Anda di halaman 1dari 14

MODUL PERKULIAHAN

Sistem
Jaringan
DNS dan Routing

Fakultas
Ilmu Komputer

Program
Studi

Teknik
Informatika

Tatap
Muka

14

Kode MK

Disusun Oleh

87038

Andra Warastri, ST, MTI

Abstract

Kompetensi

Modul ini memberikan pemahaman


tentang DNS dan routing.

Mahasiswa mampu memahami konsep


DNS dan routing.

1 Domain Name System


Domain Name System (DNS) adalah sistem penamaan terdistribusi yang hirarkis untuk
komputer, services, atau sumberdaya lainnya yang terkoneksi ke Internet atau ke private
network. DNS menghubungkan berbagai informasi dengan nama domain yang ditugaskan
ke masing-masing entitas yang terlibat.

1.1 Penamaan Host pada Internet


Jauh sebelum DNS dikenal, nama host digunakan sebagai cara yang lebih mudah untuk
mengingat nama host. Misalnya alamat IP 198.49.45.10 agak sulit diingat, bandingkan
dengan bila disebutkan sebagai ds.internic.net (nama host-nya). Pada masa-masa awal,
penamaan statis dengan menggunakan file hosts dilakukan oleh ARPANET. Nama-nama
host ditampung dalam file HOSTS.TXT, yang dikelola oleh Network Information Center,
kemudian dikelola oleh Stanford Research Institute, umum disebut SRI-NIC. Saat itu tingkat
pertumbuhan jumlah host masih hanya beberapa host per tahun, tidak seperti sekarang
yang mencapai ribuan host per hari. Sebelum tahun 1980-an file HOSTS.TXT dan host-host
ditangani secara manual. Administrator ARPANET mengirim e-mail tentang perubahan yang
terjadi dalam jaringannya ke NIC, kemudian perubahan ini dicatat dalam HOSTS.TXT dan
diolah untuk membentuk file hosts yang baru, yang kemudian akan dikirim lewat FTP ke
seluruh host untuk memberitahu ARPANET agar memperbaharui isi file tersebut di masingmasing host. Hal ini membutuhkan waktu lama dan merepotkan administrator serta
menimbulkan arus data saat mengirimkan file hosts lewat FTP membebani ARPANET.
Seiring makin tingginya pertumbuhan jumlah host, jelas bahwa dibutuhkan mekanisme
penamaan yang lebih baik untuk ARPANET. Pada tahun 1983 DNS diperkenalkan sebagai
standar penamaan host. DNS melakukan proses indexing nama host pada database
bertingkat (hierarchical database) yang dapat dikelola secara terdistribusi.

1.2 Domain Name Space


Database DNS yang hirarkis disebut sebagai domain name space. Tiap host pada domain
name space memiliki fully qualified name yang berbeda. Gambar 1 menunjukkan hirarki
DNS sederhana. Node root pada DNS tree dapat disebut sebagai root atau root domain.
Tiap node pada tree memiliki nama, yang dapat berisi sampai dengan 63 karakter. Fully
qualified name untuk node DNS disebut sebagai fully qualified domain name (FQDN). FQDN
pada DNS salah satu aturannya adalah penamaan dimulai dari node yang ingin dijelaskan
dan berlanjut ke root. Singkatnya, dibaca seperti pohon terbalik, artinya dibaca dari bawah

201
5

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

ke atas. Aturan lain pada FQDN adalah nama node dipisahkan dengan tanda titik (dot).
Misalnya: mail.yahoo.com.

Gambar 1

DNS tree dapat dilihat dalam bentuk domain, yang tak lain adalah subtree dari seluruh
database. Gambar 1 menunjukkan bagaimana subdomain dapat didefinisikan di dalam
domain. Misalnya: domain com memiliki lima subdomain, yaitu yahoo.com, verisign.com,
example.com, rackspace.com, dan google.com. Nama sebuah subdomain adalah FQDN
dari node paling atas pada domain. Subdomain selalu berisi subtree yang lengkap dari
sebuah tree, sebuah node dan seluruh child node-nya. Sebuah subdomain tidak dapat
dibuat agar mengikutkan baik com dan gov yang terletak pada level yang sama dari tree.
Subdomain adalah struktur manajemen dari DNS. Pendelegasian manajemen dari
sembarang subdomain untuk mendistribusikan tanggung jawab manajemen dari seluruh
name space yang dimungkinkan.
Domain dan subdomain adalah istilah yang secara relatif boleh digunakan secara
bergantian. Secara teknis, tiap domain kecuali root disebut sebagai subdomain. Namun,
saat pembicaraan terpusat ke satu node tertentu, node itu dapat disebut sebagai domain.
Penggunaan istilah domain dan subdomain semata-mata adalah masalah perspektif.
Domain DNS umumnya dibedakan berdasarkan tingkatannya:

First-level domain. Anak dari root; nama yang lebih sering digunakan untuk first-level
domain adalah top-level domain (TLD).

201
5

Second-level domain. Anak dari first-level domain.


3

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Third-level domain. Anak dari second-level domain, dan demikian seterusnya.

1.3 Administrasi Domain


DNS didesain untuk menangani Internet, yang cakupannya terlalu luas untuk dapat
ditangani secara tersentralisasi sebagai suatu name space tunggal. Karena itu kemampuan
untuk mendelegasikan administrasi dari subdomain sangat dibutuhkan.
Name server adalah program yang menyimpan data mengenai name space suatu domain
dan memberikan informasi ini sebagai balasan untuk permintaan DNS. Name space yang
lengkap dapat diorganisasikan menjadi zone, yang merupakan subset dari sebuah DNS
tree. Sebuah name server memiliki kewenangan untuk satu atau lebih zone. Gambar 2
menunjukkan sebuah contoh kemungkinan tree yang dibagi menjadi dua zone. Perhatikan
bahwa zone tidak membutuhkan sebuah batasan yang tertentu. Batas zone dapat
ditentukan sesuai kebutuhan.

Gambar 2

Administrasi sebuah zone dapat didelegasikan ke name server bila dibutuhkan. Jika
administrasi domain didelegasikan ke sebuah name server, maka name server ini juga
bertanggung jawab atas subdomain dari domain tersebut, kecuali bila administrasi dari
subdomain itu didelegasikan lagi.

1.4 Menyelesaikan Permintaan DNS


Saat sebuah aplikasi membutuhkan data DNS, digunakan sebuah resolver untuk
mengajukan permintaan ke server DNS. Sebuah resolver adalah sisi client dari pola
hubungan klien-server pada DNS. Resolver menghasilkan permintaan DNS (DNS query)
201
5

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

dan mengirimkannya ke name server, memproses jawaban dari name server tersebut, dan
meneruskan informasi ini ke program yang membutuhkan data tadi.

Gambar 3

Permintaan resolver akan dijawab oleh server-server DNS. Resolver pada host dikonfigurasi
dengan alamat IP dari setidaknya satu DNS server. Saat resolver membutuhkan alamat IP,
ia akan mengontak DNS server di atas, yang selanjutnya akan bertanggung jawab untuk
memproses permintaan tersebut. Resolusi atau jawaban adalah masalah bagaimana
meminta informasi ke server DNS lain dimulai dari yang bertanggung jawab untuk domain
root. Root name server memberikan alamat dari domain tingkat pertama pada nama yang
dipertanyakan. Bila dibutuhkan, domain tingkat pertama memberikan alamat dari domain
server tingkat kedua, dan seterusnya, sampai tercapai domain server yang dapat menjawab
permintaan tersebut.
BIND (Berkeley Internet Name Domain) adalah perangkat lunak yang paling populer untuk
mengimplementasikan DNS. BIND menggunakan stub resolver, dimana stub resolver ini
tidak memiliki kemampuan pencarian DNS. Stub resolver hanya mengetahui bagaimana
mengirimkan permintaan ke DNS server. Name server-lah yang sesungguhnya menjawab
permintaan tersebut.
Untuk mengurangi usaha yang dibutuhkan dalam menjawab sebuah permintaan DNS, maka
server DNS memiliki cache yang menyimpan hasil dari permintaan yang paling akhir. Data

