Anda di halaman 1dari 4

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi BUMDes yang


terkandung dalam UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa yang memberikan
kontribusi terhadap perekonomian di desa dan untuk mengetahui mekanisme
pembentukan dan pengelolaan BUMDes berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. Adapun Metode yang digunakan yaitu metode
pendekatan normatif. BUMDes merupakan institusi ekonomi di tingkat desa
yang dimiliki oleh pemerintah (masyarakat) desa. Dengan berdirinya BUMDes
yang terkandung di dalam UU No. 6 Tahun 2014 memberikan kontribusi
terhadap permasalahan ekonomi di desa dan mekanisme pembentukan dan
pengelolaannya harus berdasarkan kesepakatan bersama antara pemerintah
desa dengan masyarakat desa sesuai dengan peraturan yang berlaku. BUMDes
dapat dibentuk dan dapat memberikan kontribusi terhadap permasalahan
ekonomi yang ada di desa, perlu adanya kesepakatan dan kerja sama yang
baik antara pemerintah desa dengan masyarakat desa.

Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa BUMDes yang


merupakan badan usaha yang yang seluruh atau sebagian besar modalnya
dimiliki oleh Desa melalui penyertaan

secara

langsung

yang

berasal

dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan
usaha lainnya untuk sebesar- besarnya kesejahteraan masyarakat Desa dapat
meningkatkan pendapatan asli desa yang mana pendapatan itu digunakan
untuk kesejahteraan masyarakat desa, maka dari itu penggiatan pendirian
BUMDes perlu ditingkatkan.

Bab I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Badan Usaha Milik Desa yang selanjutnya disebut BUMDes menurut UndangUndang Nomor 6 tahun 2014 adalah adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian
besar modalnya dimiliki oleh Desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal
dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha
lainnya untuk sebesar- besarnya kesejahteraan masyarakat Desa 1. Pada akhirnya
BUMDes dibentuk dengan tujuan2 : (a). meningkatkan perekonomian Desa, (b).
mengoptimalkan aset Desa agar bermanfaat untuk kesejahteraan Desa, (c). meningkatkan
usaha masyarakat dalam pengelolaan potensi ekonomi Desa, (d). mengembangkan
rencana kerja sama usaha antar desa dan/atau dengan pihak ketiga, (e). menciptakan
peluang dan jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan umum warga, (f).
membuka lapangan kerja meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan
pelayanan umum, (g). pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Desa, dan (g).
meningkatkan pendapatan masyarakat Desa dan Pendapatan Asli Desa.Seperti
diungkapkan oleh Ngesti D. Prasetyo (2006), bahwa keberadaan BUMDes sangat
strategis yang pada akhirnya BUMDes berfungsi sebagai motor penggerak perekonomian
desa dan kesejahteraan masyarakat desa. Harapan dengan adanya BUMDes, adalah
pembentukan usaha baru yang berakar dari sumber daya yang ada serta optimalisasi
kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat desa yang telah ada. Di sisi lain akan terjadi
peningkatan kesempatan berusaha dalam rangka memperkuat otonomi desa dan
mengurangi pengangguran.
BUMDes merupakan lembaga usaha yang bergerak dalam bidang pengelolaan aset-aset
dan sumber daya ekonomi desa dalam kerangka pemberdayaan masyarakat desa. Pengaturan
BUMDes diatur di dalam pasal 87 ayat (1) UU No. 6 Tahun 2014, bahwa Desa dapat mendirikan
1 Lihat Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014
2 Lihat Pasal 3 Peraturan Menteri Nomor 4 tahun 2015 tentang Pendirian,
pengurusan, pengelolaan dan pembubaran badan usaha milik desa

