Anda di halaman 1dari 33

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pernikahan dan Keluarga


A. Definisi Pernikahan dan Keluarga
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang
perkawinan, didalam bab 1 pasal 1 dinyatakan definisi perkawinan adalah ikatan lahir batin
antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Olson dan DeFrain (2006) mendefinisikan pernikahan adalah komitmen yang terkait
dengan emosi dan hukum dari dua orang untuk berbagi keintiman emosional dan fisik,
bermacam-macam tugas, dan sumber ekonomi.
Strong, DeVault, dan Cohen (2008) mendefinisikan pernikahan sebagai pengakuan
secara hukum penyatuan antara dua orang, umumnya laki-laki dan perempuan, yang mana
mereka bersatu secara seksual, bergabung dalam keuangan, dan mungkin melahirkan,
mengadopsi, atau membesarkan anak.
Keluarga menurut Winch (dalam DeGenova, 2008) adalah sekumpulan orang yang
terkait satu sama lain melalui hubungan darah, pernikahan, atau adopsi yang tinggal
bersama dan merupakan penganti fungsi dasar bermasyarakat.
Dari definisi pernikahan dan keluarga di atas, dapat digambarkan bahwa pernikahan
jika dikaitkan dengan keluarga berarti sebuah proses yang mengikat dua orang yang
lazimnya adalah pria dan wanita secara hukum dan agama sehingga ikatan tersebut
membuat mereka disebut sekumpulan yang tinggal bersama dan yang berguna untuk
memerankan fungsi dasar bermasyarakat dengan cara melebur secara emosional, fisik,
keuangan, seksual dan pengasuhan.
B. Bentuk Keluarga
Terkait dengan tempat tinggal maka ada tiga cara keluarga membangun tempat
tinggalnya (Williams, Sawyer, & Wahlstrom, 2006):

1) Neolocal-tinggal dirumah sendiri. Neolocal menjelaskan situasi dimana pasangan


baru menikah membangun tempat tinggalnya sendiri.
2) Patrilocal-tinggal dengan keluarga suami. Pola ini yang paling sering digunakan
diseluruh dunia. Jenis ini mengartikan situasi dimana pasangan baru menikah tinggal
dirumah keluarga suami.
3) Matrilocal-tinggal dengan keluarga istri. Pola ini yang jarang digunakan. Jenis ini
mengartikan situasi dimana pasangan baru menikah tinggal dirumah keluarga istri.
C. Tahapan Keluarga
Carter dan McGoldrick (dalam Santrock, 2008) mengambarkan siklus kehidupan
bagi keluarga, yaitu:
1) Meninggalkan rumah dan menjadi dewasa muda yang lajang
Tahap awal ini termasuk meluncurkan seorang remaja yang baru saja menjadi
dewasa muda keluar dari keluarga asalnya. Perpisahan ini tidak mengartikan memutusakan
ikatan dan emosional. Pelepasan dewasa muda ini juga merupakan waktu dimana
memikirkan tujuan hidup, mengembangkan identitas, dan menjadi lebih mandiri sebelum
menerima orang lain masuk dalam kehidupannya dan memiliki keluarga sendiri.
2) Bergabung dalam keluarga yang baru
Pernikahan merupakan penyatuan dua sistem keluarga, sehingga muncul sistem
keluarga ketiga berikutnya. Tahapan ini termasuk mengatur ulang teman dan kerabat.
Penyatuan berbagai hal (peran gender, perbedaan budaya, dan jarak antar pasangan)
yang dibawa atau yang diperoleh saat menikah oleh masing-masing pasangan terkadang
bisa menjadi beban bagi pasangan untuk mengartikan hubungan tersebut bagi diri mereka
sendiri.
3) Menjadi orang tua dan keluarga dengan kehadiran anak
Tahapan ini menjadikan seseorang berpindah generasi menjadi pengasuh anak yang
paling awal. Masuk tahap yang paling panjang ini membutuhkan komitmen sebagai orang
tua, pemahaman tentang peran orang tua, dan bersedia menyesuaikan dengan
perkembangan anak. Dalam tahap ini pasangan akan mengalami banyak permasalahan
tentang tanggung jawab sebagai orang tua.
4) Keluarga dengan anak remaja
Remaja adalah masa dimana seseorang ingin menjadi mandiri dan mencari
pengembangan jati diri. Proses ini berlangsung lama setidaknya 10 sampai 15 tahun.
Pendekatan paling baik dalam mengatasi masa remaja ini adalah fleksibel dengan cara

menyesuaikan dengan keadaan anak. Terkadang anak butuh untuk ditekan dan disisi lain
dibebaskan.
5) Keluarga di masa pertengahan
Pada tahap ini maka pasangan harus melepas anaknya, untuk masuk dalam generasi
baru, dan menyesuaikan dengan perubahan. Dengan melepaskan anak yang sudah dewasa
dapat membuat kehidupan masa pertengahan lebih bebas untuk melakukan berbagai
aktifitas lainnya.
6) Keluarga di masa terakhir
Pensiun mengubah gaya hidup keluarga, sehingga pada tahap ini diperlukan adaptasi.
Ciri dari tahapan ini salah satunya adalah pasangan akan masuk ketahapan menjadi kakeknenek.
D. Tahap Awal Pernikahan
Ted Huston dan Heidi Melz (dalam Strong, DeVault, & Cohen, 2008) menyatakan
bahwa awal pernikahan diisi dengan kasih sayang, sehingga sedikit menimbulkan konflik.
Pada satu tahun pertama, pasangan sudah dapat menunjukkan kasih sayangnya lebih dalam
yaitu terutama terkait dengan seksual. Frekuensi dan intensitas terjadinya konflik juga
berkurang, karena ketika pertengkaran terjadi maka pasangan diawal pernikahan ini akan
menunjukkan kasih sayangnya, sehingga muncul adanya rasa bersalah.
a. Menetapkan peranan dan tugas sebagai suami-istri.
Penetapan peran ini biasanya diharapkan berdasarkan peran gender dan pengalaman.
Weitzman (dalam Strong, DeVault, & Cohen, 2008) mengungkap ada empat asumsi
tradisional mengenai tanggung jawab suami-istri: suami adalah kepala rumah tangga,
suami bertanggung jawab mendukung keluarga, istri bertanggung jawab untuk pekerjaan
rumah tangga, dan istri bertanggung jawab untuk mengurus anak. Namun, asumsi
tradisional ini tidak selalu digambarkan dalam realitas pernikahan.
Pasangan awal memulai dengan sejumlah tugas untuk suami-istri agar pernikahannya
terbangun dan sukses. Tugas untuk penyesuaian yang terutama termasuk:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Menetapkan peranan suami-istri dalam pernikahan dan keluarga


Menyediakan dukungan emosional bagi pasangan
Menyesuaikan kebiasaan pribadi
Negosiasi peran gender
Menetapkan prioritas keluarga dan pekerjaan
Mengembangkan kemampuan berkomunikasi

7) Mengelolah anggaran belanja dan finansial


8) Menetapkan hubungan dengan sanak-saudara
9) Berpartisipasi dalam komunitas besar
Whitebourne dan Ebmeyer (dalam Strong, DeVault, & Cohen, 2008) memaparkan
bahwa pernikahan memiliki bentuk yang berbeda dalam membagi, menyelesaikan, dan
memisahkan tugas. Oleh karena itu pasangan dalam pernikahan akan merasakan kesulitan
lebih dari yang mereka pikirkan sebelumnya. Namun, ketika tugas-tugas ini dikerjakan
dengan cinta dan kebersamaan, maka akan mengembangkan, memperkaya dan makin
mengikat pernikahan tersebut. Dalam melakukan tugas tersebut, pasangan suami-istri
memulainya dengan perundingan akan identitas yang akan dibawa dalam kehidupan rumah
tangga.
Menurut Blumstein (dalam Strong, DeVault, & Cohen, 2008) perundingan tentang
identitas adalah proses interaksi untuk penyesuaian peran. Cara melakukan perundingan
identitas dibagi menjadi tiga tahap (Strong, DeVault, & Cohen, 2008), yaitu: masingmasing pasangan mengidentifikasi peranan yang dilakukannya, masing-masing pasangan
harus memperlakukan yang lain sesuai dengan peranannya, dan pasangan harus saling
membicarakan untuk perubahan peranan.

b. Keadaan dan tekanan sosial.


