Anda di halaman 1dari 11

Manfaat dan Kegunaan Flavonoid

Flavonoid merupakan sejenis senyawa fenol terbesar yang ada, senyawa ini terdiri dari
lebih dari 15 atom karbon yang sebagian besar bisa ditemukan dalam kandungan
tumbuhan.Flavonoid juga dikenal sebagai vitamin P dan citrin, dan merupakan pigmen yang
diproduksi oleh sejumlah tanaman sebagai warna pada bunga yang dihasilkan.Bagian tanaman
yang bertugas untuk memproduksi flavonoid adalah bagian akar yang dibantu oleh rhizobia,
bakteri tanah yang bertugas untuk menjaga dan memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah.
Pada tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetatif maupun dalam
bunga.

Sebagai

pigmen

bunga

flavonoid

berperan

jelas

dalam

menarik

burung

dan serangga penyerbuk bunga. Beberapa flavonoid tak berwarna, tetapi flavonoid
yang

menyerap

Beberapa

sinar

kemungkinan

UV

barangkali

fungsi

penting

flavonoid

juga

untuk

dalam

tumbuhan

mengarahkan
yang

serangga.

mengandungnya

adalah pengaturan tumbuh, pengaturan fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus,


dan kerja terhadap serangga (Robinson, 1995).
Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi
keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin memberikan warna
kuning atau jingga, antodianin memberikan warna merah, ungu atau biru, yaitu semua warna
yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara biologis flavonoida memainkan peranan
penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa
pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu.
Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di alam.
Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning
yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan
warna kuning, kuning jeruk, dan merah dapat ditemukan pada buah, sayuran, kacang, biji,
batang, bunga, herba, rempah-rempah, serta produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti
minyak zaitun, teh, cokelat, anggur merah, dan obat herbal.
Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta kualitas nutrisi
makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan
flavonoid pada tingkat spesies, genus atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi
sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri
terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji,
pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi, serta molekul

sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan. Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula
diperkenalkan oleh seorang Amerika bernama Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy
memberikan ekstrak vitamin C (asam askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati
penderita pendarahan kapiler subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan. Mc.Clure (1986)
menemukan pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak dari Capsicum anunuum serta
Citrus limon juga dapat menyembuhkan pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas
senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi alat komunikasi (molecular messenger}
dalam proses interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap proses
metabolisme sel atau mahluk hidup yang bersangkutan, baik bersifat negatif (menghambat)
maupun bersifat positif (menstimulasi).
1. Flavonoid sebagai Antioksidan
Berbagai sayuran dan buah-buahan yang dapat dimakan mengandung sejumlah flavonoid.
Konsentrasi yang lebih tinggi berada pada daun dan kulit kupasannya dibandingkan dengan
jaringan yang lebih dalam. Stavric dan Matula(1992) melaporkan bahwa di negara-negara Barat,
konsumsi komponen flavonoid bervariasi dari 50 mg sampai 1 g per hari dengan 2 jenis
flavonoid terbesar berupa quersetin dan kaempferol. Sebagai antioksidan, flavonoid dapat
menghambat penggumpalan keping-keping sel darah, merangsang produksi nitrit oksida yang
dapat melebarkan (relaksasi) pembuluh darah, dan juga menghambat pertumbuhan sel-sel
kanker.
Flavonoid juga memiliki beberapa sifat seperti hepatoprotektif, antitrombotik,
antiinflamasi, dan antivirus (Stavric dan Matula, 1992). Sifat antiradikal flavonoid terutama
terhadap radikal hidroksil, anionsuperoksida, radikal peroksil, dan alkoksil (Huguet, et al., 1990;
Sichel,et al.,1991). Senyawa flavonoid ini memiliki afinitas yang sangat kuat terhadap ion Fe (Fe
diketahui dapat mengkatalisis beberapa proses yang menyebabkan terbentuknya radikal bebas). Aktivitas
antiperoksidatif flavonoid ditunjukkan melalui potensinya sebagai pengkelat Fe (Afanasav,et
al., 1989 ; Morel,et al.,1993).
Manfaat utama flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai antioksidan yang bisa
menghambat proses penuaan dan mencegah berkembangnya sel kanker. Salah satu jenis tanaman
yang dipercaya dan terbukti memiliki kandungan flavonoid yang cukup tinggi adalah tanaman
cokelat. (nn).

