Anda di halaman 1dari 117

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat, saling
berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan interest yang
sama (WHO). Komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu
lokasi yang sama dengan dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang
sama dimana mereka tinggal, kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama
(Riyadi, 2007). Dalam rangka mewujudkan kesehatan masyarakat yang optimal maka
dibutuhkan

perawatan

kesehatan

masyarakat,

dimana

perawatan

kesehatan

masyarakat itu sendiri adalah bidang keperawatan yang merupakan perpaduan antara
kesehatan masyarakat dan perawatan yang didukung peran serta masyarakat dan
mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa
mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh, melalui proses
keperawatan untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal sehingga
mandiri dalam upaya kesehatan.
Peningkatan peran serta masyarakat bertujuan meningkatkan dukungan
masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan serta mendorong kemandirian dalam
memecahkan masalah kesehatan. Oleh karena itu layanan kesehatan utama
merupakan salah satu pendekatan dan alat untuk mencapai kesehatan bagi semua
pada tahun 2010 sebagai tujuan pembangunan kesehatan dalam mencapai derajat
kesehatan yang optimal. Dalam Indonesia Sehat 2010, lingkungan yang diharapkan
adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang bebas
dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan
pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan serta
terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong dengan memelihara
nilai-nilai budaya bangsa. Selain lingkungan, perilaku masyarakat Indonesia Sehat
2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan
1

meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari


ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat
(Yuddi,2008).
Selanjutnya kemampuan masyarakat yang diharapkan pada masa depan adalah
yang mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu tanpa adanya
hambatan, baik yang bersifat ekonomi, maupun non ekonomi (Yuddi,2008).
Diharapkan dengan terwujudnya lingkungan dan perilaku sehat serta meningkatnya
kemampuan masyarakat tersebut diatas, derajat kesehatan perorangan, keluarga dan
masyarakat dapat ditingkatkan secara optimal (Yuddi,2008). Pelayanan esensial yang
diberikan oleh perawat terhadap individu, keluarga , kelompok dan masyarakat yang
mempunyai masalah kesehatan meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
dengan menggunakan proses keperawatan untuk mencapai tingkat kesehatan yang
optimal (Riyadi, 2007).
Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat terfokus pada peningkatan
kesehatan dalam kelompok masyarakat (Naomi, 2002). Untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dapat dimulai dari individu, kelompok sampai tingkat RT dan
RW. Di Wilayah Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan , terdiri dari 18 dusun
dengan jumlah kepala keluarga yang terkaji sebanyak 1712 KK lebih rinci hasilnya
adalah sebagai berikut jumlah penduduk 7203 jiwa (laki-laki 3655 jiwa dan
perempuan 3548 jiwa), kondisi lingkungan di Desa Percut merupakan daerah dataran
rendah, kelembaban udara yang tinggi dan perilaku pembuangan sampah yang kurang
tertib sehingga memungkinkan terjadinya penyakit yang berbasis pada lingkungan
seperti ISPA, diare, TB paru dan lainnya. Untuk melaksanakan tugas tersebut
dibutuhkan seorang perawat yang kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan
komunitas, untuk mendapatkan hasil yang optimal dibutuhkan pengalaman selain
pengetahuan. Salah satu cara memperoleh pengalaman adalah melalui praktik
keperawatan komunitas di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli
Serdang.
2

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Setelah melakukan praktik lapangan asuhan keperawatan komunitas
mahasiswa mampu menerapkan konsep keperawatan komunitas (masyarakat,
puskesmas, keluarga dan kelompok khusus ) guna meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk hidup sehat, sehingga tercapai derajat kesehatan yang
optimal bagi masyarakat di Desa Percut, Puskesmas Tanjung Rejo Kecamatan
1.2.2

Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.


Tujuan Khusus
Setelah melakukan praktik belajar lapangan keperawatan komunitas di Desa
Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang selama 2 minggu
mahasiswa dapat :
1. Melakukan pengkajian keperawatan komunitas di Desa Percut Kecamatan
Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
2. Merumuskan masalah yang ditemukan dari prioritas masalah Desa Percut
Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
3. Membuat intervensi dari masalah yang ditemukan dari hasil musyawarah
masyarakat desa di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten
Deli Serdang
4. Melakukan implementasi keperawatan bersama dengan masyarakat dari
intervensi yang telah ditetapkan di Desa Percut Kecamatan Percut Sei
Tuan Kabupaten Deli Serdang
5. Mengevaluasi dan merumuskan rencana tindak lanjut untuk mengatasi
masalah kesehatan yang ada di Desa Desa Percut Kecamatan Percut Sei

Tuan Kabupaten Deli Serdang.


1.3 Manfaat Laporan
Laporan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Masyarakat di Desa Percut
Memberikan gambaran demografi, jumlah populasi penduduk, kesehatan
lingkungan, pendidikan, keselamatan dan permasalahan kesehatan yang ada
serta pelayanan sosial yang ada / kegiatan sosial kemasyarakatan.
2. Puskesmas
Memberikan gambaran tentang status kesehatan dan kegiatan-kegiatan

kesehatan serta sosial kemasyarakatan yang ada di masyarakat di Desa Desa


Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
3. Mahasiswa / Penyusun
Menambah pengetahuan dan pengalaman secara langsung dalam memberikan
asuhan keperawatan individu, keluarga, kelompok dan komunitas khususnya
di Desa Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan laporan Praktik Belajar
Lapangan Keperawatan Komunitas di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang ini sebagai berikut :
Bab 1: Pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, manfaat
penulisan dan sistimatika penulisan laporan.
Bab 2: Tinjauan teori yang terdiri dari tinjauan tentang pelayanan kesehatan
utama, konsep keperawatan komunitas, peran perawat komunitas, asuhan
keperawatan komunitas, teori perubahan komunitas
Bab 3: Pelaksanaan terdiri dari tahap pengkajian, analisa data, perumusan
diagnosa keperawatan komunitas, tahap perencanaan, tahap implementasi, tahap
evaluasi
Bab 4: Pembahasan berisi tentang kesenjangan antara teori dan praktik dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan komunitas.
Bab 5: Penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Keperawatan Komunitas
2.1.1 Pengertian Keperawatan Komunitas
Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai
persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus
dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah
melembaga (Sumijatun et. al, 2006).
Misalnya di dalam kesehatan di kenal kelompok ibu hamil, kelompok ibu
menyusui, kelompok anak balita, kelompok lansia, kelompok masyarakat dalam suatu
wilayah desa binaan dan lain sebagainya. Sedangkan dalam kelompok masyarakat
ada masyarakat petani, masyarakat pedagang, masyarakat pekerja, masyarakat
terasing dan sebagainya (Mubarak, 2006).
Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan
dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan
promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan
kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses
keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara
optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan (Mubarak, 2006).
Proses keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang
bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu, dan berkesinambungan dalam rangka
memecahkan masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta masyarakat melalui
langkah-langkah seperti pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi

keperawatan (Wahyudi, 2010). Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat adalah


individu, keluarga/ kelompok dan masyarakat dengan fokus upaya kesehatan primer,
sekunder dan tersier. Oleh karenanya pendidikan masyarakat tentang kesehatan dan
perkembangan sosial akan membantu masyarakat dalam mendorong semangat untuk
merawat diri sendiri, hidup mandiri dan menentukan nasibnya sendiri dalam
menciptakan derajat kesehatan optimal (Elisabeth, 2007). Peran serta masyarakat
diperlukan dalam hal perorangan. Komunitas sebagai subyek dan obyek diharapkan
masyarakat mampu mengenal, mengambil keputusan dalam menjaga kesehatannya.
Sebagian akhir tujuan pelayanan kesehatan utama diharapkan masyarakat mampu
secara mandiri menjaga dan meningkatkan status kesehatan masyarakat (Mubarak,
2005).
2.1.2 Paradigma Keperawatan Komunitas
Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok, yaitu
manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins, 1987). Sebagai
sasaran praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan
masyarakat.
a. Individu Sebagai Klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi,
psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien, pada
dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan biologi, sosial,
psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan
pengetahuan, kurangnya kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
b. Keluarga Sebagai Klien
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus
menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara
bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan.
6

Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia yaitu
kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan
aktualisasi diri. Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu
fokus pelayanan keperawatan yaitu:
1) Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang
menyangkut kehidupan masyarakat.
2) Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, memperbaiki
ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam kelompoknya sendiri.
3) Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Penyakit yang diderita salah
satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga tersebut.

c. Masyarakat Sebagai Klien


Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat istiadat,
norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat mengikat
semua warga. Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas didefenisikan
sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif. Kesehatan
adalah proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas, konstruktif dan
produktif. Menurut Hendrik L. Blum ada empat faktor yang mempengaruhi
kesehatan, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan.
Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik
yaitu lingkungan yang berkaitan dengan fisik seperti air, udara, sampah, tanah, iklim,
dan perumahan. Contoh di suatu daerah mengalami wabah diare dan penyakit kulit
akibat kesulitan air bersih. Keturunan merupakan faktor yang telah ada pada diri
manusia yang dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit asma. Keempat faktor
tersebut saling berkaitan dan saling menunjang satu dengan yang lainnya dalam
menentukan derajat kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
7

Keperawatan dalam keperawatan kesehatan komunitas dipandang sebagai bentuk


pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat kepada individu, keluarga, dan
kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan meliputi promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitative dengan menggunakan proses keperawatan untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Keperawatan adalah suatu bentuk
pelayanan professional sebagai bagian integral pelayanan kesehatan dalam bentuk
pelayanan biologi, psikologi, sosial dan spiritual secara komprehensif yang ditujukan
kepada individu keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit mencakup siklus
hidup manusia. Lingkungan dalam paradigm keperawatan berfokus pada lingkungan
masyarakat, dimana lingkungan dapat mempengaruhi status kesehatan manusia.
Lingkungan disini meliputi lingkungan fisik, psikologis, sosial dan budaya dan
lingkungan spiritual.

2.1.3 Ruang Lingkup Keperawatan Komunitas


a. Upaya Promotif
Untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
dengan jalan:
1) Penyuluhan kesehatan masyarakat
2) Peningkatan gizi
3) Pemeliharaan kesehatan perorangan
4) Pemeliharaan kesehatan lingkungan, olahraga secara teratur
5) Rekreasi
6) Pendidikan seks

b. Upaya Preventif
Untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan kesehatan terhadap individu,
keluaga, kelompok dan masyarakat melalui kegiatan:
1) Imunisasi masal terhadap bayi dan balita
2) Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu, puskesmas, maupun
kunjungan rumah
3) Pemberian vitamin A, yodium melalui posyandu, puskesmas, ataupun di rumah
4) Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas, dan menyusui
c. Upaya Kuratif
Untuk merawat dan mengobati anggota-anggota keluarga, kelompok yang menderita
penyakit ataupun masalah kesehatan melalui:
1) Perawatn orang sakit di rumah (home nursing)
2) Perawatn orang sakit sebagai tindak lanjut keperawatan dari Puskesmas dan
Rumah Sakit
3) Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah ibu bersalin dan nifas
4) Perawatan tali pusat bayi baru lahir
d. Upaya Rehabilitatif
Upaya pemulihan kesehatan bagi penderita yang dirawat di rumah maupun terhadap
kelompok kelompok tertentu yang menderita penyakit yang sama.

1) Pelatihan fisik bagi yang mengalami gangguan fisik seperti penderita kusta, patah
tulang, kelainan bawaan
2) Pelatihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit tertentu, seperti TBC,
pelatihan nafas dan batuk, penderita struk melalui fisioterafi
e. Upaya Resosialitatif
Upaya untuk mengembalkan individu, keluarga, dan kelompok khusus kedalam
pergaulan masyarakat.
2.1.4 Falsafah Keperawatan Komunitas
Falsafah adalah keyakinan terhadap nilai nilai yang menjadi pedoman untuk
mencapai suatu tujuan atau sebagai pandangan hidup. Falsafah keperawatan
memandang keperawatan sebagai pekerjaan yang luhur dan manusiawi. Penerapan
falsafah dalam keperawatan kesehatan komunitas, yaitu:
a. Pelayanan keperawatan kesehatan komunitas merupakan bagian integral dari upaya
kesehatan yang harus ada dan terjangkau serta dapat di terima oleh semua orang.
b. Upaya promotif dan preventif adalah upaya pokok tanpa mengabaikan upaya
kuratif dan rehabilitatif.
c. Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien berlangsung secara
berkelanjutan.
d. Perawat sebagai provider dan klien sebagai consumer pelayanan kesehatan,
menjalin suatu.hubungan yang saling mendukung dan mempengaruhi perubahan
dalam kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan.
e.

Pengembangan

tenaga

keperawatan

berkesinambungan.

10

kesehatan

masyarakat

direncanakan

f. Individu dalam suatu masyarakat ikut bertanggungjawab atas kesehatannya. la


harus ikut mendorong, medidik, dan berpartisipasi secara aktif dalam pelayanan
kesehatan mereka sendiri.
2.1.5 Filosofi Keperawatan Komunitas
Menurut Helvie (1991) keperawatan komunitas memiliki filosofi sebagai berikut:
a. Kesehatan dan hidup produktif lebih lama adalah hak semua orang
b. Semua penduduk mempunyai kebutuhan belajar kesehatan
c. Beberapa klien tidak mengenal kebutuhan belajarnya dapat membantu
meningkatkan kesehatannya
d. Penduduk menerima dan menggunakan informasi yang bermanfaat bagi dirinya
e. Kesehatan adalah suatu yang bernilai bagi klien dan memiliki prioritas yang
berbeda pada waktu yang berbeda
f. Konsep dan nilai kesehatan berbeda pada setiap orang bergantung pada latar
belakang budaya, agama dan sosial klien
g. Autonomi individu dan komunitas dapat diberikan prioritas yang berbeda pada
waktu yang berbeda
h. Klien adalah fleksibel dan dapat berubah dengan adanya perubahan rangsang
internal dan eksternal
i. Klien dimotivasi menuju pertumbuhan
j. Kesehatan adalah dinamis bagi klien terhadap perubahan lingkungannya
k. Klien bergerak dalam arak berbeda sepanjang rentang sehat pada waktu yang
berbeda

11

l. Fungsi terbesar keperawatan kesehatan komunitas adalah membantu klien bergerak


kea rah kesejahteraan lebih tinggi yang dilakukan dengan menggunakan kerangka
teori dan pendekatan sistematik
m. Pengetahuan dan teknologi kesehatan baru yang terjadi sepanjang waktu akan
merubah kebutuhan kesehatan
2.1.6 Tujuan dan Fungsi Keperawatan Komunitas
Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang
dilakukan sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan
masyarakat melalui pelayanan
keperawatan langsung (direction) terhadap individu, keluarga dan kelompok didalam
konteks komunitas serta perhatian lagsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat
dan mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan masyarakat yang dapat
mempengaruhi individu, keluarga serta masyarakat.
a. Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara meyeluruh
dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal
secara mandiri.
b. Tujuan Khusus
1) Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat
2) Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk
melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah keperawatan
3) Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan
asuhan keperawatan

12

4) Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan pembinaan


dan asuhan keperawatan di rumah, di panti dan di masyarakat
5) Tertanganinya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindaklanjut dan asuhan
keperawatan di rumah
6) Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang
memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di Puskesmas
7) Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan social untuk menuju
keadaan sehat optimal
c. Fungsi
1) Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi kesehatan
masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah klien melalui asuhan
keperawatan.
2) Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan
kebutuhannya dibidang kesehatan
3) Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah,
komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran serta masyarakat
4) Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan permasalahan
atau kebutuhannya sehingga mendapatkan penanganan dan pelayanan yang cepat dan
pada akhirnya dapat mempercepat proses penyembuhan (Mubarak, 2006).
2.1.7 Sasaran Keperawatan Komunitas
Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk individu,
keluarga, dan kelompok yang beresiko tinggi seperti keluarga penduduk di daerah
kumuh, daerah terisolasi dan daerah yang tidak terjangkau termasuk kelompok bayi,