Bradbury dan Karney (dalam Strong, DeVault, & Cohen, 2008) menyatakan bahwa
kesuksesan pernikahan secara garis besar dipengaruhi oleh hal-hal yang dari luar dan yang
ada di sekeliling pasangan menikah tersebut. Keadaan-keadaan yang berpengaruh seperti
pekerjaan, pengasuhan, kesehatan, teman, keuangan, sanak-saudara, dan pengalaman
pekerjaan dapat mempengaruhi kualitas hubungan pernikahan. Oleh karena itu,
meningkatkan kualitas pernikahan membutuhkan juga untuk memperbaiki dan mengurus
keadaan yang ada.
c. Perubahan Individu.

Strong, DeVault, & Cohen (2008) memaparkan bahwa dalam usai 30an maka situasi
dalam pernikahan akan berubah. Anak sudah mulai sekolah sehingga orang tua bisa sedikit
lebih fokus pada karirnya. Wanita biasanya kembali bekerja dan mendapatkan kembali
kekuasaannya dalam pernikahan. Laki-laki sudah mendapatkan posisi yang mapan dalam
pekerjaannya. Mungkin pengalamannya tentang pekerjaan yang terdahulu terkadang
membuatnya tertekan, namun kekecewaan tersebut dapat diatasi dengan kepuasan dan
pemenuhan emosi dari keluarga.
Seperti yang dijelaskan pada pasangan muda dengan usai 20-40 tahun yang
umumnya berada pada tahapan awal pernikahan, maka banyak hal yang tidak diduga akan
terjadi sebelumnya oleh pasangan. Pembagian tugas dan tanggung jawab, identitas,
perubahan dan tekanan sosial, dan perubahan individu membuat banyak perubahan
kehidupan awal pernikahan (Strong, DeVault, & Cohen, 2008).
Hal utama yang mempengaruhi hubungan pernikahan dan juga merupakan hasil dari
faktor-faktor tersebut adalah tuntutan bagi wanita untuk bekerja.

2.2 Kepuasan Pernikahan


A. Definisi Kepuasan Pernikahan
Kepuasan pernikahan menurut Bradbury, Fincham, dan Beach (dalam Minnotte,
Mannon, Stevens, & Kiger, 2008) merupakan pusat kesejahteraan bagi individu dan
keluarga, serta dapat mempengaruhi tingkat perceraian. Schoen, Astone, Rothert, Standish,
dan Kim (2002) mendefiniskan kepuasan pernikahan sebagai penilaian keseluruhan pada
keadaan pernikahan dan refleksi untuk kebahagiaan dan fungsi perkawinan.
Sedangkan dari prespektif revolusioner, Shackelford dan Buse (dalam Zainah, Nasir,
Hashim, & Yusof, 2012) menyatakan bahwa kepuasan pernikahan dapat dilihat dari sisi

keadaan pengaturan mekanisme psikologis yang membantu melihat manfaat atau kerugian
pernikahan pada orang tertentu.
B. Aspek-Aspek Kepuasan Pernikahan
Dalam pengukuran PREPARE/ENRICH customized version digambarkan aspekaspek yang terkait dengan kepuasan perkawinan (Olson, Larson, & Olson, 2009):
1) Komunikasi adalah kepercayaan, perasaan, dan sikap tentang hubungan komunikasi
dengan pasangannya. Fokusnya pada perasaan nyaman satu dengan yang lain untuk
mampu membagikan emosi dan pendapat penting, persepsinya pada kemampuan
pasangan mendengarkan dan merbicara dan persepsi pada kemampuan sendiri untuk
berkomunikasi dengan pasangan.
2) Penyelesaian konflik adalah kepercayaan, perasaan, dan sikap tentang keadaan dan
pemecahan masalah dalam hubungan. Fokusnya pada keterbukaan pasangan dalam
mengakui dan menyelesaikan isu-isu, strategi dan proses untuk mengakhiri
perdebatan, dan tingkat kepuasan terhadap cara penyelesaian masalah.
3) Gaya dan kebiasaan pasangan adalah persepsi dan kepuasan dengan kebiasaan
pribadi dan sifat perilaku pasangan. Fokus pada sifat, suasana hati, dan sikap keras
kepala, serta bagi melihat secara keseluruhan/umum, keteguhan, dan kecenderungan
diharapkan untuk dikendalikan.
4) Keluarga dan teman adalah perasaan dan perhatian tentang hubungan dengan rekan,
sanak-saudara, dan teman.
Fokus pada sikap keluarga dan teman terhadap pernikahan, harapan terkait
jumlah waktu yang dihabiskan bersama keluarga dan teman, perasaan nyaman
dengan keberadaan teman dan keluarga pasangan, dan persepsi untuk situasi yang
dihasilkan karena konflik atau kepuasan.
5) Pengelolahan finansial adalah sikap dan perhatian mengenai cara mengelolah isu-isu
ekonomi dalam hubungan dengan pasangan. Fokus pada apakah individu cenderung
menyimpan atau menghabiskan uang, kesadaran dan perhatian tentang isu-isu kredit
dan hutang, pehatian dengan bagaimana keputusan finansial untuk pembelian dibuat,
perjanjian terkait berbagai hal finansial, pengelolahan keuangan, dan kepuasan
dengan status ekonomi.
6) Aktifitas waktu luang adalah mengevaluasi pilihan pribadi dalam pengunaan waktu
luang. Fokus pada aktifitas sosial dibandingkan dengan pribadi, aktifitas aktif

dibandingkan dengan pasif, pilihan atau harapan yang saling berbagi dibandingkan
dengan pribadi, serta apakah waktu luang harus dihabiskan bersama atau seimbang
antara aktifitas bersama dan terpisah.
7) Harapan berhubungan seksual adalah perasaan dan perhatian mengenai kasih sayang
dan hubungan seksual dengan pasangan. Fokus pada kepuasan mengekspresikan
kasih sayang, tingkat kenyamanan mendiskusikan isu-isu seksual, sikap terhadap
perilaku seksual, keputusan pengendalian angka kelahiran/rencana keluarga, dan
perasaan tentang kesetiaan berhubungan seksual.
8) Kepercayaan spiritual adalah sikap, perasaan, dan perhatian tentang arti dari
kepercayaan religius dan praktek dalam keadaan hubungan dengan pasangan. Fokus
pada arti dan pentingnya agama, termasuk aktifitas di tempat ibadah, dan peranan
kepercayaan religius yang diharapkan dimiliki dalam pernikahan.
9) Harapan pada pernikahan adalah harapan individual mengenai cinta, komitmen, dan
konflik dalam hubungan. Fokus pada tingkatan harapan tentang pernikahan adalah
realistis dan didasarkan pada gagasan objektif.
10) Peran dan tanggung jawab adalah kepercayaan, sikap, dan perasaan individu tentang
peran dan tanggung jawab pernikahan dan keluarga. Fokus pada kepuasan dengan
bagaimana tugas rumah tangga dan pengambilan keputusan dibagi.
11) Memaafkan adalah persepsi pasangan untuk kemampuannya memaafkan yang lain
setelah konflik, penghianatan, atau dilukai. Melihat bagaimana pasangan meminta
dan memberi maaf dalam hubungan. Bertanggung jawab, meminta maaf,
membangun kembali kepercayaan, dan bergerak maju adalah hal yang paling
penting.
Menurut Thomas, Albrecht, dan White (dalam Sadarjoen 2004) dijabarkan aspekaspek yang mempengaruhi kepuasan pernikahan:
1) Emosi, merupakan perasaan aman bersama yang dirasakan karena adanya kasih
sayang diantara pasangan.
2) Intelektual, kesamaan dalam kemampuan kognitif sehingga permasalahan dalam
rumah tangga ataupun kerja yang dimiliki bersama dapat didiskusikan dengan
menyenangkan.
3) Seksual, adanya ketertarikan seskual yang terjaga dan menghasilkan kehidupan
seksual yang memuaskan.