Flavonoid dikatakan antioksidan karena dapat menangkap radikal bebas dengan


membebaskan atom hidrogen dari gugus hidroksilnya. Aksi radikal memberikan efek timbulnya
berbagai penyakit yang berbahaya bagi tubuh. Tubuh manusia tidak mempunyai sistem
pertahanan antioksidatif yang lebih sehingga apabila terkena radikal bebas yang tinggi dan
berlebih, tubuh tidak dapat menanggulanginya. Saat itulah tubuh manusia membutuhkan
antioksidan dari luar (eksogen) yang dapat dilakukan dengan asupan senyawa yang memiliki
kandungan antioksidan yang tinggi melalui suplemen, makanan, dan minuman yang dikonsumsi.
Namun, globalisasi yang merupakan zaman sintetik membuat manusia khawatir terhadap
antioksidan buatan yang pada umumnya memberikan efek samping yang tidak ringan.
Globalisasi membuat masyarakat menjadi semakin pandai dan kritis termasuk dalam memilih
produk makanan atau minuman yang akan dikonsumsi. Berkembangnya berbagai jenis penyakit
terutama yang diakibatkan oleh pola konsumsi makanan yang salah, mendorong masyarakat
kembali ke alam. Dengan kata lain, masyarakat kini mulai beralih pada upaya alami dengan
mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung antioksidan alami yang tidak
menimbulkan efek samping atau mungkin ada efek samping tetapi dengan efek yang relatif
ringan. Jadi, antioksidan alami menjadi alternatif yang lebih diminati oleh masyarakat daripada
antioksidan sintetik.
Sebagai bahan alami, buah-buahan, sayuran, dan teh merupakan serat alami yang
memiliki kandungan senyawa flavonoid dalam kadar yang tinggi. Seperti yang kita ketahui
bahwa buah, sayuran, dan teh banyak mengandung vitamin dan mineral yang memang sangat
berguna bagi kesehatan tubuh kita, misalnya kerena adanya kandungan vitamin E dan vitamin C
yang memang telah dikenal sebagai antioksidan sehingga banyak dikonsumsi oleh masyarakat.
Sejauh yang masyarakat umum ketahui, kandungan pada buah, sayuran, dan teh adalah
kandungan vitamin dan mineralnya saja. Padahal di dalamnya juga terdapat kandungan flavonoid
yang juga merupakan antioksidan. Bahkan flavonoid merupakan antioksidan yang jauh lebih
baik dari pada antioksidan lainnya, seperti pada vitamin E dan vitamin C. Hal ini membuktikan
bahwa flavonoid sebagai antioksidan memiliki potensi yang lebih tinggi sebagai obat antikanker
dari pada vitamin dan mineral.
Kandungan flavonoid ini memberi harapan sebagai pencegah antikanker. Penyakit yang
sangat ditakuti saat ini adalah kanker. Kalau dahulu orang takut penyakit pes, kolera, cacar, TBC,
tipus, dan jenis-jenis penyakit lain yang sekarang sudah tidak ditakuti lagi, sekarang orang selalu

takut akan bahaya kanker yang sewaktu-waktu dapat timbul (Braam, 1980). Saat ini, cara
pengobatan kanker yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya adalah pembedahan,
radioterapi, dan kemoterapi. Tujuan dari cara pengobatan tersebut adalah membunuh sel-sel
kanker. Akan tetapi, perlu kita ketahui bahwa tidak sedikit dari cara-cara tersebut yang justru
menimbulkan efek samping. Efek samping yang ditimbulkan tersebut akan menjadi beban baru
bagi para penderita kanker. Oleh sebab itu, masyarakat mulai beralih pada pengobatan yang tidak
menimbulkan efek samping atau mungkin ada efek samping tetapi dengan efek yang ringan
2. Penyakit Kanker
Kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan
tubuh yang tidak normal dan tidak terkendali. Drs. Wildan Yatim dalam bukunya Biologi
(1996:100) menilai kanker sebagai berikut: Kanker mengandung sel-sel yang membelah terus
secara cepat dan tak terkontrol. Sel-selnya memilki sifat seperti sel muda yang aktif bermitosis.
Seperti sel-sel embrio, sel-sel kanker berinti besar, nukleus pun besar, dan dalam plasma terdapat
banyak butiran dan membran tipis. Sel kanker bisa merusak sel-sel yang lain dan dapat pindah ke
jaringan dan daerah lain.
Sudah jelas bahwa sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan
akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus
menyebar. Penyebarannya bisa melalui jaringan ikat, darah, dan yang lebih berbahaya lagi bahwa
sel kanker dapat menyerang organ-organ penting dan saraf tulang belakang. Dalam keadaan
normal, sel membelah diri apabila ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Berbeda
dengan sel kanker yang akan membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya sehingga
akan terjadi penumpukan sel baru. Sel baru ini lah yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel
tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga mengganggu organ yang
ditempatinya.
Kanker dapat tumbuh di berbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh mulai
dari kaki sampai kepala. Bila kanker tumbuh pada bagian permukaan tubuh, maka akan dengan
mudah diketahui oleh penderita. Akan tetapi, bila kanker tumbuh di dalam tubuh, maka penyakit
yang dianggap misterius tersebut akan sulit diketahui sebab kadang-kadang tidak menunjukkan
gejala apa pun, bahkan kanker tertentu baru akan dapat diketahui setelah kanker tersebut sudah
ada pada stadium akhir atau lanjut, misalnya leukimia (kanker darah). Kalau pun timbul gejala,
biasanya gejala tersebut terasa pada saat stadium lanjut sehingga terkadang sudah terlambat

