Anda di halaman 1dari 53

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 0

dalam Penyuluhan Perikanan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam

Undang-Undang

Nomor

16

Tahun

2006

disebutkan

Penyuluhan Perikanan merupakan proses pembelajaran bagi pelaku utama


dan pelaku usaha perikanan agar mereka mau dan mampu menolong serta
mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi,
permodalan, dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan
produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya serta
meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Proses
belajar bersama dalam penyuluhan sebenarnya tidak hanya diartikan
sebagai kegiatan belajar secara insidental untuk memecahkan masalah yang
sedang dihadapi, tetapi yang lebih penting dari itu adalah penumbuhan dan
pengembangan semangat belajar seumur hidup (long life learning) secara
mandiri dan berkelanjutan.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 1


dalam Penyuluhan Perikanan

Secara aplikatif penyuluhan perikanan merupakan suatu proses


pembelajaran bagi para pelaku utama dan pelaku usaha perikanan beserta
keluarganya, menggunakan landasan falsafah kerja meningkatkan potensi
dan kemampuan para pelaku utama dan keluarganya, sehingga mereka
akan dapat mengatasi sendiri kebutuhan dan keinginannya, tanpa harus
selalu tergantung pada orang lain. Sehingga dengan falsafah demikian,
maka implikasinya akan sangat luas, tidak saja dalam bidang penyuluhan
kelautan dan perikanan, tetapi juga dalam pembangunan kelautan dan
perikanan, pembangunan perdesaan, dan pembangunan nasional. Dalam
konsep penyuluhan perikanan juga dikenal beberapa prinsip yang terdiri
dari: kesukarelaan, otonom, keswadayaan, partisipatif, egaliter, demokrasi,
keterbukaan, kebersamaan, akuntabilitas, dan desentralisasi.
Sejalan dengan itu, tujuan utama dari penyuluhan perikanan adalah
mempengaruhi

para

pelaku

utama

dan

keluarganya

agar

berubah

perilakunya sesuai dengan yang diinginkan oleh penyuluh, yang akhirnya


mampu menyebabkan perbaikan mutu hidup dari pelaku utama kelautan
dan perikanan. Perubahan perilaku yang terjadi dibagi kepada perubahan
pengetahuan, keterampilan dan sikap dari sasaran penyuluhan. Untuk itulah,
keberadaan dan peran penyuluh perikanan masih sangat diperlukan sebagai
dinamisator, fasilitator, dan motivator dalam proses pembinaan dan
pendampingan bagi para pelaku utama dan pelaku usaha tersebut dan
sejalan dengan konsepsi itulah, penyuluhan perikanan sebagai rumpun ilmu
hayat,

ditengarai

menjadi

katalisator

bagi

upaya

pembangunan

perekonomian masyarakat dan eksistensinya menjadi penyokong bagi


terwujudnya upaya kesejahteraan.
Seorang

penyuluh

perikanan

harus

memiliki

kemampuan

berkomunikasi dengan masyarakat, pelaku utama dan pelaku usaha


perikanan beserta keluarganya, sehingga maksud dan tujuan yang ingin
disampaikan melalui komunikasi dapat diterima dengan baik dan jelas.
Demikian pula dalam hal komunikasi melalui bahan-bahan tulisan seperti
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 2
dalam Penyuluhan Perikanan

poster, folder, pamplet, dan sebagainya, tujuannya harus jelas. Kejelasan


tujuan sangat penting dalam berkomunikasi. Tanpa tujuan yang jelas, sulit
bagi kita untuk mengharapkan respon yang benar dari proses komunikasi.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian/pengkajian
tentang Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi dalam Penyuluhan
Perikanan.

B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah yang akan diajukan dalam kajian ini adalah
sebagai berikut:
1. Apa tujuan komunikasi dalam penyuluhan perikanan
2. Apa saja unsur-unsur komunikasi
3. Bagaimana proses komunikasi dalam penyuluhan perikanan
4. Bagaimana adopsi dan difusi inovasi dalam penyuluhan perikanan
5. Bagaimana teknik berbicara di depan umum

C. Tujuan Penelitian/Pengkajian
Berdasarkan permasalahan pada bagian rumusan masalah, tujuan
penelitian/pengkajian yang akan dicapai adalah:
1. Meningkatkan

pengetahuan

tujuan

komunikasi

dalam

penyuluhan

perikanan
2. Menjelaskan tentang unsur-unsur komunikasi
3. Menjelaskan proses komunikasi dalam penyuluhan perikanan
4. Menjelaskan adopsi dan difusi inovasi dalam penyuluhan perikanan
5. Meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana teknik berbicara di
depan umum
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 3
dalam Penyuluhan Perikanan

D. Kerangka Teori
Penyuluhan Perikanan merupakan proses pembelajaran dalam
rangka meningkatkan kapasitas kemampuan para pelaku utama dan pelaku
usaha perikanan untuk mengorganisasikan dirinya dalam mengembangkan
bisnis perikanan, untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya,
dengan tetap memperhatikan pelestarian fungsi lingkungan hidup (UndangUndang Nomor 16 Tahun 2006). Untuk keberhasilan proses penyuluhan
perikanan maka diperlukan komunikasi antara penyuluh dan sasaran
penyuluhan.
Mengapa manusia melakukan komunikasi?
1. Manusia

adalah

mahluk

sosial

yang

selalu

berinteraksi

dengan

sesamanya dan dilakukan melalui komunikasi


2. Hasrat dan upaya manusia untuk mengontrol dan beradaptasi dengan
lingkungan.
3. Upaya manusia untuk mengetahui dan memprediksi sikap orang lain.
4. Upaya manusia untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam
menciptakan keseimbangan dalam masyarakat.
Pengertian komunikasi:
1. Pengiriman atau tukar menukar informasi, ide (Oxford Dictionary)
2. Proses lewatnya informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang
lain (Keith Davis)
3. Proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti (Phil Astrid
Susanto)
4. Proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan
pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya
akan tiba pada saling pengertian yang dalam (Rogers & Kincaid, 1981).
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 4
dalam Penyuluhan Perikanan

5. Proses dimana suatu ide dialirkan dari sumber kepada satu penerima
atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka
(Rogers, 1986).
6. Proses penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan
dengan mengggunakan media dan cara penyampaian informasi yang
dipahami oleh kedua pihak serta saling memiliki kesamaan arti lewat
transmisi pesan secara simbolis (Marpaung dan Renaldi, 2001)
7. Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang
kepada orang lain untuk memberitahu dan untuk mengubah sikap,
pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tak
langsung melalui media (Onong Uchjana Effendy)
8. Komunikasi sebagai kombinasi skill, science dan art (Severin dan
Tankard, 1992)
9. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide,
gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling
mempengaruhi

di

antara

keduanya.Pada

umumnya,

komunikasi

dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua
belah pihak. pabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh
keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan
gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum,
menggelengkan kepala, mengangkat bahu.Cara seperti ini disebut
komunikasi dengan bahasa nonverbal (http://id.wikipedia.org).
E. Sumber Data Penelitian
Data-data yang disajikan dalam tulisan ini terdiri dari data sekunder
diperoleh dari buku-buku dan internet yang berhubungan dengan topik
yang diangkat.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 5


dalam Penyuluhan Perikanan

F. Metode Dan Teknik Penelitian/Pengkajian


Metode yang digunakan dalam penelitian/pengkajian Efektivitas dan
Efisiensi Proses Komunikasi dalam Penyuluhan Perikanan ini adalah
penelitian/pengkajian deskriptif kualitatif, dengan teknik yang digunakan:
1) Pengumpulan data
Data sekunder diperoleh dari buku-buku dan internet.
2) Pengolahan data dan penyusunan kajian
a. Perumusan masalah yang akan diajukan dalam kajian, dengan
penjabaran dan penggalian ide/gagasan utama dan ide pendukung
dengan menggunakan 5 W (What, Who, When, Where, Why), dan 1 H
(How).
b. Dalam rangka menjawab pertanyaan di atas, kami melakukan
pengolahan data dan penelusuran pustaka yang akan dituangkan
dalam beberapa sub bahasan.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 6


dalam Penyuluhan Perikanan

BAB II
SEJARAH KOMUNIKASI DAN
TUJUAN KOMUNIKASI DALAM
PENYULUHAN PERIKANAN

A. Sejarah komunikasi
Menurut http://id.wikipedia.org; Komunikasi atau communicaton
berasal dari bahasa Latin communis yang berarti sama. Communico,
communicatio atau communicare yang berarti membuat sama ((make to
common). Secara sederhana komuniikasi dapat terjadi apabila ada
kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan.
Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat
memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our
ability to understand one another).
Pada