4) Rekerasi, perasaan yang nyaman melalui hari-hari bersama dengan aktifitas yang
menyenangkan.
5) Finansial, keterbukaan dalam mengurus dan mengelolah penghasilan keluarga secara
bersama-sama.
6) Spiritual, tingkat kepatuhan bersama pada Tuhan, saling menghormati, dan
kesungguhan menjalankan ritual.
7) Keintiman sosial, merasakan kenyamanan atas pergaulan dari pasangan kita.
Sedangkan menurut Rumondor, Paramita, Geni, dan Francis (2012) dalam
membangun Alat Ukur Kepuasan Pernikahan Masyarakat Urban menjelaskan ada
sembilan aspek kepuasan pernikahan:
1) Komunikasi
Komunikasi yang khas dan memuaskan karena, satu dengan yang lain saling
memahami maksud masing-masing pasangannya. Baik dalam hal pekerjaan atau
pendidikan yang dijalani oleh pasangannya.
2) Keseimbangan pembagian peran
Peranan yang seimbang diantara pasangan.
3) Kesepakatan
Diskusi yang setara diantara pasangan dan diantarannya yang lebih mamahami
situasi dapat mengambil keputusan sehingga mencapai kesepakatan bersama.
4) Keterbukaan
Bersedia mengungkapkan informasi tentang diri, pikiran, dan perasaan secara
terbuka terhadap pasangan, termasuk didalamnya perencanaan keuangan dan gaji.
5) Keintiman
Waktu dihabiskan dengan pasangan untuk melakukan aktifitas bersama-sama,
tanpa ada kehadiaran dari pihak yang lain.
6) Keintiman sosial dalam relasi

Perasaan nyaman sebagai pasangan untuk secara bersama-sama melakukan


kegiatan yang terkait dengan lingkup sosial, seperti: menghadiri acara keluarga atau
membantu kerabat/teman yang perlu bantuan.
7) Seksualitas
Secara bebas pasangan menentukan aktifitas seksualnya, baik dari tempat dan
waktu, untuk memenuhi kebutuhan seksual dan timbul juga kesetiaan dalam
berhubungan seksual dengan pasangan.
8) Finansial
Pemenuhan kebutuhan finansial keluarga baik dari jumlah dan pembagian akan
tanggung jawab finansial dengan pasangan.
9) Spriritualitas
Pemenuhan kebutuhan spiritualitas tercukupi selama ada dalam ikatan
pernikahan dengan pasangan.
C. Kepuasan Pada Tahap Awal Pernikahan.
a. Tahap Permulaan.
Di awal pernikahan kebanyakan pasangan mengalami kejutan karena menurut
Sarnoff dan Sarnoff (dalam Williams, Sawyer, & Wahlstrom, 2006) mereka tidak lagi
bertanggungjawab atas hidupnya sendiri namun harus saling terkait, bertanggungjawab,
dan mengidentifikasikan diri dengan yang lain. Namun menurut Glenn; Vaillant dan
Vaillant; Benin (dalam Williams, Sawyer, & Wahlstrom, 2006) bahwa pasangan ini masih
merasakan kepuasan yang sangat tinggi. Menurut Williams, Sawyer, dan Wahlstrom (2006)
ada perubahan yang terjadi 2-3 tahun sebelum kehadiran seorang anak:
1) Perundingan identitas mengartikan bahwa dalam pernikahan pasangan diharuskan
menyesuaikan harapan yang ideal diantara satu dengan yang lain. (Blumstein dalam
Williams, Sawyer, & Wahlstrom, 2006)
2) Hilangnya kemandirian bahwa terkadang membuat pasangan menjadi sangat frustasi
karena tanggung jawab dan kekangan yang ada dalam pernikahan.

Namun, meskipun keseluruhannya tidak setara, pasangan muda selalu


menganggap kehidupan pernikahannya memiliki persamaan (Knudson-Martin &
Mahoney dalam Williams, Sawyer, & Wahlstrom, 2006)
3) Teman dan keluarga baru merupakan hal yang ditemukan ketika memutuskan untuk
menikah karena kita juga diharuskan mengenal keluarga dan teman pasangan kita.
Hal ini bisa menjadi beban karena seorang istri tidak lagi bisa bertemu dengan
sahabat-sahabatnya lagi, tetapi harus hadir dalam upacara dan bersama dengan sanak
keluarga.
4) Karir dan peranan ibu rumah tangga salah salah satu penyebab konflik dalam
kehidupan pertama pernikahan pasangan, karena harapan dari masing-masing
individu atas perananya. Secara tradisional suami bekerja dan istri mengurus rumah
tangga, Namun sekarang banyak istri yang bekerja (Fustenberg dalam Williams,
Sawyer, & Wahlstrom, 2006).
Beberapa penelitian menemukan bahwa kepuasan pernikahan akan berkurang dari
waktu ke waktu. Melalui penelitian yang panjang pada pasangan yang baru menikah,
Lawrence Kurdek (dalam Olson & DeFrain, 2006) menemukan bahwa diawal 4 tahun
pertama, suami dan istri mengalami penurunan kepuasan dalam angka yang mirip.
Kepuasan pernikahan ini turun terutama karena deperesi yang dialami terutama oleh wanita
akibat pembagian peran yang tidak seimbang.
2.3 Waktu luang bersama keluarga dan fungsi keluarga
Waktu luang adalah waktu yang tidak digunakan untuk bekerja dan secara bebas
mengikutsertakan pilihan kegiatan yang memuaskan (Williams, Sawyer, & Wahlstrom,
2006).
Gordon,dkk (dalam Cavanaugh & Blanchard-Fields, 2006) mendefinisikan waktu
luang sebagai kegiatan yang dipilih dengan kebebasan, yang termasuk didalamnya
bersantai, bersenang-senang, pencarian kreatifitas, dan kepentingan untuk menyampaikan
nafsu.
Hawks; Holman dan Epperson; Orthner dan Mancini (dalam Buswell, Zabriskie,
Lundberg, & Hawkins, 2012) menghasilkan penelitian yang konsisten bahwa terdapat