untuk diobati. Ini lah alasan utama mengapa kanker menjadi penyakit yang harus sangat
diwaspadai oleh seluruh masyarakat.
Selain lingkungan, makanan yang kita makan juga dapat menjadi faktor penyebab
terjadinya kanker, terutama kanker pada saluran pencernaan sebab makanan yang dikonsumsi
seseorang dapat mempengaruhi pengaktifan sel kanker pada saluran pencernaan. Contoh jenis
makanan yang dapat menyebabkan kanker pada saluran pencernaan adalah makanan yang diasap
dan diasamkan. Makanan tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker lambung. Contoh
lainnya adalah minuman yang mengandung alkohol yang menyebabkan kanker kerongkongan.
Bahkan zat pewarna makanan pun dapat menjadi penyebab timbulnya kanker pada saluran
pencernaan. Terdapat pula penyebab kanker pada saluran pencernaan, yaitu logam berat seperti
mercury yang biasanya sering terdapat pada makanan laut yang tercemar, seperti kerang, ikan,
dan sebagainya. Selain itu, perlu diperhatikan oleh masyarakat adalah bahwa berbagai makanan
manis mengandung tepung yang diproses secara berlebihan juga merupakan faktor penyebab
aktifnya

sel

kanker

dalam

tubuh.

a. Senyawa Flovonoid sebagai Antikanker


Senyawa bioaktif flavonoid yang merupakan ekstrak metanol ini dikatakan sebagai
antikanker karena dapat menghambat tumbuhnya sel-sel kanker itu sendiri. Sebagai antioksidan,
senyawa flavonoid dapat mencegah reaksi bergabungnya molekul karsinogen dengan DNA sel
sehingga mencegah kerusakan DNA sel. Di sini lah komponen bioaktif flavonoid dapat
mencegah terjadinya proses awal pembentukan sel kanker. Bahkan flavonoid dapat merangsang
proses perbaikan DNA sel yang telah termutasi sehingga sel menjadi normal kembali. Selain itu,
dapat mencegah pembentukan pembuluh darah buatan sel kanker (proses angiogenesis) sehingga
sel-sel kanker tidak dapat tumbuh menjadi besar karena saluran untuk pertumbuhannya
terhambat.
Makanan yang mengandung flavonoid, seperti stroberi hijau, kubis, apel, kacangkacangan, dan bawang juga mengurangi risiko terjagkitnya penyakit kanker paru-paru. Hal ini
menandakan bahwa untuk mencegah terjadinya kanker sangat lah mudah asalkan kita sendiri ada
kemauan dalam menjaga kesehatan. Pepatah lebih baik mencegah dari pada mengobati pun
menjadi amat tepat bila bicara mengenai kanker. Hal ini mengingat sulitnya pengobatan dan
minimnya kesembuhan apabila seseorang sudah terjangkit kanker. Namun, manusia harus
selektif dalam mengonsumsi makanan, minuman, sayuran, dan buah-buahan yang dianggap