201
5

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

pada cache memungkinkan server menjawab pertanyaan DNS secara lokal atau
memperpendek pencarian dengan memulainya dari server DNS yang bertanggung jawab
untuk domain tingkat yang lebih rendah (tidak dari root). Pada keadaan dimana informasi
pada cache tidak dapat digunakan untuk memulai pencarian, maka proses dimulai dari
domain root. Entri pada tabel cache DNS memiliki time to live (TTL) yang ditentukan oleh
administrator domain. Entri yang telah lewat dari batas waktu TTL akan dibuang, dan pada
saat berikut bila sebuah resolver meminta domain ini maka name server akan mengambil
datanya dari jaringan.
Resolver sesungguhnya adalah komponen dari aplikasi dan proses yang berjalan pada host.
Saat mengkompilasi program, developer mengikutkan rutin-rutin library untuk name service
yang akan didukung. Jadi program seperti ftp dan telnet dikompilasi dengan kemampuan
untuk membuat permintaan DNS dan memproses balasannya. Tetapi yang bertanggung
jawab untuk mencari database-nya tetap DNS server.
Jelas bahwa kemampuan untuk mendukung secondary DNS server pada domain sangat
penting dalam terciptanya name service yang handal. Bila tidak ada DNS server pada
domain root, maka seluruh permintaan nama suatu saat akan gagal ketika waktu yang
ditentukan pada TTL table cache sudah terlampaui dan membutuhkan update.

1.5 Pengorganisasian Internet Domain Name Space


Internet merupakan name space jaringan paling besar. Root name server dan banyaknya
jumlah permintaan DNS pada Internet, membutuhkan jumlah root name server yang banyak
dan terdistribusi secara luas. Saat ini Internet didukung oleh sembilan root name server,
diantaranya adalah NSFNET, MILNET, SPAN (jaringan NASA), dan di Eropa.
Root name server bertanggung jawab untuk domain tingkat atas pada database DNS
Internet. Pada Internet, tidak ada satu organisasi pun yang memiliki nama domain tingkat
pertama. Top-level domain (TLD) mengorganisasikan name space menurut kategori.
Satu-satunya domain yang ditangani oleh pengelola Internet adalah top-level domain.
Administrasi domain tingkat dua dan di bawahnya didelegasikan. Pendaftaran domain name
berada di bawah wewenang Internet Assigned Number Authority (IANA), dan dikelola oleh
Internet Registry (IR). IR Pusat adalah INTERNIC.NET.
Di dalam RFC 1591, Domain Name System Structure and Delegation dijelaskan struktur
nama domain pada Internet, termasuk juga petunjuk administrasi dari domain yang
didelegasikan. TLD termasuk di dalam tiga kategori ini:

201
5

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Domain generik untuk seluruh dunia

Domain generik untuk Amerika Serikat

Domain negara

1.5.1 Domain generik untuk seluruh dunia


Bila kita telah menghabiskan banyak waktu di Internet, kita akan sudah familiar dengan toplevel domain berikut ini, yang mengorganisasikan mayoritas nama Internet DNS ke dalam
beberapa kategori:
1. COM. Menunjukkan lembaga komersial. Karena domain ini boleh dibilang mencakup
semua perusahaan yang berada di Internet, maka name space COM dengan cepat
menjadi sangat besar, dan beberapa pertimbangan telah diberikan agar domain ini
diorganisasikan menjadi subdomain.
2. EDU. Awalnya digunakan untuk menandai semua institusi pendidikan. Domain ini juga
menjadi sangat besar. Registrasi ke domain ini sekarang dibatasi untuk sekolah tinggi
(S1) atau universitas. Sekolah-sekolah lain atau program D3 didaftarkan di bawah
domain negara mereka.
3. NET. Termasuk network provider dan komputer untuk keperluan administratif Internet.
4. ORG. Segala sesuatu yang tidak dapat digolongkan ke dalam kategori generik di atas,
biasanya untuk organisasi atau komunitas.
5. INT. Organisasi yang didirikan oleh lembaga internasional.
6. BIZ. Untuk bisnis.
7. TV. Untuk perusahaan penyiaran televisi.
1.5.2 Domain generik untuk Amerika Serikat
Dua domain tingkat atas dicadangkan untuk pemerintahan Amerika Serikat:
1. GOV. Dulunya digunakan untuk sembarang kantor atau lembaga pemerintahan, tetapi
kemudian diputuskan bahwa pendaftaran baru hanya untuk lembaga dari pemerintahan
federal Amerika Serikat. Pemerintahan lokal dan negara bagian terdaftar di bawah
domain negara.
2. MIL. Untuk militer Amerika Serikat.
Pendaftaran domain tingkat kedua pada GOV adalah tanggung jawab dari InterNIC.
Sedangkan domain tingkat kedua di bawah MIL didaftarkan pada DDN registry di
nic.ddn.mil.