hubungan positif pada waktu luang bersama keluarga dan variabel-variabel fungsi keluarga
dalam beberapa tahun.
Olson (dalam Hornberger, Zabriskie, & Freeman, 2010) menyatakan bahwa fungsi
keluarga adalah keseimbangan antara kesatuan atau kedekatan keluarga dan penyesuaian
keluarga dalam menghadapi tantangan dan perubahan di lingkungan.
Orthner dan Mancini (dalam Dodd, Zabriskie, Widner, & Egget, 2009)
mendefinisikan fungsi keluarga sebagai penilaian dan interpretasi melalui perspektif
teoritis sistem keluarga. Teori sistem keluarga sendiri berfokus pada kedinamisan keluarga
yang termasuk didalamnya kekuasaan, hubungan, struktur, batasan, pola dan peran
komunikasi.(Rothbaum, Rosen, Ujiie, & Uchida dalam Dodd, Zabriskie, Widner, & Egget,
2009).
Core and Balance Model of Family Leisure Functioning mengindikasikan terdapat
dua kategori dasar atau pola waktu luang bersama keluarga, yaitu: core and balance. Model
ini menunjukkan tentang bagimana keluarga bersatu untuk menemukan kebutuhan untuk
stabilitas dan perubahan, dan memfasilitasi fungsi keluarga. Waktu luang jenis core adalah
yang bersifat umum, setiap hari, murah, mudah diakses, merupakan aktifitas rumah tangga
yang sering dilakukan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam jenis ini bersifat
konsisten, tidak berbahaya dan selalu bersifat positif dimana hubungan keluarga dapat
dicapai dan kedekatan dalam keluarga dapat meningkat.
Aktifitas yang termasuk dalam jenis core adalah makan malam keluarga, menonton
televisi/video di rumah, permainan, dan aktifitas di taman (Zabriskie & McCormick dalam
Agate, Zabriskie, Agate, & Poff, 2009; Hornberger, Zabriskie, & Freeman, 2010; Buswell,
Zabriskie, Lundberg, & Hawkins, 2012).
Waktu luang jenis balance meliputi aktifitas yang di luar dari keseharian dan jenisnya
bukan bersifat pekerjaan rumah serta memberikan elemen yang baru. Kegiatan ini
cenderung keluar dari kebiasaan sehari-hari dan bersifat tidak dapat diprediksi atau baru,
serta mengharuskan anggota keluarga bernegosiasi dan beradaptasi dengan pengalaman
dan hal baru. Selain itu merupakan kegiatan yang keluar dari kehidupan sehari-hari,
sehingga memerlukan tambahan waktu, usaha atau biaya yang lebih. Aktifitas yang

termasuk di dalam waktu luang jenis balance adalah acara komunitas, aktifitas di luar
rumah, aktifitas berhubungan dengan air, aktifitas menantang, dan pariwisata/bepergian
(Zabriskie & McCormick dalam Agate, Zabriskie, Agate, & Poff, 2009; Hornberger,
Zabriskie, & Freeman, 2010; Buswell, Zabriskie, Lundberg, & Hawkins, 2012).
Waktu luang jenis core cenderung memfasilitasi kedekatan perasaan, keterikatan
personal, identitas keluarga dan keterikatan antar keluarga. Jenis waktu luang balance
menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang menantang, mengembangkan, menyesuaikan,
meningkatkan keluarga dan mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan tantangan
dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Jadi, waktu luang jenis core terkait erat dengan
kesatuan keluarga dan jenis balance terkait erat dengan penyesuaian keluarga (Zabriskie &
McCormick dalam Agate, Zabriskie, Agate, & Poff, 2009; Hornberger, Zabriskie, &
Freeman, 2010; Buswell, Zabriskie, Lundberg, & Hawkins, 2012).

Model core dan balance merupakan kerangka yang dapat menyediakan pengetahuan
untuk memahami hubungan antara jenis waktu luang pasangan dan kepuasan pernikahan
(Johnson, Zabriskie, & Hill, 2006). Model core dan balance mengusulkan pada keluarga
untuk secara teratur berpartisipasi pada dua jenis aktifitas waktu luang tersebut yang
membuat fungsi keluarga menjadi lebih baik dan memiliki kepuasan keluarga yang lebih
besar dibandingkan dengan yang tidak berpartisipasi dalam sejumlah besar atau kecil salah
satu dari kedua kategori tersebut (Johnson, Zabriskie,& Hill, 2006).
2.4 Inisiasi berhubungan seksual
Inisiasi berhubungan seksual dapat didefinisikan sebagai langkah awal yang diambil
oleh pasangan untuk menyampaikan perhatian atau gairah untuk aktifitas seksual secara
verbal atau non-verbal, meskipun pada akhirnya nanti bisa diakhiri dengan kegiatan
seksual ataupun tidak (Gossmann, Mathieu, Julien, & Chartrand, 2003).
Olson dan DeFrain (2006) memaparkan hasil bahwa 50% suami memulai untuk
melakukan hubungan seksual, namun hanya 12% istri yang memulai melakukan hubungan

seksual. Hal ini diperkuat oleh pernyataan OSullivan dan Byers (dalam Strong, DeVault,
& Cohen, 2008) bahwa pola peran gender secara tradisional mengharapkan laki-laki yang
memiliki inisiatif untuk berhubungan seksual, seperti mencium, petting, atau intercourse.
Sesuai dengan pola peran gender tersebut, Cupach dan Metts (dalam Hill, 2008)
memaparkan bahwa secara tradisional laki-laki yang memberikan inisiatif dan wanita yang
berhak menolak atau menerima, namun dalam kenyataanya wanita juga mempunyai
inisiatif dalam melakukan hubungan seksual. Inisiatif yang dilakukan pasangan bisa
langsung dan tidak langsung, tetapi jarang yang melakukan inisiatif langsung untuk
menghindari muncul rasa takut akan penolakan dan rasa malu.
Kebanyakan dilakukan secara tidak langsung seperti: berdekatan secara fisik dengan
pasangan, mencium, memeluk, memegang daerah tubuh pasangan yang tidak secara
langsung terkait dengan seksual, memainkan musik, dan menyediakan minuman.
Gossmann, Mathieu, Julien, dan Chartrand (2003) dalam membangun SIS (Sexual
Initiation Scale) membagi inisiasi seksual dalam dua subskala utama yaitu: verbal atau
non-verbal dan langsung atau tidak langsung.
2.5 Pasangan Bekerja
A. Wanita Bekerja
Glass (dalam DeGenova, 2008) menyatakan dari penelitiannya menghasilkan ada
perbedaan antara wanita yang bekerja di luar rumah dengan yang tidak. Wanita yang tidak
bekerja di luar rumah akan fokus pada pekerjaan rumah tangga dan kehidupan seksualnya.
Wanita yang bekerja separoh waktu maka memiliki anak lebih banyak dan tinggal dalam
rumah tangga yang pemasukannya rendah. Wanita yang bekerja waktu penuh akan
memiliki pendidikan yang lebih tinggi, memiliki sedikit anak, dan pemasukannya paling
besar diantara yang lainnya.
DeGenova (2008) menyatakan alasan ibu untuk bekerja bisa disebabkan karena
masalah ekonomi maupun tidak. Alasan utama adalah kebutuhan finansial sehingga
menyebabkan kedua pasangan harus bekerja. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah
inflansi, tingginya biaya hidup, dan keinginan untuk hidup lebih baik. Alasan yang bersifat