alami dan tidak memiliki efek samping. Hal ini tampaknya harus menjadi pertimbangan yang
lebih jauh dari manusia mengingat zaman sekarang yang semakin maju dan mengakibatkan
manusia selalu menginginkan yang instan, mudah, dan murah, misalnya penggunaan pestisida
dalam perawatan buah dan sayuran untuk menghindari gangguan hama yang dapat membuat
hasil buah atau sayuran menjadi rusak bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Secara otomatis,
pestisida yang disemprotkan pada buah atau sayuran tersebut akan menempel dan akan termakan
oleh manusia yang mengonsumsinya. Padahal, jika kita lihat dari kandungannya, pestisida
merupakan bahan kimia yang bersifat karsinogen yang dapat mengaktifkan sel-sel kanker pada
tubuh manusia.
Kandaswami dan Middleton (2004) mengatakan bahwa flavonoid dapat menghalangi
reaksi oksidasi kolesterol jahat (LDL) yang menyebabkan darah mengental yang dapat
mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah pada tubuh akan
menyebabkan aliran darah tidak lancar dan jika dibiarkan dalam waktu yang terlalu lama,
kemungkinan besar akan mengumpul bahkan menggumpal pada daerah tertentu. Penggumpalan
darah ini dapat mengakibatkan sel-sel tersebut menjadi sel kanker yang dapat aktif apabila
didukung oleh asupan bahan karsinogenik atau faktor luar lainnya yang dikonsumsi manusia.
Flavonoid juga menghambat invasi tumor sehingga tumor tidak membesar dan tidak
menjadi ganas yang menyebabkan kanker. Tumor yang tertanam dalam tubuh manusia apabila
dibiarkan terlalu lama akan menjadi sel kanker yang ganas dan akan menggerogoti tubuh.
Mengingat bahaya penyakit kanker bagi tubuh, manusia harus mengambil sikap dan antisipasi
terhadap penyakit yang menyebabkan kematian tersebut, misalnya dengan mengonsumsi
makanan yang mengandung flavonoid yang tinggi. Karena kandungannya yang banyak terdapat
pada buah, sayur, dan teh, dapat dikatakan bahwa tidak sulit untuk melindungi diri dari penyakit
berbahaya, seperti kanker. Perlindungan tersebut dikatakan cukup mudah sebab buah, sayursayuran, dan teh sangat mudah didapat.
a.

Berbagai potensi senyawa isoflavon untuk keperluan kesehatan antara lain:


Anti-inflamasi
Mekanisme anti-inflamasi terjadi melalui efek penghambatan jalur metabolisme asam

arachidonat, pembentukan prostaglandin, pelepasan histamin, atau aktivitas radical scavenging


suatu molekul. Melalui mekanisme tersebut, sel lebih terlindung dari pengaruh negatif, sehingga
dapat meningkatkan viabilitas sel. Senyawa flavonoid yang dapat berfungsi sebagai antiinflamasi adalah toksifolin, biazilin, haematoksilin, gosipin, prosianidin, nepritin, dan lain-lain.

b. Anti-tumor/Anti-kanker
Senyawa isoflavon yang berpotensi sebagai antitumor/antikanker adalah genistein yang
merupakan isoflavon aglikon (bebas). Genistein merupakan salah satu komponen yang banyak
terdapat pada kedelai dan tempe. Penghambatan sel kanker oleh genistein, melalui mekanisme
sebagai berikut :
(1) penghambatan pembelahan/proliferasi sel (baik sel normal, sel yang terinduksi oleh faktor
pertumbuhan sitokinin, maupun sel kanker payudara yang terinduksi dengan nonil-fenol atau bifenol A) yang diakibatkan oleh penghambatan pembentukan membran sel, khususnya
penghambatan pembentukan protein yang mengandung tirosin;
(2) penghambatan aktivitas enzim DNA isomerase II;
(3) penghambatan regulasi siklus sel;
(4) sifat antioksidan dan anti-angiogenik yang disebabkan oleh sifat reaktif terhadap senyawa radikal
bebas;
(5) sifat mutagenik pada gen endoglin (gen transforman faktor pertumbuhan betha atau TGF).
Mekanisme tersebut dapat berlangsung apabila konsentrasi genestein lebih besar dari 5M.
c. Anti-virus
Mekanisme penghambatan senyawa flavonoida pada virus diduga terjadi melalui
penghambatan sintesa asam nukleat (DNA atau RNA) dan pada translasi virion atau pembelahan
dari poliprotein. Percobaan secara klinis menunjukkan bahwa senyawa flavonoida tersebut
berpotensi untuk penyembuhan pada penyakit demam yang disebabkan oleh rhinovirus, yaitu
dengan cara pemberian intravena dan juga terhadap penyakit hepatitis B. Berbagai percobaan
lain untuk pengobatan penyakit liver masih terus berlangsung.
d. Anti-allergi
Aktivitas anti-allergi bekerja melalui mekanisme sebagai berikut :
(1) penghambatan pembebasan histamin dari sel-sel mast, yaitu sel yang mengandung granula,
histamin, serotonin, dan heparin;
(2) penghambatan pada enzim oxidative nukleosid-3,5 siklik monofast fosfodiesterase, fosfatase,
alkalin, dan penyerapan Ca;
(3) berinteraksi dengan pembentukan fosfoprotein. Senyawa-senyawa flavonoid lainnya yang
digunakan sebagai anti-allergi antara lain terbukronil, proksikromil, dan senyawa kromon.
e. Penyakit kardiovaskuler
Berbagai pengaruh positif isoflavon terhadap sistem peredaran darah dan penyakit
jantung banyak ditunjukkan oleh para peneliti pada aspek berlainan. Khususnya isoflavon pada
tempe yang aktif sebagai antioksidan, yaitu 6,7,4- trihidroksi isoflavon (Faktor-II), terbukti
berpotensi sebagai anti kotriksi pembuluh darah (konsentrasi 5g/ml) dan juga berpotensi
menghambat, pembentukan LDL (low density lipoprotein). Dengan demikian isoflavon dapat