awalnya,

komunikasi

digunakan

untuk

mengungkapkan

kebutuhan organis. Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan


untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 7
dalam Penyuluhan Perikanan

kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi


dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian
kawin pada ikan.
Pada binatang, komunikasi juga dilakukan dengan cara yang
sederhana melalui tindakan - tindakan yang bersifat reflek. Menurut sejarah
evolusi sekitar 250 juta tahun yang lalu munculnya "otak reptil" menjadi
penting karena otak memungkinkan reaksi-reaksi fisiologis terhadap
kejadian di dunia luar yang kita kenal sebagai emosi. Pada manusia
modern, otak reptil ini masih terdapat pada sistem limbik otak manusia, dan
hanya dilapisi oleh otak lain "tingkat tinggi".
Manusia

berkomunikasi

untuk

membagi

pengetahuan

dan

pengalaman. Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal,


bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif,
transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan.
Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok
orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan
efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh
penerima pesan tersebut.
Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk
barang antik, topik ini menjadi penting khususnya pada abad 20 karena
pertumbuhan

komunikasi

digambarkan

sebagai

penemuan

yang

revolusioner, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi komunikasi yang


pesat seperti radio. Televisi, telepon, satelit dan jaringan komuter seiring
dengan industiralisasi bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia.
Komunikasi dalam tingkat akademi mungkin telah memiliki departemen
sendiri

dimana

komunikasi

dibagi-bagi

menjadi

komunikasi

masa,

komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya


akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman
komunikasi itu sendiri.
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 8
dalam Penyuluhan Perikanan

B. Tujuan Komunikasi
Tujuan komunikasi berupa:
1. Informative
Memberikan informasi (pendekatan pada pikiran: gagasan, informasi,
opini dan lain-lain yang muncul dari benaknya).
2. Persuasive
Menggugah perasaan (pendekatan pada emosi: keyakinan, kepastian,
keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian dan lain-lain).
3. Entertainment/menghibur
Menghibur komunikan, membuat mereka senang, tidak bersikap apatis
maupun pesimis.
4. Mengubah sikap/perilaku (to change the behavior)
5. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion)
6. Mengubah masyarakat (to change the society)

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 9


dalam Penyuluhan Perikanan

BAB III
UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI

Secara umum unsur-unsur komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:

S
S
Ps
M
Pn
A

M (s)
Ps

Pn
A

= Sumber, Komunikator
= Pesan, Message, Isi
Pernyataan
= Media, Saluran
= Penerima, Komunikan
= Akibat, Motif

Komponen Tersebut Harus Ada Apabila Tidak Lengkap


dan Tidak Jelas -> Komunikasi Tidak Berhasil

Gambar 1. Unsur-unsur komunikasi

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 10


dalam Penyuluhan Perikanan

A. Komunikator/sumber informasi
Sumber komunikasi adalah pihak yang mengirim pesan atau
informasi. Dalam penyuluhan sumber ini bisa penyuluh atau agen
pembaharu.
B. Pesan atau esensi komunikasi (content/message)
Pesan merupakan informasi yang ditujukan kepada penerima. Dalam
penyuluhan perikanan pesan ini dapat berupa materi penyuluhan. Pesan
yang digunakan dalam penyuluhan pertanian didasarkan pada kebutuhan
sasaran.
C. Saluran/Media
Saluran adalah jalan yang dilalui pesan yang disampaikan sumber
kepada penerima. Saluran meliputi penggunaan metoda dan teknik serta
penggunaan media yang relevan dengan tujuan, sasaran serta sifat
pesannya. Pada umumnya semakin banyak indera yang distimuli melalui
berbagai media semakin efektif proses komunikasi dalam penyuluhan.
Penggunaan metoda, teknik dan media penyuluhan perikanan selain untuk
meningkatkan pemahaman sasaran terhadap pesan yang disampaikan,
untuk mendorong aktivitas dan kreativitas sasaran serta tumbuhnya rasa
percaya diri.
D. Komunikan/penerima informasi
Penerima adalah pihak yang menerima pesan-pesan atau informasi,
yaitu pihak yang diharapkan akan berubah baik perilaku maupun
kepribadiannya.

Dalam penyuluhan perikanan penerima

atau sasaran

adalah pelaku utama dan pelaku usaha perikanan beserta keluarganya.


E. Dampak/Efek/Feedback
Efek komunikasi merupakan respon penerima terhadap pesan-pesan
yang diterima dan merupakan umpan balik (feedback) bagi komunikator
/sumber atas pesan-pesan yang disampaikan.

Efek komunikasi berupa

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 11


dalam Penyuluhan Perikanan

perubahan-perubahan yang diharapkan terjadi pada sasaran akibat dari


proses komunikasi. Perubahan-perubahan yang diharapkan menyangkut
perubahan perilaku (pengetahuan, keterampilan, dan sikap), serta
perubahan

kepribadian

sasaran

(kemandirian,

ketangguhan,

kemampuan bekerjasama,percaya diri, kemampuan menempatkan diri pada


posisi tawar yang kuat, dan lain sebagainya). Efek komunikasi ada yang
langsung

bisa

diketahui,

misalnya

keterampilan, tetapi adapula yang

perubahan

pengetahuan

dan

tidak langsung artinya perlu waktu yang

lama seperti perubahan sikap dan kepribadian. Pada komunikasi dua arah
(two way trafficts communication) komunikator bisa memperoleh umpan
balik secara langsung dibanding komunikasi yang searah.
Di dalam kegiatan penyuluhan, proses komunikasi terjadi karena
penyuluh berusaha untuk menyampaikan pesan/informasi kepada pelaku
utama, dari pelaku utama kepada penyuluh, dan juga dari pelaku utama
kepada pelaku utama lainnya. Pesan-pesan dapat disampaikan secara verbal
(dengan kata-kata) atau non-verbal (tidak dengan kata-kata, seperti
isyarat, gerakan, tindakan, gambar, dsb.) oleh komunikator kepada
komunikan/sasaran

secara

langsung

atau

melalui

sarana

untuk

mempengaruhi kognisinya, intelektualitasnya, emosinya dan afeksinya, serta


psikomotoriknya sehingga sasaran mau merubah perilaku (behavior) dan
kepribadiannya (personality). Perilaku (behavior) yang diharapkan berubah
adalah meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
kepribadian

(personality)

meliputi

kemandirian,

Sedangkan

ketangguhan

kepercayaan diri, ketidaktergantungan, serta posisi tawarnya

serta

(bargaining

position).

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 12


dalam Penyuluhan Perikanan

BAB IV
PROSES KOMUNIKASI DALAM
PENYULUHAN PERIKANAN

A. Model/Bentuk Komunikasi
Model/bentuk komunikasi terbagi kedalam:
1. Komunikasi Langsung: komunikator dan komunikan langsung
berkomunikasi (tatap muka, menggunakan media)
a. Komunikasi vertikal : terjadi antara bawahan terhadap atasan atau
sebaliknya dalam konteks laporan atau menyampaikan hasil suatu
kegiatan
b. Komunikasi horizontal : terjadi sesama

pejabat atau staf dalam

konteks diskusi bekerjasama dalam menyelesaian suatu kegiatan


c. Komunikasi top down : terjadi pada saat pimpinan suatu instansi atau
unit kerja memberikan pengarahan, bimbingan dan pertemuan
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 13
dalam Penyuluhan Perikanan

dimana atasan memiliki informasi yang layak dan patut diketahui oleh
bawahan
d. Komunikasi botom-up : interaksi yang terjadi bawahan dengan
atasan dalam beberapa konteks pekerjaan
e. Komunikasi internal : komunikasi antara pejabat maupun staf dalam
satu lingkup instansi atau organisasi.
f. Komunikasi eksternal : segala bentuk interaksi yang terjadi antara
individu atau instansi dengan instansi lainnya.
2. Komunikasi tidak langsung: Komunikator dan komunikan tidak bertemu
(bahan cetakan: leaflet, folder, brosur, majalah, dll) (bahan tertayang:
film)
a. Tidak ada tanya jawab
b. Pesan harus jelas dan tepat dan menarik
c. Media penyuluhan (leaflet, brosur, poster dll) agar mudah dipahami
oleh sasaran penyuluhan
3. Sasaran komunikan/penerima melalui Panca Indra dalam Komunikasi
a. Indra penglihatan, misalnya bahan cetakan, album foto, slide tanpa
suara; yang hanya dapat digunakan untuk sasaran penyuluhan yang
dapat melihat.
b. Indra pendengaran, misalnya Radio, yang hanya

pemutaran tape

recorder, obrolan sore; dapat digunakan jika sasaran penyuluhan


tidak mengalami gangguan pendengaran.
c. Kombinasi

indra

penerima,

misalnya

demontrasi

cara/hasil,

pemutaran film, tv; merupakan kombinasi antara indra (AVA = Audio


Visual Aids).

