Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

MIOMA UTERI

Disusun oleh:
Ratih Puspita Wulandari
112011101060

Dokter Pembimbing:
Dr. Endang Maruf Randi, Sp.OG

Disusun untuk Melaksanakan Tugas Kepaniteraan Klinik


Lab/SMF OBSTETRI GINEKOLOGI
Di RSD dr. Soebandi Jember

SMF/LAB OBSTETRI GINEKOLOGI


RSD DR. SOEBANDI JEMBER
2015

BAB 1. PENDAHULUAN

Mioma uteri, dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid ataupun


leiomioma, merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan
ikat yang menumpangnya.1 Bila tumor ini tumbuh dan bertangkai, maka tumor
dapat keluar dan masuk ke dalam vagina yang disebut mioma geburt.
Sering ditemukan pada wanita usia reproduksi, kejadiannya lebih tinggi
pada usia diatas 35 tahun. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35 - 50
tahun, menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen. Di Indonesia
angka kejadian mioma uteri ditemukan 2,39% - 11,87% dari semua penderita
ginekologi yang dirawat.1,2
Walaupun biasanya asimptomatik, mioma dapat menyebabkan banyak
masalah termasuk metrorrhagia dan menorrhagia, rasa sakit bahkan infertilitas.
Perdarahan uteri yang sangat banyak merupakan indikasi yang paling banyak
untuk dilakukan histerektomi. Hal ini menimbulkan masalah besar dalam
kesehatan dan terapi yang paling efektif belum didapatkan, karena sedikit sekali
informasi mengenai etiologi mioma uteri itu sendiri.1,2,3,4

BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Myoma uteri adalah neoplasma jinak yang tersusun dari otot polos uteri
dan jaringan ikat yang menumpangnya dan sering juga disebut sebagai
fibromioma, leiomioma, fibroid.1

2.2 Etiologi
Etiologi yang pasti terjadinya mioma uteri saat ini belum diketahui.
Mioma uteri banyak ditemukan pada usia reproduktif dan angka kejadiannya
rendah pada usia menopause, dan belum pernah dilaporkan terjadi sebelum
menarche. Diduga penyebab timbulnya mioma uteri paling banyak oleh stimulasi
hormon estrogen.1
Estrogen secara langsung memicu pertumbuhan mioma uteri, atau
memakai mediator masih menimbulkan silang pendapat. Dimana telah ditemukan
banyak sekali mediator didalam mioma uteri, seperti estrogen growth factor,
insulin growth factor 1 (IGF-1). Awal mulanya pembentukan tumor adalah
terjadinya mutasi somatik dari sel-sel miometrium. Mutasi ini mencakupi rentetan
perubahan pada kromosom, baik secara parsial maupun secara keseluruhan.2,5

2.3 Klasifikasi
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uteri (1-3%) dan
selebihnya adalah dari korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut
arah pertumbuhannya, maka mioma uteri dibagi 4 jenis antara lain mioma
submukosa, mioma intramural, mioma subserosa, dan mioma intraligamenter.
Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%), subserosa
(48,2%), submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%).1,2

2.3.1

Mioma submukosa
Berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus.

Jenis ini di jumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering

memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma uteri jenis lain meskipun


besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma
submukosa,

walaupun

kecil

sering

memberikan

keluhan

gangguan

perdarahan. Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan


kuretase, dengan adanya benjolan waktu kuret, dikenal sebagai Currete bump.
Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma submukosa
pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa
yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke
vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang di lahirkan,
yang mudah mengalami infeksi, ulserasi, dan infark. Pada beberapa kasus,
penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas.6

Gambar 1. Kanan bawah; Mioma Geburt

2.3.2 Mioma intramural


Terdapat di dinding uterus diantara serabut miometrium. Karena
pertumbuhan tumor, jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuklah
semacam simpai yang mengelilingi tumor. Bila didalam dinding rahim
dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk yang
berdungkul dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding
depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung
kemih keatas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.

2.3.2

Mioma subserosa
Apabila tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada

permukaan uterus diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh


diantara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter.
Mioma subserosa dapat tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke
ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus.
Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus.
Mioma pada serviks dapat menonjol ke dalam satu saluran serviks
sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. Apabila mioma
dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari berkas otot polos dan jaringan
ikat yang tersusun seperti kumparan (whorle like pattern) dengan
pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena
pertumbuhan sarang mioma ini.