13

balita dan ibu hamil. Menurut Anderson (1988) sasaran keperawatan komunitas
terdiri dari tiga tingkat yaitu:

a. Tingkat Individu
Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada individu yang mempunyai masalah
kesehatan tertentu (misalnya TBC, ibu hamil d1l) yang dijumpai di poliklinik,
Puskesmas dengan sasaran dan pusat perhatian pada masalah kesehatan dan
pemecahan masalah kesehatan individu.
b. Tingkat Keluarga
Sasaran kegiatan adalah keluarga dimana anggota keluarga yang mempunyai masalah
kesehatan dirawat sebagai bagian dari keluarga dengan mengukur sejauh mana
terpenuhinya tugas kesehatan keluarga yaitu mengenal masalah kesehatan,
mengambil keputusan untuk mengatasi masalah kesehatan, memberikan perawatan
kepada anggota keluarga, menciptakan lingkungan yang sehat dan memanfaatkan
sumber daya dalam masyarakat untuk meningkatkan kesehatan keluarga. Prioritas
pelayanan Perawatan Kesehatan Masyarakat difokuskan pada keluarga rawan yaitu:
- Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan, yaitu keluarga dengan: ibu
hamil yang belum ANC, ibu nifas yang persalinannya ditolong oleh dukun dan
neonatusnya, balita tertentu, penyakit kronis menular yang tidak bisa diintervensi
oleh program, penyakit endemis, penyakit
kronis tidak menular atau keluarga dengan kecacatan tertentu (mental atau fisik).
- Keluarga dengan resiko tinggi, yaitu keluarga dengan ibu hamil yang memiliki
masalah gizi, seperti anemia gizi berat (HB kurang dari 8 gr%) ataupun Kurang
Energi Kronis (KEK), keluarga dengan ibu hamil resiko tinggi seperti perdarahan,

14

infeksi, hipertensi, keluarga dengan balita dengan BGM, keluarga dengan neonates
BBLR, keluarga dengan usia lanjut jompo atau keluarga dengan kasus percobaan
bunuh diri.

c. Tingkat Komunitas
Dilihat sebagai suatu kesatuan dalam komunitas sebagai klien :
1) Pembinaan kelompok khusus
2) Pembinaan desa atau masyarakat bermasalah
2.1.8 Strategi Keperawatan Komunitas
Dalam melaksanakan program asuhan keperawatan komunitas perlu digunakan
strategi sebagai berikut:
a. Locality Development: yang menekankan pada peran serta masyarakat dan
masyarakat terlibat langsung dalam proses pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi
b. Social Planning: dapat berubah dan dibuat oleh para ahli dengan menggunakan
birokrasi
c. Social Action: adanya proses perubahan yang berfokus pada masyarakat atau
program yang dibuat oleh pemerintah untuk perubahan yang mendasar. Sedangkan
dalam melaksanakan program pelayanan keperawatan kesehatan komunitas perlu
juga diberi strategi:
1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga pengelola perawatan
kesehatan komunitas serta tenaga pelaksana puskesmas melalui kegiatan penataran.

15

2) Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sector, melalui kegiatan temu
karya dan forum pertemuan di kecamatan ataupun puskesmas.
3) Membantu masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan melalui
pendidikan kesehatan pada keluarga, memberikan bimbingan teknis dalam bidang
kesehatan khususnya pelayanan keperawatan.
4) Mengadakan buku-buku pedoman pelayanan keperawatan.
5) Sesuai dengan teori Blum bahwa derajat kesehatan seseorang dapat dipengaruhi
oleh 4 faktor:
- Lingkungan, yaitu segala sesuatu yang berada disekeliling keluarga dimana ia
tumbuh dan berkembang. Factor ini mencakup lingkungan. Fisik, social budaya, dan
biologi.
- Perilaku dari keluarga, baik sebagai satu kesatuan terkecil dalam masyarakat,
maupun perilaku dari tiap anggota keluarga tersebut.
- Pelayanan kesehatan, terutama pelayanan kesehatan keluarga baik sebagai upaya
professional maupun sebagai upaya pelayanan swadaya masyarakat dan atau keluarga
sendiri.
- Keturunan, yaitu sifat genetika yang ada dan diturunkan kepada keluarga
2.1.9 Prinsip Dasar Keperawatan Komunitas
Pada perawatan kesehatan masyarakat harusmempertimbangkan beberapa prinsip,
yaitu:
a. Kemanfaatan
Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang besar
bagi komunitas. Intervensi atau pelaksanaan yang dilakukan harus memberikan

16

manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya ada keseimbangan antara manfaat


dan kerugian (Mubarak, 2005).
b. Kerjasama
Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat berkelanjutan serta
melakukan kerja sama lintas program dan lintas sektoral (Riyadi, 2007).
c. Secara langsung
Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi, klien dan
lingkunganya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik mempunyai tujuan
utama peningkatan kesehatan (Riyadi, 2007).
d. Keadilan
Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari
komunitas itu sendiri. Dalam pengertian melakukan upaya atau tindakan sesuai
dengan kemampuan atau kapasitas komunitas (Mubarak, 2005).
e. Otonomi
Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau melaksanakan beberapa
alternatif terbaik dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang ada (Mubarak, 2005).

2.1.10 Peran Perawat Komunitas


Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat
diantaranya adalah:
a. Sebagai penyedia pelayanan (Care provider)

17

Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah skeperawatan yang ada,


merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan dan
mengevaluasi pelayanan yang telah diberikan kepada individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat.
b. Sebagai Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and Counselor)
Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat baik di rumah, puskesmas, dan di masyarakat secara terorganisir dalam
rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku seperti yang
diharapkan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal. Konseling adalah proses
membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tatanan psikologis atau masalah
sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan
perkembangan seseorang. Di dalamnya diberikan dukungan emosional dan
intelektual. Proses pengajaran mempunyai 4 komponen yaitu : pengkajian,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan proses keperawatan
dalam fase pengkajian seorang perawat mengkaji kebutuhan pembelajaran bagi
pasien dan kesiapan untuk belajar. Selama perencanaan perawat membuat tujuan
khusus dan strategi pengajaran. Selama pelaksanaan perawat menerapkan strategi
pengajaran dan selama evaluasi perawat menilai hasil yang telah didapat (Mubarak,
2005).
c. Sebagai Panutan (Role Model)
Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh yang baik dalam
bidang kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang
bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat.
d. Sebagai pembela (Client Advocate)
Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok atau tingkat komunitas. Pada
tingkat keluarga, perawat dapat menjalankan fungsinya melalui pelayanan sosial yang
18

ada dalam masyarakat. Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien.
Pembelaan termasuk di dalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien,
memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hakhak klien (Mubarak,
2005). Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung jawab membantu
klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi
pelayanan dan dalam memberikan informasi hal lain yang diperlukan untuk
mengambil persetujuan (Informed Concent) atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepadanya. Tugas yang lain adalah mempertahankan dan melindungi hakhak klien, harus dilakukan karena klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan
berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan (Mubarak, 2005).
e. Sebagai Manajer kasus (Case Manager)
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai kegiatan
pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban tugas dan
tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
f. Sebagai kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara bekerjasama
dengan tim
kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli gizi, ahli radiologi, dan lain-lain dalam
kaitanya membantu mempercepat proses penyembuhan klien Tindakan kolaborasi
atau kerjasama merupakan proses pengambilan keputusan dengan orang lain pada
tahap proses keperawatan. Tindakan ini berperan sangat penting untuk merencanakan
tindakan yang akan dilaksanakan (Mubarak, 2005).
g. Sebagai perencana tindakan lanjut (Discharge Planner)

19

Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah menjalani perawatan di
suatu instansi kesehatan atau rumah sakit. Perencanaan ini dapat diberikan kepada
klien yang sudah mengalami perbaikan kondisi kesehatan.
h. Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder)
Melaksanakan monitoring terhadap perubahanperubahan yang terjadi pada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah-masalah kesehatan
dan keperawatan yang timbul serta berdampak terhadap status kesehatan melalui
kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan, observasi dan pengumpulan data.
i. Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)
Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan, merencanakan dan
mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien.
Pelayanan dari semua anggota tim kesehatan, karena klien menerima pelayanan dari
banyak profesional (Mubarak, 2005).
j. Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change Agent and Leader)
Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang berinisiatif merubah atau
yang membantu orang lain membuat perubahan pada dirinya atau pada sistem.
Marriner

torney

mendeskripsikan

pembawa

peubahan

adalah

yang

mengidentifikasikan masalah, mengkaji motivasi dan kemampuan klien untuk


berubah, menunjukkan alternative, menggali kemungkinan hasil dari alternatif,
mengkaji

sumber

daya,

menunjukkan

peran

membantu,

membina

dan

mempertahankan hubungan membantu, membantu selama fase dari proses perubahan


dan membimibing klien melalui fase-fase ini (Mubarak, 2005).
Peningkatan dan perubahan adalah komponen essensial dari perawatan. Dengan
menggunakan proses keperawatan, perawat membantu klien untuk merencanakan,

20

melaksanakan dan menjaga perubahan seperti : pengetahuan, ketrampilan, perasaan


dan perilaku yang dapat meningkatkan kesehatan (Mubarak, 2005).
k. Pengidentifikasi dan pemberi pelayanan komunitas (Community Care Provider
And Researcher)
Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan kepada masyarakat
yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi masalah kesehatan
dan pemecahan masalah yang diberikan. Tindakan pencarian atau pengidentifikasian
masalah kesehatan yang lain juga merupakan bagian dari peran perawat komunitas.

2.2 Keperawatan Keluarga


2.2.1 Pengertian Keluarga
Adalah unit terkecil dari masayarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa
orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam
keadaan saling ketergantungan (Setiadi,2008). Keluarga adalah dua atau tiga individu
yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan
dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di
dalam peranannya masing-masing, menciptakan serta
mempertahankan kebudayaan (Bailon dan ( Maglaya, 1989 dalam Setiadi,2008).
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan,
adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang
umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan social diri tiap
anggota keluarga (Duval dan logan, 1986 dalam Setiadi,2008).
2.2.2 Tipe Keluarga

21

Dalam (Sri Setyowati, 2007) tipe keluarga dibagi menjadi dua macam yaitu:
a. Tipe Keluarga Tradisional
1) Keluarga Inti ( Nuclear Family ) , adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan
anak-anak.
2) Keluarga Besar ( Exstended Family ), adalah keluarga inti di tambah dengan sanak
saudara, misalnya nenek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
3) Keluarga Dyad yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami dan istri tanpa
anak.
4) Single Parent yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua
(ayah/ibu) dengan anak (kandung/angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh
perceraian atau kematian.
5) Single Adult yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiri seorang dewasa
(misalnya seorang yang telah dewasa kemudian tinggal kost untuk bekerja atau
kuliah)
b. Tipe Keluarga Non Tradisional
1) The Unmarriedteenege mather
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa
nikah
2) The Stepparent Family
Keluarga dengan orang tua tiri
3) Commune Family

22

Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara
hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang
sama : sosialisasi anak dengan melelui aktivitas kelompok atau membesarkan anak
bersama
4) The Non Marital Heterosexual Conhibitang Family
Keluarga yang hidup bersama dan berganti ganti pasangan tanpa melelui
pernikahan
5) Gay And Lesbian Family
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana suami istri
(marital partners)
6) Cohibiting Couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alasan
tertentu
7) Group-Marriage Family
Beberapa orang dewasa menggunakan alatalat rumah tangga bersama yang saling
merasa sudah menikah, berbagi sesuatu termasuk sexual dan membesarkan anaknya
8) Group Network Family
Keluarga inti yang dibatasi aturan atau nilai nilai, hidup bersama atau berdekatan
satu sama lainnya dan saling menggunakan barang barang rumah tangga bersama,
pelayanan dan tanggung jawab membesarkan anaknya 9) Foster Family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga atau saudara didalam
waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk
menyatukan kembali keluarga yang aslinya
23

10) Homeless Family


Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanent karena
krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem
kesehatan mental
11) Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang- orang muda yang mencari ikatan
emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam
kekerasan dan criminal dalam kehidupannya

2.2.3 Struktur Keluarga


Dalam (Setiadi,2008), struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantarannya
adalah:
a. Patrilineal : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah
b. Matrilineal : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi di mana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu
c. Matrilokal : adalah sepasang suami istri yang tingga bersama keluarga sedarah istri
d. Patrilokal : adalah sepasang suami istri yang tingga bersama keluarga sedarah
suami
e. Keluarga kawinan : adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembina
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya
hubungan dengan suami atau istri.
2.2.4 Fungsi Keluarga
24

Dalam (Setiadi,2008) fungsi keluarga adalah beberapa fungsi yang dapat dijalankan
keluarga sebagai berikut:
a. Fungsi Biologis
1) Untuk meneruskan keturunan
2) Memelihara dan membesarkan anak
3) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
4) Memelihara dan merawat anggota keluarga

b. Fungsi Psikologis
1) Memberikan kasih sayang dan rasa aman
2) Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
3) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
4) Memberikan identitas keluarga
c. Fungsi Sosialisasi
1) Membina sosial pada anak
2) Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak
3) Menaruh nilai-nilai budaya keluarga
d. Fungsi Ekonomi
1) Mencari sumber sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhankeluarga
2) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga
25

3) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di masa yang akan


datang, misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya
e. Fungsi Pendidikan
1) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan
membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki
2) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi
peranannya sebagai orang dewasa
3) Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya
2.2.5 Peran Keluarga
Dalam (Setiadi, 2008), peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku
interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan
situasi tertentu. Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai
berikut:
a. Peranan ayah: ayah sebagai suami dan istri dan anak-anak, berperan sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga,
sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkunmgan.
b. Peranan ibu: sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagaipengasuh dan pendidik anak-anaknya,
pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan
sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga.
c. Peranan anak: anak- anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat
perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spriritual.

26

2.2.6 Prinsip Perawatan Keluarga


Dalam (Setiadi,2008), ada beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam
memberikan Asuhan Keperawatan keluarga adalah:
a. Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan
b. Dalam memberikan Asuhan Keperawatan Kesehatan keluarga sehat sebagai tujuan
utama
c. Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan
kesehatan keluarga
d. Dalam memberikan Asuhan Keperawatan keluarga, perawat melibatkan peran aktif
seluruh keluarga dalam merumuskan masalah dan kebutuhan keluarga dalam
mengatasi masalah kesehatannya
e. Lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat promotif dan preventif
dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif
f. Dalam memberikan Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga, keluarga
memanfaatkan sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan
kesehatan keluarga
g. Sasaran Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga adalah keluarga secara
keseluruhan
h. Pendekatan yang dipergunakan dalam memberikan Asuhan Keperawatan kesehatan
keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan menggunakan proses
keperawatan
i. Kegiatan utama dalam memberikan Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga
adalah penyuluhan kesehatan dan Asuhan Keperawatan kesehatan dasar atau
perawatan dirumah
27

j. Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk resiko tinggi


2.2.7 Peran Perawat Keluarga
Dalam (Setiadi,2008), memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga ada
beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain:
a. Pemberian Asuhan Keperwatan kepada anggota keluarga
b. Pengenal/pengamat masalah dan kebutuhan kesehatan keluarga
c. Koordinator pelayanan kesehatan dan perawatan kesehatan keluarga
d. Fasilitator menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah dijangkau
e. Pendidikan kesehatan, perawat dapat berperan sebagai pendidikan untuk merubah
perilaku keluarga dari perilaku tidak sehat
f. Penyulun dan konsultan, perawat dapat berperan memberikan petunjuk tentang
Asuhan Keperawatan dasar terhadap keluarga disamping menjadi penasehat dalam
mengatasi masalah perawatan keluarga.