non-ekonomi adalah pemenuhan pribadi, sehingga alasan ini muncul sebagai motif utama
dari dalam diri.
Kecenderungan wanita bekerja membuat mereka merasa terbebani, karena
diharuskan bekerja dan mengurusi pekerjaan rumah tangga. Bagi pasangannya yaitu suami,
hal ini bukan hal yang berpengaruh pada pekerjaan rumah suami. Namun, menurut
Scanzoni (dalam DeGenova, 2008) wanita akan mencapai kepuasannya ketika suami mau
berbagi pekerjaan rumah tangga dengannya secara adil. Terdapat pula beberapa hambatan
yang dialami oleh wanita dalam perkembangan pekerjaanya (Williams, Sawyer, &
Wahlstrom, 2006):
1) The Glass Celling. Kendala yang tidak terlihat terkait dengan prasangka, sehingga
kesulitan pihak minoritas dan perempuan untuk naik tingkat dalam pekerjaannya.
2) The mommy track. Hochschild (dalam Williams, Sawyer, & Wahlstrom, 2006)
menyatakan bahwa hal ini dapat membuat wanita menjadi fleksibel namun membuat
mereka terpaksa melepaskan ambisi dan cita-citanya. Tantangan ini mengharuskan
wanita membagi pekerjaanya dalam dua wilayah yaitu pekerjaan dan keluarga.
B. Pernikahan Dual-Earner.
Perubahan ekonomi menyebabkan kenaikan angka pernikahan dual-earn (pendapatan
ganda). Pekerjaan wanita masih berada di tingkat bawah, sehingga pemenuhan secara
pribadi yang dikorbankan tidak setara dengan pemasukan yang diperoleh untuk diberikan
pada keluarga. Namun, mereka merasa bahwa keluarga merupakan hal yang lebih penting.
Dual-earn berarti istri-suami memiliki orientasi pada pencapaian, menekankan pada
kesamaan, dan keinginan yang kuat untuk menggunakan kemampuannya. Namun,
sayangnya pasangan ini kesulitan untuk mencapai kesuksesan diantara keduanya yaitu
antara pekerjaan dan keluarga (Strong, DeVault, & Cohen, 2008).
Blair; Pina dan Bengston; Suitor (dalam Strong, DeVault, & Cohen, 2008)
menyatakan bahwa kepuasan pernikahan hanya diperoleh ketika ada ikatan yang adil
dalam pembagian tugas rumah tangga. Hochschild; Perry-Jenkins dan Folk; Suitor (dalam
Strong, DeVault, & Cohen, 2008) menyarankan untuk pasangan yang keduanya bekerja,
seharusnya membagi pekerjaan rumah tangga secara adil sehingga memperoleh
kesuksesan.

Meskipun keikutsertaan ayah dalam merawat anak memang bertambah, namun


pekerjaan rumah tangga yang dikerjakan oleh istri lebih mengarah pada pekerjaan yang
tidak menyenangkan (seperti: mencuci, mengepel, menggosok, dan memasak). Hal ini
membuat pembagian kerja dalam mengurus rumah tangga belum seimbang. Maka, yang
utama perlu diperhatikan bahwa pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak adalah dua
hal yang berbeda (Strong, DeVault, & Cohen, 2008).
2.6 Dewasa Muda
Papalia, Olds, dan Feldman (2007) dalam menjelaskan perkembangan psikososisal
dewasa muda (20-40 tahun) memaparkan tahap ke-enam dari delapan tahap perkembangan
psikososial milik Erick Erikson. Pada tahapan ini, dewasa muda mengalami intimacy
versus isolation. Dewasa muda yang pada tahap sebelumnya yaitu remaja, tidak memiliki
komitmen, maka akan mengalami perasaan terasing, sedangkan yang menemukan
identitasnya akan lebih mudah menyatukan identitasnya dengan orang lain.
Pada tahap ini dewasa muda diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang
terkait dengan keintiman, persaingan, dan jarak dengan orang lain. Intimasi yaitu
pengorbanan dan persetujuan bersama. Dewasa muda yang dapat menyelesaikan tahapan
ini akan mendapatkan virtue: cinta dalam hal kesetiaan diantara pasangan yang memilih
tinggal bersama, memiliki anak, dan menjaga perkembangan anak.
2.7 Dinamika Teoritis
A. Waktu Luang Bersama Keluarga dan Kepuasan Pernikahan.
Agate, Zabriskie, Agate, dan Poff (2009) menyatakan bahwa waktu luang bersama
keluarga dapat memberikan kesempatan bagi keluarga untuk terikat satu sama lain,
menyelesaikan masalah dan memperkuat hubungan. Shaw dan Dawson (dalam Agate,
Zabriskie, Agate, & Poff, 2009) menyatakan bahwa waktu luang bersama keluarga dapat
meningkatkan hubungan dalam keluarga.
Hawkes; Holman dan Epperson (dalam Agate, Zabriskie, Agate, & Poff, 2009)
menyatakan bahwa lebih dari 70 tahun para peneliti mengidentifikaskan dan menemukan
adanya hubungan yang positif antara waktu luang bersama keluarga dengan dampak
positifnya bagi keluarga. Selanjutnya, jika dilihat lebih spesifik pada aktivitasnya, Well,

dkk (dalam Agate, Zabriskie, Agate, & Poff, 2009) menemukan bahwa rekreasi sebagai
salah satu cara meluangkan waktu bersama keluarga dapat meningkatkan kepercayaan diri
dalam kemampuannya mengerjakan tugas dan bekerja sama dalam grup, menyelesaikan
konflik dan memecahkan masalah bersama.
Huff, dkk (dalam Agate, Zabriskie, Agate, & Poff, 2009) dalam penelitiannya
menghasilkan bahwa orang tua dan remaja yang berpartisipasi dalam outdoor recreation
bersama dapat meningkatkan interaksi, kepercayaan, dukungan, komunikasi, kasih sayang
dan sikap baik.
Sejalan dengan pernyataan di atas, maka Zabriskie dan McCormick (2003) dalam
penelitiannya menemukan bahwa waktu luang bersama keluarga terkait erat dengan
kepuasan dalam rumah tangga. Holman; Holman dan Jacquart; Miller; Orthner; Smith,
Snyder, dan Monsma (dalam Johnson, Zabriskie, & Hill, 2006) menyatakan bahwa secara
konsisten penelitian menghasilkan bahwa suami-istri yang berbagi waktu luang bersama
akan lebih puas dengan pernikahannya dibanding yang tidak.
Baldwin,dll (dalam Johnson, Zabriskie, & Hill, 2006) menyatakan bahwa bahkan
ketika pasangan tidak memiliki komitmen yang sama pada suatu aktivitas, dorongan yang
muncul dari pasangan dapat membantu menguatkan peranan pasangan lain dan
menghasilkan kepuasan pernikahan.
Dorongan ini bisa ditunjukkan dalam berbagai cara, seperti berbincang-bincang
tentang partisipasi apa yang dilakukan pasangan, mengatur waktu, atau memberi peralatan
yang terkait dengan aktivitas.
B. Inisiasi Berhubungan Seksual dan Kepuasan Pernikahan
Untuk dapat melakukan hubungan seksual yang terus berlanjut maka, Harvey,
Wenzel, dan Sprecher (2004) menyarankan pasangan harus mengkomunikasikan apa yang
disukai dan kurang disukai terkait dengan hubungan seksual kepada pasangannya.
Komunikasi tersebut dapat disampaikan dengan cara pasangan menunjukkan inisiasi
berhubungan seksualnya.