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 14


dalam Penyuluhan Perikanan

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas dan Efisiensi dari


Komunikasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dan efisiensi dari komunikasi
adalah berupa:
1. Dilihat dari komunikator atau sumber komunikasi
Dilihat dari komunikator maka komunikasi dipengaruhi oleh:
a. Kecakapan Komunikator
Ada 3 karakteristik dari Komunikator/Sumber:
1) Kredibilitas
Suatu kondisi dimana si sumber di nilai punya pengetahuan,
keahlian atau pengalaman sehingga pihak penerima menjadi
percaya bahwa pesan yang disampaikan bersifat obyektif
Kredibilitas dipengaruhi oleh:
-

Keahlian (ekspertise)

Kepercayaan (trustworthiness)

Proses pembentukan pengetahuan, pendapat, sikap, dan tingkah


laku yang terjadi dalam diri penerima disebut: INTERNALISASI
Menurut Rogers (1983) Credibility:
-

Competence credibility, dikaitkan dengan status/kedudukan


formal/jabatan.

Safety credibility, tidak dikaitkan dgn status keahliannya


karena pekerjaan formalnya.

Orang-orang dengan safety credibility dipandang lebih jujur,


terbuka dan dekat dengan masyarakat.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 15


dalam Penyuluhan Perikanan

2) Daya tarik sumber


Daya tarik sumber timbul karena adanya proses identifikasi dalam
diri pihak penerima.
Contoh: Senang menggunakan celana jeans diidentifikasi
sebagai orang modern, elit dan kota.
Proses identifikasi bisa bersifat temporer bila pihak penerima
masih pantas untuk ditiru.
3) Kekuatan/kekuasaan sumber (source power), terdiri dari:
-

Kharisma

Wibawa otoritas

Kompetensi/keahlian

Compliance/pemenuhan

Sumber dinilai punya kekuatan/kekuasaan, apabila ia mampu


memberikan imbalan dan hukuman kepada penerima, berarti
seseorang mau menerima ide/anjuran dari sumber karena adanya
harapan menerima imbalan atau menghindari hukuman, proses ini
disebut COMPLIENCE.
Komunikator

yang

baik

adalah

menguasai

cara-cara

penyampaian buah pikiran baik secara lisan maupun secara tertulis.


Dengan kata lain komunikator harus menguasai teknik berbicara dan
teknik

membuat

surat

(naskah).

Ia

harus

cakap

memilih

simbol/lambang yang tepat untuk mengungkapkan buah pikiranya


dan harus cakap membangkitkan minat para pendengar atau
pembaca. Di samping itu harus pandai pula menarik perhatian dan
menyajikannya. Keterangan-keterangannya harus sistematis dan
jelas. Sebagai contoh pembicaraan seorang bawahan kepada atasan
atau teman yang setingkat, jelas akan berbeda.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 16


dalam Penyuluhan Perikanan

Demikian pula pembicara yang berbicara di depan masyarakat


tertentu, akan menyesuaikan pada sifat-sifat masyarakat tersebut,
tanpa mengadakan penyesuaian

sebelumnya maka komunikasi

menjadi tidak lancar atau bahkan macet sama sekali. Sebagai contoh,
bila kita berbicara di depan masyarakat Madura, akan lebih berhasil
bila kita banyak menggunakan kata-kata Arab seperti insya Allah,
Atas Ridho Allah, Masya Allah, dan sebagainya., karena kebanyakan
orang Madura beragama Islam. Oleh karena itu dalam berkomunikasi
harus memperhatikan keadaan masyarakat sekitar

harus

dengan

memahami keadaan masyarakat tersebut, seperti kebisaan,

aliran

agama dan kepercayaan dan sebagainya. Dengan memahami hal-hal


tersebut komunikasi akan menjadi lancar.

b. Saluran Komunikasi
Komunikasi dipengaruhi oleh saluran atau alat tubuh dari
komunikator, terutama dalam komunikasi lisan. Suara yang besar dan
jelas, ucapan yang jelas, tingkah laku yang baik akan menyebabkan
pembicaraanya menarik. Juga tangan yang sehat dengan gerak-gerik
yang baik dapat mendukung pembicaraan, oleh karena itu bila ingin
berhasil dalam komunikasi alat-alat tubuh kita harus baik terutama
alat-alat indera dan alat bicara.
2. Dilihat dari segi reseptor (penerima)
Keberhasilan

komunikasi

tidak

hanya

tergantung

pada

pihak

komunikator (sumber), tetapi juga tergantung dari reseptor. Walaupun


pihak komunikator telah memenuhi persyaratan, akan tetapi bila pihak
reseptor kurang memenuhi maka hasil komunikasi tidak akan sesuai
dengan

yang diharapkan. Pengaruh-pengaruh dari pihak reseptor

tersebut adalah:

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 17


dalam Penyuluhan Perikanan

a. Kecakapan komunikator reseptor


Hasil komunikasi ditentukan oleh kecakapan berkomunikasi
reseptor. Kecakapan ini terutama kecakapan mendengarkan dan
membaca. Walaupun komunikator cakap berbicara atau menulis,
akan tetapi bila reseptor kurang cakap mendengarkan dan membaca,
maka hasil komunikasi kurang memenuhi harapan, oleh karena itu
agar hasil komunikasi baik maka reseptor harus menguasai teknik
mendengarkan dan teknik membaca. Dalam mendengarkan reseptor
harus cakap memusatkan perhatian, mengambil inti sari dari suatu
pembicaraan,

dan

harus

dapat

membedakan

mana

pokok

permasalahan dan mana yang hanya merupakan penjelasanpenjelasannya saja, harus bersifat kritis, dan sebagainya. Dalam
membaca ia harus dapat menangkap banyak kata-kata secara
sekaligus dan menafsirkannya secara tepat.

b. Sikap Reseptor
Hasil komunikasi dipengaruhi pula oleh sikap reseptor
(penerima). Kadang-kadang reseptor selalu menaruh curiga terhadap
pembicara (prejudice), atau kadang-kadang bersikap apriori artinya
telah menentukan kesimpulan sebelum ada data-data yang lengkap.
Sebagai contoh seorang reseptor (pendengar suatu penceramah)
telah menganggap rendah kepada seseorang penceramah atau
terlalu

memandang

tinggi

pembicara. Sikap yang

kepada

demikian

seorang

penceramah

atau

menyebabkan hasil komunikasi

kurang murni. Adapun sebab-sebabnya timbul sikap yang demikian


itu banyak sekali. Sebagai contoh seorang reseptor (pendengar)
adalah lulusan SekolahTinggi (Sarjana) dan

penceramah ternyata

hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), maka sarjana tadi


cenderung merendahkan si penceramah yang hanya lulusan Sekolah
Menengah Atas tersebut. Sikap sarjana tadi salah, sebab belum tentu
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 18
dalam Penyuluhan Perikanan

penceramah hanya lulusan SMA, ternyata sudah banyak mengikuti


kursus-kursus. Sehingga mengenai bahan yang diceramahkan betulbetul telah ia kuasai. Contoh lain ada seorang pendengar ceramah
(reseptor), mengikuti suatu kursus, ternyata salah seorang fasilitator
dalam

kursus

tersebut

adalah

rivalnya

(saingan)

dalam

memperebutkan seorang gadis dan dalam perebutan tersebut,


pengikut kursus telah kalah akibatnya ia sangat benci kepada
fasilitator tersebut, sehingga bersikap acuh tak acuh terhadap
penceramah tersebut. Sikap yang demikian adalah kurang objektif
dan kurang rasional sehingga pikirannya menjadi tertutup alias
buntu. Oleh karena itu sebagai reseptor (pendengar/pembaca)
seseorang bila ingin berhasil dalam komunikasi harus bersikap wajar,
apa adanya.

dan siapapun yang menjadi penceramah/pembicara

harus diterima sebagai apa adanya tanpa sikap curiga atau apriori.

c. Pengetahuan reseptor (pendengar/pembaca)


