Anda di halaman 1dari 4

Senyawa heterosiklik atau heterolingkar adalah sejenis senyawa kimia yang

mempunyai struktur cincin yang mengandung atom selain karbon, seperti


belerang, oksigen, ataupun nitrogen yang merupakan bagian dari cincin
tersebut.[1] Senyawa-senyawa heterosiklik dapat berupa cincin aromatik
sederhana ataupun cincin non-aromatik. Beberapa contohnya adalah piridina
(C5H5N), pirimidina (C4H4N2) dan dioksana (C4H8O2).
Untuk mencapai keadaan stabil, atom-atom melakukan ikatan satu sama lain dengan cara serah-terima
elektron valensi membentuk ikatan ion. Senyawa yang dibentuk dinamakan senyawa ion. Ikatan ion terbentuk
akibat adanya serah-terima elektron di antara atom-atom yang berikatan sehingga konfigurasi elektron dari
atom-atom itu menyerupai konfigurasi elektron gas mulia.

Ikatan Kovalen Koordinasi


Adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang
berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom
yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama.
Pasangan elektron ikatan (PEI) yang menyatakan ikatan dativ digambarkan dengan tanda
anak panah kecil yang arahnya dari atom donor menuju akseptor pasangan elektron.
Contoh 1:Terbentuknya senyawa BF3-NH3

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan


1.) Interaksi solut dan solven
Pada kondisi tertentu, zat mempunyai kelarutan tertentu pula. Kemampuan
berinteraksi antara solut dan solven sangat tergantung pada sifat solut maupun
sifat solven, yang dipengaruhi efek kimia, elektrik maupun struktur. Kelarutan
suatu zat juga bergantung pada struktur molekulnya seperti perbandingan gugus
polar dan gugus non polar dari molekul. Semakin panjang rantai non polar dari
alkohol alifatis, semakin kecil kelarutannya dalam air. Kelarutan zat terlarut
dalam pelarut juga dipengaruhi oleh polaritas atau momen dipol pelarut. Pelarutpelarut polar dapat melarutkan senyawa-senyawa ionik serta senyawa-senyawa
polar lainnya.
Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai
kelarutan lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan
kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia.

Contohnya : kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air
tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh. Salting in adalah adanya zat terlarut
tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih
besar. Contohnya : Riboflavin tidak larut dalam air tetapi larut dalam larutan
yang mengandung Nicotinamida.
2.) pH
Zat organik yang bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat dipengaruhi
oleh pH pelarutnya. Kelarutan asam-asam organik lemah seperti barbiturat dan
sulfonamida dalam air akan bertambah dengan naiknya pH karena terbentuk
garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan basa-basa organik lemah seperti
alkoholida dan anastetika lokal pada umumnya sukar larut dalam air. Bila pH
larutan diturunkan dengan
penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam
air.
3.) Tekanan
Pada umumnya, tekanan mempunyai efek sangat kecil terhadap kelarutan zat
cair atau zat padat dalam pelarut zat cair. Namun apabila terjadi perubahan
tekanan dapat ditunjukkan dengan prinsip Le Chatelier karena ia tergantung
pada volume relatif larutan dan penyusun zat. Pada umumnya perubahan
volume larutan kecil dikarenakan tekanan, sehingga tekanan yang diperlukan
akan sangat besar untuk mengubah kelarutan zat.
4.) Suhu
Perubahan kelarutan suatu zat terlarut karena pengaruh suhu erat hubungannya
dengan panas kelarutan dari zat tersebut. Panas kelarutan didefinisikan sebagai
banyaknya panas yang dibebaskan atau diperlukan apabila satu mol zat terlarut
dilarutkan dalam suatu pelarut untuk menghasilkan suatu larutan jenuh.
Kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung kepada temperatur, titik
leleh zat padat dan panas peleburan molar zat tersebut. Kelarutan suatu zat
padat dalam air akan semakin tinggi bila suhunya dinaikan. Adanya panas (kalor)
mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut.
Merenggangnya jarak antar molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar
molekul tersebut menjadi lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik
molekul-molekul air. Berbeda dengan zat padat, adannya pengaruh kenaikan
suhu akan menyebabkan kelarutan gas dalam air berkurang. Hal ini disebabkan
karena gas yang terlarut di dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu
meningkat.
5.) Pengaruh bentuk dan ukuran partikel
Kelarutan suatu zat akan naik dengan berkurangnya ukuran partikel suatu zat,
Konfigurasi molekul dan bentuk susunan kristal juga berpengaruh terhadap
kelarutan zat. Partikel yang bentuknya tidak simetris lebih mudah larut bila
dibandingkan dengan partikel yang bentuknya
Cara Meningkatkan Kelarutan
Kelarutan suatu zat (solut) dapat ditingkatkan dengan berbagai cara, antara lain:
1.) Pembentukan Kompleks
Gaya antar molekuler yang terlibat dalam pembentukan kompleks adalah gaya
van der waals dari dispersi, dipolar dan tipe dipolar diinduksi. Ikatan hidrogen

