
‫”‪“Berkah Allah bersama orang-orang besar kalian (dalam hal ilmu dan kedudukan).‬‬

‫يَ ُد اهللِ َم َع َ‬
‫اجل َما َعِة‪.‬‬
‫”‪“Tangan Allah bersama jama’ah‬‬
‫‪Sebagaimana firman Allah l:‬‬

‫ﭽﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﭼ‬
‫)‪“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka bersekte-sekte engkau (wahai Nabi‬‬
‫‪bukan bagian dari mereka sedikitpun. Hanyalah sesungguhnya urusan mereka kembali kepada Allah.” (Al-‬‬
‫)‪An’am: 159‬‬
‫‪Para ulama -semoga Allah memberkahi mereka- mengajak kepada persatuan kalimat berdasarkan ayat ini dan‬‬
‫‪dalil-dalil lain yang semisalnya, seperti firman Allah l:‬‬

‫ﭽﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭼ‬
‫‪“Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah yang kokoh (Al-Qur’an) dan janganlah kalian berbepecah‬‬
‫)‪belah.” (Ali ‘Imran: 103‬‬
‫‪Para ulama tidak pernah mengajak kepada perpecahan, mereka semata-mata mengajak kepada persatuan‬‬

‫‪29‬‬
Meraih Berkah Bersama Kibar Ulama dalam Menghadapi Fitnah

kalimat. Maka dakwah mereka adalah dakwah yang benar di atas Al-Kitab dan As-Sunnah.
Demikian pula kezhaliman adalah kegelapan-kegelapan bagi pelakunya di hari kiamat nanti dan Allah l tidak
menyukai orang-orang yang zhalim. Allah l berfirman:

‫ﭽ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏﭼ‬
“Allah menyiapkan adzab yang pedih untuk orang-orang yang zhalim.” (Al-Insan: 31)

‫ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌﮍ ﮎ‬
‫ﮏ ﮐ ﮑﭼ‬
“Sesungguhnya kami menyiapkan bagi orang-orang zhalim neraka yang dinding-dindingnya mengurung
mereka. Jika mereka minta minum mereka diberi minum dengan air seperti cairan timah yang membakar
wajah. Itu adalah sejelek-jelek minuman dan betapa jeleknya neraka sebagai tempat kembali.” (Al-Kahfi:
29)
Jika Asy-Syaikh ‘Abdurrahman -semoga Allah memberinya taufiq- mengatakan: “Aku bersama ulama, tanganku
bersama tangan mereka, ucapan mereka adalah ucapanku juga dan aku menjunjung tinggi kebenaran di atas
kepalaku”, maka sikap kita kepadanya mengatakan: “Tidak bisa, pokoknya kamu hizbi” merupakan kezhaliman,
hal ini haram. Seseorang harus mengawasi Allah dan bertaqwa kepadanya serta takut sisa hari yang menantinya
di hadapan Allah. Setiap kali beliau duduk bersama masyayikh statemennya baik -semoga Allah membalasnya
dengan kebaikan yang lebih besar-, hingga ketika pergi ke ‘Aden dan bersendirian di sana kita tidak mendengar
darinya kecuali kebaikan. Di sana beliau mendidik,mengajar, memberi muhadharah (ceramah). Maka yang tidak
membantunya untuk mendapat kebaikan dikhawatirkan Allah menghukumnya dengan hukuman yang setimpal
sehingga tidak ada yang membantu dirinya untuk mendapat kebaikan. Jadi keadaan beliau menyatakan demikian
kita sambut dengan mengatakan: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang besar. Inilah persangkaan
kami kepadamu bahwa engkau telah belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah, engkau tidak mungkin mengubahnya
dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah telah berfirasat padamu kebaikan ini, kemudian kebaikan itu benar-benar
terealisasi atas karunia Allah. Maka wajib atas Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri semoga Allah memberi taufiq kepada
kita dan kepadanya- untuk bertaqwa kepada Allah terhadap saudaranya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Al-’Adeni,
masyayikh yang lain, thalabatul ‘ilmi dan du’at. Sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad n:

ُ ‫الراحمُِو َن يَ ْر‬
.‫حمَُه ُم الرَّحمْ ُن‬ َّ
“Yang mengasahi akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih.”

.‫َم ْن َال يَ ْر َح ْم َال ُي ْر َح ْم‬


“Yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi.”