2.3 Konsep Masalah Kesehatan Komunitas


2.3.1 Kesehatan Lingkungan
Lingkungan dapat didefinisikan sebagai tempat pemukiman dengan segala sesuatunya
dimana organisme hidup beserta segala keadaan dan kondisi yang secara langsung
maupun tidak langsung disuga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan maupun
kesehatan dari organisme tersebut (Efendi, 2009). Kesehatan lingkungan dapat
dijabarkan sebagai suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan
ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannyauntuk mendukung
tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia (Himpunan Ahli
28

Kesehatan Lingkungan Indonesia). Menurut WHO(2005), lingkungan merupakan


suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dengan lingkungan agar
dapat menjamin keadaan sehat dari manusia (Efendi, 2009).
Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan
yang optimal sehingga mempengaruhi dampak positif terhadap terwujudnya status
kesehatan yang optimal pula (Efendi, 1998).
Dalam mengatasi masalah kesehatan lingkungan, Pemerintah menggalakkan Program
Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM) Merupakan Program Nasional yang bersifat lintas sektoral di
bidang sanitasi. Program Nasional STBM dicanangkan oleh Menteri Kesehatan RI
pada Agustus 2008. Tujuan dari Program Nasional Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM) adalah menurunkan kejadian diare melalui
intervensi terpadu dengan menggunakan pendekatan sanitasi total.
Sanitasi total adalah kondisi ketika suatu komunitas:
1. Tidak buang air besar (BAB) sembarangan.
2. Mencuci tangan pakai sabun.
3. Mengelola air minum dan makanan yang aman.
4. Mengelola sampah dengan benar.
5. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.
Menurt WHO, terdapat 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan yaitu sebagai berikut:
1. Penyediaan air minum
2. Pengelolaan air buangan (limbah) dan pengendalian pencemaran

29

3. Pembuangan sampah padat


4. Pengendalian vector
5. Pencegahan atau pengandalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6. Higiene makanan, termasuk higiene susu
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi (wabah),
bencana alam dan perpindahan penduduk
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan Menurut pasal
22 ayat 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, terdapat delapan ruang lingkup
kesehatan lingkungan yaitu sebagai berikut:
1. Penyehatan air dan udara
2. Pengamanan limbah padat atau sampah

30

3. Pengamanan limbah cair


4. Pengamanan limbah gas
5. Pengamanan radiasi
6. Pengamanan kebisingan
7. Pengamanan vektor penyakit
8. Penyehatan dan pengamanan lainnya seperti pada situasi pasca bencana

2.3.2 Perilaku Masyarakat


Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang
dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari
maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi
(Wawan, 2010).
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus
yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan , makanan
serta lingkungan.
Batasan ini mempunyai 2 unsur pokok, yakni respon dan stimulus atau perangsangan.
Respon atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi dan sikap)
maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau practice). Sedangkan stimulus atau
rangsangan disini terdiri dari 4 unsur pokok, yakni: sakit dan penyakit, sisitem
pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan (Wawan, 2010).
Perilaku yang mempengaruhi kesehatan dapat digolongkan dalam dua kategori
(Wawan, 2010), yaitu:
1. Perilaku yang terwujud secara sengaja dan sadar
31

2. Perilaku yang terwujud secara tidak sengaja atau tidak sadar. Ada perilaku-perilaku
yang sengaja atau tidak sengaja membawa manfaat bagi kesehatan individu atau
kelompok kemasyarakatan sebaliknya ada yang disengaja atau tidak disengaja
berdampak merugikan kesehatan (Wawan, 2010).

2.4 Asuhan Keperawatan Komunitas


2.4.1 Pengkajian
Pengkajian adalah merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan sistematis
terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan yang
dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut
permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosial elkonomi, maupun spiritual dapat
ditentukan. Dalam tahap pengkajian ini terdapat 5 kegiatan, yaitu : pengumpulan
data, pengolahan data, analisis data, perumusan atau penentuan masalah kesehatan
masyarakat dan prioritas masalah (Mubarak, 2005).
1. Beberapa teori yang membahas tentang pengkajian komunitas:
A. Sanders Interactional Framework
Model ini menekankan pada proses interaksi komunitas. Model ini juga dikenal
sebagai model tiga dimensi dengan komponen pengkajian:
a) Komunitas sebagai system sosial (dimensi system)
b) Masyarakat sebagai tempat (dimensi tempat)
32

c) Masyarakat sebagai kumpulan/kelompok manusia (dimensi populasi)


B. Kliens interactional framework
a) Masyarakat sebagai system social
b) Pola komunikasi
c) Pengambilan keputusan
d) Hubungan dengan system lain
e) Batas wilayah
2. Penduduk dan lingkungannya
a) Karakter penduduk (demografi)
b) Faktor lingkungan, biologi dan social
c) Lingkungan psikis (nilai-2, agama, kepercayaan)
3. Community assessment wheel (community as client model)
Pada model ini terdapat 8 komponen yang harus dikaji, ditambah dengan data inti
dari masyarakat itu sendiri (community core).
a. Community core (data inti), Aspek yang dikaji:
- Historis dari komunitas, kaji sejarah perkembangan komunitas
- Demografi : umur, jenis kelamin, ras, type keluarga, status perkawinan
- Vital statistik : angka kelahiran, angka kematian, angka kesakitan
b. Sistem nilai/norma/kepercayaan dan agama
1) Phisical environment pada komunitas
33

Sebagaimana mengkaji fisik pada individu. Pengkajian lingkungan dilakukan dengan


metode winshield survey atau survey dengan mengelilingi wilayah komunitas
2) Pelayanan kesehatan dan social, Pelayanan kesehatan :
a) Hospital
b) Praktik swasta
c) Puskesmas
d) Rumah perawatan
e) Pelayanan kesehatan khusus
f) Perawatan di rumah
g) Counseling support services
h) Pelayanan khusus (social worker)
3) Dari tempat pelayanan tsb aspek yg didata:
a) Pelayanannya (waktu, ongkos, rencana kerja)
b) Sumber daya (tenaga, tempat, dana & perencanaan)
c) Karakteristik pemakai (penyebaran geografi, gaya hidup, sarana transportasi)
d) statistik, jumlah pengunjung perhari/ minggu/bulan
e) Kecukupan dan keterjangkauan oleh pemakai dan pemberian pelayanan
4) Ekonomi, Aspek/komponen yang perlu dikaji:
a) Karakteristik pendapatan keluarga/RT
b) rata-2 pendapatan keluarga/rumah tangga
34

c) pendapatan kelas bawah


d) keluarga mendapat bantuan social
e) keluarga dengan kepala keluarga wanita
f) rata-2 pendapatan perorangan

5) Karakteristik pekerjaan
a) Status ketergantungan
b) Jumlah populasi secara umum (umur > 18 th)
c) yg menganggur
d) yg bekerja
e) yg menganggur terselubung
f) Jumlah kelompok khusus
g) kategori yang bekerja, jml dan %
6) Keamanan transportasi
a) Keamanan
b) Protection service
c) Kwalitas udara, air bersih
d) Transportasi (milik pribadi/umum)

35

7) Politik & Government


a) Jenjang pemerintahan
b) Kebijakan Dep.Kes
8) Komunikasi
a) Formal
b) In formal
9) Pendidikan
a) Status pendidikan (lama sekolah, jenis sekolah, bahasa)
b) Fasilitas pendidikan (SD, SMP dll) baik di dalam maupun di luar komunitas
10) Recreation Menyangkut tempat rekreasi Kerangka pengkajian profile masyarakat
(modifikasi) Pengkajian ini merupakan hasil modifikasi dari beberapa teori
sebelumnya tentang pengkajian komunitas.
2.4.2 Pengumpulan data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai masalah
kesehatan pada masyarakat sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil
untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial
ekonomi dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhi (Mubarak, 2005).
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Wawancara atau anamnesa
Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang berbentuk tanya jawab
antara perawat dengan pasien atau keluarga pasien, masyarakat tentang hal yang
berkaitan dengan masalah kesehatan pasien. Wawancara harus dilakukan dengan
36

ramah, terbuka, menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh
pasien atau keluarga pasien, dan selanjutnya hasil wawancara atau anamnesa dicatat
dalam format proses keperawatan (Mubarak, 2005).
2) Pengamatan
Pengamatan dalam keperawatan komunitas dilakukan meliputi aspek fisik,
psikologis, perilaku dan sikap dalam rangka menegakkan diagnosa keperawatan.
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan panca indera dan hasilnya dicatat dalam
format proses keperawatan (Mubarak,2005).
3) Pemeriksaan fisik
Dalam keperawatan komunitas dimana salah satunya asuhan keperawatan yang
diberikan adalah asuhan keperawatan keluarga, maka pemeriksaan fisik yang
dilakukan dalam upaya membantu
menegakkan diagnosa keperawatan dengan cara Inspeksi, Perkusi,Auskultasi dan
Palpasi (Mubarak, 2005).
2.4.3 Pengolahan data
Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan data dengan cara
sebagai berikut
a) Klasifikasi data atau kategori data
b) Penghitungan prosentase cakupan
c) Tabulasi data
d) Interpretasi data
2.4.4 Analisis data

37

Analisis data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data dan menghubungkan data
dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga dapat diketahui tentang
kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat apakah itu masalah
kesehatan atau masalah keperawatan (Mubarak, 2005).
2.4.5 Penentuan masalah atau perumusan masalah kesehatan
Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan keperawatan yang
dihadapi oleh masyarakat, sekaligus dapat dirumuskan yang selanjutnya dilakukan
intervensi. Namun demikian masalah yang telah dirumuskan tidak mungkin diatasi
sekaligus. Oleh karena itu diperlukan prioritas masalah (Mubarak, 2005)
2.4.6 Prioritas Masalah
Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan keperawatan perlu
mempertimbangkan berbagai faktor sebagai criteria diantaranya adalah (Mubarak,
2005):
1) Perhatian masyarakat
2) Prevalensi kejadian
3) Berat ringannya masalah
4) Kemungkinan masalah untuk diatasi
5) Tersedianya sumberdaya masyarakat
2.4.7 Aspek Politis
Seleksi atau penapisan masalah kesehatan komunitas menurut format Mueke (1988)
mempunyai kriteria penapisan, antara lain:
1) Sesuai dengan peran perawat komunitas

38

2) Jumlah yang beresiko


3) Besarnya resiko
4) Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan
5) Minat masyarakat
6) Kemungkinan untuk diatasi
7) Sesuai dengan program pemerintah
8) Sumber daya tempat
9) Sumber daya waktu
10) Sumber daya dana
11) Sumber daya peralatan
12) Sumber daya manusia
2.4.8 Diagnosis Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah kesehatan baik yang
aktual maupun potensial. Masalah aktual adalah masalah yang diperoleh pada saat
pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul
kemudian. Jadi diagnose keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas, padat dan
pasti tentang status dan masalah kesehatan yang dapat diatasi dengan tindakan
keperawatan. Dengan demikian diagnosis keperawatan ditetapkan
berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosa keperawatan akan memberi
gambaran masalah dan status kesehatan masyarakat baik yang nyata (aktual), dan
yang mungkin terjadi (Mubarak,2009).
2.4.9 Rencana Asuhan Keperawatan
39

Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang


akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesui dengan diagnosis keperawatan
yang telah ditentukan dengan tujuanterpenuhinya kebutuhan klien (Mubarak, 2009).
Jadi perencanaan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat disusun berdasarkan
diagnose keperawatan yang telah ditetapkan dan rencana keperawatan yang disusun
harus mencakup perumusan tujuan, rencana tindakan keperawatan yang akan
dilakukan dan kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan (Mubarak, 2009).
Langkah-langkah dalam perencanaan keperawatan kesehatan masyarakat antara lain
sebagai berikut:
1. Identifikasi alternatif tindakan keperawatan
2. Tetapkan tehnik dan prosedur yang akan digunakan
3.Melibatkan peran serta masyarakat dalam menyusun perencanaanmelalui kegiatan
musyawarah masyarakat desa atau lokakarya mini
4. Pertimbangkan sumber daya masyarakat dan fasilitas yang tersedia
5. Tindakan yang akan dilaksanakan harus dapat memenuhi kebutuhan yang sangat
dirasakan masyarakat
6. Mengarah kepada tujuan yang akan dicapai
7. Tindakan harus bersifat realistis
8. Disusun secara berurutan
2.4.10 Implementasi
Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan yang telah
disusun. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, perawat kesehatan masyarakat
harus bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lainya. Dalam hal ini melibatkan

40

pihak Puskesmas, Bidan desa dan anggota masyarakat (Mubarak, 2009). Prinsip yang
umum digunakan dalam pelaksanaan atau implementasi pada keperawatan komunitas
adalah:
1. Inovative
Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas dan mampu
menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi (IPTEK)
dan berdasar pada iman dan taqwa (IMTAQ) (Mubarak, 2009)
2. Integrated
Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerjasama dengan sesama profesi, tim
kesehatan lain, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat berdasarkan azas
kemitraan (Mubarak, 2009).
3. Rasional
Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan keperawatan harus
menggunakan pengetahuan secara rasional demi tercapainya rencana program yang
telah disusun (Mubarak, 2009).
4. Mampu dan mandiri
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan dan kemandirian
dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta kompeten (Mubarak, 2009).
5. Ugem
Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas kemampuannya dan
bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan
tercapai. Dalam melaksanakan implementasi yang menjadi fokus adalah : program
kesehatan komunitas dengan strategi : komuniti organisasi dan partnership in
community (model for nursing partnership) (Mubarak, 2009).
41

2.4.11 Evaluasi
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan.
Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses dengan
pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat
dengan membandingkan antara tingkat kemandirian masyarakat dalam perilaku
kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan masyarakat komunitas dengan
tujuan yang telah ditetapkan atau dirumuskan sebelumnya (Mubarak, 2009). Kegiatan
yang dilakukan dalam penilaian menurut Nasrul Effendi, 1998:
1. Membandingkan hasil tindakan yang dilaksanakan dengan tujuan yang telah
ditetapkan.
2. Menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian sampai dengan
pelaksanaan.
3. Hasil penilaian keperawatan digunakan sebagai bahan perencanaan selanjutnya
apabila masalah belum teratasi.
4. Perlu dipahami bersama oleh perawat kesehatan masyarakat bahwa evaluasi
dilakukan dengan melihat respon komunitas.
BAB 3
TINJAUAN KASUS
3.1 Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini merupakan tahap awal pra praktik klinik/ terjun ke
lapangan, berbagai kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini antara lain:
1) Pembekalan

42

Pembekalan dilakukan pada taggal 23-29 November 2015 pukul 07.30


17.00 WIB di aula STIKes St. Elisabeth Medan oleh tim pembimbing praktik
komunitas. Materi yang diberikan adalah tentang mekanisme praktek komunitas dan
keluarga, pembagian kelompok komunitas dan peraturan-peraturan bagi mahasiswa
praktik dan tugas yang harus diselesaikan.
2) Pengorganisasian Kelompok
Untuk mempermudah pelaksanaan praktik dan sebagai penanggung jawab
kegiatan praktik dari mahasiswa, maka dibentuk organisasi kelompok. Struktur
organisasi (terlampir) .
3) Orientasi dan Analisa Situasi
3.2 Tahap Pelaksanaan
3.2.1 Pengkajian
Kegiatan praktek keperawatan komunitas yang dilakukan di Desa Percut, Kecamatan
Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang bertujuan untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat setempat, yang dalam pelaksanaannya menerangkan berbagai
konsep keperawatan komunitas yang ada.
Kegiatan praktek keperawatan komunitas yang dilaksanakan oleh mahasiswa di desa
Percut Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang (tanggal 1 12
Desember 2015) dalam pelaksanaannya mahasiswa bekerja sama dengan Kepala
Desa, ketua RW, ketua RT, kader dan pihak yang terkait lainnya.
Ketua RW, ketua RT dan kader sebagai motor penggerak yang akan melaksanakan
kegiatan praktek keperawatan komunitas bersama-sama dengan mahasiswa.
Sedangkan fokus intervensi yang dilaksanakan oleh warga dan mahasiswa di desa
Percut adalah pada gangguan kesehatan akibat lingkungan yang kurang sehat.

43

A Gamabaran Umum Desa Percut


Wilayah kecamatan Percut Sei Tuan mempunyai luas wilayah 1063 Ha yang
terdiri dari 22 desa dan yang menjadi wilayah binaan mahasiswa STIKes Sanata
Elisabeth Medan adalah desa Percut yang terdiri dari 19 dusun, tetapi hanya 12 dusun
yang menjadi wilayah binaan yaitu dusun 1-12.
Pusat pemerintahan berkedudukan di jalan Medan-Batang Kuis desa Tembung
dengan batas-batas sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Sebelah utara berbatasan dengan selat Malaka


Sebelah timur berbatasan dengan Desa Cinta Damai.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Cinta Rakyat.
Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tanjung Rejo.