Hasil

komunikasi

di

pengaruhi

pula

oleh

kekayaan

pengetahuan si reseptor, dengan pengetahuan yang banyak seorang


pendengar dapat dengan cepat menangkap isi dari suatu pesan atau
suatu

bacaan

dan

mudah

menafsirkan

maksud

dari

pembicara/penulis tersebut. Sebaliknya pendengar/pembaca yang


pengetahuannya sangat terbatas akan sulit menangkap pembicaraan
atau bacaan. Contoh yang jelas adalah ketika kita mendengarkan
suatu

ceramah Bahasa Inggris atau mambaca bacaan Bahasa

Inggris, karena pengetahuan dalam Bahasa Inggris tersebut terbatas,


maka sulit mencernanya.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 19


dalam Penyuluhan Perikanan

d. Komunikasi dipengaruhi pula oleh sistem sosial


Artinya si pendengar/pembaca harus memahami kedudukan
pembicara. Sebagai contoh bila kita menghadiri suatu ceramah
tertentu dan si penceramah kebetulan seorang yang berasal dai luar
negeri dan tindak tanduknya seenaknya sendiri, maka kita tidak boleh
bersikap negatif atau acuh tak acuh. Sebab tiap penceramah memiliki
kebiasaan-kebiasaan tersendiri. Demikian pula bila kita ada di suatu
kantor tertentu atau masyarakat tertentu kita sebagai reseptor
(pendengar) harus dapat menyesuaikan diri, artinya memahami tata
tertib dan tata pergaulan masyarakat tersebut. Dengan cara itu maka
kita dapat menjadi pendengar yang baik, dan jika tidak

dapat

menyesuaikan terhadap kebiasaan-kebiasaan atau tradisi-tradisi


pembicara/penulis, maka komunikasi menjadi terhambat, oleh karena
itu sebagai pendengar atau pembaca harus dapat menyesuikan diri
terhadap sistem sosial dari pihak pembaca/penulis.

e. Saluran Komunikasi
Komunikasi

dipengaruhi

pula

oleh

saluran

komunikasi,

(pendengaran/penglihatan) dari pihak reseptor. Bila pendengaran,


penglihatan, atau indera lainnya kurang sempurna maka komunikasi
juga tidak akan sempurna, karena dengan kurang sempurnanya alatalat penyalur tersebut (indera) maka tangkapan dapat kurang jelas.
Oleh karena itu agar komunikasi dapat lancar dan berhasil, maka
indera kita harus baik.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 20


dalam Penyuluhan Perikanan

C. Karakteristik Saluran Komunikasi


KARAKTERISTIK SALURAN KOMUNIKASI
Saluran komunikasi personal
LEBIH PERSUASIF dibanding
saluran komunikasi media
massa sebab:

Pesan dapat secara langsung


disampaikan kepada khalayak
yang dituju, bersifat pribadi.

Penyampaan dapat lebih rinci


dan fleksibel, sesuai dengan
kondisi nyata khalayak.

Keterlibatan khalayak dalam


komunikasi cukup tinggi.

Komunikator langsung
mengetahui reaksi, umpan balik
dan tanggapan khalayak.

Saluran komunikasi nonpersonal


(media massa)
Kelebihan : daya jangkaunya luas,
kemampuan penyampaian
pesan cepat.
Contoh: surat kabar, majalah, TV,
radio film, leaflet dl.

Komunikator
segera
Kelemahan
: Dayadapat
jangkau
dan

penyampaian
pesan
memberikan
penjelasan
yang
terbatas.
diperlukan.

Perbedaan Karakteristik antara Saluran Komunikasi Personal dan Saluran


Komunikasi Nonpersonal/Media Massa:
Karakteristik

Arus pesan
Bentuk komunikasi
Tkt. feed back
Selektivitas exposure
(pengungkapan)
Kec, menjangkau
khalayak
Akibat/efek
Cakupan
Keterlibatan peserta
komunikasi

Sal.Kom.Personal

Media Massa

- dua arah
- langsung
- tinggi
- tinggi

- satu arah
- mel. Media
- rendah
- rendah

- lambat

- cepat

-PKS
- terbatas
- tinggi

- pengetahuan
- luas
- rendah

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 21


dalam Penyuluhan Perikanan

D. Karakteristik Media
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media:
1. Kebutuhan luasnya jangkauan dan kecepatan (TV, radio).
2. Kebutuhan pemilihan memori/pesan yang disampaikan tetap diinga
(billboard, majalah).
3. Jangkauan khalayak yang selektif (surat kabar,majalah).
4. Jangkauan khalayak lokal (radio lokal, bioskop).
5. Frekwensi penyampaian tinggi (radio).
Karakteristik Kreatif
1. Kebutuhan gerak (TV, film, iklan).
2. Kebutuhan warna (TV, film, majalah).
3. Kebutuhan suasana (radio, TV, fim).
4. Kebutuhan demonstrasi ( TV, film).
5. Kebutuhan deskripsi, bila pesan perlu uraian yang komprehensif,
sistematis, rinci (surat kabar, majalah, brosur leaflet).
Tingkat efektivitas penyerapan materi oleh panca indra
1. Pengecap 1%,
2. Peraba 1,5%,
3. Penciuman 3%,
4. Pendengaran 11%,
5. Penglihatan 83%

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 22


dalam Penyuluhan Perikanan

PERBANDINGAN DAYA SERAP PENGETAHUAN DARI BERBAGAI


SITUASI BELAJAR
100%

85%
65%

75%

72%

70%

50%

20%

25%
0%

P ENDENGAR AN DAN
P ENGLIHATAN

HANYA P ENGLIHATAN

TIGA JAM KEMUDIAN

10%
HANYA P ENDENGAR AN

TIGA HARI KEMUDIAN

Gambar 2. Perbandingan daya serap pengetahuan dari


berbagai situasi belajar

E. Tahapan komunikasi
Tahapan dalam komunikasi adalah berupa:
1. Pola komunikasi antar pribadi secara umum dimulai dari tahap superfisial
(dasar) sampai tahap akrab (intim)
2. Perubahan dari tahap umum kepada tahap intim membutuhkan waktu
yang relatif tidak sama kepada setiap orang
3. Tahap interaksi bidang kepribadian umum (public area) : individu
berusaha menghindari konflik, sedikit evaluasi diri, hubungan disesuaikan
dengan norma sosial pada situasi tersebut
4. Tahap pertukaran eksplorasi (exploratory exchange): pola komunikasi
mencakup pengembangan kepribadian umum (publik) dan mulai
membuka aspek kepribadian khusus, mulai akrab, rileks dan mengarah
pada saling kenal.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 23


dalam Penyuluhan Perikanan

5. Tahap pertukaran interaksi sosial efektif (effective interaction) : pola


komunikasi mengarah kepada persahabatan akrab, hubungan mengarah
romantis,

bebas,

banyak

menggunakan

keengganan untuk membuka keintiman.

kesadaran

diri,

masih

Komunikasi terfokus pada

saling belajar dari satu sama lain.


6. Tahap hubungan stabil (stable exchange stage): pola komunikasi
mengarah kepada keterbukaan umum pribadi dalam semua tingkat baik
yang bersifat umum dan pribadi.

Komunikasi verbal dan non-verbal

dalam tahap ini berorientasi lingkungan dan mulai memiliki tahap emosi
yang efektif terhadap lawan bicara.

F. Fidelity dan Noise


Fidelity

suatu

komuniksi

adalah

tingkat

ketepatan/keberhasilan/efektivitas komunikasi antara komunikator dan


komunikan.
Dalam prakteknya penyampaian pesan tidak terlepas dari adanya
gangguan (noise).
Apabila noise tidak diatasi maka kemungkinan arti/makna pesan yang
dimaksud komunikan berbeda dengan yang dimaksud komunikator.
Jika noise rendah/tidak ada maka fidelity tinggi, sebaliknya noise tinggi
maka fidelity rendah.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 24


dalam Penyuluhan Perikanan

Noise dapat terjadi pada:


-

Komunikator

Pada tahap-tahap :

Pesan

- Perencanaan

Saluran

- Pengorganisaian/encode

Komunikator

- Pelaksanaan/pengiriman
- Menerima
- Decoding
- Membuahkan/hasil nyata
seluruh proses komunikasi

Gambar 3. Terjadinya noise

G. Kriteria keberhasilan komunikasi


1. Kepercayaan penerima pesan (komunikan) terhadap komunikator serta
keterampilan komunikator berkomunikasi (menyajikan isi komunikasi
sesuai tingkat nalar komunikan)
2. Daya tarik pesan dan kesesuaian pesan dengan kebutuhan komunikan.
3. Pengalaman yang sama tentang isi pesan antar komunikator dan
komunikan
4. Kemampuan komunikasi menafsirkan pesan, kesadaran, dan perhatian
komunikan akan kebutuhannya atas pesan yang diterima
5. Setting

komunikasi

yang

kondusif

(nyaman,

menyenangkan

dan

menantang)
6. Sistem penyampaian pesan berkaitan dengan metode dan media yang
sesuai dengan jenis indera penerima pesan).
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 25
dalam Penyuluhan Perikanan

BAB V
ADOPSI DAN DIFUSI
INOVASI DALAM
PENYULUHAN PERIKANAN

A. Adopsi Inovasi
1. Konsep Adopsi Bahlen
Dalam model proses adopsi Bahlen ada 5 tahap yang dilalui sebelum
seseorang mengadopsi suatu inovasi yaitu sadar (awreness),

minat

(interest), menilai (evaluation), mencoba (trial) dan adopsi ( adoption).


a. Tahap sadar: sasaran telah mengetahui informasi tetapi informasi
tersebut dirasa kurang.
b. Tahap minat: sasaran mencari informasi atau keterangan lebih lanjut
mengenai informasi tersebut.
c.