Gambar 2. Uterus normal

Gambar 3. Jenis-jenis mioma uteri

2.4 Gambaran Mikroskopik


Pada pembelahan jaringan mioma tampak lebih putih dari jaringan
sekitarnya. Pada pemeriksaan secara mikroskopik dijumpai sel-sel otot polos
panjang, yang membentuk bangunan yang khas sebagai kumparan. Inti sel juga
panjang dan bercampur dengan jaringan ikat. Pada pemotongan tranversal, sel
berbentuk polihedral dengan sitoplasma yang banyak mengelilinginya. Pada
pemotongan longitudinal inti sel memanjang, dan ditemukan adanya mast cells
diantara serabut miometrium sering diinterprestasi sebagai sel tumor atau sel
raksasa (giant cells).1,3,4

2.5 Perubahan Sekunder


1.

Atrofi.
Sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan berakhir mioma uteri
menjadi kecil.

2.

Degenerasi hialin.
Perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita usia lanjut. Tumor

kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau

hanya sebagian kecil dari padanya seolah-olah memisahkan satu kelompok


serabut otot dari kelompok lainnya.
3.

Degenerasi kistik.
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, sebagian dari mioma menjadi cair,

sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-agar,


dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga
menyerupai limfangioma. Dengan konsistansi yang lunak tumor ini sukar
dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
4.

Degenerasi membatu.
Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan

dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma
maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.
5.

Degenerasi merah.
Perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis

diperkirakan karena suatu nekrosis subakut akibat gangguan vaskularisasi. Pada


pembelahan dapat terlihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah
disebabkan oleh pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak
khas apabila terjadi pada kehamilan muda yang disertai emesis dan haus, sedikit
demam dan kesakitan, tumor dan uterus membesar dan nyeri pada perabaan.
Penampilan klinik seperti ini menyerupai tumor ovarium terpuntir atau mioma
bertangkai.
6.

Degenerasi lemak.
Keadaan ini jarang dijumpai, tetapi dapat terjadi pada degenerasi hialin yang

lanjut, dikenal dengan sebutan fibrolipoma.6

2.6 Diagnosis
Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan:
1.

Anamnesis
-

Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.

Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air
besar.

2.

Nyeri perut bila terinfeksi, terpluntir, pecah.

Pemeriksaan fisik
-

Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.

Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor


tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.

3.

Konsistensi padat, kenyal, mobil, permukaan tumor umumnya rata.

Gambaran Klinis
Pada umumnya wanita dengan mioma tidak mengalami gejala. Gejala yang

terjadi berdasarkan ukuran dan lokasi dari mioma yaitu :


a.

Menoragia (menstruasi dalam jumlah banyak)

b.

Perut terasa penuh dan membesar

c.

Nyeri panggul kronik (berkepanjangan)


Nyeri bisa terjadi saat menstruasi, setelah berhubungan seksual, atau ketika

terjadi penekanan pada panggul. Nyeri terjadi karena terpuntirnya mioma yang
bertangkai, pelebaran leher rahim akibat desakan mioma atau degenerasi
(kematian sel) dari mioma. Gejala lainnya adalah:
-

Gejala gangguan berkemih akibat mioma yang besar dan menekan saluran
kemih menyebabkan gejala frekuensi (sering berkemih) dan hidronefrosis
(pembesaran ginjal)

Penekanan rektosigmoid (bagian terbawah usus besar) yang mengakibatkan


konstipasi (sulit BAB) atau sumbatan usus

Prolaps atau keluarnya mioma melalui leher rahim dengan gejala nyeri hebat,
luka, dan infeksi
Bendungan pembuluh darah vena daerah tungkai serta kemungkinan

tromboflebitis sekunder karena penekanan pelvis (rongga panggul)7


4.

Pemeriksaan luar
Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor

dapat terbatas atau bebas.


5.

Pemeriksaan dalam
Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas

atau bebas dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan.

6.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium. Anemia merupakan akibat paling sering dari

mioma. Hal ini disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan

habisnya

cadangan zat besi. Kadang-kadang mioma menghasilkan eritropoetin yang pada


beberapa kasus menyebabkan polisitemia. Adanya hubungan antara polisitemia
dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma terhadap ureter yang
menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan kemudian menginduksi
pembentukan eritropoetin ginjal.
USG, untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium
dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT
scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak
memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya, leiomiosarkoma sangat jarang
karena USG tidak dapat membedakannya dengan mioma dan konfirmasinya
membutuhkan diagnosa jaringan.
Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gemanya
pada beberapa bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan
uterus; lebih lanjut uterus membesar dan berbentuk tak teratur.
Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis
serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter. Histerografi dan histeroskopi
untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas. Laparaskopi
untuk mengevaluasi massa pada pelvis.