Keadaan Geografi
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Luas daratan
Persawahan
Perkebunan
Kuburan
Perkantoran
Prasarana umum

: 585 Ha/m2
: 500 Ha/m2
: 5 Ha/m2
: 5 Ha/m2
: 4 Ha/m2
: 3 Ha/m2

Organisasi masyarakat di Desa Percut


1.
2.
3.
4.
5.
6.

LKMD
PKK
Karang Taruna Dan Organisasi Olahraga
Kelompok Arisan
Koperasi
Kelompok Perwiritan

: 33
: 26
:1
:1
:1
: 14

Adapun sarana dan prasarana yang ada di Desa Percut antara lain :
.

Sarana pendidikan formal


1. TK
: 5 unit
2. SD
: 10 unit

44

.
.

3. SMP : 6 unit
4. SMA : 2 unit
Sarana ibadah
1. Mesjid
: 5 unit
2. Gereja
: 4 unit
3. Klenteng
: 1 unit
Sarana umum dan balai pertemuan
: 1 unit
Sarana Kesehatan Masyarakat
1. Puskesmas pembantu : 1 unit
2. Praktek Dokter
: 1 unit
3. Praktek Bidan
: 6 unit
4. Balai Pengobatan
: 1 unit
5. Polindes
: 1 unit
6. Posyandu
: 6 unit
Letak sarana terhadap pusat kesehatan masyarakat kota
1. Kantor Camat
: 15 km
2. Puskesmas terdekat : 3 km
3. RSU terdekat
: 18 km
Kepala desa ????

B. Data Khusus Desa Percut


Pengumpulan data juga dilakukan dengan menggunakan tehnik wawancara dan
observasi ke setiap rumah keluarga yang terdata dengan total jumlah penduduk 7203
jiwa. Setelah data terkumpul, lalu dilakukan tabulasi data yang meliputi
pengelompokan data sesuai dengan masing-masing dusun sehingga tersusun menjadi
data desa. Langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data.
Hasil pengkajian dari wawancara dan observasi disajikan sebagai berikut :
1. Proporsi

jumlah

penduduk

Desa

Percut

berdasarkan

penghasilan

warga berdasarkan wawancara dengan keluarga yaitu penghasilan rendah


berjumlah 601 kk, menengah berjumlah 978 kk, tinggi berjumlah 133 kk.
2. Proporsi jumlah kunjungan 9 penyakit terbesar pada bulan oktober-november
tahun 2015 Puskesmas Tanjung Rejo ISPA 126 kunjungan, kunjungan, Bagian
gigi dan jaringan penyangga lainnya 82 kunjungan, Gastritis 81 kunjungan,

45

TBC 58 ,Diare 20 kunjungan, Asma 17 kunjungan, Pemeriksaan Kehamilan


16 kunjungan,Penyakit Kulit 14 kunjungan, Rematik 9 kunjungan.
3. Proporsi jumlah penduduk Desa Percut berdasarkan jumlah anggota keluarga
yang lansia yaitu lansia yang mandiri beraktivita sekitar 898 orang dan dengan
bantuan sekitar 164 orang dengan jumlah lansia keseluruhan sekitar 1062
orang. Jenis penyakit lansia sepeti DM sekitar 80 orang, hipertensi sekitar
154 orang, stroke sekitar 78 orang, jantung sekitar 115 orang, osteoporosis
sekitar 124 orang, dan lainnya sekitar 511 orang.
4. Usaha pencegahan dari pemberantasan penyakit meliputi kegiatan pasif,
dimana kegiatan pasif adalah penderita mengunjungi puskesmas, sedangkan
kegiatan aktif dimana petugas melakukan kunjungan kerumah-rumah pasien
untuk melakukan penyuluhan dan pengobatan. Kegiatan P2P meliputi :
a. Penyuluhan mengenai bahaya dan cara menularnya penyakit di puskesmas,
posyandu, dan balai desa, terutama tentang DBD, ISPA, diare, TB, flu burung,
HIV/AIDS.
b. Menentukan dan memberantas sumber infeksi.
c. Menemukan dan mengobati penyakit.
d. Mengadakan kerjasama sektoral untuk menanggulangani wabah penyakit menular
dengan patrol kesehatan, kegiatan jumat bersih, kegiatan gotong royong dihari
minggu, kegiatan lingkungan bersih di sekolah.
e. Menggerakkan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk demam
berdarah merupakan suatu upaya yang dilakukan meliputi 3M + 1T (menguras,
menutup, mengubur, telungkup)
f. Bila ada kasus DBD melakukan PE dan fogging di wilayah kerja yang dilakukan
di kecamatan, kelurahan, sekolah, rumah penduduk serta puskesmas
1. Pengobatan
Pengobatan dan perawatan adalah untuk menegakkan diagnosa penyakit. Tujuan
dari pengobatan itu sendiri adalah memberikan pertolongan segera dengan
menyelesaikan masalah kritis yang di temukan untuk mengembalikan funsi vital
tubuh serta meringankan penderita dari sakitnya. Kegiatan yang dilakukan dalam
pengobatan adalah memeriksa dan mendiagnosa penyakit serta memberikan obat

46

kepada pasien melalui ruang obat yang terdapat di puskesmas, pelayanan pengobatan
gratis diberikan kepada pasien yang mempunyai : KTP/KTR, AKSES, BPJS.
Program Pengembangan Puskesmas Tanjung Rejo Desa Percut:
5. Usaha Kesehatan Sekolah
Kegiatannya:
- Memberikan penyuluhan di sekolah
- Mengembangkan kemampuan perserta didik untuk berperan aktif dalam
pelayanan kesehatan (Dokter Kecil, Dokter Remaja, PMR)
6. Usaha kesehatan sekolah
Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan penerangan kepada pengunjung
agar menjaga kesehatan kebugaran tubuh dengan berolahraga di puskesmas Tanjung
Rejo sendiri, kegiatan olahraga sampai saat ini belum berjalan baik.
a. Perawatan kesehatan masyarakat
Tujuan:
- Memberikan pelayanan perawatan secara menyeluruh kepada pasien, atau
keluarga dirumah pasien dengan mengikuti sertakan masyarakat dan kelompok
-

masyarakat sekitarnya.
Membantu keluarga dan masyarakat mengenai kebutuhan kesehatannya sendiri
dan cara-cara penanggulangannya disesuaikan dengan batas-batas kemampuan

mereka.
Menunjang program kesehatan lainnya dalam usaha pencegahan penyakit,
peningkatan dan pemulihan individu dan keluarga.
7. Usaha Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja belum berjalan dengan baik dan tidak dilakukan kegitan apapun.
8. Usaha Kesehatan Gigi Dan Mulut
Dilaksanakan diklinik gigi puskesmas Tanjung Rejo Desa Percut dibawah
pimpinan dokter gigi dalam bentuk pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan

penyuluhan.
9. Usahan Kesehatan Jiwa
Usaha Kesehatan Jiwa sampai saat ini belum berjalan dengan baik
10. Kesehatan usia lanjut (USILA)
Kegiatannya:
Melakukan pendataan terhadap jumlah usila dalam wilayah kerja.
Memberikan makanan tambahan dan vitamin disertai senam lansia
Posyandu lansia diwilayah kerja puskesmas Tanjung Rejo Desa Percut ada.
11. Pembinaan Pengobatan Tradisional

47

Melakukan pendataan pengobatan tradisional di wilayah kerja puskesmas


Tanjung Rejo.
12. Program Pengobatan
Pelayanan laboratorium di puskesmas Tanjung Rejo meliputi pemeriksaan asam
urat,gula darah, BTA, Hb, LED, trombosit, dan Planote.
13. Pencataan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan sangat penting bagi mutu suatu organisasi antara
lain puskesemas. Pencatatan dan Pelaporan bertujuan untuk mengetahui bagaimana
keadaan atau kegiatan yang telah dilakukan adalah:
-

Mengisi rekam midic setiap penderita yang diobati.


Mencatat kebuku registrasi setelah pasien diobati
Membantu kepala puskesmas dalam hal evaluasi kinerja serta laporan puskesmas
setiap akhir tahun dan rencana usulan kegiatan.
14. Proporsi jumlah penduduk Desa Percut
Berdasarkan

hasil

wawancara

dari

warga

Berdasarkan
Desa

Percut

Agama
beragama

Islam 6423 orang, Kristen 696 orang Katolik 71 orang, Hindu 1 orang, Budha
13 orang.
15. Proporsi jumlah penduduk Desa Percut berdasarkan pembuangan sampah
yang kurang ada yang kurang baik sekitar 31,20%, pengolahan limbah yang
kurang baik sekitar 35,32%,
16. Proporsi jumlah penduduk Desa Percut berdasarkan yang tidak memiliki
kepemilikan KIA KMS dari usia 0-12 bulan yaitu 49 orang dari 149 orang,
yang tidak memiliki KIA KMS bayi usia 1-<5 tahun berjumlah 222 orang dari
512 orang.

3.2.2

Pengolahan Data

48

Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan dari dusun 1 12 desa percut dimana
penulis melakukan pengolahan data sesuai dengan data-data yang dikumpulkan.
Adapun pengolahan data tersebut tercantum di bawah ini dalam bentuk tabel :
Tabel 1. Distribusi frekuensi jumlah penduduk berdasarkan umur pada dusun 1 12
di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Umur

Frekuensi

Persentase

1.

Bayi (0-12 bulan)

149

2.07%

2.

Balita ( 1-4 tahun)

512

7.11%

3.

Anak anak ( 5-11 tahun)

961

13.34%

4.

Remaja awal ( 12-16 tahun)

775

10.76%

5.

Remaja akhir ( 17-25 tahun)

1268

17.60%

6.

Dewasa awal (26-35 tahun)

1303

18.09%

7.

Dewasa akhir ( 36-45 tahun)

989

13.73%

8.

Lansia awal ( 46-55 tahun)

670

9.30%

9.

Lansia akhir ( 56-65 tahun)

392

5.44%

10.

Manula ( > 65 tahun)

184

2.55%

Total

7203

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data: Mayoritas penduduk dusun 1- 12 desa percut adalah pada tahap dewasa
awal atau usia reproduktif dengan presentase 18.09%
Tabel 2. Distribusi frekuensi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dusun 1
12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

1.

Umur

Bayi (0-12 bulan)

Frekuensi
Laki2

Perempuan

79

70

49

Persentase
Laki2
1,09%

Perempuan
0,97%

2.

Balita ( 1-4 tahun)

232

280

3,30%

3,88%

3.

Anak anak ( 5-11 tahun)

530

431

7,35%

5,98%

4.

Remaja awal ( 12-16 tahun)

364

411

5,05%

5,70%

5.

Remaja akhir ( 17-25 tahun)

660

608

9,16%

8,44%

6.

Dewasa awal (26-35 tahun)

640

663

8,88%

9,20%

7.

Dewasa akhir ( 36-45 tahun

496

493

6,88%

6,84%

8.

Lansia awal ( 46-55 tahun)

348

322

4,83%

4,47%

9.

Lansia akhir ( 56-65 tahun)

202

190

2,80%

2,63%

10.

Manula ( > 65 tahun)

104

80

1,44%

1,11%

Total

3655

3548

51,18%

48,82%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data: Menurut tabel diatas penduduk desa percut dusun1-12 lebih banyak
berjenis kelamin laki-laki dengan presentase 51,18%

Tabel 3. Distribusi frekuansi jumlah penduduk berdasarkan agama dusun 1 12 di


Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Agama

Frekuensi

Persentase

1.

Islam

6423

89.17%

2.

Kristen

696

9.66%

3.

Katolik

71

0.99%

4.

Hindu

0.01%

5.

Budha

13

0.18%

6.

Lainnya

0.00%

7203

100%

Total
Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

50

Analisa data: Menurut tabel diatas penduduk mayoritas beragama islam dengan
prsentase 89,17%
Tabel 4. Distribusi frekuansi jumlah penduduk berdasarkan pendidikan dusun 1 12
di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Pendidikan Terakhir

Frekuensi

Persentase

1.

SD

1527

89.19%

2.

SMP

98

5.72%

3.

SMA

45

2.63%

4.

Diploma

20

1.17%

5.

Sarjana

21

1.22%

6.

Magister

0.01%

7.

Doktor

0.00%

1712

100%

8
Total
Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data: dari data diatas pendidikan terakhir penduduk mayoritas tamatan SD
dengan presentase 26,00%
Tabel 5. Distribusi frekuansi jumlah penduduk berdasarkan suku bangsa dusun 1 12
di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Suku

Frekuensi

Persentase

1.

Jawa

2156

29.93%

2.

Batak

1746

24.24%

3.

Minang

220

3.05%

4.

Melayu

2826

39.23%

51

5.

Tionghoa

45

0.62%

6.

Lainnya

210

2.92%

Total

7203

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data: dari tabel diatas lebih banyak penduduk bersuku melayu dengan
presentase 39,23%
Tabel 6. Distribusi frekuensi jumlah penduduk berdasarkan pekerjaan dusun 1 12 di
Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

No.

Pekerjaan

Frekuensi

Persentase

1.

PNS

55

3.21%

2.

Honor

25

1.46%

3.

Wiraswasta

1136

66.35%

4.

Pegawai swasta

20

1.17%

5.

Petani

40

2.34%

6.

Nelayan

344

20.01%

7.

Buruh

92

5.37%

Total

1712

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data: dari tabel diatas mayoritas penduduk belum bekerja dengan presentase
56,89%

Tabel 7. Distribusi frekuensi jumlah penduduk berdasarkan penghasilan dusun 1 12


di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

52

No.

Penghasilan

Frekuensi

Persentase

1.

Rendah

601

35.11%

2.

Menengah

978

57.13%

3.

Tinggi

133

7.77%

Total

1712

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas penduduk berpenghasilan menengah dengan


presentase 57,13%
Tabel 8. Distribusi frekuansi usia nikah ibu dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut
Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Usia Nikah Ibu

Frekuensi

Persentase

1.

< 20 tahun

601

35.11%

2.

20-35 tahun

978

57.13%

3.

> 35 tahun

133

7.77%

Total

1712

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa frekuensi usia nikah ibu lebih
bnayak pada usia 20-35 tahun dengan presentase 57,13%
Tabel 9. Distribusi anggota keluarga yang sakit berdasarkan jenis kelamin dan umur
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

No.
1.

Umur
Bayi (0-12 bulan)

Frekuensi
22

53

Persentase
5.77%

2.

Balita ( 1-4 tahun)

65

17.06%

3.

Anak anak ( 5-11 tahun)

59

15.49%

4.

Remaja awal ( 12-16 tahun)

19

4.99%

5.

Remaja akhir ( 17-25 tahun)

26

6.82%

6.

Dewasa awal (26-35 tahun)

38

9.97%

7.

Dewasa akhir ( 36-45 tahun

29

7.61%

8.

Lansia awal ( 46-55 tahun)

46

12.07%

9.

Lansia akhir ( 56-65 tahun)

49

12.86%

10.

Manula ( > 65 tahun)

29

7.61%

Total

381

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa anggota keluarga yang sakit lebih
banyak pada usia balita dengan presentase 17,06%
Tabel 10. Distribusi anggota keluarga yang sakit berdasarkan jenis penyakit dusun

12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

No.

Jenis Penyakit

Frekuensi

Persentase

1.

Menular

27

7.09%

2.

Tidak Menular

249

65.35%

Degenerative

105

27.56%

Total

381

100%

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa jenis penyakit yang dialami anggota
keluarga di dusun 1-12 tidak menular dengan presentase 65,35%

54

Tabel 11. Distribusi anggota keluarga yang sakit berdasarkan penanggulangannya


dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Penanggulangan

Frekuensi

Persentase

1.

Berobat

323

84.78%

2.

Tidak berobat

58

15.22%

Total

381

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa anggota keluarga yang sakit pergi
berobat dengan presentase 84,78%
Tabel 12. Distribusi alasan anggota keluarga yang sakit tidak berobat dusun 1 12 di
Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Alasan Tidak Berobat

Frekuensi

Persentase

1.

Ekonomi

44

75.86%

2.

Jarak pelayanan kesehatan

13.79%

3.

Ketidaktersediaan petugas kesehatan

3.45%

4.

Kepercayaan

6.90%

Total

58

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa alasan anggota keluarga yang tidak
berobat karena faktor ekonomi dengan presentase 75,86%
Tabel 13. Distribusi frekuansi jumlah KK berdasarkan Tipe keluarga dusun 1 12 di
Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.
1.