Tahap menilai: sasaran sudah menilai dengan cara value/bandingkan


inovasi terhadap keadaan dirinya pada saat itu dan dimasa yang
akan datang serta menentukan apakah petani sasaran mencoba
inovasi atau tidak.
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 26
dalam Penyuluhan Perikanan

d. Tahap mencoba: sasaran sudah mencoba meskipun dalam skala kecil


untuk menentukan angka dan kesesuaian inovasi atau tidak.
e. Tahap adopsi/menerapkan: sasaran sudah meyakini kebenaran
inovasi dan inovasi tersebut dirasa bermanfaat baginya. Pada tahap
ini petani sasaran menerapkan dalam jumlah/skala yang lebih besar.
TINGKAT ADOPSI DAN INDIKATOR TAHAP ADOPSI
Tingkat Adopsi

SADAR

Indikator Tahap Adopsi


MENDENGAR PENUH PERHATIAN
TERTARIK
MENGETAHUI

MINAT
MENILAI

MENCARI INFORMASI SECARA AKTIF


MENGERTI
MENYATAKAN KEINGINAN
MENYATAKAN PERSETUJUAN/MENOLAK
MENGHITUNG KEUNTUNGAN

MENCOBA
MENERAPKAN

MULAI MELAKSANAKAN
MENCOBA SKALA KECIL
SELALU MELAKSANAKAN
SELALU MENCARI PENYEMPURNAAN

Gambar 4. Tingkat Adopsi dan Indikator Tahap Adopsi

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 27


dalam Penyuluhan Perikanan

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT ADOPSI, PENDEKATAN DAN


METODE DAN MEDIA KOMUNIKASI
TINGKAT ADOPSI

PENDEKATAN

METODE DAN MEDIA

MASSAL

Rapat umum, siaran radio, tv,


pemutaran film, penyebaran
brosur, folder, leaflet

SADAR
MINAT

KELOMPOK

Pertemuan (diskusi)
kelompok, kursus, kampanye,
demonstrasi, slide

INDIVIDUAL

Kunjungan rumah, kunjungan


usahai, kunjungan kantor,
surat, telepon

MENILAI
MENCOBA
MENERAPKAN

Pendekatan massal -> tujuan penyuluhan hanyalah sekedar bersifat memberi informasi awal, tanpa
memperhatikan pihak-pihak strategis. Tujuannya hanyalah membangkitkan rasa ingin tahu seseorang
atau sekelompok orang mengenai sesuatu hal yang baru.

Pendekatan kelompok -> lebih cepat dan praktis dibanding pendekatan perseorangan.
Persoalannya hanyalah bagaimana menentukan kelompok strategis yang akan dijadikan sasaran
penyuluhan.

Pendekatan Perorangan -> untuk mencapai sasaran penyuluhan potensial dan strategis yang
diperkirakan akan mendorong atau bahkan menghambat berlangsungnya kegiatan penyuluhan.

Gambar 5. Hubungan antara Tingkat Adopsi, Pendekatan dan Metode dan


Media penyuluhan

PENELITI/
PENGKAJI/
PENYUSUN

INOVASI
PERIKANAN
DAN
KELAUTAN

ADOPSI
TEKNOLOGI

MEDIA
KOMUNIKASI

PENGGUNA
TEKNOLOGI

indikator

FEED BACK/ UMPAN BALIK


FUNGSI KOMUNIKASI : MENCIPTAKAN PERUBAHAN SIKAP /ADOPSI
TINGKAT ADOPSI
: SADAR
MINAT
MENILAI
MENCOBA
MENERAPKAN

BETTER :

FARMING
BUSINESS
EARNING
LIVING
COMMUNITY

Gambar 6. Fungsi komunikasi dalam adopsi teknologi

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 28


dalam Penyuluhan Perikanan

Konsep adopsi digunakan secara meluas oleh peneliti dan penyuluh.


Meskipun demikian model adopsi mempunyai beberapa kelemahan
antara lain :
a. Tidak semua proses tersebut di atas diakhiri dengan tahap adopsi,
adakalanya berupa penolakan terhadap adopsi.
b. Kelima tahap di atas terjadi tidak selalu berurutan.
c.

Suatu proses adopsi pada tahap akhir akan diikuti dengan konfirmasi
yaitu dengan cara mencari lebih lanjut untuk memperkokoh
keputusannya (terus mengadopsi) atau menerapkan inovasi lainnya
(menolak)

2. Konsep Adopsi Rogers dan Schoemaker


Rogers dan Schoemaker (1992) menjelaskan bahwa proses adopsi dapat
terjadi

melalui

(empat)

tahapan

yaitu

tahap

mengetahui

(knowledge), persuasif (persuasive), mengambil keputusan (decision)


dan konfirmasi (confirmation) yang selanjutnya diklasifikasikan menjadi
empat tahap yaitu :
a. Tahap mengetahui : petani sasaran sudah mengetahui adanya
inovasi dan mengerti bagaimana inovasi itu berfungsi.
b. Tahap Persuasi : petani sasaran sudah membentuk sikap terhadap
inovasi yaitu apakah inovasi tersebut dianggap sesuai ataukah tidak
sesuai bagi dirinya.
c.

Tahap Keputusan : petani sasaran sudah terlibat dalam pembuatan


keputusan yaitu apakah menerima atau menolak inovasi.

d. Tahap Konfirmasi:petani sasaran mencari penguat bagi keputusan


inovasi yang telah dibuatnya. Mungkin pada tahap ini petani sasaran
mengubah keputusan untuk menolak inovasi yang telah di adopsi
sebelumnya.
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 29
dalam Penyuluhan Perikanan

3. Konsep Proses Adopsi Kellogg.


Model Adopsi Kellogg menyebutkan bahwa pada proses adopsi
khususnya teknologi perikanan dapat dilakukan melalui beberapa
langkah agar pelaku utama bersedia menerima/mengadopsi teknologi
tersebut.

Model adopsi meliputi (4) empat tahap yaitu diagnosis,

perencanaan dan rekayasa teknologi adaptif, pengujian dan verifikasi di


tingkat usaha dan percobaan antar lokasi dan diseminasi. Model adopsi
Kellogg dapat digambarkan sebagaimana tertera pada Gambar 7.

Tahap 1

Pemilihan wilayah sasaran


dan diagnosis situasi petani

Tahap 2

Perencanaan dan rekayasa


teknologi adaptif

Tahap 3

Pengujian dan verifikasi di


tingkat usaha

Tahap 4

Percobaan antar lokasi dan


diseminasi teknologi

waktu
Gambar 7. Model adopsi yang digambarkan oleh Kellogg
a. Pada tahap pertama, penentuan wilayah sasaran dan mendiagnosis
situasi pelaku utama.

Pada umumnya wilayah sasaran diusahakan

mempunyai karkteristik agroklimate yang relatif homogen. Penyuluh


perikanan

dapat

mengidentifikasi

wilayah

sasaran

lebih

baik

dibandingkan peneliti.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 30


dalam Penyuluhan Perikanan

b. Tahap kedua, merencanakan dan merekayasa teknologi adaptif


dengan menggunakan informasi yang diperoleh pada tahap pertama.
Berdasarkan informasi ini, dapat dibuat perencanaan dan rekayasa
teknologi yang sesuai dengan kondisi lapangan.
c. Tahap ketiga, pengujian dan verifikasi di tingkat usaha.