201
5

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

1.5.3 Domain negara


TLD untuk negara berasal dari ISO 3166. IANA memperlakukan ISO sebagai organisasi
internasionial yang memiliki mekanisme untuk mengenali negara yang ada. Pendaftaran
regional untuk Eropa diatur oleh RIPE NCC, untuk daerah Asia Pasifik dikelola APNIC,
sedangkan untuk Amerika Utara dan daerah lain yang belum tercakup diatur oleh InterNIC.
Contoh domain tingkat atas untuk domain negara adalah: ID (Indonesia), CA (Canada), DE
(Jerman), FR (Prancis), UK (Inggris), IN (India), JP (Jepang), NL (Belanda), AU (Australia),
dan lain-lain.
1.5.4 Subdomain pada domain ID
1. AC.ID untuk lingkungan akademik/perguruan tinggi.
2. SCH.ID untuk sekolah.
3. GO.ID untuk instansi pemerintah.
4. WEB.ID untuk personal dan organisasi.
5. CO.ID untuk perusahaan dengan persyaratan tertentu.
6. OR.ID untuk organisasi.
7. NET.ID untuk organisasi pemegang ijin penyelenggara jasa telekomunikasi.
8. MIL.ID untuk kalangan militer.

1.6 Memperoleh Informasi Domain dengan WHOIS


Salah satu cara menggunakan WHOIS adalah untuk memperoleh informasi tentang domain
tingkat atas, termasuk kontak person-nya. WHOIS memeriksa database berdasarkan
keyword. Tiap domain tingkat atas di-indeks dengan nama domain ditambah akhiran DOM. Misalnya untuk mencari domain COM, digunakan keyword COM-DOM.
Bila host kita ada pada Internet dan memiliki software client WHOIS, maka kita dapat
menjalankan WHOIS secara langsung. Untuk memperoleh informasi siapa yang menangani
domain tingkat atas EDU, dapat dilakukan permintaan WHOIS berikut:
whois h rs.internic.net edu-dom
Perintah di atas melakukan permintaan WHOIS dengan keyword edu-dom ke host
rs.internic.net.

201
5

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

2 Routing
Internet Protocol (IP) bertanggung jawab untuk mengirimkan datagram melalui internetwork.
Bila datagram IP dikirimkan menuju sebuah jaringan yang tidak lokal, IP akan melakukan
routing untuk jaringan tersebut, guna memastikan bahwa datagram akan menuju jaringan
yang semestinya. Namun pengiriman yang sesungguhnya ke host tujuan adalah fungsi dari
lapisan data-link. Sebelum mempelajari bagaimana routing dilakukan, perlu terlebih dahulu
dipahami proses pengiriman paket dalam sebuah jaringan.

2.1 Pengiriman Paket dalam Jaringan Lokal


Saat dua buah host berkomunikasi dalam jaringan yang sama, pengiriman datagram adalah
sebuah proses yang sederhana. Pengiriman yang sesungguhnya dilakukan oleh protokol
tingkat rendah. Pada IEEE 802.x, frame-frame LAN dikirimkan dengan kendali dari
sublapisan medium access control (MAC). Sublapisan MAC bertanggung jawab atas
pengalamatan node. Pada kenyataannya, alamat node secara perangkat keras disebut
sebagai alamat MAC berdasarkan terminologi IEEE 802.

Gambar 4

Gambar 4 menunjukkan bagaimana pengiriman sebuah frame secara sederhana dalam


jaringan lokal. Node pengirim hanya perlu membuat sebuah frame dimana di dalamnya
terdapat alamat tujuan (destination address) dari penerima. Tugas pengirim berakhir saat

201
5

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

frame yang beralamat tersebut ditempatkan ke jaringan. Pada LAN, tiap node memeriksa
tiap frame yang dikirim pada jaringan, mencari frame yang memiliki alamat tujuan sama
dengan alamat MAC-nya sendiri. Frame yang sesuai akan diterima. Frame yang tidak
sesuai akan diabaikan (jika Ethernet) atau diteruskan ke node berikutnya (jika Token Ring).
Satu-satunya informasi yang dibutuhkan untuk mengirimkan sebuah frame ke node lain
pada jaringan lokal adalah alamat MAC dari penerima yang dituju.