memberikan gaya yang bermakna dalam beberapa kompleks molekuler dan


kovalen koordinat penting dalam beberapa kompleks logam. Salah satu faktor
yang penting dalam pembentukan kompleks molekuler adalah persyaratan
ruang. Jika pendekatan dan asosiasi yang dekat dari molekul donor dan molekul
akseptor dihalangi oleh faktor ruang, kompleks akan atau mungkin berbentuk
ikatan hidrogen dan pengaruh lain harus dipertimbangkan. Polietilen glikol,
polistirena, karboksimetil-selulosa dan polimer sejenis yang mengandung
oksigen nukleofilik dapat berbentuk kompleks dengan berbagai obat. Semakin
stabil kompleks organik molekuler yang terbentuk, makin besar reservoir obat
yang tersedia untuk pelepasan. Suatu kompleks yang stabil menghasilkan laju
pelepasan awal yang lambat dan membutuhkan waktu yang lama untuk
pelepasan sempurna.
Cara ini membuat pentingnya pembuatan kompleks molekuler. Dibawah
kompleks ini diartikan senyawa yang antara lain terbentuk melalui jembatan
hidrogen atau gaya dipol-dipol, juga melalui antar aksi hidrofob antar bahan obat
yang berlainan seperti juga bahan obat dan bahan pembantu yang dipilih.
Pembentukan kompleks sering dikaitkan dengan suatu perubahan sifat yang
lebih penting dari bahan obat, seperti ketetapan dan daya resorbsinya, sehingga
dalam setiap kasus diperlukan suatu pengujian yang cermat dan cocok.
Pembentukan kompleks sekarang banyak dijumpai penggunaannya untuk
perbaikan kelarutan, akan tetapi dalam kasus lain juga dapat menyebabkan
suatu perlambatan kelarutan.
2.) Penambahan Kosolven
Kosolven adalah pelarut yang ditambahkan dalam suatu sistem untuk membantu
melarutkan atau meningkatkan stabilitas dari suatu zat, cara ini disebut
kosolvensi.
Kelarutan juga sangat berpengaruh terhadap perjalanan obat di dalam tubuh.
Jika obat tidak dapat larut dalam air maka akan sangat sulit baginya untuk
terdissolusi dari sediaannya. Sedangkan jika tidak mampu melarut dalam lipid
maka akan terhambat proses absorbsinya. Dengan demikian obat seharusnya
memiliki kedua sifat baik lipofil maupun hidrofil.
Bioavailabilitas adalah tingkat sejauh mana suatu obat atau zat lain diserap dan
beredar dalam tubuh.
Disolusi adalah proses pelepasan senyawa obat dari sediaan dan melarut
dalam media pelarut, sedangkan laju disolusi adalah jumlah zat aktif yang dapat
larut dalam waktu tertentu pada kondsisi antar permukaan cair-padat, suhu dan
komposisi media yang dibakukan (1). Tetapan laju disolusi merupakan suatu
besaran yang menunjukkan jumlah bagian senyawa obat yang larut dalam
media per satuan waktu. Uji disolusi yang diterapkan pada sediaan obat
bertujuan untuk mengukur serta mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut
dalam media pelarut yang diketahui volumenya pada waktu dan suhu tertentu,
menggunakan alat tertentu yang didesain untuk uji parameter disolusi (1).

Dextrose adalah monosakarida dijadikan sebagai sumber energi bagi tubuh.


KETERANGAN

Komposisinya adalah glukosa anhidrous dalam air untuk injeksi. Larutan dijaga pada pH
antara 3,5 sampai 6,5 dengan natrium bikarbonat. Larutan dextrose 5% iso-osmosis dengan
darah. Larutan dextrose injeksi merupakan larutan jernih dan tidak berwarna.
SIFAT FISIKOKIMIA
Dextrose berisi satu molekul air hidrasi atau anhydrous. Kristal tidak berwarna atau putih,
serbuk kristal atau granul. Tidak berbau dan mempunyai rasa manis. Larut 1 dalam 1 bagian
air dan 1 dalam 100 bagian alkohol; sangat larut dalam air mendidih; larut dalam alkohol
mendidih.
SUB KELAS TERAPI
Parenteral