Hasil

penelitian yang diperoleh dari eksperimen sebelumnya dapat diuji dan


diverifikasi di tingkat usaha. Sasaran akan bersedia mengadopsi
teknologi/Introduksi teknologi apabila teknologi tersebut memiliki
keunggulan dibanding dengan teknologi sebelumnya, juga hasilnya
dilihat sendiri oleh pelaku utama sebagai sasaran.
d. Tahap keempat, selama proses pengujian dan verifikasi di tingkat
usaha pasti terjadi percobaan di lahan usaha yang dilakukan pelaku
utama perikanan. Hal ini mengindikasikan bahwa pilihan teknologi
sudah dilakukan pelaku utama dan diharapkan terjadi perbaikan
teknik budidaya yang signifikan. Hubungan antara tahap dalam
proses komunikasi dengan proses adopsi serta metode penyuluhan
tertera pada Tabel 1.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 31


dalam Penyuluhan Perikanan

Tabel 1. Hubungan antara metode penyuluhan, tahap komunikasi dan


tahap adopsi

Metode
Penyuluhan
Metode Perorangan

Metode Kelompok

Tahap-tahap
Komunikasi

Tahap-tahap
Adopsi

Menggerakkan Usaha

Adopsi

Meyakinkan

Percobaan

Membangkitkan
Keinginan

Penilaian

Menggugah Hati

Minat

Menaruh Perhatian

Kesadaran

Metode Massal

Dengan mempelajari model adopsi sebagaimana dijelaskan pada Tabel 1


dan membandingkan satu dengan lainnya, diketahui bahwa model
adopsi Bahlen memilki kelemahan dalam proses adopsi yaitu tidak selalu
diakhiri dengan tahap adopsi. Adakalanya petani menolak inovasi yang
yang diintroduksikan.
Model adopsi Rogers dan Schoemaker digunakan untuk mengatasi
keterbatasan model adopsi Bohlen tersebut. Rogers dan Schoemaker
(1983) mengatakan bahwa tingkat adopsi dipengaruhi oleh lima (5)
faktor yaitu :
a. Tipe keputusan adopsi inovasi
b. Atribut yang terkandung dalam inovasi

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 32


dalam Penyuluhan Perikanan

c. Karakteristik system sosial pelaku utama dan/pelaku usaha sebagai


sasaran
d. Karakteristik saluran komunikasi yang digunakan
e. Usaha yang dilakukan penyuluh untuk meyakinkan pelaku utama
dan/pelaku usaha sebagai sasaran.

B. Difusi Inovasi
Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan penyuluhan perikanan adalah
terciptanya masyarakat (sasaran penyuluhan) yang berdaya. Pemberdayaan
masyarakat merupakan suatu proses perbaikan yang ditujukan untuk
memberikan kemampuan kepada masyarakat agar tahu, mau, dan mampu
melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan keluarganya.
Perubahan sosial yang direncanakan pada proses penyuluhan sangat
rumit yang pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap yaitu :
invensi, difusi, dan konsekuensi-konsekuensi invensi merupakan kegiatan
penciptaan atau pengembangan inovasi baru.
Nilai dan kekayaan Tradisional
Kelengkapan SDA, tingkat Teknologi
rendah , Tingkat Pendidikan rendah

Factor Penghambat

Perilaku Sasaran

Faktor Pendorong Perubahan


Harapan Perbaikan ekonomi, ketersediaan Teknologi
Modern Harapan Perbaikan Sosial Penyuluhan
Pertanian Perluasan Kesempatan Usaha

Gambar 8. Model difusi inovasi Leagans (1971)


Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 33
dalam Penyuluhan Perikanan

Difusi merupakan proses penyebaran inovasi dari seorang yang telah


mengadopsi inovasi kepada orang lain dalam masyarakat. Konsekuensi
merupakan perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat
adanya adopsi atau penolakan terhadap suatu inovasi.
Penyuluhan perikanan menitikberatkan perubahan sosial jangka
pendek yaitu waktu yang dibutuhkan untuk melakukan difusi inovasi dan
mengarahkan perubahan dalam masyarakat. Wayne Romable (1984)
menyatakan bahwa difusi inovasi dapat dipandang sebagai proses
komunikasi khusus. Pada difusi inovasi, sumber pesan dapat berupa
penemu, penyuluh perikanan dan stakeholder. Perubahan secara praktis
yang diharapkan adalah pengetahuan, sikap dan prilaku, faktor yang
mendorong dan menghambat perubahan.
Model difusi inovasi menggambarkan proses penyebaran inovasi dari
suatu sumber inovasi kepada anggota suatu sistem sosial. Dengan patokan
bahwa sumber inovasi asalnya dari lembaga penelitian maka terdapat tiga
model difusi inovasi yaitu Model Top Down, Model Feed Back dan Model
Farmer Back Farmer.

1. Model Difusi Top Down


Model Difusi Top Down dikembangkan berdasarkan penelitian di India,
ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan sekolah, laboratorium
dan stasiun percobaan. A.H. Bunting (1979) mengatakan bahwa model
top down difusion sebagai model penyuluhan pertanian konvensional.
Pada model ini peneliti melakukan penelitian di laboratorium maupun
stasiun penelitian dan menghasilkan rekomendasi yang disebarluaskan
pada seluruh petani. Model difusi top down dapat dilihat pada Gambar
9.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 34


dalam Penyuluhan Perikanan

Peneliti

Penyuluh

Sasaran

Gambar 9. Proses difusi inovasi model difusi top down

2. Model Feed-Back
Model ini dikembangkan oleh Benor dan Horison . Model ini dikenal
sebagai trainning and visit system atau di Indonesia di sebut sistem
latihan dan kunjungan (sistem laku).

Model ini selanjutnya dibukukan

dengan judul Agricultural Eftension The Training and Visit System.


Model feed back dianggap sebagai perbaikan model Top Drown yaitu
dengan mempertimbangkan mekanisme umpan balik diantara peneliti
dan penyuluh. Model feed-back menjadi popular dan berkembangnya
Farming System Research yang mengaitkan penelitian ditingkat usaha
kedalam metode penelitian.

Secara sederhana, gambaran model

feedback seperti tertera pada Gambar 10.

Peneliti

Penyuluh

Sasaran

Gambar 10. Proses difusi inovasi model feed-back

3. Model Farmer Back To Farmer


Model difusi farmer back to farmer dikemukakan oleh Rhoades dan
Booth (1982). Model ini mengasumsikan bahwa penelitian harus dimulai
dan diakhiri di tingkat sasaran.

Hal ini berarti bahwa pelaku utama

(sasaran) harus dilibatkan secara aktif sebagai anggota tim pemecahan


Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 35
dalam Penyuluhan Perikanan

masalah di lapangan. Pelaku utama/pelaku usaha dengan pengalaman


jangka panjangnya mengetahui kondisi usahanya, kondisi sosial,
ekonomi, teknis, keadaan pasar dan lain sebagainya.
Model difusi farmer back to farmer mengandung beberapa siklus
kegiatan dan masing-masing kegiatan ini berusaha mencapai tujuan
tertentu. Model difusi farmer back to farmer secara sederhana tertera
pada Gambar 11.

Evaluasi dan
Adaptasi
Sasaran
(4)

Defenisi
Masalah
Umum

Solusi terbaik
berdasarkan
visi usaha

Adaptasi atau
penyajian tingkat
usahatani atau
sasaran penelitian
(3)

Diagnosisi
Ilmuan dan
Sasaran
(1)

Pengetahuan
Sasaran dan
Masalah yang
dihadapi

Sosial
Potensial

Mencari solusi
dgn melakukan
penelitian
Interdisiplin
(2)

Gambar 11. Proses difusi inovasi model farmer back to farmer

Model difusi farmer back to farmer ini dapat diawali dengan eksperimen
sederhana dan diakhiri survey di tingkat pelaku utama.

Kunci

perbedaannya dengan model difusi yang lain adalah fleksibilitas dan


penelitian di tingkat pelaku utama untuk mengindentifikasikan sumber daya
yang dimilikinya.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 36


dalam Penyuluhan Perikanan

C. Penggolongan Adopter
Berdasarkan kecepatan adopsi terhadap suatu inovasi maka dikenal
5 (lima) golongan adopter yaitu:
1. Inovator (golongan perintis dan pelapor)
Golongan perintis ini jumlahnya tidak banyak dalam masyarakat.
Karakteristik golongan ini antara lain: gemar, mencoba, inovasi dan ratarata pada masyarakatnya pada umumnya berpartisipasi aktif dalam
penyebarluasan inovasi.
2. Early Adopter (golongan penyetrap dini)
Golongan ini mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, gemar
membaca buku, suka mendengar radio, memiliki faktor produksi non
lahan yang relative komplit.
3. Early Mayority (golongan Penyetrap awal)
Golongan ini pada umumnya mempunyai tingkat pendidikan rata-rata
seperti anggota masyarakat lainnya, dapat menerima inovasi selama
inovasi tersebut memberikan keuntungan kepadanya.
4. Late Mayority (golongan Penyetrap akhir)
Golongan ini pada umumnya berusia lanjut dan memilki tingkat
pendidikan rendah, status sosial ekonominya sangat rendah dan lambat
menerapkan inovasi.
5. Laggard (Golongan Penolak)
Golongan penolak ini pada umumnya usia lanjut, jumlahnya sangat
sedikit dan tingkat pendidikannya sangat rendah bahkan buta huruf,
status sosial eknominya sangat rendah, tidak suka terhadap perubahanperubahan.
Tabel 2. Karakteristik sosial ekonomi pada berbagai
kategori adopter
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 37
dalam Penyuluhan Perikanan