2.2 Address Resolution Protocol


Namun IP memiliki mekanisme pengalamatannya sendiri, yaitu alamat IP logical. Agar
datagra dapat terkirim pada jaringan lokal, IP harus memberikan alamat fisik dari host
penerima kepada lapisan MAC. Mekanisme ini dikerjakan oleh Address Resolution Protocol
(ARP). IP memanggil ARP dengan parameter alamat IP dari host yang dituju, dan ARP
mengembalikan alamat fisik dari node tersebut.

Gambar 5

Gambar 5 menunjukkan metode yang digunakan oleh ARP untuk mendapatkan informasi
tentang alamat tersebut. Untuk mengenali alamat perangkat keras, maka berikut ini langkahlangkah yang dipakai:
1. ARP pada suatu alamat host mengirimkan frame permintaan ARP, yang akan dibroadcast ke jaringan lokal. Frame permintaan ARP berisi alamat IP dan MAC dari
pengirim, dan juga alamat IP penerima.
2. Tiap host pada jaringan menerima frame permintaan ARP dan membandingkan alamat
IP tujuan pada frame tersebut dengan alamat IP dirinya sendiri.

201
5

10

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

3. Bila alamat pada sebuah host sesuai, maka host tersebut akan membuat frame balasan
ARP dengan memasukkan alamat IP-nya sendiri ke sebuah field pada frame permintaan
ARP dan mengembalikan frame tersebut ke host yang mengirimkannya.
4. Bila ARP pada alamat host yang mengirimkan permintaan ARP telah menerima frame
balasan ARP yang lengkap, maka informasi ini akan diteruskan ke IP.
Jika ARP pada tiap host harus melakukan broadcast frame permintaan ARP terus-menerus
setiap kali membutuhkan alamat tertentu, maka jaringan akan penuh trafik. Untuk
mengurangi frekuensi permintaan alamat, maka ARP memiliki tabel cache yang berisi
alamat-alamat yang baru-baru ini dipergunakan. Tabel ini akan dipergunakan bila sewaktuwaktu sebelum dilakukan proses broadcast permintaan ARP. Informasi tabel cache ini
memiliki umur yang terbatas, dan setelah masa pakainya berakhir, maka ARP akan meminta
alamat lagi. System Administrator yang menentukan umur dari tabel cache ini.

2.3 Pengiriman Lokal Suatu Datagram IP


Untuk mengirimkan datagram, IP harus menentukan apakah datagram ini dapat dikirimkan
melalui jaringan lokal, ataukah harus di-route ke jaringan remote. Sebelum mempelajari
routing, proses pengiriman lokal harus dipahami terlebih dahulu.
1. IP menerima frame dari protokol level di atasnya.
2. IP membandingkan netid penerima dari frame dengan netid dari jaringan lokal (termasuk
memperhitungkan subnet mask bila digunakan subnetting). Bila netid-nya sama, maka
frame dapat dikirimkan langsung ke alamat perangkat keras host penerima.
3. IP memperoleh alamat perangkat keras dari penerima lewat ARP.
4. IP menyusun datagram yang berisi antara lain alamat IP pengirim dan penerima.
5. IP meneruskan datagram ini ke protokol lapisan network access, beserta alamat
perangkat keras pengirim dan penerima.
6. Lapisan network access menyusun frame dimana terdapat alamat perangkat keras
pengirim dan penerima. Datagram IP ini disimpan pada field data dari frame tersebut.
7. Host penerima memeriksa frame, mengenali alamat perangkat keras dan menerima
frame tersebut.