2.7 Komplikasi

1. Perdarahan sampai terjadi anemia.


2.

Degenerasi ganas. Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan


hanya 0,32 0,6 % dari seluruh mioma serta merupakan 50 75 % dari
semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan pada
pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan
uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran
sarang mioma dalam menopause.2,3

3.

Torsi. Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul


gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Keadaan ini dapat
terjadi pada semua bentuk mioma tetapi yang paling sering adalah jenis
mioma submukosa pendinkulata.

2.8 Diagnosis Banding


Pada mioma subserosa, diagnosa bandingnya adalah tumor ovarium yang
solid, atau kehamilan uterus gravidus. Sedangkan pada mioma submukosa yang
dilahirkan diagnosa bandingnya adalah inversio uteri. Kemudian, pada mioma
intramural,

diagnosa

bandingnya

adalah

adenomiosis,

khoriokarsinoma,

karsinoma korporis uteri atau sarcoma uteri. 1,2,3,4

2.9 Penatalaksanaan
Pilihan pengobatan mioma tergantung umur pasien, paritas, status
kehamilan, keinginan untuk mendapatkan keturunan lagi, keadaan umum dan
gejala serta ukuran lokasi serta jenis mioma uteri itu sendiri.
1.

Konservatif
Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah ataupun

medikamentosa terutama bila mioma itu masih kecil dan tidak menimbulkan
gangguan atau keluhan. Penanganan konservatif, bila mioma yang kecil pada pra
dan post menopause tanpa gejala. Cara penanganan konservatif sebagai berikut :
-

Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.

Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC sampai Hb > 10 g%

Pemberian zat besi.

Penggunaan agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari 1-3


menstruasi setiap minggu sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan
pengerutan tumor dan menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi
gonadotropin dan menciptakan keadaan hipoestrogenik yang serupa yang
ditemukan pada periode postmenopause. Efek maksimum dalam mengurangi
ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu.

10

Terapi agonis GnRH ini dapat pula diberikan sebelum pembedahan, karena
memberikan beberapa keuntungan: mengurangi hilangnya darah selama
pembedahan, dan dapat mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.

Baru-baru ini, progestin dan antiprogestin dilaporkan mempunyai efek


terapeutik. Kehadiran tumor dapat ditekan atau diperlambat dengan
pemberian progestin dan levonorgestrol intrauterin.

2.

Pengobatan Operatif
Penanganan operatif, bila:

Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.

Pertumbuhan tumor cepat.

Mioma subserosa bertangkai dan torsi.

Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya.

Hipermenorea pada mioma submukosa.

Penekanan pada organ sekitarnya.

Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa :


a. Enukleasi Mioma
Dilakukan pada penderita infertil atau yang masih menginginkan anak atau
mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Sejauh ini tampaknya aman,
efektif, dan masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan
bila ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus,
juga dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor
dengan tangkai dan jelas yang dengan mudah dapat dijepit dan diikat. Bila
miomektomi menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan dengan
endometrium, kehamilan berikutnya harus dilahirkan dengan seksio sesarea.
Kriteria preoperasi menurut American College of Obstetricians Gynecologists
(ACOG) adalah sebagai berikut :

Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang.

Terdapat leiomioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas.

Apabila tidak ditemukan alasan yang jelas penyebab kegagalan kehamilan


dan keguguran yang berulang.

11

b. Histerektomi
Dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang
memiliki leiomioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria ACOG
untuk histerektomi adalah sebagai berikut:

Terdapatnya 1 sampai 3 leiomioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari


luar dan dikeluhkan olah pasien.

Perdarahan uterus berlebihan :


Perdarahan yang banyak bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih
dari 8 hari.
Anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.

Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma meliputi :


Nyeri hebat dan akut.
Rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis.
Penekanan buli-buli dan frekuensi urine yang berulang-ulang dan tidak
disebabkan infeksi saluran kemih.
c. Metode lain dari miomektomi adalah dengan ekstirpasi yang dilanjutkan
dengan curetage. Metode ini dilakukan pada kasus mioma geburt dengan
melakukan ekstirpasi lewat vagina.7

3.