mengurangi terjadinya arterosclerosis pada pembuluh darah. Pengaruh isoflavon terhadap


penurunan tekanan darah dan resiko CVD (cardio vascular deseases) banyak dihubungkan
dengan sifat hipolipidemik dan hipokholesteremik senyawa isoflavon.
Berbagai bahan alam yang secara tradisional digunakan untuk penyakit kardio-vaskular,
kebanyakan secara ilmiah telah dilaporkan memiliki khasiat sebagai antioksidan, namun
pemanfaatan tumbuhan obat tersebut lebih banyak dilatar-belakangi oleh pengalaman empiris;
masih sedikit sekali pembuktian secara ilmiah berdasarkan mekanisme kerjanya. Penelitian ini
bertujuan mempelajari aktivitas antioksidan berbagai ekstrak bahan alam (daun salam, daun jati
belanda, daun jambu biji, air cuka tahu dan jamur kuping hitam) pada berbagai tingkat
konsentrasi sekaligus membandingkan potensi kelima ekstrak bahan alam, dan untuk mengkaji
khasiat berbagai ekstrak bahan alam yang digunakan secara tradisional untuk pengobatan
penyakit kardiovaskular melalui telaah modulasi mekanisme apoptosis dalam sistem nonmamalia
dengan menggunakan sell ragi (Saccharomyces cerevisiae). Daun salam, daun jambu biji, daun
Jati Belanda diekstraksi dengan metode refluks. Serbuk jamur kuping (60 mesh) diekstraksi
dengan cara maserasi 24 jam menggunakan etanol 30% dengan perbandingan 1:6 (g:mL).
Ekstrak cuka tahu dipersiapkan menggunakan etil asetat. Aktivitas antioksidan lima ekstrak
bahan ditapis secara in vitro menggunakan sistem oksidasi asam linoleat dan mengukur produk
oksidasinya secara spektrofotometri dengan metode asam tiobarbiturat (TBA assay)
menggunakan tetrametoksipropana (TMP). Diperoleh bahwa semua ekstrak berpotensi
antioksidan. Ekstrak etanol daun salam 1.000 ppm secara konsisten menunjukkan hambatan
oksidasi hampir sama baiknya dengan aktivitas antioksi dan vitamin E pada konsentrasi 200
ppm; sedangkan pada 200 ppm juga mampu menghambat oksidasi asam linoleat sama baiknya
dengan vitamin E konsentrasi yang sama. Ekstrak whey tahu memiliki aktivitas antioksidan
paling rendah ( 82,02%), walau masih lebih besar dari vitamin E.
f. Estrogen dan Osteoporosis
Pada wanita menjelang menopause, produksi estrogen menurun sehingga menimbulkan
berbagai gangguan. Estrogen tidak saja berfungsi dalam sistem reproduksi, tetapi juga berfungsi
untuk tulang, jantung, dan mungkin juga otak. Dalam melakukan kerjanya, estrogen
membutuhkan reseptor estrogen (ERs) yang dapat on/off di bawah kendali gen pada
kromosom yang disebut _-ER. Beberapa target organ seperti pertumbuhan dada, tulang, dan