Variabel

Umur

Inovator

Setengah

Early

Early

Late

Adaptor

Mayority

Mayority

Muda

Setangah

Muda

Umur tua

sampai

Umur

Laggard

Tua

tua
Pendidikan

Tinggi

Tinggi

Sedang

Rendah

Rendah
Sekali

Sedang
Ekonomi

Baik

Baik

Status
Sosial

Pola
Hubungan

sampai
baik

Kurang
Kurang

Sedang
Tinggi

Sedang

sampai

Kosmopolit

Kosmopolit

Cendrung

baik

sekali

Paling
rendah

rendah

Lokalita

Sangat

Lokalita

lokalita

Dengan melihat uraian di atas maka perbandingan karakteristik sosial


ekonomi dari kategori adopter ditinjau dari aspek kecepatan manerapkan
inovasi secara sederhana sebagaimana tertera pada Tabel 2.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 38


dalam Penyuluhan Perikanan

BAB VI
TEKNIK BERBICARA
DI DEPAN UMUM

Kesuksesan seorang pembicara di depan umum pada dasarnya dimulai


sejak ia mempersiapkan isi pembicaraan, cara tampil, cara berbicara, cara
membuka pembicaraan, cara menguraikan pembicaraan, cara menggairahkan
pendengar dan cara menutup pembicaraan (Hidajat, 2006).
Menurut beberapa pakar public speaking, antara lain Dale Caenegie, H.N.
Casson, Stuart Turner, David Zarefsky, Hamilton Gregory, Larry King, seorang
pembicara di depan umum perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.

Pendekatan dan permulaan


Apabila anda dipersilahkan untuk berbicara, tinggalkan tempat duduk
tanpa melihatnya lagi atau berkomat-kamit, berjalan dengan percaya diri
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 39
dalam Penyuluhan Perikanan

ke mimbar atau ke depan pertemuan. Pergunakan waktu berdiri sejenak


dengan sangat tenang (suasana hening ini adalah merupakan waktu yang
baik untuk meletakkan catatan anda dan mendapatkan kalimat pertama
yang menyakinkan untuk diucapkan), dan kemudian lihatlah langsung ke
audiens begitu mulai berbicara.
2.

Mengatasi kegugupan dan demam panggung


Bangunlah sikap positif mengenai diri anda sendiri, topic pembicaraan dan
audiens. Jadi, anda harus percaya diri (self-confedence). berdirilah dengan
tegak dan rasa enak, tenang dan selalu perhatian kepada audiens.
Kegugupan adalah hal yang normal terhadap sebagian besar pembicara.
Ketimbang mencoba membuang rasa gugup, jadikanlah kegugupan itu
sebagai sumber energy yang dapat mendorong anda memiliki vitalitas dan
antusiasme sebagai pembicara.

3.

Membuat ketertarikan pendengar


Setiap pembicara pemula biasanya menganggap para pendengar sebagai
sesuatu masalah yang sangat mencemaskan. Dia merasa akan mendapat
kritik dan tantangan dari mereka, sehingga merasa bingung dan tertekan.
Pendengar selalu tertarik akan hal-hal baru dan akan mendengar setiap
pembicara, sekalipun yang menjemukan dan melelahkan dengan sabar
selama berjam-jam. Setiap orang menyukai pembicaraan yang menarik.

4.

Menjaga ketepatan berbicara, kejernihan dan volume suara


Ucapkan kata-kata anda dengan jelas dan bicara dengan suara yang
cukup kuat agar semua pendengar dapat mendengar suara anda dengan
jelas. Bicara secara tepat-tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat dapat
memudahkan pendengar untuk menerima ide anda. Suara anda harus
terdengar mengasyikkan (expressivaness) seperti halnya jika anda
berbicara kepada sahabat karib anda.

5.

Mempercayai kemampuan anda


Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 40
dalam Penyuluhan Perikanan

Anda harus menghilangkan semua keraguan mengenai kemampuan yang


anda miliki untuk maju. Berbicara didepan umum bukanlah suatu hal yang
luar biasa, hal ini dapat dipelajari dan harus dipelajari.
6.

Memperbanyak perbendaharaan kata-kata


Penguasaan perbendaharaan kata yang banyak dan pemilihan kata yang
tepat akan mampu meningkatkan kelancaran dan ketepatan berbicara.
Disamping itu, kemampuan berpikir juga akan mudah berkembang
dengan ilustrasi-ilustrasi yang menyegarkan.

7.

Memberi tekanan dalam pembicaraan dan bersemangat (Enthusiasm)


Semua gerakan mata, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan suara harus
anda tunjukkan dengan penuh semangat kepada pendengar. Anda harus
selalu tampakpenuh perhatian dalam mengkomunikasikan ide-ide anda.

8.

Menepati waktu
Rentetan kata yang meluncur bertubi-tubi atau bertele-tele tanpa
mengingat terbatasnya waktu bukanlah suatu pembicaraan dalam arti
proporsional. Berbicaralah singkat, tetapi padat dan tepat. Berhentilah
berbicara sebelum pendengar mengharapkan anda untuk segera berhenti
berbicara atau turun dari panggung.

9.

Memiliki kelancaran berbicara dan rasa humor


Seorang pembicara harus mempunyai kelancaran berbicara sebagai dasar
untuk mengembangkan kemampuannya berbicara di depan umum. Untuk
berbicara dengan lancer, anda harus berbicara dengan santai, rileks dan
tidak kaku.

10. Berbicaralah dengan menyenangkan


Apabila tenggorokan terasa kering, minumlah sebelum anda dipersilahkan
untuk

berbicara.

Tetapi,

usahakan

jangan

minum

selama

dalam

pembicaraan tersebut. Hal ini akan menghentikan kesinambungan proses


berpikir dan sangat mengganggu efektivitas anda.
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 41
dalam Penyuluhan Perikanan

11. Berbicaralah dengan wajar


Jangan bersikap berlebihan, sombong atau menganggap diri anda paling
penting dan paling mengetahui permasalahan. Di masa kini, yang penuh
dengan kompleksitas, pendengar menginginkan agar seseorang berbicara
dengan jelas, sederhana dan nyata. Mereka tidak menyukai kata-kata
yang tidak jelas artinya.
12. Menggerakkan tubuh secara alami
Apabila hal ini sesuai, gunakan gerakan isyarat mengikuti kata-kata anda.
Biarkan gerakan ini secara alami dan anggun (gracefully), sehingga dapat
membantu member tekanan pada pengertian apa yang anda ucapkan,
tanpa mengalihkan pesan anda. Anda boleh bergerak selama pembicaraan
anda, sepanjang gerakan itu berguna dan menyakinkan, tidak karena
gugup atau secara sembarangan.
13. Memakai pakaian yang serasi
Sesuaikan pakaian dengan kondisi acara dan karakteristik pendengar.
14. Menggunakan catatan kecil
Liriklah

catatan-catatan kecil (speaking notes) seperlunya untuk

memindahkan pembicaraan pada bagian berikutnya.


15. Penutupan dan pengakhiran
Simpulkan pembicaraan anda, berhentilah untuk sekejap, pergunakan
transisi yang tepat, misalnya sekarang saya sampai pada kesimpulan
.. dan kemudian bertanya Apakah diantara anda ada yang (masih
mau) bertanya? sampai ucapan anda yang terakhir terdengar terima
kasih. Kemudian meninggalkan mimbar dengan senyuman manis. Jangan
anda tampak ingin bergegas meninggalkan podium atau beringsut dari
kursi dengan mengemas catatan-catatan kecil, sampai acara untuk anda
dianggap selesai.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 42


dalam Penyuluhan Perikanan

BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
1. Tujuan

komunikasi,

antara

entertainment/menghibur,

lain

berupa:

mengubah

informative,

sikap/perilaku,

persuasive,
mengubah

opini/pendapat/pandangan, dan mengubah masyarakat.


2. Secara umum, unsur-unsur komunikasi terdiri dari: komunikator, pesan,
saluran / media, sasaran / penerima / komunikan dan dampak / efek /
feedback.
3. Proses komunikasi dalam penyuluhan perikanan mempunyai tahapan,
antara lain: (a) pola komunikasi antar pribadi secara umum dimulai dari
tahap superfisial (dasar) sampai tahap akrab (intim); (b) perubahan dari
tahap umum kepada tahap intim membutuhkan waktu yang relatif tidak
sama kepada setiap orang; (c) tahap interaksi bidang kepribadian umum
(public area); (d) tahap pertukaran eksplorasi (exploratory exchange);
(e) pola komunikasi mencakup pengembangan kepribadian umum
(publik) dan mulai membuka aspek kepribadian khusus, mulai akrab,
rileks dan mengarah pada saling kenal; (f) tahap pertukaran interaksi
sosial efektif (effective interaction); (g) tahap hubungan stabil (stable
exchange stage).
Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 43
dalam Penyuluhan Perikanan

4. Dalam model proses adopsi Bahlen ada 5 tahap yang dilalui sebelum
seseorang mengadopsi suatu inovasi yaitu sadar (awreness),

minat

(interest), menilai (evaluation), mencoba (trial) dan adopsi ( adoption).