Penanganan Radioterapi
-

Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk
patient).

Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu.

Bukan jenis submukosa.

Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum.

Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapat menyebabkan


menopause.

Maksud dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan.

12

2.10 Mioma Uteri dan Kehamilan


Pengaruh mioma uteri pada kehamilan adalah :
-

Kemungkinan abortus lebih besar karena distorsi kavum uteri khususnya pada
mioma submukosum.

Dapat menyebabkan kelainan letak janin

Dapat menyebabkan plasenta previa dan plasenta akreta

Dapat menyebabkan HPP akibat inersia maupun atonia uteri akibat gangguan
mekanik dalam fungsi miometrium

Dapat menganggu proses involusi uterus dalam masa nifas

Jika letaknya dekat pada serviks, dapat menghalangi kemajuan persalinan dan
menghalangi jalan lahir.

Pengaruh kehamilan pada mioma uteri adalah :


-

Mioma membesar terutama pada bulan-bulan pertama karena pengaruh


estrogen yang meningkat

Dapat terjadi degenerasi merah pada waktu hamil maupun masa nifas seperti
telah diutarakan sebelumnya, yang kadang-kadang memerlukan pembedahan
segera guna mengangkat sarang mioma. Namun, pengangkatan sarang mioma
demikian itu jarang menyebabkan perdarahan.

Meskipun jarang, mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi dengan


gejala dan tanda sindrom akut abdomen.
Terapi mioma dengan kehamilan adalah konservatif karena miomektomi

pada kehamilan sangat berbahaya disebabkan kemungkinan perdarahan hebat dan


dapat juga menimbulkan abortus. Operasi terpaksa jika lakukan kalau ada
penyulit-penyulit yang menimbulkan gejala akut atau karena mioma sangat besar.
Jika mioma menghalangi jalan lahir, dilakukan SC (Sectio Caesarea) disusul
histerektomi tapi kalau akan dilakukan miomektomi lebih baik ditunda sampai
sesudah masa nifas.

2.11 Prognosis
Histerektomi dengan mengangkat seluruh mioma adalah kuratif.
Miomektomi yang ekstensif dan secara signifikan melibatkan miometrium atau

13

menembus endometrium, maka diharuskan SC pada persalinan berikutnya.


Mioma yang kambuh kembali setelah miomektomi terjadi pada 15-40% pasien
dan 2/3-nya memerlukan tindakan lebih lanjut.12

14

BAB 3. LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. S

Umur

: 45 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Madura

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: ibu rumah tangga

Alamat

:Puger Wetan

Tanggal MRS : 07-12-2015


No RM

: 10.27.18

II. IDENTITAS KELUARGA PASIEN

III.

Nama suami

: Tn. S

Umur

: 48 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Madura

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Puger Wetan

Anamnesis
Anamnesis

dilakukan pada tanggal 07 Desember 2015 di ruang

ginekologi nifas RSD dr Soebandi.

IV.

Keluhan utama

Benjolan pada perut bagian bawah

15

Autoanamnesis
Pasien mengeluhkan terdapat benjolan di perut bagian bawah sejak
1 tahun yang lalu. Benjolan pada awalnya kecil dan muncul di sisi kanan
perut bawah, namun perlahan-lahan benjolan membesar dalam waktu 3
bulan dan terasa juga di perut bawah sisi kanan dan kiri. Pasien juga
mengeluhkan nyeri perut sejak tadi pagi. Nyeri dirasakan terus menerus
dan menjalar ke pinggang, namun saat ini nyeri yang dialami pasien
berkurang. Pasien sampai sekarang sulit untuk tidur miring karena nyeri
pada pinggang Pasien juga mengeluhkan sejak 4 bulan yang lalu , sering
mengeluarkan darah haid yang cukup banyak ketika menstruasi.
Sebelumnya pasien hanya mengganti pembalut 2 kali sehari, namun sejak
4 bulan kemarin, pasien mengganti pembalutnya hampir 6 kali dalam
sehari. Pasien juga sering mengeluh nyeri perut saat haid.
Pasien sering mual, tidak muntah, dan dapat BAB dan BAK lancar..
Pasien juga mengeluh berat badan menurun selama 4 bulan ini. Pasien
sebelumnya telah memeriksakan diri ke poli kandungan RSD dr Soebandi
Jember 5 hari yang lalu dan telah dilakukan pemeriksaan USG. Pasien saat
ini MRS dan direncanakan operasi tanggal 08-12-2015.