َّ ِ‫ض يَ ْرحمَْ ُك ْم َم ْن في‬


.‫الس َماِء‬ َ
ِ ‫ا ْرحمَُوا َم ْن فيِ األ ْر‬
“Sayangilah yang ada di muka bumi niscaya Yang ada di atas langit (Allah) akan menyayangi kalian.”

Dakwah para masyayikh -semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang lebih besar- adalah dakwah kasih
sayang, apakah dari Asy-Syaikh Rabi’, Asy-Syaikh ‘Ubaid, Asy-Syaikh an-Najmi rahimahullah dan masyayikh
lainnya yang ada di negeri Hijaz dan Najed, ataupun masyayikh yang ada di negeri Yaman. Dakwah mereka
adalah dakwah kasih sayang kepada yang besar dan kecil. Dakwah mereka tidak mengandung kekejaman dan
kezhaliman. Dakwah mereka semata-mata dakwah untuk saling menyayangi dan saling mengasihi. Rasulullah
n bersabda:

30
‫نيل الربكة مع أكابر العلماء يف مواجهة الفتنة‬

Kita memohon kepada Allah taufiq-Nya. Insya Allah fitnah semakin menampakkan dan menunjukkan hakekatnya.
Semua itu atas karunia Allah, kemudian atas perjuangan ulama, kesabaran, ketenangan, kelembutan dan kasih
sayang mereka. Semoga Allah memberi taufiq kepada apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya.”

Wajib atas Ahlussunnah untuk senantiasa jujur dan adil dalam menyikapi setiap permasalahan dan fitnah.
Siapapun dia, jika kejujuran dan keadilan sudah tidak lagi menghiasi dirinya, maka fitnah akan menelannya
dan membinasakannya. Sungguh menakjubkan nasehat An-Naqid Al-Bashir Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i
hafizhahullah dalam salah satu nasehatnya terkait dengan fitnah ini:

‫ هذا‬،‫ ال بد من هذا‬،‫ومن مل يتعامل يف الدعوة السلفية بالصدق فسنفارقه يوما من األيام أو يفارقنا‬
.‫هو املصري ملن ال يعيش داخل هذه الدعوة بالصدق واإلنصاف‬
“Barangsiapa tidak bermuamalah dalam dakwah salafiyyah dengan kejujuran niscaya suatu hari kita akan
meninggalkannya atau dia yang memisahkan diri dari kita, mesti demikian. Ini akibat yang akan dirasakan oleh
siapa saja yang tidak hidup dalam dakwah ini dengan kejujuran dan keadilan.”

Semoga Allah l senantiasa menganugerahi kita kejujuran dan keadilan dalam dakwah yang penuh
berkah ini, serta memberkahi hidup kita di atas ilmu, iman, adab dan amal shalih hingga ajal menjemput, amin
ya Rabbal ‘alamin.

Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad


wa’ala alihi wasallam,
walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Selesai ditulis pada hari Sabtu, 29 Rabi’uts Tsani 1430 H

31
S
uatu prinsip yang harus kita tanamkan pada
diri kita sebagai seorang salafi pengikut manhaj
Ahlussunnah waljama’ah, yaitu senantiasa
merujuk kepada ulama umat selaku para pewaris Nabi
n . Terutama dalam masalah-masalah besar yang
bersifat umum yang menyangkut ketenteraman umat
dalam menjalani agamanya, hendaklah dikembalikan
urusannya kepada ahlinya dari kalangan ulama kibar
(besar).
Allah l berfirman:

‫ﭽ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠﭼ‬
“Maka bertanyalah kepada ahlu ‘ilmi jika kalian tidak mengetahui.” (An-
Nahl: 43)

P
ada saat terjadi fitnah yang melanda umat, maka kita diperintahkan untuk
mengembalikan solusinya kepada mereka. Ketinggian ilmu mereka dan
kekokohan mereka dalam bersaksi atas kebenaran dengan penuh keadilan
menjadikan mereka terpilih sebagai ulama-ulama besar pembimbing umat yang
memiliki kedudukan yang tinggi dan agung di tengah-tengah Ahlussunnah
waljama’ah. Oleh karena itu Allah l dan Rasul-Nya telah memerintahkan kita
untuk memegang prinsip ini agar kita terbimbing dan meraih berkah dalam
menjalani agama ini.

Anda mungkin juga menyukai