Byers dan Heinlein (dalam Harvey, Wenzel, & Sprecher, 2004) menyatakan bahwa
kepuasan seksual yang tinggi akan diperoleh ketika penerimaan terhadap inisiasi juga
tinggi dan diikuti peningkatan kepuasan pernikahan. Sebaliknya, ketika penolakan akan
inisiasi tinggi maka akan mengurangi kepuasan seksual dan pada akhirnya juga
merendahkan kepuasan pernikahan. Oleh karena itu ketiga hal ini sebenarnya saling
mempengaruhi. Ketika pasangan merasa puas akan hubungan seksual dan pernikahannya
maka akan lebih tinggi dalam penerimaan inisiasi berhubungan seksual, dan begitu juga
sebaliknya ketika pasangan tidak puas dengan pernikahan dan seksualnya maka akan
cenderung tinggi dalam penolakan inisiasi berhubungan seksual.
Gossmann, Mathieu, Julien, dan Chartrand (2003) menyatakan bahwa banyak
literatur yang menyatakan inisiasi hubungan seksual selain merupakan kualitas, juga
menyangkut kuantitas dalam kegiatan seksual. Meskipun dalam definisinya, inisasi
hubungan seksual sebenarnya dinyatakan sebagai langkah awal yang diambil oleh
pasangan untuk menyampaikan perhatian atau gairah untuk aktifitas seksual secara verbal
atau non-verbal, yang pada akhirnya nanti bisa diakhiri dengan kegiatan seksual ataupun
tidak.
Mengarah pada kuantitas berhubungan seksual, maka Olson dan DeFrain (2006)
menyatakan frekuensi berhubungan seksual berpengaruh pada kepuasan pernikahan.
Sebaliknya, ketika pernikahan puas maka frekuensi berhubungan seksual juga meningkat.
Sprecher dan Cate (dalam Harvey, Wenzel, & Sprecher, 2004) menyatakan hal yang serupa
bahwa frekuensi seksual berhubungan dengan keseluruhan kepuasan dalam hubungan
pernikahan.
National Survey of Families and Households (dalam Harvey, Wenzel, & Sprecher,
2004) menyatakan bahwa ada variabel yang lain terkait frekuensi berhubungan seksual
terhadap kepuasan pernikahan yaitu usia, pendidikan, pekerjaan, dan kehadiaran anak.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA BARU MENIKAH
3.1 PENGKAJIAN KELUARGA
a. Identitas Kepala Keluarga
Nama Kepala Keluarga

: Tn. K

Usia

: 26 tahun

Alamat

: THR Khairul Anwar Lorong Hikmah Bali

Pekerjaan KK

: Pertambangan

Pendidikan KK

: S.P

Agama

: Kristen

Suku bangsa

: Bali

b. Komposisi Keluarga
No

Nama

Jenis Kelamin

Hub dg

Usia

Pendidika

Agama

Pekerjaan

.
1.

Ny. D

KK
Istri

20

n
SMA

Kristen

IRT

c. Genogram

d. Tipe keluarga

: Keluarga inti

Status sosial ekonomi

: Cukup

3.2 RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


a. Tahap keluarga saat ini : keluarga dengan pasangan baru
Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi. Saat ini keluarga Ny. D dan Tn. K
sebagai keluarga baru belum memiliki anak.
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan kendalanya :
Menurut Ny. D dia dan suaminya sudah rencana untuk segera memiliki anak dan jumlah
anak yang diinginkan belum pernah dibicarakan dengan suaminya karena suaminya sering tidak
ada dirumah. Menurut Ny. D, saat ini dia dengan suaminya berusaha membina hubungan intim
yang memuaskan dan secepatnya mempunyai anak. Menurut Ny. D pula dia ingin berbulan madu
dan merencanakan untuk mengumpulkan uang membangun rumah, karena saat ini mereka masih
tinggal dirumah kontrakan.
c. Riwayat kesehatan keluarga inti :

Riwayat kesehatan keluarga saat ini :

Menurut Ny. D dia pernah mengalami penyakit types akibat kecapekan dan jarang

makan. Namun, sekarang sudah tidak pernah kambuh lagi.


Menurut Tn. K selama dirinya jarang sakit hanya saja faktor kelelahan karena

pekerjaannya.
Riwayat penyakit keturunan :
Menurut pengakuan keluarga Ny. D, tidak pernah mengalami sakit berat yang
memungkinkan mereka perlu perawatan di rumah sakit ataupun perawatan dirumah yang
lama. Dan dari riwayat keluarga Tn. K tidak ada yang memiliki penyakit kronis ataupun
keturunan.

3.3 PENGKAJIAN LINGKUNGAN

Keadaan lingkungan dalam rumah


Tempat tinggal Ny. D dan Tn. K masih merupakan rumah kontrakan. Tempat tinggalnya
permanen dengan status kepemilikan orang lain. Luas rumah 3x8 m. Lantai tempat
tinggalnya menggunakan ubin, rumah memiliki ventilasi yang cukup dan ruangannya
cukup terang dengan jendela 3 buah. Namun, menurut Ny. D, karena Ny. D pergi kuliah
dan Tn. K bekerja di pertambangan maka jendela rumah jarang dibuka.
Penerangan di malam hari menggunakan listrik dan juga kadang digunakan pada siang
hari karena ruangan tampak gelap dan jendela jarang dibuka. Secara umum kondisi

rumah kurang baik karena perabotan tidak teratur dan tidak ada ruang untuk dapur.
Keadaan lingkungan luar rumah
Rumah memiliki pekarangan yang sempit dan tidak ada pepohonan karena diapit oleh
beberapa rumah. Keluarga memanfaatkan sumur bor yang sudah disediakan oleh
kontrakan tersebut untuk kebutuhan pembersihan diri dan sebagainya. Kebersihan kamar
mandi dan jamban juga cukup. Dalam pengelolaan sampah rumah tangga, keluarga
memiliki tempat sampah untuk menampung sampah dan jika sudah penuh kadang

dibakar dan yang basah dibuang di TPA. Secara umum kebersihan rumah cukup baik.
Karakteristik tetangga dan komunitas
Di wilayah Tn. K dan Ny. D jarak antara satu rumah dengan yang lainnya cukup dekat.
Dan untuk kegiatan seperti arisan atau kegiatan lainnya Ny. D mengatakan belum ada

karena masih pasangan yang baru menikah.


Mobilitas geografis keluarga
Menurut Ny. D selama ini keluarganya sejak menikah bulan lalu, mereka sering ke
tempat ibunya di kampung karena jaraknya yang dekat.
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Menurut Ny. D dan Tn. K, kedua keluarga tidak terdapat perkumpulan ataupun
perkumpulan khusus. Hanya saja pada saat pernikahan mereka berdua, semua keluarga

berkumpul.
Sistem pendukung keluarga
Saat ini dalam keluarga tidak terdapat keluarga yang sakit, dan hubungan satu keluarga
dengan yang lainnya cukup baik. Jika ada keluarga yang sakit, maka segera dibawa ke
tempat pelayanan terdekat seperti puskesmas.