Tipe Keluarga
Nucleus family

55

Frekuensi

Persentase

1259

73.54%

2.

Extended family

266

15.54%

3.

Keluarga dyad

13

0.76%

4.

Single family

133

7.77%

5.

Single adult

0.47%

6.

Keluarga lansia

33

1.93%

7.

Commune family

8.

Tanpa ikatan darah

9.

Homo seksual

Total

1712

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa tipe keluarga di dusun 1-12 adalah
nucleus family dengan presentase 73,54%
Tabel 14. Distribusi frekuansi jumlah KK berdasarkan Tahap perkembangan keluarga
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Tipe Keluarga

Frekuensi

Persentase

1.

Pasangan Pemula/ Pasangan Baru Menikah

73

4.26%

2.

Tahap dengan kelahiran anak pertama

173

10.11%

3.

Tahap keluarga dengan anak pra sekolah

236

13.79%

4.

Tahap dengan anak usia sekolah

584

34.11%

5.

Tahap dengan melepas anak ke masyarakat

534

31.19%

6.

Tahap kelaurga dengan berdua kembali

89

5.20%

7.

Lainnya..

23

1.34%

8.

56

Total

1712

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa tahap perkembangan keluarga
masuk di tahap dengan usia anak sekolah dengan presentase 34,11%
Tabel 15. Distribusi frekuansi jumlah KK berdasarkan cara penyelesaian masalah
dalam keluarga dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015
No.

Tipe Keluarga

Frekuensi

Persentase

1.

Musyawarah

1483

86.62%

2.

Keputusan KK

215

12.56%

3.

Bantuan orang lain

12

0.70%

4.

Didiamkan

0.12%

Total

1712

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa penyelesaian masalah pada setiap
KK lebih mengarah ke musyawarah dengan presentase 86,62%
Tabel 16. Distribusi Frekuensi Aktivitas Rekreasi dusun 1 12 di Desa Percut Kec.
Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Jadwal Rekreasi

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

750

43.81%

2.

Tidak

962

56.19%

Total

1712

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

57

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa di setiap KK lebih banyak tidak
berekreasi dengan presentase 56,19%
Tabel 17. Distribusi Frekuensi Tempat Rekreasi dusun 1 12 di Desa Percut Kec.
Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Tempat Rekreasi

Frekuensi

Persentase

1.

Mall

74

9.87%

2.

Pantai

294

39.20%

Dll

382

50.93%

Total

750

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa setiap KK hanya menonton
tv,bercerita di rumah dengan presentase 50,93%
Tabel 18. Distribusi frekuansi Pola makan keluarga berdasarkan frekuensi makan
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Frekuensi Makan

1.

Baik

2.

Kurang
Total

Frekuensi

Persentase

1644

96.03%

68

3.97%

1712

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa frekuensi makan penduduk baik
dengan presentase 96,03%
Tabel 19. Distribusi frekuansi Pola makan keluarga berdasarkan penyajian makanan,
pengolahan beras, pengolahan sayur, penyimpanan makanan, pemilihan

58

bahan makanan dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015
No.

Pola Makan Keluarga

Frekuensi

Persentase

Penyajian Makan
1.

Baik

1141

66.65%

2.

Kurang

571

33.35%

Total

1712

Pengolahan beras
1.

Baik

471

27.51%

2.

Kurang

1241

72.49%

Total

1712

Pengolahan sayur
1.

Baik

495

28.91%

2.

Kurang

1217

71.09%

Total

1712

Penyimpanan makanan
1.

Baik

1100

64.25%

2.

Kurang

612

35.75%

Total

1712

Pemilihan bahan makanan


1.

Baik

1563

91.30%

2.

Kurang

149

8.70%

Total

1712

59

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa pola makan keluarga berdasarkan
penyajian makanan baik (66,65%),pengolahan beras kurang (72,49%), pengolahan
sayur kurang (71,09%), penyimpanan makanan baik (64,25%), dan pemilihan bahan
makanan baik (91,30%)
Tabel 20. Distribusi frekuensi kebiasaan sehari-hari keluarga berdasarkan pola
istirahat dan tidur, aktivitas keluarga, rekreasi dusun 1 12 di Desa Percut
Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Kebiasaan Sehari-Hari

Frekuensi

Persentase

Pola istirahat dan tidur


1.

Baik

1243

72.61%

2.

Kurang

469

27.39%

Total

1712

Aktivitas keluarga (Keluarga Sering Melakukan Olahraga)


1.

Baik

309

18.04%

2.

Kurang

1403

81.95%

Total

1712

Jenis Olahraga Yang Dilakukan


1

Lari Pagi

185

59.87%

Sepak Bola

15

4.85%

Tenis Meja

0.65%

Dll..

107

34.63%

Total

309

Rekreasi Bersama
1.

Baik

796

60

46.50%

2.

Kurang

916

Total

1712

53.50%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa kebiasaan setiap keluarga
berdasarakan pola istirahat dan tidur baik (72,61%), aktivitas keluarga kurang
(81,95%), jenis olahraga yang dilakukan lari pagi (59,87%), rekreasi bersama kurang
(53,50%)
Tabel 21. Distribusi frekuensi perumahan dan karakteristik rumah berdasarkan bentuk
bangunan rumah, lantai rumah, luas rumah, luas ventilasi rumah, atap rumah,
penerangan dan kebersihan rumah dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut
Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

No.

Perumahan Dan Karakteristik Rumah

Frekuensi

Persentase

Bentuk bangunan rumah


1.

Baik

1446

84.46%

2.

Kurang

266

15.54%

Total

1712

Lantai rumah
1.

Baik

1517

88.61%

2.

Kurang

195

11.39%

Total

1712

Luas rumah
1.

Baik

1365

79.73%

2.

Kurang

347

20.27%

Total

1712

61

Luas ventilasi rumah


1.

Baik

1252

73.13%

2.

Kurang

460

26.87%

Total

1712

Atap rumah
1.

Baik

1514

88.43%

2.

Kurang

198

11.57%

Total

1712

Penerangan rumah
1.

Baik

1363

79.61%

2.

Kurang

349

20.39%

Total

1712

Kebersihan rumah
1.

Baik

1100

64.25%

2.

Kurang

612

35.75%

Total

1712

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa karakteristik rumah berdasrakan
bentuk bangunan rumah baik (84,46%), lantai rumah baik (88,61%), luas rummah
baik (79,73%), luas ventilasi rumah baik (73,13%), atap rumah baik (88,43%),
penerangan rumah baik (79,61%), kebersihan rumah baik (64,25%)
Tabel 22. Distribusi frekuensi perumahan dan karakteristik rumah berdasarkan
komposisi ruangan rumah dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan
Kab. Deli Serdang 2015

62

No.

Komposisi ruangan rumah

Frekuensi

Persentase

1.

R. tamu

1523

88.96%

2.

R. makan

1269

74/12%

3.

R. tidur

1712

100%

4.

R. dapur

1712

100%

5.

K. mandi

1712

100%

Total
Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa karakteristik rumah berkomposisi
baik di dusun 1-12
Tabel 23. Distribusi frekuensi sumber air minum berdasarkan sumber air minum
keluarga, kecukupan persediaan air minum, kualitas air, pengolahan air
minum, dan jarak sumber air minum dusun 1 12 di Desa Percut Kec.
Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Sumber air minum

Frekuensi

Persentase

Memperoleh Air Minum


1.

Baik

1592

92.99%

2.

Kurang

120

7.01%

Total

1712

Persediaan air minum


1.

Baik

1610

94.04%

2.

Kurang

102

5.96%

Total

1712

Usaha Keluarga Mencukupi Air Minum


1.

Dibeli

1391

63

81.25%

2.

Mencari Mata Air

267

15.60%

Menampung air hujan

54

3.15%

Total

1712

Pengolahan air minum


1.

Baik

1583

92.46%

2.

Kurang

129

7.54%

Total

1712

Jarak sumber air minum


1.

Baik

1488

86.92%

2.

Kurang

224

13.08%

Total

1712

Kualitas air minum


1.

Baik

1493

87.21%

2.

Kurang

219

12.79%

Total

1712

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa sumber air minum keluarga
berdasarkan perolehan air minum baik (92,99%), persediaan minum baik (94,04%)
dan usaha keluarga mencukupi air minum dengan dibeli (81,25%), pengolahan air
minum baik (92,46%), jarak sumber air minum (86,92%), kualitas air minum baik
(87,21%)
Tabel 24. Distribusi Frekuensi Sarana Pembuangan Tinja KK dusun 1 12 di Desa
Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

No.

Sarana Pembuangan Tinja

Frekuensi

64

Persentase

Jenis Pembuangan Tinja


1

Baik

1566

91.47%

Kurang

146

8.53%

Total

1712

Kebiasaan Memelihara Jamban


1

Baik

1374

80.26%

Kurang

338

19.74%

Total

1712

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa jenis pembuangan tinja dan
kebiasaan memelihara jamban didusun 1-12 baik di desa percut
Tabel 25. Distribusi Frekuensi Pembuangan Sampah dan Limbah dusun 1 12 di
Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Sarana Pembuangan Tinja

Frekuensi

Persentase

Keluarga Membuang sampah


1

Baik

1478

86.33%

Kurang

234

13.67%

Total

1712

Pengelolaan Limbah
1

Baik

1409

82.30%

Kurang

303

17.70%

Total

1712

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth


Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

65

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa keluarga membuang sampah dan
pengelolaan limbah baik didusun 1-12 desa percut
Tabel 26. Distribusi Frekuensi Ternak dan Pemanfaatan Pekarangan Rumah dusun 1
12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Ternak dan Pemanfaatan Pekarangan Rumah

Frekuensi

Persentase

Cara Memelihara Ternak


1

Baik

604

71.56%

Kurang

240

28.44%

Total

844

Jarak Rumah Dengan Kandang Ternak


1

Baik

429

50.83%

Kurang

415

49.17%

Total

844

Keadaan Kandang Ternak


1

Baik

538

63.74%

Kurang

306

36.26%

Total

844

Keluarga Mempunyai Pekarangan


1

Baik

986

57.59%

Kurang

726

42.41%

Total

1712

Pemanfaatan Perkarangan
1

Baik

880

89.25%

Kurang

106

10.75%

66

Total

986

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ternak dan pemanfaatan pekarangan
di setiap KK baik
Tabel 27. Distribusi frekuensi pemanfaatan sarana kesehatan keluarga berdasarkan
fasilitas pelayanan kesehatan dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei
Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Pemanfaatan sarana kesehatan

Frekuensi

Persentase

keluarga
1.

Rumah sakit

198

12.01%

2.

Puskesmas/ Pustu

513

31.13%

3.

Praktek dokter

108

6.55%

4.

Praktek bidan

733

44.48%

5.

Polindes

0.42%

6.

Poskesdes

0.42%

7.

Posyandu

35

2.12%

8.

Tidak menggunakan

47

2.85%

1712

100%

Total
Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa penduduk memanfaatkan saran
kesehatan di praktek bidan dengan presentase 44,48%
Tabel 28. Distribusi frekuensi pemanfaatan sarana kesehatan keluarga berdasarkan
jarak dengan rumah dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab.
Deli Serdang 2015

67

No.

Jarak dengan rumah

Frekuensi

Persentase

1.

1-2 km

1412

82.48%

2.

> 2 km

300

17.52%

Total

1712

100%

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa jarak rumah dengan sarana
kesehatan adalah 1-2km
Tabel 29. Distribusi frekuensi perilaku yang merugikan kesehatan berdasarkan
perilaku merokok, penggunaan obat terlarang, konsumsi minuman keras,
perilaku seks menyimpang dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan
Kab. Deli Serdang 2015

No.

Perilaku

Frekuensi

Persentase

Kebiasaan Merokok
1.

Ya

1960

27.21%

2.

Tidak

5243

72.79%

Total

7203

Penggunaan obat terlarang


1.

Ya

2.

Tidak

7203

Total

7203

100%

Konsumsi minuman keras


1.

Ya

2.

Tidak

7203

Total

7203

Perilaku seks menyimpang

68

0%
100 %

1.

Ya

0%

2.

Tidak

7203

Total

7203

100 %

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa prilaku menyimpang kesehatan di
dusun 1-12 adalah merokok
Tabel 30. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan keluarga tentang DHF ,Diare
,TBC, ISPA, Dermatitis, Gizi Buruk, Stroke, Hipertensi ,DM, Anemia, AIDS
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Tingkat Pengetahuan

Frekuensi

Persentase

DHF
1.

Baik

1027

59,99%

2.

Kurang

685

40,01%

Total

1712

1.

Baik

1258

73,48%

2.

Kurang

454

26,52%

Total

1712

1.

Baik

815

47,61%

2.

Kurang

897

52,39%

Total

1712

1.

Baik

685

40,01%

2.

Kurang

1027

59,99%

Diare

TBC

ISPA

69

Total

1712

Dermatitis
1.

Baik

539

31,48%

2.

Kurang

1173

68,52%

Total

1712

Gizi Buruk
1.

Baik

883

51,58%

2.

Kurang

829

48,42%

Total

1712

1.

Baik

872

50,93%

2.

Kurang

840

49,07%

Total

1712

Stroke

Hipertensi
1.

Baik

1048

61,21%

2.

Kurang

664

38,79%

Total

1712

1.

Baik

864

50,47%

2.

Kurang

846

49,42%

Total

1712

DM

Anemia
1.

Baik

792

46,26%

2.

Kurang

920

53,74%

Total

1712

AIDS
70

1.

Baik

623

36,39%

2.

Kurang

1089

63,61%

Total

1712

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa keluarga di dusun 1-12 kurang
pengetahuan tentang penyakit DHF,diare,TBC,ISPA,dermatitis,gizi
buruk,stroke,hioertensi,DM,anemia,AIDS
Tabel 31. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kesehatan Remaja dusun 1 12 di Desa
Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Kesehatan Remaja

Frekuensi

Persentase

Informasi Pubertas
1.

Ya

1358

66,47%

2.

Tidak

685

33,53%

Total

2043

Pengetahuan Pubertas
1.

Ya

1508

73,81%

2.

Tidak

535

26,19%

Total

2043

Sumber Informasi Tentang NARKOBA


1.

Media Massa (Koran, Radio,

455

Majalah,dll)

22,27%

2.

Tenaga Kesehatan

352

17,23%

Sekolah

504

24,67%

Lingkungan

433

21,19%

71

Orang tua

299

Total

2043

14,64%

Pengetahuan dampak NARKOBA


1.

Ya

1312

64,22%

2.

Tidak

731

35,78%

Total

2043

Pendidikan SEKS
1.

Ya

1097

53,70%

2.

Tidak

946

46,30%

Total

2043

Informasi Tentang Pendidikan


1.

Media Massa (Koran, Radio,

472

Majalah,dll)

23,10%

2.

Tenaga Kesehatan

218

10,67%

Sekolah

650

31,82%

Lingkungan

232

11,36%

Orang tua

471

23,05%

Total

2043

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ada masyarakat yang kurang
mengetahui informasi tentang kesehatan remaja dan narkoba
Tabel 32. Distribusi frekuensi jumlah KK berdasarkan ibu hamil dusun 1 12 di Desa
Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Ibu Hamil

Frekuensi

Usia Kehamilan

72

Persentase

0-12 minggu

15

44,12%

13-27 minggu

14,71%

28-40 minggu

14

41,18%

Total

34

Jarak kelahiran anak sebelumnya dengan kehamilan saat ini


1.

< 2 tahun

16

47,06%

2.

2-3 tahun

11

32,35%

3.

> 3 tahun

20,59%

Total

34

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ada KK yang memiliki ibu hamil
dengan usia kehamilan 0-12 minggu dengan jarak kelahiran <2tahun
Tabel 33. Distribusi frekuensi jumlah kejadian ibu hamil berdasarkan tempat
pemeriksaan kehamilan dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan
Kab. Deli Serdang 2015

No.

Tempat pemeriksaan kehamilan saat

Frekuensi

Persentase

ini
1.

Rumah sakit

5,88%

2.

Puskesmas/ Posyandu

0,00%

3.

Praktek Dokter/ Bidan

31

91,18%

Dukun

0,00%

5.