5. Menurut beberapa pakar, seorang pembicara di depan umum perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut: pendekatan dan permulaan,
mengatasi kegugupan dan demam panggung, membuat ketertarikan
pendengar, menjaga ketepatan berbicara, kejernihan dan volume suara,
mempercayai kemampuan sendiri, memperbanyak perbendaharaan katakata,

memberi

tekanan

dalam

pembicaraan

dan

bersemangat

(Enthusiasm), menepati waktu, memiliki kelancaran berbicara dan rasa


humor, berbicaralah dengan menyenangkan, berbicaralah dengan wajar,
menggerakkan tubuh secara alami, memakai pakaian yang serasi,
menggunakan catatan kecil dan penutupan dan pengakhiran

B. SARAN
Pergunakan media dan bahasa yang mudah dipahami oleh pelaku
utama perikanan sebagai sasaran penyuluhan.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 44


dalam Penyuluhan Perikanan

DAFTAR PUSTAKA

__________, 2006. Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2006.
Berlo, David K., 1980. The Process of Communication. An Introduction of
Theory and Practice. Michigan State University. USA.
Djuarsa Sendjaja, Sasa, dkk. 1999, Pengantar Komunikasi. Universitas Terbuka,
Jakarta.
Hidajat M.S., 2006. Public Speaking & Teknik Presentasi. Penerbit Graha Ilmu,
Yogyakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi#cite_ref-Ilmu_Komunikasi_0-0
Komala, Lukiati. 2009. Ilmu Komunikasi: Perspektif, Proses, dan Konteks.
Bandung: Widya Padjadjaran
Larry Gonick, Kartun (non) Komunikasi, guna dan salah guna informasi dalam
dunia modern. Kepustakaan Populer Gramedia, Juli 2007.
(diterjemahkan dari Guide to (non) Communication HarperClollins
Publisher, Inc copyright 1993. ISBN 978-979-9100-75-7
Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Mulyana, Deddy Prof. Imu
Rosdakarya. 2007

Komunikasi

Suatu

Pengantar.

PT Remaja

Marpaung dan Renaldi, 2001. Teknik Komunikasi dan Presentasi yang Efektif.
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Jakarta.
Rohim,Syaiful.2009. Teori Komunikasi: Perspektif,Ragam, & Aplikasi. Jakarta:
Rineka Cipta
Tim Pusbangluh, 2008. Modul Dasar-dasar Komunikasi. Pusat Pengembangan
Penyuluhan BPSDMKP, Jakarta.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 45


dalam Penyuluhan Perikanan

Tim Pusbangluh, 2009. Modul Komunikasi yang Efektif. Program Nasional


Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM
Mandiri-KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
West, Richard & Lynn H. Turner. 2007. Introducing Communication Theory.
Third Edition. Singapore: The McGrow Hill companies.
Wiryanto,Dr. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jilid I. Jakarta: PT Gramedia
Widiasarana Indonesia.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 46


dalam Penyuluhan Perikanan

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Fahrur Razi, SST dilahirkan di Pematang Panjang
(Banjarmasin) 26 Januari 1982, lulus dari Sekolah
Pertanian Pembangunan Banjarbaru pada Jurusan
Budidaya

Ikan

Air

Tawar

tahun

1999

dan

menamatkan pendidikan D4 Penyuluhan Perikanan di


STPP Bogor tahun 2004, serta telah mengikuti
berbagai pelatihan antara lain: Pengelolaan budidaya
ikan air tawar (Banjarnegara, 2003); HACCP (Bogor, 2004); Pembekalan
Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (Jakarta, 2004); Budidaya udang vaname
di tambak (Bali, 2005); Intensifikasi Budidaya Udang di Tambak (Jepara, 2005);
Diseminasi Budidaya Kerapu dan Perikanan di Laut (Gondol, 2006); Konsultan
Keuangan Mitra Bank (Denpasar, 2007); Pelatihan Dasar bagi Penyuluh
Perikanan Tingkat Ahli (Banjarbaru, 2008). Memulai karier sebagai Penyuluh
Perikanan Tenaga Kontrak dengan penempatan pada Dinas Pertanian,
Kehutanan dan Kelautan Kabupaten Jembrana tahun 2004 s/d 2007, sejak
Januari 2008 mengemban amanah sebagai PNS dalam Jabatan Fungsional
Penyuluh

Perikanan pada Pusat Pengembangan

Penyuluhan

BPSDMKP,

Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 47


dalam Penyuluhan Perikanan

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 48


dalam Penyuluhan Perikanan

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena dengan berkat
dan rahmat-Nya penyusunan buku Efektifitas dan Efisiensi Proses Komunikasi
dalam Penyuluhan Perikanan dapat diselesaikan. Buku ini disusun dengan
tujuan untuk menambah wawasan para penyuluh perikanan dan pelaku utama
di bidang perikanan dalam melaksanakan pendampingan dalam upaya
meningkatkan efektifitas proses pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan
penyuluhan.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan, khususnya
para pelaku pendampingan dalam upaya meningkatkan efektifitas proses
pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penyuluhan.

Jakarta, April 2010


Fahrur Razi

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 49 i


dalam Penyuluhan Perikanan

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR..................................................................................

DAFTAR ISI ...........................................................................................

ii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................

iv

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................


A. Latar Belakang ....................................................................
B. Rumusan Masalah ...............................................................
C. Tujuan Penelitian/Pengkajian ...............................................
D. Kerangka Teori ....................................................................
E. Sumber Data .......................................................................
F. Metode dan Teknik Penelitian/Pengkajian...............................

1
1
3
3
4
5
6

BAB II PENGERTIAN DAN TUJUAN KOMUNIKASI DALAM


PENYULUHAN PERIKANAN............................................................
A. Sejarah Komunikasi ..............................................................
B. Tujuan komunikasi ...............................................................

7
7
9

BAB III UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI ......................................................


A. Komunikator ........................................................................
B. Pesan ..................................................................................
C. Saluran/media .....................................................................
D. Sasaran/penerima/komunikan...............................................
E. Dampak/efek/feedback .........................................................

10
11
11
11
11
11

BAB IV PROSES KOMUNIKASI DALAM PENYULUHAN PERIKANAN..............


A. Model/bentuk komunikasi .....................................................
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas dan efisiensi dari
komunikasi...........................................................................
C. Karakteristik Saluran Komunikasi...........................................
D. Karakteristik Media...............................................................
E. Tahapan komunikasi.............................................................
F. Fidelity dan Noise .................................................................
G. Kriteria keberhasilan komunikasi ...........................................

13
13

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 50 ii


dalam Penyuluhan Perikanan

15
21
22
23
24
25

BAB V ADOPSI DAN DIFUSI INOVASI DALAM PENYULUHAN PERIKANAN ...


A. Adopsi inovasi......................................................................
B. Difusi inovasi .......................................................................
C. Penggolongan adopter .........................................................

26
26
33
37

BAB VI TEKNIK BERBICARA DI DEPAN UMUM ..........................................

39

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ..............................................................


A. .Simpulan..............................................................................
B. .Saran...................................................................................

43
43
44

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

57

RIWAYAT HIDUP ....................................................................................

59

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 51 iii


dalam Penyuluhan Perikanan

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Unsur-unsur komunikasi.......................................................

10

Gambar 2. Perbandingan daya serap pengetahuan dari berbagai


situasi belajar ......................................................................

23

Gambar 3. Terjadinya noise ..................................................................

25

Gambar 4. Tingkat Adopsi dan Indikator Tahap Adopsi ...........................

27

Gambar 5. Hubungan antara Tingkat Adopsi, Pendekatan dan Metode


dan Media penyuluhan .........................................................

28

Gambar 6. Fungsi komunikasi dalam adopsi teknologi ............................

28

Gambar 7. Model adopsi yang digambarkan oleh Kellogg........................

30

Gambar 8. Model difusi inovasi Leagans (1971)......................................

33

Gambar 9. Proses difusi inovasi model difusi top down ...........................

35

Gambar 10. Proses difusi inovasi model feed-back...................................

35

Gambar 11. Proses difusi inovasi model farmer back to farmer.................

36

Efektivitas dan Efisiensi Proses Komunikasi 52iv


dalam Penyuluhan Perikanan