V.

Riwayat penyakit dahulu


Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa.
Riwayat penyakit sistemik (hipertensi, Diabetes Mellitus) disangkal

VI.

Riwayat Alergi
Disangkal

VII.

Riwayat penyakit keluarga


Didalam keluarga tidak ada yang mengalami keluhan serupa. Dari dalam
keluarga riwayat adanya tumor rahim,
disangkal oleh pasien.

16

hipertensi, diabetes mellitus

VIII.

Riwayat pengobatan
Disangkal

IX.

Riwayat Menarche

: Usia 13 tahun

X.

Riwayat Menstruasi : 7 hari / teratur /Dismenore (-)

XI.

Riwayat Marital

: Usia 16 thn (1x)

XII.

Riwayat Obstetri

: I. Perempuan/ 29 tahun/ dukun


II. Laki-laki/ 19 tahun/ bidan/ 3500 gram

XIII.

Riwayat KB

: pil KB

XIV. Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan umum : Cukup
Kesadaran

: Compos mentis

Vital Sign
Tekanan Darah : 120/90 mmHg
Nadi

: 78 x/menit

Frekuensi nafas : 20 x/menit


Suhu axila

: 36,5oC

Tinggi badan : 150cm


BB

: 58 kg

IMT

: 25,7

Status Interna Singkat


Kepala
Mata: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Hidung: tidak ada sekret, tidak ada darah

17

Mulut: tidak sianosis


Telinga: tidak ada sekret, tidak ada darah
Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar
tyroid
Thorak
Cor
Inspeksi: iktus kordis tidak tampak
Palpasi: iktus kordis tidak teraba
Perkusi: redup, batas jantung tidak melebar
Auskultasi: S1S2 tunggal, tidak ada ekstrasistole,
gallop maupun murmur
Pulmo
Inspeksi: simetris
Palpasi: fremitus raba positif kedua lapang paru
Perkusi: sonor
Auskultasi: vesikular di kedua lapang paru, tidak
ada wheezing maupun rhonki.
Ekstremitas: akral hangat di keempat ekstremitas, tidak ada odem
di keempat ekstremitas.
Status Obstetri dan Ginekologi
Payudara: papila mamae menonjol, hiperpigmentasi papila mamae -/-,
colostrum Abdomen:
Inspeksi

: flat, bekas operasi (-)

Auskultasi: Bising usus (+) normal


Perkusi

: timpani di kuadran atas abdomen, redup di

kuadran bawah

18

Palpasi

: massa (+) ukuran 15 cm x 10 cm di supra pubik,

konsistensi padat kenyal, mobile, nyeri tekan (-), defance


muskular (-), batas jelas
Genitalia:
vulva/vagina: rambut pubis ada, tidak ada laserasi, tidak
ada benjolan/pembengkakan kelenjar bartolini, tidak ada
fluor albus, fluksus (-), himen tidak utuh. Inspekulo : tidak
tampak massa pada introitus vagina, porsio licin, flour
albus (-), perdarahan (-).
Vaginal Touche
Perabaan vagina :Dinding vagina licin, permukaan dinding rata, tidak ada
masa, cavum douglas tidak menonjol.
Perabaan serviks : ostium uteri eksternum lebar, konsistensi kenyal, terdiri
atas bibir depan dan belakang, nyeri goyang portio (-)
Pemeriksaan Bimanual
perabaan korpus uteri : Letak anteversio, bentuk lonjong, permukaan tidak
rata dan berbenjol-benjol
Perabaaan adnexa : Teraba massa pada adneksa dekstra dan sinistra,nyeri()

XV.

Pemeriksaan penunjang
DL lengkap (27 Maret 2015)

19

Jenis

Hasil

Pemeriksaan

Pemeriksaan

Normal

HEMATOLOGI
Hemoglobin

14,5

12,0- 16,0

Leukosit

10,4

4,5- 11,0

Hematokrit

43,6

36-46

trombosit

298

150-450

Pemeriksaan USG

Kesan : Mioma uteri

XVI.

Resume
Wanita usia 45 tahun, mengeluh terdapat benjolan pada perut bawah

sejak 1 tahun yang lalu. Benjolan awalnya kecil lalu semakin membesar. Pasien
juga mengeluh nyeri perut terus-terusan menjalar ke pinggang. Pasien juga
mengeluh saat menstruasi , darah yang keluar lebih banyak daripada biasanya dan
saat ini mengganti pembalut 5-6 kali dalam sehari. Pasien juga mengeluh nyeri
perut saat haid, sering mual, tidak muntah, dapat BAB lancar dan BAK lancar,
dan berat badan menurun selama 4 bulan ini.