Tidak periksa

2,94%

Total

34

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

73

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa tempat pemeriksaan kehamilan
tebanyak di praktek dokter/bidan
Tabel 34. Distribusi Frekuensi Tidak Melakukan Pemeriksaan Kehamilan dusun 1
12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Alasan Tidak Melakukan pemeriksaan kehamilan

1.

Tidak tahu

2.

Merasa tidak perlu

3.

Tempat jauh

4.

Tidak ada waktu

5.

Malas

6.

Dll..

Frekuensi

Total

Tabel 35. Distribusi frekuensi kejadian ibu hamil berdasarkan Melakukan


pemeriksaan kehamilan dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan
Kab. Deli Serdang 2015
No.

Alasan Melakukan pemeriksaan kehamilan

Frekuensi

Persentase

1.

Kesadaran Sendiri

19

55,88%

2.

Rutinitas

11,76%

3.

Anjuran Keluarga

11,76%

4.

Ada Keluhan

11,76%

5.

Dll..

8,82%

Total

34

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ibu hamil di dusun 1-12 memeriksa
kehamilan kerena kesadaran diri sendiri

74

Persentase

Tabel 36. Distribusi frekuensi kejadian ibu hamil berdasarkan perolehan imunisasi TT
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Memperoleh imunisasi TT

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

11

32,35%

2.

Tidak

23

67,65%

Total

34

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ibu hamil telah memperoleh TT
dengan presentase 67,65%

Tabel 37. Distribusi frekuensi ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT berdasarkan
jumlah perolehan imunisasi TT dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei
Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Jumlah perolehan imunisasi TT

Frekuensi

Persentase

1.

1 kali

27,27%

2.

2 kali

72,73%

3.

> 2 kali

0,00%

4.

Tidak tahu
11

100,00%

Total
Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa jumlah perolehan imunisasi TT
sebanyak 2x
Tabel 38. Distribusi Frekuensi Ibu Hamil Berdasarkan Pemeriksaan Penunjang dusun
1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

75

No.

Pemeriksaan Penunjang Kehamilan

Frekuensi

Persentase

1.

Hb

20

58,82%

2.

Protein Urin

14

41,18%

Total

34

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa pemeriksaan penunjang kehamilan
dilakukan ibu hamil di dusun 1-12
Tabel 39. Distribusi frekuensi jumlah keluarga yang Mengalami Faktor Resiko
kehamilan dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015

No.

Faktor Resiko Kehamilan

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

2,94%

2.

Tidak

33

97,06%

Total

34

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ibu hamil di dusun 1-12 tidak
mengalami resiko pada kehamilan
Tabel 40. Distribusi frekuensi jumlah keluarga berdasarkan Rencana Penolong
Persalinan dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015
No.

Rencana Penolong Persalinan

Frekuensi

Persentase

1.

Dokter

2,94%

2.

Bidan

33

97,06%

76

3.

Perawat

0,00%

4.

Dukun

0,00%

5.

Dlll

0,00%

Total

34

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ibu hamil di dusun 1-12 berencana
bersalin di bidan
Tabel 41. Distribusi frekuensi ibu hamil yang mempunyai Keluhan Selama kehamilan
saat ini dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang
2015

No.

Keluhan Selama kehamilan saat ini

Frekuensi

Persentase

Keluhan
1.

Ada

23

67,65%

2.

Tidak

11

32,35%

Total

34

100,00%

Keluhan Yang Dirasakan


1.

Mual Muntah

13

38,24%

2.

Mudah Lelah

17,65%

Susah BAB

2,94%

Pusing

11,76%

Sering Miksi

8,82%

Dll.

20,59%

Total

34

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

77

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ibu hamil di dusun 1-12 mengeluh
selama kehamilan dengan keluhan mual dan muntah
Tabel 42. Distribusi frekuensi ibu hamil yang mempunyai pantangan makanan selama
hamil dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang
2015
No.

Pantangan Makanan Selama kehamilan

Frekuensi

Persentase

1.

Ada

20,59%

2.

Tidak

27

79,41%

Total

34

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ibu hamil didusun 1-12 tidak ada
pantangan makanan selama kehamilan
Tabel 43. Distribusi frekuensi jumlah KK berdasarkan Penkes Yang Berhubungan
Dengan Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Balita dusun 1 12 di Desa Percut
Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Penkes

Frekuensi

Persentase

1.

Pernah

23

67,65%

2.

Tidak Pernah

11

32,35%

Total

34

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa setiap rata-rata ibu hamil di dusun 112 pernah mendapat pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan kehamilan

78

Tabel 44. Distribusi frekuensi jumlah KK berdasarkan Yang Pernah Mendapatkan


Penkes Yang Berhubungan Dengan Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Balita
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Penkes Yang Didapat

Frekuensi

Persentase

1.

Senam Hamil

10,00%

2.

ASI

15,00%

Kebersihan Diri

13

32,50%

Gizi Ibu Hamil

16

40,00%

Persi

2,50%

Total

40

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa pendidikan kesehatan yang
didapatkan adalah gizi ibu hamil
Tabel 45. Distribusi frekuensi jumlah KK berdasarkan kejadian nifas 40 hari dusun 1
12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Ibu nifas

Frekuensi

Persentase

Nifas Hari/ Minggu Ke


1.

0-10 hari

21

50,00%

2.

11-20 hari

2,38%

20-30 hari

18

42,86%

>31 hari

4,76%

Total

42

Kunjungan Ulang
1

Ya

11

26,19%

Tidak

31

73,81%

79

Total

42

Waktu Kunjungan Ulang


1

6 jam

0,00%

6 hari

36,36%

2 minggu

36,36%

6 minggu

27,27%

Total

11

Frekuensi Kunjungan
1

1-2 Kali

18,18%

3-4 kali

36,36%

5-6 kali

18,18%

>6 kali

27,27%

Total

11

Alasan Tidak Kunjungan Ulang


1

Tidak tahu

24

77,42%

Tidak perlu

9,68%

Tidak Ada biaya

9,68%

Tempat Yan-Kes jauh

3,23%

Total

31

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa frekuensi kunjungan ulang nifas 40
hari ada yang tidak melakukan kunjungan ulang sebanyak 73,81%
Tabel 46. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Cara Perawatan dusun 1 12 di Desa
Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

80

No.

Cara Perawatan

Frekuensi

Persentase

Perawatan Tali Pusat


1.

Tahu

12

57,14%

2.

Tidak tahu

42,86%

Total

21

Cara Memandikan Bayi


1.

Tahu

14

66,67%

2.

Tidak tahu

33,33%

Total

21

Perawatan Perenium
1.

Tahu

13

61,90%

2.

Tidak tahu

38,10%

Total

21

Keluhan Selama Masa Nifas


1.

Ada

11,90%

2.

Tidak ada

37

88,10%

Total

42

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa frekuensi berdasarakan cara
perawatan bayi baru lahir ada ibu yang tidak tahu cara melakukan perawatan tali
pusat,memandikan bayi,perawatan perineum.

Tabel 47. Distribusi Frekuensi jumlah ibu menyusui dusun 1 12 di Desa Percut Kec.
Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

81

No.

Ibu Menyusui

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

103

69,13%

2.

Tidak

46

30,87%

Total

149

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ada ibu tidak menyusui bayi
sebanyak 30,87%
Tabel 48. Distribusi frekuensi ibu Menyusui berdasarkan Alasan Yang Tidak
Menyusui dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015
No.

Alasan Yang Tidak Menyusui

Frekuensi

Persentase

1.

Bekerja

17,39%

2.

ASI Tidak lancer

33

80,43%

3.

Ibu hamil lagi

0,00%

4.

Payudara lecet/ bengkak

0,00%

5.

Ibu sakit dan tidak mau memberikan ASI

0,00%

Estetika

0,00%

Dll.

2,17%

Total

42

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ada ibu tidak menyusui dengan
alasan ASI tidak lancar 78,85%
Tabel 49. Distribusi frekuensi berdasarkan Pasangan Usia Subur dusun 1 12 di Desa
Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

82

No.

Pasangan Usia Subur

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

1156

67,52%

2.

Tidak

556

32,48%

Total

1712

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa PUS sebanyak 67,52%
Tabel 50. Distribusi frekuensi berdasarkan berdasarkan pernah mendapatkan
informasi KB dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015
No.

Pasangan Usia Subur

Frekuensi

Persentase

1111

91,44%

1.

Ya

2.

Tidak

45

8,56%

Total

1156

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa PUS mendapatkan informasi tentang
KB dengan presentase 91,44%
Tabel 51. Distribusi frekuensi berdasarkan sumber Informasi Alat/ Cara KB dusun 1
12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Sumber Informasi Pemakaian alat/cara

Frekuensi

Persentase

KB
1.

Dokter/ Bidan/Perawat

710

63,91%

2.

Tetangga

107

9,63%

Radio/TV/Buku/Majalah

156

14,04%

Dll.

138

12,42%

83

Total

1111

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa informasi alat/cara berKB
didapatkan dari dokter/bidan/perawat
Tabel 52. Distribusi frekuensi pasangan usia subur yang menggunakan alat KB dusun
1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Pasangan Usia Subur menggunakan KB

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

879

72,35%

2.

Tidak

156

12,84%

Drop-out

180

14,81%

Total

1215

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa PUS menggunakan alat KB
Tabel 53. Distribusi frekuensi pasangan usia subur yang menggunakan alat/cara KB
berdasarkan jenis alat/cara KB dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei
Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Jenis alat/cara KB

Frekuensi

Persentase

147

16,80%

1.

Sanggama terputus

2.

Pantang berkala/kalender

0,20%

3.

MAL

1,00%

4.

Diafragma/intravag

0,00%

5.

Kondom

0,20%

6.

Suntikan

400

47,00%

7.

Pil

227

26,00%

84

8.

AKBK

39

4,50%

9.

AKDR

19

3,00%

10.

Sterilisasi wanita

1,00%

11.

Sterilisasi pria

0,30%

879

100,00%

Total
Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa cara berKB yang digunakan di
dusun 1-12 adalah cara suntikan hormone
Tabel 54. Distribusi Frekuensi Pasangan Usia Subur Berdasarkan Keluhan
Penggunaan KB dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015
No.

Keluhan Penggunaan KB

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

194

22,07%

2.

Tidak

685

77,93%

Total

879

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa pada PUS tidak ada keluhan dalam
mengguanakan KB
Tabel 55. Distribusi frekuensi pasangan usia subur yang pernah menggunakan
alat/cara KB berdasarkan alasan utama tidak menggunakan KB/ Berhenti
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Alasan utama berhenti KB

Frekuensi

Persentase

1.

Tidak cocok

22

12,22%

2.

Efek samping

17

9,44%

85

3.

Ingin hamil lagi

68

37,78%

4.

Kurang informasi

15

8,33%

5.

Dll.

58

32,22%

Total

180

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa PUS berhenti menggunakan KB
karena ingin hamil lagi
Tabel 56. Distribusi frekuensi jumlah bayi 0-12 bulan berdasarkan kepemilikan
KIA/KMS dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015
No.

Kepemilikan KIA/KMS

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

100

67,11%

2.

Tidak

49

32,89%

Total

149

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ada bayi yang tidak memiliki KIA
Tabel 57. Distribusi frekuensi jumlah bayi 0-12 bulan berdasarkan status imunisasi
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Status imunisasi

Frekuensi

Persentase

1.

Lengkap

56

37.58%

2.

Tidak lengkap

38

25,50%

3.

Tidak memperoleh imunisasi

4,70%

4.

Tidak ada catatan imunisasi

5,37%

5.

Belum lengkap

40

26,84%

86

Total

149

100,00%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ada bayi 0-12 bulan yang tidak
lengkap imunisasi
Tabel 58. Distribusi frekuensi jumlah bayi 1- < 5 tahun bulan berdasarkan
kepemilikan KIA/KMS dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan
Kab. Deli Serdang 2015
No.

Kepemilikan KIA/KMS

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

290

56.64%

2.

Tidak

222

43.36%

Total

512

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ada bayi 1-5 tahun tidak memiliki
KIA
Tabel 59. Distribusi frekuensi jumlah bayi 1-< 5 tahun berdasarkan status imunisasi
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Status imunisasi

Frekuensi

Persentase

1.

Lengkap

272

53.13%

2.

Tidak lengkap

176

34.38%

3.

Tidak memperoleh imunisasi

30

5.86%

4.

Tidak ada catatan imunisasi

34

6.64%

Total

512

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

87

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ada bayi 1-5 tahun tidak lengkap
imunisasi
Tabel 60. Distribusi frekuensi jumlah bayi yang tidak memperoleh
imunisasi/imunisasi tidak lengkap berdasarkan alasan dusun 1 12 di Desa
Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Alasan

Frekuensi

Persentase

1.

Pelayanan kesehatan jauh

20

36.36%

2.

Biaya

18

32.73%

3.

Lupa

13

23.64%

4.

Dilarang keluarga

333

98,37%%

5.

Kepercayaan

3.64%

6.

Vaksin tidak tersedia

3.64%

7.

lainnya

273

41,30%

Total

661

100%

Sumber mahasiswa stikes st. elisabeth

Analisa data : dari tabel diatas ditemukan bahwa ada bayi yang tidak imunisasi karena
dilarang keluarga
Tabel 61. Distribusi frekuensi jumlah bayi 0-12 bulan berdasarkan perolehan ASI
Eksklusif dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015

No.

Memperoleh ASI

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

134

89.93%

2.

Tidak

15

10.07%

88

Total

149

100%

Tabel 62. Distribusi frekeunsi ibu yang menyusui bayi berdasarkan tindakan
memberikan kolostrum dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan
Kab. Deli Serdang 2015
No.

Kolostrum

Frekuensi

Persentase

1.

Ya

132

88.59%

2.

Tidak

4.70%

Total

149

100%

Tabel 63. Distribusi frekuensi ibu menyusui berdasarkan Waktu Pemberian Menyusui
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Waktu Pemberian ASI

Frekuensi

Persentase

1.

Setiap menangis

63

47.73%

2.

Setiap 3 jam

33

25.00%

3.

Malam Hari saja

0.00%

Setiap saat

36

27.27%

Total

132

100%

Tabel 64. Distribusi frekuensi Ibu menyusui berdasarkan rencana lama menyusui
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Rencana Lama Menyusui

Frekuensi

Persentase

1.

6 Bulan

57

43.18%

2.

> 6 bulan

75

56.82%

89

Total

132

100%

Tabel 65. Distribudsi Frekuensi Ibu Menyusui Berdasrakan Alasan < 6 bulan
Menyusui dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang 2015
No.

Alasan < 6 bulan Menyusui

Frekuensi

Persentase

Ibu sakit

4.88%

Ibu bekerja

26

63.41%

Ibu hamil lagi

0.00%

ASI tidak ada

11

26.83%

Sudah waktunya

4.88%

Total

41

100%

Tabel 66. Distribusi Frekuensi Ibu Menyusui Berdasarkan Perawatan Payudara dusun
1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.

Perawatan Payudara

Frekuensi

Persentase

Ya

107

71.81%

Tidak

42

28.19%

Total

149

100%

Tabel 67. Distribusi Frekuensi Anak Tidak Diberi ASI Berdasarkan ASI pengganti
dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
No.
1

ASI Pengganti

Frekuensi

Susu Formula khusus bayi

11

90

Persentase
73.33%

Air Tajin

20.00%

Teh manis

0.00%

Susu Kental manis

0.00%

Air putih

0.00%

Bubur saring/ Milna

6.67%

Total

15

100%

Tabel 68. Distribusi frekuensi Keluarga berdasarkan Aspek Lansia dusun 1 12 di


Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015

No.

Aspek Lansia

Frekuensi

Persentase

Anggota Keluarga Yang Lansia


1.

Ya

1062

15.12%

2.

Tidak

5961

84.88%

Total

7023

100%

Aktifitas Lansia
1.

Mandiri

898

84.56%

2.

Dibantu

164

15.44%

Total

1062

100%

Pelayanan Kesehatan Lansia


1.

Baik

815

76.74%

2.

Kurang

247

23.26%

Total

1062

100%

Jenis Penyakit Lansia

91

1.

DM

80

7.53%

2.

Hipertensi

154

14.50%

Stroke

78

7.34%

Jantung

115

10.83%

Osteoporosis

124

11.68%

Dll..