3.4
STRUKTUR KELUARGA
1. Pola komunikasi keluarga
Menurut Ny. D dan Tn. K dalam keluarganya biasa berkomunikasi dengan bahasa Bali
dan bahasa Indonesia.
2. Struktur kekuatan keluarga
Sampai saat ini dalam keluarganya suaminya yang berperan sebagai kepala keluarga.
Suaminya sudah memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga.
3. Struktur peran
Dalam keluarga Ny. D, Tn. K sebagai kepala keluarga berkewajiban mencari nafkah
untuk keluarga dan Ny. D hanya menjalankan perannya sebagai istri yang harus
menyiapkan keperluan suaminya dirumah. Dan menurutnya dia sering masak dan jarang
makan diluar.
4. Nilai dan norma keluarga
Sebagai bagian dari masyarakat Bali dan beragama Kristen memiliki nilai-nilai dan
norma yang dianut seperti sopan santun terhadap orangtua dan suaminya. Namun, selama
ini mereka jarang makan bersama karena suaminya dalam seminggu hanya 3 kali mereka
bertemu.
3.5 FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Biologis
a. Kebersihan perorangan : keluarga memiliki kebiasaan mandi dua kali sehari,
gosok gigi sehabis makan. Keluarga tidak memiliki kebiasaan memanjangkan
kuku dan kuku dalam keadaan pendek dan bersih.
b. Pola makan : menurut Ny. D dalam keluarganya biasanya makan 3 kali sehari
dengan makanan yang kadang-kadang beragam dan berganti-ganti.

c. Pola istirahat : menurut Ny. D waktu istirahat kadang-kadang 10 jam tapi kadangkadang tidak menentu.
2. Fungsi Psikologis
a. Keadaan emosi : menurut Ny. D selama menjadi pasangan baru nikah, pernah ada
masalah dan waktu mereka pacaran juga kadang ada keributan yang diakibatkan
mantan dari suaminya sering menghubungi suaminya.
b. Pengambilan keputusan : sampai sejauh ini masih selalu dimusyawarahkan
bersama.
c. Mencari pelayanan kesehatan : menurut Ny. D saat ini dia sering ke bidan untuk
melakukan program kehamilan.
3. Fungsi Sosial
a. Hubungan antar keluarga : hubungan antara dirinya dengan suaminya sampai
sejauh ini baik dan hubungan dengan keluarga besarnya pun baik.
b. Hubungan dengan orang lain : hubungan keluarga dengan orang lain baik
terutama dengan teman-teman dan tetangga sekitarnya.
c. Kegiatan organisasi sosial : belum ada ada kegiatan organisasi sosial
kemasyarakatan yang diikuti.
4. Fungsi Spiritual
Menurutnya selama pernikahannya, dia dan suaminya selalu ibadah ke gereja setiap
minggu.
5. Fungsi Reproduksi
Saat ini tidak menggunakan alat kontrasepsi, dan bahkan sudah persiapan untuk
mempunyai anak. Menurut Ny. D kadang-kadang dia merasa kesepian karena selalu
ditinggal oleh suaminya dan itu yang membatasi mereka untuk melakukan hubungan
seksual.
6. Fungsi Ekonomi
Dalam keluarganya yang menjadi tulang punggung adalah Tn. K sebagai kepala rumah
tangga. Penghasilan keluarga setiap bulan Rp. 20.0000.000,00 dan pengeluaran per bulan
sekitar Rp. 3.000.000,00 dan Ny. D sudah mempunyai tabungan di bank sekitar Rp.
30.000.000,00.
7. Fungsi Perawatan Kesehatan
- Menurut Ny. D, masalah kesehatan yang dihadapi saat ini ada dalam keluarganya
sebenarnya belum mengetahui tentang bagaimana mempersiapkan kehamilan dan
-

membina keintiman dengan suami.


Apa yang dilakukan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan yang sedang
dialami : sejauh ini dirinya hanya bertanya pada teman-temannya.

Tindakan apa yang dilakukan keluarga untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan

: menurut Ny. D dengan makan teratur dan istirahat yang cukup.


Menurut Ny. D untuk pemeliharaan rumah yang sehat dirasanya masih kurang. Dia
mengatakan bahwa rumahnya masih menyewa atau bukan milik sendiri sehingga
ruangannya yang tersedia pun terbatas. Perabotan yang ada di dalam rumahnya tidak

teratur kondisinya.
Menurut Ny. D, jika dia atau suaminya mengalami sakit, mereka langsung pergi ke
pelayanan kesehatan terdekat untuk berobat. Untuk saat ini pun, Ny. D sering pergi ke
bidan untuk mencari informasi ttg program kehamilan.

3.6 STRES DAN KOPING KELUARGA


Stresor jangka pendek dan jangka panjang :
Menurut Ny. D dirinya tidak tahu dari pihak suaminya sedang mengalami pikiran atau tidak,
tetapi dari dirinya yang menjadi stresor adalah adaptasi dengan rumah tangganya yang masih
baru dimana dia sudah sering ditinggal sendiri dirumah awal pernikahannya karena pekerjaan
suaminya.
Kemampuan keluarganya berespon terhadap stresor adalah baik. Dan Ny. D sekarang lagi
berusaha belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik dengan belajar memasak, mengurusi
suaminya dan lebih bersabar ketika tidak bertemu dengan suaminya.
Strategi koping yang digunakan :
Untuk menghadapi stresor, Ny. D banyak belajar dari orangtuanya dan teman-temannnya
yang sudah menikah tentang cara mengurusi rumah tangga.
3.7 PEMERIKSAAN FISIK
Tinggi badan : 155 cm
Berat badan : 45 kg
Tekanan darah : 100/50 mmHg
Nadi
: 76 x/mnt
Respirasi
: 22 x/mnt
3.8 HARAPAN KELUARGA
Dengan adanya petugas kesehatan yang datang kerumahnya, Ny. D mengharapkan supaya
petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan yang dapat membantu dirinya
mempersiapkan bagaimana sebenarnya kesehatan dalam rumah tangga yang baru dibangun.

3.9 ANALISA DATA


Data
DS :

Kemungkinan Penyebab
Kemungkinan keluarga tidak

Masalah/Diagnosa
Kurang pengetahuan tentang

mengenal masalah tugas

tugas perkembangan keluarga

belum tahu tentang

perkembangan keluarga baru

baru menikah berhubungan

apa itu kesehatan

menikah.

dengan ketidakmampuan

1. Ny. D mengatakan

reproduksi.
2. Ny. D mengatakan
ingin sekali sesegera
mungkin mempunyai
anak dan belum ada
rencana berapa
jumlah anak yang
akan direncanakan
karena suaminya
jarang dirumah.
3. Ny. D mengatakan
sebenarnya dalam
keluarganya belum
mengetahui tentang
bagaimana
mempersiapkan
kehamilan dan
membina keintiman

keluarga mengenal masalah


kesehatan ( tugas
perkembangan keluarga baru
menikah.)

dengan suami.
DO :
1. Usia pernikahan
belum cukup 1 bulan.
Mereka menikah pada
tanggal 30 Oktober
kemarin.
2. Usia Ny. D 20 tahun
dan Tn. K 26 tahun.
DS :

Kemungkinan keluarga tidak

Resiko terjadinya konflik

mengetahui bagaimana

berhubungan dengan

sering sedikit

membina komunikasi pada

ketidaktahuan keluarga

bertengkar dengan

keluarga baru menikah.

mengenal masalah komunikasi

1. Ny. D mengatakan ia

suaminya karena
masalah mantan dari
suaminya yang masih
saja
menghubunginya.
2. Ny. D mengatakan
selalu merasa
kesepian karena
ditinggal bekerja oleh
suaminya.
DO :
1. Ny. D sekarang
belajar menjadi ibu
rumah tangga yang
baik dengan belajar
memasak, mengurus
suaminya dan lebih
bersabar untuk tidak
bertemu suaminya.

pada keluarga baru menikah.

DS :
1. Menurut Ny. D,
karena mereka sering

Ketidakmampuan keluarga

Kerusakan pemeliharaan

melakukan perawatan rumah

rumah berhubungan dengan

yang sehat.

ketidakmampuan keluarga

berada diluar rumah,

melakukan perawatan rumah

maka jendela rumah

yang sehat.

jarang dibuka.
DS :
1. Ruangan dalam
rumah pada siang hari
tampak gelap dan
menggunakan sinar
lampu.
2. Penataan perabotan
tampak tidak terlalu
teratur karena tidak
ada ruang untuk
dapur.
3. Rumah memiliki
pekarangan yang
sempit dan tidak ada
pepohonan karena
diapit oleh beberapa
rumah.

