Anda di halaman 1dari 5

Review Jurnal

Sensitivity of MMPI-2 Validity Scales to Underreporting of Symptoms


(Kepekaan Validitas Skala MMPI-2 pada Gejala-gejala yang Tidak Terlaporkan)
Ruth A. Baer and Martha W. Wetter,
Roger Greene, David S. Nichols, David T.R Berry
PENGANTAR
Praktisi klinis pada berbagai bidang psikologi banyak menghadapi gejala-gejala
psikopatologi yang tidak terlaporkan. Contohnya,: pelamar pekerjaan berusaha menampilkan kesan
positif yang tidak realistis pada pekerjaan dan program training; orangtua bercerai yang
memperebutkan anak segan untuk mengakui adanya gejala gangguan emosional pada saat evaluasi
mereka, dll. Karena itu, metode untuk mendeteksi gejala yang tidak terlaporkan tersebut sangatlah
penting.
MMPI 2 dan MMPI digunakan secara luas dalam pengukuran psikopatologi, dan memiliki
skala validitas yang dirancang untuk mendeteksi bias jawaban. Di antara skala validitas standar
tersebut, L dan K seringkali digunakan untuk mengukur gejala yang tidak terlaporkan. Daftar F-K
dan L+K juga telah digunakan untuk tujuan yang sama.
Pada umumnya, beberapa skala pengganti ditujukan untuk mendeteksi gejala yang tidak
terlaporkan pada MMPI asli dan MMPI-2. Beberapa di antaranya adalah The Positive Malingering
(Mp) Scale, Wiggins Social Desireability Scale (Wsd), Edwardss Social Desireability Scale (Esd),
Hanleys Test Taking Defensiveness (Tt). Penelitian terakhir juga menambahkan daftar skala tersebut
dengan beberapa skala baru, diantaranya Other Deception (Od), Positive Mental Health Scale
(PMH4), Superlative (S),
Meta-analisis dari literatur mengenai gejala tidak terlaporkan pada MMPI memperlihatkan
adanya rata-rata pengaruh sebesar 1,05, hal ini menunjukkan bahwa peserta gejala yang tidak
terlaporkan

berbeda dari peserta standar sebesar 1 SD. Roger juga menambahkan mengenai

kekurangan pada literatur gejala tidak terlaporkan. Seperti misalnya, instruksi kepada partisipan
biasanya singkat dan samar-samar, sementara pengertian dan kepatuhan partisipan terhadap
instruksi

jarang

dievaluasi,

serta

tidak

adanya

perangsang/insentif

supaya

orang

bersimulasi/berpura-pura secara meyakinkan, meski pada dunia nyata individual memiliki insentif
yang kuat, seperti pengasuhan anak atau pekerjaan, untuk menipu secara meyakinkan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh gejala tidak terlaporkan pada
skala gejala tidak terlaporkan

dari MMPI 2. Peserta diberi instruksi standar yang kemudian

dibandingkan dengan peserta yang diberi instruksi berbeda.