511

48.12%

Total

1062

100%

Tabel 69. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Data Unit Kesehatan


Masyarakat (UKBM) dusun 1 12 di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab.
Deli Serdang 2015
No.

UKBM

Frekuensi

Persentase

Keluarga Anggota JPKM/ BPJS/ Dana Sehat/ Asuransi


1.

Ya

2862

40.75%

2.

Tidak

4161

59.25%

Total

7023

100%

Bentuk Fasilitas Kesehatan Berbasis Masyarakat


1.

Posyandu

573

33.47%

2.

Polindes

119

6.95%

Poskesdes

362

21.14%

Dll

658

38.43%

Total

1712

100%

1712

100%

Anggota Keluarga Yang Menjadi Donor darah Berjalan


1.

Ya

2.

Tidak

92

Total

1712

100%

Ambulance Desa
1.

Ya

2.

Tidak

1712

100%

Total

1712

100%

93

3.1 Analisa Data


No
1

Data

Penyebab

Masalah

Data Subjektif : ada ibu mengatakan bahwa bayi nya tidak di

Rendahnya cakupan

Kurang pengetahuan

imunisasi karena larangan keluarga

imunisasi pada bayi dan

tentang imunisasi

Data Objektif :

balita

jumlah bayi dan balita 661 orang


- Presentasi bayi tidak lengkap imunisasi 25,50%
- Presentasi balita tidak imunisasi 34.38%
DS :

factor lingkungan

Resiko terjadinya cedera

- Jumlah lansia 1246 orang dengan persentase 17,29%


- Lingkungan rumah yang kurang bersih 35,75%
- Pengelolaan limbah yang kurang 17,70%
- Rumah yang memiliki pekarangan 57,59%
- Keluarga yang kirang memanfaatkan pekarangan 10,75%
DS :ada keluarga mengatakan yang kurang mengerti tentang

Rendahnya pengetahuan

Resiko terjadinya penyakit

penyebab,gejala dari berbagai penyakit

tentang penyakit (DHF,

DO : persentase kurang pengetahuan

chikungunya,malaria,TBC,

Ada sebagian masyarakat yang merasa terganggu dengan


lingkungan yang becek dan saluran pembuangan yang
tersumbat

DO :

DHF 40,01%
TBC 52,39%
ISPA 59,99%
Dermatitis 68,52%
Gizi buruk 48,42%
Stroke 49,07%
Hipertensi 38,79%

ISPA, Dermatitis, Gizi buruk,


Hipertensi, DM, Anemia,
AIDS)

94

DS :
-

DM 49,42%
Anemia 53,74%
AIDS 63,61%
Ada remaja yang tidak tahu tentang dampak dari narkoba

Resiko terjadinya prilaku

remaja tentang kesehatan

menyimpang

remaja

DO :
-

Rendahnya pengetahuan

tidak mendapat informasi : 33,53%


tidak mengetahui pubertas 26,19%
tidak mengetahui dampak narkoba 35,78%
tidak mendapatkan pendidikan seks 46,30%
setiap malam ada remaja yang kumpul-kumpul bermain
judi sambil merokok

DS :
-

Ada ibu yang mengatakan tidak perlu diimunisasi TT

Resiko terjadinya infeksi

imunisasi TT pada ibu hamil

pada ibu dan anak dalam


kandungan

karena anak sebelumnya sehat-sehat saja.


DO :
-

Rendahnya pemberian

Tidak memperoleh imunisasi TT 67,65%

95

3.3 Prioritas Masalah Desa/ Dusun


Dalam menentukan masalah kesehatan masyarakat dusun 1- 12 Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang penulis
mengaplikasikan teori menurut Bayllon (2013) yang dipaparkan pada tabel berikut :
Tabel 70. Penentuan prioritas masalah masyarakat dusun 1 -12 Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang 2015
Masalah
Rendahnya

Perhatian

Poin

Tingkat

Kemungkinan Untuk

Masyarakat

Prevalence

Keparahan

dicegah

++++

++++

+++

++++

++++

++++

Total

Prioritas

+++

144

+++

64

II

cakupan
imunisasi

pada

bayi dan balita


Resiko terjadinya
cedera
berhubungan
dengan

factor

96

lingkungan
Rendahnya

++

++

+++

+++

36

III

++

+++

+++

18

IV

++

++++

++

16

pengetahuan
tentang penyakit
(DHF,TBC,Anem
ia,AIDS)
Rendahnya
pengetahuan
remaja

tentang

kesehatan remaja
Rendahnya
pemberian
imunisasi TT
pada ibu hamil

97

3.5

Rencana Keperawatan
Dalam menentukan penanggulangan masalah kesehatan masyarakat dusun 1 12 Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli

Serdang dimana penulis menggunakan rancangan/desain tindakan dalam solusi penanggulangan masalah yang dipaparkan dengan
sisitem/ komponen dibawah ini :
Masalah kesehatan
Kurang pengetahuan

Tujuan
Setelah

Sasaran
Ibu yang

Waktu / tempat
Materi
9 Des 2015 /
Memberikan

Pelaksana
Mahasiswa

tentang imunisasi

dilakukan

memiliki

dusun IX

penyuluhan

mengikuti

berhubungan dengan

penyuluhan 1x

bayi 0-12

10.00 WIB s/d

tentang

penyuluhan

rendahnya cakupan

diharapkam

bulan dan

selesai

imunisasi dan

dapat

imunisasi pada bayi dan

masyarakat

balita 1- <5

pijat bayi

memahami

balita

mengerti

tahun

Evaluasi
Peserta
yang

pentingnya

tentang

imunisasi

imunisasi

terhadap
kesehatan bayi
-

dan balita
Orang

tua

tampak antusias
dalam bertanya
dan mengikuti
Resiko terjadinya cedera

Setelah

Semua lansia

9-10 Des

Memberikan

Mahasiswa

berhubungan dengan factor

dilakukan

di dusun I-

2015 / dusun

penyuluhan

DIII

98

kegiatan
Peserta
mengikuti

yang

lingkungan

penyuluhan 1x

XII

VIII-XII

tentang

diharapkan

10.00 WIB s.d

cedera fisik

dapat

masyarakat

selesai

dan luka

memahami dan

bakar

mempraktekkan

dapat

Keperawatan

penyuluhan

mengurangi

tentang

resiko cedera

Semua warga

9 Des

Melakukan

Mahasiswa

pertolongan

dengan baik

dusun I-XII

2015/dusun I-

gotong

DIII

pertama

XII pukul

royong

Keperawatan

dan benar di
dusun I-XII

08.000s.d

dan

selesai

Kebidananan

pada

cedera fisik
Warga tampak
kurang antusias
dapat mengikuti
kegiatan gotong
royong dengan

Resiko terjadinya penyakit

Setelah

Seluruh

10 Des 2015 /

Penyuluhan

berhubungan dengan

dilakukan

masyarakat

dusun XI dan

tentang DHF,

dapat mengerti

rendahnya pengetahuan

penyuluhan 1x

dusun I-XII

XII

DM,

tentang

tentang penyakit (DHF,

masyarakat

09.00 WIB s.d

chikungunya,

penyuluhan

TBC, ISPA, Dermatitis,

diharapkan

selesai

malaria,hiper

yang

Gizi buruk, Hipertensi, DM, mengerti


Anemia, AIDS)

Mahasiswa

baik dan benar


Masyarakat

tensi, AIDS,

tentang

dan gizi

penyakit

buruk

disampaikan
Masyarakat
tampak antusias
dalam bertanya

99

dan
Mahasiswa

menjawab

pertanyaan
Remaja dapat

Resiko terjadinya prilaku

Setelah

Remaja

9 Des 2015/

Penyuluhan

menyimpang berhubungan

dilakukan

dusun VIII-

dusun XI

tentang

mengerti

dengan Rendahnya

penyuluhan 1x

XII

16.00 WIB s.d

narkoba dan

tentang narkoba

pengetahuan remaja tentang

remaja

selesai

kesehatan

dan

kesehatan remaja

diharapkan

reproduksi

penyalahgunaan

mengerti
-

tentang

bahaya

narkoba
Remaja

dapat

mengerti

kesehatan

tentang

remaja

kesehatan
-

reproduksi
Remaja tampak
antusias

Resiko terjadinya infeksi

Setelah

pada ibu dan anak dalam

Ibu hamil

Mahasiswa

dalam

bertanya
Para ibu hamil

10 Des 2015 /

Penyuluhan

dilakukan

dusun XII

kesehatan

dapat mengerti

kandungan berhubungan

penyuluhan

10.00 WIB s.d

tentang

tentang

dengan rendahnya

tentang

selesai

imunisasi TT

pemberian imunisasi TT

imunisasi TT

imunisasi TT
Ibu
hamil

pada ibu hamil

diharapkan

tampak antusias
dalam bertanya

ibu-ibu

dan

mengerti
100

menjawab

tentang

pertanyaan

imunisasi TT
dan terhindar
dari resiko
infeksi

3.6 Implementasi dan evaluasi

101

Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan komunitas ( masyarakat, kelompok khusus, keluarga ) dilakukan sesuai dengan apa
yang sudah direncanakan tergantung dalam masalah/ kondisi masyarakat dusun 1 12 Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab.
Deli Serdang yang dilakukan pada tanggal 3- 11 Desember 2015
Tanggal/

No.

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Jam
09-12-

DX
1

1. Memberikan penyuluhan tentang imunisasi dan

S:

2015

pijat bayi di dusun IX oleh mahasiswa DIII

Ada ibu yang mengatakan sudah mengetahui efek

10.00

Keperawatan pada Ibu yang memiliki bayi 0-12

samping imunisasi dan tidak takut lagi membawa

10-12-

bulan, yang diikuti oleh 9 orang bayi dan ibunya,

bayinya imunisasi.

2015
09.00

Ada ibu yang mengatakan takut membawa


bayinya imunisasi karena setelah imunisasi bayi
demam dan rewel.

Ada ibu yang mengatakan baru mengetahui manfaat


pijat bayi setelah mengikuti penyuluhan.
Ada ibu yang mengatakan akan rutin melakukan
pijat bayi di rumah.

Ada ibu yang mengatakan anaknya sehat-sehat

O:

saja tanpa diimunisasi.

Ibu-ibu tampak antusias mengikuti penyuluhan


dengan bertanya dan mengungkapkan pengalaman

2. Memeberikan penyuluhan tentang pijat bayi,

tentang imunisasi.

imunisasi di dusun I-VII yang diselenggarakan

Ada ibu yang melakukan simulasi pijat bayi pada

didusun IV oleh mahasiswa DIII Kebidanan pada

bayinya.

ibu yang memiliki bayi 0-12 bulan, yang diikuti

A:

oleh 15 orang bayi dan ibunya.

Masalah kurang pengetahuan tentang imunisasi


teratasi.
102

P:
Kolaborasi dengan petugas kader Puskesmas
memantau pelaksanaan imunisasi.

3 /11-

1. Melakukan gotongroyong di dusun I-XII oleh

2015
10.00

mahasiswa DIII Keperawatan dan kebidanan yang


diikuti oleh warga dan mahasiswa
2. Masyarakat kurang merespon kegiatan dan tidak
aktif pada saat kegiatan gotongroyong

10/12-

Ada lansia dan warga yang baru mengerti tentang


penanganan dan mempraktekkan cedera fisik dan
luka bakar
O:

2015
17.00

S:

Lansia dan warga tampak antusias mengikuti


3. Memberikan penyuluhan tentang penanganan dan
mempraktekkan cedera fisik dan luka bakar
yang dilakukan didusun XI oleh mahasiswa DIII
Keperawatan diikuti oleh 30 orang warga dusun

penyuluhan dengan bertanya.


Terlihat warga yang antusias ikut setra dalam
kegiatan gotong royong
A:
Masalah tentang resiko cedera fisik dan lingkungan
yang sehat sudah teratasi

4. Melakukan senam lansia di dusun VIII oleh


mahasiswa DIII Keperawatan yang diikuti oleh 8
orang lansia.

5.
103

P:
Kolaborasi dengan kader, kepala desa

10-12

1. Memberikan penyuluhan tentang DHF,

S:

-2015

chikungunya, malaria,DM, hipertensi, AIDS, yang

Ada sebagian masyarakat mulai paham tentang

09.00

dilakukan oleh DIII Keperawatan di dusun XI dan

penyakit dan cara penularan penyakit.

11-12-

XII yang diikuti oleh masyarakat dusun XI dan

O:

2015

XII.

Masyarakat tampak antusias mengikuti penyuluhan

10.00

2. Melakukan penyuluhan tentang PHBS yang


dilakuan oleh DIII Kebidanan di dusun I -VII

Masyarakat tampak aktif bertanya


A:
Masalah kurang pengetahuan tentang penyakit
teratasi
P:
Kolaborasi dengan kepala dusun dan petugas
Puskesmas dalam melanjutkan intervensi

9-12

Memberikan penyuluhan tentang narkoba dan kesehatan

S:

-2015

reproduksi yang dilakukan oleh DIII Keperawatan di

Ada sebagian remaja belum mengetahui tentang

16.00

dusun XI di ikuti oleh remaja dusun VIII XII dengan

kesehatan reproduksi

jumlah remaja 27 orang.

O:
Remaja tampak antusias mendengarkan dan
mengikuti kegiatan penyuluhan
A:
Masalah resiko terjadinya perilaku menyimpang
pada remaja sebagian teratasi
104

P:
Kolaborasi dengan petugas Puskesmas dalam
Memberikan penyuluhan kesehatan tentang imunisasi TT

melanjutkan implementasi
S:

2015

yang dilakukan oleh DIII Keperawatan di dusun XII di

Ada ibu yang mengatakan sudah paham manfaat

10.00

ikuti oleh ibu hamil dengan 12 orang dari dusun VIII

imunisasi TT dan efek samping jika tidak

sampai XII.

melakukan imunisasi TT

10-12-

O:
Ibu-ibu tampak antusias mengikuti penyuluhan
A:
Masalah sebagian teratasi
P:
Kolaborasi dengan petugas Puskesmas dalam
melanjutkan implementasi

105

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Kurang pengetahuan tentang imunisasi berhubungan dengan rendahnya
cakupan imunisasi pada bayi dan balita
2. Resiko terjadinya cedera fisik berhubungan dengan fakto lingkungan
3. Resiko terjadinya penyakit berhubungan dengan rendahnya pengetahuan
tentang penyakit (DHF,TBC,ISPA,Dermatitis,Gizi
buruk,Hipertensi,DM,Anemia,AIDS)
4. Resiko terjadinya prilaku menyimpang berhubungan dengan Rendahnya
pengetahuan remaja tentang kesehatan remaja
5. Resiko terjadinya infeksi pada ibu dan anak dalam kandungan berhubungan
dengan rendahnya pemberian imunisasi TT pada ibu hamil