Badan Usaha Milik Desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. Selain itu juga diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa, yang di dalamnya mengatur tentang
BUMDes, yaitu pada Pasal 132140. serta yang terakhir dalam Peraturan Menteri Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian,
Pengurusan Dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa. Sifat usaha BUMDes
adalah berorientasi pada keuntungan. Sifat pengelolaan usahanya adalah keterbukaan, kejujuran,
partisipasif dan berkeadilan. Dan fungsi BUMDes adalah: sebagai motor penggerak
perekonomian desa, sebagai lembaga usaha yang menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes),
serta sebagai sarana untuk mendorong percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Dengan kehadiran BUMDes ini diharapkan desa menjadi lebih mandiri dan
masyarakatnya pun menjadi lebih sejahtera. Tetapi mengingat BUMDes masih termasuk hal baru
dalam keberadaannya, maka tak pelak di dalam praktik, beberapa kendala muncul justru terkait
dalam proses pembentukannya. Pertama, belum ada dasar hukum yang memayungi tentang
keberadaan BUMDes di tingkat daerah 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, sebagaimana
diamanatkan dalam Bab VII bagian Kelima yang menyatakan Pemerintah Desa dapat mendirikan
Badan Usaha Milik Desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa dengan harapan dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat dan desa. Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan pendirian
BUMDes, maka berdasarkan pasal 78 PP 72 Tahun 2005 Tentang Desa, dijelaskan bahwa
Pemerintah Kabupaten/Kota perlu menetapkan Peraturan Daerah (PERDA) Tentang Tata Cara
Pembentukan dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Ketentuan mana meskipun agak terlambat juga diakomodir dalam peraturan teknis yang
dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri melalui pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 39 Tahun 2010. PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR
7

TAHUN

2012

TENTANG

PEDOMAN

TATA

CARA

PEMBENTUKAN

DAN

PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA juga sudah dibuat supaya terdapat legalitas
dalam pembentukan BUMDes di Kabupaten Semarang
Pemerintahan desa sebagai lembaga yang paling dekat dengan masyarakat memiliki
posisi strategis memberdayaan masyarakat. Kapasitas pemerintahan desa juga ditentukan oleh
kemampuan menghasilkan sumber-sumber pendapatan asli desa. Terkait dengan posisi yang
sangat strategis itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mendorong
pemerintahan desa meningkatkan pendapatan dengan memfasilitasi pembentukan Badan Usaha
Milik

Desa

(BUMDes).

Hal tersebut dikatakan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Propinsi Jawa Timur, Dr H Soekarwo SH
Mhum, saat membuka rapat kerja (Raker) Pengembangan Badan Usaha Milik Desa, di Hotel
Cendana Surabaya, Senin (28/6) malam.
Sekretaris daerah provinsi (sekdaprov) mengatakan, pembangunan ekonomi nasional
digambarkan sebagai lingkaran titik pusat pembangunan ekonomi desa/kelurahan. Sehingga
dapat dianalogikan, pembangunan ekonomi desa/kelurahan merupakan subsistem dari
pembangunan ekonomi kabupaten/kota dan merupakan subsistem dari pembangunan ekonomi
propinsi yang berlanjut pada penopang perkembangan ekonomi secara nasional.
Menurut dia, kurang lebih 80 persen penduduk berada di pedesaan, sehingga apabila
pembangunan ekonomi bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka pembangunan
ekonomi harus melibatkan langsung atau tidak langsung penduduk pedesaan. Hal ini karena
potensi sumber daya alam sebagian besar terdapat di daerah pedesaan berupa lahan pertanian,
sumber air, hutan dan pertambangan serta sumber daya manusia atau tenaga kerja. Ketahanan
perekonomian nasional juga berada di desa, sehingga daya tahan ekonomi masyarakat pedesaan
perlu mendapat perhatian khusus, baik dalam rangka meningkatkan perekonomian regional dan
nasional.
BUMDes memiliki alternatif bidang usaha yang sangat luas baik berupa kegiatan
perdagangan (commerce), industri (industry) maupun jasa (services). Perdagangan antara lain
perdagangan sarana produksi pertanian, perdagangan hasil bumi maupun lainnya. Industri antara
lain industri kecil dan kerajinan rakyat. Pelayanan jasa antara lain usaha simpan pinjam maupun
usaha sektor riil.
Usaha BUMDes dikembangkan sesuai dengan potensi ekonomi lokal yang benar-benar
prospektif dan sesuai dengan kemampuan yang ada. Dalam hal ini BUMDes dapat bergerak di
bidang agribisnis seperti pertanian, perkebunan, peternakan maupun bidang ekstraktif seperti
pertambangan, usaha galian maupun kegiatan perekonomian yang memberikan nilai tambah
sekaligus dibutuhkan oleh warga desa.
Bidang usaha yang banyak dikembangkan oleh 30 BUMDes Percontohan di Jawa Timur
antara lain meliputi: (i) Lembaga Keuangan Mikro Perdesaan/Usaha Simpan Pinjam, (ii)
Pengelolaan Air Bersih dalam bentuk HIPPA atau HIPAM, (iii) Pasar Desa, (iv) Agribisnis di
bidang pertanian, peternakan dan perikanan, (v) Usaha Kerajinan dan Perdagangan