Anda di halaman 1dari 2

Pendorong Kemajuan Ekonomi Singapura

Singapura menjadi salah satu negara dengan tingkat GDP tertinggi di dunia. Antara
tahun 1960-1999, pertumbuhan real mencapai 8 %. Krisis regional di kawasan Asia Tenggara
membuat pertumbuhan ekonomi singapura hanya mencapai 5,4 % hingga akhirnya naik lagi
menjadi 9,9 % pada tahun 2000. Bahkan negara ini pernah mengalami pertumbuhan ekonomi
tertinggi diantara keempat negara macan asia, yaitu Korea Selatan, Taiwan dan Hongkong.
Prestasi tersebut dicapai antara tahun 1965 hingga tahun 1980-an di mana rata-rata
pertumbuhan mencapai 10 % per tahunnya. Pada pertengahan tahun 1980-an, pendapatan per
kapita di Asia Timur tertinggi kedua setelah Jepang, hampir menyamai New Zealand, dan
lebih tinggi dibandingkan dengan Spanyol.
Kebijakan ekonomi yang diambil Singapura sangat pro terhadap pasar. Di Singapura,
investasi asing dan PMN memegang peranan yang sangat penting. PMN di Singapura hampir
mencapai 3000 buah dan tersebar di hapir semua sektor ekonomi. Sebagian besar PMN
berasal dari Jepang, AS dan Eropa. Mereka menyumbang sekitar 2/3 (70%) hasil manufaktur
dan penjualan langsung, meskipun demikian pemerintah masih memegang peranan penting
dalam sektor jasa tertentu.
Keberhasilan ekonomi Singapura ditentukan oleh tiga hal dan ini menjadi bukti bagi
pelaksanaan kebijakan industri pemerintah yang efisien. Ketiga elemen kunci yang berada
dalam kebijakan ini, yaitu: Pertama, pengadopsian pendekatan ekonomi terbuka dengan
mendorong FDI, mendukung rezim perdagangan bebas dan mempromosikan industri
berorientasi ekspor. Kedua, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan
perusahaan-perusahaan swasta dengan mempertahankan kebijkan ekonomi makro yang
stabil, menjaga pemerintahan yang bersih dan jujur serta menyediakan jasa yang efisien dan
mempertahankan transparansi, kerangka aturan yang probisnis, mempertahankan harmoni
industri-buruh melalui kerja sama antar negara, gerakan buruh dan pemimpin industri.
Ketiga, berinvestasi dengan gencar di sektor infrastruktur publik dan pengembangan sumber
daya manusia dan memastikan pencapaian standar kualitas yag tinggi dalam kedua bidang.
Dilihat dari konteks ekonomi-politik, Singapura di era 60-an telah mengutuk Partai
Komunis, tetapi partai tersebut mampu membangun bisnis yang kuat dalam serikat-serikat
dagang, sekolah-sekolah Cina dan masyarakat Cina terdidik pada umumnya. Partai Komunis
menjadi rival utama PAP sepanjang tahun 1950-an. Sementara itu, PAP sendiri tidak
mempunyai ikatan yang kuat di tingkat grass-root dan mengalami perpecahan antarkelompok
moderat di bawah Lee Kuan Yew dan kelompok kiri. Setelah meraih kekuasaan di tahun
1959, pemerntahan PAP meluncurkan sebuah rencana pembangunan yang dikenal cukup
penting bagi keterlibatan dan tindakan negara dalam mempromosikan industrialisasi dan
dalam rangka mengatasi pengagguran. PAP mengeluarkan kebijakan yang bersifat pragmatis
dengan menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi dengan menyediakan infrastruktur,
pelayanan sosial dan perumahan. Peraturan baru telah menetapkan untuk mengurangi pajak
perusahaan secara dramatis industri-industri pelopor dan dewan pengurus pembangunan
ekonomi didirikan pada tahun 1961 yang diberi kekuasaan untuk memberikan pinjaman dan

even purchase equity dalam bisnis-bisnis swasta. Sedangkan di tahun 1967 dan 1968, ada tiga
kebijakan yang diluncurkan oleh pemerintah, yaitu sebuah usaha yang diperbarui untuk
menarik modal luar negeri, peran yang makin meluas dari negara dalam pembiayaan
industrial, dan di atas itu semua, kontrol yang intensif terhadap gerakan-gerakan buruh.
Intervensi yang dilakukan oleh negara dalam proses pembangunan di Singapura dapat
dikategorikan ke dalam intervensi langsung (direct intervention). Negara melalui institusiinstitusi dan kebijakan-kebijakannya melakukan intervensi yang sangat intensif dengan pasar,
terutama dalam hal penentuan arah, pola dan tujuan pembangunan yang dilakukan dan akan
dicapai.
Akhirnya, pembahasan mengenai peran negara di Singapura ini, dengan demikian
menyadarkan kita akan dua hal. Pertama, pembangunan ekonomi yang dilakukan Singapura
menegasikan pandangan sekelompok orang yang berpendapat bahwa peran negara dalam
perekonomian akan membuat perekonomian semakin tidak efektif. Justru sebaliknya,
meskipun sejak awal Singapura banyak menarik investasi asing dan PMN, tetapi peran
tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran aktif negara sebagai fasilitator pembuat peraturan
dan kebijakan untuk mekanisme pasar. Kedua, Politik otoriter menjadi faktor pendorong
utama dari kemajuan ekonomi Singapura.