METODE
Subjek
Penelitian ini menggunakan 100 orang, dengn persyaratan telah lulus SMU, dan berbahasa
asli bahasa Inggris. Masing-masing group terdiri dari 26 laki-laki dan 24 perempuan, dengan ratarata usia 23.71, rata-rata tingkat pendidikan 14.41, dengan ras Caucasian (95 orang), AfrikaAmerika (4 orang), dan ras lain (1 orang).
Prosedur
Didapatkan 100 subjek dari pengumuman yang disebarkan di kelas-kelas pada Universitas
Kentucky serta dimuat pada koran lokal, yang menawarkan 20$ sebagai pengganti melengkapi
kuestioner kepribadian. Grup standar terdiri dari 50 orang, dengan melengkapi pertanyaan MMPI-2
tanpa nama dengan instruksi standar. 50 orang lainnya masuk dalam grup dengan instruksi yang
diarahkan dalam setting tampak baik ( fake-good), yang sesuai dengan kelompok standar dalam hal
usi, jenis kelamin, ras, dan tingkat pendidikan.
Arsip data partisipan pada kelompok standar didapat dari data peneliti, yang dikumpulkan
dengan prosedur yang sama dengan prosedur yang disebutkan untuk memenuhi standar kelompok
kontrol untuk penelitian berkelanjutan. Untuk kelompok fake group, individu yang menanggapi
pengumuman diberi penjelasan singkat tentang penelitian, melakukan penyaringan peserta sesuai
kebutuhan, dan membuat jadwal individu dan kelompok kecil untuk sebuah sesi di kampus
universitas. Pada awal sesi, peserta diberikan paket bahan yang diberi kode nomor peserta, yang di
dalamnya terdapat dua lembar persetujuan keikutsertaan, kuestioner demografis yang mencakup
usia, jenis kelamin, ras, dan tingkat pendidikan, sebuah paragraph instruksi, dan booklet MMPI-2
serta lembar jawaban. Setelah mengisi semua, peserta menyimak tester yang membacakan instruksi
yang berbunyi :
kami tertarik bagaimana individu bisa membuat kesan yang bagus pada tes ini dengan
menganggap dirinya sempurna dan sehat secara fisik dan sehat secara emosi. Tolong, lengkapi tes
ini jika anda mencoba membuat kesan yang bagus. Bayangkan bahwa anda melamar pekerjaan yang
anda inginkan, dan anda diharuskan untuk mengisi tes ini. Anda menduga bahwa orang yang
memiliki kesehatan mental akan mendapatkan tes ini. Bagaimanapun juga tujuan anda adalah untuk
menampilkan yang terbaik dalam tes ini. Anda akan mencoba merahasiakan beberapa emosi atau
perilaku dan beberapa gejala yang menunjukkan tanda-tanda distress. Jawablah masing-masing item
sesuai dengan kepercayaan anda sebagai orang yang sehat mental.
Kepada peserta diinformasikan bahwa peserta dengan profile gangguan paling rendah akan
mendapatkan hadiah 50$, begitupun seterusnya akan mendapat hadiah 40$, 30$, 20$ dan 10$.
Setelah mengisi kuestioner, peserta diminta mengisi umpan balik yang menanyakan tentang

pemahaman instruksi tester, kepercayaan diri peserta selama melaksanakan instruksi, dan seputar
gangguan psikologis/emosi yang dialami pada 6 bulan terakhir. Peneliti juga mengira-ira jumlah
respon yang memiliki kesualitan dalam memberikan perhatian atau menjawab pertanyaan secara
acak.
HASIL
One-way analyses menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara 2
kelompok berdasarkan usia maupun tingkat pendidikan.
Chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara 2
kelompok berdasarkn ras atau jenis kelamin.
Peserta pada kelompok fake good merasa kesulitan dalam memberikan perhatian pada item
atau kesulitan dalam mengikuti instruksi.
Perbedaan antar kedua grup pada skala secara klinis diuji dengan univariate F test. Peserta
pada kelompok fake good memiliki skor T yang lebih rendah daripada peserta kelompok standar
pada semua skala.
Perbedaan kedua kelompok dalam underreporting scale diuji dengan univariate F test.
Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar dua kelompok pada semua skala.
Peserta kelompok fake-good memiliki skor yang lebih tinggi daripada peserta kelompok standar.
Besaran efek (d) dihitung pada masing-masing skala underreporting, dengan formula
tertentu. Rata-rata nilai efek alat ukur tersebut adalah 1.80 (SD=0.21), dengan perbedaan antar
kedua kelompok sekitar 2 SD, terhadap rata-rata, terhadap skala underreporting.
Analisis fingsi pembeda dilakukan untuk mengetahui kegunaan masing-masing skala
underreporting dalam membedakan profile standar dengan profil underreporting. Pada umumnya,
skala-skala ini cukup sensitive terhadap underreporting, dengan nilai persentase bervariasi, dimana
nilai tersebut akan menyusutkan dan mengurangi skor cukup banyak, berdasarkan validasi silang
dengan sample lain.
Analisis regresi dilakukan untuk mengetahui validasi incremental dari skala-skala tersebut
terhadap skala L-K tradisional, dalam mendeteksi profil underreporting.Hasilnya, hanya Wsd dan S
yang memiliki kekuatan prediksi khusus yang berbeda dibandingkan yang lain.
DISKUSI
Penelitian ini mengungkap efek dari gejala-gejala yang tidak terlaporkan pada skala
underreporting pada MMPI-2. Skor tinggi yang signifikan dilaporkan terjadi pada peserta dengan
instruksi untuk fake good daripada peserta