2.4 Mengirimkan Data ke Jaringan Remote


Pada bagian sebelumnya diasumsikan bahwa alamat host pengirim dan penerima dari
datagram yang akan dikirimkan terhubung pada jaringan yang sama. Namun, pada sebuah
internetwork, seringkali sebuah data harus dikirimkan ke host remote, yaitu host yang
berada pada jaringan lain. Pada jaringan TCP/IP, pengiriman dilakukan dengan
menggunakan IP Routing.
201
5

11

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

2.4.1 IP Routing Sederhana


Saat sebuah datagram akan di-route ke jaringan yang bersebelahan, digunakan mekanisme
yang tidak terlalu rumit. Tiap host pada jaringan sudah dikonfigurasikan agar memiliki alamat
default gateway, yaitu host yang harus dituju oleh frame bila frame tersebut akan dikirimkan
ke host pada jaringan remote.
Sebuah IP router (atau gateway) pada prinsipnya adalah sebuah host TCP/IP yang
dilengkapi dengan dua atau lebih koneksi jaringan. Host seperti ini disebut multihomed host.
Sebuah router dapat merupakan komputer yang khusus atau sebuah host workstation yang
dikonfigurasikan agar melakukan routing.

Gambar 6

Misalnya, sebuah host 128.1.0.3 harus melakukan route sebuah frame ke host 128.2.0.2.
Prosedur routing yang terjadi adalah sebagai berikut:
1. Host 128.1.0.3 menentukan bahwa host tujuan tidak terdapat pada jaringan lokal dengan
membandingkan netid penerima dengan netid miliknya. Frame ini harus di-route.
2. Untuk melakukan route frame tersebut, host 128.1.0.3 melakukan permintaan ARP untuk
menentukan alamat perangkat keras dari default gateway. IP kemudian memberi alamat
hardware frame tersebut dengan alamat perangkat keras dari default router. Tetapi,
alamat IP tujuan adalah alamat IP dari tujuan akhir, yaitu 128.2.0.2. Informasi alamat
yang digunakan untuk mengalamati frame tersebut adalah sebagai berikut:

201
5

12

Alamat perangkat keras pengirim (MAC address), misalnya MAC 1


Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Alamat IP pengirim 128.1.0.3

Alamat perangkat keras penerima, misalnya MAC 4

Alamat IP penerima 128.2.0.2

3. IP pada router (pengirim) menerima frame dari jaringan 128.1.0.0. Dengan memeriksa
alamat IP tujuan, router tahu bahwa dirinya bukan tujuan akhir dari datagram tersebut.
Jadi harus diteruskan ke jaringan 128.2.0.0. Karena router terhubung langsung ke
jaringan tujuan, maka proses routing menjadi mudah. Misalnya MAC address dari router
pengirim ini adalah MAC 5.
4. IP pada router (penerima) memanggil ARP untuk menentukan alamat perangkat keras
dari 128.2.0.2. Misalnya MAC address dari router penerima adalah MAC 6.
5. Router mengirimkan paket ke jaringan 128.2.0.0 dengan informasi alamat berikut:

Alamat perangkat keras pengirim, yaitu router pengirim, MAC 5

Alamat IP pengirim 128.1.0.3

Alamat perangkat keras penerima, yaitu router penerima, MAC 6

Alamat IP penerima 128.2.0.2

Alamat IP pengirim adalah alamat host asal datagram tersebut. Alamat perangkat keras
pengirim adalah alamat hubungan router ke jaringan 128.2.0.0.
6. Host 128.2.0.2 mengenali alamat perangkat keras dan menerima paket tersebut. Dua
hal yang harus ditekankan pada skenario ini:

Alamat IP pengirim dan penerima tidak berubah saat datagram berjalan melalui
jaringan.

Alamat perangkat keras pengirim dan penerima berganti tiap kali frame
dikirimkan.

Daftar Pustaka
Heywood, D., Networking with TCP/IP. Pearson Education.
201
5

13

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Kurose, James F., (2013), Computer Networking A Top-Down Approach, 6th ed., Pearson.
Stallings, William, (2007), Data and Computer Communications 8th ed., MacMillan Publishing
Company, New York.
Tanenbaum, Andrew S., (2011), Computer Networks 5th ed., Prentice Hall.
Persyaratan dan Ketentuan Domain .ID. http://www.indonesiahosting.com/front/domain/persyaratan. Diambil pada 20 November 2015.

Referensi Gambar
http://books.gigatux.nl/mirror/linuxtroubleshooting/9149final/images/fig338_01.jpg
https://i-technet.sec.s-msft.com/dynimg/IC195470.gif
http://www.zytrax.com/books/dns/ch4/recursive-query.png
http://images.slideplayer.com/16/5084806/slides/slide_19.jpg

201
5

14

Sistem Jaringan
Andra Warastri, ST, MTI

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id