3.10 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Kurang pengetahuan tentang tugas perkembangan keluarga baru menikah berhubungan
dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah tugas perkembangan keluarga baru
menikah.
2. Resiko terjadinya konflik berhubungan dengan ketidaktahuan keluarga mengenal masalah
komunikasi pada keluarga baru menikah.
3. Kerusakan pemeliharaan rumah berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
melakukan perawatan rumah yang sehat.
3.11 SKORING PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kurang pengetahuan tentang tugas perkembangan keluarga baru menikah berhubungan
dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah tugas perkembangan keluarga baru
menikah.
No
.

1.

Kriteria
Sifat masalah : tidak atau

Skala
3

Bobot
1

Skoring
3/3 x 1 = 1

kurang sehat
Kemungkinan masalah

2/2 x 2 = 2

dapat diubah : mudah


Potensial masalah untuk

2/3 x 1 =2/3

dicegah : cukup
Menonjolnya masalah :

2/2 x 1 = 1

harus segera ditangani


TOTAL

4 2/3

2. Resiko terjadinya konflik berhubungan dengan ketidaktahuan keluarga mengenal masalah


komunikasi pada keluarga baru menikah.
No
.

Kriteria
Sifat masalah : tidak atau

2.

Skala
3

Bobot
1

Skoring
3/3 x 1 = 1

kurang sehat
Kemungkinan masalah

1/2 x 2 = 1

dapat diubah : sebagian


Potensial masalah untuk

2/3 x 1 =2/3

dicegah : cukup
Menonjolnya masalah :

2/2 x 1 = 1

harus segera ditangani


TOTAL

3 2/3

3. Kerusakan pemeliharaan rumah berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga


melakukan perawatan rumah yang sehat.
No
.

Kriteria
Sifat masalah : tidak atau

3.

Skala
3

Bobot
1

Skoring
3/3 x 1 = 1

kurang sehat
Kemungkinan masalah

2/2 x 2 = 2

dapat diubah : mudah


Potensial masalah untuk

3/3 x 1 = 1

dicegah : tinggi
Menonjolnya masalah :

2/2 x 1 = 1

harus segera ditangani


TOTAL

3.12
Prioritas

PENETAPAN PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa Keperawatan

Skore

1.

Kurang pengetahuan tentang tugas perkembangan keluarga

4 2/3

baru menikah berhubungan dengan ketidakmampuan


keluarga mengenal masalah tugas perkembangan keluarga
baru menikah.
2.

Kerusakan pemeliharaan rumah berhubungan dengan

ketidakmampuan keluarga melakukan perawatan rumah


yang sehat.
3.

Resiko terjadinya konflik berhubungan dengan


ketidaktahuan keluarga mengenal masalah komunikasi
pada keluarga baru menikah.

3.13

INTERVENSI KEPERAWATAN

3 2/3

1) Diagnosa Keperawatan : Kurang pengetahuan tentang tugas perkembangan keluarga baru


menikah berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah tugas
perkembangan keluarga baru menikah.
Tujuan
Tujuan umum :

Kriteria
Verbal

Keluarga memahami

pengetahuan

Standar Hasil
1. Keluarga dapat

Intervensi
1. Kaji tingkat

menyebutkan

pengetahuan

tentang tugas

tugas

keluarga

perkembangan

perkembangan

tentang tugas

keluarga baru

keluarga baru

perkembangan

menikah.

menikah dengan

keluarga baru

Tujuan khusus :
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
beberapa hari,
keluarga dapat :
1. Mengenal
masalah
perkembanga
n keluarga
baru
menikah.
2. Membuat
keputusan
dalam

bahasanya sendiri.
2. Keluarga mampu

menikah.
2. Beri dukungan

menjelaskan cara

positif atas

menjaga

pengetahuan

kesehatan
reproduksi.

klien.
3. Jelaskan
tentang tugas
perkembangan
keluarga baru
menikah.
4. Jelaskan
tentang
kesehatan
reproduksi.
5. Minta

perencanaan

keluarga untuk

dengan

mengulang

keluarga

materi yang

mengenai

telah

kapan
memiliki
anak dan

dijelaskan.
6. Beri pujian
terhadap
kemampuan

berapa

keluarga

jumlahnya.

dalam
memahami
materi yang
diberikan.
7. Diskusikan
dengan
keluarga
perencanaan
keluarganya.
8. Bantu
keluarga
membuat
keputusan
kapan
memiliki anak
dan berapa
jumlahnya.
9. Beri dukungan
positif jika
keluarga
mampu
membuat
keputusan
yang baik
sesuai dengan
sumber daya
yang dimiliki.

2) Diagnosa Keperawatan : Kerusakan pemeliharaan rumah berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga melakukan perawatan rumah yang sehat.

Tujuan
Tujuan umum :

Kriteria
Verbal

Keluarga memahami

pengetahuan

tentang pemeliharaan
rumah menunjang
kesehatan.
Tujuan khusus :
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
beberapa hari, keluarga
dapat :
1. Mengenal
masalah
perawatan
rumah yang
menunjang
kesehatan.
2. Memutuskan
untuk
memelihara

Standar Hasil
1. Keluarga mampu

Intervensi
1. Jelaskan

menjelaskan

tentang rumah

bagaimana rumah

yang sehat.
2. Jelaskan

yang sehat.
2. Menjelaskan efek

tentang efek

dari perawatan

dari perawatan

rumah yang

rumah yang

kurang baik

kurang baik

terhadap masalah

terhadap

kesehatan

masalah

keluarga.
3. Menjelaskan

kesehatan
keluarga.
3. Motivasi

penyakit-penyakit
yang dapat

keluarga untuk

muncul akibat

membuat

lingkungan rumah

keputusan

yang tidak

perawatan

mendukung

rumah yang

kesehatan.

lebih baik.
4. Identifikasi

rumah dengan

sumber daya

lebih baik.

keluarga untuk
meningkatkan
perawatan
rumah.

3) Diagnosa Keperawatan : Resiko terjadinya konflik berhubungan dengan ketidaktahuan


keluarga mengenal masalah komunikasi pada keluarga baru menikah.
Tujuan
Tujuan umum :
Keluarga memahami

Kriteria
Standar Hasil
Verbal pengetahuan
1. Keluarga dapat
memahami

Intervensi
1. Jelaskan
komunikasi

tentang perlunya

pentingnya

yang baik

komunikasi yang

berkomunikasi

antara suami

baik pada keluarga

yang baik dengan

kepada

baru menikah.

pasangan baru

istrinya dan

menikah.
2. Membina rasa

sebaliknya.
2. Jelaskan

Tujuan khusus :
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
beberapa hari,
keluarga dapat :
1. Mengenal
masalah
komunikasi
dalam
keluarga.
2. Membuat
keduanya
saling
memahami
dan mengerti
serta lebih
bersabar
dengan
keadaan yang
tidak
memihak.

saling percaya dan

pentingnya

lebih saling

komunikasi

menyayangi antar

dalam

suami dan istri.


3. Menjaga keutuhan
rumah tangga
dengan tidak
mementingkan
keegoisan masingmasing.

keluarga baru
menikah dan
kepercayaan
sehingga
tidak terjadi
pertengkaran.
3. Jelaskan
keutuhan
keluarga itu
penting untuk
tugas
perkembanga
n keluarga
nantinya.