dengan instruksi standar. Perbedaan antar kedua

kelompok sekitar 2 SD, terhadap rata-rata, terhadap skala underreporting. hasil data menunjukkan

bahwa skala underreporting terbukti efektif dalam membedakan profile standar dengan yang tidak
dilaporkan.
Hasil

penelitian

memperlihatkan

bahwa

terdapat

persamaan

antara

skala-skala

underreporting dalam kemampuannya untuk membedakan standard dari profile yang tidak
terlaporkan. Tidak ada satupun skala yang menujukkan nilai yang lebih unggul secara substansi di
antara yang lain. Namun berdasarkan analisis terlihat bahwa dengan menggantikan L-K dengan
Wsd dan S, maka akan mampu meningkatkan daya beda antara profil yang standar dan profil yang
tidak terlaporkan..
Keterbatasan penelitian ini adalah penggunaan populasi subjek yang analog, yakni individu
yang normal yang berusaha untuk tampak sangat well adjusted dan sehat akan berespon secara
berbeda dari orang yang memiliki gangguan psikiatri dan mencoba untuk merahasiakannya,
sementara skala underreporting akan lebih efektif bila digunakan pada sample semacam itu.
Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggalinya pada setting dimana keadaan underreporting
benar-benar terjadi, seperti evaluasi guna pengasuhan anak, seleksi pekerjaan, dll. Dengan kondisi
tersebut, akan lebih beragam dalam adjustmen psikologis dan bias jawaban, seperti yang dikatakan
Berry dkk, bahwa perbedaan antara partisipan standar dan underreporting yang potensial akan lebih
kecil pada situasi sebenarnya dibandingkan dengan situais analog, sehingga membuat pembedaan di
antara keduanya akan makin sulit.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Pada jurnal tidak disebutkan berapa jumlah item yang terdapat pada skala MMPI-2 yang
digunakan pada penelitian ini. Bagaimana aplikasi MMPI-2 pada penelitian ini,a apakah mengalami
perubahan pada skala validasi atau tidak, sebab penelitian ini melibatkan indeks L+K, F-K serta
alat-alat ukur underreporting yang lain. Tapi di pengantar, kurang dijelaskan mengenai posisi indeks
L-K (yang natinya akan banyak dibahas di hasil dan diskusi) terhadap skala MMPI itu sendiri.
Bagaimana indeks ini disusun, terdiri dari berapa item/bagian.
Pada hasil, nantinya akan banyak dibahas menganai analisis dari incremental validity,
namun di pengantar kurang terdapat penjelasan mengenai incremental validity ini. Bahkan hal ini
tidak dijelaskan dalam metode, namun hanya pada hasil. Sebaiknya, diberikan ulasan lebih lanjut
mengenai incremental validity .
Pada metode, terdapat kecocokan dua kelompok dalam hal usia, jenis kelamin, ras dan
tingkat pendidikan.Hal ini mungkin dipergunakan sebagai kontrol terhadap kedua kelompok, namun
pada dasrnya, hal tersebut tidaklah penting dan kurang efektif. Akan lebih efektif bila kontrol itu

dilakukan misalnya dengan jumlah yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam satu
kelompok, atau menyamakan ras sehingga mengurangi factor lain yang mempengaruhi hasil.
Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini kurang tepat, yakni mengenai penggunaan
setting analogs serta instruksi yang sulit dimengerti. Sebaiknya menggunakan instruksi yang lebih
simple.
SARAN DAN MASUKAN