106

BAB 4
PEMBAHASAN
Praktik keperawatan keluarga dan komunitas di desa Percut Kecamatan Percut Sei
Tuan Kabupaten Deli Serdang yang dilaksanakan oleh Mahasiswa Program Studi
DIII Keperawatan STIKes Santa Elisabeth Medan adalah salah satu program untuk
mengaplikasikan konsep keperawatan komunitas dengan menggunakan proses
keperawatan komunitas sebagai dasar ilmiah yang dilakukan pada tanggal 1-12
Desember 2015.
Berikut ini pembahasan yang akan diuraikan berkisar tentang praktik keperawatan
komunitas; keluarga dan puskesmas.
4.1 Praktik Klinik Keperawatan Komunitas
Praktik klinik keperawatan komunitas diawali dengan persiapan dari kampus sampai
dengan pelaksanaan di lapangan. Pada tahap persiapan dilakukan pembekalan dari
pembimbing profesi keperawatan komunitas tentang mekanisme perijinan praktik dan
peraturan praktik, dan untuk selanjutnya dilakukan proses persiapan yang lebih
intensif oleh mahasiswa sendiri. Kendala yang kami hadapi adalah ternyata
pembekalan yang diterima masih belum optimal dapat dimanfaatkan pada tatanan
lapangan, sehingga terdapat perubahan-perubahan dan pemunculan srategi-strategi
baru dari mahasiswa untuk dapat memanifestasikan konsep keperawatan kesehatan
masyarakat secara lebih nyata.
4.1.1 Pengkajian
Pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data kesehatan komunitas yang diinginkan.
Pada pengkajian ini dilakukan pengumpulan data kesehatan komunitas dengan
menggunakan tehnik wawancara dan observasi. Setelah format pengkajian siap, maka
mahasiswa langsung menyebar ke rumah-rumah warga di desa Percut Kecamatan
Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Dari pengumpulan data didapatkan bahwa
108

mayoritas warga merupakan warga asli melayu, mayoritas dari warga bekerja pagi sore hari.
Hal tersebut merupakan kendala terutama untuk mengumpulkan warga saat dilakukan
kegiatan, namun berkat bantuan dari aparat dan Tokoh di desa percut, dan model
pendekatan secara persuasif dengan mengikuti kebiasaan warga, maka permasalahan
tersebut dapat diatasi.
Respon yang diberikan warga didesa Percut sangat positif, dibuktikan dengan
perhatian dari warga terhadap keberadaan mahasiswa beserta program-programnya,
sehingga keseluruhan proses pengumpulan data dapat dilaksanakan dengan baik.
Strategi yang digunakan saat pengumpulan data adalah kerjasama dengan aparat serta
tokoh-tokoh masyarakat desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli
Serdang dan melakukan program turun ke lapangan sehingga keberadaan mahasiswa
membaur dengan warga.
Dari pengkajian didapatkan beberapa masalah kesehatan yang dirasakan masyarakat,
meliputi:
1. Kurang pengetahuan tentang imunisasi
2. Resiko terjadinya cedera fisik
3. Resiko terjadinya penyakit (DHF, TBC, ISPA, Dermatitis, Giziburuk,
Hipertensi, DM, Anemia, AIDS)
4. Resiko terjadinya prilaku menyimpang pada remaja
5. Resiko terjadinya infeksi pada ibu dan anak dalam kandungan terhadap
rendahnya pemberian imunisasi TT pada ibu hamil
Dari lima masalah yang ditemukan mahasiswa, maka dikembalikan kepada
masyarakat untuk dianalisa lebih lanjut. Perumusan masalah antara mahasiswa dan
warga mengalami kesulitan, karena masyarakat kurang menyadari pentingnya
kesehatan dalam hidup mereka dan terdapat sedikit masalah dalam hal ketepatan

110

waktu yang sedianya dilaksanakan tepat pukul 07.00 17.00 WIB padahal seluruh
masyarakat mayoritas bekerja dan ada dirumah sewaktu malam hari.
4.1.2 Penentuan Prioritas Masalah
Melalui analisa masalah, maka setelah dirumuskan permasalahan kesehatan warga
dilakukan penentuan prioritas masalah atas dasar urgensitas dari masalah.
Berdasarkan Musyawarah Masyarakat Desa yang dilaksanakan pada hari selasa
tanggal 8 desember 2015 dan, maka ditentukan prioritas masalah kesehatan sebagai
berikut:
1. Kurang pengetahuan tentang imunisasi
2. Resiko terjadinya cidera fisik
3. Resiko terjadinya penyakit (DHF, TBC, ISPA, Dermatitis, Giziburuk,
Hipertensi, DM, Anemia, AIDS)
4. Resiko terjadinya prilaku menyimpang pada remaja
5. Resiko terjadinya infeksi pada ibu dan anak dalam kandungan terhadap
rendahnya pemberian imunisasi TT pada ibu hamil
Penentuan prioritas masalah ini menemukan kesulitan, hal ini dikarenakan warga
kurang memahami pentingnya kesehatan dan partisipasi kurang aktif saat
dilaksanakan musyawarah masyarakat desa. Kegiatan dapat dikatakan berhasil 80%
meskipun tidak dihadiri oleh kepala Puskesmas Tanjung Rejo.
4.1.3 Perencanaan
Rencana kegiatan yang berhubungan dengan permasalahan kesehatan dapat
disepakati saat MMD disusun berdasarkan diskusi yang dilakukan mahasiswa dengan
setiap kepala dusun. Adapun kegiatan-kegiatan yang disepakati oleh mahasiswa
dengan masyarakat antara lain:
1. Kurang pengetahuan tentang imunisasi
112

a.

Penyuluhan tentang iunisasi


2. Resiko terjadinya cidera
a. Kegiatan gotong royong
b. Penyuluhan tentang cidera fisik dan trauma tulang
c. Senam Lansia
3. Resiko terjadinya penyakit (DHF, TBC, ISPA, Dermatitis, Giziburuk,
Hipertensi, DM, Anemia, AIDS)

a.

Penyuluhan tentang DHF, DM, hipertensi, AIDS, dan gizi buruk


4. Resiko terjadinya prilaku menyimpang pada remaja

a.

Penyuluhan tentang narkoba dan kesehatan reproduksi


5. Resiko terjadinya infeksi pada ibu dan anak dalam kandungan terhadap
rendahnya pemberian imunisasi TT pada ibu hamil

a.

Penyuluhan kesehatan tentang imunisasi TT

4.1.4 Implementasi

114

Pelaksanaan rencana tindakan mulai dilaksanakan pada tanggal 9-11 Desember 2015
dengan metode melibatkan masyarakat secara aktif dimotori oleh mahasiswa dan para
tokoh masyarakat Desa Percut. Hanya pada kegiatan penyuluhan, dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan dari mahasiswa yang ditunjuk.
Selain melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, mahasiswa juga melakukan beberapa
kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kesehatan masyarakat Desa Percut,
yaitu :
1.
2.
3.
4.

Melakukan gotong royong di dusun 1-12 di desa Percut


Penyuluhan Cara mencuci tangan dan Gosok gigi di SD HKBP Desa Percut.
Melakukan senam lansia di dusun VIII desa percut.
Melakukan penyuluhan pertolongan pertama pada luka bakar dan fraktur di
dusun 12 desa Percut.
Secara umum kegiatan yang direncanakan dapat dikatakan berhasil (80%),
penilaian tersebut didapatkan saat evaluasi respon positif dan antusiasme
masyarakat terhadap berbagai kegiatan yang direncanakan meskipun masih
ada masyarakat yang tidak hadir.

Penulis tidak melakukan pelaksanaan pemberian pendidikan kesehatan kepada 1 KK


di dusun 8 yang mengalami gizi buruk dikarenakan keterbatasan waktu yang tersedia.
Namun penulis telah bekerja sama dengan Puskesmas Tanjung Rejo agar tim
Puskesmas melakukan penyuluhan kesehatan di bidang peningkatan gizi kepada
masyarakat serta mengajak masyarakat berperan aktif ( dokter kecil, dokter remaja )
4.1.5 Evaluasi
Kegiatan evaluasi dilaksanakan secara bertahap dan setiap malam yang dilakukan
oleh mahasiswa dengan mahasiwa untuk mengevaluasi kegiatan harian dan
mematangkan rencana yang akan dilaksanakan keesokan harinya., Selain itu evaluasi
juga dilakukan bersama warga, tokoh masyarakat desa Percut, perangkat desa dan
kepala desa Percut, bida desa dan Kepala Puskesmas Tanjung Rejo serta para dosen
pembimbing praktik keperawatan Keluarga dan Komunitas.

116

Dari sudut pandang mahasiswa kegiatan praktik klinik keperawatan komunitas dan
keluarga dikatakan berhasil dengan bukti antusiasme dan respon positif warga desa
Percut senang dengan program-program kami dan berdampak terjadinya perubahan
pengetahuan warga tentang kesehatan.
4.2 Praktik Klinik Keperawatan Keluarga
Pendekatan yang digunakan mahasiswa dalam melaksanakan praktik klinik
keperawatan keluarga adalah problem solving approach (pendekatan menggunakan
model pemecahan masalah) sehingga antusiasme keluarga sangat tinggi untuk
menerima mahasiswa sebagai pembina kesehatan dalam keluarganya.
Rata-rata dalam waktu singkat mahasiswa mampu menyelesaikan tugas perawatan
keluarga sesuai dengan tujuan, yaitu sampai mampu melakukan evaluasi. Namun
terdapat kendala diantaranya pembagian dosen pembimbing untuk dilakukan
supervisi minimal 3 kali masih belum berjalan secara optimal. Kami menyadari dan
memaklumi tentang keberadaan hal tersebut.
4.3 Praktik Klinik di Puskesmas
Kegiatan praktik yang dilakukan mahsiswa dapat berjalan dengan baik berkat bantuan
dan kerjasama yang kondusif antara mahasiswa dengan staf Puskesmas Tanjung Rejo.
Tapi ada Kendala karena kurangnya masyarakat yang berobat danmelakukan
pemeriksaan di Puskesmas
Dari 2 minggu pratktek klinik di Puskesmas, tiap mahasiswa hanya mendapatkan
jatah 2 kali praktek di Puskesmas, hal ini menyebabkan kurangnya kesempatan bagi
mahasiswa untuk mengasah skillnya di lapangan. Tapi walaupun hanya mendapat
jatah 2 kali praktek di puskesmas, mahasiswa mendapat banyak masukan dan arahan
yang diberikan pembimbing Puskesmas dan staf bagi peningkatan wawasan
mahasiswa.

BAB 5

118

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Praktik keperawatan keluarga dan komunitas di Desa percut kecamatan percut
sei tuan kabupaten

deli serdang yang dilaksanakan oleh Mahasiswa D-III

Keperawatan dan Kebidanan STIKes Elisabeth Medan untuk mengaplikasikan


konsep keperawatan komunitas dengan menggunakan proses keperawatan komunitas
sebagai dasar ilmiah.
Terdapat 3 kegiatan yang dilakukan dalam praktik klinik keperawatan
komunitas, yaitu praktik klinik keperawatan komunitas itu sendiri, praktik klinik
keperawatan keluarga dan praktik klinik di Puskesmas. Pelaksanaan ketiga praktik
klinik tersebut tidak meninggalkan konsep proses keperawatan yaitu pengkajian,
perencanaan, intervensi dan evaluasi kegiatan yang terstruktur.
5.1.1. Pengkajian
Pada tahap pengkajian, penulis banyak mendapat kesenjangan antara teoritis
dengan kasus langsung dilapangan dimana pada teoritis terdapat 5 fungsi keluarga
dalam peningkatan dan pemeliharaan kesehatan tetapi pada masyarakat secara
langsung penulis mengamati serta mendata keluarga menjalankan tugas dan
fungsinya tidak sesuai dengan kesehatan keperawatan yaitu masalahkurang
pengetahuan tentang imunisasi, pengolahan sampah, pengolahan makanan yang tidak
baik, lingkungan kotor yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan perilaku merokok
dimana penyebab masalah itu adalah kurang pengetahuan keluarga dalam bidang
kesehatan keluarga dan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah.

5.1.2. Diagnosa

120

Melalui analisa masalah, maka setelah dirumuskan permasalahan kesehatan


warga dilakukan penentuan prioritas masalah atas dasar urgensitas
dari masalah. Berdasarkan Musyawarah Masyarakat Desa yang dilaksanakan pada
hari selasa tanggal 08 Desember 2015, maka ditentukan prioritas masalah kesehatan
sebagai berikut:
1. Kurang pengetahuan tentang imunisasi berhubungan dengan rendahnya
cakupan imunisasi pada bayi dan balita
2. Resiko terjadinya cidera berhubungan dengan factor lingkungan.
3. Resiko terjadinya penyakit berhubungan dengan rendahnya pengetahuan
tentang penyakit (DHF, TBC, ISPA, Dermatitis, Gizi buruk, Hipertensi, DM,
Anemia, AIDS)
4. Resiko terjadinya prilaku menyimpang berhubungan dengan Rendahnya
pengetahuan remaja tentang kesehatan remaja
5. Resiko terjadinya infeksi pada ibu dan anak dalam kandungan berhubungan
5.1.3

dengan rendahnya pemberian imunisasi TT pada ibu hamil.


Perencanaan
Rencana kegiatan yang berhubungan dengan permasalahan kesehatan dapat

disepakati saat MMD dan disusun berdasarkan diskusi mahasiswa Kelompok Prodi
DIII KeperawatanSTIKes Santa Elisabeth Medan . Adapun kegiatan-kegiatan yang
disepakati oleh mahasiswa dengan masyarakat antara lain:
1. Penyuluhan tentang imunisasi
2. Penyuluhan tentang PHBS
3. Penyuluhan tentang KB
4. Penyuluhan tentang Menyikat Gigi
5. Penyuluhan tentang Kenakalan Remaja
6. Penyuluhan tentang Kesehatan Reproduksi
7. Penyuluhan tentang Narkoba
8. Penyuluhan tentang Pijat Bayi
9. Penyuluhan tentang relaksasi ibu hamil(Hypnobreathing)
10. Penyuluhan tentang Hipertensi, Diabetes Melitus.

122

11. Pengabdian Masyarakat tentang DBD, Chikungunya, Malaria, Preeklamsia,


Pertolongan Pertama pada Cidera Fisik, Luka Bakar.
12. Senam Lansia.
5.1.4

Implementasi
Pelaksanaan rencana tindakan mulai dilaksanakan pada tanggal 07 Desember

2015 dengan metode melibatkan masyarakat,meliputi: anak bayi,balita,anak


sekolah,remaja,serta orang tua, secara aktif digerakkan oleh mahasiswa dan para
tokoh masyarakat desa percut. Hanya pada kegiatan penyuluhan, dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan dari mahasiswa yang ditunjuk. Adapun kegiatan yang
dilakukan oleh mahasiswa DIII Keperawatan STIKes Santa Elisabeth Medan,yaitu:
1. Penyuluhan tentang imunisasi
2. Penyuluhan tentang PHBS
3. Penyuluhan tentang KB
4. Penyuluhan tentang Menyikat Gigi
5. Penyuluhan tentang Kenakalan Remaja
6. Penyuluhan tentang Kesehatan Reproduksi
7. Penyuluhan tentang Narkoba
8. Penyuluhan tentang Pijat Bayi
9. Penyuluhan tentang relaksasi ibu hamil
10. Penyuluhan tentang Hipertensi, Diabetes Melitus.
11. Pengabdian Masyarakat tentang DBD, Chikungunya, Malaria, Preeklamsia,
Luka Bakar, Fraktur, Hipertensi, Senam Lansia.
12. Tensi, pemeriksaan kadar gula darah, dan pemeriksaan protein urine pada ibu
hamil dilakukan secara gratis pada saat PEMA di Desa Percut. Secara umum
kegiatan yang direncanakan dapat dikatakan berhasil (90%), penilaian tersebut
didapatkan saat evaluasi respon positif dan antusiasme masyarakat terhadap
berbagai kegiatan yang direncanakan.
5.1.5 Evaluasi
Kegiatan evaluasi dilaksanakan secara bertahap yang dilakukan oleh
mahasiswa untuk mengevaluasi kegiatan harian dan mematangkan rencana yang akan
dilaksanakan keesokan harinya. Selain itu evaluasi juga dilakukan bersama warga,

124

tokoh masyarakat desa percut, perangkat desa dan kepala desa, perawat dan Kepala
UPT Puskesmas Tanjung Rejo. Dari sudut pandang mahasiswa kegiatan praktik klinik
keperawatan komunitas dan keluarga dikatakan berhasil dengan bukti antusiasme dan
respon positif warga dusun Sumber Bentong desa Karangcampaka senang dengan
program-program kami dan berdampak terjadinya perubahan pengetahuan warga
tentang kesehatan.
5.2 Saran
Demi kesuksesan dan keberlangsungan praktik klinik keperawatan
komunitas dan perkembangan keprawatan sendiri maka disarankan:
1. Untuk Masyarakat Desa agar dapat mengubah prilaku hidup sehat dan
Diharapkan masyarakt lebih aktif untuk mendapat dan memanfaatkan
pelayanan kesehatan dengan optimal.
2. Untuk Mahasiswa Diharapkan mahasiswa lebih meningkatkan kemampuan
dan menambah bekal tentang konsep keperawatan komunitas, sehingga
terdapat optimalisasi kinerja dalam melaksanakan praktik klinik keperawatan
komunitas.
3. Untuk puskesmas agar meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada
masyarakat

126

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Imam, S Dkk.2005. Asuhan Keperawatan Keluarga. Buntara Media: Malang
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta:
Prima Medika
Smet, Bart.1994. Psikologi Kesehatan. Pt Grasindo: Jakarta

128