empedu responsif terhadap _-ER tersebut. Isoflavon, khususnya genistein, dapat terikat dengan
_-ER. Walaupun ikatannya lemah, tetapi dengan -ER mempunyai ikatan sama dengan estrogen.
Senyawa isoflavon terbukti mempunyai efek hormonal, khususnya efek estrogenik. Efek
estrogenik ini terkait dengan struktur isoflavon yang dapat ditransformasikan menjadi equol.
Dimana equol mempunyai struktur fenolik yang mirip dengan hormon estrogen. Mengingat
hormon estrogen berpengaruh pula terhadap metabolisme tulang, terutama proses kalsifikasi,
maka adanya isoflavon yang bersifat estrogenik dapat berpengaruh terhadap berlangsungnya
proses kalsifikasi. Dengan kata lain, isoflavon dapat melindungi proses osteoporosis pada tulang
sehingga tulang tetap padat dan masif.
g. Anti kolesterol
Efek isoflavon terhadap penurunan kolesterol terbukti tidak saja pada hewan percobaan
seperti tikus dan kelinci, tetapi juga manusia. Pada penelitian dengan menggunakan tepung
kedelai sebagai perlakuan, menunjukkan bahwa tidak saja kolesterol yang menurun, tetapi juga
trigliserida VLDL (very low density lipoprotein) dan LDL (low density lipoprotein). Di sisi lain,
tepung kedelai dapat meningkatkan HDL (high density lipoprotein) (Amirthaveni dan
Vijayalakshmi, 2000). Mekanisme lain penurunan kolesterol oleh isoflavon dijelaskan melalui
pengaruh peningkatan katabolisme sel lemak untuk pembentukan energi yang berakibat pada
penurunan kandungan kolesterol.

Manfaat dan Kegunaan Flavonoid


Flavonoid merupakan sejenis senyawa fenol terbesar yang ada, senyawa ini terdiri dari
lebih dari 15 atom karbon yang sebagian besar bisa ditemukan dalam kandungan
tumbuhan.Flavonoid juga dikenal sebagai vitamin P dan citrin, dan merupakan pigmen yang
diproduksi oleh sejumlah tanaman sebagai warna pada bunga yang dihasilkan.Bagian tanaman
yang bertugas untuk memproduksi flavonoid adalah bagian akar yang dibantu oleh rhizobia,
bakteri tanah yang bertugas untuk menjaga dan memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah.
Pada tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetatif maupun dalam
bunga.

Sebagai

pigmen

bunga

flavonoid

berperan

jelas

dalam

menarik

burung

dan serangga penyerbuk bunga. Beberapa flavonoid tak berwarna, tetapi flavonoid

yang

menyerap

Beberapa

sinar

kemungkinan

UV

barangkali

fungsi

penting

flavonoid

juga

untuk

dalam

tumbuhan

mengarahkan
yang

serangga.

mengandungnya

adalah pengaturan tumbuh, pengaturan fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus,


dan kerja terhadap serangga (Robinson, 1995).
Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi
keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin memberikan warna
kuning atau jingga, antodianin memberikan warna merah, ungu atau biru, yaitu semua warna
yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara biologis flavonoida memainkan peranan
penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa
pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu.
Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di alam.
Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning
yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan
warna kuning, kuning jeruk, dan merah dapat ditemukan pada buah, sayuran, kacang, biji,
batang, bunga, herba, rempah-rempah, serta produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti
minyak zaitun, teh, cokelat, anggur merah, dan obat herbal.
Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta kualitas nutrisi
makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan
flavonoid pada tingkat spesies, genus atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi
sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri
terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji,
pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi, serta molekul
sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan. Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula
diperkenalkan oleh seorang Amerika bernama Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy
memberikan ekstrak vitamin C (asam askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati
penderita pendarahan kapiler subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan. Mc.Clure (1986)
menemukan pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak dari Capsicum anunuum serta
Citrus limon juga dapat menyembuhkan pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas
senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi alat komunikasi (molecular messenger}
dalam proses interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap proses
metabolisme sel atau mahluk hidup yang bersangkutan, baik bersifat negatif (menghambat)
maupun bersifat positif (menstimulasi).