20

Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tanda-tanda vital TD 120/90, Nadi


78 x/m, RR 20x/ m, suhu 36,5 C. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan massa
(+) ukuran 15 cm x 10 cm di supra pubik, konsistensi padat kenyal, mobile, batas
jelas, nyeri tekan (-), defance muskular (-). Pemeriksaan Bimanual permukaan
uterus berbenjol-benjol. Perabaaan adnexa : Teraba massa pada adneksa dekstra
dan sinistra, nyeri(-)
Pemeriksaan laboratorium normal. Kesan pemeriksaan USG tanggal
02/12/2015 : mioma uteri.

XVII. Diagnosis Banding


Tumor Padat Ovarium

XVIII. Diagnosis
Mioma uteri

XIX. Penatalaksanaan
Planning

XX.

Planing Diagnostik

: Pemeriksaan histopatologi anatomi

Planning monitoring

:Tanda-tanda vital

Planing terapi

: Infus RL 14 tpm

Planing suportif

: Persiapan operasi histerektomi

Prognosis
Dubia ad bonam

21

DAFTAR PUSTAKA

1.

Thomas EJ. The aetiology and phatogenesis of fibroids. In : Shaw RW. eds.
Advences in reproduktive endocrinology uterine fibroids. England New
Jersey : The Phartenon Publishing Group, 1992 ; 1 8. Diakses 28 januari
2015. http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/miomauteri/mrdetail/906/

2.

Baziad A. Pengobatan medikamentosa mioma uteri dengan analog GnRH.


Dalam : Endokrinologi ginekologi edisi kedua. Jakarta : Media Aesculapius
FKUI,
2003;
151

156.
Diakses
28
januari
2015.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

3.

Bradley J, Voorhis V. Management options for uterine fibroids, In : Marie


Chesmy, Heather Whary eds. Clinical obstetric and Gynecology. Philadelphia
: Lippincott Williams and Wilkins, 2001 ; 314 315. Diakses 28 januari
2015.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/miomauteri/mrdetail/906/

4.

Schwartz MS. Epidermiology of uterine leiomiomata. In : Chesmy M,


Heather, Whary eds. Clinical Obstetric and Ginecology. Philadelphia :
Lippincott Williams and Willkins, 2001 ; 316 318. Diakses 28 januari 2015.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

5.

Friedman AJ, Rein MS, Murugan R, Pandian, Barbieri RL.Fasting serum


growth hormone and insulin_like growth factor I and II concentrations in
women with leiomiomata uteri treated with leuprolide acetate or placebo.
Fertility and Sterility, 1990 ; 53 : 250 253. Diakses 28 januari 2015.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

6.

Joedosaputro MS. Tumor jinak alat genital. Dalam: Sarwono Prawiroharjo,


edisi kedua. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta: 1994; 338-345

7.

Sutoto, M.S.J. Tumor Jinak pada Alat-alat Genital, Ilmu Kandungan,


Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1994, p : 328-65.

22

8.

Sivecney G.Mc, Shaw RW. Attempts at medical treatment of uterine fibroids.


In : R.W. Shaw, eds. Advences in reproductive endocrinology uterine
fibroids. England New Jersey : The Phartenon Publishing Group, 1992 ; 95
101. Diakses 28 januari 2015. http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/healthsciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

9.

Schwartz MS. Epidermiology of uterine leiomyomata. In : Chesmy M,


Heather, Whary eds. Clinical Obstetric and Ginecology. Philadelphia :
Lippincott Williams and Willkins, 2001 ; 316 318. Diakses 28 januari 2015.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

10. Bradley J, Voorhis V. Management options for uterine fibroids, In : Marie


Chesmy,Heather Whary eds. Clinical obstetric and Gynecology. Philadelphia
: Lippincott Williams and Wilkins, 2001 ; 314 315, Diakses 28 januari 2015
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/
11. Lumsden MA. The role of oestrogen and growth factors in the control of the
growth of uterine leiomiomata. In : R.W. Shaw, eds. Advances in
reproductive endocrinology uterine fibroids. England-New Jersey: The
Parthenon Publishing Group, 1992; 9 20. Diakses 28 januari 2015.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

23